Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Akar, batang, daun, serta bagian-bagian tumbuhan lainnya yang telah


dibicarakan di muka, merupakan bagian-bagian yang secara langsung berguna
untuk mempertahankan kehidupan (untuk penyerapan makanan, pengolahan
bahan yang diserap jaddi bahan yang digunakan oleh tumbuhan untuk keperluan
hidupnya pernapasan, pertumbuhan dan lain-lain) tumbuhan itu sendiri selama
pertumbuhannya, oleh sebab itu alat-alat tersebut sering kali dinamakan pula alat-
alat pertumbuhan atau alat-alat vegetatif.

Sebelum suatu tumbuhan mati, biasanya telah dihasilkan suatu alat, yang
nanti akan dapat tumbuh menjadi tumbuhan baru. Alat-alat yang demikian
dinamakan alat perkembangbiakan (organun reproductionum) yang dibedakan
dalam dua golongan yang bersifat vegetatif dan generatif (Tjirosoepomo,
Gembong. 2015:121).

B. Maksud dan Tujuan

1. Maksud Percobaan

Maksud percobaan ini adalah untuk mengamati bentuk sel dan jaringan
yang menyusun bagian bunga pada tumbuhan.
2. Tujuan Percobaan

Tujuan praktikum ini adalah untuk memberikan kemampuan pada kita


dalam mengenali dan mengamati anatomi pada tumbuhan berupa bagian bunga.

C. Prinsip Percobaan

Adapun prinsip percobaan pada praktikum ini yaitu dimana sampel di iris
setipis mungkin dan diletakkan di gelas objek. Kemudian preparat ditetesi dengan
medium HCE 25% dan ditutup kembali dengan dek glass setelah ini baru sel-sel
nya diamati dibawah mikroskop
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Umum

Bagian pokok tubuh tumbuhan hanya ada tiga macam yaitu akar, batang,
dan daun dan setiap bagian lainnya hanya merupakan penjelmahan ketiga bagian
pokok tersebut. Jadi bunga sebagai suatu bagian tumbuhan harus pula merupakan
suatu penjelmahan salah satu atau kombinasi ketiga bagian pokok tadi, yang
memang demikian keadaannya (Tjirosoepomo, Gembong. 2015:121).

Bunga adalah penjelmahan suatu tunas (batang dan daun-daun) yang


bentuk, warna, dan susunannya disesuaikan dengan kepentingan tumbuhan,
sehingga pada bunga ini dapat berlangsung penyerbukan dan pembuahan dan
akhirnya dapat dihasilkan alat-alat perkembangbiakan (Tjirosoepomo, Gembong.
2015:121).

Bunga merupakan organ reproduksi pada tumbuhan, organ ini bukanlah


organ pokok dan merupakan modifikasi (perubahan bentuk) dari organ utama
yaitu batang dan daun. Terdapat dua jenis bunga yaitu bunga uniseksual dan
biseksual. Uniseksual yaitu jika ada suatu bunga hanya ada satu jenis alat
pembiakan, disebut juga bunga jantan dan betina. Sedangkan bunga biseksual
yaitu jika pada satu bunga hadir kedua jenis alat perkembangbiakan, berarti bunga
jantan dan betina gabung dalam satu bunga (Fahn, A. 1991:29)

Pada umumnya bunga terdiri dari 4 bagian bunga dan tempatnya berturut-
turut dari tepi luar bunga bagian tengah kalyx (kelopak), carolla (mahkota),
andresium (kelamin jantan), dan ginesium (kelamin betina).(Tim dosen. 2017:54)

Dalil yang berhubungan dengan praktikum anatomi bunga dalam Q.S


Thaha : 131

Artinya: “Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada golongan.


Golongan dari mereka,sebagai bunga kehidupan dunia untuk kami uji mereka
dengannya. Dan karunia Tuhan adalah lebih baik dan lebih kecil.

