Anda di halaman 1dari 49

II.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan umum

Dalam perencanaan embung dibutuhkan ilmu pengetahuan dari berbagai

bidang diantaranya ilmu hidrolika, hidrologi, dan mekanika tanah. Ilmu dari

berbagai bidang ini sangat dibutuhkan agar diperoleh hasil perencanaan

embung yang handal dan sempurna.

Penentukan spesifikasi-spesifikasi yang akan menjadi acuan dalam

perencanaan pekerjaan konstruksi sangat penting sebelum perencanaan

embung tersebut dimulai. Oleh karena itu, pada tinjauan pustaka ini akan

dibahas secara singkat dasar-dasar teori mengenai perencanaan embung yang

akan digunakan dalam perhitungan konstruksi dan bangunan pelengkapnya.

2.2 Analisis Hidrologi

Hidrologi adalah bidang ilmu yang mempelajari tentang air, termasuk

terjadinya, pengedarannya, sifat-sifatnya serta hubungannya dengan makhluk

hidup dan lingkungan. Analisis hidrologi adalah salah satu bagian penting

dalam perencanaan bangunan air. Analisis hidrologi dilakukan untuk

mendapatkan data karakteristik hidrologi suatu daerah aliran sungai. Dari

analisis hidrologi didapat data debit banjir maksimum karena salah satu syarat

penting bangunan air adalah ketahanannya dalam menghadapai banjir.

Bangunan-bangunan air harus direncanakan untuk melewati debit banjir


maksimum yang mungkin terjadi. Curah hujan merupakan salah satu faktor

yang mempengaruhi debit banjir yang terjadi pada suatu daerah.

2.2.1 Penentuan Curah Hujan Kawasan

Statiun pemakar hujan hanya memberikan kedalaman hujan di titik dimana

stasiun tersebut berada ; sehingga hujan pada suatu luasan harus

diperkirakan dari titik pengukuran tersebut. Apabila pada suatu daerah

tersebut lebih dari satu stasiun pengukuran yang ditempatkan secara

terpencar, hujan yang tercatat di masing-masing stasiun dapat tidak sama

(Bambang,2008). Dalam menentukan hujan rerata dalam suatu daerah dapat

menggunakan tiga metode yaitu metode rerata aritmatik, metode poligon

Thiessen, dan metode isohiet.

a. Metode rerata aritmatik

Metode ini adalah metode paling sederhana diantara metode lainnya.

Tinggi curah hujan rerata didapat dengan menjumlahkan kedalaman

hujan dari berbagai stasiun hujan yang berada pada satu daerah aliran

sungai (DAS) atau diluar DAS tersebut dan dibagi dengan jumlah

stasiunnya. Hujan rerata pada seluruh diberikan oleh bentuk sebagai

berikut :

= ...................................................................(1)

Dengan :

= hujan rerata kawasan

+ + +⋯+ = hujan di stasiun 1,2,3...,n

= jumlah stasiun
b. Metode Thiessen

Metode ini memperhitungkan bobot dari masing-masing stasiun yang

mewakili luasan di sekitarnya. Pada suatu luasan dalam DAS

dianggap bahwa hujan adalah sama dengan yang terjadi pada stasiun

yang terdekt, sehingga hujan yang tercatat pada suatu stasiun

mewakili luasan tersebut. Dinyatakan dalam bentuk matematik

sebagai berikut :

= .......................................................(2)

dengan :

= hujan rerata kawasan

+ + +⋯+ = hujan di stasiun 1,2,3...,n

+ + +⋯+ = luas daerah yang mewakili stasiun

1,2,3.....,n

c. Metode Isohiet

Isohiet adalah garis yang menghubungkan titik-titik dengan

kedalaman hujan yang sama. Pada metode isohiet, dianggap bahwa

hujan pada suatu daerah diantara dua garis isohiet adalah merata dan

sama dengan nilai rerata dari kedu garis isohiet tersebut. Secara

matematis hujan rerata tersebut dapat ditulis :


= ∑
.................................................................. (3)

dengan :

= hujan rerata kawasan

+ + + ⋯+ = garis isohiet 1,2,3...,n


+ + +⋯+ = luas daerah yang dibatasi oleh garis

isohiet 1,2,3.....,n

2.2.2 Perencanaan Curah Hujan Rencana

Analisis frekuensi data hujan bertujuan untuk meramalkan curah hujan

rencana. Secara sistematis metode analisis frekuensi perhitungan

hujan dilakukan secara berurutan sebagai berikut :

a. Parametrik statitik

b. Pemilihan jenis sebaran

c. Uji kecocokan sebaran

d. Perhitungan curah hujan rencana

2.2.2.1 Parametrik Statitik

Parametrik yang digunakan dalam analisis frekuensi adalah

diantaranya nilai rerata ( ), standar deviasi ( ), koefisien

varian ( ! ), kofisien kemencengan ( " ), koefisien kurtoris ( # ).

a. Nilai rerata ( )

Nilai rerata merupakan nilai yang cukup representif dalam

distribusi. Nilai rerata memiliki bentuk sebagai berikut :

= ∑$% $ ..................................................................(4)

Dengan :

= rerata

$= variebel random

= jumlah data
b. Standar Deviasi ( )

Penyebaran data dapat diukur dengan deviasi standar dan

varian. Varian dapat dihitung dengan menggunakan

persamaan sebagai berikut:

=& ∑$' ( $ − ) ...........................................(5)


'

Dimana :

= standar deviasi curah hujan

= nilai rerata curah hujan

$= pengukuran hujan dari suatu curah hujan ke-i

= jumlah data curah hujan

c. Koefisien Varian (C+ )

Koefisien varian adalah nilai perbandingan antara deviasi

standar dan nilai rerata, yang mempunyai bentuk :


,-
! = .
...................................................................(6)

Dimana :

!= koefisiin varian

= standar deviasi curah hujan

= nilai retata curah hujan

d. Koefisien Kemencengan ( " )

Kemencengan dapat digunakan untuk mengetahui derajat

ketidak-simetrisan dari suatu bentuk distribusi yang

dinyatakan sebagai berikut:


/
" =, ..................................................................(7)
-
Dimana :

0= ∑$' ( $ − ) ...............................(8)
( ' )( ' )

Keterangan :

" = koefisien kemencengan

0 = parameter kemencengan

= standar deviasi curah hujan

= jumlah data curah hujan

$ = pengukuran hujan dari suatu curah hujan ke-i

= nilai retata curah hujan

e. Koefisien Kurtoris ( #)

Koefisien kurtosis adalah suatu nilai yang menunjukkan

keruncingan dari bentuk kurva distribusi, yang umumnya

dibandingkan dengan distribusi normal yang mempunyai

Ck = 3 yang dinamakan mesokurtik, Ck < 3 berpuncak

tajam yang dinamakan leptokurtik, sedangkan Ck > 3

berpuncak datar dinamakan platikurtik. Dinyatakan

dalam bentuk sebagai berikut :

