Anda di halaman 1dari 28

1 PROLOG

Indonesia yang terdiri dari berbagai suku masing-masing mempunyai


budaya adat kebiasaan bahkan bahasa, kepercayaan, terungkap secara fisik
antara lain dalam bentuk seni, artefak dan arsitektur yang khas. Di banyak
tempat, arsitektur tradisional di Indonesia menarik perhatian baik secara
nasional maupun internasional, selain karena keunikan juga karena
keindahannya. Meskipun mempunyai persamaan satu bentuk arsitektur
tradisional dengan lain, secara umum antara lain: bentuk konstruksi kolong,
menggunakan bahan-bahan yang didapat di lingkungan, di latar belakangi
kepercayaan dan budaya, namun secara arsitektural satu dengan lain sangat
berbeda dan mempunyai ciri tersendiri. Kemajuan teknologi, komunikasi,
perhubungan, berbagai arsitektur tradisional mengalami perubahan-perubahan
yang cenderung meninggalkan keasliannya. Perubahan-perubahan tersebut
akan mengurangi bahkan dapat menghilangkan keaslian, keunikan dan
keindahan yang sebetulnya justru menjadi daya tariknya. (Sumalyo,2001.Hal.64)
Arsitektur tradisional berkembang mencapai bentuknya yang sekarang
melalui proses dalam kurun waktu lama dan sukar diketahui secara pasti
sejarah dan konsep-konsep bentuk bangunannya karena diturunkan dari
generasi ke generasi tanpa peninggalan baik berupa gambar maupun tulisan.
Demikian juga konsep-konsep pola pikir yang abstrak, kepercayaan, budaya,
adat istiadat, iklim, lingkungan dan lain-lain bentuk arsitektural tidak dapat
diketahui secara pasti. Arsitektur tradisional terbentuk oleh adanya ikatan
geografis dari sekelompok manusia atau masyarakat, sehingga terjadi interaksi
antara manusia dengan manusia dan antara manusia dengan alam, dari waktu
ke waktu dari generasi ke generasi. (Sumalyo,2001.Hal.64)
Salah satu diantara arsitektur tradisional yang ada di Indonesia, adalah
arsitektur tradisional Toraja. Arsitektur ini meliputi segala aspek yang
berhubungan dengan Tongkonan seperti : rumah adat, lumbung padi, kuburan
adat, dan segala aspek lingkungan binaan dari Tongkonan.
Arsitektur Toraja adalah salah satu aset nasional yang perlu dilestarikan,
karena mempunyai nilai budaya yang tinggi. Disamping itu, dapat menjadi
masukan dan memberi wawasan yang lebih luas kepada para arsitek dalam
melakukan perancangan.
2 Arsitektur tradisional
toraja

