Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kingdom animalia memiliki beberapa tingkatan untuk membagi hewan-hewan


yang terdapat di muka bumi ini. Tingkatan tertinggi pada kingdom animalia
tersebut adalah mamalia. Pada umumnya, semua jenis mamalia memiliki rambut
yang menutupi tubuhnya. Jumlah rambut tersebut berbeda-beda antara spesies
yang satu dengan yang lain. Ada spesies yang seluruh tubuhnya ditutupi oleh
rambut dan ada pula spesies yang hanya memiliki rambut di tempat-tempat
tertentu pada bagian tubuhnya. Mamalia merupakan hewan yang
bersifat homoioterm atau sering disebut hewan berdarah panas. Hal ini
dikarenakan kemampuannya untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar
(Zug, 1993).

Brotowidjoyo (1994) menyatakan bahwa sebutan mamalia sendiri berasal dari


keberadaan glandula ( kelenjar ) mamae pada tubuh mereka yang berfungsi
sebagai penyuplai susu. Seperti yang kita ketahui bahwa mamalia betina
menyusui anaknya dengan memanfaatkan keberadaan kelenjar tersebut. Walaupun
mamalia jantan tidak menyusui anaknya, bukan berarti mereka tidak memiliki
kelenjar mamae. Semua mamalia memiliki kelenjar mamae , tetapi pada mamalia
jantan kelenjar ini tidaklah berfungsi sebagaimana pada mamalia betina.

Menurut Sukiya (2001) mamalia memiliki karakter struktural yang


membedakan dari kehidupan vertebrata lain. Ciri utama kelas mamalia adalah
adanya kelenjar susu, yang berfungsi sebagai sumber makanan untuk anaknya.
Kelenjar lain yang biasa ditemukan adalah kelenjar minyak (sebasea) dan kelenjar
keringat (sudofira). Rambut tumbuh selama periode tertentu dalam hidupnya,
meskipun berkurang atau tidak ada sama sekali pada stadium tua seperti pada
paus. Mamalia seperti halnya burung yang endotermis, karena memiliki
mekanisme internal pengontrol suhu tubuh.

1
Seperti telah dikatakan sebelumnya bahwa mamalia merupakan tingkatan
tertinggi pada kerajaan hewan. Hal ini mengakibatkan segala proses yang
dilakukan oleh mamalia lebih tinggi daripada jenis animalia lainnya. Mulai dari
sistem pencernaan, pernafasan, peredaran darah, urogenital, hingga sistem
syarafnya. Oleh karena itu perlulah kita mengetahui tentang karakteristik, struktur
tubuh, cara hidup, klasifikasi, dan habitat dari kelas mamalia beserta peranannya
dalam kehidupan manusia guna menunjang pengetahuan kita. Pada makalah ini
akan dibahas ciri umum, ciri morfologi dan anatomi, ciri khusus hewan kelas
Mamalia.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan tersebut, dapat dirumuskan


rumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana karakteristik umum dan khusus mamalia dalam suatu kingdom?


2. Bagaimana klasifikasi pada kelas mamalia?
3. Bagaimana keanekaragaman mamalia di provinsi Banten?

1.3. Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan tersebut, dapat


dirumuskan tujuan penulisan makalah ini sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui karakteristik umum dan khusus dari mamalia dalam suatu
kingdom.
2. Untuk mengetahui klasifikasi dari kelas mamalia.
3. Untuk mengetahui keanekaragaman mamalia di provinsi Banten.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Karakteristik Umum dan Khusus Mamalia Dalam Suatu Kingdom

Asal usul kelas mamalia adalah dari bangsa reptil, muncul pada era
Mesozoikum. Mamalia telah menyebar disetiap relung ekologi di bumi dan
ditemukan di laut, sepanjang pantai, di danau, sungai, di bawah tanah, di atas
tanah, di pohon dan bahkan di udara. Daerah penyebaran mamalia mulai dari
kutub sampai daerah tropis, jumlah spesiesnya melebihi semua vertebrata
terestrial lain hingga mencapai ± 4060. Namun demikian jumlah ini dapat
menyusut, apabila spesies tidak didasarkan pada variasi geografis (Sukiya, 2001).

Menurut Sukiya (2001) mamalia memiliki karakter struktural yang


membedakan dari kehidupan vertebrata lain. Ciri utama kelas mamalia adalah
adanya kelenjar susu, yang berfungsi sebagai sumber makanan untuk anaknya.
Kelenjar lain yang biasa ditemukan adalah kelenjar minyak (sebasea) dan kelenjar
keringat (sudofira). Rambut tumbuh selama periode tertentu dalam hidupnya,
meskipun berkurang atau tidak ada sama sekali pada stadium tua seperti pada
paus. Mamalia seperti halnya burung yang endotermis, karena memiliki
mekanisme internal pengontrol suhu tubuh.

Ciri khas dari kelas mammalia adalah menyusui anaknya dan mempunyai
rambut. Kebanyakan hewan menyusui adalah hewan darat, walaupun ada pula
yang hampir sepanjang hidupnya terdapat dalam air. Hewan menyusui biasanya
berdarah panas, biasanya mempunyai dua pasang anggota badan, yaitu dua pasang
kaki, atau sepasang kaki dan sepasang sayap, atau sepasang kaki dan sepasang
tangan. Pada ujung-ujung jarinya mungkin terdapat kuku, telapak (tracak), atau
cakar. Ukuran tubuh hewan menyusui beraneka ragam. Suhu yang yang amat
dingin di dekat kutub maupun yang sangat panas di gurun pasir tidak merupakan
halangan bagi beberapa macam hewan menyusui (Rustaman, 1994). Sebagian
besar mamalia memiliki metabolisme yang aktif dan merupakan hewan endoterm.
Kelenjar mammae yang menghasilkan susu adalah ciri yang membedakan
Mammalia dengan yang lain. Semua induk mamalia memberikan makanan

3
seimbang yang kaya akan lemak, gula, protein, mineral, dan vitamin. Sebagian
besar mamalia melahirkan anaknya dan bukan ditetaskan. Perkembangan embrio
didalam rahim merupakan ciri khas mamalia. Banyak pula mamalia yang
mempunyai misai atau kumis (rambut-rambut kaku di atas bibir) (Campbell,
2004).

Berikut adalah beberapa ciri morfologi dan anatomi pada mamalia:

1. Sistem Rangka
Sistem rangka pada mamalia banyak mengalami proses penulangan tetapi juga
terjadi pengurangan jumlah elemen rangka tubuh contohnya pada tulang
tengkorak. Tulang prefrontal, postfrontal, postorbital, dan quadrate juga
mereduksi dan pada beberapa mamalia empat tulang oksipital bergabung.
Berbagai tingkat penggabuangan tulang terdapat di daerah sfenoidal. Tulang-
tulang presfenoid, orbitosfenoid, basisfenoid, dan alisfenoid mungkin terpisah
atau tergabung dengan tulang squamosal (squamosum) membentuk tulang
temporal (Sukiya, 2001).
Menurut Sukiya (2001), kranium mamalia relatif besar untuk
mengakomodasi perkembangan otak. Palatum (langit-langit mulut) umumnya
keras untuk menjaga posisi koana (lubang hidung dalam) di posterior. Tengkorak
bersambung dan bersendi pada tulang servik pertama. Pada premaksila dan
maksila tumbuh gigi, rahang bawah tersusun atas pasangan tulang-tulang dental.
Bagian ujung dari tulang belakang umumnya rata atau accelous atau amfiplatin.
Tulang belakang pada serviks (tulang leher) berjumlah 7 tetapi ada juga yang
hanya 4 buah. Tulang yang berhubungan dengan rahim bersifat fleksibel, tetapi
pada kelompok Cetaea kurang fleksibel akibat dari berbagai macam tingkat
penggabungan.
Hubungan tulang rusuk dengan rongga dada kurang fleksibel, jumlah
pasangan rusuk bervariasi, sekitar 9-24 pasang. Di arah posterior rongga dada ada
tulang pinggul yang kuat dan cukup fleksibel. Tulang ekor sampai pinggul
merupakan tulang belakang yang sangat penting yang bergabung bersama
membentuk sacrum atau tulang selangkang. Tulang ekor jumlahnya bermacam-
macam menurut panjang ekor. Tulang rusuk minimal memiliki dua kondilus

