Anda di halaman 1dari 6

ELENA [Part 9]

Saji Mafia May 19, 2018 Cerbung

 facebook
 twitter
 google+

Elena membuka lipatan kertas yang disodorkan Ibnu, dibacanya perlahan sambil
sesekali menahan napas.

Untuk:
Ibnu, suamiku tercinta dan
Elena, sahabatku tersayang

Assalamualaykum warrohmatullaahi wabarokatuh.

Aku menulis surat ini, atas nama cinta yang besarnya hanya Allah saja yang tahu. Saat kalian
baca ini kemungkinan besar aku sudah tidak ada diantara kalian. Doakan aku.

Ketahuilah kalian adalah dua orang istimewa dalam hidupku yang kucintai karena Allah, selain
Maryam, Abah dan Ummi.

Suamiku sayang, aku tahu permintaan ini terasa berat. Percayalah aku bukan tak yakin akan
kesetiaan dan cintamu padaku. Hanya saja aku tak ingin kebahagiaan yang pernah aku rasakan
bersamamu ini cuma milikku sendiri. Aku ingin berbagi dengan sahabatku, Elena.

Kau pasti bertanya-tanya, kenapa Elena? Karena aku yakin ada kebaikan luar biasa pada
dirinya, hanya ia belum menyadarinya. Sebagaimana aku melihatmu pada saat orangtuamu
datang ke rumahku.

Aku tau hidayah itu hak prerogatif Allah, tapi bukankah pintu seringkali tidak terbuka jika tidak
diketuk? Dan aku ingin kau yang mengetuk pintu itu untuk Elena, karena aku tidak mempunyai
kesempatan mengetuknya sendiri. Ajak ia untuk bersama-sama hijrah belajar menjadi lebih baik
di jalan Allah. Aku mencintaimu dan menyayangi Elena, berharap kelak kita semua bisa
berkumpul bersama di Jannah-Nya.

Suamiku sayang, bersabarlah atas Elena. Ia, dengan ijin Allah, akan menjadi shalihah pada
waktunya.

Dan untukmu Elena sayang, menyerahlah pada Rabb-mu. Setiap orang berhak untuk menjadi
lebih baik, sekelam apapun masa lalu yang kau punya. Jangan khawatirkan sakit hatimu, biar
Allah yang menyembuhkannya.

Jangan kalian khawatirkan perasaan cinta yang belum hadir diantara kalian. Cintai saja Allah
dulu. Orang yang sama-sama mencintai Allah, keduanya tidak akan sulit untuk saling jatuh
cinta.

Titip peluk cium untuk Maryam, sampaikan setiap hari padanya bahwa aku mencintainya.
Tolong jaga ia untukku.

Wassalamualaikum,
Safitri

Tangis Elena menghebat, Ibnu bangkit meraihnya dalam pelukannya. Ia merasa hati
Elena pada akhirnya telah terketuk, bukan olehnya tapi oleh Safitri melalui suratnya.

Seorang pelayan datang membawa pesanan. Elena buru-buru menyusut airmatanya.

"Maryam, ayo kemari. Minum dulu lalu kita pulang, maghrib hampir menjelang," panggil
Ibnu.

***
Selepas sholat Isya di masjid, Ibnu masuk ke dalam kamar dan mendapati Elena terisak
di atas sajadahnya.

Ibnu menutup pintu kamar perlahan lalu menguncinya. Dihampirinya Elena, mengusap
kepalanya yang masih tertutup mukenah. Tiba-tiba Elena berbalik, memeluk kedua kaki
Ibnu.

"Maafkan aku, Mas. Maafkan ..." parau suara Elena diantara isak tangisnya, ia tak
kuasa mengakui dosa-dosa di hadapan suaminya.

Ibnu melepaskan pelukan Elena di kakinya, meraih tangannya dan mengajaknya


berdiri. Diangkatnya dagu Elena, lembut jemarinya menghapus air mata Elena yang
jatuh berderai di pipinya.

"Aku memaafkanmu," Ibnu menatap dalam-dalam mata Elena sambil tersenyum. Lalu
membenamkan kepala Elena ke dadanya.

***

Shubuh berikutnya sepulang dari masjid, Ibnu tersenyum bahagia melihat Elena sudah
bangun dan sedang mendirikan sholat di kamarnya.
Baca Juga

 ELENA [Part 23] - Tamat


 ELENA [Part 22]
 ELENA [Part 21]

Sekitar jam enam pagi, Ibnu dan Maryam sedang sarapan di meja makan ketika Elena
datang menghampiri. Keduanya tertegun lama menyaksikan pemandangan di depan
matanya, mulut Ibnu terlihat sedikit ternganga.

"Apa aku tak pantas memakainya?" tanya Elena takut-takut.

