Anda di halaman 1dari 37

LAPORAN

PRAKTIKUM FITOFARMAKA
PENETAPAN KADAR SENYAWA EPMS (Etil p-metoksi sinamat) DALAM SEDIAAN
KAPSUL EKSTRAK KENCUR (Kaempferia galanga L.)

Nama : Wika Tanika


NIM / Kelas : 201510410311120 / Farmasi C
Kelompok :4

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kencur (Kaempferia galanga L.) merupakan tanaman tropis yang banyak tumbuh di
berbagai daerah di Indonesia sebagai tanaman yang dipelihara. Tanaman ini banyak
digunakan sebagai ramuan obat tradisional dan sebagai bumbu dalam masakan sehingga para
petani banyak yang membudidayakan tanaman kencur sebagai hasil pertanian yang
diperdagangkan. Bagian dari kencur yang diperdagangkan adalah buah akar yang ada di
dalam tanah yang disebut rimpang kencur atau rizoma (Barus,2009). Hampir seluruh bagian
tanaman kencur mengandung minyak atsiri yang terdiri asam transinamat, n-pentadekana, etil
p-metoksisinamat, asam p-metoksisinamat, p-metoksi stirena, p-asam kumarat
(Hargono,1995).
Dalam pengembangan obat tradisional/ obat dari bahan alam untuk dijadikan ekstrak
yang terstandar atau fitofarmaka harus memenuhi persyaratan yang ketat. Fitofarmaka, sesuai
dengan definisinya yaitu sediaan obat dari bahan alam yang telah dibuktikan keamanannya
dan mempunyai khasiat secara ilmiah dengan dilakukan uji klinik, serta bahan baku dan
produk jadinya telah memenuhi standar. Suatu sediaan dari bahan alam seringkali mengalami
variasi atar batchnya. Variasi pada bahan terjadi karena beberapa faktor antara lain genetik
(bibit), lingkungan (tempat tumbuh, iklim), rekayasa agronomi (fertilizer, perlakuan selama
masa tumbuh), dan panen (waktu dan pasca panen) (Depkes RI, 2000).
Senyawa marker (penanda) adalah suatu senyawa yang terdapat dalam bahan alam dan
diseleksi untuk keperluan khusus (contoh untuk tujuan identifikasi atau standardisasi) melalui
penelitian. Syarat senyawa dapat ditetapkan sebagai penanda apabila bersifat khas,
mempunyai struktur kimia yang jelas, dapat diukur kadarnya dengan metode analisis yang
biasa digunakan, bersifat stabil, tersedia dan dapat diisolasi (Patterson, 2006).
Kapsul adalah sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang
dapat larut. Cangkang umumnya terbuat dari gelatin; tetapi dapat juga terbuat dari pati atau
bahan lain yang sesuai. Ukuran cangkang kapsul keras bervariasi dari nomor paling kecil (5)
sampai nomor paling besar (000), kecuali ukuran cangkang untuk hewan. Umumnya ukuran
nomor 00 adalah ukuran terbesar yang dapat diberikan kepada pasien. Ada juga kapsul gelatin
keras ukuran 0 dengan bentuk memanjang (dikenal sebagai ukuran OE), yang memberikan
kapasitas isi lebih besar tanpa peningkatan diameter (Depkes RI, 2014).

1.2. Tujuan
Mahasiswa mampu melakukan penetapan kadar senyawa marker EPMS dalam sediaan
kapsul yang berisi ekstrak kencur (Kaempferia galanga L.)
1.3. Manfaat
1.3.1. Mahasiswa dapat memahami cara melakukan penetapan kadar senyawa marker EPMS
dalam sediaan kapsul yang berisi ekstrak kencur (Kaempferia galanga L.)
1.3.2. Mahasiswa dapat memahami bagaimana penetapan kadar senyawa marker EPMS
dalam sediaan kapsul yang berisi ekstrak kencur (Kaempferia galanga L.)
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kencur ( Kaempferia galanga L.)

Gambar : Kencur ( Kaempferia galanga L.)

