Anda di halaman 1dari 4

Fawatihus Suwar

A. Pengertian

Dari segi bahasa, fawatihus suwar berarti pembukaan-pembukaan surat, kerena posisinya yang mengawali perjalanan
teks-teks suatu surat. Apabila dimulai dengan huruf-huruf hija’iyah, huruf tersebut sering disebut dengan huruf Muqatta’ah (huruf
yang terpisah), karena posisi dari huruf-huruf tersebut yang cenderung ‘menyendiri’ dan tidak bergabung membentuk kalimat
secara kebahasaan. Dari segi pembacaannya pun tidaklah berbeda dari lafazh yang diucapkan pada huruf hijaiyah.[1]

B. Macam-macam Fawatihus Suwar

Menurut Ibn Abi al-Isba’ dalam kitab al Khawathir as-Shawanih fi asrar al-fawatih yang ditulisnya, dia menggunakan
istilah al-Fawatih dengan arti jenis-jenis perkataan yang membuka surah-surah dalam al-Qur’an. Jenis-jenis perkataan itu dibagi
menjadi sepuluh kelompok; salah satunya adalah huruf-huruf tahajji (dibaca dengan cara dieja), atau yang biasa kita sebut dengan
al-fawatih. Sementara Sembilan jenis lainnya adalah pujian: pujian kepada Allah, baik tahmid maupun tasbih; nida’ (seruan);
jumlah khabariyah (kalimat berita); qasam (sumpah); syarat, perintah, doa, dan ta’lil (alasan).[2]

Adapun bentuk redaksi fawatih as-suwar yang berbentuk huruf di dalam al-Qur’an dapat dijelaskan sebagai berikut.[3]
1. Terdiri atas satu huruf, terdapat pada tiga tempat: Surat Shaad (38):1 yang diawali huruf shaad; surat Qaaf (50):1 yang diawali
huruf Qaaf; Surat al-Qalam yang diawali dengan huruf nun.
2. Terdiri atas dua huruf, terdapat pada sepuluh tempat: surat al-Mukmin (40): 1; surat asy-Syura (42): 1; surat az-Zukhruf (43): 1;
surat ad-Dukhan (44): 1; surat al-Jatsiyah (45): 1; surat al-Ahqaf (46): 1; yang diawali huruf ha mim; surat Thaha (20): 1 yang
diawali dengan huruf tha ha; surat an-Naml (27): 1 yang diawali ta sin; surat Yaa Siin (36): 1 yang diawali dengan ya sin.
3. Terdiri atas tiga huruf, terdapat pada 13 tempat: surat al-Baqarah (20): 1; surat Ali Imran (2): 1; surat al-Ankabut (29):1; surat ar-
Rum (30): 1; surat Luqman (31): 1; surat as-Sajdah (32): 1 yang diawali dengan huruf alif lam mim; surat Yunus (10): 1; surat
Huud (11): 1; surat Yusuf (12): 1; surat Ibrahim (14): 1; surat Al-Hijr (15): 1; surat al-Qashshash (28): 1 yang diawali dengan
huruf tha sin mim.
4. Terdiri atas empat huruf, terdapat pada dua tempat: surat al-A’raf (7): 1 yang diawali huruf alif mim shad dan surat ar-Ra’d (13): 1
yang diawali dengan huruf alif lam mim ra’.
5. Terdiri dari lima huruf, terdapat pada satu tempat: surat Maryam (19): 1 yang diawali dengan huruf kaf ha ya ‘ain shad.
6. Huruf yang paling banyak adalah alif dan lam. Kemudian mim ha ra sin tha shaad ha dan ya ain qaf dan kaf dan nun.[4]
7. Jumlah 14setengah dari jumlah ejaan huruf arab. Menurut para mufassir, bahwa ini disebutkan untuk menunjukkan kepada bangsa
arab akan kelemahan mereka. Meskipun al-Qur’an tersusun dari huruf-huruf ejaan yang mereka kenal, sebagiannya datang dalam
bentuk al-Qur’an dalam satu huruf sajadan lainnya dalam bentuk tersusun dari beberapa huruf , namun mereka tidak mampu
membuat kitab yang dapat menandinginya.[5]

[1] Muhammad chirzin, Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an, (yogyakarta: PT Dana Bhakti Prima Yasa, 1999) h. 62.