Pada ayat diatas, kehidupan dunia diibaratkan sebagai bunga. Dimana


ketika suatu tanaman yang hendak mengeluarkan buahnya, biasanya diawali
dengan kemunculan bunga. Kadang kala bunga itu terlihat indah dan disaat lain
sedikit begitu sangat menawan. Bahkan terkadang tidak sedikit orang yang
memandang berhasrat untuk memetiknya dan dibawah pergi. Memang jika masih
berada ditangkai,terlihat begitu mempesona, namun jika diambil saat itu juga
maka terjadi malah layu. Dari gambar tersebut bahwa kehidupan dunia itu terlihat
begitu indah menawan dimata siapa saja yang melihat dan memandangnya.

Bunga terdiri atas sebuah sumbu yang pada organ-organ bunga yang lain
tumbuh. Bagian dari sumbu yang merupakan ruas yang berakhir dengan tangkai
bunga (pedicellus). Ujung distal pedisel atau pedicellus ini mengembang dengan
panjang yang beragam dan bagian ini disebut talamus. Organ-organ bunga
melekat pada talamus. Sebuah bunga yang khas mempunyai empat macam organ.
Organ yang paling luar adalah sepal yang secara bersama-sama membentuk kalyx
yang biasanya berwarna hijau dan ditemukan paling rendah kedudukan pada
talamus. Disebelah dalam sepal adalah carolla yang terdiri atas petal, pada
umumnya berwarna yang membentuk perhiasan bunga. Bila semua perhiasan
bunga itu sama, mereka disebut tepal (Hidayat. 1995:40).

Fungsi biologi bunga adalah sebagai wadah menyatunya gamet jantan dan
betina untuk menghasilkan biji. Proses dimulai dengan penyerbukan, yang diikuti
dengan perubahan, dan berlanjut dengan pembentukan biji (Hidayat. 1995:59).

1. Sepal dan Petal

Baik sepal maupun petal menyerupai daun. Pada penampang melintang,


kedua bagian bunga itu terdiri dari epidermis abaksial dan adaksial yang
membatasi 3 atau 4 atau kadang-kadang hingga 10 lapisan sel isodermatis yang
tidak terdeferensiasi. Sel memanjang disertai banyak ruang antar sel. Didalamnya
terdapat berkas pengangkut. Mesofil kurang termodifikasi di bidang daun hijau,
namun bisa pula terdapat idioblas seperti sel berisi kristal atau hipodermis,
sedangkan rambut dan stomata sering ditemukan pada sepal maupun petal
(Tjitrasam. 1983:63).

Pada tumbuhan yang terpolinasi oleh serangga fungsi utama carolla adalah
untuk menarik serangga dan sebab itu merupakan bagian yang paling luas dan
besar dari bunga. Pada tumbuhan yang terpolinasi oleh angin, carolla sering
teriduksi atau bahkan tidak ada. Warna petal adalah akibat kloroplas yang
mengandung karotenoid dan cairan vakuola yang mungkin mengandung
flavonoid, terutama antosianin dan berbagai kondisi pengubah seperti PH cairan
vakuola. Dinding antiklinal dari epidermis petal dapat bergelombang atau beralur
internal. Dinding luar dapat berbentuk konveks atau berupa papila.
2. Stamen (benang sari)

Tipe semen yang umum pada tumbuhan biji tertutup atas filamen dan
anthera. Pada anthera terdapat mikrosporagia atau kantung pollen. Masing-masing
terdiri atas dinding dan lokulus tempat dihasilkan mikrospora. Flamen strukturnya
sederhana. Parenkim mengelilingi berkas vaskuler yang mungkin amfikribal.
Epidermis yang berkutin ada yang memiliki trikoma. Pada filamen dan anthera
ada yang memiliki stomata. Berkas vaskuler terdapat pada sepanjang filamen dan
berakhir pada anthera atau pada jaringan konektif. Anthena pada umumnya pecah,
secara spontan, dan pollen keluar melalui stomium. Lapisan subdermal
Endothecium dengan penebalan sekunder, membantu pecah/membukanya
stomium pada saat kering (Sumardi, Issrep. 1993:105).

