Anda di halaman 1dari 16

A.

Konsep Penyakit Vertigo


1. Definisi Penyakit Vertigo
Vertigo adalah halusinasi gerakan lingkungan sekitar serasa
berputar mengelilingi pasien atau pasien serasa berputar
mengelilingi lingkungan sekitar. Vertigo tidak selalu sama dengan
dizziness. Dizziness adalah sebuah istilah non spesifik yang dapat
dikategorikan ke dalan 4 subtipe tergantung gejala yang
digambarkan oleh pasien. Dizziness dapat berupa vertigo, presinkop
(perasaan lemas disebabkan oleh berkurangnya perfusi cerebral),
light-headness, disequilibrium (perasaan goyang atau tidak seimbang
ketika berdiri) (Newell, 2010).

2. Etiologi Vertigo
Vertigo merupakan suatu gejala,sederet penyebabnya antara lain
akibat kecelakaan,stres, gangguan pada telinga bagian dalam, obat-
obatan, terlalu sedikit atau banyak aliran darah ke otak dan lain-lain.
Tubuh merasakan posisi dan mengendalikan keseimbangan melalui
organ keseimbangan yang terdapat di telinga bagian dalam. Organ ini
memiliki saraf yang berhubungan dengan area tertentu di otak.
Vertigo bisa disebabkan oleh kelainan di dalam telinga, di dalam
saraf yang menghubungkan telinga dengan otak dan di dalam
otaknya sendiri (Mardjono, 2008).

Keseimbangan dikendalikan oleh otak kecil yang mendapat


informasi tentang posisi tubuh dari organ keseimbangan di telinga
tengah dan mata. Penyebab umum dari vertigo (Marril KA,2012):

• Keadaan lingkungan : mabuk darat, mabuk laut.


• Obat-obatan : alkohol, gentamisin.
• Kelainan telinga : endapan kalsium pada salah satu kanalis
semisirkularis di dalam telinga bagian dalam yang
menyebabkan benign paroxysmal positional
• Vertigo, infeksi telinga bagian dalam karena bakteri,
labirintis, penyakit maniere,
• Peradangan saraf vestibuler, herpes zoster.
• Kelainan Neurologis : Tumor otak, tumor yang menekan
saraf vestibularis, sklerosis multipel, dan patah tulang otak
yang disertai cedera pada labirin, persyarafannya atau
keduanya.
• Kelainan sirkularis : Gangguan fungsi otak sementara
karena berkurangnya aliran darah ke salah satu bagian otak (
transient ischemic attack ) pada arteri vertebral dan arteri
basiler.
Penyebab vertigo dapat berasal dari perifer yaitu dari organ
vestibuler sampai ke inti nervus VIII sedangkan kelainan sentral dari
inti nervus VIII sampai ke korteks. Berbagai penyakit atau kelainan
dapat menyebabkan vertigo. Penyebab vertigo serta lokasi lesi
(Turner, 2010), antara lain:
a) Labirin, telinga dalam
- vertigo posisional paroksisimal benigna
- pasca trauma
- penyakit menierre
- labirinitis (viral, bakteri)
- toksik (misalnya oleh aminoglikosid, streptomisin,
gentamisin)
- oklusi peredaran darah di labirin
- fistula labirin
b) Saraf otak ke VIII
- neuritis iskemik (misalnya pada DM)
- infeksi, inflamasi (misalnya pada sifilis, herpes zoster)
- neuritis vestibular
- neuroma akustikus
- tumor lain di sudut serebelo-pontin Telinga luar dan tengah
- otitis media
- tumor SENTRAL Supratentorial
- trauma
- epilepsy infratentorial
- insufisiensi vertebrobasiler obat.

