Anda di halaman 1dari 37

PROPOSAL KEGIATAN

PERENCANAAN PROGRAM GIZI

HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI DENGAN FAKTOR-FAKTOR


YANG MEMPENGARUHINYA

DOSEN PEMBIMBING :

FATHURRAHMAN, SKM, M.Kes

DISUSUN OLEH :

MAHASISWA DIPLOMA IV JURUSAN GIZI

TINGKAT 3

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN


BANJARMASIN

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV JURUSAN GIXI

2018-2019
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Status gizi buruk merupakan salah satu masalah yang sering terjadi pada
anak terutama di Indonesia. Status gizi seseorang bisa dipengaruhi oleh faktor
langsung dan faktor tidak langsung. Faktor tidak langsung yang dapat
mempengaruhi status gizi salah satunya adalah kesehatan lingkungan.
Menurut Soekirman (2000) penyebab kurang gizi secara langsung adalah
konsumsi makanan tidak seimbang dan penyakit infeksi. Hadirnya penyakit
dalam tubuh akan membawa pengaruh terhadap keadaan gizi anak. Infeksi
akan mempengaruhi nafsu makan anak sehingga anak menolak makanan yang
diberikan. Penolakan terhadap makan berarti berkurangnya asupan zat gizi
dalam tubuh anak, padahal tubuh anak memerlukan masukan yang lebih
banyak sehubungan dengan adanya penghancuran jaringan yang disebabkan
oleh bibit- bibit penyakit itu sendiri maupun penghancuran jaringan untuk
memperoleh protein yang diperlukan untuk pertahanan tubuh, keadaan akan
semakin memburuk bila infeksi itu disertai muntah yang mengakibatkan
hilangnya zat gizi dan cairan, hal tersebut akan mengakibatkan berat badan
anak turun dengan cepat (Pudjiadi, 2001).
Status gizi balita di pengaruhi banyak factor, baik penyebab langsung
maupun tidak langsung. Penyebab langsung yang mempengaruhi status gizi
adalah asupan makanan dan penyakit infeksi yang di derita balita. Sedangkan
penyebab tidak langsung yang mempengaruhi status gizi adalah ketersediaan
pangan, pola asuh anak, kesehatan lingkungan, pendapatan orang tua,
pendidikan orang tua serta perilaku hidup bersih dan sehat keluarga.
Berdasarkan permasalahan di atas maka hal tersebut yang mendasari kami
untuk melakukan penelitian tentang status gizi dan faktor-faktor yang
mempengaruhinya.

1
1.2 Rumusan masalah
Berdasarkan penjelasan dari latar belakang di atas maka untuk membatasi
ruang lingkup permasalahan dalam penelitian ini dibuat rumusan masalah
yaitu :
1.2.1 Apakah ada hubungan antara asupan makanan dengan status gizi
balita di desa X ?
1.2.2 Apakah ada hubungan penyakit infeksi dengan status gizi balita di
desa X?
1.2.3 Apakahada hubungan antara ketersediaan pangan dengan status gizi
balita di desa X?
1.2.4 Apakah ada hubungan pola asuh anak dengan status gizi balita di
desa X?
1.2.5 Apakah ada hubungan antara kesehatan lingkungan rumah tangga
dengan status gizi balita di desa X?
1.2.6 Apakah ada hubungan antara pendapatan keluarga dengan status gizi
balita di desa X?
1.2.7 Apakah ada hubungan antara pengetahuan ibu dengan status gizi
pada balita di desa X?
1.2.8 Apakah ada hubungan antara perilaku hidup bersih dan sehat dengan
status gizi balita di desa X ?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Tujuan umum dari proposal ini adalah untuk mengambarkan status gizi
balita dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Menilai status gizi di desa X


2. Menilai Asupan Makanan Balita di desa X
3. Menilai penyakit infeksi pada balita di desa X
4. Menilai ketersediaan pangan di desa X

2
5. Menilai pola asuh yang diterapkan di suatu keluarga di desa X.
6. Menilai kesehatan lingkungan rumah tangga di desa X
7. Menilai pendapatan keluarga di desa X
8. Menilai pengetahuan ibu tentang gizi dengan status gizi pada balita
di desa X
9. Menilai perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di desa X
10. Menganalisis hubungan antara asupan makanan dengan status gizi
balita di desa X
11. Menganalisis hubungan penyakit infeksi dengan status gizi balita
di desa X
12. Menganalisis hubungan antara ketersediaan pangan dengan status
gizi balita di Desa X
13. Menganalisis hubungan pola asuh anak dengan status gizi balita di
Desa X
14. Menganalisis hubungan antara kesehatan lingkungan dengan status
gizi balita di desa X
15. Menganalisis hubungan pendapatan dengan status gizi pada balita
di desa X
16. Menganalisis hubungan antara pengetahuan ibu tentang gizi
dengan status gizi balita di desaX
17. Menganalisis hubungan antara pendidikan ibu dengan status gizi
pada balita di desa X
18. Menganalisis hubungan antara perilaku hidup bersih dan sehat
(PHBS) dengan status gizi balita di desa X.

1.4 Hipotesis
1. Ada hubungan antara asupan makanan dengan status gizi balita di desa
X.
2. Ada hubungan penyakit infeksi dengan status gizi balita di desa X
3. Ada hubungan antara ketersediaan pangan terhadap status gizi balita di
desa X
4. Ada hubungan pola asuh anak dengan status gizi balita di desa X

3
5. Ada hubungan antara kesehatan lingkungan dengan status gizi balita di
desa X
6. Ada hubungan antara pendapatan dengan status gizi balita di desa X
7. Ada Hubungan antara pengetahuan ibu tentang gizi dengan status gizi
balita di desa X
8. Ada hubungan antara perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan
status gizi balita di desa X.

