Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

Kehamilan ektopik adalah suatu kehamilan dimana sel telur yang dibuahi
berimplantasi dan tumbuh di luar endometrium cavum uteri. Kehamilan ektopik
dapat mengalami abortus atau ruptur pada dinding tuba dan peristiwa ini disebut
sebagai kehamilan ektopik terganggu.1

Tempat yang paling sering adalah ampulla (80%), kemudian berturut-turut


pada pars ismika (12%), fimbria (5%),dan pars interstisial (0,2%), implantasi pada
ovarium (0,2%) dan di serviks (0,2%) Berbeda dengan penelitian Santoso (2006)
yang melakukan penelitian terhadap KE dengan pembandingan penanganan
secara laparotomi vs laparoskopi, terhadap kasus KE, didapatkan 216 kasus
kehamilan ektopik dalam rentang waktu Mei 2004–Juli 2005, dengan perincian
sebagai frekuensi terbanyak lokasi terjadinya kehamilan ektopik adalah di tuba
pars ampularis 61,5%, disusul dengan tuba pars istmika 11,5% dan kehamilan
ovarii sebesar 3,8%, sedangkan lokasi implantasidi fimbrie, cornu, abdominal
maupun kehamilan cervical tidak didapatkan pada sampel yang diambil pada
penelitian tersebut. 2

Gejala yang muncul pada kehamilan ektopik terganggu tergantung lokasi


dari implantasi. Dengan adanya implantasi dapat meningkatkan vaskularisasi
ditempat tersebut dan berpotensial menimbulkan ruptur organ, terjadi perdarahan
masif, infertilitas, dan kematian. Hal ini dapat mengakibatkan meningkatnya
angka mortalitas dan morbiditas ibu jika tidak mendapatkan penanganan secara
cepat dan tepat.1

Beberapa faktor risiko penyebab kehamilan ektopik antara lain faktor tuba,
5–10 kali lipat pada pasien dengan riwayat salfingitis. Perlekatan lumen tuba,
kelainan anatomi tuba akibat Ekspose Diethyl Stilbesterol-DES intrauteri.
Riwayat operasi pada tuba falopii termasuk pasca tubektomi – pasca rekonstruksi
tuba, pasca terapi konservatif pada kehamilan ektopik, kelainan zygot. Faktor

Kehamilan Ektopik Page 1


ovarium: migrasi eksterna, hormon eksogen kehamilan yang terjadi pada pasien
dengan kontrasepsi oral yang hanya mengandung progestin (progestin-only pill)
disebabkan oleh efek relaksasi otot polos progestin. Faktor lain alat kontrasepsi
dalam rahim (IUD), merokok, usia tua, riwayat abortus berulang. 1,2
Kehamilan ektopik terganggu menyebabkan keadaan gawat pada
reproduksi yang sangat berbahaya. berdasarkan data dari The center for Disease
Control and Prevention menunjukkan bahwa kehamilan ektopik di Amerika
Serikat meningkat drastis pada 15 tahun terakhir. Menurut data statisitik pada
tahun 1989, terdapat 16 kasus kehamilan ektopik terganggu dalam 1000
persalinan. Menurut hasil penelitian yang dilakukan Cuningham pada tahun 1992
dilaporkan kehamilan ektopik terganggu ditemukan 19,7 dalam 100 persalinan.2
Incident rate kehamilan ektopik di Amerika Serikat mengalami
peningkatan lebih dari 3 kali lipat selama tahun 1970 dan 1987, dari 4,5/1000
kehamilan menjadi 16,8/1000 kehamilan. Data Centers for Disease Control and
Prevention, insiden rate KE di Amerika Serikat pada tahun 1990–1992
diperkirakan 19,7/1000 kehamilan. Tahun 1997–2000 mengalami peningkatan
lagi menjadi 20,7/1000 kehamilan. Di Logos, Nigeria, 8,6% kematian ibu
disebabkan oleh KE dengan Case Fatality Rate (CFR) 3,7%. Di Norwegia,
incidence rate KE meningkat dari 4,3/10.000 kehamilan menjadi 16/10.000
kehamilan selama periode 1970–1974 sampai 1990–1994, dan menurun menjadi
8,4/10.000 kehamilan.2