3. Patofisiologi Vertigo
Vertigo timbul jika terdapat gangguan alat keseimbangan
tubuh yang mengakibatkan ketidakcocokan antara posisi tubuh
(informasi aferen) yang sebenarnya dengan apa yang dipersepsi oleh
susunan saraf pusat (pusat kesadaran). Susunan aferen yang
terpenting dalam sistem ini adalah susunan vestibuler atau
keseimbangan, yang secara terus menerus menyampaikan impulsnya
ke pusat keseimbangan. Susunan lain yang berperan ialah sistem
optik dan pro-prioseptik, jaras-jaras yang menghubungkan nuklei
vestibularis dengan nuklei N. III, IV dan VI, susunan
vestibuloretikularis, dan vestibulospinalis. Informasi yang berguna
untuk keseimbangan tubuh akan ditangkap oleh reseptor vestibuler,
visual, dan proprioseptik; reseptor vestibuler memberikan kontribusi
paling besar, yaitu lebih dari 50 % disusul kemudian reseptor visual
dan yang paling kecil kontribusinya adalah proprioseptik (Kovar,
2006).
Dalam kondisi fisiologis/normal, informasi yang tiba di pusat
integrasi alat keseimbangan tubuh berasal dari reseptor vestibuler,
visual dan proprioseptik kanan dan kiri akan diperbandingkan, jika
semuanya dalam keadaan sinkron dan wajar, akan diproses lebih
lanjut. Respons yang muncul berupa penyesuaian otot-otot mata dan
penggerak tubuh dalam keadaan bergerak. Di samping itu orang
menyadari posisi kepala dan tubuhnya terhadap lingkungan sekitar.
Jika fungsi alat keseimbangan tubuh di perifer atau sentral dalam
kondisi tidak normal/ tidak fisiologis, atau ada rangsang gerakan
yang aneh atau berlebihan, maka proses pengolahan informasi akan
terganggu, akibatnya muncul gejala vertigo dan gejala otonom. Di
samping itu, respons penyesuaian otot menjadi tidak adekuat
sehingga muncul gerakan abnormal yang dapat berupa nistagmus,
unsteadiness, ataksia saat berdiri/ berjalan dan gejala lainnya
(Swartz, 2005).

4. Tanda dan Gejala Vertigo

5. Pemeriksaan Penunjang Vertigo


a. Diagnostik
b. Laboratorium

6. Penatalaksanaan Vertigo
a. Karena gerakan kepala memperhebat vertigo, pasien harus
dibiarkan berbaring diam dalam kamar gelap selama 1-2 hari
pertama.
b. Fiksasi visual cenderung menghambat nistagmus dan
mengurangi perasaan subyektif vertigo pada pasien dengan
gangguan vestibular perifer, misalnya neuronitis vestibularis.
Pasien dapat merasakan bahwa dengan memfiksir pandangan
mata pada suatu obyek yang dekat, misalnya sebuah gambar
atau jari yang direntangkan ke depan, temyata lebih enak
daripada berbaring dengan kedua mata ditutup.
c. Karena aktivitas intelektual atau konsentrasi mental dapat
memudahkan terjadinya vertigo, maka rasa tidak enak dapat
diperkecil dengan relaksasi mental disertai fiksasi visual
yang kuat.
d. Bila mual dan muntah berat, cairan intravena harus diberikan
untuk mencegah dehidrasi.
e. Bila vertigo tidak hilang. Banyak pasien dengan gangguan
vestibular perifer akut yang belum dapat memperoleh
perbaikan dramatis pada hari pertama atau kedua. Pasien
merasa sakit berat dan sangat takut mendapat serangan
berikutnya. Sisi penting dari terapi pada kondisi ini adalah
pernyataan yang meyakinkan pasien bahwa neuronitis
vestibularis dan sebagian besar gangguan vestibular akut
lainnya adalah jinak dan dapat sembuh. Dokter harus
menjelaskan bahwa kemampuan otak untuk beradaptasi akan
membuat vertigo menghilang setelah beberapa hari.
f. Latihan vestibular dapat dimulai beberapa hari setelah gejala
akut mereda. Latihan ini untuk rnemperkuat mekanisme
kompensasi sistem saraf pusat untuk gangguan vestibular
akut
7. Komplikasi Vertigo
Komplikasi penyakit vertigo biasanya adalah penyakit trauma
telinga dan labiriminitis,epidemic atau akibat otitis kronika. Vertigo
juga dapatdisebabkan karena penyakit pada saraf akustikus cerebrum
atau system kardiovaskular.

B. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Identitas
Meliputi data pasien dan data penanggung-jawab, seperti nama,
umur, alamat, agama, pendidikan, pekerjaan, status pernikahan,
nomor medical record. tanggal masuk, tanggal kaji, dan ruangan
tempat pasien dirawat.
b. Riwayat Kesehatan Sekarang
Riwayat kesehatan pada klien dengan gangguan sistem
Persarafan akibat vertigo hal – hal sebagai berikut :
a) Alasan Masuk Perawatan
Kronologis yang menggambarkan prilaku klien dalam
mencari pertolongan.
b) Keluhan Utama
Pada umumnya klien dengan gangguan sistem Persarafan
akibat vertigo berupa pusing seperti berputar.
c) Riwayat Kesehatan Sekarang
Merupakan pengembangan dari keluhan utama dan data
yang menyertai dengan menggunakan pendekatan PQRST,
yaitu :
P: Paliatif / Propokative: Merupakan hal atau faktor yang mencetuskan
terjadinya penyakit, hal yang memperberat atau memperingan. Pada
klien dengan vertigo biasanya klien mengeluh pusing bila klien
banyak bergerak dan dirasakan berkurang bila klien beristirahat.
Q: Qualitas: Kualitas dari suatu keluhan atau penvakit yang dirasakan.
Pada klien dengan vertigo biasanya pusing yang dirasakan
seperti berputar.
R: Region: daerah atau tempat dimana keluhan dirasakan. pada klien
dengan vertigo biasanya lemah dirasakan pada daerah kepala.
S: Severity: derajat keganasan atau intensitas dari keluhan
tersebut. Pusing yang dirasakan seperti berputar dengan skala nyeri
(0-5)
T: Time: waktu dimana keluhan dirasakan, time juga menunjukan
lamanya atau kekerapan. Keluhan pusing pada klien dengan vertigo
dirasakan hilang timbul.

c. Riwayat Kesehatan Dahulu


Riwayat penyakit terdahulu, baik yang berhubungan
dengan penyakit sekarang, system persyarafan maupun
penyakit sistemik lainnya.
d. Riwayat Kesehatan Keluarga
Penyakit-penyakit keluarga yang berhubungan dengan
penyakit sekarang, penyakit turunan dan penyakit menular
lainnya.
2. Pemeriksaan Fisik
Karena organ payudara dipengaruhi oleh faktor hormonal antara
lain estrogen dan progesteron maka sebaiknya pemeriksaan
payudara dilakukan disaat pengaruh hormonal itu seminimal
mungkin yaitu setelah menstruasi lebih kurang satu minggu dari
hari pertama menstruasi. Pemeriksaan fisik yang baik dan teliti,
ketepatan pemeriksaan untuk kanker payudara secara klinis
cukup tinggi (Reksoprodjo dkk, 2010).

a) Aktivitas / istirahat
Gejala : kerja, aktivitas yang melibatkan banyak gerakan
tangan. Pola tidur (tidur tengkurap)
b) Sirkulasi
Tanda : Kongestif unilateral pada lengan yang terkena (sistem
limfe).
c) Makanan / cairan
Gejala : kehilangan nafsu makan, adanya penurunan berat
badan.
d) Integritas ego
Gejala : Stresor konstan dalam pekerjaan/pola di rumah.
Stress akut tentang diagnosa, prognosis, harapan yang akan
datang.
e) Nyeri/kenyamanan
Gejala : Nyeri pada penyakit yang luas. (nyeri lokal jarang
terjadi pada keganasan dini). Beberapa pengalaman
ketidaknyamanan pada jaringan payudara. Payudara berat,
nyeri sebelum menstruasi biasanya mengindikasikan penyakit
fibrokistik.
f) Keamanan
Tanda : massa Nodul aksila Edema, eritema pada kulit
sekitar.
g) Seksualitas
Gejala : adanya benjolan payudara, perubahan pada ukuran
dan kesimetrisan payudara. Perubahan pada warna kulit
payudara atau suhu, raba puting, gatal, rasa terbakar atau
puting meregang. Riwayat menarke dini (lebih muda dari usia
12 tahun). Menopause lambat (setelah 50 tahun). Kehamilan
pertama lambat (setelah usia 35 tahun).
Masalah tentang seksualitas atau keintiman.
Tanda : perubahan pada postur / massa payudara, asimetris.
Kulit cekung, berkerut, perubahan pada warna tekstur kulit,
pembengkakan, kemerahan atau panas pada payudara.
3. Pemeriksaan Klinis
Mencari benjolan karena organ payudara dipengaruhi oleh
factor hormon antara lain estrogen dan progesteron, maka
sebaiknya pemeriksaan ini dilakukan saat pengaruh hormonal
ini seminimal mungkin/ setelah menstruasi ± 1 minggu dari
hari akhir menstruasi. Klien duduk dengan tangan jatuh ke
samping dan pemeriksa berdiri didepan dalam posisi yang
sama tinggi.
1) Inspeksi
- Simetri (sama antara payudara kiri dan kanan.
- Kelainan papilla. Letak dan bentuk, adakah putting
susu, kelainan kulit, tanda radang, peaue d’ orange,
dimpling, ulserasi, dan lain-lain.
2) Palpasi
- Klien berbaring dan diusahakan agar payudara
tersebar rata atas lapangan dada, jika perlu
punggung diganjal bantal kecil.
- Konsistensi, banyak, lokasi, infiltrasi, besar, batas
dan operabilitas.
- Pembesaran kelenjar getah bening (kelenjar aksila).
- Adanya metastase nodus (regional) atau organ
jauh,
- Stadium kanker (system TNM UICC).

