Anda di halaman 1dari 72

DATA ORGANISASI PERUSAHAAN

A.1. DATA ORGANISASI PERUSAHAAN


A.1.1. Latar Berlakang Perusahaan
Sejak didirikan pada tahun 1994, PT. Grand Cipta Consulting telah mampu berpartisipasi
dan berprestasi dalam pembangunan nasional, sehingga menjadi sebuah perusahaan konsultan yang
bergerak dalam bidang kontruksi dan non-konstruksi dengan sederet macam layanan jasa
konsultansi yang sarat pengalaman dengan mengerahkan segala kemampuan dan keahlian secara
profesional dalam menangani setiap pekerjaan di bidangnya, untuk mencari solusi teknik terbaik
dengan pendekatan faktor ekonomis dan efisiensi guna mendukung kelancaran dalam pembangunan
yang berwawasan lingkungan. Pada saat ini PT. Grand Cipta Consulting mempunyai 45
(empat puluh lima) tenaga organik dari berbagai disiplin ilmu, dengan pengalaman profesional
di bidangnya rata-rata lebih dari 10 (sepuluh) tahun. Dengan ditunjang oleh peralatan kerja yang
memadai, seperti studio, perangkat keras dan perangkat lunak sesuai dengan kebutuhan, maka
peningkatan profesionalitas tenaga ahli diharapkan semakin meningkat.
A.1.2. Data Administrasi Perusahaan
Data – data administrasi yang akan kami presentasikan adalah bertujuan untuk
memudah bagi owner yang akan mempercayakan kepada kami untuk melaksanakan
pekerjaan.
NAMA PERUSAHAAN : PT. Grand Cipta Consulting
ALAMAT KANTOR/STUDIO : JL. Taman Sulfat XV No.02 Malang.
AKTE NOTARIS : Notaris Darma Sanjata Sudagung, SH
No. 95 Tanggal 17 Maret 1994
AKTE PERUBAHAN : Notaris Dr. Benediktus Bosu, SH
No. 62 Tanggal 10 Februari 2007
: Notaris R.A. Sri Wahjoeti Andajani, SH
No. 16 Tanggal 13 September 2008
: Notaris R.A Sri Wahjoeti Andajani, SH
No. 33 Tanggal 25 September 2008
NPWP PERUSAHAAN : 01.605.165.8-000
SIUJK : 602.01/93/35.73.121/2006

INKINDO : Anggota Penuh No. 8238/P/0411.JTM


A.2. STRUKTUR ORGANISASI
Struktur Organisasi Perusahaan PT. Grand Cipta Consultingseperti tergambar pada
diagram berikut.

B. DAFTAR PENGALAMAN KERJA


B.1. LINGKUP LAYANAN
Bidang layanan yang mampu diberikan PT. Grand Cipta Consultingdalam
eksistensinya di bidang jasa konsultansi meliputi
 Tata Ruang Wilayah
 Master Plan Drainase
 Sarana dan Prasarana
 Permukiman Bangunan Gedung
 Arsitektural Gedung
 Jaringan Perpipaan
 Drainase, Sanitasi Lingkungan & IPAL
 Persampahan dan Pengelolaannya Analisis dan Teknik Lingkungan

BIDANG BINA MARGA & TRANSPORTASI


 Jalan
 Jembatan
 Fasilitas Penyeberangan
 Jalan Layang
 Rambu Lalulintas & Marka Jalan
 Terminal & Pelabuhan
 Rest Area

BIDANG KEAIRAN
 Bendungan Serba Guna
 Embung
 Bendung
 Saluran Irigasi dan Pelengkapnya
 Saluran Drainase dan Pelengkapnya
 Pengendalian Banjir
 Perbaikan dan Normalisasi Sungai
 Bangunan Pengelak
 Bangunan Penahan Gelombang Pantai
 Konservasi Lahan dan Air
 Master Plan Tata Irigasi
 Pengembangan Air Tanah
 Sistem Suplesi
 Sistem Keamanan Bendungan
BIDANG KETENAGA LISTRIKAN
 PLTA
 PLTU
 Geothermal Jaringan
 Transmisi
BIDANG INDUSTRI
 Pengembangan Industrial Estate
 Bangunan Pabrik/Pergudangan
 Instalasi Mekanikal/Elektrikal
 Sarana Prasarana Pabrik

BIDANG PARIWISATA
 Sarana Prasarana Wisata
 Perhotelan
 Taman
BIDANG PRASARANA KOMUNIKASI

 Menara Relay dan Gardu Komunikasi


 Jaringan Transmisi
 Telematika

BIDANG PENGEMBANGAN MASYARAKAT


 Sistem Kelembagaan Swadaya
 Pemberdayaan Masyarakat
 Kesehatan
 Pendidikan
 Pembiayaan Skala Kecil
 Manajemen Pengelolaan Usaha Kecil
 Prasarana Desa Tertinggal
B.2. DAFTAR PENGALAMAN PERUSAHAAN

Dalam perkembangan dunia usaha khususnya dalam bidang jasa konsultan perencana dan
pengawasan bersama ini pula kami prsentasikan jenis pekerjaan sejenis yang pernah
ditangani.
C. URAIAN PENGALAMAN KERJA
C.1. URAIAN PENGALAMAN KERJA

Tabel-tabel berikut ini merupakan uraian pengalaman kerja dariPT. Grand


Cipta Consultinguntuk pekerjaan sejenis selama periode 10 (sepuluh) tahun terakhir.
D. TANGGAPAN DAN SARAN TERHADAP KAK
D.1. UMUM

Setelah melalui proses pemahaman dan penelaahan terhadap Kerangka Acuan


Kerja (KAK) Supervisi Peningkatan Jaringan Irigasi di Kabupaten Tabanan yang
dikeluarkan maka berikut ini akan disampaikan beberapa hal mengenai tanggapan terhadap
Kerangka Acuan Kerja oleh Konsultan dengan maksud untuk menyamakan persepsi
untuk kesempurnaan dan menjadikan preseden baik atau nilai tambah bagi konsultan.
D.2. TANGGAPAN TERHADAP KAK
D.2.1. TANGGAPAN DAN SARAN SECARA UMUM TERHADAP KAK
Dalam rangka untuk menjamin mutu dan kualitas bangunan maka
diperlukan pengawasan, pemantauan dan pengendalian yang ketat, terukur dan
pengujian bahan di laboratorium serta penggunaan alat yang memadai sehingga diperlukan
kerjasama dengan pihak ketiga atau penyedia jasa konsultansi. Hal tersebut perlu
dilakukan guna menjamin kualitas, mutu bangunan yang mengacu pada Standar Nasional
Indonesia (SNI) di dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Diperlukan kerjasama
dengan pihak ketiga dalam rangka membantu pengawasan teknis dan supervisi dalam
pelaksanaan pekerjaan di lapangan. Diharapkan dengan kerjasama dari semua pihak, maka
mutu, kualitas dan fungsi bangunan bisa optimal sesuai perencanaan.
Hal-hal yang melatarbelakangi dilaksanakannya kegiatan supervisi secara umum
yaitu agar tersusunnya suatu organisasi pengawasan konstruksi dengan beban tugas
pengawasan pelaksanaan pekerjaan dan secara periodik memberikan masukan kepada
pemimpin kegiatan,
baik yang bersifat rutin dan teknis maupun usulan-usulan lainnya yang sifatnya
menunjang pelaksanaan fisik ,
Sedangkan tujuan dari pekerjaan ini adalah untuk mengendalikan pelaksanaan
pekerjaan sehingga dicapai hasil kerja yang sesuai dengan dokumen kontrak baik dari
segi kualitas kuantitas serta dapat diselesaikan dengan waktu dan biaya yang telah
ditentukan, sehingga sasarannya adalah agar prasarana dan sarana irigasi nantinya dapat
berfungsi secara optimal untuk mengatasi permasalahan penyediaan air bersih di Kabupaten
Tabanan.
Dalam pelaksanaan pekerjaan ini, konsultan akan tetap berpedoman pada
lingkup pekerjaan sesuai dengan Kerangka Acuan Kerja/Term Of Reference (KAK)
pekerjaan tersebut. Secara umum lingkup kegiatan yang diuraikan dalam KAK telah
diuraikan dan sesuai dengan tahapan kegiatan.
Namun ada beberapa hal yang menurut pihak konsultan yang belum tertuang dalam
KAK yaitu informasi hasil studi terkait dan hal ini akan menjadi kewajiban pihak
konsultan untuk mendapatkan informasi lebih lanjut termasuk juga dalam hal mengenai data-
data penunjang yang diperlukan. Akan tetapi tidak tertutup kemungkinan dalam
pelaksanaannya akan ada beberapa aspek serta permasalahan yang harus disesuaikan
dengan kondisi lokasi dan keinginan dari masyarakat setempat serta kajian dari aspek
lingkungan perlu dijadikan bahan pertimbangan. Oleh karena setiap pembangunan sekarang
ini harus mengedepankan aspek lingkungan terutama aspek sosial masyarakat agar tidak
menimbulkan persepsi negatif di masyarakat. Sehingga keberhasilan pelaksanaan
pekerjaan ini akan dapat tercapai jika konsultan memahami dengan seksama terhadap
apa yang dimaksud di dalam Kerangka Acuan Kerja (Term of Reference/TOR).
D.2.2. TANGGAPAN TERHADAP LATAR BELAKANG PEKERJAAN
Keberhasilan pengembangan potensi wilayah dalam kenyataannya akan diikuti
oleh peningkatan kebutuhan penyediaan baku (air bersih, air irigasi, industri dll).
Sementara itu perubahan lingkungan yang ditimbulkan oleh kegiatan pengembangan
sumber-sumber air menyebabkan perubahan pada karakter hidrologi yang pada
akhirnya akan mengakibatkan penurunan kapasitas persediaan air di daerah yang
bersangkutan. Oleh karena itu perlu dijaga suatu kondisi dimana minimal terjadi
kesetimbangan air antara kebutuhan dan ketersediaan air.
Untuk menghadapi permasalahan tersebut, Pemerintah dan DPR-RI telah menerbitkan
Undang- Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Pada Pasal 14 UU Nomor
7 tahun 2004 tersebut mengamanatkan Pemerintah berwenang menetapkan Kebijakan
Nasional Sumber Daya Air. Dengan tersusunnya Kebijakan Nasional Sumber Daya Air
diharapkan pengembangan dan pengelolaan sumber daya air tetap mengarah kepada
keterpaduan yang harmonis, dan kelestarian kemanfaatannya. Kebijakan Nasioanl ini
berisi garis besar prioritas-prioritas pengembangan sumber daya air di masing-masing
wilayah di Indonesia, dan maka menjadi dasar untuk penyusunan kebijakan dan
program di daerah dalam pengelolaan sumber daya airnya secara lebih terinci.
Pengembangan dan pengelolaan sumber air di wilayah Propinsi Bali masih kurang
optimal sehingga masih banyak lahan pertanian yang kekurangan air yang berdampak
pada penurunan produksi pertanian, kesulitan air bersih, semakin luasnya lahan kritis.
Disatu sisi masih banyak potensi sumber air (air permukaan, mata air dan air
tanah) yang belum dimanfaatkan secara optimal untuk penyediaan (air irigasi). Upaya
pemenuhan kebutuhan telah memunculkan persoalan dalam kaitannya dengan
penyediaan prasarana dan sarana pengembangan dan pengelolaan sumber air yang
memadai. Namun karena ketersediaan air lambat laun tidak seimbang lagi dengan
tingkat kebutuhannya, maka permasalahan ini harus diupayakan jalan keluarnya. Agar
pengelolaan air irigasi bisa menjadi efektif, maka debit harus diukur dan diatur
sedemikian rupa agar sumber air yang ada bisa terjaga kuantitas dan kontinuitasnya.
Untuk itu diperlukan suatu bangunan utama (headworks) seperti bendung, embung,
waduk/bendungan, jaringan irigasi beserta bangunan-bangunan perlengkapannya.
Terkait dengan penyediaan prasarana pengelolaan sumber air yang memadai maka
oleh Balai Wilayah Sungai Bali-Penida akan melaksanakan kegiatan peningkatan
jaringan Irigasi secara berkelajutan yang tersebar di wilayah Provinsi Bali. Untuk
menjamin pelaksanaan kegiatan konstruksi agar sesuai dengan waktu, mutu dan biaya
yang ditetapkan serta dapat memberikan manfaat yang optimal bagi para petani,
maka diperlukan adanya kegiatan pengawasan terhadap kegiatan konstruksi tersebut.

D.2.3. TANGGAPAN TERHADAP MAKSUD DAN TUJUAN PEKERJAAN

Maksud dari pekerjaan ini adalah tersusunnya suatu organisasi pengawasan


proyek dengan beban tugas pengawasan pelaksanaan pekerjaan Peningkatan Jaringan
Irigasi secara periodik memberikan masukan kepada Pejabat Pembuat Komitmen Irigasi dan
Rawa, baik yang bersifat rutin dan teknis maupun usulan-usulan yang sifatnya menunjang
pelaksanaan fisik.
Menurut pemahaman, konsultan menanggapi bahwakegiatan
supervisi/pengawasan dilakukan dengan suatu organisasi pengawasan dengan beban tugas
pengawasan konstruksi dan memberikan masukan secara periodik kepada Pemilik Proyek,
baik yang bersifat rutin dan teknis maupun usulan-usulan yang sifatnya menunjang
pelaksanaan konstruksi. Sedangkan tujuan dari pelaksanaan kegiatan pengawasan adalah
untuk mengendalikan pelaksanaan pekerjaan sehingga dicapai hasil kerja yang sesuai dengan
Dokumen Kontrak baik dari segi kualitas, kuantitas serta dapat diselesaikan sesuai dengan
waktu dan dengan biaya yang telah ditentukan.
Konsultan pengawas akan melaksanakan tugas-tugas pengawasan konstruksi secara
keseluruhan dan memberikan bantuan teknis maupun non teknis dalam pelaksanaannya, yaitu
a. Sebelum Pelaksanaan Proyek (Pre-Construction) dengan kegiatan meliputi mobilisasi
tim konsultan, evaluasi organisasi pelaksanaan di lapangan dan koordinasi dengan
pihak Pengguna Jasa.
b. Saat Awal Proyek (At-Project Starting) meliputi koordinasi awal dengan pihak
Pengguna Jasa dan kontraktor, pengecekan bersama terkait dengan item-item pekerjaan
dan jadwal pelaksanaan konstruksi, sistem kerja dll.
c. Pelaksanaan Proyek (Project Construction) dengan kegiatan meliputi (1)
Pengendalian/kontrol pemakaian mutu bahan/material dan pengujian bahan/material yang
digunakan, (2) Pengawasan/pengendalian teknis pelaksanaan pekerjaan, (3) Pengendalian
dan pengecekan volume pekerjaan dan pembayarannya, (4) Melakukan kontrol terhadap
kualitas hasil pekerjaan, (5) Monitoring dan pelaporan pelaksanaan pekerjaan, (6)
Pelaksanaan test akhir pada pekerjaan yang telah selesai dilaksanakan dan dokume d. Saat
Proyek Selesai (Project Completion) dengan kegiatan meliputi masa pemeliharaan
d. Saat Proyek Selesai (Project Completion) dengan kegiatan meliputi masa
pemeliharaan pemeriksaan bersama, serah terima pekerjaan, pembayaran akhir dan evaluasi
dan penilaian pekerjaan yang telah selesai dilaksanakan.

Hal ini sesuai dengan tujuan dari pekerjaan ini adalah


untuk mengendalikan pelaksanaan pekerjaan
sehingga dicapai hasil kerja yang sesuai dengan
dokumen kontrak baik dari segi kualitas, kuantitas
serta dapat diselesaikan dengan waktu dan biaya yang
telah ditentukan.
D.2.4. TANGGAPAN TERHADAP SASARAN
PEKERJAAN Sasaran pekerjaan ini meliputi :
Upaya pengendalian pelaksanaan konstruksi pembangunan jaringan irigasi agar
tepat waktu, mutu, dan biaya yang sesuai dengan Dokumen Kontrak.
Agar prasarana dan sarana irigasi nantinya dapat berfungsi secara optimal
untuk mengatasi permassalahan penyediaan air bersih di Kabupaten Badung.
Konsultan menanggapi bahwa untuk menjamin agar pelaksanaan konstruksi
tersebut dapat terlaksana dengan baik maka harus melibatkan organisasi
pengawasan untuk mengendalikan pelaksanaan konstruksinya. Konsultan pengawas akan
melaksanakan tugas-tugas pengawasan konstruksi secara keseluruhan dan memberikan
bantuan teknis maupun non teknis yang sifatnya menunjang pelaksanaan konstruksi.
Pemahaman konsultan terhadap sasaran yang ingin dicapai dari kegiatan pengawasan
adalah (1) Upaya pengendalian pelaksanaan pembangunan agar tepat waktu, mutu,
dan biaya yang sesuai dengan Dokumen Kontrak, (2) Agar sarana dan prasarana yang
terbangun nantinya dapat berfungsi secara optimal dan memberikan manfaat bagi
masyarakat.
D.2.5. TANGGAPAN TERHADAP LINGKUP PEKERJAAN
Konsultan menyadari bahwa keberhasilan pelaksanaan pekerjaan Supervisi
dan Peningkatan Jaringan Irigasi di Kabupaten Tabananini akan tercapai jika memahami
dengan seksama terhadap apa yang dimaksud di dalam Kerangka Acuan Kerja.
Dengan demikian keseluruhan lingkup pekerjaan yang masuk didalamnya bisa terlaksana
sepenuhnya dengan baik, dan sasaran dari pekerjaan yang diharapkan bisa tercapai dengan
tepat waktu. Konsultan cukup memahami apa yang disajikan dalam KAK, maupun
penjelasan-penjelasan yang disampaikan dalam rapat penjelasan yang telah dilakukan.
Jenis-jenis kegiatan yang harus dilaksanakan dalam studi ini telah dijabarkan secara rinci
dalam KAK. Setelah mempelajari, maka Konsultan menanggapi bahwa sebenarnya
item. pekerjaan yang tercantum dalam KAK cukup banyak dan cukup luas,
sehingga dalam pelaksanaan pekerjaan nantinya konsultan akan lebih cermat dalam
menentukan metode pelaksanaan agar semua item kegiatan yang harus terlaksana tidak
ada yang terlewatkan atau item pekerjaan yang tumpang tindih. Dengan demikian
keluaran yang diharapkan dari pelaksanaan studi ini dapat tercapai sesuai dengan alokasi
waktu, biaya dan mutu pekerjaan .
D.2.6. TANGGAPAN TERHADAP WAKTU
Dalam Kerangka Acuan Kerja telah ditetapkan bahwa jangka waktu
pelaksanaan pekerjaan Supervisi Peningkatan Jaringan Irigasi di Kabupaten Tabanan ini
adalah 7 (tujuh) bulan atau 210 (dua ratus sepuluh) hari kalender memang terlihat cukup
pendek apalagi melihat volume pekerjaan yang meliputi kajian semua aspek baik teknis,
lingkungan dan ekonomi. Akan tetapi dengan pengalaman konsultan dengan dalam
penanganan dan dukungan Tenaga Ahli yang cukup berpengalaman dalam bidangnya, maka
konsultan dalam hal ini akan menerapkan strategi penanganan pekerjaan secara terperogram
dan terkoordinasi.
Untuk mengantisipasi padatnya kegiatan yang harus dilakukan oleh konsultan,
maka dalam penyusunan Bagan Alir dan Jadwal Pelaksanaan, Jadwal Personil dan Jadwal
Penggunaan Alat harus sangat hati-hati dan harus konsekuen dengan Jadwal masing-
masing, agar tidak terdapat kegiatan yang mundur. Apabila ada kegiatan yang mundur
maka semua kegiatan yang telah disusun tidak akan berjalan sesuai dengan kehendak.
Agar pelaksanaankonstruksi dapat terlaksana dengan tepat waktu, tepat biaya dan
tepat mutu sehingga hasil pembangunan yang dilaksanakan dapat memberikan manfaat yang
optimal, maka harus dilakukan melalui pengendalian/pengawasan secara bersama-sama
antara Pengguna Jasa, Konsultan dan Masyarakat. Konsultan pengawas akan
melaksanakan tugas-tugas pengawasan konstruksi secara keseluruhan dan memberikan
bantuan teknis maupun non teknis dalam pelaksanaannya, yaitu Sebelum Pelaksanaan
Proyek (Pre-Construction), Saat Awal Proyek (At-Project Starting), Pelaksanaan Proyek
(Project Construction)danSaat Proyek Selesai (Project Completion).
Konsultan akan berusaha memanfaatkan sebaik mungkin waktu yang disediakan
untuk menyelesaikan pekerjaan dengan kualitas seperti yang diharapkan, dengan
dukungan dari berbagai pihak yang terkait dengan pekerjaan ini.
2.2.7 TANGGAPAN DAN SARAN TERHADAP PERSONIL /
FASILITAS PENDUKUNG DARI PPK
Uraian mengenai Tenaga Ahli seperti yang disyaratkan dalam KAK, baik mengenai
jenis keahlian, maupun kualifikasi pendidikan, serta pengalaman personil, menurut
Konsultan telah sesuai dengan lingkup kegiatan yang dituntut dalam studi ini. Dalam hal
ini konsultan akan mengusulkan Tenaga Ahli dengan pendidikan (S1) sesuai bidang
keahliannya, bersetifikat sebagai Tenaga Ahli yang dikeluarkan Asosiasi Keahlian atau
Badan/Lembaga yang berwenang serta memiliki pengalaman sesuai bidang keahlian untuk
menangani pekerjaan sejenis.
Pengendalian mutu memegang peranan yang sangat penting karena berkaitan
dengan personil dan cara kerja kontraktor dan konsultan. Untuk mendapatkan hasil yang
maksimal dari pelaksanaan di lapangan diterapkan sistem kendali mutu yang diterapkan
dari awal dengan penjelasan yang detil mengenai sistem ini pada saat pre-construction
meeting. Sistem kendali mutu ini akan disiapkan oleh konsultan secara sistematis dengan
form-form yang telah dibuat sebelumnya. Form tersebut akan dibahas pada saat awal
konstruksi sehingga dapat dievaluasi dengan baik dan dilakukan perubahan-perubahan
seperlunya oleh konsultan apabila ada hal-hal yang perlu disesuaikan dengan keadaan
masing-masing proyek.
Dengan diterapkannya secara khusus sistem ini maka akan semakin mudah
untuk melakukan kontroling dalam bidang mutu dan diharapkan pelaksanaan pekerjaan
juga dapat dilaksanakan dengan lebih cepat dan bermutu.
Melalui Field Team dilakukan standarisasi prosedur, tata cara kerja, pelaporan, dan
hal lainnya yang terlibat dengan pengawasan di lapangan. Standarisasi kami
anggap sangat penting dalam menyamakan presepsi dalam pelaksanaan di lapangan,
menghindari perbedaan-perbedaan antara konsultan dan kontraktor dalam pemahaman
Management proyek secara umum dan secara khusus. Penerapan ini secara langsung
dapat mendukung tertib administrasi dari sejak awal hingga akhir proyek sehingga pada
saat PHO segala hal yang menyangkut administrasi dapat dipenuhi dengan baik dan
benar. Standarisasi ini saling mendukung antara sistem kendali mutu yang diterapkan
sehingga dapat menciptakan iklim pelaksanaan yang kondusif dan persoalan-persoalan
rutin yang sering dijumpai dapat diselesaikan dengan cepat.
Untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan ini, pihak proyek telah menyediakan
fasilitas meliputi:

