Anda di halaman 1dari 32

5/11/2018 Tumor Buli(Referat)-slidepdf.

com

TUMOR BULI

Tumor Buli-Buli atau juga bisa disebut tumor vesika urinaria (kandung kemih)
merupakan keganasan kedua setelah karsinoma prostat. Tumor ini dua kali lebih
banyak mengenai laki-laki daripada wanita. Terdapat kasus yang melaporkan,
pernah mengeluhkan kencing yang berwarna merah dan bercampur darah. Tetapi
karena pernah mendengar bahwa itu adalah tanda adanya infeksi di saluran kemih
dan bisa sembuh atau hilang dengan minum obat tertentu, pasien kemudian menjadi
tenang. Tapi ketahuilah jangan pernah meremehkan kencing berdarah karena itu
bukan hanya berarti infeksi, tapi bisa juga berarti tanda adanya batu saluran kencing
bahkan keganasan atau kanker di saluran kemih. Bila Anda menemui keluhan
kencing darah yang berulang atau menetap dengan atau tanpa rasa sakit, sebelum
dipastikan oleh seorang dokter maka itu harus dianggap sebagai sebuah masalah
yang serius dan bukan sekedar infeksi biasa.

Buli-buli
Kandung kemih adalah sebuah organ tubuh yang menyerupai sebuah
‘kantung’ dalam pelvis yang menyimpan urin yang diproduksi ginjal. Urin dialirkan ke
kandung kemih melalui saluran yang dikenal sebagai ureter. Kandung kemih dibagi
menjadi beberapa lapisan, yaitu :
• Epitelium, bagian transisional dari epitel yang menjadi asal datangnya
sel kanker.
• Lamina propria, lapisan yang terletak di bawah epitelium.
• Otot detrusor, lapisan otot yang tebal dan dalam terdiri dari lapisan-
lapisan otot halus yang tebal yang membentuk lapisan dinding otot
kantung kemih.
• Jaringan perivesikal lembut, lapisan terluar yang terdiri dari lemak,
 jaringan-jaringan, dan pembuluh darah.

Buli-buli sendiri terdiri dari 3 lapis otot detrusor yang saling beranyaman. Di
bagian dalam adalah otot longitudinal, di tengah otot sirkuler, dan yang terluar otot

Jessica Ferdi, FK Trisakti 1


http://slidepdf.com/reader/full/tumor-buli-referat 1/32
5/11/2018 Tumor Buli(Referat)-slidepdf.com

longitudinal. Mukosa buli-buli terdiri atas sel-sel transisional yang sama seperti pada
mukosa-mukosa pada pelvis renalis, ureter, dan uretra posterior. Pada dasar buli-buli
kedua muara ureter dan meatus uretra internum membentuk suatu segitiga yang
disebut trigonum buli-buli.

Secara anatomik, buli-buli terdiri atas 3 permukaan, yaitu permukaan superior 


yang berbatasan dengan rongga peritoneum, dua permukaan inferiolateral, dan
permukaan posterior. Permukaan superior merupakan lokus minoris (daerah
terlemah) dinding buli-buli

Buli-buli berfungsi menampung urine dari ureter dan kemudian


mengeluarkannya melalui uretra dalam mekanisme miksi (berkemih). Dalam
menampung urine, buli-buli mempunyai kapasitas maksimal, yang volumenya untuk
orang dewasa kurang lebih 300-450 ml. Sedangkan kapasitas buli pada anak
menurut Koff adalah: (Umur + 2) x 30 ml.

Pada saat kosong, buli-buli terletak di belakang simfisis pubis dan pada saat
penuh berada di atas simfisis sehingga dapat dipalpasi dan diperkusi. Buli-buli yang
terisi penuh memberikan rangsangan pada saraf aferen dan menyebabkan aktivasi
pusat miksi di medula spinalis segmen sakral S2-4. Hal ini akan menyebabkan
kontraksi otot detrusor, terbukanya leher buli-buli, dan relaksasi sfingter uretra
sehingga terjadilah proses miksi.

