Anda di halaman 1dari 40

2016

ILMU PERUNDANG-
UNDANGAN
[TYPE THE DOCUMENT SUBTITLE]

GEDE MARHAENDRA WIJA ATMAJA

BIMBINGAN TEKNIS
PENYUSUNAN PRODUK HUKUM DAERAH
SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN KLUNGKUNG
8 DESEMBER 2016
FOKUS BAHASAN

[1] Menempatkan sudut pandang.


[2] Prinsip-prinsip Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan.
[3] Norma Hukum dalam Peraturan Perundang-
undangan.
[4] Sumber Kewenangan Perundang-undangan.
[5] Jenis Peraturan Perundang-undangan.
[6] Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan

S[].

i
ilmu perundang-undangan

Menempatkan
1 sudut pandang

1. Ilmu Perundang-undangan
Ilmu Perundang-undangan, science of legislation
(wetgevingswetenschap), diturunkan dari Ilmu Pengetahuan Perundang-
undangan (Gesetzgebungswissenschaft). Ilmu Pengetahuan Perundang-
undangan merupakan ilmu interdisipliner yang mempelajari tentang
pembentukan peraturan negara. Istilah “Ilmu Pengetahuan Perundang-
undangan di Indonesiadiajukan oleh A. Hamid S. Attamimi (1975),
melahirkan istilah Ilmu Perundang-undangan yang sekarang banyak
digunakan dalam ilmu hukum.
Ilmu Pengetahuan Perundang-undangan merupakan ilmu ilmu
interdisipliner yang berhubungan dengan ilmu politik dan sosiologi, secara
garis besar dibagi menjadi 2 (dua) bagian besar, yakni:
1. Teori Perundang-undangan, yang berorientasi pada mencari
kejelasan dan kejernihan makna atau pengertian-pengertian, dan
bersifat kognitif.
2. Ilmu Perundang-undangan, yang berorientasi pada melakukan
perbuatan dalam hal pembentukan peraturan perundang-undangan,
dan bersifat normatif.
Ilmu Perundang-undangan yang berorientasi kepada melakukan
perbuatan pembentukan peraturan perundang-undangan dan bersifat
normatif mengikuti ketentuan-ketentuan hukum tata negara dan hukum
administrasi, sedangkan Teori Perundang-undangan berorientasi kepada
membentuk pengertian-pengertian dan menjernihkannya serta bersifat
kognitif menyangkut dasar-dasar bagi hukum di bidang perundang-undangan
positif (Attamimi).

Maria Farida Indrati Soeprapto, 2007, Ilmu ...

Gede Marhaendra Wija Atmaja|2016|Ilmu Perundang-undangan | 1


Page
ilmu perundang-undangan
2. Hukum Perundang-undangan
Pada Fakultas Hukum Universitas Udayana, juga terdapat mata kuliah
Ilmu Perundang-undangan. Oleh karena tekanannya pada aspek normatif,
dalam pengertian bertumpu pada Undang-Undang tentan Pembentukan
Peraturan Perundang-undangan, mata kuliah itu berganti nama menjadi
Hukum Perundang-undangan. Di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya,
mata kuliah itu bernama Hukum Pembentukan Peraturan Perundang-
undangan.
Hukum Perundang-undangan sebagai bidang kajian ilmu hukum
dimaknai sebagai cabang ilmu hukum yang mempelajari proses pembuatan
peraturan perundang-undangan dan peraturan perundang-undangan sebagai
hasil dari proses tersebut.

3. Perundang-undangan
Khasanah hukum mengenal kata/istilah “peraturan perundang-
undangan” merupakan terminologi hukum yang terkait dengan istilah
“wetgeving” atau “wettelijke regelingen”.
Menurut A. Hamid S Attamimi (1982 dan 1990), yang mengutip dari
Kamus Hukum Fockema Andreae (lihat juga Maria Farida Indrati Soeprapto
2007), kata “wetgeving” diartikan :
1. perbuatan membentuk peraturan-peraturan negara tingkat pusat
atau tingkat daerah menurut tata cara yang ditentukan; dan
2. keseluruhan peraturan-peraturan negara tingkat pusat dan tingkat
daerah. Inilah yang dimaksud dengan “Peraturan Perundang-
undangan”.
Dengan perkataan lain, wetgeving atau perundang-undangan
mempunyai dua pengertian:
1. Dari segi proses, perundang-undangan adalah perbuatan
membentuk peraturan-peraturan negara tingkat pusat atau tingkat
daerah.
2. Dari segi produk, perundang-undangan adalah keseluruhan
peraturan-peraturan negara tingkat pusat dan tingkat daerah.
Sedangkan kata “wettelijkeregeling” diartikan sebagai peraturan-
peraturan yang bersifat perundang-undangan, yang lazim diterjemahkan
sebagai “Peraturan Perundang-undangan”.

Gede Marhaendra Wija Atmaja|2016|Ilmu Perundang-undangan | 2


Page
ilmu perundang-undangan
4. Peraturan Perundang-undangan.
Ilmu Hukum membedakan antara undang-undang dalam arti materiil
(wet in materiele zin) dan undang-undang dalam arti formal (wet in formele
zin). Dalam arti materiil, undang-undang adalah setiap keputusan tertulis
yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang yang berisi aturan tingkah
laku yang bersifat atau mengikat secara umum. Inilah yang dimaksud
dengan peraturan perundang-undangan (Bagir Manan 1992).
Dalam arti formal, undang-undang adalah keputusan tertulis yang
ditetapkan oleh pemerintah bersama parlemen sesuai dengan prosedur yang
ditetapkan dalam UUD (Jimly Asshiddiqie 2006).
Peraturan perundang-undangan adalah setiap putusan tertulis yang
dibuat, ditetapkan dan dikeluarkan oleh Lembaga atau Pejabat Negara yang
mempunyai (menjalankan) fungsi legislatif sesuai dengan tata cara yang
berlaku (Bagir Manan dan Kuntana Magnar 1987).
Secara otentik Peraturan Perundang-undangan adalah peraturan tertulis
yang memuat norma hukum yang mengikat secara umum dan dibentuk atau
ditetapkan oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang melalui
prosedur yang telah ditetapkan (Pasal 1 angka 2 UU No. 12 Tahun 2011).
Peraturan perundang-undangan (wet in materiele zin) mengandung tiga
unsur: (a) norma hukum (rechtsnormen); (b) berlaku ke luar (naar buiten
werken); dan (c) bersifat umum dalam arti luas (algemeenheid in ruime zin)
(A.Hamid S. Attamimi 1990). Dengan demikian unsur-unsur yang terkandung
dalam pengertian peraturan perundang-undangan:
 Bentuknya, yakni peraturan tertulis (untuk membedakan dengan
peraturan yang tidak tertulis).
 Pembentuknya, ialah lembaga negara atau pejabat yang berwenang
di bidang perundang-undangan, baik di tingkat pusat maupun di
tingkat daerah.
 Sifat mengikatnya, yakni mengikat secara umum.
Dimaksud dengan ”yang berwenang di bidang perundang-undangan”
adalah baik berwenang secara atribusi maupun berwenang secara delegasi.
Lebih lanjut dikemukakan pada uraian berikutnya.
Dimaksud dengan ”mengikat secara umum” berkenaan dengan norma
hukum yang terkandung di dalamnya, yakni norma hukum bersifat umum
dalam arti luas dan berlaku ke luar.
Norma hukum yang bersifat umum, dari segi subyeknya adalah norma
hukum yang dialamatkan (ditujukan) kepada setiap orang atau orang-orang

Gede Marhaendra Wija Atmaja|2016|Ilmu Perundang-undangan | 3


Page
ilmu perundang-undangan
bukan tertentu, dan dari segi obyeknya adalah norma hukum mengenai
peristiwa yang terjadi berulang atau peristiwa yang bukan tertentu.

5. Pembentukan Peraturan Perundang-undangan


Pembentukan peraturan perundang-undangan adalah pada hakekatnya
ialah pembentukan norma-norma hukum yang berlaku ke luar dan yang
bersifat umum dalam arti yang luas (A. Hamid S. Attamimi 1990).
Pembentukan peraturan perundang-undangan meliputi dua hal pokok,
yaitu kegiatan pembentukan isi peraturan di satu pihak, dan kegiatan yang
menyangkut pemenuhan bentuk peraturan, metoda pembentukan
peraturan, dan proses serta prosedur pembentukan peraturan di lain pihak
(Burkhardt Krems dalam A. Hamid S. Attamimi 1990).
Secara otentik, Pembentukan Peraturan Perundang-undangan adalah
pembuatan Peraturan Perundang-undangan yang mencakup tahapan
perencanaan, penyusunan, pembahasan, pengesahan atau penetapan, dan
pengundangan (Pasal 1 angka 1 UU No. 12 Tahun 2011).
Berdasarkan pemahaman pada peraturan perundang-undangan dan
pembentukan peraturan perundang-undangan, maka dapat dirumuskan
kembali definisi opersional Pembentukan Peraturan Perundang-undangan,
dalam unsur-unsur berikut:
1. Pembuatan peraturan tertulis yang berisi: norma-norma hukum,
yang berlaku ke luar, dan yang bersifat umum dalam arti yang luas
atau mengikat secara umum.
2. Dibentuk oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang yang
tahapannya terdiri dari: perencanaan, penyusunan, pembahasan,
pengesahan atau penetapan, dan pengundangan.
Dimaksud dengan ”yang berwenang di bidang perundang-undangan”
adalah baik berwenang secara atribusi maupun berwenang secara delegasi.
Lebih lanjut dikemukakan pada uraian berikutnya.

6. Teori Legislasi perihal Pembentukan Peraturan Perundang-


undangan

Menurut teori legislasi yang diperkenalkan oleh Seidman, ada dua pihak
yang dituju oleh suatu undang-undang, yakni pemegang peran dan agen
pelaksana. Selain itu, ada subjek lain, yakni pembuat undang-undang.

Gede Marhaendra Wija Atmaja|2016|Ilmu Perundang-undangan | 4


Page
ilmu perundang-undangan
Keterkaitan antara ketiga subjek itu dengan undang-undang (dalam
pengertian luas), merupakan karakter dari Model Sistem Hukum yang
dikembangkan Seidman, sebagaimana tampak dalam bagan/gambar berikut:

aneka pilihan

LEMBAGA PEMBUAT UNDANG-UNDANG

undang - undang

LEMBAGA PEMEGANG
PELAKSANA sanksi
PERAN
umpan-balik

aneka pilihan aneka pilihan

Marhaendra Wija Atmaja Hukum dan Kebijakan Publik


Denpasar |2008| [Bagan Sistem dan Strata Kebijakan Publik] 2

Model tersebut menunjukan pembuatan undang-undang oleh lembaga


yang berwenang dipengaruhi oleh orang-orang dan kelompok-kelompok
yang bertindak berdasarkan pilihan yang ada sesuai dengan batasan sumber
daya, lingkungan sosial-politik, ekonomi dan fisik mereka, yang dalam Model
tersebut tampak pada ”aneka pilihan”. Demikian pula dipengaruhi oleh
umpan-balik Lembaga Pelaksana dan Pemegang Peran yang juga
dipengaruhi oleh ”aneka pilihan”.

