Anda di halaman 1dari 30

Table of Contents

BAB I : TINJAUAN UMUM SENYAWA AKTIF DAN SEDIAAN .......................... 23


BAB II : URAIAN DAN ANALISIS FARMAKOLOGI ............................................. 26
II.1 NAMA OBAT DAN SINONIM ..................................................................... 26
II.2 BENTUK SENYAWA AKTIF....................................................................... 26
II.3 MEKANISME KERJA DALAM TUBUH ................................................... 26
II.4 NASIB OBAT DALAM TUBUH (ADME) ................................................... 26
II.5 INDIKASI DAN DASAR PEMILIHAN ....................................................... 26
II.6 KONTRAINDIKASI DAN ALASAN ........................................................... 27
II.7 DOSIS DAN PERHITUNGAN ...................................................................... 27
II.8 CARA PAKAI ................................................................................................. 27
II.9 EFEK SAMPING............................................................................................ 27
II.10 TOKSISITAS .............................................................................................. 28
II.11 INTERAKSI OBAT .................................................................................... 28
II.12 PENGGUNAAN PADA KONDISI KHUSUS .......................................... 29
II.13 PERINGATAN............................................................................................ 29
II.14 CARA PENYIMPANAN ............................................................................ 29
II.15 CONTOH SEDIAAN YANG BEREDAR DI PASARAN ....................... 29
II.16 ANALISIS FARMAKOLOGI ................................................................... 30
III. ANALISIS PREFORMULASI, FORMULASI DAN USULAN FORMULA..... 32
III.1 Pendekatan Formulasi (Analisis Pemilihan Zat Aktif dan Eksipien)............ 32
III. 2. Formulasi .......................................................................................................... 37
III. 2.1. Formula Umum ...................................................................................... 37
IV. PEMBUATAN DAN EVALUASI FARMASETIK SEDIAAN AKHIR.............. 39
IV.1. Metode Pembuatan Sediaan ............................................................................. 39
IV.1.1. Perhitungan ................................................................................................... 39
IV.1.2. Penimbangan ................................................................................................. 39
IV.2. Prosedur Pembuatan ........................................................................................ 40
IV.3. Pengawasan dalam proses ............................................................................... 41
IV.4. Uji Mutu Farmasetik Sediaan Akhir (Disesuaikan dengan Pustaka) ................. 42
1. Evaluasi Fisik : ................................................................................................... 42
2. Evaluasi Kimia ................................................................................................... 46
IV. WADAH DAN INFORMASI OBAT ................................................................ 37
BAB VI. DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 39
BAB I : TINJAUAN UMUM SENYAWA AKTIF DAN SEDIAAN
I.1 DESKRIPSI UMUM SENYAWA AKTIF

1. Pemerian : serbuk hablur, putih sampai putih krem, bentuk


kristal garam
2. Nama lain (sinonim) : Miranax, (-)-Naproxen sodium, Anaprox,
Naprelan
Nama kimia : (-)-Natrium(s)-6metoksi-α-metil-2-naftalenasetat
Struktur kimia :

3. Rumus molekul : C14H13NaO3


Bobot molekul : 252.245 g/mol
4. Kelarutan(kuantitatif) : Larut dalam air dan dalam metanol, agak sukar
larut dalam etanol, sangat sukar larut dalam aseton, praktis tidak larut
dalam kloroform dan dalam toluen, sedikit larut dalam eter
5. pH larutan :-
pH stabilitas : 7 ( netral )
6. Titik didih : 403.9 °C pada 760 mmHg
Titik leleh : 250-251 °C
7. Stabilitas :-
8. Inkompatibilitas : tidak ada reaksi inkompatibilitas dengan senyawa
lain
9. Wadah dan penyimpanan: dalam wadah tertutup rapat
10. Sifat khusus :-
I.2 DEFINISI BENTUK SEDIAAN TERKAIT

Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa
bahan pengisi

I.3 DASAR PERTIMBANGAN DAN LANDASAN HUKUM


PENGGOLONGAN OBAT

Berdasarkan SK Menkes No. ... tentang ... maka sediaan tablet naproxen
sodium digolongkan ke dalam obat keras yang padanya berlaku peraturan
tentang obat keras dan juga ketentuan penandaan pada kemasan serta
nomor registrasi.

I.4 PENANDAAN PADA WADAH, LEAFLET ATAU BROSUR

Pada sediaan naproxen sodium berlaku aturan penandaan sebagai berikut :

1. Bulatan K bewarna merah


2. Peringatan obat keras yaitu HARUS DENGAN RESEP DOKTER

I.5 NOMOR REGISTRASI

Nomor registrasi sediaan tablet naproxen sodium adalah DKL 1612819510


A1

Sediaan tablet naproxen sodium dibuat oleh pabrik atau industri yang telah
memenuhi syarat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB).