2.1Definisi Arsitektur Tradisional

Arsitektur adalah lingkungan binaan yang memenuhi kegunaan,


kekokohan, dan estetika. Dalam artian yang lebih luas, arsitektur mencakup
merancang dan membangun keseluruhan lingkungan binaan, mulai dari level
makro yaitu perencanaan kota, perancangan perkotaan, arsitektur lansekap,
hingga ke level mikro yaitu desain bangunan, desain perabot dan desain
produk.
Arsitektur tradisional adalah suatu bangunan yang bentuk, struktur,
fungsi, ragam hias dan cara pembuatannya diwariskan secara turun temurun
serta dapat di pakai untuk melakukan aktivitas kehidupan dengan sebaik-
baiknya (Sumalyo,2001.Hal.64-74). Dalam rumusan arsitektur dilihat sebagai suatu
bangunan, yang selanjutnya dapat berarti sebagai suatu yang aman dari
pengaruh alam seperti hujan, panas dan lain sebagainya. Suatu bangunan
sebagai suatu hasil ciptaan manusia agar terlindung dari pengaruh alam,
dapatlah dilihat beberapa komponen yang menjadikan bangunan itu sebagai
tempat untuk dapat melakukan aktivitas kehidupan dengan sebaik-baiknya.
Adapun komponen-komponen tersebut adalah : bentuk, struktur, fungsi, ragam
hias serta cara pembuatan yang diwariskan secara turun temurun.
Selain komponen tersebut yang merupakan faktor utama untuk melihat
suatu arsitektur tradisional, maka dalam inventarisasi dan dokumentasi ini
hendaknya setiap bangunan itu harus merupakan tempat yang dapat dipakai
untuk melakukan aktivitas kehidupan dengan sebaik-baiknya.
(Sumalyo,2001.Hal.64-74)
Jadi menurut kelompok kami, arsitektur tradisonal yaitu suatu bangunan
yang secara turun temurun diwariskan dari generasi ke genarasi yang bentuk
bangunannya memiliki ciri khas tertentu.
2.2 Arsitektur Tradisional Toraja
Rumah menurut Van Romondt (1965, dalam Said,2004) adalah tempat
berlindung manusia dalam menghadapi cuaca panas, dingin, hujan dan angin.
Dahulu, pengertian rumah tinggal adalah sebagai tempat berlindung dari
panasnya terik sinar matahari atau serangan binatang buas yang menjadi
musuh manusia. Namun sekarang, selain untuk hal tersebut di atas, juga
berarti sebagai tempat beristirahat, membina individu atau keluarga, tempat
bekerja, dan sebagai lambang sosial. Bagi masyarakat primordial, rumah
merupakan tempat berlindung untuk menghindari dari bahaya-bahaya rohani
yang mengancam.
Adapun pengertian rumah tradisional, yaitu suatu bangunan dimana
struktur, cara pembuatan, bentuk, fungsi, dan ragam hiasnya mempunyai ciri
khas tersendiri, yang diwariskan secara turun-temurun, serta dapat dipakai
oleh penduduk daerah setempat untuk melakukan aktifitas kehidupan dengan
sebaik-baiknya (Said,2004). Kata ‘tradisi’ mengandung arti suatu kebiasaan
yang dilakukan dengan cara yang sama oleh beberapa generasi tanpa atau
sedikit sekali mengalami perubahan-perubahan. Dengan kata lain, kebiasaan
yang sudah menjadi adat dan membudaya. Dengan demikian istilah ‘rumah
tradisional’ dapat diartikan sebuah rumah yang dibangun dan digunakan
dengan cara yang sama sejak beberapa generasi.
Rumah tradisional Toraja yang disebut Tongkonan mempunyai peranan
yang sangat penting karena berhubungan langsung dengan kepercayaan Aluk
Todolo (kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Toraja artinya adalah
agama atau aturan dari leluhur) terutama dalam pesta adat dan kehidupan
ritual di Tana Toraja (L.I. Tangdilintin,1975.Hal.50-55). Penyelenggaraan pesta adat
pada tingkat-tingkat tertentu, dilaksanakan dengan mengacu pada konsep
kosmologi Toraja, dan berpedoman pada keempat titik mata angin, dimana
Tongkonan adalah sebagai titik pusat. Utara dan Selatan digambarkan sebagai
‘kepala dunia’ dan ‘ekor dunia’, atau tempat bersemayamnya Puang Matua
dan Pong Tulakpadang, yang menjaga keseimbangan alam raya (kosmos)
(Tangdilinting,1981).
2.2.1 Desa Adat

Gambar 1. Tongkonan Gambar 2. Lumbung


(http://static.panoramio.com) (www.photobucket.com)

Dalam kompleks rumah adat terdapat beberapa tipe unit bangunan yang
masing- masing mempunyai ukuran, bentuk dan lain-lain elemen arsitektural
berbeda. Secara garis besar, dari segi fungsinya, terdapat dua jenis bangunan
adat berbeda. Tongkonan atau rumah untuk tempat tinggal dalam arti tidur,
makan, istirahat, di mana pada umumnya mempunyai tado'-tado' (teras depan),
tado' (ruang tamu), ba'ba atau tambing (ruang tidur) dan lambun (dapur). Jenis
unit lainnya adalah alang semacam lumbung berbentuk mirip dengan
tongkonan tetapi lebih kecil dan hanya terdiri dari satu ruang di atas untuk
menyimpan padi.

Gambar 3. Kuburan di Tana Toraja


( Sumber : http://eepindonesia.com )
Kuburan juga merupakan elemen penting dalam kehidupan masyarakat
Toraja. Jenasah anggota masyarakat Toraja yang meninggal tidak
dikebumikan sebelum upacara kematian. Mayat sebelum upacara kematian
dianggap dan diperlakukan, disimpan dalam rumah atau tongkonan,
diberimakan seperti layaknya orang masih hidup. Upacara ritual kematian
menurut adat Toraja cukup kompleks, melibatkan semua masyarakat
memakan waktu berhari-hari. Barulah acara terakhir dari upacara ritual sangat
kompleks tersebut jenasah dimakamkan sebetulnya, lebih tepat disemayamkan
di lobang dipahat di tebing atau lereng bukit membentuk semacam goa.

Secara detail arsitektur tongkonan dan alang atau semacam lumbung,


mempunyai beberapa tipe atau jenis yang meskipun secara keseluruhan
bentuknya sama tetapi ada perbedaan dalam besaran (ukuran), tata ruang
(denah), bentuk, dekorasi dan lain-lain aspek arsitektural.
2.2.2 Tata unit

(Sumalyo,2001.Hal.69-70)

