Anda di halaman 1dari 11

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian vitamin A
Vitamin A adalah vitamin larut lemak yang pertama di temukan. Secara luas,
vitamin A merupakan nama genetik yang menyatakan semua retinoid dan prekursor/
provitamin A/ karotenoid yang mempunyai aktivitas biologis sebagai retinol.
Vitamin A esensial untuk pemeliharaan kesehatan dan kelangsungan hidup. Di
seluruh dunia ( WHO, 1991 ), di antara anak-anak prasekolah di perkirakan terdapat
sebanyak 6-7 juta kasus baru xeroftalmia tiap tahun, kurang lebih 10% diantaranya
menderita kerusakan kornea. Di antara yang menderita kerusakan kornea ini 60%
meninggal dalam waktu satu tahun, sedangkan diantara yang hidup, 25% menjadi buta
dan 50-60% setengah buta. Di perkirakan pada satu waktu sebanyak tiga juta anak-anak
buta karena kekurangan vitamin A, dan sebanyak 20-40 juta menderita kekurangan
vitamin A pada tingkat lebih ringan. Perbedaan angka kematian antara anak yang
kekurangan dan tidak kekurangan vitamin A lebih besar 30% disamping itu kekurangan
vitamin A meningkatkan resiko anak terhadap penyakit infeksi seperti penyakit saluran
pernapasan dan diare, meningkatkan angka kematian karena campak, serta menyebabkan
keterlambatan pertumbuhan.

B. Pengertian Kekurangan Vitamin A


Kekurangan Vitamin A (KVA) adalah penyakit yang disebabkan oleh kurangnya
asupan vitamin A yang memadai. Hal ini dapat menyebabkan rabun senja, xeroftalmia
dan jika kekurangan berlangsung parah dan berkepanjangan akan mengakibatkan
keratomalasia (Tadesse, Lisanu, 2005).
Sedangkan menurut Arisman tahun 2002, Kurang Vitamin A (KVA) merupakan
penyakit sistemik yang merusak sel dan organ tubuh dan menghasilkan metaplasi
keratinasi pada epitel, saluran nafas, saluran kencing dan saluran cerna. Penyakit Kurang
Vitamin A (KVA) tersebar luas dan merupakan penyebab gangguan gizi yang sangat
penting. Prevalensi KVA terdapat pada anak-anak dibawah usia lima tahun. Sampai
akhir tahun 1960-an KVA merupakan penyebab utama kebutaan pada anak.
C. Fungsi Vitamin A
1. Penglihatan
Vitamin A berfungsi dalam penglihatan normal pada cahaya remang. Bila kita dari
cahaya terang diluar kemudian memasuki ruangan yang remang-remang cahayanya,
maka kecepatan mata beradaptasi setelah terkena cahaya terang berhubungan
langsung dengan vitamin A yang tersedia didalam darah. Tanda pertama kekurangan
vitamin A adalah rabun senja. Suplementasi vitamin A dapat memperbaiki
penglihatan yang kurang bila itu disebabkan karena kekurangan vitamin A
(Melenotte et al., 2012).
2. Pertumbuhan dan Perkembangan
Vitamin A dibutuhkan untuk perkembangan tulang dan sel epitel yang membentuk
email dalam pertumbuhan gigi. Pada kekurangan vitamin A, pertumbuhan tulang
terhambat dan bentuk tulang tidak normal. Pada anak–anak yang kekurangan
vitamin A, terjadi kegagalan dalam pertumbuhannya. Dimana vitamin A dalam hal
ini berperan sebagai asam retinoat (Tansuğ N, et al., 2010).
3. Diferensiasi Sel
Bila sel-sel tubuh mengalami perubahan dalam sifat atau fungsi semulanya
perubahan sifat dan fungsi sel ini adalah salah satu karakteristik dari kekurangan
vitamin Ayang dapat terjadi pada tiap tahap perkembangan tubuh, seperti pada tahap
pembentukan sperma dan sel telur, pembuahan, pembentukan struktur dan organ
tubuh, seperti pada tahap pembentukan sperma dan sel telur, pembuahaan,
pembentukan struktur dan organ tubuh, pertumbuhan dan perkembangan janin, masa
bayi, anak-anak, dewasa dan masa tua.
