Anda di halaman 1dari 17

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur bagi Allah SWT yang telah menciptakan kami dalam keadaan
mencintai agama-Nya dan berpegang pada syariat-Nya, sehingga kamidapat menyelesaikan
dan menyusun makalah Hukum Ketenagakerjaan mengenai “ Perjanjian Kerja Bersama”.
Makalah ini tidak akan terbentuk suatu laporan yang baik dan benar jika tidak ada
orang-orang yang demikian sabar membantu dan membimbing kami, maka dari itu kami
ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Rohendra F, S.H.,MH. Selaku dosen mata kuliah Hukum Ketenagakerjaan.
2. Teman kelompok yang telah bekerja sebagai suatu tim.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan ketidak
sempurnaan seperti yang diinginkan dan diharapkan. Oleh karena itu, kami berharap adanya
kritik dan saran yang membangun dari para pembaca dan berbagai pihak demi kelengkapan
dan penyempurnaan segala kekurangan dari makalah ini. Dengan mengharapkan Ridho dari
Allah SWT semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca umumnya dan bagi
kami khususnya. Akhirnya, mudah-mudahan upaya kami dalam membuat makalah ini dicatat
oleh Allah SWT sebagai amal yang shaleh. Amin.

Karawang, desember 2018

Tim Penyusun

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................... 1


DAFTAR ISI.............................................................................................................................. 2
BAB I ......................................................................................................................................... 3
PENDAHULUAN .................................................................................................................. 3
Latar Belakang Masalah .................................................................................................... 3
Rumusan Masalah............................................................................................................... 4
Tujuan Penulisan ................................................................................................................ 4
BAB II........................................................................................................................................ 5
PEMBAHASAN .................................................................................................................... 5
A. Pengertian perjanjian kerja .......................................................................................... 6
B. ketentuan hukum perjanjian kerja ............................................................................... 7
C. jenis-jenis perjanjian kerja .......................................................................................... 9
D. Kewajiban Pihak-Pihak dalam Perjanjian Kerja ......................................................... 9
E. Tata Cara Pembuatan Perjanjian Kerja bersama ....................................................... 11
BAB III .................................................................................................................................... 15
PENUTUP ............................................................................................................................ 15
A. Kesimpulan................................................................................................................ 15
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 17

2
BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah


Pada dasarnya perjanjian kerja dibuat dengan motivasi yang menguntungkan semua pihak
baik perusahaan maupun karyawan. Perusahaan membutuhkan komitmen karyawan untuk
memberikan yang terbaik, dengan begitu perusahaan juga memberikan apa-apa yang menjadi
hak karyawan. Sehingga sebenarnya perselisihan yang terjadi antara perusahaan dan
karyawan seharusnya dapat dihindari. Pemahaman yang mendalam mengenai perjanjian kerja
mulai siapa saja yang terlibat sampai kesesuaian dengan ketentuan hukum sangatlah
penting untuk dipahami.

Perjanjian kerja sebagai sarana pendahulu sebelum berlangsungnya hubungan kerja, harus
diwujudkan dengan sebaik-baiknya, dalam arti mencerminkan keadilan baik bagi pengusaha
maupun bagi buruh, karena keduanya akan terlibat dalam suatu hubungan kerja.

Di dunia barat kehidupan masyarakat seperti halnya merupakan arena pertarungan antara
kepentingan-kepentingan perseorangan yang saling bertentangan, sedangkan didalam
lingkungan masyarakat Indonesia adalah tempat kerjasama dimana anggota melakukan tugas
tertentu menurut pembagian kerja yang tertatur menuju tercapainya cita-cita bersama, yaitu
masyarakat adil dan makmur.

