Anda di halaman 1dari 26

UNIVERSITAS JEMBER

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN LIPOMA


SUPRACLAVICULA SINISTRA DI RUANG INSTALASI
BEDAH SENTRAL RUMAH SAKIT
DAERAH dr. SOEBANDI JEMBER

OLEH:
Lisfa Dayani, S.Kep
NIM 182311101005

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
JEMBER
DESEMBER, 2018
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Pendahuluan dan Resume Kasus di Ruang Instalasi Bedah Sentral


RSD dr. Soebandi Jember telah disetujui dan disahkan pada:
Hari, Tanggal :
Tempat :

Jember, Desember 2018

Mahasiswa

Lisfa Dayani, S.Kep


NIM 182311101005

Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik


Fakultas Keperawatan Ruang IBS
Universitas Jember RSD dr. Soebandi

Ns. Baskoro Setioputro, M.Kep Ns. Muh. Syafari, S.Kep


NIP. 19830505 200812 1 004 NIP. 19780212 200501 1 010
A. Konsep Teori Penyakit

1. Review Anatomi dan Fisiologi


Leher merupakan bagian dari tubuh manusia yang terletak di antara
thoraks dan caput. Batas disebelah cranial adalah basis mandibula dan suatu garis
yang ditarik dari angulus mandibula menuju ke procesus mastoideus, linea nucrae
suprema sampai ke protuberantia occipitalis eksterna. Batas kaudal dari ventral ke
dorsal dibentuk oleh incisura jugularis sterni, klavikula, acromion, dan suatu garis
lurus yang menghubungkan kedua acromion.

Gambar 1. Anatomi leher


Leher dibagi oleh musculus sternokleidomastoideus menjadi trigonum
anterior atau medial dan trigonum posterior atau lateral.
1. Trigonum anterior : di anterior dibatasi oleh sternokleidomastoideus, linea
mediana leher dan mandibula, terdiri dari :
a) Trigonum muscular : dibentuk oleh linea mediana, musculus omohyoid venter
superior, dan musculus sternokleidomastoideus.
b) Trigonum caroticum : dibentuk oleh musculus omohyoid venter superior,
musculus sternokleidomastoideus, musculus digastricus venter posterior.
c) Trigonum submentale : dibentuk oleh venter anterior, musculus digastricus,
os.hyoid dan linea mediana.
d) Trigonum submandibulare : dibentuk oleh mandibula, venter superior, musculus
digastricus, dan venter anterior musculus digastricus.
2. Trigonum posterior : dibatasi superior oleh musculus sternokleidomastoideus,
musculus trapezius dan clavicula,terdiri dari :
a) Trigonum supraclavicular : dibentuk oleh venter inferior musculus omohyoid,
clavicula dan musculus sternokleidomastoideus.
b) Trigonum occipitalis : dibentuk oleh venter inferior musculus omohyoid,
musculus trapezius dan musculus sternokleidomastoideus.

Gambar 2. Trigonum anatomicum

Anatomi Kelenjar Limfe Leher


Sekitar 75 buah kelenjar limfa terdapat pada setiap sisi leher, kebanyakan
berada pada rangkaian jugularis interna dan spinalis asesorius.Kelenjar limfa yang
selalu terlibat dalam metastasis tumor adalah kelenjar limfa pada rangkaian
jugularis interna, yang terbentang anatar klavikula sampai dasar
terngkorak.Rangkaian jugularis interna ini dibagi dalam kelompok superior,
media, dan inferior.Kelompok kelenjar limfa yang lain adalah submental,
submandibula, servikalis superficial, retrofaring, paratrakeal, spinalis asesorius,
skalenus anterior dan supraklavikula.

Kelenjar limfe servical dibagi kedalam gugusan superficial dan gugusan


profunda.Kelenjar limfe superficial menembus lapisan pertama fascia servikal
masuk kedalam gugusan kelenjar limfe profunda.Meskipun kelenjar limfe nodus
kelompok superficial lebih sering terlibat dengan metastasis, keistimewaan yang
dimiliki kelenjar kelompok ini adalah sepanjang stadium akhir tumor, kelenjar
limfe nodus kelompok ini masih signifikan terhadap terapi pembedahan.

Kelenjar limfe profunda sangat penting sejak kelenjar-kelenjar kelompok


ini menerima aliran limfe dari membrane mukosa mulut, faring, laring, glandula
saliva dan glandula thyroidea sama halnya pada kepala dan leher.
Hampir semua bentuk radang dan keganasan pada kepala – leher akan
melibatkan kelenjar getah bening leher bila ditemukan pembesaran kelenjar getah
bening di leher, perhatikan ukurannya, apakah nyeri atau tidak, bagaimana
konsistensinya, apakah lunak kenyal atau keras, apakah melekat pada dasar atau
kulit. Menurut Sloan Kattering Memorial Cancer Center Classification, kelenjar
getah bening leher dibagi atas 5 daerah penyebaran.

