Anda di halaman 1dari 6

TUGAS 1

1. Perbedaan PISA dan TIMSS


Category PISA TIMSS
Singkatan PISA (Programme TIMSS (The Trends in
International Mathematics and
Internationale for Student
Science Study)
Assesment)
Penyelenggara OECD (Organisation for IEA (International Association
Economic Cooperation and for The Evaluation of
Development) (Organisasi untuk Educational Achievement)
kerjasama ekonomi dan (Asosiasi internasional untuk
pembangunan) menilai prestasi dalam
pendidikan)
Tujuan Menilai sejauh mana siswa yang Mengetahui perkembangan
duduk di akhir tahun pendidikan kualitas pembelajaran
dasar sudah menguasai matematika dan sains
pengetahuan dan ketrampilan
yang penting untuk dapat
berpartisipasi di masyarakat)
Peserta Siswa berusia 15 tahun atau di Siswa kelas 4 atau kelas 5 SD,
akhir pendidikan dasar siswa kelas 8 SMP
Frekuensi Setiap 3 tahun sekali Setiap 4 tahun sekali
penyelenggaran
Telah 2000, 2003, 2006, 2009, (yang 1995, 1999, 2003, 2007,
dilaksanakan akan datang 2012) (sedang berlangsung dalam
pada tahun 2011)
Partisipasi 2000, 2003, 2006, 2009 Hanya kelas 8 berpartisipasi
Indonesia pada tahun 1999, 2003, 2007
Kemampuan Kemampuan pengetahuan dan Kognitif, afektif, psikomotorik
yang diukur keterampilan dalam 3 domain matematika dan sains
kognitif (Membaca, matematika,
sains)
Jenjang pikir HOT (High Older Thinking), HOT (High Older Thinking),
yang diuji penerapan konten, analisa penerapan konsep, analisis
membuat hipotesis, membuat hipotesis dan
menyimpulkan dan menilai merumuskan dan
suatu kondisi menyimpulkan masalah
Rangking Tahun 2006, rangking 52 dari 57 Tahun 1999, rangking 34 dari
Indonesia negara Tahun 2009, rangking 61 38 negara, Tahun 2003,
dibanding dari 65 negara rangking 34 dari 46 negara
negara lain Tahun 2007, rangking 36 dari
49 negara, di bawah
Hal-hal yang di Literasi matematika Matematika yang disesuaikan
ujikan (mathematics literacy) di dengan kurikulum sekolah dan
samping reading literacy dan Sains (keterangan: IEA
scientific literacy (akan mempunyai studi untuk
ditambahkan financial literacy reading yaitu PIRLS (Progress
pada 2012) in International Reading
Literacy Study)
Bentuk soal Soal-soal matematika dalam Soal-soal matematika dalam
PISA menguji literasi TIMSS masih mirip dengan
matematika dan tiap soal diberi soal-soal matematika yang
judul tertentu sesuai konteksnya. diujikan di sekolah, atau sesuai
Soal matematika dalam PISA dengan kurikulum, namun soal
tidak menguji kemampuan pada dalam TIMSS menguji domain
kompetensi dasar tertentu, konten dan domain kognitif
namun lebih banyak menguji secara seimbang di semua
kemampuan untuk menggunakan tingkat.
matematika sebagai alat untuk
memecahkan masalah

2. Kondisi Hasil TIMSS dan TIMSS Indonesia dan Belanda


Kondisi Hasil TIMS Indonesia bila dilihat dari tahun ke tahun:
 pertama kali tahun 1999 pada TIMSS Indonesia memperoleh nilai rata-rata 403 dan
berada pada peringkat ke 34 dari 38 negara
 2003 memperoleh nilai rata-rata 411 dan berada di peringkat ke 35 dari 46 negara
 2007 memperoleh nilai rata-rata 397 dan berada di peringkat ke 36 dari 49 negara
 2011 memperoleh nilai rata-rata 386 dan berada pada peringkat 38 dari 42 negara,
 TIMSS 2015 yang baru dipublikasikan Desember 2016 menunjukkan prestasi siswa
Indonesia bidang matematika mendapat peringkat 46 dari 51 negara dengan skor
397
Nilai standar rata-rata yang ditetapkan oleh TIMSS adalah 500 hal ini artinya posisi
Indonesia dalam setiap keikutsertaannya selalu memperoleh nilai di bawah rata-rata
yang telah ditetapkan. Sedangkan,
 untuk pertama kalinya terlibat dalam PISA di tahun 2000 yaitu memperoleh nilai
rata-rata 367 dan berada pada peringkat 39 dari 41 negara
 2003 memperoleh nilai rata-rata 360 dan berada pada peringkat 38 dari 40 negara
 2006 memperoleh nilai rata-rata 391 dan berada pada peringkat 50 dari 57 negara
 2009 memperoleh nilai rata-rata 383 dan berada pada peringkat 66 dari 67 negara
 2012 memperoleh nilai rata-rata 375 dan berada pada peringkat 64 dari 65 negara
 kemudian dievaluasi sedangkan pada tahun 2015 meningkat menjadi 386 dan
berada pada peringkat 63 dari 69 negara
dimana rata-rata skor Internasional PISA yaitu 500. Siswa Indonesia hanya mampu
menjawab soal dalam kategori rendah dan sedikit sekali bahkan hampir tidak ada yang
dapat menjawab soal yang menuntut pemikiran tingkat tinggi

