Anda di halaman 1dari 8

BAB 1

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sampai saat ini, SeaWorld Ancol adalah satu-satunya tempat yang menjadi
tempat pembelajaran dan rekreasi tentang biota laut berupa oceanarium yang
berkapasitas besar yang ada di Indonesia, hal ini tidak sebanding dengan kekayaan
laut yang dimiliki Indonesia. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia
dengan jumlah pulau 13.466, luas daratan 1.922.570 km2 dan luas perairan
3.257.483 km2, dan merupakan negara dengan garis pantai yang terpanjang nomor
dua setelah Kanada yaitu 104.000 km dan dengan kekayaan spesies serta terbu
karang yang tinggi.
Berikut adalah tabel potensi/kekayaan laut Indonesia.

Oleh karena itu, wajar jika Indonesia memiliki potensi penangkapan ikan
yang tersebar di sebagian besar provinsi di Indonesia. Seaworld Ancol Indonesia
dibuka pada tanggal 3 Juni 1994. Pengunjung Seaworld berjumlah 2000
orang/hari pada hari-hari biasa. Sedangkan pada hari libur, pengunjung dapat
mencapai 3500-4000 orang/ hari. Sangat disayangkan dengan pengunjung yang
sebanyak itu namun hanya bisa mengunjungi wahana tersebut di Jakarta. (Badan
Informasi Geospasial (BIG), 2015.)
Pusat Penelitian Oceanografi LIPI menyatakan bahwa Indonesia
merupakan pusat biodiversitas kelautan dengan keanekaragaman spesies biota laut
yang sangat tinggi. Informasi mengenai kekayaan laut yang berlimpah tersebut
menjadi tidak tersalurkan sebagai bahan edukasi bagi masyarakat luas. Minimnya
pengetahuan masyarakat akan kehidupan dunia laut, salah satunya disebabkan
oleh kurangnya sarana pendukung yang mampu memberikan informasi secara
jelas dan orisinil mengenai kehidupan laut beserta isinya. Dalam undang-undang
No. 27 tahun 2007 dinyatakan bahwa wilayah pesisir adalah daerah peralihan
antara ekosistem darat dan laut yang dipengaruhi oleh perubahan di darat dan laut.
Hal ini menjadikan negara Indonesia memiliki potensi sumberdaya pesisir dan
laut yang besar serta keanekaragaman hayati tinggi yang dapat menunjang
kehidupan. Potensi yang besar ini akan dapat dinikmati oleh masyarakat secara
optimal jika dilakukan pemanfatan dan pengelolaan berkelanjutan.
Kecenderungan masyarakat gemar memelihara binatang laut dalam wadah
akuarium atau kolam, merupakan salah satu bukti adanya usaha manusia
mendekatkan diri terhadap alam, dengan memelihara dan memperlajari kehidupan
lain di luar dirinya, sebagai akibat munculnya kebutuhan rekreasi dari kegiatan
rutinitas sehari-hari. Untuk dapat mengungkapkan rahasia kehidupan laut, perlu
adanya suatu usaha menampilkan dalam media atau wadah yang tepat agar dapat
diamati secara jelas dengan tidak meninggalkan unsur-unsur habitat aslinya. Oleh
karena itu dengan adanya media atau wadah tersebut, diharapkan mampu menjadi
jembatan pengetahuan masyarakat akan rahasia kehidupan laut. (Iwan Sutrisno,
199)
Salah satu kota di Kawasan Timur Indonesia yang memiliki potensi
kekayaan perikanan dan terumbu karang yang besar adalah Kota Makassar.
Karakteristik utama laut Makassar adalah sebagai jembatan penyebaran larva dan
juga jalur migrasi mamalia laut yang melalui Arlindo dan Filipina ke selatan
menuju Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tengara Timur. lokasi ini merupakan
lokasi memijah bagi ikan terbang. lokasi ini juga kaya akan jenis organisme
langka dan habitat unik. Green and Short (2003) mencatat delapan spesies lamun
berada di Selat Makassar, yaitu Cymodocea rotundata, C. serrulata, Enhalus
acoroides, Halophila ovalis, Halodule pin ifolia, H. uninervis, Syringodium
isoetifolium, dan Thalassia hemprichil. Juga terdapat spesies ikan lokal yaitu