# = ∑$% ( $ − )1 ...................(9)
( ' )( ' )( ' ),-

Dimana :

# = koefisien kurtoris

= standar deviasi curah hujan

= jumlah data curah hujan

$ = pengukuran hujan dari suatu curah hujan ke-i


= nilai retata curah hujan

2.2.2.2 Pemilihan Jenis Sebaran

Ada beberapa fungsi fungsi distribusi kontinyu (teoritis), yang

sering digunakan dalan analisis frekuensi untuk hidrologi

seperti distribusi normal, log normal, Gumbel, Pearson, Log

Pearson. Masing-masing sebaran memiliki sifat-sifat khas

sehingga harus diuji kesesuaiannya dengan sifat statistik

masing-masing sebaran tersebut. Pemilihan sebaran yang tidak

benar dapat mengundang kesalahan perkiraan yang cukup

besar. Pemilihan sebaran dapat dilakukan dengan

menggunakan pedoman pemilihan sebaran seperti pada tabel

berikut :

Tabel 1. Pedoman Pemilihan Sebaran

No. Distribusi Persyaratan


Cs ≈ 0

Ck ≈ 3
1 Normal
Cs = Cv³ + 3Cv
2 Log Normal
Ck=Cv⁸+6Cv⁶+15Cv⁴+16Cv²+3
3 Gumbel Cs = 1,14 ; Ck = 5,4

Log Pearson
4 Selain nilai diatas
Tipe III

(Sri Harto, 1993)


a. Distribusi Normal

Distribusi normal disebut juga distribusi Gauss karena simetris

terhadap sumbu vertikal dan benbentuk lonceng. Gauss

Probability. Fungsi distribusi normal mempunyai bentuk :

(5) = 9 '(:';) /( 6)
.........................................(10)
6√ 8

Apabila variebel X ditulis dalam bentuk berikut :


:';
== ............................................................................(11)
6

Maka persamaan menjadi :

(=) = 9 '> /
.....................................................(12)
√ 8

Terdapat sifat-sifat distribusi frekuensi kumulatif sebagai

berikut :

( ̅ − @) = 15,87%

( ̅ ) = 50%

( ̅ + @) = 84,14%

b. Distribusi Lognormal

Distribusi log normal digunakan apabila nilai-nilai dari

variabel acak tidak mengikuti distribusi normal, tetapi nilai

logaritmanya memenuhi distribusi normal. Metode log

normal apabila digambarkan pada kertas peluang logaritmik

akan merupakan persamaan garis lurus (Soewarno, 1995).

Dalam hal ini, fungsi densitas probabilitas (PDF) diperoleh

dengan menggunakan transformasi, yaitu dalam hal ini

digunakan persamaan transformasi berikut :


H= ............................................................................(13)

Parameter dari distribusi log normal adalah rerata dan

deviasi standar dari y yaitu IJ K0 LJ. Dan menggunakan

transformasi tersebut maka :

(5) = 9 '(J';N ) /( 6N )
........................................(14)
6N √ 8

c. Distribusi Gumbel

Distribusi gumbel banyak digunakan untuk analisis data

maksimum seperti analisis frekuensi banjir. Fungsi densitas

kumulatif mempunyai bentuk :

O( ) = 9 'P
QN
................................................................(15)

Dimana :
.'R
H= S
............................................................................(16)

√U"
T= 8
............................................................................(17)

V= − 0,5772T ....................................................(18)

Distribusi gumbel mempunyai sifat bahwa : "≤ 1,1369 dan

# ≤ 5,4002 (Sri Harto, 1993). Dengan menurunkan

persamaan (15) didapat persamaan :

[
HX = − [ Z[' \] ....................................................(19)

Analisis frekuensi dengan menggunakan metode Gumbel juga

sering dilakukan dengan persamaan berikut :

= + ^" ................................................................(20)

Dengan K adalah frekuensi faktor yang bisa dihitung dengan

persamaan berikut :
H = H + ^L ............................................................... (21)

Dimana :

H = faktor reduksi

H K0 L = nilai rerata dan deviasi standar variat Gumbel

d. Distribusi Log Pearson III

Bentuk kumulatif dari distribusi log Pearson III dengan nilai

variat X apabila digambarkan pada kertas probabilitas

logritmik akan membentuk persamaan garis lurus.

Persamaan tersebut mempunyai bentuk :

HX = H + ^_ @J ................................................................(22)

Dengan :

HX = nilai logaritmik dari x dengan periode ulang T

H = nilai rerata dari y

@J = deviasi standar dari y

^_ = faktor frekuensi yang merupakan fungsi dari

probabilitas (atau periode ulang) dan koefisien.

2.2.2.3 Uji Keselarasan

Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk menguji apakah

jenis distribusi yang dipilih sesuai, yaitu uji Chi-Kuadrat dan

Smirnov Kolmogrov (Sri Harto,1991).

a. Uji Chi-Kuadrat

Uji Chi-Kuadrat menggunakan nilai 5 yang dapat

dihitung dengan persamaan berikut :


(`a'ba)
5 = ∑c
d% ba
....................................................(23)

Dengan :

5 = nilai Chi-Kudrat terhitung

ef = frekuensi (banyak pengamatan) yang diharapkan

sesuai dengan pembagian kelasnya

gf = frekuensi yang terbaca pada kelas yang sama

h = jumlah sub kelompok dalam satu grup

Nilai X2 yang didapat harus lebih kecil dari pada Xcr2 (Chi-

kuadrat kritik). Harga Xcr2 ini diperoleh dari tabel Chi-

kuadrat yang nilainya tergantung dari derajat nyata tertentu,

X (level of significance) dan derajat kebebasan, DK. Nilai

derajat nyata tersebut umumnya sering diambil 5 %.