Kondisi Hasil TIMS Belanda


 pertama kali tahun 1995 pada TIMSS memperoleh nilai rata-rata 541 dan berada
pada peringkat ke 9
 1999 memperoleh nilai rata-rata 540 dan berada pada peringkat ke 7 dari 38 negara
 2003 memperoleh nilai rata-rata 536 dan berada di peringkat ke 7 dari 46 negara
 2007 Belanda tidak ikut sebagai peserta TIMSS
 2011
Sedangkan dalam PISA,
 2003 memperoleh nilai rata-rata 524 dan berada pada peringkat 8 dari 40 negara

 2006 memperoleh nilai rata-rata 525 dan berada pada peringkat 9 dari 57 negara

 2009 berada pada peringkat 11 dari 67 negara


3. Jelaskan mengapa Vietnam lebih maju dalam bidang matematika?
Jawab:
Ketika hasil The Programme for International Student Assessment (Pisa) bulan ini
dikeluarkan banyak negara maju dunia terperanjat dengan prestasi siswa Vietnam.
Tidak tanggung tanggung performa siswa Vietnam secara keseluruhan untuk kategori
umur 15 tahun untuk bidang matematika, membaca dan sains mengalahkan performa
siswa Jeman, Switzerland dan Australia dalam bidang sains. Bahkan untuk bidang
Sains dan matematika performa siswa Vietnam mengalahkan siswa Amerika.
Secara keseluruhan untuk bidang matematika dan sains prestasi siswa Vietnam
menempati rangking ke 12 dunia. Kini dalam bidang pendidikan Vietnam sudah masuk
dalam negara papan atas diantara 70 negara lainnya di dunia dalam kulitas
pendidikannya.

Ada tiga faktor utama yang berkontribusi terhadap hasil yang mengesankan itu, yakni
kepemimpinan yang berkomitmen, kurikulum yang terfokus, dan berinvestasi pada
guru.

a. Pertama, kepemimpinan yang berkomitmen.