Jessica Ferdi, FK Trisakti 2


http://slidepdf.com/reader/full/tumor-buli-referat 2/32
5/11/2018 Tumor Buli(Referat)-slidepdf.com

Perjalanan Penyakit
Karsinoma buli merupakan 2% dari seluruh keganasan, dan
merupakan keganasan kedua terbanyak pada sistem urogenitalia setelah karsinoma
prostat. Tumor ini dua kali lebih sering menyerang pria daripada wanita. Di daerah
industri kejadian tumor ini meningkat tajam.
Karsinoma buli-buli yang masih dini merupakan tumor superfisial. Tumor ini
lama kelamaan dapat mengadakan infiltrasi ke lamina propria, otot, dan lemak
perivesika yang kemudian menyebar langsung ke jaringan sekitarnya.
Di samping itu tumor dapat menyebar secara limfogen maupun hematogen.
Penyebaran limfogen menuju kelenjar limfe, perivesika, obturator, iliaka eksterna,
dan iliaka komunis. Penyebaran hematogen paling sering ke hepar, paru-paru dan
tulang.

Etiologi dan faktor resiko


Penyebab-penyebab tumor buli semakin banyak dan rumit, dan beberapa
substansi-substansi dalam industri kimia diyakini bersifat karsinogenik (Hueper,
1942). Salah satunya adalah sifat karsinogenisitas dari β-naphthylamine yang telah

ditemukan. Substansi ini diyakini terbawa dalam urine dan menyebabkan asal tumor 
dalam kaitannya dengan kontak dengan permukaan mukosa vesika dalam waktu
lama. Substansi kimia lainnya yang diwaspadai bersifat karsinogenik adalah
benzidine.
Keganasan buli-buli tejadi karena induksi bahan karsinogen yang banyak
terdapat di sekitar kita. Beberapa faktor resiko yang mempermudah seseorang
menderita karsinoma buli-buli adalah:

1. Pekerjaan
Pekerja pabrik kimia, terutama pabrik cat, laboratorium, pabrik korek
api, tekstil, pabrik kulit, dan pekerja salon/ pencukur rambut sering
terpapar oleh bahan karsinogen berupa senyawa amin aromatik (2-
naftilamin, benzidine, dan 4-aminobifamil).

2. Perokok
Resiko untuk mendapat karsinoma buli-buli pada perokok 2-6 kali lebih
besar dibanding dengan bukan perokok. Rokok mengandung bahan
karsinogen amin aromatik dan nitrosamin.

Jessica Ferdi, FK Trisakti 3


http://slidepdf.com/reader/full/tumor-buli-referat 3/32
5/11/2018 Tumor Buli(Referat)-slidepdf.com

3. Infeksi saluran kemih


Telah diketahui bahwa kuman-kuman E. Coli dan Proteus spp
menghasilkan nitrosamin yang merupakan zat karsinogen.

4. Kopi, pemanis buatan, dan obat-obatan


Kebiasaan mengkonsumsi kopi, pemanis buatan yang mengandung
sakarin dan siklamat, serta pemakaian obat-obatan siklofosfamid yang
diberikan intravesika, fenasetin, opium, dan obat antituberkulosa INH
dalam jangka waktu lama dapat meningkatkan resiko timbulnya
karsinoma buli-buli.

Bentuk tumor 
Tumor buli terdapat dalam bentuk papiler, tumor non invasif (in situ), noduler 
(infiltratif) atau campuran antara bentuk papiler dan infiltratif.

Jenis histopatologi
Sebagian besar (± 90%) tumor buli-buli adalah karsinoma sel transisional.

Tumor ini bersifat multifokal yaitu dapat terjadi di saluran kemih yang epitelnya terdiri
atas sel transisional yaitu di pielum, ureter, atau uretra posterior. Sedangkan jenis
yang lainnya adalah karsinoma sel squamosa (± 10%) dan adenokarsinoma (± 2%).
A. Karsinoma sel transisional
Sebagian besar dari seluruh tumor buli adalah karsinoma sel transisional.
Tumor ini biasanya berbentuk papiler, lesi eksofitik, sesile atau ulcerasi.
Carsinoma in situ berbentuk datar (non papiler anaplastik), sel-sel membesar 

dan nukleus tampak jelas. Dapat terjadi dekat atau jauh dari lesi oksofitik,
dapat juga fokal atau difuse. Karsinoma urotelial datar adalah tumor yang
sangat agresif dan bertumbuh lebih cepat dari tumor papilari.

