Anda di halaman 1dari 8

Jurnal Manajemen dan Pelayanan Farmasi

ANALISIS PENGGUNAAN OBAT PADA KOMPLIKASI SIROSIS HATI


ANALYSIS OF DRUG USE IN COMPLICATION OF LIVER CIRRHOSIS
Yeni Farida1), Tri Murti Andayani1), Neneng Ratnasari2)
1)Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
2)SMF Penyakit Dalam, RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta

ABSTRAK

Penatalaksanaan terapi sirosis hati bervariasi sesuai dengan komplikasi yang menyertai. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui gambaran penggunaan obat pada komplikasi sirosis hati dan membandingkan kesesuaiannya dengan standar pelayanan
medik rumah sakit dan guideline Asia Pasific Ascociation Study for Liver (APASL).
Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pengambilan data secara retrospektif. Subyek
penelitian diperoleh dengan teknik purposive sampling dengan kriteria inklusi pasien dewasa dan rawat inap pada periode 2013.
Data diperoleh dari rekam medik kemudian dianalisis dengan cara membandingkan kesesuaian pemberian obat dengan standar
pelayanan medik rumah sakit dan guideline APASL.
Subyek penelitian berjumlah 70 pasien dengan komplikasi utama hipertensi portal (varises esofagus) sebanyak 46 kasus,
perdarahan 24 kasus, ascites 36 kasus, infeksi 28 kasus dan ensefalopati hepatik 24 kasus. Terapi utama hipertensi portal dengan
propranolol, perdarahan dengan vitamin K, ascites dengan spironolakton dengan atau tanpa kombinasi furosemid, infeksi dengan
sefalosporin generasi 3 dan quinolone, ensefalopati hepatik dengan laktulosa dengan atau tanpa neomisin, BCAA dan LOLA. Hasil
penelitian menunjukan bahwa penanganan komplikasi sirosis hati di RSUP Dr. Sardjito belum semuanya sesuai dengan standar
pelayanan medik rumah sakit dan guideline APASL. Pada kondisi pasien yang tidak mengalami perbaikan dengan terapi standar
dilakukan modifikasi terapi seperti pada kasus perdarahan dengan menambahkan proton pump inhibitor (omeprazole, lansoprazol
atau pantoprazol) dan asam traneksamat.

Kata kunci: pengobatan sirosis hati, komplikasi sirosis hati, standar pelayanan medik rumah sakit,

ABSTRACT

Management of cirrhosis liver varies according to the complications. This study aimed to determined the suitability of the
drug use in liver cirrhosis patients with hospital medical service standards and APASL guidelines.
This study was an observational analytic study with retrospective data collection. Subjects were obtained by using
purposive sampling with the inclusion criteria, adult patients and hospitalized in the period of 2013. Data obtained from medical
records and then compared the suitability of drug delivery to the hospital medical service standards and guidelines APASL.
The study subjects were 70 patients with major complications of portal hypertension (esophageal varices) of 46 cases, 24
cases of hemorrhage, ascites 36 cases, 28 cases of infection and 24 cases of hepatic encephalopathy. Primary therapy of portal
hypertension was propranolol, vitamin K for hemorraghe, spironolactone with or without furosemide for ascites, 3rd generation
cephalosporin and quinolone for, lactulose with or without neomycin, BCAA and LOLA for hepatic encephalopathy. The results
showed that not all of the treatment of complications liver cirrhosis in Dr. Sardjito complies with the hospital medical service
standards and guidelines APASL. In patients whose condition did not improve with standard therapy, modification therapy were
done in cases of hemorrage by adding proton pump inhibitors (omeprazole, lansoprazole or pantoprazole) and tranexamic acid.

