Anda di halaman 1dari 4

Analisa kepemimpinan Presiden Joko Widodo

Gaya kepemimpinan seorang Joko Widodo memag tergolong unik, sebab Jokowi begitu
orang orang menyebutkan memiliki sebuah gaya kepemimpinan yang lain dari pada yang
lain dimana semua keputusan keputusan yang diambilnya cenderung nyeleneh namun
mengandung sebuah hal yang penting dalam masyarakat. Jokowi hadir begitu cepat sosok
yang begitu dinanti nanti pada jaman seperti sekarang ini, dimana banyak masyarakat yang
sudah bosan dengan kondisi kepemimpinan sekarang ini setelah sepeninggal presiden
Abdurrahman Wachid. Banyak masyarakat yang menginginkan sebuah perubahan dalam hal
kepemimpinan bangsa ini, dan Jokowi pun Hadir ditengah tengah kita dengan citra sebuah
pemimpin yang sangat peduli dengan kaum kaum kelas bawah dan sangat peduli dengan
srakyat kecil, banyak masyarakat Indonesia menggantungkan perubahan Bangsa ini pada
sosok Joko Widodo. Hal ini lah yang membuat nama seorang Jokowi yang memulai karirnya
menjadi Wali Kota Surakarta menjadi sangat terkenal hingga menjadikannya sebuah
pemimpin besar di era ini.

Konsep kepemimpinan Jokowi adalah servant : dimana dalam konsep kepemimpinan ini
pemimpin adalah menjadi seorang pelayan, dimana yang dimaksud adalah Jokowi secara
langsung terjun kedalam kehidupan masyarakat dan mengetahui bagaimana nasib dan
keluhan ynag mereka alami saat ini. Dimana disini Jokowi secara tidak langsung mecritrakan
bahwa “saya adalah pelayan anda” dengan motto bekerja dan melayani. Konsep ini lah yang
dipegang teguh oleh Jokowi sehingga banyak orang mengidolakan Joko Widodo sehingga
beliau mampu menjadi pemimpin no. 1 di Negara Indonesia sekarang ini. Jokowi sangat
cinta terhadap masyarakat, hal ini terbukti bahwa dia selalu berusaha untuk dekat bahkan
menyamakan diri dengan masyarakat, bahkan jokowi tidak mebutuhkan adanya Vorijder
ditengah kemacetan Jakarta, bahkan saat menjadi wali kota Surakarta Jokowi tidak
menerima mobil jabatannya dan menggunakan mobil buatan Esemka, hal ini menunjukan
betapa dekatnya Jokowi dengan kondisi masyarakat saat ini.

Jika ditinjau dengan menggunakan analisa Transformasional-Transaksional dimana berisi


tentang hirarki kebutuhan kaum bawah yang lebih rendah dalam hal rasa aman, kebutuhan
fisik, dan berafiliasi, dan kabutuhan kaum bawah untuk sebuah hirarki yang lebih tinggi
dimana dirindukannya sebuah transformasi atau perubahan yang bersar dan cukup
signifikan. Dari analisa ini konsep kepemimpinan Jokowi sudah termasuk dalam analisa
Transformasional dan Transaksional dimana Jokowi selalu mementingkan kebutuhan
rakyatnya terutama kaum bawahan (rakyat kecil) yang banyak dari hak haknya yang
tertindas. Jokowi juga memberikan sebuah perubahan perubahan dan terobosa terobosan
yang menjanjikan adanya sebuah transformasi yang telah lama diidam idamkan oleh
khalayak luas. Oleh karenanya banyaknya dukungan yang mengarah pada Jokowi saat ini
adalah sebuah wujud kontribusi mereka terhadap perubahan yang mereka inginkan atas
Negeri kita tercinta ini Republik Indonesia

Analisa kepemimpinan jokowi :