Dalam masyarakat Indonesia yang demikian itu, misalnya dicerminkan dalam asas pokok
yang mengatakan bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas
kekeluargaan, soal pemburuhan nanti bukan lagi semata-mata soal melindungi pihak yang
perekonomiannya lemah terhadap pihak yang perekonomiannya kuat untuk mencapai adanya
keseimbangan antara kepentingan yang berlainan, melainkan juga soal menemukan jalan dan
cara yang sebaik-baiknya.

dengan tidak meninggalkan sifat kepribadian dan kemanusiaan, bagi setiap orang yang
melakukan pekerjaan, untuk mendapatkan hasil yang sebaik-baiknya dari tiap pekerjaan yang
sudah ditentukan menjadi tugasnya dan sebagai imbalan atas jerih payahnya itu mendapatkan
penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Oleh karena itu harus diatur dan perlu adanya
suatu ikatan antara pekerja dan majikan.

Masa pembangunan nasional sekarang ini faktor tenaga kerja merupakan sarana sangat
dominan di dalam kehidupan bangsa. Landasan Konstitusional yang mengatur

3
ketenagakerjaan telah dituangkan pada pembukaan dan batang tubuh undang-undang dasar
1945. Perihal isi ketentuan dalam batang tubuh yang ada relevansinya dengan masalah
ketenagakerjaan, terutama ditentukan dalam pasal 27 ayat (2) UUD 1945 yang menyatakan
“tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi
kemanusiaan”.

Di negara kita Republik Indonesia didalam segi kehidupan ketenagakerjaan terbentang


berbagai masalah dan kendala. Misalnya tentang kesenjangan antara semakin
membengkaknya jumlah pencari kerja dengan sedikitnya kesempatan kerja yang tersedia,
kurang tersedianya tenaga kerja yang terampil dan berpengalaman

Bentuk kepastian hukum dan perlindungan hukum bagi tenaga kerja dilakukan melalui
pelaksanaan dan penerapan perjanjian kerja. Karena dengan adanya perjanjian kerja
diharapkan para pengusaha atau majikan tidak lagi memperlakukan para pekerja dengan
sewenang-wenang, memutuskan hubungan kerja secara sepihak tanpa memperhatikan
kebutuhan para pekerja serta ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Di dalam perjanjian kerja diletakkan segala hak dan kewajiban secara timbal balik antara
pengusaha / majikan dan pekerja. Dengan demikian kedua belah pihak dalam melaksanakan
hubungan kerja telah terikat pada apa yang mereka sepakati dalam perjanjian kerja maupun
peraturan perundang-undangan yang berlaku.Suatu perjanjian kerja.

baik dalam bentuk sederhana maupun secara formal. Hubungan kerja sebagai realisasi
dari perjanjian kerja hendaknya menentukan kedudukan masing-masing pihak pada dasarnya
akan menggambarkan hak-hak dan kewajiban-kewajiban pengusaha / majikan terhadap
pekerja secara timbal balik.

Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan Perjanjian Kerja?


2. Apa Ketentuan Hukum Perjanjian Kerja ?
3. Apa saja jenis-jenis perjanjian kerja ?
4. Bagaimana Kewajiban Pihak-Pihak dalam suatu Perjanjian Kerja?
5. Tata Cara Pembuatan Perjanjian Kerja bersama ?

Tujuan Penulisan

4
1. Mengetahui pengertian dari perjanjian kerja.
2. Mengetahui ketentuan hukum perjanjian kerja.
3. Mengetahui jenis-jenis dari perjanjian kerja.
4. Mengetahui kewajiban pihak-pihak dalam perjanjian kerja.
5. Mengetahui tata cara pembuatan perjanjian kerja bersama.

