Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN ODONTEKTOMI

Disusun Oleh:
Peter Albertus, SKG (2017–16 - 093)
I Putu Toya (2017–16-067)

Pembimbing:
drg. Inda Pribadi, SpBM

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS PROF. DR. MOESTOPO (BERAGAMA)
JAKARTA
2018
BAB I
TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Definisi Gigi Impaksi dan Odontectomy (OD)


Gigi impaksi merupakan gigi yang tidak dapat erupsi secara sempurna ke
dalam lengkung gigi setelah melewati periode normal erupsi gigi.1 Gigi impaksi
dapat disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah faktor gigi tetangga,
densitas tulang, adanya jaringan lunak yang berlebihan, karena faktor kelainan
genetik yang dapat menghambat erupsi gigi, kurangnya ruang dalam lengkung
rahang sebagai tempat untuk erupsi gigi.1
Secara umum, gigi impaksi sebaiknya diekstraksi kecuali apabila ekstraksi
gigi tersebut menjadi kontraindikasi.1 Ekstraksi gigi impaksi akan menjadi lebih
sulit seiring bertambahnya usia pasien. Ekstraksi gigi impaksi pada pasien usia
muda (early removal) akan mengurangi morbiditas postoperative, dan proses
penyembuhan akan berjalan lebih baik.1 Dikatakan dapat mengurangi morbiditas
postoperative adalah karena pada pasien usia muda densitas tulang belum
sempurna, pembentukan akar gigi juga belum sempurna sehingga prosedur
operasi dapat relatif lebih mudah.1
Waktu yang ideal bagi ekstraksi gigi impaksi molar tiga adalah ketika akar
gigi telah terbentuk 1/3 bagian dan belum mencapai 2/3, biasanya ketika pasien
berusia 17 s/d 20 tahun.1
Ekstraksi gigi impaksi atau yang biasanya disebut sebagai
odontectomy(OD) merupakan pencabutan gigi melalui pembuatan flap
mucoperiosteal serta eksisi tulang di sekitar gigi yang akan dicabut sebelum
pengaplikasian force untuk pencabutan gigi.2
1.2 Indikasi Ekstraksi Gigi Impaksi
Indikasi pencabutan gigi impaksi adalah:1
 Pencegahan penyakit periodontal
Gigi yang erupsi sempurna dan berada bersebelahan dengan gigi yang
impaksi merupakan predesposisi bagi penyakit periodontal. Hal ini
terurtama terjadi pada kasus impaksi molar 3 mandibula dapat
mengakibatkan penurunan jumlah tulang pada bagian distal molar 2, selain
itu daerah ini merupakan daerah yang sulit dijangkau bagi usaha kontrol
plak sehingga pada kasus impaksi molar 3 mandibula, pasien seringkali
mengalami inflamasi gingiva dengan pendalaman poket distal gigi molar
2. Dengan ekstraksi gigi molar 3 yang impaksi ini, penyakit periodontal
dapat dicegah.

 Pencegahan karies gigi


Kontrol plak menjadi lebih sulit baik pada gigi yang mengalami impaksi
maupun gigi tetangganya, sehingga dapat menginisiasi terjadinya karies.

 Pencegahan perikoronitis
Perikoronitis merupakan inflamasi pada jaringan lunak (operculum) di
sekitar mahkota gigi impaksi, biasanya merupakan infeksi flora normal
rongga mulut akibat terjebaknya debris makanan di bawah operculum
yang sulit dibersihkan sehingga terjadi peningkatan kolonisasi bakteri,
selain itu perikoronitis juga dapat terjadi akibat trauma minor dari gigi
antagonis. Perikoronitis biasanya disebabkan oleh bakteri streptococci dan
bakteri anaerob. Perawatan awal perikoronitis dapat dilakukan irigasi
menggunakan hidrogen peroxide atau chlorhexidine, bahkan irigasi
dengan larutan saline yang dilakukan secara rutin dapat mengurangi
jumlah bakteri dan mampu membersihkan operculum dari debris makanan.
 Pencegahan resorpsi akar
Gigi yang impaksi dapat menekan akar gigi tetangga yang dapat
mengakibatkan terjadinya resorpsi akar. Ekstraksi gigi yang impaksi yang
dilanjutkan dengan terapi endodontik pada gigi yang mengalami resorpsi
akar dapat menyelamatkan gigi tsb.