 Pemberian surat pengantar untuk operasional maupun koordinasi dan dukungan
dengan instansi terkait.
 Peminjaman referensi yang ada pada proyek.
 Pemberian informasi mengenai ketentuan yang berkaitan dengan pekerjaan
Kewajiban Consultan.
 Menyediakan tenaga ahli sesuai dengan keperluan studi/pekerjaan
 Melaksanakan pekerjaan sesuai dengan KAK, serta peraturan lain yang akan
disepakati bersama
 Menyediakan fasilitas transportasi sesuai keperluan

 Menyediakan biaya mobilisasi dan demobilisasi tenaga dari dan ke lokasi pekerjaan.
Konsultan menanggapi bahwa kebutuhan akan fasilitas dan peralatan yang
disediakan
oleh pihak pemrakarsa pekerjaan sangat erat hubungannya dengan kelancaran
pekerjaan, sehingga tidak ada kendala peralatan dan fasilitas yang dihadapi oleh pelaksana
pekerjaan pada saat pelaksanaan nantinya.

2.2.8 SARAN TAMBAHAN DARI KONSULTAN

Setelah mempelajari dokumen pelelangan dan mengikuti rapat penjelasan


untuk pekerjaan ini, maka konsultan berkesimpulan bahwa seluruh isi materi yang
terkandung di dalam kerangka acuan kerja secara jelas telah mencakup semua aspek kegiatan
untuk mencapai sasaran proyek dan sepenuhnya dapat dipahami. Dalam hal ini
konsultan dengan jelas memahami sepenuhnya segala ketentuan, persyaratan dan tugas
yang dimaksud, sehingga Konsultan berkesimpulan dapat melaksanakan pekerjaan ini
sesuai dengan persyaratan yang dimaksud dalam kerangka acuan kerja.
Namun demikian, unutuk lebih memperjelas pandangan Konsultan terhadap
kerangka acuan kerja tersebut, maka ada beberapa hal yang perlu disampaikan sebagai
tanggapan untuk memperkaya dan menyempurnakan tata cara pengawasan teknis jalan yaitu :
1. Pada Standar Teknis, menurut konsultan perlu dipertegas lagi mengenai standarisasi
teknis yang dipergunakan sebagai pedoman tata cara prosedur kegiatan.

2. Seluruh tim pengawas lapangan harus mengikuti rapat koordinasi sejak awal hingga
akhir masa pengawasan dengan jadwal yang teratur. Dengan demikian tercipta
homogenitas pengetahuan dan kemampuan tenaga pengawas di seluruh tim, sehingga
masing-masing field team dapat bekerja secara harmonis.
E. PENDEKATAN METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA
E. 1 UMUM
E.1. 1 Abstraksi
Perkembangan pembangunan di Kabupaten Tabanan, telah memberikan
konsekuensi
tersendiri bagi perkembangan sektor-sektor lain di daerah tersebut, dan juga penyediaan
sarana dan prasaran penunjangnya.
Keberhasilan pengembangan potensi wilayah dalam kenyataannya akan diikuti
oleh peningkatan kebutuhan penyediaan baku (air bersih, air irigasi, industri dll).
Sementara itu perubahan lingkungan yang ditimbulkan oleh kegiatan pengembangan
sumber-sumber air menyebabkan perubahan pada karakter hidrologi yang pada akhirnya
akan mengakibatkan penurunan kapasitas persediaan air di daerah yang bersangkutan. Oleh
karena itu perlu dijaga suatu kondisi dimana minimal terjadi kesetimbangan air antara
kebutuhan dan ketersediaan air. Untuk menghadapi permasalahan tersebut, Pemerintah dan
DPR-RI telah menerbitkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya
Air. Pada Pasal 14 UU Nomor 7 tahun 2004 tersebut mengamanatkan Pemerintah
berwenang menetapkan Kebijakan Nasional Sumber Daya Air. Dengan tersusunnya
Kebijakan Nasional Sumber Daya Air diharapkan pengembangan dan pengelolaan
sumber daya air tetap mengarah kepada keterpaduan yang harmonis, dan kelestarian
kemanfaatannya. Kebijakan Nasioanl ini berisi garis besar prioritas-prioritas pengembangan
sumber daya air di masing-masing wilayah di Indonesia, dan maka menjadi dasar untuk
penyusunan kebijakan dan program di daerah dalam pengelolaan sumber daya airnya
secara lebih terinci. Pengembangan dan pengelolaan sumber air di wilayah Propinsi Bali
masih kurang optimal sehingga masih banyak lahan pertanian yang kekurangan air yang
berdampak pada penurunan produksi pertanian, kesulitan air bersih, semakin luasnya lahan
kritis. Disatu sisi masih banyak potensi sumber air (air permukaan, mata air dan air
tanah) yang belum dimanfaatkan secara optimal untuk penyediaan (air irigasi). Upaya
pemenuhan kebutuhan telah memunculkan persoalan dalam kaitannya dengan
penyediaan prasarana dan sarana pengembangan dan pengelolaan sumber air yang
memadai. Namun karena ketersediaan air lambat laun tidak seimbang lagi dengan tingkat
kebutuhannya, maka permasalahan ini harus diupayakan jalan keluarnya. Agar pengelolaan
air irigasi bisa menjadi efektif, maka debit harus diukur dan diatur sedemikian rupa agar
sumber air yang ada bisa terjaga kuantitas dan kontinuitasnya. Untuk itu diperlukan suatu
bangunan perlengkapannya. Upaya peningkatan jaringan irigasi dan pemeliharaannya
terus dilakukan untuk tetap menjamin kuantitas dan kontinuitas penyediaan air irigasi.
Terkait dengan penyediaan prasarana irigasi yang memadai maka oleh Balai
Wilayah Sungai Bali-Penida akan melaksanakan kegiatan Perbaikan dan Peningkatan
Jaringan Irigasi secara berkelajutan yang tersebar di wilayah Provinsi Bali. Untuk
menjamin pelaksanaan kegiatan konstruksi agar sesuai dengan waktu, mutu dan biaya
yang ditetapkan serta dapat memberikan manfaat yang optimal bagi para petani, maka
diperlukan adanya kegiatan pengawasan terhadap kegiatan konstruksi tersebut.

E.1. 2 Nama Pekerjaan


Nama pekerjaan ini adalah Supervisi Peningkatan Jaringan Irigasi di Kabupaten
Tabanan
E.1. 3 Lokasi Pekerjaan
Lokasi dari kegiatan Supervisi Peningkatan Jaringan Irigasi di Kabupaten Tabanan ini
berada di Kabupaten Tabanan.
E.1. 4 Apresiasi Dan Inovasi
1) APRESIASI KUALITAS POTENSI SUMBER DAYA AIR (SDA) PROVINSI BALI
Dari sisi kualitas, potensi SDA di Bali mempunyai beban untuk mendukung
penyediaan air pada kualitas yang setara dengan persyaratan masing-masing sektor, dimana
secara umum kelompok domestik mempunyai kriteria kualitas yang paling peka (kualifikasi
A dan B) selanjutnya sektor pertanian (kualifikasi C) dan industri (kualifikasi C dan D,
kecuali industri makanan dan minuman).
Kondisi kualitas sumber-sumber air yang ada di Bali memang telah banyak mendapat
penyelidikan laboratorium melalui berbagai studi yang dilaksanakan baik oleh Dinas
Pekerjaan Umum maupun instansi lainnya. Beberapa yang dapat dikutip sebagai gambaran
umum atas kualitas air baku tersebut ditampilkan pada Tabel berikut.
Dari Tabel di atas dapat diketahui bahwa kualitas air dari sumber-sumber air yang ada
di Provinsi Bali pada umumnya masih termasuk kategori baik. Hampir keseluruhan sumber-
sumber mata air yang menunjukkan kualifikasi A Sehingga dapat dikomsumsi untuk
kebutuhan rumah tangga (domestik). Setelah menjadi alira permukaan sebagian besar air
sungai mulai mengalami pencemaran, terutama yang disebabkan oleh faktor faktor erosi
kawasan, pestisida pertanian, maupun drainase rumahtangga. Pada jenis kualitas air seperti
ini, dalam batas-batas tertentu masih dapat dimanfaatkan kembali oleh sektor pertanian tanpa
memerlukan teknologi perlakuan khusus. Namun beberapa air permukaan yang terdapat di
bagian hilir kota, terutama kota Denpasar dan Singaraja, telah menunjukkan kondisi yang
buruk sebagai akibat fungsi sungai sebagai saluran drainase utama yang menggelontor
berbagai limbah industri yang mengandung bahan-bahan logam berat (BOD, COD).
2) APRESIASI LOKASI PEKERJAAN
1. Wilayah Administrasi
Kabupaten Tabanan terletak di bagian selatan pulau Bali yang secara geografis berada
pada posisi 8 14’ 30”- 8 30’ 07” Lintang Selatan, 114 54’ 52” - 115 12’
57” Bujur Timur. Wilayah ini cukup strategis karena berdekatan dengan ibukota
Propinsi Bali yang berjarak 25 Km dengan waktu tempuh ± 45 menit dan dilalui oleh jalur
arteri yaitu jalur antar propinsi.
Batas-batas wilayah Kabupaten Tabanan secara lengkap adalah :
Utara : Kabupaten Buleleng
Timur : Kabupaten Badung
Barat : Kabupaten Jembrana
Selatan : Samudera Indonesia

Luas Kabupaten Tabanan sebesar 839.33 Km2 atau 14,90 persen dari luas Propinsi Bali.
Berdasarkan besarnya wilayah, maka Kabupaten Tabanan termasuk Kabupaten terbesar
kedua di Propinsi Bali setelah Kabupaten Buleleng.
2. Kondisi Fisik Daerah
a. Topografi dan Morfologi
Kabupaten Tabanan terletak pada ketinggian 0 - 2.276 m di atas permukaan laut
(dpl), di mana lahan tertinggi di puncak Gunung Batukaru. Topografi wilayah Kabupaten
Tabanan memiliki tiga karakteristik yang berbeda. Bagian selatan berbatasan dengan
Samudera Indonesia merupakan dataran rendah dengan topografi yang relatif datar, di
bagian tengah bergelombang, dan di bagian utara merupakan daerah perbukitan dan
pegunungan di mana terdapat beberapa gunung yaitu Gunung Batukaru (2.276 m),
Gunung Sangiyang (2.097 m), Gunung Pohen (2.055 m) dan Gunung Adeng (1.811 m).
Ditinjau dari kemiringan lahan, sebagian besar lahan Kabupaten Tabanan berada
pada kemiringan lereng 15 - 40% yaitu luasnya 365,67 km 2 (43,57%), tersebar luas terutama
di wilayah bagian barat. Lahan dengan kemiringan lereng 2 - 15%
dengan luas 249,61 km2 (29,74%) tersebar luas terutama di wilayah bagian timur. Lahan
dengan kemiringan di atas 40% seluas 136,53 km 2 (16,27%) terdapat di daerah pegunungan
bagian utara dan sebagian di sisi barat perbatasan dengan Kabupaten Jembrana.
Sedangkan lahan dengan kemiringan 0 - 2% seluas 10,43 km2 (10,43%) mendominasi
daerah pantai.
Sebagai salah satu syarat untuk menentukan tingkat kesesuaian lahan, maka lahan
dengan kemiringan di bawah 40% pada umumnya dapat diusahakan asalkan persyaratan
lain untuk penentuan kesesuaian lahan terpenuhi. Sedangkan lahan dengan kemiringan
di atas 40% perlu mendapatkan perhatian bila akan difungsikan sebagai usaha budidaya.
b. Geologi dan Jenis Tanah
Wilayah permukaan Kabupaten Tabanan tersusun oleh formasi geologi
yangberagam. Batuan tua yang ditemukan adalah batuan hasil muntahan Gunung Api
Membrana seperti Gunung Klatakan, Gunung Merbuk dan Gunung Patas yang terdiri dari
lava, breksi dan tufa. Batuan ini menyelimuti daerah sekitar Kaliukir, Munduk
Tiinggading hingga Suraberata. Juga ditemui di dekat Desa Kerambitan. Batuan ini
terbentuk pada era kuarter bawah sekitar 6 juta tahun lalu. Batuan yang lebih muda adalah
tufa dan endapan lahar Buyan-Bratan dan Batur yang terbentuk pada era kuarter.
Batuan ini menutupi sekitar setengah Kabupaten Tabanan, terutama daerah bagian selatan.
Sementara pada daerah pegunungan terdapat dua formasi batuan yaitu batuan hasil ekstrusi
Gunung Batukaru dan batuan gunung api dari kerucut-kerucut sebresen Gunung Pohen,
Gunung Sangiyang dan Gunung Lesong.
Jenis-jenis batuan menurut luasnya di wilayah Kabupaten Tabanan adalah
sebagai berikut :
2
a. Batuan Gunung Berapi Batukaru, luasnya 120,79 km / (14,39%).
b. Tufa endapan lahar Buyan, Beratan dan Batur, luasnya 453,57 km 2 / (54,04%).
c. Batuan Gunung Pohen dan Gunung Sangiyang, luasnya 136,50 km2 / (16,26%).
d. Batuan Gunung Api Jembrana, Breksi, Tufa dari Gunung Klatakan dan Batuan
tergabung, luasnya 118,42 km2 / (14,11%).
e. Endapan Alluvial pada Danau Beratan, luasnya 0,38 km 2 / (0,05%). Formasi
Palasari, luasnya 9,67 km2 / (1,15%).
Jenis tanah secara umum yang terdapat di Kabupaten Tabanan berdasarkan Uraian
Tanah Tinjau (Bappeda Provinsi Bali, 2007) terdiri dari tanah alluvial, regosol, andosol dan
latosol. Tanah alluvial berasal dari bahan induk endapan laut dan endapan sungai
dengan fisiografi daratan pantai dan bentuk wilayah datar terdapat di daerah pantai
Kecamatan Selemadeg Barat dan Selemadeg. Tanah jenis regosol berasal dari bahan
induk abu vulkan dengan fisiografi vulkan, lembah dan kerucut vulkan dan bentuk
wilayah melandai sampai bergunung, terdapat di Kecamatan Selemadeg, Pupuan,
Penebel dan Baturiti. Tanah jenis andosol berasal dari bahan induk abu dan tufa vulkan
dengan fisiografi lungur vulkan kerucut dan lungur dan bentuk wilayah berbukit sampai
bergunung, terdapat di Kecamatan Pupuan, Penebel dan Baturiti. Sedangkan jenis tanah
latosol yang merupakan sebagian besar dari jenis tanah di Kabupaten Tabanan tersebar di
seluruh kecamatan.
c. Hidrogeologi
Kabupaten Tabanan mempunyai karakteristik hidrologi yang beragam
sehingga secara relatif memiliki sumber daya air yang kaya dibandingkan wilayah
lainnya di Bali. Karakteristik hidrologi tersebut meliputi sungai, danau, mata air dan air
tanah. Secara umum jenis sumber mata air dapat dikatagorikan sebagai air permukaan
dan air tanah.
Air permukaan dapat berasal dari : (1) air hujan yang mengalir di permukaan bumi
dan berkumpul pada suatu tempat yang relatif rendah, seperti sungai, danau, laut dan
sebagainya ; (2) air tanah yang mengalir keluar permukaan bumi ; dan (3) air buangan bekas
aktivitas manusia. Sedangkan air tanah adalah air permukaan yang meresap ke dalam tanah
dan bergabung membentuk lapisan air tanah yang disebut “aquifer” . Jenis-jenis air tanah
adalah (1) air tanah dangkal , yaitu bila hujan air permukaan hanya meresap sampai muka air
tanah yang berada diatas lapisan rapat air , umumnya mempunyai kedalaman kurang dari 50
m; (2) air tanah dalam yaitu air tanah yang terletak diantara dua lapisan kedap air, letaknya
biasanya cukup jauh dari permukaan tanah ; dan (3) mata air yaitu air didalam tanah mengalir
pada lapisan tanah berpasir atau berkerikil, atau mengalir melalui celah pada lapisan kedap air.
Tempat keluarnya air dipermukaan tanah ini disebut mata air.