4. Fungsi Kekebalan
Vitamin A berpengaruh terhadap fungsi kekebalan tubuh pada manusia. Dimana
kekurangan vitamin A dapat menurunkan respon antibody yang bergantung pada
limfosit yang berperan sebagai kekebalan pada tubuh seseorang (Almatsier, 2008).
5. Perkembangan Jantung
Defek kardiak dan cabang aorta diamati sebagai bagian dari sindroma kekurangan
vitamin A. singkat kata, peranan vitamin A dalam perkembangan jantung mamalia
meliputi pembentukan pipa pola jantung dan lingkaran, ruang dan katup saluran
keluar, trabekulasi ventrikel, diferensiasi kardiomiosit dan pengembangan pembuluh
koroner (Knutson dan Dame, 2011).
6. Perkembangan Ginjal dan Saluran Kencing
Kekurangan vitamin A pada kehamilan dapat berkorelasi dengan kekurangan jumlah
nefron sub-klinis dan sedikit defisit nefron yang tidak disadari pada saat lahir, tapi
mungkin bisa berkontribusi dalam jangka panjang terjadinya gagal ginjal dan
hipertensi (Knutson dan Dame, 2011).
7. Diafragma
Fungsi diafragma sebagai otot utama respirasi dan sebagai pembatas antara rongga
dada dan perut. Hernia diafragma kongenital (CDH) terjadi pada sekitar satu dari
3000 kelahiran, dan berhubungan dengan kematian neonatal yang tinggi. Vitamin A
sangat penting bagi perkembangan diafragma normal, dan telah disimpulkan bahwa
gangguan sinyal retinoid dapat berkontribusi pada etiologi dari gangguan manusia
(Knutson dan Dame, 2011).
8. Paru dan Saluran Nafas Atas serta Aliran Udara
Defek Respirasi termasuk agenesis paru kiri, hypoplasia paru bilateral, dan agenesis
esophagotracheal septum digambarkan dalam sindroma KVA awal namun
dikarakteristikkan sebagai kelainan yang jarang terjadi. Paru berkembang dari
foregut endoderm selama perekembangan awal embrio. RA dari mesoderm
splanchnic di sekitar endoderm foregut telah penting ditemukan untuk pembentukan
tunas paru primordial. Sebuah laporan terbaru di New England Journal of Medicine
menunjukkan bahwa, di daerah endemik dengan defisiensi vitamin A (retinol), anak-
anak yang ibunya menerima suplementasi vitamin A sebelum, selama, dan selama 6
bulan setelah kehamilan memiliki fungsi paru-paru yang lebih baik ketika mereka
diuji pada 9 sampai 11 tahun daripada anak-anak yang ibunya menerima suplemen
beta karoten atau plasebo. Selain itu, mereka menemukan bahwa periode di mana
suplementasi dengan vitamin A yang paling penting adalah dari kehamilan usia
postnatal dari 6 bulan (Knutson dan Dame, 2011).

D. Sumber Vitamin Dalam Makanan


Vitamin A terdapat di dalam pangan hewani, sedangkan karoten terutama di dalam
pangan nabati. Sumber Vitamin A adalah hati, kuning telur, susu (di dalam lemaknya)
dan mentega. Margarin biasanya diperkaya dengan Vitamin A. Karena Vitamin A tidak
berwarna, warna kuning dalam kuning telur adalah karoten yang tidak diubah menjadi
vitamin A. Minyak hati ikan digunakan sebagai sumber vitamin A yang diberikan untuk
keperllluan penyembuhan.