Keywords: liver cirrhosis treatment , liver cirrhosis complications , hospital medical service standards

PENDAHULUAN
Sirosis hati banyak dihubungkan Hati merupakan organ yang memiliki
dengan infeksi virus hepatitis B dan C (Perz kemampuan regenerasi yang cepat, akan tetapi
dkk., 2006). Menurut laporan sebuah rumah kemampuan tersebut dapat dirusak oleh
sakit umum pemerintah di Indonesia, rata-rata penggunaan alkohol jangka panjang maupun
prevalensi sirosis hati adalah 3,5% dari seluruh virus hepatitis. Dalam jangka panjang kerusakan
pasien yang dirawat di bangsal Penyakit Dalam hati akan berkembang menjadi sirosis hati.
(Kusumobroto, 2007). Di Indonesia sirosis hati Sirosis hati ditandai dengan peradangan,
dengan komplikasinya merupakan suatu nekrosis sel hati, fibrosis difus dan nodul-nodul
masalah kesehatan yang masih sulit diatasi. regenerasi sel hati (Tasnif dan Hebert, 2013).
Ketika sel-sel hati sudah mengalami sirosis,
Korespondensi :
maka akan timbul berbagai kemungkinan
Yeni Farida S.Farm., Apt
Magister Farmasi Klinik UGM komplikasi antara lain hipertensi portal, ascites,
Jl. Sekip Utara Yogyakarta spontaneous bacterial peritonitis (SBP), varises
Email : yenifarida.apt@gmail.com esofagus, dan ensefalopati hepatik. Antara
HP : 08565303953

77
Volume 4 Nomor 2 – Juni 2014

komplikasi satu dengan yang lain saling terkait. Alat dan Bahan
Ascites hanya akan muncul jika pasien Penelitian dilakukan dengan
mengalami hipertensi portal (European pendekatan retrospektif dengan bahan rekam
Association for the Study of the Liver, 2010). medik dengan kode K.74.6 yaitu diagnosis
Pasien yang mengalami varises esofagus akan utama sirosis hati. Alat yang digunakan adalah
berisiko terjadi perdarahan karena ruptur lembar pengumpul data.
esofagus, pada keadaan perdarahan akan
menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya Pengambilan Data
ensefalopati hepatik (Tasnif dan Hebert, 2013). Proses pengumpulan data dimulai dari
Pengelolaan yang tepat terhadap satu observasi rekam medik kasus sirosis hati
komplikasi dapat meminimalkan terjadinya periode 2013. Data dikumpulkan dengan
komplikasi yang lain. Berdasarkan laporan dari mengidentifikasi pasien yang memenuhi kriteria
Kemenkes RI (Kemenkes, 2013) potensi inklusi berdasarkan informasi yang tercatat
inefisiensi pelayanan rumah sakit antara lain dalam rekam medik. Data yang diperoleh dari
disebabkan oleh penggunaan obat yang tidak rekam medik meliputi diagnosis, kelas
rasional, alat medik habis pakai, pemeriksaan perawatan, lama perawatan, tindakan,
diagnostik penunjang dan lama perawatan. pemeriksaan laboratorium dan terapi.
Salah satu cara meningkatkan efisiensi
rumah sakit adalah dengan mengurangi variasi Pengolahan dan analisis data.
pelayanan pada setiap diagnosis penyakit. Data demografi pasien dibuat dalam bentuk
Dalam sistem INA CBG’s rumah sakit perlu tabel dan diagram. Data dikelompokan
menetapkan clinical pathway untuk mengurangi berdasarkan kriteria masing-masing kemudian
variasi pelayanan. Sampai saat ini, di RSUP Dr. dihitung persentasenya. Subyek penelitian
Sardjito Yogyakarta belum ada clinical pathway diklasifikasikan berdasarkan tingkat keparahan,
untuk penanganan sirosis hati. Di RSUP Dr. komplikasi, penyebab sirosis dan penyakit
Sardjito belum pernah dilakukan penelitian penyerta. Pengobatan yang diterima pasien
yang menggambarkan pola penggunaan obat dikelompokan sesuai dengan komplikasinya
pada pasien sirosis hati berdasarkan kemudian dicocokan kesesuaiannya dengan
komplikasinya sehingga data ini diharapkan standar pelayanan medik rumah sakit dan
dapat dijadikan informasi bagi pihak rumah guideline APASL.
sakit sebagai bahan dalam membuat clinical
pathway. HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelusuran data penggunaan obat dan
METODE biaya pasien sirosis hati rawat inap di RSUP Dr.
Subyek Penelitian Sarjito Yogyakarta tahun 2013 menunjukan hasil
Populasi penelitian adalah seluruh sebagai berikut :
pasien sirosis hati yang menjalani rawat inap di
RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta pada periode Gambaran Karakteristik pasien
2013. Teknik sampling adalah purposive sampling Perbandingan jenis kelamin laki-laki
dengan kriteria inklusi pasien dewasa (≥ 26 dan perempuan sebesar 1,8 : 1. Menurut
tahun) dan terdaftar rawat inap per 1 Januari Kusumobroto perbandingan prevalensi sirosis
sampai 31 Desember 2013. Kriteria eksklusinya pada laki-laki lebih besar dibandingkan
adalah sirosis hati yang berkembang menjadi perempuan yaitu 2,1:1(Kusumobroto, 2007).
kanker dan data pasien rekam medis tidak Usia rata-rata pasien adalah 46-55 tahun, sesuai
lengkap. Sampel minimal dihitung dengan dengan data dari suatu sumber yang
menggunakan rumus binomunal proportions menyebutkan bahwa kejadian sirosis terbanyak
dengan populasi tidak diketahui dan proporsi pada dekade kelima (Tarigan, 2007). Lama
4% sehingga jumlah sampel minimal adalah 60 perawatan berkisar 1-28 hari, dan kondisi keluar
(Riwidikdo, 2009). sebagian besar membaik (69%) dan angka
kematian sebesar 24%.

