Anda di halaman 1dari 4

F.

PEMBAHASAN

Pembahasan Formula 1.2 (Pengaruh Jenis dan Konsentrasi Pembasah)

Bahan yang digunakan :

Identifikasi bahan

a. Zink oksida
Zinc Oxydum
Pustaka : FI III hal. 636
Pemerian : Serbuk amorf ,sangat halus,putih atau putih kekuningan, tidakberbau
Kelarutan : Praktis tidak larut air dan etanol, larut dalam air mineral danlarutan alkali
hidroksida
Stabilitas : Tidak boleh terkena udara
OTT : Gliserol
PH : 7,37
Khasiat : Antiseptikum local
Konsentrasi : 15%
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
b. Sorbitol

Rumus Molekul : C6H14O6

Barat Molekul : 182,17

Pemerian : Serbuk, butiran atau kepingan, putih, rasa manis, higroskopis

Kelarutan : sanagta mudah larut dalam air, sukar larut dalam etanol, dalam methanol dan dalam
asam asetat basah.

Berat Jenis : 1,49 g/ml

pH : 4,5-7,0

Kegunaan : Pembasah

Konsentrasi : 70%

Stabilitas : Relatif inert dan kompatibel dengan sebagian besar bahan tambahan, stabil dalam
udara

OTT : Tidak bercampur dengan larutan asam berkonsentrasi tinggi dan larut dengan garam
besi juga beberapa logam seperti aluminium, merkuri dan zink

Wadah dan penyimpanan : Dalam wadah tertutup


c. Gliserin
Pemerian : putih, rasa tawar seperti lendir, hampir tidak berbau, butir, bentuk bulat
(bulat telur)
Kelarutan : bercampur dengan air dan dengan etanol 95 %. praktis tidak larut dalam
kloroform dalam eter dan dalam minyak lemak dan dalam minyak menguap.
Titik lebur : 18 0C
Titik didih : 290 0C
Massa molekular : 92,09382g/mol
Bobot jenis : 1,261 g/ml
pH larutan :7
Stabilitas :
- Terhadap udara : Higroskopik dengan adanya udara dari luar (mudah teroksidasi)
- Terhadap panas : mudah terdekomposisi dengan adanya pemanasan, mengkristal dalam suhu
rendah, kristal tidak akan mencair sampai dengan suhu 20 0C akan timbul ledakan jika dicampur
dengan bahan teroksidasi.
Inkompatibilitas :
- seperti kromium trioksid, kalium horat, atau kalium permanganat.
- Berubah warna menjadi hitam dengan adanya cahaya atau setelah kontak dengan ZnO dan bisulfat.
- Gliserin + kontaminan yang mengandung logam akan berubah warna dengan penambahan fenol
salisilat dan tanin.
- Asam borat membentuk kompleks gliseroborik acid (lebih kuat dari pada asam borat)

1. Pengaruh jenis dan konsentrasi Pembasah

Pada praktikum ini pertama kali dilakukan percobaan untuk membandingkan pengaruh jenis dan
konsentrasi pembasah sebagai bahan tambahan dalam pembuatan suspense. Dalam pembuatan
suspensi penggunaan zat basah sangat berguna dalam penurunan tegangan antar muka partikel padat
dan cairan pembawa (Anief, 1994). Zat pembasah yang sering digunakan dalam pembuatan suspensi
adalah air, alkohol, gliserin (Ansel, 1989).Diantara bahan yang digunakan sebagai pembasah adalah
air, sorbitol dengan konsentrasi 5 % dan sorbitol dengan konsentrasi 10% serta gliserin dengan
konsentrasi 3% dan gliserin dengan konsentrasi 10%. Metode yang digunakan digunakan untuk
membandingkan kelima formulasi tersebut adalah dengan menggunakan evaluasia fisik sediaan
suspensi pada volume sedimentasi dan menghitung berat jenis.
Perbandingan volume sedimentasi ditunjukkan pada tabel 1. Penilaian volume sedimentasi
didapat dengan cara membandingkan volume sedimentasi akhir terhadap volume sedimentasi mula-
mula dari suspensi (F=Vu/V0). Secara teori, suspense yang baik memiliki nilai F = 1 atau mendekati 1
maka sediaan baik karena tidak adanya supernatant jernih pada pendiaman, bila F > 1 terjadi “floc”
sangat longgar dan halus sehingga volume akhir lebih besar dari volume awal. Dari hasil yang didapat,
tidak ada formula yang menunjukkan nilai F medekati 1.
Dari data yang didapatkan, perbandingan antara kelima formulasi tersebut menunjukkan hasil
paling baik adalah suspensi menggunakan pembasah gliserin 3%, dikarenakan hasil perhitungan
menunjukkan angka yang paling mendekati 1 dari yang lainnya. Akan tetapi, secara teori akan lebih
baik ketika nilai F mendekati satu dimana suspensi mengendap dalam waktu yang lama sehingga stabil
dalam penyimpanan nantinya. Untuk data pada pembasah 0% menggunakan aquadest mengalami
perubahan sedimentasi yang seharusnya awal sedimentasi dimulai dari bawah kemudian ke atas secara
perlahan-lahan namun, pada percobaan ini dari tinggi sedimentasi awal mengalami penurunan dari atas
sampai bawah.
Tabel 1. Volume sedimentasi

