Anda di halaman 1dari 39

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa karena
atas rahmat-Nya, kami dapat menyelesaikan laporan kunjungan perusahaan Walk
Through Survey sebagaimana mestinya. Laporan Walk Through Survey disusun
untuk melengkapi rangkaian kegiatan Pelatihan Hiperkes dan Keselamatan Kerja
yang dilaksanakan pada periode 15 – 22Oktober 2018. Laporan ini memaparkan
mengenai Kesehatan Kerja dan Ergonomi pada perusahaan PT. Bintang Toedjoe.
Dalam usaha penyelesaian laporan ini, kami banyak memperoleh
bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak
langsung. Untuk itu dalam kesempatan ini kami ingin menyampaikan terima kasih
kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan laporan ini.
Kami menyadari bahwa di dalam penulisan ini masih banyak kekurangan
oleh karena itu dengan segala kerendahan hati kami menerima semua saran dan
kritikan yang membangun guna perbaikan kedepannya.

Jakarta, Oktober 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i


DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 1


1.1 Latar Belakang Masalah ..................................................................... 1
1.2 Dasar Hukum ..................................................................................... 2
1.3 Profil Perusahaan ............................................................................... 3
1.4.1 Sejarah ....................................................................................... 3
1.4.2 Alamat ....................................................................................... 3
1.4.3 Visi dan misi ............................................................................. 3
1.4.4 Alur produksi ............................................................................ 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................ 6


2.1 Kesehatan Kerja ................................................................................. 6
2.1.1 Definisi ...................................................................................... 6
2.1.2 Program Kesehatan ................................................................... 7
2.1.3 Pemeriksaan Kesehatan ............................................................. 9
2.1.4 Sarana P3K .............................................................................. 10
2.1.5 Program pemenuhan Gizi........................................................ 13
2.16 Penyakit Akibat Kerja ............................................................. 13
2.2 Ergonomi .......................................................................................... 15
2.3 Pencegahan HIV/AIDS dan Narkoba............................................... 18

BABA III PELAKSANAAN ................................................................................ 21


3.1 Tanggal dan Waktu Pelaksanaan .................................................... 21
3.2 Lokasi Pengamatan ......................................................................... 21

BAB IV HASIL PENGAMATAN ....................................................................... 22


4.1 Fasilitas Pelayanan Kesehatan ......................................................... 22

ii
4.2 Program Kesehatan .......................................................................... 22
4.3 Pencegahan HIV/AIDS dan Narkoba............................................... 23
4.4 Pemeriksaan Kesehatan .................................................................... 23
4.5 Kesesuaian Pekerja dengan Alat ...................................................... 23
4.6 Program Pemenuhan Gizi Pekerja, Kantin atau Ruang Makan ....... 24
4.7 Penyakit Akibat Kerja ...................................................................... 24
4.8 Sarana P3K ....................................................................................... 24
4.9 Petugas Kesehatan ............................................................................. 25

BAB V PEMECAHAN MASALAH.................................................................... 26

BAB VIKESIMPULAN DAN SARAN ............................................................... 32


6.1 Kesimpulan ...................................................................................... 32
6.2 Saran ................................................................................................. 33

BAB VII PENUTUP ............................................................................................. 34

REFERENSI ......................................................................................................... 35

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Kecelakaan dan penyakit yang di dapat ditempat kerja merupakan penyebab


utama penderita perorangan dan penurunan produktivitas. Menurut ILO setiap
tahunnya ada lebih dari 250 juta kecelakaan kerja dan kurang lebih 160 juta tenag
kerja mendjadi sakit akibat bahaya yang ada di tempat kerja.Indonesia merupakan
salah satu negara industrial dengan jumlah pekerja yang tinggi, dimana berdasarkan
data Badan Pusat Statistik pada bulan Agustus 2017 jumlah pekerja di Indonesia
mencapai 128,06 juta jiwa. Setiap pekerjaan memiliki potensi bahaya dalam bentuk
kecelakaan kerja maupun penyakit akibat kerja dimana besarnya potensi
kecelakaan dan penyakit akibat kerja tersebut diperngaruhi oleh jenis
produksi,teknologi tang dipakai, bahan yang digunakan, tata tuang, lingkungan,
kualitas manajemen perusahaan dan tenaga kerja pelaksananya. Pada tahun 2014
jumlah kecelakaan kerja di Indonesia diperkirakan mencapai 24.910 pekerja. Untuk
memberikan perlindungan terhadap pekerja dari bahaya pekerjaan maka budaya
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Indonesia harus diterapkan di tempat
kerja.

Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) berperan dalam perlidungan tenaga


kerja. Dimana tujuan K3 berperan penting dalam memberi perlindungan tenaga
kerja dari bahaya pekerjaan yang mencakup kecelakaan dan penyakit akibat kerja
dengan maksud untuk optimalisasi dan peningkatan kualitas kesehatan pekerja di
Indonesia. Peningkatan kualitas kesehatan pekerja dapat dijadikan tolak ukur
terhadap produktivitas dan keberhasilan suatu perusahaan. Dimana suatu
perusahaan dengan kualitas kesehtan pekerja yang tinggi aakan meningkatkan
performa kerja tenaga kerjanya dan dapat meningkatkan produksi suatu perusahaan.

Kondisi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) perusahaan di Indonesia


masih rendah.Masih banyak masalah yang dapat ditemukan di tempat kera, yaitu

1
masih kurangnya kesadaran pekerja maupun perusahaan mengenai pentingnya
keselamatan dan keshatan kerja, masih tingginya angka kecelakaan kerja dan
rendahnya komitmen perusahaan untuk mengaplikasikan budaya Keselamatan dan
Kesehatan Kerja di lingkungan perusahaan.

1.2. Dasar Hukum

Dengan alasan untuk melindungi para tenaga kerja dan pengembangan usaha demi
tercapainya tidak adanya kecelakaan dan penyakit akibat kerja maka ada beberapa
landasan yang digunakan oleh perusahaan, sebagai berikut :

 UU No.I tahun 1970 tentang kesehatan dan keselamatan kerja


 UU No 13 tahun 2003 pasal 86 dan 87 tentang ketenagakerjaan
 UU No.23 tahun 1992 tentang kesehatan
 UU No 3 tahun 1992 tentang jaminan sosial tenaga kerja
 Permenakertrans No.03/Men/1982 tentang pelayanan kesehatan kerja
 Kepres RI No.22 tahun 1993 tentang penyakit yang disebabkan oleh
pekerjaan atau lingkungan kerja
 Kepmenakertrans No.68 tahun 2004 tentang pencegahan dan
penanggulangan HIV/AIDS di tempat kerja
 Permenakertrans No.11/Men/VI/2005 tentang pencegahan penyalahgunaan
narkoba, psikotropika dan zat adiktif lainnya di tempat kerja
 Permenakertrans No.01/Men/1976 tentang kewajiban pelatihan hiperkes
bagi dokter perusahaan
 Permenakertrans No.01/Men/1979 tentang kewajiban pelatihan hiperkes
bagi paramedik perusahaan
 Permenakertrans No.Per 02/Men/1980 tentang pemeriksaan kesehatan
tenaga kerja dalam penyelanggaraan keselamatan kerja
 Permenakertrans No.Per 03/Men/1983 tentang pelayanan kesehatan kerja.
 SE.Menakertrans No.SE.01/Men/1979 tentang pengadaan kantin dan ruang
makan

2
 SE.Dirjen binawas No.SE.86/BW/1989 tentang perusahaan catering yang
mengelola makanan bagi tenaga kerja
 Permenakertrans No.Per 05/MEN/VIII/2008 tentang pertolongan pertama
pada kecelakaan di tempat kerja.
 Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No 609 tahun 2012
tentang pedoman penyelesaian kasus kecelakaan kerja dan penyakit akibat
kerja.
 PP No. 44 tahun 2005 tentang penyelenggaraan program jaminan
kecelakaan kerja dan jaminan kecelakaan.