2.2.1. Klasifikasi Kencur ( Kaempferia galanga L.)


Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Ordo : Zingiberales
Familia : Zingiberaceae
Genus : Kaempferia L.
Spesies : Kaempferia galanga L.
(Cronquist,1981)
2.2.2. Morfologi Kencur
Tanaman kencur berukuran kecil dengan bunga berwarna putih. Tumbuh
merapat dengan tanah dan tidak memiliki batang. Rimpang kencur bercabang-
cabang dan berdesak-desakan serta berwarna coklat. Daunnya berbentuk jorong,
sedangkan pangkal daun berbentuk jantung serta berujung lancip. Bagian atas daun
tidak berbulu, sedangkan bagian bawah daun berbulu. Tanaman kencur memiliki
batang semu yang sangat pendek, terbentuk dari pelepah-pelepah daun yang saling
menutupi. Daun-daun kencur tumbuh tunggal, melebar dan mendatar hampir rata
dengan permukaan tanah. Jumlah daun bervariasi antara 8-10 helai dan tumbuh
secara berlawanan satu sama lain. Bentuk daun elip melebar sampai bundar, ukuran
panjang daun 7-12 cm dan lebarnya 3-6 cm, serta berdaging agak lebar. Bunga
kencur keluar dalam bentuk buliran setengah duduk dari ujung tanaman di sela-sela
daun. Warna bunganya putih, ungu hingga lembayung dan tiap tangkai bunga
berjumlah 4-12 kuntum bunga. Bunga kencur berwarna putih berbau harum terdiri
dari empat helai daun mahkota. Tangkai bunga berdaun kecil sepanjang 2–3 cm,
tidak bercabang, dapat tumbuh lebih dari satiu tangkai, panjang tangkai 5–7 cm
berbentuk bulat dan beruas ruas. Putik menonjol keatas berukuran 1–1,5 cm,
tangkai sari berbentuk corong pendek. Buah kencur termasuk buah kotak beruang
3 dengan bakal buah yang letaknya tenggelam, tetapi sulit sekali menghasilkan biji.
Hampir seluruh bagian tanaman kencur mengandung minyak atsiri (Muhlisah,
1999).
2.2.3. Kandungan Kimia Kencur
Menurut Hargono (1995), kandungan senyawa Kaempferia galanga L., yaitu:
a. Daun : alkaloid, borneol, eucaliptol
b. Rimpang : tanin, saponin, kalsium oksalat, borneol, kamfen, sineol,etil alkohol,
minyak atsiri (2,4%-3,9%) terdiri dari asam transinamat, n-pentadekana, etil p-
metoksisinamat, asam p-metoksisinamat, p-metoksi stirena, p-asam kumarat.
Kandungan senyawa metabolit sekunder dari rimpang kaempferia galanga L.,
yaitu menunjukan adanya senyawa etil trans-sinamat dan etil p-metoksisinamat
aktif sebagai nematisida, etil p-metoksisinamat, etil sinamat dan 3-carene, 2-
propionic acid aktif sebagai penolak nyamuk dan larvisida, etil sinamat sebagai
vasorelaksan, etil p-metoksisinamat sebagai antineoplastik, antimikroba,
antiinflamasi, dan luteolin dan apigenin ssebagai antioksidan (Umar et al.,2011).
2.2. Sediaan Ekstrak
Simplisia banyak mengandung senyawa aktif yang dapat larut dan senyawa yang
tidak dapat larut, seperti serat, karbohidrat, protein, dan lain-lain. Untuk memisahkan
senyawa aktif tersebut maka perlu dilakukan proses ekstraksi. Ekstraksi merupakan
kegiatan atau proses pemisahan bahan dari campurannya dengan menggunakan pelarut
(Agoes, 2007). Ekstrak adalah sediaan kering, kental atau cair dibuat dengan penyari
simplisia menurut cara yang cocok, di luar pengaruh cahaya matahari langsung. Ekstrak
kering harus mudah digerus menjadi serbuk (BPOM RI, 2010).
2.3. Ekstraksi
Ekstraksi adalah suatu proses penyarian senyawa kimia yang terdapat didalam
bahan alam atau berasal dari dalam sel dengan menggunakan pelarut dan metode yang
tepat. Sedangkan ekstrak adalah hasil dari proses ekstraksi, bahan yang diekstraksi
merupakan bahan alam (Hargono, 1986). Pemilihan metode ekstraksi tergantung bahan
yang digunakan, bahan yang mengandung mucilago dan bersifat mengembang kuat hanya
boleh dengancara maserasi. sedangkan kulit dan akar sebaiknya di perkolasi. untuk bahan
yang tahan panas sebaiknya diekstrasi dengan cara refluks sedangkan simplisia yang
mudah rusak karna pemanasan dapat diekstrasi dengan metode soxhlet. (Agoes, 2007).
A. Hal-hal yang dipertimbangkan dalam pemilihan metode ekstraksi (Agoes, 2007):
a. Bentuk/tekstur bahan yang digunakan
b. Kandungan air dari bahan yang diekstrasi
c. Jenis senyawa yang akan diekstraksi
d. Sifat senyawa yang akan diekstraksi
B. Macam – macam metode ekstraksi :
a. Ekstraksi Cara Dingin
Metoda ini artinya tidak ada proses pemanasan selama proses ekstraksi
berlangsung, tujuannya untuk menghindari rusaknya senyawa yang dimaksud
rusak karena pemanasanan. Jenis ekstraksi dingin adalah maserasi dan perkolasi.
a) Maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana. Maserasi dilakukan
dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari.
b) Perkolasi adalah proses penyarian simplisia dengan jalan melewatkan
pelarut yang sesuai secara lambat pada simplisia dalam suatu percolator
(Hargono,1986).
b. Ekstraksi Cara Panas
Metoda ini pastinya melibatkan panas dalam prosesnya. Dengan adanya
panas secara otomatis akan mempercepat proses penyarian dibandingkan cara
dingin. Metodanya adalah refluks, ekstraksi dengan alat soxhlet dan infusa.
a) Refluks : metode ini digunakan apabila dalam sintesis tersebut
menggunakan pelarut yang volatil. Pada kondisi ini jika dilakukan
pemanasan biasa maka pelarut akan menguap sebelum reaksi berjalan
sampai selesai.
b) Sokletasi : adalah suatu metode atau proses pemisahan suatu komponen
yang terdapat dalam zat padat dengan cara penyaringan berulang-ulang
dengan menggunakan pelarut tertentu, sehingga semua komponen yang
diinginkan akan terisolasi. Sokletasi digunakan pada pelarut organik
tertentu (Hargono,1986).
c. Metode Destilasi Uap Air
Metode destilasi uap air diperuntukkan untuk menyari simplisia yang
mengandung minyak menguap atau mengandung komponen kimia yang
mempunyai titik didih tinggi pada tekanan udara normal (Hargono,1986).
2.4. Maserasi
Maserasi merupakan proses penyarian yang paling sederhana dan banyak
digunakan. Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam
cairan penyari. Maserasi adalah sediaan cair yang dibuat dengan cara mengekstraksi
bahan nabati yang direndam menggunakan pelarut bukan air (pelarut non polar) selama
periode waktu tertentu sesuai dengan aturan dalam buku referensi kefarmasian.
Maserasi ini disertai dengan pengadukan pada temperatur ruang (kamar). Metode
ini memiliki keuntungan yaitu cara pengerjaannya yang lebih mudah, alat-alat yang
digunakan sederhana, dan cocok untuk bahan yang tidak tahan pemanasan (Hargono,
1986).
Menurut Hargono dkk. (1986), ada beberapa variasi metode maserasi, antara lain
digesti, maserasi melalui pengadukan kontinyu, remaserasi, maserasi melingkar, dan
maserasi melingkar bertingkat.
a. Digesti merupakan maserasi menggunakan pemanasan lemah (40-50°C).
b. Maserasi pengadukan kontinyu merupakan maserasi yang dilakukan pengadukan
secara terus-menerus, misalnya menggunakan shaker,sehingga dapat mengurangi
waktu hingga menjadi 6-24 jam.
c. Remaserasi merupakan maserasi yang dilakukan beberapa kali. Maserasi melingkar
merupakan maserasi yang cairan pengekstrak selalu bergerak dan menyebar.
d. Maserasi melingkar bertingkat merupakan maserasi yang bertujuan untuk
mendapatkan pengekstrakan yang sempurna.
Lama maserasi memengaruhi kualitas ekstrak yang akan diteliti. Lama maserasi
pada umumnya adalah 4-10 hari. Menurut Voigt (1995), maserasi akan lebih efektif
jika dilakukan proses pengadukan secara berkala karena keadaan diam selama
maserasi menyebabkan turunnya perpindahan bahan aktif. Melalui usaha ini
diperoleh suatu keseimbangan konsentrasi bahan ekstraktif yang lebih cepat masuk
ke dalam cairan pengekstrak. Kelemahan metode maserasi adalah pengerjaannya
lama dan penyarian kurang sempurna. Secara tekhnologi termasuk ekstraksi dengan
prinsip metode pencapaian konsentrasi pada keseimbangan. Maserasi kinetik berarti
dilakukan pengulangan penambahan pelarut setelah dilakukan penyarigan maserat
pertama dan seterusnya (Depkes RI, 2000; Depkes RI, 1995).
2.5. EPMS (etil p-metoksi sinamat)

Gambar : Struktur kimia EPMS (etil p-metoksi sinamat)