78
Jurnal Manajemen dan Pelayanan Farmasi
Gambaran Penyakit Sirosis hati varises di daerah gaster atau terjadinya
Keparahan penyakit diklasifikasikan gastropati. Hal ini diketahui dari hasil
dengan Child Turcotte Score A, B dan C dengan pemeriksaan endoskopi. Menurut studi RCT di
mayoritas pasien dengan skor keparahan B yaitu Jepang penggunaan PPI jangka panjang dapat
36%. Dalam penelitian ini 50% sirosis hati mengurangi risiko kegagalan terapi ligasi
disebabkan oleh hepatitis B. Komplikasi yang (Hidaka dkk., 2012).Selain terapi dengan
terjadi pada pasien sirosis hati meliputi propranolol, 8 orang pasien juga mendapatkan
hipertensi portal (varises esofagus) 46 kasus dan tindakan ligasi untuk mencegah terjadinya
24 kasus diantaranya mengalami perdarahan, perdarahan. Hal ini telah sesuai dengan
ascites 36 kasus, infeksi 28 kasus dan guideline APASL. Profilaksis direkomendasikan
ensefalopati hepatik 26 kasus. Infeksi yang untuk pasien dengan risiko perdarahan tinggi
terjadi antara lain SBP sebanyak 13 pasien (36% yaitu pasien dengan small varises esofagus pada
dari pasien yang mengalami ascites), ISK 9 penyakit hati stadium lanjut dan medium/large
pasien dan pneumonia 6 pasien. Kematian varises esofagus (Simonetto dkk., 2014). Pendapat
paling banyak disebabkan oleh ensefalopati berbeda dikemukakan berdasarkan studi
hepatik dan syok septik masing-masing sebesar Deshpande dkk., (2013) menyebutkan bahwa
29%. Penyakit penyerta terbanyak adalah penggunaan obat penekan sekresi asam dapat
diabetes mellitus sebanyak 16 kasus. DM juga meningkatkan terjadinya infeksi SBP sebesar 3x.
menjadi faktor risiko terjadinya komplikasi yang Hal ini juga didukung oleh sebuah studi
menyebabkan kematian (Garcia dkk., 2009). metaanalisis yang menyebutkan bahwa PPI atau
Pada penelitian ini 2 diantara 17 pasien yang H2 bloker dapat meningkatkan risiko terjadinya
meninggal memiliki penyakit penyerta diabetes pneumonia (Eom dkk., 2011). Pada penelitian ini
melitus. beberapa pasien yang mengalami infeksi juga
menggunakan PPI. Adanya perbedaan pendapat
Pola Penggunaan Obat tentang penggunaan maka perlu dilakukan
Terapi yang diberikan pada pasien penelitian lebih lanjut tentang efektivitas dan
didasarkan pada tingkat keparahan penyakit, keamanan PPI pada pasien sirosis hati.
komplikasi yang muncul serta penyakit Pada penelitian ini, perdarahan diterapi
penyerta yang diderita pasien. Propranolol dengan beberapa variasi kombinasi obat.
diberikan pada pasien yang mengalami Diantara 24 pasien yang mengalami perdarahan,
hipertensi portal. Gambaran penggunaan obat semua mendapatkan terapi vitamin K dan 10
dapat dilihat pada tabel 1. Pasien yang diantaranya dikombinasikan dengan asam
menderita hipertensi portal mendapat terapi traneksamat. Asam traneksamat tidak tercantum
propranolol kecuali pada 3 pasien karena terjadi dalam standar pelayanan medik rumah sakit
perdarahan akut. Hal ini sesuai dengan standar maupun guideline APASL. Menurut Senzollo
pelayanan medik rumah sakit (Komite Medik, dkk., (2006) pasien dengan penyakit hati yang
2005) dan guideline Asia Pasific Ascociation parah mengalami penurunan sintesis plasma
Study for Liver (APASL) 2008. Pemberian fibrinogen sehingga risiko perdarahan akan
propranolol ditunda jika pasien mengalami meningkat. Dalam penelitian ini, modifikasi
perdarahan karena rupture varises esofagus (Tsao terapi perdarahan dengan pemberian asam
dkk., 2007). Hal ini telah sesuai dengan traneksamat dimungkinkan karena perdarahan
konsensus persatuan peneliti hati Indonesia yang tidak teratasi dengan vitamin K. Salah satu
(Widjaja dan Karjadi, 2011) faktor yang berpengaruh adalah terjadinya
Penggunaan proton pump inhibitor fibrinolisis sehingga pemberian antifibrinolisis
(PPI) tidak masuk dalam standar pelayanan (asam traneksamat) dapat dilakukan pada
medik rumah sakit maupun guideline pasien yang tidak mengalami perpanjangan
penanganan varises esofagus maupun aPTT.
perdarahan varises esofagus APASL. Modifikasi Selain kombinasi vitamin K, asam
terapi dengan pemberian PPI dilakukan untuk traneksamat, dan PPI pada 2 orang pasien juga
mengatasi perdarahan yang disebabkan oleh diberikan ranitidin. Pemberian ranitidin pada