BAB II

PEMBAHASAN

5
A. Pengertian perjanjian kerja

Dalam suatu perjanjian tentunya ada para pihak yang melakukan perjanjian
tersebut. Begitu juga halnya dengan perjanjian kerja, dalam perjanjian kerja pihak-
pihak itu adalah pekerja dan pemberi kerja (pengusaha / majikan). Dalam undang-
undang No. 25 tahun 1997 tentang ketenagakerjaan menyebutkan pekerja adalah
“tenaga kerja yang bekerja diluar maupun didalam hubungan orang atau badan hukum
yang mempekerjakan buruh”. Di sini yang dimaksud dengan buruh adalah pekerja.
Hubungan antara pihak-pihak dalam ketenagakerjaan tidak dapat diserahkan
sepenuhnya kepada para pihak apalagi dalam hal terjadinya permasalahan dalam
hubungan kerja. Tujuannya adalah untuk menciptakan keadilan sosial di bidang
ketenagakerjaan. Karena dapat dipastikan pihak yang kuat akan selalu ingin
menguasai pihak yang lemah.
Atas dasar inilah pemerintah perlu turut serta dalam masalah ketenagakerjaan
melalui peraturan perundang-undangan yang menjadi objek keikutsertaan pemerintah
terutamanya menyangkut keselamatan, kesehatannya, upah yang layak dan
sebagainya. Akan tetapi tentunya pemerintah juga memperhatikan kepentingan
pengusaha yakni kelangsungan perusahaannya.
Menurut Sudikno Mertokusumo, Perjanjian adalah subjek hukum antara dua
pihak atau lebih berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum. Pasal
1313 KUHPerdata mendefinisikan perjanjian sebagai suatu perbuatan dengan mana
satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih lainnya.
Oleh karena itu, pengertian seperti ini mengandung makna dan cakupan yang luas
atau umum sekali sifatnya.
Perjanjian kerja dalam bahasa Belanda disebut Arbeidsoverenkoms, yang
artinya perjanjian kerja. Kemudian dalam pasal 1601 poin a KHUPerdata secara
khusus mendefinisikan mengenai perjanjian kerja.“Perjanjian kerja adalah perjanjian
dimana pihak yang satu si buruh, mengikatkan dirinya untuk di bawah perintahnya
pihak lain, si majikan untuk suatu waktu tertentu, melakukan pekerjaan dengan
menerima upah”.
Dalam Undang-UndangNomor 13 Tahun 2003, menyatakan : Perjanjian kerja
adalah perjanjian antara pekerja/buruh dengan pengusaha atau pemberi kerja yang
memuatsyarat-syaratkerja, hak, dan kewajiban para pihak. Ada pendapat para ahli
tentang pengertian perjanjian kerja, yaitu :

6
Prof. Subekti, S.H. menyatakan dalam bukunya aneka perjanjian, disebutkan
bahwa perjanjian kerja adalah perjanjian antara seorang buruh dengan seorang
majikan, perjanjian ditandai dengan adanya suatu upah atau gaji tertentu yang
diperjanjikan dan adanya suatu hubungan di peratas yaitu suatu hubungan berdasarkan
mana pihak satu (majikan) berhak memberi perintah-perintah yang harus ditaati oleh
pihak lain(buruh).
A. Ridwan halim, S.H. dalam bukunya sari hukum perburuhan aktual,
menyatakan pengertian perjanjian kerja adalah suatu perjanjian yang diadakan antara
majikan tertentu dan karyawan, yang umumnya berkenaan dengan persyaratan yang
secara timbal balik harus dipenuhi oleh kedua belah pihak.
Wiwohosoedjono, S.H. dalam bukunya hukum perjanjian kerja, menyatakan
bahwa pengertian perjanjian kerja adalah hubungan antara seseorang yang bertindak
sebagai pekerja atau buruh dengan seseorang yang bertindak sebagai majikan.
Pakar hukum perburuhan Indonesia, yaitu Prof. R. Iman soepomo, S.H yang
menerangkan bahwa perihal pengertian tentang perjanjian kerja. Perjanjian kerja
adalah suatu perjanjian dimana pihak kesatu, buruh, mengikatkan diri untuk bekerja
dengan menerima upah pada pihak lainnya, majikan, yang mengikatkan diri
mengerjakan buruh itu dengan membayar upah.
Dari pengertian-pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa dalam suatu
perjanjian terdapat dua pihak, dimana hanya satu pihak yang memberikan perintah
sedangkan pihak lain menjalankan perintah tersebut dengan mendapatkan upah.
Kedudukan yang tidak sama ini disebut sebagai subordinasi.
Oleh karena itu adanya perbedaan yang prinsip antara perjanjian umum
dengan perjanjian kerja tidak dapat dipungkiri. Sebab dalam perjanjian pada
umumnya yang membuat perjanjian mempunyai derajat yang sama serta mempunyai
hak dan kewajiban yang sama atau seimbang. Perjanjian kerja juga dikatakan hampir
mirip dengan perjanjian pemborongan yaitu sama-sama menyebutkan bahwa pihak-
pihak yang satu menyetujui untuk melaksanakan pekerjaan bagi pihak yang lain
dengan pembayaran tertentu.