3. Karpel

Pada bunga biasa ditemukan satu helai karpel atau lebih, maka karpel
dapat lepas satu per satu dari yang lain (Ginesium apokarp, seperti Rosa sp) atau
karpel berlekatan dengan cara yang bermacam-macam (ginesium slokarp, seperti
pada Lycopersicon dan Carica Papaya). Pada ginesium sinkarp, ada dua cara
perlekatan karpel. Yang pertama, karpel berlekatan dengan kondisi terlipat dan
muka abaksial. Disini terbentuk ginesium beruang satu. Pada ginesium biasanya
dapat dibedakan bagian bawah yang fertil, yakni bakal buah atau ovarium, bagian
tengan yang steril, yakni tangkai putik atau stylus, dan yang paling ujung adalah
kepala putik atau stigma (Fahn. 1991:34).

4. Stigma dan Stylus

Stigma dan stylus mempunyai struktur yang khusus yang memungkinkan


butir-butir polen mampu berkecambah pada stigma dan buluh polen mampu
menembus ovum. Epidermis stigma berkelenjar, dan sel-selnya kaya akan
protoplasma. Kadang-kadang lapisan disebelah dalam epidermis membentuk
jaringan yang berkelenjar, yang fungsinya sama dengan yang terdapat pada
epidermis. Pada beberapa tumbuhan, sel-sel epidermis berkembang menjadi
rambut-rambut yang panjang dan bercabang. Misalnya pada tumbuhan lain yang
penyerbukannya dilakukan oleh angin. Sylus merupakan bagian karpel yang
memanjang ke atas (distal). Pada kebanyakan angiospermae, stylusnya padat dan
jaringan di tengah terspesialisasi menjadi jaringan transmisi yang merupakan jalan
bagi uluh serbuk sari untuk mencapai bakal biji. Stylus ada yang berongga dan ada
yang padat. Pada stylus yang berongga, butir sari berkecambah dan menghasilkan
tabung sari yang kemudian tumbuh melalui tepi rongga tangkai sari yang dilapisi
sel sekresi. Pada stylus pada melalui jaringan transmisi menyediakan nutrisi yang
berfungsi untuk membantu pertumbuhan buluh serbuk sari melalui stylus.
Jaringan dasar stylus bersifat parenkin dan ditembus oleh berkas pembuluh angkut
(Hidayat. 1995:69).

5. Bakal Buah dan Bakal Biji

Setiap bakal biji atau ovulum melekat pada dinding ovarium dengan
adanya tangkai bakal biji (funikulus) yang mengandung satu berkas pembuluh.
Bakal biji terdiri dari jaringan tengah atau nuselus, dilingkari dengan integumen
dalam dan integumen luar. Kedua integumen mengelilingi satu saluran yang
bermuara di pori, disebut dengan mikropil. Tabung sari tumbuh melalui mikropil
disaat fertilisasi. Sebagaimana pada tapetum anthera, nukleus biasanya sudah tidak
ada bila biji mencapai tarae dewasa karena telah berdegenerasi (Tjitrasam.
1983:25).

Bakal buah dibedakan menjadi dinding bakal buah dan ruang bakal buah.
Pada bakal buah beruang banyak terdapat skat pemisah bakal biji atau ovulum
terdapat pada daerah dinding bakal buah dalam yang disebut plasenta (Tjitrasam.
1983:29).

Beberapa bunga memiliki warna yang berfungsi sebagai pengikat hewan


pembantu penyerbukan. Beberapa bunga lain yang menghasilkan panas atau
aroma yang khas, juga untuk memikat hewan untuk membantu penyerbukan.
Bunga hampir selalu berbentuk simetris, yang sering dapat digunakan sebagai
penciri suatu takson. Ada dua bentuk bunga berdasar simetri bentuknya yaitu
aktinomorf (berbentuk bintang) dan zigomorf (simetri cermin). Brntuk aktonomorf
lebih banyak dijumpai (Fahan. 1991:107).