Kencur (Kaempferia galangal L.) secara empiris telah diketahui memiliki


efek antiinflamasi. Kandungan utama kencur adalah etil p-metoksisinamat (EPMS)
yang merupakan senyawa ester turunan dari p-metoksisinamat yang di dalam tubuh
mengalami hidrolisis menjadi senyawa aktif biologis, asam p-metoksisinamat (APMS),
senyawa ini bekerja dengan menghambat enzim siklooksigenase, sehingga konversi asam
arakhidonat menjadi prostaglandin terganggu. Selain itu, EPMS termasuk kelompok
fenolik alam dari golongan fenil propanoid yang bermanfaat sebagai tabir surya, senyawa
ini memperlihatkan aktifitas serapan maksimum 308nm (daerah UV-B) dan bersifat
sebagai UV filter sehingga Etil p-metoksisinamat mempunyai perlindungan yang baik
terhadap sinar matahari yang dapat memantulkan dan menghamburkan radiasi sinar UV
terutama UV-B (290-320 nm), kadar senyawa EPMS dalam rimpang kencur ± 25 -30 %
(Soeratri et al, 2014).
2.6. Senyawa Marker
Senyawa marker (penanda) adalah suatu senyawa yang terdapat dalam bahan alam
dan diseleksi untuk keperluan khusus (contoh untuk tujuan identifikasi atau standardisasi)
melalui penelitian. Syarat senyawa dapat ditetapkan sebagai penanda apabila bersifat
khas, mempunyai struktur kimia yang jelas, dapat diukur kadarnya dengan metode analisis
yang biasa digunakan, bersifat stabil, tersedia dan dapat diisolasi.
Senyawa marker (penanda) dapat digolongkan menjadi empat yang didasarkan pada
bioaktifitasnya. Empat golongan ini meliputi senyawa aktif, penanda aktif, penanda
analitik dan penanda negatif.
a. Senyawa aktif adalah senyawa yang diketahui aktifitas secara klinik.
b. Penanda aktif adalah senyawa yang diketahui aktifitas farmakologi dan khasiatnya,
tetapi khasiatnya belum dibuktikan secara klinis.
c. Penanda analitik adalah senyawa yang dipilih untuk determinasi secara kuantitatif.
Senyawa ini dimungkinkan atau tidak aktifitas biologisnya dan dapat membantu
identifikasi positif dari bahan tanaman atau ekstrak tanaman atau digunakan untuk
tujuan standardisasi.
d. Penanda negatif adalah senyawa yang memiliki sifat alergi atau toksik atau
mengganggu bioavailabilitasnya (Patterson, 2006).
Menurut Wahyuono dkk.(2006), idealnya senyawa penanda merupakan senyawa aktif
yang bertanggung jawab terhadap efek farmakologi yang ditimbulkan oleh penggunaan
herba yang bersangkutan. Namun demikian, senyawa khas yang bukan senyawa aktif
dapat pula ditetapkan sebagai penanda. Senyawa penanda merupakan konstituen kimia
dari herba yang telah ditetapkan strukturnya yang digunakan untuk tujuan control kualitas.
Senyawa penanda digunakan manakala konstituen kimia yang bertanggung jawab
terhadap efek terapetik dari tanaman yang bersangkutan belum diketahui.
2.7. Kapsul
Kapsul adalah sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak
yang dapat larut. Cangkang umumnya terbuat dari gelatin; tetapi dapat juga terbuat dari
pati atau bahan lain yang sesuai. Ukuran cangkang kapsul keras bervariasi dari nomor
paling kecil (5) sampai nomor paling besar (000), kecuali ukuran cangkang untuk
hewan. Umumnya ukuran nomor 00 adalah ukuran terbesar yang dapat diberikan kepada
pasien. Ada juga kapsul gelatin keras ukuran 0 dengan bentuk memanjang (dikenal
sebagai ukuran OE), yang memberikan kapasitas isi lebih besar tanpa peningkatan
diameter (Depkes RI, 2014).
Kapsul gelatin keras terdiri atas dua bagian, bagian tutup dan induk. Umumnya, ada
lekuk khas pada bagian tutup dan induk, untuk memberikan penutupan yang baik bila
bagian induk dan tutup cangkangnya diletakkan sepenuhnya, yang mencegah
terbukanya cangkang kapsul yang telah diisi, selama transportasi dan penanganan.
Penutupan sempurna juga dapat dicapai dengan penggabungan bagian tutup dan induk
dengan cara pemanasan langsung atau penggunaan energi ultrasonik. Kapsul cangkang
keras terbuat dari pati terdiri atas bagian tutup dan induk. Karena kedua bagian tersebut
tidak melekat dengan dengan baik, maka bagian-bagian tersebut dilekatkan menjadi satu
pada saat pengisian, untuk menghindari pemisahan. Pelekatan kapsul gelatin cangkang
keras atau pelekatan dengan cairan pada kapsul pati cangkang keras meningkatkan
keamanan karena kapsul sukar dibuka tanpa kerusakan nyata dan meningkatkan
stabilitas isi kapsul dengan membatasi masuknya oksigen. Kapsul cangkang keras dapat
juga mengandung zat warna yang diizinkan atau zat warna dari berbagai oksida besi,
bahan obat seperti titanium dioksida, bahan pendispersi, bahan pengeras seperti sukrosa
dan pengawet. Biasanya bahan bahan ini mengandung air antara 10% dan 15% (Depkes
RI, 2014).
Kapsul cangkang keras biasanya diisi dengan serbuk, butiran atau granul. Butiran
gula inert dapat dilapisi dengan komposisi bahan aktif dan penyalut yang memberikan
profil lepas lambat atau bersifat enterik. Sebagai alternatif, bahan aktif bentuk pelet dan
kemudian disalut. Bahan semipadat atau cairan dapat juga cairan dimasukkan dalam
kapsul, salah satu teknik penutupan harus digunakan untuk mencegah terjadinya
kebocoran. Formulasi serbuk sering membutuhkan penambahan zat pengisi, lubrikan
dan glidan pada bahan aktif untuk mempermudah proses pengisian kapsul. Formulasi
dan metode pengisian, terutama derajat kepadatan, dapat mempengaruhi laju pelepasan
obat. Penambahan bahan pembasah pada massa serbuk, biasa dilakukan jika bahan aktif
bersifat hidrofobik. Disintegran dapat ditambahkan ke dalam formulasi serbuk untuk
memudahkan deagregasi dan dispersi gumpalan kapsul dalam saluran cerna. Formulasi
serbuk sering dapat dibuat melalui pencampuran kering, sedangkan formulasi ruah
membutuhkan densifikasi dengan teknik rol atau teknik granulasi lain yang sesuai
(Depkes RI, 2014).
2.7.1. Keseragaman Bobot Kapsul
1. Cara untuk kapsul yang berisi obat kering
Timbang 20 kapsul. Timbang lagi satu persatu. Keluarkan isi semua
kapsul, timbang seluruh bagian cangkang kapsul, hitung bobot isi kapsul
dan bobot rata-rata tiap isi kapsul. Perbedaan dalam persen bobot isi tiap
kapsul terhadap bobot rata-rata tiap isi kapsul tidak boleh lebih dari yang
ditetapkan kolom A dan untuk tiap 2 kapsul tidak lebih dari yang ditetapkan
kolom B.
Tabel keseragaman bobot kapsul
Perbedaan bobot isi kapsul dalam %
Bobot rata-rata isi kapsul
A B
120 mg atau lebih ± 10 % ± 20 %
Lebih dari 120 mg ± 7,5 % ± 15 %