B. Karsinoma non sel transisional


• Adenokarsinoma
Terdapat 3 kelompok adenokarsinoma pada buli-buli, di antaranya

adalah:

Jessica Ferdi, FK Trisakti 4


http://slidepdf.com/reader/full/tumor-buli-referat 4/32
5/11/2018 Tumor Buli(Referat)-slidepdf.com

1. Primer terdapat di buli-buli


Biasanya terdapat di dasar dan di fundus buli-buli. Pada
beberapa aksus sistitis glandularis kronis dan ekstrofia vesika
pada perjalanan lebih lanjut dapat mengalami degenerasi
menjadi adenokarsinoma buli-buli.
2. Urakhus persisten
Adalah sisa duktus urakhus yang mengalami degenerasi
maligna menjadi adenokarsinoma.
3. Tumor sekunder yang berasal dari fokus metastasis dari organ lain,
diantaranya adalah prostat, rektum, ovarium, lambung, mamma,
dan endometrium.

• Karsinoma sel skuamosa


Karsinoma sel skuamosa terjadi karena rangsangan kronis pada buli-
buli sehingga sel epitelnya mengalami metaplasia berubah menjadi
ganas. Rangsangan kronis itu dapat terjadi karena infeksi saluran
kemih kronis, batu buli-buli, kateter menetap yang dipasang dalam

 jangka waktu lama, infestasi cacing schistosomiasis pada buli-buli, dan


pemakaian obat siklofosfamid secara intravesika.

• Karsinoma yang tidak berdiferensiasi


Merupakan tipe tumor yang jarang (kurang dari 2 % dari seluruh tipe
tumor buli). Tumor ini tidak memiliki karakteristik tertentu yang
membedakannya dari tumor lain, dan kata undifferentiated  merujuk

kepada sifat alamiah sel-sel tersebut yang bersifat anaplastik. Dalam


karsinoma yang tidak terdiferensiasi, sel-selnya belum matang
sehingga diferensiasi ke arah pola yang jelas seperti papilari,
epidermoid atau adenokarsinoma tidak terjadi.

• Karsinoma campuran
Terdapat 4-6 % dari seluruh tipe tumor. Merupakan kombinasi antara

bentuk transisional, glandular, skuamosa, dan tidak berdiferensiasi.


Yang tersering adalah campuran bentuk transisional dan skuamosa.

Jessica Ferdi, FK Trisakti 5


http://slidepdf.com/reader/full/tumor-buli-referat 5/32
5/11/2018 Tumor Buli(Referat)-slidepdf.com

C. Karsinoma epitelian dan non epitelial


Karsinoma epiteliai di buli ditemukan dengan adenoma villi,
tumorkarsinoid, karsinosarkoma, dan melanoma. Karsinoma non
epitelial ditemukan bersama dengan feokromositoma, limfoma,
koriokarsinoma, dan tumor mesenkim

Stadium / Derajat invasi tumor 


Penentuan derajat invasi tumor berdasarkan sistem TNM dan stadium
menurut Marshall.

TNM Marshall Uraian


Tis 0 Karsinoma in situ
Ta 0 Tumor papilari invasif  
T1 A Invasi submukosa
T2 B1 Invasi otot superfisial
T3a B2 Invasi otot profunda
T3b C Invasi jaringan lemak
prevesika
T4 D1 Invasi ke organ sekitar  
N1-3 D1 Metastasis ke limfonudi
regional
M1 D2 Metastasis hematogen
Pembagian Grade berdasarkan derajat diferensiasi sel tumor :
1. Tumor berbentuk papiler, masih berdiferensiasi baik, ukuran relatif kecil
dengan dasar yang sempit. Tumor hanya menyebar di jaringan di bawah
lamina propria, tidak ke dalam dinding otot kantung kemih atau lebih.

