Anda di halaman 1dari 8

ABSORBSI OBAT PERKUTAN SECARA IN VITRO

A. Pendahuluan

Diltiazem Hidroklorida merupakan obat golongan calcium channel blocker yang

dapat digunakan secara tunggal atau kombinasi dengan inhibitor enzim angiotensin untuk

mengobati hipertensi. Tablet konvensional diltiazem HCl memiliki bioavailabilitas sekitar

15-30% dan kapasitas ikatan proteinnya sebesar 70-80%. Diltiazem HCl dimetabolisme di

hati dan diekskresikan dalam urin. Waktu paruh obat ini sekitar 2-6 jam. Jumlah dosis

diltiazem oral yang biasa diberikan adalah 30-60 mg tiga kali sehari (Pillai dkk., 2011).

Pemakaian tablet konvensional Diltiazem HCl secara berulang pada pengobatan

hipertensi dapat menyebabkan rendahnya kepatuhan pasien dalam minum obat, sehingga

upaya pembuatan obat saat ini difokuskan pada sistem penghantaran baru sediaan obat yaitu

secara transdermal yang dapat meningkatkan kenyamanan dan kepatuhan pasien karena dapat

mengurangi frekuensi pemberian obat. Pemberian obat secara transdermal tidak hanya untuk

penargetan obat-obatan secara lokal, tetapi juga untuk kontrol penghantaran obat secara

sistemik yang lebih baik (Pillai dkk., 2011).

Target aksi dari sediaan transdermal adalah melalui kulit, lapisan terluar dari

epidermis yaitu stratum korneum merupakan penghalang yang tangguh dalam penyerapan

obat secara transdermal, sehingga stratum korneum dapat menentukan tingkat penetrasi ke

dalam kulit (Pandey dkk., 2014).


B. Tinjauan Pustaka

1. Diltiazem hidroklorida

Diltiazen HCl merupakan obat golongan calcium channel blocker yang dapat

digunakan secara tunggal atau kombinasi dengan inhibitor enzim angiotensin untuk

mengobati hipertensi. Diltiazem HCl memiliki bioavailabilitas sekitar 15-30% dan

kapasitas ikatan proteinnya sebesar 70-80%. Diltiazem HCl dimetabolisme di hati dan

diekskresikan dalam urin. Waktu paruh obat ini sekitar 2-6 jam. Jumlah dosis oral yang

biasa diberikan adalah 30-60 mg tiga kali sehari (Pillai dkk., 2011).

Gambar 1. Struktur kimia diltiazem hidroklorida (USP30-NF25, 2007)

Diltiazem hidroklorida memiliki bobot molekul 450,98 dan rumus molekul

C22H26N2O4S.HCl. Diltiazem HCl berupa serbuk hablur kecil putih, tidak berbau, melebur

pada suhu 210ºC disertai peruraian, mudah larut dalam kloroform, methanol, air dan

asam, agak sukar larut dalam etanol, mutlak dan tidak larut dalam eter (Depkes RI, 1995).

2. Sistem penghantaran sediaan transdermal

Kulit sebelumnya dianggap sebagai pelindung yang bersifat impermeable, tapi

penelitian selanjutnya membuktikan bahwa kulit dapat digunakan sebagai rute untuk

penghantaran obat secara sistemik. Kulit adalah organ yang paling intensif karena hanya

ada sebagian kecil jaringan yang memisahkan permukaan dari jaringan kapiler yang

mendasari.
Gambar 2. Penampang kulit (Pandey dkk., 2014)

Sistem penghantaran obat dari patch secara sistemik ada tiga yaitu rute interseluler

di mana obat yang melintasi kulit dengan rute ini harus melewati ruang-ruang kecil antar

sel kulit. Rute transeluler di mana obat yang melintasi kulit dengan rute ini harus

melewati sel (keratin). Rute transappendageal di mana obat yang melintasi kulit dengan

rute ini harus melalui kelenjar keringat, folikel rambut dan kelenjar sebasea (Pandey dkk.,

2014).

Faktor-faktor yang mempengaruhi penetrasi ke dalam kulit diantaranya ketebalan

lapisan tanduk, kondisi kulit, kelarutan, konstanta disosiasi, ukuran partikel, penetrasi ke

dalam epidermis dan perubahan permeabilitas kulit (Pandey dkk., 2014).

Sediaan transdermal adalah sediaan obat yang ditempatkan pada kulit untuk

menghantarkan obat dengan dosis tertentu melalui kulit dan masuk ke aliran darah (Gopal

dkk., 2014).

Sistem penghantaran secara transdermal efektif untuk obat yang mudah

berpenetrasi ke dalam kulit dan mudah mencapai situs target. Sediaan ini dapat

meningkatkan kepatuhan pasien dan mengurangi frekuensi pemberian obat dibandingkan


dengan oral. Formulasi transdermal dapat menjaga dan memastikan bahwa konsentrasi

obat agar berada dalam rentang konsentrasi efektif (Sharma dkk., 2013).

C. Alat dan Bahan

1. Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah diltiazem HCl (Shiziajuang,

China), kalium fosfat p.a, natrium hidroksida p.a (Merck), etanol 96%, aqua destilata dan

membran filter selulosa asetat 0,45 µm.