2. Cara untuk kapsul yang berisi bahan obat cair atau pasta
Timbang 10 kapsul. Timbang lagi satu persatu. Keluarkan semua isi
kapsul, cuci cangkang kapsul dengan eter P. buang cairan, cucian, biarkan
hingga tidak berbau eter. Timbang seluruh bagian cangkang kapsul. Hitung
bobot isi kapsul dan bobot rata-rat tiap isi kapsul. Perbedaan dalam persen
bobot isi tiap kapsul terhadap bobot rata-rata tiap isi kapsul tidak lebih dari
7,5 % (Depkes RI, 1979).
3. Untuk Kapsul yang berisi Obat Tradisional kering
Dari 20 Kapsul, tidak lebih dari 2 Kapsul yang masing-masing bobot
isinya menyimpang dari bobot isi rata-rata lebih besar dari 10% dan tidak
satu Kapsulpun yang bobot isinya menyimpang dari bobot isi rata-rata lebih
besar dari 25% (BPOM RI, 2014).
4. Untuk Kapsul yang berisi Obat Tradisional cair
Tidak lebih dari satu Kapsul yang masing-masing bobot isinya
menyimpang dari bobot isi rata-rata lebih besar dari 7,5% dan tidak satu
Kapsul pun yang bobot isinya menyimpang dari bobot isi rata-rata lebih
besar dari 15% (Perka BPOM RI, 2014).
2.7.2. Penetapan Kadar Kapsul
Penetapan kadar dilakukan untuk memastikan bahwa kandungan zat
berkhasiat yang terdapat dalam kapsul telah memenuhi persyaratan dan sesuai
dengan yang tertera pada etiket. Metode penetapan kadar yang digunakan sesuai
dengan zat aktif yang terkandung dalam sediaan kapsul. Caranya ditimbang 10
20 kapsul, isinya digerus dan bahan aktif yang larut diektraksi dengan
menggunakan pelarut yang sesuai dengan prosedur yang sudah ditetapkan.
Secara umum tentang kadar bahan aktif yang ditentukan berada antara 90 –
110% (Agoes, 2007).
2.8. Kromatografi Fingerprint
Kromatografi fingerprint merupakan suatu teknik kromatografi yang
membandingkan persamaan dan perbedaan komponen-komponen kimia yang ada dalam
ekstrak tanaman dan produknya. Metode ekstraksi dan persiapan sampel merupakan
tahap yang penting fingerprint obat herbal yang berguna untuk efisiensi evaluasi sebagai
kontrol kualitas (Liang et al., 2004).
Metode fingerprint dilakukan dengan melakukan analisis kromatogram dari suatu
spesies tanaman yang aktif secara farmakologis atau hanya melakukan rerata intensitas
puncak– puncak kromatogram dari minimal tiga daerah penghasil spesies tanaman obat
tanpa memperhatikan aspek farmakologis yang ditunjukkan untuk kontrol kualitas saja.
Ada 4 teknik kromatografi yang digunakan untuk pemisahan dan pemurnian kandungan
tumbuhan atau bisa juga dilakukan dengan gabungan dari empat teknik tersebut.
Keempat teknik Kromatografi tersebut yaitu kromatografi kertas, kromatografi lapis
tipis, kromatografi gas cair, dan kromatografi cair kinerja tinggi. Diantara berbagai jenis
teknik kromatografi, kromatografi lapis tipis adalah yang paling cocok untuk analisis
obat di laboratorium farmasi karena hanya memerlukan investasi yang kecil untuk
perlengkapan, waktu analisis relatif singkat, jumlah cuplikan yang diperlukan sedikit,
selain itu kebutuhan ruang minimum serta penanganannya sederhana.
KLT yang dimaksudkan untuk uji kuantitatif salah satunya dengan menggunakan
densitometer sebagai alat pelacak bila cara penotolanya dilakukan secara kuantitatif.
Prinsip kerja dari densitometer adalah adanya pelacakan pada panjang gelombang
maksimal yang telah ditetapkan sebelumnya. Scanning atau pelacakan densitometer ada
dua metode yaitu dengan cara memanjang dan sistem zig-zag. Pada umumnya lebih
banyak digunakan metode zig-zag karena pengukuranya lebih merata serta ketelitian
pengukuran lebih terjamin dibanding pengamatan secara lurus atau memanjang.
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan metode pemisahan fitokimia dan
teknik yang paling cocok untuk analisis. Metode ini hanya memerlukan waktu sedikit
untuk analisis dan jumlah cuplikan yang digunakan sangat sedikit. Lapisan yang
memisahkan terdiri atas bahan berbutir-butir yang disebut fase diam, ditempatkan pada
penyangga berupa plat gelas, logam atau lapisan yang cocok. Campuran yang akan
dipisahkan berupa larutan, ditotolkan pada bercak atau pita. Selain itu plat atau lapisan
diletakkan dalam bejana pengembang yang berisi larutan pengembang (fase gerak),
pemisahan terjadi selama perembatan kapiler (pengembangan). Selanjutnya senyawa
yang tidak berwarna harus ditempatkan atau dideteksi dengan pereaksi deteksi (Stahl,
1985).
Identifikasi dari senyawa-senyawa yang terpisah pada lapisan tipis lebih baik
dikerjakan dengan pereaksi lokasi kimia dan reaksi warna. Tetapi lazimnya untuk
identifikasi menggunakan lampu UV 254 nm dan 366 nm dan bercak dihitung harga Rf-
nya. Angka Rf berjangka antara 0,00 dan 1,99 dan hanya dapat ditentukan dua desimal.
hRf adalah angka Rf dikalikan faktor 100 (h), menghasilkan nilai berjangka 0-100
(Stahl, 1985). Sedangkan pereaksi semprot atau penampak bercak digunakan pada
deteksi senyawa tertentu. Misalnya dalam tanaman yang banyak mengandung flavonoid
menggunakan AlCl3 dan minyak atsiri menggunakan vanilin asam sulfat (Markham,
1988). Penggunaan Kromatografi Lapis Tipis (KLT),yaitu :
a. Analisis Kualitatif Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dapat digunakan untuk uji
identifikasi senyawa baku. Parameter pada Kromatografi Lapis Tipis (KLT) yang
digunakan untuk identifikasi adalah nilai Rf. Dua senyawa dikatakan identik jika
mempunyai nilai Rf yang sama diukur pada kondisi Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
yang sama dengan 3 sistem eluen yang berbeda (Gandjar dan Rohman, 2007).
b. Analisis Kuantitatif Ada 2 cara yang digunakan untuk analisis kuantitatif dengan
Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Pertama, bercak diukur langsung pada lempeng
dengan menggunakan ukuran luas atau dengan teknik densitometri. Cara kedua
adalah dengan mengerok bercak lalu menetapkan kadar senyawa yang terdapat
dalam bercak tersebut dengan metode analisis yang lain, misalkan dengan metode
spektrofotometri (Gandjar dan Rohman, 2007).
Analisis kuantitatif dari suatu senyawa yang telah dipisahkan dengan Kromatografi
Lapis Tipis (KLT) biasanya dilakukan dengan densitometer langsung pada lempeng
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) (atau secara in situ). Densitometer dapat bekerja secara
serapan atau fluoresensi. Kebanyakan densitometer mempunyai sumber cahaya
monokromator untuk memilih panjang gelombang yang cocok, sistem untuk
memfokuskan sinar pada lempeng, pengganda foton, dan rekorder (Gandjar dan Rohman,
2007).
2.9. Tinjauan Densitometri
Densitometri adalah metode analisis instrumental yang berdasarkan interaksi radiasi
elektromagnetik dengan analit berupa bercak pada KLT. Interaksi radiasi
elektromagnetik dengan nota KLT yang ditentukan adalah absorpsi, transmisi, pantulan
(refleksi) pendar fluor atau pemadaman pendar fluor dari radiasi semula. Penentuan
kualitatif analit KLT-Densitometri dilakukan dengan cara membandingkan nilai Rf analit
dan standar. Noda analit yang memiliki Rf sama denga standar diidentifikasi kemurnian
analit dengan cara membandingkan spektrum densitometri analit dan standar. Penentuan
kuantitatif analit dilakukan dengan cara membandingkan luas area noda analit dengan
luas area noda standar pada fase diam yang diketahui konsentrasinya atau menghitung
densitas noda analit dan membandingkannya dengan densitas noda standart.
Densitometri lebih dititikberatkan untuk analisis kuantitatif analit-analit dengan kadar
yang sangat kecil yang perlu dilakukan pemisahan terlebih dahulu dengan KLT.
Densitometri adalah alat pelacak kuantitatif yang sangat terkenal. Alat ini dilengkapi
dengan spektrofotometer yang panjang gelombangnya dapat diatur dari 200-700 nm. Alat
tersebut dinamakan TLC Scanner. Teknik penggunaannya didasarkan pada pengukuran
sinar yang diteruskan, diserap dan dipantulkan atau yang dipendarkan. Sinar yang
dipantulkan mengalami hambatan oleh pendukung lempeng dan keseragaman fase
diamnya. Sinar yang dipantulkan dengan arah yang sudah pasti menuju bercak, maka
arah pantulannya sehingga dapat dipantau jumlah sinar yang diserap. Sinar ini sangat
sensitif, maka untuk setiap senyawa dapat dicari dengan serapan maksimalnya. Susunan
optik densitometer ini tidak banyak berbeda dengan spektrofotometer tetapi pada
densitometer digunakan alat khusus yaitu reflection photomultiflier, sebagai pengganti
photomultiflier pada spektrofotometer yang dapat memperbesar tenaga beda potensial
listrik sehingga mampu menggerakkan integrator.
Densitometri merupakan metode penetapan kadar suatu senyawa pada lempeng
kromatografi menggunakan instrumen TLC-scanner. Pengukuran dilakukan dengan cara
mengukur serapan analit (cahaya yang diukur dapat berupa cahaya yang dipantulkan atau
yang diteruskan), pemadaman fluoresensi untuk lapisan yang mengandung bahan
berfluoresensi analit atau hasil reaksi analit (Gandjar dkk., 2007). Penetapan kadar
dengan menggunakan kombinasi KLT dan Densitometer (KLT Densitometri) cukup
ekonomis karena menggunakan fase gerak yang sedikit, waktu yang relative singkat dan
dapat dilakukan penetapan kadar beberapa sampel secara simultan. Apabila
dibandingkan dengan KCKT maka metode KLT tidak ada batasan fase gerak yang harus
digunakan, sampel yang berupa suspensi atau keruh dapat langsung ditetapkan kadarnya,
lebih cepat dan ekonomis serta memungkinkan penetapan kadar secara simultan
(Yuangsoi dkk., 2008).
2.10. Pemilihan Pelarut
Ekstrak etanol dapat mengidentifikasi senyawa metabolit lebih banyak dari pada
ekstrak air. hal ini dikarenakan ekstrak etanol memiliki kesamaan tingkat kepolaran
dengan senyawa yang didapatkan. Aglikon flavonoid adalah polifenol yang mempunyai
sifat kimia senyawa fenol. Adanya sejumlah gugus hidroksil, flavonoid juga bersifat
polar dan karenanya cukup larut dalam pelarut polar seperti etanol (Markham,1988).
Pemilihan pelarut dipengaruhi oleh :
a. Selektivitas, pelarut hanya boleh melarutkan ekstrak yang diinginkan.
b. Kelarutan, pelarut sedapat mungkin memiliki kemampuan melarutkan ekstrak yang
besar.
c. Kemampuan tidak saling bercampur, pada ekstraksi cair, pelarut tidak boleh larut
dalam bahanekstraksi.
d. Kerapatan, sedapat mungkin terdapat perbedaan kerapatan yang besar antara pelarut
dengan bahan ekstraksi.