1 . Blusukan yang di lakukan jokowi iya masukkan ke dalam manajemen perencanaan dan
manajemen control
Kita sering mendengar, bagaimana Gubernur Jakarta sekarang, Joko Widodo, sering
berkunjung ke masyarakat untuk memahami masalah-masalah masyarakat. Media memberi
nama untuk gaya memimpin semacam ini, yakni “blusukan”.
Hampir setiap hari, ia berkeliling kota, mengunjungi berbagai tempat, dan berbicara
dengan warganya. Dari tatap muka langsung ini, ia bisa mendapatkan gambaran nyata
tentang akar masalah sosial masyarakatnya, lalu mulai membuat langkah nyata untuk
menyelesaikan masalah-masalah tersebut.
Gaya semacam ini tentu memiliki kelebihannya sendiri. Setiap kebijakan politik yang
bermutu lahir dari data-data yang akurat. Namun, data-data yang diberikan kepada para
pemimpin politik seringkali tidak akurat, sehingga kebijakan yang dibuat pun akhirnya tidak
menyelesaikan masalah yang ada, justru memperbesarnya. Jarak antara data yang biasanya
berupa statistik, dengan kenyataan di lapangan inilah yang bisa diperkecil dengan gaya
politik blusukan.
Politik “blusukan” juga memungkinkan para pemimpin politik bertatap muka
langsung dengan warganya. Interaksi ini tentu saja membangun kedekatan dan rasa
percaya, yang amat penting sebagai pengikat masyarakat, supaya tak mudah pecah, dan
bisa bekerja sama menyelesaikan berbagai persoalan yang ada.
Dengan politik “blusukan”, para pemimpin politik bisa memeriksa langsung, apakah
keputusan yang telah ia buat dijalankan dengan baik atau tidak. Dari sudut pandangan
metode berpikir ilmiah, ini disebut juga verifikasi. Banyak pemimpin lupa memeriksa lagi,
apakah kebijakan yang telah dibuat sungguh membantu masyarakat atau tidak. Dengan
politik blusukan, gaya lama semacam ini bisa dihindari.
Namun, “blusukan” juga memiliki kelemahannya. Blusukan bisa merosot menjadi
politik pencitraan, ketika pimpinan politik hanya berkeliling di masyarakat, supaya terlihat
peduli, namun tak ada keputusan nyata yang bisa membantu memecahkan pesoalan-
persoalan sosial masyarakat.
2. Mendelegasikan wewenang
Jokowi bisa mendelegasikan tidak hanya tugas tetapi juga wewenang atau mandat
untuk melakukan tugas-tugas. Pedelegasian dapat menumbuhkan rasa bertanggung jawab
terhadap tugas-tugas yang harus dikerjakan. Jokowi sadar sebagai pemimpin dia tidak bisa
bekerja sendiri. (Contoh: Jokowi mendelegasikan tugas dan wewenang kepada ahok dan
kepala2 dinas dan juga kepada para walikota serta camat dan lurah, meskipun ini masih
belum berjalan dengan baik tetapi dia telah berusaha dengan lelang jabatan dan rotasi
petugas sehingga mempunyai sama visi dan misi untuk nantinya bisa dipercayakan dengan
tugas dan wewenang demi memajukan Jakarta, dan untuk mencapai tujuan yang sama).
pendelegasikan wewenang mesti dibarengi dengan skala prioritas kerja yang
diintruksikan gubernur, sehingga menjadi acuan bagi setiap pejabat dan pegawai di
lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Supaya pemerintahan efektif, tidak mungkin ditangani sendiri semuanya, tapi ada
pendelegasian wewenang. Tanggung jawab utama tetap penuh ada di kepala daerah, bukan
di wakil.
3. Setiap bekerja selalu ingin mendengar, tahu keluhan rakyat, dan kesulitan rakyat
Pemimpin yang mau langsung turun lapangan dan mendengarkan permasalahan dari
warganya, maka akan mendapatkan laporan yang sebenarnya. Dengan demikian akan bisa
langsung diambil tindakan. Empathy’ atau ikut merasakan perasaan atau penderitaan orang
lain adalah karakteristik lain kepemimpinan Jokowi yang menonjol.
4. Blusukan juga menjaring aspirasi bagi rakyat
Pemimpin dengan mengenali dan memahami kebutuhan masyarakat yang
sesungguhnya sehingga bantuan yang diberikan sesuai dengan kepentingan mereka.
Strategi ‘blusukan’ ke jantung masyarakat yang dilakukan Jokowi jelas dimaksaudkan
untuk ‘healing’ sehingga keluarlah kebijakan-kebijakan yang pro-rakyat, seperti Kartu
Jakarta Sehat, Relokasi ke Rusun, Pesta Rakyat Betawi, dll.
5. Dalam membuat sebuah kebijakan/keputusan harus merencanakan nya terlebih
dahulu
berorientasi pada hasil dilakukan Jokowi dengan mengawali dengan membangun
konsensus bersama, kemudian membagi tugas secara jelas, dan selanjutnya memantau
pelaksanaan pekerjaan hingga berhasil sesuai yang direncanakan.

Dari analisa diatas dapat disimpulkan bahwa tipe kepemimpinan yang dipakai jokowi
yaitu :
1. Demokrat
Sebelum membuat suatu keputusan jokowi selalu ingin mendengar, tahu keluhan
rakyat, dan kesulitan rakyatnya, dengan begitu iya bisa memutuskan
kebijakan/keputusan yang direncanakannya dan berunding dengan bawahan nya
terlebih dahulu.
2. Non personal
Karena jokowi menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta yang di lantik oleh Menteri
dalam Negeri melalui sumpah/janji.
3. Kharismatik
· Jokowi mempunyai daya penarik yang sangat besar, karena itu umumnya
mempunyai pengikut yang jumlahnya juga besar.
· Pengikut jokowi tidak dapat menjelaskan, mengapa mereka tertarik mengikuti
dan menaati pemimpinnya.
· Karisma yang dimiliki tidak bergantung pada umur, kekayaan, kesehatan,
ataupun ketampanan jokowi.

Dari analiasa diatas kita juga bisa menyimpulkan gaya kepemimpinan yang dipakai oleh
jokowi:
Gaya kepemimpinan demokratis
Karena jokowi selalu mendelegasikan wewenangnya, dengan pendelegasian wewenang
tersebut tiap-tiap divisi diberi kepercayaan penuh untuk menyelesaikan tugasnya dan secara
berkala jokowi akan memantau/mengontrol pekerjaan yang telah diberikan pada masing-
masing divisi.

KESIMPULAN
Analisa kepemimpinan jokowi :
1 . Blusukan yang di lakukan jokowi iya masukkan ke dalam manajemen perencanaan dan
manajemen control : Menimbang kelemahan dan kekurangannya, politik “blusukan” tetap
perlu dijalankan oleh para pimpinan politik kita di Indonesia, asalkan tetap
mempertimbangkan efisiensi dan keterukuran kinerja. Politik “blusukan” jelas cocok dengan
masyarakat demokratis, di mana kebutuhan masyarakat yang menjadi prioritas utama.
Namun, “blusukan” tetap harus dibarengi dengan langkah-langkah terukur untuk
menyelesaikan masalah-masalah sosial yang nyata, mulai dari persoalan kecil (trotoar untuk
pejalan kaki) sampai dengan yang paling besar (banjir dan macet).

2. Mendelegasikan wewenang
3. Setiap bekerja selalu ingin mendengar, tahu keluhan rakyat, dan kesulitan rakyat
4. Blusukan juga menjaring aspirasi bagi rakyat
5. Dalam membuat sebuah kebijakan/keputusan harus merencanakan nya terlebih
dahulu