4. Diagnosa Keperawatan
Pada pasien dengan Post Operasi kanker payudara akan muncul
berbagai macam diagnosa keperawatan, diantara diagnosa tersebut
adalah:
a. Nyeri berhubungan dengan agen cedera fisik.
b. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan keterbatasan
ruang gerak
c. Gangguan integritas kulit/jaringan berhubungan terputusnya
kontuinitas jaringan karena detruksi oleh masa tumor.
d. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan pembedahan
e. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi ditandai dengan
peningkatan ketegangan, gemetar dan gelisah.
a. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan ekspansi paru,
anestesi.
b. Kurang pengetahuan mengenai penyakit, prognosis dan
kebutuhan pengobatan berhubungan dengan tidak mengenal
sumber informasi.

5. Rencana Intervensi (rasional)


NANDA 2012-2014, N0C Edisi 5, NIC Edisi 6
NO NANDA NOC NIC
1. Nyeri akut b.dSetelah dilakukan tindakan a. Manajemen nyeri
agen ciderakeperawatan selama 1x24Aktifitas :
- Lakukan penilaian nyeri secara
biologi jam klien menunjukkan
komprehensif dimulai dari
perbaikan pada:
lokasi, karakteristik, dan
- Kontrol nyeri
penyebab
Indikator :
- Kaji ketidaknyamanan non
 Menilai faktor
verbal
penyebab - Tentukan dampak nyeri pada
 Monitor TTV untuk kehidupan sehari-hari
memantau perawatan - Kurangi atau hapuskan faktor-
 Menilai gejala nyeri faktor yang mempercepat atau
- Tingkat kenyamanan
meningkatkan nyeri (seperti
Indikator :
ketakutan, fatique, sifat
 Melaporkan
membosankan, ketiadaan
perkembangan fisik
 Melaporkan pengetahuan)
- Ajari untuk menggunakan
perkembangan
teknik non farmakologis
kepuasan
 Melaporkan kepuasan (seperti biofeedback, TENS,

dengan tingkatan hypnosis, relaksasi, terapi

nyeri musik, distraksi, terapi


- Tingkatan nyeri bermain, acupresure, aplikasi
 Melaporkan nyeri
hangat/dingin dan pijatan)
 Persen respon tubuh
 Frekuensi nyeri sebelum, sesudah dan jika
memungkinkan selama puncak
nyeri, sebelum nyeri terjadi
atau meningkat dan sepanjang
nyeri itu terjadi atau meningkat
dan sepanjang nyeri itu masih
terukur
- Anjurkan untuk istirahat atau
tidur yang adekuat untuk
mengurangi nyeri