Gede Marhaendra Wija Atmaja|2016|Ilmu Perundang-undangan | 5


Page
ilmu perundang-undangan

Prinsip-prinsip Pembentukan
2 Peraturan Perundang-undangan
7. Kedudukan Pancasila dalam Pembentukan Peraturan
Perundang-Undangan

Pasal 2 UU 12/2011 menentukan, Pancasila merupakan sumber segala


sumber hukum negara. Penjelasan Pasal 2 UU 12/2011:
Penempatan Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum
negara adalah sesuai dengan Pembukaan Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 alinea keempat yaitu Ketuhanan
Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan
Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan, dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia.
Menempatkan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara serta
sekaligus dasar filosofis negara sehingga setiap materi muatan
Peraturan Perundang-undangan tidak boleh bertentangan dengan nilai-
nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Urgensi kedudukan Pancasila dalam Pembentukan Peraturan


Perundang-Undangan adalah memberikan arahan dalam pembuatan
peraturan perundang-undangan harus mengandung koherensi dengan nilai-
nilai yang terkandung dalam Pancasila, Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, Nilai
Kemanusiaan yang adil dan beradab, Nilai Persatuan Indonesia, Nilai
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan, dan Nilai Keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia.
Nilai-nilai Pancasila sebagai arahan dalam pembentukan peraturan
perundang-undanan telah dijabarkan dalam UUD 1945 dan dalam Undang-
Undang, terutama dalam pasal-pasal mengenai hak asasi manusia, hak-hak
dasar warga negara, dan sebagai sebagai hak konstitusional dan hak legal.
Juga telah dijabarkan sebagai kebijakan tematik, seperti kebijakan
perekonomian dan pendidikan di dalam UUD 1945.

Gede Marhaendra Wija Atmaja|2016|Ilmu Perundang-undangan | 6


Page
ilmu perundang-undangan
Maknanya, pembentukan Undang-Undang misalnya, haruslah
bersumberkan dan berdasarkan pada ketentuan konstitusional dalam batang
tubuh UUD 1945, dan jika terjadi pelanggaran dapat diajukan pengujian
Undang-Undang ke hadapan Mahkamah Konstitusi (Pasal 24C ayat (1) UUD
1945). Demikian juga, dengan pembentukan peraturan perundang-undangan
di bawah Undang-Undang tidak boleh bertentangan dengan Undang-Undang,
dan terbuka diajukan pengujian ke hadapan Mahkamah Agung (Pasal 24A
ayat (1) UUD 1945).

8. Kedudukan UUD 1945 dalam Pembentukan Peraturan


Perundang-Undangan

Pasal 3 ayat (1) UU 12/2011 menentukan, Undang-Undang Dasar


Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan hukum dasar dalam
Peraturan Perundang-undangan. Penjelasan Pasal 3 Ayat (1) UU 12/2011
menjelaskan:
Yang dimaksud dengan “hukum dasar” adalah norma dasar bagi
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang merupakan sumber
hukum bagi Pembentukan Peraturan Perundang-undangan di bawah
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Pemahaman tentang konstitusi, atau yang tertulis disebut undang-


undang dasar, adalah konstitusi atau undang-undang dasar sebagai aturan
dasar atau peraturan dasar.
Istilah “hukum dasar” mencakup hukum dasar yang tertulis dan hukum
dasar yang tidak tertulis, yang lazim disebut konvensi konstitusi atau
konvensi ketatanegaraan.
Konsep yang masih memerlukan penjelasan adalah “hukum dasar
adalah norma dasar”, dalam rangkaian kata “Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan hukum dasar” dan “hukum dasar
adalah norma dasar”. Jadi, UUD 1945 merupakan norma dasar. Ini yang
memerlukan penjelasan, yang lebih panjang, mengingat pemahaman bahwa
UUD 1945 merupakan hukum dasar atau aturan dasar.
Untuk keperluan ersebut, yang memahami rangkaian kata “Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan hukum
dasar” dan “hukum dasar adalah norma dasar”, perlu mengkonfirmasi
pemahaman teoritik di bawah ini (Jimly Asshiddiqie 2009):

Gede Marhaendra Wija Atmaja|2016|Ilmu Perundang-undangan | 7


Page
ilmu perundang-undangan
1. Konstitusi adalah hukum dasar, norma dasar, dan sekaligus paling
tinggi kedudukannya dalam sistem bernegara. Namun, sebagai
hukum, konstitusi itu sendiri tidak selalu bersifat tertulis (schreven
constitutie atau written constitution).
2. Konstitusi yang bersifat tertulis biasa disebut undang-undang dasar
sebagai konstitusi dalam arti sempit, sedangkan yang tidak tertulis
merupakan konstitusi dalam arti yang luas.
3. Menurut Hans Kelsen, gerund norm atau norma dasar itulah yang
disebut konstitusi. Gerund norm itu dijabarkan lebih lanjut menjadi
abstract norms yang selanjutnya dioperasionalkan dengan general
norms yang untuk seterusnya dilaksanakan dengan keputusan-
keputusan yang berisi concrete and individual norms. Bagi Hans
Kelsen, peraturan perundang-undangan berisi general and abstract
norms yang tertuang dalam bentuk formal, sedangkan gerund norms
tercakup dalam rumusan pengertian konstitusi dalam arti materiel.
Konstitusi dalam arti materiel inilah yang disebut Kelsen dengan the
first constitution yang mendahului the (second) constitution atau
konstitusi dalam bentuknya yang formal tersebut.
4. Sementara itu, Hans Nawiasky, salah seorang murid Hans Kelsen,
menyebut gerund norms itu dengan istilah staatsfundamentalnorms
yang juga dibedakannya dari konstitusi. Tidak semua nilai-nilai yang
terdapat dalam konstitusi merupakan staatsfundamental norms.
Nilai-nilai yang termasuk staatsfundamentalnorm menurutnya hanya
spirit nilai-nilai yang terkandung di dalam konstitusi itu, sedangkan
norma-norma yang tertulis di dalam pasal-pasal undang-undang
dasar termasuk kategori abstract norms.
5. Oleh karena itu, jika dikaitkan dengan sistem konstitusi Republik
Indonesia, dapat dibedakan antara Pembukaan UUD 1945 dengan
pasal-pasal UUD 1945. Pokok pikiran yang melandasi pandangan
demikian tidak lain adalah stuffenbau theorie menurut versi Hans
Nawiasky tersebut di atas, yang sangat berbeda dari stuffenbau
theorie menurut versi Hans Kelsen. Bagi Kelsen, gerund norm itulah
konstitusi, sedangkan peraturan perundang-undangan berisi general
and abstract norms, sehingga Pancasila dan Pembukaan UUD 1945
tidak dapat dilihat sebagai sesuatu yang terpisah dari pasal-pasal
UUD 1945 itu sendiri. Keduanya tercakup dalam pengertian UUD
1945 sebagai konstitusi yang tertulis yang berisi gerund norms.

Gede Marhaendra Wija Atmaja|2016|Ilmu Perundang-undangan | 8


Page
ilmu perundang-undangan
6. Tentu saja, di samping UUD 1945 sebagai konstitusi tertulis, ada
pula konstitusi yang tidak tertulis yang hidup dalam kesadaran
hukum dan praktik penyelenggaraan negara yang diidealkan sebagai
bagian dari pengertian konstitusi dalam arti luas dan oleh karena
ituadalah juga norma-norma dasar atau gerund norms yang
mengikat sebagai bagian dari konstitusi
Tampaknya konsep hukum dasar adalah norma dasar dalam Penjelasan
Pasal 3 ayat (1) UU 12/2011 mendapat pengaruh dari pemikiran Hans
Kelsen, bahwa gerund norm itulah konstitusi, sedangkan peraturan
perundang-undangan berisi general and abstract norms, sehingga enurut
Jimly Asshiddiqie, Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 tidak dapat dilihat
sebagai sesuatu yang terpisah dari pasal-pasal UUD 1945 itu sendiri.
Keduanya tercakup dalam pengertian UUD 1945 sebagai konstitusi yang
tertulis yang berisi gerund norms.
Pemahaman konstitusi sebagai norma dasar (gerund norm), interpretasi
yang dapat disampaikan adalah Pembukaan UUD 1945 sebagai bagian dari
konstitusi Indonesia itulah yang merupakan norma dasar ( gerund norm),
yang mengandung nilai-nilai Pancasila. Jika demikian, bagaimana dengan
batang tubuh UUD 1945 dalam kedudukannya sebagai hukum dasar dalam
pembentukan peraturan perundang-undangan menyisakan problem teoritik
maupun problem normatif. Oleh karena itu, tidak perlu memberikan
penjelasan bahwa hukum dasar merupakan norma dasar, akan tetapi
penting menormakan: Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 merupakan hukum dasar dalam Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan. Pada penjelasan dijelaskan, yang dimaksud dengan
“hukum dasar” adalah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 sebagai sumber hukum yang tertinggi bagi Pembentukan
Peraturan Perundang-undangan.

9. Landasan Keabsahan Pembentukan Peraturan Perundang-


Undangan

Keabsahan atau validitas, sebagaimana dimaksudkan oleh Hans Kelsen,


adalah eksistensi spesifik dari norma-norma. Mengatakan suatu norma adalah
valid, sama halnya mengakui eksistensinya atau menganggap norma itu
mengandung “kekuatan mengikat” bagi mereka yang perbuatannya diatur oleh
peraturan tersebut (Hans Kelsen 2006).