1.3. Profil Perusahaan

1.3.1 Sejarah Perusahaan

PT Bintang Toedjoe didirikan pada 29 April 1946 di Garut, Jawa Barat,


oleh shinse Tan Jun She, Tjia Pu Tjien, dan Hioe On Tjan. Nama Bintang Toedjoe
sendiri dipilih berdasarkan jumlah anak perempuan Tan, yakni 7 orang. Pada waktu
itu, dengan alat-alat yang sederhana dan mempekerjakan beberapa orang karyawan,
PT Bintang Toedjoe berhasil memproduksi obat-obatan yang dijual bebasguna
memenuhi kebutuhan masyarakat akan obat. Salah satu obat yang diproduksi sejak
berdirinya adalah Puyer No. 16 (Obat Sakit Kepala No. 16) yang sampaisaat ini
masih banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia dan diekspor ke beberapa
negara. Empat tahun sejak didirikan, PT Bintang Toedjoe pindah dari Garut ke
kawasan Krekot, Jakarta, dan pada tahun 1974 PT Bintang Toedjoe kembali pindah
ke kawasan Cempaka Putih, Jakarta. Pada tahun 1970-an ini PT Bintang Toedjoe
mulai memproduksi obat resep dokter. Pada tahun 1985, PT Bintang Toedjoe dibeli
oleh Kalbe Group dan berkembang dengan pesat. Tahun 1990 produk-produk PT
Bintang Toedjoe mulai diekspor ke mancanegara. Sejalan dengan peningkatan
produksinya, lokasi di kawasan Cempaka Putih sudah tidak memadai lagi, sehingga
pada tahun 1993 PT Bintang Toedjoe pindah ke Kawasan Industri Pulogadung,
menempati area seluas 12.000 meter persegi. Lalu September 2002, Head Office
pindah ke Pulomas, pabrik tetap di Pulogadung. Di area yang ditempati sampai

3
sekarang ini, selain pabrik juga terletak kantor pusat PT Bintang Toedjoe. Saat ini,
dengan memperkerjakan lebih dari 1000 orang karyawan, PT Bintang Toedjoe
merupakan salah satu perusahaan farmasi terbesar di Indonesia yang tidak hanya
memproduksi obat-obatan, melainkan juga memproduksi suplemen makanan dan
fitofarmaka.

1.3.2 Alamat Perusahaan

Jl. Jenderal Ahmad Yani No.2, RT.3/RW.13, Kayu Putih, Pulo Gadung, Kota
Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13210

1.3.3Visi dan Misi perusahaan

Visi : Untuk memberikan kesehatan bagi semua orang


Misi : Menjadi perusahaan produk kesehatan yang peling dikagumi dan disegani
melalui produk-produk inovatif dan berkualitas tinggi didukung oleh kemajuan
teknologi dan aksesibilitas tinggi.

Jumlah Pegawai Perusahaan :Jumlah total pegawai perusahaan adalah 500


orang.
Jam Kerja:
Factory : Jam Kerja : Shift I : 06.45 – 15.15 WIB
Shift II : 15.15 – 22.15 WIB

Asuransi Pegawai : Asuransi inhealth, BPJS Ketenagakerjaan & Kesehatan

Kelembagaan P2K3 : Perusahaan ini memiliki kelembagaan P2K3

Dokter Perusahaan : Perusahaan ini tidak memiliki dokter perusahaan maupun


paramedic

4
1.3.4 Alur Produksi

Preparasi dan penimbangan

Compounding

Filling

Packaging

Gudang finish good

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kesehatan Kerja

2.1.1 Definisi

Pengertian sehat senantiasa digambarkan sebagai suatu kondisi fisik, mental


dan sosial seseorang yang tidak saja bebas dari penyakit atau gangguan kesehatan
melainkan juga menunjukkan kemampuan untuk berinteraksi dengan lingkungan
dan pekerjaannya. Paradigma baru dalam aspek kesehatan mengupayakan agar
yang sehat tetap sehat dan bukan sekadar mengobati, merawat, atau menyembuhkan
gangguan kesehatan atau penyakit. Oleh karenanya, perhatian utama di bidang
kesehatan lebih ditujukan ke arah pencegahan terhadap kemungkinan timbulnya
penyakit serta pemeliharaan kesehatan seoptimal mungkin.1

Status kesehatan seseorang menurut Blum ditentukan oleh empat faktor sebagai
berikut.

a. Lingkungan, berupa lingkungan fisik (alami, buatan), kimia


(organik/anorganik, logam berat, debu), biologik (virus, bakteri,
mikroorganisme), dan sosial budaya (ekonomi, pendidikan, pekerjaan).
b. Perilaku yang meliputi sikap, kebiasaan, tingkah laku.
c. Pelayanan kesehatan: promotif, perawatan, pengobatan, pencegahan
kecacatan, rehabilitasi.
d. Genetik, yang merupakan faktor bawaan setiap manusia.1

Definisi kesehatan kerja adalah spesialisasi dalam ilmu


kesehatan/kedokteran beserta praktiknya yang bertujuan agar pekerja/masyarakat
pekerja beserta memperoleh derajat kesehatan yang setinggi - tingginya, baik fisik
atau mental, maupun sosial dengan usaha - usaha preventif dan kuratif, terhadap
penyakit - penyakit/gangguan - gangguan kesehatan yang diakibatkan faktor -
faktor pekerjaan dan lingkungan kerja, serta terhadap penyakit - penyakit umum.
Konsep kesehatan kerja dewasa ini semakin berubah, bukan sekadar “kesehatan

6
pada sektor industri” saja melainkan juga mengarah kepada upaya kesehatan untuk
semua orang dalam melakukan pekerjaannya (total health of all at work).
Merupakan upaya penyeserasian antara kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan
kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan dirinya
sendiri maupun masyarakat di sekelilingnya, agar diperoleh produktivitas kerja
yang optimal (UU Kesehatan 1992 Pasal 23).