b. Pemberian analgesik
Aktifitas :
- Tentukan lokasi,
karakteristik,mutu dan
intensitas nyeri sebelum
mengobati klien
- Periksa order medis untuk obat
, dosis dan frekuensi yang
ditentukan
- Cek riwayat alergi obat
- Utamakan pemberian secara
IV
2. Intoleransi Setelah dilakukan tindakan a. Terapi aktivitas
aktivitas b.dkeperawatan selama 1x24
Aktivitas :
imobilisasi jam, klien menunjukkan
- Kolaborasi dengan terapis
perbaikan pada :
- Toleransi aktifitas dalam merncanakan dan
Indikator : memonitor program aktivitas
 Saturasi oksigen - Meningkatkan komitmen
dengan aktivitas pasien dalam beraktivitas
 Denyut nadi dengan - Membantu mengekplorasi
aktivitas aktivitas yang bemanfaat bagi
 Tingkat pernapasan pasien
dengan aktivitas - Membantu mengidentifikasi
 Tekanan darah sumberdaya yang dimiliki
sistolik dengan dalam beraktivitas
aktivitas - Membantu mengidentifikasi
 Temuan aktivitas yang disukai
elektrocardiogram - Membantu pasien/keluarga
 Kemudahan aktivitas
hidup sehari-hari dalam beradaptasi dengan
( ADL ) melakukan lingkungan
- Membantu menyusun aktivitas
- Daya tahan fisik
- Pastikan lingkungan aman
Indikator :
 Kinerja kegiatan rutin untuk pergerakan otot
 Aktivitas fisik - Jelaskan aktivitas motorik
 Konsentrasi untuk meningkatkan tonus otot
 Ketahanan otot - Berikan reinforcemen positif
 Pemulihan energy
selama beraktivitas
setelah istirahat - Monitor respon emosional,
 Kadar oksigen darah
fisik, sosial dan spiritual
saat beraktivitas
 Kelelahan berkurang
b. Manajemen energi
Akivitas :
- Menilai status fisiologi pasien
untuk mengurangi kelelahan
sesuai umur dan
perkembangannya
- Anjurkan mengungkapkan
yang diraasakan tentang
keterbatasan
- Tentukan pasien/persepsi
penting lainnya dari penyebab
kelelahan
- Periksa status kekurangan
fisiologis (kemoterapi-untuk
anemia) sebagai prioritas
utama
- Pilih intervensi untuk
menurunkan kelelahan
menggunakan kombinasi
antara farmakologi dan
kategori nonfarmakologi,
untuk ketepatan
- Tentukan apa dan berapa
banyak aktivitas yang
diperlukan untuk membangun
ketahanan
- Monitor intake nutrisi untuk
memastikan sumber energi
yang adekuat
- Konsultasi dengan ahli diit
tentang cara untuk menambah
intake dari makanan energi
tinggi
- Monitor pasien untuk
menunjukkan fisik berlebihan
dan kelelahan emosional
- Monitor respon aktivitas
kardiorespiratori (takikardi,
disritmia lainnya, dispnea,
diaphoresis, sianosis, TD,
frekuensi pernapasan)
- Monitor/catat pola tidur pasien
dan jumlah jam tidur
- Monitor lokasi dan dasar dari
ketidaknyamanan atau nyeri
selama bergerak/aktivitas
- Kurangi ketidaknyamanan
fisik yang dapat mengganggu
dengan fungsi kognitif dan
monitor diri/peraturan
beraktifitas

