Anda di halaman 1dari 31

MAKALAH KESELAMATAN & KESEHATAN KERJA

IDENTIFIKASI PASIEN SAFETY DI RADIOLOGI

Disusun sebagai salah satu syarat untuk memenuhi Tugas Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Dosen Pengampu: Edy Susanto, SH., S.Si, M.Kes dan Emi Murniati, S.ST, M.Kes

Disusun oleh :

KELOMPOK 2 – 3A

Tikha Kania (P1337430116002)

Glagah Mahardika (P1337430116031)

Iqbal Afriansyah (P1337430116035)

Aselia Safitri (P1337430116038)

Dwiputranti Hidayani (P1337430116050)

Ney Da Onney (P1337430116053)

DIPLOMA III TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI SEMARANG

JURUSAN TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI POLITEKNIK

KESEHATAN KEMENKES SEMARANG

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah penulis ucapkan kepada Allah SWT atas rahmat dan

hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah Keselamatan dan Kesehatan

Kerja dengan judul Identifikasi Pasien Safety di Radiologi”. Penulisan makalah kasus

tersebut bertujuan untuk memenuhi tugas Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Dalam penulisan makalah tersebut penulis menemui beberapa kendala, untuk itu penulis

mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Edy Susanto SH., S.Si, M.Kes dan Ibu Emi Murniati, SST, M.Kes sebagai Dosen

pengampu Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

2. Kedua orang tua yang selalu memberikan dukungan baik moral, spiritual maupun

material.

3. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah

Penulis menyadari dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan, untuk itu

penulis mohon saran dan masukan dari semua pihak yang membangun demi kesempurnaan

makalah ini. Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat untuk mahasiswa dan dijadikan

studi bersama.

Semoga Allah SWT memberi rahmat dan balasan kebaikan kepada semua pihak yang

telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi

pembaca pada umumnya dan mahasiswa Program Studi DIII Teknik Radiodiagnostik dan

Radioterapi Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang pada khususnya.

Semarang, Desember 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................ i

KATA PENGANTAR .............................................................................. ii

DAFTAR ISI............................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN ................................................................. 1

A. Latar Belakang ................................................................. 1


B. Rumusan Masalah ............................................................ 2
C. Tujuan Penulisan .............................................................. 2
D. Manfaat Penulisan ............................................................ 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................ 3

A. Pengertian pasien safety................................................... 3


B. Konsep dasar pasien safety .............................................. 6
C. Standar pasien safety di rumah sakit ................................ 8

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................. 14

A. Hasil Pengamatan Pasien Safety di Radiologi ................. 14


B. Paparan Kasus .................................................................. 18
C. Pembahasan...................................................................... 18
BAB IV PENUTUP .............................................................................. 22

A. Kesimpulan ..................................................................... 22
B. Saran ............................................................................... 22
LAMPIRAN .............................................................................................. 23

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keamanan dan keselamatan pasien merupakan hal mendasar yang

perlu diperhatikan oleh tenaga medis saat memberikan pelayanan kesehatan

kepada pasien. Keselamatan pasien adalah suatu sistem dimana rumah sakit

memberikan asuhan kepada pasien secara aman serta mencegah terjadinya cidera

akibat kesalahan karena melaksanakan suatu tindakan atau tidak melaksanakan

suatu tindakan yang seharusnya diambil. Sistem tersebut meliputi pengenalan

resiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan resiko

pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden, tindak lanjut

dan implementasi solusi untuk meminimalkan resiko (Depkes 2008).

Setiap tindakan pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pasien

sudah sepatutnya memberi dampak positif dan tidak memberikan kerugian bagi

pasien. Oleh karena itu, rumah sakit harus memiliki standar tertentu dalam

memberikan pelayanan kepada pasien. Standar tersebut bertujuan untuk melindungi

hak pasien dalam menerima pelayanan kesehatan yang baik serta sebagai

pedoman bagi tenaga kesehatan dalam memberikan asuhan kepada pasien.

Selain itu, keselamatan pasien juga tertuang dalam undang-undang kesehatan.

Terdapat beberapa pasal dalam undang-undang kesehatan yang membahas secara

rinci mengenai hak dan keselamatan pasien.

Keselamatan pasien adalah hal terpenting yang perlu diperhatikan oleh

setiap petugas medis yang terlibat dalam memberikan pelayanan kesehatan

kepada pasien. Tindakan pelayanan, peralatan kesehatan, dan lingkungan sekitar

1
pasien sudah seharusnya menunjang keselamatan serta kesembuhan dari pasien

tersebut. Oleh karena itu, tenaga medis harus memiliki pengetahuan mengenai

hak pasien serta mengetahui secara luas dan teliti tindakan yang dapat menjaga

keselamatan diri pasien.