¡kan nemo (Amphiprion ocellaris) di terumbu karang Pulau Barranglompo dan
Pulau Samalona sebesar 40-60%, 11 dari 13 spesies ikan terbang di Indonesia
juga berada di perairan Makassar (Selat Makasar) dan Laut Flores. Serta ratusan
ribu ton ikan tangkap per tahunnya (kementrian lingkungan hidup 2013).
Secara geografis, Kota Makassar yang merupakan salah satu kota terbesar
dan merupakan gerbang Kawasan Timur Indonesia, dan merupakan kota
persinggahan bagi masyarakat yang memasuki Kawasan Timur Indonesia, tercatat
jumlah wisatawan domestik dan mancanegara di Kota Makassar tiap tahunnya
mengalami peningkatan, dapat dilihat dari data wisatawan tahun 2011-2015.
Tercatat pada tahun 2011 terdapat 4.523.381, tahun 2012 terdapat 4.936.567,
tahun 2013 terdapat 5.492.393, tahun 2014 terdapat 6.072.291, dan pada tahun
2015 terdapat 7.320.599 wisatawan domestik maupun mancanegara yang
memasuki Kota Makassar. Sehingga dapat dilihat bahwa dari tahun 2011-2014
rata-rata peningkatan jumlah wisatawan yang masuk adalah 516.000 wisatawan
dan meningkat drastis pada tahun 2015 dengan jumlah peningkatan yaitu
1.248.308 wisatawan. (sumber www.sulsel.bps.go.id)
Di samping itu, kondisi topografi Kota Makassar memperlihatkan adanya
elemen-elemen estetik alami, yang tersebar di seluruh wilayah, baik yang berupa
laut, pulau, pesisir, daratan serta alam perbukitan. Potensi alam ini perlu
dikembangkan untuk peningkatan kegiatan rekreasi dan pariwisata, dalam rangka
pengembangan fugsi Kota Makassar. Sehingga Kota ini juga memiliki sistem
transportasi yang lengkap, yaiitu sistem transportasi air (pelabuhan samudera),
sistem transportasi darat (jalur jalan darat), dan sistem transportasi udara
(Bandara).
Dilihat dari lingkup regional pulau Sulawesi, Kota Makassar berdasarkan
fakta sejarah umum maupun sejarah perkotaan, bahwa perkembangan kota
Makassar di dominasi oleh tiga kegiatan fungsional, yaitu sebagai
 Pusat Pemerintahan di provinsi Sulawesi Selatan
 Kota perdagangan utama sebagai kota terbesar di Sulawesi
 Kota transit di Sulawesi baik dalam lingkup regional, nasional maupun
internasional.
Kehadiran sarana pembelajaran biota laut dan rekreasi berupa Pusat
Oseanografi dan Ecopark di Makassar sebagai fasilitas pengetahuan/pendidikan
yang bersifat rekreatif, memberi masukan besar bagi perkembangan serta
kemajuan fasilitas pendidikan, rekreasi dan pendapatan daerah, juga membawa
dampak positif bagi masyarakat, untuk dapat mengetahui potensi kekayaan biota
laut Indonesia, sehingga masyarakat akan memupuk rasa cinta tanah air serta
kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, termasuk laut dan segala isinya.
Makassar merupakan lokasi yang potensial bagi pengembangan pendidikan
dan pariwisata karena Makassar merupakan Ibu Kota Sulawesi Selatan yang
menjadi pusat kegiatan serta pusat jalur paket wisatawan asing maupun domestik.
Disamping itu juga menduduki prioritas pengembangan utama. Dalam rencana
pengembangan kota-kota pusat pelayanan di Sulawesi Selatan, Makassar
merupakan “Home-base” utama. Makassar merupakan Titik Tumbuh bagi kota-
kota lain di pulau Sulawesi. Dan merupakan Titik Simpul Distribusi Barang dan
Jasa di Sulawesi. Posisi ini mendorong tumbuhnya Makassar menjadi kota bisnis,
yang dengan sendirinya akan meningkatkan tuntutan kebutuhan akan sektor
pendidikan dan pariwisata.
Maka diperlukan suatu wahana pendidikan sekaligus wisata untuk memenuhi
kebutuhan akan tempat edukasi, rekreasi, observasi dan konservasi biota laut
berupa Pusat Oseanografi dan Ecopark yang bersifat publik yang nantinya
diharapkan dapat membangkitkan sektor pendidikan, pariwisata, dan ekonomi
kota Makassar.