Gambar 3. Daerah penyebaran kelenjar limfe leher

Daerah Kelenjar Limfa Leher


Letak kelenjar limfa leher menurut Sloan Kattering Memorial Cancer Center
Classification, dibagi dalam lima daerah penyebaran kelompok kelenjar, yaitu
daerah :

I. Kelenjar yang terletak di segitiga sub-mental dan submandibula.


II. Kelenjar yang terletak di 1/3 atas dan termasuk kelenjar limfa jugular
superior, kelenjar digastrik dan kelenjar servikal posterior superior.
III. Kelenjar lumfa jugularis di antara bifurkasio karotis dan persilangan
m.omohioid dengan m.sternokleidomastoid dan batas posterior
m.sternokleidomastoid.
IV. Grup kelenjar di daerah jugularis inferior dan supraklaviula
V. Kelenjar yang berada di segitiga posterior servikal.
Gambar 4. Penyebaran kelenjar limfe dikepala dan leher

a. Kelenjar limfe occipitalis terletak diatas os occipitalis pada apeks trigonum


cervicalis posterior. Menampung aliran limfe dari kulit kepala bagian
belakang. Pembuluh limfe efferen mencurahkan isinya kedalam kelenjar
limfe cervicalis profundi.

b. Kelenjar limfe retroaurikular terletak diatas permukaan lateral processus


mastoideus. Mereka menampung limfe sebagian kulit kepala diatas auricular
dan dari dinding posterior meatus acusticus externus. Pembuluh limfe eferen
mencurahkan isinya kedalam kelenjar limfe cervicalis profundi.

c. Kelenjar limfe parotid terletak pada atau di dalam glandula parotis.


Menampung limfe dari sebagian kulit kepala di atas glandula parotis, dari
permukaan lateral auricular dan dinding anterior meatus acusticus externus,
dan dari bagian lateral palpebra. Pembuluh limfe eferen mencurahkan isinya
ke dalam kelenjar limfe cervicalis profundi.

d. Kelenjar limfe jugualris interna superior menerima aliran limfa yang berasal
dari daerah palatum mole, tonsil, bagian posterior lidah, dasar lidah, sinus
piriformis dan supraglotik laring. Juga menerima aliran limfa yang berasal
dari kelenjar limfa retrofaring, spinalis asesorius, parotis, servikalis
superficial dan kelenjar limfa submandibula.

e. Kelenjar limfe jugularis interna media menerima aliran limfa yang berasal
langsung dari subglotik laring, sinus piriformis bagian inferior dan daerah
krikoid posterior. Juga menerima aliran ,imfa yang berasal dari kelenjar limfa
jugularis interna superior dan kelenjar limfa retrofaring bagian bawah.

f. Kelenjar limfe jugularis interna inferior menerima aliran limfa yang berasal
langsung dari glandula tiroid, trakea, esophagus bagian servikal. Juga
menerima aliran limfa yang berasal dari kelenjar limfa jugualris interna
superior dan media, dan kelenjar limfa paratrakea.

g. Kelenjar limfe submental, terletak pada segitiga submental di antara platisma


dan m.omohioid di dalam jaringan lunak. Pembulubh aferen menerima aliran
limfa yang erasal dari dagu, bibir bawah bagian tengah, pipi, gusi, dasar
mulut bagian depan dan 1/3 bagian bawah lidah. Pembuluh eferen
mengalirkan limfa ke kelenjar limfa submandibula sisi hiomolateral atau
kontralateral, kadang-kadang dapat langsung ke rangkaian kelenjar limfa
jugularis interna.

h. Kelenjar limfe submandibula, terletak di sekitar kelenjar liur submandibula


dan di dalam kelenjar liurnya sendiri. Pembuluh aferen menerima aliran limfa
yang berasal dari kelenjar liur submandibula, bibir artas, bagian lateral bibir
bawah, rongga hidung, bagian anterior rongga mulut, bagian medial kelopak
mata, palatum mole dan 2/3 depan lidah. Pembuluh eferen mengalirkan limfa
ke kelenjar jugularis interna superior.

i. Kelenjar limfe servical superficial terletak di sepanjang vena jugularis


eksterna, menerima aliran limfe yang berasal dari kulit muka, sekitar kelenjar
parotis, daerah retroaurikula, kelenjar parotis dan kelenjar limfe occipital.
Pembuluh eferen mengalirkan limfe ke kelenjar limfe jugularis interna
superior.

j. Kelenjar limfa retrofaring, terletak di antara faring dan fasia prevertebra,


mulai dari dasar tengkorak sampai ke perbatasan leher dan toraks. Pembuluh
aferen menerima aliran limfa dari nasofaring, hipofaring, telinga tengah dan
tuba Eustachius. Pembuluh eferen mengalirkan limfa ke kelenjar limfa
jugularis interna dan kelenjar limfa spinal asesoris bagian superior.

k. Kelenjar limfa paratrakea, menerima aliran limfa yang berasal dari laring
bagian bawah, hipofaring, esophagus bagian servikal, trakea bagian atas dan
tiroid. Pembuluh eferen mengalirkan limfa ke kelenjar limfa jugularis interna
inferior atau kelenjar limfa mediastinum superior.