No Batch sediaan adalah 605002


BAB II : URAIAN DAN ANALISIS FARMAKOLOGI
II.1 NAMA OBAT DAN SINONIM
1. Nama kimia/umum : naproxen sodium
2. Golongan farmol : antiinflamasi non steroid
3. Golongan kimia : antiinflamasi non steroid turunan asam propionat

II.2 BENTUK SENYAWA AKTIF


Naproxen sodium karena lebih mudah larut dalam air, absorpsi
lebih tinggi, dan onset lebih cepat

II.3 MEKANISME KERJA DALAM TUBUH


1. Efek farmol
Naproxen sodium adalah antiinflamasi non steroid turunan asam
propionat untuk mengatasi rheumatoid arthritis, osteoartritis, ankylosing
spondylitis, serangan penyakit asam urat (gout), dan dysmenorrhea
2. Mekanisme kerja
Menghambat aktivitas enzim cyclooxygenase-2 (COX-2) sehingga
mengurangi biosintesis prostaglandin

II.4 NASIB OBAT DALAM TUBUH (ADME)


Naproxen diabsorpsi di saluran pencernaan dengan bioavailabilitas
95%. Volume distribusi naproxen adalah 0,16 L/kg dengan lebih dari 99%
terikat pada protein plasma. Distribusi obat melewati plasenta dan
terdistribusi pada susu dengan konstentrasi 1% dari konsentrasi plasma
obat simultan maternal. Naproxen dimetabolisme di hati menjadi 6-
desmetilnaproxen. Kemudian diekskresikan, 95% melalui urin dan ≤ 5%
melalui feses.

II.5 INDIKASI DAN DASAR PEMILIHAN


Sediaan naproxen sodium dalam bentuk tablet digunakan untuk
mengurangi sakit dan kekakuan, menurunkan bengkak, dan meningkatkan
mobilitas dan kekuatan genggaman pada penyakit rheumatoid arthritis.
Mengurangi sakit dan kekakuan dan meningkatkan fungsi tulang sendi
lutut pada osteoarthritis. Mengurangi sakit, demam, kemerahan, dan
bengkak pada pasien artritis gout akut.

II.6 KONTRAINDIKASI DAN ALASAN


Pasien dengan hipersensitivitas terhadap naproxen sodium,
memiliki sindrom asma, rhinitis dan hidung polip karena aspirin atau
NSAID lainnya, trimester kehamilan dan menyusui.

II.7 DOSIS DAN PERHITUNGAN


a) Untuk pengobatan osteorartritis, rheumatoid artritis : dosis dewasa 275-
550 mg 2 x sehari pada pagi dan malam hari. Alternatifnya, naproxen
sodium 275 mg dapat diberikan pada pagi hari dan dosis 550 mg dapat
diberikan malam hari.
b) Untuk pengobatan artritis gout akut, dosis awal dewasa 825 mg diikuti
275 mg setiap 8 jam ; terapi berlanjut hingga reda.
c) Untuk pengobatan tendinitis atau bursitis, dosis awal naproxen sodium
550 mg diikuti 550 mg setiap 12 jam atau 275 mg setiap 6-8 jam jika
perlu. Total dosis awal harian tidak boleh melewati 1,375 g naproxen
sodium.
d) Untuk pengobatan dysmenorrhea, untuk nyeri ringan dan moderat dosis
awal naproxen sodium 550 mg diikuti 550 mg setiap 12 jam atau 275
mg setiap 6-8 jam jika perlu. Total dosis awal harian tidak boleh
melewati 1,375 g naproxen sodium.

II.8 CARA PAKAI


Tablet naproxen sodium diminum melalui oral (mulut) bersama
makanan atau segera setelah makan 2 sampai 3 kali sehari yaitu setiap 24
jam.

II.9 EFEK SAMPING


1. Konstipasi
2. Rasa panas dalam perut (heartburn)
3. Nyeri abdominal
4. Dyspepsia
5. Diare
6. Muntah
7. Anorexia
8. Flatulensi
9. Tukak peptic
10. sakit kepala
11. Vertigo
12. Leukopenia
13. gagal ginjal
14. Hepatitis

II.10 TOKSISITAS
Apabila digunakan pada anak usia 2 tahun, bisa menyebabkan
toksisitas seperti gagal ginjal akut dan hiperkalemia, kematian pada anak
usia 8 bulan untuk menghilangkan gejala infeksi saluran pernafasan atas,
kejang pada anak usia 5 tahun, muntah dan kejang pada pasien dewasa,
serta bisa terjadi depresi CNS

II.11 INTERAKSI OBAT


Nama obat Interaksi obat
1. Probenesid Meningkatkan konsentrasi plasma naproxen.
Evaluasi laboratorium, tanda vital, atau efek yang
tidak diinginkan.
2. Metotrexat Naproxen menghambat eliminasi metotrexat di
ginjal. Perubahan secara klinik penting pada
EKG, evaluasi laboratorium, tanda vital, atau efek
yang tidak diinginkan.
3. Antikoagulan, Resiko perdarahan lambung meningkat. Evaluasi
NSAID, laboratorium, tanda vital, atau efek yang tidak
diinginkan.
Kortikosteroid, dan
SSRI
4. Sulfonilurea, Naproxen meningkatkan toksisitas obat tersebut.
Evaluasi laboratorium, tanda vital, atau efek yang
Kuinolon, dan
tidak diinginkan.
Lithium
II.12 PENGGUNAAN PADA KONDISI KHUSUS
1. Pada ibu hamil trimester 3 atau menjelang kelahiran, naproxen memiliki
kategori keamanan yaitu D