Sedangkan derajat kebebasan DK dihitung dengan rumus :

DK = K – (P + 1) ...................................................(24)

Keterangan :

K = banyak kelas

P = banyaknya keterkaitan atau banyaknya parameter

Tabel 3. Nilai Chi-Kuadrat kritik

dk Taraf Signifikansi

50% 30% 20% 10% 5% 1%

1 0.455 1.074 1.642 2.706 3.481 6.635

2 0.139 2.408 3.219 3.605 5.591 9.210

3 2.366 3.665 4.642 6.251 7.815 11.341


4 3.357 4.878 5.989 7.779 9.488 13.277

5 4.351 6.064 7.289 9.236 11.070 15.086

6 5.348 7.231 8.558 10.645 12.592 16.812

7 6.346 8.383 9.803 12.017 14.017 18.475

8 7.344 9.524 11.030 13.362 15.507 20.090

9 8.343 10.656 12.242 14.684 16.919 21.666

10 9.342 11.781 13.442 15.987 18.307 23.209

11 10.341 12.899 14.631 17.275 19.675 24.725

12 11.340 14.011 15.812 18.549 21.026 26.217

13 12.340 15.19 16.985 19.812 22.368 27.688

14 13.332 16.222 18.151 21.064 23.685 29.141

15 14.339 17.322 19.311 22.307 24.996 30.578

16 15.338 18.418 20.465 23.542 26.296 32.000

17 16.337 19.511 21.615 24.785 27.587 33.409

18 17.338 20.601 22.760 26.028 28.869 34.805

19 18.338 21.689 23.900 27.271 30.144 36.191

20 19.337 22.775 25.038 28.514 31.410 37.566

21 20.337 23.858 26.171 29.615 32.671 38.932

22 21.337 24.939 27.301 30.813 33.924 40.289

23 22.337 26.018 28.429 32.007 35.172 41.638

24 23.337 27.096 29.553 33.194 35.415 42.980

25 24.337 28.172 30.675 34.382 37.652 44.314

26 25.336 29.246 31.795 35.563 38.885 45.642


27 26.336 30.319 32.912 36.741 40.113 46.963
(
28 27.336 31.391 34.027 37.916S 41.337 48.278
u
29 28.336 32.461 35.139 39.087( 42.557 49.588
(
30 29.336 33.530 36.250 40.256S 43.775 50.892
o

(Soewarno,1995)

b. Uji Smirnov Kolmogorov

Untuk menghindari hilangnya informasi data pada Chi-Square Test

akibat pengelompokan data dalam kelas-kelas interval, ada beberapa

metode lain yang telah dikembangkan. Salah satu metode yang sering

digunakan adalah Kolmogorov- Smirnov Test (1933). Pengujian ini

memperhatikan kurva dan penggambaran data pada kertas

probabilitas. Dari gambar dapat diketahui jarak penyimpangan setiap

titik data terhadap kurva. Jarak penyimpangan terbesar merupakan

nilai ∆j/#" dengan kemungkinan didapat nilai lebih kecil dari nilai

∆#k$d$# , maka jenis distribusi yang dipilih dapat digunakan. Nilai

∆#k$d$# diperoleh dari tabel dibawah ini.

Tabel 4. Nilai ∆#k$d$# uji Smirnov Kolmograv

Level of Significance (a)


N
20 15 10 5 1

1 0.9 0.925 0.95 0.975 0.995

2 0.684 0.726 0.776 0.842 0.929

3 0.565 0.597 0.642 0.708 0.829

4 0.494 0.525 0.564 0.624 0.734


5 0.446 0.474 0.51 0.563 0.669

6 0.41 0.436 0.47 0.521 0.618

7 0.381 0.405 0.438 0.486 0.577

8 0.358 0.381 0.411 0.4457 0.543

9 0.339 0.36 0.388 0.432 0.514

10 0.322 0.342 0.368 0.409 0.486

11 0.307 0.326 0.352 0.391 0.468

12 0.295 0.313 0.338 0.375 0.45

13 0.284 0.302 0.325 0.361 0.433

14 0.274 0.292 0.314 0.349 0.418

15 0.266 0.283 0.304 0.338 0.404

16 0.258 0.274 0.295 0.328 0.391

17 0.25 0.266 0.286 0.318 0.38

18 0.244 0.259 0.278 0.309 0.37

19 0.237 0.252 0.272 0.301 0.361

20 0.231 0.246 0.264 0.294 0.352

1.07 1.14 1.22 1.36 1.63


N > 50
N0,5 N0,5 N0,5 N0,5 N0,5

(Soewarno,1995)

2.2.2.4 Perhitungan Intesitas Curah Hujan

Dalam menentukan intensitas hujan dapat dilihat dalam bentuk

kurva yang disebut kurva IDF (Intensitas-Durasi-Frekuensi) yaitu

sebuah kurva yang memberikan hubungan antara intensitas hujan


sebagai ordinat, durasi hujan sebagai absis dan beberapa grafik

yang menunjukan frekuensi atau periode ulang.

Analisis IDF dilakukan untuk memperkirakan debit puncak di

daerah tangkapan kecil, seperti dalam perencanaan sistem

drainase kota, gorong-gorong dan jembatan. Analisis intensitas-

durasi-frekuensi (IDF) dilakukan untuk memperkirakan debit

aliran puncak berdasar data hujan titik. Data yang digunakan

adalah data hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi dalam

waktu singkat (Bambang Triatmodjo,2008).

Penggunaan kurva IDF dapat dilakukan apabila tersedia data

hujan otomatis, sehingga diperoleh hujan dengan durasi singkat

namun apabila yang tersedia adalah hujan harian, Dr. Mononobe

mengusulkan persamaan sebagai berikut :

l 1 /
d = Zd\ .................................................................(25)
1

Dimana :

d = intensitas curah hujan untuk lama hujan t (mm/jam)

m = lamanya curah hujan (jam)

n 1 = curah hujan maksimum selama 24 jam(mm)

2.2.3 Perhitugan Debit Banjir

Dalam mencari debit banjir rencana dapat digunakan beberapa

metode diantaranya hubungan empiris antara curah hujan

dengan limpasan, maka dapat digunakan metode rasional.

Metode rasional didasarkan pada persamaan berikut :

o = 0,278 ............................................................................(26)
Dimana :

o = debit puncak yang ditimbulkan oleh hujan dengan intensitas

durasi dan frekuensi tertentu (m3/d)

= intensitas hujan (mm/jam)

= luas DAS (km2)

= koefisien aliran yang tergantung pada jenis permukaan

lahan yang nilainya diberikan pad tabel 6 dibawah ini.

Tabel 5. Koefisien aliran C

Tipe Daerah Aliran Harga C


Rerumputan 0,50 – 0,10

Tanah pasir, datar, 2% 0,10 – 0,15

Tanah pasir, sedang, 2-7%

Tanah pasir, curam, 7% 0,15 – 0,20

Tanah gemuk, datar, 2%


Perdagangan

Daerah kota lama

Daerah kota pinggiran 0,75 – 0,95

Perumahan

Daerah single family 0,30 – 0,50

Multiunit terpisah

Multiunit tertutup 0,40 – 0,60


Industri

Daerah ringan

Daerah berat 0,50 – 0,80


Taman, kuburan 0,10 – 0,25
Tempat bermain 0,20 – 0,35
Halaman kereta api 0,20 – 0,40
Daerah tidak dikerjakan 0,10 – 0,30
Jalan : beraspal 0,70 – 0,95

beton

batu 0,80 – 0,95


Atap 0,75 – 0,95
(Bambang Triadmodjo,2008)