[2] Issa J. Boullata, Al-Qur’an yang Menakjubkan ,(Tangerang: Lentera Hati, 2008) h. 290-291.

[3] Rosihon Anwar, Ulumul Qur’an ,(CV Pustaka Setia, 2000) h. 135-136.

[4] Ibid.

[5] H. Ramli Abdul Wahid, MA. Ulumul Qur’an, (Jakarta: LSIK, Raja Grafindo persada) h. 104.

[6] H. Ramli Abdul Wahid, MA. Ulumul Qur’an, (Jakarta: LSIK, Raja Grafindo persada) h.103.

[7] Rosihon anwar, ulumul qur’an, pustaka setia,hlm 136

8 ibid,

[9] Rosihon anwar, Ulumul qur’an, Pustaka setia, hlm 142

. Pembukaan dengan huruf-huruf yang terputus-putus (Istiftah bi al-huruf al-muqatha’ah).


Pembukan dengan huruf-huruf ini terdapat dalam 29 surat dengan memakai 14 huruf tanpa diulang, yakni
(\‫ا\ي\هـ\ن\م\ل\ك\ق\ع\ك\ص\س\ر‬ Penggunan huruf-huruf tersebut dalam pembukaan surat-surat Alquran disusun dalam 14
rangkaian, yang terdiri dari kelompok berikut:
1) Kelompok sederhana, terdiri dari satu huruf, terdapat dalam 3 surat, yakni (‫( )ص‬QS. Shad); (‫( )ق‬QS. Qaf); dan (‫( )ن‬QS.
Nun).
2) Kelompok yang terdiri dari dua huruf, tedapat dalam 3 surat, yakni (‫( )حم‬QS. Al-Mu’min; QS. Al-Sajdah; QS. Al-
Zukhruf, QS. Al-Dukhan; QS. Al-Jatsiyah; dan QS.Al-Ahkaf; (‫( )طه‬QS. Thaha); )‫((طس‬QS. Al-Naml); dan (‫( )يس‬QS.
Yasin).
3) Kelompok yang terdiri dari tiga huruf, yakni (‫ )الم‬QS. Al-Bqarah, QS. Ali Imran, QS. Al-Ankabut, QS. Al-Rum, QS.
Luqman dan QS. Al-Sajdah).
4) Kelompok yang terdiri dari empat huruf, yakni (‫( )الر‬QS. Al-Ra’ad) dan (‫( )المص‬QS. Al-A’raf). Kelompok yang terdiri
dari lima huruf, yakni rangkaian (‫( (كهيعص‬QS. Maryam) dan (‫( )حم عسق‬QS. Al-Syuara).
Kedudukan Pembuka Surat Al-Quran
Menurut As-Suyuti, pembukaan-pembukaan surat (awail Al-suwar) atau huruf-huruf potongan (Al-huruf Al-Muqatta’ah)
ini termasuk ayat-ayat mutasyabihat. Sebagai ayat-ayat mutasyabihat, para ulama berbeda pendapat lagi dalam memahami dan
menafsirkannya. Dalam hal ini pendapat para ulama pada pokoknya terbagi dua. Pertama, pertama ulama yang memahaminya
sebagai rahasia yang hanya diketahui oleh Allah. As-Suyuti memandang pendapat ini sebagai pendapat yang mukhtar (terpilih).
Ibnu Al-Munzir meriwayatkan bahwa ketika Al-Syabi ditanya tentang pembukaan-pembukaan surat ini berkata;
‫ان لكل كتاب صفوة وصفوة هذا الكتاب حرزف التهجي‬
Artinya: “Sesungguhnya bagi setiap kitab ada sari patinya, dan sari patiKitab (Al-Quran) ini adalah huruf-huruf
ejaannya”.
Abu Bakar juga diriwayatkan pernah berkata:
‫في كل كتاب سر وسره في القران اوائل السور‬
Artinya:“Pada setiap kitab ada rahasia, dan rahasianya dalam Al-Quran adalah permulaan-permulaan suratnya”.
Kedua, pendapat yang memandang huruf-huruf di awal surat-surat ini sebagai huruf-huruf yang mengandung pengertian