Berikut referensi kategori risiko kehamilan menurut FDA :

 A= Tidak berisiko
 B=Tidak berisiko pada beberapa penelitian
 C=Mungkin berisiko
 D=Ada bukti positif dari risiko
 X=Kontraindikasi
 N=Tidak diketahui

2. Pada ibu menyusui, naproxen didistribusikan ke dalam air susu (ASI)


3. Pada pasien geriatri resiko mengalami ulserasi gastrointestinal sehingga
perlu penyesuaian dosis
4. Pada pasien pediatri dengan usia > 2 tahun aman menggunakan naproxen
sodium dengan dosis tunggal 2,5 – 5 mg/kg dengan total dosis 1 harinya
tidaklebih dari 15 mg/kg resiko

II.13 PERINGATAN
Peringatan bagi pasien yang mempunyai riwayat penyakit gastrointestinal,
gagal jantung, dan hipertensi. Kemungkinan akan mengalami efek gastrointestinal
( konstipasi, mual, dan abdominal pain ), efek sistem saraf ( sakit kepala, pusing,
mengantuk ), efek pengelihatan dan pendengaran ( kerusakan pendengaran dan
pengelihatan ), efek hematologi ( leukopenia ), efek ginjal dan elektrolit ( sindrom
nefritis dan gagal ginjal ), efek hati ( hepatitis )

II.14 CARA PENYIMPANAN


Disimpan pada suhu ruangan yaitu sekitar 20-250C dan hindarkan dari
cahaya langsung dan kelembaban yang berlebihan.

II.15 CONTOH SEDIAAN YANG BEREDAR DI PASARAN


Xenifar 500 mg dari IFARS , bentuknya kaplet.
II.16 ANALISIS FARMAKOLOGI
1. Zak aktif yang digunakan yaitu Naproxen Sodium.
2. Naproxen akan dibuat formulasi sediaan tablet dengan bobot 550 mg.
Indikasi : sebagai antiinflamasi non steroid turunan asam propionat
untuk mengatasi rheumatoid arthritis, osteoartritis, ankylosing spondylitis,
serangan penyakit asam urat (gout), dan dysmenorrhea
3. Dosis yang digunakan yaitu 550 mg berdasar jurnal yang telah ditemukan
untuk penyakit dysminorrhe
4. Perhitungan dosis
𝐵𝑀 𝑁𝑎𝑝𝑟𝑜𝑥𝑒𝑛 𝑆𝑜𝑑𝑖𝑢𝑚
𝑥 𝐷𝑜𝑠𝑖𝑠 𝐿𝑎𝑧𝑖𝑚
𝐵𝑀 𝑁𝑎𝑝𝑟𝑜𝑥𝑒𝑛
5. Alasan pemilihan kekuatan sediaan : karena sesuai dengan jurnal yang
telah didapat
6. Lain-lain : Obat diminum setelah makan karena mengiritasi lambung,
Untuk mencegah sakit perut, minum obat ini beserta makanan, susu, atau
antasida. Untuk mengurangi risiko perdarahan lambung dan efek samping
lainnya, penggunaan obat ini dengan dosis efektif terendah untuk waktu
yang sesingkat mungkin. Jangan menambah dosis atau meminum obat
lebih sering dari yang dianjurkan.
Kesimpulan :
1. Kekuatan sediaan 550 mg
2. Tablet naproxen sodium yang akan dibuat yaitu dengan indikasi
sebagai antiinflamasi non steroid turunan asam propionat untuk
mengatasi rheumatoid arthritis, osteoartritis, ankylosing spondylitis,
serangan penyakit asam urat (gout), dan dysmenorrhea. Dosis yang
dibuat yaitu 550 mg dan diminum 2 sampai 3 kali sehari atau setiap 24
jam melalui oral.
3. Beberapa efek samping yang mungkin terjadi saat mengonsumsi obat
ini adalah:
a. Pusing.
b. Mengantuk.
c. Pandangan kabur.
d. Diare atau konstipasi.
e. Nyeri ulu hati.
f. Sakit perut.
4. Berikut adalah interaksi naproxen sodium dengan obat-obat lain jika
digunakan secara bersamaan :
a. Resiko perdarahan lambung meningkat jika digunakan bersamaan
dengan antikoagulan (misalnya, warfarin), aspirin, kortikosteroid
(misalnya prednisone), heparin, atau selective serotonin reuptake
inhibitor (SSRI) (misalnya, fluoxetine).
b. Konsentrasi plasma meningkat jika digunakan bersamaan dengan
Magnesium hidroksida (misalnya, antasida) atau probenesid.
c. Meningkatkan toksisitas siklosporin, lithium, methotrexate,
kuinolon (misalnya, ciprofloxacin), atau sulfonilurea (misalnya,
glipizide).
d. Menurunkan efektivitas Angiotensin-converting enzyme (ACE)
inhibitor (misalnya, enalapril) atau diuretik (misalnya, furosemide,
hydrochlorothiazide).
e. Mengganggu dan mengurangi efektivitas antidepresan selective
serotonin reuptake inhibitor (SSRI) (misalnya, fluoxetine).
f. Mengganggu efek antihipertensi dari β-blocker (misalnya
propranolol).
g. Meningkatkan kadar serum probenesid.

