Anda di halaman 1dari 2

Daftar Pustaka

Astari, L. dan Putri, I. A. (2014). Profil dan Evaluasi Pasien Dermatofitosis. Fakultas Kedokteran

Universitas Airlangga / RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Hal. 135-41.

Brooks, .GF., Carroll, K.C., Butel, J.S., Morse, S.A. (2007). Mycology. Dalam : Medical

Microbiology Edisi 24. Ebook. New York: The McGraw-Hill Company. Hal. 764-84.

Budimulya, U. (2007). Mikosis. Dalam: Djuanda, A., Hamzah, H., dan Aisah, S. Ilmu Penyakit

Kulit dan Kelamin. Edisi kelima. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Hal. 89–105.

Direktorat Jenderal P2P. (2016). Percepatan Pencapaian Sasaran dalam Pencegahan dan

Pengendalian Penyakit dengan Pendekatan Keluarga Sehat 2017. Jakarta : Kementrian

Kesehatan RI.

El Ghohary, M., Van Zuuren, E. J., Fedoworicz, Z., Burgess, H., dkk. (2014). Topical Antifungal

Treatments for TineaCruris and Tinea Corporis. National Center for Biotechnology

Information. Vol. 4., No. 8.

Idris, I. S. (2013). Tinea Corporis et causa Tricophyton rubrum Tipe Granular. Jurusan Biologi.

Fakultas MIPA. Universitas Negeri Makasar. Jurnal Bionature. Vol. 14. No. 1. Hal. 44-8.

Oktavia, A. (2012). Prevalensi Dermatofitosis di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Tangerang

Periode 1 Januari 2011 Sampai Dengan 31 Desember 2011. Skripsi. Program Studi

Pendidikan Dokter. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Jakarta : Universitas Islam

Negeri Syarif Hidayatullah.

Puskesmas Tasikmadu. (2018). Profil Kesehatan Puskesmas Tasikmadu dan Rencana Usulan

Kegiatan Tahun 2019. Tasikmadu. Karanganyar : Puskesmas Tasikmadu.


Putra, D. A. (2014). Pengaruh Higiene Sanitasi dengan Kejadian Tinea Kruris pada Santri Laki-

laki di PesantrenRhoudlotul Quran Kauman Semarang. Skripsi. Program Pendidikan

Sarjana Kedokteran. Semarang : Universitas Diponegoro.

Rosita, C. S. P. dan Kurniati. (2008). Etiopatogenesis Dermatofitosis. Berkala Ilmu Kesehatan

Kulit dan Kelamin. Vol. 20. No. 3. Hal. 243-50.

Siregar, M. A. (2013). Gambaran Tingkat Pengetahuan, Sikap dan Tindakan Siswa-Siswi

Tentang Tinea Kruris di SMA Harapan 1 Medan Tahun 2012. Medan : Universitas

Sumatera Utara.

Verma, S. dan Hefferman, M.P. (2008). Superficial Fungal Infection: Dermatophytosis,

Onichomycosis, Tinea Nigra, Piedra. Dalam: Wolff, K., Goldsmith, L., Katz, S.,

Gilchrest, B., Paller, A., dan Leffell, O. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine.

Edisi ke 7. New York : McGraw-Hill. Hal. 1807–21.

Widaty, S. (2013). Obat Antijamur. Dalam: Bramono, K., Suyoso, S., Indriatmi, W., Ramali,

L.M., Widaty, S., Ervianti, E. Dermatomikosis Superfisialis. Jakarta: Badan Penerbit

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hal.167-79.

Yuwita, W., Ramali, L. M., dan Miliawati, R. N. H. (2015). Karakteristik Tinea Kruris dan atau

Tinea Korporis di RSUD Ciamis Jawa Barat. Fakultas Kedokteran Universitas

Padjadjaran Bandung. Rumah Sakit Hasan Sadikin. Bandung. Hal : 42-52.