1.5 Manfaat Penelitian


1.5.1 Bagi Masyarakat
Agar responden dan masyarakat dapat menambah pengalaman dan
meningkatkan pemahaman tentang status gizi balita dan factor-faktor yang
mempengaruhinya
1.5.2 Bagi Akademik
Dapat digunakan sebagai bahan referensi untuk pembangunan
kualitas pendidikan selanjutnya dimasa yang akan datang.
1.5.3 Bagi Instansi Kesehatan
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi bagi
instansi kesehatan khususnya program gizi puskesmas dalam perbaikan
gizi masyarakat

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Status Gizi

1. Definisi Status Gizi


Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan
dan penggunaan zat-zat gizi. Dibedakan anatara status gizi kurang, baik
dan lebih. Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi
makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Dibedakana antara status gizi
buruk, kurang, baik, dan lebih. Konsumsi makanan berpengaruh terhadap
status gizi seseorang. Status gizi baik atau status gizi optimal terjadi bila
tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi yang digunakan secara efisien,
sehingga memungkinkan petumbuhan fisik, perkembangan otak,
kemampuan kerja dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi
mungkin. Status gizi kurang terjadi bila tubuh mengalami kekurangan satu
atau lebih zat-zat esensial. Status gizi lebih terjadi bila tubuh memperoleh
zat-zat gizi dalam jumlah berlebihan, sehingga menimbulkan efek toksis
atau membahayakan. Gangguan gizi terjadi baik pada status gizi toksis
membahayakan. Gangguan gizi terjadi baik pada status gizi kurang,
maupun status gizi lebih. (Almatsier, 2008).
Masalah gizi yang akhir-akhir ini banyak mendapat perhatian adalah
masalah gizi kurang. Status gizi kurang biasanya disebut dengan Kurang
Energi Porotein (KEP). KEP pada dasarnya terjadi karena kurangnya
konsumsi pangan sumber energi yang mengandung zat gizi makro (zat
tenaga, zat pembangun dan lemak).untuk menentukan masalah KEP ini
dapat dilakukan pengukuran antropometri. Dampak yang ditimbulkan
dengan adanya kekurangan gizi pada balita, akan mengalami gangguan
fisik, mental dan aktual. Lebih lanjut gizi buruk pada anak balita
berdampak pada penurunan tingkat kecerdasan. Keadaan status gizi balita

5
sangat dipengaruhi oleh pemberian ASI sebagai sumber makanan utama
(anonim, 2012).
Masalah gizi anak secara garis besar merupakan dampak dari
ketidakseimbangan antara asupan dan keluaran zat gizi (nutritional
imbalance), yaitu asupan yang melebihi keluaran atau sebaliknya, di
samping kesalahan dalam memilih bahan makanan untuk disantap
(Arisman, 2009).

2. Penilaian Status Gizi


Penilaian status gizi terbagi atas penilaian secara langsung dan
penilaian secara tidak langsung. Adapun penilaian secara langsung dibagi
menjadi empat penilaian yaitu antropometri, klinis, biokomia, dan biofisik.
Sedangkan penilaian status gizi secara tidak langsung terbagi atas tiga
yaitu survei konsumsi makanan, statistik vital dan faktor ekologi.
a. Penilaian Secara Langsung, (Mary E, 2009)yaitu:
1) Antropometri
Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh
manusia. Ditinjau dari sudut pandang gizi, maka antropometri
gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi
tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan
tingkat gizi . Antropometri sebagai indikator status gizi dapat
dilakukan dengan mengukur beberapa parameter. Parameter
antropometri merupakan dasar dari penilaian status gizi.
Kombinasi antara beberapa parameter disebut indeks
antropometri (Mary E, 2009).
Menurut Mary E beberapa indeks antropometri yang
sering digunakan yaitu berat badan menurut umur (BB/U) tinggi
badan menurut umur (TB/U), dan berat badan menurut tinggi
badan (BB/TB)
a) Indeks berat badan menurut umur(BB/U)
Merupakan pengukuran antropometri yang sering
dilakukan digunakan sebagai indikator dalam keadaan

6
normal, dimana keadaan kesehatan dan keseimbangan antara
intake dan kebutuhan gizi terjamin. Berat badan memberikan
gambaran tentang massa tubuh (otot dan lemak). Massa tubuh
sangat sensitif terhadap perubahan keadaan yang mendadak,
misalnya terserang infeksi, kurang nafsu makan dan
menurunnya jumlah makanan yang dikonsumsi. BB/U lebih
menggambarkan status gizi sekarang. Berat badan yang
bersifat labil, menyebabkan indeks ini lebih menggambarkan
status gizi seseorang saat ini (Current Nutritional Status)
(Mary E, 2009).
b) Indeks tinggi badan menurut umur(TB/U)
Indeks TB/U disamping memberikan status gizi masa
lampau, juga lebih erat kaitannya dengan status ekonomi.
c) Indeks berat badan menurut tinggi badan(BB/TB)
Berat badan memiliki hubungan yang linear dengan
tinggi badan. Dalam keadaan normal, perkembangan berat
badan akan searah dengan pertumbuhan tinggi badan dengan
kecepatantertentu.
Berbagai indeks antropometri, untuk
menginterpretasinya dibutuhkan ambang batas. Penentuan
ambang batas yang paling umum digunakan saat ini adalah
dengan memakai standar deviasi unit (SD) atau disebut
jugaZ-Skor.
Rumus perhitungan Z-Skor adalah :
Z-Skor = nilai individu subyek – nilai median baku rujukan
Nilai simpang baku rujukan
BB/U :
Gizi Baik :bila nilai Z-Score ≥ -2SD sd +2 SD
Gizi kurang :bila nilai Z-Score <-2 SD sd ≤-3SD
d) Umur
Umur sangat memegang peranan dalam penentuan
status gizi, kesalahan penentuan akan menyebabkan

7
interpretasi status gizi yang salah. Hasil penimbangan berat
badan maupun tinggi badan yang akurat, menjadi tidak berarti
bila tidak disertai dengan penentuan umur yang tepat.
Kesalahan yang sering muncul adalah adanya kecenderungan
untuk memilih angka yang mudah seperti 1 tahun; 1,5 tahun;
2 tahun. Oleh sebab itu penentuan umur anak perlu dihitung
dengan cermat. Ketentuannya adalah 1 tahun adalah 12 bulan,
1 bulan adalah 30 hari. Jadi perhitungan umur adalah dalam
bulan penuh, artinya sisa umur dalam hari tidak
diperhitungkan.
2) Klinis
Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk
menilai status gizi masyarakat. Metode ini didasarkan atas
perubahan- perubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan
ketidak cukupan zat gizi. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel
(suppervicial epithelial tissues) seperti kulit, mata, rambut, dan
mukosa oral atau pada organ- organ yang dekat dengan permukaan
tubuh seperti kelenjar tiroid.
3) Biokimia
Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan
spesimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai
macam jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain :
darah, urin, tinja dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan
otak.
4) Biofisik
Penentuan status gizi secara nonfisik adalah metode penentuan
status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan)
dan melihat perubahan struktur dari jaringan.