Jessica Ferdi, FK Trisakti 6


http://slidepdf.com/reader/full/tumor-buli-referat 6/32
5/11/2018 Tumor Buli(Referat)-slidepdf.com

Tidak ada kelenjar limfe yang terlibat. Dapat diatasi dengan cara
transuretral, namun sudah radio-resistant.
2. Tumor berbentuk papiler, dengan diferensiasi yang kurang baik,
cenderung menginvasi lamina propria atau otot detrusor. Ukuran tumor 
lebih besar dari Grade 1, dan berhubungan lebih luas dengan dinding
vesika. Sering dapat diatasi dengan reseksi transuretral. Kurang
berespon dengan radio terapi.
3. Tumor cenderung berbentuk noduler dan invasif, menyebar sampai ke
dalam muscularis propria, yang melibatkan jaringan-jaringan lunak di
sekitar kantung kemih, prostat, uterus, atau vagina. Masih belum ada
organ limfe yang terpengaruh hingga tahap ini. Transuretral dan
sistektomi tidak terlalu berpengaruh, namun masih sensitif terhadap
radio terapi.
4. Tumor telah menyerang pelvis atau dinding abdominal, atau telah
menyerang hingga jaringan limfe. Transuretral dan sistektomi tidak
terlalu berpengaruh, namun masih sensitif terhadap radio terapi.

Pembagian Stage berdasarkan derajat invasi tumor :


• Stage 0 : menunjukkan tumor papilar, namun belum menginvasi
lamina propria
• Stage A : tumor sudah menginvasi lamina propria, namun belum
menembus otot dinding vesika.
• Stage B1 : neoplasma sudah menyebar superficial sampai setengah
dari otot detrusor.
• Stage B2 : tumor ditemukan jauh di dalam lapisan otot.
• Stage C : tumor menyebar sampai lapisan lemak perivesikal atau
ke peritoneum.
• Stage D : tumor sudah bermetastasis.

Palpasi bimanual
Palpasi bimanual dikerjakan dengan narkose umum pada saat sebelum dan
sesudah reseksi tumor TUR buli-buli. Jari telunjuk kanan melakukan colok dubur 

Jessica Ferdi, FK Trisakti 7


http://slidepdf.com/reader/full/tumor-buli-referat 7/32
5/11/2018 Tumor Buli(Referat)-slidepdf.com

atau colok vagina, sedangkan tangan kiri melakukan palpasi buli di daerah
suprasimfisis untuk memperkirakan luas infiltrasi tumor.

Gejala klinis
Gejala pada kanker buli-buli tidaklah spesifik. Banyak penyakit-penyakit
lain, yang termasuk kondisi inflamasi, melibatkan ginjal dan kandung kemih,
menunjukkan gejala yang sama. Gejala pertama yang paling umum adalah
adanya darah dalam urin (hematuria). Hematuria dapat terlihat dengan mata
telanjang, ataupun berada dalam level mikroskopik. Gejala seperti adanya
iritasi pada urinasi juga dapat dihubungkan dengan kanker kantung kemih,
seperti rasa sakit dan terbakar ketika urinasi, rasa tidak tuntas ketika selesai
urinasi, sering urinasi dalam jangka waktu yang pendek. Iritabilitas vesikal
dengan atau tanpa sakit biasanya menandakan adanya infiltrasi, walaupun
tidak dalam semua kasus.

Waspadai bila pasien datang dengan mengeluh hematuria yang bersifat:


1. Tanpa disertai rasa nyeri (painless).

2. Kambuhan (intermitten).
3. Terjadi pada seluruh proses miksi (hematuria total).

Seringkali karsinoma buli-buli tanpa disertai gejala disuri, tetapi pada


karsinoma in situ atau karsinoma yang sudah mengadakan infiltrasi luas tidak
 jarang menunjukkan gejala iritasi bulu-buli.