B. ketentuan hukum perjanjian kerja

7
Suatu perjanjian yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu bisa dikatakan
sebagai suatu perjanjian yang sah dan sebagai akibatnya perjanjian akan mengikat
sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Oleh karena itu agar
keberadaan suatu perjanjian diakui oleh undang-undang haruslah sesuai dengan
syarat-syarat yang telah ditentukan oleh undang-undang.
Sebagaimana diatur dalam pasal 1320 KUHPerdata. Ketentuan ini juga
tertuang dalam pasal 52 ayat 1 Undang-Undang No 13 Tahun 2003 tentang
ketenagakerjaan yang menyebutkan bahwa perjanjian kerja dibuat atas dasar :
1. Sepakat kedua belah pihak;
2. Kemampuan atau Kecakapan untuk melakukan perbuatan hukum;
3. Adanya pekerja yang diperjanjikan;
4. Pekerja yang diperjanjikan tidak boleh bertentangan dengan ketertiban
umum, kesusilaan dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Kesepakatan kedua belah pihak yang melakukan perjanjian haruslah
bersepakat setuju dengan tanpa adanya paksaan atau tekanan dari pihak lain. Tidak
adanya kekeliruan atau penipuan oleh salah satu pihak. Oleh karena itu kesepakatan
adalah unsur utama.
Kecakapan membuat suatu perjanjian maksudnya mereka yang dikategorikan
sebagai pendukung hak dan kewajiban adalah orang atau badan hukum. Sedangkan
suatu sebab yang halal maksudnya ialah tidak dilarang oleh undang-undang, tidak
bertentangan dengan kesusilaan dan ketertiban umum.
Dalam suatu perjanjian terdapat beberapa azas, yaitu:
1. Azas kebebasan berkontrak atau open system (freedom of contract).
Azas utama dalam perjanjian adalah azas keterbukaan (open system),
maksudnya adalah setiap orang bebas melakukan perjanjian apa saja dengan
siapa saja. Dalam perjanjian kerja azas kebebasan berkontrak maupun azas
yang utama.
2. Azas konsensual atau azas kekuasaan bersepakat
Maksud dari azas ini adalah bahwa perjanjian itu ada sejak tercapainya kata
sepakat, antara pihak yang mengadakan perjanjian. Artinya yang paling utama
adalah terpenuhinya kata sepakat dari mereka yang membuat perjanjian.
3. Azas kelengkapan atau optimal system
Maksud Azas ini adalah apabila para pihak yang mengadakan perjanjian,
berkeinginan lain, mereka menyingkirkan pasal-pasal yang ada pada undang-

8
undang. Akan tetapi jika secara tegas ditentukan di dalam suatu perjanjian,
maka ketentuan pada undang-undanglah yang dinyatakan berlaku.

C. jenis-jenis perjanjian kerja

Dalam Pasal 56 Undang-undang No.13 Tahun 2003 bahwa hubungan kerja


dapat dibuat dalam suatu perjanjian kerja untuk waktu tertentu dan perjanjian kerja
untuk waktu tidak tertentu.