79
Volume 4 Nomor 2 – Juni 2014

penanganan perdarahan telah sesuai dengan terlipressin, vapreotid dan ocreotid) mampu
standar pelayanan medik rumah sakit. Beberapa menurunkan secara signifikan risiko kematian
pasien yang mengalami perdarahan juga dan kebutuhan transfusi darah dan menurunkan
mendapatkan terapi vasoaktif yaitu somatostatin lama waktu rawat inap. Pada penelitian ini,
pada 3 pasien dan ocreotid (sandostatin®) pada tidak bisa dibandingkan risiko kematian,
1 pasien. Hal ini telah sesuai dengan standar kebutuhan transfusi dan lama waktu perawatan
pelayanan medik rumah sakit maupun guideline antara pasien yang mendapatkan vasoaktif dan
APASL. Menurut studi metaanalisis yang yang tidak mendapatkan karena adanya faktor
dilakukan oleh Wells dkk., (2012), penggunaan komplikasi lain yang berpengaruh pada risiko
vasoaktif (vasopressin, somatostatin, kematian dan lama rawat inap.

Tabel I. Gambaran penggunaan obat yang diberikan pada pasien sirosis hati berdasarkan komplikasi
di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2013
Komplikasi N Terapi n Keterangan
Hipertensi portal 46 Propranolol 43 3 pasien belum mendapatkan
(varises esofagus) propranolol.
Selain terapi obat, 8 pasien mendapatkan
terapi ligasi (endoskopi).
Perdarahan 24 PPI, Vit K, sucralfat 7
gastroesofageal PPI, Vit K, asam traneksamat 4
PPI, Vit K, asam traneksamat,
3
sucralfat
PPI, Vit K, asam traneksamat,
2
sucralfat, ranitidine
PPI, Vit K, somatostatin 3
PPI, Vit K, ocreotid, sucralfat 1
Vit K, asam traneksamat 1
Ascites 36 Spironolakton 10 Selain terapi obat, 2 orang pasien
mendapatkan infus albumin karena
Spironolakton, Furosemid 26 hipoalbuminemia yang menyertai ascites
dan komplikasi infeksi SBP

SBP 13 Cefotaxim/Ceftazidim 12/1 Seorang pasien mendapatkan ceftazidim.