b. Penilaian secara tidak langsung, (Arisman, 2009) yaitu:


1) Survei Konsumsi Makanan
Survei konsumsi makanan adalah metode penentuan status gizi

8
secara tidal langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang
dikonsumsi. Anamnesis tentang asupan pangan merupakan satu
tahap penilaian status gizi yang paling sulit dan tidak jarang
membuat penilai frustasi karena berbagai sebab. Pertama, manusia
memiliki sifat lupa sehingga orang sering tidak mampu mengingat
dengan pasti jenis (apalagi jumlah) makanan yang telah disantap.
Kedua, manusia sering mengedepankan gengsi jika diberi tahu
bahwa makanan mereka akan dinilai, pola “pangan” pun dipaksakan
berubah.
Metode survei konsumsi makanan untuk individu antara lain :
a) Metode recall 24jam
Prinsip metode ini yaitu dilakukan dengan mencatat jenis
dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi pada periode 24
jam yang lalu.
b) Metode esthimated food record
Dalam metode ini, responden diminta untuk mencatat
semua makanan yang dikonsumsinya setiap kali sebelum
makan dalam urusan rumah tangga atau menimbang berat
dalam periode tertentu (2-4 hari berturut-turt), termasuk cara
persiapan dan pengolahan makanan tersebut.
c) Metode penimbangan makanan ( foodweighting)
Dalam metode ini responden menimbang dan mencatat
seluruh makanan yang dikonsumsi responden selama satu
hari. Biasanya dilakukan beberapa hari tergantung tujuan,
dana penelitian dan tenaga yang tersedia.
d) Metode dietary history
Metode ini memberikan gambaran tentang pola
konsumsi berdasarkan pengamatan dalam waktu cukup lama
(biasa 1 minggu, 1 bulan atau 1 tahun). Metode ini terdiri dari
3 komponen, yaitu wawancara (termasuk recall 24 jam),
frekuensi penggunaan sejumlah bahan makanan
menggunakan daftar (chek list) untuk mengecek kebenaran

9
recall 24 jam, dan pencatatan konsumsi selama 2-3 hari
sebagai cek ulang.
e) Metode frekuensi makanan (food frequency)
Adalah untuk memperoleh data frekuensi konsumsi
sejumlah bahan makanan atau makanan jadi selama periode
tertentu diperoleh gambaran pola konsumsi bahan makanan.
jadi selama periode tertentu seperti hari, minggu, bulan atau
tahun. Selain itu dengan metode frekuensi makanan dapat
memperoleh gambaran pola konsumsi bahan makanan secara
kualitatif, tapi karena periode pengamatannya lebih lama dan
dapat membedakan individu berdasarkan ranking tingkat
konsumsi zat gizi, maka cara ini paling sering digunakan
dalam penelitian epidemiologi gizi. Kuesioner frekuensi
makanan memuat tentang daftar bahan makanan atau
makanan dan frekuensi penggunaan makanan tersebut pada
periode tertentu. Bahan makanan yang ada dalam daftar
kuesioner tersebut adalah yang dikonsumsi dalam frekuensi
yang cukup sering oleh responden.
Langkah-langkah Metode frekuensi makanan (Laksmi
W, 2009):
1. Membuat kuesioner frekuensi pangan berdasarkan
kebutuhan zat gizi yang diteliti khususnya pangan
sumber vitamin dan mineral tertentu serta kebiasaan
makanmasyarakat
2. Daftar nama makanan dan minuman dibuat berdasarkan
kelompok pangan lalu dibuat kategori respon berapa kali
frekuensi yang ada terhadap daftar nama makanan dan
minuman termasuk suplemen yng sudah dibuat.
Frekuensi pangan yang ditulis berupa berapa kali perhari
hingga berapa kali pertahun, setelah itu dibuat rata-rata
harian
3. Responden diminta untuk memberi tanda pada daftar

10
yang tersedia pada kuesioner mengenai frekuensi
penggunaannya dan ukuran porsinya.
4. Lakukan rekapitulasi tentang frekuensi penggunaan
jenis-jenis bahan makanan terutama bahan makanan
yang merupakan sumber- sumber zat gizi tertentu selama
periode tertentupula.
5. Contoh penggunaan frekuensi makanan misal roti
dikonsumsi dalam seminggu ada tiga kali dan dalam
sehari satu kali, maka frekuensinya sebanyak (3hari x
1kali)/7hari = 0,4 kali perhari. Langkah-langkah
penggunaan kuesioner frekuensi pangan:
a. Melakukan pendekatan pada responden(rapport)
b. Menanyakan kesediaan responden untuk terlibat
dalam penelitian dan konsekuensi dari penelitian
(informed consent dan ethical clearance)
c. Mulai menanyakan kepada subjek dari makanan
pokok atau pangan sumber karbohidrat yang biasa
dikonsumsi setiap hari, setiap minggu, setiap
bulan, atau bahkan sampai satutahun.
d. Mengisikan kolom perhari dengan frekuensi suatu
makanan atau bahan makanan tertentu yang
dimakan dalam satuhari.
e. Semua data nama makanan dan minuman serta
suplemen sudah terisi dengan frekuensi, maka
semua data frekuensi dijadikan dalam hari; berapa
kali perhari. Bila data yang diperoleh dalam
minggu, maka frekuensi dibagi tujuh hari (7 hari),
bila data dalam bulan maka frekuensi dibagi tiga
puluh hari (30hari).

2) Statistikvital

Pengukuran gizi dengan statistik vital adalah dengan


menganalisis data beberapa statistik kesehatan seperti angka

11
kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian sebagai
akibat penyebab tertentu dan data lainnya yang berhubungan
dengangizi.
3) Faktorekologi
Malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi
beberapa faktor fisik, fisiologis dan lingkungan dan budaya. Jumlah
makanan yang tersedia sangat tergantung dari keadaan ekologi
seperti iklim, tanah, irigasi dan lain-lain ( Arisman,2009).

