Anda di halaman 1dari 2

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tuberkulosis (TB) merupakan infeksi global dengan prevalensi tinggi
yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Sepertiga dari
populasi dunia terinfeksi dengan tuberkulosis laten, dengan risiko 10%
mengalami bentuk aktif dari tuberkulosis sepanjang hidupnya. Diperkirakan
9,6 juta kasus tuberkulosis terjadi di seluruh dunia sepanjang tahun 2014,
dengan angka kematian mencapai 1,5 juta jiwa. Indonesia merupakan negara
dengan jumlah kasus tuberkulosis tertinggi kedua setelah India dengan jumlah
kasus 10% dari total kasus di seluruh dunia.1 Tuberkulosis (TB) pada anak
merupakan masalah khusus yang berbeda dengan TB pada orang dewasa.
Perkembangan penyakit TB pada anak saat ini sangat pesat. Sekurang-
kurangnya 500.000 anak di dunia menderita TB setiap tahun.2
Meningitis TB merupakan salah satu komplikasi TB primer. Menurut
WHO 2009 meningitis TB terjadi 3,2% dari kasus komplikasi infeksi primer
TB dan 83 % disebabkan karena komplikasi infeksi primer paru setelah HIV.
Penyakit meningitis TB pada penderita tanpa HIV adalah 2% dan 14% pada
penderita yang terinfeksi HIV yang meningkatkan resiko terjadinya meningitis
TB dan terdapat 50% kasus meningitis TB.3 Meningitis tuberkulosis
merupakan bentuk tuberkulosis ekstra paru dengan adanya kelainan neurologis
yang mencapai 70-80% dari seluruh kasus tuberkulosis neurologis, 5,2% dari
seluruh tuberkulosis ekstrapulmoner dan 0,7% dari seluruh kasus
tuberkulosis.1
Meningitis tuberkulosis (MTB) merupakan salah satu bentuk
tuberkulosis ekstrapulmoner yang paling mengancam jiwa. Penyakit ini
memiliki prevalensi hingga mencapai 70-80% dari seluruh kasus tuberkulosis
ekstrapulmoner dengan angka kematian hingga 50%. Beratnya gejala dan

1
risiko kematian yang tinggi akibat meningitis tuberkulosis ini memerlukan
pengetahuan mengenai tatalaksana yang adekuat.1
Meningitis bakterial dimana salah satunya meningitis tuberkolosis
merupakan kondisi yang serius yang jika tidak dapat segera ditangani akan
menyebabkan kerusakan otak dan bahkan kematian. Berdasarkan penelitian
epidemiologi mengenai infeksi sistem saraf pusat di Asia, pada daerah Asia
Tenggara, meningitis yang paling sering dijumpai adalah meningitis
tuberkulosis.4