3. Ketidakseimban Setelah dilakukan tindakan a. Manajemen nutrisi


gan nutrisikeperawatan selama 1x24Aktivitas :
kurang darijam, klien menunjukkan - Tentukan status gizi pasien dan
kebutuhan tubuhperbaikan pada kemampuan untuk memenuhi
b.d - Status nutrisi kebutuhan gizi
- Identifikasi alergi makanan
ketidakmampuan Indikator :
menelan  Asupan gizi pada pasien atau intoleransi
 Asupan makanan - Tentukan preferensi makanan
makanan
 Asupan cairan pasien
 Energy - Anjurkan pasien tentang
 Perbandingan berat /
kebutuhan nutrisi (yaitu ,
tinggi
 Hidrasi membahas pedoman diet dan
piramida makanan)
- Bantu pasien dalam
- Status nutrisi : intake
menentukan pedoman atau
nutrisi
piramida makanan (misalnya ,
Indikator :
piramida makanan vegetarian ,
 Intake Kalori
panduan piramida makanan,
 Intake Protein
 Intake Lemak dan piramida makanan untuk
 Intake Karbohidrat pasien berusia lebih dari 70
 Intake Vitamin
 Intake Mineral tahun) yang paling cocok
 Intake Zat Besi dalam memenuhi kebutuhan
 Intake Kalsium
gizi dan pilihan pasien
 Intake Sodium
- Tentukan jumlah kalori dan
jenis nutrisi yang dibutuhkan
untuk memenuhi kebutuhan
nutrisi
- Berikan makanan pilihan
sambil menawarkan bimbingan
terhadap pilihan yang lebih
sehat , jika perlu
- Atur pola makan , yang
diperlukan ( yaitu ,
menyediakan makanan
berprotein tinggi, menyarankan
menggunakan bumbu dan
rempah-rempah sebagai
alternatif untuk garam,
menyediakan pengganti gula ,
meningkatkan atau
menurunkan kalori, menambah
atau mengurangi vitamin ,
mineral , atau suplemen )

b. Terapi nutrisi
Aktivitas :
- Mengontrol penyerapan
makanan/cairan dan
menghitung intake kalori
harian, jika diperlukan
- Memantau ketepatan urutan
makanan untuk memenuhi
kebutuhan nutrisi harian
- Menetapkan dalam kolaborasi
dengan ahli diet,banyaknya
kalori dan tipe kebutuhan
nutrisi untuk memenuhi
kebutuhan nutrisi
- Menentukan jimlah kalori dan
jenis zat makanan yang
diperlukan untuk memenuhi
kebutuhan nutrisi, ketika
berkolaborasi dengan ahli
makanan, jika diperlukan
- Menetukan makanan pilihan
dengan mempertimbangkan
budaya dan agama
- Memilih suplemen nutrisi, jika
diperlukan
- Menetukan kebutuhan
makanan saluran nasogastric
- Anjurkan pasien untuk
memilih makanan ringan, jika
kekurangan air liur
mengganggu proses menelan
- Anjurkan intake makanan yang
tinggi kalsium, jika diperlukan
- Anjurkan intake makanan dan
cairan yang tinggi kalium, jika
diperlukan
- Memastikan mengonsumsi
makanan berupa makanan
yang tinggi serat untuk
mencegah konstipasi
- Memberi pasien makanan dan
minuman tinggi protein, tinggi
kalori, dan bernutrisi yang siap
dikonsumsi, jika diperlukan

6. Evaluasi Secara Teori


Setelah dilakukan asuhan keperawatan pasien terpenuhi
pengurangan nyeri, aktivitas terpenuhi, peningkatan perilaku
penyembuhan luka, kecemasan terkontrol dengan baik, pola
napas adekuat, mencegah komplikasi dengan pemberian
pengetahuan.

DAFTAR PUSTAKA

Sulistiani. (2008). Kasus Kanker. Diakses pada 2 Desember 2018 dari


http://www.datakanker-skn.co.id/.
Doenges, Marilynn E. Moorhouse, dkk. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan.
Jakarta : EGC.

Nurarif, Amin Huda & Kusuma, Hardhi. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan
berdasarkan Diagnosis Medis & NANDA. Yogyakarta : Medi Action
Publishing.

Wijaya, Andra Saferi & Putri, Yessie Mariza. 2013. Keperawatan Medikal Bedah.
Bengkulu : Nuha Medika.

Reksoprodjo, Soelarto (ed). 2010. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Tangerang:


Binapura Aksara

Putri, N., 2009. Deteksi Dini Kanker Payudara. Yogyakarta: Aura Media.

Depkes RI. 2014. Buku Saku Pencegahan Kanker Leher Rahim dan Kanker Payudara.
Diakses pada 2 Desember 2018 dari
https://docs.google.com/file/d/0Bwq8YAw3QBlUkNLbDdSQkxQMWM/edit?
pli=1

Price, S. A. dan Wilson, L. M. (2006). Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-


Proses Penyakit, Edisi 6, Volume 1. Jakarta: EGC.

Carpenito, L. J. dan Moyet. (2007). Buku Saku Diagnosis Keperawatan, Edisi


10.
Jakarta: EGC.