 Gigi impaksi berada di bawah dental prostesis


Gigi impaksi yang berada di bawah atau dekat dengan protesa tissue borne
seringkali mengakibatkan ulserasi akibat protesa menekan jaringan lunak
ke arah gigi impaksi. Hal ini dapat memicu terjadinya infeksi odontogenik.

 Pencegahan kista dan tumor odontogenik


Gigi impaksi yang tertanam seluruhnya di dalam prosesus alveolaris,
seringkali gigi tsb tetap berada dalam kantung folikular. Hal ini seringkali
mengakibatkan degenerasi cystic dan berkembang menjadi kista
dentigerous atau kerotocyst. Dengan mekanisme yang sama, tumor
odontogenik juga dapat tumbuh dari sel-sel epitel yang terdapat di dalam
dental folikel, kasus yang paling sering terjadi adalah ameloblastoma.

 Perawatan bagi rasa sakit dengan sumber yang tidak dapat dijelaskan
Terkadang, pasien datang ke dokter gigi mengeluhkan rasa sakit pada
regio retromolar mandibula, namun penyebab dari rasa sakit mungkin
tidak jelas. Jika kondisi seperti sindrom myofascial pain dysfunction dan
fasial pain disorder lainnya dapat disingkirkan, dan pasien memiliki gigi
yang tidak erupsi, maka dengan ekstraksi gigi tsb seringkali dapat
mengeliminasi rasa sakit. Selain itu penundaan pencabutan gigi molar 3
hingga usia lanjut dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya
Temporomandibular disorder (TMD).
 Pencegahan fraktur rahang
Gigi molar 3 mandibula yang impaksi menempati ruang yang biasanya
diisi oleh tulang. Hal ini berdampak pada pelemahan struktur mandibula
dan lebih rentan mengalami fraktur pada daerah gigi yang impaksi. Jika
rahang mengalami fraktur pada daerah gigi yang impaksi ini, maka
ekstraksi gigi tsb dilakukan lebih dahulu sebelum fraktur direduksi.

 Memfasilitasi perawatan ortodonti

 Penyembuhan jaringan periodontal yang optimal


Seperti yang telah dibahas di atas, salah satu indikasi ekstraksi gigi molar
3 yang impaksi adalah untuk mempertahankan kesehatan jaringan
periodontal gigi molar 2. Penelitian menunjukkan bahwa penyembuhan
jaringan periodontal pada gigi molar 2 di mana gigi molar 3 nya impaksi
adalah: perluasan poket infrabony pada bagian distal molar 2 dan usia
pasien pada saat operasi OD.

1.3 Kontraindikasi Ekstraksi Gigi Impaksi


Seluruh gigi impaksi sebaiknya dicabut kecuali terdapat kontraindikasi
spesifik.. Di saat manfaat potensial yang akan didapatkan dari ekstraksi gigi
impaksi lebih besar dibandingkan resiko dan komplikasi yang dapat muncul maka
ekstraksi gigi impaksi sebaiknya dilakukan, namun jika sebaliknya resiko dan
komplikasi potensial lebih besar daripada manfaatnya, maka ekstraksi sebaiknya
ditunda.1 Kontraindikasi ekstraksi gigi impaksi melibatkan kesehatan umum
pasien:
 Usia pasien
1. Benih gigi molar 3 dapat terlihat pada usia 6 tahun, banyak ahli
berpendapat dengan mengekstraksi benih gigi molar 3 pada usia 7-9
tahun dapat meminimalkan morbiditas bedah sehingga sebaiknya
ekstraksi dilakukan pada usia ini, namun banyak juga ahli yang
berpendapat lain bahwa pada usia 7-9 tahun ini adalah suatu hal yang
mustahil untuk menentukan apakah benih gigi ini akan impaksi atau
tidak sehingga sebaiknya ekstraksi ditunda. Konsensus dari banyak
ahli ini menyimpulkan bahwa sebaiknya ekstraksi molar 3 pada usia
muda sebaiknya ditunda.1
2. Kontraindikasi yang paling umum bagi ekstraksi gigi impaksi adalah
usia lanjut. Seiring bertambahnya usia, tulang akan semakin
terkalsifikasi sehingga menjadi lebih tidak fleksibel dan sulit untuk
diekspansi, dan hal ini mengakibatkan pembuangan tulang harus lebih
banyak dilakukan.1 Selain itu pada usia lanjut resiko komplikasi
postoperative akan semakin bertambah besar.