2.2.4 Perhitungan Debit Andalan

Debit andalan adalah debit minimum yang sudah pasti dapat

memenuhi kebutuhan air. Dalam menghitung debit andalan dipakai

cara analisis water balance dari Dr. J. R. Mock menggunakan data

curah hujan bulanan. Prinsip perhitungan ini adalah bahwa hujan

yang jatuh diatas tanah (presipitasi) sebagian akan hilang karena

penguapan (evaporasi), sebagian akan hilang menjadi aliran

permukaan (direct run off) dan sebagian akan masuk tanah

(infiltrasi). Infiltrasi mula-mula menjenuhkan permukaaan (top soil)

yang kemudianmenjadi perkolasi dan akhirnya keluar ke sungai

sebagai base flow. Perhitungan debit andalan meliputi :

a. Data Curah Hujan

R20 = curah hujan bulanan

N = jumlah hari hujan


b. Evapotranspirasi

Dihitung menggunkan Metode Penman yaitu :

Ke/edp = (m/20) x (18-n) .........................................(27)

Ke = (m/20) x (18-n) x Eto .............................(28)

em = Eto – dE .....................................................(29)

Dimana :

dE = selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi

terbatas

Eto = evapotranspirasi potensial

EtI = evapotranspirasi terbatas

m = presentase lahan yang tidak ditutupi vegetasi

= 10-40% untuk lahan yang tererosi

= 30-50% untuk lahan pertanian yang diolah

c. Keseimbangan Air Pada Permukaan Tanah

Rumus mengenai air hujan yang mencapai permukaan tanah

S = Rs – EtI .................................................................(30)

SMC(n) = SMC(n-1) + IS (n) .........................................(31)

WS = S – IS .................................................................(32)

Dimana :

S = kandungan air tanah

Rs = curah hujan bulanan

EtI = evapotranspirasi terbatas

IS = tampungan awal (mm)

IS (n) = tampungan awal diambil antara 50-250 mm


SMC (n) = kelembaman tanah bulan ke-n

WS = water suplus / volume air bersih

d. Limpasan (Run Off) dan Tampungan Air Tanah (Ground Water

Storage)

V(n) = kV (n-1) + 0,5 (1-k).1(n) .........................................(33)

dVn = V (n) – V (n-1) .....................................................(34)

dimana :

V(n) = volume air bulan ke-n

V(n-1) = volume air tanah bulan ke-(n-1)

k = faktor resesi aliran tanah diambil antara 0-0,1

I = koefisien infiltrasi diambil antara 0-0,1

Harga k yang tinggi akan memberikan resesi lambat seperti kondisi

geologi lapisan bawah yang lulus air. Koefisien infiltrasi ditaksir

berdasarkan kondisi porositas tanah dan kemiringan lahan.

2.3 Analisis Hubungan Elevasi dengan Volume Embung

Mencari luas permukaan genangan embung yang dibatasi garis kontur,

kemudian dicari volume yang dibatasi oleh dua garis kontur yang

berurutan dengan menggunakan persamaan pendekatan volume

(Soedibyo. 2003). Perhitungan ini didasarkan pada data peta topografi

dengan skala 1:1.000 dan beda tinggi kontur 1m. Perhitungan dapat

dilakukan dengan rumus sebagai berikut :

q. = . r. (O. + OJ . sO. + OJ .........................................(35)

Dimana :

q. = volume pada kontur x


r. = beda kontur pada x

O. = luas pada kontur x

OJ = luas pada kontur y

2.4 Perencanaan Konstruksi Embung

2.4.1 Embung

Embung adalah bangunan konservasi berbentuk kolam atau

cekungan untuk menampung kelebihan air pada saat debit tinggi dan

melepaskannya pada saat dibutuhkan.

2.4.1.1 Tipe Embung

Tipe embung dibedakan menjadi 4 berdasarkan keadaaan

sebagai berikut (Soedibyo, 2003) :

a. Embung Berdasarkan Tujuan Dibangunnya

Ada dua tipe Embung dengan tujuan tunggal dan

embung serbaguna :

1. Embung dengan tujuan tunggal (single purpose

dams)

Embung yang dibangun untuk memenuhi satu

tujuan saja, misalnya untuk kebutuhan air baku atau

irigasi (pengairan) atau perikanan darat atau tujuan

lainnya tetapi hanya satu tujuan saja.

2. Embung serbaguna (multipurpose dams)

Embung yang dibangun untuk memenuhi beberapa

tujuan misalnya : irigasi (pengairan), air minum

dan PLTA, pariwisata dan irigasi dan lain-lain.


a. Tipe Embung Berdasar Penggunaannya

Ada 3 tipe yang berbeda berdasarkan

penggunaannya yaitu :

1. Embung penampung air (storage dams)

Embung yang digunakan untuk menyimpan air

pada masa surplus dan dipergunakan pada masa

kekurangan. Termasuk dalam embung penampung

air adalah untuk tujuan rekreasi, perikanan,

pengendalian banjir dan lain-lain.

2. Embung pembelok (diversion dams)

Embung yang digunakan untuk meninggikan muka

air, biasanya untuk keperluan mengalirkan air ke

dalam sistem aliran menuju ke tempat yang

memerlukan.

3. Embung penahan (detention dams)

Embung yang digunakan untuk memperlambat dan

mengusahakan seoptimal mungkin efek aliran

banjir yang mendadak. Air ditampung secara

berkala atau sementara, dialirkan melalui pelepasan

(outlet). Air ditahan selama mungkin dan dibiarkan

meresap ke daerah sekitarnya.

b. Tipe Embung Berdasar Letaknya Terhadap Aliran

Air
Ada dua tipe yaitu embung yaitu embung pada aliran

(on stream) dan embung di luar aliran air (off

stream) yaitu :

1. Embung pada aliran air (on stream)

Embung yang dibangun untuk menampung air,

misalnya pada bangunan pelimpah (spillway).

2. Embung di luar aliran air (off stream)

Embung yang umumnya tidak dilengkapi spillway,

karena biasanya air dibendung terlebih dahulu di on

stream-nya baru disuplesi ke tampungan. Kedua tipe

ini biasanya dibangun berbatasan dan dibuat dari

beton, pasangan batu atau pasangan bata.

c. Tipe Embung Berdasar Material Pembentuknya

Ada 2 tipe yaitu embung urugan, embung beton dan

embung lainnya.

1. Embung Urugan ( Fill Dams, Embankment Dams )

Embung urugan adalah embung yang dibangun dari

penggalian bahan (material) tanpa tambahan bahan

lain bersifat campuran secara kimia jadi bahan

pembentuk embung asli. Embung ini dibagi menjadi

tiga yaitu embung urugan serba sama (homogeneous

dams) adalah embung apabila bahan yang

membentuk tubuh embung tersebut terdiri dari tanah

sejenis dan gradasinya (susunan ukuran butirannya)


hampir seragam. Yang kedua adalah embung zonal

adalah embung apabila timbunan terdiri dari batuan

dengan gradasi (susunan ukuran butiran) yang

berbeda-beda dalam urutan-urutan pelapisan

tertentu. Yang ketiga adalah bendungan urugan batu

dengan lapisan kedap air muka.

