Anda di halaman 1dari 8

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Diagnosis komunitas merupakan penilaian secara kuantitatif maupun kualitatif yang
mencerminkan status kesehatan masyarakat, serta faktor – faktor yang berpengaruh
terhadap kesehatan masyarakat tersebut.1 Diagnosis komunitas adalah kegiatan
pengumpulan data di masyarakat untuk menentukan adanya suatu masalah.1 Tahapan
dalam menegakkan diagnosis komunitas terdiri dari empat proses, yaitu inisiasi,
pengumpulan dan analisis data, diagnosis, dan diseminasi.1 Keterampilan diagnosis
komunitas ini perlu dikuasai oleh seorang dokter dalam menerapkan pelayanan
kedokteran.2
Tuberkulosis termasuk masalah kesehatan yang paling sering ditemui di
masyarakat dengan angka kematian yang masih tinggi.3 Tuberkulosis adalah penyakit
menular akibat infeksi kuman Mycobacterium tuberculosis.4 Berdasarkan data World
Helath Organization (WHO), pada tahun 2017 tercatat sekitar 1,3 juta kematian akibat
kasus tuberkulosis di dunia.3 Secara global, pada tahun 2017 penderita tuberkulosis di
dunia mencapai 11,1 juta penduduk.3 Proporsi penderita dewasa (usia ≥ 15 tahun) berkisar
90% dari total penderita tuberkulosis di dunia, sementara penderita laki-laki dewasa
berkisar pada proporsi 64% dari total penderita.3 Penderita tuberkulosis anak di dunia
mencapai 10% dari keseluruhan total penderita tuberkulosis di dunia.3
Menurut WHO pada Global Tuberculosis Report pada tahun 2018, Asia Tenggara
merupakan wilayah dengan jumlah proporsi penderita tuberkulosis terbesar di dunia,
dengan angka proporsi mencapai 44% dari seluruh penderita tuberkulosis di dunia.3
Berdasarkan data WHO, pada tahun 2017 angka insidens tuberkulosis mencapai 226
kasus per 100.000 populasi sehat di Asia Tenggara.3 Angka mortalitas akibat tuberkulosis
di Asia Tenggara mencapai angka 32 kasus per 100.000 populasi sehat.3 Berdasarkan
laporan kasus tuberkulosis dari tahun 2000-2017 oleh WHO, angka mortalitas akibat
tuberkulosis di Asia Tenggara memiliki kecenderungan meningkat.3
Indonesia menduduki peringkat ketiga dalam total jumlah penderita tuberkulosis
di dunia berdasarkan data dari WHO pada tahun 2017.3 Kasus baru tuberkulosis di
Indonesia yang tercatat di WHO mencapai 842.000 kasus pada tahun 2017.3 Angka
mortalitas akibat kasus tuberkulosis di Indonesia pada tahun yang sama mencapai
107.000 kasus (Case Fatalitiy Ratio = 0,14).3 Berdasarkan data dari WHO tersebut, pada
tahun 2017 cangkupan pengobatan tuberkulosis di Indonesia baru mencapai 53% dari
seluruh kasus tuberkulosis di Indonesia.3
Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) pada tahun 2018 menyatakan bahwa
Provinsi Banten menduduki peringkat teratas sebagai penyumbang kasus tuberkulosis
terbanyak di Indonesia.5 Proporsi kasus tuberkulosis paru yang didiagnosis oleh Dokter
Spesialis dan Dokter Umum di Provinsi Banten mencapai 0,8% pada tahun 2018.5
Berdasarkan hasil RISKESDAS, proporsi prevalensi tuberkulosis paru di Provinsi Banten
ini mengalami kenaikan dibandingkan pada tahun 2016, yaitu sebesar 0,3%.5 Berdasarkan
data Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang tahun 2017, tercatat sebanyak 7.978 kasus
TB paru atau sekitar 65,84%.6 TB paru termasuk dalam 10 besar penyakit terbanyak di
Puskesmas Legok, dimana setiap tahun mengalami peningkatan kasus TB paru. Data
Puskesmas Legok pada tahun 2017 tercatat sebanyak 93 kasus baru TB paru, sedangkan
pada 2018 tercatat sebanyak 102 kasus TB baru.
Berdasarkan peningkatan angka penderita TB paru di Puskesmas Legok dan
beratnya komplikasi yang dapat timbul pada penderita TB paru, maka diperlukan suatu
rencana intervensi yang sistematik dan holistik untuk menurunkan angka kejadian TB di
masyrakat.
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Diturunkannya angka kejadian tuberkulosis paru di wilayah Puskesmas Legok Kabupaten
Tangerang.
1.2.2 Tujuan Khusus
 Diketahuinya lokasi yang memiliki masalah utama yang harus segera diselesaikan
di wilayah Puskesmas Legok periode ……. - ………
 Diketahuinya penyebab tingginya penderita tuberkulosis paru di lokasi yang
dipilih mempunyai masalah utama.
 Diketahuinya intervensi sebagai alternatif pemecahan masalah yang dapat
dilakukan dalam jangka pendek, yang memiliki manfaat yang besar dalam
menunjang tujuan jangka menengah dan jangka panjang yang diharapkan.
 Diketahuinya hasil dari intervensi yang dilakukan.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Diagnosis Komunitas


