Anda di halaman 1dari 11

Gagasan Pembaharuan Islam Indonesia Menurut

Jami’atul Khair dan Al-Irsyad

Setiap dari mereka gerakan Modernisme Islam termasuk organisasi islam yang
beranggoatakan keturunan Arab memiliki karakter gerakan yang berbeda-beda. Ada
gerakan Islam yang menekankan pada aspek ekonomi dan politik, ada yang
menekankan pada upaya pemurnian ajaran Islam, serta ada yang menekankan pada
uapaya pemurnian ajaran Islam, serta ada yang menekankan pada aspek
pembaharuan pendidikan Islam.
Contoh gerakan Moderenisme Islam yang berdiri pada awal abad ke-20 adalah
Jami’atul khair, sebuah organisasi Islam, yang mana organisasi ini sebagai tempat
para Ulama dan aktivis berjuang dan memperjuangkan pembaharuan dalam segala
aspek. Jami’atu khair juga sebagai organisasi Islam pertama di Indonesia yang
dikelola dengan system (managemen) keorganisasian modern, Jami’atu khairmemliki
anggaran dasar, anggaran rumah tangga, buku anggota notulensi rapat, iuran
anggota dan lembaga control anggota melalui rapat tahunan, dan lain sebagainya.
Konon, lembaga ini telah diusahakan berdirinya sejak tahun 1901.pemrakarsanya
adalah golongan terpelajar dari kalangan muslim Indonesia keturunan Arab, dari
keluarga shihab dan Yahya. Klan Shihab dan Yahya dikalangan Alawiyyin termasuk
dalam stratifikasi sosial kelas rendah.
Dalam proses pendiriannya, Jami’atul khair mengalami banyak hambatan .
berulangkali permohonan izin pengesahan diajukan kepada Gubernur Jendral
W.Rooseboom, namun selalu ditolak. Penyebabnya tidak jelas pada tahun 1903
misalnya,permohonan izin diajukan, namun ditolak. Kemudian untuk meyakinkan
pemerintah colonial Belanda, surat permohonan dikirim berulang kali dengan
mencantumkan nama pemohonan yang berbeda, yaitu Said bin Ahmad Basandid dan
Muhammad bin Abdurrahman Al-Masyhur.
Setelah lama menunggu, akhirnya izin pendirian Jami’atul khair dikeluarkan
pada tanggal 17 Juni 1905, setelah permohonan disetujui oleh Gubernur Jendral
J.V.Van Heutsz. Izin pendirian Jami’atul khair keluar disertai catatan dari pemerintah,
bahwa Jami’atul khair tidak boleh mendirikan cabang diluar Jakarta.
Pengurus Jami’atul khair angkatan pertama terdiri dari Said bin Ahmad
Basandid sebagai ketua, Muhammad bin Abdullah bin Shihab sebagai wakil ketua,
Muhammad Al-Fakhir bin Abdurrahman masyhur sebagai sekretaris, dan Idrus bin
Ahmad bin Shihab sebagai bendahara, setahun kemudian pengurus Jami’atul khair
dirubah dan tersusun pegurus baru dengan Idrus Bin Abdullah Al-Masyhur sebagai
ketua , Salim bin Ahmad Balwel sebagai wakil ketua, Muhammad Al-Fakhir bin
Abdurrahmnan Al-Masyhur sebagai sekretaris, dan Idrus bin Ahmad bin Shihab
sebagai bendahara.
Jami’atul khair semula mencantumkan tujuannya untuk menolong orang-orang
Arab yang tinggal di Jakarta pada saat kemetian dan pesta perkawinan. Organisasi
ini kemudian mendirikan sekolah pertama di Pekojan Jakarta. Beberapa tahun setelah
itu, dibuka pula sekolah-sekolah di Krukut, Tanah Abang dan Bogor, pada bulan
Rabiul Awal 1329 H, atau bulan Maret 1911 M.