yang dapat dipahami oleh manusia. Karena itu penganut pendapat ini memberikan pengertian dan penafsiran kepada huruf-huruf
tersebut.
Dengan keterangan di atas, jelas bahwa pembukaan-pembukaan surat ada 29 macam yang terdiri dari tiga belas bentuk.
Huruf yang paliang banyak terdapat dalam pembukaan-pembukaan ini adalah huruf Alif (‫ )ا‬dan lam (‫)ل‬, kemudian Mim (‫)م‬, dan
seterusnya secara berurutan huruf Ha (‫)ح‬, Ra (‫)ر‬, Sin (‫ )س‬Ta (‫)ط‬, Sad (‫)ص‬, Ha (‫)ه‬, dan Ya’ (‫)ي‬, ‘Ain (‫ )ع‬dan Qaf (‫)ق‬, dan akhirnya
Kaf (‫)ك‬, dan Nun (‫)ن‬.
Seluruh huruf yang terdapat dalam pembukaan-pembukaan surat ini dengan tanpa berulang berjumlah 14 huruf atau
separuh dari jumlah keseluruhan huruf ejaan. Karena itu, para mufassir berkata bahwa pembukaan-pembukaan ini disebutkan
untuk menunjukkan kepada bangsa Arab akan kelemahan mereka. Meskipun Al-Quran tersusun dari huruf-huruf ejaan yang
mereka kenal, sebagiannya datang dalam AlQuran dalam bentuk satu huruf saja dan lainnya dalam bentuk yang tersusun dari
beberapa huruf, namun mereka tidak mampu membuat kitab yang dapat menandinginya. Pendapat ini telah dijelaskan secara
panjang lebar oleh Al-Zamakhsari (wafat 538 H) dan Al-Baidhawi (wafat 728 H). pendapat ini dikuatkan oleh Ibn Taimiyah
(wafat 728 H) dan muridnya, Al-Mizzi (wafat 742 H). Mereka menguraikan tantangan Al-Quran di turunkan dalam bahasa
Mereka sendiri. Akan tetapi, mereka tidak mampu membuat kitab yang menyerupainya. Hal ini menunjukkan kelemahan mereka
di hadapan Al-Quran dan membuat mereka tertarik untuk mempelajarinya.
Berikut ini dikemukakan beberapa riwayat dan pendala ulama:
1.“Dari Ibn Abbas tentang firman Allah: (‫)الم‬, berkata Ibn Abbas:” Aku Allah lebih mengetahui”, tentang (‫ )المص‬berkata
Ibn Abbas:” Aku Allah akan memperinci”, dan tentang (‫ )الر‬berkata Ibn Abbas: “Aku Allah melihat”. (Dikeluarkan oleh Ibn Abi
Hatim dari jalan Abu Al-Duha).
2. “Dari Ibn Abbas, berkata ia: “alif lam ra, ha’mim, dan nun adalah huruf-huruf al-Rahman yang dipisahkan
(dikeluarkan oleh Ibn Abi Hatim dari jalan Ikrimah)”.
3. “Dari Ibn Abbas tentang Kaf, Ha’, Ya’ Ain, Sad, berkata ia: “Kaf dari Karim (pemurah). Ha dari Hadin (pemberi
petunjuk), Ya, dari Hakim (bijaksana), ‘Ain dari ‘Alim (Maha Mengetahui), dan Sad dari Sadiq (yang benar). (Dikeluarkan oleh
Al-Hakim dan lainnya dari jalan Sa’id Ibn Jubair)
4.“Dari Salim Abd Ibn Abdillah berkata ia: (‫ الم‬،‫ )حم‬dan (‫ )ن‬dan seumpamanya adalah nama Allah yang dipotong-
potong”, (Dikeluarkan oleh Ibn Abi Hatim).
Dari Al-Saddiy, ia berkata: “Pembukaan-pembukaan surat adalah nama dari nama-nama Tuhan Jalla Jalaluh yang dipisah-
pisah dalam Al-Quran”. (Dikeluarkan oleh Ibn Abi Hatim).