Bunga disebut bunga sempurna bila memiliki alat kelamin jantan (stamen)
dan alat kelamin betina (putik) secara bersama-sama dalam satu organ. Bunga
yang demikian disebut bunga banci atau hemafrodit. Satu bunga dinyatakan bunga
lengkap apabila memiliki semua bagian utama bunga, yaitu sebagai berikut:
(Tjirosoepomo, Gembong. 2015:143)

a. Kelopak (kalyx)
b. Mahkota bunga (carolla) yang biasanya tipis dan dapat berwarna-warni untuk
memikat serangga yang membantu proses penyerbukan.
c. Alat kelamin betina atau putik (psitillum)
d. Alat kelamin jantan atau benang sari (stamen)
3. Uraian Bahan
Asam Klorida (Dritjenpom, 1979:53)
Nama Resmi : ACIDUM HIDROCHLORIDUM
Nama Lain : Asam klorida, asam garam
Rumus Molekul : Hcl
Rumus Struktur : H – Cl
Pemerian : Cairan tidak berwarna, berasap dan berbau
merangsang jika diencerkan dengan dua bagian air
asap dan abu hilang
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup
Kegunaan : Untuk mendeteksi warna kristal Ca oksalat dan
kalsium karbonat dalam sel.

4. Klasifikasi
1. Bunga kembang sepatu (Hibiscus rosasinensis)
(Tjirosoepomo, Gembong. 2012:104)
Regnum : Plantae
Devisi : Spermatophyta
Sub devisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Sub kelas : Apetalae
Ordo : Malvales
Famili : Malvaceae
Genus : Hibiscus
Spesies : Hibiscus rosasinensis

2. Bunga cengkeh (Syzygium aromaticum) (Tjirosoepomo, Gembong.


2012:108)
Regnum : Plantae
Devisi : Spermatophyta
Sub devisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Sub kelas : Apetalae
Ordo : Myrtales
Famili : Myrtaceae
Genus : Syzygium
Spesies : Syzygium aromaticum
3. Bunga lili (Lilium brownii) (Tjirosoepomo, Gembong. 2012:415)
Regnum : Plantae
Devisi : Spermatophyta
Sub devisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledone
Sub kelas :-
Ordo : Liliales
Famili : Liliaceae
Genus : Lilium
Spesies : Lilium brownii

5. Deskripsi
1. Bunga cengkeh (Syzygium aromaticum)
Bunga dan buah cengkeh akan muncul pada ujung ranting daun
dengan tangkai pendek serta bertandan. Pada saat masih muda bunga
cengkeh berwarna keungu-unguan, kemudian berubah menjadi kuning
ke hijau-hijauan dan berubah lagi menjadi merah muda apabila sudah
tua. Sedangkan bunga cengkeh kering akan berwarna cokelat
kehitaman dan berasa pedas sebab mengandung minyak atsiri (Harbie,
Tandi. 2015:236-237).

2. Bunga kembang sepatu (Hibiscus rosasinensis)


Bunga tunggal berbentuk terompet, terletak di ketiak daun, kelopak
bentuk lonceng, berbagi lima, hijau kekuningan. Mahkota terdiri dari
lima belas sampai dua puluh daun mahkota, merah muda, benang sari
banyak, tangkai sari merah, kepala sari kuning, putik bentuk tabung,
merah (Harbie, Tandi. 2015:440).

3. Bunga lili (Lilium brownii)


Bunga lili memiliki warna yang bermacam-macam sesuai dengan
jenisnya. Berbentuk terompet merupakan bunga tunggal yang tumbuh
di ujung dari tangkai (Tjitrasam. 1983:45)
BAB III

METODE KERJA

A. Alat dan Bahan


1. Alat

Adapun alat-alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu dek glass,
empulur ketela pohon, jarum preparat, kobokan, lampu spiritus, mikroskope,
objek glass, pipet tetes, dan silet.

2. Bahan

Adapun bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu bunga


cengkeh (Syzygium aromaticum) bagian hypoantium dan epiantium, bunga
kembang sepatu (Hibiscus rosasinensis) yang masih kuncup, bunga lili (Lilium
brownii), Empulur ketela pohon (Manihot utillissina) dan HCl 25%.

