Anda di halaman 1dari 8

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Kusta

2.2.1 Definisi Kusta

Istilah Kusta berasal dari Bahasa Sansekerta, yaitu kustha berarti kumpulan gejala-gejala
kulit secara umum. Kusta (leprosy) atau dikenal juga dengan istilah Morbus Hansen adalah
penyakit menular kronik yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium leprae.Penyakit ini
menyerang kulit, saraf perifer, mukosa pada saluran pernapasan atas dan mata [Menaldi, Bramono,
dan Indriatmi, 2015].

2.2.2 Epidemiologi

2.2.3 Etiologi

Penyakit kusta disebabkan oleh bakteri aerob Mycobacterium leprae, bakteri berbentuk
batang dengan ukuran panjang 1-8 micro dengan lebar 0,2-0,5 micro, bersifat tahan asam dan
alkohol. Bakteri M. leprae membutuhkan waktu 12-21 hari untuk membelah diri dan masa
inkubasinya rata-rata 2-5 tahun [Widoyono,2011].

2.2.4 Faktor Resiko

Faktor resiko penyakit kusta antara lain tinggal di darerah area endemis, kontak
dengan penderita lepra dan kemiskinan [Tanto et al, 2014]. Terdapat banyak faktor yang
berperan dalam penularan peyakit kusta,yaitu :

• Usia

Penyakit kusta dapat menyerang semua usia antara bayi sampai usia lanjut, tetapi
penyakit ini terbanyak ditemukan pada usia muda dan produktif. Pada beberapa penelitian
prevalensi berdasarkan usia tidak menggambarkan resiko kelompok usia tertentu untuk terkena
penyakit kusta [ Kemenkes RI,2012].

• Jenis kelamin

Penyakit kusta dapat mengenai laki-laki dan perempuan, sebagian besar negara didunia
melaporkan bahwa laki-laki lebih banyak terserang kusta dibandingkan dengan perempuan
[Kemenkes RI,2012].
 Etnik dan suku

Bangsa Asia dan Afrika lebih banyak terkena penyakit kusta, hal ini dapat disebabkan
karena faktor predisposisi genetik yang berbeda. Penyakit kusta di Myanmar kejadian lebih
sering terjadi pada etnik Burma dibanding etnik India. Malaysia kejadian kusta lebih banyak
terjadi pada etnik China dibandingkan etnik Melayu atau India. Sementara Indonesia, kusta
lebih banyak terjadi pada etnik Madura dan Bugis dibanding etnik Jawa atau Melayu [
Kemenkes RI, 2012].

• Sosial Ekonomi

Faktor sosial ekonomi juga sangat berperan pada kejadian kusta, hal ini terbukti dengan
peningkatan ekonomi kejadian kusta sangat cepat menurun bahkan menghilang [Kemenkses
RI, 2012].

2.2.5 Patogenesis

Bakteri Mycobacterium leprae memiliki patogenisitas dan daya invasi yang rendah,
sebab penderita yang mengandung kuman lebih banyak belum tentu memberikan gejala yang
lebih berat. Ketidakseimbangan antara derajat infeksi dengan derajat penyakit , penyebabnya
adalah respon imun yang berbeda, yang menimbulkan reaksi granuloma setempat atau
menyeluruh yang dapat sembuh sendiri atau progresif. Gejala klinisnya lebih sebanding
dengan tingkat reaksi selularnya daripada intensitas infeksinya [Menaldi, Bramono, dan
Indriatmi, 2018].

2.2.6 Gejala Klinis

Tanda dan gejala penyakit kusta yang timbul berbeda pada setiap orang, hal ini
bergantung pada Sistem Imunitas Seluler (SIS) penderita. Bila SIS penderita baik, maka
gambaran klinis ke tipe Tuberkuloid, dan bila keadaan SIS nya rendah maka akan memberikan
gambaran tipe Lepromatosa [Menaldi, Bramono, dan Indriatmi, 2015]. Tanda dan gejala utama
dari penyakit kusta, yaitu :