Dari Ibn Abbas, berkata ia: (‫ الم‬،‫ طسم‬،‫ )ص‬dan yang seumpamanya adalah sumpah yang Allah bersumpah dengannya, dan
merupakan nama-nama Allah juga”.(Dikeluarkan oleh Ibn Jarir dan lainya dari jalan Ali Ibn Abi Talhah).
Ada pendapat mengatakan bahwa huruf-huruf itu adalah nama-nama bagi Al-Quran, seperti Al-Furqan dan Al-Zikir.
Pendapat lain mengatakan bahwa huruf-huruf tersebut adalah pembuka bagi surat-surat Al-Quran sebagaimana hanya qasidah
sering diawali dengan kata (‫ )بل‬dan (‫)ال‬.
Dikatakan juga huruf-huruf ini merupakan peringatan-peringatan (tanbihat) sebagaimana halnya dalam panggilan (nida).
Akan tetapi, di sini tidak digunakan kata-kata yang biasa digunakan dalam bahasa Arab, seperti (‫ )أال‬dan (‫ )أما‬karena kata-kata ini
termasuk lafal yang sudah biasa dipakai dalam percakapan. Sedangkan al-Quran adalah kalam yang tidak sama dengan kalam
yang biasa sehingga digunakan alif (‫)ا‬. Sebagai peringatan (tanbih) lebih terkesan kepada pendengar. Yang belum pernah
digunakan sama sekali sehingga lebih terkesan kepada pendengar.
Dalam hubungan ini sebagian ulam memandangnya peringatan (tanbih) kepada rasul agar dalam waktu-waktu
kesibukannya dengan urusan manusia berpaling kepada Jibril untuk mendengarkan ayat-ayat yang akan disampaikan kepadanya.
Sebagian yang lain memandangnya sebagai peringatan (tanbih) kepada orang-orang Arab agar mereka tertarik mendengarkannya
dan hati mereka menjadi lunak kepadanya. Tampaknya, pandangan yang pertama kurang tepat karena Rasul sebagai utusan Allah
dan yang terus-menerus merindukan wahyu tidak perlu diberi peringatan. Sedangkan pandangan yang kedua adalah lebih kuat
karena orang-orang Arab yang selalu bertingkah, keras hati dan enggan mendengarkan ketenaran perlu diberi peringatan (tanbih)
agar perhatian mereka tertuju kepada ayat-ayat yang disampaikan.
Di katakana juga bahwa Thaha (‫ )طه‬dan Yasin (‫ )يس‬berarti hai laki-laki atau hai Muhammad atau hai manusia. Pendapat
lain memandang kedua Thaha (‫ )طه‬dan Yasin (‫ )يس‬sebagai nama bagi Nabi Saw.
ulama hadits membagi atau mengklafikasikan tingkatan sanad menjadi tiga bagian tingkatan yaitu:
1. As-shohhul Asanid (sanad yang paling sahih)
berdasarkan perbedaan derajat hadits sahih bila ditinjau dari terpenuhinya secara sempurna seluruh syarat-syarat hadts
sahih lebih spesifiknya dalam kajian sanadnya, maka Ibnu Sholah menolak adanya kalim istilah ashohhul asanid secara mutlak
tanpa di baatasi dengan sifat tertentu, seperti ashohhul asanaid menurut Abu Hurairah r.a. atau dikhusskan pada tempat tertentu,
sperti ashahul asanid dari penduduk madinah, atau dikhususkan apada masalah tertentu, ketika akan menilai matan suatu hadits,