Hematuria dapat menimbulkan retensi bekuan darah sehingga pasien datang


meminta pertolongan karena tidak dapat miksi. Keluhan akibat penyakit yang
telah lanjut berupa gejala obstruksi saluran kemih bagian atas atau edema
tungkai. Edema tungkai ini disebabkan karena adanya penekanan aliran limfe
oleh massa tumor atau oleh kelenjar limfe yang membesar di daerah
pelvis.terdapat nyeri pinggang jika tumor menyumbat saluran kemih sehingga
terjadi hidronefrosis.
Diagnosis
Walaupun hematuria dan iritabilitas vesikal merupakan gejala yang
paling sering dan menonjol dalam tumor epithelial, kedua gejala tersebut juga

Jessica Ferdi, FK Trisakti 8


http://slidepdf.com/reader/full/tumor-buli-referat 8/32
5/11/2018 Tumor Buli(Referat)-slidepdf.com

seringkali terjadi sebagai bentuk dari kondisi-kondisi lain yang melibatkan


organ urogenital lain. Dalam tubuh orang dewasa, terutama yang berumur di
atas 40 tahun, harus diwaspadai secara serius akan kemungkinan adanya
kanker kandung kemih, terutama bila dalam urin tidak ditemukan adanya basil
tuberkulus.
Pada pemeriksaan fisik terhadap penderita kanker buli biasanya jarang
ditemui adanya kelainan karena tumor tersebut merupakan tumor epitel
transisional kandung kemih yang letaknya superfisial dari buli-buli.Tumor 
tersebut baru dapat diraba bila tumor tersebut sudah tumbuh keluar dari
dinding buli-buli. Mengingat pada kanker ini mudah terjadi metastasis ke
kelenjar limfe regional, hati dan paru-paru.
Ada beberapa alat diagnosa yang dapat digunakan untuk melakukan diagnosa
terhadap kanker kantung kemih. Namun sebuah diagnosa difinitif hanya dapat
dilakukan setelah memeriksa jaringan kantung kemih yang dilakukan oleh
seorang patologis.

Beberapa pemeriksaan tambahan perlu dilakukan untuk membantu

mendiagnosis kanker buli:

1. Pemeriksaan laboratorium
Kelainan yang ditemukan biasanya hanya ditemukan dalam darah dan
urin. Gejala anemia dapat dijumpai bila ada perdarahan dari tumor yang
sudah lanjut. Dapat juga ditemukan gejala ganggunan fungsi ginjal berupa
peningkatan kadar ureum dan kreatinin dalam darah yang terjadi bila
tumor tersebut menyumbat kedua muara ureter. Selain pemeriksaan
laboratorium rutin, diperiksa pula:

• Sitologi urin, yaitu pemeriksaan sel-sel urotelium yang terlepas


bersama urin.
• Antigen permukaan sel dan flow cytometri, yaitu mendeteksi
adanya kelainan kromosom sel-sel urotelium.

2. Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan Foto Polos Abdomen dan Pielografi Intra Vena (PIV)

Jessica Ferdi, FK Trisakti 9


http://slidepdf.com/reader/full/tumor-buli-referat 9/32
5/11/2018 Tumor Buli(Referat)-slidepdf.com

digunakan sebagai pemeriksaan baku pada penderita yang diduga memiliki


keganasan saluran kemih termasuk juga keganasan buli-buli. Pada
pemeriksaan ini selain melihat adanya filling defek pada buli-buli juga
mendeteksi adanya tumor sel transisional yang berada di ureter atau pielum,
dan dapat mengevaluasi ada tidaknya gangguan pada ginjal dan saluran
kemih yang disebabkan oleh tumor buli-buli tersebut. Didapatkannya
hidroureter atau hidronefrosis merupakan salah satu tanda adanya infiltrasi
tumor ke ureter atau muara ureter.
Jika penderita alergi terhadap zat yang digunakan pada pemeriksaan PIV,
maka dapat dilakukan pemeriksaan USG. Foto toraks juga perlu dilakukan
untuk melihat bila ada metastasis ke paru-paru.