Seorang pasien mendapatkan
ciprofloxacin setelah pemberian
cefotaxim selama seminggu tidak
menunjukan perbaikan
ISK Seorang pasien mendapatkan
9 Ciprofloxacin/ Levofloxacin 8/1
levofloxacin
Pneumonia 6 Ceftriaxon 4 CAP
Ceftazidim+Ciprofloxacin 2 HAP
Ensefalopati 26 Laktulosa, BCAA,
8
hepatik LOLA
Laktulosa, BCAA 7
Laktulosa, LOLA 8
Laktulosa, Neomisin 3
Keterangan :
N : pasien yang terdiagnosis; n : pasien yang mendapat terapi; PPI : Proton Pump inhibitor (Omeprazol,
Lansoprazol, Pantoprazol); ISK : Infeksi saluran kemih; CAP : Community Aquaired Pneumonia; HAP : Hospital
Aquaired Pneumonia; BCAA : Branch Chain Amino Acid; LOLA : L-Ornithin L-aspartat

80
Jurnal Manajemen dan Pelayanan Farmasi
Pada penelitian ini, perdarahan diterapi Antibiotik yang digunakan oleh pasien
dengan beberapa variasi kombinasi obat. adalah antibiotik sefalosporin generasi 3 yaitu
Diantara 24 pasien yang mengalami perdarahan, cefotaxim, ceftazidim, ceftriaxon serta
semua mendapatkan terapi vitamin K dan 10 floroquinolone yaitu ciprofloxacin dan
diantaranya dikombinasikan dengan asam levofloxacin. Hampir seluruh pasien yang
traneksamat. Asam traneksamat tidak tercantum mengalami SBP mendapatkan antibiotik
dalam standar pelayanan medik rumah sakit cefotaxim. Hal ini juga didukung oleh guideline
maupun guideline APASL. Menurut Senzollo dari AASLD, pasien yang terdiagnosis
dkk., (2006) pasien dengan penyakit hati yang spontaneous bacterial peritonitis sebaiknya
parah mengalami penurunan sintesis plasma diberikan pengobatan empirik antibiotik
fibrinogen sehingga risiko perdarahan akan spektrum luas sefalosporin generasi 3
meningkat. Dalam penelitian ini, modifikasi (cefotaxim) dan infus albumin intravena, sambil
terapi perdarahan dengan pemberian asam melakukan uji kultur mikroba penyebab
traneksamat dimungkinkan karena perdarahan (Runyon, 2012). Antibiotik sefalosporin generasi
yang tidak teratasi dengan vitamin K. Salah satu tiga merupakan pilihan karena memberikan
faktor yang berpengaruh adalah terjadinya beberapa keuntungan antara lain memiliki
fibrinolisis sehingga pemberian antifibrinolisis spektrum luas, relatif aman dan toleransi baik,
(asam traneksamat) dapat dilakukan pada efektivitas terbukti dari berbagai penelitian
pasien yang tidak mengalami perpanjangan dalam mengatasi SBP (Koulaouzidis dkk., 2009).
aPTT. Pasien yang mengalami ISK sebanyak 9
Selain kombinasi vitamin K, asam pasien mendapatkan terapi antibiotik golongan
