Anda di halaman 1dari 6

ARSITEKTUR LINGKUNGAN

ISU LINGKUNGAN MENGENAI SUARA

OLEH
NURUL AQSANI AUDHITA
03420140073
B2

PROGRAM STUDI ARSITEKTUR


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR 2015
PENCEMARAN SUARA
Polusi atau pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk
hidup, zat energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan, atau berubahnya tatanan
lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam sehingga kualitas lingkungan turun
sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat
berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya (Undang-undang Pokok Pengelolaan
Lingkungan Hidup No. 4 Tahun 1982). Bunyi atau suara adalah kompresi mekanikal atau
gelombang longitudinal yang merambat melalui medium. Medium atau zat perantara ini
dapat berupa zat cair, padat, gas. Jadi, gelombang bunyi dapat merambat misalnya di dalam
air, batu bara, atau udara. Kebanyakan suara adalah merupakan gabungan berbagai sinyal,
tetapi suara murni secara teoritis dapat dijelaskan dengan kecepatan osilasi atau frekuensi
yang diukur dalam Hertz (Hz) dan amplitudo atau kenyaringan bunyi dengan pengukuran
dalam desibel. Manusia mendengar bunyi saat gelombang bunyi, yaitu getaran di udara atau
medium lain, sampai ke gendang telinga manusia. Batas frekuensi bunyi yang dapat
didengar oleh telinga manusia kira-kira dari 20 Hz sampai 20 kHz pada amplitudo umum
dengan berbagai variasi dalam kurva responsnya.
Jadi, pencemaran suara adalah gangguan pada lingkungan yang diakibatkan oleh
bunyi atau suara yang mengakibatkan ketidaktentraman makhluk hidup di sekitarnya.
Pencemaran suara diakibatkan suara-suara bervolume tinggi yang membuat daerah
sekitarnya menjadi bising dan tidak menyenangkan. Tingkat kebisingan terjadi bila intensitas
bunyi melampui 70 desibel (dB).

PENYEBAB PENCEMARAN SUARA


Zat atau bahan yang dapat mengakibatkan pencemaran disebut polutan. Syarat-
syarat suatu zat disebut polutan bila keberadaannya dapat menyebabkan kerugian terhadap
makhluk hidup. Sifat polutan adalah:
1. Merusak untuk sementara, tetapi bila telah bereaksi dengan zat
lingkungan tidak merusak lagi.
2. Merusak dalam jangka waktu lama.
Dalam pencemaran suara, kebisingan yang dialami sehari – hari tanpa sadar
merupakan faktor utama terjadinya pencemaran suara. Apalagi pada era modern seperti
sekarang ini banyak sekali alat – alat yang menggunakan mesin yang berbunyi bising serta
penggunaan gadget yang bisa memutar bunyi dengan earphone yang suaranya langsung
mengenai gendang telinga tanpa ada perantara merupakan suatu hal yang beresiko
mengakibatkan pencemaran suara. Saat berada di rumah, telinga kita diisi oleh riuhnya
suara binatang peliharaan, suara AC, televisi, dan banyak hal lain. Saat berada di jalan, kita
juga mendengar keriuhan lain: proyek pembangunan, suara kendaraan umum yang
menderu dan musik yang dinyalakan orang lain. Di kabin mobil, kapal laut, dan pesawat
terbang menimbulkan suara mesin yang menderu. Juga di pabrik atau tempat kerja yang
memakai kipas angin besar, kompresor, trafo, dan pompa. Di hotel, perkantoran, atau
apartemen biasanya saluran udaranya mengeluarkan bising. Sebagai contoh beberapa
kebisingan yang menyebabkan kebisingan yang kekuatannya diukur dengan dB atau desibel
adalah:
1. Orang ribut / silat lidah = 80 dB
2. Suara kereta api / krl = 95 dB
3. Mesin motor 5 pk = 104 dB
4. Suara petir = 120 dB
5. Pesawat jet tinggal landas = 150 dB