Tiga desa adat yaitu Palawa salah satu kompleks desa adat terbesar,
Ketekesu' dianggap terindah dari desa-desa adat di Toraja dan Siguntu
kompleks desa adat berukuran sedang (dari segi luas, jumlah alang dan
lumbung) mempunyai pola dan tata letak sama. Ketiganya terdiri dari
sejumlah tongkonan, berderet dalam arah matahari terbit dan matahari
tenggelam. Deretan tongkonan menghadap ke sebuah halaman luas
memanjang terbentuk oleh deretan tongkonan tersebut dengan deretan
lumbung atau alang. Halaman ini berupa ruang terbuka (+) positif, istilah
dipakai untuk menyebut ruang luar terbentuk oleh dua dinding berhadapan,
bila tongkonan dan lumbung dipandang sebagai dinding.
Bila dereten tongkonan dipandang sebagai unsur pertama dalam kompleks
rumah adat Toraja, deretan lumbung atau alang sebagai unsur ke dua,
halaman di antara kedua deretan sebagai unsur ke tiga, maka unsur ke empat
adalah kuburan telah disebut di atas tempat pemakaman di lobang-lobang
dipahat di tebing biasanya batu karang. Kuburan berada di belakang dari
deretan tongkonan, berupa tebing. Bila dalam tataetak ketiga kampung adat
ditarik garis melebar sejajar dengan deretan tongkonan, lumbung dan halaman
di antaranya, maka akan terbentuk garis sumbu arah matahari terbit-tenggelam
atau arah timur barat. Bila ditarik garis tegak lurus dari sumbu timur-barat
tersebut maka akan terbentuk sumbu lainnya melintang utara-selatan.
Halaman tengah diantara deretan alang dan tongkonan, mempunyai fungsi
majemuk, antara lain tempat bekerja, menjemur padi dan bermain anak-anak.
Selain itu menjadi "ruang pengikat" dan penyatu dalam kompleks.

Gambar 6. Halaman Tengah Toraja


(Sumber : http://tatic.panoramio.com)

Gambar 7.Upacara Adat Toraja


(https://tat.ks.kidsklik.com)
Yang terpenting dalam kaitan dengan Aluk Todolo, halaman ini menjadi
tempat melangsungkan berbagai kegiatan ritual terutama dalam upacara
kematian atau pemakaman jenasah.
Dalam kosmologi dari Aluk Todolo arah matahari tenggelam (barat)
dipandang tempat bersemayam arwah leluhur, sebagai arah kematian dan
masa lampau. Kemungkinan besar pandangan ini terbentuk karena selama
puluhan tahun, ratusan bahkan beberapa ribu tahun masyarakat Toraja
tradisional selalu "menyaksikan" tenggelamnya matahari yang berarti
perubahan dari terang ke gelap malam. Sebaliknya arah matahari tenggelam
dipandang sebagai arah kelahiran, masa datang karena terjadi perubahan dari
gelap menjadi terang. Arah matahari terbit dalam Aluk Todolo dipandang
sebagai tempat bersemayam tiga Dewa (Deata) yang ketiganya berkaitan
dengan kehidupan dan pemelihara bumi.

Rumah-rumah atau tongkonan dan lumbung atau alang dalam sebuah desa
adat Toraja, tidak dibangun dalam sekali waktu, namun bertahap dan satu
dengan lain berbeda waktu pembangunan cukup lama. Jumlah masing-masing
menunjukkan kategori sosial-ekonomi dari keluarga pemiliknya. Rumah tertua
berada di ujung arah matahari tenggelam atau barat, dan berturut-turut ke arah
mata hari terbit yang lebih baru dari sebelumnya.

2.3 Asal Usul Penamaan Toraja

Menurut Departemen pendidikan dan kebudayaan di dalam buku Upacara


Tradisional Daerah Sulawesi Selatan (1981-1982:60), penamaan Toraja
terbagi atas beberapa pendapat. Diantaranya sebagai berikut:

1. To-Riaja
Kata Toraja berasal dari kata To-Riaja. Dimana To berarti Orang dan Riaja
berarti Utara. Penamaan ini bagi orang yang bertempat tinggal di selatan
Tondok Lepongan Bulan.
2. To-Rajang
Kata Toraja berasal dari kata To-Rajang. Dimana To berarti Orang dan
Rajang berarti Barat. Penamaan ini berasal dari orang-orang Luwu menunjuk
Tana Toraja di sebelah Barat.

3. To-Raya
Kata Toraja juga dianggap berasal dari kata To-Raya yang dimana To
berarti orang dan Raya berarti Timur. Penamaan ini berasal dari penamaan
orang-orang makassar yang menunjuk Tana Toraja di sebelah Timur.

4. To-Raja
Kata Toraja berasal dari kata To-Raja. To berarti orang dan Raja berarti
Selatan. Dalam hal ini adanya pengakuan dari raja Sulawesi Selatan yang
mengakui leluhurnya berasal dari Tondok Lepongan Bulan, Tanah Matarik
Allo.