traneksamat, dan PPI pada 2 orang pasien juga floroquinolon yaitu ciprofloxacin dan
diberikan ranitidin. Pemberian ranitidin pada levofloxacin. ISK yang dialami oleh pasien
penanganan perdarahan telah sesuai dengan dikaitkan dengan penggunaan kateter, maupun
standar pelayanan medik rumah sakit. Beberapa infeksi yang diperoleh saat di rumah sakit yang
pasien yang mengalami perdarahan juga umumnya disebabkan oleh suatu bakteri aerob
mendapatkan terapi vasoaktif yaitu somatostatin Gram (-) seperti enterococus. Obat golongan
pada 3 pasien dan ocreotid (sandostatin®) pada floroquinolon memiliki aktivitas yang baik
1 pasien. Hal ini telah sesuai dengan standar terhadap bakteri Gram (-). Pemilihan
pelayanan medik rumah sakit maupun guideline floroquinolon telah sesuai dengan guideline
APASL. Menurut studi metaanalisis yang IDSA untuk pasien yang mendapatkan ISK di
dilakukan oleh Wells dkk., (2012), penggunaan rumah sakit (Guglielmo, 2013).
vasoaktif (vasopressin, somatostatin, Pneumonia yang dialami pasien adalah
terlipressin, vapreotid dan ocreotid) mampu CAP sebanyak 4 pasien mendapatkan terapi
menurunkan secara signifikan risiko kematian ceftriaxone dan HAP sebanyak 2 pasien
dan kebutuhan transfusi darah dan menurunkan mendapatkan ceftazidim. Menurut IDSA
lama waktu rawat inap. Pada penelitian ini, guideline selain floroquinolon, salah satu terapi
tidak bisa dibandingkan risiko kematian, CAP pada pasien rawat inap adalah obat-obat
kebutuhan transfusi dan lama waktu perawatan golongan β lactam seperti ceftriaxon (Mandell
antara pasien yang mendapatkan vasoaktif dan dkk., 2007). HAP salah satu penyebabnya adalah
yang tidak mendapatkan karena adanya faktor bakteri Pseudomonas aeroginosa. Diantara obat-
komplikasi lain yang berpengaruh pada risiko obat golongan sefalosporin yang memiliki
kematian dan lama rawat inap. aktivitas antipseudomonas adalah ceftazidim,
Pada penelitian ini, ascites terjadi pada sehingga penggunaan ceftazidim telah sesuai
36 pasien. Ascites yang belum bisa teratasi dengan guideline IDSA, baik digunakan tunggal
dengan spironolakton maka ditambahkan maupun kombinasi dengan floroquinolon atau
diuretik furosemid. Terapi yang diberikan sesuai makrolida (American Thoracic Society dan
dengan standar pelayanan medik rumah sakit Infectious Diseases Society of America, 2005).
dan guideline EASL (European Association for Pasien yang mengalami ensefalopati
the Study of the Liver, 2010). hepatik mendapatkan terapi laktulosa. Hal ini