DAMPAK PENCEMARAN SUARA


Tingkat pencemaran didasarkan pada kadar zat pencemar dan waktu (lamanya)
kontak. Menurut WHO, tingkat pencemaran dibedakan menjadi 3, yaitu sebagai berikut :
1. Pencemaran yang mulai mengakibatkan iritasi (gangguan) ringan pada panca indra
dan tubuh serta telah menimbulkan kerusakan pada
ekosistem lain.
2. Pencemaran yang sudah mengakibatkan reaksi pada faal tubuh dan
menyebabkan sakit yang kronis.
3. Pencemaran yang kadar zat-zat pencemarnya demikian besarnya
sehingga menimbulkan gangguan dan sakit atau kematian dalam
lingkungan.
Menurut penelitian, musik berirama keras, hingga 'berlimpah ruah' berdampak
dramatik pada psikologi. Selain berakibat merusak gendang pendengaran, menurut Dr.
Luther Terry, mantan peneliti di Badan Bedah AS, yang melakukan penelitian adanya akibat
negatif terkait suara yang bising, proses pendengaran melibatkan: kontruksi jantung,
peredaran darah, meningkatkan kerja hati, pernafasan yang meningkat, menghambat
penyerapan kulit dan tekanan kerangka otot, sistem pencernaan berubah, aktivitas yang
berhubungan dengan kelenjar yang memberi pertanda pada zat-zat kimia dalam tubuh
termasuk darah dan air seni, efek keseimbangan organ. Juga keseimbangan efek perasa dan
perubahan kimia di otak. Itu semua merupakan sebagian dari efek suara bising pada
manusia. Terry juga mengungkapkan adanya efek negatif suara gaduh dalam perkembangan
janin. Penelitian menemukan pula, kalau setelah terpapar suara berkekuatan tinggi, seperti
suara pesawat yang tinggal landas atau tempat kerja yang sangat ramai, tekanan darah
meningkat hingga 30%. Pengaruh negatif bertambah dengan adanya kenyataan tekanan
darah meningkat dalam tingkat yang tinggi, bahkan saat paparan suara bising berakhir.
Mungkin Anda memilih untuk tak tinggal di dekat bandara agar tak terkena dampak buruk
kebisingan lalu litas pesawat. Meski demikian, suara gaduh lain yang mungkin kita
pertimbangkan secara moderat memang memiliki pengaruh. Sebuah penelitian di Jerman
menemukan, bahwa tinggal di daerah yang bising dan jalanan yang sibuk memungkinkan
mengakibatkan serangan jantung sebesar 20%, lebih tinggi dari pada orang-orang yang
tinggal di daerah tenang. Studi tersebut menghubungkan permasalahan dalam
mendengarkan, juga dipengaruhi oleh kebisingan.Selain itu, suara gaduh juga dapat
berpengaruh pada anak-anak dalam belajar bicara, membaca, dan dalam menangkap
pelajaran di sekolah. Pengaruh yang sama juga telah didokumentasikan pada orang-orang
yang tinggal di dekat bandara, dekat rel kereta api dan jalan besar. Ketidakmampuan untuk
mendengar dan memahami segala yang diajarkan guru dapat diartikan sebagai kwalitas
yang menyedihkan, dan bahkan dapat meningkatkan tingkat ketidaklulusan di sekolah. Lebih
jauh lagi, polusi suara juga membawa dampak pada tingkah laku anak-anak dan orang
dewasa. Sebuah studi mengamati respon seorang pejalan kaki saat seseorang meminta
bantuan di tempat yang gaduh. Sementara ditengah kebisingan suara mesin pemotong
rumput yang meraung di sekitar, ada seseorang wanita yang patah tulang menjatuhkan
bukunya, tak seorangpun datang untuk memberikan bantuan. Namun pada saat mesin
pemotong rumput yang bersuara ribut dimatikan, dan kejadian yang sama diulang,
beberapa pejalan kaki berhenti guna memberi bantuan pada wanita ini.
Dari uraian diatas, dampak pencemaran suara biasanya hanya menyebabkan
gangguan–gangguan kecil yang tidak begitu dirasakan oleh makhluk yang tercemari.
Pencemaran suara yang bersifat terus-menerus dengan tingkat kebisingan di atas 80 dB
itulah yang dapat mengakibatkan efek atau dampak yang merugikan kesehatan manusia dan
juga menimbulkan kerugian secara materi karena dengan kesehatan yang terganggu maka
produktivitas kerja akan menurun.