6. Cara Kerja
1. Bunga cengkeh (Syzygium aromaticum)
a. Disiapkan alat dan bahan
b. Disayat tipis melintang atau membujur bunga cengkeh
c. Diletakkan hasil sayatan diatas objek glass
d. Diteteskan HCl 25%
e. Ditutup dengan dek glass
f. Difiksasi
g. Diamati dengan mikroskop

2. Bunga kembang sepatu (Hibiscus rosasinensis)


a. Disiapkan alat dan bahan
b. Disayat tipis melintang dan membujur tangkai, kelopak, mahkota, putik dan
benang sari bunga sepatu
c. Diletakkan hasil sayatan di atas objek glass
d. Diteteskan HCl 25%
e. Ditutup dengan dek glass
f. Difiksasi
g. Diamati dengan mikroskop

3. Bunga lili (Lilium brownii)


a. Disiapkan alat dan bahan
b. Disayat tipis melintang dan membujur tangkai, mahkota, putik dan benang sari
bunga lili
c. Diletakkan hasil sayatan diatas objek glass
d. Diteteskan HCl 25%
e. Ditutup dengan dek glass
f. Difiksasi
g. Diamati dengan mikroskop
BAB IV

HASIL PENGAMATAN

A. Tabel Pengamatan
1) Cengkeh (Syzygium aromaticum)
No Gambar Gambar Literatul Keterangan
Pengamatan
1. Bunga cengkeh 1. Epidermis
(membujur) 2. Membran
Perbesaran 4× 3. Inti sel
4. Kristal
kalsium
4 5. Saluran
minyak
1 atsiri
Perbesaran 10× 6. Sel
3 parenkim

2
Bunga cengkeh
(melintang) 5
Perbesaran 4×

Perbesaran 10×
2) Kembang sepatu (Hibiscus rosasinensis)
No. Gambar Pengamatan Gambar Literatul Keterangan
1. Kembang sepatu 1. Epidermis
(tangkai) 2. Korteks
Perbesaran 4× 3. Stele

2 3 1

2. 1. Epidermis
Kembang sepatu 2. Berkas
(mahkota) Pembuluh
Perbesarn 4×

1
Perbesaran 10×

2
3. Kembang sepatu 1. Epidermis
(filament) 2. Sklereida
Perbesaran 4× 3. Sklerenkim

1
Perbesaran 10× 3 2

4. Kembang sepatu 1. Epidermis


(kelopak) 2. Korteks
Perbesaran 4× 3. Stele
4. Sel parenkim

1
1 4 3 2
Perbesaran 10×

5. Kembang sepatu 1. Epidermis


(anthera) 2. corteks
Perbesaran 4×

2
1
Perbesaran 10×

6. Kembang sepatu 1. Epidermis


(stilus) 2. Korteks
Perbesaran 4× 3. Berkas seluler
4. Stele

1
Perbesaran 10×
2

1
3) Bunga lili (Lilium brownii)

No. Gambar Pengamatan Gambar Literatul Keterangan


1. Bunga lili 1. Epidermis
(ovarium) 2. Korteks
Perbesaran 4× 3. Stele
4. Sel
parenkim

4 3 1 2
1 2

Perbesaran 10×

4 3
2. Bunga Lili 1. Epidermis
(mahkota) 2 1 2. Korteks
Perbesaran 4× 3. Stele
4. Sel
parenkim

4 4 3
3 1 2
Perbesaran 10×

3. Bunga Lili 1. Epidermis


(ovarium) 2. Korteks
Perbesaran 4× 3. Medula

1 2 3
1 2
3

Perbesaran 10×

3
B. Pembahasan

Bunga merupakan organ reproduksi pada tumbuhan, organ ini bukanlah


organ pokok dan merupakan modifikasi (perubahan bentuk) dari organ utama
yaitu batang dan daun. Terdapat dua jenis bunga yaitu bunga uniseksual dan
biseksual. Uniseksual yaitu jika ada suatu bunga hanya ada satu jenis alat
pembiakan, disebut juga bunga jantan dan betina. Sedangkan bunga biseksual
yaitu jika pada satu bunga hadir kedua jenis alat perkembang biakan, berarti bunga
jantan dan betina gabung dalam satu bunga.(Fahn, A. 1991:29).

