Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA

PENGARUH PH DAN SUHU TERHADAP REAKSI ENZIMATIK

OLEH :
KELOMPOK 1 (KELAS B)

Alif Fazduani Syamsuddin 182010101003


Dimas Zabirurrohman Putra 182010101015
Alya Wafaul Lutfadaturroifa 182010101023
Hasbi Nurrahim 182010101052
Nur Muhammad Hadiyatullah 182010101117
Tio Wisnu Pradana Putra 182010101121
Alvin Candra 182010101122
Maureta Salsabila Dinamika 182010101129
Kusnul Amalia 182010101150

Memenuhi tugas dari :


dr. Zahrah Febianti, M.Biomed

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JEMBER
2018
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Untuk mempercepat reaksi kimia dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu (1)
Menaikkan suhu; (2) menambahkan katalisator. Manusia mempunyai suhu yang cenderung
konstant (normal), karena itu untuk mempercepat reaksi kimia tergantung pada cara ke-dua.
Katalisator mempercepat reaksi kimia dengan cara menurunkan energi aktivasi. Energi
aktivasi adalah jumlah energi yang diperlukan untuk membawa semua molekul dalam satu
mole suatu bahan pada suatu suhu tertentu dari keadaan awal menuju keadaan transisi. Pada
keadaan transisi kemungkinan terbentuk dan terputusnya ikatan kimia sangat besar.

Secara umum katalisator mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:


1. Ikut bereaksi
2. Mempercepat reaksi dan tercapainya keseimbangan
3. Tidak merubah Keq dan perubahan energi bebas (∆G).
4. Tidak mempunyi hubungan stoikiometrik
5. Pada akhir reaksi didapat kembali dalam bentuk semula.

Enzim merupakan protein yang bertindak sebagai biokatalisator. Reaksi enzimatik


dipengaruhi oleh pH, suhu, kadar substrat, kadar enzim, aktivator dan inhibitor. Enzim
merupakan protrein jadi peka terhadap perubahan pH. Enzim hanya aktif dalam batas-batas
pH tertentu, pH dapat mempengaruhi muatan enzim maupun subtrat. Pada pH yang terlalu
tinggi atau terlalu rendah, enzim akan mengalami denaturasi. Pada umumnya reaksi kimia
berjalan lebih cepat pada suhu yang lebih tinggi, tetapi pada suhu yang tinggi enzim dapat
mengalami denaturasi (pada suhu 70˚C, sebagian besar enzim menjadi inaktif). Kenaikan
suhu akan menyebabkan energi kinetik dari molekul-molekul yang bereaksi menjadi semakin
besar, sehingga kecepatan suatu reaksi kimia menjadi bertambah besar. Suhu yang tinggi juga
dapat menyebabkan perubahan stuktur molekul protein. Enzim merupakan suatu protein yang
pada suhu tertentu dapat mengalami denaturasi.
1.2 TUJUAN

1. Mahasiswa dapat menjelaskan perjalanan reaksi enzimatis (progress curve)


2. Mahasiswa dapat mengetahui perbedaan antara kecepatan sesaat, keceaptan awal dan
kecepatan rata-rata reaksi enzimatik
3. Mahasiswa dapat mengetahui pengaruh pH dan suhu terhadap reaksi enzimtis.
4. Mahasiswa dapat menjelaskan pH optimum dan suhu optimum

1.3 MANFAAT

1. Untuk memahami perjalanan reaksi enzimatis (progress curve)


2. Untuk mengetahui perbedaan antara kecepatan sesaat, kecepatan awal dan kecepatan
rata-rata reaksi enzimatik.
3. Untuk mengetahui pengaruh pH dan suhu terhadap reaksi enzimatik
4. Untuk memahami pH optimum dan suhu optimum

1.4 RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana proses perjalanan reaksi enzimatis (progress curve)?


2. Apa perbedaan antara kecepatan sesaat, kecepatan awal dan kecepatan rata-rata reaksi
enzimatik?
3. Bagaimana mengetahui pengaruh pH dan suhu terhadap reaksi enzimatik?
4. Apa yang dimaksud dengan pH optimum dan suhu optimum?
BAB II
METODE PRAKTIKUM

2.1 ALAT DAN BAHAN

1. Alat

- Tabung Erlenmeyer 2 buah


- Tabung reaksi 10 buah
- Pipet volume
- Stopwatch
- Kuvet
- Spektrofotometer
- Label sticker

2. Bahan

- Larutan enzim amilase


- Larutan NaCl 0,9 %
- Larutan amilum 1 %
- Larutan penyangga dengan pH 4 dan pH 5
- Larutan KI-KIO3 : KI 5,0 g
KIO3 0,357 g
NaOH 1 N 2,0 ml
Aqua ad 1 L
- Larutan HCL 0,05 N