Menurut Mangkunegara (dalam Sayuti, 2013:196) Kesehatan kerja adalah


kondisi yang bebas dari gangguan fisik, mental emosi, atau rasa sakit yang
disebabkan oleh lingkungan kerja.1,2

Keselamatan kerja sama dengan hygene perusahaan. Kesehatan kerja memiliki sifat
sebagai berikut:

a. Sasarannya adalah manusia.


b. Bersifat medis.
Situasi dan kondisi suatu pekerjaan, baik tata letak tempat kerja atau
material - material yang digunakan, memiliki risiko masing-masing
terhadap kesehatan pekerja. Ridley (2008) menyatakan bahwa kita harus
memahami karakteristik material yang digunakan dan kemungkinan reaksi
tubuh terhadap material tersebut untuk meminimasi risiko material terhadap
kesehatan.
Pengetahuan tentang substansi yang digunakan dalam pekerjaan
serta cara substansi tersebut masuk ke dalam tubuh merupakan pengetahuan
penting bagi pekerja. Dengan pengetahuan tersebut, pekerja dapat
mengetahui reaksi tubuh terhadap substansi kimia tersebut sehingga dapat
meminimasi timbulnya penyakit.1

2.1.2 Program kesehatan

Pelayanan kesehatan ( health care service) merupakan hak setiap orang yang
dijamin dalam Undang Undang Dasar 1945 untuk melakukan upaya peningkatkan

7
derajat kesehatan baik perseorangan, maupun kelompok atau masyarakat secara
keseluruhan.
Aplikasi kesehatan kerja berupa upaya promotif, preventif, kuratif, dan
rehabilitatif.

a. Pelayanan kesehatan Promotif


Suatu kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan pelayanan kesehatan
yang lebih mengutamakan kegiatan yang bersifat promosi kesehatan.
b. Pelayanan kesehatan Preventif
Suatu kegiatan pencegahan terhadap suatu masalah
kesehatan/penyakit Upaya preventif dilakukan untuk mencegah terjadinya
penyakit akibat kerja yang disebabkan oleh alat/mesin dan masyarakat yang
berada di sekitar lingkungan kerja ataupun penyakit menular umumnya
yang bisa terjangkit pada saat melakukan pekerjaan yang diakibatkan oleh
pekerja. Upaya preventif diperlukan untuk menunjang kesehatan optimal
pekerja agar didapat kepuasan antara pihak pekerja dan perusahaan
sehingga menimbulkan keuntungan bagi kedua belah pihak. Aplikasi upaya
preventif diantaranya pemakaian alat pelindung diri dan pemberian gizi
makanan bagi pekerja.
c. Pelayanan kesehatan Kuratif
Suatu kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan pengobatan yang
ditujukan untuk penyembuhan penyakit, pengurangan penderitaan akibat
penyakit, pengendalian penyakit, pengendalian kecacatan agar kualitas
penderita dapat terjaga seoptimal mungkin. Upaya penatalaksanaan
penyakit yang timbul pada saat bekerja merupakan langkah untuk
meningkatkan kepuasan pekerja dalam bekerja, sekaligus memberi motivasi
untuk pekerja supaya memiliki kesehatan yang optimal. Penyakit yang
sering timbul dalam suatu lokasi pekerjaan dapat menjadi tolak ukur dalam

8
mengambil langkah promosi dan pencegahan, sehingga tujuan
pemeliharaan dan peningkatan kesehatan kerja optimal dilaksanakan.
d. Pelayanan kesehatan Rehabilitatif
Suatu kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan untuk mengembalikan
bekas penderita ke dalam masyarakat sehingga dapat berfungsi lagi sebagai
anggota masyarakat yang berguna untuk dirinya dan masyarakat,
semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuannya

Salah satu aspek yang harus diimplementasikan dalam kesehatan kerja


adalah adanya pemeriksaan kesehatan bagi tenaga kerja, baik sejak awal sebelum
bekerja, selama bekerja, maupun sesudah bekerja. Tujuan dari pemeriksaan
kesehatan ini ditujukan agar selain tenaga kerja yang diterima di awal berada dalam
kondisi kesehatan setinggi-tingginya, juga untuk memantau status kesehatan
pekerja dan juga meminimalisir dan mendeteksi dini apakah ada penyakit akibat
kerja yang ditimbulkan akibat proses produksi.3

2.1.3 Pemeriksaan Kesehatan

Dalam pelaksanaan program kesehatan kerja, di dalamnya terkandung


kewajiban pelaksanaan pemeriksaan kesehatan bagi tenaga kerja. Pemeriksaan
kesehatan dilakukan oleh dokter perusahaan yang ditunjuk oleh pengusaha dan
telah memenuhi syarat sesuai dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi dan Koperasi No. Per. 01/MEN/1976. Tujuan dari dilakukan
pemeriksaan kesehatan tenaga kerja secara umum adalah memperoleh dan
mempertahankan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya selama bekerja maupun
setelah bekerja.

9
Pemeriksaan kesehatan tenaga kerja terbagi atas tiga ,antara lain:

 Pemeriksaan kesehatan awal


Ditujukan agar tenaga kerja yang diterima berada dalam kondisi
kesehatan yang setinggi-tingginya, tidak mempunyai penyakit menular
yang akan mengenai tenaga kerja lainnya dan cocok untuk pekerjaan yang
akan dilakukan sehingga keselamatan dan kesehatan tenaga kerja yang
bersangkutan dan tenaga kerja lainnya terjamin. Pemeriksaan yang
dilakukan antara lain, pemeriksaan fisik lengkap, kesegaran jasmani,
rontgen paru, laboratorium rutin dan pemeriksaan lain yang berkaitan
dengan pekerjaan tertentu.

 Pemeriksaan kesehatan berkala


Merupakan pemeriksaan kesehatan pada waktu-waktu tertentu
terhadap tenaga kerja yang dilakukan oleh dokter perusahaan. Pemeriksaan
dimaksudkan untuk menilai kemungkinan adanya pengaruh-pengaruh dari
pekerjaan sedini mungkin (deteksi dini) yang kemudian perlu dikendalikan
dengan usaha pencegahan. Semua perusahaan harus melakukan
pemeriksaan kesehatan berkala bagi tenaga kerja sekurang-kurangnya 1
tahun sekali.

 Pemeriksaan kesehatan khusus


Merupakan pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter perusahan
secara khusus terhadap tenaga kerja tertentu. Pemeriksaan bertujuan untuk
menilai adanya pengaruh dari pekerjaan tertentu terhadap tenaga kerja atau
kelompok tenaga kerja tertentu.
Pemeriksaan kesehatan khusus dapat dilakukan terhadap:

1) Tenaga kerja yang telah mengalami kecelakaan atau penyakit yang


memerlukan perawatan lebih dari 2 minggu.

10
2) Tenaga kerja usia lebih dari 40 tahun atau tenaga kerja wanita dan
tenaga kerja cacat, serta tenaga kerja muda yang melakukan pekerjaan
tertentu.
3) Tenaga kerja yang terdapat dugaan-dugaan tertentu mengenai
gangguan kesehatannya. Perlu dilakukan pemeriksaan khusus sesuai
kebutuhan.

2.1.4 Sarana P3K

Sarana P3K di tempat kerja diatur dalam Permenakertrans RI No.


15/MEN/VIII/2008. Dalam Permenakertrans tersebut, dijabarkan bahwa
Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan di tempat kerja (P3K) adalah upaya
memberikan pertolongan pertama secara cepat dan tepat kepada
pekerja/buruh/dan/atau orang lain yang berada di tempat kerja, yang mengalami
sakit atau cidera di tempat kerja. 4

Fasilitas P3K yang dimaksud dalam Permenakertrans ini meliputi ruang


P3K, kotak P3K dan isinya sesuai standar, alat evakuasi dan alat transportasi,
fasilitas tambahan berupa alat pelindung diri dan/atau peralatan khusus di tempat
kerja yang memiliki potensi bahaya yang bersifat khusus. Pengusaha wajib
menyediakan ruang P3K dalam hal proses produksi mempekerjakan pekerja/buruh
100 orang atau lebih atau kurang dari 100 orang dengan potensi bahaya tinggi.