Datanglah pengajar dari Makkah yang ditujukan untuk memperkuat staf
penagajar pada sekolah-sekolah Jami’atul khair mereka adalah Syaikh Ahmad Surkati
Al-Anshari ditempatkan disekolah Jami’atul khair di Pekojan dan sekaligus sebagai
pemilik sekolah-sekolah Jami’atul khair lainnya.Syaikh Ahmad Tayyib Al-Maghribi
ditempatkan disekolah Krukut dan syaikh Muhammad Abdul Hamid Al-Sudani
ditempatkan di sekolah Jami’atul khair di Bogor.
Kemudian atas jasa seorang staf pimpinan Jami’atul khair, Abdullah Al-Attas,
didatangkan pula seorang pengajar asak Tunis dan lulusan kulliyyah Azzaitun, yaitu
Muhammad Al-Hasyimi, kemudian ditempat disekolah Jami’atul khair di Tanah Abang.
Muhammad Al-Hasyimi adalah seorang berkebangsaan Tunis yang pernah ikut
memberontak melawan pemerintah Prancis, ia dikenal sebagai guru olahraga dan
memiliki berbagai pengetahuan keterampilan, seperti memasak, membuat sabun dan
lain sebagainya. Dialah yang pertama kali yang mengenalkan gerakan kepanduan
dikalangan umat Islam Indonesia. dengan demikian ia mestinya disebut sebagai
“bapak kepanduan Islam Indonesia”.
Dalam perkembangan berikutnya, Abdullah Al-Atas mengalami perselisihan
dengan pengurus Jami’atul khair. Karena perselisihan itu dia memutuskan untuk
meninggalkan Jami’atul khair, dan mendirikan Al-Atas school pada tahun
1912.langkah Abdullah Al-Atas ini diikuti oleh Al-Hasyimi dengan cara meninggalkan
Jami’atul khair dan bergabung dengan Al-Atas Schcool. Namun ketika Al-Irsyad
berdiri, dia meninggalkan Al-Atas school dan bergabung dengan Al-Irsyad serta
menjadi guru pada sekolah Al-Irsyad.
Dua tahun kamudian, atas jasa Ahmad Surkati, didatangkan empat orang
pengajar lagi, yaitu syaikh Ahmad Al-Aqib Assudani. Ditempatkan di sekolah Al-
Khairyyah di Surabaya, syaikh Abul Fadhel Muhammad Assati Al-Anshari, saudara
kandung Ahmad Surkati ditempatkan disekolah Jami’atul khair di Tanah Abang, syaikh
Muhammad Nur Muhammad Khair An-Anshari ditempat disekolah Jami’atul khair di
Pekojan dan Jami’atul khair di Krukut. Dalam perkembangan selanjutnya Syaikh
Hasan Hamid Al-Anshari dipindahkan ke Bogor karena syaikh Muhammad Abdul
Hamid Assudani kembali ke Negerinya.
Jika ditelusuri awal mulanya, munculnya Al-Irsyad dilatarbelakangi oleh
terjadinya pertentangan dalam Jami’at Al-Khair, terkait persoalan konsep kafa’ah
dalam pernikahan. Yakni, apakah mereka yang memiliki gelar sayyid boleh menikah
dengan rakyat biasa atau tidak? Bagi masyarakat arab modernis, perkawinan
semacam itu sah, akan tetapi menurut kaum tradisionalis, pernikahan itu dianggap
tidak sah, karena salah satu syarat sahnya perkawinan adalah adanya kafa’ah antara
kedua mempelai. Kalau syarat kafa’ah ini tidak terpenuhi maka perkawinan dianggap
batal atau tidak sah.