4
(kepala) yaitu capitulum costa yang merupakan kondilus bagian ventral yang
bersendi pada bagain sentrum vertebra yang disebut parapofisis. Kondilus yang
satu disebut tuberculum costa yaitu kondilus bagian dorsal yang bersendi pada
bagain sentrum vertebra yang disebut diapofisis, sedangkan tulang iga atau sering
disebut true ribs bersambungan langsung dengan sternum (tulang dada) (Sukiya,
2001).
Sukiya (2001) menyatakan bahwa biasanya mamalia pada dasarnya
memiliki 4 tungkai berjari lima namun pada beberapa mamalia terjadi modifikasi.
Reduksi sering terjadi dalam jumlah kaki namun pada Cetacea (paus dan sirenia)
bagian distal dari kaki belakang telah hilang. Kelompok mamalia di atas
Monotremata mengalami reduksi korakoid pada bagian gelang bahu,
interklavikula juga mengalami reduksi pada Marsupilia dan Plasentalia. Tulang
selangka berkembang baik pada beberapa mamalia tetapi mereduksi atau sama
sekali tidak ada pada mamalia yang lainnya. Pengecualian pada kelompok paus
dan sirenia, gelang pinggul terdiri dari 3 elemen tulang pada masing-masing sisi
yang pada umumnya digabungkan membentuk tulang innominate. Untuk lebih
jelasnya bisa dilihat pada gambar 2.1.

Gambar 2.1 Sistem rangka kepala pada paus


[Sumber: True, 1904]

2. Sistem Sirkulasi (Sistem Peredaran Darah)


Menurut Sukiya (2001), sistem sirkulasi pada mamalia lebih maju daripada
vertebrata lainnya, pada mamalia memiliki ruangan jantung yang terdiri dari 2

5
atrium dan 2 ventrikel. Atrium kanan dihubungkan dengan ventrikel kanan oleh
katup triskuspidalis, sedangkan atrium kiri dan ventrikel kiri dihubungkan oleh
katup mitral atau bikuspidalis. Lebih jelasnya dapat dilihat gambar perbandingan
jantung vertebrata pada gambar 2.3.

Gambar 2.3 Stuktur Jantung Mamalia


[Sumber: Britannica, 2014]
Sistem aorta berasal dari bagian lengkung aorta sebelah kiri, lengkung aorta
sebelah kanan menjadi arteri subklavia kanan. Semua vena kava langsung masuk
ke atrium kanan, sedangkan sinus venosus mereduksi pada saat embrio. Tidak ada
sistem portal renalis, meskipun sistem vena portal hepatik sangat mirip dengan
vertebrata lain. Eritrosit pada mamalia bersifat eukleat (tidak berinti sel) (Sukiya,
2001).

Menurut Brotowidjoyo (2007), sistem peredaran darah mamalia ada dua


yaitu system peredaran darah besar dan system peredaran darah kecil.

a. Sistem Peredaran Darah Besar (Sistemik)


Peredaran darah besar dimulai dari darah keluar dari jantung melalui aorta
menuju ke seluruh tubuh (organ bagian atas dan organ bagian bawah). Melalui
arteri darah yang kaya akan oksigen menuju ke sistem-sistem organ, maka disebut
sebagai sistem peredaran sistemik. Dari sistem organ vena membawa darah kotor
menuju ke jantung. Vena yang berasal dari sistem organ di atas jantung akan
masuk ke bilik kanan melalui vena cava inferior, sementara vena yang berasal dari
sistem organ di bawah jantung dibawa oleh vena cava posterior.
Darah kotor dari bilik kanan akan dialirkan ke serambi kanan, selanjutnya akan
dipompa ke paru-paru melalui arteri pulmonalis. Arteri pulmonalis merupakan

6
satu keunikan dalam sistem peredaran darah manusia karena merupakan satu-
satunya arteri yang membawa darah kotor (darah yang mengandung CO2). Urutan
perjalanan peredaran darah besar: bilik kiri – aorta - pembuluh nadi - pembuluh
kapiler - vena cava superior - vena cava interior - serambi kanan.
b. Sistem Peredaran Darah Kecil (Pulmonal)
Peredaran darah kecil dimulai dari dari darah kotor yang dibawa arteri
pulmonalis dari serambi kanan menuju ke paru-paru. Dalam paru-paru tepatnya
pada alveolus terjadi pertukaran gas antara O2 dan CO2. Gas O2 masuk melalui
sistem respirasi dan CO2 akan dibuang ke luar tubuh. O2 yang masuk akan diikat
oleh darah (dalam bentuk HbO) terjadi di dalam alveolus. Selanjutnya darah
bersih ini akan keluar dari paru-paru melalui vena pulmonalis menuju ke jantung
(bagian bilik kiri). Vena pulmonalis merupakan keunikan yang kedua dalam
sistem peredaran darah manusia, karena merupakan satu-satunya vena yang
membawa darah bersih. Urutan perjalanan peredaran kecil: bilik kanan – jantung -
arteri pulmonalis - paru-paru - vena pulmonalis - serambi kiri jantung.

3. Sistem Pencernaan
Menurut Kickman (2001), saluran pencernaan mamalia terdiri dari mulut,
kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, dan anus. Perbedaan antara
sistem pencernaan hewan memamah biak dengan manusia terutama pada susunan
dan fungsi gigi serta lambung. Ada beberapa ciri unik yang menjadi karakteristik
sistem pencernaan mamalia. Umumnya mamalia mempunyai gigi, bibir biasanya
dapat digerakkan kecuali pada Monotremata dan paus. Kelenjar oral (mulut)
khususnya berhubungan dengan sekresi atau pengeluaran lendir. Oleh karena
umumnya mamalia hidup terestial maka kelenjar oral ini untuk menjaga
kelembaban mulut, tunas rasa di lidah dan membantu menelan makanan.
Beberapa kelenjar yang ada di oral antara lain kelenjar parotis, submaksilaris dan
kelenjar sublingual, dikhususkan sebagai kelenjar saliva (air ludah). Kelenjar
saliva pada beberapa spesies mampu memproduksi enzim amilase yang kemudian
diaktifkan oleh asam klorida untuk mengubah pati menjadi gula saat makanan
berada di dalam mulut (Sukiya, 2001).

