Anda di halaman 1dari 45

STATUS NEUROLOGIS

�llJM

ntuk menilai tingkat kesadaran dapat dilakukan secara kuantitatif dan


alitarif. Penilaian secara kualitatif dapat digunakan GCS (Glasgow Coma Scale';
yairu dengan memperhatikan atau rnenilai respon pasien terhadap rangsangan yang
diberikan. Respon pasien yang perlu diperhatikan mencakup tiga ha! yaitu:

Eye (Respon Verbal (Respon Bicara) Motoric (Respon Gerakan)


membuka mata)
4: Membuka 5 : Orientasi baik (dapat
Mata 6 Mengikuti perintah
Spontan menjawab dengan (misalnya, suruh "angkat
kalimat yang baik tahu tangan")
waktu, hari, bulan)

11 : Mernbuka mata 4 Bisa bicara dalam 5 Dapat melokalisir nyen


dengan perintah kalimat tapi ditemukan ketika diberikan rangsang
tf;r��tasi/ bicara nyen

2
dengan
Membuka mata
rangsang
3� Kata-kata
teratur (tidak
--
tidak
berupa
4 : Reaksi mcnghindar ketika
diberikan rangsang nyeri
nyen kalirnat dan tidak tepat)
,.,
l : Tidak ada respon 2 Suara tidak jelas/ .1 Reaksi fleksi/dekortikasi ,
(pasien tidak n�ngerang pada siku ketika diberikan
mernbuka mata rangsang nyeri dan dapat
dengan rangsang disertai fleksi spastik pad a
nyeri) pergelangan tangan.
·-·-----
l : Tidak ada respon 2 Reaksi
• ekstensi/deserebrasi ketika
l
diberikan rangsang nyeri dan
selalu disertai fleksi spastik
pada pergelangan tangan.
1 : Tidak ada respon terhadap
� rangsang nyeri
""
lnterpretasi GCS_�Kompos Mentis : 15
� Koma :<7

1
-
Responds to Responds to No response = 1
speech= 3 pain= 2

-
��

�1
Withdraws = 4

���l
Obeys commands Abnormal Abnormal No
=6 Flexor = 3 Extensor = 2 response
Response Response = 1

Confused "1968" = 4
lnappropiate words = 3
"my dog"
Incomprehensible sounds = 2
No response = 1

Oriented= 5 FIG. 1
(Prior Art)

Gambar l respon pada pemeriksaan GCS

5�
Pasien tampak gaduh gelisah, kacau
disorientasi, berteriak dan aktivitas
.,,.,-
motorik meningkat
en Keadaan mengantuk, dapat pulib
penuh jika dirangsang
Penderita rnerasakan kantuk yang
N .} tf\t--u u
[=) 1,,
dalam dan rnasih dapat dibangunkan
dengan rangsang yang kuat namun,
_
_; t·-fV.5 k· kesadarannya segera menurun lagi
(respon terhadap verbal samar, respon
terhadap nyeri namun tidak dapat
sadar sempurna)
Tidak ada respon terhadap rangsang
Koma ringan
Pg ij Al if �r\ -r verbal, hanya terhadap rangsang nyeri
h�) berupa gerakan. Namun, pasien tidak
dapat dibangunkan
Koma dalam Tidak ada gerakan spontan meskipun
dengan rangsang nyeri dan rangsang
verbal.

2) Kaku Dekortikasi
Postur dekortikasi adalah t1eksi pada ektremitas atas dan ekstensi pada ektremitas
bawah.Cara pemeriksaan kaku dekortikasi
Interpretasi : Adanya kaku dekortikasi menunjukkan terdapat lesi di atas red nucleus
dan terjadi gangguan pengaruh kortikal.

�f� .
\ �
[;) --/-- {.." r-; ( {
,�)-
'--
1,· ' I
t
)Ji-- ,v, (.A ('/, f.cc, c/\ �. .
) x ' -, ·1 ' l_ •
k-', --( ( d . /": _r, '
>

l ------ ,.· f,::c:!


,___ __

--�'
l
- --·- . -, . � �..-�----·

Garnbar 2 Kaku dekortikasi


fl:.) I
{�"'.
('. )

\.'.


'Pf, r
� _\
"-
.\ C' I : ,.,.,.,
r,

- l(, r..·' ·q 'rx' ( ,_, +


I ; .
r11,t,r'
·1

- 3
3 Refleks Leber Tonik (Magnus-Dekleijin)
Cara pemeriksaan refleks leher tonik adalah dengan mernberikan stimulus yaitu
kepala diputar ke samping. Respon yang didapat berupa lengan dan tungkai yang
dihadapi menjadi hipertonik dan dalarn posisi ekstensi, sedangkan lengan dan tungkai
dibalik wajah menjadi hipertonik dalam sikap tleksi.
Interpretasi : Retleks ini dijumpai pada orang-orang dengan demensia, proses desak
ruang intrakranial, paralisis pseudobulbaris dan sebagian penderita sindroma post
stroke.

Tonic
neck
reflex

Gambar 3Posisi tonic neck refleks

4) Pergerakan Mata BonekalQ)ol/'s Eye)-, 15.Vh·i.9-o<V- j)::: (:-). �,f<


'� C"--... ----
rtv. k ?(9 �r--(ip .

Pemeriksaan doll's eye adalah untuk menentukan apakah terdapat disfungsi batang
otak atau tidak. Sebelum melakukan manuver ini hendaknya disingkirkan terlebih
dahulu kemungkinan adanya cedera servikal. Cara melakukan pemeriksaan fenomena
mata boneka adalah sebagai berikut : 1-c:1
vvJ IJ..("" ,...::::__ v.:..c,,.. •
a. Kelopak mata dibuka / "C€V '-' :� �o_.v,:;:i <"" .9 ,.,. , v,_
b. Kepala diputar dari samping kiri ke samping kanan dan sebaliknya, dan kemudian
ditekuk dan ditengadahkan.

.�
Gambar 4 Dolt's eye phenomenon

�· ,
-
� �',

.: ) __ (
\1:
.... • ...

....... .'
.
..
·,, . .,.,
'
.,,..
1,'rfil'.,
A

,a -
v ,·:- , .� �

-
(
\}t, �- -t-!)
. . . �
-- -
.: 1
,-...
4
:""" ;...: . ·-·,.•.: ... ·
ea si positif :
Pada pemutaran kepala ke kanan mata berdeviasi ke kiri dan sebaliknya mata akan
berdeviasi ke kanan bila kepala diputar ke kiri.
Mata berdeviasi ke atas bila kepala ditleksikan pada leher dan sebaliknya mata akan
berdeviasi ke bawah bila kepala diekstensikan.
Mata kemudian akan cepat kembali ke sikap semula walaupun kepala masih dalam
sikap rerpurar arau terfleksi. Bila pasien dapar melakukan gerakan ini, menunjukkan
bahwa fungsi saraf krani_afo__l!_Ld�!! VI (horizontal) atau.Ill.daa.Iv.tvectikan.serta
fasikulusJongitudinalis_L11edialis (penghubung N_ l ll danlV) dalam keadaan intak.

Reaksi negatif :
Bola mata tidak bergerak atau gerakannya asimetris. Hal ini dapat dijumpai pada
kerusakan pontin mesensefalon.
5) Deviation Conjugee
Deviation Conjugee adalah mata melirik ke satu arah saja dan tidak dapat dilirkkan
kc arah lain.
Interpretasi : L�!.31 dapat mengakibatkan deviation conjugee lesinya iritatif
atau paralitik. Lesi Irnat1f mata dilirikkan ke arah kontralateral sedangkan pada lesi
kortikal mata dilirikkan ke arah lesi.
6) Krisis Okulogirik
Krisis Oku\ogirik ada\ah kedua bola mata melirik ke s�\ah satu sisi biasanya selama
beberapa menit tetapi adakalanya berlangsung sampai beberapa jam. Krisis okulogirik
ini merupakan suatu gangguan pada distonia akut. Krisis okulogirik ini biasa muncul
pada penderita parkinson akibat encefalitis..'

5
Kranium
--
Bentuk Dari inspeksi dapat dilihat kelainan bentuk tengkorak apakah
\11\,:.,«.•7,'-if' normal, makrosefali atau mikrosefali. Dari inspeksi bisa dilihat
f'i.'"'O'") B \.""-"' · -- ---
seperti adanya penonjolan pada daerah frontal misalnya tarnpak
pada hidrosefalus, penonjolan parietal bisa tampak pada proensefali
dan penumpukan cairan subdural. Pada stenosis akuaduktal, fossa
posterior cenderung menjadi kecil.
Fontanel Pada bayi dengan penonjolan fontanel dapat diketahui jika terjadi
peningkatan TIK. Normalnya fontanel bayi adalah datar a tau
sedikit cekung dan berdenyut. Namun bayi normal dapat
menunj ukkan penonjo Ian fontanel saat menangis a tau berbaring.
Karenanya fontanel harus dipalpasi saat bayi duduk tenang.
Kelainan yang dapat menyebabkan penonjolan fontanel adalah
hcmatoma subdural kronis, hidroscfalus, tumor basal dan
sejenisnya.
Perkusi Pada kasus penimbunan abnormal cairan, perkusi kepala
mengakibatkan suara resonan abnormal (tanda Mac.Ewen).
Pemeriksaan dapat dilakukan dengan cara ketuk kepala pasien dan
perhatikan bunyi yang timbul serta rasa sakit yang dikeluhkan.
Interpretasi : perkusi ini berguna untuk menentukan adanya tumor
atau peradangan sinus. Selain itu perkusi juga dapat dilakukan
untuk melihat adanya tetani.
Transilurninasi Lesi intrakranial dan ekstrakranial yang menyebabkan
transiluminasi positif adalah edema scalp, sis ta arakhnoid,
penirnbunan carran subdural, hidranensefali, proensefali,
hidrosefalus berat dan sista dandy-walker.
Simetris Dari inspeksi dapat dilihat bentuk kepala apakah simetris a tau
tidak.
Kedudukan lnspeksi apakah kedudukan kepala normal atau miring. Disposisi
kepala terjadi pad a kelainan vertebra servi kal is. Kepala yang
miring dapat pula terjadi untuk mengkompensasi rasa yang tidak
enak yang timbul akibat abses atau furunkel pada leher.
Palpasi Dari palpasi dapat diketahui fontanel menonjol, cekung a tau
tcrtutup, adakah tumor (konsistcnsi, ukuran, mobilitas), dcnyut atau
getaran dan ada atau tidak nyeri tekan.
Auslcultasi Anak normal dan hidrosefalus, bruit yang lemah normalnya dapat
di den gar.

6
RIKS/\/\N KHUSUS
ng ang Selaput Otak �s """j

Bila selapur otak meradang misalnya pada meningitis atau pada ruang subaraknoid
terdapat benda asing misalnya darah pada perdarahan subarakhnoid, maka hal ini dapat
merangsang selaput otak dan terjadi iritasi pada selaput otak (meninges). Manifestasi
subjektif dari keadaan ini ialah keluhan yang dapat berupa sakit kepala, kuduk terasa kaku,
fotofobia (takut cahaya, peka terhadap cahaya) dan hiperakusis (peka terhadap suara).
Gejala lain yang dapat diternukan adalah sikap tungkai yang cenderung mengambil posisi
fleksi dan opistotonus (kepala dikedikkan ke belakang dan punggung melengkung ke
belakang, sehingga pa ien berada dalam keadaan ekstensi) karena terangsangnya otot-otot
ekstensor kuduk dan punggung. Pemeriksaan rangsang selaput otak dapat di lakukan

\\VtlVV'b'I 1
1?2f . :,r:t-rol<e
sebagai berikut : l)i;>.q,,:;tC(r\,'\Ol[). f
.>
S

Kaku kuduk Cara pemeriksaan :


tNuchul Rigidity) - Tangan pemeriksa ditempatkan di bawah kepala pasien yang
sedang berbaring
- Kepala difleksi dan diusahakan dagu mencapai dada
- Selama difleksikan perhatikan adanya tahanan .--
Interpretasi : kaku kuduk (+) jika didapatkan � dan dagu
tidak dapat mencapai dada. Pada kaku kuduk oleh rangsang
selaput otak tahanan didapatkan bila kita menekukkan kepala,
sedangkau bila kepala di rotasi biasanya clapat dilakukan deugan
mudah

Kernig Sign Cara pemeriksaan :


tr-,-q:.
- Penderita yang sedang berbaring difleksikan pahanya pada
ro.v�y;; v.l <') o � persendian panggul sampai membuat sudut 90°.
l.,v.\.,....\- ",o 1, - Tungkai bawah diekstensikan pada persendian lutut. Biasanya
10"'.) �· L+) ekstensi dapat mencapai sudut 135° antara tungkai bawah dan
tungkai atas.
Interpretasi :
Kernig Sign (+) bila terdapat tahanan clan rasa nyeri sebelum
mencapai sudut 135°.
Kernig sign positif pada kelainan rangsang selaput otak, iritasi akar
lumbosakral atau pleksusnya (misalnya pada HNP-lurnbal). Pada
meningitis biasanya positif bilateral, sedangkan pada HNP dapat
unilateral.