Kehamilan Ektopik Page 2


BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ANATOMI DAN FISIOLOGI

a) Uterus

uterus berbentuk seperti buah pir yang sedikit gepeng kearah muka
belakang, ukurannya sebesar telur ayam dan mempunyai rongga. Dindingnya
trdiri dariotot-otot polos. Ukuran panjang uterus adalah 7-7,5cm, lebar 5,25 cm
dan tebal dinding 1,25 cm.6

Letak uterus dalam keadaan fisiologi adalah anteversiofleksi. Uterus


terdiri dari fundus uteri, corpus dan cervix uteri. Fundus uteri adalah bagian
proksimal dari uterus, disini kedua tuba falopi masuk ke uterus. Corpus uteri
adalah bagian uterus terbesar, pada kehamilan bagian ini mempunyai fungsi
utama sebagai tempat janin berkembang. Rongga yang terdapat dikorpus uteri
disebut sebagai cavum uteri. Servix uteri terdiri atas pars vaginalis cervisis uteri
dan pars supravaginalis servisis uteri. Saluran yang terdapat pada servix disebut
canalis servicalis. 4

Secara histologi uterus terdiri atas tiga lapisan 4: 1) endometrium; selaput


lendir yang melapisi bagian dalam 2) miometrium: lapisan tebal otot polos 3)
perimetrium: peritoneum yang melapisi dinding sebelah luar.

Endometrium terdiri atas sel epitel kubis, kelenjar-kelenjar dan jaringan


dengan banyak pembuluh darah yang berkelok. Endometrium melapisi seluruh
cavum uteri dan mempunyai arti penting dalam siklus haid pada seorang wanita
dalam masa reproduksi. Dalam masa haid endometrium sebagian besar dilepaskan
kemudian tumbuh lagi dalam masa proliferasi dan selanjutnya dalam masa
sekretorik. Lapisan otot polos disebelah dalam berbentuk sirkuler, dan disebelah
luar berbentuk longitudinal. Diantaranya lapisan itu terdapat lapisan otot oblik,
berbentuk anyaman, lapisan ini paling penting pada persalinan karena sesudah
plasneta lahir, kontraksi kuat dan menjepit pembuluh darah. Uterus ini sebenarnya

Kehamilan Ektopik Page 3


mengapung dalam rongga pelvis dengan jaringan ikat dan ligamentum yang
menyokongnya untuk terfiksasi dengan baik.4

b) TubaFallopi

Tuba falopi terdiri atas4: 1) Pars interstisial, bagian yangterdapat pada


dinding uterus, 2) pars isthmika, bagian medial tuba yang seluruhnya sempit, 3)
pars ampularis, bagian yang berbentuk saluran agak lebar, tempat konsepsi terjadi,
4) Infundibulum, bagian ujung tuba yang terbuka kearah abdomen dan
mempunyai fimbria.

c) Fimbrae

fimbrae penting artinya bagi tuba untuk menangkap telur kemudian


disalurkan kedalam tuba. Bagian luar tuba diliputi oleh peritoneum viseral yang
merupakan bagian dari ligmentum latum. Otot dinding tuba terdiri atas (dari luar
kedalam) otot longitudinal dan otot sirkuler. Lebih kedalam lagi didapatkan
selaput yang berlipat-lipat dengan sel-sel yang bersekresi dan bersilia yang khas,
berfungsi untuk menyalurkan telur atau hasil konsepsi kearah cavum uteri dengan
arus yang ditimbulkan oleh getaran silia tersebut4.

d) Ovarium

ovarium kurang lebih sebesar ibu jari tangan dengan ukuran panjang
sekitar 4 cm, lebar dan tebal kira-kira 1,5 cm. Setiap bulan 1-2 folikel akan keluar
yang dalam perkembangannya akan menjadi folikel degraaf4.

2.2 DEFENISI

Kehamilan ektopik adalah kehamilan yang tempat


implnatasi/nidasi/melekatnya buah kehamilan diluar tempat yang normal, yakni
2,4,8
diluar rongga rahim . Sedangkan yang disebut sebagai kehamilan ektopik
terganggu adalah suatu kehamilan ektopik yang mengalami abortus ruptur pada
dinding tuba.9

Kehamilan Ektopik Page 4


2.3 ETIOLOGI

Etiologi kehamilan ektopik terganggu telah banyak diselidiki,ttapisebagian


besar penyebabnya tidakdikeahui. Trijatmo Rachimhadhi dalam bukunya
menjelaskan beberap faktor yang berhubungan dengan penyebab kehamilan
ektopik terganggu2:

 Faktor mekanis: ha-hal yang mengakibatkan terhambatnya perjalanan


ovum yang dibuahi kedalam cavumuteri, antara lainnya) salpingitis,
terutama endosalpingitis, yangmenyebabkan aglutinasi silia lipatan
mukosa tuba dengan penyempitan saluran atau pembentukan kantong-
kantong buntu. Berkurangnyasilia mukosa tuba sebagai akibat infeksi juga
menyebabkan implantasi hasil zigot pada tuba falopi. b) adhesiperitubal
setelah infekipasca abortus/ infeksi pascanifas, apendisitis, atau
endometriosis yang menyebabkan implantasi tertekuknya tuba atau
penyempitan lumen.c) kelainan pertumbuhan tuba, terutama
divertikulum,ostiumasesoris danhipoplasi.namun inijarangtrjadi.d) bekas
operasi tuba memperbaiki fungsi tuba atau terkadang kegagalan usaha
untuk memperbaiki patensi tuba pada sterilisasi. e) tumor yangmerubah
bentuk tuba seperti mioma uteri dan adanya benjolan pada adneksa.f)
penggunaan IUD
 Faktor fungsional: a) migrasi eksternal ovum terutama padakasus
perkembangan duktus mullleri yang abnormal. b) refluksmenstruasi. c).
Berubahnya motilitas tuba karena perubahan kadar hormon estrogen dan
progesteron.
 Peningkatan daya penerimaan mukosa tuba terhadap ovum yang dibuahi
 Hal lain seperti; riwayat KET dan riwayat abortus induksi sebelumnya.2

Klasifikasi

Sarwono Prawirohardjo dan Cuningham masing-masing dalam bukunya


1,5
mengklasifikasikan kehamilan ektopik berdasarkan lokasinya antara lain : 1.
Tuba Fallopi: a) Pars-Interstisialis, b) Isthmus, c) Ampula, d) Infundibulum, e)

Kehamilan Ektopik Page 5


fimbrae 2.Uterus: a) kanalis servikalis, b) divertikulum, c) kornu, d) tanduk
rudimenter 3.Ovarium 4.Intraligamenter 5. Abdominal: a)primer, b) sekunder 6.
Kombinasi kehamilan dalam dan luar uterus.1,5

2.4 EPIDEMIOLOGI

Sebagian besar wanita yang mengalami kehamilan ektopik berumur antara


20-40 tahun dengan umur rata-rata 30 tahun. Lebih daro 60% kehamilan ektopik
terjadi pada wanita 20-30 tahun dengan sosio-ekonomi rendah dan tinggal
didaerah dengan prevalensi gonorea dan prevalensi tuberkuosa yang tinggi.
Pemakaian antibiotik pada penyakit radang panggul dapat meningkatkan kejadian
kehamilan ektopikterganggu. Diantara kehamilan-kehamiln ektopik terganggu
yang bnyakterjadi ialah pada daerah tuba (90%).1

Antibiotik dapat mempertahankan terbukanya tuba yang mengalami


infeksi tetapi perlengketan menyebabkan pergerakan silia dan peristaltik tuba
terganggu sehingga menghambat perjalanan ovum yang dibuahi dari ampula ke
rahim dan berimplasntasi ke tuba.

Kehamilan ektopik terganggu menyebabkan keadaan gawat pada


reproduksi yang sangat berbahaya. berdasarkan data dari The center for Disease
Control and Prevention menunjukkan bahwa kehamilan ektopik di Amerika
Serikat meningkat drastis pada 15 tahun terakhir. Menurut data statisitik pada
tahun 1989, terdapat 16 kasus kehamilan ektopik terganggu dalam 1000