l. Kelenjar limfa spinal asesoris, terletak di sepanjang saraf spinal asesoris,


menerima aliran limfa yang berasal dari kulit kepala bagian parietal dan
bagian belakang leher. Kelenjar limfa parafaring menerima aliran limfa dari
nasofaring, orofaring dan sinus paranasal. Pembuluh eferen mengalirkan
limfa ke kelenjar limfa supraklavikula.

m. Rangkaian kelenjar limfa jugularis interna mengalirkan limfa ke trunkus


jugularis dan selanjutnya masuk ke duktus torasikus untuk sisi sebelah kiri,
dengan untuk sisi yang sebelah kanan masuk ke duktus limfatikus kanan atau
langsung ke system vena pada pertemuan vena jugularis interna dan vena
subklavia. Juga duktus torasikus dan duktus limfatikus kanan menerima aliran
limfa dari kelenjat supraklavikula.

n. Kelenjar supraclavicular terletak di dalam cekungan diatas clavicula, lateral


dan persendian sternum. Menerima aliran dari bagian cavum thoraks dan
abdomen.

2. Definisi
Lipoma Supraclavicula adalah tumor jinak yang menyerang kelenjar limfe
supraclavicula. Lipoma adalah tumor jinak subkutis yang berisi jaringan lemak.
(Siregar. 2002). Lipoma merupakan tumor mesenkim jinak (benign mesenchymal
tumors) yang berasal dari jaringan lemak (adipocytes).
Lipoma adalah suatu tumor (benjolan) jinak yang berada dibawah kulit
yang terdiri dari lemak. Biasanya lipoma dijumpai pada usia lanjut (40-60 tahun),
namun juga dapat dijumpai pada anak-anak. Karena lipoma merupakan lemak,
maka dapat munculdimanapun pada tubuh ini. Jenis yang paling sering adalah
yang berada lebih kepermukaan kulit (superficial). Biasanya lipoma berlokasi di
kepala, leher, bahu, badan, punggung, atau lengan. Jenis yang lain adalah yang
letaknya lebih dalam dari kulit seperti dalam otot, saraf, sendi, ataupun tendon.
Lipoma termasuk tumor jinak yang berasal dari jaringan lemak. Benjolan
lunak, berwarna kuning terang dan disekelilingi oleh kapsul yang tipis. Umumnya
dapat digerakkan dari dasar dan tidak disertai nyeri (nyeri timbul jika lipoma
ditekan dan dipijat). Pertumbuhannya lambat dan tidak pernah mengalami
perubahan menjadi ganas (meskipun type tumor ganas liposarkoma juga berasal
dari jaringan lemak). Kebanyakan berukuran kecil meskipun dapat membesar
dengan diameter lebih dari 6 cm.
Tumor ini jarang berubah menjadi tumor ganas. Lipoma lebih sering
ditemukan pada wanita dan lebih sering tumbuh di lengan, batang tubuh dan leher
bagian belakang. Beberapa orang hanya memiliki 1 lipoma, sedangkan yang
lainnya memiliki beberapa buah lipoma.

3. Epidemiologi

Lipoma adalah tumor jaringan lunak yang paling umum dengan prevalensi
sebesar 2,1 per 1.000 orang. Lipoma terjadi pada 1% penduduk dengan tingkat
prevalensi 1/5000 pada orang dewasa.
4. Etiologi
Penyebab lipoma masih belum diketahui. Banyak orang menghubungkan
penyebab dari lipoma adalah konsumsi lemak yang berlebihan dan obesitas, tetapi
tak ada satupun yang terbukti secara ilmiah. Lipoma terkadang bisa diturunkan
dalam satu keluarga. Namun ada suatu sindrom yang disebut hereditary multiple
lipomatosis, yaitu seseorang yang mempunyai lebih dari 1 lipoma pada tubuhnya.
Lipoma timbul tidak selalu karena faktor keturunan, meskipun bisa tampak
seperti multipel lipomatosis herediter. Beberapa dokter percaya bahwa timbulnya
lipoma biasanya dipicu oleh trauma kecil pada daerah terkait (minor injury). Tidak
ada keterkaitan antara pertumbuhan lipoma dengan kelebihan BB (over weight)
Biasanya tidak memerlukan pengobatan, kecuali jika menimbulkan rasa nyeri,
mengganggu pergerakan dan secara kosmetik memberikan rasa tidak nyaman.
Jika kapsul tidak secara keseluruhan terangkat, kadang-kadang setelah
pembedahan lipoma dapat timbul kembali (angka kekambuhan kurang dari 5 %).
Lipoma dapat diambil dengan cara pembedahan (eksisi), atau liposuction.
Liposuction biasanya diperuntukkan untuk lipoma ukuran besar. Menghasilkan
bekas sayatan luka operasi yang minimal / sangat kecil tapi tidak dapat
mengangkat keseluruhan kapsul lipoma sehingga dapat menyebabkan
kekambuhan (lipoma tumbuh kembali).