5. Kontraindikasi

a) Jangan menggunakan obat ini untuk pasien yang memiliki riwayat


alergi terhadap naproxen, aspirin atau NSAID lainnya (misalnya,
ibuprofen, celecoxib).
b) Pasien yang akan atau telah menjalani operasi by-pass jantung
(coronary artery bypass graft (CABG) sebaiknya jangan
menggunakan obat ini.
c) Obat ini juga dikontraindikasikan untuk pasien yang memiliki
masalah ginjal, hati, pasien yang menderita asma, urtikaria, atau
radang / tukak pada lambung atau usus yang parah.
d) Seperti NSAID lainnya, naproxen sebaiknya tidak digunakan pada
masa akhir kehamilan karena dapat menyebabkan penutupan dini
duktus arteriosus.
III. ANALISIS PREFORMULASI, FORMULASI DAN USULAN
FORMULA
III.1 Pendekatan Formulasi (Analisis Pemilihan Zat Aktif dan Eksipien)
Naproxen adalah salah satu obat anti inflamasi non-steroid atau disingkat
OAINS. Obat ini digunakan sebagai analgesik, antipiretik dan inflamasi. Seperti
preparat anti inflamasi non steroid lainnya, naproxen menghambat sintesis
prostaglandin tetapi mekanisme antiinflamasinya masih belum diketahui.
Naproxen sodium tidak menekan sistem syaraf pusat dan tidak menginduksi
enzim metabolisme. Naproxen sodium larut dalam air dan diabsorbsi secara cepat
dan lengkap dari saluran gastrointestinal spesifik dilambung setelah pemberian
oral. Kadar plasma puncak dicapai dalam 1-2 jam tergantung intake makanan.
Keadaan seimbang dicapai setelah 4-5 dosis. Waktu paruh naproxen sodium
adalah sekitar 1-2 jam dan eliminasinya 1-4 jam. Pada kadar terapi, lebih dari
99% naproxen sodium terikat albumin serum. Sekitar 95% Naproxen Sodium
diekskresi melalui urin dalam bentuk yang tidak berubah. Kecepatan ekskresi
menyerupai kecepatan obat menghilang dalam plasma. Bentuknya ion, sifatnya
polar didalam lambung.

Metode pembuatan yang digunakan adalah granulasi basah. Tujuan


pembuatan tablet ini adalah untuk memperbaiki penampilan obat, menutupi rasa,
bau, warna obat, memberikan perlindungan fisik dan kimia pada obat(stabilitas
terhadap suasana asam lambung pada salut enterik.

Alasan penggunaan bahan:

1. Naproxen Sodium dalam bentuk garam


Fungsi : Sebagai Zat aktif.
Alasan : memiliki khasiat sebagai anti inflamasi, penghilang rasa nyeri(2).
2. Amilum
Fungsi : sebagai bahan pengisi.
Alasan : mempunyai aliran yang baik dan menghasilkan tablet yang lebih
kompak dan stabil(3).
3. PVP
Fungsi : sebagai bahan pengikat.
Alasan : bahan ini cocok untuk pembuatan tablet sebagai pengikat pada
metode granulasi basah, meningkatkan gaya kohesifitas serbuk(4).
4. Primojel
Fungsi : sebagai bahan penghancur.
Alasan : bahan ini cocok untuk metode granulasi basah, terjadi dengan
penyerapan yang cepat dan diikuti dengan pembengkakan(5).
5. Magnesium stearat
Fungsi : sebagai bahan lubrikan.
Alasan : untuk mengurangi gesekan antara bagian dalam die dan dinding
tepi tablet selama pembentukan tablet, agar tidak lengket(6).
6. Talc
Fungsi : sebagai bahan glidan.
Alasan : karena bahan ini bisa memperbaiki sifat alir atau memberikan
karakterisitik aliran yang diinginkan untuk meningkatkan sifat alir dalam
proses pencetakan tablet(7).
7. Etanol
Fungsi : sebagai bahan pelarut.

Alasan : karena bahan ini bersifat melarutkan dan mudah menguap


sehingga pada saat pengeringan granul basah menjadi cepat kering
daripada menggunakan pelarut air(8).