Kehamilan Ektopik Page 6


persalinan. Menurut hasil penelitian yang dilakukan Cuningham pada tahun 1992
dilaporkan kehamilan ektopik terganggu ditemukan 19,7 dalam 100 persalinan.2
Incident rate kehamilan ektopik di Amerika Serikat mengalami
peningkatan lebih dari 3 kali lipat selama tahun 1970 dan 1987, dari 4,5/1000
kehamilan menjadi 16,8/1000 kehamilan. Data Centers for Disease Control and
Prevention, insiden rate KE di Amerika Serikat pada tahun 1990–1992
diperkirakan 19,7/1000 kehamilan. Tahun 1997–2000 mengalami peningkatan
lagi menjadi 20,7/1000 kehamilan. Di Logos, Nigeria, 8,6% kematian ibu
disebabkan oleh KE dengan Case Fatality Rate (CFR) 3,7%. Di Norwegia,
incidence rate KE meningkat dari 4,3/10.000 kehamilan menjadi 16/10.000
kehamilan selama periode 1970–1974 sampai 1990–1994, dan menurun menjadi
8,4/10.000 kehamilan.2

2.5 GEJALA KLINIS

Trias gejala dan tanda dari kehamilan ektopik adalah riwayat keterlambatan
haid atau amenorrhea yang diikuti perdarahan abnormal (60-80%), nyeri
abdominal atau pelvik (95%). Biasanya kehamilan ektopik baru dapat ditegakkan
pada usia kehamilan 6–8 minggu saat timbulnya gejala tersebut di atas. Gejala
lain yang muncul biasanya sama seperti gejala pada kehamilan muda, seperti
mual, rasa penuh pada payudara, lemah, nyeri bahu, dan dispareunia. Selain itu
pada pemeriksaan fisik didapatkan pelvic tenderness, pembesaran uterus dan
massa adneksa.4

2.6 DIAGNOSIS

Gejala-gejala kehamilan ektopik terganggu beraneka ragam, sehingga


pembuatan diagnosis kadang-kadang menimbulkan kesulitan, khusunya pada
kasus-kasus kehamilan ektopik yangblum menglamai atau rupturpadadinding tuba
sulit untuk dibuat diagnosis.1

Kehamilan Ektopik Page 7


Berikut ini merupakan jenis pemeriksaan untuk membantu diagnosis
kehamilan ektopik:

1. HCG-B: jaringan trofoblas kehamilan ektopik mennghsilkan Hcg yang lebih


rendah dibandingkan kehamilan intrauterin, oleh sebab itu dibutuhkantes yang
mempunyai tingkat sensitifitas yang tinggi. Apabila tes HCG mempunyainilai
nesitifitas 25iu/l, maka 90-100% kehamilan ektopik akan memberi hasil yang
positif. Yang lebih penting lagi ialah bahwa tes kehamilan tidak dapat
membedakan kehamilan intrauterin dengan kehamilan ektopik. 1

2. Kuldosintesis: suatu cara pemeriksaan untuk mngetahui apakah dalam cavum


douglas adadarah atau caran lain. Cara ini tidak digunakan pada kehamilan
ektopik belum terganggu. 1

Teknik: penderita dibaringkan dalam posisi litotomi, vulva vagina dibersihkan


dengan antiseptik, spekulum dipasang dan bibir belakang portio dijepit dengan
tenakulum, kemudian dilakukan traksi kedepan sehingga forniks posterior
ditampakkan, jarum spinal no.18 ditusukkan kedalam kavum douglas dan dengan
semprit 10 ml dilakukan pengisapan.

Hasil: positif jika darah tua berwarna coklat sampaihitamyangidakmembeku,atau


berupa bekuan-bekuankecil. Darah ini menunjukkanadanya hematokel retrouterin;
negatif jika cairan jernih yang mungkin berasal dari cairan peritoneum normal
atau kista ovariumyang pecah, nanah yang mungkin berasal dari radang pelvis
atau apendisitis yang pecah, darah segar warna merah yang dalambeberapamenit
akan membeku yang mungkin berasal dari areriatauvena yang tertusuk; non
diagnostik jika pada pengisapan tidak berhasil dikeluarkan darah atau cairan lain.

3. ultrasonogrfi: diagnostik pasti kehamilan ektopik apabila ditemukan kantung


gestasi diluaruterus yang didalamnya tampak denyut jantung janin. Sedangkan
pada kehamilan ektopik terganggu sering tidak ditemukan lagi kantung gestasi
namun cairan bebas dalam rongga peritoneum terutama dicavum douglas.

Kehamilan Ektopik Page 8


4. Laparoskopi: laparoskopi hanya digunakan sebagai alat bantu diagnosis terakhir
apabila hasil-hasil penilaian prosedur diagnostik lain untuk kehamilan ektopik
terganggu meragukan.