misalnya ashohhul asanid dalam bab sholat atau yang lainnya.
Namun pendapat Ibnu Sholah ini ditentang oleh
segolangan ulama’ ahli hadits yang tetap mempergunakan istilah ashohhul asanid secara mutlak tanpa batasan khusus
sebagaimana disebut diatas.
Contoh ashohhul asanid yang mutlak, seperti:
1. Menurut ishaq bin Rowahaih dan Ahmad bin Hambal, yaitu Az-Zuhri dari salim bin ‘Abdillah dari ayahnya (‘Abdillah bin
Umar).
2. Menurut ‘Amer bin ‘Ali Al-Falas dan ‘Ali bin Al-madini, yaitu Muhammad bin Sirrin dari Ubaidah dari ‘Ali.
3. Menurut Abu Bakar bin ‘Abi Syaibah, yaitu Az-Zuhri dari Ali bin Husain dari ayahnya dari ‘Ali.
4. Menurut Imam Bukhori, yaitu Malik dari nafi’ dar Ibnu Umar.
5. Menurut Abu Mansur Abdul Qodir bin thohir At-Tamimi, yaitu As-Safi’i dari Malik, dari Nafi’ dari Ibnu Umar.
Contoh ashohul asanid secara muqoyyad adalah sebagaimana berikut:
1. Menurut sahabat tertentu, yaitu:
a. Umar ibnul Khottob r.a., yaitu yang diriwayatkan oleh Ibnu Syihab Az-zuhri dari Salim dari salim bin Abdullah bin Umar.
b. Ibnu Umar r.a., yaitu yang diriwayatkan oleh malik dari Nafi’ dari ibnu Umar.
c. Abu Hurairah r.a., yaitu yang diriwayatkan oleh Az-zuhri dari Ibnu musyayyab dari Abu Hurairah r.a..
2. Menurut Kota tertentu, yaitu:
a. Kota Mekkah, yaitu yang diriwayatkan oleh Ibnu Uyain ah dari ‘Amru bin Dinar dari jabir bin Abdullah r.a.
b. Kota Madinah, yaitu yang diriwayatkan oleh Ismail bin Abi Hakim dari Abidah bin Abi Sufyan dari Abu Hurairah r.a.
Adapun faedah dari mengetahui derajat hadits sahih bermartabat ashohhul asanid adalah:
a. Ketenangan hati dan kemantapan beramal berdasarkan hadits sahih.
b. Hadits yang harus dipakai pegangan dasr hukum ketika terjadi perbedaan hukum dalam kandungan redaksi hadits yang sama-
sama shahih.
2. Ahsanul asanid
Hadits sahih yang derajatnya ahsanu asanid lebih rendah dari yang berderajat ashohhul asanid.
Contoh hadits shohih yang berderajat ahsanul asanid adalah:
1. Az-Zuhri dari ‘Ali bin Husain dari ayahnya dari ‘Ali.
2. Az-Zuhri dari ubaidillah bin Abdullah bin ‘Utbah bin mas’ud dari ibnu ‘Abbas dari umar r.a.
3. Ayyub dari Muhammad bin Sirin dari ‘Ubaidah dari ‘Ali r.a.
4. Manshur dari Ibrahim dari ‘Al-Qomah dari Ibnu Mas’ud r.a.
3. Adh’aful asanid
Sebagaimana sebagian ulama’ menolak istilah ashohhul asanid secara mutlak bagi sanad hadits sahih, mereka juga menolak
istilah adh’aful asanid secara mutlak tanpa pembatas; baik berupa thobaqot rawi atau suatu tempat.
Contoh rangkaian sanad yang adh’aful asanid, yaitu:
1. Yang muqoyyad, terbatas kepada sahabat:
a. Abu Bakar Ash-Shidiq r.a., yaitu yang diriwayatkan oleh shadaqah bin Musa dari Abi Ya’qub Farqad bin Ya’qub dari Murrah