Ruang P3K juga diatur standarnya, salah satunya meliputi lokasi yang harus
dekat dengan toilet/kamar mandi, jalan keluar, mudah dijangkau, dan dekat dengan
tempat parkir kendaraan. Kotak P3K juga harus memenuhi persyaratan sebagai
berikut, yaitu terbuat dari bahan yang kuat dan mudah dibawa, berwarna dasar putih
dengan lambang P3K berwarna putih dengan lambang P3K berwarna hijau dengan
isi kotak sesuai dengan Permenakertrans yang mengatur. Penempatan kotak P3K
juga harus pada tempat yang mudah dilihat dan dijangkau dengan diberi tanda arah

11
yang jelas dan cukup cahaya serta mudah diangkat apabila digunakan dan
disesuaikan dengan jumlah tenaga kerja yang ada, dan dalam hal tempat kerja
dengan unit kerja berjarak 500 meter atau lebih masing-masing unit kerja harus
menyediakan kotak P3K sesuai jumlah pekerja/buruh.

12
2.1.5 Program Pemenuhan Gizi

Gizi kerja adalah gizi/nutrisi yang diperlukan oleh tenaga kerja untuk
memenuhi kebutuhan sesuai dengan jenis pekerjaan dan beban kerja tambahan.
Gizi kerja menjadi masalah disebabkan beberapa hal yaitu rendahnya kebiasaan
makan pagi, kurangnya perhatian pengusaha, kurangnya pengetahuan tenaga kerja
tentang gizi, tidak mendapat uang makan, serta jumlah, kapan dan apa dimakan
tidak diketahui. 5

Efek dari gizi kerja yang kurang bagi pekerja adalah:

 Pekerja tidak bekerja dengan maksimal


 Pertahanan tubuh terhadap penyakit berkurang
 Kemampuan fisik pekerja yang berkurang
 Berat badan pekerja yang berkurang atau berlebihan
 Reaksi pekerja yang lamban dan apatis,
 Pekerja tidak teliti
 Efisiensi dan produktivitas kerja berkurang
Jenis pekerjaan dan gizi yang tidak sesuai akan menyebabkan
timbulnya berbagai penyakit seperti obesitas, penyakit jantung koroner,
stroke, penyakit degenerative, arteriosklerotik, hipertensi, kurang gizi dan
mudah terserang infeksi akut seperti gangguan saluran nafas. Ketersediaan
makanan bergizi dan peran perusahaan untuk memberikan informasi gizi
makanan atau pelaksanaan pemberian gizi kerja yang optimal akan
meningkatkan kesehatan dan produktivitas yang setinggi-tingginya.

2.1.6 Penyakit Akibat Kerja

Menurut International Labour Organization (ILO) tahun 1998, penyakit


akibat kerja adalah penyakit yang mempunyai penyebab yang spesifik atau asosiasi
kuat dengan pekerjaan, yang pada umumnya terdiri dari satu agen penyebab yang
sudah diakui. 6

13
Beberapa faktor penyebab penyakit akibat kerja, antara lain:

1. Faktor fisik
 Suara bising mengakibatkan ketulian
 Radiasi sinar rontgen atau sinar radioaktif menyebabkan penyakit kelainan
darah dan kulit.
 Suhu yang terlalu tinggi menyebabkan heat stroke, heat cramps,
hiperpireksia. Sedangkan suhu yang terlalu rendah menyebabkan frosbite.
 Tekanan udara yang tinggi menyebabkan Caison Disease
 Pencahayaan yang buruk menyebabkan kelainan pada mata.
 Getaran dapat menyebabkan Raynaud’s disease.

2. Faktor kimia
 Debu dapat menyebabkan pneumoconiosis, diantaranya: silikosis,
asbestosis dan lainnya.
 Uap dapat menyebabkan demam uap logam (metal fume fever),
dermatosis.
 Gas dapat menyebabkan keracunan, misalkan CO, H2S, Pb dan lainnya.
 Larutan zat kimia dapat menyebabkan iritasi pada kulit
 Awan atau kabut

3. Faktor biologi
 Misalkan bibit penyakit antraks atau brusella yang menyebabkan penyakit
akibat kerja pada tenaga kerja penyamak kulit

4. Faktor fisiologi/ergonomi
 Kesalahan konstruksi mesin, sikap badan yang tidak benar dalam melakukan
pekerjaan dan lain-lain yang dapat menimbulkan kelelelahan fisik dan gangguan
kesehatan bahkan lambat laun dapatmenyebakanterjadiperubahanfisik.

14
5. Faktor mental-psikologis
 Hubungan kerja atau hubungan industrial yang tidak baik dapat
menyebabkan depresi atau penyakit psikosomatis.

2.2 Ergonomi

Ergonomi menurut Badan Buruh Internasional (International Labor


Organization/ILO) adalah penerapan ilmu biologi manusia sejalan dengan ilmu
rekayasa untuk mencapai penyesuaian bersama antara pekerjaan dan manusia
secara optimum agar bermanfaat demi efisiensi dan kesejahteraan. Pada prosesnya
dibutuhkan kerjasama antara lingkungan kerja (ahli hiperkes), manusia (dokter dan
paramedik), serta mesin perusahaan (ahli tehnik). Kerjasama ini disebut segitiga
ergonomi.

Tujuan dari ergonomi adalah efisiensi dan kesejahteraan yang berkaitan erat
dengan produktivitas dan kepuasan kerja. Adapun sasaran dari ergonomi adalah
seluruh tenaga kerja baik sektor formal, informal, maupun tradisional. Pendekatan
ergonomi mengacu pada konsep total manusia, mesin, dan lingkungan yang
bertujuan agar pekerjaan dalam industri dapat berjalan secara efisien, selamat, dan
nyaman. Dengan demikian, dalam penerapannya harus memperhatikan beberapa
hal yaitu: tempat kerja, posisi kerja, dan proses kerja.

Prinsip ergonomi adalah mencocokkan pekerjaan untuk pekerja. Ini berarti


mengatur pekerjaan dan area kerja untuk disesuaikan dengan kebutuhan pekerja,
bukan mengharapkan pekerja untuk menyesuaikan diri. Desain ergonomis yang
efektif menyediakan workstation, peralatan dan perlengkapan yang nyaman dan
efisien bagi pekerja untuk digunakan. Hal ini juga menciptakan lingkungan kerja
yang sehat, karena mengatur proses kerja untuk mengendalikan atau
menghilangkan potensi bahaya. Tenaga kerja akan memperoleh keserasian antara
tenaga kerja, lingkungan, cara dan proses kerjanya. Cara bekerja harus diatur
sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan ketegangan otot, kelelahan yang
berlebihan atau gangguan kesehatan yang lain.

15
Adapun tujuan penerapan ergonomi adalah sebagai berikut:

(1) Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental, dengan meniadakan beban


kerja tambahan (fisik dan mental), mencegah penyakit akibat kerja, dan
meningkatkan kepuasan kerja;
(2) Meningkatkan kesejahteraan sosial dengan jalan meningkatkan kualitas
kerjasama sesama pekerja, pengorganisasian yang lebih baik dan
menghidupkan sistem kebersamaan dalam tempat kerja;
(3) Berkontribusi di dalam keseimbangan rasional antara aspek-aspek teknik,
ekonomi, antropologi, dan budaya dari sistem manusia-mesin untuk tujuan
meningkatkan efisiensi sistem manusia-mesin.