7
T...t.a La.segue Cara pemeriksaan :
,I Pasien diminta berbaring lurus dengan kedua tungkai
diekstensikan
- Satu tungkai diangkat lurus dan dibengkokkan atau dif1eksi
pada persendian panggulnya dan tungkai yang satunya harus
tetap dalam keadaan lurus
Interpretasi : �
- Normal-s tungkai dapat mencapai sudu�ebelum timbul
rasa sakit dan tahanan.
suctu(;-�an
- L�segue (+) t�rdapat tahanan sebelum mencapai
biasanya dijumpai pada rangsang selaput otak, iritasipleksus
lumbosakral (HNP-lumbalis).

Brudzinski 1 Cara pemeriksaan :


. '\O)v, I ·-7 \),� - Tangan ditempatkan di bawah kepala pasien yang sedang
·\c�\.t;,
berbaring. Tangan yang satunya lagi ditempatkan didada
. tq" ·l. ...,, c\.� i\ " °'-&ie.. pasien
• \<:°("'\"" �"'tL S,/s) 11ct.llc..
- Tekukkan kepala sejauh mungkin sampai dagu mencapai dada.
lnterpretasi: -�
- Normal jika tidak terjadi fle i ada kedua !�Dg�i
- Brudzinski (+) jika fleksi pada kedua tungkai
Brudzinski 2 Cara pemeriksaan : ,
/
\"':)� - Pada pasien yang sedang berbaring satu tungkai difleksikan
lc.c�\�p;,,\. pada persendian panggul dan tungkai yang kontralateral berada
\",::.I.A\-
,ti Q.,l<-Y\
dalam keadaan lurus
Interpretasi :
- Nonna! : .Jika tungkai yang konrralateral tidak ikut fleksi.
- Brudzinski (+) jika tungkai yang kontralateral ikut fleksi.
Brudzinski 3 Cara pemeriksaan :
t,,i; . p, {,
- Menekan Os. Zygomaticum l P•?•) ·
lnterpretasi :
- Normal jika tidak terjadi fleksi pa a kedua tangan _JJ 0 r2
- Brundzinski (+) jika terjadi tleksi pada xeoua rangan
Brudzinski 4 Cara pemeriksaan :
- Menekan simpisis ossis pubis
Interpretasi :
Nonna I jika tidak terjadi fleksi pada kedua tungkai
Brundzinski ( +) j ika terjadi fleksi pada kedua tungkai

8
_, Pemeriksaan Saraf Otak (Nervus Cranialis)
�o Saraf Otak Cara Pemerlksaan/ Interpretasi
(Nervus
Cranialis)
1. N. Olt'aktorlus Tujuan pemerlksaan : untuk mendeteksi adanya gangguan
(N I) penghidu dan juga untuk menentukan apakah itu disebabkan oleh
gangguan saraf atau penyakit hidung lokal.
Cara pemeriksaan :
- Periksa lubang hidung apakah ada sumbatan atau kelainan
setempat misalnya mgus atau polip karena hal 1111 dapat
mengurangi ketajaman penciuman. Zat pengetes yang
digunakan sebaiknya zat yang dikenal sehari-hari misalnya
kopi, teh, tembakau, jeruk dan jangan menggunakan zat yang
merangsang mukosa hidung seperti mentol, alkohol dan
amoniak.
- Tiap hidung diperiksa satu persatu dengan cam menurup salah
satu lubang hidung dengan tangan kemudian zat pengetes
didekatkan pada hidung pasien dan disuruh untuk
menghidunya.
Interpretasi :
- Normosmia adalah mampu rnenghidu dengan tepat
- Anosmia adalah Hilangnya daya penghidu
- Hiposmia adalah daya penghidu kurang tajam
- Parosrnia adalah terhidu bau yang tidak sesuai
- Kakosrnia adalah mirip parosmia tapi selalu diidentifikasi
sebagai bau yang tidak menyenangkan
- Halusinasi olfaktorik adalab terhidu sesuatu tanpa adanya
perangsangan
2. N. Optikus (N Jika pasien tidak mempunyai keluhan yang berhubungan dengan n.
fl) II dan pemeriksa juga tidak mencurigai adanya gangguan, maka
. ,.(). .l"'w- p' l,:1,.f,.. biasanya dilakukan pemeriksaan n II (ketajaman pengelihatan dan
, JAL�1,t.{) lapangan paudang) secara kasar. Akan tetapi bila diteruukan
- l ? 'IO c<v-oy•v
·- kelainan harus dilakukan nemeriksaan
� yang lebih teliti. Selain itu,.
P',.,,_,..p.� · juga dilakukan pemeriksaan oftalmoskopik sebagai perneriksaan
rutin dalam ncurologi.
Pemeriksaan terdiri dari :
- Visus (ketajaman pengelihatan) dapat dilakukan dengan snellen
chart dan secara kasar diperiksa dengan jalan membandingkan
ketajaman pengelihatan pasien dengan pemeriksa dengan syarat
mata pemeriksa harus normal. Pemeriksaan dapat dilakukan
dengan cara yairu pasien disuruh mengenali benda yang
letaknya jauh (rnisalnya jam dinding dan diminta menyatakan
pukul berapa) dan diminta membaca huruf-huruf yang ada

9
dibuku atau koran. Normal jika ketajaman mata pasien sama
dengan pemeriksa. Bila terdapat gangguan ketajaman
pengelihatan disebabkan gangguan oftalmologik dapat
dilakukan pemeriksaan secara kasar menggunakan kertas yang
berlubang kecil (pinhole). Jika huruf semakin jelas melalui
lubang kecil huruf bertambah jelas, maka mungkin terdapat
gangguan refraksi.
Interpretasi :
• Pengelihatan jauh normal 5/5 a tau 6/6
• Abnormal jika:
,/ Menghitungjari padajarak 1 meter: VOS-D: 1/60
../ Mengenal gerakan tangan: VOS-D: 1/300
,/ Mengenal cahaya: VOS-D: 1/-
,/ Tidak mampu mengenal cahaya : VOS-D: 0
Kampus (pemeriksaan 1�.LJ.ill?.�O£illL.Qll.Jlilll-JJ.£) secara kasar
dengan cara membandingkan dengan kampus pemeriksa yang
dianggap normal yaitu dengan metode konfrontasi dengan cara
sebagai berikut:
• Pasien diberi penjelasan mengenai tes
• Pemeriksa duduk berhadapan dengan pasien dimana
kcdudukan mata kcduanya sama tinggi
Fiksasi mata pasien dengan meminta melihat ke mata
pemeriksa. Jika mata kanan yang diperiksa maka pasien
melihat kemata kiri pemeriksa. Tutup mata yang tidak
diperiksa dengan menggunakan tangan. Jika �.
memeriksa mata kanan maka mata kiri penderita hams
ditutup dan sebaliknya.
• Pemeriksa rnenggerakkan Jan tangannya dibidang
pertengahan antara pemeriksa dan penderita. Gerakan
dilakukan dari arah luar ke dalam dan dari semua jurusan
serta masing-masing mata harus diperiksa. J ika pasien
melihat jari pemeriksa maka harus diberi tahu dan
dibandingkan dengan pemeriksa.
LI� k:; • Bila ada gangguan kampus pengelihatan maka pemeriksa
l�f'Cl\et�"':- akan terlebih dahulu melihat gerakan tersebut.

--
�. Interpretasi
G (,,,;+ercd 0o-w/'
• Lapangan pandang normal mempunyai bentuk tertentu dan
0 dd.�'!-{ tidak sama ke semua jurusan misalnya ke lateral kita dapat
melihat 90-100° dari titik fiksasi, ke medial 60°, ke atas 50-
600 dan kebawah 60- 75°.
Hemiapnosia adalah dt.!fek_ps;nge.lihatan atau kebutaan pada
seluruh lapang pandang pada satu atau kedua mata. Pada

10
pengelihatan hemiapnosia ( bitempo�te1j adi kehilangan
pengelihatan pada sebagian hnrr-tlan kedua lapang pandang
kanan dim kiri dan ini biasanya disebabkan oleh karena adanya
lesi pada ciasma optikum. Untuk menentukan adanya
hemiapnosia 61sa digunakan pemeriksaan lapangan 'paridang,

fd -
kampimeter dan perimeter.
fco t- k t.s:
.. L/ c CC(o.(.
..... . , ,',!!


I 1,
' ' '
I \
(
�-- ·, .
t t .·1
I
I l•t,
!_- ..
.,
� •. I\
.. I

r�V:,
C . e:.�i--- 1
e!' dv'o�"
'P��
'
Gambar 5 Hemiapnosia
t• c}u q � t/L-or .
,z,p
0 ttufl� \
ct?
Melihat warna : dapat diperiksa menggunakan tes ishihara
- Skotom adalah bidang atau bercak di dalam kampus yang tidak
dapat dilihat. Untuk pemeriksaan skotoma dapat digunakan
kampimeter dan layar byerrum.
- Pemerlksaan fundus adalah untuk melihat retina dan papil N
II. Biasanya perhatian dokter saraf tertuju pada perubahan papil.
Papil adalah tempat serabut nervus II memasuki rnata. Yang
perlu diketahui adalah apakah papil normal atau mengalami
atrofi primer atau sekunder. Selain itu perlu juga diperhatikan
bangunan lainnya �� retina. Perneriksaan fundus
ini menggunakan\oftalmosko_p__.yaitu dilakukan pemeriksaan
pada kamar gelap, � merneriksa mata kanan pasien
sebaiknya digunakan mata kanan pemeriksan dan oftalmoskop
dipegang dengan tangan kanan, demikian juga halnya bila
memeriksa mata kiri. Pasien disuruh melihat jauh kedepan dan
fiksasi mata pasien menggunakan benda yang terletak jauh
didepan. Pasien tidak boleh menggerakkan bola rnata namun
boleh mengedipkan mata. Bila melihat melalui oftalmoskop
biasakan kedua mata pemeriksa terbuka dan konsentrasikan
perhatian pada mata yang sedang diperiksa. Semakin dekat mata
anda pada oftalmoskop dan semakin dekat oftalmoskop pada
mata pasien sernakin luas daerah fundus yang terlihat.
J nterpretasi :
• Papi! normal : bentuk lonjong, wama jingga muda, dibagian
temporal sedikit puca, batas dengan sekitarnya (renna) tegas,
hanya dibagian nasal agak kabur, selain itu didapatkan

11
lekukan fisiologis (physiologic cup). Pembuluh darah muncul
ditengah, bercabang ke atas dan ke bawah, jalan arteri agak
lurus, sedangkan vena berkelok-kelok.
• Papi) atrofi primer : warna papil menjadi pucat, batas tegas
dan pembuluh darah berkurang.
• Papi] atrofi sekunder : warna papil juga pucat tetapi batasnya
tidak tegas.

.3,.
Gambar <5...J'11p Dnd dish ratio
Top right photograph of' a
normal nerve head with larger
than normal cup and loss of
upper rim of disc. The bottom
right with large cup/disc ratio
due to substantial glaucoma
damage.

3. N. Cara pemeriksaan :
Oculomotorius )
Ketiga saraf otak ini diperiksa bersama-sama, karena kesatuan
Trochlearis fungsinya yaitu mengurus otot-otot ekstrinsik dan intrinsik bola
dan Abdusen mata. Otot bola mata yang disarafi oleh N III, IV dan VI:
(N Ill, IV, VI) Kedudukan bola mata diperiksa dengan cara perhatikan apakah
\::de.�" I!:, e( ,II�: kedudukan bola mata menonjol (eksoftalmus) atau seolah-olah
,) """"'"'jo'I/ masuk ke dalam (enoftalmus). Selain itu perhatikan posisi bola
.i.) S'\-n;;d?IP�vs. mata pada saat sedang istirahat. Bila satu otot lumpuh
l * )·-1> �c,.A-11,<.o.,- mengakibatkan kontraksi atau tarikan yang berlebihan dari otot
��...,,.«;.·. antagonisnya dan menyebabkan strabismus. Strabismus
") ,
� (mata yang lumpuh melirikke medial) dan
'2,1� \Jo\�
�:S� (mata yang lumpuh melirik ke lateral). dwt2ri::,rei' 1
··1e.,; J0 \� Pergerakan bola mata ialah gerak tekonjugasi yaitu gerak bola I (I\'- .
'.:)Cf.r'I· mata kiri dan kanan selalu bersarna-sama, dengan sumbu mata
yang kira-kira sejajar. Untuk merneriksa gerakan bola mata
pasien disuruh mengikuti jari-jari perneriksa yang digerakkan
ke arah lateral, medial atas dan bawah serta ke arah yang
miring yaitu atas lateral, bawah medial, atas medial dan bawah
lateral. Selain itu perhatikan juga gerakan bola matanya apakah
lancar dan mulus, kaku atau adanya nistagmus. Dikatakan
terjadi gangguan jika ada ketidakmampuan dalam

12
( :_ .