Gambar 8. Toraja zaman dahulu


( www.photobucket.com)

Gambar 9. Masyarakat Toraja


(www.photobucket.com)
2.4 Tergantinya Arsitektur Tradisional Toraja

Wujud perubahan pada Tongkonan dapat dilihat pada perubahan tatanan


ruang, fungsi, dan bahan material. Unsur-unsur penyebab sehingga perubahan
pada Tongkonan dapat terjadi disebabkan oleh adanya perubahan religi,
efektifitas ruang, dan kebutuhannya serta ketersediaan bahan material
bangunan. (Stephany, 2009.Hal.29 )

Perubahan pada tatanan ruang terjadi karena adanya pengaruh kebutuhan


ruang yang semakin kompleks oleh pemiliknya, sehingga terdapat
pengurangan maupun penambahan area pada Tongkonan. Selain itu, tuntutan
fungsional, efisiensi ruangan serta perkembangan peradaban menjadi alasan
lain dari perubahan Tongkonan tersebut. (Stephany, 2009.Hal.29 )

Adapun bagian-bagian yang paling banyak mengalami perubahan dari segi


tatanan ruang adalah pemanfaatan kolong sebagai ruangan baru yang
disesuaikan dengan kebutuhan pemilik, posisi arah buka serta besaran pintu,
permainan ketinggian lantai, area Tangdo yang diberi sekat masif, dan posisi
dapur yang lebih banyak ditempatkan di luar area Tongkonan (terpisah dari
Tongkonan).

Perubahandari segi fungsi terjadi karena sebagian besar masyarakat Toraja


telah menganut dan meyakini salah satu agama yang dianggap dapat lebih
dipertanggungjawabkan dari sudut pandang modern. Rata-rata pemilik telah
memeluk agama kristen dan sudah tidak menganut kepercayaan Aluk Todolo,
sehingga beberapa ritual seperti yang dilakukan pada area Tangdo sudah tidak
dilaksanakan lagi. Selain itu, fungsi dapur pada bagian kanan area Sali sudah
difungsikan sebagai ruang keluarga atau ruang tamu secara keseluruhan.
Perubahanpada material terjadi karena keberadaan material alam sekitar
yang semakin sedikit menjadi alasan utama sehingga perubahanini terjadi.
Selain itu kemajuan teknologi dan ekonomi yang mapan mendorong
masyarakat Toraja untuk lebih memilih material baru yang lebih modern.
Adapun perubahan yang paling banyak terjadi adalah penggunaan material
pada pondasi (umpak), dimana material batu alam mulai ditinggalkan dan
beralih ke material seperti semen campuran sampai dalam bentuk beton
tulangan.
Selain itu, dari sisi bahan material penutup plafon dapat dilihat
perkembangannya dari yang tidak menggunakan plafon kemudian
berkembang menjadi bambu yang disusun sejajar, selanjutnya berkembang
lagi menjadi bambu yang dianyam hingga sampai pada tahap menggunakan
material modern seperti tripleks dan gypsum. Untuk penutup atap Tongkonan,
secara keseluruhan sudah menggunakan material seng.

2.5 Ciri-ciri Tongkonan


Tongkonan adalah rumah adat dengan ciri
rumah panggung dari kayu dimana kolong di bawah
rumah biasanya dipakai sebagai kandang kerbau.
Atapnya rumah tongkonan dilapisi ijuk hitam dan
bentuknya melengkung persis seperti perahu
telungkup dengan buritan. Ada juga yang
mengatakan bentuknya seperti tanduk kerbau.
Sekilas mirip bangunan rumah gadang di Minang.

Semua rumah tongkonan yang berdiri berjejer akan mengarah ke utara.


Ketika nanti meninggal mereka akan berkumpul bersama arwah leluhurnya di
utara.Masyarakat Toraja menganggap rumah tongkonan sebagai ibu,
sedangkan alang sura (lumbung padi) sebagai bapak. Tongkonan berfungsi
untuk rumah tinggal, kegiatan sosial, upacara adat, serta membina
kekerabatan. Bagian dalam rumah dibagi tiga bagian, yaitu bagian utara,
tengah, dan selatan. Ruangan di bagian utara disebut tangalok yang berfungsi
sebagai ruang tamu, tempat anak-anak tidur, serta tempat meletakkan sesaji.
Ruangan sebelah selatan disebut sumbung, merupakan ruangan untuk kepala
keluarga tetapi juga dianggap sebagai sumber penyakit. Ruangan bagian
tengah disebut Sali yang berfungsi sebagai ruang makan, pertemuan keluarga,
dapur, serta tempat meletakkan orang mati.
Bangunan tongkonan juga terdiri dari bagian-bagian yang dinamakan:
Sulluk adalah kolong rumah
Inan adalah ruangan yang terletak diatas kolong rumah yang dikelilingi
dinding sebagai badan rumah, inan ini sendiri terbagi kedalam: tangdo
yang berfungsi sebagai kamar depan sebagai tempat sesembahan kepada
leluhur; Sali adalah bilik tengah yang fungsinya terbagi dua, pada bagian
timur tangdo difungsikan sebagai padukkuang Api (dapur) dan tangdo
bagian barat sebagai tempat inan Pa Bulan (orang meninggal)
Sumbung adalah ruang bagian belakang yang berfungsi sebagai kamar
tidur orang yang menempati tongkonan tersebut.
Rattian adalah loteng rumah yang berfungsi sebagai tempat
penyimpanan pusaka dan benda-benda berharga lainnya.
Papa adalah adalah pelindung berupa atap yang terbuat dari bambu yang
mempunya bentuk khas perahu.