7
Sukiya (2001) juga menyatakan bahwa beberapa jenis mamalia yang
frekuensi nafasnya pendek atau bernafas cepat biasanya dengan mulut terbuka
untuk membantu mengatur temperature tubuh. Pengaturan temperature tubuh ini
sebagai hasil dari evaporasi saliva dan juga evaporasi dari dalam paru-paru.
Evaporasi saliva cenderung membantu mendinginkan tubuh. Penggunaan kelenjar
saliva secara ekstrim sebagai pengatur panas dapat dijumpai pada tupai tanah.
Spesies gurun seperti Citellus tereticaudus secara teratur mengeluarkan air ludah
atau liur dan menggosok-gosokkan air ludah di tubuh mereka ketika menderita
kepanasan.
Lidah pada sebagaian besar mamalia, kecuali paus berkembang sangat baik
dan bisa bergerak menjulur dan rektraksi (ditarik kembali) karena adanya
sejumlah otot intrinsik. Bagian permukaan lidah terdapat beberapa tipe papillae
yang terhubung dengan tunas rasa. Gambar tipe papillae dapat dilihat pada
gambar 2.4 berikut.

Gambar 2.4 Tipe papillae


[Sumber: www.diknas.com]
Esophagus mudah dibedakan dari lambung kelenjar dan panjangnya
tergantung pada panjang leher. Lambung pada mamalia menunjukkan berbagai
macam bentuk dan ukuran yang berhubungan dengan kebiasaan makan, yaitu dari
yang relatif sederhana hanya berupa struktur yang terdiri atas sekelompok ruangan
dan ada yang sangat kompleks. Vampire bat (Demodus rotundus) yang
makanannya darah segar dari korbannya, mempunyai ukuran lambung yang luas
untuk penyimpanan. Spesialisasi lambung ditemukan pada tikus grasshopper
(Onychomys) yang merupakan hewan pengerat kecil. Hewan ini hidupnya
tergantung dari serangga dan dengan demikian harus mampu memproses kitin
dalam sistem pencernaannya. Kelenjar pencernaan pada tikus Onychomys

8
terkonsentrasi di bagian fundus, sedangkan pada bagian kardia dan pylorus
dilindungi epithelium yang mampu bertahan dari efek abrasi kitin.
Lambung sangat kompleks ditemukan pada ruminansia (pemamah biak,
paus dan sirenian). Lambung hewan pemamah biak ada 4 bagian, yaitu pertama
ruangan penyimpanan temporer disebut rumen. Makanan dikunyah dan masuk
dalam bagain ini dibasahi dan diaduk sampai berkali-kali kemudian dari sini
masuk ke perut kedua yang disebut reticulum. Kunyahan ini kemudian
dikeluarkan lagi (dimuntahkan kedalam mulut ketika binatang itu sedang istirahat,
dan vegetasi dikunyah lagi, ditelan kedua kalinya dan masuk kedalam lambung
ketiga yaitu omasum atau pesalterium. Disini pengadukan dilanjutkan sebagai
akibat dari gerak peristaltik dan masuk ke ruangan keempat disebut abomasums.
Selanjutnya makanan yang sudah tercampur dengan sekresi dari kelenjar
pencernaan pada dinding abomasum, kemudian masuk kedalam duodenum atau
bagian anterior usus kecil. Gambar bagian-bagian penyusun lambung pada
ruminansia dapat dilihat pada gambar 2.5 berikut.

Gambar 2.5 Bagian-bagian penyusun lambung pada ruminansia


[Sumber: Nickel, et al., 1973]
Usus kecil secara proporsional panjang dan bergulung-gulung panjangnya
berhubungan dengan kebiasaan makan. Usus kecil hewan herbivora cenderung
lebih panjang dari insektivora atau karnivora. Ada kaikum (usus buntu) pada
sambungan antara kolon dan usus kecil. Kaikum umumnya kecil pada hewan
karnivora, tetapi cukup panjang pada hewan herbivor.

9
4. Sistem Pernafasan

Sistem pernafasan (respirasi) pada mamalia tidak sekompleks pada burung.


Menurut Gunderson (1976), paru-paru pada mamalia lebar, namun tidak terdapat
kantung udara seperti pada aves. Di depan celah pada dasar faring terdapat katup
tulang rawan yang dikenal sebagai epiglotis. Udara masuk melewati glotis ke
laring dan kemudian masuk dalam trakea. Gerakan udara di dalam trakea
didorong masuk oleh cincin tulang rawan. Udara dari trakea melewati pasangan
bronkus utama kemudian ke dalam cabang bronkhus dan bronkeolus yang lebih
kecil, dan akhirnya berhenti dalam alveoli dimana terjadi pertukaran gas.
Beberapa mamalia yang hidup di perairan terjadi modifikasi pada bagian tertentu
pada sistem pernapasannya. Modifikasi ini terjadi akibat adanya adaptasi dari
sistem respirasinya dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan perairan,
terutama berupa perkembangan katup untuk menutup lubang saluran pernafasan
di dinding luar tubuh. Ephiglotis pada paus berfungsi untuk menyalurkan udara ke
dalam nasofaring sehingga dapat ditutup rapat dengan jaringan otot penutup
(Sukiya, 2001). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 2.6 berikut.

Gambar 2.6 Sistem respirasi mamalia


[Sumber: ternak.net, 2015]
Mamalia penyelam yang mampu menyelam paling dalam adalah paus. Pada
kedalaman laut >1000m dengan temperatur air <10°C, spermatozoa paus masih
mampu bertahan hidup selama ±1 jam. Sedangkan pada lumba-lumba
menunjukkan alveolusnya yang melipat untuk mencegah perubahan tekanan gas
saat menyelam dan menghindari narkosis nitrogen. Melipatnya alveolus ini
ternyata terjadi pada semua tingkat kedalaman penyelaman paus. Paru-paru paus

10
tidak lebih besar dari proporsi ukuran tubuhnya dari pada mamalia darat, tetapi
toleransi terhadap kapasitas oksigen dan karbon dioksida di dalam darah lebih
besar.
Saat penyelaman, detak jantung rata-rata berkurang sekitar 10 kali per menit
dan darah secara otomatis akan berhenti dari kulit. Darah dari otot tubuh dan
daerah ekor dialirkan untuk menyuplai ke bagian otak dan jantung. Mamalia
penyelam memiliki sejumlah mioglobin berwarna merah gelap yang terletak di
jaringan otot, fungsinya menyerupai hemoglobin yaitu untuk melayani penyediaan
oksigen otot (Sukiya, 2001).

5. Sistem Urogenital
Organ reproduksi pada betina terdiri dari ovaria dan sistem saluran reproduksi.
Saluran reproduksi yang berfungsi untuk mengovulasikan sel telur dan
menyalurkannya ke tempat implantasi yaitu uterus. Saluran reproduksi yang sama
juga menerima sperma dan meyalurkannya ke tempat terjadinya fertilisasi, yaitu
oviduk (Gunderson, 1976).
Kedua ovarium pada mamalia biasanya fungsional dalam menghasilkan ovum,
ada sepasang oviduk (tuba falopii). Ovarium pada mamalia memiliki 2 fungsi
yaitu memproduksi hormon reproduksi betina yaitu estrogen dan memproduksi
gamet betina yaitu ovum (Gunderson, 1976). Saluran oviduk pada monotremata,
hanya bagian kiri saja yang berfungsi kemudian telur masuk ke kloaka. Bagian
distal tuba falopii pada hewan marsupialia dan plasentalia, diperluas sampai
uterus menjadi tempat perkembangan embrio.
Uterus hewan marsupialia tinggal sebagian, tetapi hewan plasentalia ada
bermacam macam tingkat penggabungan dari uterus rangkap sampai sederhana.
Embrio mamalia dilindungi oleh membran fetal yang disebut amnion. Uterus
mamalia memiliki dinding otot yang tebal, mengandung banyak pembuluh darah
yaitu endometrium, tempat berkembangnya embrio.
Testis mamalia terletak jauh di posterior tubuh. Testis tersebut ada yang berada
di dalam rongga tubuh atau di luar rongga tubuh yaitu di dalam kantung yang
disebut dengan skrotum. Testis pada spesies mamalia tertentu, turun dalam
kantung skrotal hanya selama musim breeding (kawin). Mamalia jantan hanya