 Lesi kulit berupa bercak putih atau kemerahan disertai gangguan atau hilangnya sensasi
 Penebalan saraf tepi disertai gangguan fungsi saraf akibat peradangan saraf tepi
 Ditemukan bakteri basil tahan asam (BTA) pada pemeriksaan kerokan jaringan kulit
[Regan,Keja ,2012].
Tabel 2.1 Gambaran Klinis Kusta tipe PB
Karakteristik TT BT I
Lesi
Bentuk Makula atau makula Makula dibatasi Hanya infiltrat
dibatasi infiltrat infiltrat; infiltrat saja
Jumlah Satu atau beberapa Satu dengan lesi satelit Satu atau beberapa
Distribusi Terlokasi dan simetris Bervariasi
asimetris
Permukaan Kering,skuama Kering, skuama Halus agak berkilat
Anestesia Jelas Jelas Tidak ada - tidak jelas
Batas Jelas Jelas Dapat jelas / tidak jelas
BTA
Pada lesi kulit Negatif Negatif, atau 1+ Biasanya negatif
Tes Lepromin Positif kuat (3+) Positif lemah Dapat positif lemah
atau negatif
Sumber : Ilmu penyakit Kulit Kelamin,2018

Tabel 2.4 Gambaran Klinis Kusta tipe MB


Karakteristik Lepromatosa (LL) Borderline Mid-borderline (BB)
Lepromatosa (BL)
Lesi
Bentuk Makula,infiltrat difus, Makula, plak, papul Plak, lesi bentuk kubah,
papul, nodus lesi punched out
Jumlah Banyak distribusi Banyak tapi kulit Beberapa, kulit sehat (+)
luas, praktis tidak ada sehat masih ada
kulit sehat
Distribusi Simetris Cenderung simetris Asimetris
Permukaan Halus berkilat Halus berkilat Sedikit berkilap,
beberapa lesi kering
Anestesia Tidak jelas Tidak jelas Lebih jelas
Batas Tidak jelas Agak jelas Agak jelas
BTA
Pada lesi kulit Banyak Banyak Agak banyak
Sekret hidung Banyak Biasanya tidak ada Tidak ada
Tes Lepromin Negatif Negatif Biasanya negatif
Sumber : Ilmu penyakit Kulit Kelamin,2018
Gejala-gejala kerusakan saraf yang disebabkan penyakit kusta diantaranya:

1. N. Ulnaris
 Anestesia pada ujung jari bagian anterior kelingking dan jari manis
 Clawing jari kelingking dan jari manis
 Terdapat atrofi hipotenar dan otot interoseus serta kedua otot lumbrikalis medial.
2. N. Medianus
 Anestesia ujung jari bagian anterior ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah
 Ibu jari tidak dapat aduksi
 Terdapat clawing ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah
 Kontraktur pada ibu jari
 Otot tenar dan kedua otot lumbrikalis lateral mengalami atrofi
3. N. Radialis
 Anestesia dorsum manus dan ujung proksimal jari telunjuk
 Terdapat tangan gantung (wrist drop)
 Jari-jari atau pergelangan tangan tidak dapat melakukan ekstensi
4. N. Politea Lateralis
 Anestesia pada tungkai bawah, bagian lateral dan dorsum pedis
 Terdapat kaki gantung (foot drop)
 Otot peroneus mengalami kelemahan
5. N. Tibialis Posterior
 Terdapat anestesia pada telapak kaki
 Adanya claw toes
 Paralisis otot intrinsik kaki dan kolaps arkus pedis
6. N. Fasialis
 Adanya lagoftalmus disebabkan cabang temporal dan zigomatik
 Kehilangan ekspresi wajah dan kegagalan mengatupkan bibir disebabkan cabang
bukal, mandibular dan servikal.
7. N. Trigeminus
 Anestesia pada kulit wajah, kornea dan konjungtiva mata
Otot tenar dan kedua otot lumbrikalis lateral mengalami atrofi [Menaldi, Bramono, dan
Indriatmi, 2015].
2.2.7 Klasifikasi Kusta
Berdasarkan World Health Organization (WHO) tahun 1981, penyakit kusta
diklasifikasikan menjadi dua yaitu tipe multibasilar dan tipe pausibasilar. Menurut Ridley –
Jopling termasuk tipe multibasilar adalah tipe LL, BL dan BB dan Indeks Bakteri (IB) lebih
dari 2+, sedangkan tipe Pausibasiler adalah tipe I, TT dan BT dengan IB kurang dari 2+. Pada
tahun 1987 untuk kepentingan pengobatan telah terjadi perubahan klasifikasi kusta, yaitu
kusta tipe PB adalah kusta dengan BTA negatif pada pemeriksaan kerokan jaringan kulit dan
termasuk tipe MB bila pemeriksaan kerokan jaringan kulit BTA positif . Apapun klasifikasi
klinisnya dengan BTA positif harus diobati dengan rejimen MDT-MB. Pemeriksaan kerokan
jaringan kulit tidak selalu tersedia di lapangan, oleh sebab itu tahun 1995 WHO
menyederhanakan klasifikas klinis kusta berdasarkan hitung lesi kulit dan saraf yang terkena
[Menaldi, Bramono, dan Indriatmi, 2018].