5. Klasifikasi
1. Lipoma soliter (paling sering)
Kebanyakan lipoma soliter adalah superfisial dan berukuran kecil. Lipoma
soliter bisa tumbuh dengan kenaikan berat badan dan tidak menghilang
apabila berat badan diturunkan.
2. Diffuse Kongenital Lipoma
Lipoma diffuse dengan batas tidak tegas biasanya berlokasi pada daerah
belakang badan. Tumor ini sering meluas ke dalam otot maka kurang
memberikan hasil yang baik dengan reseksi local. Tumor ini terdiri dari
jaringan lemak yang immature.
3. Lipomatosis simetris (Madelung)
Sering dijumpai pada daerah kepala, leher, bahu dan proximal extremitas atas.
Pada anamnesa sering terdapat riwayat mengkomsumsi alkohol atau penyakit
diabetes mellitus.
4. Familial lipomatosis multiple
Ditandai dengan beberapa benjolan kecil dengan batas tegas dan "berkapsul".
Biasanya terdapat pada daerah extremitas dan timbul setelah pubertas. Pada
anamnesa didapatkan riwayat penyakit yang sama pada keluarga .
5. Penyakit Dercum ( adiposis dolorosa)
Lipoma yang menimbulkan rasa nyeri. Biasanya dijumpai pada wanita
postmenopausa yang obese ,alcoholism, ketidakstabilan emosi dan depresi
berasosiasi dengan penyakit ini.
6. Angiolipoma
Angiolipoma adalah nodul subkutan yang kenyal dan nyeri. Tumor ini lebih
keras daripada lipoma biasa dan multilobulasi.
7. Hibernomas
Tumor ini tumbuh soliter, nodul yang berbatas tegas dan biasanya
asimptomatik.
Biasanya dijumpai pada regio interskapula, axilla, colli dan mediastinum.
Secara histologik, hibernomas terdiri dari lipoblast coklat yang dikenali
sebagai mulberry cells.

6. Patofisiologi
Lipoma adalah neoplasma jaringan lunak jinak yang paling sering terjadi
pada orang dewasa, yaitu sekitar 1% populasi. Lipoma paling sering ditemukan
antara usia 40-60 tahun.1 Neoplasma ini jinak tumbuh lambat yang terdiri dari
sel-sel lemak matang. Dimana tampak metabolik sel-sel lipoma berbeda dari sel
normal meskipun sel-sel tersebut secara histologis serupa. Jaringan lemak berasal
dari jaringan ikat yang berfungsi sebagai depot lemak.
Jaringan lemak ini adalah jaringan yang spesial terdiri dari sel spesifik
yang mempunyai vaskularisasi tinggi, berlobus dan berfungsi sebagai depot lemak
untuk keperluan metabolisme. Sel-sel lemak primitif biasanya berupa butir-butir
halus di dalam sitoplasma. Sel ini akan membesar seperti mulberry sehingga
akhirnya derajat deposisi lemak menggeser inti ke arah perifer. Jaringan lemak
berasal dari sel-sel mesenkim yang tidak berdifferensiasi yang dapat ditemukan di
dalam tubuh. Beberapa sel-sel ini menjadi jaringan sel lemak yang matang
membentuk lemak dewasa.
Terjadinya suatu lipoma dapat juga disebabkan oleh karena adanya
gangguan metabolisme lemak. Pada lipoma terjadi proliferasi baik histologi dan
kimiawi, termasuk komposisi asam lemak dari jaringan lemak normal.
Metabolisme lemak pada lipoma berbeda dengan metabolisme lemak normal,
walaupun secara histologi gambaran sel lemaknya sama.
Pada lipoma dijumpai aktivitas lipoprotein lipase menurun. Lipoprotein
lipase penting untuk transformasi lemak di dalam darah. Oleh karena itu asam
lemak pada lipoma lebih banyak dibandingkan dengan lemak normal. Hal ini
dapat terjadi bila seseorang melakukan diet, maka secara normal depot lemak
menjadi berkurang, tetapi lemak pada lipoma tidak akan berkurang bahkan
bertambah besar. Ini menunjukkan bahwa lemak pada lipoma bukan merupakan
lemak yang dibutuhkan oleh tubuh. Apabila lipoma membesar akan tampak
sebagai suatu penonjolan yang dapat menekan jaringan di sekitarnya.
Parameter-parameter yang penting untuk menentukan penatalaksanaan
klinisnya adalah:
1. Ukuran makin besar massa tumor, makin buruk hasil akhirnya.
2. Klasifikasi histologi dan penentuan stadium (grading) yang akurat (terutama
didasarkan pada derajat diferensiasinya), dan perkiraan laju pertumbuhan
yang didasarkan pada mitosis dan perluasaan nekrosis.
3. Staging.
4. Lokasi tumor. Makin superfisial, prognosis makin baik.