 Compromised Medical Status


Terkadang compromised medical status dan usia pasien memiliki
hubungan yang berbanding lurus. Pasien yang memiliki penyakit
kardiovaskular, respirasi, imunokompromis, atau penyakit coagulopathy
yang serius, maka gigi impaksi yang asimptomatik dapat dipertimbangkan
untuk tidak diekstraksi. Namun jika gigi impaksi menjadi simptomatik,
maka pertimbangan ekstraksi gigi tsb dapat dilakukan dengan
berkolaborasi dengan dokter spesialis yang berhubungan dengan penyakit
sistemik pasien tsb.1

 Kemungkinan mengakibatkan kerusakan yang berlebihan dari struktur


yang berdekatan.
Jika gigi impaksi berada pada area dimana ekstraksi gigi tsb dapat
menimbulkan kerusakan yang serius pada saraf, atau dapat merusak
struktur bridge yang telah dibuat sebelumnya, maka gigi impaksi dapat
dipertimbangkan untuk tidak diekstraksi. Jika dokter gigi memutuskan
untuk tidak dicabut maka keputusan tsb harus lebih bermanfaat dengan
mempertimbangkan kemungkinan komplikasi yang dapat timbul akibat
gigi impaksi tsb di kemudian hari.1
1.4 Sistem Klasifikasi Impaksi Molar Tiga Mandibula
Sistem klasifikasi impaksi molar tiga mandibula dibuat untuk menentukan
derajat kesulitan odontectomy.1,3 Sistem klasifikasi ini dibuat menggunakan
bantuan radiograf, biasanya menggunakan panoramic, namun ketika akar gigi
molar 3 mandibula sangat dekat atau superimpose dengan kanalis mandibula pada
panoramic maka cone beam computed tomography (CBCT) dapat digunakan
untuk menunjukkan secara aktual hubungan antara akar dengan kanalis
mandibula.1
 Angulasi molar tiga mandibula menurut Archer (1975)1,3
Dengan membandingkan angulasi sumbu aksial gigi molar 3 dengan sumbu
aksial gigi molar 2. Klasifikasi ini digunakan untuk memperkirakan jumlah
pembuangan tulang yang diperlukan untuk ekstraksi gigi molar 3 yang
impaksi.

1. Impaksi mesioangular, merupakan impaksi gigi molar 3 mandibula


dengan tingkat kesulitan yang paling mudah. Angulasi ini paling sering
dijumpai, kurang lebih 43% dari seluruh kasus impaksi.1,3
2. Impaksi horizontal, yaitu ketika sumbu aksial gigi m3 tegak lurus
dengan sumbu aksial m2, memiliki tingkat kesulitan no.2 paling mudah
(sedikit lebih sulit dibandingkan mesioangular). Terjadi pada 3% dari
seluruh kasus impaksi m3 mandibula.1,3
3. Impaksi vertikal, yaitu ketika sumbu aksial gigi m3 sejajar dengan
sumbu aksial m2, memiliki tingkat kesulitan no.3 paling mudah (ke-2
dari yang paling sulit). Terjadi pada 38% dari seluruh impaksi m3
mandibula.1,3
4. Impaksi distoangular, yaitu ketika sumbu aksial m3 miring ke distal
dari m2, memiliki tingkat kesulitan yang paling sulit. Terjadi pada
sekitar 6% dari seluruh kasus impaksi.1,3
5. Gigi impaksi m3 mandibula juga dapat memiliki angulasi bukal,
lingual, atau angulasi horizontal dalam arah buccolingual. Untuk
menentukan arah bukal atau lingual secara akurat dapat menggunakan
pemeriksaan tambahan seperti radiografi oklusal atau CBCT, namun
pemeriksaan tambahan tsb terkadang juga tidak diperlukan karena
angulasi ini dapat teridentifikasi langsung pada permulaan tindakan
operasi. Selain itu, posisi bukal atau lingual dari gigi impaksi tidak
memberikan pengaruh yang signifikan bagi tindakan odontectomy.1

 Hubungan dengan border anterior ramus mandibula menurut Pell dan


Gregory.1,3
Klasifikasi ini terdiri dari kelas 1, 2 dan 3 berdasarkan kedudukan m3
terhadap ramus mandibula.