Tabel 2.5. Klasifikasi klinis kusta menurut WHO


Sifat MB PB
1. Lesi kulit - Lebih dari 5 lesi - 1 – 5 lesi
(makula datar, papul - Distribusi simetris - Hipopigmentasi/eritema
meninggi, dan nodus) - Hilangnya sensasi kurang jelas - Distribusi tidak simetris
- Hilangnya sensasi jelas
2. Kerusakan pada saraf - Banyak cabang saraf - Hanya satu cabang saraf
( mengakibatkan
kehilangan sensasi atau
kelemahan pada otot)

Sumber : Ilmu penyakit Kulit Kelamin,2018

2.2.8 Pemeriksaan Penunjang


1. Pemeriksaan bakterioskopik (kerokan jaringan kulit)
Pemeriksaan ini dilakukan untuk menegakkan diagnosis dan evaluasi pengobatan.
Sediaan diambil dari kerokan jaringan atau usapan dan kerokan mukosa hidung yang diwarnai
dengan perwarnaan Ziehl-Neelsen. Bakterioskopik dengan hasil yang negatif, bukan berarti
orang tersebut tidak mengandung kuman M.leprae. Pertama-tama dalam melakukan
pemeriksaan bakterioskopik harus tentukan lesi kulit yang paling padat oleh kuman, setelah
terlebih dahulu telah ditentukan jumlah tempat yang akan diambil. Pengambilan bahan minimal
dari 4-6 tempat, yaitu kedua cuping telinga bagian bawah dan 2-4 lesi lain
yang paling eritomatosa dan infiltratif. Sediaan juga dapat diambil dari sekret hidung melalui
nose blow di pagi hari, atau mukosa hidung dengan menggunakan lidi kapas [Menaldi,
Bramono, dan Indriatmi, 2018 ].
2. Pemeriksaan histopatologis
Gambaran histopatologik tipe tuberkuloid adalah tuberkel dan kerusakan saraf yang
lebih nyata, tidak ada kuman atau hanya sedikit dan non-solid. Sedangkan pada tipe
Lepromatosa subepidermal clear zone, yaitu suatu daerah langsung di bawah epidermis
yang jaringannnya tidak patologik. Pada tipe Borderline, terdapat campuran unsur-
unsur tersebut [Menaldi, Bramono, dan Indriatmi, 2018].
3. Pemeriksaan serologis
Pemeriksaan serologik kusta didasarkan atas terbentuknya antibodi pada tubuh
seseorang yang terinfeksi M.leprae. Antibodi yang terbentuk dapat bersifat spesifik
terhadap M. leprae yaitu antibodi Anti Phenolic Glycolipid (PGL-1). Sedangkan
antibodi yang tidak spesifik antara lain antibodi Anti-Lipoarabinomanan (LAM) yang
juga dihasilkan oleh kuman M. tuberculosis. Kegunaan pemeriksaan serologik agar
dapat membantu menentukan diagnosis kusta yang meragukan karena tanda klinis dan
bakteriologik yang tidak jelas. Disamping itu dapat membantu menentukan kusta
subklinis, karena tidak didapati lesi kulit misalnya pada kontak serumah [Menaldi,
Bramono, dan Indriatmi, 2018].

2.2.9 Diagnosa
Mayoritas kasus kusta terdiagnosa secara klinis melalui tanda kardinal kusta (lesi kulit
yang baal, kerokan kulit, pembesaran saraf perifer). Lesi pada kulit dapat berupa makula, papul,
atau nodul. Selain tanda tersebut, manifestasi lain dapat berupa penebalan saraf perifer dan
hilangnya sensasi sensorik dan motorik pada saraf yang terkena. Pemeriksaan sensorik pada saraf
yang menebal dan kerokan pada lesi kulit dapat membantu dalam diagnosis kusta.[WHO,2016]