Sumber karoten adalah sayuran berwarna hijau tua serta sayuran dan buah-buahan
yang berwarna hijau tua serta sayuran dan buah-buahan yang berwarna kuning jingga,
seperti daun singkong, daun kacang, kangkung, bayam, kancang panjang, bunciss wortel,
tomat jagung kuning, pepaya, mangga, nangka masak, dan jeruk. Minyak kepala sawit
yang berwarna merah, kaya akan karoten. Kandungan vitamin A beberapa bahan
makanan yang dinyatakan dalam retinol ekivalen dapatdilihat dari tabel di bawah ini
Bahan makanan RE Bahan Makanan RE
Hati sapi 13170 Daun katuk 3111
Kuning telor bebek 861 Sawi 1940
Kuning telur ayam 600 Kangkung 1800
Ayam 243 Bayam 1827
Ginjal 345 Ubi jalar merah 2310
Ikan sardin 250 Mentega 1287
(kaleng)
Minyak ikan 24000 Margarin 600
Minyak kelapa 18000 Susu bubuk “full 471
sawit cream”
Minyak hati ikan 2100 Keju 225
hiu
Wortel 3600 Susu kental manis 153
Daun singkong 3300 Susu segar 39
Daun pepaya 5475 Mangga masak pohon 1900
Daun lamtaro 5340 Pisang raja 285
Daun tales 3118 Tomat masak 450
Daun melinjo 3000 Semangka 177

E. Faktor Risiko Kekurangan Vitamin A


Sebagai permasalahan kesehatan masyarakat, defisiensi vitamin A terjadi didalam
lingkungan sosial, ekonomi, dan ekologi yang miskin dan penduduknya tinggal di negara
yang ekonomiya sedang berkembang serta mengalami transisi. Pengaruh relatif faktor
kasusal pada tingkat makro maupun mikro dapat sangat bervariasi antar negara bahkan
antar wilayah dalam negara yang sama. Oleh karena itu, kita harus memahami kondisi
setempat ketika membuat rancangan program intervensi yang tepat dan efektif
secepatnya untuk memperbaiki situasi tersebut. Walaupun begitu, ada beberapa faktor
resiko dibaliknya yang cenderung menandai sebagian besar situasi ketika defisiensi
vitamin A lazim ditemukan.
1. Usia
Berbagai tingkat defisiensi vitamin A mulai dari bentuk subklinis hingga
bentuk malnutrisi dengan kebutaan yang berat (keratomalasia), dapat terjadi pada
setiap usia jika keadaannya cukup ekstrim. Namun demikian, sebagai persoalan
kesehatan masyarakat, defisiensi vitamin A, khususnya defisiensi yang berat, akan
menyerang anak-anak dalam usia prasekolah. Keadaan ini terjadi karena kebutuhan
vitamin A bagi pertumbuhan pada anak-anak ini cukup tinggi. Sementara asupan
vitamin dari makanan seringkali rendah dengan tambahan beban pajanan infeksi
yang lebih besar. Insidens xeroftalmia kornea paling prevalen pada anak-anak yang
berusia 2-4 tahun. Pada anak-anak dibawah usia 12 bulan, penyakit kornea
merupakan kejadian yang relatif jarang dijumpai (terutama karena efek protektif
pemberian ASI), tetapi keratomalasia lebih sering terjadi diantara bayi-bayi yang
hidup dalam kondisi sosial ekonomi yang rendah.
Prevalensi xeroftalmia ringan, terutama buta senja (SN) dan bercak bitot
(XB) meningkat seiring usia hingga usia prasekolah dan keterkaitan ini ternyata
berbeda-beda diantara berbagai budaya terlepas dari angka xeroftalmia yang spesifik
menurut usia. Defisiensi vitamin A subklinis juga sering ditemukan diantara anak-
anak usia sekolah, remaja, dan dewasa muda pada komunitas yang sama dan
prevalensinya pada anak-anak kecil cukup tinggi.
2. Gender
Pada orang dewasa yang sehat, kadar retinol plasma maupun RBP (retinol-
binding protein) ternyata berada pada level 20% lebih tinggi pada laki-laki
dibandingkan pada wanita, kendati signifikan fisiologi perbedaan ini masih belum
jelas. Walaupun begitu, laki-laki umumnya memiliki risiko yang lebih tinggi untuk
mengalami buta senja dan bercak Bitot dibandingkan perempuan selama usia
prasekolah dan awal usia sekolah. Perbedaan gender ini tidak begitu jelas dalam hal
xeroftalmia yang berat. Perbedaan pada budaya pemberian makan dan perawatan
antara anak laki-laki dan perempuan dalam sebagian populasi dapat menkelaskan
variasi menurut gender ketika hal ini diamati.