B. RUMUSAN MASALAH
Pusat Oseanografi dan Ecopark di Makassar sebagai wadah pendidikan
dan rekreasi juga memperkenalkan dan meneliti biota laut untuk generasi
sekarang dan masa depan. Dari latar belakang diatas muncul berbagai
permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana menciptakan Pusat Oseanografi dan Ecopark yang nantinya
bisa membangkitkan citra pendidikan dan wisata Kota Makassar?
2. Bagaimana memasukan citra samudera atau biota laut kedalam bentuk
bangunan Pusat Oseanografi dan Ecopark di Makassar sehingga tidak
asing terhadap makna bentuknya.
3. Bagaimana menciptakan sebuah bangunan maupun kawasan yang
menarik dan memiliki sarana edukasi, rekreasi dan konservasi, sehingga
bisa dijadikan landmark wisata pantai Kota Makassar
.
C. TUJUAN DAN SASARAN

1. Tujuan
Mewujudkan suatu bangunan edukasi dan wisata kelautan berupa
Pusat Oseanografi dan Ecopark yang mampu menampung seluruh
kegiatan-kegiatan kelautan (kemaritiman).
Menjadikan Pusat Oseanografi dan Ecopark sebagai sarana
edukasi, penelitian, konservasi dan sebagai sarana dan rekreasi bawah laut
dengan konsep edutainment yang dapat memberikan pendidikan dan
informasi tentang kehidupan atau ekosistem bawah laut.
Meningkatkan minat wawasan dan kecintaan masyarakat terhadap
kekayaan lautan, dengan mengenalkan alam bawah laut, dan biota-biota
laut yang ada didalamnya sekaligus mengajak masyarakat agar tetap
menjaga kelestarian alam khususnya kekayaan laut yang dimiliki.
2. Sasarann
a. Menentukan lokasi dan site yang sesuai dengan bangunan Pusat
Oseanografi dan Ecopark dengan mengolah potensi lokasi/site serta
potensi wilayah dan keterkaitannya dengan lingkungan.
b. Ungkapan bentuk penampilan bangunan yang mampu
mencerminkan bangunan sebagai pusat kegiatan kelautan.
c. Meningkatkan kualitas kawasan baik secara visual maupun
fungsional sebagai wadah bagi kegiatan penelitian, konservasi dan
rekreasi kelautan, serta menjadikan Pusat Oseanografi dan Ecopark
sebagai landmark baru akan kemaritiman di Kota Makassar.

D. RUANG LINGKUP PEMBAHASAN


Dengan berpedoman pada tujuan tugas yang ingin dicapai, maka
pembahasan dibatasi pada masalah-masalah lingkup arsitektur. Hal-hal yang
ada diluar lingkup arsitektur jika dianggap mendasari dan menentukan faktor
perencanaan akan dianalisa dengan asumsi serta logika berdasarkan
kemampuan yang diperkirakan dalam jangka waktu 10 tahun mendatang,
yang mana Pusat Oseanografi dan Ecopark ini dapat memberikan pelayanan
yang diharapkan, juga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan sarana
edukatif dalam penyajian rekreasi, relaksasi dan hiburan serta pengetahuan.
E. SISTEMATIKA PENULISAN
Adapun sistematika yang digunakan dalam penyusun Laporan Kolokium
ini adalah sebagai berikut:
BAB I : PENDAHULUAN
Berupa pendahuluan yang membahas latar belakang,
permasalahan, tujuan an sasaran pembahsan, metode pembahasan,
dan sistematika pembahasan.
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Merupakan bab yang berisi penjelasan tentang Tinjauan Teoritis
Seaworld secara umum.
BAB III : ANALISA DAN PEMBAHASAN
Membahas mengenai pemecahan masalah dan membahas tentang
pendekatan-pendekatan konsep yang sesuai dengan kaidah
arsitektur mengenai pengadaan seaworld.
BAB IV : PENUTUP
Merupakan kesimpulan dari bab-bab sebelumnya, menguraikan
konsep fisik makro dan mikro dengan standar-standarnya yang
kemudian diaplikasikan pada desain fisik.
PUSAT OSEANOGRAFI DAN ECOPARK
DI KOTA MAKASSAR

LAPORAN PERANCANGAN

OLEH:

DEWI SAFITRI
034 2014 0075
C2

PROGRAM STUDI ARSITEKTUR


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2017