1. Kelas 1, jika diameter mesiodistal mahkota gigi m3 mandibula


seluruhnya berada di anterior dari border anterior ramus mandibula. Gigi
m3 mandibula yang impaksi kelas 1 dengan angulasi vertikal memiliki
peluang yang baik untuk erupsi ke posisi normal. Akses untuk
pencabutan yang paling baik.1
2. Kelas 2, jika kurang lebih ½ bagian dari diameter mesiodistal mahkota
m3 mandibula berada di posterior dari ramus mandibula. Pada kasus
kelas 2, gigi tidak dapat erupsi sempurna karena bagian distal mahkota
gigi tertutup oleh tulang ramus.1
3. Kelas 3, jika seluruh diameter mesiodistal mahkota m3 mandibula berada
seluruhnya di dalam ramus. Akses untuk pencabutan gigi yang paling
sulit di antara kelas yang lain, perlu pembuangan tulang yang lebih
signifikan.1

 Hubungan dengan oklusal plane menurut Pell dan Gregory.1,3


Klasifikasi ini terbagi atas posisi / level A, B dan C berdasarkan kedalaman
gigi impaksi dibandingkan ketinggian gigi m2 di sebelahnya.

1. Posisi A, jika permukaan oklusal gigi m3 impaksi setinggi dengan


permukaan oklusal gigi m2 di sebelahnya.
2. Posisi B, jika permukaan oklusal gigi m3 impaksi berada di antara garis
servikal dan permukaan oklusal gigi m2 di sebelahnya.
3. Posisi C, jika permukaan oklusal gigi m3 impaksi berada di bawah garis
servikal gigi m2 di sebelahnya.

Dari sistem klasifikasi ini, tingkat kesulitan dari odontectomy dapat


dihitung berdasarkan tabel berikut.3

1.5 Faktor-faktor Lain yang Mempengaruhi Tingkat Kesulitan Pencabutan


Gigi Impaksi Molar Tiga Mandibula
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan preoperative adalah:1
 Morfologi akar gigi m3
1. Panjang akar gigi m3 impaksi. Waktu optimal untuk ekstraksi gigi
impaksi adalah ketika pembentukan akar masih 1/3 hingga 2/3 bagian
karena ujung akar masih tumpul dan kemungkinan perkembangan akar
gigi ke dalam bentuk yang abnormal dapat dihilangkan. Jika
pencabutan dilakukan ketika akar gigi yang terbentuk kurang dari 1/3
bagian, maka gigi cenderung dapat bergulir di dalam soketnya seperti
kelereng.1
2. Jumlah akar gigi. Akar gigi bergabung menjadi 1 bagian yang konus
atau berpisah menjadi beberapa bagian akar. Akar gigi konus yang
bergabung menjadi 1 bagian lebih mudah dicabut dibanding akar gigi
yang terpisah dan mekar.1
3. Kurvatura akar. Akar gigi yang melengkung secara signifikan
(dilaserasi) lebih sulit dicabut dan memiliki kemungkinan fraktur akar
yang lebih besar jika dibandingkan dengan akar gigi yang lurus atau
sedikit melengkung.1
4. Arah kurvatura akar. Pada kasus impaksi mesioangular dengan akar
gigi yang melengkung ke arah distal dapat lebih mudah dicabut karena
mengikuti arah force ekstraksi, namun pada kasusi impaksi
mesioangular dengan akar gigi yang lurus atau sedikit melengkung ke
arah mesial, maka akar gigi cenderung dapat fraktur jika pencabutan
tidak dilakukan tanpa odontotomi.1
5. Lebar total akar gigi mesiodistal dibandingkan dengan lebar gigi pada
servikal. Jika lebar akar gigi lebih besar daripada lebar servikal, maka
ekstraksi akan lebih sulit.1
6. Periodontal ligamen space. Ligamen periodontal space yang lebih lebar
akan cenderung lebih mudah diekstraksi. Pasien yang berusia lebih dari
40 tahun cenderung memiliki ligamen periodontal space yang lebih
sempit sehingga dapat meningkatkan kesulitan ekstraksi.1
 Ukuran kantung folikular
Jika ukuran kantung folikular lebar, maka pembuangan tulang akan lebih
sedikit sehingga ekstraksi gigi m3 mandibula yang impaksi akan lebih
mudah. Pasien yang berusia muda cenderung memiliki kantung folikular
yang lebih besar. Jika kantung folikular sempit atau bahkan tidak ada,
maka dokter gigi harus membuat space di sekitar mahkota gigi sehingga
ekstraksi akan lebih sulit.1