-c
-I,! --
<'

menggerakkan bola mata secara terkonjugasi ke satu arah atau


lumpuh lirik. Pada lesi akut satu hemisfer (stroke iskemik atau
stroke hemoragik) sering ditemukan.kelumpuhan melirik Y<'!!,lg .P
--
terkonjugasi ke arah kontralateral (deviation conjugee).
lnterpretasi :
. (\

• Kelumpuhan N Ill : rnata tidak bisa melirik ke arah bola j


mata tidak bisa melihat ke atas dalam dan luar, medial dan
ke bawah luar
[
w ' (I) \r,,,µ...,.,..l.,,,. 9etlo< ,.J
J
V\ :(k) ��c,1 .
• Kelumpuhan N lV : mata tidak bisa melirik ke arah bawah .t
dalam. ·<
• Kelumpuhan N VI : mata tidak bisa bergerak ke arah lateral 1 Js
G
abduksi �'-..i
j
6
• ' .. ,,•.11.-,· 1.,.,,,/j;.1
.J
r
i'

� \I
�, ..... :1 •.
·{ ,. � :.. ··, ,: , ... . ,,. J
-+-
'r.•,l 'I ',I:•
9I j
i
,,...
s.
Gambar 7 gerak bola mata
.:cas 'N

.J

l
l I

- ( Nistagmu · dalah �rak bolak balik \2.9.@_mat£!...ilwQl.Ynt�r dan ..'\

�""�:
1i�m �· Pemeriksaan nistagrnus dilakukan waktu memeriksa 2 \,-£'
! , \, ,· r.', I, _,., (. e.p"t .
'gerakan bola mata. Waktu memeriksa gerakan bola mata barns ,.__
diperhatikan apakah ada nistagmus. Untuk maksud ini =1
i. ·�t- (:(re. ... -•. .
.3. u rii�-., la. ....... h t-. penderita disuruh terus untuk melirik ke satu arah (misalnya ke �
kanan, kiri, atas dan bawah) selarna jangka waktu 5-6 detik.:...
Jika ada nistagmus ini akan terlihat dalam jangka waktu
tersebut. Jika ada nistagmus yang harus diperiksa adalah :
� Jeni. )eralqmn : Penduler (gerak bolak balik yang sama
cepat) jerk nistagmus gerak bolak balik yang ada
komponen cepat dan lamba dapat horizontal, vertikal atau
rotatoar)
• Bidang gerakannya : horizontal, vertikal, rotatoar atau
campuran
• Frekuensi ( cepat atau lam bat)
• Amplitude (besar atau kecil, kasar atau halus)
• Arah gerakannya yaitu dari arah komponen cepatnya. Bila
dikatakan nistagmus horizontal kanan, ini berarti komponen
\ cepatnya ialah ke horizontal kanan. Sebetulnya lesi berada
di arah komponen larnbatnya karena komponen lambat
\
inilah yang esensial pada nistagmus
• Derajatuya : Derajat I (nistagmus tirnbul bila rnelirik ke
6)· i-wfi be� k� · 13
©' 'tfl'l-i'vv- \'�\,IA e Co� -

@ Lt\9 C.U' v fl\ ce(o V\


arah komponen cepat); Derajat 2 (nistagmus juga ada pada
saat melihat ke depan); Derajat 3(nistagmus ada bila melirik
ke arah kornponen larnbat)
• Lamanya : apakah menetap (permanen), atau berlalu
(rnenghilang setelah beberapa waktu, hari atau minggu)
Interpretasi :
• Nistagmus vestibuler : nistagmus yang disertai rasa pusing
(vertigo) pada kernsakan di labirin terjadi nistagmus dengan
kornponen cepat ke arah kontralateral dari lesi, tidak rnenetap
dan menghilang setelah beberapa waktu.
• Nistagmus sentral : dapat menetap atau menghilang sifatnya
dapat bersifat horizontal, vertikal atau rotatoar. Nistagmus
vertikal menunjukkan adanya lesi dibatang otak yaitu di daerah
mesensefalon atau medula oblongata. Nistagmus horizontal
dapat terlihat pada lesi di tegmenturn pons dan mesensefalon.
Nistagrnus sikap ialah nistagrnus yang terjadi atau bertarnbah
hebat pada posisi tertentu dari kepala
Celah mata :perhatikan ada tidaknya ptosis biasanya celah
mata pada ptosis akan lebih kecil dibandingkan mata yang
- �
normal.
Ptosis adalah k�lopak mata terjatuh atau mata tertutup dan
tidak dapat terbuka yang disebabkan oleh kelumpuhan m.
Levator palpebrae.

) .
,. :·· ..

. , . ,.,. .
• . 1

Garnbar 8 Pengukuran celah rnata

Interpretasi terjadi kelurnpuhan total jika kelopak rnata sama


sekali tidak dapat di angkat dan mata tertutup. Pada kelumpuhan
ringan bandingkan kedua celah rnata rnana yang lebih kecil
biasanya pada sisi yang lumpuh terlihat celah rnata lebih kecil dan
kadang dahi terlihat dikerutkan untuk mengkompensasi
menurunnya kelopak mata.

14
s O ·o Pupils equal and react normally

0 0
Pupils react to light (slowly or blriskly)

0 0 , Dilated pupil (compressed cranial nerve Ill)

0 0 Bilateral dilated, flxod (ominous sign)

0 0 Pinpoint pupils (pons damage or drugs)

Gambar 8 benruk dan reaksi pupil pada parese N TTl

Pupil : Pada pemeriksaan pupil perhatikan pupil pada mata


kiri dan kanan, apakah sama �' atau tidak sama
(anisokor). Perhatikan juga bentukpup]! apakah bu lat dan rata
tepinya (normal) atau tidak. Bila pupil mengecil (miosis) ha!
ini diperantarai oleh otot polos yang mengecilkan pupil yaitu
&-·· pupilokonstiktor yang diperantarai oleh serabut para simpatis
dari N llI sedangkan otot yang membesarkan atau melebarkan
pupil (midriasis) adalah pupilodilator disarafi oleh serabut
�ari torako lumbal. Besarnya pupil di pengaruhi oleh
banyak faktor terutama int�n.sitas cahaya. I.nterpr�:
• Nonna! : bentuk bulat, isokor dengan d1amete�m ( <2
mm: miosis dan >4mm: midriasis)
Refleks pupil (reaksi cahaya pupil) terdiri dari:
Cara pemeriksaan Refleks cahaya langsung dan tidak Jangsung
adalah dengan memfiksasi mata pasien dan disuruh melihat
}_auh dan kemudian mata disenter atau diberi cahaya.
(9) Reaksi cahaya langsung adalah ketika pupil disinari dan
normalnya terjadi reaksi pada pupil maka RCL (+).
�) Reaksi cahaya tidak langsung (konsensuil) adalah ketika
mata yang satunya disinari perhatikan mata yang tidak
disinari apakah pupil rnengecil atau tidak. Normalnya mata
yang tidak disinari pupilnya juga ikut bereaksi atau
mengecil maka RCTL (+).
• Reaksi pupil akomodatif dan konvergensi adalah suruh
pasien melihat jauh ke arah jari tangan pemeriksa, kemudian
jari pemeriksa mendadak didekatkan ke hidung pasien.
Kernudian perhatikan kedua mata, normalnya bola mata

15
akan melihan ke medial dan terjadi pengecilan pupil
(miosis).
• Reaksi pupil Markus-Gunn adalah dilatasi pupil secara
paradoksal (defek aferen pupil). Disrupsi lengkung aferen
refleks cahaya pupil dideteksi dengan tes penyinaran indirek
untuk memeriksa nervus cranial ll.
Tes Warternbe.[: Pemeriksaan ini dilakukan pada miastenia
gravis untuk memperjelas ptosis dengan cara pasien disuruh
menatapkan kedua matanya pada sesuatu yang berada sedikit
lebih tinggi dari matanya. Interpretasi pada ptosis miastenik
kedua kelopak mata atas akan lebih tinggi dari matanya dan
akan menurun 1-2 menit setela.h menjalani tes tersebut.

4. N. Trigeminus Perneriksaan terdiri dari: _


(N. V) Motorik untuk ot pengunyah"-
Cara pemeriksaan �,.;...,.,..,-,+;rt'lli
mungkin dan kemudian kita raba m. Masseter dan m.
r,,['r,� 4'"1) ·)VV'II·� �r
Temporalis. Perhatikan besarnya, tonus serta kontur
-I \�v· o,A,<; (be� nya. Kemudian pasien disuruh membuka mulutnya
� 1.;..1,c.0 ""''"'\uh dan perhatikan apakah ada deviasi rahang bawah. Bila ada
�K-. J&i._v '-°'"� parese, maka rahang bawah akan berdeviasi ke · arah yang
� \?'-" lumpuh. Kadang-kadang sulit menentukan adanya deviasi.
Dalam hal demikian dapat digunakan garis antara kedua gigi
insisivus atas dan bawah waktu mulut tertutup dan perhatikan
kedudukannya waktu mulut dibuka, apakah ada deviasi. Hal ini
perlu dilakukan apabila terdapat pula parese N V Il.
Kekuatan otot saat menutup mulut dapat dinilai dengan cara
menyuruh pasien menggigit suatu benda, misalnya tong spate!
dan dinilai tenaga gigitannya, misalnya dengan jalan menarik
tong spatel tersebut. Kemudian pasien disuruh menggerakkan
rahang bawahnya ke samping untuk menilai m. Pterigoideus
lateralis kiri dan kanan. Bila terdapat parese disebelah kanan,
rahang bawah tidak dapat digerakkan ke samping kiri.
Sensibilitas : pemeriksaan sensibilitas atau sensorik dari N V
diperiksa dengan menyelidiki rasa raba, rasa nyeri dan suhu
daerah-daerah yang disarafinya wajah.( cara perneriksaan
sensibilitas dapat dilihat pada tabel pemeriksaan sensibilitas)
Sebelum dilakukan pemeriksaan tanyakan <lulu apakah ada
keluhan mengenai sensibilitas pada sekitar wajah seperti rasa
keram atau kebal. Bila ada suruh pasien menentukan lokasinya.
Pemeriksaan sensibilitas untuk rasa raba dapat digunakan
kapas, kertas, kain atau ujungnya dan diperiksa seacara

16
keseluruhan bandingkan dengan bagian yang simetris.
Refleks kornea langsung dan ticlak langsung : Pemeriksaan
refleks kornea bisa dilakukan dengan cara langsung yaitu
(