1. Perjanjian kerja waktu tertentu

Berdasarkan Pasal 56 sampai dengan Pasal 59 Undang-undang No. 13


Tahun 2003 bahwa persyaratan dalam pembuatan perjanjian kerja waktu
tertentu harus memuat unsur-unsur sebagai berikut:

a. Didasarkan atas jangka waktu atau selesainya suatu pekerjaan


tertentu.
b. Dibuat secara tertulis dan menggunakan bahasa Indonesia
c. Tidak boleh ada masa percobaan
d. Dibuat untuk pekerja yang menurut jenis dan sifat atau kegiatan
pekerjaanya akan selesai dalam waktu tertentu.
e. Tidak dapat diadakan untuk pekerjaan yang bersifat tetap

Pasal 59 ayat (1) Undang-undang No. 13 Tahun 2003 menjelaskan


bahwa perjanjian kerja untuk waktu tertentu hanya dapat dibuat untuk
pekerjaan tertentu yang menurut jenis dan sifat atau kegiatan pekerjaannya
akan selesai dalamwaktu tertentu, yaitu:

a. Pekerjaan yang sekali selesai atau yang sementara sifatnya.


b. Pekerjaan yang diperkirakan penyelesaiannya dalam waktu
yang tidak terlalu lama dan paling lama 3 tahun.
c. Pekerjaan yang sifatnya musiman.
d. Pekerjaan yang berhubungan dengan produk baru, kegiatan
baru, atau produk tambahan yang masih dalam percobaan atau
penjajakan

D. Kewajiban Pihak-Pihak dalam Perjanjian Kerja

Hak dan kewajiban antara pihak yang satu dengan pihak yang lainnya
merupakan suatu kebalikan, jika disatu pihak merupakan hak maka dipihak lain
adalah sebuah kewajiban.

1. Kewajiban-kewajiban pihak pekerja/Buruh

9
Dalam KUHPerdata ketentuan mengenai kewajiban buruh/pekerja
diatur dalam pasal 1603, 1203 a, 1603 b, dan 1603 c KUHPerdata yang pada
intinya dari kewajiban-kewajiban pihak pekerja, yaitu:

a. Pekerja wajib melakukan pekerjaannya, melakukan pekerjaan


adalah tugas utama dari seorang pekerja yang harus dilakukan sendiri,
meskipun demikian dengan seizin majikan dapat diwakilkan. Hal ini
mengingat bahwa pekerjaan yang dilakukan oleh pekerja itu sangat
pribadi sifatnya karena berkaitan dengan masalah keterampilan atau
keahlian.

b. Pekerja wajib menaati peraturan dan petunjuk majikan /


pengusaha, aturan perusahaan sehingga menjadi lebih jelas.

Kewajiban membayar ganti rugi dan denda, jika pekerja


melakukan perbuatan yang merugikan perusahaan baik karena
kesengajaan / kelalaian maka sesuai dengan prinsip hukum wajib
membayar ganti rugi. Ada Azas yang menyatakan perbuatan
melanggar hukum dapat menimbulkan ganti rugi (Azas demnum in
iura datum)

2. Kewajiban-kewajiban majikan / pengusaha

Berikut adalah kewajiban-kewajiban majikan / pengusaha, dalam


hukum ketenagakerjaan :

a. Kewajiban membayar upah.

Kewajiban yang utama adalah pembayaran upah sebagai akibat


langsung pelaksanaan perjanjian oleh pekerja. Pembayaran upah ahrus
dilakukan tepat waktu. Pembayaran upah diatur pula jika si pekerja
berhalangan karena alasan tertentu misalnya alasan sakit, menjalankan
cuti, melakukan tugas negara dan lain sebagainya.

b. Kewajiban untuk memberikan istirahat/cuti.