Ibnu masih belum bisa berkata apa-apa. Di hadapannya Elena berdiri mengenakan
setelan blouse merah hati dan rok hitam panjang semata kaki. Kepalanya tertutup
kerudung motif bunga-bunga dengan warna senada. Elena terlihat sangat anggun dan
berbeda.
Maryam tiba-tiba berdiri, berjalan ke arah Elena kemudian meraih jemari Elena.

"Cantik sekali. Sekarang sudah mirip Ummi sedikit," ujarnya sambil menarik Elena
duduk di sebelahnya.

Elena tersipu, mendapati Ibnu tak kunjung melepaskan pandangannya. Ada desir halus
hadir dalam dada.

Bunyi klakson terdengar beberapa kali, mobil jemputan sekolah datang. Maryam
terburu-buru memakai tas sekolahnya, diciumnya tangan Ibnu lalu menghambur lari
keluar. Belum lama berselang, ia kembali berlari masuk. Menghampiri Elena yang
masih duduk, diambilnya tangan kanan Elena lalu menciumnya takzim lalu dikecupnya
pipi Elena kemudian berlalu. Elena sedikit kaget karena sebelumnya Maryam tak
pernah mau mencium tangannya, apalagi pipinya. Ia lalu tertawa kecil.

Elena menyelesaikan sarapannya lalu bangkit membawa piring dan gelas kotor ke bak
cucian. Ia sedang membasuh tangannya ketika Ibnu memeluknya dari belakang. Dan
desiran itu semakin jelas terasa, Elena canggung.

"Kau terlihat sangat cantik sekali pagi ini. Menurutmu tak apa jika sesekali kita datang
terlambat kerja?"

Pertanyaan itu terdengar lebih seperti menggoda di telinga Elena. Tapi ia tak tahan
untuk tidak mengiyakan. Ia membalikkan badannya, mengangguk pelan sementara
wajahnya bersemu semakin tersipu.

***

Elena sudah membulatkan tekadnya. Ia akan memutuskan hubungannya dengan


Eugene, jangan tanya tentang cinta hatinya masih sama. Tapi ia tak sanggup lagi
dalam murka Rabb-nya.

Ditekannya nomor telepon rumah Eugene dari gawainya. Terdengar nada sambung.

"Halo," sapa Elena hatinya mulai ragu.

"Elena, Elena kau baik-baik saja? Aku mencoba menghubungimu puluhan kali sejak
aku tiba di Kanada. Apa yang terjadi?" Eugene langsung mengenali suara Elena dan
mencecarnya dengan penuh kecemasan.

"Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Dengarkan aku, Eugene. Aku berniat untuk hijrah
memperbaiki diriku dan agamaku. Karenanya, aku akan meninggalkanmu ..." suara
Elena hampir hilang tercekat, ia merasakan sebagian dirinya ikut tercerabut ketika
mengatakan itu.

"Apa maksudmu? Aku tak paham. Apakah ini ada hubungannya dengan malam itu?
Aku minta maaf, Elena. Aku mohon ... aku akan datang secepatnya menemuimu.
Tolong jangan begitu ... Aku sungguh-sungguh mencintaimu. Aku akan membawamu
pergi. Tunggu aku," tuturnya tersengal.

Elena merasakan kepanikan dan ketakutan Eugene, airmatanya menetes.


Diteguhkannya hatinya lalu memencet tombol 'end'.

Tangannya meraba kalung pemberian Eugene. Dilepaskannya dengan hati-hati,


dimasukkan ke dalam sebuah kotak kecil lalu disimpan di dalam tas.

***

Kening Elena berpeluh, badannya terasa dingin dan lemas. Seluruh isi perutnya sudah
dikeluarkan namun ia tetap merasakan mual. Beberapa hari ini ia merasakan kurang
enak badan.

Terdengar pintu kamar mandi diketuk dari luar perlahan.

"Elena, kau tidak apa-apa?" tanya Ibnu cemas.

"Aku cuma masuk angin," jawab Elena lemas sambil membuka kunci kamar mandi.

Ibnu menuntun Elena ke tempat tidur, disusunnya bantal sedemikian rupa demi
membuat kepala Elena rebah dengan lebih nyaman. Lalu dioleskannya minyak kayu
putih ke punggung dan perut Elena.

"Makan dulu, ya? Aku ambilkan," tawar Ibnu.

Elena menggeleng, ia lelah muntah setiap kali mencoba menelan sesuatu. Indra perasa
dan penciumannya terasa lebih sensitif belakangan ini.

"Safitri dulu pun seperti ini ketika minggu-minggu pertama mengandung Maryam ..."
Ibnu berujar hati-hati.

Elena kaget setengah mati mendengar perkataan Ibnu. Ia tidak pernah terpikir sampai
ke sana. Mungkinkah?

🍁🍁🍁 Bersambung 🍁🍁🍁

Penulis : Ellya Ningsih