B. Rumusan Masalah

Bagaimana pelaksanaan pasien safety di Instalasi Radiologi Rumah Sakit di Jawa

Tengah sesuai dengan pengalaman selama Praktek Kerja Lapangan?

C. Tujuan Penulisan

Tujuan penulis membuat makalah ini adalah sebagai berikut :

a. Tujuan Umun

Memenuhi tugas Keselamatan dan Kesehatan Kerja

b. Tujuan Khusus

Mengidentifikasi dan mengetahui pelaksanaan pasien safety di Instalasi Radiologi

berbagai rumah sakit di Jawa Tengah sesuai dengan pengalaman selama Praktek

Kerja Lapangan

D. Manfaat Penulisan

1. Bagi penulis

Makalah ini digunakan untuk memenuhi tugas mata kuliah Kesehatan dan

Keselamatan Kerja serta mampu dijadikan untuk meningkatkan minat bakat dan

kreatifitas penulis.

2. Bagi pembaca

Makalah ini dapat dijadikan sebagai sarana informasi untuk menambah

wacana pengetahuan mahasiswa dan mahasiswi tentang identifikasi pasien safety.

2
BAB II

TIJNJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Pasien Safety

Menurut Supari tahun 2005, patient safety adalah bebas dari cidera aksidental

atau menghindarkan cidera pada pasien akibat perawatan medis dan

kesalahan pengobatan.

Patient safety (keselamatan pasien) rumah sakit adalah suatu sistem dimana

rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman. Hal ini termasuk : assesment

resiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko

pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insident dan

tindak lanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya

resiko. Sistem ini mencegah terjadinya cedera yang di sebabkan oleh kesalahan

akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang

seharusnya dilakukan (DepKes RI, 2006).

Menurut Kohn, Corrigan & Donaldson tahun 2000, patient safety adalah

tidak adanya kesalahan atau bebas dari cedera karena kecelakaan. Keselamatan

pasien (patient safety) adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan

pasien lebih aman, mencegah terjadinya cidera yang disebabkan oleh kesalahan

akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang

seharusnya diambil. Sistem tersebut meliputi pengenalan resiko, identifikasi dan

pengelolaan hal yang berhubungan dengan resiko pasien, pelaporan dan analisis

insiden, kemampuan belajar dari insiden, tindak lanjut dan implementasi solusi

untuk meminimalkan resiko. Meliputi : assessment risiko, identifikasi dan

pengelolaan hal berhubungan dengan risiko pasien,pelaporan dan analisis insiden,

3
kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya implementasi solusi untuk

meminimalkan timbulnya risiko

a. Tujuan Sistem Patient safety

Tujuan Sistem Keselamatan Pasien Rumah Sakit adalah:

1. Terciptanya budaya keselamatan pasien di Rumah Sakit

2. Meningkatnya akuntabilitas Rumah Sakit terhadap pasie dan masyarakat

3. Menurunnya KTD di Rumah Sakit

4. Terlaksananya program program pencegahan sehingga tidak terjadi

penanggulangan KTD

Sedangkan tujuan keselamatan pasien secara internasional adalah:

1. Identify patients correctly (mengidentifikasi pasien secara benar)

2. Improve effective communication (meningkatkan komunikasi yang efektif)

3. Improve the safety of high alert medications (meningkatkan keamanan dari

pengobatan resiko tinggi)

4. Eliminate wrong site, wrong-patient, wrong procedure surgery (mengeliminasi

kesalahan penempatan, kesalahan pengenalan pasien, kesalahan prosedur

operasi)

5. Reduce the risk of health care- associated infections (mengurangi risiko

infeksi yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan)

6. Reduce the risk of patient harm from falls (mengurangi risiko pasien terluka

karena jatuh)

b. Urgensi Patient safety

Tujuan utama rumah sakit adalah merawat pasien yang sakit dengan

tujuan agar pasien segera sembuh dari sakitnya dan sehat kembali sehingga

tidak dapat ditoleransi bila dalam perawatan di rumah sakit pasien menjadi

4
lebih menderita akibat dari terjadinya risiko yang sebenarnya dapat dicegah,

dengan kata lain pasien harus dijaga keselamatannya dari akibat yang timbul

karena error. Bila program keselamatan pasien tidak dilakukan akan

berdampak pada terjadinya tuntutan sehingga meningkatkan biaya urusan

hukum, menurunkan efisisiensi, dll.

c. Isu, Elemen, dan Akar Penyebab Kesalahan yang Paling Umum dalam Patient

safety :