81
Volume 4 Nomor 2 – Juni 2014

telah sesuai dengan standar terapi rumah sakit. memperoleh hasil yang sangat baik (Yang dkk.,
Disakarida non absorben merupakan gold 2012). Akan tetapi sampai saat ini belum ada
standar terapi ensefalopati hepatik. Pada 3 penelitian mengenai manfaat Fructus
pasien pasien, laktulosa dikombinasikan dengan Schisandrae pada pasien sirosis hati sehingga
neomisin. Pasien yang mendapatkan neomisin pemberiannya perlu diteliti lebih lanjut dengan
mengalami perdarahan saluran cerna yang analisis efektivitas biayanya.
ditandai dengan hematemesis. Pasien yang Pada penelitian ini, diantara 70 pasien,
mendapatkan BCAA, LOLA atau keduanya yang mendapatkan injeksi SNMC sebanyak 6
merupakan pasien yang mengalami ensefalopati pasien. SNMC (Silymarin) diberikan pada
hepatik derajat 3 atau 4. Berdasarkan penelitian pasien dengan kenaikan SGOT dan SGPT yang
Malaguarnera dkk., (2009) yang dilakukan pada tinggi. Sirosis hati jarang terjadi pada pasien
48 pasien dengan ensefalopati hepatik derajat 3 dengan SNMC jangka panjang (Kumada, 2002).
dan 4, kombinasi BCAA dan LOLA mampu Studi lain menyebutkan bahwa Silymarin
memperbaiki fungsi cognitive yang ditunjukan dibandingkan dengan placebo terbukti
dari peningkatan skor GCS setelah diterapi 1 memperbaiki profil SGOT dan SGPT tetapi tidak
hari. Kombinasi BCAA dengan LOLA berefek pada perbaikan komplikasi penyakit
memberikan keuntungan yang sangat hati seperti dalam perbaikan kadar albumin dan
signifikan. Di dalam standar pelayanan medik protrombin time (Shiha dkk., 2009). Berdasarkan
tidak dijelaskan kriteria pasien yang harus hal tersebut disimpulkan bahwa pemberian
mendapatkan kombinasi laktulosa dengan injeksi SNMC bermanfaat untuk mencegah
neomisin, BCAA serta LOLA sedangkan pada perburukan fungsi hati agar tidak terjadi
kenyataanya tidak semua pasien ensefalopati keparahan lebih lanjut tetapi tidak memberikan
hepatik medapatkan kombinasi laktulosa, efek perbaikan pada fungsi hati jika pasien telah
neomisin, BCAA dan LOLA sehingga mengalami sirosis hati. Oleh sebab itu
kedepannya perlu diperjelas tentang tatalaksana pemberian injeksi SNMC pada pasien sirosis
terapi ensefalopati hepatik. hati perlu dikaji ulang karena harganya yang
Selain terapi utama yang sesuai dengan mahal akan berpengaruh terhadap biaya
komplikasi sirosis hati, beberapa pasien juga sedangkan efektivitasnya terhadap sirosis hati
mendapatkan hepatoprotektor antara lain belum terbukti.
curcuma, Fructus Schisandrae, dan injeksi
SNMC yang berfungsi untuk menjaga fungsi KESIMPULAN
hati. Pemberian hepatoprotektor tidak Penggunaan obat dalam
dicantumkan pada tatalaksana terapi sirosis hati penatalaksanaan komplikasi sirosis hati belum
dalam standar pelayanan medik rumah sakit. semuanya sesuai standar pelayanan medik
Pada kenyataannya, obat-obat hepatoprotektor RSUP Dr. Sardjito dan guideline APASL. Pada
terutama diberikan pada pasien yang beberapa pasien yang tidak membaik dengan
mengalami peningkatan nilai SGOT dan SGPT. terapi standar dilakukan modifikasi terapi yaitu
Penggunaan Fructus Schisandrae dalam pemberian PPI dan asam traneksamat pada
pengobatan hepatitis akut dan kronis telah perdarahan varises esofagus.

DAFTAR PUSTAKA
American Thoracic Society dan Infectious Asia Pasific Ascociation Study for Liver, 2008.
Diseases Society of America, 2005. Primary prophylaxis of
Guidelines for the management of gastroesophageal variceal bleeding:
adults with hospital-acquired, consensus recommendations of the
ventilator-associated, and healthcare- Asian Pacific Association for the Study
associated pneumonia. American journal of the Liver. Journal of Hepatology, 429-
of respiratory and critical care medicine, 439.
171: 388–416.