Trias klasik yang sering ditemukan adalah nyeri abdomen, perdarahan vagina
abnormal, dan amenore4

2.7 TATALAKSANA

Pada kehamilan ektopik, walaupun tidak selalu ada bahaya terhadap jiwa
penderita, dapat dilakukan terapi konservatif, tetapi sebaiknya tetap dilakukan
tindakan operasi. Kekurangan dari terapi konservatif yaitu walaupun darah
berkumpul dirongga abdomen lambat laun dapat diresorbsi atau untuk sebagian
dapat dikeluarkan dengan kolpotomi (pengeluaran melalui vagina dari darah
dicavum douglas), sisa darah dapat menyebabkan perlekatan-perlekatan dengan
bahaya ileus. Operasi terdiri dari salpingektomi ataupun salpingo-ooforektomi.
Jika penderita sudah memiliki anak cukup terdapat kelainan pada tuba tersebut
dapat dipertimbangkan untuk mengangkat tuba. Namun jika penderita belum
mempunyai anak, maka kelainan tuba dapat dipertimbangkan untuk dikoreksi
supaya tuba berfungsi.4

Tindakan laparotomi dapat dilakukan pada ruptur tuba, kehamilan dalam


divertikulum uterus, kehamilan abdominaldan kehamilan tanduk rudimenter.
Prdarahn sedini mungkindihentikan denganmenjepit bagian dari adneksa yang
menjadi sumber perdarahan. Keadaan umum penderita terus diperbaiki dan darah
dari rongga abdomen sebanyak mungkin dikeluarkan. Serta memberikan transfusi
darah.4

Untuk kehamilan ektopik terganggu dini yang berlokasi di ovarium bila


dimungkinkan dirawat, namun apabila tidak menunjukkan perbaikan maka dapat
dilkaukan tindakan sistektomi ataupun oovorektomi5. Sedangkan kehamilan
ektopik terganggu berlokasi dicervik uteri yang sering mengakibatkan perdarahan

Kehamilan Ektopik Page 9


dapat dilakukan histerktomi, tetapi pada nulipara yang ingin sekali
mempertahankan fertilitasnya diusahakan melakukan terapi konservatif. 4

2.8 KOMPLIKASI

Faktor Risiko Kehamilan Ektopik Berulang

Terdapat banyak penelitian yang menjabarkan beberapa faktor resiko yang


menyebabkan kehamilan ektopik maupun kehamilan ektopik berulang. Nmun,
sampai saat ini belumada penelitian yang mampu menjelaskan patogenesis dari
faktor resiko tersebut secara jelas dan tepat.

Pada akhirnya, hal ini berpengaruh pada pemilihan tatalaksana yang tepat dan
rekomendasi terapi pada pasien dengan kejadian kehamilan ektopik berulang.
Brdasarkan pada sebuah jurnal menyebutkan bahwa, permpuan yang mengalami
kehamilan ektopik yang sebelumnya, risiko untuk terjadinya kehamilan ektopik
dikehamilan berikutnya meningkat sebanyak delapan kali. Berikut beberapa faktor
resiko yang dicurigai mempunyai potensi menyebabkan terjandinya kehamilan
ektopik berulang:

a. Tindakan operaif pada kasus kehamilan ektopik sebelumnya


Pada sebuah jurnal yang merupakan sebuah laporan kasus dari kejadian
kehamilan ektopik yang berulang yangterjadi pada sisi yang sama dengan
kehamilan ektopik sebelumnya. Dimana pada kehamilan ektopik
sebelumnya yang berimplantasi pada tuba falopi bagian kanan, dilakukan
salpingektomi parsial. dua tahun setelah prosedur tersebut, terjadi
kehamilan ektopik berikutnya. Padakasus ini dicurigai bahwa
salpingektomi parsialmasih memungkinkan terjadinya kehamilan ektopik
ditempat yang sama, sehingga salpingektomi total lebih dianjurkan
daripada salpingektomi parsial.
b) kelainanan antomi dari Tuba fallopi
c) Infertilitas
d) Penyakit Radang Panggul
e) paparan terhadap dietilstilbestrol