Tongkonan dibagi ke dalam tiga macam berdasarkan kelas sosial, yaitu:


1. Tongkonan Layuk
Tongkonan ini dibangun untuk orang berkuasa dan sebagai pusat
pemerintahan. Ciri-ciri tongkonan ini adalah ukiran seperti hewan dan
tumbuhan di dinding rumah. Selain itu ada pula hiasan kepala kerbau dan
deretan tanduk kerbau. Kepala dan tanduk kerbau adalah penanda
kemakmuran.

Gambar 12. Tongkonan Layuk


( www.pinterest.com )

2. Tongkonan Pekamberan
Ini tongkonan bagi keluarga yang dipandang hebat dalam adat. Ciri
tongkonan ini sama dengan tongkonan layuk.

Gambar 13. Tongkonan Pekamberan


(www.incitoprima.com)
3. Tongkonan Batu
Jenis ketiga ini adalah rumah bagi keluarga biasa. Tongkonan ini disebut
banua oleh masyarakat setempat. Selain minim ukiran, banua juga tidak
punya hiasan sehingga lebih mirip pondok bambu.

Gambar 14. Tongkonan Batu


(www.indonesiatravelingguide.com)

2.5.1. Bentuk dan konsturksi


Unit untuk tidur, istirahat, memasak dan makan atau tongkonan,
berbentuk segi empat panjang dengan sisi panjang berada pada arah
matahari terbit dan tenggelam. Dalam lingkungan tiga desa adat dibahas di
sini sisi terpendek yang berada di depan dan belakang, berukuran
bervariasi antara 3-4 M. Lebar dibanding panjang bervariasi antara 1 : 2
hingga satu dibanding 2, 5, jadi panjang sekitar 8 M hingga 10 M.
Tongkonan selalu berbentuk kolong, hanya bervariasi pada tinggi
rendah. Konstruksi kolom dan balok dari kayu membentuk elemen
horizontal dan vertikal, merupakan ciri umum dari arsitektur tradisional
lambang dari ikatan antara manusia dan alam. Dari segi konstruksi,
jumlah dan besaran kolom dapat disebut over design, artinya terlalu kuat
untuk menyangga bagian di atasnya.
Seperti terdapat dalam banyak hal rumah tradisional, secara jelas
tongkonan terbagi tiga di mana terlihat sebagai menifestasi dari kosmologi
adanya dunia atas, dunia tengah dan dunia bawah. Selain itu terlihat jelas
adanya personifikasi rumah terdiri dari kepala, badan dan kaki. Bagian-
bagian dari konstruksi hingga detail dan kecil mempunyai sebutan baku,
juga sebagai ungkapan adanya personifikasi di mana rumah seperti
manusia juga mempunyai bagian-bagian dengan sebutan dan fungsi
masing-masing (gambar 15).

Gambar 15. Perspektip konstruksi tongkonan dan alang.

(Sumalyo,2001.Hal.71)

Diantara tiang kolong, yaitu di tengah agak ke belakang ada yang


disebut a'riri (tonggak) posi (pusat) dihias dan diukir berbeda dengan
lainnya. A'riri posi yang artinya adalah tonggak pusat, dalam adat Toraja
lambang dari menyatunya manusia dengan bumi. Biasanya berukuran
22x22 Cm, dibagian atas sedikit mengecil sekitar 20x20 Cm.

2.5.2 Metabolisme dalam arsitektur Toraja


Bagian dari tongkonan cukup menonjol adalah atap di mana ujung
depan dan belakang menjorok disebut longa. Sebagian besar punggung
atau semacam nok dari tongkonan, berbentuk hiperbolik. Di dalam ketiga
kompleks dusun adat (Palawa, Ketekesu’, Siguntu) dan juga tongkonan
pada umumnya di Tana Toraja, bervariasi pada kecembungannya, mulai
yang datar hingga melengkung tajam.
Dari segi konstruksi bentuk melengkung hiperbolik lebih
menguntungkan karena konstruksi atap pada bagian punggung semuanya
menerima gaya tarik yang sesuai dengan kekuatan bahan bangunan yaitu
dari kayu dan bambu. Kenyataan ini memperlihatkan bahwa kadang-
kadang naluri dari suatu tradisi menghasilkan sesuatu yang logis menurut
perhitungan modern dan dapat menampilkan keindahan tersendiri.