Adapun manfaat pelaksanaan ergonomi adalah menurunnya angka


kesakitan akibat kerja, menurunnya kecelakaan kerja, biaya pengobatan dan
kompensasi berkurang, stress akibat kerja berkurang, produktivitas membaik, alur
kerja bertambah baik, rasa aman karena bebas dari gangguan cidera, kepuasan kerja
meningkat.

Ruang lingkup ergonomi sangat luas aspeknya, antara lain meliputi:(1)


tekhnik; (2) fisik; (3) pengalaman psikis; (4) anatomi, utamanya yang berhubungan
dengan kekuatan dan gerakan otot dan persendian; (5) anthropometri; (6) sosiologi;
(7) fisiologi, terutama berhubungan dengan temperatur tubuh, oxygen up take dan
aktivitas otot; (8) disain; dan sebagainya.

Aplikasi Ergonomi pada Tenaga Kerja

1. Posisi kerja
Terdiri dari posisi duduk dan posisi berdiri, posisi duduk dimana kaki
tidak terbebani dengan berat tubuh dan posisi stabil selama bekerja. Sedangkan
posisi berdiri dimana posisi tulang belakang vertikal dan berat badan tertumpu
secara seimbang pada dua kaki.

16
2. Proses kerja
Para pekerja dapat menjangkau peralatan kerja sesuai dengan posisi
waktu bekerja dan sesuai dengan ukuran anthropometrinya. Harus dibedakan
ukuran anthropometri barat dan timur.
3. Tata letak tempat kerja
Display harus jelas terlihat pada waktu melakukan aktivitas kerja.
Sedangkan simbol yang berlaku secara internasional lebih banyak digunakan
daripada kata-kata.
4. Mengangkat beban
Bermacam-macam cara dalam mengangkat beban yakni, dengan
kepala, bahu, tangan, punggung, dan lain-lain. Beban yang terlalu berat dapat
menimbulkan cedera tulang punggung, jaringan otot, dan persendian akibat
gerakan yang berlebihan.

Risiko potensi bahaya ergonomi akan meningkat:


 Dengan tugas monoton, berulang atau kecepatan tinggi;
 Dengan postur tidak netral atau canggung;
 Bila terdapat pendukung yang kurang sesuai;
 Bila kurang istirahat yang cukup.

Apa yang dapat dilakukan untuk mencegah atau meminimalkan bahaya


organisasi kerja dan ergonomis?
 Menyediakan posisi kerja atau duduk yang sesuai, meliputi sandaran, kursi
/bangku dan / atau tikar bantalan untuk berdiri.
 Desain workstation sehingga alat -alat mudah dijangkau dan bahu pada
posisi netral, rileks dan lengan lurus ke depan ketika bekerja.
 Jika memungkinkan, pertimbangkan rotasi pekerjaan dan memberikan
istirahat yang teratur dari pekerjaan intensif. Hal ini dapat mengurangi risiko
kram berulang dan tingkat kecelakaan dan kesalahan.7

17
2.3 Pencegahan HIV AIDS dan Narkoba
a. HIV/AIDS

HIV/AIDS saat ini di bukan hanya menjadi masalah kesehatan akan tetapi
juga menjadi masalah di bidang dunia kerja yang berdampak pada produktivitas
dan profitabilitas perusahaan. Kementrian Ketenagakerjaan RI telah mengeluarkan
Keputusan Menteri No. 68/Men/IV/2004 mengenai pencegahan dan
Penaggulangan HIV/AIDS di tempat kerja, di mana dalam Keputusan Menteru
Tenaga Kerja dan Transmigrasi terdapat kewajiban pengusaha untuk melakukan
upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di tempat kerja melalui:

1. Pengembangan kebijakan tentang upaya pencegahan dan penanggulangan


HIV/AIDS di tempat kerja yang dapat dituangkan dalam Peraturan
Perusahaan (PP) atau Perjajian Kerja Bersama (PKB)
2. Pengkomunikasian kebijakan dengan cara menyebarluaskan informasi dan
menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan.
3. Pemberian perlindungan kepada pekerja/buruh dengan HIV/AIDS dari tindak
dan perlakuan diskriminatif.
4. Penerapan prosedur keselamatan dan kesehatan kerja khusus untuk
pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS sesuai dengan peraturan
perundan-undangan yang berlaku.

Menurut ILO terdapat beberapa prinsip kunci dan kaidah tentang


HIV/AIDS di dunia kerja yang berlaku bagi semua aspek pekerjaan dan semua
tempat kerja, termasuk sektor kesehatan, antara lain:

1. Isu tempat kerja


HIV/ AIDS adalah isu tempat kerja, karena dia mempengaruhi angkatan
kerja, dan karena tempat kerja dapat memainkan peran vital dalam membatasi
penularan dan dampak epideminya.

18
2. Nondiskriminasi
Tidak ada diskriminasi terhadap pekerja berdasarkan status HIV yang nyata
atau dicurigai.
3. Kesetaraan gender
Hubungan gender yang lebih setara dan pemberdayaan wanita adalah penting
untuk mencegah penularan HIV dan membantu masyarakat mengelola
dampaknya.
4. Lingkungan kerja yang sehat
Tempat kerja harus meminimalkan risiko pekerjaan, dan disesuaikan dengan
kesehatan dan kemampuan pekerja.
5. Dialog Sosial
Kebijakan dan program HIV/AIDS yang sukses membutuhkan kerjasama dan
saling percaya antara pengusaha, pekerja dan pemerintah
6. Tidak boleh melakukan skrining untuk tujuan rekrutmen
Tes HIV di tempat kerja harus dilaksanakan secara sukarela dan rahasia, tidak
bolehdigunakan untuk menskrining pelamar atau pekerja.
7. Kerahasiaan
Akses kepada data perseorangan, termasuk status HIV pekerja, harus dibatasi
oleh aturan dan kerahasiaan.
8. Melanjutkan hubungan pekerjaan
Pekerja dengan penyakit yang berkaitan dengan HIV harus dibolehkan
bekerja dalam kondisi yang sesuai selama dia mampu secara medik.
9. Pencegahan
Mitra sosial mempunyai posisi yang unik untuk mempromosikan upaya
pencegahan melalui informasi, pendidikan dan dukungan bagi perubahan
perilaku.
10. Kepedulian dan dukungan Pekerja berhak mendapat pelayanan kesehatan
yang terjangkau.

19
b. Pencegahan Narkoba

Seperti yang tercantum Pasal 2 (1) Pengusaha wajib melakukan upaya aktif
pencegahan penanggulangan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika,
psikotropika dan zat adiktif lainnya di tempat kerja”. (2) a. Penetapankebijakan;
b. Penyusunan dan pelaksanaan program.Pasal 3“Pengusaha dan pekerja/buruh
dapat berkonsultasi dengan pemerintah yang terkait“.Pasal 4“Pengusaha dapat
meminta pekerja/buruh yang diduga menyahgunakan narkotika, psikotropika dan
zat adiktif lainnya untuk melakukan tes dengan biaya ditanggung olehperusahaan”

Pimpinan, manajemen tempat kerja mengembangkan budaya lingkungan


kerja bersih narkoba melalui upaya pencegahan seperti sosialisai/desiminasi,
pemberian ketrampilan (Life Skill) untuk pekerja.