Kehamilan Ektopik Page 10


f) merokok

BAB 3

PRESENTASI KASUS

3.1 Identitas Pasien


Nama : Ny. Mariayanti H.Manek
Umur : 33 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Agama : Protestan
Alamat : Baun
MRS : 16 Mei 2018 Jam 16.50 Wita. Pasien masuk melalui
Triase Kebidanan RSUD. Prof. DR. W. Z. Johannes Kupang
3.2 Anamnesis
Keluhan utama: Pasien datang denga rujukan dari dokter SpOG dengan diagnosis
G3P2A0 8-9 mgg T/H + Kehamilan Ektopik. Pasien mengeluh perut bagian
bawah nyeri terutama sebelah kanan sejak 4 hari SMRS sehingga memeriksakan
dirinya di dokter SpOG. Pada pemeriksaan ditemukan nyeri tekan dan tidak ada
keluar darah dari jalan lahir
Riwayat Penyakit dan Pengobatan Sebelumnya: Riwayat hipertensi (-), DM (-),
Batuk lama (-). Sering menglami keputihan disertai nyeri yang hilang timbul
panggul sejak 2 tahun terakhir ini.
Riwayat penyakit keluarga: tidak ada
Riwayat Obstetri:
◦ Menarkhe : 12 tahun

◦ Siklus : 28 hari
◦ Lama Haid : 3-5 hari
◦ ANC 2x di Puskesmas Takari dan 1x di dr SpOG
◦ HPHT : 20-02-2018

Kehamilan Ektopik Page 11


◦ TP : 27-11-2018
◦ UK 11-12 minggu
Riwayat Persalinan:
1. 9 bulan / spontan/ rumah/ dukun / bb? / L/ 10 tahun
2. 9 bulan / spontan / rumah / dukun/ bb? / P / 8 tahun
3. 4 minggu / abortus / 2017
4. Hamil ini

Riwayat Kontrasepsi: tidak ada

a. Pemeriksaan Fisik
Kepala:
 Wajah: edema (-)
 Mata: Konjungtiva pucat (-)|(-), Sklera kuning (-)|(-)
 Hidung: Rinore (-), Epistaksis (-)
 Mulut: Lidah kotor (-), mukosa lembab
 Telinga: otore (-)|(-), otoragi (-)|(-)
Leher:
 Pembesaran Kelenjar Getah Bening (–)
 Pembesaran kelenjar tiroid (–)
 Kaku kuduk (–)
 Keterbatasan gerak (–)
Thoraks:
Simetris, Puting menonjol
 Cor:
o bunyi jantung S1, S2 tunggal
o murmur (–)
o gallop (–)
 Pulmo:
o Vesikular (+)|(+),Ronchi (-)|(-)
o Wheezing (-)|(-)
Abdomen: Inspeksi :-
Auskultasi : BU (+) kesan normal

Kehamilan Ektopik Page 12


Palpasi : Nyeri tekan (+), TFU : 3 jari dbwh pusat teraba

massa bagian kanan

Ekstremitas:
Akral hangat, Nadi kuat angkat, Capilary Refill Time (CRT) < 2 detik
oedem (-)
Genitalia: Perdarahan pervaginam (-), lendir (-)

VT : v/v ta’a fluxus (-) flour (-) portio licin, nyeri goyang portio (+), corpus uteri
anteflexi, adneksa parametrium sinistra terdapat massa ukuran, cavum douglass
tidak menonjol

3.4 Pemeriksaan Penunjang

Darah
Lengkap Satuan 16–05- 018
Hb g/dl 12,1
Eritrosit x106 5,01
Hematokrit % 37,6
Leukosit x103 8,64
Trombosit x103 202

Koagulasi Satuan 16–05- 018


PT detik 9,8
APTT detik 29,1

16-05-2018
Urinalisa Satuan
Warna Kuning Kuning
jernih Agak keruh
Protein Mg/dL 1+
Darah Mg/dL 1+

Kehamilan Ektopik Page 13


Lekosit esterase negatif 3+

Diagnosis dan Terapi

Diagnosis VK Triase (16 – 05- 2018):


G4P2A1 AH2 UK 11-12 minggu T/H + kehamilan Ektopik
Terapi:
◦ IVFD Ringer laktat 20 tpm
◦ HB serial / 6 jam
◦ Observasi
◦ Rencana USG besok (17-05-2018)

Hasil USG (17-5-2018):


 Uterus agak membesar
 Tampak massa di tuba dekstra, terdapat janin (+)
Terapi:
Pro laparotomi (17-5-2018)

Laporan operasi (17-5-2018)