\OJ;,\'-ulr-- V �·-'!? pasien disuruh melirik ke arah lain kemudian dari arah lain
komea mata disentuh dengan sepotong kapas yang ujungnya
l ktp1It dibuat runcing. Hal ini mengakibatkan dipejamkan mata oleh
m. Orbicularis oculi. Pada pemeriksaan refleks kornea secara
roJo'-""' tidak langsung adalah sentuhkan kapas pada komea kanan akan
menimbulkan refleks menutup mata pada mata kiri dan
.J ··or- J; iC' ,
\,1/1 sebaliknya. Pemeriksaan ini sama dengan refleks cahaya
0 (_.(){:,, : konsensual yaitu untuk melihat lintasan mana yang rusak
(aferen/eferen). Normalnya refleks kornea (+) jika ada refleks
menutup mata dan jika hasil negatif ( - ) bila terdapat kerusakan
N V sensorik cabang oftalmik, Refleks kornea juga
mcnghilang atau bcrkurang pada kclumpuhan m. Orbicularis
oculi yang disarafi oleh nervus VII.
- Refleks kornea- mandibular adalah pemeriksaan yang
dilakukan dengan cara penggoresan komea kemudian akan
menimbulkan pemejaman rnata ipsi lateral dan disertai gerakan
mandibuJa-kesTs1 kontra lateral, -------�---- ···---· -·
- Refleks bersin dan Refleks nasal becterew (bisa digunakan
kapas dengan cara merangsang mukosa hidung dengan
mengitik-ngitiknya sehingga timbul kontraksi otot-otot tasialis
ipsilateral)
- Refleks masseter (pasien diminta mernbuka mulut dan
mengeluarkan suara "aaa" kemudian jari telunjuk tangan kiri
pemeriksa ditempatkan digaris tengah dagu dan dengan palu
retleks dilakukan pengetukan dengan tangan kanan. Hasilnya
berupa kontraksi ini m, Masseter dan temporalis bagian depan
akan menghasilkan penutupan mulut secara tiba-tiba
e�ajianya didap��kit saJ - rakan)
� ��
- Tnsmus adalah gangguan pernbukaan mulut yang discbabkan
adanya kontraksi otot-otot pengunyah dan bersifat sementara.
Bila pasien tidak dapat membuka mulut <20 mm sudah dapat
dikategorikan trismus.
Refleks menetek (pemeriksaan dilakukan cara menempatkan
jari telunjuk didepan bibir, positif jika pasien memonyongkan
bibir saat bibirnya disentuh) 't----0,vv-a� r.
\/\\ \fV" { \'-(
5. N. Fasialis (N Pemeriksaan terdiri dari :
VII) - Motorik
Q) (uoJc.\1, ')'h-�,\- .' a. Otot wajah dalam istirahat : cam pemeriksaan perhatikan muka
cat,:_ } \VV·<'* ,,- \) 1• penderita apakah simetris atau tidak, kerutan pada dahi,
\,,c..-t-u� ,9.,sJ,.; pejaman mata, pendangkalan plika nasolabialis dan sudut
�\?,
),Ml'-"-a;/'- �-r;,

f (;J;-,.,_ o \_ca'£> .
17
!>'-CC)
mulut. Bila asimetri dari muka jelas maka hal ini disebabkan
oleh kelumpuhan perifer. Untuk pemeriksaan motorik minta
pasien untuk :
b. Mengerutkan dahi dengan cara mengangkat alis (m. frontalis)
perhatikan apakah hal ini dapat dilakukan dan apakah ada
asimetris. lnterpretasi pada kelumpuhan tipe sentral penderita
dapat mengangkat dan mengerutkan dahinya sebab otot-otot ini
mendapat persarafan bilateral. Pada kelumpuhan jenis perifer
terlihat adanya asimetri.
c. Menutup mata lalu pemeriksa mencoba memaksa membuka -Cil\-,. tv,o\· CA .

(m. Orbicularis oculi). Bila lumpuhnya berat maka penderita
tidak dapat memejamkan mata, bila lumpulmya ringan rnaka Lu.v"?v' \;, / 'ILc; rA
\ l':>,·i-.
tenaga pejaman kurang kuat. Hal ini dapat dinilai dengan cara
mengangkat kelopak mata dengan tangan pemeriksa dan pasien
disuruh tetap memejamkan mata dan pada bagian yang lumpuh
akan mudah terangkat. lnterpretasi pada kelumpuhan tipe
sentral pasien dapat menutup matanya sama kuat atau simetris.
Dan pada kelumpuhan tipe perifer maka pejaman mata akan
asimetris.
--
d. Mengunci bibir sambil (mengembungkan pi i dan }tersenyum� 'fvV'u \.iiV>c,.' ·
sambil memperlihatkan gigi (m. Buccinator an m.(Orbicularis '-::.Q.•N'1,,.1t=, ,,,, () L-

oris) perhatikan apakah hal ini dapat dilakukan dan apakah ada � vl.
asimetri. Perhatikan sudut mulutnya apakah penderita dapat
bersiul. lnterpretasi pada penderita yang mengalami
kelumpuhan rnaka tidak dapat bersiul dan terlihat asimetris
serta pada saat tersenyum akan c;�nderung tertarik ke sisi yang
sehat. Kelumpuhan 1111 dapat terjadi baik pada tipe sentral
maupun perifer.
...1,· .. )<,,

o\6>.\A.i V Ci.�i """�,H- r

I • y�� V .1 J·qrv __;. - ·


I • ,..·

'
\
'
-··
_..;._...

Gambar 9 perbedaan parese N Vll sentral dan perifer

(!). �-hcJ ..:.??- t,"&c-S \ \,..._ y<2J (1,,'V iL,f' ·'--"-c-<-'-v- .

·(\ c;,. \ i..: c- "'- ""'\;; ..\- - lv )


��·r'\c..t2-�,

18
Gerakan involuntcr
a. Tic adalah gerakan yang terkoordinir, berulang dan
melibatkan sekumpulan otot dalam hubungan yang
sinergitik. Ada tic yang menyerupai spasme klonik dan
disebutkan sebagai habit spasm.
b. Spasmus
Indera pengecap Cara perneriksaan adalah penderita
disuruh menjulurkan lidah, kemudian 2/3 lidah bagian
depan dapat ditaruh bubuk bubuk gula, kina, asam sitrat
atau garam yang dilakukan secara bergiliran. Bila bubuk
ditaruh penderita tidak boleh menarik lidahnya ke dalam
mulut, sebab bila lidah ditarik ke dalam mulut, bubuk akan
tersebar melalui Judah ke bagian lainnya atau ke bagian
belakang lidah yang persarafannya di urus oleh saraf lain.
a. Asam:
- Sekresi air mata : pemeriksaan sekresi air mata dapat
dilakukan dengan menggunakan schimer test dengan kertas
hisap atau lakmus lebar 0,5 cm, panjang 5-10 cm kernudian
diletakkan pada dasar konjungtiva dan tunggu hingga 5 menit
untuk menstimulasi sekresi air mata yang terdapat pada sakus
lakrimalis. Kemudian kertas tersebut dibandingkan kiri dan
kanan. Bila perbedaan mencapai >50% berarti patologis.
- Tanda Chyosek :Perneriksaan ini dilakukan dengan cara
mengetok nervus VIL Ketokan dilakukan dibagian depan
telinga. Tnterpretasi positif bila ketokan ini menyebabkan
kontraksi otot yang disarafinya. Pada tetani didapatkan gejala
chvostek positif, tetapi pada orang normal juga bisa didapatkan
positif Dasar gejala chvostek adalah bertambah pek�nya
ne_£vus f�slg!_i_s terhadap rangsang mekanik.
- Refleks Glabella :pemeriksaan dilakukan dengan cara
diberikan pukulan sedikit pada glabela atau sekitar daerah
suporbital is mcngakibatkan kontraksi singkat kcdua otot
orbikularis okuli. Pada lesi perifer nervus fasialis, refleks ini
berkurang atau negatif, sedangkan pada sindrorn parkinson
refleks ini sering meninggi. Pusat refleks ini terletak di pons.
6. N. Pemeriksaan terdiri dari :
Vestibulocochl - Mendengarkan suara bisik secara kasar ketajaman
earls (N VIII) pendengaran ditentukan dengan jalan menyuruh penderita
mendengarkan suara bisikan pada jarak tertentu dan
membandingkannya dengan orang yang yang normal.
lnterpretasi dikatakan normal jika pasren dan orang yang
normal sarna-sama dapat mendengarkan suara bisik. Dan

19
perhatikan pula apakah ada perbedaan ketajaman pendengaran
antara telinga kiri dan kanan.
- Gerakan jari tangan : pemeriksaan pendengaran dengan cam
menggesekkan jari tangan pemeriksa didekat telinga pasien
yang dilakukan secara bergantian pada telinga pasien.

Intepretasi dikatakan normal jika pasien dapat mendengar


suara gesekan tangan.
- Tes garpu tala : Bila ketajaman pendengaran berkurang atau
terdapat perbedaan antara kedua telinga maka dilakukan
pemeriksaan sebagai berikut:
a. Rinne : Perneriksaan nu dilakukan untuk membandingkan
hantaran suara melalui udara dan tulang dengan cam
meletakkan garpu tala yang dibunyikan dan pangkalnya
dilctakkan pada tulang mastoid pasicn. Kcmudian pasicn
disuruh mendengar bunyinya. Bila tidak terdengar lagi, garpu
tala segera diletakkan pada tlinga. lnterpretasi jika masih
terdengar bunyi maka konduksi udara lebih baik dari pada
konduksi tu lang dan tel inga bisa dikatakan normal a tau tu Ii
sensorineural. Jika bunyi tidak terdengar lagi setelah garpu tala
dipindahkan dari tulang mastoid ke dekat telinga, dapat
dikatakan jika tes nnne negatif yang artinya telinga tuli
konduktif.
b. Swabach : Pemeriksaan dilakukan dengan cara pendengaran
pasien dibandingkan dengan pendengaran pemeriksa (yang
dianggap normal). Garpu tala dibunyikan dan kemudian
ditempatkan didekatkan pada tulang mastoid pasien. Setelah
pasien tidak mendengar bunyi lagi, garpu tala tersebut
diletakkan pada tulang mastoid pemeriksa. Pada pemeriksa ada
dua kemungkinan dapat terjadi akan mendengar suara atau
tidak mendengar suara. Bila pemeriksa masih dapat mendengar
disebut swabach memendek, bila pemeriksa tidak dapat
mendengar, pemeriksaan diulang dengan cara sebaliknya yaitu
garpu tala diletakkan pada prosesus mastoid perneriksa terlebih
dahulu lalu didekatkan pada pasien. jika masih dapat
mendengarkan bunyi rnaka disebut swabach memanjang.
Namun, jika pasien dan pemeriksa sama-sarna tidak rnendengar
lagi maka swabach sama dengan pemeriksa. Tnterpretasi
disebut normal jika swabach pasien dan pemeriksa sama.
Swabach memendek artinya tuli sensorineural dan swabach
memanjang artinya tuli konduktif.
c. Weber : Pemeriksaan weber dilakukan dengan cara
membandingkan hantaran tulang antara kedua telinga pasien

20
dengan cara garpu tala dengan frekuensi 512 Hz dibunyikan
dan diletakkan tegak Jurus pada pertengahan dahi. Kemudian
penderita dirninta untuk menunjukkan telinga mana yang
mendengar atau mendengar lebih keras. lnterpretasi bila kedua
telinga sama-sama mendengar berarti tidak ada lateralisasi dan
dikatakan nomal. Bila terdengar pada satu telinga saja disebut
lateralisasi ke sisi telinga tersebut. Misalnya lateralisasi ke
telinga kanan dapat diartikan sebagai berikut:
• Telinga kanan tuli konduksi, telinga kiri normal
• Telinga kanan normal, telinga kiri tuli sensorineural
• Telinga kanan dan kiri tuli konduksi, narnun telinga
kanan lebih berat
• Telinga kanan dan kiri tuli sensorineural, narnun telinga
kiri lebih berat
d, Bing : Pemeriksaan dilakukan dengan cara tragus telinga yang
diperiksa ditekan sampai menutup liang telinga, sehingga
terdapat tuli konduktif kira-kira 30dB. Garpu tala dibunyikan
kemudian diletakkan pada pertengahan dahi seperti pada lt:s
weber. Interpretasi bila terdapat lateralisasi ke telinga yang
ditutup berarti telinga tersebut normal. Bila bunyi pada telinga
yang ditutup pada tclinga tidak bcrtambah kcras bcrarti tclinga
tersebut tuli konduktif.
Tinnitus adalah persepsi bunyi berdenging di telinga yang
disebabkan karena adanya ��an raaa_ terihga dalam yang
sering disertai dengan penurunan pendengaran (tuli) "dan
kadang dapat juga disertai oleh vertigo.
Keseimbangan : Pada perneriksaan untuk menilai gangguan
keseimbangan bisa dilakukan tes romberg dengan cara pasien
diminta berdiri tegak dengan kedua tumit saling bertemu.
Pertama dengan rnata t · uka, lalu minta pasien untuk
menutup mata selam 20 deti' . Interpretasi terdapat lesi pada
cerebelar jika waktu membuka dan menutup mata pasien
kesulitan berdiri tegak dan cenderung berdiri dengan ka�_ _}'.ang
terbuka lebar. Jika terdapat gangguan E!:oprioseptif begitu
menutup m� pasien kesulitan mempertahank.ai1 df1Tctan jatuh.
Selain itu bisa dilakukan tes melangkah ditempat (stepping
test) dengan cara penderita disuruh berjalan ditempat dengan
mata tertutup, sebanyak 50 langkah dengan kecepatan seperti
berjalan biasa. Sebelumnya dikatakan kepadanya bahwa pasien
harus berusaha selalu berada di ternpat dan tidak beranjak dari
tempatnya selama tes ini. Tes ini dapat mendeteksi gangguan
sistem vestibular. Interpretasi hasil tes ini dianggap abnormal

21
bila kedudukan akhir penderita beranjak lebih dari I meter dari
tempatnya semula atau badan terputar lebih dari 30°. -----
Vertigo merupakan gangguan atau keluhan yang senng ) I i1-1 .)
.