SIFAT FISIKOKIMIA ZAT AKTIF DAN EKSIPIEN

1. Naproxen Sodium
a. Sinonim : Naproxenum sodium, sodii naproxenum
b. Rumus Molekul : C14H13NaO3
c. Pemerian : berwarna putih, higroskopik, serbuk Kristal.
d. Kelarutan : Mudah larut dalam air, larut dalam etanol, metil
alkohol
e. pH :7-9
f. Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat, tak tembus cahaya(2).
g. Titik didih : 403°

2. Amilum
a. Sinonim : Amido, Amidon, amilo, Aytex P, melojel
b. Rumus Molekul : (C6H10O)n

c. Pemerian : Serbuk berwarna putih halus, tidak berbau,


d. Kelarutan : praktis tidak larut dalam etanol dingin dan air yang
dingin.
e. Density bulk : 0,462 g/cm3
f. pH : 5,5 – 6,5
g. Inkompatibilitas : tidak ada reaksi inkompatibilitas dengan senyawa
lain.
h. Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat(3).

3. Primojel
a. Sinonim : sodium starch glycolate, sodium salt, explotab,
explosol, carboxymethyl starch.
b. Rumus Molekul :

c. Pemerian : serbuk putih, tidak berbau, tidak berasa.


d. Kelarutan : sedikit larut dalam etanol 95%, praktis tidak larut
dalam air.
e. Titik lebur : 200o C
f. pH :3–5
g. Density bulk : 0,81 g/cm3
h. Inkompatibilitas : incompatible dengan asam askorbat.
i. Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat(5).

4. PVP
a. Sinonim : kollidon, povidone, plasdone, polyvidone
b. Rumus molekul : (C6H9NO)n

c. Pemerian : serbuk halu berwarna putih, tidak berbau,


higroskopis.
d. Kelarutan : bebas larut dalam asam, kloroform, etanol 95%,
keton, methanol dan air. Praktis tidak larut dalam eter, hidrokarbon
dan minyak mineral.
e. pH :3–7
f. titik lebur : 150o C
g. Density bulk : 0,29 – 0,39 g/cm3
h. Inkompatibilitas : kompatibel dengan larutan sepertigaram
anorganik, resin alami dan bahan sintetik.
i. Penyimpanan : dalam wadah tertutup dan tak tembus cahaya(4).

5. Mg Stearat
a. Sinonim : magnesium octadecanoate, magnesium salt,
octadecanoic acid.
b. Rumus molekul : C36H70MgO4
c. Pemerian : serbuk halus, berwarna putih, bau asam stearat,
rasa yang khas,
d. Kelarutan : praktis tidak larut dalam etanol dan air, sedikit
larut dalam benzene hangat dan etanol 95% hangat.
e. Density bulk : 0,159 g/cm3
f. Titik lebur : 117 – 150o C
g. Inkompatibilitas : tidak kompatibel dengan asam kuat, alkali dan
garam besi. Hindari pencampuran dengan bahan pengoksidasi kuat.
h. Penyimpanan : dalam wadah tertutup dan tidak tembus cahaya(6).

6. Talc
a. Sinonim : Altalc, hydrous magnesium calcium silicate,
hydrous magnesium silicate.
b. Rumus molekul : Mg6(Si2O5)4(OH)4
c. Pemerian : bubuk kristal yang sangat halus, putih keabu-
abuan, tidak berbau,
d. Kelarutan : praktis tidak larut dalam larutan asam dan basa,
pelarut organic dan air.
e. Ph : 7 - 10
f. Inkompatibilitas : tidak kompatibel dengan senyawa ammonium
kuarterner.
g. Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat dan tidak tembus
cahaya(7).

7. Etanol
a. Sinonim : ethyl alcohol, ethyl hydroxide, grain alcohol.
b. Rumus molekul : C2H6O
c. Pemerian : cairan bening, tidak berwarna, mudah menguap,
bau khas.
d. Kelarutan : larut dalam kloroform, eter, gliserin, dan air.
e. Titik didih : 78,15oC
f. Inkompatibilitas : dalam kondisi asam, etanol dapat bereaksi dengan
bahan pengoksidasi, etanol inkompatibel dengan wadah aluminium,
dapat berinteraksi dengan obat-obatan.
g. Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat(8).

III. 2. Formulasi
III. 2.1. Formula Umum

R/ Zat aktif

Eksipien :

- Pengikat

- Disintegran

- Pengisi

- Lubrikan

- Adsorben

- Larutan Penyalut

III. 2.2. Formula Pustaka

Naproxen sodium 550 mg


Hidroxypropylmethylcellulose 41,25 mg
Talc 31,5 mg
Magnesium stearate 3,5 mg

Deionized water 36 mg
III. 2.3. Pengembangan Formula

Fase Luar (8%)


Fase Dalam ( 92%)
Mg stearat 7,5 mg
Naproxen Na 350 mg
Talc 15 mg
Amilum 94,5 mg
Primojel 37,5 mg
PVP 19,5 mg

Primojel 26 mg

Etanol q.s
IV. PEMBUATAN DAN EVALUASI FARMASETIK SEDIAAN AKHIR
IV.1. Metode Pembuatan Sediaan
Naproxen sodium akan dibuat sediaan tablet dengan tujuan
meningkatkan bioavailibilitas. Bobot tablet sediaan ini adalah 750 mg.
Metode pembuatan adalah granulasi basah. Tujuan bobot tablet ini
adalah untuk pengobatan dysmenorrhea.