82
Jurnal Manajemen dan Pelayanan Farmasi
Deshpande, A., Pasupuleti, V., Thota, P., Pant, Kusumobroto, H., 2007. Sirosis Hati, dalam:
C., Mapara, S., Hassan, S., dkk., 2013. Buku Ajar Ilmu Penyakit Hati Edisi I. FK
Acid-suppressive therapy is associated Universitas Indonesia, Jakarta.
with spontaneous bacterial peritonitis in Mandell, L.A., Wunderink, R.G., Anzueto, A.,
cirrhotic patients: a meta-analysis. Bartlett, J.G., Campbell, G.D., Dean,
Journal of gastroenterology and hepatology, N.C., dkk., 2007. Infectious Diseases
28: 235–242. Society of America/American Thoracic
Eom, C.-S., Jeon, C.Y., Lim, J.-W., Cho, E.-G., Society consensus guidelines on the
Park, S.M., dan Lee, K.-S., 2011. Use of management of community-acquired
acid-suppressive drugs and risk of pneumonia in adults. Clinical infectious
pneumonia: a systematic review and diseases: an official publication of the
meta-analysis. CMAJ: Canadian Medical Infectious Diseases Society of America, 44
Association journal = journal de Suppl 2: S27–72.
l’Association medicale canadienne, 183: Malaguarnera, M., Risino, C., Cammalleri, L.,
310–319. Malaguarnera, L., Astuto, M., Vecchio,
European Association for the Study of the Liver, I., dkk., 2009. Branched chain amino
2010. EASL clinical practice guidelines acids supplemented with L-
on the management of ascites, acetylcarnitine versus BCAA treatment
spontaneous bacterial peritonitis, and in hepatic coma: a randomized and
hepatorenal syndrome in cirrhosis 53: controlled double blind study. European
397 – 417. journal of gastroenterology & hepatology,
Garcia, D., Quintana, J., Gonzalez, J.., dan Garza, 21: 762–770.
H.., 2009. Liver cirrhosis and diabetes: Perz, J.., Armstrong, G.., Farington, J.., Hutin, J..,
Risk factors, pathophysiology, clinical dan Bell, B.., 2006. The contributions of
implications and management. World hepatitis B virus and hepatitis C virus
Journal of Gastroenterology, 15: 280–288. infections to cirrhosis and primary liver
Guglielmo, J., 2013. Principles of Infectious cancer worldwide. Journal of Hepatology,
Diseases, dalam: Applied Therapeutic The 45: 529–538.
Clinical Use of Drugs. Wolter Kluwers, Riwidikdo, H., 2009. Statistika Kesehatan. Mitra
Lippincott. Cendekia Press, Yogyakarta.
Hidaka, H., Nakazawa, T., Wang, G., Kokubu, Senzollo, M., Burra, P., Cholongitas, E., dan
S., Minamino, T., Takada, J., dkk., 2012. Burroughs, A., 2006. New insights into
Long-term administration of PPI the coagulopathy of liver disease and
reduces treatment failures after liver transplantation. World Journal of
esophageal variceal band ligation: a Gastroenterology, 12: 7725–7736.
randomized, controlled trial. Journal of Shiha, G., Sarin, S.K., Ibrahim, A.E., Omata, M.,
gastroenterology, 47: 118–126. Kumar, A., dan Lesmana, L.., 2009. Liver
Kemenkes, 2013. Implementasi Formularium fibrosis: consensus recommendations of
Nasional Dalam Pelaksanaan Pelayanan the Asian Pacific Association for the
Kesehatan Di Fasilitas Kesehatan Rujukan. Study of the Liver (APASL). International
Kumada, H., 2002. Long-Term Treatment of Journal of Hepatology, 3: 323–333.
Chronic Hepatitis C with Glycyrrhizin Simonetto, D.A., Shah, V.H., dan Kamath, P.S.,
[Stronger Neo-Minophagen C (SNMC)] 2014. Primary Prophylaxis of Variceal
for Preventing Liver Cirrhosis and Bleeding. Clinics in liver disease, 18: 335–
Hepatocellular Carcinoma. Oncology, 62: 345.
94–100. Tarigan, P., 2007. Ensefalopati Hepatik, dalam:
Koulaouzidis, A., Bhat, S., dan Saeed, A.A., 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Hati Edisi I. FK
Spontaneous bacterial peritonitis. World Universitas Indonesia, Jakarta.
Journal of Gastroenterology : WJG, 15: Tasnif, Y. dan Hebert, M., 2013. Complications
1042–1049. of End-Stage Liver Disease, dalam:

83
Volume 4 Nomor 2 – Juni 2014

Applied Therapeutic The Clinical Use of


Drugs. Wolter Kluwers, Lippincott.
Tsao, G., Sanyal, A.J., Grace, N., dan Carey, W.,
2007. Prevention and Management of
Gastroesophageal Varices and Variceal
Hemorrhage in Cirrhosis. Journal of
Hepatology, 46: 922–938.
Wells, M., Chande, N., Adams, P., Beaton, M.,
Levstik, M., Boyce, E., dkk., 2012. Meta-
analysis: vasoactive medications for the
management of acute variceal bleeds.
Alimentary pharmacology & therapeutics,
35: 1267–1278.
Widjaja, F. dan Karjadi, 2011. Pencegahan
Perdarahan Berulang pada Pasien
Sirosis Hati. J Indon Med Assoc, 61: 417–
424.
Yang, J.M. Xian, Y.F. Ip, P.SP.P, Wu, J.C.Y,
Lao,L.Fong, H.H.S.dkk., 2012.
Schisandra Chinensis Reverse Visceral
Hipersensitivity in a neonatal-maternal
separated Rat Model. Phytomedicine,
19(5): 402-408.

84