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Status Gizi


Faktor yang menyebabkan kurang gizi telah diperkenalkan UNICEF
dan telah digunakan secara internasional, yang meliputi beberapa tahapan
penyebab timbulnya kurang gizi pada anak balita, baik penyebab langsung,
tidak langsung, dan pokok masalah.
Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi, yaitu
a. Faktor Langsung
Pertama, penyebab langsung yaitu makanan dan penyakit infeksi yang
mungkin diderita.
1) Konsumsi Pangan
Penilaian konsumsi pangan rumah tangga atau secara perorangan
merupakan cara pengamatan langsung yang dapat menggambarkan
pola konsumsi penduduk menurut daerah, golongan sosial ekonomi
dan sosial budaya. Konsumsi pangan lebih sering digunakan sebagai
salah satu teknik untuk memajukan tingkat keadaan gizi (Moehji,
2003).
2) Infeksi
Timbulnya gizi kurang bukan saja karena makanan yang kurang
tetapi juga karena penyakit. Anak yang mendapat makanan yang cukup
baik tetapi sering diserang diare atau demam, akhirnya dapat menderita
gizi kurang. Sebaliknya anak yang makan tidak cukup baik maka daya
tahan tubuhnya (imunitas) dapat melemah, sehingga mudah diserang
penyakit infeksi, kurang nafsu makan dan akhirnya mudah terkena gizi

12
kurang (Soekirman, 2000). Sehingga disini terlihat interaksi antara
konsumsi makanan yang kurang dan infeksi merupakan dua hal yang
saling mempengaruhi.
Menurut Schaible & Kauffman (2007) hubungan antara kurang gizi
dengan penyakit infeksi tergantung dari besarnya dampak yang
ditimbulkan oleh sejumlah infeksi terhadap status gizi itu sendiri.
Beberapa contoh bagaimana infeksi bisa berkontribusi terhadap kurang
gizi seperti infeksi pencernaan dapat menyebabkan diare,
HIV/AIDS,tuberculosis, dan beberapa penyakit infeksi kronis lainnya
bisa menyebabkan anemia dan parasit pada usus dapat menyebabkan
anemia. Penyakit Infeksi disebabkan oleh kurangnya sanitasi dan
bersih, pelayanan kesehatan dasar yang tidak memadai, dan pola asuh
anak yang tidak memadai (Soekirman, 2000).
b. Faktor tidak langsung
Penyebab tidak langsung yaitu ketahanan pangan di keluarga, pola
pengasuhan anak, serta pelayanan kesehatan dan kesehatan
lingkungan. Rendahnya ketahanan pangan rumah tangga, pola asuh anak
yang tidak memadai, kurangnya sanitasi lingkungan serta pelayanan
kesehatan yang tidak memadai merupakan tiga faktor yang saling
berhubungan. Makin tersedia air bersih yang cukup untuk keluarga serta
makin dekat jangkauan keluarga terhadap pelayanan dan sarana kesehatan,
ditambah dengan pemahaman ibu tentang kesehatan, makin kecil resiko
anak terkena penyakit dan kekurangan gizi (Unicef, 1998).
1) Ketersediaan Makanan
Hubungan Status Gizi dengan Ketersediaan pangan dapat
ditunjukkan oleh konsep yang dikeluarkan oleh Unicef bahwa
ketersediaan pangan yang cukup di tingkat rumah tangga akan
mempengaruhi dikonsumsi makanan semua anggota keluarga dan
selanjutnya status gizi yang baik atau seimbang dapat diperoleh tubuh
untuk tumbuh kembang, aktifitas, kecerdasan, pemeliharaan
kesehatan, penyembuhan penyakit dan proses biologis lainnya.

13
Hubungan antara ketersediaan pangan pola konsumsi terhadap
status gizi dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya yaitu
(Dyahdalam dwi wahyu, 2013).
1. Jenis dan banyaknya pangan yang diproduksi dan tersedia
Jika Produksi pangan meningkat dan masyarakat mampu
menjangkau pangan tersebut maka kebutuhan gizi masyarakat
akan terpenuhi.
2. Tingkat pendapatan
Jika tingkat pendapatan masyarakat tinggi, maka daya beli
masyarakat juga akan meningkat sehingga kemampuan
pemenuhan kebutuhan pangan juga akan meningkat dan
kebutuhan gizi masyarakat juga akan terpenuhi
3. Pengetahuan Gizi
Pengetahuan gizi mempengaruhi pola konsumsi
masyarakat.Pola konsumsi masyarakat haruslah mengandung
Unsur 3B (Bergizi, Berimbang, Beragam). Jika pengetahuan
tentang gizi masyarakat tinggi, maka kesadaran akan pentingnya
makan makanan bergizi juga meningkat sehingga kebutuhan gizi
masyarakat juga akan terpenuhi.
2) Pola Asuh
Pola asuh adalah salah satu faktor yang erat kaitannya dengan
tumbuh kembang anak. Pola asuh dalam konteks ini, mencakup
beberapa hal yaitu : perhatian/dukungan ibu terhadap anak, pemberian
ASI atau makanan pendamping pada anak, rangsangan psikososial
terhadap anak, persiapan dan penyimpanan makanan, praktek
kebersihan atau hygiene & sanitasi lingkungan, serta perawatan balita
dalam keadaan sakit seperti mencari tempat pelayanan kesehatan.
(Engle, 1997)

Menurut Engle et al (1997), pola asuh adalah kemampuan dan


masyarakat untuk menyediakan waktu, perhatian dan dukungan dalam
memenuhi kebutuhan fisik, mental, dan sosial dari anak yang sedang
tumbuh dalam anggota keluarga lainnya. Pola asuh dimanifestasikan

14
dalam 6 hal yaitu (1) perhatian atau dukungan untuk wanita seperti
pemberian waktu istirahat yang tepat atau peningkatan asuhan
makanan selama hamil, (2) pemberian ASI dan makanan pendamping
anak, (3) rangsangan psikososial terhadap anak dan dukungan untuk
perkembangan mereka, (4) persiapan dan penyimpanan makanan (5)
praktek kebersihan dan sanitasi lingkungan (6) perawatan anak dalam
keadaan sakit meliputi praktek kesehatan di rumah dan pola pencarian
pelayanan kesehatan (Sunarti, 1989).