Diagnosis komunitas adalah upaya yang sistematis dalam pemecahan suatu masalah
kesehatan masyarakat dengan diagnosis penyakit secara dini, memperhatikan faktor-
faktor yang dapat membahayakan kesehatan yang berasal dari lingkungan dan pekerjaan,
serta pencegahan penyakit pada komunitas.7 Tujuan utama dari diagnosis komunitas
adalah dapat mengidentifikasi masalah kesehatan di komunitas dan membuat solusi untuk
mengatasi masalah kesehatan tersebut.2
2.1.1 Fungsi Diagnosis Komunitas
Fungsi diagnosis komunitas adalah:8
a. Memberikan kesempatan bagi komunitas berpartisipasi dalam meningkatkan
pelayanan kesehatan.
b. Data dan analisis yang tepat , masyarakat dapat fokus pada penilaian kesehatan
dan pengembangan strategi kesehatan yang dirancang, diimplementasikan dan
dipantau secara lokal.
c. Memberikan pembenaran untuk permintaan perbaikan anggaran.
d. Menyediakan personil kesehatan daerah, informasi dan koordinasi strategi
pencegahan dan intervensi ditingkat lokal bagi program tingkat negara bagian.
e. Menyediakan rencana kesehatan dan advokasi yang dibutuhkan ditingkat
komunitas. Pemimpin komunitas dan departemen kesehatan memastikan bahwa
masalah kesehatan masyarakat ditangani dengan baik.
2.1.2 Langkah – langkah Penerapan Diagnosis Komunitas
Hasil diagnosis komunitas tidak selalu harus berbentuk penyakit, tetapi bisa masalah non
medis yang merupakan penyebab suatu penyakit. Hal Ini disebabkan karena
permasalahan kesehatan komunitas merupakan akibat berbagai determinan dimana hali
ini sesuai dengan teori Blum yang memiliki 4 determinan yaitu perilaku, lingkungan,
pelayanan kesehatan, dan genetik. Terdapat lima langkah secara bertahap dalam
penerapan diagnosis komunitas, yaitu:2
1. Pertemuan awal untuk menentukan area permasalahan
Pada fase ini harus ditentukan tim pelaksana yang memiliki peran untuk mengelola
dan mengkoordinasikan diagnosis komunitas. Beberapa hal yang perlu dipelajari
dalam diagnosis komunitas adalah status kesehatan, gaya hidup, kondisi tempat
tinggal, kondisi sosial ekonomi, infrastruktur sosial dan fisik serta pelayanan
kesehatan dan kebijakan yang sudah ada. Penentuan masalah berdasarkan
epidemiologi menggunakan indikator angka kematian (Mortality rate), angka
kesakitan (Morbidity rate) dan angka kecacatan (Disability rate). Selain berdsarakan
epidemiologi, terdapat indikator lain yang dapat digunakan, yaitu indikator jangkauan
pelayanan kesehatan, indikator kesehatan lingkungan dan indikator sosio-demografi.
2. Menentukan instrumen pengumpulan data
Metode pengumpulan data (instrumen) disesuaikan dengan data apa yang akan
dikumpulkan. Data-data dapat dikumpulkan dari hasil observasi, wawancara,
pemeriksaan atau menggunakan data sekunder dari rekam medis.
3. Pengumpulan data dari masyarakat
Pengumpulan data dan analisis, dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dan
kualitatif. Latar belakang wilayah yang ditentukan harus dipelajari data statistik dan
hasil sensus populasi, misalnya jumlah populasi, jenis kelamin, usia, pelayanan
kesehatan perorangan dan masyakarat, pelayanan sosial, pendidikan, perumahan,
keamanan dan transportasi. Untuk pengumpulan data dari suatu komunitas, hal yang
dapat dilakukan adalah dengan melakukan survey, menggunakan kuisioner.
4. Menganalisis dan menyimpulkan data
Kesimpulan diagnosis komunitas ditentukan dari hasil pengolahan dan interpretasi
analisis data yang ada. Hasil diagnosis sebaiknya terdiri atas tiga aspek, yaitu :
- Status kesehatan di komunitas
- Determinan dari masalah kesehatan di komunitas
- Potensi dari pengembangan kondisi kesehatan di komunitas dan area yang lebih
luas
5. Membuat laporan hasil dan presentasi diseminasi
Tahap ini menunjukkan bahwa diagnosis komunitas tidak pernah menjadi akhir dari
program kerja. Diagnosis komunitas harus dilanjutkan dengan usaha untuk
dikomunikasikan sehingga tindak lanjut dapat segera diambil. Hasil diagnosis
komunitas dapat disebarluaskan dengan presentasi, media massa, atau seminar khusus
mengenai promosi kesehatan. Pihak – pihak yang perlu dilibatkan untuk mengetahui
hasil diagnosis komunitas adalah perumus kebijakan, tenaga professional kesehatan,
dan tokoh-tokoh masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA

1 Department of Health. Basic principles of healthy cities: community diagnosis


[Internet]. Hongkong: Department of Health; 2009 [cited 13 August 2017].
Available from:
http://www.chp.gov.hk/files/pdf/hcp_community_diagnosis_en.pdf
2 Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Buku keterampilan klinis ilmu
kedokteran komunitas. Jakarta: Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas FKUI;
2014. Hal 2-7
3 World Health Organization. Global tuberculosis report. Geneva: World Health
Organization; 2018.
4 Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman nasional pengendalian
tuberkulosis. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan
Lingkungan; 2014.
5 Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Hasil utama RISKESDAS 2018.
Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan; 2018.
6 Profil kesehatan kabupaten Tangerang.
7 Bennet F.J. Diagnosis komunitas dan program kesehatan. Jakarta: Yayasan
Essentia medica; 1987. hal. 10-29.
8 World Health Organization. Basic principles of healthy cities: Community
diagnosis. Geneva: World Health Organization; 2009.
9