1. Lima isu penting terkait keselamatan (hospital risk) yaitu :

a. keselamatan pasien

b. keselamatan pekerja (nakes)

c. keselamatan fasilitas (bangunan, peralatan)

d. keselamatan lingkungan

e. keselamatan bisnis

2. Element pasien safety

a. Advers drug events (ADE) / medication errors (ME) (ketidakcocokan

obat/kesalahan pengobatan)

b. Restraint use (kendali penggunaan)

c. Nosocomial infections (infeksi nosokomial)

d. Surgical mishaps (kecelakaan operasi)

e. Pressure ulcers (tekanan ulkus)

f. Blood product safety/administration (keamanan produk

darah/administrasi)

g. Antimicrobial resistance (resistensi antimikroba)

h. Immunization program (program imunisasi)

i. Falls (terjatuh)

5
j. Blood stream-vascular catheter care (aliran darah- perawatan kateter

pembuluh darah)

k. Systematic review, follow-up, and reporting of patient/visitor

incident reports (tinjauan sistematis, tindakan lanjutan, dan

pelaporan pasien/pengunjung laporan kejadian)

3. Most Common Root Causes of Error (Akar Penyebab Kesalahan yang

Paling Umum):

a. Communication problems (masalah komunikasi)

b. Inadequate information flow (arus informasi yang tidak memadai)

c. Human problems (masalah manusia)

d. Patient-related issues (isu berkenaan dengan pasien)

e. Organizational transfer of knowledge (organisasi transfer pengetahuan)

f. Staffing patterns/work flow (pola staf/alur kerja)

g. Technical failures (kesalahan teknis)

h. Inadequate policies and procedures (kebijakan dan prosedur yang

tidak memadai) [AHRQ (Agency for Healthcare Research and

Quality)Publication,2003].

B. Konsep dan Prinsip Pasient Safety

Patient safety adalah pasien bebas dari cedera yang tidak seharusnya

terjadi atau bebas dari cedera yang potensial akan terjadi (penyakit, cedera

fisik/social psikologis, cacat, kematian) terkait dengan pelayanan kesehatan

(KKP-RS,2008). Patient Safety (keselamatan pasien) rumah sakit adalah suatu

system dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman. Hal ini

termasuk : assesment resiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang

berhubungand enganrisiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan

6
belajar dari insiden dan tindak lanjutnya serta implementasi solusi untuk

meminimalkan timbulnya resiko. Sistem ini mencegah terjadinya cedera yang di

sebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak

mengambil tindakan yang seharusnya diambil (DepKes,2006).

1. Kebijakan DepKes tentang keselamatan pasien rumah sakit antara lain:

a. Terciptanya budaya keselamatan pasien dirumah sakit.

b. Meningkatnya akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan

masyarakat.

c. Menurunnya kejadian Tak Diharapkan (KTD).

d. Terlaksananya program pencegahan sehingg tidak terjadi

pengulangan KTD.

2. Kebijakan patient safety di rumah sakit antara lain:

a. Rumah Sakit wajib melaksanakan sistim keselamatan pasien

b. Rumah Sakit wajib melaksanakan 7 langkah menuju keselamatan

pasien.

c. Rumah Sakit wajib menerapkan standart keselamatan pasien.

d. Evaluasi pelaksanaan keselamatan pasien akan dilakukan melalui

program akreditasi rumah sakit.

3. Sistem keselamatan pasien rumah sakit :

a. Pelaporan insiden, laporan bersifat anonim dan rahasia.

b. Analisa, belajar, riset masalah dan pengembangan taxonomy.

c. Pengembangan dan penerapan solusi serta monitoring/evaluasi.

d. Penetapan panduan, pedoman, SOP, standart indikator

keselamatan pasien berdasarkan pengetahuan dan riset.

e. Keterlibatan serta pemberdayaan pasien dan keluarganya.

7
C. Standar Keselamatan Pasien di Rumah Sakit

Tujuh Standar Keselamatan Pasien (mengacu pada “Hospital Patient

Safety Standards” yang dikeluarkan oleh Joint Commision on Accreditation of

Health Organizations, Illinois, USA, tahun 2002), yaitu:Standar I.

Hak pasien

Pasien dan keluarganya mempunyai hak untuk mendapatkan informasi

tentang rencana dan hasil pelayanan termasuk kemungkinan terjadinya

kejadian tak diharapkan.