Gambar 16. Tanduk kerbau


( Sumber : www.photobucket.com )
Longa yaitu ujung-ujung atap dari tongkonan dan alang menjorok ke
muka dan ke belakang sedikit mengecil di ujung-ujung membuatnya
menjadi unik dan indah. Keberadaannya tidak dapat dianalisis hingga
mendapat kesimpulan yang pasti. Perbandingan antara panjang longa dan
badan tongkonan lebih kurang 1 : 1,4 yaitu misalnya panjang tongkonan
10 M, maka panjang longa sekitar 7 M dan panjang atap manjadi 24 M
(Tangdilinting. hal 54). Longa disangga oleh tiang tinggidisebut tulak somba.
Pada tulak somba, biasanya dipasang tanduk kerbau yang dikorbankan
pada saat upacara kematian. Selain menjadi hiasan juga secara adat jumlah
dari tanduk kerbau dipasang pada tulak somba menunjukkan status sosial-
ekonomi pemiliknya.
Longa seolah-olah seperti sesuatu sedang dalam proses tumbuh dan
berkembang seperti metabolisme dari sesuatu yang hidup. Longa seolah-
olah hasil dari proses daya tarik menarik dua kutup yang bertentangan,
yaitu arah tegak lurus dari matahari terbit-tenggelam. Yang satu tempat
bersemayam Puang Matua atau Yang Maha Kuasa (utara), lainnya tempat
yang kotor termasuk antara lain untuk kuburan (selatan).

2.5.3 Denah

Gambar 17. Pembagian tongkonan berdasarkan kosmologi toraja


( Said,2004)

Tabel 1. Bagian-bagian Tongkonan I

( Mashur, 2012.Hal.1-10)

Tabel 2. Bagian-bagian Tongkonan II


(Mashur, 2012.Hal.1-10)

2.5.4 Ragam Hias

Melihat Rumah Adat Tongkonan Toraja, yang sangat menarik adalah


variasi gambar dan simbol yang diukir menghiasi semua bagiannya.
Ukiran-ukiran tersebut untuk menunjukkan konsep keagamaan dan sosial
suku Toraja yang disebut Pa’ssura (Penyampaian). Oleh karena itu, ukiran
kayu merupakan perwujudan budaya Toraja. Pola yang terukir memiliki
makna dengan presentase simbol tertentu dari pemilik atau rumpun
keluarga yang punya nilai magis. Ukiran-ukiran Toraja itu diyakini
memiliki kekuatan alam atau supranatural tertentu.
Tabel 3. Jenis ragam hias pada arsitektur toraja

NO. NAMA MOTIF MAKNA MOTIF


Neq Limbongan Motif ini memiliki makna
bahwa rejeki akan datang
dari 4 penjuru bagaikan
1 mata air yang bersatu dalam
1. danau dan memberi
kebahagiaan.

Paq Barre Allo Ukiran ini dimaknai sebagai


ilmu pengetahuan dan
kearifan yang menerangi
2 layaknya matahari.
2

Paq Kapuq Baka Ukiran ini dimaknai sebagai


harapan agar keturunan
senantiasa bersatu dan
3 senantiasa hidup damai dan
sejahtera.
3

Paq Kadang Pao Ukiran ini dimaknai bahwa


untuk mengaitkan harta
benda ke rumah harus
4 dengan cara yang jujur dan
perlu kerjasama di
4 lingkungan keluarga.

Paq Sulan Sangbua Sulan berarti “sulam” atau


lipatan seperti tembakau
sirih. Oleh karena itu, ukiran
ini mirip sulaman tembakau
5
sirih dan dimaknai sebagai
5 lambang kebesaran
bangsawan Toraja.

N
.
NAMA MOTIF MAKNA MOTIF
Paq Bulu Londong Kata londong berarti “ayam
6 jantan” . Ukiran ini
dimaknai sebagai lambang
keperkasaan dan kearifan
laki-laki atau pemimpin.
6

6
6

Paq Tedong Tedong berarti “kerbau”.


Ukiran ini menyerupai
tanduk kerbau dan dimaknai
sebagai lambang
7 kesejahteraan dan
7 kemakmuran bagi
masyarakat semua dan
keluarga.

Paq Tangko Pattung Ukiran ini melambangkan


kebesaran bangsawan
Toraja dan lambang
persatuan yang kokoh
8 seperti paku bambu.
8

Paq Talinga Talinga artinya telinga.


Ukiran ini dimaknai sebagai
peringatan agar manusia
menggunakan telinganya
9
dengan benar.
9
Paq Tanduk Reqpe Tanduk reqpe berarti
“tanduk yang menggelayut
ke bawah seperti ranting
pohon yang keberatan
buah”. Ukiran yang
1
menyerupai tanduk kerbau
10 ini melambangkan
perjuangan hidup dan jerih
payah.

Paq Polloq Gayang Polloq artinya “ekor”,


1 sedangkan gayang artinya
11 “keris emas”. Ukiran ini
melambangkan kebesaran,
kedamaian, dan kemudahan
rejeki.