e. Keaktiviitas, pelarut tidak boleh menyebabkan perubahan secara kimia pada
komponen bahanekstraksi.
f. Titik didih, titik didih kedua bahan tidak boleh terlalu dekat karena ekstrak dan pelarut
dipisahkan dengan cara penguapan, distilasi dan rektifikasi.
g. Kriteria lain, sedapat mungkin murah, tersedia dalam jumlah besar, tidak beracun,
tidak mudah terbakar, tidak eksplosif bila bercampur udara, tidak korosif, buaka
emulsifier, viskositas rendah dan stabil secara kimia dan fisik (Sutriani,L, 2008).
2.11. Pemilihan Eluen
a. Etil asetat
Etil asetat adalah senyawa organik dengan rumusCH3CH2OC(O)CH3. Senyawa
ini merupakan ester darietanol dan asam asetat. Senyawa ini berwujud cairan tak
berwarna, memiliki aroma khas. Senyawa ini sering disingkat EtOAc, dengan Et
mewakili gugus etil dan OAc mewakili asetat. Etil asetat diproduksi dalam skala besar
sebagai pelarut. Etil asetat adalah pelarut polar menengah yang volatil (mudah
menguap), tidak beracun, dan tidak higroskopis. Etil asetat merupakan penerima ikatan
hidrogen yang lemah, dan bukan suatu donor ikatan hydrogen karena tidak adanya
proton yang bersifat asam (yaitu hidrogen yang terikat pada atom elektronegatif seperti
flor, oksigen, dan nitrogen. Etil asetat dapat melarutkan air hingga 3%, dan larut dalam
air hingga kelarutan 8% pada suhu kamar. Kelarutannya meningkat pada suhu yang
lebih tinggi. Namun demikian, senyawa ini tidak stabil dalam air yang mengandung
basa atau asam (Fessenden dan Fessenden, 1997).
b. N- heksana
n- heksan dibuat dari penyulingan minyak mentah dimana untuk produk
industrinya ialah fraksi yang mendidih pada suhu 65-70 c. Heksana digunakan
dilaboratorium sebagai pelarut minyak atau lemak. (Fessenden dan Fessenden, 1997).
c. Asam Formiat
Sifat Fisika Asam Formiat yaitu memiliki rumus molekul HCOOH, merupakan
turunan pertama Asam karboksilat yang paling kuat dengan gugus molekul yang paling
pendek dibandingkan dengan asam karboksilat yang lain. Asam Formiat termasuk
dalam kategori asam organic, tapi bersifat sangat korosif tidak berwarna. Campuran
asam formiat dan air memiliki titik eutetik yang membeku pada suhu 48,5o C dibawah
nol dengan komposisi 70% berat asam formiat (Fessenden dan Fessenden, 1995).
Ekstrak etanol dapat mengidentifikasi senyawa metabolit lebih banyak dari pada
ekstrak air. hal ini dikarenakan ekstrak etanol memiliki kesamaan tingkat kepolaran
dengan senyawa yang didapatkan. Aglikon flavonoid adalah polifenol yang
mempunyai sifat kimia senyawa fenol. Adanya sejumlah gugus hidroksil, flavonoid
juga bersifat polar dan karenanya cukup larut dalam pelarut polar seperti etanol
(Markham,1988).
Pemilihan pelarut dipengaruhi oleh :
a. Selektivitas, pelarut hanya boleh melarutkan ekstrak yang diinginkan.
b. Kelarutan, pelarut sedapat mungkin memiliki kemampuan melarutkan ekstrak yang
besar.
c. Kemampuan tidak saling bercampur, pada ekstraksi cair, pelarut tidak boleh larut
dalam bahanekstraksi.
d. Kerapatan, sedapat mungkin terdapat perbedaan kerapatan yang besar antara
pelarut dengan bahan ekstraksi.
e. Keaktiviitas, pelarut tidak boleh menyebabkan perubahan secara kimia pada
komponen bahanekstraksi.
f. Titik didih, titik didih kedua bahan tidak boleh terlalu dekat karena ekstrak dan
pelarut dipisahkan dengan cara penguapan, distilasi dan rektifikasi.
g. Kriteria lain, sedapat mungkin murah, tersedia dalam jumlah besar, tidak beracun,
tidak mudah terbakar, tidak eksplosif bila bercampur udara, tidak korosif, buaka
emulsifier, viskositas rendah dan stabil secara kimia dan fisik (Sutriani,L, 2008).
2.12. Parameter Uji
A. Linearitas
Linearitas adalah kemampuan metode anlisis memberikan respon proporsional
terhadap konsentrasi analit dalam sampel. Rentang metode adalah pernyataan
batas terendah dan tertinggi analit yang sudah ditunjukkan dapat ditetapkan
dengan kecermatan, keseksamaan, dan linieritas yang dapat diterima. Linearitas
biasanya dinyatakan dalam istilah varians sekitar arah garis regresi yang dihitung
berdasarkan persamaan matematik data yang diperoleh dari hasil uji analit dalam
sampel dengan berbagai konsentrasi analit. Perlakuan matematik dalam pengujian
linieritas adalah melalui persamaan garis lurus dengan metode kuadrat terkecil
antara hasil analisis terhadap konsentrasi analit (Riyanto, 2104).
Linieritas metode dapat menggambarkan ketelitian pengerjaan analisis suatu
metode yang ditunjukkan oleh nilai koefisien determinasi sebesar > 0,997. Uji
linieritas dilakukan dengan suatu seri larutan standar yang terdiri dari minimal
empat konsentrasi yang berbeda dengan rentang 50 – 150% dari kadar analit dalam
sampel. Parameter hubungan kelinieran yang digunakan yaitu koefisien korelasi
(r) dan koefisien determinasi (R) pada analisis regresi linier y = bx + a (b adalah
slope, a dalah intersep, x adalah konsentrasi analit dan y adalah respon instrumen).
Koefisien determinasi adalah rasio dari variasi yang dijelaskan terhadap variasi
keseluruhan. Nilai rasio ini selalu tidak negatif sehingga ditandai dengan R2.
Koefisien korelasi adalah suatu ukuran hubungan linier antara dua set data dan
ditandai dengan r. Hubungan linier yang ideal dicapai jika a = 0 dan r = +1 atau -
1 merupakan hubungan yang sempurna, tanda + dan – bergantung pada arah garis.
Tanda positif (+) menunjukkan korelasi positif yang ditandai dengan arah garis
yang miring ke kanan, sedangkan tanda negatif (-) menunjukkan korelasi negatif
yang ditandai dengan arah garis yang miring ke kiri (Riyanto, 2104).
B. Akurasi (Accuracy)
Accuracy adalah ukuran yang menunjukkan derajat kedekatan hasil analisis
dengan kadar analit yang sebenarnya. Accuracy dinyatakan sebagai persen
perolehan kembali (recovery) analit yang ditambahkan. Accuracy dapat ditentukan
melalui dua cara, yaitu metode simulasi (spike-placebo recovery) atau metode
penambahan baku (standard additional method). Perhitungan perolehan kembali
dapat ditetapkan dengan rumus sebagai berikut:
𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑡𝑒𝑟𝑢𝑘𝑢𝑟
% 𝑅𝑒𝑐𝑜𝑣𝑒𝑟𝑦 = × 100%
𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟𝑛𝑦𝑎
Dalam metode simulasi, sejumlah analit bahan murni ditambahkan ke dalam
plasebo (semua campuran reagent yang digunakan minus analit), lalu campuran
tersebut dianalisis dan hasilnya dibandingkan dengan kadar standar yang
ditambahkan (kadar yang sebenarnya). Recovery dapat ditentukan dengan cara
membuat sampel plasebo (eksepien obat, cairan biologis) kemudian ditambah
analit dengan konsentrasi tertentu (biasanya 80% sampai 120% dari kadar analit
yang diperkirakan), kemudian dianalisis dengan metode yang akan divalidasi.
Tetapi bila tidak memungkinkan membuat sampel plasebo karena matriksnya
tidak diketahui seperti obat – obatan paten, atau karena analitnya berupa suatu
senyawa endogen misalnya metabolit sekunder pada kultur kalus, maka dapat
dipakai metode adisi (Riyanto, 2104).
Dalam metode adisi (penambahan baku), sampel dianalisis lalu sejumlah
tertentu analit yang diperiksa (pure analit/standar) ditambahkan ke dalam sampel,
dicampur dan dianalisis lagi. Selisih kedua hasil dibandingkan dengan kadar yang
sebenarnya (hasil yang diharapkan) (Riyanto, 2104).
Pada metode penambahan baku, pengukuran blanko tidak diperlukan lagi.
Metode ini tidak dapat digunakan jika penambahan analit dapat mengganggu
pengukuran, misalnya analit yang ditambahkan menyebabkan kekurangan
pereaksi, mengubah pH atau kapasitas kadar. Dalam kedua metode tersebut,
recovery dinyatakan sebagai rasio antara hasil yang diperoleh dengan hasil yang
sebenarnya. Biasanya persyaratan untuk recovery adalah tidak boleh lebih dari
5%. Kesulitan utama dalam evaluasi akurasi adalah fakta bahwa kandungan
sesungguhnya analit yang akan diuji tidak diketahui (Riyanto, 2104).
C. Presisi
Presisi atau precision adalah ukuran yang menunjukkan derajat kesesuaian
antara hasil uji individual, diukur melalui penyebaran hasil individual dari rata-
rata jika prosedur diterapkan secara berulang pada sampel – sampel yang diambil
dari campuran yang homogen. Presisi diukur sebagai simpangan baku atau
simpangan baku relatif (koefisien variasi). Precision dapat dinyatakan sebagai
repeatability (keterulangan) atau reproducibility (ketertiruan).
Repeatibility adalah keseksamaan metode jika dilakukan berulang kali oleh
analisis yang sama pada kondisi sama dan dalam interval waktu yang pendek.
Repeatability dinilai melalui pelaksanaan penetapan terpisah lengkap terhadap
sampel – sampel identik yang terpisah dari batch yang sama, jadi memberikan
ukuran keseksamaan pada kondisi yang normal.
Reproducibility adalah keseksamaan metode jika dikerjakan pada kondisi yang
berbeda. Biasanya analisis dilakukan dalam laboratorium – laboratorium yang
berbeda menggunakan peralatan, pereaksi, pelarut, dan analisis yang berbeda pula.
Analisis dilakukan terhadap sampel – sampel yang diduga identik yang dicuplik
dari batch yang sama. Reproducibility dapat juga dilakukan dalam laboratorium
yang sama dengan menggunakan peralatan, pereaksi, dan analisis yang berbeda
(Riyanto, 2104).
Kriteria seksama diberikan jika metode memberikan simpangan baku relatif
(RSD) atau koefisien variasi (CV) 2 % atau kurang. Akan tetapi kriteria ini sangat
fleksibel tergantung pada konsentrasi analit yang diperiksa, jumlah sampel, dan
kondisi laboratorium. Dari penelitian dijumpai bahwa koefisien variasi meningkat
dengan menurunnya kadar analit yang dianalisis (Riyanto, 2014).
Percobaan keseksamaan dilakukan terhadap paling sedikit enam replikasi
sampel yang diambil dari campuran sampel dalam matriks yang homogen.
Sebaiknya keseksamaan ditentukan terhadap sampel sebenarnya yaitu berupa
campuran dengan bahan pembawa sediaan farmasi (plasebo) untuk melihat
pengaruh matriks pembawa terhadap keseksamaan ini. Demikian juga harus
disiapkan sampel untuk menganalisis pengaruh pengotor dan hasil degradasi
terhadap keseksamaan ini (Riyanto, 2104).
Presisi pengukuran kuantitatif dapat ditentukan dengan menganalisis secara
berulang – ulang (minimal 6 x pengulangan), dan menghitung nilai simpangan
baku (SD) dan dari nilai simpangan baku tersebut dapat dihitng nilai koefisien
variasi dengan rumus :
Gambar 2. Rumus Simpangan Baku dan Koefisien Variasi