IV.1.1. Perhitungan

Perhitungan
- Fase dalam 92% :
92
Bobot 1 tablet = x 550 = 506 mg
100
Naproxen Na = 350 mg
PVP (3%) = 3% x 550 mg = 16,5 mg
Primojel (4%) = 4% x 550 mg = 22 mg
Amilum = [506-(350-16.5-22)] = 117.5 mg
Missal : diperoleh granul 550 g, kandungan lembab 3 %
- Fase luar 8% :
Mg stearat 1 % = 1/92 x 550 = 5,5 mg
Talc 2% = 2/92 x 550 = 11,95 mg
Primojel 5% = 5/92 x 550 = 29,89 mg

IV.1.2. Penimbangan

Penimbangan skala laboratorium ( ditambah 5%)


- Fase dalam 92% :
Naproxen Na = ( 350 + 5% ) x 100 = 3550 mg
PVP = ( 16,5 + 5% ) x 100 = 1655 mg
Primojel = ( 29,89 + 5% )x100 = 2994 mg
Amilum = ( 117,5 + 5% ) x 100 = 11755 mg
- Fase luar 8% :
Mg stearat = ( 7,45 + 5% ) x 100 = 750 mg
Talc = ( 14,89 + 5% ) x 100= 1494 mg
Primojel = ( 37,22 + 5% ) x 100= 3727 mg

IV.2. Prosedur Pembuatan

Sodium Naproxen, primojel, PVP, amilum dicampur sampai homogen.

Kemudian ditambah pelarut/etanol sedikit demi sedikit hingga diperoleh


massa yang basah.

Massa basah kemudian diayak dengan ayakan mesh 10 atau 12.

Granul basah dikeringkan dalam oven dengan suhu 40oC

Granul yang telah kering diayak kembali dengan ayakan 14 atau 16.

Granul kering ditimbang dan dievaluasi.

Granul dicampur dengan fase luar ( talc, mg stearat, primojel) aduk hingga
homogen.

Massa siap dicetak dengan bobot yang telah ditentukan dan


dievaluasi.
IV.3. Pengawasan dalam proses

In Process Control dilakukan pada tiap tahap pelaksanaan kegiatan

prosedur pembuatan tablet kunyah Naproxen Sodium, antara lain sebagai berikut:

 Penimbangan

IPC dalam penimbangan dilakukan oleh orang penimbang bahan,

yang terdiri dari 2 orang, seorang sebagai pelaksana dan seorang lain

sebagai intruksi, dokumentasi dan pengawasan. Dokumentasi ini

sebagai bukti IPC dalam penimbangan.

 Pencampuran

Pada proses pencampuran ini dilakukan IPC yang menguji

homogenitas pencampuran serbuk bahan tablet sebelum dikempa dan

uji sifat alir campuran serbuk..

 Evaluasi pembuatan suspensi

Pada proses evaluasi ini dilakukan IPC yang mengevaluasi viskositas

dan tingkat keasaman pH pada pembuatan suspensi.

 Pencetakan

Pada proses pencetakan IPC yang harus dilakukan adalah pencatatan

jumlah tablet yang didapatkan, kekuatan yang digunakan untuk

kempa tablet.

 Pengemasan

IPC yang dibutuhkan adalah pencatatan prosedur yang dilakukan

selama menjalankan proses pengemasan.


IV.4. Uji Mutu Farmasetik Sediaan Akhir (Disesuaikan dengan Pustaka)

1. Evaluasi Fisik :

 Evaluasi Tablet Inti. Evaluasi tablet inti meliputi :

 Uji Keseragaman Bobot

Uji ini dapat diterapkan untuk tablet yang mengandung zat aktif 50 mg

atau lebih, atau merupakan 50% atau lebih dari bobot total.

Prosedur penetapan keseragaman bobot:

 Pilih tidak kurang dari 30 tablet.

 Dari 30 tablet tersebut, timbang 10 tablet satu per satu dan hitung

bobot rata-rata

Kriteria:

Kecuali dinyatakan lain dalam masing-masing monografi,

persyaratan Keseragaman dosis dipenuhi jika jumlah zat aktif dalam

masing-masin 10 tablet terletak antara 85.0% hingga 115.0% dari yang

tertera pada etiket dan simpangan baku relatif (SDR) lebih kecil atau

sama dengan 6,0%. SDR = (SD/rata-rata) x 100%

Dilakukan uji 20 tablet tambahan jika:

a. 1 tablet terletak di luar rentang 85.0% - 115.0% dan tidak ada tablet

yang terletak antara 75.0% - 125.0%,

b. SDR > 6.0%

c. a dan b tidak dipenuhi

Persyaratan dipenuhi jika:


a. Tidak lebih dari 1 tablet dari 30 tablet ada di luar 85.0% atau

1125.0%

b. Tidak ada 1 tabletpun yang di luar rentang 75.0% atau 125.0%

c. SDR tidak lebih besar dari 7.8%

 Uji Kekerasan

Tujuan: menjamin ketahanan tablet terhadap gaya mekanik pada

proses: pengemasan, penghantaran (shipping).