Semula, perdebatan kafa’ah ini muncul pertama kali ketika Ahmad Surkati
berkunjung ke Solo, tepatnya dalam suatu pertemuan di kediaman Al-Hamid dari
keluarga Al-Azami. Pada saat menjamu Surkati ini terjadi pembicaraan tentang nasib
seorang syarifah, yang karena tekanan ekonomi terpaksa hidup bersama seorang
China di Solo. Surkati menyarankan agar dicarikan dana secukupnya untuk
memisahkan kedua orang yang tengah kumpul kebo itu. Pilihan lain yang diajukan
Surkati adalah hendaknya dicarikan seorang muslim yang ikhlas menikahi secara sah
si Syarifah tersebut, agar ia bisa terlepas dari gelimang dosa.
Salah seorang yang hadir, Umar bin Said Sungkar bertanya pada Surkati: ”apakah
yang demikian itu diperbolehkan menurut hukum ajaran agama Islam, sementara ada
hukum yang mengharamkan karena tidak memenuhi syarat kafa’ah, meskipun syarat-
syarat lainnya sudah terpenuhi”.
Setelah Surkati mengeluarkan fatwa tentang sahnya pernikahan yang tidak
sekutu tersebut, kemudian terjadi pertentangan yang terkenal dengan ”Fatwa Solo”.
Fatwa tersebut telah ”Mengguncang” masyarakat Arab golongan Alawi. Fatwa ini
dianggap sebagai penghinaan besar terhadap kelompok mereka. Mereka menuntut
kepada Surkati agar bersedia mencabut fatwanya, namun Surkati tetap
mempertahankan fatwanya dan berusaha menghormati pendapat publik baik yang
setuju maupun yang menolak.
Akibat telah mengeluarkan fatwa, pada tahun 1914 Ahmad Surkati dikeluarkan dari
Jami’atul Al-Khair. Setelah dikeluarkan dari jami’atul Al-Khair dengan dibantu oleh
Sayyid Saleh bin Ubaid Abdatu dan Sayyid Said Masya’bi untuk mendirikan madrasah
Al-Irsyah Al-Islamiyah yang diresmikan pada tanggal 15 Syawal 1332 H. Bertepatan
dengan 6 September 1914 dengan dia sendiri sebagai pimpinannya.
Tidak lama setelah Surkati dikeluarkan dari Jami’atu Al-Khair, keluar pula para guru
yang berasal dari Makkah, baik yang datang bersama Surkati maupun yang datang
atas jasa Surkati. Sebagian mereka kembali ke Makkah dan sebagian tetap tinggal di
Indonesia dan bergabung dengan Al-Irsyad sampai akhir hayat mereka di Indonesia.
Di antara mereka adalah: Abul Fadhel Muhammad Khair Al-Anshori yang tidak lain
adalah saudara kandung Surkati, Syaikh Muhammad Nur Muhammad Khair Al-
Anshori, dan lain sebagainya.
Izin untuk pembukaan dan pengelolaan Madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyah
berada ditangan dan atas nama Surkati. Berdasarkan ordonasi guru 1905 yang
mengatur pendidikan islam, beban tanggung jawab Surkati akan ringan apabila
Madrasah tersebut dinaungi oleh satu organisasi yang teratur dan memiliki status
badan hukum. Maka disiapkanlah berdirinya Jami’iyyah Al-ishlah wa Al-irsyad Al-
Arabiyyah, yang beberapa tahun kemudian diganti dengan nama Jami’iyyah Al-Ishlah
wal Irsyad Al-Islamiyyah.
Permohonan pengesahan diajukan kepada Gubernur Jendral AWF. I den
Burg, sementara pengurusan Madrasah dilaksanakan oleh suatu badan yang diberi
nama: Hai’ah Madaris Jami’iyyah Al-Irsyad yang diketuai oleh Sayyid Abdullah bin
Abu Bakar Al-Habsyi. Meskipun pengesahan dari Gubernur Jendral belum keluar,
Syaikh Umar Yusuf Manggus telah berhasil menyewa gedung bekas hotel ORT yang
tidak berfungsi lagi di Molenulist West, Jakarta, guna memenuhi kebutuhan yang agak
mendesak karena perhatian dan peminat yang luar biasa.