2.2 METODE

Prosedur Pengaruh pH terhadap Reaksi Enzimatik

1. Sediakan 5 tabung reaksi, berilah tanda masing-masing 0’, 5’, 10’, 15’, dan 20’.
2. Masukkan ke dalam sebuah labu erlenmeyer 15 ml larutan penyangga dengan pH 4, 3
ml larutan amilum dan 6 ml larutan NaCl 0,9 %. Kocoklah agar
semua larutan tercampur.
3. Isilah masing-masing tabung reaksi yang telah diberi tanda dengan 10 ml larutan HCl
0,05 N.
4. Ambillah 1 ml cairan dari labu erlenmeyer dan masukkan ke dalam tabung reaksi
dengan tanda 0’, kocok sebentar.
5. Tambahkan 1 ml larutan enzim ke dalam labu erlenmeyer dan campur dengan cepat.
Tepat pada saat penambahan enzim ini catatlah waktunya (jalankan stopwatch).
6. Mendekati 5 menit setelah enzim dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer, pipetlah 1
ml larutan dari labu erlenmeyer. Masukkan larutan dalam pipet tersebut ke dalam
tabung reaksi
bertanda 5’ tepat pada saat penunjuk waktu menunjukkan 5 menit. Kocok sebentar.
7. Demikian seterusnya: tepat setiap 5 menit kemudian masukkan 1 ml larutan dari labu
erlenmeyer berturut-turut ke dalam tabung-tabung reaksi dengan tanda 10’, 15’, dan
20’ seperti di atas. Kocok sebentar.
8. Setelah semua selesai, ke dalam tiap tabung reaksi tambahkan 1 ml larutan KI-KIO3,
campur baik-baik sampai merata, tunggu 5 – 10 menit.
9. Tentukan intensitas warna yang terjadi dengan spektrofotometer dengan panjang
gelombang 620 nm.
Jumlah substrat yang dicerna pada setiap waktu yang telah ditentukan dapat dihitung
dengan rumus:

10. Catat hasil yang didapat, kemudian berdasarkan data tersebut buatlah gafik hubungan
antara % subtrat yang dicerna ( ordinat ) dengan waktu ( absis ).
11. Ulangi langkah 1 sampai 10 dengan larutan penyangga dengan pH 5
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 HASIL PERCOBAAN

Dari percobaan yang telah dilakukan, diperoleh data absorbansi dari setiap waktu
yang telah ditentukan dari 2 larutan dengan perlakuan pH yang berbeda sebagai berikut.

Waktu pH 4 pH 5
t 0’ 0,272 0,278
t 5’ 0,255 0,231
t 10’ 0,244 0,248
t 15’ 0,251 0,239
t 20’ 0,253 0,250
Dengan menggunakan rumus, dapat diperoleh data % substrat yang dicerna, sebagai
berikut.

Waktu pH 4 pH 5
t 0’ 0 0
t 5’ 6,25 16,90
t 10’ 10,29 10,79
t 15’ 7,72 14,02
t 20’ 6,98 10,07

Disajikan dalam bentuk grafik

Grafik hubungan antara


% substrat yang dicerna (ordinat) dengan waktu
(absis)
18
16
14
12
10
8
6
4
2
0
5 10 15 20

pH 4 pH 5
3.2 PEMBAHASAN

1. Perlakuan pH

Berdasarkan data yang telah diperoleh, % substrat yang dicerna dari perlakuan pH 5
lebih besar dibandingkan dengan perlakuan pH 4, hal ini dikarenakan kerja dari enzim
amilase yang dipengaruhi oleh pH. Dapat kita ketahui enzim amilase di tubuh kita banyak
terdapat di bagian mulut yang memiliki kisaran pH 5,6-7,0 dengan rata-rata pH 6,7. Kisaran
pH 6,7 merupakan nilai pH optimum dari enzim amilase. Semakin jauh dari nilai pH
optimum enzim amilase, semakin menurun % substrat yang dicerna.

2. Hubungan waktu dengan % substrat yang dicerna

Seiring bertambahnya waktu, banyaknya substrat yang dicerna akan semakin banyak.
Namun, dari data yang diperoleh tidak terjadi kenaikan nilai % substrat yang dicerna secara
terus menerus. Hal ini mungkin disebabkan oleh kurang tercampurnya enzim ke dalam
larutan, sehingga tidak seluruh bagian larutan terpapar dengan enzim yang berdampak pada
saat pengambilan larutan.
BAB IV
KESIMPULAN

KESIMPULAN

Kinerja enzim dipengaruhi oleh pH dan enzim memiliki pH optimum dimana kinerja
aktivitas enzim tersebut lebih tinggi dibandingkan pada nilai pH lainnya. Semakin menjauhi
nilai pH optimum, semakin menurun kinerja aktivitas enzim tersebut. Semakin lama larutan
substrat berkontak dengan enzim, semakin banyak % substrat yang dicerna.

DAFTAR PUSTAKA
untuk landasan teori (?)
LAMPIRAN

Campuran larutan sebelum ditambahkan enzim amilase

Pengukuran waktu perlakuan setelah ditambahkan enzim amilase


Tabung reaksi yang telah ditambahkan KI-KIO3 setelah sebelumnya ditambahkan larutan

Pengukuran absorbansi larutan