7. Manifestasi Klinis
Lipoma berbentuk seperti benjolan dengan diameter 2-10 cm, ,terasa
kenyal dan lembut. Serta bergerak bebas di kulit (free mobility of overlying skin),
namun overlying skin ini secara khas normal. Sering terdapat pada leher, lengan
dan dada. Tetapi bisa muncul di bagian tubuh manapun. Pada umumnya orang-
orang tidak menyadari jika mereka mengidap lipoma sampai benjolannya tumbuh
besar dan terlihat.
Lipoma bersifat lunak pada perabaan, dapat digerakkan, dan tidak nyeri.
Pertumbuhannya sangat lambat dan jarang sekali menjadi ganas. Lipoma
kebanyakan berukuran kecil, namun dapat tumbuh hingga mencapai lebih dari
diameter 6 cm. Manifestasi klinis lipoma antara lain :
1. Lokasi : Lipoma terletak di bawah kulit dan tidak menonjol. Lipoma
sering terjadi di leher, punggung, lengan dan paha.
2. Rasa : Lipoma jika disentuh terasa empuk dan mudah bergerak jika sedikit
ditekan dengan jari.
3. Ukuran : Paling sering lipoma berukuran kecil, dengan diameter kurang
dari 2 inci (5 cm). Tapi lipoma dapat tumbuh besar dengan diameter
mencapai lebih dari 4 inci (10 cm).
4. Sakit : Lipoma bisa juga menyakitkan jika tumor lemak ini tumbuh dan
ditekan di dekat saraf, atau jika mengandung banyak pembuluh darah.
Karena pertumbuhannya lambat, Anda mungkin baru tahu memiliki
lipoma setelah bertahun-tahun.

8. Pemeriksaan Penunjang
Walaupun lipoma bisa didiagnosa dengan pemeriksaan klinis, namun
untuk menegakkan diagnosis secara pasti butuh biopsy dan pemeriksaan
histopatologi. CT Scan, MRI juga bisa dilakukan untuk mengetahui tentang
lipoma. Kadar kolesterol umumnya normal, walaupun lipoma seharusnya menjadi
tumor dari jaringan lemak.
1. Biopsi
Biopsi adalah prosedur di mana sepotong ke#il jaringan lemak akan
diambil darilipoma sehingga dapat diperiksa di bawah mikroskop untuk
tanda-tanda kanker.
2. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
MRI menggunakan magnet, gelombang radio, dan komputer untuk
mengambil serangkaian gambar yang sangat jelas, detil gambar. MRI telah
terbukti akurat dalam pemeriksaan, namun pemeriksaan ini mahal. Dengan
MRI, jaringan lunak sepertilipoma dapat terlihat dengan jelas. MRI dapat
menunjukkan hasil yang 100% sensitive, spesifik dan akurat dalam
mengidentifikasi adanya tumor jaringan lunak.
3. Computed Tomography (CT scan)
Seperti MRI, CT scan (CAT atau scan) adalah prosedur yang juga dapat
membuat serangkaian gambar yang mendetail, namun tidak lebih akurat
dari MRI. Pemeriksaan dengan CT scan dilakukan berkali-kali dari sudut
yang berbeda.

9. Penatalaksanaan
Untuk suatu lipoma, sebenarnya tidak ada perawatan pada umumnya.
Namun jika lipoma tersebut sudah mengganggu, menyakitkan atau bertambah
besar, penatalaksanaan dapat berupa :
a. Steroid Injection
Perawatan ini mengecilkan lipoma tetapi idak dengan sepenuhnya
menghilangkan tumor itu. Tetapi ini mungkin tidak berguna untuk lipoma
yang sudah berukuran besar.
b. Liposuction
Perwatan ini menggunakan suati jarum dan suatu semprotan besar untuk
memindahkan lipoma yang besar. Tindakan ini dilakukan dalam keadaan
pasien terbius local. Liposuction biasa dilakukan untuk menghindari
suatu jaringan parut yang besar. Namun masih tetap sukar untuk
memindahkan keseluruhan lipoma dengan menggunakan tehnik ini.
c. Surgical Removal
Perawatan ini dilakukan dengan operasi lebih besar yaitu lipoma
dipindahkan dengan memotong lipoma tersebut. Pasien yang menjalani
tehnik ini dilkukan pembiusan secara local maupun general anesthesia.
Dan biasanya lipoma hilang setelah pembedahan.
Indikasi pembedahan pada lipoma antara lain :
1. Alasan kosmetik
2. Untuk mengevluasi histology (adakah keganasan pada jaringan) sehingga
dapat menyingkirkan kemungkinan liposarcoma.
3. Jika menimbulkan gejala yang mengganggu.
4. Jika berkembang menjadi lebh dari 5 cm
B. Clinical Pathway

Trauma Genetika Faktor lain

Gangguan metabolisme lemak

Lipoma Pembedahan

Penurunan lipoprotein lipase Pre Op Post Op


Intra operatif
Asam lemak meningkat Kurang Inkontinuitas
pengetahuan Prosedur Pembedahan jaringan
Lipoma membesar
Ansietas Nyeri Laserasi
Nyeri Penonjolan daerah sekitar Luka insisi
Resiko
infeksi
Kontak langsung dengan
patogen dan nonpatogen
Luka post op