Kriteria:

a. Harus ada dokter penanggung jawab pelayanan.

b. Dokter penanggung jawab pelayanan wajib membuat rencana pelayanan.

c. Dokter penanggung jawab pelayanan wajib memberikan penjelasan secara

jelas dan benar kepada pasien dan keluarganya tentang rencana dan hasil

pelayanan, pengobatan dan prosedur untuk pasien termasuk kemungkinan

KTD

Standar II Mendidik pasien dan keluarga.

Rumah sakit harus mendidik pasien dan keluarganya tentang kewajiban

dan tanggung pasien dalam asuhan pasien. Keselamatan pasien dalam pemberian

pelayanan dapat di tingkatkan dengan keterlibatan pasien yang merupakan

patner dalam proses pelayanan. Karena itu di rumah sakit harus ada sistem dan

mekanisme mendidik pasien dan keluarganya tentang kewajiban dan tanggung

jawab pasien dalam asuhan pasien.

Kriteria :

a. Memberi informasi yang benar, jelas, lengkap dan jujur.

b. Mengetahui kewajiban dan tanggung jawab pasien dan keluarga.

8
c. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk hal yang tidak dimengerti.

d. Memahami dan menerima konsekuensi pelayanan

e. Mematuhi instruksi dan menghormati peraturan rumah sakit

f. Memperlihatkan sikap menghormati dan tenggang rasa.

g. Memenuhi kewajiban finansial yang disepakati.

Standar III. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan.

Rumah sakit menjamin kesinambungan pelayanan dan menjamin koordinasi

antar tenaga dan antar unit pelayanan.

Kriteria :

a. Terdapat koordinasi pelayanan secara menyeluruh mulai dari saat

pasien masuk, pemeriksaan, diagnosis, perencanaan pelayanan, tindakan

pengobatan, rujukan dan saat pasien keluar dari rumah sakit.

b. Terdapat koordinasi pelayanan yang di sesuaikan dengan kebutuhan pasien

dan kelayakan sumber daya secara berkesinambungan sehingga

pada seluruh tahap pelayanan transaksi antar unit pelayanan dapat berjalan

baik dan lancar.

c. Terdapat koordinasi pelayanan yang mencakup peningkatan komunikasi untuk

memfasilitasi dukungan keluarga, pelayanan keperawan, pelayanan sosial,

konsultasi dan rujukan, pelayanan kesehatan primer dan tindak lanjut lainnya.

d. Terdapat komunikasi dan transfer informasi antar profesi kesehatan

sehingga dapat tercapainya proses koordinasi tanpa hambatan, aman dan

efektif.

Standar IV : Rumah sakit harus mendesain proses baru atau memperbaiki

proses yang ada memonitor dan mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan

9
data menganalisi secara intensif , dan melakukan perubahan untuk meningkatkan

kinerja serta keselamatan pasien.

Kriteria:

a. Setiap rumah sakit harus melakukan proses perencanaan yang baik,

mengacu pada visi, misi, dan tujuan rumah sakit, kebutuhan pasien

petugas pelayanan kesehatan, kaidah klinis terkini, praktik bisnis yang

sehat dan faktor-faktor lain yang berpotensi resiko bagi pasien sesuai

dengan ” langkah menuju keselamatan pasien rumah sakit”

b. Setiap rumah sakit harus melakukan pengumpulan data kinerja antara lain

yang terkait dengan : pelaporan insiden, akreditasi, menejemen

resiko, utilisa mutu pelayanan, keuangan.

c. Setiap rumah sakit harus melakukan evaluasi intensif terkait dengan

semua KTD/KNC, dan secara proaktif melakukan evaluasi suatu proses

kasus resiko tinggi.

d. Setiap rumah sakit harus menggunakan semua data dan informasi

hasil analisis untuk menentukan perubahan sistem yang di perlukan, agar

kinerja dan keselamatan pasien terjamin.

Standar V. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien.

1. Pimpinan mendorong dan menjamin implementasi program keselamatan

pasien secara terintegrasi dalam organisasi melalui penerapan”7 langkah

menuju keselamatan pasien rumah sakit”.

2. Pimpinan menjamin berlangsungnya program proaktif untuk identifikasi

risiko keselamatan pasien dan program menekan atau

mengurangi KTD/KNC.

10
3. Pimpinan mendorong dan menumbuhkan komunikasi dan koordinasi antar

unit dan individu berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang

keselamatan pasien

4. Pimpinan mengalokasikan sumber daya yang akuat ntuk mengukur,

mengkaji dan meningkatkan kinerja rumah sakit serta meningkatkan

keselamatan pasien.

5. Pimpinan mengukur dan mengkaji efektifitas kontribusinya dalam

meningkatkan kinerja Rumah Sakit dan keselamatan pasien.