 Densitas tulang di sekitar gigi


 Kontak dengan gigi m2 mandibula
 Hubungan gigi impaksi dengan nervus alveolaris inferior

1.6 Prosedur Bedah Odontectomy


1. Step 1: Flap yang adekuat untuk aksesibilitas.
Untuk mendapatkan akses yang baik maka diperlukan flap mukoperiosteal
yang adekuat. Dimensi flap yang dibuat harus adekuat sehingga
memungkinkan penempatan retraktor dan istrumen pembuangan tulang dengan
baik.1
Envelope flap merupakan teknik yang paling banyak digunakan pada
kasus odontectomy m3 mandibula, karena lebih cepat untuk disuture dan
penyembuhannya lebih baik dibandingkan flap triangular. Namun pada kasus
di mana dokter gigi memerlukan akses yang lebih pada bagian apikal, maka
dapat dipertimbangkan untuk membuat flap triangular.1
Insisi yang dibuat pada envelope flap, full thickness, dibuat dari papila
mesial m1 mandibula, lalu mengikuti kontur servikal sampai distobukal line
angle m2 dan kemudian dilanjutkan ke arah posterior lateral pada anterior
border ramus mandibula (seperti pada gambar di atas, A), insisi tidak boleh
dibuat secara posterior dalam garis lurus (harus posterior lateral) karena
mandibula divergen ke lateral pada regio m3 dan jika dibuat dalam garis lurus
maka insisi berisiko jatuh ke dalam sublingual space dan dapat melukai nervus
lingualis, insisi harus tetap dengan dasar tulang pada regio ini oleh karena itu
palpasi diperlukan pada regio retromolar sebelum insisi dibuat. Flap kemudian
diangkat dengan rasparatorium ke arah lateral hingga membuka external
oblique ridge, tetapi pembukaan flap ini tidak boleh lebih dari beberapa mm
hingga ke belakang external oblique ridge karena dapat meningkatkan resiko
komplikasi setelah pembedahan. Kemudian retraktor minesota diletakkan pada
area bukal shelf, sedikit lateral dari external oblique ridge.1
Jika gigi impaksi tertanam lebih dalam ke dalam tulang dan membutuhkan
pembuangan tulang yang lebih banyak, maka flap dapat dibuat triangular
(seperti gambar di atas, C).1

2. Step 2: Pembuangan tulang


Pembuangan tulang adalah pada bagian oklusal, bukal dan distal, hingga
ke bagian servikal dari gigi yang impaksi. Jumlah pembuangan tulang
bervariasi tergantung dari kedalaman impaksi, morfologi akar gigi dan
angulasinya. Tulang pada bagian lingual sebaiknya tidak dibuang karena
beresiko mencederai nervus lingualis.

Pembuangan tulang diawali pada bagian oklusal untuk mengekspos


mahkota gigi, kemudian tulang kortikal pada bagian bukal di buang ke arah
bawah hingga garis servikal gigi. Kemudian pembuangan tulang juga dapat
dilakukan di antara gigi dan tulang kortikal dengan manuver yang dinamakan
ditching. Ditching ini dilakukan untuk mendapatkan akses bagi elevator,
pembuatan purchase point.1

3. Step 3: Memotong gigi


Pemotongan (sectioning) gigi memungkinkan gigi dikeluarkan dari
soketnya secara terpisah dengan menggunakan elevator. Arah pemotongan gigi
tergantung dari angulasi gigi impaksi dan kurvatura akar.
 Mesioangular
 Horizontal