Pada umumnya bunga terdiri dari 4 bagian bunga dan tempatnya berturut-
turut dari tepi luar bunga bagian tengah kalyx (kelopak), carolla (mahkota),
stamen (benang sari), dan pistillum (putik) (Tim dosen. 2017:54).

Adapun hasil yang didapatkan pada percobaan yaitu percobaan tentang


anatomi bunga yaitu pada sampel bunga cengkeh (Syzygium aromaticum), bunga
sepatu (Hibiscus rosasinensis), dan bunga lili (Lilium brownii).

Pada bunga yang diamati pertama yaitu bunga cengkeh (Syzygium


aromaticum) pada hasil pengamatan struktur penyusunnya sudah bisa dideteksi
warna yang dihasilkan coklat kemerahan dan jaringan yang jelas terlihat yaitu
jaringan saluran minyak atsiri dan sel parenkim sedangkan pada gambar literatul
selnya mulai dari epidermis, xylem, floem lebih jelas serta dapat dibedakan antara
bagian-bagian dalam sel bunganya tersebut (Sumardi, Issep. 1993:204).

Pada bunga kedua yaitu bunga kembang sepatu (Hibiscus rosasinensis)


pada hasil pengamatan kelopak bunga, batang bunga berwarna hijau sedangkan
pada bunga, putik dan benang sari berwarna merah pada jaringannya yang terlihat
hanyalah jaringan epidermis dan jaringan pengangkut. Sedangkan pada gambar
literatul seluruh jaringannya tampak jelas (Firza.2011:24).

Pada bunga ketiga yaitu bunga lili (Lilium brownii) terdiri dari beberapa
jaringan penyusun. Bentuk pengamatannya yaitu pada tangkai bunga, kelopak
bunga, mahkota, filamen, anthera, ovarium, dan stilus bunga. Jika dibandingkan
antara hasil pengamatan dengan gambar literatul terdapat beberapa perbedaan
terutama pada kejelasan dan tata letak struktur-struktur penyusunnya. Pada
gambar hasil pengamatan bagian jaringan-jaringannya renggang dan sukar
ditentukan dan pada bagian ovarium lebih tampak jelas terutama pada segi
bentuknya dan ruas-ruas antar selnya tampak menonjol. Sedangkan pada gambar
literatul tia-tiap bagian bunga baik itu tangkai, mahkota, kelopak, filum, anthera,
ovarium dan stilus lebih jelas bentuk dan bagian-bagiannya serta pada gambar
literatul tidak ada lagi ditemukan gelembung udara yang akan berdampak pada
hasil pengamatan (Hidayat,1995:240).

Faktor kesalahan pada pengamatan kali ini yaitu kesalahan pada teknik
pengirisan sampel yang masih relatif tebal dan ada beberapa bagian yang rusak
biasanya ditemui pada bagian pinggiran preparat. Faktor kesalahan kedua yaitu
masih terdapat banyak gelembung pada preparat yang disebabkan oleh kesalahan
pada teknik menutup dengan dek glass dan pada cara fiksasi preparat.

Alasan perlakuan dari percobaan ini adalah penggunaan HCl 25% yang
berfungsi sebagai reaktan untuk mendeteksi warna kristal kalsium oksalat dan
kalsium karbonat dalam sel. Alasan perlakuan kedua yaitu fiksasi untuk
merekatkan sel pada objek glass, menghentikan aktifitas sel pada jaringan tanpa
menyebabkan perubahan-perubahan bentuk dan strukturnya, dan mencegah
otolisis sel yaitu pecahnya sel yang disebabkan oleh enzim-enzim yang
dikandungnya sendiri (Tim Dosen. 2017:8).

Dalil yang berhubungan dengan praktikum anatomi bunga dalam Q.S


Thaha : 131

Artinya: “Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada golongan.