Kekurangan gizi pada anak balita dapat terjadi karena


kurangnya pola asuh ibu pada anak balita serta hygiene dan sanitasi
lingkungan yang tidak sehat, prilaku ibu yang kurang baik terhadap
perawatan kesehatan balitanya. Pelaksanaan pengasuhan anak
bertujuan agar anak memiliki kecakapan hidup. Pengasuhan harus
merespon rangsangan yang bersumber dari anak baik dalam
pemberian makanan, kebersihan dan dalam permainan anak (Sunarti
2004).

3) Kesehatan Lingkungan
Menurut Widyati dan Yuliarsih (2002), kesehatan lingkungan
adalah usaha-usaha pengendalian/pengawasan keadaan lingkungan
yang dapat mempengaruhi kesehatan atau yang dapat menimbulkan
hal-hal yang merugikan perkembangan fisik, keseluruhan,dan daya
tahan hidup manusia. Kesehatan lingkungan mencakup aspek yang
sangat luas yang meliputi hampir seluruh aspek kehidupan manusia.
Upaya pengendalian vector tersebut dilaksanakan secara terintegrasi
dengan berbagai upaya pokok dalam pelaksanaan penyehatan dan
pengamanan substansi lingkungan (Depkes, 2010).
Keadaan sanitasi lingkungan yang kurang baik memungkinkan
terjadinya berbagai jenis penyakit antara lain diare, kecacingan dan
infeksi saluran pencernaan. Apabila anak menderita infeksi saluran
pencernaan, penyerapan zat-zat gizi akan terganggu yang
menyebabkan terjadinya kekurangan zat gizi sehingga lingkungan

15
berpengaruh dalam status gizi seseorang. Seseorang yang kekurangan
zat gizi akan mudah terserang penyakit dan pertumbuhan akan
terganggu (Supariasa dkk, 2002).
c. Pokok Masalah
1) Pengetahuan Gizi
Pengetahuan tentang gizi adalah kepandaian memilih makanan
yang merupakan sumber zat-zat gizi dan kepandaian dalam mengolah
bahan makanan. Status gizi yang baik penting bagi kesehatan setiap
orang termasuk ibu hamil, ibu menyusui dan anaknya. Pengetahuan
gizi memegang peranan yang sangat penting dalam penggunaan dan
pemilihan bahan makanan dengan baik sehingga dapat mencapai
keadaan gizi yang seimbang (Suhardjo, 2005).
2) Tingkat Pendapatan
Tingkat pendapatan sangat menentukan bahan makanan yang
akan dibeli. Pendapatan merupakan faktor yang penting untuk
menetukan kualitas dan kuantitas makanan, maka erat gubungannya
dengan gizi (Suhardjo, 2005)
3) Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
Perilaku hidup sehat adalah perilaku-perilaku yang berkaitan
dengan upaya atau kegiatan seseorang untuk mempertahankan dan
meningkatkan kesehatannya (Notoatmodjo, 2003).
Perilaku kesehatan (health behavior) adalah setiap tindakan
yang diambil oleh seorang individu yang berpendapat bahwa dirinya
sehat dengan maksud untuk mencegah terjadinya penyakit atau
mengenalnya pada stadium permulaan (Salan, 2008).
4) Besar Keluarga
Besar keluarga atau banyaknya anggota keluarga berhubungan
erat dengan distribusi dalam jumlah ragam pangan yang dikonsumsi
anggota keluarga (Suhardjo, 2005). Keberhasilan penyelenggaraan
pangan dalam satu keluarga akan mempengaruhi status gizi keluarga
tersebut. Besarnya keluarga akan menentukan besar jumlah makanan
yang di konsumsi untuk tiap anggota keluarga. Semakin besar umlah

16
anggota keluarga maka semakin sedikit jumlah konsumsi gizi atau
makanan yang didapatkan oleh masing-masing
d. Akar Masalah
Sedangkan penyebab mendasar atau akar masalah gizi di atas adalah
terjadinya krisis ekonomi, politik dan sosial termasuk bencana alam, yang
mempengaruhi ketidak-seimbangan antara asupan makanan dan adanya
penyakit infeksi, yang pada akhirnya mempengaruhi status gizi balita
(Soekirman, 2000).

17
Kerangka Teori

Kerangka Konsep

asupan
makana
perilaku
n hidup
penyakit
bersih
infeksi dan
sehat

ketahan status pengeta-


an
gizi huan
pangan

pola pendapa
asuh kesehata -tan
n
lingkung
an

18
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN
Definisi Operasional

Variable Definisi Metode dan Kategori


Alat
Pengukuran
Asupan makanan yang Metode:  Baik : ≥ 100% AKG
Makanan dikonsumsi oleh Food Recall  Sedang : 80 – 99% AKG
balita dalam 24 jam.  Kurang : 70 – 80% AKG
sehari adalah  Defisit : < 70% AKG
bentuk asupan zat Alat:
gizi Energi, Formulir
Protein, Vitamin Food Recall
A, Fe. 24 jam, food
model, dan
DKBM.
Penyakit Penyakit infeksi Metode : (1) Menderita penyakit
infeksi adalah terjadinya Wawancara infeksi : apabila balita
suatu penyakit sedang sakit atau pernah
pada balita akibat Alat : sakit dalam 3 bulan
masuknya kuman Kuesioner terakhir.
atau (2) Tidak menderita
mikroorganisme penyakit infeksi apabila
pathogen tidak pernah sakit dalam
berdasarkan 3 bulan terakhir
catatan atau
informasi yang
diperoleh dari ibu
atau dari dokter
atau petugas

19
kesehatan dalam
3 bulan terakhir
Ketersediaan Kondisi Formulir  Baik : ≥ 100% AKG
Pangan terpenuhinya pencatatan  Sedang : 80 – 99% AKG
pangan di tingkat bahan  Kurang : 70 – 80% AKG
rumah tangga makanan  Defisit : < 70% AKG
yang diukur (Formulir
dengan Food
ketersediaan Account
energi dan protein selama 5
dalam satu hari hari)
Pola Asuh Ibu Pola asuh dalam Kuesioner  Baik : ≥ rata-rata
Terhadap konteks ini, Mengenai  Kurang baik : < rata-rata
Anak mencakup Pola Asuh
perhatian/dukung Ibu
an ibu terhadap Terhadap
anak, pemberian Anak
ASI atau
makanan
pendamping pada
anak, rangsangan
psikososial
terhadap anak,
persiapan dan
penyimpanan
makanan, praktek
kebersihan atau
hygiene &
sanitasi
lingkungan, serta
perawatan balita
dalam keadaan