dikemukakan oleh pasien dengan gangguan sistem verstibular. bJ!c,v, f- 'po_,!(/


Pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah _'!!!!!!!.'Yer: . tt.�f!Qi_�-�
untuk membangkitkan V!!:!,� .,.0�1:1-1:1.i.S.tJl..gUlU!LP,QSi.siopJ.\J�da ) 5u v

penderita dengan gangguan vestibular. Pada pasien ini disuruh


duduk ditempat tidur periksa kernudian ia direbahkan sampai
kepalanya tergantung di pinggir. Selanjutnya kepala ditorehkan
ke kiri dan diulangi dengan kepala melihat lurus dan diulangi
lagi dengan kepala menoleh ke kanan. Penderita disuruh tetap
mernbuka matanya agar pemeriksa dapat melihat sekitarnya
muncul nistagmus. Perhatikan kapan nistagmus mulai muncul,
berapa lama berlangsung serta jenisnya nistagmus. Kemudian
kepada penderita ditanyakan apa yang dirasakannya. Apakah
ada vertigo .dan apakah vertigo yang dialaminya pada tes ini
serupa dengan vertigo yang pemah dialarninya. Interpretasi
Pada lesi perifer vertigo lebih berat dan didapatkan masa laten
2-30 detik sebelum nistagmus timbul.
7. N. Pemeriksaan terdiri dari :
Glosofaringeu - Langit-langit lunak pasien disuruh membuka mulut
s dan N. Yagus kemudian perhatikan palatum molle dan faring. Bagaimana
(� anX) sikap palatum molle, arkus faring dan uvula dalam keadaan
.,,-· I:___ istirahat dan bagaimana pula bila bergerak misalnya waktu
,., f.;'.Jl� i,.,� r..:1 .
bemafas dan bersuara. lnterpretasi normalnya palatum molle,
" f- vv-oll� arkus faring dan uvula akan bergerak secara simetris. Pada
O f� c • t<'U"'' ""') kelumpuhan otot-otot faring dan palatum molle, uvula dan
Q v·v u\"'"' .
arkus faring sisi yang lumpuh letaknya lebih rendah dari pada
yang sehat. - ---- -------- '
- (9i : Cara pemeriksaan pasien disuruh untuk merninum
\\Av..4,,.\,.. -..., 1'2.r...oo
air dan menelan makanan padat. Interpretasi jika terjadi
-v v<te.,.\ .......�. kelumpuhan pada� IX dan N X rnaka�ieD... akalJ..Jersedak
atau kesulitan dalam menelan air. Sedangkan jika terdapat
;) ci><;°'r"'' kelainan pada organ setempat maka akan kesusahan untuk
1..-i, N-L""":l'�� menelan makanan. Namun, bila terjadi parese bilateral makan

-.l �"""' q-'<M . akan terjadi disfagia berat dan memerlukan pipa hidung untuk
menyalurkan makanan.
- Refleks muntah pemeriksaan refleks muntah dilakukan
dengan cara pasien diminta membuka mulut kemudian
rangsang dengan menggunakan spate! ke dinding faring. Bila
rangsang dengan keras nonnalnya akan terdapat retleks
muntah yang juga dapat hilang pada kerusakan nervus IX dan
x.
22
- Disfoni adalah suara serak. Pemeriksaan ini dilakukan dengan
cara perhatikan kualitas suara pasien. Untuk itu pasien disuruh
menyebutkan "aaaaa" dimana pembentukan suara ini dilakukan
oleh pita suara yang disarafi oleh cabang nervus X.
lnterpretasi pada kelumpuhan nervus laringeus rekuren
didapatkan disfoni ataupun afoni. Kelumpuhan nervus
laringeus dapat disebabkan oleh tekanan pada saraf tersebut,
misalnya tumor atau kelenjar yang membengkak.

-Indera pengecap (pahlt): Pemeriksaan pengecapan dilakukan


karena N IX mengandung juga serabut aferen khusus untuk
pengecapan yaitu 1/3 bagian posterior lidah. Biasanya
pengecapan ini tidak diperiksa secara rutin dan sukar. Tempat
perneriksaan dibagian belakang lidah. Bila perlu, dapat juga
dilakukan dengan menggunakan arus gulvanis lemah dengan
meletakkan elektroda kawat tembaga yang ditemparkan
sebagai anoda pada lidah posterior. Interpretasi pada orang
normal akan terasa asam.
8. N. Aksesorius Pemeriksaan terdiri dari :
(N XI) - Men�ngkat bahu : Cara pemeriksaan perhatikan keadaan
111. Trapezius dalam keadaan istirahat. Perhatikan apakah ada
atrofi atau fJsikulasi dan bagaimana kontur otot. Bagaimana
posisi-bahu, apakah lebih rendah. Pada kelumpuhan m.
Trapezius bahu sisi yang sakit akan lebih rendah daripada sisi
yang sehat. Untuk mengukur tenaga otot diperiksa dengan earn
tempatkan tangan pemeriksa di atas bahu pasien kemudian
pasien disuruh untuk mengangkat bahunya dan kita tahan.
lnterpretasi pada kelumpuhan kedua otot ini kepala cenderung
jatuh ke depau dan penderita tidak dapat rnengangkat bahuuya,
Fungsi ..sternucleidomastoldeus : Cara pemeriksaan
perhatikan keadaan otot sternocleidornastoideus dalarn keadaan
istirahat, kita dapat melihat konrur otot ini dan melihat adanya
atrofi. Untuk menentukan atau mengukur kekuatan orot dapat
dilakukan dengan dua cara yaitu pasien disuruh menoleh ke
kanan dan ke kiri. Gerakan ini kita tahan dengan tangan kita
yang ditempatkan didagu. Dengan demikian dapat dinilai
kekuatan otot sternocleidomastoideus kiri. Lakukan
pemeriksaan pada kedua sisi dan bandingkan kekuatannya.
Interpretasi norrnalnya kekuatan otot kiri dan kanan simetris.
Bila pada lesi perifer akan didapatkan atrof dan lesi ,.l1!,!klea1:
akan didapatkan kedutan atau fasikulasi.

23
9. N. Hipoglosus Pernerlksaan terdiri dari:
(N XII) - Disartri : Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan cara
meminta pasien untuk menyebutkan kalimat "ular lari lurus di
lorong-lorong". Jika terdapat kelumpuhan pada lidah maka
pasien tidak bisa menyebutkan kalimat tersebut dengan benar
atau kesulitan dalam melafalkan kalimat tersebut. Kelainan ini
1)) T.�,- .� yang disehut disartria (hicara cadel/pelo ).
. ' 9c:..\, ./ \),avv Lidah -
�i.
v ' '\.��a. Tremor : Cara pemeriksaan adalah pasren disuruh untuk
_ . r,::· \
�'"'\!v,·-< ('" . membuka mulut kemudian perhatikan lidah pasien pada
- �>\=,.-, v .
k�_adaan. istirahat d�n sewaktu dij_ulurkan. Tremor lidah dapat
----1---'"J'- · dijumpai pada pasien yang sakit berat atau lernah. Untuk
Sc�� isl rit>+ · membedakan dengan fasikulasi, tremor dapat berkurang atau
\o-, Cl.k"ti'
'('62 · ', '.,;. l,; 6)c,\.,
menghilang ketika lidah dalam keadaan istirahat.
\uw'-\?v·\..,·, . b. Atropi Cara pcmcriksaan adalah pasicn disuruh untuk
-� membuka mulut kemudian perhatikan lidah pasien pada
�.;;��.
L-
I;&,,-- �eadaa� i_stirahat dan sewaktu di}ulur�an. Perhatikan besarny�
- lidah km dan kanan apakah simetns atau tidak. Pada lesi
r>r..... al,.1,.;; � � \-'\-af',I( perifer terdapat atrofi pada sisi lidah yang lumpuh.
-.,,.-.:!' \-<-- ,�,,.1,... 'ie..\Ao-\- c. Fasikulasi : Cara pemeriksaan adalah pasien disuruh untuk
"· \lJ.,·
�. U,9ol" \-�Nk
membuka mulut kemudian perhatikan lidah pasien pada
keadaan istirahat dan sewaktu dijulurkan. Interpretasi : pada
\;: \ \,.., "''{H:)"' .
lesi perifer dapat dijumpai fasikulasi pada lidah misalnya pada
penyakit siringobulbi. Sedangkan pada lesi sentral tidak
didapatkan fasikulasi pada sisi lidah yang lumpuh.
d. Ujung lidah saat istirahat : Cara pemeriksaan adalah pasien
disuruh untuk membuka mulut kemudian perhatikan lidah
pasien pada keadaan istirahat. Interpretasi Normalnya akan
lidah akan simetris dan terletak ditengah. Pada kelumpuhan
lidah akan tertarik pada sisi yang sehat misalnya j ika lidah
yang lumpuh adalah bagian kanan maka lidah akan tertarik ke
arah kiri.

24
e. Ujung lidah saat dijulurkan Cara pemeriksaan adalah pasien
disuruh untuk mernbuka mulut kernudian minta pasien
menjulurkan lidah clan perhatikan lidah pasien pacla keadaan
clijulurkan. lnterpretasi Normalnya akan lidah akan sirnetris
dan terletak ditengah. Pada kelumpuhan lidah akan tertarik
pada sisi yang lumpuh misalnya jika lidah yang lumpuh adalah
bagian kanan maka lidah akan cenderung ke arah kanan pada
saat dijulurkan.

Gambar IO parese N Xll tipe sentral clan perifer

3) PEMERIKSAAN MOTORIK
A. PEMERIKSAAN EKSTREMITAS
JENIS Cara Pemeriksaan Interpretasi
PEMERIKSAAN
Simetris lnspeksi bagian kanan dan kiri Pada kelumpuhan baik tipe sentral
dan bandingkan apakah maupun perifer dapat ditemukan

�w-y -
simetris atau tidak keadaan otot yang asimetris.
Tenaga Pemeriksaan ekstremitas atas : O Tidak didapatkan sedikitpun
M. Deltoid diperiksa kontraksi otot, lumpuh total
dengan cara abduksi 1 terdapat sedikit kontraksi otot,
. . rrev.,;
-� lengan atas namun tidak didapatkan
M. Biseps dengan cara 2 didapatkan gerakan, tetapi
fleksi Iengan atas gerakan ini tidak marnpu melawan
Fleksi pergelangan tangan gaya berat (gravitasi)
Ekstensi pergelangan 3 dapat mengadakan gerakan
.::---
tangan mel�an gaya be� r
- Membuka jari-jari tangan 4 : dapat melawan gravitasi
- Menutup jari-jari tangan 5 : tidak ada kelumpuhan (normal)
Pemeriksaan ekstremitas:
bawah:
- Fleksi panggul
- Ekstensi panggul

25
- Fleksi lutut
- Ekstensi lutut
- Plantar tleksi kaki
- Dorsofleksi kaki
- Gerakan jari-jari kaki
Ton us Pasien diminta melemaskan - Normal : terdapat tahanan yang
ektremitas yang akan diperiksa wajar
kemudian gerakkan ekstremitas - Flaccid : Tidak ada tahanan sama
tersebut. }t · sekali dan biasa dijumpai pada
kelumpuhan tipe perifer
Hipotoni : tahanan berkurang
Spastik : tahanan meningkat dan
tefclapat pada awal pemeriksaan,
keadaan nu dijumpai pada
kelumpuhan tipe sentral
Rigid ".'ralilrmrn-kuat terus
menerus selama gerakan
misalnya pada parkinson
Trofi Pemeriksaan 1111 dilakukan Normal tidak terdapat
dengan cara membandingkan kelumpuhan
otot kiri dan kanan Atrof biasanya ditcmukan
pada bagian otot yang
rnengalami kelurnpuhan.
Kelumpuhan tipe perifer bersifat
Jebih progresif dibandingkan
sentral.