2. Embung Beton ( Concrete Dam )

Embung beton adalah embung yang dibuat dari

konstruksi beton baik dengan tulangan maupun

tidak. Kemiringan permukaan hulu dan hilir tidak

sama pada umumnya bagian hilir lebih landai dan

bagian hulu mendekati vertikal dan bentuknya lebih

ramping. Embung ini masih dibagi lagi menjadi

embung beton berdasar berat sendiri stabilitas

tergantung pada massanya, embung beton dengan

penyangga (buttress dam) permukaan hulu menerus

dan dihilirnya pada jarak tertentu ditahan, embung

beton berbentuk lengkung dan embung beton

kombinasi.

2.4.2 Rencana Teknis Pondasi

Keadaan geologi pada pondasi embung sangat mempengaruhi

pemilihan tipe embung, oleh karena itu penelitian dan

penyelidikan geologi perlu dilaksanakan dengan baik. Pondasi


suatu embung harus memenuhi 3 (tiga) persyaratan penting yaitu

(Soedibyo,2003) :

1. Mempunyai daya dukung yang mampu menahan bahan

dari tubuh embung dalam berbagai kondisi.

2. Mempunyai kemampuan penghambat aliran filtrasi

yang memadai sesuai dengan fungsinya sebagai

penahan air.

3. Mempunyai ketahanan terhadap gejala-gejala sufosi

(piping) dan sembulan (boiling) yang disebabkan oleh

aliran filtrasi yang melalui lapisan-lapisan pondasi

tersebut.

Secara umum embung dapat dibedakan menjadi 3 jenis :

 Pondasi batuan

 Pondasi kerikil atau pasir

 Pondasi tanah

Besarnya daya dukung pada tanah yang diijinkan sama dengan

daya dukung batas dibagi angka keamanan, dan dapat dirumuskan

sebagai berikut:
uvwx
t0 = yz
.............................................................................(36)

Dimana :

t0 = daya dukung izin tanah

tR{d = daya dukung ultimit

O^ = faktor keamanan
2.4.3 Perencanaan Tubuh Embung

2.4.3.1 Tingi Embung

Tinggi embung adalah perbedaan antara elevasi permukaan

pondasi dan elevasi mercu embung. Apabila pada embung

dasar dinding kedap air atau zona kedap air, maka yang

dianggap permukaan pondasi adalah garis perpotongan

antara bidang vertikal yang melalui hulu mercu embung

dengan permukaan pondasi alas embung tersebut. Tinggi

maksimal untuk embung adalah 20 m (Loebis, 1987).

Gambar 2. Tinggi Embung.

2.4.3.2 Lebar Mercu

Mercu adalah bagian puncak embung. Mercu ini berfungsi

sebagai penahan air agar tidak terjadi filtrasi dibagian tubuh

embung. Mercu embung harus kuat terhadap hempasan air.

Selain itu, dalam merencanakan mercu embung harus

diperhatikan pula fungsinya sebagai jalan inspeksi dan

pemeliharaan embung. Penentuan lebar embung didasarkan

pada rumus (Sostrodarsono dan Takeda, 1989) :

| = 3,6• −....................................................................(37)

Dimana :
b = lebar embung

H = tinggi embung

2.4.3.3 Panjang Embung

Panjang embung adalah seluruh panjang mercu embung

yang bersangkutan, termasuk bagian yang digali pada

tebing-tebing sungai di kedua ujung mercu tersebut.

Apabila bangunan pelimpah atau bangunan penyadap

terdapat pada ujung-ujung mercu, maka lebar bangunan-

bangunan pelimpah tersebut diperhitungkan pula dalam

menentukan panjang embung.

2.4.3.4 Tinggi Jagaan (Free Board)

Tinggi jagaan adalah jarak vertical anatara puncak

bendungan dengan permuakaan waduk pada waktu

banjir tertinggi.

Gambar 3. Tinggi Jagaan.

Perhitungan tinggi jagaan harus benar karena tinggi

jagaan ini dimaksudkan untuk mencegah meluapnya air

dari embung disaat terjadi banjir. Terdapat beberapa

rumus yang dapat dipakai untuk menentukan tinggi


jagaan dan diambil angka yang terbesar (Soedibyo,

1993):

a. Permukaan air tertinggi pada waktu banjir (TWL)

Pada waktu banjir terjadi, permukaan embung akan

naik sedikit demi sedikit sampai mencapai

permukaan embung (FSL). Permukaan air embung

ini akan terus naik, sampai mencapai permukaan air

tertinggi yaitu TWL. Permukaan air tertinggi ini

harus dicari dengan perhitungan ruting banjir (flood

rouiting). Di dalam perhitungan ruting banjir

termasuk menentukan volume efektif dari waduk dan

debit banjir maksimal yang akan dilewatkan

bangunan pelimpah. Maka dirumuskan sebagai

berikut :

mk = • + •/ ……………………………(38)

Dimana :

mk = tinggi jagaan

• = selisih antara TWL dan FSL

•/ = angka keamanan

b. Permukaan air tertinggi sebagai akibat tinggi

gelombang angin.

Apabila terjadi angina yang bertiup secara terus

menerus dan teratur ke arah bendungan maka akan


timbul gelombang angina yang tingginya dapat

dihitung menurut rumus Zuiderzee :

€ .y
= . cos ……………………………(39)
#.

Keterangan :

S = tinggi gelombang angina (m)

V = kecepatan angina di atas air (km/jam)

F = fetch

d = kedalaman embung rata-rata (m)

A = sudut antara angin dengan fetch

k = angka koefisien biasanya diambil 62

c. Tinggi gelombang sebagai akibat gempa bumi (he)

Saichi Sato telah menemukan rumus sebagai

berikut:

#.d
ℎ9 = 8
s…. •† ……………………………(40)

dimana :

he = tinggi koefisien sebagai akibat gempa bumi

(m)

k = koefisien gempa bumi (0,10-0,30)

t = waktu terjadinya gelombang gempa bumi

(detik)

•† = kedalaman embung rata-rata

d. Tinggi keamanan sebagai akibat tipe bendungan (hi)

Embung urugan kurang stabil terhadap bahaya

limpahan air melewati puncak bendungan, oleh


karena tingig jagaan pada embung urugan dibuat

lebih tingi 1 m dari hasil perhitungan.

e. Standard minimal tinggi jagaan

The Jappanese National Committee On Large

Dams (JANCOLD) menyusun standard minimal

tinggi jagaan sebagai berikut :

Tabel 6. Standar tinggi jagaan menurut JANCOLD

No. Tinggi Bendungan Bendun

bendungan beton gan

(m) urugan

1. < 50 1m 2m

2. 50-100 2m 3m

3. >100 2,5 m 3,5 m

(Soedibyo,1993)

2.4.3.5 Volume

Seluruh jumlah volume konstruksi yang dibuat dalam

rangka pembangunan tubuh embung termasuk semua

bangunan pelengkapnya dianggap sebagai volume embung.