3. Status Fisiologi
Dengan meningkatnya kebutuhan vitamin A selama periode pertumbuhan
yang cepat, anak-anak kecil merupakan kelompok yang paling rentan. Kebutuhan
akan vitamin A juga meningkat selama masa kehamilan dan menyusui; dengan
demikian, ibu hamil dan menyusui dalam populasi yang kehilangan haknya tidak
mampu memenuhi kebutuhan yang meningkat selama periode tertentu. Buta senja
selama kehamilan dan laktasi terutama sering ditemukan di Asia Selatan dengna
kejadian buta senja sebesar 15%-20% dari semua kehamilan dan kemudian berulang
kembali pada kehamilan berikutnya; keadaan ini pada beberapa budaya dianggap
sebagai bagian dari kehamilan. Sejumlah penelitian juga memperlihatkan bahwa ASI
dari ibu dnegan status vitamin A yang buruk sering kali turut menyebabkan
peningkatan kerentanan pada bayi.
4. Diet
Penyebab dasar yang melandasi defisiensi vitamin A sebagai permasalahan
kesehatan masyarakat adlaha diet atau pola makan yang kurang mengandung
vitamin, baik senyawa karotenoid performed aatau provitamin A untuk memenuhi
kebutuhan. Pada umumnya, ditempat yang kondisi hidupnya buruk, diet seseorang
akan bergantung pada makanan nabati yang lebih murah tetapi secara hayati kurang
mengandung vitamin A (sebagai karotenoid). Populasi yang mengonsumsi beras
sebagai makanan pokok dan serat pangan dalam kehidupan sehari-hari ternyata
sangat berisiko untuk mengalami defisiensi vitamin A. Dengan demikian,
xeroftalmia lebih sering ditemukan di Asia Selatan dan Asia Timur. Defisiensi
vitamin A subklinis umumnya terjadi ditempat yang kualitas makanannya relatif
rendah akibat kendala pada kemampuan mengakses makanan dan ketersediaan
makanan, khususnya makanan hewani.
Pemberian ASI, kualitas makanan tambahan, dan kualitas diet anak semuanya
merupakan faktor penting untuk mempertahankan status vitamin A. Ada bukti jelas
yang menunjukkan bahwa anak-anak yang mendapatkan ASI menghadapi
kemungkinan yang lebih kecil untuk mengalami defisiensi vitamin A jika
dibandingkan dengan anak-anak pada usia sama yang tidak memperoleh ASI. Lebih
lanjut, peningkatan frekuensi pemberian ASI juga memberikan efek protektif
terhadap xeroftalmia.
Banyak penelitian epidemiologi mendukung pemberian makanan tambahan
yang tepat dan tindakan ini ternyata dapat melindungi anak-anak selama usia
prasekolah terhadap xeroftalmia. Konsumsi buah yang berwarna kuning (mangga
dan pepaya) akan memberikan perlindungan yang kuat pada anak berusia dua dan
tiga tahun. Ketika pengaruh pemberian ASI berkurang, sayuran yang berwarna hijau
gelap memainkan peranan yang lebih penting bagi anak-anak pada usia tiga tahun
keatas. Sesudah masa bayi, konsumsi rutin makanan hewani yang mengandung
vitamin A preformed ( telur, produk susu, ikan dan hati) bersifat sangat protektif
terhadap kesehatan anak. Sebaliknya, dalam usia satu tahun pertama ketika anak
disapih, anak-anak yang menderita xeroftalmia ternyata lebih sedikit mendapat
makanan yang kaya akan vitamin A secara teratur dibandingkan dengan anak anak
yang tidak menderita xeroftalmia. Konsumsi sayuran berwarna hijau gelap ataubuah
dan sayuran yang berwarna kuning disertai dengan penurunan risiko xeroftalmia
sebesar 4-6 kali lipat, sementara efek konsumsi telur, daging, ikan, dan susu yang
hanya dilakukan sekali-kali disertai dengan peningkatan risiko sebesar 2-3 kali lipat
. Pola makan pada saudara kandung yang usianya lebih muda pada dua tahun
pertama kehidupannya ternyata serupa dengan pola makan kasus xeroftalmia dalam
keluarga yang sama; Kenyataan ini mencerminkan buruknya diet secara kronis pada
rumah tangga yang berisiko tinggi. Defisiensi vitamin A paling sering ditemukan
pada polpulasi penduduk; yang mengonsumsi sebagian kebutuhan vitamin A mereka
dari sumber karotenoid provitamin dengan sedikit lemak yang terkandung dalam
makanan mereka.