Gede Marhaendra Wija Atmaja|2016|Ilmu Perundang-undangan | 9


Page
ilmu perundang-undangan
Validitas hukum adalah suatu kualitas hukum, yang menyatakan norma-
norma hukum itu mengikat dan mengharuskan orang berbuat sesuai dengan yang
diharuskan oleh norma-norma hukum. Suatu norma hanya dianggap valid
berdasarkan kondisi bahwa norma tersebut termasuk ke dalam suatu sistem
norma.
Berkenaan dengan validitas, Satjipto Rahardjo dengan mendasarkan pada
pandangan Gustav Radbruch mengungkapkan, bahwa validitas adalah kesahan
berlaku hukum serta kaitannya dengan nilai-nilai dasar dari hukum. Bahwasanya
hukum itu dituntut untuk memenuhi berbagai karya dan oleh Radbruch disebut
sebagai nilai-nilai dasar dari hukum, yakni keadilan, kegunaan, dan kepastian
hukum (Satjipto Rahardjo 2000).
Uraian tersebut menunjukkan keterhubungan antara validitas hukum dengan
nilai-nilai dasar hukum, bahwasanya hukum didasarkan pada keberlakuan filsafati
supaya hukum mencerminkan nilai keadilan, didasarkan pada keberlakuan sosiologis
supaya hukum mencerminkan nilai kegunaan, dan didasarkan pada keberlakuan
yuridis supaya hukum mencerminkan nilai kepastian hukum.
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan mengadopsi validitas tersebut sebagai (1) muatan
menimbang, yang memuat uraian singkat mengenai pokok pikiran yang menjadi
pertimbangan dan alasan pembentukan Peraturan Perundang–undangan,
ditempatkan secara berurutan dari filosofis, sosiologis, dan yuridis; dan (2) harus
juga ada dalam naskah akademis rancangan peraturan perundang-undangan.
Pada Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan (TP3) Nomor
19 menetukan, pokok pikiran pada konsiderans Undang-Undang, Peraturan
Daerah Provinsi, atau Peraturan Daerah Kabupaten/Kota memuat unsur
filosofis, sosiologis, dan yuridis yang menjadi pertimbangan dan alasan
pembentukannya yang penulisannya ditempatkan secara berurutan dari
filosofis, sosiologis, dan yuridis.

- Unsur filosofis menggambarkan bahwa peraturan yang dibentuk


mempertimbangkan pandangan hidup, kesadaran, dan cita hukum
yang meliputi suasana kebatinan serta falsafah bangsa Indonesia
yang bersumber dari Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
- Unsur sosiologis menggambarkan bahwa peraturan yang dibentuk
untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam berbagai aspek.
- Unsur yuridis menggambarkan bahwa peraturan yang dibentuk untuk
mengatasi permasalahan hukum atau mengisi kekosongan hukum
dengan mempertimbangkan aturan yang telah ada, yang akan
diubah, atau yang akan dicabut guna menjamin kepastian hukum
dan rasa keadilan masyarakat.

Gede Marhaendra Wija Atmaja|2016|Ilmu Perundang-undangan Page | 10


ilmu perundang-undangan

Contoh:

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas

Menimbang: a. bahwa perekonomian nasional yang diselenggarakan


berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip
kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan,
berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan
menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi
nasional, perlu didukung oleh kelembagaan perekonomian
yang kokoh dalam rangka mewujudkan kesejahteraan
masyarakat;
b. bahwa dalam rangka lebih meningkatkan pembangunan
perekonomian nasional dan sekaligus memberikan landasan
yang kokoh bagi dunia usaha dalam menghadapi
perkembangan perekonomian dunia dan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi di era globalisasi pada masa
mendatang, perlu didukung oleh suatu undang-undang
yang mengatur tentang perseroan terbatas yang dapat
menjamin terselenggaranya iklim dunia usaha yang
kondusif;
c. bahwa perseroan terbatas sebagai salah satu pilar
pembangunan perekonomian nasional perlu diberikan
landasan hukum untuk lebih memacu pembangunan
nasional yang disusun sebagai usaha bersama berdasar
atas asas kekeluargaan;
d. bahwa Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang
Perseroan Terbatas dipandang sudah tidak sesuai lagi
dengan perkembangan hukum dan kebutuhan masyarakat
sehingga perlu diganti dengan undang-undang yang baru;
e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
dalam huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d perlu
membentuk Undang-Undang tentang Perseroan Terbatas;

Contoh:

Peraturan Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 4


Tahun 2009 tentang Sistem Kesehatan Daerah

Gede Marhaendra Wija Atmaja|2016|Ilmu Perundang-undangan | 11


Page
ilmu perundang-undangan
Menimbang: a. bahwa derajat kesehatan masyarakat yang semakin tinggi
merupakan investasi strategis pada sumber daya manusia
supaya semakin produktif dari waktu ke waktu;
b. bahwa untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat
perlu diselenggarakan pembangunan kesehatan dengan
batas-batas peran, fungsi, tanggung jawab, dan
kewenangan yang jelas, akuntabel, berkeadilan, merata,
bermutu, berhasil guna dan berdaya guna;
c. bahwa untuk memberikan arah, landasan dan kepastian
hukum kepada semua pihak yang terlibat dalam
pembangunan kesehatan, maka diperlukan pengaturan
tentang tatanan penyelenggaraan pembangunan
kesehatan;

Perlu pula diperhatikan TP3 Nomor 27 menentukan, Konsiderans


Peraturan Daerah cukup memuat satu pertimbangan yang berisi uraian
ringkas mengenai perlunya melaksanakan ketentuan pasal atau beberapa
pasal dari Undang-Undang atau Peraturan Pemerintah yang memerintahkan
pembentukan Peraturan Daerah tersebut dengan menunjuk pasal atau
beberapa pasal dari Undang-Undang atau Peraturan Pemerintah yang
memerintahkan pembentukannya.
Contoh:

Peraturan Daerah Kabupaten Bangka Barat Nomor 8 Tahun 2010


tentang Hutan Kota

Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 2 Peraturan


Pemerintah Nomor 63 Tahun 2002 tentang Hutan Kota perlu
membentuk Peraturan Daerah tentang Hutan Kota;

Kondisi tersebut perlu disikapi dengan pendekatan sumber kewenangan


atribusian dan delegasian, yang dikaitkan dengan keberadaan Perda
mengakibatkan adanya pembedaan antara Perda yang atribusian dan Perda
yang delegasian. TP3 Nomor 27 berlaku terhadap Perda yang delegasian.
Sedangkan contoh kedua pada TP3 Nomor 19 berlaku terhadap Perda yang
atribusian. Jadi, antara keduanya tidak terjadi pertentangan, yang terjadi
ketentuan berbeda untuk peruntukan yang berbeda.
Landasan Keabsahan juga ditemukan pada Teknik Penyusunan Naskah
Akademik Rancangan Peraturan Perundang-undangan (TPNA), sebagaimana

Gede Marhaendra Wija Atmaja|2016|Ilmu Perundang-undangan | 12


Page
ilmu perundang-undangan
dimuat dalam Lampiran I UU 12/2011. Pada uraian singkat Bab IV TPNA
menyebutkan, yang intinya adalah:
1. Unsur filosofis menggambarkan bahwa peraturan yang dibentuk
mempertimbangkan pandangan hidup, kesadaran, dan cita hukum
yang meliputi suasana kebatinan serta falsafah bangsa Indonesia
yang bersumber dari Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
2. Unsur sosiologis menggambarkan bahwa peraturan yang dibentuk
untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam berbagai aspek.
3. Unsur yuridis menggambarkan bahwa peraturan yang dibentuk untuk
mengatasi permasalahan hukum atau mengisi kekosongan hukum
dengan mempertimbangkan aturan yang telah ada, yang akan
diubah, atau yang akan dicabut guna menjamin kepastian hukum
dan rasa keadilan masyarakat.

10. Asas-Asas Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan


Yang Baik.

Secara teoritik dikenal asas pembentukan peraturan perundang-


undangan yang baik. Antara lain dikemukakan oleh A. Hamid S. Attamimi,
yang merujuk pada Van der Vlies.
Asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik yang telah
dipositipkan dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011. Asas yang berifat
formal diatur dalam Pasal 51 dan asas yang bersifat materiil diatur dalam
Pasal 6. Pengertian masing-masing asas ini dikemukakan dalam penjelasan
pasal. Asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik, yang
bersifat formal berikut pengertiannya, sebagaimana tampak dalam tabel
berikut.
Tabel: Asas Pembentukan Peraturan Perundang-undangan Yang Baik, Yang Bersifat
Formal) Berdasarkan Pasal 5 UU 12/2011 dan Penjelasannya
Pasal 5 UU 12/2011 Penjelasan Pasal 5 UU 12/2011
Dalam membentuk Peraturan
Perundang-undangan harus
dilakukan berdasarkan pada
asas Pembentukan Peraturan

1
Sebelumnya, dalam UU 10/2004, Pasal 5 huruf b dan huruf c masing memuat asas
“kelembagaan dan organ pembentuk yang tepat” dan “kesesuaian antara jenis dan materi
muatan”, dalam UU 12/2011, Pasal 5 huruf b dan huruf c, menjadi “kelembagaan atau
pejabat pembentuk yang tepat” dan “kesesuaian antara jenis, hierarki, dan materi muatan”.

Gede Marhaendra Wija Atmaja|2016|Ilmu Perundang-undangan Page | 13


ilmu perundang-undangan
Perundang-undangan yang
baik, yang meliputi:
a. kejelasan tujuan bahwa setiap Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan harus mempunyai tujuan
yang jelas yang hendak dicapai.
b. kelembagaan atau pejabat bahwa setiap jenis Peraturan Perundang-
pembentuk yang tepat undangan harus dibuat oleh lembaga negara
atau pejabat Pembentuk Peraturan Perundang-
undangan yang berwenang. Peraturan
Perundang-undangan tersebut dapat dibatalkan
atau batal demi hukum apabila dibuat oleh
lembaga negara atau pejabat yang tidak
berwenang.
c. kesesuaian antara jenis, bahwa dalam Pembentukan Peraturan
hierarki, dan materi Perundang-undangan harus benar-benar
muatan memperhatikan materi muatan yang tepat sesuai
dengan jenis dan hierarki Peraturan Perundang-
undangan.
d. dapat dilaksanakan bahwa setiap Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan harus memperhitungkan
efektivitas Peraturan Perundang-undangan
tersebut di dalam masyarakat, baik secara
filosofis, sosiologis, maupun yuridis.
e. kedayagunaan dan bahwa setiap Peraturan Perundang-undangan
kehasilgunaan dibuat karena memang benar-benar dibutuhkan
dan bermanfaat dalam mengatur kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
f. kejelasan rumusan bahwa setiap Peraturan Perundang-undangan
harus memenuhi persyaratan teknis penyusunan
Peraturan Perundang-undangan, sistematika,
pilihan kata atau istilah, serta bahasa hukum
yang jelas dan mudah dimengerti sehingga tidak
menimbulkan berbagai macam interpretasi
dalam pelaksanaannya.

g. keterbukaan bahwa dalam Pembentukan Peraturan


Perundang-undangan mulai dari perencanaan,
penyusunan, pembahasan, pengesahan atau
penetapan, dan pengundangan bersifat
transparan dan terbuka. Dengan demikian,
seluruh lapisan masyarakat mempunyai
kesempatan yang seluas-luasnya untuk
memberikan masukan dalam Pembentukan
Peraturan Perundang-undangan.
Sumber: Diolah dari Pasal 5 UU 12/2011 dan Penjelasan

Adapun asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik,


yang bersifat materiil berikut pengertiannya, sebagaimana tampak dalam
tabel berikut.