26
B. PEMERIKSAAN BADAN
I nterpretasi
Keadaaakolumna vertebralisjo Nonna! : tulang belakang bentuknya
- Kel�n-lokal (inspeksi bagian kolumna lordosis-kifosis-lordosis
---------- - ----··--- --kifosis
·-- '
dan
vertebralis apakah ada kelainan bentuk tidak terdapat penonjolan seperti
tulang belakang atau terdapat penonjolan gibus dan lain sebagainya. Selain itu
seperti gibus) pasien juga bisa disuruh
- Nyeri tekan/ketok lokal (pemeriksaan memfleksikan dan mengekstensi
dilakukan dengan cara palpasi pada badannya serta dapat berdeviasi
kolumna vertebralis dan dilakukan lateral serta dapat melakukan
_ pe.gg�_tQkan___g�ra ringan menggunakan gerakan rotasi.
<, J<epalan tangc}_l}J..-< Pada kelemahan m. Erektor spina
Gerakan pasien saat disuruh jongkok sulir
• Fleksi (Pemeriksaan dilakukan dengan untuk berdiri kembali.
cant bila pasien sedang berdiri pasien
disuruh mengarnbil suatu barang
dilantai)
• Ekstensi (kemudian pasien disuruh
berdiri kembali)
• Deviasi lateral
• Rotasi
Keadaan otot-otot (pemeriksaan dilakukan Pada saat batuk otot yang lernah
dengan cam pasien disuruh mengangkat akan mernbonjol
kepalanya dan perhatikan peranjakan dari pusar.
Biasanya pusat beranjak ke arah otot yang
sehat. Selain itu juga pasien dapat disuruh
batuk)

Refleks kulit dinding perut atas (pemeriksaan ini Positif normal akan terjadi
dilakukan dengan cara pasien disuruh kontraksi pada muskulus rektus
berbaring, kemudian refleks dibangkitkan abdorninis yang diinervasi oleh (Th
dengan jalan menggores dinding perut bagia(-7, r§J
atas dengan benda yang agak runcing dari arah '"Negatif · ada lesi traktus
lateral ke medial) piramidalis.
Retleks kulit dinding perut bawah(pemeriksaan - Positif normal akan terjadi
1111 dilakukan dengan cara pasien disuruh kontraksi pada muskulus rektus
berbaring, kemudian refleks dibangkitkan abg<2.mig_�ang) diinervasi oleh
dengan jalan rnenggores dinding perut bagian ��an lumbal atas)
bawah dengan benda yang agak runcing dari - Negatif ada lesi traktus
arah lateral ke medial) piramidalis.

Refleks krernaster (retleks dibangkitkan dengan Positif : Normal skrorum akan

27
cara menggores atau menyentuh bagian medial berkontraksi
pangkal paha) - Negatif : pada lesi ditraktus
piramidalis, namun refleks ini
dapat negatif pada usia lanjut,
penderita hidrokel, orchitis
atau epididimitis.
Sensibilitas Lihat pada tabel pemeriksaan
Perasa raba sensibilitas
Perasa nyeri
Perasa suhu

Koordinasi Gangguan ini terjadi jika adanya lesi


- Asinorgia serebeler (ketidakmampuan di serebelum.
dalam koordinasi sekelompok otot)

Vegetatif Normal tidak terdapat


Kandung kencing (palpasi bagian vesika inkontinensia, sfingter ani eksternus
urinaria dan tanyakan kepada pasien masih berkontraksi dan organ
apakah �pat menahan kencing atau tidak) genitalia masih berespon terhadap
Rektum (bisa dTlakukan dengan rangsangan.
pcmcriksaan rectal toucher untuk mcnilai
sfingter ani eksternus)
Genitalia (tanyakan pada pasien apakah
masih bisa berespon terhadap rangsangan
seksual)
Gerakan involunter Lihat pad a tab el gerakan
involunter

28
4) PEMERlKSAAN REFLEKS
Jenis Pemerlksaan
1--���������������-+�����������---·�
Jnterpretasi
Refleks Fisiologis Tingkat jawaban refleks :
- : tidak ada jawaban refleks
sama sekali
+/- : respon refleks lernah
+ : jawaban normal
++ : jawaban berlebih dan
refleks meningkat
Klaslflkasi refleks
: arefleks
+ : Hiporefleks
++ : Refleks normal
+++ : Hiperefleks
++++ : Klonus
- Biseps (pegang lengan pasien yang Hal ini akan menyebabkan gerakan
<.6-0isemi
fleksikan sambil menempatkan fleksi lengan bawah. Pusat refleks ini
/ ibu jari di atas tendon biscp lalu ibu terletak pada (C5-C6)
jari diketok)
- / Triseps (pegang lengan bawah pasien Sebagai jawaban, lengan bawah akan
:�yang difleksikan setengah a tau mengadakan gerakan ekstensi.
/ semifleksi kemudian ketok pada Lengkung refleks melalui nervus
tendon m. Trisep yang berada sedikit radialis yang pusamya terletak di
diatas olekranon) (C6-C8)
- Radius (lengan bawah difleksikan Sebagai jawaban, lengan bawah akan
�:. serta dipronasikan sedikit, Kemudian berfleksi dan bersupinasi. Lengkung
7 di ketok pada prosesus stiloideus refleks ini melalui melalui nervus
radius) radialis yang pusatnya terletak di
(C5-C6)

Ulna (lengan bawah disemifleksi dan Hal ini akan mengakibatkan gerakan
semiprouasi kernudian di ketok pada pronasi pada lengan bawah dan
prosesus stiloideus dan ulna) kadang-kadang juga gerakan aduksi
pada pergelangan tangan. Lengkung
retleks melalui nervus medianus
yang pusatnya terletak di C5-Th I.
Leri (lengan diluruskan dengan bagian Respon pada orang sehat lengan
ventral menghadap ke atas kemudian bawah akan menekuk di sendi siku,
diberikan stimulasi dengan tangan jika ada lesi ditraktus piramidalis
pasien ditekuk secara maksimal di gerak fleksi di siku tidak bangkit.
pergelangan tangan oleh perneriksa)
r
·L Pal momenta! (pemeriksaan 1111 Jawaban dari rangsangan ini berupa
gerakan otot-otot mental atau dagu
29
dilakukan dengan earn menggores
telapak tangan pasien pada bagian otot
hipotenar. Goresan dilakukan dengan
cepat dari proksimal atau bagian
pergelangan tangan pasien menuju ke
distal yaitu bagian pangkal ibu jari)

Personal abduksi lengan/Grewel Pada orang normal akan timbul


(lengan pasien setengah difleksikan ger�ta(l�ektorik yang terdiri dari
disiku dengan lengan bawalmya dalam a�an atas, jika terdapat lesi
posisi antara pronasi dan supinasi di s�alis--....gerakan
kemudian stimulasi dengan tangan retldtorik itu tid�k timbt1l.
pasien secara maksimal dan mendadak
dipronasikan oleh pemeriksa)
Mayer (lcngan pasicn dipcgang olch Pada orang normal ibu jari akan
pemeriksa kemudian dengan tangan beroposisi. Jika ada kerusakan di
lainnya si pemeriksa menekukkan jari susunan piramidalis ibu jari tidak
tengah pasien secara maksimal ke beroposisi.
arah telapak tangan)
/Lutut/KPR (retleks tendon lutut Hal ini akan mengakibatkan gerakan
dilakukan dengan tungkai difleksikan ekstensi tungkai hawah lengkung
dan digantungkan misalnya pada tepi refleks ini melalui (L2, L3 dan L4)

- /Achilles/ AP pemenksaan dilakukan Hal ini akan memberikan gerak


I dengan cara tungkai bawah plantar fleksi pada kaki. Lengkung
difleksikan sedikit, kemudian kita refleks ini diperantarai melalui S 1
egang kaki uk dan S2.
memberikan sikap dorsotleksi ringan'
pada k · mudian ketok pada
bagian endon ac ll!.es)
Plantar (penggoresan di lakukan pada Responnya dapat berupa plantar
kulit telapak kaki) fleksi pada orang normal.

30
Refleks Patologis
- Hoffman-Tromner ( Hoffman Respon hoffman tromner positif pada
/ dilakukan dengan cara tangan pasien lesi piramidal tapi dapat juga
harus rileks, jari tengah diangkat disebabkan oleh peningkatan refleks
kemudian pemeriksa menjetikkan melulu yang fungsional.
phalanx distal dengan cepat dan
tromner dilakukan dengan stimulasi
berupa garukan/goresan pada kuku
jari tengah pasien)
/ Babinski (pasien dalam posisi Respon positif didapatkan
berbaring dengan tungkai diluruskan dorsofleksi ibu jari kaki dan mekar
kemudian pegang bagian kaki dan jari-jari lainnya dan ditemukan jika
goreskan dengan benda yang agak terdapat lesi tipe UMN.
nmcing dari bagian lateral telapak
kaki dan mengarah ke medial)
Oppenheim (stimulasi Respon
dengan positif didapatkan
/
dorsotleksi ibu jari kaki dan mekar
rnengurut atau menggores kulit yang
jari-jari lainnya dan ditemukan jika
menutupi os tibia ke arah bawah)
terdapat lesi tipe UMN.
- Chaddock (menggores bagian dari Respon positif didapatkan
/ maleolus) dorsofleksi ibu jari kaki dan mekar
jari-jari lainnya dan ditemukan jika
terdapat lesi tipe UMN.
Respon
- �ordon (rangsang . diberika dengan positif didapatkan
cara mernencet betis) dorsofleksi ibu jari kaki clan mekar
jari-jari lainnya clan ditemukan jika
terdapat lesi ripe UMN.
/Schaeffer (stimulasi dengan cara Respon positif cliclapatkan
memencet tendon achiller secara dorsotleksi ibu jari kaki dan mekar
keras) jari-jari lainnya dan diternukan jika
terdapat lesi tipe UMN.
- /!i;larnsky (penekukan ke lateral Jan Respon positif didapatkan
/ kaki ke 5) dorsofleksi ibu jari kaki dan mekar
jari-jari lainnya dan ditemukan jika
terdapat lesi tipe UMN.
- / Gonda (stimulasi dengan menarik jari Respon positif didapatkan
/'
kaki ke-4 ke arah bawah dalam waktu dorsofleksi ibu jari kaki dan mekar
singkat dan melepaskan secara tiba- jari-jari lainnya clan clitemukan jika
tiba) terdapat lesi tipe UMN.
- r-Bing (stimulasi dengan memberi Respon adalah akan timbul fleksi
rangsang pada kulir yang menutupi jari-jari
/ 1 kak i disendi,-sendj//
/ matatarsal ke 5) interfalang. ( I 1(J rCf · 1

! '�t:spon positif didapalk41 planl �r �-�


����������������-',�-'--�-'-����..:__����___J ' I

' . '; 31
"--------- ,{
Mendel-Bechterew (mengetuk kulit fleksi jari-jari kaki dan ditemukan
dorsum pedis yang 1�enutu12i os jika terdapat lesi tipe UMN.
k�id) Respon positif didapatkan plantar
Rossolimo (stimulasi dengan cara fleksi jari-jari kaki dan ditemukan
mengetuk telapak kaki) jika terdapat Jesi tipe UMN.

- Klonus merupakan salah satu Klonus positif pada kerusakan


kerusakan piramidal ialah adanya piramidal
hiper-refleksi, Klonus pada patela
dapat diperiksa dengan cara
meregangkan otot kuadrisep femoris,
kemudian pegang patela penderita
kemudian d�ong dengan kejutan
yang cepat ke arah distal sambil
diberikan tahanan enteng. Bila
terdapat klonus akan terlihat kontraksi
ritmik otot kuadrisep yang
mengakibatkan gerak bolak balik dari
patela. Pada pemeriksaan ini lutut
harus diekstensikan serta dilemaskan.
Klonus kaki dapat diperiksa dengan
cara menempatkan tangan pemeriksa
ditelapak kaki pasien, kemudian
telapak kaki nu didorong dengan
cepat (dikejutkan) sehingga terjadi
dorsofleksi sambil seterusnya
diberikan tahanan enteng. Hal nu
menyebabkan teregangnya otot betis.
Bila ada klonus, maka terlihat gerak
ritmik bola.k balik dari kaki,

32
5) PEMERIKSAAN SENSIBILITAS
PEMERlKSAAN INTERPRET ASI
Perasa raba: pemeriksaan rasa raba, Bila rasa raba hilang disebut
sebagai perangsang dapat digunakan thigmanesthesia
sepotong kapas, kertas atau kain dan
ujungnya diusahakan sekecil mungkin.
Hindarkan adanya tekanan atau
p/embangkitan rasa nyeri. Periksa
seluruh tubuh dan bandingkan bagian-
bagian yang simetris. Thigmestesia
berarti rasa raba halus.
Perasa nyeri :rasa nyen dapat Bila rasa nyeri menurun dinamakan
dibangkitkan dengan berbagai cara, hipalgesia dan bila tidak merasa nyen
misalnya dengan menusuk dengan adaiah analgesia
jarurn, memukul dengan benda tumpul,
merangsang dengan api atau hawa
yang sangat dingin dan juga dengan
berbagai larutan kimia. Dalam praktek
sehari-hari perneriksaan dilakukan
dengan menggunakan jarum atau
peniti Tusukan hendaknya cukup keras
sehingga betul-betul dirasakan rasa-
nyeri bukan rasa-raba dan bukan rasa-
disentuh. Sebelumnya diberitahukan
kepada pasien bahwa yang diperiksa
ialah rasa-nyeri bukan rasa -raba. Kita
periksa seluruh tubuh, dan bagian-
bagian yang simetris dibandingkan.
Bila bagian yang simetris
dibandungkan, tusukan hams sarna
kuat.
Perasa suhu :rasa suhu diperiksa Perubahan rasa suhu dinyatakan dengan
dengan rnenggunakan tabung reaksi kata anesthesia-suhu (therm-anesthesia
yang diisi dengan air es untuk rasa atau tidak merasa), hipestesia-suhu (therm-
dingin, dan untuk rasa panas dengan air hypesthesia, kurang merasa), atau
panas. Penderita disuruh mengatakan hiperestesia suhu (thenn-hypersthesia,
"dingin" atau "panas" bila dirangsang lebih merasa); dan ditambahkan kata
dengan tabung reaksi yang berisi air dingin atau panas.
dingin atau air panas. Untuk memeriksa
rasa dingin dapat digunakan air yang
bers�huseki�r I 0-20°C, dan untuk
panas yang bersuhu Jl<b.5.0X,. suhu