2.4.3.6 Kemiringan Lereng Tubuh Embung

Kemiringan rata-rata lereng embung (lereng hulu dan

lereng hilir) adalah perbandingan antara panjang garis

vertikal yang melalui tumit masing-masing lereng

tersebut. Berm lawan dan drainase prisma biasanya


dimasukkan dalam perhitungan penentuan kemiringan

lereng, akan tetapi alas kedap air biasanya diabaikan.

Kemiringan lereng urugan harus ditentukan sedemikian

rupa agar stabil terhadap longsoran. Hal ini sangat

tergantung pada jenis material urugan yang dipakai.

Kestabilan urugan harus diperhitungkan terhadap frekuensi

naik turunnya muka air, rembesan, dan harus tahan

terhadap gempa.

Tabel 7. Kemeringan Lereng

Kemiringan

Material Urugan Material Lereng


Hulu Hilir
Utama
CH, CL, SC,

Urugan Homogen GC, GM, SM 1:3 1 : 2,25

Urugan Majemuk

a. Urugan batu

dengan inti Pecahan batu 1 : 1,50 1 : 1,25

lempung atau

dindingdengan
b. Kerikil

inti lempung atau Kerikil 1 : 2,50 1 : 1,75

dinding diafragma

(Sosrodarsono dan Takeda, 1989)


2.4.4. Stabilitas Embung

Stabilitas embung merupakan perhitungan konstruksi untuk

menentukan kemampuan embung untuk menahan gaya-gaya

yang bekerja dalam keadaan apapun. Konstruksi harus aman

terhadap geseran, penurunan embung, dan terhadap rembesan

dalam kondisi embung kosong, terisi penuh, dan penurunan air

tiba-tiba.

2.4.4.1 Beban Yang Bekerja Pada Embung

Beban yang bekerja pada embung diantaranya :

a. Berat Berat Tubuh Sendiri Embung

Untuk mengetahui besarnya beban berat tubuh

embung, maka diambil beberapa kondisi yang paling

tidak menguntungkan, yaitu:

(1) Pada kondisi lembab, segera sesudah

tubuh embung selesai dibangun.

(2) Pada kondisi sesudah permukaan air mencapai

elevasi penuh, dimana bagian embung

yang terletak di sebelah atas garis depresi dalam

kondisi lembab, sedang bagian embung yang

terletak di sebelah bawah garis depresi dalam

keadaan jenuh.

(3) Pada kondisi dimana terjadi gejala penurunan

mendadak (rapid draw-down) permukaan air,

sehingga semua bagian embung yang semula


terletak di sebelah bawah garis depresi tetap

dianggap jenuh.

Gambar 4. Gaya Akibat Berat Beban Sendiri

b. Tekanan Hidrostatis

Pada perhitungan stabilitas embung dengan metode

irisan (slice method) biasanya beban hidrostatis yang

bekerja pada lereng sebelah hulu embung dapat

digambarkan dalam tiga cara pembebanan. Pemilihan

cara pembebanan yang cocok untuk suatu

perhitungan, harus disesuaikan dengan semua pola

gaya-gaya yang bekerja pada tubuh embung, yang

akan diikut sertakan dalam perhitungan.

Pada kondisi dimana garis depresi tampaknya

mendekati garis yang horizontal, maka dalam

perhitungan langsung dapat dianggap horizontal dan

berat bagian tubuh embung yang terletak di bawah

garis depresi tersebut diperhitungkan sebagai berat

bahan yang terletak dalam air. Tetapi dalam kondisi


perhitungan yang berhubungan dengan gempa,

biasanya berat bagian ini dianggap dalam kondisi

jenuh.

Gambar 4. Gaya Tekanan Hidrostatis pada Bidang

Luncur.

c. Tekanan Air Pori

Tekanan air pori adalah gaya-gaya yang timbul

dari tekanan air pori di embung terhadap lingkaran

bidang luncur. Gaya-gaya yang timbul dari

tekanan air pori dianggap bekerja tegak lurus

terhadap bidang luncur.

Tekanan air pori dihitung dengan beberapa

kondisi yaitu:

(1) Gaya-gaya yang timbul dari tekanan air pori

dalam kondisi tubuh embung sedang dibangun.

(2) Gaya-gaya yang timbul dari tekanan air pori

dalam kondisi waduk telah terisi penuh dan

permukaan air sedang menurun secara

berangsur-angsur.
(3) Gaya-gaya yang timbul dari tekanan air pori

dalam kondisi terjadinya penurunan

mendadak permukaan air waduk hingga

mencapai permukaan terendah, sehingga

besarnya tekanan air pori dalam tubuh embung

masih dalam kondisi waduk terisi penuh.

d. Beban Seismis (Seismic Force)

Beban seismis akan timbul pada saat terjadinya

gempa bumi, dan penetapan suatu kapasitas beban

seismis secara pasti sangat sukar. Komponen

horisontal beban seismis dapat dihitung dengan

menggunakan rumus sebagai berikut (dalam

Sosrodarsono, 1989):

‡. T = 9(‡. …) ……………………….....(41)

dimana :

M = massa tubuh embung

T = percepatan horizontal

9 = intensitas seismic horizontal

… = percepatan gravitas bumi


Tabel 8. Gempa Bumi dan Percepatan Horizontal

Jenis Pondasi
(
Intensitas Gal Batuan Tanah
Seismis 1
Luar biasa 7 400 0,20 g 0,25 g

(
Sangat kuat 6 400 – 200 0,15 g 0,20 g
G
Kuat 5 200 – 100 0,12 g 0,15 g
a
Sedang 4 100 0,10 g 0,12 g
(

Gal= 1 cm/det2) (Sosrodarsono dan Takeda, 1989)

2.4.4.2 Stabilitas Embung Terhadap Filtrasi

Baik embung maupun pondasinya diharuskan

mampu menahan gaya-gaya yang ditimbulkan

oleh adanya air filtrasi yang mengalir melalui

celah-celah antara butiran- butiran tanah

pembentuk tubuh embung dan pondasi

tersebut.