Penghimpunan Al-Irsyad (sebagai lembaga yang memiliki hukum) akhirnya
memperoleh pengakuan dari Gubernur Jendral pada tanggal 11 Agustus 1915.
Dengan keputusan no 47, yang disiarkan dalam Javache Courant nomor 67 tanggal
20 Agustus 1915. Sejak itu Al-Irsyad, meminjam ungkapan Badjerei; ”meluncur
laksana meteor; enerjik dan penuh vitalitas; kian hari kian besar dan meningglkan
jami’at Al-Khoir jauh dibelakangnya.
Dalam perjalanannya, Al-Irsyad terlihat sering menjalin kerjasama dengan
organisasi Modernis Islam lainnya, seperti Muhammadiyyah dan Persis sebagaimana
diungkapkan oleh Badjerei berikut ini:
”Dengan lahirnya persatuan Islam di Bandung, pada tahun 1923, kemudian dengan
munculnya Fachruddin pada pimpinan Muhammadiyyah kegiatan dakwah menjadi
kian semarak dakwah Muhammadiyyah dan Persis diucapkan pula diucapkan diisi
oleh tenaga-tenaga dari Al-Irsyad, khusnya dari kelompok izh harAl-Haq ini, ketika Ali
Harahah berangkat ke Hejaz dan bermukim kesana, sekitar satu tahun delapan bulam
dan baru kembali ke Jakarta bulan juni 1929, kegiatan Izhar Al-haq ikut berhenti.
Meskipun demikian Muhammadiyyah persatuan Islam dan Al-Irsyad merupakan ”tiga
serangkai” yang tak terpisahkan sehingga saat ini”.
Kerjasama antara Al-Irsyad dengan organisasi Modernis Islam lainnya terus Berlanjut
pada kongres Al-Islam ke-1 di Cirebon pada tahun 1922, kongres Al-Islam ke-2 tahun
1923 di Garud, kongres ke-3 di Surabaya tahun 1924, kongres Al-Islam ke-4 di
Yogyakarta tahun 1925, kongres Al-Islam ke-5 di Bandung tahun 1926(Hussein
Banjerei, 1996:114). Al-Irsyad juga menjalin kerjasama dengan gerakan-gerakan
Islam lain dalam majelis islam A’la Indonesia MIAL.
Menurut Hussein Badjerei, salah seorang tokoh pemikir dari Al-Irsyad, organisasi Al-
Irsyad didirikan bukan untuk melawana atau menandingi Jami’at Al-Khoir. Al-Irsyad
lahir bukan karena desakan kebencian kepada segolongan masyarakat Arab yang
saat itu di sebut Alawiyyin. Semasa Surkati masih hidup, Al-Irsyad tidak melulu
mengurusi dan berdakwah kepada masyarakat Arab Hadrami; tidak melulu mengurusi
perantau dari Hadramaut. Risalahnya cukup luas, surkati tidak mululu mengurusi
persoalan pembaharuan dikalangan masyarakat Arab hadrawi.
Perhimpunan Al-Irsyad juga tidak dibangun dari asas kekesalah
kemarahan, para pemimpinnya bukanlah diktator. Karena itulah Al-Irsyad bisa hidup
terus sepanjang waktu, meski parapemimpinnya wafat dan silih berganti, sebagai
kelompok organisasi Islam tertua yang telah meneliti sejarah di berbagai jama’ah, dari
zaman penjajahan Belanda sampai sekarang ini.
Masa formatif Al-Irsyad diawali sejak kelahirannya. Akte pendirian dan
anggaran dasar Al-Irsyad disahkan oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda dengan
nomor 47, tertanggal 11agustus 1915, dan disiarkan dalam surat kabar Javasche
Courant Nomor 67, tertanggal 20 Agustus 1915. Keputusan ini kemudian menjadi izin
resmi kelahiran organisasi ini, yaitu 19 Agustus 1915, dalam keputusan ini pula
tercatat pengurus pertamanya, yaitu: Salim bin Awad Balweel sebagai ketua,
Muhammad Ubaid Abud sebagai sekretaris, Said bin Salim Masya’bi sebagai
bendahara, dan saleh bin Obeid bin Abdat sebagai penasehat.