20
sakit seperti
mencari tempat
pelayanan
kesehatan. (Engle,
1997).
kesehatan Kondisi Metode : Baik :≥ rata-rata
lingkungan lingkungan Wawancara Kurang : ≤ rata-rata
rumah tangga
yang meliputi Alat :
sanitasi, Kuesioner
ketersediaan air,
pengelolaan
jamban, dan
pengelolaan
sampah.
Pendapatan Pendapatan Penghasilan - Rendah, Jika pendapatan
keluarga dalam dari seluruh < Rp. 2.454.000,-
penelitian ini pekerjaan - Tinggi, Jika pendapatan ≥
adalah suatu Rp. 2.454.000,-
tingkat (Sumber,UMP kalsel 2018).
penghasilan yang
diperoleh dari
pekerjaan pokok
dan pekerjaan
sampingan dari
orang tua dan
anggota keluarga
lainnya dalam
satuan Rupiah
dalam jangka
waktu per bulan.

21
Pengetahuan Pemahaman ibu Wawancara a. Kurang baik (skor <
ibu tentang tentang gizi dan median)= 1
gizi kesehatan b.Baik (skor ≥ median)= 2

Pendidikan Pendidikan Wawancara a. Tidak sekolah


ibu formal yang b. SD/sederajat
terakhir yang c. SMP/sederajat
ditamatkan ibu d. SMA/sederajat
dan mempunyai e. Perguruan tinggi
ijazah

Perilaku Perilaku keluarga Wawancara - Baik : ≥ rata-rata


Hidup Bersih yang berkaitan dengan - Kurang : <rata-rata
dan Sehat dengan makanan kuesioner
dan minuman,
kebersihan tubuh,
kebersihan
lingkungan, sakit
dan penyakit,
kebiasaan yang
merusak
kesehatan, dan
hidup yang
teratur.

Status Gizi Status gizi yaitu Antropomet BB/U :


keadaan ri  Gizi Buruk : <-3 SD
keseimbangan  Gizi Kurang : -3SD
tubuh balita sampai <-2SD
akibat  Gizi Baik : -2SD
mengkonsumsi sampai 2SD
makanan yang  Gizi Lebih : >2SD
diukur dengan TB/U :

22
indeks BB/U  Sangat Pendek : <-
,BB/TB,TB/U, 3SD
IMT/U  Pendek : -3SD sampai
-2SD
 Normal : -2SD sampai
2SD
 Tinggi : >2SD
BB/TB :
 Sangat Kurus : <-3SD
 Kurus : -3SD sampai
<-2SD
 Normal : -2SD sampai
2SD
 Gemuk : >2SD
IMT/U :

 Sangat Kurus : <-3SD


 Kurus : -3SD sampai
<-2SD
 Normal : -2SD sampai
2SD
 Gemuk : >2SD

3.2 Desain Penelitian :

Jenis penelitian ini adalah observasi analitik dengan menggunakan


rancangan penelitian Cross Sectional, yaitu suatu pendekatan yang sifatnya
sesaat pada suatu waktu dan tidak diikuti terus menerus dalam kurun waktu
tertentu di Desa Z Kecamatan Y Kabupaten X (Notoadmojo,2002).

1.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh keluarga yang memiliki anak
balita yang berasal dari keluarga yang tinggal di desa X, yaitu berjumlah ...

23
orang balita. Jika ada lebih dari satu anak maka yang diambil adalah anak
yang termuda.

1.2 Sampel
Sampel dalam penelitian iniadalah berjumlah 60 orang balita.Jika ada lebih
dari satu anak maka yang diambil adalah anak yang termuda.

1.3 Responden
Responden dalam penelitian ini adalah Ibu yang mengasuh balita.

1.4 Variabel Penelitian


Variabel penelitian yang digunakan adalah variabel bebas (independen)
dan variabel terikat (dependen)
3.4.1 Variabel bebas (independen)
Variabel bebas (independen) berupa asupan makanan
3.4.2 Variabel terikat (dependen)
Variabel terikat (dependen) berupa status gizi balita.

1.5 Teknik Pengumpulan Data


1.5.1 Metode Pengumpulan data
a. Data Primer

1. Data umum keluarga, nama, alamat, umur, agama suku,


pekerjaan, pendidikan, diperoleh dengan cara wawancara
dengan menggunakan alat ukur kuesioner.
2. Keadaan status gizi balita diperoleh dengan pengukuran
antropometri yaitu dengan menimbang BB, mengukur TB dan
LILA.
3. Asupan makanan diperoleh diukur dengan cara Food Recall
24 jam
4. Penyakit infeksi diperoleh dengan cara memeriksa berdasarkan
catatan atau informasi yang diperoleh dari ibu atau dari dokter
atau petugas kesehatan dalam 3 bulan terakhir

24
5. Ketersediaan pangan dikumpulkan dengan cara food account
selama 5 hari
6. Kesehatan lingkungan dengan cara wawancara menggunakan
kuisioner
7. Pendapatan dikumpulkan dengan cara wawancara
menggunakan kuesioner.
8. Keadaan pengetahuan ibu tentang gizi dan kesehatan diperoleh
dengan cara wawancara menggunakan kuesioner kepada ibu
yang memiliki balita
9. Pendidikan diperoleh dengan cara wawancara menggunakan
kuesioner
10. Data perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) diperoleh dengan
cara wawancara menggunakan kuesioner yang dimodifikasi
dari Skripsi Ria Fitri Rochaeni Tahun 2016.

b. Data Sekunder
Data sekunder meliputi data umum desa yang mencakup data
geografis desa, mata pencaharian, jumlah penduduk, serta agama
dan kepercayaan. Dikumpulkan melalui informasi dari Kantor
Kelurahan Desa X.