Prosedur:

- 20 tablet diambil secara acak

- Ukur kekerasan masing-masing tablet

- Catat skala yang terukur

- Kekerasan tablet adalah harga rata2 ke-20 tablet

- Variasi kekerasan dilihat dari harga SD

Nilai kekerasan tablet bergantung pada bobot tablet. Makin besar tablet,

kekerasan

yang diperlukan juga semakin besar.

- Bobot tablet sampai 300 mg, 4 – 7 kg/cm2.

- Bobot tablet 400 – 700 mg: 7 – 12 kg/cm2

 Uji Waktu Hancur

Uji ini tidak menyatakan bahwa sediaan atau bahan aktifnya

terlarut sempurna. Sediaan dinyatakan hancur sempurna bila sisa sediaan

yang tertinggal pada kasa alat uji merupakan masa lunak yang tidak

mempunyai inti yang jelas (FI IV, halaman 1086).


Prosedur :

Masukkan 1 tablet pada masing-masing tabung dari keranjang,

masukkan satu cakram pada tiap tabung dan jalankan alat, gunakan air

bersuhu 37º ± 2º sebagai media kecuali dinyatakan menggunakan cairan

lain dalam masing-masing monografi. Pada akhir batas waktu seperti yang

tertera dalam monografi, angkat keranjang dan amati semua tablet: semua

tablet harus hancur sempurna. Bila 1 tablet atau 2 tablet tidak hancur

sempurna, ulangi pengujian dengan 12 tablet lainnya: tidak kurang 16 dari

18 tablet yang diuji harus hancur sempurna.

 Uji Friabilitas

Adalah parameter untuk menguji ketahanan tablet bila dijatuhkan

pada suatu ketinggian tertentu. Tujuan penetapan = untuk mengukur

ketahanan permukaan tablet terhadap gesekan yang dialaminya sewaktu

pengemasan dan pengiriman tujuan

Prosedur:

a. 20 tablet diambil secara acak

b. Tablet dibersihkan dari debu kemudian ditimbang (Wo)

c. Masukkan & uji (100 x) putaran

d. Bersihkan tablet dan timbang (Wt)

e. Hitung % friabilitas tablet

% F = (Wo – Wt)/Wo x 100%


Pada umumnya persen friabilitas yang dapat diterima adalah < 1%. Pada

proses pengukuran friabilitas, alat diputar dengan kecepatan 25 putaran per

menit dan waktu yang digunakan adalah 4 menit. Jadi ada 100 putaran.

Hal yang harus diperhatikan dalam pengujian friabilitas adalah jika dalam

proses pengukuran friabilitas ada tablet yang pecah atau terbelah, maka

tablet tersebut tidak diikutsertakan dalam perhitungan. Jika hasil

pengukuran meragukan (bobot yang hilang terlalu besar), maka pengujian

harus diulang sebanyak dua kali. Selanjutnya tentukan nilai rata-rata dari

ketiga uji yang telah dilakukan.

 Uji Friksibilitas

Friksibilitas adalah parameter untuk menguji ketahanan tablet jika

tablet mengalami gesekan antar sesama

Prosedur:

a. 20 tablet diambil secara acak

b. Tablet dibersihkan dari debu kemudian ditimbang (Wo)

c. Masukkan uji (100 x) putaran

d. Bersihkan tablet dan timbang (Wt)

e. Hitung % friksibilitas tablet

% F = (Wo – Wt)/Wo x 100%


 Uji Disolusi

Uji ini digunakan untuk menentukan kesesuaian dengan

persyaratan disolusi yang tertera dalam masing-masing monografi

untuk sediaan tablet dan kapsul, kecuali pada etiket dinyatakan bahwa

tablet harus dikunyah. Persyaratan disolusi tidak berlaku untuk kapsul

gelatin lunak kecuali bila dinyatakan dalam masing-masing

monografi. Bila pada etiket dinyatakan bahwa sediaan bersalut

enterik, sedangkan dalam masing-masing monografi, uji disolusi atau

uji waktu hancur tidak secara khusus dinyatakan untuk sediaan

bersalut enterik, maka digunakan cara pengujian untuk sediaan lepas

lambat seperti yang tertera pada uji Pelepasan Obat, kecuali

dinyatakan lain dalam masing-masing monografi. Dari jenis alat yang

diuraikan disini, pergunakan salah satu sesuai dengan yang tertera

dalam masing-masing monografi.

Disolusi dilakukan menggunakan alat tipe 2 yaitu tipe basket,

kecepatan 50 rpm, dan menggunakan medium HCl pH 1,2 sebanyak

900 mL selama 2 jam. Pengambilan sampael pada medium asam,

medium disolusi diganti dengan medium fosfat pH 6,8. Disolusi pada

medium basa dilakukan selama 45 menit dengan waktu pengambilan

sampel pada menit 5, 10, 15, 25, 35 dan 45.