CARA MENANGGULANGI PENCEMARAN SUARA


Dari uaraian diatas tentang begitu berbahayanya pencemaran suara yang
menyebabkan berbagai gangguan pada manusia, kini banyak digunakan sistem kendali
bising yang aktif. Menurut Dr Ir Bambang Riyanto Trilaksono MSc, peneliti dan dosen pada
Departemen Teknik Elektron, Institut Teknologi Bandung (ITB), secara konvensional bising
diredam dengan memakai bahan-bahan peredam. Bahan tersebut ditempatkan di sekitar
sumber bising atau di dinding ruang yang intensitas bisingnya mau dikurangi. Sayangnya,
kendali bising pasif hanya efektif pada frekuensi tinggi. Jika pada frekuensi rendah
diterapkan sistem ini, bahan peredam yang dibutuhkan akan lebih berat dan tebal. "Ini
meningkatkan biaya, bahkan kadang-kadang membuat sistem sulit diimplementasikan,"
kata Bambang. Pada dasarnya pengendali bising aktif adalah peredam bising dengan
menggunakan sumber suara yang dikendalikan dan melawan sumber bising yang tidak
dikehendaki.
Bambang menjelaskan, prinsip yang digunakan dalam kendali bising aktif (active
noise control/ANC) adalah interferensi destruktif antara bising dan suatu sinyal suara lain,
lazimnya disebut antisound). Sistem ini membangkitkan sinyal yang fasanya berlawanan
dengan bising yang mau diredam. Meskipun sederhana dalam teori, prinsip ini sulit pada
prakteknya. Penyebabnya karena karakteristik sumber bising akustik dan lingkungan selalu
berubah terhadap waktu, frekuensi, amplitudo, dan fasa. Selain itu, kecepatan suara bising
tidak stasioner.
Selain itu kini di perkantoran, hotel atau apartemen di kota – kota besar yang dekat
dengan lalu lintas utama atau dekat bandara yang dirasa lingkungannya mempunyai
kebisingan yang tidak bisa ditolerir oleh pendengaran manusia, maka Direktur Jendera Bina
Marga sejak tahun 1999 mencanangkan bangunan peredam bising. Dimensi Bangunan
Peredam Bising tersebut antara lain:
 Tinggi minimal 2,75m (makin tinggi kemampuan redaman makin baik).
 Tebal dinding minimal 10 cm.
Sedangkan Bahan bangunan peredam bising:
a. Penggunaan bahan untuk mereduksi bising adalah dari hasil olahan industri berupa
beton ringan agregat yang disebut ALWA berupa konblok (masif) dengan komposisi
campuran: Semen : Pasir : ALWA= 1 : 4 : 4
b. Dimensi konblok ALWA dapat dicetak menurut ukuran pabrik, sebagai berikut: (30 x
10 x 15) atau (30x15x15)cm
c. Bahan selain ALWA seperti Bata Merah atau Batako harus dengan rancangan khusus
untuk memperoleh kemampuan redaman bising yang baik.
Secara terus menerus program ini terus disosialisasikan oleh pemerintah dalam
upayanya mengurangi polusi suara.
Kebijakan yang sudah diambil oleh pemerintah dalam menanggulangi polusi suara
dan polusi udara adalah mengendarai mobil dengan sistem 3 in 1 yaitu dalam satu mobil
minimal harus diisi dengan 3 orang, agar keributan yang terjadi akibat kemacetan, asap dan
desing suara mesin tidak terlalu memadati jalan raya. Selain itu yang perlu dilakukan
pemerintah adalah mengurangi penjualan kendaraan bermotor, karena hal ini merupakan
salah satu pemacu terjadinya kebisingan di jalanan. Karena melihat kenyataan sekarang ini,
setiap individu tidak lepas dari kendaraan bermotor. Dari setiap individu pun kesadaran
akan pentingnya pengurangan polusi suara harus lebih digalakkan. Misalnya dengan tidak
terlalu banyak memakai alat elektronik yang menimbulkan suara bising, tidak berteriak
dalam berbicara atau tidak mendengarkan musik dengan earphone dengan sangat keras.
Karena secara tidak langsung hal itu bisa mengurangi kelelahan otak dalam mendengar.
Dari pabrik atau lembaga–lembaga penemuan teknologi baru, seharusnya
