Anda di halaman 1dari 4

Nadhila septia saiman

1501970

KONFLIK KEPENTINGAN AKUNTANSI (Conflict of Interest)

A. Pengertian Konflik Kepentingan


Menurut Hartman dan Desjardins (2012), konflik kepentingan terjafi ketika
seseorang memegang sebuah posisi dimana ia diberikan kepercayaan untuk membuat
penilaian atas nama pihak lain, namun kepentingan atau kewajiban pribadinya
bertentangan (berkonflik) dengan kepentingan atau kewajiban pihak lainya. Konflik
kepentingan juga timbul ketika kewajiban etis seseorang dalam tugasnya berbenturan
drngan kepentingan pribadi. Konflik kepentingan mempengaruhi keoentingan public atau
perusahaan, yaitu prngabaian kepentingan public demi kepentinham pribafi baik finansial
maupun nonfinansial. Selain itu konflik kepentingan mempengaruhi pengambilan
keputusan yang bertujuan mrluluskan kepentingam pribadinya. Berdasarkan definisi
tersebut, konflik kepentingan merupakan masalah penting kafrena bagian dari tindakan
yang tidak etis.
Konflik kepentingan masih bersifat potensial apabila pengambilan keputusan
belum berada dalam situasi dimana dia harus membuat pertimbangan. Konflik
kepentingan, benar benar terjadi apabila pengambilam keputusan sudah berada pada
situasi dimana ia harus membuat pertimbangan. Terkadang konflik kepentingan
dikatakan terjadi pada situasi dimana konflik kepentingan tidak ada tetapi karena
kesenjangan informasi antar pihak yang satu dan lainya mengakibatkan pengambil
keputusan diduga melakukan kesalahan.

B. Contoh Konflik Kepentingan


Salah satu contoh adanya konflik kepentingan adalah kasus manajemen laba
Enron yang melibatkan manajer, pemegang saham dan auditor. Semua pihak yang terlibat
bertindak atas kepentingan pribadi mereka sendiri. Pemegang saham hanya tertarik
kepada hasil keuangan yang bertambah terhadap investasi mereka di dalam perusahaan.
Sedangkan para manajer berkepentingan terhadap kompensasi keuangan dan syarat-
syarat yang menyertai dalam hubungan tersebut. Akibat perbedaan kepentingan ini
adalah masing-masing pihak berusaha memperbesar keuntungan pribadi masing-masing.
Pemegang saham menginginkan pengembalian yang sebesar-besarnya, yaitu dicerminkan
dengan kenaikan porsi dividen dari tiap saham yang dimilikinya. Manajer menginginkan
kepentingannya diakomodir yaitu pemberian kompensasi, bonus, dan insentif lainnya
yang memadai dan sebesar-besarnya atas kinerjanya. Akibatnya, manajer berada pada
situasi konflik kepentingan dan terjadilah penyalahgunaan tanggung jawab dengan cara
memanipulasi angka laba pada laporan keuangan eksternal sehingga seolah-olah kinerja
perusahaan baik demi kepentingan finansial pribadi.

Konflik kepentingan pada kasus mega skandal Enron tidak hanya terjadi antara
manajer dan pemegang saham, tetapi juga melibatkan kantor akuntan publik ternama saat
itu, yaitu KAP Arthur Andersen. David Duncan merupakan kepala akuntan profesional
yang dipekerjakan Arthur Andersen, walaupun ia dibayar dan ditugaskan untuk bekerja di
Enron. Situasi ini dapat menciptakan konflik kepentingan yang nyata antara tanggung
jawab akuntan sebagai profesional dan kepentingan pribadinya secara finansial. Selain
itu, akuntan profesional juga memiliki tanggung jawab profesional kepada masyarakat.
Akan tetapi mereka bekerja untuk klien yang kepentingannya tidak selalu terpenuhi
dengan pengungkapan informasi yang menyeluruh, akurat dan independen. Sedangkan
mereka dibayar oleh tim manajemen yang memiliki kepentingan yang bertentangan
dengan kepentingan pemegang saham. Dengan demikian, konflik yang nyata dan rumit
dapat terjadi antara tugas profesional dan kepentingan pribadi profesional itu sendiri yang
mana jika para profesional tidak mampu menahan diri maka dampak buruk yang diterima
tidak hanya kepada diri pribadi profesional tersebut melainkan kepada citra profesi secara
menyeluruh seperti yang dilakukan oleh KAP Arthur Andersen.