Hal tersebut dapat diketahui dengan mendapatkan

formasi garis depresi (seepage flow-net) yang

terjadi dalam tubuh dan pondasi embung

tersebut. Garis depresi didapat dengan persamaan

parabola bentuk dasar seperti pada gambar di

bawah ini.
Gambar 5. Garis Depresi pada Embung Homogen

Selanjutnya digunakan persamaan sebagai berikut :

J 'Jˆ
= Jˆ
…………………………………(42)

H† = √ℎ − K − K …………………………(43)

H = s2H† + H† ………………………….(44)

Keterangan :

H = jarah vertikal antara titik A dan B (m)

d = jarak horisontal antara titik B2 dan A (m)

l1 = jarak horisontal antara titik B dan E (m)

l2 = jarak horisontal antara titik B dan A (m)

A = ujung tumit hilir embung (m)

B = titik perpotongan antara permukaan air

waduk dengan lereng hulu embung (m)

A1 = titik perpotongan antara parabola bentuk

besar garis depresi dengan garis vertikal

melalui titik B (m)

B2 = titik yang terletak sejauh 0,3 horisontal ke

arah hulu dari titik B (m)


Akan tetapi garis parabola bentuk dasar (B2-

C0-A0) diperoleh dari persamaan tersebut,

bukanlah garis depresi sesungguhnya, masih

diperlukan penyesuaian menjadi garis B-C-A

yang merupakan bentuk garis depresi yang

sesungguhnya seperti tertera pada gambar

berikut :

Gambar 6. Garis Depresi pada Embung Homogen (dimodifikasi)

o Pada titik permulaan, garis depresi

berpotongan tegak lurus dengan lereng hulu

embung, dan dengan demikian titik †

dipindahkan ke titik C sepanjang ∆0.

o Panjang garis Δa tergantung dari

kemiringan lereng hilir embung, dimana

air filtrasi tersembul keluar yang dapat

dihitung dengan rumus sebagai berikut :



0 + ∆0 = '‰Š‹ S
……………….....(45)

Dimana :

a = jarak AC

∆0 = jarak †
T = sudut kemiringan lereng hilir

embung

2.4.4.3 Gejala Sufosi (piping) dan Sembulan (boiling)

Gejala sufosi (piping) dan sembulan (boiling) adalah

erosi yang cepat sebagai akibat rembesan terpusat

berat tubuh dan atau pondasi embung. Air meresap

melalui timbunan tanah lapisan kedap air atau

pondasi embung. Kecepatan aliran keluar ke atas

permukaan lereng hilir yang komponen vertikalnya

dapat mengakibatkan terjadinya perpindahan butiran-

butiran bahan embung, kecepatannya dirumuskan

sebagai berikut :

Œ •
= &y. Ž
…………………………………(46)

Dimana :

C = kecepatan kritis

• = berat butiran bahan dalam air

… = perecepatan gravitasi bumi

• = berat isi air

O = luas permukaan yang menampung aliran

filtrasi (m2)

2.4.5 Rencana Teknis Bangunan Pelimpah

Bangunan pelimpah adalah bangunan beserta instalasinya

untuk mengalirkan air banjir yang masuk ke dalam embung

agar tidak membahayakan keamanan embung. Apabila terjadi


kecepatan aliran air yang besar akan terjadi olakan (turbulensi)

yang dapat mengganggu jalannya air sehingga menyebabkan

berkurangnya aliran air yang masuk ke bangunan pelimpah.

Maka kecepatan aliran air harus dibatasi, yaitu tidak melebihi

kecepatan kritisnya (dalam Sosrodarsono dan Takeda, 1989).

Pada hakekatnya untuk embung terdapat berbagai tipe bangunan

pelimpah dan untuk menentukan tipe yang sesuai diperlukan

suatu studi yang luas dan mendalam, sehingga diperoleh

alternatif yang paling ekonomis. Bangunan pelimpah yang biasa

digunakan yaitu bangunan pelimpah terbuka dengan ambang

tetap. Bangunan pelimpah ini biasanya terdiri dari tiga bagian

utama yaitu (dalam Sosrodarsono dan Takeda, 1989) :

 Saluran pengarah

 Saluran pengatur aliran

 Saluran peluncur

 Peredam energi

2.4.5.1 Saluran Pengarah dan Pengatur

Bagian ini berfungsi sebagai penuntun dan pengarah

aliran agar aliran tersebut senantiasa dalam kondisi

hidrolika yang baik. Pada saluran pengarah aliran ini,

kecepatan masuknya aliran air supaya tidak melebihi 4

m/det dan lebar saluran makin mengecil ke arah hilir.

Kedalaman dasar saluran pengarah aliran biasanya

diambil lebih besar dari 1/5 X tinggi rencana limpasan


di atas mercu ambang pelimpah. Kapasitas debit air

sangat dipengaruhi oleh bentuk ambang. Terdapat 3

ambang yaitu ambang bebas, ambang berbentuk

bendung pelimpah dan ambang bentuk bendung

pelimpas penggantung.

Gambar 7. Saluran Pengarah Aliran dan Ambang

Pengatur

Gambar 8. Bangunan Pelimpah

Keterangan gambar :

1. Saluran pengarah

2. Saluran pengatur
3. Saluran peluncur

4. Bangunan peredam energy

2.4.5.2 Saluran Peluncur

Dalam merencanakan saluran peluncur (flood way)

harus memenuhi persyaratan sebagai berikut (dalam

Sosrodarsono dan Takeda, 1989):

 Agar air yang melimpah dari saluran pengatur

mengalir dengan lancar tanpa hambatan-

hambatan hidrolis.

 Agar konstruksi saluran peluncur cukup

kukuh dan stabil dalam menampung semua

beban yang timbul.

 Agar biaya konstruksi diusahakan se

ekonomis mungkin.

Gambar 9. Saluran Peluncur

2.4.5.3 Peredam Energi

Digunakan untuk menghilangkan atau setidak-

tidaknya mengurangi energi air agar tidak merusak

tebing, jembatan, jalan, bangunan dan instalasi lain


disebelah hilir bangunan pelimpah. Guna meredusir

energi yang terdapat di dalam aliran tersebut,

maka diujung hilir saluran peluncur biasanya

dibuat suatu bangunan yang disebut peredam

energi pencegah gerusan (dalam Sosrodarsono dan

Takeda, 1989).

Dalam perencanaan dipakai tipe kolam olakan,

dan yang paling umum dipergunakan adalah

kolam olakan datar. Macam tipe kolam olakan

datar yaitu :

a. Kolam Olak Vlugter

Kolam olak ini dipakai pada tanah aluvial

dengan aliran sungai tidak membawa batuan

besar. Batas-batas yang diberikan untuk z/hc

0,5; 2,0 dan 15,0 dihubungkan dengan

bilangan Froude 1,0; 2,8 dan 12,8. Kolam

Vlugter bisa dipakai sampai beda tinggi energi z

tidak lebih dari 4,50 m dan atau dalam lantai

ruang olak sampai mercu (D) tidak lebih dari 8

meter.
Gambar 10. Kolam Olak

Vlugter

b. Kolam olakan datar tipe I

Kolam olakan datar tipe I adalah suatu kolam

olakan dengan dasar yang datar dan terjadinya

peredaman energi yang terkandung dalam

aliran air dengan benturan secara langsung

aliran tersebut ke atas permukaan dasar kolam.