3. Sistoskopi dan biopsi


Sistoskopi dilakukan oleh urologis, mengevaluasi kantung kemih
dengan pemeriksaan visual langsung dengan menggunakan sebuah alat

khusus yaitu cytoscope. Identifikasi dari sebuah tumor biasa dilakukan dengan
cytoscopy. Banyak tumor yang muncul dari bagian yang lebih tergantung dari
kantung kemih, seperti basal, trigonum, dan daerah di sekitar orifisium vesika.
Namun mereka juga dapat muncul dimana saja.
Pemeriksaan sistoskopi (teropong buli-buli) dan biopsi mutlak dilakukan
pada penderita dengan persangkaan tumor buli-buli, terutama jika penderita
berumur 40-45 tahun. Dengan pemeriksaan ini dapat dilihat ada atau tidaknya
tumor di buli-buli sekaligus dapat dilakukan biopsi untuk menentukan derajat
infiltrasi tumor yang menentukan terapi selanjutnya. Selain itu pemeriksaan ini

Jessica Ferdi, FK Trisakti 10


http://slidepdf.com/reader/full/tumor-buli-referat 10/32
5/11/2018 Tumor Buli(Referat)-slidepdf.com

dapat juga digunakan sebagai tindakan pengobatan pada tumor superfisial


(permukaan).

4. CT scan atau MRI


Berguna untuk menentukan ekstensi tumor ke organ sekitarnya. CT
scanning merupakan x-ray detail dari tubuh, yang menunjukkan
persimpangan-persimpangan dari organ-organ yang mana tidak ditunjukkan
oleh sinar x-ray konvensional. MRI lebih sensitif dari CT Scan, yang
memberikan keuntungan dapat mendeteksi kelenjar limfe yang membesar di
dekat tumor yang menunjukkan bahwa kanker telah menyebar ke kelenjar 
limfe.

Diagnosis Banding
• Tumor ginjal atau tumor ureter 
• Endometriosis
• Benign Prostatic Hipertrofi
• Batu ginjal, ureter, buli

• Tuberculosis traktus urinarius


• Tumor cervix

Komplikasi
Dapat terjadi infeksi sekunder kandung kemih yang parah bila terdapat
ulserasi tumor. Pada obstruksi ureter, jarang terjadi infeksi ginjal. Bila tumor 
menginvasi leher buli, maka dapat terjadi retensi urin. Cystitis, yang mana sering kali

berada dalam tingkat yang harus diwaspadai, merupakan hasil dari nekrosis dan
ulserasi dari permukaan tumor. Ulserasi ini terkadang dapat dilihat dalam kasus
tumor-tumor yang tidak menembus, dari beberapa gangguan dengan aliran darah,
Jessica Ferdi, FK Trisakti 11
http://slidepdf.com/reader/full/tumor-buli-referat 11/32
5/11/2018 Tumor Buli(Referat)-slidepdf.com

tetapi muncul dalam 30 persen kasus dimana tumor menembus. Kantung kemih
yang terkontraksi dengan kapasitas yang sangat kecil dapat mengikuti ulserasi
dengan infeksi dan infiltrasi ekstensif dalam dinding kantung kemih.

Kembalinya tumor dalam kantung kemih dapat menunjukkan tipe lain dari
komplikasi. Jika pertumbuhan tumor kembali terjadi di area yang sama, kemungkinan
hal tersebut adalah hasil dari perawatan yang kurang profesional dan kurang layak
pada tumor asalnya. Namun tumor, yang muncul di tempat lain di dalam kandung
kemih harus berasal dari asal yang berbeda.

Kematian tidak jarang terjadi dikarenakan oleh komplikasi yang timbul karena
disebabkan oleh tumor itu sendiri atau perawatan atas tumor tersebut. Hidroneprosis
dan urosepsis, dengan gagal renal, toxemia, cachexia, dan kelelahan fisik dari
iritabilitas vesikal, sering kali menjadi suatu gambaran yang harus diperhatikan.
Hidronefrosis dapat disebabkan oleh oklusi ureter. Bila terjadi bilateral, terjadilah
uremia.