Gede Marhaendra Wija Atmaja|2016|Ilmu Perundang-undangan | 14


Page
ilmu perundang-undangan
Tabel: Asas Pembentukan Peraturan Perundang-undangan Yang Baik, Yang Bersifat
Materiil Berdasarkan Pasal 6 yat (1) dan ayat (2) UU 12/2011 dan Penjelasan
PASAL 6 UU 12/2011 PENJELASAN PASAL 6 UU 12/2011
Ayat (1)
Materi muatan Peraturan
Perundang-undangan harus
mencerminkan asas:
a. pengayoman bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-
undangan harus berfungsi memberikan pelindungan
untuk menciptakan ketentraman masyarakat.
b. kemanusiaan bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-
undangan harus mencerminkan pelindungan dan
penghormatan hak asasi manusia serta harkat dan
martabat setiap warga negara dan penduduk
Indonesia secara proporsional.
c. kebangsaan bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-
undangan harus mencerminkan sifat dan watak
bangsa Indonesia yang majemuk dengan tetap
menjaga prinsip Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
d. kekeluargaan bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-
undangan harus mencerminkan musyawarah untuk
mencapai mufakat dalam setiap pengambilan
keputusan.
e. kenusantaraan bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-
undangan senantiasa memperhatikan kepentingan
seluruh wilayah Indonesia dan Materi Muatan
Peraturan Perundang-undangan yang dibuat di
daerah merupakan bagian dari sistem hukum
nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945.
f. bhinneka tunggal ika bahwa Materi Muatan Peraturan Perundang-
undangan harus memperhatikan keragaman
penduduk, agama, suku dan golongan, kondisi
khusus daerah serta budaya dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
g. keadilan bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-
undangan harus mencerminkan keadilan secara
proporsional bagi setiap warga negara.
h. kesamaan kedudukan bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-
dalam hukum dan undangan tidak boleh memuat hal yang bersifat
pemerintahan membedakan berdasarkan latar belakang, antara
lain, agama, suku, ras, golongan, gender, atau status
sosial.
i. ketertiban dan bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-
kepastian hukum undangan harus dapat mewujudkan ketertiban dalam
masyarakat melalui jaminan kepastian hukum.
j. keseimbangan, bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-
keserasian, dan undangan harus mencerminkan keseimbangan,
keselarasan keserasian, dan keselarasan, antara kepentingan

Gede Marhaendra Wija Atmaja|2016|Ilmu Perundang-undangan Page | 15


ilmu perundang-undangan
individu, masyarakat dan kepentingan bangsa dan
negara.
Ayat (2) antara lain:
Peraturan Perundang- a. dalam Hukum Pidana, misalnya, asas legalitas,
undangan tertentu dapat asas tiada hukuman tanpa kesalahan, asas
berisi asas lain sesuai pembinaan narapidana, dan asas praduga tak
dengan bidang hukum bersalah;
Peraturan Perundang- b. dalam Hukum Perdata, misalnya, dalam hukum
undangan yang perjanjian, antara lain, asas kesepakatan,
bersangkutan. kebebasan berkontrak, dan itikad baik.
Sumber: Diolah dari Pasal 6 ayat (1) dan ayat (2) UU 12/2011 dan Penjelasan

Norma Hukum dalam Peraturan


3 Perundang-undangan
Karakteristik peraturan perundang-undangan, yang membedakannya
dengan keputusan tertulis lainnya adalah sifat norma hukum materi
muatannya dan sumber wewenang pembentukan peraturan perundang-
undangan. Untuk itu lebih awal perlu dikemukakan doktrin sifat norma hukum
dan sumber wewenang.
Pertama, konsep sifat norma hukum. Mengacu pada kepustakaan
Belanda, A. Hamid. S. Attamimi mengemukakan, pembentukan peraturan
perundang-undangan pada hakekatnya ialah pembentukan norma-norma
hukum yang berlaku keluar dan bersifat umum (A. Hamid. S. Attamimi,
1990).
Norma hukum berlaku keluar berarti berlaku baik bagi jajaran
pemerintahan maupun bagi rakyat. Sedang norma hukum bersifat umum,
lazimnya diuraikan dari segi subyek dan obyek. Dari segi subyek, apabila
yang terkena norma hukum itu adalah orang atau orang-orang tidak tertentu
disebut norma umum, sedangkan bila yang terkena itu adalah orang atau
orang-orang tidak tertentu disebut norma individual. Dari segi obyek, apabila
norma hukum itu mengenai hal tidak tertentu disebut disebut norma abstrak,
sedangkan jika mengenai hal tertentu disebut norma konkrit. Keempat
macam norma hukum itu dapat dikombinasikan menjadi 4 (empat) kategori
norma hukum, yakni: norma hukum umum-abstrak, norma hukum umum-
konkrit, norma hukum individual-abstrak, dan norma hukum individual-
konkrit (Indroharto, 1993).

Gede Marhaendra Wija Atmaja|2016|Ilmu Perundang-undangan | 16


Page
ilmu perundang-undangan
Peraturan perundang-undangan seyogyanya mengandung norma
hukum yang umum-abstrak, atau sekurang-kurangnya yang umum-konkrit.
Sedangkan norma hukum lain-lainnya, yaitu yang individual-abstrak, dan
lebih-lebih yang individual-konkrit, lebih mendekati penetapan (beschikking)
daripada peraturan (regeling) (A. Hamid. S. Attamimi, 1990).

Sumber Kewenangan
4 Perundang-undangan
Teori perundang-undangan membedakan sumber kewenangan
perundang-undangan atas atribusi kewenangan perundang-undangan dan
delegasi kewenangan perundang-undangan. Sebagaimana dikemukakan
Bagir Manan, bahwa sumber kewenangan perundang-undangan berinduk
pada konsepsi negara hukum, bahwa semua kekuasaan atau tindakan
pemerintah harus didasarkan pada ketentuan hukum. Wewenang, termasuk
wewenang badan legislatif berdasarkan ketentuan hukum tertentu.
Berdasarkan aturan yang menjadi sumber wewenang itu, maka dibedakan
antara atribusi kewenangan perundang-undangan dan delegasi kewenangan
perundang-undangan (Bagir Manan 19970.
Atribusi kewenangan perundang-undangan, menurut A. Hamid S.
Attamimi (1990), adalah penciptaan kewenangan (baru) oleh
konstitusi/Grondwet atau oleh pembentuk wet (wetgever) yang diberikan
kepada suatu organ negara, baik yang sudah ada maupun yang dibentuk
baru untuk itu. Selanjutnya dikemukakan, di Negara Indonesia atribusi
kewenangan perundang-undangan diberikan oleh UUD NRI 1945. Atribusi
untuk membentuk Undang-undang diberikan kepada Presiden yang
pelaksanaannya dilakukan dengan persetujuan DPR, melalui Pasal 5 ayat (1).
Contoh ini dikemukakan pada tahun 1990, saat UUD NRI 1945 belum
mengalami perubahan. Perubahan UUD NRI 1945 diadakan pada tahun
1999, 2000, 2001, dan 2002. Berdasar UUD NRI 1945 yang sekarang
berlaku, maka atribusi untuk membentuk Undang-Undang diberikan kepada
DPR yang pelaksanaannya dilakukan dengan persetujuan bersama DPR dan
Presiden, melalui Pasal 20 ayat (1) dan ayat (2), sebagaimana dikemukakan
dalam uraian sebelumnya.

Gede Marhaendra Wija Atmaja|2016|Ilmu Perundang-undangan | 17


Page
ilmu perundang-undangan
Senada dengan pandangan tersebut, Bagir Manan mengemukakan, atribusi
terdapat apabila UUD atau UU (dalam arti formal) memberikan kepada suatu badan
dengan kekuasaan sendiri dan tanggung jawab sendiri (mandiri) wewenang
membuat/membentuk peraturan perundang-undangan (Bagir Manan 1997).
Definisi lazim dari atribusi, demikian pendapat I. C. van der Vlies, adalah
pemberian kewenangan oleh UUD kepada pembuat undang-undang atau orang lain,
atau oleh pembuat undang-undang kepada organ lain. Jadi, atribusi itu penciptaan
suatu kewenangan dan pemberiannya kepada suatu organ (yang mungkin pula baru
dibentuk untuk itu) (I. C. van der Vlies 2005).
Berdasarkan atas pandangan-pandangan tersebut, pengertian atribusi
kewenangan perundang-undangan memuat unsur-unsur sebagai berikut:
1. Pembentukan kewenangan (-baru) untuk membuat peraturan perundang-
undangan.
2. Kewenangan diberikan oleh Undang-Undang Dasar kepada pembuat
undang-undang atau lembaga lain, atau oleh pembuat undang-undang
kepada lembaga lain.
3. Lembaga yang menerima kewenangan bertanggung jawab atas pelaksanaan
kewenangan yang diterimanya.
Berbeda dengan atribusi kewenangan perundang-undangan, pada delegasi
perundang-undangan terjadi peralihan kewenanga untuk membentuk peraturan
perundang-undangan. Jimly Asshiddiqie mengemukakan bahwa delegasi merupakan
pemberian, pelimpahan, atau pengalihan kewenangan oleh suatu organ
pemerintahan kepada pihak lain untuk mengambil keputusan atas tanggung jawab
sendiri. Jika yang dilimpahkan itu adalah kewenangan membentuk suatu peraturan
perundang-undangan, maka terjadi peralihan kewenangan untuk membentuk
peraturan perundang-undangan sebagaimana mestinya (Jimly Asshiddiqie 2006).
Tidak berbeda dengan pendapat tersebut, A. Hamid S. Attamimi menyatakan
delegasi kewenangan perundang-undangan adalah pemindahan/penyerahan
kewenangan untuk membentuk peraturan dari pemegang kewenangan asal yang
memberi delegasi (delegans) kepada yang menerima delegasi (delegataris) dengan
tanggung jawab pelaksanaan kewenangan tersebut pada delegataris sendiri,
sedangkan tanggung jawab delegans terbatas sekali. Pemindahan/penyerahan
kewenangan tersebut dapat dibatalkan apabila tidak dilaksanakan dengan baik
(A. Hamid S. Attamimi 1990). Delegasi terdapat apabila suatu badan (organ)
yang mempunyai wewenang secara mandiri membuat peraturan perundang-
undangan (wewenang atributif), demikian Bagir Manan, menyerahkan kepada suatu
badan untuk atas kekuasaan dan tanggung jawab sendiri wewenang untuk
membuat/membentuk peraturan perundang-undangan.
Senada dengan pendapat tersebut, I.C. van der Vlies mengemukakan, delegasi
suatu kewenangan adalah pelimpahan suatu kewenangan dan pihak yang mendapat

Gede Marhaendra Wija Atmaja|2016|Ilmu Perundang-undangan | 18


Page
ilmu perundang-undangan
kewenangan (delegataris) akan melaksanakannya berdasarkan tanggung jawabnya
sendiri. E. Utrecht memperjelas makna delegasi dengan menyatakan:
Delegasi tidak memuat inisiatif membuat peraturan mengenai pokok-pokok
yang baru, inisiatif untuk membuat peraturan mengenai pokok-pokok semacam
tadi tetap dalam tangan yang mendelegasi: delegasi, yaitu “menyelenggarakan”,
tidak lain dari pada mengatur lebih lanjut.