1) Sungai
Di wilayah Kabupaten Tabanan terdapat beberapa sungai yang memiliki aliran
sepanjang tahun. Beberapa sungai tersebut memiliki daerah pengaliran sungai yang cukup
luas dan membentuk suatu daerah aliran sungai (DAS), yaitu:
2
Daerah aliran sungai Tukad Yeh Empas luasnya 100,82 km . Daerah aliran sungai
ini sepenuhnya berada di Kabupaten Tabanan dan bermuara di perbatasan Desa
Sudimara dan Pangkung Tibah.
Daerah Aliran Tukad Yeh Ho luasnya 135,76 km2. Semua daerah aliran sungai ini
terletak di Kabupaten Tabanan. Muara sungai ini berada di perbatasan Kecamatan
Selemadeg Timur dan Kerambitan.
Daerah aliran sungai Tukad Balian luasnya 152,9 km 2. Semua daerah aliran sungai
terletak di Kabupaten Tabanan. Muara sungai ini berada di Suraberata, Desa
Lalanglinggah, Kecamatan Selemadeg Barat.
Sungai-sungai besar lainnya yang bermuara di wilayah Kabupaten Tabanan yaitu
Tukad Yeh Sungi (panjang 40,5 km) bermuara di Desa Beraban (Kecamatan Kediri),
Tukad Yeh Abe (panjang 9,3 km) bermuara di perbatasan Kabupaten Tabanan dan
Tabanan.Tukad Yeh Matan (panjang 13,5 km) bermuara di perbatasan Desa Berembeng
dan Tegalmengkeb, dan Tukad Yeh Otan (panjang 24,0 km) bermuara di Desa Antap.
Dari sekian sungai yang ada di Kabupaten Tabanan baru tiga sungai yang telah
diinventarisasi memiliki potensi untuk dikembangkan melalui program penyadapan sungai
yaitu Tukad Balian, Tukad Yeh Empas dan Tukad Sungi. Tukad Balian mempunyai
debit aliran andal sebesar 380 lt/detik, Tukad Yeh Empas 200 lt/detik dan Tukad Sungi 430
lt/detik sehingga total hasil penyadapan air sungai dari tiga sungai
tersebut adalah 1.010 lt/detik atau 31,85 juta m 3/tahun (Rencana Induk Penyediaan Air
Bersih Bali, 2000).
Berdasarkan data curah hujan bulanan yang tercatat melalui alat pengukur curah
hujan yaitu penakar hujan dan pencatat hujan di seluruh stasiun yang ada di Kabupaten
Tabanan (Balai Meteorologi dan Geofisika Wilayah III) dilakukan simulasi dan
diperoleh curah hujan dalam bentuk Isohyet bulanan selama tahun 2004. Berdasarkan
catchment area (CA) masing-masing sub SWS, maka dapat dihitung potensi air
permukaan di Kabupaten Tabanan sebagaimana disajikan pada Tabel 3.4.
Total ketersediaan air permukaan yang masuk ke dalam sistem sungai di
Kabupaten Tabanan mencapai 2.400.501 juta m3/tahun.
2) Danau
Kabupaten Tabanan memiliki sebuah danau dari empat buah danau yang ada di
Provinsi Bali, yaitu Danau Beratan. Danau Beratan terletak di kawasan Bedugul
pada ketinggian sekitar 200 m dpl, memiliki luas permukaan air 3,85 km 2 dan luas daerah
tangkapan air 13,4 km2. Danau ini memiliki kedalaman rata-rata 12,8 m dan kedalaman
maksimum 20 m, dengan volume airnya 49,22 juta m3.
3) Waduk
Kabupaten Tabanan memiliki sebuah waduk yang baru saja dibangun pada
tahun 2008 yaitu Waduk Telaga Tunjung. Waduk Telaga Tunjung terletak di
Kecamatan Kerambitan Kabupaten Tabanan dengan luas daerah tangkapan waduk 81,50
km2, volume tampungan efektif 1.159.640 m3, dan luas genangan waduk 16,50 km2. Waduk
ini dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan air irigasi di Kecamatan
Kerambitan dan sekitarnya serta sebagai sumber air bersih.
4) Mata Air dan Sumur Gali
Berdasarkan data dari laporan Rencana Induk Penyediaan Air Bersih Bali
(2000), sumber mata air yang terdapat di Kabupaten Tabanan adalah 118 buah dan yang
telah dimanfaatkan airnya oleh masyarakat berjumlah 82 titik mata air, dengan debit 3,26
m3/dt atau 102,81 juta m3/tahun. Sedangkan jumlah sumur gali sebanyak 22 buah dengan
debit 14,3 lt/detik atau 450.965 m3/tahun.
5) Potensi Air Tanah
Potensi air tanah sangat tergantung dari formasi batuan dan struktur geologi
yang ada di bawah permukaan tanah. Formasi batuan dan struktur geologi akan
mempengaruhi aquifer yang ada di bawah permukaan tanah. Sebagian besar wilayah
Kabupaten Tabanan struktur hidrologinya tergolong memiliki aquifer tidak produktif, yaitu
debit kurang dari 2 lt/detik sehingga tidak memungkinkan dikembangkan sebagai
sumber air bersih. Daerah yang hidrologinya sebagai aquifer produktif tinggi dengan debit
lebih dari 10 lt/detik, penyebarannya di Kecamatan Selemadeg Timur, Kerambitan,
Tabanan dan Kediri. Di wilayah pesisir potensi air tanah secara kualitas tidak sesuai untuk
kebutuhan air bersih.
E.1. 5 Maksud , Tujuan dan Sasaran
a. Maksud Pekerjaan :
Maksud dari pekerjaan ini adalah tersusunnya suatu organisasi pengawasan proyek
dengan beban tugas pengawasan pelaksanaan pekerjaan Peningkatan Jaringan Irigasi secara
periodik memberikan masukan kepada Pejabat Pembuat Komitmen Irigasi dan Rawa, baik
yang bersifat rutin dan teknis maupun usulan-usulan yang sifatnya menunjang
pelaksanaan fisik.
b. Tujuan Pekerjaan :
Tujuan pelaksanaan pekerjaan adalah untuk mengendalikan pelaksanaan pekerjaan
sehingga dicapai hasil kerja yang sesuai dengan Dokumen Kontrak baik dari segi
kualitas, kuantitas serta dapat diselesaikan dalam waktu dan dengan biaya yang telah
ditentukan.
c. Sasaran :
Sasaran yang ingin dicapai dari pelaksanaan kegiatan supervisi ini adalah :
Upaya pengendalian pelaksanaan konstruksi pembangunan jaringan irigasi agar tepat
waktu, mutu, dan biaya yang sesuai dengan Dokumen Kontrak.
Agar prasarana dan sarana irigasi nantinya dapat berfungsi secara optimal untuk
mengatasi permasalahan penyediaan air bersih di Kabupaten Badung.
E.1. 6 Waktu Pelaksanaan Pekerjaan
Untuk pelaksanaan pekerjaan Supervisi Peningkatan Jaringan Irigasi di Kabupaten
Tabanan disediakan waktu tidak lebih dari 7 (tujuh) bulan atau 210 (dua ratus sepuluh) hari
termasuk mobilisasi terhitung setelah ditetapkan Surat Perintah Mulai Kerja oleh Kepala
Satuan Kerja.
E.1. 7 Nama Dan Organisasi Pengguna Jasa
Pemrakarsa dari pekerjaan ini adalah Kementerian Pekerjaan Umum Balai Wilayah
Sungai Bali-Penida.
E.1. 8 Keluaran
Tersedianya dokumen Laporan Hasil Pengawasan Pelaksanaan pekerjaan
fisik . Perbaikan dan Peningkatan Jaringan Irigasi di Kabupaten Tabanan, mulai dari
Laporan Pendahuluan sampai Laporan Akhir lengkap dengan laporan kemajuan
pekerjaan/bulanan, laporan pengawasan mutu dan laporan pengawasan konstruksi.
E. 2 PENDEKATAN UMUM PEKERJAAN
E.2. 1 Pendekatan Perundangan
Referensi hukum yang mendasari penyusunan perencanaan detail ini adalah :
a. Undang-Undang No.7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air
b. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2008 tentang
Pengelolaan Sumber daya Air
c. Peraturan Pemerintah Republik Indonesi Nomor : 20 Tahun 2006 tentang Irigasi
d. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor : 12 Tahun 2008 tentang Dewan
sumber Daya Air.
e. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 2/PRT/M/2008 tentang Pedoman
Pelaksanaan Kegiatan Departemen Pekerjaan Umum Yang Merupakan
Kewenangan Pemerintah Dan Dilaksanakan Sendiri
f. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 2/PRT/M/2010 tantang Rencana
Strategis Nasional Kementrian Pekerjaan Umum Tahun 2010-2014
g. keputusan Mentri Pekerjaan Umum Nomor : 390/KPTS/M/2007 tentang
Penetapan Status Daerah Irigasi Yang Pengelolaannya Menjadi Wewenang dan
Tanggung Jawab Pemerintah, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah
Kabupaten/Kota
h. Peraturan Mentri Pekerjaan Umum Nomor : 1/PRT/M/2008 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Departemen Pekerjaan Umum
i. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 11/PRT/M/2008 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Sekretariat Dewan Sumber Daya Air
j. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 12/PRT/M/2006 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Balai Wilayah Sungai
k. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 13/PRT/M/2006 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Balai Wilayah Sungai
l. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 26/PRT/M/2006 tentang Perubahan atas
Permen Nomor : 12/PRT/M/2006 dan Nomor : 13/PRT/M 2006
m. Peraturan Menteri Keungan Nomor : 94/PMK.02/2013 tentang Petunjuk
Penyusuanan dan Penelahan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara /
Lembaga
n. Instruksi Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 03/IN/M/2013 tentang Penyusuanan dan
Penelitian Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara / Lembaga (RKA-KL)
di Kementerian Pekerjaan Umum
E.2. 2 Pendekatan Operasional
Konsultan diharapkan mampu memberikan jasa-jasa teknis secara efesien dan efektif dalam
pelaksanaan pekerjaan pengawasan ini, dan beberapa langkah yang dilakukan meliputi :
 Organisasi dan Staffing yaitu konsultan wajib mengajukan tim yang merupakan tenaga
ahli yang berkualitas sesuai spesialisasi yang diperlukan.
 Modulus Kerja yaitu semua pekerjaan pengawasan akan ditangani oleh konsultan dan
secara proaktif melakukan konsultasi dan koordinasi dengan direksi pekerjaan dan instansi
terkait untuk memberikan hasil yang maksimal.
 Sistem Komunikasi yaitu Team Leader bertanggung jawab terhadap aktivitas
pengawasan dan hasil pekerjaan secara keseluruhan serta dalam melaksanakan tugas
tetap mengacu pada standar kerja jasa konsultasi.
E.2. 3 Pendekatan Teknis
Dalam pendekatan teknis ini beberapa langkah yang harus dilakukan oleh
konsultan supervisi yaitu :
1. Standar yang Digunakan
Dalam pengawasan pekerjaan dan pengujian material yang digunakan untuk semua jenis
pekerjaan mengacu pada standar antara lain Standar ASTM, Peraturan Beton Bertulang
Indonesia (PBBI 1971).
2. Sistem Manajemen Proyek
Konsultan harus melaksanakan suatu sistem manajemen proyek yang diperlukan dalam
rangka pelaksanaan proyek yang meliputi pengendalian jadwal, kualitas dan biaya
pelaksanaan konstruksi.
3. Engineering Desain Selama Masa Konstruksi
Dalam pelaksanaan kegiatannya konsultan konsultan melakukan perubahan
atau pembuatan desain apabila terjadi perubahan desain sesuai dengan kondisi
lapangan setelah melalui suatu kajian teknis, memberikan persetujuan terhadap gambar
konstruksi (Shop Drawing) yang diajukan kontraktor.
4. Inspeksi dan Pengujian Selama Pabrikasi dan Instalasi
Konsultan melakukan monitoring pelaksanaan pabrikasi, pengujian dan pengiriman
barang untuk menjamin tepat waktu melalui inspeksi secara periodic, melakukan kajian
dan persetujuan atas prosudur pengujian yang dibuat kontraktor.
5. Supervisi Konstruksi
Konsultan dalam melaksanakan pengawasan konstruksi dilakukan melalui kegiatan
sebagai berikut :
 Pengawasan pengujian material yang akan digunakan di lokasi pekerjaan
 Pengawasan terhadap mutu pekerjaan
 Melakukan kontrol terhadap kemajuan pelaksanaan pekerjaan.
 Melakukan kontrol terhadap kualitas pekerjaan
 Pengawasan keamanan dan keselamatan kerja
 Melakukan pengecekan dan memberikan persetujuan terhadap Gambar Kerja (Shop
Drawing), Sertifikat dan As-Built Drawing.
 Inspeksi dan pekerjaan commissioning.
E. 3 METODOLOGI PELAKSANAAN PEKERJAAN E.3.1 Umum
Dengan didasari atas konsistensi pemahaman dan penyampaian tanggapan
Kerangka Acuan Kerja, selanjutnya konsultan membuat usulan inovasi terhadap
penyempurnaan dari KAK serta menyusun pendekatan dan metode pelaksanaan yang
sesuai. Untuk mendapatkan hasil pekerjaan yang sesuai dengan harapan dan untuk
kelancaran serta terkoordinasinya pelaksanaan pekerjaan, maka kegiatan yang paling
pokok adalah dengan pendekatan operasional, pendekatan teknis dan penyusunan
metodologi pelaksanaan pekerjaan. Uraian teknis pelaksanaan pekerjaan ini
menyangkut urutan dan jenis kegiatan yang akan dilaksanakan.
Pendekatan teknis merupakan merupakan pendekatan yang berkaitan
dengan pelaksanaan pekerjaan. Untuk memudahkan dalam pelaksanaan pekerjaan,
maka harus disusun Bagan Alir Pelaksanaan Pekerjaan. Dimana bagan ini berisikan
tahapan-tahapan pekerjaan yang akan dikerjakan, sehingga dalam penyusunan jadwal
pelaksanaan pekerjaan harus perpatokan pada Bagan Alir Pelaksanaan Pekerjaan tersebut.
Untuk pelaksanaan Pekerjaan akan melibatkan tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu
yang berkaitan dengan proyek dan sesuai dengan ketetapan personil pada Kerangka Acuan
Kerja. Untuk memperlancar tugas, pelaksanaan pekerjaan akan didukung oleh fasilitas
penunjang berupa peralatan yang memadai dan sistem kerja yang seefisien mungkin.
E.3.2 Lingkup Pekerjaan Secara Umum
Lingkup pekerjaan yang harus dilakukan oleh Konsultan secara umum diuraikan sebagai
berikut:
A. Pemeriksaan dan pengawasan terhadap aspek lokasi dan kedudukan bangunan/
saluran sesuai dengan rencana.
 Melakukan pemeriksaan dan pengawasan terhadap kebenaran kontraktor dalam
menempatkan lokasi bangunan dan saluran.
 Melakukan pemeriksaan dan pengawasan terhadap kebenaran kontraktor dalam
menempatkan kedudukan / skop pekerjaan sesuai rencana.
 Menginventarisasi persoalan-persoalan lokasi dan kedudukan bangunan/ saluran
yang terjadi, serta mencarikan solusi pemecahan.
B. Pemeriksaan dan pengawasan disain dan volume
 Melakukan pemeriksaan dan pengawasan terhadap ketepatan dimensi-dimensi disain
pembangunan yang dilakukan kontraktor.
 Melakukan pemeriksaan dan pengawasan terhadap ketepatan volume
pembangunan yang dilakukan kontraktor.
 Menginventarisasi persoalan-persoalan disain dan volume bangunan dan saluran yang
terjadi serta mengkaji dan mencarikan solusi pemecahannya .
C. Pemeriksaan dan pengawasan kualitas dan spesifikasi material
 Melakukan pemeriksaan dan pengawasan terhadap jenis dan spesifikasi material.
 Melakukan pemeriksaan dan pengawasan terhadap kualitas material yang
datang/dipakai kontraktor serta monolak material yang tidak sesuai spesifikasi
D. Membuat berita acara dan pelaporan atas seluruh kegiatan pemeriksaan dan
pengawasan yang dilakukan
E. 4 TAHAPAN DAN METODOLOGI PELAKSANAAN PEKERJAAN
E.4.1 Tahapan Pelaksanaan Pekerjaan Secara Umum
Pelaksanaan proyek dapat dibagi dalam beberapa tahapan :
Tahap I : Sebelum Pelaksanaan Proyek (Pre-Construction)
 Penentuan dan penetapan anggota tim konsultan di lapangan
 Mempelajari dokumen kontrak
 Penetapan organisasi proyek
 Pengadaan material pendahuluan/peralatan pendukung
 Koordinasi dengan pihak-pihak berwenang (direksi pekerjaan dan instansi terkait)
 Sosialisasi kepada instansi terkait dan Dinas Pekerjaan Umum mengenai
pelaksanaan pekerjaan yang akan dilakukan. Sosialisasi ini meliputi lingkup, metode
dan dampak yang akan timbul dilapangan akibat pelaksanaan pekerjaan
2. Tahap II : Saat Awal Proyek (At Project Starting
 Rapat dengan pihak kontraktor mengenai organisasi proyek, dokumen kontrak,
program kerja, sub kontraktor (apabila ada), material dan pengaturan lain yang
diperlukan
 Pengecekan bersama sebelum pekerjaan dimulai.
 Penetapan item-item pekerjaanRapat periodik yang terdiri dari rapat mingguan
(weekly meeting) dan atau rapat koordinasi bulanan (monthly meting) sesuai
kesepakatan dalam pre bid meeting.
 Pengecekan peralatan keselamatan kerja (safety life) di lapangan
 Pengaturan khusus antara lain alur koordinasi lapangan dan pengamanan terhadap
sistem kerja.
3. Tahap III : Pelaksanaan Proyek (Project Construction
 Pengaturan pengecekan yang dibuat kontraktor untuk tahap sebelumnya
didalamnya terdapat revisi schedule.
 Pengujian material dan spesifikasi bahan yang digunakan di lapangan.
 Pengendalian kualitas untuk pelaksanaan pekerjaan utama  Pekerjaan
teknis untuk pelaksanaan pekerjaan
 Kemungkinan perubahan desain selama masa pelaksanaan
 Kaji ulang desain rinci (review of detailed design) dan persetujuan gambar kerja
(shop drawing)
 Pengukuran tahap pelaksanaan pekerjaan dan pembayarannyMonitoring dan pelaporan
pelaksanaan pekerjaan
 Pelaksanaan pekerjaan yang sistematis dan praktis sehingga mudah diterima
 Pelaksanaan test akhir pada pekerjaan yang telah selesai dilaksanakan
 Dokumentasi dan lain-lain
4. Tahap IV : Saat Project Selesai (Project Completion)
 Masa pemeliharaan (Maintenance Period)
Melakukan pengecekan bersama volume pekerjaan total (final quatity) yang menjadi
dasar kontraktor melakukan klaim akhir pembayaran
 Pemeriksaan bersama setelah pekerjaan selesai (final request for joint inspection)
dengan kontraktor, direksi dan konsultan
 Serah terima pekerjaan yang telah selesai
 Commisioning pekerjaan yang telah selesai
 Pembayaran akhir dan pengembalian uang
jaminan
 Evaluasi dan cara penilaian pekerjaan yang telah dilaksanakan
 Penyusunan laporan penyelesain akhir proyek (Project Completion Report)
E.4.2 Metodologi Pelaksanaan Pekerjaan
Metode pelaksanaan diuraikan sebagai dasar dan tata cara pelaksanaan pekerjaan,
sehingga dalam pelaksanaannya tidak terjadi kesalahan dan seluruh kegiatan dapat
dikoordinir dan dipantau dengan mudah. Dalam metode pelaksanaan ini seluruh kegiatan
dapat diringkas sebagai berikut :
Berdasarkan rencana Aktifitas seperti pada Gambar E.7, maka konsultan akan
merinci pelaksanaan pengawasan berdasarkan tahapan pekerjaan karena suatu kegiatan
mempunyai ketergantungan kepada kegiatan lainnya.
MASA PRA PELAKSANAAN
1. Persiapan dan Mobilisasi Konsultan
Dalam hal ini Konsultan akan Menyiapkan :
1. Personil/tenaga ahli dan tenaga pendukung. Apabila ada penggantian personil terlebih
dahulu mendapat persetujuan dari Satuan Kerja sebagai Pengguna Jasa.
2. Kantor berikut perlengakapannya, kendaraan dan fasilitas penunjang lainnya.
3. Peralatan/alat-alat ukut dan laboratorium dalam hal ini bukan alat laboratorium yang
lengkap tetapi hanya peralatan pendukung pelaksanaan kerja karena yang menyiapkan
lebih lengkap Kontraktor.
4. Peta, data dan peralatan penunjang.
5. Fasilitas akomodasi dan transportasi untuk kebutuhan Proyek.
6. Mobilisasi tim supervisi dan penyusunan rencana kerja
7. Melakukan koordinasi dengan komponen terkait (pengguna jasa dan pelaksana
Konstruksi
Keluaran :
 Tersusunnya rencana kerja (jadwal pelaksanaan, jadwal penugasan, rencana mutu
kontrak dan metode pelaksanaan pengawasan)
 Terlaksana koordinasi kerja
2. Orientasi Lapangan Awal dan Sosialisasi
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan meliputi :
1. Melaksanakan orientasi terhadap kondisi lokasi kegiatan
2. Mengumpulkan data-data dan informasi sebagai bahan evaluasi dan kajian terhadap
penerapan rencana kegiatan.
3. Memberikan informasi kepada masyarakat terkait dengan rencana kegiatan konstruksi
Keluaran :
 Teridentifikasinya kondisi awal lokasi kegiatan
 Teridentifikasinya permasalahan-permasalahan sebagai bahan untuk kajian dan
evaluasi dari perencanaan awal
 Terinformasinya jenis kegiatan yang dilakukan kepada masyarakat di lokasi
kegiatan
 Terinformasinya persepsi masyarakat terhadap kegiatan yang akan dilakukan.
 Adanya dukungan dari masyarakat selama baik pada tahap pra konstruksi, tahap
konstruksi dan pasca konstruksi
 Sebagai bahan dalam penyusunan program kerja dan metode pelaksanaan

3. Rapat Pra Konstruksi

Secara umum walaupun hanya berbentuk suatu rapat, Rapat Pra Konstruksi adalah
tahapan penting untuk melaksanakan pekerjaan supaya sesuai dokumen kontrak karena
merupakan koordinasi awal yang dihadiri oleh semua pihak pelaksana pekerjaan meliputi
Satker/SNVT Perencanaan dan Pengawasan, Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu Proyek
Fisik, Dinas-Dinas Terkait, Kontraktor dan konsultan. Dengan demikian semua pihak akan
memberikan tanggapan tata cara melaksanakan dan apresiasi terhadap dokumen kontrak.
Didalam acara ini dijelaskan materi-materi berikut :
1) Materi
 Organisasi Kerja
Tata Cara Pengaturan Pelaksanaan
Review dan penyempurnaan terhadap schedule dikaitkan dengan target
volume, mutu dan waktu
 Jadwal Pengadaan bahan, alat dan mobilitas personel
 Menyusun Rencana dan pelaksanaan pemeriksaan lapangan (mutual check)
Koordinasi dengan tim perencana
   Menentukan lokasi bahan material (quarry), estimate quantity dan rencana
quality control bahan yang akan digunakan.
 Pendekatan terhadap masyarakat dan Pemda setempat.
 Penyusunan rencana kendali mutu proyek
   Penentuan titik Sta. 0+00 bersama tim perencana
 Menyusun acara “Rekayasa Lapangan/Field Engineering” guna
penyesuaian gambar rencana terhadap kebutuhan lapangan.
   Pemahaman mengenai keselamatan kerja, keselamatan bangunan,
keselamatan pengguna jalan beserta penanganannya berupa asuaransi-
asuransi, peralatan-peralatan keselamatan kerja dan pengaturan lalu lintasnya.
  Penjelasan dan pembahasan mengenai rencana Base camp, lokasi
AMP, penentuan instansi penguji independent.
 Pembahasan mengenai kebutuhan uang muka untuk kebutuhan pelaksanaan
Fisik.
 Pembahasan mengenai prosedur pelaporan, jenis-jenis laporan yang harus
dibuat oleh masing-masing pihak.
 Penjelasan mengenai prosedur penilaian pekerjaan terlaksana dan
prosedur pembayaran.
2) Kesamaan pengertian terhadap pasal-pasal dokumen kontrak
 Pekerjaan tambah / kurang
 Termination atau force majeure
 Maintenance dan Project traffic
 Sub letting
 Asuransi
 Lainya yg diaggap perlu
3 Kesepakatan tentang tata cara dan prosedur
 Request, approval & examination of works
 Shop Drawing, As Buil Drawing
   Monthly Certificate (MC).
   PHO & FHO
 Change Order, Addendum
4 Kesepakatan tentang tata cara dan prosedur teknis pelaksanaan pekerjaan utama (major
items) .
 Rigid pavement.
 Flexible pavement
 Struktur
Berdasarkan rapat ini semua pihak terutama instansi-instansi pelaksana pekerjaan
akan mempunyai pandangan yang sama terhadap sasaran, tata cara dan detail-detail
pelaksanaan sehingga semua pihak bisa mendukung kelancaran pekerjaan.
MASA PELAKSANAAN
1. Mobilisasi Kontraktor
Pada tahap ini Konsultan Pengawasan Teknik akan melaksanakan pekerjaan-
pekerjaan antara lain :
 Menyiapkan formulir-formulir yang diperlukan dalam pengawasan pekerjaan
 Memeriksa dan melengkapi data survai yang akan digunakan, serta menentukan titik-titik
lokasi survai di lapangan sesuai dengan data tersebut.
 Memberikan rekomendasi bagi Pemberi Tugas didalam tahapan kegiatan
pelaksanaan.
 Memeriksa dan merekomendasikan bagi Pemberi Tugas, polis dan batas lingkup
asuransi dan Kontraktor.
 Memeriksa dan menyetujui daftar material, peralatan dan personil yang akan
didatangakan, fasilitas Base Camp dan lokasi penempatan peralatan.
 Memeriksa dan mempersiapkan cara perhitungan kuantitas dan prosedur
pemeriksaan mutu (quality control).
 Memeriksa dan menyetujui segi keamanan dari pengaturan lalu lintas didalam
proyek.
 Memeriksa dan menyetujui jumlah kuantitas dan mutu material yang disediakan oleh
kontraktor.
 Memeriksa pemasangan patok garis tengah jalan dan damija (ROW).
 Membantu Pemberi Tugas untuk memeriksa dan memecahkan masalah yang
mungkin akan muncul, serta bertindak untuk menghindari timbulnya klaim dari
kontraktor.
2. Review Design
Metodologi pelaksanaan Review Design, akan dibagi dalam beberapa tahapan proses.
Untuk lingkup kegiatan ini, konsultan juga ditugaskan untuk mengadakan review desain
dengan lingkup sebagai berikut :
 Melakukan pembuatan/perbaikan desain terhadap penambahan ataupun perubahan
konstruksi yang signifikan dari rencana yang ada dalam Dokumen Kontrak
pelaksanaan konstruksi tahun 2012.
 Melakukan evaluasi dan review terhadap jaringan yang sudah ada.