C. Penyebab Konflik Kepentingan

Tekuaknya kasus mega skandal Enron dan KAP Arthur Andersen berdampak
sangat buruk terhadap citra profesi akuntansi secara keseluruhan hingga saat ini. Oleh
karena itu, Kevin Bahr dalam Hartsman dan Desjardins (2012) mengidentifikasi beberapa
penyebab konflik kepentingan dalam profesi akuntan, khususnya akuntan publik:

1. Hubungan keuangan antara kantor akuntan publik dengan klien auditnya.


2. Konflik di antara jasa-jasa yang ditawarkan oleh kantor akuntan publik yaitu jasa
konsultasi manajemen yang mempengaruhi independensi dari opini perusahaan
akibat adanya fee tambahan.

3. Kurangnya independensi dan keahlian dari komite audit.

4. Peraturan yang dibuat sendiri oleh organisasi profesi akuntan.

5. Kurang aktifnya pemegang saham dalam mengawasi dewan direksi dan


manajemen.

6. Keserakahan jangka pendek eksekutif yang bertentangan dengan kemakmuran


pemegang saham jangka panjang.

7. Adanya skema kompensasi eksekutif.

8. Skema kompensasi untuk analis sekuritas yang menimbulkan konflik kepentingan


potensial bagi analis tersebut.

D. Upaya Menghindari Konflik Kepentingan

Hal seperti contoh kasus di atas harus dihindari baik oleh eksekutif dan juga profesi
akuntan agar semua proses pengambilan keputusan publik dilakukan secara profesional
dan tidak menimbulkan kerugian termasuk kerugian pribadi secara moral. Oleh karena
itu, konflik kepentingan dan keinginan terselubung menjadi masalah pada dunia bisnis
dan profesi akuntan yang secara etika semestinya tidak dilakukan.

Berikut beberapa upaya perusahaan dan organisasi profesi dalam menghindari terjadinya
konflik kepentingan di dalam dunia bisnis dan profesi, yaitu:

1. Menghindarkan diri dari tindakan dan situasi yang dapat menimbulkan konflik
kepentingan antara kepentingan pribadi dengan perusahaan sehingga konsekuensi
buruk dapat diminimalisir.

2. Memastikan bahwa seluruh karyawan, manajer, dan profesional akuntansi


memperhatikan dan mengetahui situasi-situasi yang berhubungan dengan konflik
kepentingan dan konsekuensi-konsekuensinya melalui penyusunan kode etik dan
pelatihan yang terkait.
3. Menginstruksikan karyawan, manajer dan profesi akuntan untuk menjaga informasi-
informasi perusahaan yang bersifat rahasia.

4. Karyawan, manajer, dan profesi akuntan diminta untuk tidak memiliki bisnis yang
sama dengan perusahaan dan perusahaan menghormati hak setiap karyawan, manajer
dan profesi akuntan untuk memiliki kegiatan di luar jam kerja yang sah dan bebas
dari konflik kepentingan.

5. Mengungkapkan dan melaporkan setiap kegiatan di luar perusahaan kepada atasan.

6. Menghindarkan diri dari memiliki kepentingan baik finansial maupun non finansial
terhadap perusahaan pesaing, termasuk menghindari situasi yang dapat menimbulkan
kesan akan adanya konflik kepentingan.

7. Karyawan, manajer dan profesi akuntan diminta untuk tidak memegang jabatan di
luar perusahaan kecuali telah mendapat persetujuan atasan.

Anda mungkin juga menyukai