Berdasarkan atas pandangan-pandangan tersebut, pengertian delegasi


kewenangan perundang-undangan memuat unsur-unsur sebagai berikut:
1. Penyerahan kewenangan untuk membuat peraturan perundang-undangan.
2. Kewenangan yang diserahkan tidak memuat inisiatif membuat peraturan
perundang-undangan mengenai pokok-pokok yang baru.
3. Kewenangan diserahkan oleh pemegang kewenangan atributif (delegans)
kepada lembaga lainnya (delegataris).
4. Lembaga yang menerima kewenangan (delegataris) bertanggung jawab atas
pelaksanaan kewenangan yang diterimanya.
Antara atribusi kewenangan perundang-undangan dan delegasi kewenangan
perundang-undangan terdapat persamaan dan perbedaan. Persamaannya adalah
lembaga yang menerima kewenangan bertanggung jawab atas pelaksanaan
kewenangan yang diterimanya, dan perbedaannya sebagaimana dapat diungkapkan
dalam tabel berikut:
Tabel: Perbedaan Atribusi Kewenangan Perundang-undangan dan Delegasi
Kewenangan Perundang-undangan
No. Atribusi Kewenangan Delegasi Kewenangan Perundang-
Perundang-undangan undangan
1 Pembentukan kewenangan (-baru) Penyerahan kewenangan untuk
untuk membuat peraturan membuat peraturan perundang-
perundang-undangan. undangan
2 Kewenangan yang dibentuk untuk Kewenangan diserahkan untuk membuat
membuat peraturan perundang- peraturan perundang-undangan tidak
undangan memuat inisiatif mengenai memuat inisiatif mengenai pokok-pokok
pokok-pokok yang baru. yang baru
3 Kewenangan diberikan oleh Undang- Kewenangan diserahkan oleh pemegang
Undang Dasar kepada pembuat kewenangan atributif (delegans) kepada
undang-undang atau lembaga lain, lembaga lainnya (delegataris)
atau oleh pembuat undang-undang
kepada lembaga lain.

Gede Marhaendra Wija Atmaja|2016|Ilmu Perundang-undangan Page | 19


ilmu perundang-undangan

Jenis Peraturan
5 Perundang-
undangan
Mengenai jenis peraturan perundang-undangan diatur dalam Pasal 7
dan Pasal 8 UU 12/2001. Jenis peraturan perundang-undangan sebagaimana
diatur dalam Pasal 7 ayat (1) UU 12/2011 dapat disebut sebagai Jenis
Peraturan Perundang-undangan Di Dalam Hierarki, untuk membedakan
dengan jenis peraturan perundang-undangan yang diatur dalam Pasal 8 ayat
(1) UU 12/2011, yang dapat disebut Jenis Peraturan Perundang-undangan Di
Luar Hierarki.

KOTAK:
JENIS DAN HIERARKI PERATURANPERUNDANG-UNDANGAN
PASAL 7 AYAT (1)  ANOTASI
Jenis dan hierarki PeraturanPerundang-undangan terdiri Teori
atas: Jenjang
a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Norma
Tahun 1945; (Hans
b. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat; Kelsen dan
c. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Hans
Undang-Undang; Nawiasky)
d. Peraturan Pemerintah;
e. Peraturan Presiden;
f. Peraturan Daerah Provinsi; dan
g. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.

Merujuk pada teori jenjang norma dari Hans Kelsen, maka tata hukum
bukanlah sistem norma yang satu sama lain hanya dikoordinasikan, yang
berdiri sejajar atau sederajat, melainkan suatu hierarki norma-norma dari
tingkatan yang berbeda (uraian teoritik lebih lengkap dikemukakan
berikutnya).
Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih memadai mengenai
pengertian dari jenis-jenis peraturan perundang-undangan di dalam hierarki
tersebut dapat disimak dalam Kotak berikut:

Gede Marhaendra Wija Atmaja|2016|Ilmu Perundang-undangan | 20


Page
ilmu perundang-undangan
KOTAK:
JENIS PERATURANPERUNDANG-UNDANGAN DALAM HIERARKI
BESERTA PENGERTIAN MASING-MASING JENISNYA
PASAL 7 AYAT (1)  PENGERTIAN/PENJELASAN  ANOTASI
Jenis dan hierarki Materi yang
Peraturan Perundang- tertuang dalam
undangan terdiri atas: Pasal 7 ayat (1)
a. Undang-Undang UU 12/2011
Dasar Negara Undang-Undang Dasar Negara tidak tepat
Republik Indonesia Republik Indonesia Tahun 1945 berada dalam
Tahun 1945; merupakan hukum dasar dalam Pasal 7,
Peraturan Perundang-undangan melainkan
(ayat (1) Pasal 3). sebagai aturan
peralihan di
b. Ketetapan Majelis Yang dimaksud dengan dalam Bab
Permusyawaratan “Ketetapan Majelis Ketentuan
Rakyat; Permusyawaratan Rakyat” adalah Peralihan.
Ketetapan Majelis
Permusyawaratan Rakyat
Sementara dan Ketetapan Majelis
Permusyawaratan Rakyat yang
masih berlaku sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 dan Pasal
4 Ketetapan Majelis
Permusyawaratan Rakyat Republik
Indonesia Nomor: I/MPR/2003
tentang Peninjauan Terhadap
Materi dan Status Hukum
Ketetapan Majelis
Permusyawaratan Rakyat
Sementara dan Ketetapan Majelis
Permusyawaratan Rakyat Tahun
1960 sampai dengan Tahun 2002,
tanggal 7 Agustus 2003
(Penjelasan Pasal 7 ayat (1) Huruf
b).

c. Undang-  Undang-Undang adalah


Undang/Peraturan Peraturan Perundang-undangan
Pemerintah Pengganti yang dibentuk oleh Dewan
Undang-Undang; Perwakilan Rakyat dengan
persetujuan bersama Presiden
(Pasal 1 angka 3).
 Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-Undang adalah
Peraturan Perundang-undangan
yang ditetapkan oleh Presiden
dalam hal ihwal kegentingan
yang memaksa (Pasal 1 angka
4).

d. Peraturan Pemerintah; Peraturan Pemerintah adalah

Gede Marhaendra Wija Atmaja|2016|Ilmu Perundang-undangan Page | 21


ilmu perundang-undangan
Peraturan Perundang-undangan
yang ditetapkan oleh Presiden
untuk menjalankan Undang-
Undang sebagaimana mestinya
(Pasal 1 angka 5).

e. Peraturan Presiden; Peraturan Presiden adalah


Peraturan Perundang-undangan
yang ditetapkan oleh Presiden
untuk menjalankan perintah
Peraturan Perundang-undangan
yang lebih tinggi atau dalam
menyelenggarakan kekuasaan
pemerintahan (Pasal 1 angka 6).

f. Peraturan Daerah  Peraturan Daerah Provinsi


Provinsi; dan adalah Peraturan Perundang-
undangan yang dibentuk oleh
Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah Provinsi dengan
persetujuan bersama Gubernur
(Pasal 1 angka 7).
 Termasuk dalam Peraturan
Daerah Provinsi adalah Qanun
yang berlaku di Provinsi Aceh
dan Peraturan Daerah Khusus
(Perdasus) serta Peraturan
Daerah Provinsi (Perdasi) yang
berlaku di Provinsi Papua dan
Provinsi Papua Barat (Penjelasan
Pasal 7 ayat (1) Huruf f).

g. Peraturan Daerah  Peraturan Daerah


Kabupaten/Kota. Kabupaten/Kota adalah
Peraturan Perundang-undangan
yang dibentuk oleh Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah
Kabupaten/Kota dengan
persetujuan bersama
Bupati/Walikota (Pasal 1 angka
8).
 Termasuk dalam Peraturan
Daerah Kabupaten/Kota adalah
Qanun yang berlaku di
Kabupaten/Kota di Provinsi
Aceh(Penjelasan Pasal 7 ayat (1)
Huruf g).

Ketetapan MPR yang dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf b berisi
pengakuan terhadap Ketetapan MPR yang masih berlaku menurut Ketetapan

Gede Marhaendra Wija Atmaja|2016|Ilmu Perundang-undangan | 22


Page
ilmu perundang-undangan
MPR Nomor I/MPR/2003, artinya tidak ada Ketetapan MPR yang baru di luar
dari Ketetapan MPR Nomor I/MPR/2003. Dengan perkataan lain, dengan
diakuinya dalam UU 12/2011 tidak berarti MPR dapat membuat Ketetapan
MPR yang baru. Hal ini berbeda dengan jenis lainnya, yakni termasuk yang
baru, seperti UU 6/2014 yang terbentuk kemudian setelah UU 12/2011.
Materi yang tertuang dalam Pasal 7 ayat (1) UU 12/2011 tidak tepat berada
dalam Pasal 7, melainkan sebagai aturan peralihan di dalam Bab Ketentuan
Peralihan.
Adapun kekuatan hukum mengikat dari peraturan perundang-undangan
di dalam hierarki diatur dalam Pasal 7 ayat (2) UU 12/2011, sebagaimana
dapat disimak dalam Kotak berikut:
KOTAK:
KEKUATAN HUKUM PERATURANPERUNDANG-UNDANGAN DALAM HIERARKI
PASAL 7 AYAT (2)  PENJELASAN PASAL 7 AYAT (2)  ANOTASI
Kekuatan hukum Dalam ketentuan ini yang dimaksud Teori Jenjang Norma
Peraturan Perundang- dengan “hierarki” adalah (Hans Kelsen dan
undangan sesuai penjenjangan setiap jenis Peraturan Hans Nawiasky)
dengan hierarki Perundang-undangan yang
sebagaimana didasarkan pada asas bahwa
dimaksud pada ayat Peraturan Perundang-undangan
(1). yang lebih rendah tidak boleh
bertentangan dengan Peraturan
Perundang-undangan yang lebih
tinggi.