Setelah peristiwa dikeluarkannya beslit dari Gubernur Jendral pada hari selasa
tanggal 19 syawal 1333/31 Agustus 1915,maka diadakan rapat umum anggota.dalam
rapat itu diputuskan susunan pengurus untuk kepentingan intern,yaitu;salim bin awad
bal weel sebagai ketua, saleh bin obeid bin abdat sebagai wakil ketua,Muhammad
Ubait Abut sebagai sekretaris,Said bin Salim Masy’abi sebagai bendahara.
Untuk lebih mendinamisasikan gerak dan langkah organisasi serta berperan aktif
dalam pemberdayaan masyarakat,dalam kepengurusannya Al-Irsyad membentuk
majelis-majelis yang mempunyai fungsi yang berbeda-beda,antara lain;1. majelis
pendidikan dan pengajaran;2,majelis dakwah;3,majelis sosial dan ekonomi ;4,Majelis
wakaf dan yayasan;5 majelis wanita dan putri:6.majelis pemuda dan pelajar :7,majelis
organisasi dan kelembagaan ;8,Majelis hubungan luar negri.
Patut garis bawahi bahwa dalam penyebaran gagasan atau pemikirannya,Al- Irsyad
lebih memfokuskan pada upaya perbaikan dan pelayanan pendidikan.Ini biasa dilihat
dari pembukaan sekolah Al-Isyad yang didukung oleh pemuka-pemuka
arab.Terutama Syaikh Umar Manggus,yang saat itu menjabat sebagai kapten
arab.Tokoh ini yang memberi saran agar didirikan suatu perkumpulan untuk
menunjang sekolah yang didirikan oleh Syeikh Ahmad Surkati tersebut. Atas
dukungan itu,berdirilah sekolah”Jam’iyyah Al Ishlah Wa Al Irsyad Al Islamiyyah”.Agar
kehadirannya tidak terkesan hanya diperuntukkan bagi orang arab,maka beberapa
waktu kemudian namanya di ubah menjadi ”Jam’iyyah Al- Irsyad Al-Islamiyyah”.Yang
selanjutnya dikenal dengan nama Al- Irsyad,Al- irsyad beranggotakan semua orang
islam yang berumur 18 tahun atau yang telah beristri dan tingggal diwilayah Indonesia.
Periode perkembangan Al- Irsyad ditandai dengan pembukaan cabang-
cabang Al -Irsyad dengan prioritas pertama pulau Jawa.Pada tanggal 29 Agustus
1917 Al- Irsyad membuka cabang yang pertama di Tegal,dengan diketahui oleh
Ahmad Ali Bais.Pada tanggal 20 November 1917 di resmikan pula keputusan untuk
pembukaan cabang Al -Irsyad kedua,yaitu di Pekalongan dengan ketua pertama
kalinya Said Bin Salaim Sahaq,cabang Al Irsyad ketiga dibuka di Bumiayu pada
tanggal 14 Oktober 1918,dengan ketuanya yang pertama adalah Husein Bin
Muhammad Al Yazidi pada tanggal 31 Oktober 1918 Al Irsyad membuka cabang ke
empat di cerebon,dengan ketua pertamanya Ali Awad Baharmuz.Tanggal 21 Januari
1919,dibuka cabang ke lima disurabaya. pembukaan cabang di Surabaya ini di nilai
sebagai peristiwa amat penting dalam sejarah Al- Irsyad,karena kedudukan Surabaya
waktu ini sebagai pusat kegiatan pergerakan islam dan tempat berdomisilinya para
pemuka masyarakat muslim pada waktu itu.Cabang ini
pertama kalinya di ketuain Oleh Muhammad bin Rayis bin Thaib
Pada periode berikutnya, setelah pulau jawa, Al irsyad semakin
melebarkan saya at punya keluar jawa.Dari tahun 1927 sampai dengan tahun 1931
telah tercatat berdirinya cabang-cabang Al irsyad di lhokseumawhe Aceh , Menggala
Lampung,Sungeiliat Bangka ,labuan haji dan talewang Nusa Tenggara Barat,
Pemekasan, Probolinggo, Krian, Jombang, Bangil, Sepanjang, Semarang, Comal,
Pemalang, Prowokerto, Indramayu, Cibadak, Sindang laya, dan Solo.sampai tahun
1970-an, cabang Al-Irsyad telah tersebar diseluruh propinsi Sulawesi Utara dan
sekarang, hampir disetiap propinsi di Indonesian telah berdiri cabang Al-Irsyad.