Diagnosis : kehamilan ektopik
Diagnosis pasca bedah : kehamilan ektopik pars ampularis dextra
Tindakan pembedahan : laparotomi salpingooovorektomi dekstra dan
adhesiolisis
Uraian pembedahan:
1. Prosedur operasi rutin
2. Dilakukan insisi L mediana
3. Identifikasi dan eksplorasi :

Kehamilan Ektopik Page 14


 Uterus ukuran 6x6x5 cm dengan perlengketan hebat pada omentum
dan tuba kanan dilakukan adesiolisis
 Ovarium kiri dibuka
 Tuba kanan mengadakan perlengketan hebat dengan ovarium
kanan dan produk kehamilan menempel di dinding belakang
abdomen kanan yang berasal dari pars ampularis tuba kanan
 Ditegakkan diagnosis kehamilan ektopik tuba dekstra
 Dilakukan salpingoovorektomi dekstra
 Kontrol perdarahan (-)
 Pasang drain
 Dinding abdomen dijahit
 Keadaan umum sebelum selama dan sesudah operasi baik.

Kehamilan Ektopik Page 15


b. Follow Up Pasien
Tanggal Perjalanan Penyakit Instruksi Dokter
17-05 2018 S : (-)  IVFD RL:D5% 1:1 20 tpm
O :KU : Kesadaran : CM  Cefotaksim 2x1 IV
TTV : TD: 110/70 mmHg, Nadi : 90 x / menit  Ketorolac 3x1 Iv
RR : 20 x/menit, S : 36.5 C  Kalnex 3x1
Paru : vesikuler +/+  6 jam post operasi cek HB
Abdomen : luka bekas operasi  Transfusi sampai Hb >10mg/dL
Ekstermitas : edema (+) pada tungkai kiri dan kanan,
A : Post Salpingoovorektomi dekstra

18-05-2018 S : nyeri luka operasi  Cek HB sito 9,3 gr/dl transfusi lagi
O : KU : tampak sakit sedang, Kesadaran : CM  Obat lanjut
TTV : : 130/90 mmHg, Nadi : 90 x / menit
RR : 20 x/menit, S : 36.5 C
Paru : vesikuler +/+,
Abdomen: luka bekas operasi
Ekstermitas : akral hangat, edema (-)
Balance cairan 07-08 April 2017= +350 cc
A : Post Salpingoovorektomi dekstra hari 1
19 -05-2018 S : (-)  Aff DC, drain, by pass
O : KU : tampak sakit sedang, kesadaran CM  Cefadroxil 3x1
Kesadaran: E3V4M6  Asam mefenamat 3x1
TTV : TD :120/80 mmHg, Nadi : 74 x / menit  Transfusi 250 cc cek HB: 11,5 g/dl
RR : 21 x/menit, S : 36,5 C
Mata, Paru, cor : DBN
Abdomen : tampak luka operasi
Ekstermitas : CRT<2 detik
A : Post Salpingoovorektomi dekstra hari 2

Kehamilan Ektopik Page 16


20-5-2018 S:-  Boleh pulang
O :KU : pasien tampak sakit sedang
Kesadaran : compos mentis
TTV : TD : 120/80 mmHg,
Paru : vesikuler +/+
Abdomen : tampak cembung,
Ekstermitas : akral hangat, edema (-), CRT <3 detik
A : Post Salpingoovorektomi dekstra hari 3

Kehamilan Ektopik Page 17


BAB 4
PEMBAHASAN
Kehamilan ektopik didefinisikan sebagai kehamilan yang terjadi diluar uterus.
Pada beberapa kasus kehamilan ektopik, kehamilan dengan implantasi hasil
pembuhan dituba fallopi adalah kasus yang paling banyak ditemukan. Sedangkan
kehamilan ektopik terganggu adalah keadaan dimana timbul gangguan pada
kehamilan tersebut sehinggatrjadi abortus maupun ruptur yang menyebabkan
penurunan keadaan umum pasien.

Pada kasus ini, pasien didiagnosis dengan kehamilan ektiopik, dimana buah
kehamilan terdapat dituba falopi pars ampula dekstra, tanpa mengalami ruptur tuba
atau abortus atau terganggunya hemodinamik ibu.

Secara epidemiologi insiden tertinggi pada kelompok umur 20-40 tahun


dengan rata-rata 30 tahun dengan sosioekonomi yang rendah, tinggah didaerah
dengan prevalensi infeksi gonorea dan Tuberculosis tinggi.