Program pencegahan melalui pelatihan keterampilan kepada


pekerja, bertujuan untuk memperkuatkeluarga pekerja membangun faktor protektif
di dalam keluarga, sehingga mengurangi resiko pekerja, anggota keluarganya
terlibat dalam berbagai persoalan kesehatan, sosial, termasuk menjadi
penyalahgunaan narkoba, serta untuk mewujudkan hubungan keluarga pekerja
yang positif.

Melaksanakan EAPs Melaksanakan EAPs (Employee Assistance


Programs) untuk menyediakan layanan rahasia guna membantu pekerja mengatasi
persoalan pribadi yang dihadapi, yang mungkin berdampak terhadap kinerja kerja
pekerja, seperti masalah keuangan, atau kesulitan di dalam perkawinan.

Pimpinan, manajemen tempat kerja menerapkan kebijakan lingkungan kerja


bebas narkoba, untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat bagi
komunitas pekerja, melindungi dan mempromosikan pola hidup sehat dan
aman.Sehingga dapat meningkatkan produktifitas dan memperkuat kinerja usaha
perusahaan secara berkelanjutan, melindungi kesehatan, keselamatan, dan
kesejahteraan pekerja, dan menawarkan dukungan bagi pekerja yang bermasalah.8

20
BAB III
PELAKSANAAN

3.1 Tanggal dan Waktu Pengamatan

Kunjungan perusahaan ke PT. BINTANG TOEDJOE ini dilakukan pada


hari Kamis tanggal 18 Oktober 2018 pukul 13:00 – 15:00 WIB.

3.2 Lokasi Pengamatan

Lokasi PT. BINTANG TOEDJOE terletak di Pulomas Jl. Ahmad Yani


No.2, Rt. 3 / Rw. 13, Kayu Putih, Pulo Gadung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus
Ibukota Jakarta.

21
BAB IV
HASIL PENGAMATAN

4.1.Fasilitas Pelayanan Kesehatan

Fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia yaitu klinik dokter, yang


berada dibelakang gedung utama. Namun, beberapa bulan ini klinik tersebut tutup
karena dokter perusahaan tersebut resign sehingga tidak terdapat satupun dokter
perusahaan yang bekerja ditempat ini. Di setiap departemen pekerjaan terdapat
satu kotak P3K yang letaknya didalam kantor departemen. Para karyawan hanya
diberikan dispensasi karena sakit berupa uang untuk mengganti biaya pengobatan
diluar dan libur untuk berobat.
Setahun sekali pihak dari PT. BINTANG TOEDJOE melakukan evaluasi
tahunan MCU untuk para karyawannya dan 2 kali/tahun memberikan edukasi
tentang penyakit ke karyawan.

4.2. Program Kesehatan

Program kesehatan promotif 2 kali/ tahun yang dilakukan yaitu kegiatan


penyuluhan APAR (Alat Pemadam Kebakaran Ringan) dan penyuluhan diikuti
semua tenaga kerja mengenai tentang penyakit umum seperti hipertensi, HIV/AIDS
dan narkoba.
Upaya preventif pada pekerja hanya diberikannya asupan berupa vitamin
dan susu yang diberikan 2 kali dalam seminggu untuk menjaga daya tahan tubuh
pekerja.
Program kesehatan kuratif yaitu pengobatan yang dilakukan oleh dokter
perusahaan di poliklinik dan MCU yang dilakukan tiap satu tahun sekali.
Program kesehatan rehabilitasi tidak dilakukan oleh perusahaan ini dalam
bentuk rujukan tenaga kerja yang mengalami kecelakaan kerja ke rumah sakit yang

22
mengadakan kerja sama dengan perusahaan ini. Tetapi tidak ada pemindahan tugas
pekerjaan apabila karyawan tersebut mengalami kecelakaan kerja.

4.3. Pencegahan HIV AIDS dan Narkoba

Pencegahan HIV AIDS dilakukan berupa penyuluhan. Tampak dibeberapa


ruangan terdapat poster pencegahan HIV AIDS dan Narkoba. Namun, pada saat
penerimaan calon tenaga kerja tidak ada persyaratan untuk dilakukan tes narkoba.

4.4. Pemeriksaan Kesehatan

PT. BINTANG TOEDJOE selalu mengadakan Pemeriksaan Kesehatan


Awal kepada calon tenaga kerja dengan cara karyawan pergi ke MCU diklinik
perusahaan kemudian melakukan beberapa wawancara dan pemeriksaan fisik
kepada calon tenaga kerja, lalu dokumen hasil MCU diberikan ke perusahaan lalu
dinilai apakah pekerja FIT atau UNFIT untuk bekerja.

Setahun sekali pihak dari PT. BINTANG TOEDJOE melakukan evaluasi


tahunan MCU untuk para karyawannya dengan dokter perusahaan PT. BINTANG
TOEDJOE dan memeriksakan kesehatan pekerja melalui wawancara dan
pemeriksaan fisik. Apabila memerlukan pemeriksaan penunjang yang tidak
tersedia di klinik perusahaan, maka tenaga kerja akan dirujuk ke Rumah Sakit
setempat yang lebih memadai.

4.5. Kesesuaian Pekerja dengan Alat

Pada beberapa departemen, para pekerja melakukan pekerjaannya dalam


posisi statis seperti posisi kerja di depan mesin packing. Selain itu, kursi yang
mereka gunakan kurang ergonomis, pada alur pengecekan kemasan sachet terdapat
beberapa pekerja duduk statis dengan bangku tanpa sandaran punggung posisi
cenderung membungkuk sehingga posisi mereka tidak ergonomis. Didalam

23
ruangan departemen packing, para pekerja terpapar bising tanpa disertai dengan
alat pelindung telinga.

4.6. Program Pemenuhan Gizi Pekerja, Kantin atau Ruang Makan

Dalam pemenuhan gizi pekerjanya PT. BINTANG TOEDJO memberikan


makan di kantin yang berada di lantai 6 perusaan tersebut, kantin menyediakan
makanan hanya makan siang sesuai jam istrahat pada pukul 12.00 sampai 13.15.
Untuk kalori makanan yang disediakan kurang lebih 1400 kal kepada tenaga
kerja.. Namun tidak didapatkan data pemenuhan nutrisi berupa karbohidrat,
protein, lemak dikarenakan tidak adanya bagian gizi di tempat ini. Berdasarkan
Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 01/Men/1979 tentang
pengadaan kantin dan ruang makan, perusahaan dengan jumlah tenaga kerja lebih
dari 200 orang wajib memiilki kantin sendiri, PT BINTANG TOEDJOE memeliki
kantin dan tempat makan untuk kebutuhan pekerjannya.

4.7. Penyakit Akibat Kerja

Belum ada data yang pasti untuk jenis penyakit yang dikarenakan akibat
kerja di PT. BINTANG TOEDJOE ini, namun pada bagian K3 PT. BINTANG
TOEDJOE mengaku ISPA merupakan penyakit tersering terjadi pada karyawannya
namun tidak bisa dipastikan sebagai penyakit yang diakibatkan pekerjaan.

4.8. Sarana P3K

Perusahaan menyediakan kotak P3K hampir di setiap devisi atau bagian


produksi. Pada perusahaan terdapat personel P3K untuk memberikan pertolongan
pertama kepada tenaga kerja yang mengalami kecelakaan kerja yang berjumlah 1
orang di tiap unit atau di tiap alur produksi. Sehingga jika terjadi kecelakaan atau
penyakit akibat kerja, maka yang melakukan pertolongan pertama yaitu petugas
tersebut, dan petugas tersebut telah dilatih dengan training first aid kit. Secara
pengetahuan dan perlengkapan P3K sudah baik, namun untuk perusahaan besar

24
dengan jumlah pekerja banyak seharusnya dibuat regu atau tim P3K sehingga
pertolongan pertama terhadap korban kecelakan kerja lebih baik.