Resiko infeksi area


pembedahan

Resiko syok
Ketidakcukupan
produksi ASI
C. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a) Identitas Klien
Identitas klien yang perlu dikaji adalah meliputi, nama, umur, agama, jenis
kelamin, alamat, suku bangsa, status perkawinan, pekerjaan, pendidikan,
nomor register, tanggal masuk rumah sakit dan tanggal pengkajian
b) Riwayat Kesehatan
1) Diagnosa medik
2) Keluhan utama pda pasien post operasi pasien biasanya nyeri
3) Riwayat penyakit sekarang, rincian penyakit mulai dari awal sampai
saat pertama kali berhubungan dengan petugas kesehatan. Waktu
kejadian, cara (proses), tempat, suasana, manifestasi masalah,
perjalanan penyakit/masalah (riwayat pengobatan, persepsi tentang
penyebab dan penyakit)
4) Riwayat penyakit dahulu, penyakit kronis atau menular dan menurun
seperti jantung, hipertensi, DM, TBC, hepatitis, penyakit kelamin atau
abortus.
5) Riwayat penyakit keluarga, adakah penyakit keturunan dalam keluarga
seperti jantung, DM, HT, TBC, penyakit lipoma atau pembekakan
kelenjar getah bening yang mungkin penyakit tersebut diturunkan
kepada pasien.
c) Pola-pola fungsi kesehatan
1) Pola persepsi dan tata leksana hidup sehat
Kurangnya pengetahuan pasien tentang tindakan pembedahan dan
perawatan setelah pembedahan
2) Pola Nutrisi dan Metabolisme
Pada pasien dengan lipoma supraclavicula yang sudah membesar
biasanya mengalami kesulitan menelan.
3) Pola aktifitas
Pada pasien post op lipoma supraclavicula tidak mengalami gangguan
pola aktifitas karena tidak berkaitan dengan syaraf atau bagian
ekstremitas.
4) Pola eleminasi
Pada pasien post lipoma supraclavicula tidak pola eleminasi lancar.
5) Pola istirahat dan tidur
Pada pasien lipoma supraclavicula mengalami gangguan tidur akibat
ketidaknyaman dan ansietas terkait rencana pembedahan.
6) Pola hubungan dan peran
Peran pasien dalam keluarga meliputi hubungan pasien dengan
keluarga dan orang lain.
7) Pola penanggulangan sters
Biasanya pasien sering melamun dan merasa cemas
8) Pola sensori dan kognitif
Pola sensori pasien merasakan nyeri luka insisi pasca operasi pada
bekas luka
9) Pola persepsi dan konsep diri
Biasanya terjadi kecemasan terhadap keadaannya
10) Pola reproduksi dan sosial
Pola reproduksi dan sosial tidak mengalami gangguan
11) Pola tata nilai dan kepercayaan
Kepercayaan bahwa penyakitnya diambil dan akan segera sembuh
d) Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan umum, penampilan fisik atau kondisi pasien secara umum
akibat penyakit atau keadaan yang dialami pasien (baik, lemah, sakit
akut, sakit kronis, merintih, berkeringat, gemetar), ekspresi wajah,
postur dan posisi tubuh, kebersihan diri, gaya bicara, derajat
kesadaran, GCS, warna kulit, status nutrisi, mood/afek.
2) Tanda-tanda vital, meliputi tekanan darah, nadi, respiratory rate, suhu,
SpO2
3) Pengkajian fisik head to toe, meliputi kepala, wajah, mata, hidung,
mulut, telinga, leher, dada (jantung dan paru), abdomen, ekstemitas
(atas dan bawah), kulit, dan kuku.
d) Terapi obat yang digunakan
e) Pemeriksaan penunjang dan laboratorium
Meliputi pemeriksaan semua laboratorium, pemeriksaan radiologi dan
pemeriksaan penunjang lainnya.
a. Pre operatif
Subyektif:
1) Keluhan nyeri pada daerah yang terdapat benjolan.
2) Nyeri tekan pada daerah sekitar benjolan.
3) Pembengkakkan/kemerahan.
4) Gangguan pada fungsi organ sekitar.
5) Cemas.
6) Suara serak.
Pemahaman tentang pembedahan termasuk:
1) Prosedur tindakan.
2) Pelaksanaan tindakan.
3) Resiko selama dan setelah tindakan.
4) Obat anestesi.
Obyektif:
1) Nafas bau.
2) Wajah tampak tegang, gelisah, tremor.
3) Teraba massa.
4) Perubahan tanda-tanda vital.
5) Kesiapan dan kemampuan untuk belajar menyerap informasi.
b. Post operatif
Subyektif:
1) Nyeri
2) Mual
3) Kedinginan
Obyektif:
1) Perubahan tanda-tanda vital
2) Respon yang lazim terhadap nyeri
3) Hipotermi.