Terapi
Tindakan yang pertama kali dilakukan pada pasien karsinoma buli-buli adalah
reseksi buli-buli transuretra atau TUR buli-buli. Pada tindakan ini dapat ditentukan
luas infiltrasi tumor. Terapi selanjutnya tergantung pada stadiumnya, antara lain:
1. Tidak perlu terapi lanjutan akan tetapi selalu mendapat pengawasan yang
ketat atau wait and see.
2. Instilasi intravesika dengan obat-obat Mitosimin C, BCG, 5-Fluoro Uracil,

Siklofosfamid, Doksorubisin, atau dengan Interferon


Dilakukan dengan cara memasukkan zat kemoterapeutik ke dalam buli
melalui kateter. Cara ini mengurangi morbidatas pada pemberian
secara sistemik. Terapi ini dapat sebagai profilaksis dan terapi,
mengurangi terjadinya rekurensi pada pasien yang sudah dilakukan
reseksi total dan terapi pada pasien dengan tumor buli superfisial yang
mana transuretral reseksi tidak dapat dilakukan.

Zat ini diberikan tiap minggu selama 6-8 minggu, lalu dilakukan
maintenan terapi sebulan atau dua bulan sekali. Walaupun toksisitas
lokal sering terjadi, toksisitas sistemik jarang terjadi karena ada

Jessica Ferdi, FK Trisakti 12


http://slidepdf.com/reader/full/tumor-buli-referat 12/32
5/11/2018 Tumor Buli(Referat)-slidepdf.com

pembatasan absorbsi di lumen buli. Pada apsien gross hematuri


sebaiknya menghindari cara ini karena dapat menyebabkan komplikasi
sistemik berat. Efisiensi obat dapat dicapai dengan membatasi intake
cairan sebelum terapi, pasien dianjurkan berbaring dengan sisi
berbeda, tidak berkemih 1-2 jam setelah terapi.

3. Sistektomi parsial, radikal atau total


Sisteksomi parsial dilakukan pada tumor infiltratif, soliter yang berlokasi
di sepanjang dinding posterolateral atau puncak buli. Pada sistektomi
radikal dilakukan pengangkatan seluruh buli dan jaringan atau organ di
sekitarnya. Pada pria, dilakukan pengangkatan buli, jaringan lemak
sekitarnya, prostat dan vesika seminalis. Pada wanita dilakukan
pengangkatan buli, ceviks, uterus, vagina anterior atas, ovarium.
Sistektomi radikal adalah pengangkatan buli-buli dan jaringan
sekitarnya (pada pria berupa sistoprostatektomi) dan selanjutnya aliran
urin dari kateter dialirkan melalui beberapa cara diversi urine, antara
lain:

a. Ureterosigmoidostomi
Yaitu membuat anastomosis kedua ureter ke dalam sigmoid. Cara ini
sekarang tidak banyak dipakai lagi karena banyak menimbulkan
penyulit.

b. Konduit usus
Yaitu mengganti buli-buli dengan ileum sebagai penampung urin,

sedangkan untuk mengeluarkan urin dipasang kateter menetap melalui


sebuah stoma. Saat ini tidak banyak dikerjakan lagi karena tidak
praktis.

c. Diversi urin kontinen


Yaitu mengganti buli-buli dengan segmen ileum dengan membuat
stoma yang kontinen (dapat menahan urin pada volume tertentu). Urin

kemudian dikeluarkan melalui stoma dengan kateterisasi mandiri


secara berkala. Cara diversi urin ini yang terkenal adalah cara Kock
pouch dan Indiana pouch.

Jessica Ferdi, FK Trisakti 13


http://slidepdf.com/reader/full/tumor-buli-referat 13/32
5/11/2018 Tumor Buli(Referat)-slidepdf.com

d. Diversi urin Orthotopic


Adalah membuat neobladder dari segmen usus yang kemudian
dilakukan anastomosis dengan uretra. Teknik ini dirasa lebih fisiologis
untuk pasien, karena berkemih melalui uretra dan tidak memakai stoma
yang dipasang di abdomen.