Di masing-masing cabanh tersebut, didirikan pusat pendidikan bagi warga
Al-Irsyad khususnya, dan masyarakat. Luas pada umumnya.oleh pendirinya,Ahmad
Surkati pendidikan formal dipilih sebagai wahana yang tepat untuk menyemaikan dan
mengembangkan gagasan-gagasan Al-Irsyad seban agaimana telah dicanangkan
dalam Mabadi Al-Irsyad.
Konsistensi dan fokus gerakan terhadap bidang pendidikan formal
tampaknya tetap mampu dipertahankan hingga saat ini kiprah al irsyad lebih banyak
di fokuskan kepada pengembangan pendidiksn fornal,yang di harapkan mampu
membentuk generasi irsyadi.
Jika diklasifikasikan,maka akan terlihat perbedaan perkembangan
pendidikan al irsyad dari setiap periode,periode 1914sampai dengan1942
menunjukan adanya perkembangan yang cukup pesat,namun pada periode 1942-
1961 terjadi kemunduran .baruhlah pada periode1961-1982,pendidikan Al-Irsyad
mengalami kebangkitan kembalidengan di tandai pedirian sekolah-sekolah Al- Irsyad
di berapah daerah ditanah air .perkembangan yang cepat terjadi pada periode 1982-
1997.pada periode ini Al- Irsyad masih dan berhasil mendirikan lembaga pendidika
berupa pesantren dan perguruan tinggi
Terdapat keunikan dari pengembangan pendidikan Al-Irsyad,yaitu dengan
didirikannya pesantren pada tahun 80-an.Jika pada kelompok tradisional {Nahdlatul
Ulama}muncul trend mengembangkan pendidikan dengan mendirikan sekolah-
sekolah umum dan madrasah maka tidak demikian dengan ormas Al Irsyad (dan juga
muhammdiyah)yang justeru mendirikan pesantren ,karena didorong oleh kesadaran
perlunya memberikan perhatian yang besar pada aspek pendidikan agama.Namun
demikian,tipologi pesantren Al Irsyad tetap memiliki perbedaan dengan pesantren
milik ormas itu.
Jika pesantren itu didirikan oleh perorangan,maka pesantren Al Irsyad
didirikan oleh Jam’iyyah (Organisasi),dengan manajement pesantren yang tidak
bersifat kekeluargaan.kitab-kitab yang diajarkan dipesantren Al Irsyad,Meskipun
sama-sama berbahasa arab,namun tidak tergolong kitab kuning seperti yang
diajarkan dipesantren-pesantren itu.kitab-kitab tersebut ditulis oleh para ulama
komtemporer di timur tengah.lebih dari itu,kesan lux juga terlihat pada pesantren-
pesantren milik Al Irsyad,jika dibandingkan dengan pesantren-pesantren tradisional,
Akibatnya biaya pendidikan pun menjadi mahal.