Kebiasaan makan yang spesifik menurut budaya dan sejumlah tabuh atau
larangan dalam pemberian makanan anak, remaja dan ibu hamil serta menyusui
sering kali membatasi konsumsi makanan yang berpotensi sebagai sumber vitamin
A yang baik. Namun demikian, kurangnya komsumsi yang kaya akan vitamin A
bukan berarti ketersediaan makanan tersebut dalam sebuah rumah tangga juga
mengalami kekurangan. Bagaimana anak-anak mengkomsumsi makanan dan dengan
siapa anak-anak itu makan, dapat memperngaruhi resikonya untuk terkena defisiensi
vitamin A. Sejumlah penelitian egnoghrafi secara rinci dilaksanakan oleh kelompok
Johns Hopkins University dan lainnya memperlihatkan bahwa anak-anak desa di
Nepal memiliki peluang dua kali lebih besar untuk mengkomsumsi sayuran, buah,
kacang-kacangan, daging atau ikan serta produk susu ketika mereka makan bersama
keluarga dibandingkan ketika mereka makan sendiri. Ironisnya, hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa pola kaum ibu memastikan kecukupan makanan bagi anak-
anak mereka pada sebagian budaya dapat menjadi factor predisposisi untuk
terjadinya difisiensi vitamin A pada ibu sendiri. Sebagai contoh, para ibu hamil di
Nepal yang menderita buta senja ternyata mengalami penurunan peluang
sepenuhnya untuk mengkomsumsi makanan yang kaya akan vitamin A, khususnya
selama musim kemarau yang kering akan langka panga. Di Indonesia, ketika terjadi
krisis ekonomi, para ibu telah mengorbankan asupan telur mereka demi memenuhi
kebutuhan giza anaka-anaknya.
5. Pola Penyakit
Keterkaitan antara penyakit infeksi dan status vitamin A merupakan persoalan
kompleks yang telah ditinjau secara luas. Difisiensi vitamin A akan meningkatkan
risiko morbiditas penyakit infeksi dan sebaliknya, penyakit infeksi
merupakanpredisposisi terjadinya difisiensi vitamin A. Beberapa jenis infekssi
seperti diare, infeksi pernafasan, dan campak akan disertai bentuk tertentu difisiensi
vitamin A yang dapat berupa penurunan kadar retinol serum atau peningkatan resiko
xeroktalmia. Selanjutnya, frekuensi, durasi, dan intensitas penyakit infeksi secara
langsung atau tidak langsung turut meningkatkan keretangan terhadap keadaan
difisiensi vtamin A.
Keberaradaan KEP akan lebih meningkatkan resiko xeroktalmia yang urutan
intensitasnya hamper sama seperti penyakit diare dan pernafasan. Protein pengikat
retinol (RBP; RETINOL BINDING PROTEIN) dapat menurun ketika KEP sehingga
mengurangi ketersediaan vitamin A dalam darah. Selama episode penyakit infeksi,
penurunan kadar vitamin A dalam serum menggambarkan secara parsial respon yang
tidak spesifik terhadap keadaan demam ketika sintesis RBP yang juga merupakan
protein fase akut yang negative itu berkurang. Kadar retinol dalam serum kembali
normal setelah terjadi kesembuhan.
Cacing usus seperti Giardia serta Ascaris juga dilaporkan sebagai penyebab
penurunan absorpsi vitamin A, dengan demikian dapat turut menimbulkan
defisiensi vitamin A. Salah satu laporan tidak berhasil memperlihatkan kehilangan
vitamin A sesudah pemberian oral vitamin A kepada anak-anak yang menderita
askariasis. Walaupun begitu, infeksi parasit harus diatasi ketika kita menghadapi
populasi dengan persoalan defisiensi, dapat disertai dengan xeroftalmia.