2. Diagnosis Keperawatan
No. Diagnosis Keperawatan
1. Ansietas (00146)
Definisi: Perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang samar disertai
respon otonom (sumber seringkali tidak spesifik atau tidak diketahui
oleh individu) perasaan yang takut disebabkan oleh antisipasi terhadap
bahay. Hal ini merupakan isyarat kepawasdaan yang memperingatkan
individu akan adanya bahaya dan memampukan individu bertindak
menghadapi ancaman
2. Nyeri akut (00132)
Definisi: Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan
berkaitan kerusakan jaringan aktual atau potensial dengan intensitas
ringan hingga berat, dengan berakhirnya dapat diprediksi kurang dari 3
bulan
3. Resiko infeksi area pembedahan (00266)
Definisi: Rentan terhadap invasi 17organism patogenik pada area
pembedahan, yang dapat mengganggu kesehatan
4. Risiko infeksi (00004)
Definisi: Rentan mengalami invasi dan multiplikasi 17rganism
patogenik yang dapat menggangu kesehatan
3) Intervensi Keperawatan
No. Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil (NOC) Intervensi (NIC) PARAF
Keperawatan DAN
NAMA
TERANG
1. Ansietas (00146) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam pasien NIC: Pengurangan kecemasan (5820) Lisfa
menunjukkan hasil: 1. Gunakan pendekatan yang tenang dan Dayani
NOC: Tingkat kecemasan (1211) menyakinkan
No. Indikator Awal Tujuan 2. Nyatakan dengan jelas harapan terhadap
1 2 3 4 5 perilaku klien
1. (121101) Tidak dapat 3. Jelaskan semua prosedur termasuk sensasi
√ yang akan dirasakan yang mungkin akan
istirahat
dialami klien selama prosedur dilakukan
2. (121105) Perasaan √ 4. Pahami situasi krisis yang terjadi dari
gelisah perspektif klien
3. (121107) Wajah tegang √ 5. Berikan informasi faktual terkait
diagnosis, perawatan dan prognosis
4. (121116 ) Rasa takut
6. Berada di sisi klien untuk meningkatkan
yang disampaikan √ rasa aman dan mengurangi ketakutan
secara lisan 7. Dorong keluarga untuk mendampingi
klien dengan cara yang tepat
5. (121117) Rasa cemas 8. Berikan objek yang menunjukkan
yang disampaikan √ perasaan aman
secara lisan 9. Lakukan usapan pada punggung/leher
dengan cara yang tepat
10. Dorong aktivitas yang
Keterangan: tidak kompetitif secara tepat
1. Berat 11.Dengarkan klien
2. Cukup berat 12. Ciptakan atmosfer rasa
3. Sedang aman untuk meningkatkan kepercayaan
4. Ringan 13. Dorong verbalisasi
5. Tidak ada perasaan, persepsi dan ketakutan
14. Identifikasi pada saat
terjadi perubahan tingkat kecemasan
15. Berikan aktivitas
pengganti yang bertujuan untuk
mengurangi tekanan
16. Bantu klien
mengidentifikasi situasi yang memicu
kecemasan
17. Dukung penggunaan
mekanisme koping yang sesuai
18. Instruksikan klien
untuk menggunakan teknik relaksasi
19. Kaji untuk tanda verbal
dan non verbal kecemasan
2. Nyeri akut (00132) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam pasien NIC: Manajemen nyeri (1400) Lisfa
menunjukkan hasil: 1. Identifikasi faktor penyebab nyeri dan Dayani
NOC: Kontrol nyeri (1605) berikan informasi mengenai penyebab
No. Indikator Awal Tujuan nyeri
1 2 3 4 5 2. Beri dukungan kepada pasien untuk bisa
1. (160502) Mengenali √ menahan nyeri
kapan nyeri terjadi 3. Kendalikan faktor yang mempengaruhi
2. (160505) √
pasien terhadap ketidaknyamanan
Menggunakan
(misalnya lingkungan tempat tidur,
tindakan pengurangan pencahayaan dan suhu ruangan)
dengan analgesik 4. Kolaborasi pemberian analgesik
3. (160504)
Menggunakan √
pengurangan nyeri
tanpa analgesik
4. (160511) Melaporkan