Kegiatan yang dilaksanakan untuk menunjang pelaksanaan review desain ini adalah
sebagai berikut :
1) Evaluasi dan Survei Pengukuran
Survei topografi dilakukan untuk mendapatkan gambaran situasi terhadap perubahan
rencana bangunan penunjang dan utama.
 Pelaksanaan pembuatan peta situasi saluran irigasi skala 1: 1.000, peta situasi bangunan
utama dan penunjang skala 1 : 500.
 Pengukuran cross section dan long section dengan jarak interval 50 m dan 25 m untuk
belokan/tikungan.
 Penggambaran cross section bangunan dan profil memanjang, lokasi bangunan penunjang
yang diukur.
 Memasang patok BM dan CP.
Metode Pelaksanaan :
1) Persiapan, meliputi
a) Koordinasi dengan direksi pekerjaan.
b) Pengumpulan data awal berupa: data sekunder, buku-buku referensi,
peraturan/ketentuan/standard teknis yang berhubungan dengan pekerjaan ini.
c) Pembuatan dan penyusunan program kerja, jadwal penugasan dan
persiapan/penyusunan instrumen survey.
2) Survey meliputi
Survey Lapangan untuk mengetahui kondisi eksisting, melakukan identifikasi dan
inventory data untuk rencana pengembangan meliputi kegiatan pengukuran dan pemetaan
untuk bangunan utama dan bangunan penunjang lainnya.
1) Kegiatan Pengukuran
A.Pemasangan Patok
Pemasangan patok meliputi patok Bench Mark (BM), Kontrol Point (CP) dan patok kayu
sebagai patok bantu dengan rincian sebagai berikut:
a. Bench Mark ( BM )
Bench Mark yang terbuat dari beton menggunakan tulangan dengan ukuran 20 cm
x 20 x cm x 100 cm untuk BM. BM dilengkapi dengan baud yang diberi tanda
silang pada bagian atasnya sebagai titik centering, serta diberi penamaan pada
bagian samping menggunakan tegel. BM ini dipasang sedemikian rupa sehingga
bagian yang muncul di atas tanah lebih kurang 20 cm.
b. Kontrol Point ( CP )
Kontrol Point dengan ukuran 10 cm x 10 cm x 80 cm terbuat dari cor semen,
dipasang dengan tujuan untuk memberikan acuan arah azimuth dari BM terpasang.
Kontrol point ini dipasang dengan posisi saling terlihat dengan BM terpasang Pemasangan
Bench Mark ini diikuti dengan pemasangan Kontrol Point (CP) sebagai arahan untuk
menentukan azimuth titik tersebut. BM dan CP dipasang
pada tempat yang stabil, aman dan mudah dalam pencariannya.
c. Patok Bantu
Patok bantu dipasang pada setiap tempat berdiri alat pengukuran poligon, situasi,
cross section dan diantara tempat berdiri alat waterpas. Patok ini dibuat dari kayu
dengan ukuran 3 cm x 5 cm x 40 cm. Patok kayu ini pada bagian atasnya dipasang
paku payung sebagai penanda centeringtitik tempat berdiri alat atau titik berdiri
rambu pada pengukuran waterpass. Untuk memudahkan penentuan patok, perlu
juga diberikan peng-kodean atau penamaan masing-masing patok kayu tersebut
dengan nama, huruf atau nomer.
B. Pengukuran Poligon Utama
Dalam pengukuran dan pemetaan suatu areal digunakan kerangka dasar pengukuran yang
disebut poligon. Poligon merupakan rangkaian segi banyak yang digunakan untuk
menentukan posisi horisontal dengan melakukan pengukuran sudut, asimuth dan jarak
(sisi) yang dilakukan dari titik awal sampai titik akhir pada rangkaian yang dikehendaki.
Tahapan pengukuran poligon yang dilakukan adalah :
a. Poligon diukur dengan cara poligon tertutup (closed traverse).
b. Setiap BM eksisting maupun BM dan CP baru, dilalui pengukuran poligon. c.
Poligon diukur menggunakan Theodolite T2 untuk poligon utama.
d. Sudut diukur minimal dalam 2 seri, yaitu bacaan Biasa dan bacaan Luar Biasa, dengan
ketelitian bacaan sudut terkecil 5”.
e. Pengukuran sudut dilakukan dengan cara mengeset sudut pada Awal Pengukuran, contoh
0o, 45o, 90o dan seterusnya, untuk mempermudah Perhitungan.
f. Untuk Pengukuran Jarak pada Poligon Utama menggunakan alat digital untuk
mengurangi paktor kesalahan Bacaan seperti DT 1000.
g. Jarak mendatar diukur minimal 3 (tiga) kali ke muka dan 3 (tiga) kali ke
belakang
h. Kesalahan penutup sudut harus lebih Besar dari 10 “ n, dimana n adalah jumlah setasiun
berdiri alat.
i. Pengamatan Matahari dilakukan dengan cara ditadah, pada pagi hari Jam 07 s/d Jam 08
dan Sore hari pada Jam 15 s/d 16, dimana pengamatan dilakukan dipatok BM dengan
memakai Acuan dipatok Cp atau dipatok Poligon yang lain.
j. Kesalahan linier untuk Poligon Utama yang dicapai harus lebih besar dari 1 : 10.000.
k. Semua data lapangan dan hitungan harus dicatat secara jelas dan sistematis, jika ada
kesalahan cukup dicoret dan ditulis kembali didekatnya, serta tidak
diperbolehkan melakukan koreksi menggunakan tinta koreksi.
l. Pekerjaan hitungan Poligon Utama harus diselesaikan di lapangan, agar bila terjadi
kesalahan dapat segera diketahui dan dilakukan pengukuran kembali hingga benar.
m. Perataan hitungan poligon dilakukan dengan perataan metode
Bouwditch.
C. Pengukuran Poligon Cabang
Pengukuran Poligon Cabang dilakukan karena terlalu luasnya areal pengukuran atau
banyaknya pepohonan yang menghalangi sehingga tidak dapat terkaper situasi dari
poligon utama, kalau dilakukan terlalu banyak titik-titik bantu yang menimbulkan
kesalahan data-data pengukuran yang akhirnya menimbulkan kesalahan patal. Maka
dilakukan pengukuran poligon cabang supaya hasil pengukuran lebih akurat, dan
mempunyai satu sistem dengan poligon utama. Pengukuran poligon cabang dilakukan
sebagai berikut :
a. Poligon harus diukur dengan awalan pada titik poligon utama dan diakhiri pada
titik poligon utama pula.
b. Setiap BM eksisting maupun BM dan CP baru dilalui pengukuran poligon.
c. Poligon harus diukur menggunakan alat Theodolite T2.
d. Sudut diukur minimal dalam 1 seri, yaitu bacaan Biasa dan bacaan Luar Biasa, dengan
ketelitian bacaan sudut 20”.
e. Untuk Pengukuran Jarak pada Poligon Cabang menggunakan alat digital untuk
mengurangi faktor kesalahan menggunakan peta ukur dan dicek dengan jarak optis.
f. Jarak mendatar diukur minimal 2 (dua) kali ke muka dan ke belakang.
g. Kesalahan penutup sudut harus lebih Besar dari 20 “n, dimana n adalah jumlah
setasiun berdiri alat.
h. Kesalahan linier yang dicapai harus lebih Besarl dari 1 : 7.000.
i. Semua data lapangan dan hitungan harus dicatat secara jelas dan sistematis, jika ada
kesalahan cukup dicoret dan ditulis kembali didekatnya, serta tidak
diperbolehkan melakukan koreksi menggunakan tinta koreksi.
j. Pekerjaan hitungan poligon cabang harus diselesaikan di lapangan, agar bila terjadi
kesalahan dapat segera diketahui dan dilakukan pengukuran kembali hingga benar.
k. Perataan hitungan poligon dilakukan dengan perataan metode Bouwditch.
D. Pengukuran Sipat Datar
Rute pengukuran waterpass mengikuti rute pengukuran poligon utama dengan
pembagian loop seperti pengukuran poligon. Pengukuran Kerangka Kontrol Vertikal atau
waterpass ini, harus diukur dengan spesifikasi sebagai berikut :
a. Kerangka Kontrol Vertikal harus diukur dengan cara loop, dengan menggunakan
alat waterpass Wild Nak-2.
b. Jarak antara tempat berdiri alat dengan rambu tidak boleh lebih besar d a r i 50
meter
c. Baud-baud tripod (statip) tidak boleh longgar, sambungan rambu harus lurus betul
serta perpindahan skala rambu pada sambungan harus tepat, serta rambu harus
menggunakan nivo rambu.
d. Sepatu rambu digunakan untuk peletakan rambu ukur pada saat pengukuran.
e. Jangkauan bacaan rambu berkisar antara minimal 0500 sampai dengan maksimal 2750.
f. Data yang dicatat adalah bacaan ketiga benang yaitu benang atas, benang tengah
dan benang bawah.
g. Pengukuran sipat datar dilakukan setelah BM dipasang, serta semua BM
eksisiting dan BM baru terpasang harus dilalui pengukuran waterpass.
h. Slaag per seksi diusahakan genap dan jumlah jarak muka diusahakan sama dengan
jarak belakang.
i. Pada jalur terikat, pengukuran dilakukan pergi-pulang dan pada jalur terbuka
pengukuran dilakukan pergi-pulang dan double stand.
j. Kesalahan beda tinggi yang dicapai harus lebih kecil dari 7 mmD, dimana D adalah
jumlah panjang jalur pengukuran dalam kilometer.
k. Semua data lapangan dan hitungan harus dicatat secara jelas dan sistematis, jika ada
kesalahan cukup dicoret dan ditulis kembali didekatnya, serta tidak
diperbolehkan melakukan koreksi menggunakan tinta koreksi.
l. Pekerjaan hitungan waterpass harus diselesaikan di lapangan, agar bila terjadi
kesalahan dapat segera diketahui dan dilakukan pengukuran kembali hingga benar.
E. Pengukuran Sipat Datar Memanjang
Tujuan dari pengukuran ini adalah mengetahui Tinggi ( Elevasi ) titik-titik potok dari
permukaan tanah yang dilewati poligon utama. dan berguna untuk penggambaran garis
kontur. hasil dari pengukuran ini adalah berupa data Elevasi dari titik-titik (patok) atau
Ketinggian dari permukaan tanah.
Ketentuan atau kaidah yang harus dipenuhi dalam melaksanakan pengukuran sipat
datar profil memanjang sama dengan kaidah dalam pengukuran sipat datar melintang Alat
ukur yang akan digunakan dalam pekerjaaan ini adalah alat ukur waterpass tipe
WILD NAK. Detail yang diukur adalah ketinggian patok-patok kayu yang telah
dipasang sebelumnya dan ketinggian permukaan tanah pada patok tersebut.
F. Pengukuran Sipat Datar Profil Melintang
Pengukuran sifat datar profil melintang dilakukan untuk mengetahui bentuk irisan
melintang dari alur sungai Palaran. Pengambilan titik-titik detail penampang harus
serapat mungkin dan diikatkan pada titik poligon. Jarak pengukuran profil melintang
dari as embung Kurang lebih 50 meter kanan dan kiri atau sampai mencapai elevasi
10 meter dari as rencana. Jarak selang maksimum 50 meter sedangkan kalau ada
belokan jarak harus disesuaikan sehingga belokan yang ada dapat tergambarkan.
Tujuan pengukuran sifat datar profil adalah mengetahui profil atau tampang tubuh
tanah dari suatu trace, sungai, jalan, Sistem pipa,alur bangunan dan lain-lain. Sifat
datar profil dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu :
1. Sifat datar profil memanjang
Sifat datar profil memanjang adalah pekerjaan sifat datar sepanjang sumbu yang ditentukan
untuk memperoleh gambaran tinggi titik-titik pada sumbu tersebut.
2. Sipat datar profil melintang
Sipat datar profil melintang adalah pengukuran sipat datar yang tegak lurus pada sipat datar
profil memanjang.
G. Pengukuran Detil Situasi
Pengukuran detail situasi dilakukan dari patok poligon utama, poligon cabang dan titik
bantu, guna mendapatkan titik-titik koordinat, ketentuan yang harus disituasi
diantaranya,rumah, jalan, alur,gorong–gorong, jembatan, tiang listrik, tiang telpon jalan
setapak dan sebagainya.
Pengukuran situasi harus serapat mungkin guna mendapatkan garis kontur yang sesuai
dengan geometrik areal pengukuran, untuk mendapatkan gambaran secara detail
kondisi tampungan, sehingga nantinya diperoleh informasi besarnya tampungan dari
peta yang dibuat, cocok dengan kondisi lapangan. Alat yang digunakan untuk
pengukuran situasi umumnya yang biasa dipakai adalah Theodolit dan satu set bak
ukur.untuk ketentuan yang harus disituasi sampai mencapai elevasi 10 meter dari as
saluran sehingga hasilnya situasinya tidak terbuang. detail situasi dapat dihitung
dengan Metode Sudut Kutub.
dimana :
P1,P2,P3 = titik poligon, P2 sebagai titik berdiri alat
A,B, = titik detil
1,2,3 = sudut ikatan detil A,B dan C terhadap sisi P2- P1
Sedangkan untuk beda tinggi titik detil didapat dengan menggunakan persamaan
Metode Tachymetri seperti gambar berikut :
Dimana :
D = jarak horisontal dari tempat berdiri alat ke titik detil
Tg.h = tangent helling
Ti = tinggi alat
Bt = benang tengah
h = beda tinggi antara tempat berdiri alat ke titik detil
H. Pengukuran Cross Section
Pengukuran cross section, dilakukan dengan spesifikasi sebagai berikut :
a. Cross section diukur dengan interval 25 m sepanjang pantai.
b. Penampang melintang diukur dengan mengambil detil yang mewakili dan sesuai dengan
skala yang digunakan.
c. Lebar pengukuran cross section adalah sampai pada elevasi walkway .
d. Pada setiap titik cross section dipasang patok kayu ukuran 3 cm x 5 cm x 40 cm dan di
atasnya diberi paku sebagai titik acuan pengukuran.
e. Setiap center line titik cross section dipakai juga sebagai pengukuran long section.
f. Pengukuran cross section dilakukan dengan menggunakan alat Theodolite T1.
2) Evaluasi Hasil Analisa
Dalam tahapan ini konsultan akan melaksanakan analisa kembali (review) terhadap jaringan
yang ada berdasarkan hasil evaluasi terhadap perubahan yang ada. Kegiatan yang dilakukan
dalam tahapan ini meliputi:
A. Evaluasi analisa dan perhitungan terhadap kebutuhan air irigasi, bangunan utama dan
penunjang serta struktur.
B. Evaluasi Analisa Hidrolika
Evaluasi analisa dan perhitungan hidrolika dilakukan untuk mendapatkan kapasitas saluran
dan kebutuhan dimensi saluran yang telah direncanakan.
MASA KONSTRUKSI
Dalam masa konstruksi, Konsultan akan melaksanakan pengawasan dan pemantauan
terhadap pencapaian program fisik proyek secara menerus dilapangan dan pengendalian
proyek secara sistematis dengan menggunakan metode-metode yang sudah baku, adalah
sebagai berikut.
 Membuat analisa, prediksi dan rekomendasi terhadap kendala-kendala yang
berpengaruh terhadap kelancaran pelaksanaan proyek.
 Memberikan nasihat kepada Pemberi Tugas didalam menyusun kebijakan dan
langkah untuk mencegah dan mengurangi klaim.
 Menyediakan bantuan dan arahan yang tepat bagi Kontraktor pada saat
ditemukannya masalah yang ada hubungannya dengan dokumen kontrak,
pemeriksaan terhadap survai tanah dasar, test pengawasan mutu, dan masalah lain yang
berhubungan dengan dipenuhinya kontrak dan kemajuan pekerjaan.
 Menyediakan informasi yang diperlukan oleh Pemberi Tugas, menghadiri dan
mencatat semua rapat/pertemuan dengan Kontraktor, Pemimpin Proyek, dan instansi terkait
lainnya serta menyediakan bantuan teknis apabila diperlukan didalam kaitannya
dengan pelaksanaan proyek dan masalah-masalah kontrak.
Sedangkan tugas Konsultan Pengawas dalam hal kontrak terhadap Kontraktor secara garis
besar akan meliputi :
 Pengendalian teknis : aspek mutu, volume, waktu dan biaya
 Pengendalian atas proses koordinasi terkait
 Pengendalian administrasi proyek.
 Evaluasi rencana proyek.
 Pelaporan.

PENGENDALIAN PELAKSANA
Bertindak untuk dan atas nama Pemberi Tugas mengendalikan pelaksanaan fisik
pembangunan yang dilakukan oleh Pelaksana Kegiatan dengan rentang meliputi
“Preaudit”,
“Monitoring”, dan “Post-audit”.
Lingkup pengendalian antara lain meliputi :
 Aspek mutu hasil pekerjaan.
 Aspek volume pekerjaan
 Aspek waktu penyelesaian pekerjaan.
 Aspek biaya keseluruhan pekerjaan.
Segala sesuatunya merujuk kepada ketentuan dan syarat-syarat yang tercantum dalam
kontrak pemborongan.
1. Rentang Kendali Pre-audit
Kegiatan konsultan dalam rangka pengendalian teknis dalam rentang “pre-audit”
adalah seluruh kegiatan Konsultan sebelum melakukan pengawasan, yang terdiri dari :
 Pengumpulan dan analisa terhadap data.
 Pengecekan hasil perencanaan dengan membandingkan terhadap kondisi lapangan.
 Pemeriksaan terhadap kesipan Pelaksana Kegiatan, yang meliputi material,
peralatan, tenaga dan jadwal pelaksanaan.
a. Pengumpulan dan analisa data, informasi dan hasil perencanaan akan menghasilkan
catatan mengenai seluruh kegiatan antara lain :
- Jenis Pekerjaan.
- Kuantitas Pekerjaan.
- Kualitas yang dipersyaratkan
- Schedule pelaksanaan
- Schedule pembayaran
b. Review Design
Pengecekan hasil perencanaan dilakukan dengan cara membawa hasil perencanaan
ke lokasi untuk menentukan apakah hasil perencanaan tersebut telah sesuai dengan
kondisi yang ada.