6. Kondisi sosioekonomi
Dalam pengertian kesehatan masyarakat. Kemiskinan terutama terjadi
penyebab defisiensi vitamin, sekalipun tidak selalu demikian,. Pada
umumnya, defisiensi vitamin A ditemukan terutama di negara-negara yang
perekonomiannya relatif miskin. Sejumlah penelitaian memperlihatkan bahwa
keluarga di negara-negara yang perekonomiannya relatif memiliki lahan yang lebih
sempit, kondisi perumahan yang lebih buruk, hewan peliharaan yang lebih sedikit,
dan kemampuan ekonomi yang lebih rendah (diukur berdasarkan lebih sedikitnya
barang yang dimiliki seperti radio, arloji, atau sepeda). Meskipun indikator status
sosioekonomi yang rendah ditemukan (di Bangladesh) berkaitan dengan risiko
xeroftalmia yang 1,5-2,3 kali lebih tnggi, namun karakteristik ini tidak selalu dengan
sendirinya meramalkan kejadian xeroftalmia. Tingkat pendidikan yang rendah pada
ayah atau ibu dalam keadaan ini dapat dibedakan, merupakan faktor risiko yang
lain.
7. Pengelompokan
Kejadian defisiensi vitamin A cenderung mengelompok (clustering)
ketinbang tersebar secara rata. data dari berbagai negara menunjukkan bahwa tanda-
tanda klinis defisiensi mengelompok i dalam provinsi atau Kabupaten, Kecamatan,
Desa dan bahkan rumah tangga. Memperlihatkan pengelompokan defisiensi vitami
A berdasrkan distrik di Bangladesh. Pengelompokkan di dalam negara pada
dasarnya berhubungan denga faktor ekologi serta budaya yang semakin diperparah
oleh infrastruktur yang tidak dibangun dengan baik, dan pengelompokkan di dalam
rumah tangga serta masyarakat terjadikarena praktik-praktik serta lingkungan yang
tidak kondusif bagi pola makan dankesehatan yang memadai. Bukti menunjukkan
bahwa besaran pengelompokkan didalam rumah tangga jauh melebihi didalam desa,
dan bahwa faktor rumah tangga inilah yang menjelaskan banyak tentang
pengelompokkan ini ketimbang penyakit infeksi. Identifikasi kelompom-
kelompok defisiensi vitamin A dapat memfasilitasi implementasi program
intervensi dan jika seorang anak ditemukan dengan xeroftalmia, saudara kandungnya
harus ditangani sebagai kasus suspect defisiensi vitamin A pula.
F. Akibat kekurangan
Kekurangan ( definisi) vitamin A terutama terdapat pada anak-anak balita. Tanta-
tanda kekurangan terlihat bila simpanan tubuh habis terpakai. Kekurangan vitamin A
dapat merupakan kekurangan primer akibat kurang konsumsi, atau kekurangan sekunder
karena gangguan penyerapan dan penggunaanya dalam tubuh, kebutuhan yang
meninggkat, ataupun karena gangguan pada konversi karoten menjadi vitamin A.
Kekurangan vitamin A sekunder dapat terjadi pada penderita kurang energi protein (
KEP ), penyakit hati, alfa, beta-lipoproteinemia atau gangguan abrosopsi karena
kekurangan asam empedu.
1. Buta senja
Salah satu tanda awal kekurangan vitamin A adalah buta senja ( niktalopia), yaitu
ketidak mampuan menyesuaikan penglihatan dari cahaya terang ke cahaya samar-
samar/senja, seperti bila memasuki kamar gelap dari kamar terang. Konsumsi
vitamin A yang tidak cukup menyebabkan simpanan dalam tubuh menipis, sehingga
kadar vitamin A darah menurun yang berakibat vitamin A tidak cukup diperoleh
retina mata untuk membentuk pigmen penglihatan rodopsi.