Kriteria :

a. Terdapat tim antar disiplin untuk mengelola program keselamatan pasien.

b. Tersedia program proaktif untuk identifikasi risiko keselamatan

dan program meminimalkan insiden, yang mencakup jenis kejadian

yang memerlukan perhatian, mulai dari KNC(Near miss) sampai dengan

KTD(Adverse event).

c. Tersedia mekanisme kerja untuk menjamin bahwa semua

komponen dari rumah sakit terintegrasi dan berpartisipasi dalam

program keselamatan pasien.

d. Tersedia prosedur ”cepat tanggap” terhadap insiden, termasuk

asuhan kepada pasien yang terkena musibah, membatasi risiko pada orang

lain dan penyampaian informasi yang benar dan jelas untuk

keperluan analisis.

e. Tersedia mekanisme pelaporan internal dan eksternal berkaitan

dengan insiden termasuk penyediaan informasi yang benar danjelas

tentang analisis akar masalah (RCA) kejadian pada saat

programkeselamatan pasien mulai di laksanakan.

11
f. Tersedia mekanisme untuk menangani berbagai jenis insiden atau

kegiatan proaktif untuk memperkecil resiko, termasuk mekanisme

untuk mendukung staf dalam kaitan dengan kejadian.

g. Terdapat kolaburasi dan komunikasi terbuka secara sukarela antar unit dan

antar pengelola pelayanan di dalam Rumah Sakit dengan pendekatan antar

disiplin.

h. Tersedia sumber daya dan sistem informasi yang di butuhkan

dalam kegiatan perbaikan kinerja rumah sakit dan perbaikan

sumber daya tersebut.

i. Tersedia sasaran terukur dan pengumpulan informasi menggunakan criteria

obyektif untuk mengevaluasi efektifitas perbaikan kinerja rumah sakit

dan keselamatan pasien, termasuk rencana tindak lanjut dan

implementasinya.

Standar VI. Mendidik staf tentang keselamatan pasien.

1. Rumah sakit memiliki proses pendidikan, pelatihan dan orientasi

untuk setiap jabatan mencakup keterkaiatan jabatan dengan keselamatan

pasien secara jelas.

2. Rumah sakit menyelenggarakan program pendidikan dan pelatihan yang

berkelanjutan untuk meningkatkan dan memelihara kompetensi staf serta

mendukung pendekatan inter disiplin dalam pelayanan pasien.

Kriteria:

a. Setiap rumah sakit harus memiliki program pendidikan, pelatihan dan

orientasi bagi staf baru yang memuat topik tentang keselamatan pasien

sesuai dengan tugasnya masing-masing.

12
b. Setiap rumah sakit harus mengintegrasikan topik keselamatan

pasien dalam setiap kegiatan inservice training dan memberi pedoman

yang jelas tentang pelaporan insiden.

c. Setiap rumah sakit harus menyelenggarakan pelatihan tentang

kerjasama

d. kelompok guna mendukung pendekatan interdisiplin dan kolaburati

dalam rangka melayani pasien.

Standar VII. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamataan

pasien

1. Rumah sakit merencanakan dan mendesain proses manajemen

informasi keselamatan pasien untuk memenuhi kebutuhan informasi

internal dan eksternal

2. Transmisi data dan informasi harus tepat waktu dan akurat.

Kriteria:

a. Perlu di sediaka anggaran untuk merencanakan dan mendesain proses

manajemen untuk memperoleh data dan informasi tentang hal-hal terkait

dengan keselamatan pasien

b. Tersedia mekanisme identifikasi masalah dan kendala komunikasi untuk

merevisi m anajemen informasi yang ada.

13
BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan Pasien Safety di Radiologi

1. Surat Permintaan Foto/ Radiologi

Pasien safety yang dilaksanakan di Instalasi Radiologi dimulai dari

penerimaan pasien oleh radiografer dengan membawa surat permintaan radiologi,

dibaca, dan diteliti dengan baik oleh radiografer. Penyesuaian identitas di surat

permintaan dengan pasien atau keluarga pasien secara langsung meliputi nama,

alamat, tempat dan tanggal lahir beserta keluhan yang dirasakan.

2. Inform Consent

Untuk pemeriksaan radiografi konvensional dengan kontras maupun

pemeriksaan CT-Scan dengan kontras, dilakukan inform consent atau lembar

persetujuan antara dokter/radiografer pemegang dengan pasien dan keluarga pasien

tentang bagaimana pemeriksaan dilakukan, obat yang akan dimasukkan, risiko obat,

pemasukan obat, dan fungsi obat itu sendiri secara lengkap kepada pasien dan

keluarga pasien secara jelas serta anamnase alergi pasien juga dilakukan oleh

radiografer pemegang.