Dari nilai KV yang diperoleh dibandingkan dengan KV Horwitz yaitu suatu


kurva berbentuk terompet yang menghubungkan reproducibilitas (presisi yang
dinyatakan sebagai % KV) dengan konsentrasi analit. Presisi metode analisis
diekspresikan sebagai fungsi dari konsentrasi melalui persamaan :

𝐾𝑉 (%) = 21−0,5 log 𝐶


Dimana C merupakan fraksi konsentrasi dan dinyatakan sebagai pangkat dari
10. Presisi suatu metode akan memenuhi syarat apabila KV yang diperoleh dari
percobaan laebih kecil dari KV Horwitz (Riyanto, 2104).
BAB III
PROSEDUR KERJA

3.1. Alat dan bahan

A. Alat A. Bahan
a. Gelas ukur a. Ekstrak kencur
b. Pipet volume b. Etanol 96%
c. Timbangan analitical c. Standar EPMS
d. Labu ukur d. n-heksana
e. Chamber e. etil asetat
f. Ultrasonik f. asam format
g. Plat KLT
h. Densitometri
i. Pipa kapiler

3.2. Prosedur Kerja


A. Pembuatan eluen (Fase gerak)
Eluen yang digunakan adalah n-heksana : etil asetat : asam formiat
(90:10:1).Buatlah eluen sebanyak 101 mL. Masukkan ke dalam chamber.
Homogenkan di dalam chamber dengan cara digoyang-goyang. Apabila volume
eluen terlalu banyak, maka dikurangi. Jangan sampai totolan awal pada
lempeng KLT tercelup di dalam eluen.
B. Pembuatan Larutan Baku
a. Pembuatan Larutan Baku Induk
1. Ditimbang standar EPMS dengan seksama sebanyak 250,0 mg, ditambah
dengan 20 mL etanol 96%, diultrasonik selama 5 menit kemudian ditambah
dengan etanol 96% sampai tepat 50,0 mL. Diperoleh larutan baku induk 1
dengan konsentrasi 5000 ppm (LI 1).
2. Dipipet 4,0 ml LI 1, dimasukkan ke dalam labu ukur 10,0 ml. ditambahkan
etanol 96% sampai garis tanda, kocok ad homogen. Diperoleh larutan baku
induk 2 dengan konsentrasi 2000 ppm (LI 2).
b. Pembuatan Baku Kerja
Larutan Konsentrasi Baku Induk Jumlah yang digunakan
Baku /Baku Kerja
yang diambil