Ath-thayyib dari Abu Bakar r.a.
b. Ali bin Abu tholib r.a., yaitu yang diriwayatkan oleh Amru bin Syamir dari Jabir Al-Ju’fi dari Haris Al-A’war dari Ali bin Abu
tholib r.a.
2. Yang muqoyyad, dibatasi dengan kependudukan (tempat)
a. Kota Yaman, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Hafsh bin ‘Umar dari Al-hakam bin Aban dari ‘Ikrimah dari Ibnu Abbas r.a.
b. Kota Mesir, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Muhammmad bin Al-Hajjaj Ibnu Rusydi dari ayahnya dari
kakeknya dari Qurrah bin Abdurrrahman dari setiap orang yang memberikan hadits kepadanya.
c. Kota Syam, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Qois dari Ubaidillah bin Zahr dari Ali bin zaid dari Al-Qosim
dari Abu Umamah r.a.
Ada lima bentuk awalan yang dapat dilihat dalam al-Qur’an. Hal ini dikaji secara khusus dalam usaha mengetahui
hikmahnya. Awalan surah tersebut adalah:
1. Awalan surah yang terdiri dari satu huruf, ini terdapat pada tiga surah.
a. Surah Shad (Q.S. f. Surah as Sajadah (Q.S. 32)
38) .‫ص‬ Lima Surah diawali dengan Alif Lam Ro ‫الر‬
‫والقران ذى الذكرى‬ a. Surah Yunus (Q.S. 10)
b. Surah Qaaf (Q.S. b. Surah Hud (Q.S. 11)
50) c. Surah Yusuf (Q.S. 12)
‫ القران المجيد‬.‫ق‬ d. surah Surah Ibrahim (Q.S. 14)
c. Surah al-Qalam (Q.S. 68) ‫ والقلم وما‬.‫ن‬ e. Surah al-Hijr (Q.S. 15)
‫يسطرون‬ Dua surah yang diawali dengan Tha Sin Mim ‫طسم‬
a. Surah As Syu’araa (Q.S. 26)
2. Awalan surah yang terdiri dari dua huruf, ini terdapat pada b. Surah al- Qashash (Q.S. 28)
sepuluh surah: 4. Awalan surah yang terdiri dari empat huruf, ini
a. Surah al- Mukmin (Q.S. 40) ‫حم‬ terdapat pada dua tempat, yaitu:
b. Surah Fushshilat (Q.S.41)ّ ‫حم‬ a. Surah al-A’raf (Q.S.7) ‫المص‬
c. Surah Asy Syura (Q.S. 41)ّ ‫حم‬ b. Surah Ar Ra’du (Q.S. 13) ‫المر‬
d. Surah Az Zukhruf (Q.S. 43) ‫حم‬ 5. Awalan Awalan surah yang terdiri dari lima huruf,
e. Surah Ad Dukhan (Q.S. 44) ‫حم‬ ini hanya terdapat pada Surah Maryam (Q.S. 19) ]12[
f. Surah Al Jatsyiah (Q.S. 45) ‫حم‬ ‫كهيعص‬.
g. Surah Al Ahqaf (Q.S. 46) ‫حم‬ Dua puluh Sembilan (29) surah yang dimulai dengan huruf-
h. Surah Thaha (Q.S.20) ‫طه‬ huruf hijaiyah tersebut, dua puluh tujuh (27) di antaranya
i. Surah An Maml (Q.S. 27) ‫طس‬ turun di Mekah sebelum Rasulullsh Saw hijrah dan dua (2)
j. Surah Yasin (Q.S. 36) ‫يس‬ surah turun di Medinah.[13] Adapun huruf yang paling
Tujuh dari sepuluh sepuluh di atas dinamakan banyak digunakan adalah; Alif dan Lam, kemudian Mim,
hawwaamiim.[11] dan seterusnya secara berurutan huruf Ha, Ra, Sin, Ta, Sad,
3. Awalan surah yang terdiri dari tiga huruf, ini Ha, dan Ya’, ‘Ain dan Qaf, dan akhirnya Kaf dan Nun.[14]
terdapat pada tiga belas surah: Setelah huruf hijaiyah yang terdapat dalam pembukaan-