Pihak majikan atau pengusaha diwajibkan untuk memberikan


istirahat kepada pekerja. Seperti istirahat antara jam kerja selama 4 jam
terus menerus dan waktu tersebut tidak termasuk jam kerja. Selain itu
pengusaha juga berkewajiban untuk meberikan cuti tahunan kepada
pekerja secara teratur. Hak atas cuti ini penting, tujuannya untuk
menghilangkan kejenuhan pekerja dalam melakukan pekerjaan.

Dengan demikian, diharapkan gairah kerja akan tetap stabil.


Cuti tahunan yang lamanya 12 hari kerja. Selain itu pekerja juga
berhak atas cuti panjang selama 2 bulan setelah bekerja terus-menerus

10
selama 6 tahun pada suatu perusahaan (Pasal 79 ayat 2 Undang-
Undang No 13 Tahun 2003).

c. Kewajiban mengurus perawatan dan pengobatan

Majikan wajib mengurus perawatan/pengobatan bagi pekerja


yang bertempat tinggal dirumah majikan (Pasal 1602x KUHPerdata).
Dalam perkembangan hukum ketenagakerjaan, kewajiban ini tidak
hanya terbatas bagi pekerja yang tidak bertempat tinggal dirumah
majikan.

Perlindungan bagi tenaga kerja yang sakit, kecelakaan,


kematian telah dijamin melalui perlindungan Jamsostek sebagaimana
diatur dalam Undang-Undang No 3 Tahun 1992 tentang Jaminan
Sosial Terhadap Tenaga Kerja (Jamsostek).

d. Kewajiban memberikan surat keterangan

Kewajiban ini didasarkan pada ketentuan Pasal 1602 a


KUHPerdata yang menentukan bahwa majikan/pengusaha wajib
memberikan surat keterangan yang diberi tanggal dan dibubuhi tanda
tangan. Dalam surat pekerjaan yang dilakukan, lamanya hubungan
kerja (masa kerja)

surat keterngan itu juga diberikan meskipun inisiatif pemutusan


hubungan kerja datangnya dari pihak pekerja surat keterangan tersebut
sangat penting artinya sebagai bekal pekerja dalam mencari pekerjaan
baru, sehingga ia diperlakukan sesuai dengan pengalaman kerjanya

E. Tata Cara Pembuatan Perjanjian Kerja bersama

1. Masa percobaan

Sebelum melakukan perjanjian kerja perusahaan melakukan masa


percobaan atau bisa disebut megang. Tujuan diadakan masa percobaan ini
untuk mengetahui apakah calon karyawan mampu melakukan tugas yang
diberikan atau tidak kepadanya dan untuk mengetahui kepribadiannya.

Apabila menurut penilaian pengusaha karyawan layak untuk


dipekerjakan maka majikan mengangkat calon karyawan menjadi karyawan
dengan membuat perjanjian kerja.

Mengenai masa percobaan kerja pasal 60 jo. Pasal 154 huruf a UU


no.13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan mengatur sebagai berikut :

a. Perjanjian kerja waktu tidak menentu dapat mensyaratkan


perjanjian kerja.

11
b. Masa perjanjian kerja palng lama 3 bulan.
c. Dibuat secara tertulis.
d. Upah yang dibayarkan tidak boleh dibawah upah minimum
yang berlaku.

Dalam kesimpulan tersebut masa percobaan boleh diladakan atau tidak


diadakan dan selama masa percobaan karyawan berhak mendapatkan upah.