Baku 1 200 ppm 5,0 ml baku 3 Ditambah etanol ad 10,0 ml

Baku 2 300 ppm 5,0 ml baku 5 Ditambah etanol ad 10,0 ml

Baku 3 400 ppm 5,0 ml baku 6 Ditambah etanol ad 10,0 ml

Baku 4 500 ppm 5,0 ml LI 1 Ditambah etanol ad 50,0 ml

Baku 5 600 ppm 3,0 ml LI 2 Ditambah etanol ad 10,0 ml

Baku 6 800 ppm 4,0 ml LI 2 Ditambah etanol ad 10,0 ml

C. Preparasi Sampel (Sediaan Kapsul Ekstrak Kencur)


a. Sampel untuk penetapan kadar sampel
1. Diambil sacara acak 3 buah sediaan kapsul ekstrak kencur.
2. Dikeluarkan isi dari masing-masing cangkang, kemudian masing-masing
dimasukkan ke dalam labu ukur ukuran 10,0 ml.
3. Masing-masing ditambah pelarut masing-masing sebanyak 5 ml,diultrasonik
selama 5 menit, ditambah etanol 96% sampai 10,0 ml diultrasonik selama 10
menit. Kemudian disaring, filtrat ditampung (beri identitas sampel)
4. Hasil No. 3 dipipet sebanyak 1,0 ml, dimasukkan ke dalam vial bersih dan
kering.
5. Hasil No. 4 ditambah etanol 96% sebanyak 2,0 ml, di ultrasonic selama 5 menit
b. Sampel untuk penentuan recoveri
1. Diambil secara acak 3 buah sediaan kapsul ekstrak kencur
2. Dikeluarkan isi dari masing-masing cangkang, kemudian masing-masing
dimasukkan ke dalam labu ukur ukuran 10,0 ml.
3. Masing-masing ditambah pelarut masing-masing sebanyak 5 ml,diultrasonik
selama 5 menit.
4. Perlakuan no,3 ditambah standar EPMS 500 ppm sebanyak 1,0 ml.
5. Ditambah etanol 96% sampai 10,0 ml, di ultrasonic selama 10 menit.
Kemudian disaring, filtrate ditampung. (beri identitas sampel)
6. Hasil No. 3 dipipet sebanyak 1,0 ml, dimasukkan ke dalam vial bersih dan
kering.
7. Hasil No. 4 ditambah etanol 96% sebanyak 3,0 ml, di ultrasonic selama 5 menit
c. Penotolan sampel dan standar pada plat KLT
Ditotolkan masing-masing sampel (sampel sediaan kapsul dan sampel sediaan
kapsul untuk recoveri) sebanyak 5 µl, sedangkan standar EPMS sebanyak 5 µl pada
plat KLT.

20 cm

0,5 cm

10 cm

2 cm 1,5 cm

1 S1 2 S2 3 S3 4 R1 5 R2 6 R3 1,5 cm

Keterangan :

Jarak antarnoda : 1,5 cm

1, 2, 3 dst : standar EPMS

S1, S2, S3 : Sampel 1, 2, dan 3

R1, R2, R3 : sampel recoveri 1, 2, dan 3


D. Cara Kerja analisis dengan Thin Layer Chromatography (TLC) Scanner
A. Penentuan panjang gelombang maksimum
Plat KLT yang sudah di-scan pada panjang gelombang 254 dan 365 nm, kemudian di-
scan pada panjang gelombang 200-400 nm. Dari sini dapat diketahui pada panjang
gelombang berapa EPMS memberikan absorbanmaksimum. Panjang gelombang
maksimum tersebut yang akan digunakan untuk pengukuran.
B. Penentuan linearitas
Linearitas ditentukan dari larutan standart EPMS pada lempeng KLT, kemudian
dianalisis dengan menggunakan KLT-densitometer pada panjang gelombang
maksimum. Dihitung berapa regresi linear antara kadar dan luas area noda.
C. Penentuan presisi
Untuk menghitung presisi, ditotolkan sampel masing-masing 2uL dan larutan standar
EPMS masing-masing 2 𝜇L pada lempeng KLT.Lempeng ini kemudian dieluasi
dengan fase gerak dan dianalisis menggunakan KLT-densitometer pada panjang
gelombang maksimum.Sehingga dapat dihitung berapa standart deviasi (SD) dan
koefisien variasinya (KV).
D. Penentuan akurasi
Untuk menentukan % recovery, ditotolkan sampel recovery masing-masing 2 𝜇L (lihat
preparasi sampel untuk recovery) dan larutan standar EPMS masing-masing 2 𝜇L pada
lempeng KLT. yLempeng ini kemudian dieluasi dengan fase gerak dan dianalisis
menggunakan KLT-densitometer pada panjang gelombang maksimum.

Kadar yang diperoleh Ct


% recovery = = x 100%
Kadar yang sebenarnya Cp + Cst

Dimana : CT = Kadar EPMS yang diperoleh


Cp = Kadar EPMS dalam sampel
Cst = Kadar standar EPMS yang ditambahkan
Hasil yang telah diperoleh kemudian dihitung standar deviasi (SD) dan
koefisen variasinya (KV).
3.3. Bagan Alir
A. Pembuatan Fase Gerak

Diukur eluen dari n-heksana : etil asetat : asam formiat (90 : 10 : 1) sebanyak 101 ml

Dimasukkan kedalam chamber, digoyang-goyangkan agar homogen.

B. Pembuatan Larutan Baku


a. Pembuatan Larutan Induk
1) Pembuatan larutan baku induk 1

Ditimbang 250 mg standar EPMS

Ditambahkan 20 ml etanol 96%

Di Ultrasonik selama 5 menit

Ditambahkan 50 ml etanol 96%

Larutan induk 1 dengan konsentrasi 5000 ppm (LI 1)


2) Pembuatan larutan baku induk 2

Dipipet 4,0 ml larutan induk 1, dimasukkan ke dalam labu ukur 10,0 ml

Ditambahkan etanol 96% ad garis tanda, dikocok ad homogen

Larutan induk 2 dengan konsentrasi 2000 ppm (LI 2)

3) Pembuatan Baku Kerja


a) Baku Kerja 6

Dipipet 4,0 ml dari LI 2

Dimasukan ke labu 10,0 ml + ethanol 96% ad tanda. Homogenkan

b) Baku Kerja 5

Dipipet 3,0 ml dari LI 2

Dimasukan ke labu 10,0 ml + ethanol 96% ad tanda. Homogenkan


c) Baku Kerja 4

Dipipet 5,0 ml dari LI 1

Dimasukan ke labu 50,0 ml + ethanol 96% ad tanda. Homogenkan

d) Baku Kerja 3

Dipipet 5,0 ml dari Baku 6

Dimasukan ke labu 10,0 ml + ethanol 96% ad tanda. Homogenkan

e) Baku Kerja 2

Dipipet 5,0 ml dari Baku 5

Dimasukan ke labu 10,0 ml + ethanol 96% ad tanda. Homogenkan

f) Baku Kerja 1

Dipipet 5,0 ml dari Baku 4

Dimasukan ke labu 10,0 ml + ethanol 96% ad tanda. Homogenkan


C. Preparasi Sampel
a. Sampel untuk penetapan kadar sampel

Diambil sacara acak 3 buah sediaan kapsul ekstrak kencur.

Dikeluarkan isi dari masing-masing cangkang, kemudian masing-


masing dimasukkan ke dalam labu ukur ukuran 10,0 ml.

Masing-masing ditambah pelarut masing-masing sebanyak 5 ml,diultrasonik selama


5 menit,

ditambah etanol 96% sampai 10,0 ml diultrasonik selama 10 menit. Kemudian


disaring, filtrat ditampung (beri identitas sampel)

Hasil No. 3 dipipet sebanyak 1,0 ml, dimasukkan ke dalam vial bersih dan kering.