Usia pasien ini 33 tahun dengan riwayat sering nyeri perut dan keputihan yang
bisa mengarah kepada penyakit radang panggul. Salpingitis terutama endosalpingitis
dapat menghambat perjalanan ovum yang dibuahi kedalam cavum uteri karena dapat
terjadi penyempitan tuba dan berkurangnya silia pada tuba. Apalagi riwayat obstetri
pasien ini yang selalu melahirkan dirumah dan ditolong dukun yang diragukan
kesterilannya. Selain itu pasien ini juga pernah mengalami abortus dimana infeksi
pasca abortus/ infeksi pasca nifas dapat menyebabkan adhesi peritubal.

Trias gejala klinis klasik kehamilan ektopik adalah nyeri abdomen bagian
bawah, amenore dan perdarahan pervaginam (50%). Sekitar 40-50% pasien
menunjukkan gejala perdarahan pervaginam, 50% dapat teraba massa adnexa, dan
75% menunjukkan gejala nyeri tekan abdominal. Gejala-gejala hemodinamik ibu
tergantung pada adanya ruptur atau tidaknya tuba fallopi.

Pasien ini datang dengan keluhan nyeri perut bagian bawah terutama sebelah
kanan dan nyeri tekan pada perut bagian kanan tersebut. Pasien juga sudah tidak haid
sejak 3 bulan yang lalu. Saat di vaginal toucher terdapat nyeri goyang portio dan
terdapat massa di adneksa sebalah kanan. Namun tidak terdapat perdarahan

Kehamilan Ektopik Page 18


pervaginam pada pasien ini dan hemodinamik serta tanda vital pasien ini dalam
keadaan normal yang menggambarkan bahwa belum terjadinya ruptur pada tuba.

Pemeriksaan penunjang yang dipakai pada pasien ini adalah menggunakan


USG. Dengan USG dapat dinilai kavum uteri kosong atau terisi, tebal endometrium,
adanya massa dikanan atau kiri dan adanya cairan pada kavum douglas.
Pasien ini dengan USG terlihat Uterus agak membesar adanya massa di tuba
dekstra, terdapat janin (+) dengan kesimpulan kehamilan ektopik.
Penanganan kehamilan ektopik yang belum terganggu dapat dilakukan secara
medis ataupun bedah. Pembedahan mencakup 2 teknik yakni salpingektomi ataupun
salpingo-ooforektomi. Jika penderita sudah memiliki anak cukup dan terdapat
kelainan pada tuba tersebut dapat dipertimbangkan untuk mengangkat tuba. Namun
jika penderita belum mempunyai anak, kelainan dapat dipertimbangkan untuk
dikoreksi supaya tuba berfungsi.
Pasien ini dilakukan salpingoovorektomi tuba dekstra karena pada saat di
laparotomi terdapat perlengketan tuba dekstra pada ovarium dan omentum.

Kehamilan Ektopik Page 19


DAFTAR PUSTAKA
1. Prawirohardjo S, Hanifa W. Kehamilan Ektopik. Dalam: Ilmu Kandungan, edisi II
Jakarta: yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 2007;197-210.
2. Rachimhadi T. Kehamilan ektopik. Dalam: Ilmu bedah kebidanan. Edisi I.
Jakarta: yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo,2005;`98-10
3. Robbins SL, Kumar V. Sistem Genitalia Wanita dan Payudara (kehamilan
ektopik). Dalam: Buku Ajar Patologi II. Edisi IV. Jakarta: Penerbit buku
kedokteran EGC. 1997; 374-15,
4. Wibowo B, Rachimhadhi T. Kehamilan Ekopik. Dalam: Ilmu Kebidanan. Edisi
III. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, 2002;362-85
5. Cuningham FG, Macdonald PC, Gant NF. Kehamilan ektopik. Dalam: Obstetri
William (william’s Obstetri). Edisi XVIII. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC. 2005;599-26
6. Jones HW. Ectopic Pregnancy. In: Novak’s Text Book of Gynecology. 3rd
Edition. Balltimore, Hongkong, London, Sydney: William & Wilkins.1997; 883-
05
7. UAB Health System (Online Data base) 2006 September 9

Kehamilan Ektopik Page 20


Kehamilan Ektopik Page 21