memikirkan juga tentang efek samping terhadap mesin yang menimbulkan suara gaduh.
Pihak produsen seharusnya memasang peredam suara dalam setiap poduknya sehingga
kebisingan dapat diminimalisir. Untuk meminimalisir polusi suara ini ada berbagai cara yang
bisa dilakukan yaitu dengan meredam bising yang tidak diinginkan dengan suara yang
menenangkan, pembangunan bangunan peredam bising, meminimalisir penggunaan
kendaraan bermotor, peralatan elektronik dan pemberian peredam suara oleh pabrik untuk
produknya yang dirasa menimbulkan kebisingan yang melewati ambang batas pendengaran
manusia.
KASUS PENCEMARAN SUARA DI LAUT
Tiap tahun, ratusan hewan laut, kebanyakan dari mereka ikan paus dan lumba-lumba,
terdampar atau mendamparkan diri ke pantai dan mati. Kata sebagian pakar lingkungan, itu
disebabkan oleh penggunaan gelombang sonar oleh angkatan laut Amerika. Sonar adalah
gelombang suara berfrekuensi tinggi yang dipancarkan di dalam laut untuk mencari kapal
selam atau benda-benda lain yang tidak kelihatan.
Gelombang sonar itu, kata para pakar, mengakibatkan kerusakan pada otak dan
sistem pendengaran ikan paus dan ikan lumba-lumba dan memaksa mereka untuk keluar
dari dalam air. Tapi angkatan laut Amerika membantah sebagian besar tuduhan yang
diarahkan padanya. Pada bulan Januari yang lalu, 37 ikan paus dari tiga jenis yang berbeda
mendamparkan diri ke pantai di north Carolina, termasuk enam ekor yang sedang hamil.
Beberapa minggu kemudian, enam-puluh ekor lumba-lumba juga mendamparkan diri di
pantai Florida. Angkatan laut Amerika mengakui bahwa dalam kedua peristiwa itu, mereka
sedang mengadakan latihan dengan menggunakan sonar di laut yang dalam tidak jauh dari
kedua tempat kejadian. Gelombang sonar seperti itu bisa mengubah kebiasaan makan, dan
bahkan mengganggu suara-suara yang dikeluarkan oleh ikan paus untuk saling berhubungan
antara mereka. Suara sonar itu juga telah mengakibatkan beberapa jenis ikan paus dan
lumba-lumba mendamparkan diri ke pantai. Gelombang sonar yang kuat bisa
mengakibatkan kerusakan pada alat pendengaran dan otak jenis-jenis ikan paus tertentu.
Kata para pakar lainnya, pada beberapa peristiwa tampak adanya hubungan yang jelas
antara penggunaan gelombang sonar dan ikan-ikan paus yang terdampar atau
mendamparkan diri ke pantai. Teri Rowles adalah koordinator tentang kesehatan makhluk
laut pada lembaga national oceanic and atmospheric administration. Katanya dia bisa
membuktikan adanya hubungan langsung antara terdamparnya ikan paus dalam jumlah
besar di pantai kepulauan Bahama tahun 2000 lalu.Ketika dilakukan otopsi, para pakar
menemukan adanya pendarahan pada otak dan sekitar telinga. Juga ada pendarahan dalam
paru-paru dan ginjal, dan semua itu tidak disebabkan karena adanya benturan fisik dari luar.
Angkatan laut Amerika mengakui bertanggung-jawab dalam peristiwa itu, tapi
menambahkan bahwa masih banyak pertanyaan yang tidak terjawab tentang dampak sonar
pada ikan paus dan lumba-lumba. Kapal-kapal besar, dan anjungan minyak dan gas alam
laut lepas pantai juga merupakan sumber polusi suara di laut, tapi para pakar cenderung
untuk melihat adanya hubungan antara penggunaan sonar oleh angkatan laut dengan
matinya hewan-hewan laut yang besar itu.Kendati kasus-kasus terdamparnya ikan paus
telah terjadi sejak tahun 1,800, ketika belum ada sonar, para pakar ilmiah dan kelompok
lingkungan di seluruh dunia sangat prihatin atas penggunaan sonar ini. Parlemen Eropa
telah mendesak negara anggotanya untuk menghentikan penggunaan sonar berkekuatan
tinggi, sampai bisa diketahui dengan pasti apa dampaknya atas kehidupan di laut.