3. Peringatan Pasien Hamil

14
Tanda ini diletakkan di depan pintu ruangan pemeriksaan CT-Scan atau

pemeriksaan yang membutuhkan dosis radiasi yang tinggi. Hal ini dimaksudkan untuk

menghindari paparan radiasi yang tinggi untuk fetus atau ibu hamil dan mencari solusi

yang lain apabila bisa dilakukan pemeriksaan radiologi yang dapat dilakukan selain

pemeriksaan beradiasi tinggi tersebut.

4. Desain Ruang dan Indikator Lampu Merah Tanda Pemeriksaan Berlangsung

Desain ruangan yang menggunakan timbal di setiap sisinya, begitu pula untuk

daun pintu harus dilapisi dengan Pb. Indikator lampu merah sebagai tanda

pemeriksaan berlangsung bertujuan untuk menghindari intervensi dari orang yang

tidak seharusnya masuk ketika pemeriksaan berlangsung seperti keluarga pasien,

karyawan cleaning service, staf radiologi, maupun petugas radiologi itu sendiri.

5. Tanda Ada Radiasi

Terdapatnya tanda radiasi ini dimaksudkan untuk keluarga pasien atau pun

pengunjung yang tidak berkepentingan dalam pemeriksaan radiologi dapat mengerti

bahwa dalam ruang lingkup itu terdapat radiasi yang dapat membahayakan diri

mereka. Tanda-tanda ini biasa dipasang di depan pintu pemeriksaan ataupun di depan

Instalasi Radiologi dimana tulisan terlihat jelas dan dapat dibaca oleh banyak orang.

15
6. Penanganan Risiko Pasien Jatuh

Pemakaian tanda ini dimaksudkan untuk pasien maupun keluarga ataupun

pengunjung dapat berhati-hati saat melewati daerah yag terdapat tanda tersebut

dikarenakan daerah tesebut biasanya daerah licin, menurun, dan sebagainya.

7. Tanda Jalur Evakuasi

Jalur evakuasi ini dimaksudkan untuk apabila terdapat kejadian yang tidak

diinginkan seperti gempa bumi, kebakaran, dan bencana alam lainnya, pengunjung

rumah sakit dapat segera keluar melalui jalan yang bertanda jalur evakuasi ini. Jalur

atau jalan yang bertanda ini biasanya mudah diakses dan mempunyai jarak yang dekat

atau pendek untuk mencapai ruangan bebas atau di luar gedung.

8. Bed Carry

9. Prosedur Tetap Proteksi Radiasi untuk Pasien

Berikut prosedur tetap proteksi radiasi untuk pasien di Instalasi Radiologi RSUD dr.

R. Soedjati Soemodiardjo Purwodadi Kabupaten Grobogan:

a. Pada saat melakukan pemotretan pergunakan diafragma sesuai obyek yang

difoto/disinari

b. Pengaturan jarak pemotretan yang sesuai standar pemotretan

16
c. Pergunakan faktor eksposi yang sesuai standar sehingga tidak terjadi

pengulangan foto

d. Berikan informasi awal sebelum dilakukan tindakan pemeriksaan sehingga

pasien dapat bekerja sama dengan petugas

e. Berikan proteksi pada organ yang sensitive / reproduksi sepanjang tidak

mengganggu pemeriksaan

f. Setelah selesai kembalikan apron pada tempat yang sudah disediakan

10. Prosedur Tetap Proteksi Radiasi untuk Pendamping Pasien

Prosedur tetap proteksi radiasi untuk pendamping pasien di Instalasi Radiologi

RSUD dr. R. Soedjati Soemodiardjo Purwodadi Kabupaten Grobogan adalah dengan

menggunakan apron untuk meminimalkan paparan radiasi yang diterima pendamping

pasien tersebut. Berikut prosedur tetapnya:

a. Pada saat melakukan pemotretan yang perlu pendamping, maka radiografer

harus memberikan informasi/ prtunjuk cara pemakaian apron agar tidak

terbalik atau keliru

b. Diinformasikan kepada pendamping bahwa pelindung diri / apron harus

dipamkai agar aman

c. Setelah selesai pendamping dibantu melepaskan apron

d. Kembalikan apron pada tempatnya agar tidak mudah rusak

11. Rencana Penanggulangan Keadaan Darurat

Jika terjadi keadaan darurat, manajemen RSUD dr. R. Soedjati Soemodiardjo

Purwodadi Kabupaten Grobogan telah menetapkan prosedur penanggulangan keadaan

darurat yaitu dengan mematikan panel kendali pesawat, mencabut sakelar,

memutuskan aliran listrik, mencatat detail posisi, arah berks, dan kondisi eksposi.