11
memiliki satu penis. Pada beberapa mamalia memiliki bentuk penis S yang
disebut dengan sigmoid flexure dimana bagian pangkal penis dibalut dengan
kelenjar penis (glans penis), yang mana memiliki banyak bentuk. Contohnya pada
Opossum (Didelphis marsupialis) 2 cm dari ujung tampak bifida begitu juga pada
Platypus (Ornithorynchus) dan pada babi (Sus), yang berbentuk spiral atau
berbentuk seperti sekrup (Gunderson, 1976). Penis pada monotremata terletak di
dasar kloaka, tetapi pada mamalia tingkat tinggi terletak dalam sarung yang di
bagian eksternalnya membuka ke luar. Mamalia dewasa seperti amnioat lainnya,
memiliki jenis ginjal metanefros dan mempunyai kantong kemih. Ginjal mamalia
tidak hanya berhubungan dengan eliminasi sisa nitrogen dalam bentuk urea hasil
metabolisme protein, tetapi juga untuk mengatur keseimbangan air tubuh. Fungsi
lain dari ginjal bergantung pada lingkungan, habitat dan tingkah laku hewan. Hal
ini dapat ditunjukkan pada gambar 2.7 berikut.

Gambar 2.7 Sistem reproduksi mamalia


[Sumber: Sukiya, 2001]

Dengan demikian sistem pengeluaran ini di atur oleh ginjal, yang fungsinya
mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit. Yang mana ketika air masuk
kedalam tubuh, ginjal akan menyaringnya, kemudian mengalirkannya bersama
zat-zat pembuangan lainnya seperti urea melewati ureter, kemudian tersimpan
sementara di vesica urinaria. Kemudian ketika yang berkemih, vesica urinaria
akan terbuka dan air di dalam nya mengalir ke dalam saluran uretra yang pada
akhirnya air seni tersebut keluar dari tubuh.

6. Sistem Saraf

12
Sitem saraf mamalia berkembang lebih kompleks dibandingkan vertebrata lain.
Belahan cerebrum (otak besar) berasal dari telencefalon, ada lekukan dan tonjolan
di permukaannya sehingga ada ridge atau gyrus dan depresi atau sulkus. Lapisan
luar (korteks) cerebrum penyusunnya sebagian besar berupa sel saraf, sehingga
tampak berwarna abu-abu. Belahan otak besar sebelah kiri dan kanan
digabungkan satu dengan yang lainnya oleh komisura putih yang disebut dengan
carpus callosum. Lobus olfaktori pada mamal relatif kecil dibanding dengan
vertebrata lainnnya.
Diencefalon bagian dorsal disebut epitalamus, di lateral disebut dengan
talamus, dan di bagian ventral disebut hipotalamus. Kelenjar pineal terdapat
dibagian atap diencefalon, tetapi tidak menunjukkan struktur seperi mata.
Talamus menjadi pusat penyebaran respon yang penting. Hipotalamus pada
mamalia terdiri atas 4 bagian yaitu infundibulum, membentuk tangkai dan lobus
posterior kelenjar pituitaria di ventral otak, chiasma nervi opticii dimana syaraf
optik sebelah kiri dan kanan bersilang menuju otak, cinereum diyakini menjadi
pusat parasimpatikus dan mammiliary bodies merupakan pusat impuls olfaktor.
Hipotalamus mengontrol sebagian besar fungsi dalam tubuh termasuk tekanan
darah ketika tidur, kandungan air, lemak dan metabolisme karbohidrat, temperatur
tubuh, dan aktivitas ritmis seperti mengganti rambut dan kulit dan sekresi kelenjar
pituitaria. Fungsi dari otak tengah pada mamal kurang begitu penting bila
dibandingkan vertebrata lain yang lebih rendah, sehingga yang lebih berperan
adalah cerebrum. Otak tengah dibagi menjadi 4 bagian disebut korpora
quadrigemina. 2 lobus superior berhubungan dengan penglihatan dan 2 lobus
inferior berhubungan dengan pendengaran. Cerebellum, sangat baik
perkembangannya pada mamal sebagai pusat kontrol gerakan tubuh. Persyarafan
cerebellum mamalia merupakan struktur khusus dinamakan pons. Pons pada
mamalia merupakan ciri yang menclok bila dilihat dari ventral metencefalon.
Terdapat tendensi terhadap pendeknya medulla spinalis (spinal cord) atau
sumsum tulang tulang belakang pada mamal. Sistem syaraf pusat dikelilingi oleh
3 lapisan pelindung atau meninges. Bagian yang paling dalam berhubungan
dengan sistem syaraf itu sendiri, dinamakan piamater (selaput otak lunak). Di luar
piamater adalah arachnoidea. Diantara keduanya ada celah sub arachnoid yang

13
diisi dengan cairan cerebrospinal. Lapisan paling luar adalah duramater (selaput
otak) (Sukiya, 2001).
Mamalia seperti amniota lainnya memiliki 12 saraf kranialis (nervi cranialis).
Saraf spinal (nervi spinalis) pada tulang belakang memiliki radik dorsal dan radik
ventral yang bersatu membentuk saraf spinal utama sebelum muncul pada setiap
invertebrata. Beberapa pleksus dapat ditemukan pada hewan mamal. Pleksus
adalah kompleks saraf yang membentuk bangunan seperti jala yang merupakan
hasil dari penggabungan cabang saraf di ventral tulang belakang. Pleksus yang
lain dapat ditemukan pada bagian servik, brakhial, lumbar dan sakral. Untuk lebih
lengkap mengenai sistem saraf pada mamalia dapat dilihat pada gambar 2.8.

Gambar 2.8 Sistem saraf pada mamalia


[Sumber: Anatomicalprints, 2001]

7. Organ Indra
Bulbus olfaktori dan lobus olfaktori merupakan bagian utama pada otak
mamalia. Meskipun lobus olfaktori tidak begitu besar dibandingkan pada
vertebrata yang kebih rendah, indera penciuman pada mamal berkembang baik.
Indera penciuman tidak hanya untuk mendeteksi sesama anggota spesies,
melainkan juga untuk mendeteksi musuh dan makanan. Berbeda dengan paus
yang tidak memiliki organ penciuman atau perasa, namun berdasarkan penelitian
selanjutnya diketahui adanya organ yang beranalogi dengan organ olfaktori pada
mamalia terestrial. Ditemukan pada semua gigi paus yang telah diuji epitel
berkelenjar pada lubang oralnya, yang diperkirakan dapat berfungsi seperti