Pejabat-pejabat pada tingkat tertinggi pemerintahan Vietnam sudah berpikir
mengenai tantangan yang mereka hadapi dalam mendidik anak-anak mereka.
Sangat sedikit negara-negara lain menunjukkan kemampuan berpikir ke depan
serta tekad yang sama.
Kementerian Pendidikan Vietnam telah merancang rencana jangka panjang.
Mereka tampak ingin belajar dari negara-negara dengan kinerja terbaik
mengenai cara melaksanakan rencana itu dan siap untuk memberikan dukungan
keuangan yang diperlukan.
Dalam bidang pendidikan tidak banyak orang mengetahui bahwa alokasi
dana pendidikannya mencapai 21% dari total pengeluaran pemerintah. Proporsi
pengeluaran alokasi dana pendidikan oleh pemerintah Vietnam ini lebih besar
dibandingkan negara – negara OECD lainnya. Selain itu Secara tersistem
pemerintah Vietman secara berkala meningkatkan kualitas guru dan juga
siswanya. Kelas kelas pendalaman dilakukan secara massif di luar jam sekolah,
yang memungkinkan siswa mengembangkan prestasi akademiknya.
Ada hal yang sangat menarik jika mengamati data performa siswa di negera
Vietnam. Ternyata 17 % dari siswa termiskin Vietnam yang masuk dalam
kategori siswa berumur 15 tahun menempati posisi 25% siswa terbaik dalam
test PISA ini. Namun sekitar 37% anak-anak berusia 15 tahun di Vietnam tidak
bersekolah dan tantangannya sekarang adalah untuk membawa mereka ke ruang
kelas.
Hasil pengujian PISA, yang didasari oleh hasil ujian anak-anak yang berada
di ruang kelas, tidak menjelaskan nasib mereka yang tidak bersekolah.
Pemerintah setempat telah memprioritaskan pendidikan semua anak berusia 15
tahun ke bawah dan sejauh ini sistem pendidikan telah menyerap anak-anak
yang kurang beruntung dan memberi mereka akses pendidikan yang sama.
Namun untuk mencapai dan mempertahankan kualitas lebih sulit daripada
memperluas kuantitas, dan Vietnam harus berhati-hati tidak menurunkan
kualitas pendidikan untuk memperluas akses ke lebih banyak anak.
Sebagaimana ditunjukkan negara-negara dengan performa tertinggi, keunggulan
umumnya dikaitkan dengan memberikan masing-masing sekolah otonomi yang
lebih besar dalam kurikulum dan tes, apalagi ketika sekolah-sekolah itu mampu
memberikan pertanggungjawaban. Bagi Vietnam ini berarti mereka harus
menemukan cara untuk menyeimbangkan kepemimpinan yang terpusat dengan
lingkungan otonom yang fleksibel bagi masing-masing sekolah.
Untuk sepenuhnya menuai hasil investasi pendidikan, Vietnam harus
mengubah bukan hanya pasokan keterampilan, namun juga permintaan atau
aplikasi untuk keterampilan tersebut. Seperti yang ditunjukkan laporan terbaru,
Vietnam bisa mendapatkan tiga kali PDB saat ini pada 2095 bila semua anak-
anak yang terdaftar di sekolah menengah memperoleh keterampilan dasar
setidaknya dalam matematika dan ilmu pengetahuan pada 2030 - dan bila pasar
tenaga kerja di negara itu mampu menyerap dan menggunakan semua bakat itu.
Bila Vietnam tidak bisa meningkatkan permintaan untuk keterampilan yang
lebih tinggi, maka warga Vietnam yang memperoleh pendidikan bisa memilih
untuk membawa keahlian mereka ke tempat lain. Hal ini berarti bahwa
pemerintah Vietnam memberikan perhatian khusus pada siswa miskinnya.
b. Kedua, Kurikulum yang terfokus
Para pendidik di Vietnam juga telah merancang kurikulum yang terfokus
agar siswa memperoleh pemahaman mendalam tentang konsep dan penguasaan
keterampilan inti. Bandingkan itu dengan kurikulum rumit namun dangkal yang
biasa ditemukan di Eropa dan Amerika Utara dan Anda akan memahami
mengapa begitu banyak siswa-siswa Vietnam unggul. Siswa-siswa itu
diharapkan untuk melalui pendidikan dengan tidak hanya mampu membaca apa
yang mereka pelajari di kelas, tetapi menerapkan konsep-konsep dan praktik
pada konteks asing.
Ruang-ruang kelas Vietnam memiliki kesan tegas, dengan guru-guru yang
menantang siswanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menuntut. Mereka
berfokus mengajar beberapa hal dengan baik dan dengan pengertian yang bisa
membawa siswa maju. Guru-guru di Vietnam sangat dihormati, baik di kalangan
masyarakat maupun di ruang kelas. Itu mungkin merupakan faktor budaya,
namun juga mencerminkan peran yang diberikan pada guru dalam sistem
pendidikan, yang jauh melampaui peran sebagai pengajar di sekolah dan
mencakup dimensi –dimensi seperti dukungan dan kesejahteraan siswa.
c. Ketiga, Berinvestasi pada guru.
Para pengajar diharapkan berinvestasi dalam pengembangan kemampuan
profesional mereka. Bahkan, guru-guru matematika, terutama mereka yang
bekerja di pelosok, menerima pelatihan kemampuan lebih dibandingkan rata-rata
di negara-negara OECD. Guru-guru ini tahu bagaimana cara menciptakan
lingkungan belajar yang positif, membina disiplin yang baik di dalam kelas, dan
membantu membangun sikap positif siswa terhadap pendidikan.
Hal ini juga dibantu dorongan dari orang tua, yang umumnya memegang
harapan tinggi bagi anak-anak mereka, dan oleh masyarakat yang menghargai
pendidikan dan kerja keras. Apa yang telah dicapai dunia pendidikan Vietnam
dalam waktu yang begitu singkat sangat luar biasa. Itulah alasan mengapa
Vietnam menjadi negara yang maju dalam bidang matematika.

4. Gambarkan hasil IMO Indonesia dan Belanda

5. Pesan moral dari soal 1-4!


Setiap kita menyelesaikan tugas, apa pun hasilnya, yang lebih penting adalah menjaga
semangat dan kemauan untuk terus belajar.