 Vertikal
 Distoangular

4. Step 4: Pengangkatan gigi dari soket dengan elevator


Setelah gigi dipotong, gigi dikeluarkan dari soket menggunakan dental
elevator (pada mandibula, yang paling banyak digunakan adalah elevator lurus,
cryer atau crane pick). Perbedaan antara pencabutan m3 mandibula impaksi
dibandingkan gigi lainnya adalah bahwa pencabutan m3 mandibula impaksi
hampir tidak dilakukan luksasi gigi yang mengekspansi plate kortikal bukal
dan lingual, tetapi sebagai gantinya pembuangan tulang dan pemotongan gigi
dilakukan agar pengeluaran gigi dari soket lebih leluasa.1 Karena gigi impaksi
hampir tidak pernah menerima tekanan oklusi, maka periodontal ligamennya
cenderung lemah dan memungkinkan pengeluaran gigi dari soketnya melalui
pembuangan tulang dan arah gaya (force) pencabutan yang tepat.1

5. Step 5: Persiapan penutupan luka


Tulang yang tajam, kasar, terutama permukaan di mana dental elevator
diaplikasikan, harus dihaluskan menggunakan bone file. Setelah itu debris
dibersihkan melalui irigasi dengan saline steril. Irigasi ini juga sebaiknya
dilakukan pada permukaan bawah dari flap. Lakukan pemeriksaan bahwa
hemostasis adekuat, perdarahan dapat terjadi dari pembuluh darah pada flap,
bone marrow yang dipotong dengan bur atau dari pembuluh darah inferior
alveolar, jika terdapat titik perdarahan yang spesifik sebaiknya dilakukan
kontrol perdarahan terlebih dahulu sebelum penutupan luka. Setelah itu
penutupan luka melalui penutupan primer dengan suture dilakukan.1
BAB II
LAPORAN KASUS

2.1 Identitas Pasien

Nama : Agung Firmansyah

Umur : 20 tahun

JenisKelamin : Laki-laki

Alamat : Jl. Peninggaran Timur II

No. Telp : 088213579163

Pekerjaan : Pelajar

Bangsa/ Asal Daerah : Indonesia

2.2 Anamnesis

Keluhan Utama :Pasien datang dengan keluhan gigi bungsu

bawah kanan dan kiri sering sakit.

Riwayat Penyakit :Gigi bungsu bawah kanan dan kiri sering

sakit spontan yang hilang timbul sejak 3

bulan yang lalu, saat ini tidak sakit.

Timbulnya rasa sakit terakhir kali sekitar 2

minggu yang lalu, tidak minum obat apapun.

Tidak pernah bengkak, namun makanan

sering menyelip. Tidak ada demam. Tidak

ada riwayat alergi dan tidak mengkonsumsi


obat rutin apapun. Tidak ada kelainan

sistemik. Pasien memiliki kebiasaan buruk

merokok 10 batang perhari jenis filter

kretek.

2.3 Pemeriksaan Klinis

 KesehatanUmum

KU :Baik, Kesadaran : CM

BB : 60 kg

TB : 168 cm

TTV

1. TekananDarah: 120/80 mmHg

2. FrekuensiNadi : 80x/ menit

3. Suhu : 36o C

4. FrekuensiNafas : 20 x/menit

 Gigi 38 impaksi visibel angulasi horizontal, p/t (-), gusi yang

menutupi bagian distal 38 tampak sedikit edema dan eritema.

Gigi 48 impaksi visibel kurang lebih 90% mahkota ditutupi oleh

gusi yang pucat dan edema.


2.4 Pemeriksaan Penunjang

Panoramik

Ekspertise
Impaksi gigi 38 angulasi horizontal, kelas 2, posisi A
Impaksi gigi 48 mesioangular, kelas 2, posisi A
os maxilla dan mandibula baik, TMJ baik

2.5 Diagnosis
Eruptio difficilis disertai perikoronitis gigi 38 dan 48

2.6 Rencana Terapi


Odontektomi gigi 38 dan 48
Daftar Pustaka

1. Hupp JR, Ellis E, Tucker MR. Contemporary Oral And Maxillofacial


Surgery, 6th Ed. St Louis: Mosby. 2014: 143-66.

2. The American Heritage Stedman’s Medical Dictionary. Odontectomy.


Houghton Mifflin Company. 2002. Tersedia di:
http://www.dictionary.com/browse/odontectomy

3. Andersson L, Kahnberg KE, Pogrel MA. Oral and Maxillofacial Surgery.


Iowa: Wiley-Blackwell. 2010: 219-54.