33
yang luring dari 5°C dan yang lebih
dari 50°C dapat menimbulkan rasa
nyen. Pada pemeriksaan rasa suhu
diperiksa seluruh tubuh dan
dibandingkan bagian-bagian yang
simetris. Bagian yang simetris ini harus
diusahakan agar berada dalam kondisi
yang sama, misalnya bagian tersebut
harus sama-sama baru dibuka
penutupnya (pakaian). Jangan yang
satu sudah lama terbuka sedang yang
satu lagi baru saja dibuka penutupnya.
Perasa proprioseptif : biasanya rasa- Nonna! : jika pasien dapat mengetahui dan f.(.!(,r c ·[11.�,,.la r1 ••

.0r O Ct\)�
gerak
bcrsamaan.
dan
Ini
rasa-posisi
dilakukan
diperiksa merasakan gerakan anggota tubuh yang
dcngan dirasakan. Bila tcrjadi digangguan di
(1/'ct" /
-! (/\
r

.r· menggerakkan jari-jari secara pasif dan medula spinal is dapat terjadi gangguan
U.)ff\� t1\""vu menyelidiki apakah pasien dapat proprioseptif.
" "' . r
()J Q"-1 o-
merasakan gerakan tersebut serta
t -r "mengerahui arahnya. Juga diselidiki _,, Wcfr,·H.. A ,u
t:
<?
t F 1.�rl ci. .
derajar gerakan terkecil yang masih L
dapat dirasakannya. Pada orang normal
ia sudah merasakan arah gerakan bila
h,icp
sendi-interfalang digerakkan sekitar frv-- c,1/
dua derajat atau 1 mm. selain itu, juga
diselidiki apakah ia tahu posisi dari
Ii c9 a V +-C,( CA 01
jari-jarinya. c- Leki V f--.11 �J

Perasa vibrasi pemeriksaan rasa getar Untuk menyatakan hilangnya rasa getar
biasanya dilakukan dengan jalan dapat digunakan kata pal/anesthesia.
menempatkan garputala yang sedang
bergetar pada ibu jari kaki, maleolus
lateral dan medial kaki, tibia, spma
iliaka anterior superior, sacrum,
prosesus spinosus vertebra, sternum,
klavikula, prosesus stiloideus radius
dan ulna dan jari-jari. Sebelumnya
perlu dijelaskan kepada pasien bahwa
kita akan memeriska rasa getar dan
bukan rasa raba yang ditimbulkan oleh
ditempatkannya garputala atau bunyi
garputala tersebut. Biasanya garputala
yang digunakan berfrekuensi 128 Hz.
Garputala kita diketok dan ditempatkan

34
,

pada ibu jari kaki atau tulang maleolus.


Pasien ditanya apakah ia merasa
getarannya; dan ia disuruh
memberitahukan bila ia mulai tidak
merasakan getaran lagi. Bila getaran
mulai tidak dirasakan, garputala kita
dipindahkan ke pergelangan atau
sternum atau klavikula atau kita
bandingkan dengan Jan kaki kita
sendiri. Dengan demikian, kita dapat
memeriksa adanya rasa getar dan
sarnpai berapa lernah rnasih dapat
dirasakan, dengan jalan
membandingkan dengan bagian lain
dari tubuh atau dcngan rasa getar
perneriksa. Berkurangnya rasa getar
kadang merupakan gejala dini dari
tabes dorsalis.
Stereognosis merupakan kemampuan J ika ia tidak rnampu menyebutkan nama
untuk mengenal bentuk dengan jalan benda tersebut, ia disuruh melukiskan
me.raba, tan pa melihat. Bila ukuran, bentuk dan materi benda tersebut.
kernarnpuan ini terganggu atau hilang, Rasa stereognosia diperiksa pada tangan;
penderita disebut asterognosia atau jika tangan pasien lumpuh kita tolong ia
agnosia taktil. Pemeriksaan ukuran mernegang atau menggenggam benda
dapat dilakukan dengan jalan terse but.
menggunakan benda yang bentuknya
sama, ta.pi ukurannya berbeda-beda.
Bentuk d1penksa dengan menggunakan
benda yang berbentuk sederhana,
misalnya bundar, segi empat, segitiga,
bentuk tiga dimensi dengan
menggunakan benda-benda
stereometris, misalnya kubus, pyramid
atau bola. Kemudian daya mengenal
diperiksa dengan jalan merabakan
benda sederhana seperti kunci, kancing,
piasau, pinsil dan penderita disuruh
mengena Jin ya.
Cara pemeriksaan penderita disuruh
menutup mata, kemudian ditempatkan
bermacarn benda ke dalam tangannya.
Benda yang ditempatkan ini hendaklah
benda yang sederhana dan telah dikenal

35
----------------�-------------------
pada kehidupan sehari-hari, misalnya
kunci, gelas, uang logam atau arloji. la
disuruh menyebutkan benda apa yang
sedang dipegangnya.
Barognosis : ialah kemampuan untuk Hilangnya kernarnp?, untuk
b;�
mengenal berat benda yang dipegang, membedakan berat disebl(
atau kemampuan rnernbeda-bedakan
berat benda. Untuk memeriksa ini kita
menggunakan benda-benda yang
bentuk dan ukurauuya 5,u:i:1a serta.
terbuat dari zat yang sama, namun
beratnya dibuat berbeda, rnisalnya
dengan menambah.kan pemberat
misalnya timbale didalamnya. Pasien
diminta rncnutup rnata, pcmcriksa
rneletakkan benda-bendaa tersebut pada
kedua tangan pasien, pasien dirninta
untuk menyebutkan mana yang lebih
ringan atau mana yang lebih berat.
Diskriminasi dua titik kernampuan Bila seorang pasien terganggu rasa
untuk mengetahui apakah kita ditusuk diskriminasinya, sedangkan rasa rabanya
dengan dua jarum a tau satu jarum pada baik, hal ini menunjukkan adanya lesi di
saat yang sama. Pada pemeriksaan rasa lobus parietalis.
diskriminasi ini tes kemampuan untuk
mengetahui apakah kita ditusuk dengan
dua jarum atau satu jarum pada saat
bersamaan. Untuk rnaksud mt dapat
digunakan jangka weber atau dua buah
jarum, atau peniti. Bagian-bagian dari
badan kita tusuk pada waktu bersamaan
dengan dua jarum. Pasien harus mampu
mengetahui apakah ia ditusuk dengan
satu atau dua jarum. Perlu diketahui
jarak yang terkecil masih dapat
dirasakan sebagai dua tusukan. Jarak
rm berbeda-beda pada bagian tubuh,
misalnya pada lidah, bila kedua
tusukan berjarak I mm sudah dapat
dirasakan sebagai dua tusukan; pada
ujung jari dibutuhkan jarak 2-4 mm,
pada telapak tangan 8-12 mm; pada
punggung tangan 20-30 mm; pada
punggung 40- 70 mm, dan pada lengan

'"f-1.C
,,
36
atas dan paha jarak terkecilnya ialah
75rnrn. pada pemeriksaan ini perlu pula
dibandingkan bagian badan yang
simetris.
Grafestesia merupakan kemampuan Hilangnya kemampuan trn disebut
untuk mengenali hurnf-hurnf atau_, grafanestesia. Jika perasaan eksteroseptif
angka yang ditulis pada __ kulit, dan propioseptif baik, sedangkan penderita
sel:tm.�ta tlLrt\.ltUp.. , tidak mengenali angka yang ditulis, ha! ini
Cara pemeriksaan dapat menggunakan b iasanya menunjukkan adanya lesi di
pinsil atau benda halus yang tumpul korteks.
lainnya, dan kita tuliskan angka pada
kulit pasien. Penderita harus menutup
matanya. Kemudian ia disuruh
menyebut angka apa yang dituliskan.
Topognosis ialah kemampuan untuk Jika pasien tidak mampu menyebutkan
melokalisasi tempat dari rasa-raba. Bila dengan benar, pasien disebut topognosia.
orang tidak mampu melokalisasi rasa-
raba ini, sedang rasa eksteroseptifnya
baik, ha! ini biasanya disebabkan oleh
lesi yang melibatkan lobus parietal, dan
disebut topagnosia atau topoanestesia,
Perneriksaan 1111 dilakukan dengan
merninta pasien menyebutkan lokasi
bagian tubuh mana yang di berikan
rasa-raba oleh pemeriksa. Contonya,
pemeriksa memberikan rangsangan
rasa raba pada bagian telapak kaki
kanan, pasien yang dengan mata
tertutup diminta menyebutkan bagian
tubuh mana yang diberikan rangsang
rasa raba.
Parestesia adalah perasaan abnorrnal Jika pasien rnengeluh perasaan tersebut
yang timbul spontan, biasanya dapat maka dapat disebut parestesia.
berbentuk rasa dingin, panas, semutan, Penyebutannya sesuai dengan lokasi yaitu
ditusuk-tusuk, rasa berat, rasa ditekan jika lokasi parestesia dilidah dan bibir
atau rasa gatal dinamakan �restesia circum <2,ral, jika
pada bagian sebelah tubuh saja disebut
hemi parestesia, pada kedua tungkai saja
disebut paraparestesia dan sebagainya.

37
6) PEMERJKSAAN KOORDINASI
JENIS CARA INTERPRET ASI
PEMERIKSAAN PEMERIKSAAN
Tes telunjuk-telunjuk Pemeriksaan 1111 Normal pasien dapat
dilakukan dengan cara melakukannya dengan
pasien diminta untuk benar sehingga telunjuk
menggerak.kan kedua dengan telunjuk dapat
ujung jari telunjuknya bertemu.
dan sating bertemu tepat
di tengah-tengah bidang
horizontal tersebut.
Pertama dengan gerakan
perlahan kemudian
dengan gerakan cepat.

·-
Lalu dengan mata dibuka
kemudian ditutup.
Pemeriksaan 1111 bisa Normal pasien dapat
dilakukan dengan pasien melakukan atau

duduk-------
dalam kondisi berbaring. menunjuk
.
atau berdiri. dengan tepat.
hidungnya

Diawali dengan pasien


mcngabduksikan lengan
serta pos1s1 eKstens1 totat,
lalu pasjen diminta untuk
-----·--�
menyentuh ujung
hidungnya sendiri dengan
ujung jari telunjuknya.
Mula-mula dengan
gerak:an pelan lalu
gerakan cepat dengan
mata terbuka dan
tertutup.
Tes telunjuk hidung Pemeriksaan dilakukan Normal : pasien dapat
telunjuk dengan cara pasien melakukan atau
�"'
menyentuh hidungnya menunjuk hidungnya dan
1/ dengan telunjuk telunjuk pemeriksa
fe,\Jll'tl�c-. kemudian menyentuh dengan benar.
�..�
ujung jari telunjuk
pemeriksa. Jari pemeriksa
dapat diubah dalam jarak
maupun dalam bidang
gerak:an.