14
kemoreseptor. Kemoreseptor dapat sebagai indera bau busuk yang tidak dapat
dikenali dengan bagian nassal (Gunderson, 1976).
Mata mamalia pada dasarnya mirip dengan vertebrata lain, walaupun tentu ada
modifikasi sehubungan dengan tingkah laku. Seperti pada bangsa burung,
mamalia nokturnal memiliki sel bentuk batang pada retinanya lebih dominan,
sementara pada spesies diurnal sel kerucut pada betina tersebut lebih banyak.
Mamalia darat memiliki kondisi emmetropik di udara tetapi menjadi
hipermetropik di air. Otter, mempunyai mata tipe darat tetapi memiliki otot
sfinkter yang kuat pada irisnya sehingga mampu mengubah bentuk lensa agar
pandangan menjadi lebih tajam ketika dibawah air. Mamalia fosorial seperti tikus
mondok (Talpidae) peran dari mata menjadi kurang penting, seperti halnya pada
Dolphin (Palanista gangetcka) dari India dan Pakistan yang hidup di air keruh.
Indera pendengaran yang paling berkembang dengan baik adalah pada
mamalia. Hanya mamalia yang memiliki struktur eksternal (Gunderson, 1976).
Telinga mamalia memiliki cupping dengan corong suara memancar ke kanal luar
auditori. Di akhir kanal tersebut gelombang suara menyentuh gendang
pendengaran atau membran timpani kemudian di transmisikan menyeberang ke
telinga tengah atau ruang timpani yang dihubungkan oleh tulang kecil ke kohlea
atau telinga dalam. Selanjutnya impuls menuju ke otak melalui saraf auditori.
Bagian dorsal telinga dalam mamal terutama berisi tiga kanal semisirkular
merupakan organ sangat esensial untuk keseimbangan atau orientasi kedudukan.
Kohlea umumnya bergulung untuk mengakomodasi peningkatan panjang, tidak
lurus seperti pada reptil dan aves. Telinga bagian tengah berisi 3 osikula yang
menstransmisikan vibrasi dari membran timpani ke telinga bagian dalam. Alat
auditori beberapa mamalia menunjukkan spesialisasi. Kelelawar, paus dan
pinniped mampu mendeteksi suara gema yang dihasilkan sendiri untuk
mendeteksi adanya obyek di lingkungannya saat hewan itu bergerak. Kelelawar
menghasilkan suara berfrekuensi tinggi saat terbang. Navigasi kelelawar
menggunakan alat echolocation. Suara tersebut direfleksikan kembali dari obyek
di sekitar berdasar gema dan refleksi yang diterima berupa keberadaan obyek,
ukuran dan bentuknya. Hal ini dapat ditunjukkan pada gambar 2.9 berikut.

15
Gambar 2.9 Sistem echolocation pada kelelawar
[Sumber: Osborne, 2014]
Beberapa jenis paus menghasilkan suara di bawah air sebanding dengan
kelelawar yaitu mencapai frekuensi 300. 000 siklus per detik. Telinga paus telah
teradaptasi untuk mendengarkan di bawah air sehingga terjadi modifikasi dasar dri
tipe telinga hewan darat karena suara berjalan 4 kali lebih cepat dibanding lewat
udara. Hal ini menimbulkan problem, karena resepsi pada masing masing organ
auditori sangat esensial untuk ketepatan orientasi. Paus telah melakukan adaptasi
dengan mempunyai tulang timpani, dimana kohlea menggantung pada tengkorak
dengan ligamentum dan dikelilingi lubang yang berisi udara atau busa dengan
demikian gelombang suara hanya dapat ditransmisikan ke kohlea dengan
modifikasi khusus ossikel auditori. Pinniped juga menggunakan echolocation
ketika berenang di bawah air sehingga di daerah gelap total tidak hanya dapat
meletakkan obyek di dalam air dengan kecepatan tinggi juga mampu
membedakan obyek yang berbeda komposisi walaupun sama ukuran dan
bentuknya. Spesies rodentia nokturnal mampu menghasilkan dan mendengar
suara berfrekuensi tinggi, misalnya sensitifitas mencit mencapai 80 khz (Sukiya,
2001).

Spesialisasi mamal berhubungan dengan sistem integumen. Kelenjar susu,


kulit dan kelenjar kulit, rambut dan kelenjar rambut, tanduk, kuku, cakar dan
kelenjar kuku pada dasarnya merupakan bagian dari integumentum atau
asesorisnya. Integumentum berupa kulit yang tersusun atas lapisan luar yang tipis
disebut epidermis dan lapisan lebih tebal di dalam dinamakan dermis. Secara
embriologis, integumentum berasal dari lapisan ektoderm. Sistem integumentum
berfungsi untuk melindungi tubuh terutama agar tidak terjadi infeksi. Rambut juga

16
membantu memberikan keamanan bagi tubuh. Berkurangnya rambut pada mamal
terestrial biasanya akibat dari tebalnya kulit. Fungsi paling penting dari sistem
integumentum mamal adalah membantu pengaturan suhu tubuh oleh karena
fungsi dari kelenjar keringat. Kulit juga berperan dalam perlindungan tubuh dari
temperatur tinggi dan radiasi sinar matahari.

1. Kelenjar susu
Kelenjar susu terbentuk dari gabungan kelenjar keringat dan kelenjar minyak
yang keduanya berkembang dari derivat epidermis. Secara embriologis, kelenjar
susu muncul dari penebalan epidermis yang meluas pada sisi tubuh yang
berbentuk garis. Pada titik tertentu sepanjang garis susu ini akan muncul kelenjar
susu. Kelenjar susu akan tampak berkembang dan ini akan menjadi pertanda seks
sekunder tetapi secara normal hanya pada hewan betina yang fungsional.
Perkembangan kelenjar susu ini di bawah kontrol hormonal.

Letak kelenjar susu bermacam macam pada spesies yang berbeda, ada yang
pektoral, abdominal atau inguinal. Sebagian besar mamal bangun kelenjar ini
dinamakan nipple atau mamae. Pada kelompok monotremata, tidak ada nipple
sehingga saluran terbuka pada permukaan kulit dan anak-anaknya pada waktu
masih muda menjilati susu yang keluar pada permukaan ventral tubuh induknya.
Pada hewan marsupialia dan plasentalia, saluran dari kelenjar susu tersebut
terbuka pada nipple yang umumnya terletak lebih kranial. Kelenjar susu pada
kelompok primata, saluran ini membuka pada ujung nipple, Kelenjar susu dapat
dilihat pada gambar 2.10 berikut.

Gambar 2.10 Anatomi kelenjar mamal pada sapi

[Sumber: Gunderson, 1976]

17
2. Kelenjar kulit
Kelenjar keringat berfungsi untuk mengeluarkan zat buangan dari tubuh dan
membantu mengatur suhu akibat evaporasi keringat. Kelenjar keringat pada
mamalia memiliki jumlah yang berbeda dan tidak terdistribusi merata di seluruh
tubuhnya. Sedangkan kelenjar minyak berhubungan dengan folikel rambut dan
ekskresinya untuk meminyaki rambut dan kulit. Ada beberapa jenis kelenjar bau
pada mamalia, diantaranya muncul dari modifikasi kelenjar sebasea atau kelenjar
sudorifera. Fungsi kelenjar ini berbeda, diantaranya untuk mempertahankan diri
dari musuh, untuk memperingatkan anggota kelompok yang lain dari spesies yang
sama atau untuk menarik individu yang berlainan jenis kelamin. Cairan yang
dihasilkan kelenjar bau juga dapat menjadi senjata ampuh pengusir musuh.
3. Rambut
Secara embriologis, rambut merupakan struktur ektodermal yang berasal dari
lapisan malphigi epidermis. Rambut mamalia umumnya terbagi menjadi 2
kategori yaitu rambut kasar (guard hair) dan rambut halus (under hair atau under
fur). Rambut kasar lebih besar dan mudah dilihat sedangkan rambut halus
biasanya lebih halus, pendek, dan tidak tampak jelas kecuali rambut itu dipisah.
Rambut kasar lebih dominan dibandingkan rambut halus. Oleh karena rambut
terbentuk dari zat tidak hidup yaitu unsur keratin, maka keberadaannya hanya
bersifat sementara sehingga perlu pergantian secara periodik.
Pergantian rambut terjadi setiap tahun untuk spesies di musin gugur, tetapi ada
spesies tertentu pergantian rambut terjadi tidak teratur. Pergantian rambut
berlangsung dalam beberapa minggu, secara berangsur-angsur rambut tua lepas
sampai rambut baru tumbuh sempurna. Rambut kulit memberi banyak fungsi bagi
mamalia tetapi tujuan utamanya untuk melindungi tubuh dari panas tubuh.
Sebagai insulator, rambut mencegah hilangnya energi seperti halnya fungsi bulu
pada burung. Fungsi lain dari rambut adalah untuk perlindungan. Rambut yang
kaku dan kasar pada landak dapat dimaklumi sebagai pelindung karena binatang
ini bergerak relatif lambat (Sukiya, 2001).
4. Gigi
Sebagian besar gigi mamalia berperan penting dalam membantu memotong
motong makanan dan ada yang digunakan untuk mempertahankan diri. Sebagian