17
Petugas akan memberitahu kepada PPR. Rekaman kejadian akan dibuat dalam bentuk

laporan kejadian dan disampaikan ke BAPETEN.

B. Paparan Kasus

Seorang pasien anak berumur 5 tahun berjenis kelamin perempuan bernama

An. R datang ke Instalasi Radiologi bersama kedua orang tuanya membawa lembar

pemeriksaan radiologi yang bertuliskan pemeriksaan CT-Scan kepala dengan

diagnosa CKR yang dikirimkan oleh dokter spesialis saraf. Keluhan yang dialami

adalah terus menerus muntah dan merasa pusing. Kondisi umum pasien masih baik,

masih bisa berjalan. Namun, saat akan dilakukan pemeriksaan, pasien merasa

ketakutan akan pemeriksaannya.

C. Pembahasan

Ketepatan identifikasi pasien sebelum dilakukan melalui pengecekan nama,

nomor RM, tempat dan tanggal lahir, alamat selalu dilakukan agar tidak terjadi

kesalahan. Tidak lupa dilakukan anamnase singkat dengan pasien bertujuan untuk

menyesuaikan antara diagnosa, keluhan dan dengan proyeksi foto yang akan

dilakukan. Ketepatan identifikasi ini sangat penting dikarenakan apabila terjadi

kesalahan dalam pemotretan ataupun dengan identitas pasien menjadi kesalahan fatal

apabila sampai salah dalam diagnosis dan tindakan dokter selanjutnya.

Inform consent harus selalu dilakukan untuk pemeriksaan intervensi atau

pemeriksaan yang memasukkan media atau benda lain ke dalam tubuh pasien. Inform

consent ini dilakukan di radiologi sebelum pemeriksaan dengan memasukkan media

kontras sebagai penyangat gambar ke dalam tubuh pasien. Inform consent ini berisi

tentang riwayat alergi pasien beserta tanda tangan dari dokter radiologi dengan

pendamping pasien. Tujuan inform consent ini dilakukan agar apabila nantinya terjadi

18
kejadian alergi atau apapun yang berkaitan dengan media kontras akan dapat

dipertanggungjawabkan.

Peringatan tanda ibu hamil harap lapor ke petugas sudah dengan jelas untuk

melindungi janin yang ada yang dimana apabila dilakukan pemeriksaan akan

mengakibatkan dampak buruk bagi janin sehingga sebaik-baiknya ibu hamil untuk

tidak harus menunggu di sekitar instalasi radiologi atau apabila melakukan

pemeriksaan radiologi diharuskan konsultasi dahulu mencari jalan keluar untuk dapat

melakukan pemeriksaan lainnya selain radiologi mengingat janin sangat rentan

terkena radiasi yang ditakutnya akan menyebabkan perubahan fisiologi pada balita.

Kondisi kamar pemeriksaan yang menggunakan Pb di setiap dinding kamar

dan di daun-daun pintu untuk mencegah radiasi hambur keluar dari ruang

pemeriksaan dimana luar ruang pemeriksaan masih terdapat pengunjung yang tidak

seharusnya terkena radiasi hambur. Pemasangan tanda radiasi di bagian depan

instalasi radiologi dan di tempat tempat instalasi radiologi yang mudah dilihat banyak

pengunjung dimaksudkan agar pengunjung lebih baik menjauh keluar instalasi apabila

tidak berkepentingan. Tanda ini dipasang dengan warna merah yang mencolok dan

skema yang mudah dipahami oleh pembaca dan diletakkan di tempat yang mudah

dilihat oleh pengunjung maupun pasien. Pemasangan dan dihidupkannya lampu

merah sebagai tanda dimulai pemeriksaan juga diharapkan memberi tahu pengunjung

atau pendamping bahwa pemeriksaan dengan radiasi sedang berlangsung.

Pemberian simbol resiko jatuh dan jalur evakuasi dimaksudkan agar pasien

dapat lebih mengerti mengenai daerah yang bersimbol tersebut. Simbol resiko jatuh

dimaksudkan agar tidak ada kejadian jatuh pengunjung maupun pasien yang

ditakutkan akan menambah cedera yang tidak diinginkan bagi pasien ataupun

pengunjung. Tanda jalur evakuasi dilakukan untuk dapat menyelamatkan pasien dan

19
pengunjung dengan melewati jalur evakuasi yang dimana jalur ini menghubungkan

daerah lapang dan mudah untuk menemukan jalan keluar untuk menghindari atau

menjauh dari sumber bahaya.