2. Evaluasi Kimia

Evaluasi kimia
Evaluasi kimia yang dilakukan pada tablet Naproxen Sodium 550

mg disesuaikan dengan panduan Farmakope Indonesia edisi IV tahun

1995.

 Identifikasi

 Penetapan Kadar

Sediaan tablet Naproxen Sodium 550 mg disimpan dalam kemasan

strip yang dapat menampung 10 tablet. Kemudian strip akan dikemas dalam

kardus dan setiap kardus memuat 10 strip dengan total 100 tablet naproxen

sodium 550 mg.


IV. WADAH DAN INFORMASI OBAT

a. Label
b. Wadah
c. Brosur

NAMIPROX
Nama Obat Tablet Naproxen Sodium 550 mg
Uraian kerja farmol Sebagai antiinflamasi
Indikasi Pengobatan Dysminorre
Kontraindikasi Hipersensitivitas terhadap Diklofenak atau yang
menderita asma, urtikaria atau alergi pada pemberian
Aspirin atau NSAID lain. Penderita tukak lambung
Efek samping a. Pusing.
b. Mengantuk.
c. Pandangan kabur.
d. Diare atau konstipasi.
e. Nyeri ulu hati.
f. Sakit perut.
Bentuk sediaan Tablet
Kandungan Naproxen Sodium 250 mg
obat/komposisi
Volume / jumlah 10x10 tablet atau sesuai petunjuk dokter
Dosis 3 x 1 tablet
Cara pakai Diminum utuh dengan air 2-3 atau 3-4 kali sehari 1
tablet
Peringatan 1. Peringatan bagi pasien yang mempunyai
riwayat penyakit gastrointestinal
2. Gagal jantung, dan hipertensi.
3. Kemungkinan akan mengalami efek
gastrointestinal ( konstipasi, mual, dan
abdominal pain )
4. Efek sistem saraf ( sakit kepala, pusing,
mengantuk )
5. Efek pengelihatan dan pendengaran (
kerusakan pendengaran dan pengelihatan )
6. Efek hematologi ( leukopenia )
7. Efek ginjal dan elektrolit ( sindrom nefritis
dan gagal ginjal )
8. Efek hati ( hepatitis )
Penandaan khusus

Label khusus “Harus dengan resep dokter”


Manufacturing Date 18 November 2016
Expired Date 10 September 2022
Wadah dan kemasan Primer (strip), sekunder (box)
Cara simpan Simpan ditempat yang kering dan terlindungi dari
cahaya langsung
No. Batch 6055001
No. Registrasi PNK 1612819510 B1
Kode Barcode
Nama pabrik SH Group Pharmaceutical
Simbol pabrik

Alamat pabrik Pontianak, Indonesia


BAB VI. DAFTAR PUSTAKA

Drs. M. Amroni M.S., A. 2007. Penggolongan Obat Berdasarkan Perundang-undangan. In


Kapita Selekta Dispensing 1 (p. 161). Yogyakarta.

ISO Indonesia. 2011. Jakarta: Ikatan Apoteker Indonesia.

IV, F. 1995. Farmakope Indonesia IV. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

USP. 2007. This Unique E-Book of The US Pharmacopoeia 30-NF25 is Made Especially for

Arabswell.USP 30-NF25. Amerika.

Hsiao, Charles.H., Kent, John.S., 1989, Controlled Release Naproxen and Naproxen Sodium
Tablets, United States Patent, 19.

Galichet, L.Y., 2005, Starch, in Rowe, R.C., Sheskey, P.J., and Owen, S.C., (ed)., Handbook
of Pharmaceutical Excipients, fifth Edition, Pharmaceutical Press, London, 725-728

Kibbe, A.H., 2005, Povidone, in Rowe, R.C., Sheskey, P.J., and Owen, S.C., (ed)., Handbook
of Pharmaceutical Excipients, fifth Edition, Pharmaceutical Press, London, 611-615.

Edge, S., Miller, R.W., 2005, Sodium Starch Glycolate, in Rowe, R.C., Sheskey, P.J., and
Owen, S.C., (ed)., Handbook of Pharmaceutical Excipients, fifth Edition,
Pharmaceutical Press, London, 701-703.

Allen, L.V., Luner, P.E., 2005, Magnesium Stearate, in Rowe, R.C., Sheskey, P.J., and Owen,
S.C., (ed)., Handbook of Pharmaceutical Excipients, fifth Edition, Pharmaceutical
Press, London, 430-431.

Kibbe, A.H., 2005, Talcum, in Rowe, R.C., Sheskey, P.J., and Owen, S.C., (ed)., Handbook
of Pharmaceutical Excipients, fifth Edition, Pharmaceutical Press, London, 767-768.

Owen, S.C., 2005, Alcohol, in Rowe, R.C., Sheskey, P.J., and Owen, S.C., (ed)., Handbook
of Pharmaceutical Excipients, fifth Edition, Pharmaceutical Press, London, 18-19.