Bisa dikatakan bahwa dalam pengembangan pendidikan islam di
Indonesia,Al Irsyad telah berhasil mempelopori pendirian lembaga-lembaga islam
modoren,yang pada massa berikutnya di ikutin oleh ormas-ormas islam lain.Namun
demikian,meskipun lembaga pendidikan Al Irsyad didirikan oleh organisasi yang
merupakan representasi dari masyarakat keturunan arab,pribumi yang simpati dan
bersekolah dilembaga-lembaga pendidikan Al Irsyad,baik sekolah pesantren maupun
perguruan tingginya
Meskipun Al Irsyad didirikan tidak hanya oleh Ahmad sukarti,namun
berbicara kontributor pemikiran untuk Al Irsyad sosok sukarti tetap menjadi fokus
utama. Dia juga menjadi figur utama dan sentral yang tinggi kini gagasan-gagasannya
masi dipakai dan menyemangati Al Irsyad. Berbicara tentang gagasan Sukarti,maka
tidak salah lagi bahwasanya Sukarti mengadopsi pemikiran dari Muhammd abdul
Wahab sebagai sang inspiratornya.
Jika dirunut,genealogi pemikiran keislaman Al Irsyad bermula dari
kehadiran Ahmad Sukarti di Indonesia.saat itu,sukarti merasa menghadapi
masyarakat yang memiliki kesamaan ciri dengan yang dihadapi Muhammad Abdul
Wahab pada masanya.baik Sukarti maupan Abdul Wahab sama-sama dihadapkan
pada persoalan yang sangat mendasar dalam agama islam,yakni Taulid kehadiran
Sukarti di Indonesia,khususnya dikota Solo,membuat dia merasa prihatin dengan
kemurnian ajaran tauhid yang berkembang dimasyarakat.Meskipun agama islam
telah berkembang cukup lama di Indonesia,namun pengaruh Hindu-Budha maupun
budaya lokal masih sangat kuat,apa lagi di kota Solo yang merupakan pusat situs
kerajaan besar di Indonesia,tentu persinggungan islam dengan budaya setempat
masih sangat insentif.
Meyikapi kondisi yang demikian,Ahmad Sukarti pernah menyampaikan
beberapa pandangan tentang ketauhidan. Apa bila di bandingkan dengan pandangan
Muhammad bin Abdul Wahab,maka terdapat kemiripan, sebagai contoh, Sukarti
mempersoalkan Bid’ah sebagai berikut:
Pertama,Taklid buta sebagaimana yang dilakukan para ulama yang
sebenarnya memiliki kemampuan untuk memahami Al-Quran dan Hadits.Namun
mereka menjadikan pendapat seseorang sebagai dalill agama Sukarti menyatakan
adapun taklid buta dan menjadikan pendapat orang sebagai dalill agama tidak
diperbolehkan oleh allah dan rosull-nya,para sahabat maupun para ulama
terdahulu,dan merupakan bid’ah yang sesat.
Kedua,meminta syafa”at . ia mengatakan kepada orang yang sudah mata
dan bertawasuldenga Mereka ,surkati menyatakansebagaiperbuatan yang munkar
dan bid”a ia menatakan :”meminta syafa”at kepada orang yang mati atau bertawasul
kepada mereka adalah perbuatan munkar, sebab hal tersebut tidak pernah di kerjakan
oleh rasulullah saw,al khulafa”al rasyidan ataupun oleh para mujtahid ,baik bertawasul
dengan rasul sendiri atau dengan yang lain .selain itu ,hal tersebut merupakan
sesuatu yang diada –adakan dalam ruang lingkup al din. Setiap yang baru dalam
agama adalah bid ”ah ,setiap bid ah adalah sesat ,dan setiap yang sesat akan masuk
neraka’’.
Ketiga,dalam kasus pembayaran fidyah membayar sejumlah tebusan
kepada orang lain untuk mengganti shalat dan puasa yang di tinggalkan oleh salah
seorang anggota keluarganya,ketika menyampaikan fidyah seseorang berkata
;’’terimalah uang ini sebagai penebus shalat dan puasa si fulan ’’.kemudian si
penerima menjawab ,’’saya terima pemberian ini ’’ .bagi surkarti,pembuatan ini
dilarang karena tidak di dasarkan atas dasar dalil agama ,dan merupakan perbuatan
bid’ah.