Benturan langsung tersebut menghasilkan

peredaman energi yang cukup tinggi, sehingga

perlengkapan-perlengkapan lainnya guna

penyempurnaan peredaman tidak diperlukan lagi

pada kolam olakan tersebut (dalam

Sosrodarsono dan Takeda, 1989).


Gambar 11. Bentuk Kolam Olakan Datar Tipe I

USBR

c. Kolam olakan datar tipe II

Kolam olakan datar tipe II ini cocok

untuk aliran dengan tekanan hidrostatis

yang tinggi dan dengan debit yang besar (q

> 45 m3/dt/m, tekanan hidrostatis > 60 m

dan bilangan Froude > 4,5). Kolam olakan

tipe ini sangat sesuai untuk bendungan

urugan dan penggunaannya cukup luas

(dalam Sosrodarsono dan Takeda, 1989).

Gambar 12. Bentuk Kolam Olakan Datar

Tipe II USBR
d. Kolam olakan datar tipe III

Pada hakekatnya prinsip kerja dari kolam

olakan ini sangat mirip dengan sistim kerja

dari kolam olakan datar tipe II, akan tetapi

lebih sesuai untuk mengalirkan air dengan

tekanan hidrostatis yang rendah dan debit

yang agak kecil (q < 18,5 m3/dt/m, V < 18,0

m/dt dan bilangan Froude > 4,5).

Untuk mengurangi panjang kolam olakan,

biasanya dibuatkan gigi pemencar aliran di

tepi hulu dasar kolam, gigi penghadang

aliran (gigi benturan) pada dasar kolam

olakan.

Gambar 13. Bentuk kolam olakan datar tipe III

USBR
e. Kolam olakan datar tipe IV

Sistem kerja kolam olakan tipe ini sama dengan

sistem kerja kolam olakan tipe III, akan tetapi

penggunaannya yang paling cocok adalah untuk

aliran dengan tekanan hidrostatis yang rendah

dan debit yang besar per-unit lebar, yaitu untuk

aliran dalam kondisi super kritis dengan

bilangan Froude antara 2,5 s/d 4,5.

Biasanya kolam olakan tipe ini dipergunakan

pada bangunan-bangunan pelimpah suatu

bendungan urugan yang sangat rendah atau

bendung-bendung penyadap, bendung-bendung

konsolidasi, bendung-bendung penyangga dan

lain-lain (dalam Sosrodarsono dan Takeda,

1989).

Gambar 14. Bentuk Kolam Olakan Datar Tipe IV

USBR
2.5 Perhitungan Rancangan Anggaran Biaya

Rencana anggaran biaya merupakan perkiraan biaya yang

diperlukan untuk setiap pekerjaan dalam suatu proyek konstruksi

sehingg akan diperoleh biaya total yang diperlukan untuk

menyelesaikan suatu proyek. Secara umum dapat disimpulkan

sebagai berikut :

RAB = Σ Volume x Harga Satuan Pekerjaan

2.5.1. Analisis Harga Satuan Pekerjaan

Harga satuan pekerjaan adalah jumlah harga bahan dan upah

tenaga kerja berdasarkan perhitungan analisis. Harga bahan

didapat di pasaran, dikumpulkan dalam suatu daftar yang

dinamakan daftar harga satuan bahan. Upah tenaga kerja

didapatkan dilokasi dikumpulkan dan dicatat dalam suatu

daftar yang dinamakan daftar harga satuan bahan. Harga

satuan bahan dan upah tenaga kerja di setiap daerah berbeda-

beda. Jadi dalam menghitung dan menyusun anggaran biaya

suatu bangunan/proyek, harus berpedoman pada harga

satuan bahan dan upah tenaga kerja di pasaran dan lokasi

pekerjaan.

Menurut Allan Ashworth (1988), analisa harga satuan

pekerjaan merupakan nilai biaya material dan upah tenaga

kerja untuk menyelesaikan satu satuan pekerjaan tertentu.

Baik BOW maupun SNI masingmasing menetapkan suatu


koefisien/indeks pengali untuk material dan upah tenaga kerja

per satu satuan pekerjaan. Harga bahan yang diperoleh di

pasaran, dikumpulkan dalam satu daftar yang dinamakan Daftar

Harga Bahan. Setiap bahan atau material mempunyai jenis dan

kualitas tersendiri. Hal ini menjadi harga material tersebut

beragam. Analisa harga satuan bahanmerupakan proses

perkalian antara indeks bahan dan harga bahan, sehingga

diperoleh nilai Harga Satuan Bahan.

2.5.2 Analisa Bahan dan Upah

Analisa bahan suatu pekerjaan adalah menghitung

banyaknya/volume masing-masing bahan, serta besarnya biaya

yang dibutuhkan. sedangkan Yang diamksud dengan analisa

upah suatu pekerjaan ialah, menghitung banyaknya tenaga yang

diperlukan, serta besarnya biaya yang dibutuhkan untuk

pekerjaan tersebut (H.bachtiar. 1993). Analisa bahan suatu

pekerjaan bisa dihitung menggunakan analisa SNI. Analisa SNI

ini dikeluarkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan

Pemukiman. Analisa SNI merupakan pembaharuan dari

analisa BOW 1921 (Burgeslijke Openbare Werken).

Berdasarkan analisa SNI, koefisien bahan, upah dan alat sudah

ditetapkan untuk menganalisa harga atau biaya yang diperlukan

dalam membuat harga satuan pekerjaan. Komposisi

perbandingan dan susunan material, upah tenaga kerja dan


peralatan pada suatu pekerjaan juga sudah ditetapkan dalam

SNI tersebut kemudian dikalikan dengan harga yang berlaku

dipasaran berdasarkan masing-masing satuan pekerjaan. Di

dalam analisa biaya SNI, indekstenaga kerja dan indeks bahan

bangunan yangdigunakanbersifat umum untuk setiap pekerjaan

di seluruh Indonesia. Namun pada kenyataannya tentuterdapat

perbedaan produktifitas tenaga kerja setiap daerahnya dan

penggunaan material/bahan bangunan padamasing masing

proyek.

Hal ini jelas mengakibatkan adanya perbedaan indeks tenaga

kerja dan indeks bahan bangunan pada masing-masing proyek.

Analisa satuan upah adalah perhitungan jumlah tenaga kerja dan

biaya upah yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu proyek.

Harga satuan upah berbeda-beda pada setiap daerah. Jadi, setiap

daerah mempunyai SNI masing-masing untuk menentukan

jumlah tenaga kerja dan biaya upah yang diperlukan.