4.9 Petugas Kesehatan

Pada peninjauan terhadap perusahaan ini, tidak didapatkan petugas


kesehatan berupa dokter yang bekerja pada perusahaan tersebut. Dokter
perusahaan yang bekerja di PT. BINTANG TOEDJOE sudah resign kurang lebih
2 bulan yang lalu dan belum ada pengganti. Untuk permasalahan kesehatan di
perusahaan apabila terdapat pekerja yang sakit langsung dibawa ke RS. Pertamnia
seberang PT. BINTANGTOEDJOE.

25
BAB V
RUMUSAN MASALAH

No Rumusan masalah Peraturan Standar & Saran


perundangan yang
berlaku
1. Fasilitas Kesehatan: Permenaker Perusahaan yang memiliki tenaga
Tersedia klinik No.3/MEN/1982 tentang kerja 200-500 orang dengan
kesehatan, namun pelayanan Kesehatan tingkat bahaya rendah harus
beberapa bulan ini Kerja menyelenggarkan pelayahan
klinik tersebut tutup Kepdirjen no. 22 Tahun kesehatan kerja:
karena dokter 2008 - Berbentuk klinik buka tiap
perusahaan tersebut hari kerja (dilayani oleh
resign. Di setiap paramedis)
departemen terdapat Di pimpin dokter yang praktek 2
kotak P3K dan tim, hari sekali.
pembiayaan
reimbursement dan
dispensasi istirahat
pada pekerja

Upaya preventif: Permenaker - Pembinaan dan pengawasan


Pemeriksaan No.02/MEN/1980 kesehatan kerja dan lingkungan
kesehatan berkala tentang Pemeriksaan kerja minimal setiap 3 bulan sekali
dilakukan minimal 1 Kesehatan Tenaga Kerja - Dilakukan pemeriksaan berkala
kali per tahun. dalam Penyelenggaraan 1 tahun sekali, dan pemeriksaan
Penggunaan alat Keselamatan Kerja khusus bila diperlukan
pelindung diri sudah
sesuai standar.

26
Permenakertrans -Pemberian penyuluhan tentang
No.Per.03/Men/1982 pentingnya APD dan bila
tentang Pelayanan melanggar akan diberi sanksi.
Kesehatan Kerja

Permenakertrans
No.08/Men/VII/2010
tentang Alat Pelindung
Diri

Upaya Promotif Permenakertrans Pemberian penyuluhan tentang


Program penyuluhan No.03/Men/1982 HIV AIDS dan penyakit tersering
mengenai HIV AIDS tentang PKK minimal 1 kali dalam 1 tahun.
dan Narkoba, Kepmentrans no. 68 Pemberian poster peringatan
penggunaan APAR, Tahun 2004 disetiap alat yang berbahaya dan
dan penyuluhan poster keselamatan kerja serta
mengenai penyakit penanggulangan awal pada
umum sudah kecelakaan kerja disetiap
dilaksanakan 2 kali departemen
per tahun.

Terdapat poster cara


pemakaian APD,
bahaya HIV/AIDS
dan penularannya,
serta mengenai
kecelakaan kerja.
Upaya Kuratif: Permenakertrans Membangun dan menyediakan
Terdapat klinik No. Per.03/Men/1982 pelayanan klinik di dalam lingkup
pemeriksaan dan tentang PKK yang

27
pengobatan di meliputi usaha promotif, perusahaan dan dokter
lingkungan preventif, kuratif, dan perusahaan.
perusahaan. rehabilitatif.
Permenaker
No.2/Men/1980 tentang
Pemeriksaan Kesehatan
Tenaga kerja dalam
Penyelenggaraan.
Upaya Rehabilitatif : - Konfensi ILO No. - Peningkatan upaya promotif dan
Tidak adanya 159/1983 tentang proses preventif sehingga tidak terdapat
pemindahan tugas pemulihan tenaga kerja kecelakaan kerja dan penyakit
pekerjaan apabila dari kecelakaan atau akibat kerja.
karyawan tersebut penyakit untuk dapat - Terdapat penilaian dan konseling
mengalami bekerja kembali baik di dalam upaya pemulihan apabila
kecelakaan kerja tempat kerja semula atau terjadi kecelakaan.
maupun penyakit baru yang sesuai dengan - Penyediaan pelayanan
akibat kerja kondisi dan pengobatan pada klinik
kemampuannya perusahaan.
- Permenakertrans No.
Per.03/Men/1982
tentang PKK yang
meliputi usaha promotif,
preventif, kuratif, dan
rehabilitatif.
2 HIV AIDS : - Kepmenakertrans No. - Pemeriksaan HIV AIDS tidak
Pencegahan 68/MEN/IV/2004 menjadi kewajiban calon tenaga
HIV/AIDS dilakukan tentang Pencegahan dan kerja kecuali atas inisiatif
berupa penyuluhan. Penanggulangan HIV (permintaan) individu tersebut.
Tampak di beberapa AIDS di tempat kerja - Calon tenaga kerja dengan HIV
ruangan terdapat AIDS positif diperbolehkan untuk

28
poster pencegahan - Kepdirjen PPK No. bekerja dengan pemberian edukasi
HIV/AIDS. Kep.22/DJPPK/V/2008 dan pertimbangan pekerjaan yang
tentang Petunjuk Teknis sesuai.
Tidak ada persyaratan Penyelenggaraan
untuk dilakukan tes Pelayanan Kesehatan
HIV/AIDS pada saat Kerja.
penerimaan calon - Kepdirjen no. 20 tahun
tenaga kerja. 2005
3 Posisi kerja tidak UU no.1 tahun 1970 Melakukan penyuluhan tentang
ergonomis, posisi tentang keselamatan bagaimana sikap tubuh yang
mengangkut kardus kerja ergonomis dalam bekerja.
dan menggunakan
punggung sebagai UU RI no.13 tahun 2003 Melakukan penyuluhan tentang
tumpuan sehingga tentang bagaimana cara mengangkat dan
menyebabkan risiko ketenagakaerjaan mengangkut yang benar.
nyeri pinggang
bawah. PP no.50 tahun 2012 Menyediakan alat-alat sesuai
Kursi yang mereka tentang penerapan ergonomi.
gunakan tidak SMK3
memiiki sandaran
yang baik.
4 Terdapat ruang Surat edaran menteri Pada perusahaan yang memiliki
kantin. tenaga kerja dan jumlah pekerja 200 orang atau
Tidak pernah ada transmigrasi NO. SE. lebih harus disediakan kantin.
penyuluhan tentang 01/men/1979/ tentang Perusahaan ini perlu menyediakan
kebutuhan dan pengadaan kantin dan kantin sendiri.
pentingnya gizi bagi ruang makan
pekerja Mengadakan penyuluhan tentang
kebutuhan gizi kerja.