18
besar mamalia adalah bifiodont artinya memiliki 2 kelompok gigi yaitu gigi susu
dan gigi permanen, sedangkan gigi vertebrata tingkat rendah berganti selama
proses hidupnya. Kelompok gigi pertama adalah sebagai deciduous atau lacteal
dentition atau disebut gigi susu. Kelompok gigi kedua adalah gigi permanen
sebagai pengganti gigi susu setelah tanggal, dimana gigi tidak akan tumbuh lagi
setelah tanggal.

Gigi pada mamalia dibagi menjadi 4 kelompok mulai dari anterior ke posteror
rahang yaitu gigi seri (incisor), gigi taring (canines), geraham depan (premolar),
dan geraham belakang (molar). Untuk lebih jelas dapat dilihat pada gambar 2.11.

Gambar 2.11 Susunan gigi pada mamalia

[Sumber: bio.miami.edu, 2014]

5. Antler dan horn


Antler dan horn ditemukan pada kepala Artiodactyla, tetapi keduanya memiliki
sifat yang berbeda. Antler ditemukan pada familia Cervidae dan berganti setiap
tahun. Ada beberapa bentuk antler yang dimiliki oleh berbagai mamalia. Antler
adalah berupa tulang. Selama periode pertumbuhannya, antler ditutup dengan
beledu (velvet) yang tersusun dari kulit dan rambut halus pendek. Tulang terletak
di bagian dalam atau inti antler yang merupakan pertumbuhan tulang frontal, dan
pada permukaan luarnya ditutup beledu. Ketika antler sudah matang atau dewasa
maka suplai darah ke antler (bagian tulang dan beledu) semakin berkurang dan
akhirnya berhenti. Akibatnya antler akan tanggal dan diganti atau tumbuh antler

19
yang baru. Diagram struktur antler dan horn dapat dilihat pada gambar 2.12
berikut.

Gambar 2.12 Diagram struktur antler dan horn


[Sumber: wikibooks.org, 2014]
Tipe horn ditemukan pada anggota Bovidae dan modifikasi bentuk horn
ditemukan pada familia Antilocapridae. Horn terdapat pada hewan betina dan
jantan, biasanya pada hewan jantan lebih besar. Pergantian horn hanya terjadi
pada lapisan luarnya. Inti horn ini merupakan struktur permanen dan terus
bertambah selama hidup. Horn hanya mempunyai penutup bentuk sarung berupa
keratin, ukuran sarung akan meningkat seiring dengan ukuran inti tulang. Macam-
macam horn dapat dilihat pada gambar 2.13 berikut.

Gambar 2.13 Contoh bentuk tanduk pada mamalia


[Sumber: wikibooks.org, 2014]

20
6. Alat gerak
Tungkai mamalia teradaptasi sangat khusus sesuai dengan cara hidupnya.
Mamalia yang berlari kencang misalnya Antelop dan rusa diistilahkan sebagai
hewan kursorial. Spesies tersebut mempunyai tungkai panjang proporsional dan
ramping dengan otot-otot terkonsentrasi mendekati tubuh. Bentuk bentuk tersebut
memiliki tungkai belakang sepanjang ekornya dan lebih besar dari tungkai depan,
sruktur tersebut penting untuk keseimbangan.
Ada juga mamalia yang menapak menggunakan kuku dan jari di atas tanah,
misal racoon dan berbagai macam beruang (Ursidae). Tipe fosorial yaitu tipe kaki
yang dimiliki mamal penggali beradaptasi hidup di lubang dalam tanah, misalnya
mole (Talpidae). Adaptasi bentuk hidup subteran ini berupa pemendekan dan
penguatan appendages, khususnya pada tungkai depan. Tungkai depan cenderung
terletak di bagian lateral tubuh, telapak luas dengan kuku kuat.
Tipe appandages hewan mamalia dapat dilihat pada gambar 2.14 berikut.

Gambar 2.14 Macam alat gerak pada mamalia


[Sumber: wikimedia.org, 2016]

2.2. Klasifikasi Kelas Mamalia

Evolusi mamalia yang paling awal belangsung mulai beberapa jalur yang
berbeda. Dari kelompok tersebut hanya tiga yang sampai sekarang masih hidup,
yaitu:

a. Monotremata, mamalia yang bertelur (sub kelas Prototheria)

21
Monotremata tetap bertelur seperti moyang terapasidanya. Platipus paruh bebek
dan pemakan semut berduri adalah satu-satunya monotremata yang ada di bumi
sekarang.

b. Marsupiala, mamalia berkantung (infra kelas Metatheria)

Pada marsupiala, anak bertahan untuk jangka waktu yang pendek di dalam saluran
reproduksi induk. Selama waktu yang pendek ini, makanan diperoleh dari kuning
telur yang tumbuh di dalam dinding uterus. Tetapi, anak itu dilahirkan pada tahap
perkembangan yang sangat awal. Anak itu kemudian merayap kedalam kantung
yang terdapat di perut induknya dan melekatkan diri pada puting yang
mengeluarkan air susu. Disitulah perkembangan diselesaikan.

c. Mamalia berplasenta (infra kelas Eutheria)

Mamalia berplasenta mempertahankan anaknya didalam uterus induk sampai


berkembang baik. Kuning hanya sedikit di dalam telur, tetapi membran ekstra
embrionik itu membentuk tali pusar dan plasenta sehingga anak yang sedang
bertumbuh itu mendapat makanannya langsung dari induknya.

Mamalia terbagi atas 2 kelompok besar yaitu :

1. Prototheria (Monotremata) (1 ordo)

Mamalia kelompok protheria (monotremata) tidak memiliki gigi dan daun

telinga. Berkembang biak dengan bertelur, memiliki kloaka dan berparuh.

Pemakan invertebrata yang hidup di air. Biasanya, mamalia kelompok ini dapat

ditemukan di wilayah Australia, Tasmania, new guinea. Kelompok prototheria

hanya memiliki 1 ordo monotremata dengan dua spesies yaitu platypus

(ornithrorynchus anatius) dan achidna (tachyglosus aculeatus).

PROTOTHERIA

22
2. Theria

a. Metatheria

Metatheria termasuk kedalam kelompok marsupial. Metatheria membesarkan

anaknya didalam kantong yang terdapat pada perut induk betina. Telur

mempunyai cadangan makanan, anaknya lahir pada tahap perkembangan yang

masih awal. Umumnya ditemukan di wilayah Australia dan New Zealand, sedikit

ditemukan di Amerika Selatan dan Amerika Utara. Contoh dari kelompok ini

adalah macropus sp, koala dan opossum.