1.6 Instrumen Penelitian


Instrumen penelitian adalah alat-alat yang akan digunakan untuk
pengumpulan data.
1) Timbangan berat badan ( dacin )
Alat yang dianjurkan untuk menimbang berat badan balita yaitu timbangan
dacin dengan ukuran maksimum 25 Kg dengan ketelitian alat 0,1 Kg.
2) Alat pengukur Tinggi Badan (Mikrotoa)
Pengukuran tinggi badan untuk anak balita yang sudah dapat berdiri
dilakukan dengan alat pengukur tinggi “mikrotoa” (microtoise) yang
mempunyai ketelitian 0,1 cm.
3) Alat ukur LILA (pita ukur LILA)

25
4) Formulir pencatatan bahan makanan.
Formulir ini berupa pencatatan tertulis yang digunakan untuk memperoleh
data informasi tentang asupan makanan keluarga.

1.7 Teknik Pengolahan Data


a. Status gizi balita

Dengan menggunakan baku standar WHO-NCHS, berdasarkan 3


indikator pengukuran status gizi balita yaitu BB/TB, BB/U, TB/U.
Dapat dikategorikan sebagai berikut :

A. BB/U:
1) Gizi buruk : < - 3SD
2) Gizi kurang : < - 2 SD s/d ≥ - 3 SD
3) Gizi baik : < - 2 SD s/d + 2 SD
4) Gizi lebih: > + 2 SD

Tabel 1.1 Distribusi Status Gizi Responden


Berdasarkan Berat Badan Menurut Umur (BB/U)

Jumlah
No Status Gizi balita (BB/U)
N %

1 Gizi lebih

2 Gizi baik

3 Gizi kurang

4 Gizi buruk

Jumlah

𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑖𝑛𝑑𝑖𝑣𝑖𝑑𝑢 − 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑚𝑒𝑑𝑖𝑎𝑛


𝑍𝑠𝑐𝑜𝑟𝑒𝑇𝐵/𝑈 =
𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑚𝑒𝑑𝑖𝑎𝑛 − 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑠𝑝. 𝑏𝑎𝑘𝑢

B. BB/TB

26
Dengan beberapa kriteria :
a. Gemuk : > 2 SD
b. Normal : > -2 SD s/d 2 SD
c. Kurus : < -2 SD s/d -3 SD
d. Kurus sekali : < -3 SD
Tabel 1.2 Distribusi Status Gizi Responden Berdasarkan
Berat Badan Menurut Tinggi Badan (BB/TB)

Jumlah
No Status Gizi balita (BB/TB)
N %

1 Gemuk

2 Normal

3 Kurus

4 Kurus Sekali

Jumlah

𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑖𝑛𝑑𝑖𝑣𝑖𝑑𝑢 − 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑚𝑒𝑑𝑖𝑎𝑛


𝑍𝑠𝑐𝑜𝑟𝑒𝑇𝐵/𝑈 =
𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑚𝑒𝑑𝑖𝑎𝑛 − 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑠𝑝. 𝑏𝑎𝑘𝑢

C. TB/U

Dengan beberapa kriteria :

a. Tinggi : > 2 SD
b. Normal : > -2 SD s/d 2 SD
c. Pendek : < -2 SD s/d -3 SD
d. Sangat Pendek : < -3 SD

Tabel 1.3 Distribusi Status Gizi Responden Berdasarkan


Tinggi Badan Menurut Umur TB/U)

27
Jumlah
No Status Gizi balita (TB/U)
N %

1 Tinggi

2 Normal

3 Pendek

4 Sangat Pendek

Jumlah

𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑖𝑛𝑑𝑖𝑣𝑖𝑑𝑢 − 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑚𝑒𝑑𝑖𝑎𝑛


𝑍𝑠𝑐𝑜𝑟𝑒𝑇𝐵/𝑈 =
𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑚𝑒𝑑𝑖𝑎𝑛 − 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑠𝑝. 𝑏𝑎𝑘𝑢

D. IMT/U

Dengan beberapa kriteria :


a. Gemuk : > 2 SD
b. Normal : > -2 SD s/d 2 SD
c. Kurus : < -2 SD s/d -3 SD
d. Kurus sekali : < -3 SD
Tabel 1.2 Distribusi Status Gizi Responden Berdasarkan
Berat Badan Menurut Tinggi Badan (IMT/U)

Jumlah
No Status Gizi balita (BB/TB)
N %

1 Gemuk

2 Normal

3 Kurus

4 Kurus Sekali

28
Jumlah

b. Asupan Makanan

Data diperoleh dari hasil wawancara langsung dengan cara


food recall 24 jam kemudian data bahan makanan tersebut
dikonversikan kedalam berat kemudian dibandingkan dengan AKG
dengan kategori :

 Baik : ≥ 100% AKG


 Sedang : 80 – 99% AKG
 Kurang : 70 – 80% AKG
 Defisit : < 70% AKG

Tabel 1.4 Distribusi responden berdasarkan ketersediaan


pangan keluarga.

Tingkat Ketersediaan Jumlah


No.
Pangan Keluarga N %

1. Baik

2. Sedang

3. Kurang

4. Defisit

Jumlah

c. Penyakit Infeksi
Data ini diperoleh dengan cara wawancara menggunakan metode
kuisioner dan observasi serta berdasarkan catatan penyakit balita,
kemudian data dikategorikan menjadi 2, yaitu :

29
a. Menderita penyakit infeksi : apabila balita sedang sakit atau pernah
sakit dalam 3 bulan terakhir.
b. Tidak menderita penyakit infeksi apabila tidak pernah sakit dalam
3 bulan terakhir.