Pasien safety di Instalasi Radiologi lainnya adalah penetapan prosedur tetap

proteksi radiasi untuk pasien ataupun pendamping pasien. Dengan pembatasan daerah

kolimasi, menghindari pemotretan foto, pengaturan jarak pemotretan diharapkan

radiasi yang diterima pasien dapat optimal atau sebisa mungkin menjadi lebih kecil

begitu pula untuk pendamping pasien diharuskan untuk menggunakan apron agar

radiasi yang diterima juga dapat berkurang.

Prosedur tetap apabila dalam keadaan darurat juga disediakan untuk dapat

melakukan segera mungkin sesuai prosedur agar tujuan menyelamatkan pengunjung,

pasien, pesawat radiologi dan barang dapat terselamatkan dengan cepat tanpa rusak

suatu apapun.

Pada kasus yang telah dipaparkan, identifikasi pasien safety antara lain:

1. Lembar permintaan pemeriksaan radiologi

a. Memastikan benar identitas pasien di lembar permintaan dengan bertanya

langsung kepada orang tua pasien

b. Sesuai dengan asas Justifikasi, walaupun radiasi CT-Scan memang besar tetapi

pemeriksaan yang bisa menegakkan diagnosa pasien berkaitan dengan keluhan

yang dialami adalah CT-Scan

c. Menanyakan kembali dan memberitahu orangtua pasien mengenai cara, tujuan

dan risiko pemeriksaan, biaya pemeriksaan dsb

2. Persiapan Pemeriksaan

a. Memastikan kembali benar identitas pasien di lembar permintaan dengan

bertanya langsung kepada orang tua pasien

20
b. Bekerja sama dengan orang tua pasien untuk menenangkan pasien dan

membujuk pasien agar bisa dilakukan pemeriksaan

c. Melepaskan seluruh benda logam di sekitar kepala pasien

d. Memberi proteksi radiasi terhadap kedua orang tua pasien yaitu dengan

dikenakan apron

e. Menanyakan apakah ibu dari pasien sedang dalam keadaan hamil

f. Memberi pasien body strap agar tidak bergerak dan menghindari risiko jatuh

g. Memberitahukan kedua orang tua memegang tangan pasien tetapi juga

memberitahu agar tidak berada di sekitar kepala pasien dan sejauh mungkin

berdiri dari gantry

h. Memberitahukan tentang pergerakan tabung kepada pasien dan orang tua

pasien dan apa yang harus dilakukan saat meja bergerak

i. Menutup dengan rapat pintu ruangan CT-Scan

3. Saat pemeriksaan

a. Menggunakan scan parameter yang biasanya CT-Scan kepala rutin menjadi

CT-Scan Kepala anak

b. Menggunakan waktu scanning yang cepat

4. Post pemeriksaan

a. Membantu melepaskan body strap pasien dan apron yang dikenakan oleh

kedua orang tua

b. Menginstruksikan apa yang harus dilakukan setelah pemeriksaan selesai

21
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari uraian hasil dan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa pasien

safety di Instalasi Radiologi dimulai dengan desain instalasi itu sendiri meliputi desain

ruangan yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, pemasangan tanda radiasi

yang dapat terbaca dengan jelas oleh pengunjung dan pasien, pemasangan tanda ibu hamil

dilarang masuk atau ibu hamil diharap lapor ke petugas. Masuk dalam pemeriksaan

dengan menyesuaikan dengan tepat dan teliti antara lembar permintaan foto dengan

anamnase kepada pasien secara langsung agar didapatkan ketepatan dalam foto maupun

diagnosis. Inform consent juga diperlukan apabila melakukan pemeriksaan dengan

menggunakan media kontras. Pemasangan simbo-simbol safety untuk pengunjung seperti

lampu merah tanda pemeriksaan berlangsung, simbol resiko jatuh dan simbol jalur

evakuasi dimaksudkan untuk perlindungan pengunjung maupun pasien. Penggunaan

apron saat pendamping pasien diharuskan untuk ikut dalam pemeriksaan pasien termasuk

pasien safety.

B. Saran

Setiap rumah sakit masih terdapat kekurangan entah dari prosedur tetap,

simbol keselamatan pasien, dan kekurangan dalam melakukan suatu prosedur

diharapkan dapat melengkapinya sesuai dengan aturan yang sudah ditetapkan oleh

BAPETEN.

22
LAMPIRAN

23
LAMPIRAN

(INFORM CONSENT)

24
LAMPIRAN

(INFORM CONSENT)

25
LAMPIRAN

(PROSEDUR TETAP PROTEKSI RADIASI UNTUK PASIEN)

26
27
28

Anda mungkin juga menyukai