Kerangka teoritik tentang hierarki peraturan perundang-undangan


berikut kekuatan hukum mengikat merujuk pada teori hierarki norma-norma
dari Hans Kelsen, yang dapat dirinci sebagai berikut:
1. Hukum mengatur pembentukannya sendiri, yakni suatu norma
hukum menentukan cara untuk membuat norma hukum yang lain
dan menentukan isi dari norma hukum yang lain itu.
2. Suatu norma adalah valid, karena dibuat dengan cara yang
ditentukan oleh norma yang lain, dan norma yang lain ini menjadi
alasan validitas dari norma yang pertama.
3. Hubungan antara norma yang mengatur pembuatan norma yang
lain dapat diungkapkan sebagai hubungan super dan sub-ordinasi
dalam kiasan mengenai ruang.
4. Norma yang menentukan pembuatan norma yang lain adalah
norma yang lebih tinggi, sedangkan norma yang dibuat ini adalah
norma yang lebih rendah.

Gede Marhaendra Wija Atmaja|2016|Ilmu Perundang-undangan | 23


Page
ilmu perundang-undangan
5. Tata hukum bukanlah sistem norma yang satu sama lain hanya
dikoordinasikan, yang berdiri sejajar atau sederajat, melainkan
suatu hierarki norma-norma dari tingkatan yang berbeda.
6. Kesatuan norma-norma ini disusun oleh fakta bahwa pembentukan
norma yang lebih rendah ditentukan oleh norma yang lebih tinggi,
yang pembentukannya ditentukan oleh norma yang lebih tinggi lagi,
dan bahwa regressus ini diakhiri oleh norma tertinggi, yang
merupakan norma dasar, yang menjadi alasan utama validitas dari
keseluruhan tata hukum yang membentuk kesatuan (Hans Kelsen
1961).
Berdasarkan teori mengenai hierarki norma-norma dari Hans Kelsen,
diperoleh pemamaham mengenai makna hierarki norma hukum, bahwa
suatu norma hukum memperoleh validitas apabila pembentukannya
ditentukan dalam norma hukum yang lebih tinggi, dan pembentukan norma
hukum tersebut meliputi cara pembentukan dan isi norma hukum. Dengan
demikian, ketika dibuat suatu norma hukum bersumberkan pada norma
hukum yang lebih tinggi, pada dasarnya norma hukum yang lebih rendah itu
melaksanakan norma hukum yang lebih tinggi (Gede Marhaendra Wija
Atmaja, 2012).
Konsekuensi dari anutan teori jenjang norma, maka tidak boleh jenis
peraturan perundang-undangan yang berada di bawahnya bertentangan
dengan jenis peraturan perundang-undangan yang berada di atasnya.
Apabila terjadi kebertentangan itu, maka harus diselesaikan melalui
mekanisme pengujian. Perihal ini diatur dalam Pasal 9 UU 12/2011.

KOTAK:
KONSEKUENSI DIANUTNYA PENJENJANGAN NORMA HUKUM
Pasal 9  ANOTASI
(1) Dalam hal suatu Undang-Undang diduga bertentangan dengan Teori
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Pengujian
pengujiannya dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi. Norma
Hukum
(2) Dalam hal suatu Peraturan Perundang-undangan di bawah Undang-
Undang diduga bertentangan dengan Undang-Undang,
pengujiannya dilakukan oleh Mahkamah Agung.

Gede Marhaendra Wija Atmaja|2016|Ilmu Perundang-undangan Page | 24


ilmu perundang-undangan
JENIS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DI LUAR
HIRARKI
Selain mengenal jenis peraturan perundang-undangan yang berada
dalam susunan hierarki (peraturan perundang-undangan di dalam hierarki)
sebagaimana diatur dalam Pasal 7 ayat (1) UU 12/2011, UU ini juga
mengatur peraturan perundang-undangan yang berada di luar susunan yang
hirarki tersebut (peraturan perundang-undangan di luar hierarki),
sebagaimana diatur dalam Pasal 8 ayat (1) UU 12/2011.

KOTAK:
JENIS PERATURANPERUNDANG-UNDANGAN DI LUAR HIERARKI
PASAL 8 AYAT (1)  PENJELASAN PASAL  ANOTASI
8 AYAT (1)
Jenis Peraturan Perundang- Yang dimaksud Diantara
undangan selain sebagaimana dengan “Peraturan jenis-jenis
dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) Menteri” adalah peraturan
mencakup peraturan yang peraturan yang perundang-
ditetapkan oleh Majelis ditetapkan oleh undangan di
Permusyawaratan Rakyat, Dewan menteri berdasarkan dalam Pasal
Perwakilan Rakyat, Dewan materi muatan dalam 8 ayat (1) itu
Perwakilan Daerah, Mahkamah rangka sendiri tidak
Agung, Mahkamah Konstitusi, penyelenggaraan ada
Badan Pemeriksa Keuangan, Komisi urusan tertentu hierarkinya.
Yudisial, Bank Indonesia, Menteri, dalam pemerintahan.
badan, lembaga, atau komisi yang
setingkat yang dibentuk dengan
Undang-Undang atau Pemerintah
atas perintah Undang-Undang,
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
Provinsi, Gubernur, Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah
Kabupaten/Kota, Bupati/Walikota,
Kepala Desa atau yang setingkat.

Disebut peraturan perundang-undangan di luar hierarki, karena tidak


berada dalam susunan yang hierarkis, yakni di antara berbagai jenis
peraturan perundang-undangan, yang satu dengan yang lainnya tidak lebih
tinggi atau tidak lebih rendah. Namun, dikaitkan dengan Pasal 9 ayat (2) UU
12/2011, peraturan perundang-undangan di dalam Pasal 8 ayat (1) berada di
bawah “Peraturan Perundang undangan yang lebih tinggi”. Oleh karena itu,
apabila ada kondisi kebertentangan, maka tunduk pada ketentuan Pasal 9
ayat (2) UU 12/2011, yakni: ”Dalam hal suatu Peraturan Perundang-

Gede Marhaendra Wija Atmaja|2016|Ilmu Perundang-undangan Page | 25


ilmu perundang-undangan
undangan di bawah Undang-Undang diduga bertentangan dengan Undang-
Undang, pengujiannya dilakukan oleh Mahkamah Agung.”
Kekuatan hukum peraturan perundang-undangan di luar hierarki diatur
dalam Pasal 8 ayat (2) UU 12/2011, sebagaimana dapat disimak dalam Kotak
berikut:
KOTAK:
KEKUATAN HUKUM PERATURANPERUNDANG-UNDANGAN DI LUAR HIERARKI
PASAL 8 AYAT (2)  PENJELASAN PASAL 8  ANOTASI
AYAT (2)
Peraturan Perundang-undangan Yang dimaksud dengan Yang dimaksud
sebagaimana dimaksud pada ayat “berdasarkan dengan
(1) diakui keberadaannya dan kewenangan” adalah “Peraturan
mempunyai kekuatan hukum penyelenggaraan urusan Perundang-
mengikat sepanjang diperintahkan tertentu pemerintahan undangan
oleh Peraturan Perundang- sesuai dengan ketentuan yang lebih
undangan yang lebih tinggi atau Peraturan Perundang- tinggi” yang
dibentuk berdasarkan kewenangan. undangan. berada di
dalam
hierarki.

Jenis-jenis peraturan perundang-undangan di luar hierarki memperoleh


kekuatan hukum mengikatnya dari:
a. diperintahkan oleh Peraturan Perundang-undangan yang lebih
tinggi; atau
b. dibentuk berdasarkan kewenangan penyelenggaraan urusan
tertentu pemerintahan sesuai dengan ketentuan Peraturan
Perundang-undangan.
Isu hukum yang masih tersisa adalah (a) apakah yang dimaksud
dengan “Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi”; dan (b) jika
“Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi” itu merujuk pada jenis-
jenis peraturan perundang-undangan di dalam hierarki (Pasal 7 ayat (1) UU
12/2011), maka akan terdapat derajat kekuatan hukum yang berbeda-beda,
misalnya Peraturan Komisi yang diperintahkan oleh UU, atau oleh PP, atau
oleh Peraturan Presiden, manakah derajatnya kekuatan hukumnya lebih
kuat?

Gede Marhaendra Wija Atmaja|2016|Ilmu Perundang-undangan Page | 26


ilmu perundang-undangan

Materi Muatan Peraturan


6 Perundang-undangan
undangan
Secara otentik pengertian materi muatan peraturan perundang-
undangan diatur dalam Pasal 1 angka 13 dan terkait dengan asas
pembentukan peraturan perundang-undangan yang diatur dalam Pasal 5
huruf c UU 12/2011:
KOTAK:
PENGERTIAN MATERI MUATAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
PASAL 1 ANGKA 13  PASAL 5 HURUF C DAN  ANOTASI
PENJELASAN
Materi Muatan Peraturan Asas kesesuaian antara jenis, Materi yang
Perundang-undangan hierarki, dan materi muatan khas dan tepat
adalah materi yang adalah bahwa dalam dimuat dalam
dimuat dalam Peraturan pembentukan Peraturan suatu jenis
Perundang-undangan Perundang-undangan harus peraturan
sesuai dengan jenis, fungsi, benar-benar memperhatikan perundang-
dan hierarki Peraturan materi muatan yang tepat sesuai undangan, yang
Perundang-undangan. dengan jenis dan hierarki tidak tepat
Peraturan Perundang-undangan. dimuat dalam
jenis lainnya.

Istilah “materi muatan peraturan perundangan” diperkenalkan oleh A.