2. Alat

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat-alat gelas, timbangan

analitik (Ohaus), gunting, pH meter (SI Analytics), magnetic stirrer (Scilogex MS7-

H550-S), sel difusi Franz, spektrofotometer (Shimadzu UV-1800), dan alat gelas lainnya.

D. Jalannya Percobaan

1. Pembuatan dapar fosfat pH 7,4

Dapar fosfat pH 7,4 dibuat dari kalium fosfat 0,2 M sebanyak 62,5 mL ditambah

dengan 48,875 mL NaOH 0,2 M, kemudian ditambah aquadest hingga 250 mL dalam

labu takar dan dicek pH dengan pH meter.

3. Penentuan panjang gelombang maksimal

Larutan stok konsentrasi 100 µg/mL dibuat dari 50,0 mg diltiazem HCl, dilarutkan

dalam dapar fosfat pH 7,4 hingga 500 mL, diambil dengan mikropipet 2 mL, ditambah

dengan dapar fosfat hingga 25 mL. Serapan dibaca pada kisaran panjang gelombang 200

– 400 nm.

4. Pembuatan Larutan Induk Diltiazem HCl


Ditimbang sebanyak 1000 mg Diltiazem HCl, dilarutkan dalam larutan dapar fosfat

pH 7,4 hingga 1000 mL sehingga diperoleh konsenstrasi 1000 ppm.

5. Penentuan kurva baku

Kurva baku dibuat dari larutan stok, dibuat seri konsentrasi 4, 6, 8, 10, 12 dan 14

µg/mL. Larutan stok yang diambil 1; 1,5; 2; 2,5; 3; 3,5 mL, diencerkan dengan dapar

fosfat pH 7,4 hingga 25 mL. Serapan dibaca pada panjang gelombang maksimal.

6. Pembuatan Larutan Sampel

Larutan sampel Diltiazem HCl dari pengenceran larutan induk. Larutan sampel

Diltiazem HCl yang dibuat adalah 100 ppm, 200 ppm, 300 ppm, 400 ppm, 500 ppm dan

600 ppm sebanyak 20 mL.

7. Penyiapan Membran Lipid Buatan

Membran milipore diimpregnasi selama 15 menit dalam isopropil miristat (IPM)

kemudian ditempatkan pada kertas saring selama 5 menit untuk menghisap lipid.

Membran milipore lalu diletakkan antara kompartemen donor d lubang cncin

penghubung antarkompartemen pada sel difusi Franz.

8. Penyiapan Kulit Tikus Segar

Rambut tikus dipotong dengan electric clipper atau alat pencukur lainnya. Kulit tikus

bagian punggung dipisahkan dengan scalpel dan dibersihkan bagian lemaknya. Kulit lalu

dipotong sesuai diameter cincin pada sel difusi Franz. Kulit tikus yang akan digunakan

diimpregnasi pada larutan dapar fosfat selama 30 menit.

9. Pelaksanaan Uji Difusi

Membran milipore/kulit tikus yang sudah diimpregnasi diletakkan pada bagian cincin

sel difusi Franz. Larutan sampel Diltizem HCl sebanyak 10 mL diletakkan pada
kompartemen donor. Larutan dapar fosfat pH 7,4 sebanyak 50 mL diletakkan pada

kompartemen aseptor. Suhu kompartemen reseptor dijaga pada 37ºC ± 0,5 C. Cairan

pada kompartemen reseptor diaduk menggunakan pengaduk magnet dengan kecepatan

400 rpm. Sampel diambil pada menit ke 0, 15, 30, 45 dan 60 sebanyak 3 mL dan dibaca

serapannya menggunakan Spektrofotometri UV pada panjang gelombang maksimal yang

telah diperoleh sebelumnya. Buatlah profil hubungan kumulatif transpor vs waktu.


DATA PENGAMATAN

1. Absorbsi Perkutan In Vitro Diltiazem HCl dengan Membran Milipore

t Absorbansi Fp Kadar Kadar Ʃ Obat Terlarut Faktor Koreksi (mg) Ʃ Obat Setelah
(µg/mL) (mg/mL) (mg) Koreksi (mg)

Fluks = b / Luas Area Membran


Regresi Linier t vs Ʃ Obat Setelah Koreksi (mg):
= mg/cm2/menit
a=
Lag Time (tl): y = x+
b=
0= x+
r=
x= menit
Reg. Lin:
Koefisien Difusi (D) = h2/6.tl (h = tebal membran)

= cm2/menit
2. Absorbsi Perkutan In Vitro Diltiazem HCl dengan Kulit Tikus

t Absorbansi Fp Kadar Kadar Ʃ Obat Terlarut Faktor Koreksi (mg) Ʃ Obat Setelah
(µg/mL) (mg/mL) (mg) Koreksi (mg)

Regresi Linier t vs Ʃ Obat Setelah Koreksi (mg): Fluks = b / Luas Area Membran

a= = mg/cm2/menit

b= Lag Time (tl): y = x+

r= 0= x+

Reg. Lin: x= menit

Koefisien Difusi (D) = h2/6.tl (h = tebal membran)

= cm2/menit