29
5 Tidak adanya data Undang undang no 1 Melakukan pemeriksaan khusus
yang memadai tahun 1970 tentang bila di butuhkan.
terhadap penyakit keselamatan kerja Penyediaan klinik sudah ada,
akibat kerja. namun saat ini tidak ada dokter
Pemeriksaan Permenaker no 2/Men/ perusahaan, jika terdapat pekerja
kesehatan berkala 1980 tentang yang sakit maka langsung dirujuk
dilakukan tiap 1 tahun pemeriksaan kesehatan ke RS Pertamina. Sebaiknya
sekali. tenaga kerja dalam terdapat dokter perusahaan yang
penyelenggaraan berjaga pada saat jam kerja (bukan
keselamatan kerja on call) untuk memudahkan
dokumentasi data yang memadai
sebagai deteksi penyakit akibat
kerja
6 Sarana P3K Permenaker Pembekalan latihan P3K pada
Pada tiap bagian alur No.Per.03/MEN/1982 pekerja
produksi terdapat 1
kotak P3K dan 1 Peraturan menteri tenaga
orang petugas P3K kerja dan transmigrasi
tiap shift untuk republik indonesia
memberikan nomor:PER 15/ MEN/
pertolongan pertama VIII/2008
kepada tenaga kerja
yang mengalami
kecelakaan kerja.
7 Petugas kesehatan Permenaker Terdapat 12 tugas pokok dan
Tidak ada petugas No.Per.03/MEN/1982 fungsi pelayanan kesehatan dari
kesehatan berupa tentang pelayanan dokter perusahaan yang mencakup
dokter maupun Kesehatan Kerja upaya promotif, preventif, kuratif,
paramedis yang dan rehabilitatif terhadap

30
bertugas di kesehatan dan keselamatan
perusahaan tersebut pekerja

Melibatkan dokter perusahaan


maupun paramedis perusahaan
dalam upaya pelayanan K3

31
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari hasil walkthough survey yang kami lakukan, maka kesimpulan yang dapat
ditarik adalah:
 Dari aspek ergonomis sikap dan posisi tubuh pekerja kurang ergonomis.
 Dari aspek pemenuhan gizi pekerja, perusahaan memberikan makan
catering dengan total kalori 1400 kal kepada tenaga kerja dan diberikan
hanya pada makan siang saja. Namun tidak didapatkan data pemenuhan
nutrisi berupa karbohidrat, protein, lemak dikarenakan tidak adanya bagian
gizi di tempat ini. Selain disediakan makan siang oleh perusahaan juga
menyediakan ruang makan.
 Dari aspek pemeriksaan kesehatan belum sesuai dengan aturan, Perusahaan
selalu mengadakan Pemeriksaan Kesehatan Awal kepada calon tenaga kerja
dengan cara karyawan pergi ke MCU diluar perusahaan kemudian
melakukan beberapa wawancara dan pemeriksaan fisik kepada calon tenaga
kerja, lalu dokumen hasil MCU diberikan ke perusahaan lalu dinilai apakah
pekerja FIT atau UNFIT untuk bekerja. Selain itu juga dilakukan evaluasi
tahunan MCU untuk para pekerja dengan memanggil tenaga medis ke
perusahaan. Pemeriksaan yang dilakukan berupa anamnesis, pemeriksaan
fisik, pemeriksaan laboratorium dan foto thoraks. Bagi tenaga kerja yang
memiliki keluhan khusus diberikan terapi khusus ke dokter di luar dan
dibiayai oleh perusahaan.
 Dari aspek program kesehatan, baik itu promotif,preventif, kuratif dan
rehibiltatif tidak jelas datanya. Dikarenakan tidak adanya dokter perusahaan
pada perusahaan ini.
 Dari aspek pencegahan HIV, AIDS, dan narkoba belum dilakukan secara
optimal dan belum dilakukan penyuluhan.
 Ditinjau dari segi sarana P3K , sudah tersedia kotak P3K di setiap devisi
atau bagian produksi, jika terjadi kecelakan pertolongan pertama dilakukan
oleh tenaga kerja lain, tidak ada petugas P3K khusus.

32
 Ditinjau dari segi pelayanan kesehatan, perusahaan ini memiliki poliklinik
sendiri di tempat kerja namun untuk saat ini tidak terdapat dokter
perusahaann sehinggapelayanan kesehatan di tempat kerja ini dapat
dikatakan belum optimal.

B. Saran
Dari hasil walkthrough survey yang kami lakukan, maka kami ajukan beberapa
saran yaitu :
 Melakukan sosialisasi dan pelatihan petugas kesehatan demi kelangsungan
program kesehatan (promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif)
 Melakukan penelitian epidemiologi untuk mengetahui 10 penyakit
terbanyak dan penyakit akibat kerja yang ada di perusahaan.
 Menyediakan dokter perusahaan dan paramedis kesehatan untuk
bertanggung jawab terhadap pelayanan kesehatan para pekerja di poliklinik
khusus yang sudah disediakan perusahaan.
 Penyuluhan tentang penggunaan APD yang baik dan benar, posisi yang
ergonomis dalam melakukan pekerjaan, HIV-AIDS dan narkoba.
 Perusahaan seharusnya melaporkan setiap PAK yang terjadi.
 Pengurus seharusnya memasang pemberitahuan tentang nama dan lokasi
P3K di tempat kerja pada tempat yang mudah terlihat.

Menyediakan ruangan P3K, petugas P3K, dan alat transportasi untuk pertolongan
pada kecelakaan kerja.

33
BAB VII
PENUTUP

Demikianlah laporan Walk Through Survey mengenai kesehatan kerja dan


ergonomi yang dapat kami sampaikan. Tentunya banyak kekurangan dan
kelemahan karena terbatasnya waktu dan pengetahuan penulis. Kritik dan saran dari
pembaca sangat kami harapkan demi perbaikan dan melengkapi
ketidaksempurnaan pada laporan ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi
penulis dan pembaca dalam memperluas wawasan dan pengetahuan dalam bidang
kesehatan dan keselamatan kerja, khususnya mengenai kesehatan kerja dan
ergonomi.

34
REFERENSI

1. Redjeki S. Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Kementrian Kesehatan


Republik Indonesia. 2016. Available at :
http://bppsdmk.kemkes.go.id/pusdiksdmk/wp-
content/uploads/2017/08/Kesehatan-dan-Keselamatan-Kerja-
Komprehensif.pdf
2. Sayuti, Abdul Jalaludin. Manajemen Kantor Praktis. Bandung: Alfabeta.
2013.
3. Republik Indonesia. 2009. Undang-undang No.36 Tahun 2009 Pasal 52 ayat
(2) UU Kesehatan. Sekretariat Negara. Jakarta.
4. Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Republik Indonesia. Peraturan
Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor :
Per.15/Men/Viii/2008 Tentang Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan Di
Tempat Kerja. Available at : http://www.gmf-aeroasia.co.id/wp-
content/uploads/bsk-pdf-
manager/127_PERMENAKERTRANS_NO._PER.15_MEN_VIII_2008_
TENTANG_PERTOLONGAN_PERTAMA_PADA_KECELAKAAN_DI
_TEMPAT_KERJA.PDF
5. Suma’mur. Higiene Perusahaan Dan Kesehatan Kerja (Hiperkes) Jakarta:
CV. Sagung Seto. 2009.
6. ILO . Occupational Health Services in ILO Encyclopaedia, 2000 : 16.1-62
7. International Labor Organization . Keselamatan dan kesehatan Kerja . 5th
ed. Jakarta : ILO. 2013
8. Peraturan menteri tenaga kerja dan transmigrasi RI. Nomor : PER. 11 /
MEN / VI / 2005.

35