Apabila ternyata dari hasil pengecekan design tidak sesuai dengan kondisi
lapangan, Konsultan Coordination tim akan membuat alternatif lain yang sesuai
untuk diajukan kepada Pemberi Tugas.
c. Persiapan Konstruksi
Material dan peralatan yang didatangkan Pelaksana Kegiatan akan diperiksa
terlebih dahulu oleh Konsultan sehingga benar-benar memenuhi spesifikasi yang
telah ditetapkan.
Jadwal waktu yang dibuat oleh Pelaksana Kegiatan akan diteliti terlebih dahulu
apakah sudah memadai terhadap volume pekerjaan yang akan dilaksanakan dengan
perkiraan tenaga kerja/tukang yang akan mengerjakannya serta alat yang akan
digunakan. Apabila menurut analisa tidak seimbang antara volume dengan tenaga
kerja dan peralatan terhadap waktu yang tersedia maka Konsultan akan
menyarankan kepada Pelaksana Kegiatan untuk menyiapkan tenaga kerja dan
peralatan yang memadai agar bias selesai tepat pada waktunya.
Penyimpangan biaya keseluruhan biasanya disebabkan oleh adanya pekerjaan
tambahan sebagai akibat dari perubahan design dan pertambahan volume pekerjaan.
Agar tidak terjadi perubahan biaya terlalu besar, Konsultan akan mengusulkan
menggantikan nilai pekerjaan tambah itu dengan pengurangan pekerjaan lainnya
sehingga terjadi kompensasi dan tidak memerlukan biaya tambah sepanjang hal
tersebut memungkinkan dan mendapat persetujuan dari Kepala SNVT / Pemimpin
Bagian Pelaksana Kegiatan Fisik.
Dalam hal ini, Konsultan berupaya menghindari pekerjaan tambah, justru
mengupayakan pekerjaan kurang jika memang dari evaluasi teknis dan biaya
memungkinkan untuk dilakukan pekerjaan kurang.
d. Pre Construction Meeting (PCM)
Dalam waktu kurang dari 14 hari sejak SPMK, diadakan Pre ConstructionMeeting (PCM)
dengan meteri seperti telah dijelaskan dimuka.
2. Rentang Kendali Monitoring
Kegiatan pengendalian teknis rentang “monitoring” adalah kegiatan-kegiatan yang
dilakukan selama masa pelaksanaan pekerjaan. Meskipun Konsultan Pengawas telah
melakukan “pre-audit” namun setiap langkah pelaksanaan pekerjaan akan terus
dimonitor agar kalau terjadi penyimpangan segera diketahui dan dapat diluruskan
kembali sesuai petunjuk yang benar. Selama periode ini Konsultan akan selalu
melakukan evaluasi terhadap progress dan kualitas pekerjaan yang dilaksanakan oleh
Pelaksana Kegiatan.
Dalam melakukan monitoring, kerjasama antara anggota tim akan kita jaga sebaik-
baiknya sehingga informasi dan pelaporan bisa berjalan dengan cepat, sehingga
kerugian yang menyangkut aspek mutu, volume, waktu, dan biaya keseluruhan hasil
pekerjaan dapat dihindari atau ditekan sekecil-kecilnya. Selain mengawasi pekerjaan
fisik Konsultan Pengawas juga memonitor aspek lingkungan sekitar proyek, agar
jangan sampai pelaksana lapangan berikut tukang-tukangnya mengganggu, mematikan
serta merusak flora dan fauna yang ada.
Faktor keselamatan kerja juga akan dimonitor secara rutin dengan memperhatikan
peraturan-peraturan yang berlaku.
3. Rentang Kendali Post-audit
Setiap kemajuan penyelesaian pekerjaan akan merupakan prestasi kerja bagi Pelaksana
Kegiatan. Kemajuan fisik ini akan dipakai untuk pengajuan pembayaran senilai hasil
kerjanya. Namun Pelaksana Kegiatan tidak akan bisa mengajukan permintaan
pembayaran sebelum mendapat rekomendasi dari Konsultan Pengawas bahwa hasil
pekerjaannya sudah memenuhi persyaratan teknis atau tidak.
KOORDINASI DENGAN INSTANSI TERKAIT
Konsultan Pengawas dalam rangka melaksanakan tugas pengendalian teknis tersebut
diatas berkewajiban mengendalikan proses koordinasi yang perlu dilakukan oleh pihak
lain (khususnya oleh Pemberi Tugas).
Koordinasi dengan instansi terkait , antara lain dilakukan dengan :
 Dinas PU Provinsi setempat
 Kepala Satuan Kerja Proyek Fisik.
 Konsultan lain yang terkait
 Instansi terkait lainnya
PENGENDALIAN ADMINISTRASI PROYEK
Dalam hal ini Konsultan Pengawas akan merancang, memberlakukan
serta mengendalikan pelaksanaan keseluruhan sistem administrasi proyek yang
diawasinya, yaitu mencakup antara lain : surat, memoramdum, risalah, laporan, contoh
barang, foto, berita acara, gambar, sketsa, brosur, kontrak dan addendum dan lain-lain yang
dianggap perlu.
Langkah-langkah dan tindakan yang akan dilakukan Konsultan Pengawas untuk maksud
diatas adalah :
Mempelajari, menanggapi, memecahkan dan menyelesaikan sampai tuntas maksud dari
surat masuk maupun keluar.
Memperhatikan memorandum dan risalah untuk pedoman dalam pelaksanaan tugas
Konsultan
Mempersiapkan dan mengecek contoh barang agar memenuhi persyaratan yang
ditetapkan baik kualitas dan kuantitas.
Membuat foto-foto dokumentasi pada setiap paket pekerjaan.
Mempelajari dan mengecek gambar-gambar/sketsa pelaksanaan agar sebelum maupun
sesudah pekerjaan selesai tidak terjadi penyimpangan.
Membantu/menyiapkan addendum serta lain-lain yang dianggap perlu
EVALUASI RENCANA
Konsultan Pengawas terus-menerus melakukan evaluasi atas rencana proyek yang akan
dilaksanakan serta menyarankan perubahan / penyempurnaan / penyesuaian rencana yang
perlu dilakukan (bila ada) guna menjamin tercapainya maksud dan tujuan proyek
dengan sebaik-baiknya.
VERIFIKASI HASIL PEKERJAAN PELAKSANA KEGIATAN
Konsultan Pengawas berwenang dan pada saatnya berkewajiban menyatakan bahwa
hasil pekerjaan Pelaksana Kegiatan telah memenuhi segala persyaratan untuk proses
selanjutnya yaitu persetujuan Pemberi Tugas. Verifikasi ini berupa sertifikasi pada saat
Pelaksana Kegiatan. mengajukan pembayaran. Rekomendasi-rekomendasi persetujuan,
penundaan ataupun penolakan hasil kerja dilakukan saat tersebut berdasarkan hasil
penelitian mutu dan volume yang diproduksi.
KONTROL SISTEMATIK TERHADAP KEGIATAN LAPANGAN
Dalam konteks lebih luas, pekerjaan supervisi mengemban juga fungsi kontrol
manajemen proyek konstruksi. Sebelum memeriksa hasil pekerjaan, perlu diperiksa
dahulu persiapan kerjanya. Persiapan pekerjaan yang dilakukan setengah-setengah atau
dengan cara perencanaan yang mendadak akan mengakibatkan hasil kerja yang tidak
memuaskan. Untuk menanggulangi masalah ini, diperlukan suatu kontrol yang sistematik.
Pengawas lapangan perlu menerapkan sistem kontrol yang baik di lapangan.

Kontrol yang sistematik terhadap kegiatan di lapangan memiliki 3 tujuan yaitu :


Meninjau secara periodik hasil dan kemajuan pekerjaan pada beberapa bidang kegiatan
pokok. Bila mana terdapat kekurangan yang terjadi, maka harus dikembangkan sasaran
jangka pendek dan program kerja untuk mengantisipasinya.
Memastikan bahwa pekerjaan pengawasan berjalan secara benar sehingga peringatan
secara dini dapat diberikan apabila terjadi sesuatu kesalahan.
Mengamankan bahwa biaya yang sudah dianggarkan oleh proyek tidak dilampaui bila
Tidak terjadi perubahan kontrak.

Bidang-bidang sasaran kegiatan pokok yang perlu dikontrol pada waktu peninjauan
dilapangan yaitu :
Pencapaian target kemajuan fisik.
Pencapaian target keuangan.
Pengadaan dan pembelian barang, bahan dan peralatan.
Pemakaian tenaga kerja dan peralatan untuk menjamin efektifitas dan efisiensi kerja
Lapangan.
Pemantapan kerja sama pekerja proyek dari seluruh bagian / divisi.
Hubungan dengan pihak pemilik
Tiap bidang tersebut diatas ditinjau apakah situasinya mantap, kurang memadai
atau menunjukkan tendensi yang tidak menggembirakan.
Dengan mengetahui keadaan dan situasi masalah dengan benar, maka langkah-langkah
yang diambil untuk mengatasinya akan lebih cepat dan efektif.
KUNJUNGAN LAPANGAN/SITE VISIT
Frekuensi kunjungan ke lapangan tergantung dari pentingnya keadaan lapangan,
sifatnya dapat secara harian atau mingguan. Frekuensi kunjungan juga dapat
tergantung pada tahapan dari Kepala Satuan Kerja Proyek Fisik yang mengelolanya
beserta para timnya sesuai urgensinya.
PENGENDALIAN WAKTU
Merencanakan dan membangun adalah suatu aktifitas yang dinamis, dan
yang dipengaruhi oleh bermacam-macam factor. Karena itu network / s-curve chart
yang telah disetujui sebagai pegangan untuk pelaksanaan harus secara periodik atau sesuai
kondisi dicheck kembali :
Apakah waktu yang direncanakan telah ditepati
Akan ditepati dalam jangka panjang atau segera dan / atau.
Nantinya akan ditepati (jangka panjang).
Bila perlu dapat diadakan perubahan baru untuk mengendalikan jalannya proyek seperti
yang dikehendaki.
1. Jarak Waktu Kontrol
Jarak waktu kontrol dapat dibedakan menjadi 2 macam rentang waktu yaitu :
 1 – 2 minggu untuk aktifitas yang kritis atau bisa kurang dari 1 minggu.
 2 – 4 minggu untuk aktifitas-aktifitas yang tidak kritis.
2. Cara Mengontrol
Dibedakan 3 cara mengontrol, sebagai berikut :
 Untuk sebuah aktifitas yang akan dimulai : disajikan langkah-langkah cara mengontrol
seperti flow chart Gambar 3.
 Untuk menguji pekerjaan yang seharusnya sudah dimulai : disajikan langkah-langkah
cara mengontrol seperti flow chart Gambar 3.10.
 Uji pekerjaan yang seharusnya sudah selesai : disajikan langkah-langkah cara
mengontrol seperti flow chart Gambar 3.11
Untuk monitoring dan pengontrolan proyek ini akan digunakan sistem informasi
pengendalian proyek yang dilaksanakan dengan suatu aplikasi berbasis komputer.
Monitoring dan pengendalian proyek dilakukan pada aspek-aspek berikut :
Planning dan scheduling pekerjaan yang meliputi quantity, duration, dates, network
planning atau precedence Diagram Methode.
Progress Performance.
Schedule Control.
Project cost control yang meliputi pelaporan status nilai kontrak vs aktual, perhitungan
pembayaran progress pekerjaan.

Unsur-unsur tersebut merupakan informasi dasar untuk memonitoring, pengendalian,


analisis dan manajemen proyek.
Pekerjaan pengendalian proyek ini diawali dengan pemasukan data-data proyek (project
data entry) yang akan menjadi acuan (baseline) dalam monitoring dan pengendalian
pelaksanaan proyek selanjutnya. Data-data tersebut disimpan didalam database di kantor
proyek, dan selalu di up-date untuk keperluan pelaporan dan analisa secara periodik.
Berdasarkan target-target pengendalian yang ditentukan sebelumnya maka dapat dilakukan
analisa terhadap permasalahan yang timbul dalam aspek skedul, progress dan pembiayaan
proyek. Dari analisa masalah tersebut dilakukan upaya perbaikan untuk membawa program
proyek kembali ke rencana semula. Gambar 3.12. Skematika aliran kerjanya adalah
sebagai berikut :
Informasi yang di peroleh dari pelaporan tersebut dapat di analisa dan di jadikan bahan
dalam pengambilan keputusan menajemen kegiatan. Pelaporan kegiatan dibuat dengan
format dan prosedur yang standar untuk memperoleh peningkatan efisiensi, efektifitas dan
optimalisasi sinergi kerja, sehingga Dinas Pekerjaan Umum setempat dapat mencapai
performansi dan kualitas akhir manajemen pembangunan yang lebih baik. Manfaat utama
lainnya dari sistem ini antara lain adalah :
a. Satuan Kerja/Pejabat membuat Komitmen dapat memonitor dan mengendalikan
kegiatan secara terintegrasi dengan sistem yang ada di Dinas Pekerjaan Umum.
b. Memberikan tambahan kapasitas kepada Dinas Pekerjaan Umum untuk meningkatkan
kualitas dan kuantitas pelayanan kepada pengguna jalan melalui penyelesaian
pembangunan jalan beserta falisilitas pendukung lainnya yang sesuai jadwal dan alokasi
biaya.
Metodologi Pengontrolan Proyek
Untuk menerapkan metodologi pengendalian proyek secara baik dan sistematis, maka
Konsultan membaginya ke dalam beberapa tahap :
Tahapan Initialisasi
Tahap initialisasi dilakukan untuk menjabarkan aktifitas-aktifitas proyek (workBreakdown
Structurel WBS) sampai ke level yang terendah yang mencerminkan keterkaitan antar
aktifitas. Tahapan ini dimulai dari pendeskripsian dan penggolongan aktifitas proyek yang
ada, menentukan volume dan bobot dari masing-masing aktifitas, pengurutan pekaksanaan
aktifitas (network planning – predecessor dan successor dari setiap aktifitas detail) dan tipe
dari relasi-relasi antar aktifitas, yaitu SS-Start to Start, SF – Start to finish, FS – finish to
Start atau FF – Finish to Finish Juga dideskripsikan mengenai penjadwalan pekerjaan,
resources atau sumber daya yang terlibat dalam pelaksanaan proyek, seperti tenaga
ahli, konsultan, tenaga pekerja administrator, serta bahan dan alat penunjang pelaksanaan
proyek.
Setiap aktifitas dilengkapi dengan volume pekerjaan, bobot (persentase perbandingan
antar volume pekerjaan dengan nilai nominal – rupiah). Hasil dari tahap ini akan
digunakan sebagai base line/dasar untuk pemgendalian proyek pada saat pelaksanaan.
Tahapan Pelaksanaan
Tahap ini dipergunakan untuk memonitor dan mengawasi jalannya pelaksanaan proyek.
Termasuk didalam tahapan ini adalah proses update data kemajuan hasil pelaksanaan
proyek, yang diperinci dari prestasi detail sampai ke prestasi secara umum, mengawasi
aktifitas-aktifitas kritis yang ditampilkan pada barchart dan pengawasan terhadap resource
yang terlibat dengan menambah atau mengurangi jumlah resource (tenaga, bahan dan alat)
apabila perlu.
Pengisian hasil kemajuan proyek dapat dilihat dari hasil pencapaian kemajuan proyek pada
minggu sebelumnya, sehingga project control dapat memperlihatkan aktifitas yang tidak
memperlihatkan kemajuan yang berarti atau justru berada pada kondisi kritis yaitu aktifitas
yang memiliki total Float sama dengan nol. Pelaksanaan aktifitas tersebut tidak boleh
mengalami penundaan lebih dari satu hari kerja. Keberadaan kondisi kritis dari suatu
aktifitas digambarkan dalam garis yang berbeda warna pada tampilan barchart, yaitu
sebagai berikut :
 Total Float = 0, digambarkan dengan warna merah;
 1 < Total float < 5, digambarkan dengan warna kuning;
 Sedangkan total Float >=6, digambarkan dengan warna hijau.
Hal tersebut perlu menjadi perhatian bagi project control dan menjadi salah satu acuan bagi
analisa kemajuan pelaksanaan proyek yang menjadi tanggung jawabnya. Selanjutnya dapat
dilakukan beberapa tindakan untuk meningkatkan kinerja proyek, seperti penambahan
tenaga ahli, tenaga pekerja, bahan dan alat penunjang, atau merubah metode
pelaksanaannya.
Tahap Pelaporan
Tahap pelaporan ini ditujukan untuk menyampaikan kemajuan pelaksanaan proyek actual
di lapangan kepada pihak Pemberi Tugas / pemilik proyek untuk mendapatkan gambaran
kemajuan proyek di lapangan, dengan ikut memperhatikan hal-hal kritis yang di peroleh
dari analisa pelaksanaan proyek. Bentuk laporan ini disesuaikan dengan kebutuhan
pelaporan, dan terbagi menjadi pelaporan kemajuan proyek secara tabular, pelaporan
kemajuan proyek secara barchart, serta dalam bentuk S-Curve; yang membandingkan
pencapaian actual dengan baseline proyek.
Dibawah ini adalah bagaimana pengendalian waktu perlu mendapat perhatian agar tidak
terjadi perpanjangan waktu yang tidak perlu yang akan memboroskan waktu, tenaga dan
biaya.
1. Schedule Pelaksanaan Kegiatan
Sebelum pekerjaan dimulai konsultan akan mengecek schedule pelaksanaan yang
dibuat Pelaksana Kegiatan.
Apakah rencana kerja Prosress pekerjaan yang di targetkan sudah layak dan realistis.
Misalnya dalam musim hujan, target pekerjaan lebih kecil bila dibandingkan pada
musim kemarau untuk pekerjaan pengaspalan misalnya untuk kondisi kerja yang sama.
Kemudian juga construction method, urutan Kerja Pelaksanan Kegiatan apakah sudah
sistematis, konsepsional dan benar.
Selanjutnya berdasarkan schedule Pelaksana Kegiatan yang sudah disetujui, Konsultan
Pengawas akan mengendalikan waktu pelaksanaan tersebut.
Dari time schedule tersebut bisa dijabarkan ke dalam target harian, sehingga setiap hari
apakah target volume tersebut bisa tercapai atau tidak, bila target volume tersebut tidak
tercapai maka selisih volume harus diprogramkan/dikejar untuk schedule hari
berikutnya.
Dengan time schedule yang dibuat dan disetujui itu bila dilaksanakan dengan
sebagaimana mestinya dan dikendalikan dengan baik maka diharapkan proyek bisa
diselesaikan “on schedule”.
2. Peralatan
Untuk mengerjakan pekerjaan jalan, diperlukan peralatan dengan
kombinasi/beberapa jenis alat dan jumlah alat yang mencukupi. Sedemikian
hingga volume pekerjaan yang direncanakan bisa diselesaikan dalam waktu yang
ditentukan.
3. Tenaga Kerja
Demukian juga untuk tenaga kerja, untuk suatu pekerjaan diperlukan tenaga kerja yang
mencukupi, sehingga pekerjaan akan bisa diselesaikan oleh tenaga kerja sesuai dengan
jadwal/waktu yang ditentukan. Bila kondisi pekerjaan diperkirakan tidak bisa
diselesaikan, maka tenaga kerja perlu ditambah atau kerja dua shift atau kerja
lembur/overtime.
4. Jumlah Jam Kerja
Untuk penyelesaian suatu pekerjaan, tergantung juga pada jam kerja per hari. Jumlah jam
kerja yang sedikit akan menghasilkan produk yang lebih kecil dari pada bila per hari jam
kerjanya lebih banyak.
Jam kerja perlu disesuaikan dengan kapasitas alat, tenaga kerja, sedemikian hingga
volume pekerjaan yang ditargetkan bisa diselesaikan. Kalau suatu pekerjaan tidak bisa
diselesaikan dalam satu hari siang, maka perlu untuk kerja malam/overtime.
Untuk administrasi pengendalian waktu, agar pengendalian dapat dicapai secara
optimal maka Konsultan memahami secara sungguh-sungguh “Network Planning” yang
umumnya telah dibuat oleh Pelaksana Kegiatan dengan metode lintas kritis (Critical
Path Method/CPM).
Mengingat sangat pentingnya time schedule ini didalam suatu pekerjaan pengawasan, maka
Konsultan akan menganalisa secara rutin time schedule dari Pelaksana Kegiatan dan akan
membantu Pelaksana Kegiatan dalam mereview dan menyusun kembali time schedule
tersebut bila memang diperlukan.
Pengendalian schedule pelaksanaan lainnya dapat menggunakan “Barchart/S-Curve”
yang biasa dan juga dapat digunakan “Vector Diagram” yang baik/cocok untuk
pekerjaan jalan karena dapat mengetahui/menunjukkan lokasi dan waktu. Schedule ini,
pada arah “absis” menunjukkan lokasi atau STA, sedangkan arah “ordinat”
menggambarkan waktu.
PENGENDALIAN MUTU
Selama periode konstruksi, Konsultan akan senantiasa memberikan
pengawasan, arahan, bimbingan dan instruksi yang diperlukan kepada Pelaksana Kegiatan
guna menjamin bahwa semua pekerjaan dilaksanakan dengan baik, tepat kualias untuk
semua jenis pekerjaan baik untuk konstruksi-konstruksi pokok maupun perlengkapan
jembatan, untuk itu akan di uraikan disini.
Aspek-aspek pengendalian mutu yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan konstruksi
antara lain sebagai berikut dibawah ini namun tidak terbatas pada :
Peralatan laboratorium.
Penyimpanan bahan/material
Cara pengakutan material / campuran ke lokasi kerja. Pengujian material yang akan
diginakan
Penyiapan job mix formula campuran.
Pengujian rutin laboratorium selama pelaksanaan.
Test lapangan.
Administrasi dan formulir-formulir.
Pengendalian kualitas tersebut di atas seperti di uraikan berikut ini :
1. Peralatan Laboratorium dan Personil
Peralatan laboratorium yang perlu dipergunakan untuk pekerjaan utama (major work).
Personil/tenaga yang terkait untuk maksud pengujian harus cukup berpengalaman dan
mengenal dengan baik tentang testing laboratorium maupun lapangan.
2. Penyimpanan Bahan/Material
 Bahan-bahan harus disimpan dengan suatu cara yang sedemikian rupa untuk
menjamin perlindungan kualitas.
 Bahan-bahan yang disimpan harus ditempatkan sedemikian rupa yang mudah dapat
diperiksa oleh Konsultan.
 Tempat penyimpanan harus bebas dari tumbu-tumbuhan dan puing, harus
mempunyai drainase yang lancar.
Bahan-bahan yang diletakkan langsung diatas tanah tidak boleh digunakan dalam
pekerjaan kecuali tempat kerja tersebut telag dipersiapkan dan diberi lapisan atas
dengan suatu lapisan pasir atau kerikil setebal 10 cm.
Bahan-bahan harus disimpan dengan cara yang sedemikian rupa untuk mencegah
segregasi dan untuk menjamin gradasi yang sesuai serta mengontrol kadar air. Tinggi
maksimum tumpukan 5 m.
 Penumpukan berbagai ragam agregat untuk hotmix, beton, harus dipisahkan dengan
papan pembatas guna mencegah pencampuran bahan-bahan.
Tumpukan agregat harus dilindungi dari hujan untuk mencegah kejenuhan agregat
yang akan mengakibatkan penurunan kualitas.
3. Cara Pengukuran Material / Campuran
Konsultan dapat mengenakan pembatasan bobot pengangkutan untuk perlindungan
terhadap setiap jalan atau struktur yang ada disekitar proyek.
 Pengangkutan hotmix perlu ditutup dengan bahan tebal guna mempertahankan suhu
campuran. Walaupun pekerjaan ini kelak bukan pekerjaan utama tetapi perlu
ditekankan karena akan mempengaruhi kinerja jembatan nantinya.
 Bilamana terjadi gangguan diantara operasi berbagai pekerjaan, Konsultan akan
mempunyai wewenang untuk memerintahkan Pelaksana Kegiatan dan untuk
menentukan urutan pekerjaan yang diperlukan guna mempercepat penyelesaian seluruh
proyek.
4. Pengujian Material Yang Akan Digunakan
 Semua material dari setiap bagian pekerjaan akan di inspeksi oleh Konsultan.
Setiap saat Konsultan akan menginspeksikan material yang akan digunakan
berdasarkan atas jadwal Kerja Pelaksana Kegiatan.
 Walaupun bahan yang disimpan telah disetujui sebelum penyimpanan, namun dapat
diperiksa ulang dan ditest kembali oleh Konsultan.
 Material yang akan digunakan harus ditest di laboratorium untuk mendapat
persetujuan dari Konsultan, jenis dan jumlah test seperti yang disebutkan dalam
spesifikasi.
5. Job Mix Formula
Agar mendapatkan campuran yang baik dan memenuhi persyaratan spesifikasi,
sebelum pekerjaan dimulai perlu dibuatkan dahulu suatu job Mix Formula yang
disetujui Konsultan, antara lain untuk pekerjaan Beton.
6. Pengujian Rutin Laboratorium
Selama pelaksanaan seperti yang disebutkan dalam spesifikasi, bahan-bahan atau
campuran-campuran perlu dilakukan pengujian rutin harian atau selama pekerjaan
berlangsung guna menjamin kualitas sesuai dengan persyaratan.
Jenis dan frekuensi/jumlah test rutin ini seperti yang disebutkan dalam spesifikasi.
7. Pengujian Hasil Kerja / Test Lapangan (Uji Terima)
Sertelah pekerjaan selesai dilaksanakan, produk tersebut perlu diadakan pengujian/test
lapangan guna memastikan kwalitas pekerjaan sesuai dengan yang direncanakan.
Tahap demi tahap pekerjaan ini sebagaimana yang didiagramkan pada Gambar
3.13.
Flowchart Pengendalian Mutu.