Paq Ulu Gayang Ulu artinya “bagian kepala”


dan gayang artinya “keris
emas”. Ukiran jenis ini
1 menyerupai bagian kepala
keris emas dan
12
melambangkan perjuangan
dalam mencari harta,
terutama emas.
Paq Kollong Bukku Istilah ini berarti “leher
burung tekukur”. Ukiran ini
bentuknya menyerupai leher
1 tekukur dan melambangkan
kejujuran.
13
Paq Ulu Karua Ulu karua berarti “kepala
delapan” yang mengacu
pada mitos bahwa leluhur
orang Toraja ada delapan 8
1 orang. Oleh Karena itu,
ukiran ini menyerupai angka
14
8 dan melambangkan ilmu
pengetahuan.

Paq Manik-manik Seperti namanya Motif


Tator yang satu ini
berbentuk manik-manik,
hiasan tradisional Toraja.
Ukiran ini dimaknai sebagai
1
harapan agar anak cucu
15 Toraja selalu hidup rukun.

Paq Sekong Kandaure Ukiran ini berbentuk


lengkung lingkar yang
berlekuk-lekuk. Ukiran ini
1 dimaknai sebagai harapan
agar seluruh keturunan
16
Toraja hidup berbahagia.

Paq Sekong Anak Istilah ini berarti


lengkungan bayi ketika
masih ada di rahim ibu.
Ukiran ini berbentuk
1 demikian juga dan dimaknai
sebagai perlambang
17
kejujuran dan keterbukaan.

Paq Sekong diBungai. Ukiran ini menyerupai segi


empat sama sisi yang
ujungnya tersembunyi di
1 bagian tengah. Ukiran ini
dimaknai sebagai
18
perlambang bahwa
seseorang harus bisa
menjaga rahasia.
Paq Sepuq Torongkong Ukiran ini menyerupai
sulaman pundi tempat sirih.
Torong kong digunakan
untuk menyebut suku
1
bangsa Rongkong yang
19 masih serumpun dengan
orang Toraja. Ukiran ini
dimaknai sebagai semangat
persatuan kedua suku.
Paq Salaqbiq biasa Ukiran ini berbentuk pagar
rumah yang terbuat dari
bambu. Hal ini dimaknai
sebagai perlambang sikap
2 kehati-hatian dari segala
kemungkinan ancaman.
20

(Sumber : www.Bainly.co.id)

Fungsi ragam hias :

1. Sebagai ragam hias murni,


2. Sebagai ragam hias simbolis,
3. Member ciri khas pada bangunan,
4. Sebagai symbol status sosial masyarakat toraja.

Hubungan bentuk, ruang dan ornamen ada kaitannya karena


setiapbentuk, ruang dan ornamen akan mewakili ciri khas sebuah
bangunan atau rumah. Hal yang paling dasar mempengaruhi perubahan
bentuk, ruang dan ornamen yakni kepercayaan setiap daerah yang berbeda.
Bentuk bangunan tradisional yang secara umum berbeda-beda karena
setiap pembentukan dalam bangunan didasari juga dari dimana bangunan
tersebut berada.Kemudian Pola hubungan ruang terjadi akibat perilaku
orang-orang daerah tersebut. Dan terakhir menyangkut ornamen dalam
bangunan tersebut terbuat dari hasil atau detail-detail yang lebih
mencirikan daerah tersebut, sehingga bangunan yang ada benar-benar
bersifat tradisional.
2.6 Keunggulan dan kelemahan Arsitektur Tradisional Toraja

Rumah Toraja memiliki kelebihan dan kekurangan dari berbagai aspek


ekonomi maupun lingkungan, antara lain:

 Kelebihan Rumah Adat Toraja:


1) Posisi rumah menghadap utara-selatan, sehingga cukup
penghawaan karena sesuai dengan arah angin (angin darat dan
angin laut).
2) Di sisi barat dan timur bangunan terdapat jendela kecil, tempat
masuknya sinar matahari dan aliran angin.
3) Pada kolong nampak ruang kosong dan tertutup, sesuai untuk
daerah tropis yang membutuhkan atap yang tinggi, sehingga rumah
tidak menjadi pengap.
4) Lantainya terdiri dari lembaran papan yang diperkuat dengan
struktur lantai panggung, sehingga menghindarkan dari bahaya
hewan buas.
5) Terdapat lumbung padi yang tiang-tiangnya dibuat dari batang
pohon palem (bangah) yang licin, sehingga tikus tidak dapat naik
kedalam lumbung.

 Kelemahan Rumah Adat Toraja :


1) Terbuat dari kayu, sehingga mudah terbakar jika terjadi bencana
kebakaran.
2) Membutuhkan biaya yang besar. Untuk membangun satu
Tongkonan, bisa menghabiskan dana 2-3 milyar.
3) Banyak ukiran, sehingga banyak debu di sela-sela ukiran.
4) Atap berasal dari alang-alang sehingga menyerap panas.