Tabel 1.5 Distribusi Status Gizi Responden Berdasarkan Ada


Tidaknya menderita penyakit infeksi
Jumlah
No. Penyakit Infeksi
N %

1. Menderita penyakit infeksi

Tidak menderita penyakit


2.
infeksi

Jumlah

d. Ketersediaan Pangan Keluarga

1. Data bahan makananyang diperoleh dikonversikan ke


dalam energi dan protein.
2. Menghitung jumlah energi dan proteinyang didapat dengan
membagi selama lima hari, sehingga didapatkan jumlah
ketersediaan energi dan protein rata-rata per hari.
3. Menghitung jumlah AKG seluruh anggota keluarga.
4. Membandingkan jumlah ketersediaan energi dan protein
per hari dengan AKG Keluarga dikali 100%

Angka yang diperoleh tersebut kemudian dikategorikan :

 Baik : ≥ 100% AKG


 Sedang : 80 – 99% AKG
 Kurang : 70 – 80% AKG
 Defisit : < 70% AKG

30
Tabel 1.4 Distribusi responden berdasarkan ketersediaan
pangan keluarga.

Tingkat Ketersediaan Jumlah


No.
Pangan Keluarga N %

1. Baik

2. Sedang

3. Kurang

4. Defisit

Jumlah

e. Pola Asuh
 Memberi Skor pada setiap pertanyaan
 Menjumlahkan semua skor jawaban masing-masing
responden
 Merata-ratakan semua skor responden
 Mengkategorikan skor pola asuh menjadi
Baik : ≥ rata-rata
Kurang baik : < rata-rata

f. Kesehatan Lingkungan
1. Memberi skor pada setiap pertanyaan
2. Menjumlahkan semua skor jawaban masing-masing
responden
3. Merata-ratakan semua skor responden
4. Mengkategorikan skor kesehatan lingkungan menjadi :
Baik : ≥ rata-rata
Kurang : ≤ rata-rata

31
g. Pendapatan
Diolah dengan cara menjumlahkan seluruh pendapatan keluarga
selama 1 bulan , lalu dikategorikan menjadi :
Tinggi : ≥ Rp,2.454.000.,
Rendah :<Rp, 2.454.000.,

h. Tingkat Pengetahuan Ibu


Pengetahuan
 Memberi skor masing – masing jawaban dari responden
dengan cara setiap jawaban yang benar diberi nilai 1,
sedangkan yang salah diberi nilai 0, kemudian dijumlahkan.
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑗𝑎𝑤𝑎𝑏𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟
𝑋 100%
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑜𝑎𝑙

Dikategorikan menjadi :

Baik : > 80% jawaban benar

Sedang : 60-80 % jawaban benar

Kurang : 60 % jawaban benar

Pendidikan

 Pendidikan diolah dengan cara dikategorikan menjadi Tidak


sekolah, sd/sederajat, SMP/sederajat, SMA/sederajat,
perguruan tinggi

i. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat


 Data diberi skor dengan 4 alternatif pilihan jawaban Selalu
(S), Sering (Sr), Kadang-kadang (Kd) dan Tidak Pernah
(TP).

32
Tabel Alternatif Jawaban Kuesioner
Alternatif Pilihan
Pernyataan
S Sr Kd TP
Positif 4 3 2 1
Negatif 1 2 3 4

 Kemudian skor dijumlahkan


 Setelah skor dijumlahkan, kemudian dikategorikan menjadi
Baik : ≥ rata-rata
Kurang : <rata-rata

Tabel 1.4 Distribusi responden berdasarkan perilaku hidup


bersih dan sehat.

Tingkat Perilaku Hidup Jumlah


No.
Bersih dan Sehat N %

1. Baik

2. Kurang

Jumlah

1.8 Rencana Analisis Data


Dari hasil pengolahan data dilakukan analisis dengan cara Univariat dan
cara Bivariat.

1) Analisis Univariat
Analisis ini dilakukan pada masing-masing variable. Hasil ini
berupa distribusi dan persentase setiap variable.
2) Analisis Bivariat

33
Analisis ini digunakan untuk mengetahui hubungan antara variable
bebas dengan variable terikat. Analisis menggunakan software SPSS 18
dengan uji statistic korelasi spearman dengan tingkat signifikansi 95%
(α = 0,05).
Untuk menarik kesimpulan dilakuakn uji statistic untuk mengetahui ada
tidaknya hubungan antara variable yang diteliti dengan menggunakan uji
korelasi rank spearman pada tingkat kepercayaan 95%. Uji korelasi rank
spearman digunakan untuk mencari hubungan atau untuk menguji
signifikansi hipotetsis asosiatif bial amsing-masing variable dihubungkan
berbentuk orgdinal, dan sumber data variable tidak harus sama untuk
menganalisa dnegan rumus :
P = 1 - 6Σbi2
n(n2-1)
(Sugiyono, 2009)
Sehingga didapatkan kaidah sebagai berikut :
H0 : Tidak ada hubungan antara variable bebas (Asupan Makanan) dengan
variable perikat (Status Gizi Balita)
Ha : Ada hubungan antara variable bebas (Asupan Makanan) dengan
variable perikat (Status Gizi Balita)
Alpha (α) 5% (0,05)
a. Apabila P > α maka H0 diterima Tidak ada hubungan antara variable
bebas (Asupan Makanan) dengan variable perikat (Status Gizi Balita)
b. Apabila P ,<α maka H0 ditolak Ada hubungan antara variable bebas
(Asupan Makanan) dengan variable perikat (Status Gizi Balita)
Berdasarkan nilai korelasi yang diperoleh maka apabila :
r = 0,00 – 0,25  tidak ada hubungan atau hubungan lemah
r = 0,26 – 0,50  hubungan sedang
r = 0,51 – 0,75  hubungan kuat
r = 0,76 – 1,00  hubungan sangat kuat / sempurna.
(Sabri dan Sutanto, 2007)

34
DAFTAR PUSTAKA

seputarpengertian.blogspot.com.2017. pengertian asupan makanan dan factor.

35
http://seputarpengertian.blogspot.com/2017/05/pengertian-asupan-makanan-dan-
faktor.html

SeptiariniNuraisah.repository.uinjkt.ac.id.2015. gambaran status gizi dan asupan


protein pada anak usia 13-15 tahun.

http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29534/1/NURAISAH%
20SEPTIARINI-FKIK.pdf

Faradiba.repositori.uin-alauddin.ac.id.2012. Hubungan Antara Pola Makan


Dengan Status Gizi Pada Anak Usia Pra Sekolah Di Wilayah Puskesmas Samata
Kabupaten Gowa
http://repositori.uin-alauddin.ac.id/4872/1/FARADIBA%20E.pdf

depkes.go.id.2013.infodatin gizi.
www.depkes.go.id/download.php?file=download/pusdatin/infodatin/infodatin-
gizi.pdf

Ayu Putri. Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi.


https://www.academia.edu/23736774/FAKTOR_FAKTOR_YANG_MEMPENG
ARUHI_STATUS_GIZI . (Diakses tanggal 29 September 2018)

36