2. Perubahan pada mata
Korena mata terpengaruh secara dini oleh kekurangan vitamin A. Kelenjar air
mata tidak mampu mengeluarkan air mata sehingga mengalami pengeringan pada
selaput yang menutupi kornea. Tanda-tanda nya : atrofi kelenjar mata, kratinisasi
konjungtiva ( selaput yang melapisi permukaan bagian dalam kelopak mata dan bola
mata), pemburaman pelepasan sel-sel epitel kornea yang akhirnya berakibat
melunaknya dan pecahnya kornea. Mata terkena infeksi, dan terjadi pendarahan.
Gejala ini dalam bentuk ringan dinamakan xerosis konjungtiva, yaitu konjungtiva
menjadi kering. Bercak bitot ( disebut bitot’s spot berdasarkan nama dokter prancis
yang pernama menemukan nya). Yaitu berupa bercak putih keabu-abuan pada
konjungtiva. Dalam bentuk sedang dinamakan xerosis kornea, yaitu kornea menjadi
kering dan kehilangan kejernihan nya. Tahap akhir adalah keratomalasia, di mana
kornea menjadi lunak dan bisa pecah yang menyebabkan kebutaan total. Istilah
xeroftalmia meliputi aspek klinik yang berkaitan dengan defisiensi vitamin A.

3. Infeksi
Fungsi kekebalan tubuh menurun pada kekurangan vitamin A, sehingga
mudah terserang infeksi. Di samping itu lapisan sel yang menutupi trakea dan paru-
paru mengalami kratinisasi, tidak mengeluarkan lendir, sehingga mudah dimasuki
mikroorganisme, bakteri atau virus dan menyebabkan infeksi saluran pernapasan.
Perubahan pada permukaan saluran kemih dan kelamin dapat menimbulkan infeksi
pada ginjal dan kantung kemih, serta vagina perubahan ini dapat pula meningkatkan
endapan kalsium yang dapat menyebabkan batu ginjal dan gangguan kantung kemih.
Kekurangan vitamin A pada anak-anak di samping itu dapat menyebabkan
komplikasi pada campak yang dapat menyebabkan kematian. Vitamin A dinamakan
juga vitamin anti infeksi.
4. Perubahan Pada Kulit
Kulit menjadi kering dan kasar. Folikel rambut menjadi kasar, mengeras dan
mengalami keratinisasi yang dinamakan hiperkeratosis folikuler. Mula-mula terkena
lengan dan paha, kemudian dapat menyebar ke seluruh tubuh. Asam retinoat sering
diusapkan ke kulit untuk menghilangkan kerutan kulit, jerawat dan kelainan kulit
lain.
5. Gangguan Pertumbuhan
Kekurangan vitamin A menghambat pertumbuhan sel-sel, termasuk sel-sel
tulang. Fungsi sel-sel yg membentuk email gigi pada gigi terganggu dan terjadi
atrofit sel-sel yang membentuk dentin, sehingga gigi mudah rusak.
6. Lain-Lain
Perubahan lain yang dapat terjadi adalah keratinisasi sel-sel rasa pada lidah
yang menyebabkan berkurangnya nafsu makan, dan anemia.
7. Sosial Ekonomi
Dalam pengertian kesehatan masyarakat, kemiskinan terutama terjadi
penyebab defisiensi vitamin, sekalipun tidak selalu demikian. Pada umumnya,
defisiensi vitamin A ditemukan terutama di negara-negara yang perekonomiannya
relatif miskin. Sejumlah penelitian memperlihatkan bahwa keluarga di negara-negara
yang perekonomiannya relatif memiliki lahan yang lebih sempit, kondisi perumahan
yang lebih buruk, hewan peliharaan yang lebih sedikit, dan kemampuan ekonomi
yang lebih rendah (diukur berdasarkan lebih sedikitnya barang yang dimiliki seperti
radio, arloji, atau sepeda). Meskipun indikator status sosialekonomi yang rendah
ditemukan berkaitan dengan resiko xeroftalmia yang 1,5-2,3 kali lebih tinggi.
Tingkat pendidikan yang rendah pada ayah atau ibu dalam keadaan ini dapat
dibedakan, merupakan faktor risiko yang lain.