METATHERIA
b. Eutheria

Eutheria merupakan kelompok dengan ordo terbanyak. Kelompok ini disebut

juga Placentalia. Diduga ada 16 ordo dari infra class ini.

1. Carnivora

Carnivora merupakan hewan pemakan daging dengan gigi taring yang

berkembang dengan sangat baik juga memiliki naluri berburu yang baik. Ukuran

tubuhnya kecil sampai besar. Memiliki cakar melengkung dan tajam.

Tengkoraknya kuat dengan cranium yang membulat dan tidak terdapat lempeng

postorbital. Contohnya Alopex lagopus dan panther tigris

23
CARNIVORA
2. Primata

Primata merupakan ordo yang memiliki kurang lebih 235 spesies dan terbagi

dalam dua kelompok yaitu prosimian dan anthropoid.

PRIMATA
3. Rodentia

Rodentia merupakan ordo hewan pengerat. Rodentia memiliki gigi seri yang

sangat baik. Berukuran kecil pada umumnya, tetapi bisa sampai besar. Kakinya

memiliki 5 jari, tengkorak daerah wajah tidak berlubang. Contohnya Mus

musculus, sciuru vulgaris.

RODENTIA
4. Lagomorpha

Ordo ini hampir sama dengan rodentia. Sebelum 1990, dikelompokkan sama

dengan rodentia. Tetapi memilii perbedaan yaitu ordo ini memiliki ekor pendek

yang dapat digerakkan, gigi morale yang dapat terus tumbuh secara kontinu dan

gigi serinya berjumlah empat. Contohnya lepus americanus.

24
LAGOMORPHA
5. Insectivora

Insectivora merupakan mamalia terrestrial yang hidup di lubang pohon,

amfibus dan pemakan insekta. Ukuran tubuhnya kecil. Giginya memiliki puncak

yang tajam, kaki pentadactyl. Daerah olfaktori kepala lebih panjang dari cranial,

tiak ada postorbital, tulang air mata tidak melebar ke wajah.

INSECTIVORA
6. Chiroptera

Chireptera merupakan mamalia bersayap tangan, pemakan buah-buahan di

malam hari. Giginya runcing dan tajam. Kaki belakangnya lebih kecil terdapat

selaput antar jari. Terbang dengan menggunakan sayap tangan yang

pergerakannnya seperti burung. Contohnya adalah kelelawar.

CHIROPTERA
7. Artiodactyla

Contohnya : aepyceros melampus, camelus bactrianus, dan lama glama

ARTIADACTYLA

25
8. Perissodactyla

Perissodactyla merupakan mamalia berjari ganjil. Contohnya zebra, kuda dan

sejenisnya

PERISSODACTYLA
9. Edentata

Merupakan kelompok mamalia berplasenta hanya terdapat di Amerika.

Contohnya kukang tanah dan armadillo.

EDENTATA
10. Pholidota

Mamalia pholidota merupakan hewan yang memiliki sisik tapi tidak bergigi.

Makanannya semut, anai-anai dan dapat bergelantungan atau berpegangan dengan

ekornya. Contohnya trenggiling.

PHOLIDOTA
11. Pinnipedia

Ukuran tubuhnya sedang sampai besar. Jari-jarinya berselaput, tengkoraknya

mempunyai bagian cranium yang lebih besar.

26
PINNIPEDIA
12. Cetacea

Lumba-lumba, paus, pesut merupakan mamalia laut yang termasuk dalam ordo

cetacean yang memiliki 3 sub ordo yaitu Archaeoceti, Mysticeti dan Odontoceti.

Tetapi sub ordo Archaeoceti sudah punah. Hewan cetacea adalah hewan yang

sepanjang hidupnya ada di perairan. Tubuhnya berbentuk seperti torpedo tanpa

sirip belakang, memiliki lobang hidung diatas kepala. Terdapat cekungan di

samping kepala yang merupakan posisi telinga tetapi tidak memiliki daun telinga.

Salah satu perbedaan mendasar antara ikan dan cetacea adalah dari bentuk ekor,

dimana ekornya bergerak horizontal ketika berenang. Cetacean tidak memiliki

kelenjar-kelenjar kulit. Bentuk giginya semua sama dan tidak memiliki email gigi.

Hidupnya di laut atau air tawar.

CETACEA
13. Probosci

Ukuran tubuhnya besar, memiliki proboscis dengan dua lubang hidung

digunakan sebagai pengganti tangan. Kepalanya besar dengan leher pendek.

Beratnya sangatlah luar biasa, sekitar 300-350 kg dengan umur mencapai 50

tahun.

PROBOSCI

27
14. Sirenia

Merupakan kelompok mamalia yang murni hanya memakan tumbuhan tingkat

tinggi dan alga. Mirip dengan ordo cetacea, tidak memiliki daun telinga dan tidak

memiliki tungkai belakang. Seluruh jenis sirenia dilindungi dengan sangat ketat

keberadaannya karena jumlahnya yang lebih sedikit dan kemampuan

reproduksinya yang rendah. Hanya ada satu bayi tiap tahunnya atau bisa jadi lebih

jika kondisi lingkungan tidak mendukung maka induk sirenia akan menunda

kelahiran bayinya hingga musim mendatang. Contohnya dugongidae

SIRENIA
15. Hyracoidea

Hyracoidea hidup di gurun. Contohnya Hyrax

HYRACOIDEA
16. Tubulidentata

Tubulidentata merupakan hewan nocturnal. Ditemukan di Afrika, contohnya

Orycteropus afer.

TUBULIDENTATA

28
17. Dermoptera

Demoptera merupakan mamalia bersayap kulit. Sebangsa lemur yang dapat

terbang. Ukuran tubuhnya kecil sampai dengan medium, kaki-kakinya

menyokong satu lipatan otot yang melebar di daerah kaki depan dan kaki

belakang membentuk sayap, giginya tajam, tengkoraknya gepeng dan lebar.

mamlia ini hanya terdapat di asia tenggara.

DERMOPTERA

2.3. Keanekaragaman Mamalia

Penyebaran mamalia memiliki kecenderungan untuk dibatasi oleh


penghalang-penghalang fisik (sungai, tebing dan gunung) serta penghalang
ekologis (batas tipe hutan dan adanya spesies saingan). Adanya penghalang-
penghalang tersebut menyebabkan mamalia menyesuaikan diri secara optimum
dengan habitatnya. Hal ini juga yang menyebabkan adanya satwa endemis pada
habitat tertentu.

Menurut Alikodra (2002), wilayah penyebaran dari banyak spesies


mamalia masih sedikit yang diketahui dan hampir semua koleksi mamalia baru
yang ditemukan khususnya di Asia Tenggara menunjukkan adanya batas
penyebaran yang baru. Perubahan yang dilakukan manusia terhadap habitat
telah mengubah penyebaran banyak spesies mamalia.

Beberapa ordo penyebarannya tidak mencapai fauna Orientalis, seperti


ordo Macroscelidea, Edentata, Hyracoidea dan Tubudentata. Sedangkan ordo
Marsupialia dan Monotremata penyebarannya hanya di wilayah Australis dan

29
sebagian mencapai Indonesia bagian timur. Ordo Demoptera dan suku
Hylobatidae merupakan fauna endemik daerah Orientalis.