ADMINISTRASI DAN FORMULIR-FORMULIR


Gambar E.14 menunjukkan kelengkapan administrasi proyek yang umum digunakan.
Dokumen kontrol diperlukan proyek anatara lain sebagai berikut dibawah ini:
Buku direksi
Time schedule
MCA (Mutual Check Awal)
Request & shop drawing
Laporan harian
Laporan mingguan
Risalah Rapat
Berita acara opname pekerjaan
Record cuaca
Photo dokumentasi
Change order
Addendum
Monthly certificate (MC)
PHO (Provinsial Hand Over) / FHO (Final Hand Over)
Dan lain-lain disesuaikan dengan kebutuhan proyek.
PENGENDALIAN KUALITAS
Pengawasan kuantitas, akan mengecek bahan-bahan/campuran yang ditempatkan atau
dipindahkan oleh Pelaksana Kegiatan atau yang terpasang. Secara umum terdapat 2
jenis pemeriksaan kuantitas yaitu :
Pemeriksaan terhadap bahan-bahan yang bisa dibayarkan sebagai material saja.
Pemeriksaan terhadap hasil kerja.
Untuk pemeriksaan hasil kerja Konsultan akan memproses bahan-bahan/campuran
berdasarkan atas :
Hasil pengukuran yang memenuhi batas toleransi pembayaran.
Metode Perhitungan
Lokasi kerja.
Jenis Pekerjaan
Tanggal diselesaikannya pekerjaan.
Setelah produk pekerjaan memenuhi persyaratan baik kualitas maupun elevasi dan
persyaratan lainnya, maka pengukuran kuantitas dapat dilakukan agar volume pekerjaan
dengan teliti/akurat.
yang disetujui oleh Konsultan sehingga kuantitas dalam kontrak adalah benar di ukur
dan di rekomendasikan untuk dibayar oleh Konsultan dan mendapat persetujuan
Pemberi tugas.
Rekomendasi hasil pengukutan kuantitas ini
Harus dalam suatu Berita Acara yang disetujui bersama oleh tiga pihak pelaksana proyek.
Formulir untuk perhitungan kuantitas tersebut untuk semua item pekerjaan dalam kontrak
berupa Quantity Sheet dapat disiapkan semuanya oleh Konsultan.
PENGENDALIAN BIAYA PELAKSANAAN
PROYEK Didalam kontrak pelaksanaan pekerjaan
tercantum :  Biaya proyek.
 Estimated quantity /volume
pekerjaan.  Harga satuan pekerjaan
Guna pengendalian biaya pelaksanaan proyek, hal-hal pokok yang perlu diperhatikan antara
lain sebagai berikut :
 Pengukuran hasil pekerjaan, harus dilakukan dengan akurat dan benar-
benar sehingga kuantitas yang dibayar sesuai dengan gambar rencana. Dengan
demikian volume dalam kontrak tidak dilampaui yang pada akhirnya biaya
yang dikeluarkan sudah sesuai dengan yang dianggarkan.
 Pekerjaan yang bisa dibayar adalah pekerjaan yang sudah diterima dari segi
pengukuran/kuantitas dan kualitas, sehingga biaya yang dikeluarkan adalah benar-
benar untuk pekerjaan yang sudah memenuhi spesifikasi.
Pekerjaan yang bisa dibayar adalah pekerjaan yang tercantum dalam kontark dan
harga satuan pekerjaan yang sudah ada dalam kontrak pelaksanaan, sehingga biaya
proyek dibayarkan sesuai dengan item pekerjaan yang ada dalam kontrak.
PEMERIKSAAN MONTHLY CERTIFICATE (MC)
Pelaksanaan kegiatan harus menyerahkan suatu nilai estimasi dari pekerjaan
yang dilaksanakan kepada Site Engineer pada setiap akhir bulan yang berjalan, yang
selanjutnya disebut sebagai “Sertifikat bulanan (Monthly Certificate – MC)”. Format
sertifikat bulanan harus sesuai dengan standar atau di usulkan oleh Konsultan dan disetujui
oleh Pemberi Tugas.
Site Engineer akan memeriksa/memverifikasi kemajuan pekerjaan yang diajukan pada
sertifikat bulanan berdasarkan hasil pemeriksaan volume (Chief Inspector) dan hasil
pemeriksaan mutu (Quality Engineer). Apabila telah dianggap sesuai dengan sebenarnya
yang telah terjadi di lapangan, selanjutnya dapat disetujui untuk menandatangani
bersama oleh wakil Pelaksana Kegiatan, Konsultan, dan Kepala Satuan Kerja Proyek Fisik.
PEMERIKSAAN PEMBAYARAN AKHIR
Tim Pengawas Teknis akan memeriksa kembali seluruh pembayaran yang telah
lalu. Pembayaran terdahulu yang sudah disetujui apabila terdapat kesalahan masih dapat
dikoreksi pada pembayaran berikutnya.
Dalam tahap pembayaran akhir, perlu diperiksa dan dievaluasi kuantitas yang
telah dibayar sebelumnya, sehingga kuantitas/volume yang dibayar dalam
pembayaran akhir merupakan final quantity yang benar.
PROSEDUR PERUBAHAN (CONTRACT CHANGE ORDER)
Perubahan terhadap pekerjaan dapat dimulai oleh Kepala Satuan Kerja proyek fisik atau
Pelaksana Kegiatan dan harus disetujui dengan suatu Perintah perubahan yang ditanda
tangani oleh kedua belah pihak. Jika dasar pembayaran yang ditetapkan dalam suatu
Perintah Perubahan tersebut menyajikan suatu perubahan dalam struktur Harga Satuan Jenis
Pembayaran atau suatu perubahan yang diperkirakan dalam Jumlah Kontrak, Maka Perintah
Perubahan harus dirundingkan dan dirumuskan dalam suatu Addendum.
SERTIFIKAT PENYELESAIAN AKHIR
Bila Pelaksanaan Kegiatan menganggap pekerjaan akan selesai, termasuk
semua kewajiban dalam Periode Jaminan, maka Pelaksana Kegiatan harus membuat
permohonan untuk serah terima pertama
Setelah penyelesaian dari setiap pekerjaan perbaikan yang diminta oleh Panitia
Serah Terima, dan dilanjutkan dengan pemeriksaan akhir terhadap pekerjaan tersebut, maka
Konsultan membantu mempersiapkan Sertifikat Penyelesaian Akhir.
PERNYATAAN PERHITUNGAN AKHIR
Pelaksana Kegiatan harus membuat permohonan untuk pembayaran perhitungan akhir,
bersama-sama dengan semua rincian pendukung sebagaimana diperlukan oleh Satuan Kerja
Non Vertikal Tertentu Proyek Fisik
Setelah peninjauan kembali oleh Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu Proyek Fisik
dan jika diperlukan, amandemen oleh Pelaksana Kegiatan, Kepala Satuan Kerja Proyek
Fisik akan mengeluarkan suatu pernyataan Perhitungan Akhir yang disetujui untuk
pembayaran oleh Pemberi Tugas.
ADDENDUM PENUTUP
Berdasarkan pada rincian Pernyataan Kepala Satuan Kerja Proyek Fisik mengenal
Perhitungan Akhir, setelah disetujui dan ditanda tangani Pelaksana Kegiatan, Kepala
Satuan Kerja Proyek Fisik akan menyampaikan addendum penutupan tersebut kepada
Pemberi Tugas untuk ditanda tangani bersama-sama dengan Pernyataan Perhitungan Akhir
yang disetujui.
DOKUMEN CATATAN PROYEK
Pelaksana Kegiatan harus memelihara suatu catatan yang cermat tentang
semua perubahan dalam Dokumen Kontrak dan Dokumen Catatan Proyek selama
pelaksanaan pekerjaan.

E. 5 PROGRAM KERJA
E.5.1 UMUM
Rencana kerja merupakan gambaran menyeluruh dan komprehensif usulan dari
konsultan dalam melaksanakan pekerjaan yang akan ditangani sesuai dengan Kerangka
Acuan Kerja (KAK) yang telah diberikan. Dalam rencana kerja ini akan diuraikan urutan –
urutan pekerjaan konsep penanganan masalah, tanggung jawab dan personil yang
terlibat, pengerahan sarana maupun personil pendukung, schedule pelaksanaan pekerjaan
serta schedule personil. Untuk memudahkan dalam pelaksanaan pekerjaan, maka harus
disusun Bagan Alir Pelaksanaan Pekerjaan. Bagan Alir ini berisikan tahapan-tahapan
pekerjaan yang akan dikerjakan, sehingga dalam penyusunan jadwal pelaksanaan
pekerjaan harus berpatokkan pada Bagan Alir Pelaksanaan Pekerjaan tersebut.

E.5.2 RENCANA KERJA


Rencana kerja ini disusun berdasarkan tahapan kegiatan sesuai dengan lingkup
pekerjaan sesuai dengan KAK. Secara garis besar rencana kerja pelaksanaan pekerjaan
diuraikan sebagai berikut :
1. Persiapan dan Orientasi Awal
Lapangan a. Lingkup Kegiatan :
 Melaksanakan orientasi lapangan awal terhadap rencana kegiatan yang
akan dilaksanakan.
 Melaksanakan kajian terhadap hasil perencanaan setelah dilakukan peninjauan
awal lapangan.
 Melaksanakan
sosialisasi. b. Personil Yang
Bertugas :
 Team
Leader
 Ahli
Irigasi
c. Waktu Kegiatan :
 Dilaksanakan pada Minggu Ke-1 dan Ke-2 pada Bulan Ke-1
2. Penyusunan Review Desain
Untuk lingkup kegiatan Supervisi Pembangunan Tahun Anggaran 2014 ini, konsultan
juga ditugaskan untuk mengadakan review terhadap desain yang sudah ada sesuai
dengan hasil evaluasi. Rencana kerja untuk penyusunan review desain sesuai dengan
lingkup kegiatan dapat diuraikan sebagai berikut :
1) Pengumpulan Data dan Evaluasi Hasil Studi Yang Ada
a. Lingkup Kegiatan :
 Pengumpulan data sekunder dan primer
 Evaluasi hasil studi yang ada.
b. Personil Yang Bertugas :
 Team Leader
 Ahli Irigasi
c. Waktu Kegiatan :
 Dilaksanakan pada Bulan Ke-1 hingga Bulan ke-4
2) Evaluasi Hasil Survei Pengukuran dan Mekanika Tanah
a. Lingkup Kegiatan :
 Evaluasi jaringan irigasi dan site bangunan
 Evaluasi hasil survei pengukuran dan penggambaran
 Evaluasi hasil penyelidikan mekanika tanah dan laboratorium
b. Personil Yang Bertugas :
 Team Leader (Koordinator)
 Ahli Irigasi
c. Waktu Kegiatan :
 Dilaksanakan pada Bulan Ke-1 sampai dengan Bulan Ke-4 (termasuk penggambaran jika
diperlukan)
3) Evaluasi Hasil Analisa dan Perencanaan Detail
a. Lingkup Kegiatan :
 Evaluasi hasil analisa kebutuhan air irigasi, daerah layanan irigasi, analisa hidrolika
 Evaluasi hasil penggambaran dan RAB
Pelaporan
b. Personil Yang Bertugas :
 Team Leader (Koordinator)
 Ahli Irigasi
 Quantity Engineer
c. Waktu Kegiatan :
 Dilaksanakan pada Bulan Ke-1 sampai dengan Bulan
Ke-6 3. Supervisi Konstruksi
Konsultan supervisi akan melaksanakan tugas-tugas pengawasan konstruksi
secara keseluruhan dan memberikan bantuan teknis maupun non teknis dalam
pelaksanaannya, dengan rencana kerja sebagai berikut :
1) Sebelum Pelaksanaan Proyek (Pre-
Construction).
a. Lingkup Kegiatan :
Meliputi mobilisasi tim konsultan, evaluasi organisasi pelaksanaan di lapangan
dan koordinasi dengan pihak terkait.
b. Personil Yang Bertugas :
 Team Leader (Koordinator)
 Ahli Irigasi
 Quantity Engineer
 Pengawas Lapangan/Inspector
c. Waktu Kegiatan : Dilaksanakan pada minggu ke-1 pada Bulan Ke-I
2) Saat Awal Proyek (AT-Project Starting)
a. Lingkup Kegiatan :
Meliputi koordinasi awal dengan pihak proyek dan kontraktor, pengecekan bersama
terkait dengan item-item pekerjaan dan jadwal pelaksanaan konstruksi, sistem kerja dll.
b. Personil Yang Bertugas :
 Team Leader (Koordinator)
 Ahli Irigasi
 Quantity Engineer
Pengawas Lapangan/Inspector
c. Waktu Kegiatan :
Dilaksanakan pada minggu ke-1 dan ke 2 pada Bulan Ke-I
2) Pelaksanaan Proyek
(ProjectConstruction).
a. Lingkup Kegiatan :
Meliputi pengendalian kualitas pelaksanaan pekerjaan, pengukuran tahap
pelaksanaan pekerjaan dan pembayarannya, monitoring dan pelaporan
pelaksanaan pekerjaan, pelaksanaan test akhir pada pekerjaan yang telah selesai
dilaksanakan dan dokumentasi.
b. Personil Yang Bertugas :
 Team Leader (Koordinator)
 Ahli Irigasi
 Quantity Engineer
 Pengawas Lapangan c.
Waktu Kegiatan :
Dilaksanakan pada minggu ke-1 pada Bulan Ke-I sampai dengan Bulan Ke-7 4) Saat Proyek
Selesai (Project Completion)
a. Lingkup Kegiatan :
b. Meliputi masa pemeliharaan, pemeriksaan bersama, serah terima pekerjaan,
pembayaran akhir dan evaluasi dan penilaian pekerjaan yang telah selesai
dilaksanakan.
Personil Yang Bertugas :
 Team Leader (Koordinator)
 Ahli Irigasi
 Quantity Engineer
Pengawas Lapangan
c. Waktu Kegiatan : Dilaksanakan pada Bulan Ke-7
E.5.3 PELAPORAN
A. Jenis Laporan
Konsultan memahami bahwa produk dari pelaksanaan pekerjaan ini adalah beberapa
jenis laporan yang disusun dan diserahkan selama masa kontrak. Sesuai dengan KAK maka
Konsultan harus menyerahkan beberapa jenis laporan dan jumlah sesuai dengan tertuang di
KAK ke Satuan Kerja, meliputi :
1) Laporan Pendahuluan ( Inception report )
Laporan Pendahuluanberisi susunan tim pengawas, program kerja, jadwal pelaksanaan,
hasil pengecekan lapangan awal dan metode pelaksanaan pekerjaan, Laporan ini
diserahkan selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari kalender sejak SPMK diterbitkan,
sebanyak 4 (Empat)rangkap.
2) Laporan Bulanan
Laporan harus memuat keterangan mengenai mobilisasi dan demobilisasi,
kemajuan pelaksanaan pekerjaan, masalah teknis dan non teknis yang dihadapi dan
rencana pelaksanaan pekerjaan pada periode berikutnya, Laporan ini harus disampaikan
pada setiap akhir bulan dan dibuat dalam bahasa Indonesia rangkap 4 (Empat) setiap
bulannya.
3) Laporan Utama
Laporan Utama berisikan tentang hasil kegiatan supervisi secara menyeluruh dan
detail termasuk pelaksanaan pembuatan desain yang dilakukan selama pelaksanaan
konstruksi, Laporan ini dibuat sebanyak 4 (Empat) rangkap dan diserahkan paling lambat
akhir kontrak.
4) Laporan Monitoring Lingkungan
Laporan ini berisi tentang kajian-kajian mengenai seberapa jauh dampak lingkungan
yang dapat terjadi akibat pelaksanaan kegiatan. Laporan ini dibuat dalam rangkap 4
(Empat) dan diserahkan paling lambat akhir kontrak.
5) Laporan Pengawasan Mutu
Merupakan laporan yang berisi proses quality control berupa hasil test, selama
pelaksanaan konstruksi. Laporan Pengawasan Mutu dibuat dalam buku tersendiri, dibuat
sebanyak 4 (empat) rangkap, dan diserahkan selambat-lambatnya akhir pelaksanaan.
6) Laporan Foto Dokumentasi
Menampilkan dokumentasi pelaksanaan pekerjaan dari awal sampai akhir
pelaksanaan pekerjaan dan menyerahkan. Laporan ini dibuat sebanyak 4 (empat) album.
7) File Video
Menampilkan video dokumentasi pelaksanaan pekerjaan dari awal sampai akhir
pelaksanaan pekerjaan. Video dibuat sebanyak 4 (empat) set.
8) Gambar Review / Review Disaign
Berisikan gambar hasil review disain terhadap rencana yang tertuang dalam
Dokumen Kontrak dibuat dalam ukuran A3 dibuat sebanyak 4 (empat) rangkap dan
diserahkan paling lambat akhir kontrak.
9) Soft Copy dalam eksternal Hardisk
Konsultan juga menyerahkan file-file laporan, dalam bentuk eksternal Hardisk.
Selama pelaksanaan kegiatan diperlukan dokumentasi terutama pada peristiwa penting
yang terjadi. Dokumentasi bukan hanya meliputi foto-foto pelaksanaan pekerjaan tapi
termasuk juga live documentation (video) tentang alur keseluruhan pekerjaan. Soft copy ini
di masukkan dalam eksternal Hardisk dibuat sebanyak 1 (satu) buah dan diserahkan paling
lambat akhir kontrak kepada pemilik pekerjaan.
E. 6 ORGANISASI DAN PERSONIL
E.6. 1 Umum
Dalam bab ini diuraikan bagan organisasi pengguna jasa, penyedia jasa,
struktur organisasi yang menggambarkan hubungan koordinasi antara pengguna jasa dan
penyedia jasa serta masing-masing Tim Konsultan. Dalam struktur organisasi pelaksana
pekerjaan yang melibatkan beberapa tenaga profesional, tenaga sub profesional dan
tenaga penunjang dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing sesuai dengan
bidang keahliannya. Untuk memperjelas alur koordinasi dalam pelaksanaan pekerjaan
ini, maka dibuat bagan organisasi pelaksana agar pelaksanaan pekerjaan berjalan sesuai
KAK. Disamping itu konsultan juga menyadari adanya mekanisme kontrol terhadap proses
dan hasil dari pekerjaan konsultan.
E.6. 2 Bagan Organisasi dan Organisasi Pelaksana
Bagan organisasi untuk pelaksanaan pekerjaan dimaksudkan untuk membuat
jalur koordinasi untuk semua personil pelaksana. Spesifikasi tenaga ahli yang
diperlukan adalah sebagai berikut:
1) Profesional Staff
a. Ketua Tim (Team Leader)
Seorang Sarjana Teknik Sipil/Pengairan (S1) memiliki sertifikat Ahli Sumber Daya
Air minimal ahli muda dengan pengalaman minimum 6 tahun dalam bidang
planning, perencanaan, supervisi konstruksi dan manajemen konstruksi untuk
menangani pekerjaan sejenis. Tugas dan tanggung jawab Team Leader yaitu melakukan
pengendalian pelaksanaan dan kualitas pekerjaan secara menyeluruh yang
mencangkup aspek teknis, administrative dan logistik. Perkiraan penugasan selama 7
bulan.
b. Ahli Irigasi
Seorang Sarjana Teknik Sipil (S1) memiliki sertifikat Ahli Sumber Daya Air minimal
ahli pratama dengan pengalaman minimum 4 tahun dalam bidang planning,
perencanaan, supervisi konstruksi dan manajemen konstruksi untuk menangani
pekerjaan bangunan air atau sejenis. Tugas dan tanggung jawab yaitu melakukan
kajian dan review desain pengawasan/pengendalian mutu dan teknis pelaksanaan
pekerjaan konstruksi sipil Perkiraan penugasan selama 6 bulan.
c. Quality Engineer
Seorang Sarjana Teknik Sipil memiliki sertifikat Ahli Sumber Daya Air minimal
ahli pratama dengan pengalaman minimum 4 tahun dalam menangani pekerjaan
pengawasan pekerjaan jaringan penyediaan atau pekerjaan sejenis. Adapun tugas dan
tanggung jawabnya yaitu mengevaluasi kualitas pekerjaan, melakukan pengawasan /
mutu pekerjaan. Perkiraan penugasan selama 5 bulan.
d. Quantity Engineer
Seorang Sarjana Teknik Sipil yang memiliki sertifikat Ahli Sumber Daya Air minimal ahli
pratama dengan pengalaman minimum 4 tahun dalam menangani pekerjaan pengawasan
pekerjaan jaringan penyediaan atau pekerjaan sejenis. Adapun tugas dan tanggung jawabnya
yaitu mengevaluasi kuantitas pekerjaan, melakukan pengawasan dan pengendalian kuantitas
pekerjaan. Perkiraan penugasan selama 5 bulan
2) Sub Profesional Staff
Tenaga Sub professional staff yang diperlukan untuk membantu kelancaran pekerjaan
adalah Pengawas Konstruksi/Inspektor, yaitu seorang Sarjana Teknik Sipil (S1) dengan
pengalaman minimum 4 tahun dalam pengawasan/pengendalian pekerjaan struktur dan
bangunan sipil, dibutuhkan sebanyak 3 orang. Perkiraan penugasan selama 7 bulan,
sedangkan surveyor dibutuhkan 1 orang yaitu seorang Sarjana Teknik Sipil (S1) dengan
pengalaman minimal 4 tahun. Perkiraan penugasan selama 3,5 bulan, bertugas membantu
pengukuran pada saat MC0, termijn dan MC100 dengan alat yang disediakan oleh
kontraktor dan menentukan titik letak tapak konstruksi.
3) Supporting Staff
Selain personil-personil tersebut, dalam pelaksanaan pekerjaan konsultan juga
menggunakan Supporting staff untuk membantu kelancaran pekerjaan, seperti :
1. Draftman Autocad, Perkiraan penugasan selama 3,5 bulan, tugasnya membantu
tenaga ahli dalam memeriksa dan menyempurnakan gambar shop Drawing dan Asbuilt
Drawing.
2. Administrasi Keuangan, Perkiraan penugasan selama 7 bulan.