2.7 Penerapan Arsitektur Tradisional Toraja


Arsitektur suatu lingkungan budaya pada umumnya berasal atau
berkembang dari arsitektur tradisional yang telah melembaga dengan mantap
dan utuhnya dalam lingkungan budaya tersebut.
Dalam usaha membentuk arsitektur Indonesia mendatang, pada hemat saya
kecuali bekal keterampilan professional dan kemauan memahami
perkembangan kehidupan manusia, perlu dilandasi kemampuan memahami
berbagai arsitektur tradisional kita.
Berbagai arsitektur tradisional yang telah melembaga dengan mantap dan
utuh, pada umumnya mengandung pengetahuan dan pengertian yang sangat
mendalam dan luas mengenai tata ruang waktu bagi kehidupan manusia di
dunia akhirat.
Memang arsitektur tidak sekedar ditentukan oleh para arsitek belaka
melalui karya-karya langsung maupun tidak langsungnya. Ia ditentukan oleh
berbagai pranata lain, oleh berbagai perkembangan yang diciptakan manusia
maupun yang diakibatkan oleh ulah manusia sendiri. Tetapi hendaknya kita
memahami juga bahwa arsitektur masa depan kita tidaklah dapat kita “bikin”,
arsitektur itu dilahirkan dan bukan sekedar dibikin. Beberapa dasar arsitektur
tradisional diantaranya:
1. Dilandasi kawruh
 Merupakan ilmu yang memiliki berbagai dasar-dasar filsafat,
ekologi, teknologi, astetik, tata laksana, tata ritual, sosiologi dan
sebagainya secara lengkap dan menyeluruh dan terperinci.
 Merupakan sarana untuk membentuk dan mengembangkan
individu dan masyarakat dalam “kawruh hidup”.
2. Sebagai dharma/Mission.
 Menciptakan “wadah hidup” bagi kehidupan manusia yang bulat
utuh, selamat sejahtera di dunia dan akhirat.
 Memapankan diri manusia dalam diri nya, dalam keluarga,
masyarakat, lingkungan, alam serta merta Tuhan yang Maha Esa.
3. Tertib laksana
 Mengukuhkan manusia sebagai subyek, pengukuhan terhadap
dirinya, terhadap keluarga, masyarakat, alam serta merta Tuhan
yang Maha Esa. Pengukuhan disertai tanggung jawab dunia akhirat.
 Menggugah dan melatih kemandirian membangkitkan,
meningkatkan kesadaran, pengetahuan, keterampilan.
Contoh kasus penerapan arsitektur tradisional Toraja yaitu suatu keluarga
yang awalnya tinggal di Toraja keluar dari Tanah Toraja untuk mencari

3
pekerjaan untuk memenuhi kebutuhannya. Ketika mereka keluar dari Tanah
Toraja dan membuat rumah, mereka tetap menerapkan unsur-unsur arsitektur
tradisionalnya. Artinya, mereka masih menerapkan kepercayaan Aluk Todolo.
1. Indonesia kaya akan budayanya yang unik, salah satunya adalah
budaya Tana Toraja.
2. Masyarakat Toraja membangun tongkonan berdasarkan kepercayaan
Aluk Todolo (Nenek Moyang).
3. Ragam hias pada tongkonan merupakan salah satu ciri khas tongkonan
dan mempunyai makna tersendiri bagi masyarakat Toraja.
4. Halaman tengah diantara deretan alang dan tongkonan mempunyai
fungsi sebagai ruang pengikat dan penyatu dalam kompleks.
5. Setiap bangunan tradisional mempunyai kelebihan dan kelemahan,
begitu pula arsitektur tradisional toraja.
DAFTAR PUSTAKA

Aditha.2007. Jenis tongkonan,<URL: www.incitoprima.com>.

Angel.2010.Macam-macam Tongkonan,<URL: www.pinterest.com>.

Cecilia. 2005. Ciri-ciri Tongkonan,<URL: http://tatic.panoramio.com>.

Dewitia. 2007.Sejarah Toraja,<URL:http:// www.photobucket.com>.

Dhita. 2001. Desa Adat di Toraja,<URL: http://eepindonesia.com >.

Madeline, Reghita. 2002.Bagian-bagian Tongkonan,


<URL:http://static.panoramio.com>.

Margareta.2008.Jenis tongkonan ,<URL: www.indonesiatravelingguide.com>.

Pendidikan dan Kebudayaan. 1981-1982:60. Upacara Tradisonal Daerah


Sulawesi Selatan. Sulawesi Selatan.

Simanjuntak.2011.Tata unit toraja,<URL: https://tat.ks.kidsklik.com>.

Stephany, Shandra. 2009.Transformasi Tatanan Ruang dan Bentuk pada Interior


Tongkonan di Tana Toraja.Universitas Kristen Petra.Surabaya.
Sumalyo, Yulianto.2001.Kosmologi dalam Arsitektur Toraja.Universitas Kristen
Petra.Surabaya.