Enam surah diawali Alif Lam Mim ‫الم‬ pembukaan surah ini dengan tanpa berulang, berjumlah 14
a. Surah al- Baqarah (Q.S.2) huruf atau separuh dari jumlah keseluruhan huruf hijaiyah.
b. Surah al- Imran (Q.S. 3) Karena itu, para mufassir berkata bahwa pembukaan-
c. Surah al- Ankabit (Q.S. 29) pembukaan tersebut untuk menunjukkan kepada bangsa
d. Surah Ar Rum (Q.S. 30) Arab akan kelemahan mereka. Meskipun al-Qur’an tersusun
e. Surah al- Lukman (Q.S. 31) dari huruf-huruf hijaiyah yang mereka
kenal, yang sebagiannya dating dalam bentuk satu hurf dan lainnya dalam bentuk yang tersusun dari beberapa huruf, namun
mereka tidak mampu membuat kitab yang dapat menandinginya. Hal ini menunjukkan kelemahan mereka di hadapan al-
Qur’an.[15]
Huruf-huruf hijaiyah yang terdapat pada awal beberapa surah dalam al-Qur’an tersebut adalah juga jaminan keotentikan dan
keutuhan al-Qur’an sebagaimana diterima oleh Rasulullah Saw.[16] Demikian pendapat Rasyad Khalifah Sebagaimana yang
dikutip oleh DR. Mustafa Ahmad yang tertuang dalam membumikan al-Qur’an karya M. Quraish Shihab. Lebih lanjut dikatakan
bahwa,
Tidak berlebih dan atau berkurang satu huruf pun dari kata-kata yang digunakan oleh al-Qur’an. Kesemuanya habis terbagi 19,
sesuai dengan jumlah huruf-huruf B(i)sm All(a)h Al-R (a)hm(a)n Al-R(a)him. (huruf a dan i dalam kurung tidak tertulis dalam
aksara bahasa Arab). Huruf ‫( ق‬qaf) yang merupakan awal dari surah ke-50, ditemukan terulang sebanyak 57 kali atau 39x19.
Huruf-huruf kaf’, ha’, ya’, ‘ayn, shad, dalam surah Maryam, ditemukan sebanyak 798 kali atau 42x19. Huruf ‫( ن‬nun) yang
memulai surah Al-Qalam, ditemukan sebanyak 133 atau 7x19. Kedua huruf ‫( ي‬ya’) dan ‫) س‬sin) pada surah Yasin masing-masing
ditemukan sebanyak 285 atau 15x19. Kedua huruf ‫( ط‬tha’) dan ‫( ــه‬ha’) pada surah Thaha masing-masing berulang sebanyak 342
kali, sama dengan 19x18. Huruf-huruf ‫(ح‬ha) dan ‫( م‬mim) yang terdapat pada keseluhan surah yang dimulai dengan kedua huruf
ini, ha’mim, kesemuanya merupakan perkalian dari 114x19, yakni masing-masing berjumlah 2.166.[17]
Bilangan-bilangan ini, yang dapat ditemukan langsung dari celah ayat al-Qur’an, oleh Rasyad Khalifah, dijadikan sebagai bukti
keotentikan al-Qur’an. Karena, seandainya ada ayat yang berkurang atau berlebih atau ditukar kata dan kalimatnya dengan kata
atau kalimat yang lain, maka tentu perkalian-perkalian itu akan menjadi kacau. Angka 19, yang merupakan perkalian dari jumlah-
jumlah tersebut, juga diambil dari pernyataan al-Qur’an sendiri, yakni yang termuat dalam Q.S. 74: 30[18] yang turun dalam
konteks ancaman terhadap seorang yang meragukan kebenaran al-Qur’an.[19]