Fauna Sumatera sangat erat hubungannya dengan fauna yang terdapat di


Semenanjung Malaysia dengan relatif sedikit mamalia endemik, misalnya
kelinci Sumatera (Nesolagus netsheri). Sesuai dengan kondisi biogeografisnya,
Pulau Kalimantan (Mamalia endemik sebanyak 18 jenis) memiliki jenis-jenis
satwaliar endemik yang lebih tinggi daripada Pulau Sumatera (Mamalia
endemik sebanyak 10 jenis) (Alikodra. 2002).

Mamalia di wilayah Sunda Besar (Sumatera, Kalimantan dan Jawa)


berkerabat dekat dengan fauna Benua Asia meskipun banyak perbedaan antara
ketiga pulau utama tersebut. Tetapi terdapat perbedaan menarik antara pulau-
pulau tersebut seperti badak (Rhinoceros sp) dan harimau Sumatera (Panthera
tigris Sumaterae) yang terdapat di Sumatera dan Jawa tetapi tidak terdapat di
Kalimantan. Beruang madu (Helarctos malayanus), macan dahan (Neofelis
nebulosa) dan gajah Sumatera (Elephas maximus Sumateranus) yang terdapat
di Sumatera dan Kalimantan dan tapir (Tapirus indicus) di Sumatera (Zon 1979
dalam Solichin, 1997).

Fauna identitas atau hewan khas, Banten menetapkan Badak Jawa, hewan
langka yang kini hanya mendiami Taman Nasional Ujung Kulon. Satwa yang
ditetapkan sebagai maskot Banten tidak kalah langkanya dengan jumlah
populasinya tinggal 58 ekor. Sehingga menjadi salah satu hewan paling langka
di Indonesia. Dalam daftar merah IUCN pun, fauna khas Banten ini
menyandang status keterancaman tertinggi, Critically Endangered (Kritis).
Nama latin hewan ini adalah Rhinoceros sondaicus Desmarest (Alamendah,
2015)

30
Karakterstik Umum Prototheria (Monotremata) Theria (Marsupial dan

plasentalia)

Habitat Semi akuatik Didarat contohnya : kanguru


Diair, di udrara, dan di
darat Di air : Lumba-lumba

Di udara : Kelelawar

Sistem Pernapasan Hidung-tenggorokan- Hidung-tenggorokan-bronkus-


Hidung-tenggorokan- bronkus-bronkeolus-alveolus. bronkeolus-alveolus.
bronkus-bronkeolus-
alveolus.

Sistem Pencernaan Lengkap ( mulut, Lengkap ( mulut,


( mulut, kerongkongan,lambung, kerongkongan,
kerongkongan,lambung, usus halus, usus lambung, usus halus, usus
usus halus, usus besar, dan anus) besar, dan anus)
besar, dan anus)
Sistem Reproduksi Bertelur, namun mereka Melahirkan.
memberi makan bayi mereka Pada Marsupiala, anak bertahan
dengan sekresi kelenjar susu untuk jangka waktu yang pendek
seperti semua mamalia di dalam saluran reproduksi
lainnya. induk.selama waktu yang pendek
ini, makanan diperoleh dari
kuning telur yang tumbuh di
dalam dinding uterus. Tetapi anak
itu dilahirkan pada tahap
perkembangan yang sangat awal.
Anak itu kemudian merayap
kedalam kantung yang ada di
perut induknya dan meletakkan
diri pada puting yang
mengeluarkan air susu, disini
perkembangan diselesaikan.
Mamalia berplasenta
mempertahankan anaknya di
dalam uterus induk sampaii
berkembang baik. Kuning hanya
sedikit di dalam telur, tetapi
membran ekstra embrionik itu
membentuk itu membentuk tali
pusar dan plasenta sehingga anak
yang sedang bertumbuh itu

31
mendapat makanannya langsung
dari induknya.
Sistem Peredaran Darah Peredaran darah ganda Peredaran darah ganda
Ganda, yaitu darah
beredar keseluruh tubuh
dengan melewati jantung
sebanyak dua kali

Sistem Ekresi ginjal Ginjal- Kantung kemih-ureter-


anus.
Perbedaan sub kelas pada kelas mamalia

32
BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Berdasarkan kajian teori, dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Ciri umum pada hewan kelas mamalia antara lain adanya kelenjar susu dan
kelenjar lain seperti kelenjar minyak (sebasea) dan kelenjar keringat (sudofira).
Rambut tumbuh selama periode tertentu dalam hidupnya, dan bersifat
endotermis.
2. Klasifikasi pada hewan kelas mamalia antara lain dibedakan menjadi 2
subkelas yaitu Prototheria dan Theria. Terdiri dari 18 ordo pada subkelas
dengan jumlah ordo yang berbeda meliputi Monotremata, Tricodonta,
Marsupialia, Primata dan lainnya. Dalam kedua sub kelas tersebut ada yang
tergolong dalam Monotremata, Marsupiala, dan Plasentalia.
3. Ciri morfologi dan anatomi hewan kelas mamalia terdiri atas sistem rangka,
sistem sirkulasi, sistem pencernaan, sistem pernafasan, sistem urogenital,
sistem saraf, dan organ indra.
4. Ciri khusus pada hewan kelas mamalia antara lain adanya kelenjar susu,
kelenjar kulit, rambut, gigi, antler dan horn serta alat gerak yang berbeda.
5. Penyebaran mamalia memiliki kecenderungan untuk dibatasi oleh
penghalang-penghalang fisik (sungai, tebing dan gunung) serta penghalang
ekologis (batas tipe hutan dan adanya spesies saingan). Adanya penghalang-
penghalang tersebut menyebabkan mamalia menyesuaikan diri secara
optimum dengan habitatnya. Hal ini juga yang menyebabkan adanya satwa
endemis pada habitat tertentu.

33
3.2. Saran

Saran yang dapat diberikan ialah sebagai mahasiswa, seharusnya mengetahui,


menggali informasi lebih lanjut mengenai kelas mamalia karena dari segi ilmu
pengetahuan, banyak hal yang dapat diperoleh. Hal ini akan bermanfaat jika kita
mempelajari hewan yang mempunyai derajat lebih tinggi, selain itu untuk
keseimbangan bumi, mulai dari sekarang mari melestarikan fauna.

34
DAFTAR PUSTAKA

Alamendah. 2015. Flora dan Fauna Khas Provinsi Banten. Online. Tersedia :
https://alamendah.org/2015/02/05/flora-dan-fauna-khas-provinsi-banten/

Alikodra, H. S. 2002. Pengelolaan Satwa Liar. Jilid 1. Bogor: Yayasan Penerbit


Fakultas Kehutanan IPB.
Brotowidjoyo, M. D. 2007. Zoologi Dasar. Cetakan II. Jakarta: Erlangga.

Gunderson, Harvey L. 1976. Mammalogy. USA: McGraw Hill, Inc.

Kickman dalam Sukiya, 2001. Biologi Vertebrata. Yogyakarta: JICA


Zon 1979 dalam Solichin. 1997. Studi Keanekaragaman Jenis Mamalia Di
Kawasan Pelestarian Plasma Nutfah Areal Pengusahaan Hutan Terpadu
Kayu Mas Provinsi Kalimantan Tengah [skripsi]. Bogor : Departemen
Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata. Fakultas Kehutanan. Institut
Pertanian Bogor.
Sukiya, 2001. Biologi Vertebrata. Yogyakarta: JICA

Zug. 1993. Zoologi Vertebrata. Jakarta: Erlangga

35