Golongan dari mereka,sebagai bunga kehidupan dunia untuk kami uji mereka
dengannya. Dan karunia Tuhan adalah lebih baik dan lebih kecil.
Pada ayat diatas, kehidupan dunia diibaratkan sebagai bunga. Dimana
ketika suatu tanaman yang hendak mengeluarkan buahnya, biasanya diawali
dengan kemunculan bunga. Kadang kala bunga itu terlihat indah dan disaat lain
sedikit begitu sangat menawan. Bahkan terkadang tidak sedikit orang yang
memandang berhasrat untuk memetiknya dan dibawah pergi. Memang jika masih
berada ditangkai,terlihat begitu mempesona, namun jika diambil saat itu juga
maka terjadi malah layu. Dari gambar tersebut bahwa kehidupan dunia itu terlihat
begitu indah menawan dimata siapa saja yang melihat dan memandangnya.

Praktikum anatomi bunga juga merupakan salah satu praktikum yang


memiliki hubungan penting dalam ilmu farmasi dimana praktikum ini menjadi
dasar untuk mengetahui struktur dan atau bagian-bagian terkecil dari bunga
sehingga nantinya dapat bermanfaat pada saat pembuatan obat herbal yang
diambil dari sampel tanaman terutama pada bagian bunga. Dan praktikum ini juga
termasuk dalam sistem biologi yang diharapkan dapat membawa manfaat banyak
untuk penemuan dan pengembangan ilmu farmasi.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan


bahwa bunga merupakan pucuk yang termodifikasi yang memiliki bagian utama
kelopak (kalyx), tajuk/mahkota (carolla), benang sari (stamen), dan putik
(psitillum) dan memiliki bagian dasar yaitu dasar bunga (reseptakulum), tangkai
bunga (pediselus), dan kelenjar madu (nektarium).

Bagian anatomi bunga yaitu putik yang tersusun atas stigma dan tangkai
putik; stamen yang tersusun atas tangkai sari, sumbu bunga, artikulasi, tangkai
bunga, kelenjar nectar, benang sari, bakal buah, bakal biji, serbuk sari dan kepala
sari; perhiasan bunga (periantum) yang terdiri dari carolla dan kelopak.

B. Saran

1. Saran untuk asisten


Diharapkan untuk memberikan penjelasan yang lebih saat asistensi,
agar pada saat melaksanakan praktikum dapat berjalan dengan lancar.
2. Saran untuk laboratorium
Diharapkan untuk melengkapi fasilitas dari sarana prasarana agar
praktikum dapat berjalan lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA

Dirtjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta: Departemen


Kesehatan RI, 1979.

Fhan, A. Anatomi Tumbuhan Edisi Ketiga. Yogyakarta: UGM Press, 1991.

Firza. Anatomi Tumbuhan. Jakarta: Niaga Swadya, 2011.

Harbie, Tandi. Kitab Tanaman Berkhasiat Obat 266. Yogyakarta: Octapus


Publishing House, 2015.
Hidayat. Anatomi Tumbuhan Berbiji, Bandung: Penerbit ITB, 1995.

Sumardi, Iserep. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan. Bandung: Penerbit ITB,


1996.
Tjirosoepomo, Gembong. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: UGM Press, 2015.

Tjirosoepomo, Gembong. Taksonomi Tumbuhan Spermatophyta. Yogyakarta:


UGM Press, 2012.
LAMPIRAN
A. Skema Kerja

1. Bunga cengkeh (Syzygium aromaticum)

Disayat tipis melintang atau membujur bunga cengkeh

Diletakkan hasil sayatan diatas objek glass

Ditetes dengan reagen HCl 25%

Ditutup dengan dek glass

Difiksasi

Diamati dengan mikroskop

2. Bunga kembang sepatu (Hibiscus rosasinensis)

Disayat tipis melintang dan membujur tangkai, kelopak, mahkota, putik dan
benang sari bunga sepatu

Diletakkan hasil sayatan diatas objek glass

Ditetes dengan reagen HCl 25%

Ditutup dengan dek glass

Difiksasi
Diamati dengan mikroskop

3. Bunga lili (Lilium brownii)

Disayat tipis melintang dan membujur tangkai, mahkota, putik dan benang sari
bunga lili

Diletakkan hasil sayatan diatas objek glass

Ditetes dengan reagen HCl 25%

Ditutup dengan dek glass

Difiksasi

Diamati dengan mikroskop