Keempat,dalam kasus pembacaan talqin untuk mayat yang baru di kubur
surkarti melihatnya sebagai pembuatan yang tidak bedasarkan tuntunan al qur’an dan
hadits juga tidak ada petunjuk dari para sahabat
Kelima,pembuatan berdiri pada saat melakukan pembacaan kisah maulid
nabi muhammad saw,bagi surkarti bukan perbuatan agama,namun demikian,apa bila
perbuatan tersebut di pandang sebagai perbuatan agama,atau termasuk dalam ruang
lingkup agama,maka pembuatan tersebuttetap di anggap sebagai perbuatan bid’ah.
Keenam,pengucapan niat (Nawaitu atau Ushalli) bagi Sukarti adalah
perbuatan bid’dah.Alasannya,melafalkan niat demikian dipadang sebagai tambahan
dalam melaksanakan niat yang seharusnya merupakan maksud didalam hati.Menurut
Sukarti pula,ia tidak pernah memperoleh petunjuk bahwa perbuatan tersebut pernah
dirawihkan orang dari nabi Muhammad,atau dari para sahabat,walaupun diajarkan
oleh salah satu imam yang keempat.Dari berbagai sumber rujukan dapat disimpulkan
bahwa niat adalah maksud dalam hati lebih tidak beralasan lagi ialah pendapat
tentang wajib atau sunnahnya pengucapan lafal niat tersebut.Itu berarti ”mewajibkan
apa yang sebenarnya tidak wajib”.
Ketujuh, adat berkumpul untuk melakukan ritual tahlil dirumah orang yang
baru ditimpah musibah kematian menurut Sukarti, merupakan perbuatan Bid’ah dan
bertentangan dengan sunnah rasul.Sukarti menilai parbuatan tersebut sebagai
perbuatan yang membebeni keluarga yang terkena musibah.Dan perbuatan terpuji
yang berkenan dengan keluarga yang terkena musibah adalah penyediakan
makanan,sebagaimana Sabda nabi Jafar bin Abi Thalib meninggal dunia.”Buatlah
makanan bagi keluarga Jafar, ,sebab mereka telah ditimpa sesuatu yang membuat
mereka lupa makan”.
Dan kedelapan,adat berdzikir bersama dan berdoaa bersama setelah
shalat wajib lima waktu menurut surkarti, merupakan perbuatan bid’ah dan
bertentangan dengan sunnah Rasul. Surkati menilai perbuatan tersebut sebagai
perbuatan yang mengada-ada dan menambah-nambah karena Rasulallah selesai
sholat wajib lima waktu, langsung mengerjakan sholat sunnah ba’diah dirumah, tetapi
kalau ada yang akan dia sampaikan maka dia berdiri lalu menyampaikannya ke umat
Muslim.
Pendeknya, dari negara Sudan, Ahmad Surkati datang dengan membawa
”gagasan rasional”. Gagasan itulah yang kemudian memberi kontribusi besar bagi
lahirnya Al-Irsyad Al-Islamiyyah, sebuah gerakan pembaharuan untuk memperbaiki
pemahaman keberagaman muslim Indonesia.Deliar Noor menyatakan, seperti halnya
seperti Modernis muslim Indonesia yang lain. Pemikiran-pemikiran yang berkembang
di Al-Irsyad banyak dipengaruhi oleh pemikiran Puritanisme yang berkembang di
Timur Tengah, yang diplopori oleh Muhammad bin Abdul Wahab (dengan gerakan
Wahabinya), pemikiran tersebut secara intensif masuki Indonesia pada awal abad ke-
20, melalui kontak personal antara masyarakat Arab di Indonesia dengan mereka
yang berada di Timur Tengah, juga melaui penerbitan-penerbitan majalah, seperti
majalah Al-Manar dan lain-lainnya