Hamid S. Attamimi, yang disampaikan secara lisan dalam Lokakarya
mengenai Pengembangan Ilmu Hukum, di Fakultas Hukum Universitas
Indonesia, tanggal 22 Pebruari 1979. Naskahnya diselesaikan sesudahnya,
dimuat dalam Majalah Hukum dan Pembangunan, Nomor 3 Tahun 1979, hlm.
282-292. Selanjutnya, A. Hamid S. Attamimi, “Materi Muatan Peraturan
Perundang-undangan”, BPHN, Himpunan Bahan Penataran Latihan Tenaga
Teknis Perancang Peraturan Perundang-undangan Tanggal 1 s/d 20 Juni
1981, (Diterbitkan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen
Kehakiman, Jakarta, 1982), secara tidak langsung mengartikan materi
muatan peraturan perundang-undangan sebagai materi yang harus dimuat
dalam masing-masing jenis peraturan perundang-undangan.
Khususnya “materi muatan undang-undang”, A. Hamid S. Attamimi
mengartikan sebagai materi muatan yang khas dari undang-undang
(terjemahan ungkapan Thorbecke “het eigenaardig onderwerp der wet”),

Gede Marhaendra Wija Atmaja|2016|Ilmu Perundang-undangan | 27


Page
ilmu perundang-undangan
yakni materi pengaturan yang khas yang hanya dan semata-mata dimuat
dalam undang-undang dan oleh karena itu menjadi materi muatan Undang-
undang. Pasal 1 angka 13, mengartikan Materi Muatan Peraturan Perundang-
undangan adalah materi yang dimuat dalam Peraturan Perundang-undangan
sesuai dengan jenis, fungsi, dan hierarki Peraturan Perundang-undangan.
Materi muatan dari jenis-jenis peraturan perundang-undangan
pengaturannya tersebar dalam beberapa pasal. Materi muatan Undang-
Undang diatur dalam Pasal 10 UU 12/2011.
KOTAK:
MATERI MUATAN YANG HARUS DIATUR DENGAN UNDANG-UNDANG
PASAL 10  PENJELASAN PASAL 10  ANOTASI
(1) Materi muatan yang Ayat (1) Pasal 10 ayat (1)
harus diatur dengan ......... huruf b tidak
Undang-Undang berisi: Huruf c sesuai dengan
a. pengaturan lebih Yang dimaksud dengan asas lex
lanjut mengenai “perjanjian internasional posteriore
ketentuan Undang- tertentu” adalah perjanjian derogat lex
Undang Dasar internasional yang priori.
Negara Republik menimbulkan akibat yang Di sisi lain
Indonesia Tahun luas dan mendasar bagi ketentuan itu
1945; kehidupan rakyat yang terkait menunjukkan
b. perintah suatu dengan beban keuangan pendelegasian
Undang-Undang negara dan/atau perjanjian kewenangan
untuk diatur dengan tersebut mengharuskan mengatur dari
Undang-Undang; perubahan atau pembentukan undang-undang
c. pengesahan Undang-Undang dengan kepada undang-
perjanjian persetujuan DPR. undang lainnya.
internasional
tertentu; Huruf d
d. tindak lanjut atas Yang dimaksud
putusan Mahkamah dengan ”tindak lanjut atas
Konstitusi; dan/atau putusan Mahkamah
e. pemenuhan Konstitusi” terkait dengan
kebutuhan hukum putusan Mahkamah Konstitusi
dalam masyarakat. mengenai pengujian Undang-
Undang terhadap Undang-
Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun
1945.
Materi muatan yang dibuat,
terkait dengan ayat, pasal,
dan/atau bagian Undang-
Undang yang secara tegas
dinyatakan dalam Putusan
Mahkamah Konstitusi
bertentangan dengan
Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia

Gede Marhaendra Wija Atmaja|2016|Ilmu Perundang-undangan | 28


Page
ilmu perundang-undangan
Tahun 1945.
(2) Tindak lanjut atas Ayat (2)
putusan Mahkamah Tindak lanjut atas putusan
Konstitusi sebagaimana Mahkamah Konstitusi
dimaksud pada ayat (1) dimaksudkan untuk mencegah
huruf d dilakukan oleh terjadinya kekosongan
DPR atau Presiden. hukum.

Materi muatan yang harus diatur dengan Undang-Undang berisi


pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945, terdapat dalam sejumlah pasal UUD 1945
dengan penanda “dengan undang-undang” atau “dalam ndang-undang”.

KOTAK:
MATERI MUATAN UNDANG-UNDANG
PENGATURAN LEBIH LANJUT MENGENAI KETENTUAN UUD 1945
Pasal 2 (1)UUD 1945:  ANOTASI
Majelis Permusyawaratan Rakyat [1]Rumusan diatur dengan undang-
terdiri atas anggota Dewan undang bermakna hal yang diatur
Perwakilan Rakyat dan anggota dalam ketentuan itu harus dirumuskan
Dewan Perwakilan Daerah yang dalam sebuah undang-undang yang
dipilih melalui pemilihan umum dan khusus diterbitkan untuk kepentingan itu
diatur lebih lanjut dengan undang- (Majelis Permusyawaratan Rakyat 2013).
undang.

Pasal 6 (2) UUD 1945: lihat anotasi 1


Syarat-syarat untuk menjadi Presiden
dan Wakil Presiden diatur lebih lanjut
dengan undang-undang.
[2]Rumusan diatur dalam undang-
Pasal 6A (5) UUD 1945: undang bermakna hal yang diatur
Tata cara pelaksanaan pemilihan dalam ketentuan itu dapat menjadi
Presiden dan Wakil Presiden lebih materi suatu atau beberapa undang-
lanjut diatur dalam undang-undang. undang yang tidak khusus diterbitkan
untuk kepentingan itu (Majelis
Pasal (3) UUD 1945: Permusyawaratan Rakyat 2013).
Ketentuan lebih lanjut tentang
perjanjian internasional diatur lihat anotasi 1
dengan undang-undang.

Gede Marhaendra Wija Atmaja|2016|Ilmu Perundang-undangan Page | 29


ilmu perundang-undangan

Pasal 12 UUD 1945:


Presiden menyatakan keadaan
bahaya. Syarat-syarat dan akibatnya
lihat anotasi 1
keadaan bahaya ditetapkan dengan
undang-undang.

Pasal 15 UUD 1945:


Presiden memberi gelar, tanda jasa,
dan lain-lain tanda kehormatan yang lihat anotasi 1
diatur dengan undang-undang.

Pasal 16 UUD 1945:


Presiden membentuk suatu dewan
pertimbangan yang bertugas
memberikan nasihat dan lihat anotasi 2
pertimbangan kepada Presiden, yang
selanjutnya diatur dalam undang-
undang.

Pasal (4) UUD 1945:


Pembentukan, pengubahan, dan
pembubaran kementerian negara lihat anotasi 2
diatur dalam undang-undang.

Pasal 18 (1) UUD 1945:


Negara Kesatuan Republik Indonesia
lihat anotasi 1
dibagi atas daerah-daerah provinsi
dan daerah provinsi itu dibagi atas
kabupaten dan kota, yang tiap-tiap
provinsi, kabupaten, dan kota itu
mempunyai pemerintahan daerah,
yang diatur dengan undang-undang.

Pasal 18 (7) UUD 1945:


Susunan dan tata cara
penyelenggaraan pemerintahan lihat anotasi 2
daerah diatur dalam undang-undang.
Pasal 18A (1) UUD 1945:
Hubungan wewenang antara lihat anotasi 1
pemerintah pusat dan pemerintahan
daerah provinsi, kabupaten, dan
kota, atau antara provinsi dan
kabupaten dan kota, diatur dengan
undang-undang dengan
memperhatikan kekhususan dan
keragaman daerah.

Gede Marhaendra Wija Atmaja|2016|Ilmu Perundang-undangan | 30


Page
ilmu perundang-undangan

Pasal 18B (1) UUD 1945: lihat anotasi 1


Negara mengakui dan
menghormati satuan-satuan
pemerintahan daerah yang
bersifat khusus atau bersifat
istimewa yang diatur dengan
undang-undang.
lihat anotasi 2
Pasal 18B (2) UUD 1945:
Negara mengakui dan menghormati
kesatuan-kesatuan masyarakat hukum
adat beserta hak-hak tradisionalnya
sepanjang masih hidup dan sesuai
dengan perkembangan masyarakat
dan prinsip Negara Kesatuan
Republik Indonesia, yang diatur
dalam undang-undang.
lihat anotasi 1
Pasal 19 (2) UUD 1945:
Susunan Dewan Perwakilan Rakyat
diatur dengan undang-undang.

Pasal 20A (4) UUD 1945: lihat anotasi 2


Ketentuan lebih lanjut tentang hak
Dewan Perwakilan Rakyat dan hak
anggota Dewan Perwakilan Rakyat
diatur dalam undang-undang.

Pasal 22A UUD 1945: lihat anotasi 1


Ketentuan lebih lanjut tentang tata
cara pembentukan undang-undang
diatur dengan undang-undang.

Pasal 22B UUD 1945:


lihat anotasi 2
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat
dapat diberhentikan dari jabatannya,
yang syarat-syarat dan tata caranya
diatur dalam undang-undang.
lihat anotasi 1
Pasal 22C (4) UUD 1945:
Susunan dan kedudukan Dewan
Perwakilan Daerah diatur dengan
undang-undang.
lihat anotasi 2
Pasal 22D (4) UUD 1945:
Anggota Dewan Perwakilan Daerah

Gede Marhaendra Wija Atmaja|2016|Ilmu Perundang-undangan | 31


Page
ilmu perundang-undangan
dapat diberhentikan dari jabatannya,
yang syarat-syarat dan tata caranya
diatur dalam undang-undang.
lihat anotasi 1
Pasal 22E (6) UUD 1945:
Ketentuan lebih lanjut tentang
pemilihan umum diatur dengan
undang-undang.
lihat anotasi 1
Pasal 23A UUD 1945:
Pajak dan pungutan lain yang bersifat
memaksa untuk keperluan negara
diatur dengan undang-undang.
lihat anotasi 1
Pasal 23B UUD 1945:
Macam dan harga mata uang
ditetapkan dengan undang-undang.
lihat anotasi 1
Pasal 23C UUD 1945:
Hal-hal lain mengenai keuangan
negara diatur dengan undang-
undang.
lihat anotasi 1
Pasal 23D UUD 1945:
Negara memiliki suatu bank sentral
yang susunan, kedudukan,
kewenangan, tanggung jawab, dan
independensinya diatur dengan
undang-undang. lihat anotasi 1

Pasal 23E (3) UUD 1945:


Hasil pemeriksaan tersebut
ditindaklanjuti oleh lembaga
perwakilan dan/atau badan sesuai lihat anotasi 1
dengan undang-undang.

Pasal 23G (2) UUD 1945:


Ketentuan lebih lanjut mengenai
Badan Pemeriksa Keuangan diatur lihat anotasi 2
dengan undang-undang.

Pasal 24 (3) UUD 1945:


Badan-badan lain yang fungsinya
berkaitan dengan kekuasaan
kehakiman diatur dalam undang- lihat anotasi 1
undang.

Gede Marhaendra Wija Atmaja|2016|Ilmu Perundang-undangan | 32


Page
ilmu perundang-undangan
Pasal 24A (5) UUD 1945:
Susunan, kedudukan, keanggotaan,
dan hukum acara Mahkamah Agung lihat anotasi 1
serta badan peradilan di bawahnya
diatur dengan undang-undang.

Pasal 24B (4) UUD 1945:


Susunan, kedudukan, dan lihat anotasi 1
keanggotaan Komisi Yudisial diatur
dengan undang-undang.