38
Tes pronasi supinasi Pemeriksaan 1111 Normal pasien dapat
(dladokoklnesla) dilakukan dengan cara melakukan gerakan rm
pasien diminta untuk dengan benar.
menggerakkan kedua Jika terdapat gangguan di
tangannya bergantian serebelum atau lobus
pronasi dan supinasi frontalis, gerakan pasien
dengan posisi siku dalam akan melambat atau
keadaan diam. menjadi kikuk.
Pemeriksaan mi baik
dilakukan dengan mata
terbuka maupun tertutup.

z
Tes tepuk lutut Pemeriksaan dilak .. 1,., Normal tangan yang
dengan cam p sien dudu dominan pasien tampak
kemudian --.;;;-:::rah lebih terkoordinasi dalam
pasien menepuk lututnya gerakan, irarna teratur
dengan telapak dan dapat diberhentikan
punggung tangan secara dengan halus dan cepat.
bergantian dengan
gerakan cepat dan
bergantian kemudian
minta pasien untuk
meningkatkan kecepatan
secara bertahap.
Dismetris (gerakan Pemeriksaan pasien Nonna! pasien akan
yang tidak mampu disuruh berjalan mengikuti perintah untuk
dihentikan tepat pada kemudian disuruh berhenti.
waktunya a tau tempat berhenti tiba-tiba a tau Terdapat gangguan jika
yang dituju) disuruh berhenti pada pasien terus berjalan dan
suatu tujuan. tidak dapat berhenti
(hipennetria)
Fenomena rebound Pemeriksaan dilakukan Normal jika pasien
dengan cara dapat menahan
mangadduksikan bah� gerakannya. Dan terdapat
fleksi pada siku dan gangguan jika pasien
supinasi lengan bawah, tidak dapat mengontrol
siku diletakkan pada meja gerakan tersebut.
periksa kemudian
pemeriksa menarik
lengan bawah tersebut
dan pasien diminta untuk
menahannya, kemudian
dengan
l��---�������..l.-�...:;_�������-1..���-��-����-'
mendadak

39
����������--,-��������--,-�----,���������--
pemeriksa melepaskan
tarika tersebut. Perlu
diingat, pemeriksa juga
harus meletakkan tangan
lain didepan muka pasien
supaya bila pasien
memang memiliki lesi
diserebelum, muka atau
badan pasien tidak
terpukul oleh lengan
sendiri.

Tes tumit-lutut-ibu jari Pemeriksaan 1111 lebih Normal: pasien


kaki mudah dilakukan dengan melakukan gerakan ini
�L_ dalam kcadaan dcngan halus. Tcrdapat
( �- l Pasien diminta gangguan jika pasien
untuk menggerakkan melakukan gerakan 1111
tumit kakinya ke arah dengan kaku dan
lutut kontralateral terpatah-patah.
kemudian tum it
digerakkan atau didorong
ke arah jari kaki kontra
lateral.
Tes ibu jari kaki- Perneriksaandilakukan Normal pasien
telunjuk dengan cara pasien dalam melakukan gerakan 1111
keadaan berbaring baik dengan cepat
kemudian pasien diminta maupun dengan posisi
menyentuhkan ibu Jan telunjuk perneriksa
kaki ke Jan telunjuk dipindah-pindah.
tangan pemeriksa. Posisi
jari tangan pemeriksa
dapat diuba-ubah.
Berjalan menuruti garis Pemeriksaan dilakukan Lesi cerebelar pasien
lurus dengan meminta pasien tidak dapat menjalankan
berjalan mengikuti garis tes, tidak dapat berdiri
lurus dengan tumit saling kokoh (cenderung jatuh
menyentuh jari kaki lain. ke salah satu sisinya), dan
cara berjalan terganggu
atau Iangkahnya lebar-
lebar.
Lari ditempat Pemeriksaan dilakukan Tnterpretasi hasil tes ini
dengan cara melangkah dianggap abnormal bila

40
ditempat (stepping test) kedudukan akhir
dengan cara penderita penderita beranjak Jebih
disuruh berjalan diternpat dari l meter dari
dengan mata tertutup.: tempatnya semula atau
sebanyak 50 langkah Ibadan terputar lebih dari
lho
0•

dengan kecepatan seperti


berjalan b�
Sebelumnya dikatakan
kepadanya bahwa pasien
harus berusaha selalu
berada di tempat dan
tidak beranjak dari
ternpatnya selama tes ini.
Tes ini dapat mendeteksi
gangguan sistem
I vestibular.

7) PEMERIKSAAN VE GET ATIF


JENIS CARA INTERPRETASI
PEMERIKSAAN PEMERIKSAAN
Vasomotorik Menggores Positif: permukaan kulit
pad a
permukaan kulit akan menjadi me rah
karena adanya pernbuluh
darah
Sudomotorik Adanya sekresi keringat Positif tidak terdapat
gangguan sekresi
keringat
Pilo-Arektor Pemeriksaan dilakukan Positif : bulu-bulu tangan
dengan tangan pemeriksa atau kaki akan merinding
memegang es terlebih
dahulu kemudian sentuh
tangan pasien

41
8) GERAKAN INVOLUNTER � ( \Jl-tllv �blarcw1 ) .
Jenis gerakan Pengertian
Tremor Tremor ialah serentetan gerakan involunter, agak
ritmis, merupakan getaran yang timbul karea
berkontraksinya otot-otot yang berlawanan secara
bergantian. Ia dapat rnelibatkan satu atau Jebuh
bagian tubuh.
o Tremor fisiologis didapatkan bila anggota
gerak ditempatkan pada posisi yang sulit, atau
bila kita melakukan gerakan volunteer dengan
sangat lambar. Tremor yang tcrlihat pada orang
normal yang sedang marah atau ketakutan
merupakan aksentuasi dari tremor fisiologis ini
o Tremor halus dianggap juga tremor toksik.
Tremor terjadi terutama pada jari dan tangan.
Kadang-kadang tremor ini sangat halus sehingga
susah dilihat. Untuk rnemperjelasnya, kita
ternpatkan kertas diatas jari-jari dan tarnpaklah
kertas tersebut bergetar walaupun tremor belum
jelas terlihat. Tremor toksik ini didapatkan pula
pada keracunan nikotin, kafein, obat-obatan
seperti adrenalin, efedrin, atau barbiturate
o Tremor kasar contohnya pada penyakit
Parkinson. Pada penyakit Parkinson, gerakan
jari-jari nunp gerakan menghitung duit atau
membuat pit (pill rolling tremor). Contoh
Iainnya ialah tremor intense. Tremor intense
merupakan tremor yang timbuk waktu
melakukan gerakan involunter dan menjadi lebih
nyata ketika gerakan hampir mencapai
tujuannya. Tremor ini merupakan tremor kasar,
dan dapat dijumpai pada gangguan serebelum.

Khorea Gerakan orot berlangsu!!_g__�_�at, sekonyong-


konyong, aritmik dan kasar yang melibatkan satu
e�sepatuh badan atau seiuruh badan. Hal
1111 dengan khas terlihat pada anggota gerak atas
(lengan dan tangan), terutama bagian distal. Pada
gerakan ini tidak didapatkan gerakan yang harmonis

42
antara otot-otot penggerak, baik antar otot yang
sinergis mauopun antagonis. Bila pasien meluruskan
lengan dan tangannya kita dapatkan hiperekstensi
pada falang proksimal dan terminal, clan pergelangan
tangan berada dalam fleksi dengan sedikit
dipronasikan. Hal ini menjadi lebih jelas bila pasien
disuruh mengangkat lengannya keatas. Jari-jari
tangan biasanya akan direnggangkan, dan i bu jari
diabduksi dan terarah kebawah. Bila pasien disuruh
menggenggam tangan pemeriksa, terasa bahwa
tenaga genggaman tidak konstan melainkan
berfluktuasi terasa melernah kernudian menguat lagi
dan seterusnya. Bila khorea melibatkan lidah,
didapatkan kerusakan berbicara dan mengunyah. Jika
pendcrita disuruh rncngcluarkan lidah. Hal 1111
dilakukannya secara mendadak dan kemudian
ditariknya kembali. Gerakan khorea dapat dibuat
nyata bila pasien disuruh melakukan gerakan
sekaligus, misalnya ia disuruh menaikkan lengannya
ke atas sambil menjulurkan lidah. Gerakan khorea
didapatkan dalam keadaan istirahat dan menjadi lebih
hebat bila ada aktivitas dan ketegangan khorea
menghilang bila penderitanya tidur. Gerakan khorea
antara lain dijumpai pada penyakit khorea
Sydenham, khorea Huntingtong, dan khorea
gravidarum.
I�

\ Aatetof Atetose ditandai dengan gerakan yang Jebih lamban,


�- seperti �rnkan u.la-i:,-tlarL..melibatkan .otot bagian
distal. Namun demikian hal ini cenderung menyebar
juga ke proksimal. Atetosis dapat dijumpai pada
banyak penyakit yang melibatkan ganglia basal.
�I he:- y.--
Balis mus Gerakan otot yang datang sekonyong-konyong.kasar .:::..->
d�n ce01t, dan terutarna rnengenai otot-otot skelet
yang letaknya proksimal, sedangkan pada khorea,
gerak otot kasar, cepat, dan terutama rnelibatkan
otot-otot yang agak distal.

Mioklonus Gerakan yang timbul karena kontraksi otot secara


cepat, sekonyong-konyong, sebentar, aritr�1ik,
\'-....-,---;:-�-:-�-:-:--:---::-���
asinergik dan fidak terkendali. Gerakan ini terutama

43
didapatkan pada otot-otot ekstremitas dan badan,
tetapi ra senng juga difus dan meluas, dan
melibatkan otot muka, rahang, lidah, faring dan
laring. la timbul secara paroksismal, pada waktu
yang tidak tertentu, baik pada saat istirahat maupun
pada waktu sedang aktif. Namun dernikian, ia dapat
menjadi lebih hebat bila ada rangsangan emosional,
mental, taktil, visual atau rangsang auditoar. la dapat
berkurang bila ada gerakan volunteer. la dapat timbul
pada saat pasien hendak tidur dan biasanya
menghilang bila sudah tertidur. Gerakan dapat
sedemikian hebat, sehingga satu anggota gerak
seolah-olah terlempar dengan tiba-tiba atau dapat
menyebabkan penderita tercampak jatuh.
Distonia 13iasanya distonia dimulai dcngan gcrak otot
berbentuk atetose pada lengan atau anggota gerak
lain, kemudian gerakan otot bentuk atetose ini
menjadi kompleks, yaitu menunjukkan tarsi yang
--·-·--- --
!<'eras dan berbelir.LGerakan torsi otot (memutar
berbelit) terjadi juga pada otot leher dan punggung.
Gerakan otot abnormal 1111 dapat mengakibatkan
terjadinya skoliosis, pes ekuonovarus, pes valgus dan
kontraktur.
Spas mus Spasmus merupakan g(rakan abn ·A�al yang terjadi
karena k9ntraksi otot-otot yang biasnay..a_clisara.fi_Qkh
��_Jaraf. Spasme klonik mulai sekonyong-konyong,
berlangsung sebentar dan dapat berulang-ulang.
Spasme tonik dapat berlangsung lama dan terus-
menerus. Spasme klonik menyerupai ���t
yang terjadi pada waktu faradisasi. �dri
spasme adalah trismus, rhesus sardonikusdan.hiccup.
Trismus merupakan spasme tonik otot pengunyah
dan risus s�donikus adalah spasme tonik.__pmotot
fasial.

44
9) PEMERIKSAAN FUNGSI LUHUR
JENIS PENGERTIAN INTERPRETASI
GANGGlJAN
FUNGSJ LUHUR
Afasia motorik Afasia merupakan gangguan Afasia motorik pasien
l.v�f-l�1.\_v) berbahasa. Dalam hal 1111 dapat mengikuti perintah
·juwoio C- )
pasien
gangguan
rnenunjukkan
dalam
narnun tidak dapat
menjawab ketika ditanya
memproduksi dan atau atau tidak bisa
rnernaharni bahasa. Pada mengucapkan kata-kata
afasia broca atau motorik karena lesi terletak pada
adalah pasien mengerti apa area motorik. Sehingga
yang dibicarakan narnun bagian motorik yang
tidak dapat meniru maupun terganggu.
mengucapkan.
Afasia sensorik <() Ketidakmampuan Afasia sensorik pasien
\-tru.
�e.t-o\,,� _ mernahami lawan bicara dan tidak mengerti jika
apa yang dibicarakan. diperintah menggunakan
ucapan namun, dapat
meniru gerakan.
Afasia amnestlk Ketidakrnampuan Afasia arnnestik : masih
menyebutkan nama benda dapat mengulangi kata
\A.\c--V'c\ IL�(!') yang dilihat, angka, huruf atau kalimat namun,
t(� 'o� (_-) chm benruk benda. Selain iru ridak dapar menamai
Ce¥ h1 \t.4.-r-,r, ia juga tidak bisa benda yang dilihatnya.
\, "" C<\-or'") . menyebutkan nama binatang
yang didengar suaranya atau
benda yang diraba.
Afasia konduksi Ketidakmampuan Afasia konduksi : masih
\)\ O.IHJ•/ (- mengulangi kata a tau mampu mengeluarkan isi
kalimat dari lawan bicara. pikiran dan menjawab
kalimat lawan bicaranya.
Afasia global Ketidakrnampuan seseorang Afasia global pasien
dalam berbicara, mengerti tidak mengerti
bahasa lisan, mcnamai pcmbicaraan, tidak dapat
bend a, mengulangi nama mengulangi kata/kalimat,
bend a, membaca, menulis tidak dapat menamai
dan mengikuti perintah. benda dan tidak dapat
mengikuti perintah.
Namun, jika diberi
contoh gerakan dapar
diikuti.

45