2. Yang dapat membuat perjanjian kerja.

Untuk dapat mmbuat perjanjian kerja pada intinya adalah orang


dewasa. Mengenai pengertian orang dewasa ada perbedaan pendapat sebagai
berikut :

a. Menurut KUH Perdata, seorang dianggap dewasa dan


karenanya mampu bertindak dalam lalu lintas hukum, jika berumur 21
tahun ata sudah kawin.
b. Menurut hukum adat, seseorang dapat disebut orang dewasa
apabila sudah akil baliq atau sudah kawin, atau biasanya telah berusia
16 s/d 18 tahun.
c. Menurut hukum perburuhan, seseorang dapat dikatakan dewasa
apabila sudah berumur 18 tahun atau diatas 18 tahun, dimana UU
ketnagakerjaan pasal 1 angka 26 mendefinisikan adalah anak ada;ah
setiap berumur dibawah 18 tahun.

UU ketenagakerjaan dan keputusan menteri tenaga kerja dan


transmigrasi No. KEP0235/MEN/2003 tanggal 31 Oktober 2003 mengatur
hal-hal sebagai berikut :
a. Pengusahan dilarang mempekerjakan anak.

Siapapun dilarang mempekerjakan dan melibatkan anak pada


pekerjaan-pekerjaan terburuk, yaitu :

Segala pekerjaan dalam bentuk perbudakan.


Segala pekerjaan yang memanfaatkan, menyediakan, atau
menawarkan anak untuk pelacuran, produksi pornografi, pertunjukan
porno atau perjudian.
Segala pekerjaan yang memanfaatkan, menyediakan atau
melibatkan anak untuk produksi minuman keras, narkotika,
psikotopika, zat adiktif lainnya.
Semua pekerjaan yang membahayakan keselamatan dan moral
anak.

Ketentuan mengenai pengusaha dilarang mempekerjakan anak


dapat dilakukan pengecualian sebagai berikut :

12
a. Anak yang berumur 13 smpai 15 tahun dapat melakukan
pekerjaan ringan sepanjang tidak menggangu perkembangan
dankeshatan fisik maupun mental dan sosial. Pengusaha yang ingn
mempekerjakan anak harus memenuhi hal-hal sebagai tersebut :

1. Izin tertulis dari orang tua/ wali.

2. Perjanjian kerja antara orang tua atau wali

3. Waktu kerja maksimal 3jam.

4. Dilakukan siang hari dan tidak menggangu waktu


sekolah.

5. Adanya jaminan kesehatan dan keselamatan kerja.

6. Adanya hubungan kerja yang jelas.

b. Anak dapat melakukan pekerjaan untuk mengembangkan bakat


yang diminatinya. Untuk itu pengusaha wajib memenuhi persyaratan
sebagai berikut:

1. Dibawah pengawasan langsung dari orang tua atau wali.

2. Waktu kerja maksimal 3 jam.

3. Kondisi lingkungan kerja tidak menggangu


perkembangan fisik, mental, sosial, dan waktu sekolah.

Pedoman PKB telah diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga kerja dan
Transmigrasi No. 48 tahun 2004. Tahap pertama, pengurus serikat pekerja yang telah
terdaftar dikantor pemerintah setempat mengajukan permintaan secara tertulis kepada
manajemen atau pengusaha untuk berunding merumuskan PKB dilampir dengan
rancangan PKB.

Tahap kedua, perusahaan dan pimpinan serikat pekerja menyepakati tata tertib
perundingan yang antara lain mencakup : tujuan pembuatan tata tertib, susunan tim
perunding, lama masa perundingan materi perundingan ,tempat perundingan , tata
cara perundingan dan cara menyeselaikan bila menemui kesulitan mencapai
kesepakatan.

Tahap ketiga, masing-masing pihak membentuk tim perunding . perundingan


dilakukan secara musyawarah untuk mufakat, tidak secara pemungutan suara.

Tahap keempat, adalah melakukan perundingan .selama perundingan , kedua


belah pihak tidak diperbolehkan melakukan tindakan penekanan atau pemaksaan
seperti ancaman PHK atau pemogokan.