Formula 1.1 Formula 1.2 Formula 1.3 Formula 1.4 Formula 1.5
Waktu (cm) (cm) (cm) (cm) (cm)
10` 0.34 0.01 0.25 0.33 0.26
20` 0.31 0.01 0.19 0.25 0.24
30` 0.28 0.01 0.17 0.21 0.22
60` 0.23 0.02 0.14 0.20 0.22
2 jam 0.21 0.02 0.13 0.18 0.19
1 hari 0.20 0.02 0.13 0.17 0.15
3 hari 0.20 0.02 0.13 0.17 0.15

Tabel 2. Berat Jenis Pengaruh dan konsentrasi Pembasah

Formula 1.1 Formula 1.2 Formula 1.3 Formula 1.4 Formula 1.5
Piknometer 0,99 1,037 1,068 0,91 1,094

Pada pengukuran berat jenis menggunakan piknometer, Berat jenis suatu zat dapat dihitung yaitu
mengukur secara langsung berat zat dalam piknometer (dengan menimbang) dan volume zat
(ditentukan dengan piknometer). Prinsip metode ini didasarkan atas penentuan massa cairan dan
penentuan rungan yang ditempati cairan ini. Ruang piknometer dilakukan dengan menimbang air.
Ketelitian metode piknometer akan bertambah sampai suatu optimum tertentu dengan bertambahnya
volume piknometer. Optimun ini terletak sekitar isi ruang 30 ml. Berat jenis masing-masing bahan
secara teoritis adalah sebagai berikut :

- Bj sorbitol : 182.17 g/mol


- Bj gliserin 1,25 g/mol
- Bj air : 1 g/mol

Pada praktikum ini, berat jenis dari formula 1 yang didapat adalah 0,99 g/mol dimana dikatakan
sama dengan berat jenis air yaitu 1 g/mol, pada formula 2 didapat hasil 1,037 g/mold an formula 3
didapat hasil 1,068 g/mol yang mana sangat berbeda dengan berat jenis sorbitol pada teori yaitu 182,17
g/mol, kemudian untuk formula 4 didapatkan hasil 0,91 g/mold an formula 5 didapatkan hasil 1,094
g/mol yang mana hasil tidak mendekati dengan berat jenis gliserin pada teori yang seharusnya 1,25
g/mol. Sebenarnya, piknometer merupakan salah satu alat pengukur berat jenis yang cukup teliti.
Namun karena mungkin terdapat kesalahan saat proses percobaan berlangsung, hasil yang didapat
tidak sesuai dengan yang seharusnya. Masalah mungkin terjadi saat proses penimbangan dilakukan.
Walaupun timbangan analitik sangat teliti dalam mengukur berat, namun bisa saja saat pengukuran
kaca dinding tidak tertutup rapat dan lemak dari tangan (saat memegang pikno) menempel dan ikut
tertimbang. Kemungkinan lainnnya yaitu piknometer tidak benar benar kering saat penimbangan
dilakukan. Tidak keringnya piknometer karena masih terdapat air atau sisa zat lain didalamnya
mengakibatkan terjadinya ketidaktelitian saat penimbangan dilakukan.

Anonim 5, 1989, Ansel, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Universitas Indonesia, Jakarta.
Anonim 6, 1994, Lahman. L, dkk. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Edisi III. Jakarta : UI Press.
Anonim 7, 2000, Anief. Moh.. Farmasetika. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.
Anonim 1, 1995. Famakope Indonesia Edisi IV. DepKes RI: Jakarta. Hal 175, 718
Anonim 2, 1979. Famakope Indonesia Edisi III. DepKes RI: Jakarta. Hal 47, 636