Pasal 24C (6) UUD 1945:


Pengangkatan dan pemberhentian
hakim konstitusi, hukum acara serta
ketentuan lainnya tentang lihat anotasi 1
Mahkamah Konstitusi diatur dengan
undang- undang.

Pasal 25 UUD 1945: lihat anotasi 1


Syarat-syarat untuk menjadi dan
untuk diperhentikan sebagai hakim
ditetapkan dengan undang-undang.

Pasal 25A UUD 1945:


Negara Kesatuan Republik Indonesia
adalah sebuah negara kepulauan lihat anotasi 1
yang berciri Nusantara dengan
wilayah yang batas-batas dan hak-
haknya ditetapkan dengan undang-
undang.

Pasal 26 (1) UUD 1945: lihat anotasi 1


Yang menjadi warga negara ialah
orang-orang bangsa Indonesia asli
dan orang-orang bangsa lain yang
disahkan dengan undang-undang
sebagai warga negara.
lihat anotasi 1
Pasal 26 (3) UUD 1945:
Hal-hal mengenai warga negara dan
penduduk diatur dengan undang-
undang.
lihat anotasi 1
Pasal 28 UUD 1945:
Kemerdekaan berserikat dan
berkumpul, mengeluarkan pikiran
dengan lisan dan tulisan dan

Gede Marhaendra Wija Atmaja|2016|Ilmu Perundang-undangan | 33


Page
ilmu perundang-undangan
sebagainya ditetapkan dengan
undang-undang.

Pasal 28J (2) UUD 1945:


Dalam menjalankan hak dan
kebebasannya, setiap orang wajib
tunduk kepada pembatasan yang
ditetapkan dengan undang-undang
dengan maksud semata-mata untuk
menjamin pengakuan serta lihat anotasi 1
penghormatan atas hak dan
kebebasan orang lain dan untuk
memenuhi tuntutan yang adil sesuai
dengan pertimbangan moral, nilai-
nilai agama, keamanan, dan
ketertiban umum dalam suatu
masyarakat demokratis.

Pasal 30 (5) UUD 1945:


Susunan dan kedudukan Tentara
Nasional Indonesia, Kepolisian
Negara Republik Indonesia,
hubungan kewenangan Tentara
Nasional Indonesia dan Kepolisian lihat anotasi 1
Negara Republik Indonesia di dalam
menjalankan tugasnya, syarat-syarat
keikutsertaan warga negara dalam
usaha pertahanan dan keamanan
negara, serta hal-hal yang terkait
dengan pertahanan dan keamanan
diatur dengan undang-undang.

Pasal 31 (3) UUD 1945 lihat anotasi 2


Pemerintah mengusahakan dan
menyelenggarakan satu sistem
pendidikan nasional, yang
meningkatkan keimanan dan
ketakwaan serta akhlak mulia dalam lihat anotasi 2
rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa, yang diatur dengan undang-
undang.

Pasal 33 (5) UUD 1945:


lihat anotasi 1
Ketentuan lebih lanjut mengenai
pelaksanaan pasal ini diatur dalam
undang-undang.

Gede Marhaendra Wija Atmaja|2016|Ilmu Perundang-undangan | 34


Page
ilmu perundang-undangan
Pasal 34 (4) UUD 1945:
Ketentuan lebih lanjut mengenai
pelaksanaan pasal ini diatur dalam
undang-undang.

Pasal 36C UUD 1945:


Ketentuan lebih lanjut mengenai
Bendera, Bahasa, dan Lambang
Negara, serta Lagu Kebangsaan diatur
dengan undang-undang.

Materi muatan peraturan perundang-undangan selain Undang-Undang


Dasar dikemukakan dalam Kotak-Kotak berikut:
KOTAK:
MATERI MUATAN PERATURAN PEMERINTAH
PENGGANTI UNDANG-UNDANG
PASAL 11  PENJELASAN PASAL  ANOTASI
11
Namun ada kondisi
Materi muatan Cukup jelas. yang harus dipenuhi
Peraturan Pemerintah berdasarkan Pasal 22
Pengganti Undang- UUD 1945, yakni.
Undang sama dengan dalam hal ihwal
materi muatan Undang- kegentingan yang
Undang. memaksa.
Karakter Perpu adalah
sementara, karena harus
mendapat persetujuan
Dewan Perwakilan
Rakyat dalam
persidangan yang
berikut. Jika tidak
mendapat
persetujuan, maka
peraturan pemerintah
itu harus dicabut.

Gede Marhaendra Wija Atmaja|2016|Ilmu Perundang-undangan | 35


Page
ilmu perundang-undangan
MAteri muatan PP.
KOTAK:
MATERI MUATAN PERATURAN PEMERINTAH
PASAL 12  PENJELASAN PASAL 12  ANOTASI
Materi muatan Yang dimaksud dengan “menjalankan Materi yang
Peraturan Undang-Undang sebagaimana diperintahkan
Pemerintah berisi mestinya” adalah penetapan dan materi yang
materi untuk Peraturan Pemerintah untuk diperlukan.
menjalankan melaksanakan perintah Undang-
Undang-Undang Undang atau untuk menjalankan
sebagaimana Undang-Undang sepanjang
mestinya. diperlukan dengan tidak
menyimpang dari materi yang diatur
dalam Undang-Undang yang
bersangkutan.

Materi muatan Perpres


KOTAK:
MATERI MUATAN PERATURAN PRESIDEN
PASAL 13  PENJELASAN PASAL 13  ANOTASI
Materi muatan Peraturan Presiden dibentuk Materi yang
Peraturan Presiden berisi untuk menyelenggarakan tegas maupun
materi yang pengaturan lebih lanjut tidak tegas
diperintahkan oleh perintah Undang-Undang diperintahkan
UU atau PP.
Undang-Undang, materi atau Peraturan Pemerintah
untuk melaksanakan secara tegas maupun tidak
Peraturan Pemerintah, tegas diperintahkan
atau materi untuk pembentukannya.
melaksanakan
penyelenggaraan
kekuasaan
pemerintahan.

Materi muatan Perda:


KOTAK:
MATERI MUATAN PERATURAN DAERAH
PASAL 14  PENJELASAN PASAL 14  ANOTASI
Materi muatan Peraturan Cukup jelas. Materi muatan Perda ada
Daerah Provinsi dan Peraturan dua:
Daerah Kabupaten/Kota berisi 1. Atribusian, materi
materi muatan dalam rangka muatan dalam rangka
penyelenggaraan otonomi otonomi (termasuk
daerah dan tugas pembantuan menampung kondisi
serta menampung kondisi khusus daerah) daerah
khusus daerah dan/atau dan tugas

Gede Marhaendra Wija Atmaja|2016|Ilmu Perundang-undangan Page | 36


ilmu perundang-undangan
penjabaran lebih lanjut pembantuan.
Peraturan Perundang-undangan 2. Delegasian, materi
yang lebih tinggi. muatan dalam rangka
penjabaran lebih
lanjut Peraturan
Perundang-undangan
yang lebih tinggi.

Mengenai ketentuan pidana sebagai materi muatan, Pasal 15 ayat (1)


UU 12/2011 menentukan, materi muatan mengenai ketentuan pidana hanya
dapat dimuat dalam: a. Undang-Undang; b. Peraturan Daerah Provinsi;
atau c. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. Pasal 15 ayat (2) dan ayat (3) UU
12/2011 menentukan batas kewenangan pengaturan ketentuan pidana
dalam Perda.
KOTAK:
MATERI MUATAN PERATURAN DAERAH
PASAL 15  PENJELASAN PASAL 15  ANOTASI
(2) Ketentuan pidana sebagaimana Cukup jelas.
dimaksud pada ayat (1) huruf b Sepanjang suatu
dan huruf c berupa ancaman peraturan
pidana kurungan paling lama 6 perundang-
(enam) bulan atau pidana denda undangan
paling banyak Rp50.000.000,00 menentukan, maka
(lima puluh juta rupiah). Perda Provinsi dan
(3) Peraturan Daerah Provinsi dan Kabupate/Kota
Peraturan Daerah dapat memuat
Kabupaten/Kota dapat memuat ancaman pidana
ancaman pidana kurungan atau kurungan atau
pidana denda selain sebagaimana pidana denda selain
dimaksud pada ayat (2) sesuai pidana kurungan
dengan yang diatur dalam paling lama 6
Peraturan Perundang-undangan (enam) bulan atau
lainnya. pidana denda paling
banyak
Rp50.000.000,00
(lima puluh juta
rupiah).

Gede Marhaendra Wija Atmaja|2016|Ilmu Perundang-undangan | 37


Page
ilmu perundang-undangan
MATERI MUATAN PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN DI LUAR HIERARKI

Materi muatan peraturan perundang-undangan di luar hierarki


dipahami dari Pasal 8 ayat (2) UU 12/2011, yang menentukan, Peraturan
Perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diakui
keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang
diperintahkan oleh Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi atau
dibentuk berdasarkan kewenangan. Artinya, materi muatan peraturan
perundang-undangan di luar hierarki ditentukan oleh:
a. sepanjang diperintahkan oleh Peraturan Perundang-undangan yang
lebih tinggi; atau
b. dibentuk berdasarkan kewenangan.
Untuk menentukan materi muatan yang diperintahkan oleh Peraturan
Perundang-undangan yang lebih tinggi, maka perlu menelusuri Peraturan
Perundang-undangan yang lebih tinggi. Misalnya, untuk mengetahui materi
muatan Peraturan Mahkamah Konstitusi, maka perlu diteliti Undang-
Undanmg tentang Mahkamah Konstitusi.
Untuk menentukan materi muatan yang dibentuk berdasarkan
kewenangan, salah satu contoh Peraturan Menteri, perlu memahami
Penjelasan Pasal 8 ayat (2) UU 12/2011 yang menjelaskan, bahwa yang
dimaksud dengan “Peraturan Menteri” adalah peraturan yang ditetapkan oleh
menteri berdasarkan materi muatan dalam rangka penyelenggaraan urusan
tertentu dalam pemerintahan.
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka perlu mengetahui urusan
tertentu dalam pemerintahan yang merupakan kewenangan menteri. Urusan
pemerintahan inilah merupakan materi muatan Peraturan Menteri.
Dari segi sumber kewenangan, peraturan perundang-undangan di luar
hierarki meliputi:
1. Peraturan perundang-undangan delegasian, yakni yang
diperintahkan oleh Peraturan Perundang-undangan yang lebih
tinggi).
2. Peraturan perundang-undangan atribusian, yakni yang dibentuk
berdasarkan kewenangan.

Gede Marhaendra Wija Atmaja|2016|Ilmu Perundang-undangan | 38


Page

Anda mungkin juga menyukai