3.5 Apresiasi dan Inovasi Untuk Penilaian Kondisi Jaringan Irigasi Terkait
dengan Rencana Rehabilitasi Jaringan Irigasi
PENILAIAN KONDISI JARINGAN IRIGASI
Selain data kuantitas jaringan irigasi, data kualitas jaringan irigasi juga diperlukan, yakni
mengenai kondisi fisik jaringan irigasi, apakah jaringan irigasi tersebut dalam kondisi baik,
cukup baik atau sudah rusak. Hal ini penting untuk program penanganan jaringan irigasi.
Komponen yang Dinilai
Dalam penilaian, jaringan irigasi dibagi dalam beberapa komponen utama yang dinilai,
yaitu :
a. Bangunan Utama
b. Saluran Pembawa / Talang / Siphon / Terowongan
c. Bangunan Bagi / Bangunan Bagi – Sadap / Bangunan Sadap
d. Saluran Pembuang
e. Bangunan pada Saluran Pembuang
Tiap komponen utama tersebut di atas dibagi lagi menjadi komponen yang lebih kecil, dan
masing-masing komponen akan dinilai kondisinya.
Bobot Kondisi tiap Komponen
Kontribusi nilai tiap komponen terhadap keseluruhan jaringan irigasi bobotnya tidak
sama, bobot tiap komponen disusun berdasarkan besarnya pengaruh komponen tersebut
terhadap pelayanan air irigasi.
Bobot tiap komponen utama telah dirumuskan sebagai berikut :
1. Bangunan Utama
2. Saluran pembawa
3. Bangunan bagi , bagi / sadap, sadap
4. Saluran Pembuang
5. Bangunan pada saluran pembuang

Bobot komponen utama tersebut merupakan kontribusi dari bobot komponen yang lebih
kecil.
Apabila pada suatu jaringan irigasi tidak memerlukan komponen saluran pembuang atau
komponen bangunan pada saluran pembuang, atau kedua-duanya, maka penilaian untuk
komponen tersebut diambil maksimum.
Cara Penilaian Fisik Komponen Bangunan pada Jaringan Irigasi
Kriteria penilaian tiap komponen jaringan di lapangan dinilai secara visual berdasarkan 3
(tiga) skala penilaian, yaitu : Baik (B), Cukup (C), dan Rusak (R).
Sebagai pedoman dalam penilaian secara visual dipakai ketentuan penilaian sebagai berikut :
A. Bangunan Utama (Bendung Tetap)
1.1. Bangunan Pengambilan
Pintu Pengambilan (Intake)
Baik jika :
1.Terdapat atap pelindung pintu
2.Semua pintu dapat dioperasikan dengan baik, secara mekanis dan hidrolis
3.Pengaman pintu dan tembok penahan banjir (banjir skerm/skimming wall)
4.Semua daun pintu yang terpasang tidak bocor
5.Terdapat petunjuk (manual) operasi bendung
6.Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%
Cukup jika : 1. Sebagian pintu tidak dapat dioperasikan dengan lancar
2. Atap pelindung dan pengaman pintu sebagian ada yang rusak
3. Daun pintu yang terpasang dijumpai kebocoran
4. Kondisi rata-rata aspek di atas 50% - 79%
Rusak jika : 1. Semua pintu tidak bias dioperasikan dengan lancar
2. Tidak terdapat atap pelindung dan pengaman pintu pengambilan (intake)
3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%
1.2. Endapan/Lumpur
Baik jika : 1. Endapan di depan pintu tidak setinggi ambang pintu pengambilan (intake)
2. Mudah/selalu dikuras secara berkala
3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%
Cukup jika :
1. Endapan di depan pintu mencapai tinggi ambang pintu
pengambilan (intake)
2. Tidak selalu dikuras secara berkala
3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%
Rusak jika :
1. Endapan sering melampaui ambang intake
2. Sulit / tidak pernah / jarang dikuras
1.3.Pengukur Debit
Baik jika : 1. Terdapat sarana pengukuran debit yang kondisi fisik dan
hidrolisnya berfungsi dengan baik
2. Dilengkapi dengan table pembaca debit
3. Dilengkapi dengan papan duga (peilschaal) pada posisi yang benar
4. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%
Cukup jika :
1.Sarana pengukuran debit kurang akurat
2. Tidak terdapat papan duga (peilschaal)
3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%
Rusak jika :
1.Sarana pengukuran debit tidak berfungsi
2. Kondisi fisik dalam keadaan rusak
3. Tidak terdapat sarana pengukur debit dan papan duga
4. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%
1.4.Papan Operasi Bendung (Papan Eksploitasi)
Baik jika : 1. Terdapat papan operasi bendung yang masih baik
papan tersebut dapat diisi data
2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%
Cukup jika :
1.Terdapat papan operasi bendung
2. Tidak tersebut tidak dapat diisi data
3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%
Rusak jika :
1. Tidak terdapat papan operasi bendung
2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%
2. Bangunan Penguras (Pembilas)
2.1. Pintu Penguras (Pembilas)
Baik jika :
1. Semua pintu dapat dioperasikan dengan baik, secara mekanis dan hidrolis
2. Semua daun pintu yang terpasang tidak bocor
3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%
Cukup jika :
1. Sebagian pintu tidak dapat dioperasikan dengan baik, secara mekanis dan hidrol
2. Terdapat kebocoran pada daun pintu terpasang
3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%
Rusak jika : 1. Semua pintu tidak bias dioperasikan
2.Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%
2.2. Endapan/Lumpur
Baik jika :
1. Tidak ada endapan di hilir pintu
2. Kantong Lumpur dalam keadaan baik
3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%
Cukup jika :
1. Terdapat endapan di hilir pintu yang akan mengganggu pengurasan
2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%
Rusak jika :
1. Di hilir pintu penuh dengan endapan lumpur
2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49% Mercu Bendung
Baik jika :
1. Mercu dalam keadaan baik
2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%
Cukup jika :
1. Pada mercu terdapat lubang di beberapa tempat
2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%
Rusak jika :
1. Mercu dalam keadaan rusak berat
2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%
2.3 Lantai Hilir (Ruang Olakan)
Baik jika :
1. Tidak terdapat gerusan di hilir yang terus menerus dan membahayakan
konstruksi
2. Tidak ada rembesan yang keluar di hilir
3. Ruang olakan berfungsi dengan baik untuk meredam energi
4. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%
Cukup jika :
1. Terdapat gerusan di hilir yang terus menerus dan gejala
rembesan yang menembus ruang olakan
2.Ruang olakan masih berfungsi untuk meredam energi
3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%
Rusak jika :
1. Gerusan di hilir sudah membahayakan mercu/tubuh bendung
2. Ruang olakan sudah tidak berfungsi
3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%
2.4 Papan Duga (Peilschaal)
Baik jika :
1. Terdapat papan duga yang bias dibaca dengan baik
2. Terpasang pada posisi elevasi yang benar untuk kondisi muka air normal dan banjir
3. Terdapat table pembaca debit aliran yang melimpas di atas mercu
4. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%
Cukup jika :
1.Papan duga sudah tidak dapat dibaca
2.Papan duga terpasang pad elevasi yang salah
3.Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%
Rusak jika :
1. Tidak terdapat papan duga
2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%
2.5 Sayap (di hilir dan di hulu tubuh bendung)
Baik jika :
1. Konstruksi sayap masih baik
2. Lubang rembesan (wheepholes) berfungsi baik
3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%
Cukup jika :
1. Konstruksi sayap dalam keadaan utuh, tetapi terdapat beberapa retakan
2. Lubang rembesan kurang berfungsi
3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%
Rusak jika :
1. Terdapat banyak retakan/patahan
2. Lubang rembesan sudah tidak berfungsi
3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%
2.6 Koperan
Baik jika :

Cukup jika

Rusak jika :
1. Terdapat gerusan pada koperan yang membahayakan sayap
2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%
3. Bangunan Pelengkap Bendung
Baik jika : 1. Terdapat jembatan di atas bendung (apabila bendung tersebut
mempunyai 2 intake/penguras kanan-kiri)
Cukup jika :
Rusak jika :

A. Bangunan Utama Lainnya


1. Bangunan Pengambilan
1.1.Gawar Banjir
Baik jika :
1. Sistem otomatis muka air dan sistem informasi banjir masih berfungsi baik
2. Mempunyai sistem komunikasi dengan kantor dinas
3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%
Cukup jika :
1. Sistem otomatis muka air dan sistem informasi banjir tidak berfungsi baik
2. Kondisi rata-rata aspek di atas 50% - 79%
Rusak jika :
1. Sistem otomatis muka air dan sistem informasi banjir sudah tidak berfungsi lagi
2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%
2. Pengambilan Bebas (Free Intake)
2.1. Morfologi (regime) sungai
Baik jika :
1. Debit air baku relatif normal sepanjang musim
2. Aliran air yang masuk ke jaringan irigasi berjalan lancar tanpa
adanya bangunan pengarah.
3. Morfologi sungai relatif stabil
4. Tidak terdapat banyak endapan di depan free intake
5. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%
Cukup jika :
1. Diperlukan bangunan pengarah untuk memperlancar aliran air yang masuk ke jaringan
irigasi
2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%
Rusak jika :
1. Debit air baku selalu kering pada musim kemarau
2. Diperlukan bangunan pengarah untuk memperlancar aliran air yang masuk ke
jaringan irigasi
3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%
2.2. Pintu Pengambilan (Free Intake)
Baik jika :
1. Semua pintu dapat dioperasikan dengan baik secara mekanis dan hidrolis
2. Semua daun pintu yang terpasang tidak dijumpai kebocoran
3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%
Cukup jika :
1. Sebagian pintu tidak dapat dioperasikan dengan lancar
2. Daun pintu yang terpasang dijumpai kebocoran
3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%
Rusak jika :
1. Semua pintu tidak bias dioperasikan
2. Tidak terdapat pintu
3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%
3. Waduk
3.1 Endapan/Lumpur
Baik jika :
1. Laju pengendapan lebih kecil dari perkiraan desain
2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%
Cukup jika :
1.Laju pengendapan sama dengan perkiraan desain
2.Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%
Rusak jika :
1. Laju pengendapan lebih besar dari perkiraan desain
2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%
3.2. Pintu Pengambilan (Intake)
Baik jika :
1. Semua pintu dapat dioperasikan dengan baik, secara mekanis dan hidup
2. Semua pintu yang terpasang tidak bocor
3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%
Cukup jika :
1. Sebagian pintu tidak dapat dioperasikan dengan lancar
2. Daun pintu yang terpasang dijumpai kebocoran
3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%
Rusak jika :
1. Semua pintu tidak bisa dioperasikan
2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%
3.3. Bangunan/Pintu Pelimpah (Spillway)
Baik jika :
1. Semua pintu dapat dioperasikan dengan baik, secara mekanis dan hidrolis
2. Semua daun pintu yang terpasang tidak bocor
Cukup jika :
Rusak jika :

4. Pompa
Kondisi Mekanis
Baik jika :
Cukup jika :
Rusak jika :

B. Saluran Pembawa
1. Pengendapan dan/atau Erosi
Baik jika :
1. Tidak ada endapan dan atau yang berpengaruh terhadap kapasitas rencana saluran, dan
atau terhadap fungsi bangunan ukur
2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%
Cukup jika :
1. Endapan dan/atau erosi sedikit berpengaruh terhadap kapasitas
rencana saluran dan atau terhadap fungsi bangunan ukur (30%)
2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%
Rusak jika : 1. Endapan dan/atau erosi berpengaruh besar terhadap kapasitas rencana
saluran dan/atau terhadap fungsi bangunan ukur (> 30%)
2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%

2.Tubuh Saluran
2.1. Profil Saluran
Baik jika :
1. Tanggul saluran mempunyai stabilitas yang baik
2. Tanggul mempunyai tinggi jagaan yang cukup untuk mencegah air melimpah (over
topping) selama masa operasi
3. Pada saluran pasangan (lining) keadaannya masih baik
4. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%
Cukup jika :
1. Stabilitas tanggul memenuhi syarat
2. Elevasi muka air maksimum selama operasi masih dalam batas jagaan yang
diijinkan
3. Pada saluran pasangan (lining) terdapat sedikit bagian yang retak/pecah (30%)
4. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%
Rusak jika :
1. Stabilitas tanggul tidak memenuhi syarat
2. Tinggi tanggul tidak memenuhi syarat untuk elevasi air maksimum selama
operasi
3. Pada saluran pasangan keadaannya banyak yang retak atau pecah (> 30%)
4. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%
2.2.Talang
Baik jika :
1. Tidak terdapat bocoran atau bagian yang retak/pecah
2. Terdapat kisi-kisi penyaring sampah (trashrack)
3. Bila talang berfungsi ganda sebagai jalan (talang tertutup), ada penguras yang
berfungsi baik
4. Konstruksi aman terhadap muka air banjir (jika talang melintasi sampai saluran
pembuang)
5. Konstruksi aman terhadap lalu lintas kendaraan (jika talang melintasi jalan)
6. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%
Cukup jika :
1. Tidak terdapat kebocoran atau bagian yang retak/pecah
2. Tidak ada penyaring sampah (trashrack)
3. Fasilitas penguras kurang berfungsi dengan baik
4. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%
Rusak jika :
1. Banyak terdapat bocoran/retak/pecah
2. Tidak ada penyaring sampah (trashrack)
3. Fasilitas penguras sudah tidak berfungsi
4. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%
2.3.Siphon
Baik jika :
1. Tidak terdapat bocoran atau bagian yang retak
2. Terdapat kisi-kisi penyaring sampah (trashrack)
3. Terdapat saluran (pelimpah/spillway)
4. Fasilitas penguras berfungsi baik
5. Konstruksi aman terhadap gerusan yang terjadi pada dasar sungai
6. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%
Cukup jika :
1. Terdapat saluran pelimpah dan trashrack
2. Fasilitas penguras kurang berfungsi dengan baik
3. Tidak terdapat bocoran atau bagian yang retak
4. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%
Rusak jika :
1. Banyak terdapat kebocoran/retak
2. Tidak ada penyaring sampah (trashrack)
3. Fasilitas penguras tidak berfungsi
4. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%
2.4.Terowongan
Baik jika :
1. Dapat mengalirkan air sesuai dengan kapasitas rencana
2. Dinding terowongan diberi perkuatan sesuai dengan keadaan setempat (beton,
batu cadas, atau pasangan)
3. Dapat dilalui oleh petugas Operasi dan Pemeliharaan untuk inspeksi
4. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%
Cukup jika :
1. Dapat mengalirkan air sesuai kapasitas rencana
2. Dinding terowongan tidak diberi perkuatan
3. Tidak dapat dilalui petugas operasi dan pemeliharaan untuk inspeksi
4. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%
Rusak jika :
1. Sering terjadi tanah terban (longsor) pada dinding terowongan sehingga terjadi
pengumpulan endapan yang mengakibatkan menurunnya kapasitas aliran menjadi lebih
kecil dari kapasitas rencana.
2. Dinding terowongan tidak diberi perkuatan
3. Tidak dapat dilalui oleh petugas inspeksi
3. Bocoran
Baik jika :

Cukup jika :