13
Tahap kelima, PKB yang telah ditandatangani kedua belah pihak harus g
didaftarkan ke Dinas Ketenagakerjaan setempat. Disamping itu , pengusaha
mempunyai kewajiban untuk menyebarluaskan PKB melalui tempat atau papan
pengumuman yang mudah dibaca. Demikian juga serikat pekerja berkewajiban
menyebarluaskan isi PKB kepada anggota-anggotanya.

14
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

perjanjian kerja adalah perjanjian yang di dalamnya terdapat pihak-pihak yaitu


pekerja dan pemberi kerja (pengusaha / majikan). Dalam undang-undang No. 25
tahun 1997 tentang ketenagakerjaan menyebutkan pekerja adalah “tenaga kerja yang
bekerja diluar maupun didalam hubungan orang atau badan hukum yang
mempekerjakan buruh”.
Dalam perjanjian kerjanya satu pihak yang memberikan perintah sedangkan
pihak lain menjalankan perintah tersebut dengan mendapatkan upah. Kedudukan yang
tidak sama ini disebut sebagai subordinasi. Dalam hukum perjajian kerja juga tidak
boleh ada paksaan ada dua belah pihak baik pengusaha maupun pekerja yang
dipekerjaan disuatu perusahaan karena sudah ada aturan yang berlaku juga.
Dalam suatu perjanjian kerja juga harus ada Kewajiban Pihak-Pihak yang
mempunyai kewajibannya masing-masing yaitu : Kewajiban-kewajiban pihak pekerja,
Kewajiban-kewajiban majikan / pengusa. Sedangkan Hubungan keduanya juga sudah
diatur oleh undang-undang. Dalam Pasal 1 angka 15 Undang-Undang Nomor 13
Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan disebutkan bahwa hubungan kerja adalah
hubungan antara pengusaha dengan pekerja berdasarkan perjanjian kerja yang
mempunyai unsur pekerjaan, upah dan perintah.
Dengan demikian jelaslah bahwa hubungan kerja terjadi karena adanya perjanjian
kerja antara pengusaha dan pekerja. Saat ini masih banyak pekerja yang tidak
mengerti akan hak dan kewajibannya sehingga banyak pekerja yang merasa dirugikan
oleh pengusaha yang memaksakan kehendaknya pada pihak pekerja dengan
mendiktekan perjanjian kerja tersebut pada pekerjanya.
Para pekerja juga diikutkan dalam program jaminan sosial oleh perusahaan.
Sebagaimana yang diatur di dalam ketentuan Kep No. 150/Men/1999 tentang
Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja Bagi Tenaga Kerja
Harian Lepas, Borongan dan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu. Para pekerja sangat
penting untuk mempelajari dan memahami isi dari kontrak kerja sebelum
menandatangani atau menyetujui kontrak. Jika dalam klausul perjanjian kerja
dinyatakan bahwa pekerja kontrak diikutsertakan dalam program jaminan sosial

15
tenaga kerja, berarti perusahaan hanya memberi fasilitas sesuai dengan standar
jamsostek dan bukan standar penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan dengan
manfaat yang lebih baik.

Dengan demikian segala perselisihan yang ada antara pekerja dan perusahaan
seharusnya dapat dihindari, karena kesemuanya sudah diatur dalam undang-undang
dan ke dua belah pihak berkewajiban untuk mematuhinya agar tercipta suanana yang
saling menguntungkan antara pekerja dan pengusaha

16
DAFTAR PUSTAKA

Abdulkadir, Muhammad. 1980. Hukum Perjanjian. Bandung : Alumni.


Djumadi, S.H., M. Hum. 2004. Perjanjian Kerja. Banjarmasin: PT. Rajagrafindo Persada,
Husni Lalu, S.H., Hum. 2000. Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia.Mataram: PT.
Rajagrafindo Persada
Subekti R. 1995. Aneka perjanjian. Bandung: PT Citra Aditya Bakti.

Laman internet:
www.suduthukum.com/2017/07/jenis-perjanjian-kerja.html

17

Anda mungkin juga menyukai