Hasil No. 4 ditambah etanol 96% sebanyak 2,0 ml, di ultrasonic selama 5 menit

b. Sampel untuk penentuan recoveri

Diambil sacara acak 3 buah sediaan kapsul ekstrak kencur.

Dikeluarkan isi dari masing-masing cangkang, kemudian masing-


masing dimasukkan ke dalam labu ukur ukuran 10,0 ml.

Masing-masing ditambah pelarut masing-masing sebanyak 5 ml,diultrasonik


selama 5 menit,

Perlakuan no,3 ditambah standar EPMS 500 ppm sebanyak 1,0 ml.

Ditambah etanol 96% sampai 10,0 ml, di ultrasonic selama 10 menit.


Kemudian disaring, filtrate ditampung. (beri identitas sampel)

Hasil No. 3 dipipet sebanyak 1,0 ml, dimasukkan ke dalam vial bersih
dan kering.

Hasil No. 4 ditambah etanol 96% sebanyak 3,0 ml, di ultrasonic selama 5 menit
c. Penotolan sampel dan standar pada plat KLT

Ditotolkan masing-masing sampel (sampel sediaan kapsul dan sampel sediaan


kapsul untuk recoveri) sebanyak 5 µl, sedangkan standar EPMS sebanyak 5 µl
pada plat KLT.

20 cm

0,5 cm

10 cm

2 cm 1,5 cm

1 S1 2 S2 3 S3 4 R1 5 R2 6 R3 1,5 cm

Keterangan :

Jarak antarnoda : 1,5 cm

1, 2, 3 dst : standar EPMS

S1, S2, S3 : Sampel 1, 2, dan 3

R1, R2, R3 : sampel recoveri 1, 2, dan 3

D. Cara Kerja analisis dengan Thin Layer Chromatography (TLC) Scanner


A. Penentuan panjang gelombang maksimum
Plat KLT yang sudah di-scan pada panjang gelombang 254 dan 365 nm, kemudian di-
scan pada panjang gelombang 200-400 nm. Dari sini dapat diketahui pada panjang
gelombang berapa EPMS memberikan absorbanmaksimum. Panjang gelombang
maksimum tersebut yang akan digunakan untuk pengukuran.
B. Penentuan linearitas
Linearitas ditentukan dari larutan standart EPMS pada lempeng KLT, kemudian
dianalisis dengan menggunakan KLT-densitometer pada panjang gelombang
maksimum. Dihitung berapa regresi linear antara kadar dan luas area noda.
C. Penentuan presisi
Untuk menghitung presisi, ditotolkan sampel masing-masing 2uL dan larutan standar
EPMS masing-masing 2 𝜇L pada lempeng KLT.Lempeng ini kemudian dieluasi
dengan fase gerak dan dianalisis menggunakan KLT-densitometer pada panjang
gelombang maksimum.Sehingga dapat dihitung berapa standart deviasi (SD) dan
koefisien variasinya (KV).
D. Penentuan akurasi
Untuk menentukan % recovery, ditotolkan sampel recovery masing-masing 2 𝜇L (lihat
preparasi sampel untuk recovery) dan larutan standar EPMS masing-masing 2 𝜇L pada
lempeng KLT. yLempeng ini kemudian dieluasi dengan fase gerak dan dianalisis
menggunakan KLT-densitometer pada panjang gelombang maksimum.

Kadar yang diperoleh Ct


% recovery = = x 100%
Kadar yang sebenarnya Cp + Cst

Dimana : CT = Kadar EPMS yang diperoleh


Cp = Kadar EPMS dalam sampel
Cst = Kadar standar EPMS yang ditambahkan
Hasil yang telah diperoleh kemudian dihitung standar deviasi (SD) dan koefisen
variasinya (KV).
BAB V
PEMBAHASAN

………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
BAB VI
KESIMPULAN

………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
DAFTAR PUSTAKA

Agoes, Goeswin. 2007. Teknologi Bahan Alam. Bandung : Penerbit ITB.


Barus, R. 2009. Amidasi p-metoksisinamat yang diisolasi dari kencur (Kaempferia galanga
L.) [tesis]. Sumatera Utara, program Pascasarjana, Universitas Sumatera Utara.
Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2010. Acuan Sediaan Herbal,
Volume V, Edisi I, 112-117. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia: Jakarta.
Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2014. Peraturan Kepala Badan
Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2014 Tentang Persyaratan
Mutu Obat Tradisional. BPOM: Jakarta.
Cronquist, A. 1981. An Intergrated System of Clasification of Flowering Plants. New York:
Columbia University Press.
DepKes RI, 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia: Jakarta.
DepKes RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia: Jakarta.
DepKes RI. 2014. Farmakope Indonesia Edisi V. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia: Jakarta.
DepKes RI. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Departemen
Kesehatan Republik Indonesia : Jakarta.
Fessenden, R.J. & Fessenden J.S. 1997. Dasar – Dasar Kimia Organik.Diterjemahkan oleh
Maun, S., Anas, A. & Sally, S. Jakarta : Binarupa Aksara.
Gandjar, I. G. & Rohman, A., 2007, Kimia Farmasi Analisis, 323-346, Pustaka
Pelajar, Yogyakarta.
Hargono, Djoko. dkk, 1986, Sediaan Galenik. Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan
Makanan (BPOM). Departemen Kesehatan Republik Indonesia: Jakarta.
Hargono, Djoko dkk. 1995. Materia Medika Indonesia jilid I, Dirjen POM, Jakarta.
Liang, Y., Xieb P., Chan K., 2004, Review : Quality control of herbal medicines, Journal of
Chromatography B, 812 (2004), 53-70
Markham, 1988, Cara Identifikasi Flavonoid, Diterjemahkan oleh Kosasih
Padmawinata, hal 1-20, Penerbit ITB, Bandung.
Muhlisah F. 1999. Temu-temuan dan Empon – empon, Budidaya dan Manfaatnya.
Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Patterson, C.A.,2006. Markers and Natural Health Products, Wellness Ewst
Technology Watch, Canada.
Soeratri , W. dan Tutik, P. 2004. Penambahan asam glikolat terhadap efektifitas sediaan
tabir surya kombinasi anti UV-A dan anti UV-B dalam basis gel. Majalah Farmasi Airlangga.
Stahl, E., 1985, Analisis Obat secara Kromatografi dan Mikroskopi, Edisi terjemahan
(diterjemahkan oleh Kosasih Padmawinata, Iwang Soediro), ITB press, Bandung, 3-18.
Sutriani L. 2008. Ektraksi Pelarut. Available online at
http://medicafarma.blogspot.com/2008/11/ekstraksi.html. Diakses : 20 Agustus 2016.
Riyanto, Ph.D. 2014. Validasi & Verifikasi Metode Uji. Yogyakarta : Deepublish
Umar, M. I., Mohammad, Z. B. A., Amirin, S., Rabia, A., & Muhammad, A. I. 2011.
Phytochemistry and medicinal properties of Kaempferia Galanga L. (zingiberaceae) extracts.
African Journal of Pharmacy and Pharmacology, 5, 14, 1638-1647.
Voigt, R.. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Diterjemahkan oleh Soendani N. S..
UGM Press: Yogyakarta.
Wahyuono,S., Alam, G., Astuti, P., Sari, D., and Hamman, T. M. 2006. Structure
Elucidation of Bioactive Alkaloid Compounds Isolated from Sponge Petrosia sp. Collected from
Bunaken Bay Menado. Indo. J. Chem. 5. p. 177 – 181.
Yuangsoi, B., Jintasataporn, O., Areechon, N and Tabthipwon, P., 2008, Validated TLC-
densitometric analysis for determination of carotenoids in fancy carp (Cyprinus carpio) serum
and the application for pharmacokinetic parameter assessment, Songklanakarin J. Sci. Technol.,
30 (6), 693-700.
LAMPIRAN

Gambar Hasil Pembacaan Instrument Densitometri