Rusak jika :

a. Bangunan Bagi / Bagi – Sadap / Sadap


1. Pintu Bagi / Bagi – Sadap / Sadap & Pengatur
Baik jika :
1. Semua pintu berfungsi dengan baik secara mekanis dan hidrolis
2. Tersedia petunjuk (manual) operasi pintu
3. Terdapat atap pelindung pintu untuk bangunan bagi/bagi – sadap/sadap yang
besar
4. Tidak terdapat bocoran pada semua pintu terpasang
5. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%
Cukup jika :
1. Semua pintu masih berfungsi dengan baik
2. Tidak tersedia petunjuk operasi pintu
3. Bocoran pada pintu masih mempengaruhi operasi (30%)
4. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%
Rusak jika :
1. Semua pintu sudah tidak berfungsi
2. Tidak tersedia petunjuk operasi
3. Tingkat kebocoran pintu sudah merubah kapasitas rencana
4. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%
2. Bangunan Pengukur Debit
Baik jika :
1. Dapat difungsikan dan dapat mengukur debit dengan baik
2. Dapat diterima baik oleh petani
3. Terdapat papan duga (peilschaal)
4. Tersedia table pembaca debit
5. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%
Cukup jika :
1. Dapat mengukur debit dengan baik
2. Petani belum menerima apa yang dihasilkan oleh pengukur debit
3. Terdapat papan duga (peilschaal)
4. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%
Rusak jika :
1. Bangunan ukur sudah tidak berfungsi lagi
2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%
3. Tubuh Bangunan
Baik jika :
1. Tubuh bangunan tidak retak/pecah yang membahayakan konstruksi dan fungsi
bangunan.
2. Tidak ada gerusan di seluruh bangunan
3. Tidak ada penurunan (settlement) tubuh bangunan
4. Dilengkapi dengan papan duga muka air (peilschaal)
5. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%
Cukup jika :
1. Terdapat retak/pecah pada tubuh bangunan, tetapi tidak terpengaruh pada
kapasitas rencana
2. Terjadi penurunan (settlement) pada tubuh bangunan
3. Terdapat beberapa gerusan
4. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%
Rusak jika :
1. Fungsi bangunan berubah karena tubuh bangunan retak atau pecah
2. Banyak terdapat penurunan bangunan
3. Terjadi gerusan pasangan yang dalam waktu relatif lama dapat menghanyutkan
mercu bangunan
4. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%
5. Saluran Pembuang
1. Erosi dan/atau sedimentasi
Baik jika :
1. Tidak terdapat erosi/sedimentasi yang menghambat aliran pembuang
2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%
Cukup jika :
1. Di beberapa tempat terjadi erosi/sedimentasi, tetapi tidak menghambat aliran
pembuang
2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%
Rusak jika :
1. Banyak terdapat erosi/sedimentasi yang menghambat aliran pembuang
2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%
2. Profil Saluran
Baik jika :
1. Stabilitas tanggul baik dan memenuhi syarat
2. Profil saluran cukup untuk menampung debit pembuangan
3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%
Cukup jika :
1. Stabilitas tanggul memnuhi syarat
2. Elevasi air maksimum masih dalam batas yang diijinkan
3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%
Rusak jika :
1. Stabilitas tanggul sudah tidak memenuhi syarat
2. Tinggi tanggul tidak memenuhi syarat untuk elevasi maksimum
3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%
3 . Bangunan pada Saluran Pembuang
1. Pintu
Baik jika : ‘
1. Semua pintu keadaannya baik dan dapat berfungsi secara hidrolis
2. Kapasitas pintu cukup untuk mengalirkan debit pembuang
3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%
Cukup jika :
1. Pintu-pintu dalam keadaan baik tetapi fungsi hidrolisnya kurang lancar
2. Kapasitas pintu cukup untuk mengalirkan debit pembuangan
3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%
Rusak jika :
1. Semua pintu sudah tidak berfungsi secara hidrolis
2. Kapasitas pintu tidak cukup untuk mengalirkan debit pembuangan
3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%
2. Tubuh Bangunan Pengatur/Pelengkap
Baik jika :
1. Tubuh bangunan tidak retak/pecah yang dapat membahayakan konstruksi serta
fungsi bangunan
2. Tidak ada gerusan di seluruh bangunan
3. Tidak ada penurunan (settlement) tubuh bangunan
4. Kapasitas bangunan cukup untuk mengalirkan debit pembuangan
5. Kondisi rata-rata aspek di atas 80% - 100%
Cukup jika :
1. Di beberapa tempat terdapat retak/pecah
2. Terdapat gerusan pada tubuh bangunan
3. Terjadi penurunan pada tubuh bangunan, tetapi tidak membahayakan
posisi serta fungsi bangunan
4. Kapasitas bangunan cukup untuk mengalirkan debit
5. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%
6. Rusak jika :
1. Fungsi bangunan berubah karena tubuh bangunan retak atau pecah
2. Banyak terjadi penurunan bangunan
3. Banyak terjadi gerusan pasangan/koperan, yang dalam waktu relatif singkat
dapat merusak bangunan
4. Kapasitas bangunan tidak cukup mengalirkan debit pembuangan
5. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%
Formula Perhitungan Kondisi Jaringan Irigasi
Formula yang dipakai dalam menilai kondisi jaringan irigasi adalah sebagai berikut :
1. Perhitungan kondisi jaringan secara keseluruhan

konJAR = konBU + konBBS + konSAL + konSPG + konBPG

dimana :
konJAR = kondisi jaringan (%)
konBu =kondisi bangunan utama jaringan (%)
konBBS =kondisi bangunan bagi sadap jaringan (%)
konSAL = kondisi saluran pembawa jaringan (%)
konSPG = kondisi Saluran pembuang jaringan (%)
konBPG = kondisi bangunan pada Saluran pembuang jaringan (%)
2. Perhitungan kondisi bangunan utama
KonBU = NBUB.konBUB + NBUC.konBUC + NBUR.konBUR
(NBUB + NBUC + NBUR)

dimana :
konBU = kondisi Bangunan Utama Jaringan (%)
NBUB = Jumlah bangunan utama yang berkondisi Baik
konBUB = kondisi rata-rata bangunan utama yang Baik (%)
NBUC = Jumlah bangunan utama yang berkondisi Cukup
konBUC = kondisi rata-rata bangunan utama yang Cukup (%)
NBUR = Jumlah bangunan utama yang berkondisi Rusak
konBUR = kondisi rata-rata bangunan utama yang Rusak (%)
3. Perhitungan kondisi bangunan bagi sadap jaringan
KonBBS = NBBSB.konBBSB + NBBSC.konBBSC + NBBSR.konBBSR

(NBBSB + NBBSC + NBBSR)


dimana :
konBU = kondisi Bangunan Utama Jaringan (%)
NBUB = Jumlah bangunan utama yang berkondisi Baik
konBUB = kondisi rata-rata bangunan utama yang Baik (%)
NBUC = Jumlah bangunan utama yang berkondisi Cukup
konBUC = kondisi rata-rata bangunan utama yang Cukup (%)
NBUR = Jumlah bangunan utama yang berkondisi Rusak
konBUR = kondisi rata-rata bangunan utama yang Rusak (%)

3. Perhitungan kondisi bangunan bagi sadap jaringan


KonBBS = NBBSB.konBBSB + NBBSC.konBBSC + NBBSR.konBBSR
(NBBSB + NBBSC + NBBSR)

Dimana :
konBBS = kondisi Bangunan Bagi Sadap Jaringan (%) NBBSB
= Jumlah bangunan bagi sadap yang berkondisi Baik konBBSB =
kondisi rata-rata bangunan bagi sadap yang Baik (%) NBBSC =
Jumlah bangunan bagi sadap yang berkondisi Cukup
KonBBSC = kondisi rata-rata bangunan bagi sadap yang Cukup (%)
NBBSR = Jumlah bangunan bagi sadap yang berkondisi Rusak
konBBSR = kondisi rata-rata bangunan bagi sadap yang Rusak (%)
4. Perhitungan kondisi saluran pembawa jaringan
KonSAL = NSALB.konSALB + NSALC.konSALC + NSALR.konSALR
(NSALB + NSALC + NSALR)

Dimana :
konSAL = kondisi Saluran pembawa Jaringan (%)
NSALB = Jumlah ruas saluran pembawa yang berkondisi Baik
konSALB = kondisi rata-rata ruas saluran pembawa yang Baik (%)
NSALC = Jumlah ruas saluran pembawa yang berkondisi Cukup
konSALC = kondisi rata-rata ruas saluran pembawa yang Cukup (%)
NSALR = Jumlah ruas saluran pembawa yang berkondisi Rusak
konSALR = kondisi rata-rata ruas saluran pembawa yang Rusak (%)
5. Perhitungan kondisi saluran pembuang jaringan
KonSPG = NSPGB.konSPGB + NSPGC.konSPGC + NSPGR.konSPGR
(NSPGB + NSPGC + NSPGR)

Dimana :
konSPG = kondisi Saluran pembuang Jaringan (%)
NSPGB = Jumlah ruas saluran pembuang yang berkondisi Baik
konSPGB = kondisi rata-rata ruas saluran pembuang yang Baik (%)
NSPGC = Jumlah ruas saluran pembuang yang berkondisi Cukup
konSPGC = kondisi rata-rata ruas saluran pembuang yang Cukup (%)
NSPGR = Jumlah ruas saluran pembuang yang berkondisi Rusak
konSPGR = kondisi rata-rata ruas saluran pembuang yang Rusak (%)
6. Perhitungan kondisi bangunan pada saluran pembuang jaringan
KonBPG = NBPGB.konBPGB + NBPGC.konBPGC + NBPGR.konBPGR
(NBPGB + NBPGC + NBPGR)
Dimana :
konBPG = kondisi Saluran pembuang Jaringan (%)
NBPGB = Jumlah bangunan pada saluran pembuang yang berkondisi Baik
konBPGB = kondisi rata-rata bangunan pada saluran pembuang yang Baik (%)
NBPGC = Jumlah bangunan pada saluran pembuang yang berkondisi Cukup
konBPGC = kondisi rata-rata bangunan pada saluran pembuang yang Cukup (%)
NBPGR = Jumlah bangunan pada saluran pembuang yang berkondisi Rusak (%)
konBPGR = kondisi rata-rata bangunan pada saluran pembuang yang Rusak (%)

F. JANGKA WAKTU PELAKSANAAN


F. 1. UMUM
Konsultan dalam melaksanakan pekerjaan konsultan akan menyusun jadwal
pelaksanaan pekerjaan berdasarkan lingkup pekerjaan dan waktu pelasanaan pekerjaan. Hal
ini dimaksudkan untuk mendapatkan hasil pekerjaan yang sesuai dengan mutu pekerjaan
yang diharapkan KAK dan dengan waktu yang tersedia serta kelancaran serta
terkoordinasinya pelaksanaan pekerjaan. Jadwal pelaksanaan pekerjaan menyangkut urutan
dan jenis kegiatan yang akan dilaksanakan dengan alokasi waktu yang disediakan.
F. 2. JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN
Sesuai dengan Kerangka Acuan Kerja, alokasi waktu untuk pelaksanaan pekerjaan ini
adalah selama 7 (tujuh) bulan atau 210 (dua ratus sepuluh) hari kalender. Agar pelaksanaan
pekerjaan ini tepat waktu maka dibutuhkan jadwal pelaksanaan yang disusun secara cermat.
Jadwal pelaksanaan pekerjaan merupakan jadwal yang mengatur kapan suatu kegiatan harus
dilaksanakan dan harus selesai sehingga waktu pelaksanaan yang diberikan dapat tercapai
dengan tidak mengurangi mutu teknisnya. Jadwal pelaksanaan pekerjaan ini harus sesuai
dengan bagan alir pelaksanaan pekerjaan dan item-item pekerjaan sesuai dengan yang
disyaratkan dalam KAK.
Jadwal pelaksanaan pekerjaan ini dibuat untuk menyesuaikan antara kegiatan yang
harus dilakukan dengan waktu pelaksanaan yang disediakan, sehingga pengalokasian waktu
untuk masing-masing kegiatan menjadi jelas.
G. KOMPOSISI TIM DAN PENUGASAN
G. 1. UMUM
Konsultan dalam peleksanaan pekerjaan ini akan menyediakan dan menugaskan beberapa
Tenaga Ahli sesuai dengan yang dibutuhkan dalam Kerangka Acuan Kerja (KAK). Tenaga
Ahli yang akan ditugaskan tersebut dikoornidir oleh seorang Team Leader yang memiliki
kemampuan dalam koordinasi dan komunikasi dengan pihak pengguna jasa, instansi teknis
terkait dan Tenaga Ahli lainnya. Adapun Tenaga Ahli yang diusulkan dalam pelaksanaan
studi ini telah memilki kualifikasi pendidikan, pengalaman dibidang penanganan pekerjaan
sejenis dalam pengembangan sumber daya air. Masing-masing Tenaga Ahli tersebut
memilki tugas dan tanggung-jawab masing-masing sesuai dengan bidang keahliannya.

Dalam bab ini akan diuraikan kualifikasi dan jumlah Tenaga Ahli yang disediakan oleh
penyedia jasa untuk menangani pekerjaan ini sesuai dengan KAK dengan tugas dan
tanggung jawab yang telah diuraikan pada bab sebelumnya.
G. 2. PERSONIL
Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan secara kontraktual oleh konsultan dengan spesifikasi
tenaga ahli yang diperlukan adalah sebagai berikut:
1) Profesional Staff
a. Ketua Tim (Team Leader)
Seorang Sarjana Teknik Sipil/Pengairan (S1) memiliki sertifikat Ahli Sumber Daya Air
minimal ahli muda dengan pengalaman minimum 6 tahun dalam bidang planning,
perencanaan, supervisi konstruksi dan manajemen konstruksi untuk menangani pekerjaan
sejenis. Tugas dan tanggung jawab Team Leader yaitu melakukan pengendalian pelaksanaan
dan kualitas pekerjaan secara menyeluruh yang mencangkup aspek teknis, administrative
dan logistik. Perkiraan penugasan selama 7 bulan.
b. Ahli Irigasi
Seorang Sarjana Teknik Sipil (S1) memiliki sertifikat Ahli Sumber Daya Air minimal ahli
pratama dengan pengalaman minimum 4 tahun dalam bidang planning, perencanaan,
supervisi konstruksi dan manajemen konstruksi untuk menangani pekerjaan bangunan air
atau sejenis. Tugas dan tanggung jawab yaitu melakukan kajian dan review desain,
pengawasan/pengendalian mutu dan teknis pelaksanaan pekerjaan konstruksi sipil,
Perkiraan penugasan selama 6 bulan.
c. Quality Engineer
Seorang Sarjana Teknik Sipil memiliki sertifikat Ahli Sumber Daya Air minimal ahli
pratama dengan pengalaman minimum 4 tahun dalam menangani pekerjaan pengawasan
pekerjaan jaringan penyediaan atau pekerjaan sejenis. Adapun tugas dan tanggung jawabnya
yaitu mengevaluasi kualitas pekerjaan, melakukan pengawasan / mutu pekerjaan. Perkiraan
penugasan selama 5 bulan.
d. Quantity Engineer
Seorang Sarjana Teknik Sipil yang memiliki sertifikat Ahli Sumber Daya Air minimal ahli
pratama dengan pengalaman minimum 4 tahun dalam menangani pekerjaan pengawasan
pekerjaan jaringan penyediaan atau pekerjaan sejenis. Adapun tugas dan tanggung jawabnya
yaitu mengevaluasi kuantitas pekerjaan, melakukan pengawasan dan pengendalian kuantitas
pekerjaan. Perkiraan penugasan selama 5 bulan
2) Sub Profesional Staff
Tenaga Sub professional staff yang diperlukan untuk membantu kelancaran pekerjaan
adalah Pengawas Konstruksi/Inspektor, yaitu seorang Sarjana Teknik Sipil (S1) dengan
pengalaman minimum 4 tahun dalam pengawasan/pengendalian pekerjaan struktur dan
bangunan sipil, dibutuhkan sebanyak 3 orang. Perkiraan penugasan selama 7 bulan,
sedangkan surveyor dibutuhkan 1 orang yaitu seorang Sarjana Teknik Sipil (S1) dengan
pengalaman minimal 4 tahun. Perkiraan penugasan selama 3,5 bulan, bertugas membantu
pengukuran pada saat MC0, termijn dan MC100 dengan alat yang disediakan oleh
kontraktor dan menentukan titik letak tapak konstruksi.
3) Supporting Staff
Selain personil-personil tersebut, dalam pelaksanaan pekerjaan konsultan juga
menggunakan Supporting staff untuk membantu kelancaran pekerjaan, seperti :
1. Draftman Autocad, di butuhkan 2 orang Perkiraan penugasan selama 3,5 bulan,
tugasnya membantu tenaga ahli dalam memeriksa dan menyempurnakan gambar shop
Drawing dan Asbuilt Drawing.
2. Administrasi Keuangan, Perkiraan penugasan selama 7 bulan.
G. 3. JADWAL PENUGASAN PERSONIL
G.3.1. UMUM
Sebagai acuan dalam pelaksanaan agar terkoordinasi dengan baik, maka konsultan akan
membuat Jadwal Penugasan Tenaga Ahli yang disusun berdasarkan tahapan-tahapan
kegiatan yang tertuang dalam Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan. Dalam jadwal tersebut
akan ditentukan waktu untuk mobilisasi personil sesuai dengan tahapan pelaksanaan yang
dimulai sesuai dengan urutan kegiatan yang terkait satu dengan yang lain, sehingga
memperjelas dan memudahkan dalam koordinasi pelaksanaan di kantor maupun pelaksanaan
pekerjaan di lapangan.

G.3.2. JADWAL PENUGASAN TENAGA AHLI


Sesuai dengan Kerangka Acuan Kerja, alokasi waktu untuk pelaksanaan pekerjaan
ini adalah selama 7 (tujuh) bulan atau 210 (dua ratus sepuluh) hari. Agar pelaksanaan
pekerjaan ini tepat waktu maka dibutuhkan jadwal penugasan personil yang disusun secara
cermat berdasarkan atas jadwal pelaksanaan pekerjaan yang telah disusun.

Jadwal penugasan personil merupakan jadwal yang mengatur kapan masing-masing


tenaga ahli harus dimobilisasi untuk menangani bidang tugas dan tanggung jawabnya
masing- masing sehingga waktu pelaksanaan yang diberikan dapat tercapai dengan tidak
mengurangi mutu teknisnya. Daftar personil dan Jadwal penugasan personil terdapat pada
tabel G.1 dan G.2 berikut.

H. PERALATAN DAN FASILITAS PENUNJANG


H.1. UMUM
Kebutuhan fasilitas dan peralatan akan disiapkan Konsultan untuk menunjang
kegiatan baik di lapangan maupun di kantor. Mobilisasi peralatan disesuaikan dengan jadwal
peralatan yang telah disusun bersama dengan penyusunan rencana kerja, jadwal pelaksanaan
dan pengerahan personil. Penentuan kebutuhan akan fasilitas dan peralatan sangat erat
hubungannya dengan kelancaran pekerjaan, sehingga tidak ada kendala peralatan dan fasilitas
yang dihadapi oleh pelaksana pekerjaan pada saat pelaksanaan nantinya.
H.2. FASILITAS PEMRAKARSA PEKERJAAN
Untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan ini, pihak proyek telah menyediakan
fasilitas meliputi:
 Pemberian surat pengantar untuk operasional maupun koordinasi dan dukungan dengan
Instansi terkait
 Peminjaman referensi yang ada pada proyek.
 Pemberian informasi mengenai ketentuan yang berkaitan dengan pekerjaan Kewajiban
Consultan.
H.3. KANTOR KONSULTAN
Untuk kelancaran kegiatan pekerjaan pihak konsultan telah menyiapkan kantor yang
permanen di Denpasar sehingga memudahkan Team Konsultan berkoordinasi dengan
pemberi pekerjaan dan setiap saat dapat asistensi/diskusi dalam penyelesaian pekerjaan.
Disamping itu diharapkan nantinya setelah selesai pekerjaan pihak pemberi pekerjaan mudah
menghubungi konsultan.
H.4. PERALATAN
Peralatan yang digunakan untuk setiap pekerjaan disesuaikan dengan kebutuhan
masing-masing kegiatan, tergantung dari volume dan kapasitas alat. Adapun volume dan
kapasitas alat dari masing-masing pekerjaan tersaji pada Tabel H.1. (Terlampir).
H.5. JADWAL PERALATAN
Jadwal peralatan untuk pekerjaan akan disesuaikan dengan waktu pemakaian, dan
jadwal peralatan ini berkaitan dengan schedule pelaksanaan dan personil untuk pelaksanaan
seluruh kegiatan. Jadwal peralatan dan volume serta waktu pemakaian tersaji pada Tabel H.2
(Terlampir).

I. PENUTUP
Dokumen Usulan Teknis untuk pelaksanaan pekerjaan “Supervisi Peningkatan
Jaringan Irigasi di Kabupaten Tabanan”, sebagai bentuk penawaran teknis dari konsultan
dalam upaya penanganan pekerjaan tersebut diatas. Dalam hal ini konsultan apabila
nantinya dipercaya untuk menangani pekerjaan ini maka akan bekerja berdasarkan
lingkup pekerjaan sesuai dengan Kerangka Acuan Kerja (KAK) pekerjaan tersebut.
Konsultan berkeyakinan “sanggup dan mampu” untukmelaksanakanpekerjaan tersebut
apabila diberi kepercayaan berdasarkan dokumen usulan teknis yang kami tawarkan.
Dengan dukungan Tenaga Ahli yang kami usulkan dengan kualifikasi dan
pengalaman kerja di bidang perencanaan pengembangan dan pengelolaan sumber daya
air khususnya pembangunan pengamanan sungai. Dengan berbekal keahlian masing-
masing tenaga ahli yang kami usulkan dan telah memiliki sertifikat keahlian, maka dalam
pelaksanaan pekerjaan tersebut diatas dapat diselesaikan dengan tepat waktu dan mutu
pekerjaan sesuai dengan yang diminta dalam KAK.
Semoga usulan teknis ini mendapatkan perhatian, dukungan serta kepercayaan
dari pengguna jasa.

Terima kasih

Anda mungkin juga menyukai