Anda di halaman 1dari 1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Gangguan obsesif kompulsif merupakan sekelompok gejala yang


beranekaragam yang ditandai oleh adanya obsesif dan/atau kompulsif yang
menyita waktu atau secara signifikan mengganggu keseharian pasien dalam hal
pekerjaan, keluarga, kehidupan sosial serta menyebabkan penderitaan yang
bermakna. Obsesif adalah suatu pikiran, perasaan, ide ataupun sensasi yang
mengganggu dan berulang-ulang. Bila obsesif adalah suatu aktivitas mental,
maka kompulsif adalah suatu perilaku yang sadar, teratur, dan berulang-ulang,
seperti menghitung, memeriksa, ataupun menghindari. Meskipun perilaku
kompulsif dilakukan pasien untuk menghindarkan dirinya dari kecemasan,
kerap kali hal tersebut tidak mempengaruhi kecemasannya bahkan
meningkatkan kecemasannya.1
Hingga kini, penyebab dari gangguan obsesif-kompulsif belum dapat
ditentukan dengan pasti. Terdapat bukti yang kuat adanya faktor biologis dan
genetik. Di lain pihak, faktor psikologis seperti proses belajar, kepercayaan
yang salah, dan pikiran yang katastrofik ditunjukkan pada sebagian besar
pasien dan tampaknya memainkan peran yang penting pada penampakan gejala
dan bertahannya gejala.2
Pikiran atau bayangan obsesi dapat kekhawatiran yang biasa tentang
apakah pintu sudah dikunci atau belum sampai fantasi aneh dan menakutkan
tentang bertindak kejam terhadap orang yang disayangi. Istilah kompulsif
menunjuk pada dorongan atau impuls yang tidak dapat ditahan untuk
melakukan sesuatu. Sering suatu pikiran obsesif mengakibatkan suatu tindakan
kompulsif. Tindakan kompulsif dapat berupa berulang kali memeriksa pintu
yang terkunci, kompor yang sudah mati atau menelepon orang yang dicintai
agar selalu bisa memastikan keselamatannya.1,2