nyeri yang terkontrol

Keterangan:
6. Tidak pernah menunjukkan
7. Jarang menunjukkan
8. Kadang-kadang menunjukkan
9. Sering menunjukkan
10. Secara konsisten menunjukkan
3. Resiko infeksi area Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam pasien NIC: Kontrol infeksi: Intraoperatif (6545) Lisfa
pembedahan menunjukkan hasil: 1. Bersihkan debu dan Dayani
(00266) permukaan mendatar dengan
NOC) Kontrol Risiko: Proses Infeksi (1924) pencahayaan di ruang operasi
N Tujuan 2. Monitor dan jaga suhu
Indikator Awal
o. 1 2 3 4 5 ruangan antara 20° dan 24° C
(192426) 3. Monitor dan jaga
1. Mengidentifikasi √ kelembaban relatif antara 20% dan
20actor risiko infeksi 60%
2. (192401) Mengenali √ 4. Monitor dan jaga aliran
20actor resiko individu udara yang berlapis
5. Batasi dan kontrol lalu
terkait infeksi lalang pengunjung
(192402) Mengetahui 6. Verifikasi bahwa
3. konsekuensi terkait √ antibiotik profilaksis telah diberikan
infeksi dengan tepat
(192405) 7. Lakukan tindakan-
4. Mengidentifikasi tanda √ tindakan pencegahan universal/
gejala infeksi Universal Precautions
(192415) Mencuci 8. Pastikan bahwa
5. √ personil yang akan melakukan tindakan
tangan
Keterangan: operasi mengenakan pakaian yang
1. Tidak menunjukan sesuai
2. Jarang menunjukan 9. Lakukan rancangan
3. Kadang-kadang menunjukan tindakan isolasi yang sesuai
4. Sering menunjuka 10. Monitor teknik isolasi
5. Secara konsisten menunjukan yang sesuai
11. Verifikasi keutuhan
kemasan steril
12. Verifikasi indikator
indikator sterilisasi
13. Buka persediaan
peralatan steril dengan menggunakan
teknik aseptik
14. Sediakan sikat, jubah,
dan sarung tangan, sesuai kebijakan
institusi
15. Bantu pemakaian jubah
dan sarung tangan anggota tim
16. Bantu mengenakan
pakaian pasien, memastikan
perlindungan mata, dan meminimalkan
tekanan terhadap bagian-bagian tubuh
tertentu
17. Pisahkan alat-alat yang
steril dan non steril
18. Monitor area yang steril
untuk menghilangkan kesterilan dan
penentuan waktu istirahat yang benar
sesuai indikasi
19. Jaga keutuhan kateter
dan jalur intravaskular
20. Periksa kulit dan
jaringan di sekitar lokasi pembedahan
21. Letakkan handuk basah
untuk mencegah penyatuan cairan
antimikroba
22. Oleskan salep
antimikroba pada lokasi pembedahan
sesuai kebijakan
23. Angkat handuk basah
24. Dapatkan kultur
jaringan jika diperlukan
25. Batasi kontaminasi
yang terjadi
26. Berikan terapi
antibiotik yang sesuai
27. Jaga ruangan tetap rapi
dan teratur untuk membatasi
kontaminasi
28. Pakai dan amankan
pakaian pakaian bedah
29. Angkat penutup beserta
barang-barang yang lain untuk
membatasi kontaminasi
30. Bersihkan dan sterilkan
instrumen dengan baik
31. Koordinasikan
pembersihan dan persiapan ruang
operasi untuk pasien berikutnya
4. Risiko infeksi Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam pasien NIC: Kontrol Infeksi (6540) Lisfa
(00004) menunjukkan hasil: 1. Bersihkan lingkungan dengan baik setelah Dayani
NOC: Keparahan infeksi (0703) digunkan untuk setiap pasien
No. Indikator Awal Tujuan 2. Ganti peralatan perawatan per pasien
1 2 3 4 5 sesuai protokol institusi
1. (070301) Kemerahan √ 3. Anjurkan pengunjung untuk mencuci
2. (070303) Cairan/luka tangan pada saat memasuki dan

yang berbau busuk meninggalkan pasien
3. (070330) √ 4. Batasi jumlah pengunjung
Ketidakstabilan suhu 5. Pastikan teknik perawatan luka yang tepat
4. (070333) Nyeri √
NIC: Perawatan daerah (area) sayatan
5. (070331) Lethargy √ (3440)
1. Periksa daerah sayatan terhadap
6. (070332) Hilang nafsu √ kemerahan, bengkak, atau tanda-tanda
makan dehiscience atau eviserasi
7. (070326) Peningkatan √ 2. Monitor proses penyembuhan di daerah
jumlah sel darah putih sayatan
Keterangan: 3. Monitor daerah sayatan untuk tanda-tanda
1. Berat dan gejala infeksi
4. Berikan salep antiseptic
2. Cukup berat
5. Gunakan pakaian yang sesuai untuk
3. Sedang melindungi sayatan
4. Ringan
5. Tidak ada
D. Discharge Planning
1) Makan makanan yang bergizi
2) Perawatan luka post op
DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, Marilyn C, 1999, Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk


Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 3, Jakarta:
EGC.
Hadi, Umar. 2013. Lipoma. [Serial Online]. Tersedia dalam:
http://umarberita.blogspot.com/2013/01/lipoma.html. Diakses pada tanggal
16 Dsember 2018.
Khanza. 2011. Soft Tissue Tumor. [Internet]. Tersedia Dalam:
Http://Doktermaya.Wordpress.Com/2011/12/10/Soft-Tissu-Tumor/. Diakses
pada tanggal 16 Dsember 2018.
Siregar. 2002. Saripati Penyakit Kulit, Edisi 2. Jakarta : EGC. [Internet]. Tersedia
dalam: http://blog.asuhankeperawatan.com/materilengkap/. Diakses pada
16 Dsember 2018.
Smeltzer, Bare, 2001, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, Jakarta:
EGC.
Z3roCool. 2009. Askep Eksterpasi Lipoma. [Internet]. Tersedia dalam:
http://blogkugratis.blogspot.com/2009/09/askep-eksterpasi-lipoma_21.html.
Diakses pada tanggal 16 Dsember 2018.