4. Radiasi eksterna
Radiasi eksterna diberikan selama 5-8 minggu. Merupakan alternatif 
selain sistektomi radikal pada tumor ilfiltratif yang dalam. Rekurensi
lokal sering terjadi.

5. Terapi ajuvan dengan kemoterapi sistemik antara lain regimen sisplatinum-


Siklofosfamid dan Adriamisin

Stadium Tindakan
Superfisial TUR Buli / Fulgurasi

(Stadium 0 – A) Instilasi intravesika


Invasif  TUR Buli
(Stadium B-C-D1) Sistektomi/ radiasi
Metastasis Ajuvantivus kemoterapi
(Stadium D2) Radiasi paliatif 

Pada pasienn tumor buli kadang ditemukan metastase regional atau


metastase jauh. Dan sekitar 30-40% pasien denagn tumor invasif akan
bermetastase jauh meskipun sudah dilakukan sistektomi radikal dan
radioterapi.
Pemberian single kemoterapi agentatau kombinasi menunjukkan
respon yang baik pada pasien tumor buli metastase. Respon
meningkat pada pemberian kombinasi: methotrexate, vinblastin,
cisplastin, doxorubicin, siklofosfamid.

Kontrol berkala

Jessica Ferdi, FK Trisakti 14


http://slidepdf.com/reader/full/tumor-buli-referat 14/32
5/11/2018 Tumor Buli(Referat)-slidepdf.com

Semua pasien karsinome buli harus mendapatkan pemeriksaan secara


berkala, dan secara rutin dilakukan pemeriksaan klinis, sitologi urin serta sistoskopi.
Jadwal pemeriksaan berkala itu pada:
1. Tahun pertama dilakukan setiap 3 bulan sekali.
2. Tahun kedua setiap 4 bulan sekali.
3. Tahun ketiga dan seterusnya: setiap 6 bulan.

Prognosis
Tumor superfisial yang berdiferensiasi baik dapat timbul kembali, atau muncul
papiloma baru. Dengan kewaspadaan konstan, sistoskopi berkala diperlukan minimal
3 tahun. Tumor baru juga dapat dikontrol dengan cara transuretral, tapi bila muncul
kembali, kemungkinan akan menjadi lebih invasif dan ganas. Sistektomi dan radio
terapi harus dipertimbangkan kemudian.
Secara umum, prognosis tumor buli bergantung pada derajat invasi dan
diferensiasi. Pada tumor Grade 1,2, Stage 0, A, B1 hasil terbaik didapatkan dengan
reseksi transuretral. Sistektomi dapat untuk mengatasi 15-25% tumor Grade 3,4,
Stage B2, C dengan persentasi kematian saat operasi sebesar 5-15%. Radioterapi

pada neoplasma ganas dapat mengontrol 15-20% neoplasma selama 5 tahun.

Tumor papilari yang tidak menembus hanya berada pada kantung kemih.
mereka memiliki karakteristik untuk tidak bermetastasis kecuali mereka melewati
proses perubahan ganas, menembus lapisan membran dasar dan menembus
dinding kantung kemih. Tumor jenis ini dapat selalu dihancurkan dengan sempurna
dengan fulgurasi, radium ataupun elektroeksisi. Beberapa mungkin menghilang

setelah terapi rontgen dalam atau proses instilasi atas podofilin. Adalah sangat
penting untuk memeriksa pasien dalam interval reguler. Sehingga adanya tumor 
yang kembali datang dapat dikenali lebih awal dan dapat diobati sebagaimana
seharusnya. Jika pemeriksaan ini dilakukan dalam interval tiap enam hingga delapan
bulan pada awalnya, dan perlahan-lahan waktu interval yang dibutuhkan semakin
panjang, maka prognosisnya dapat dikatakan sukses.

Tumor kantung kemih yang menembus jauh lebih serius dan cepat atau lambat
akan bermetastasi. Beberapa pembelajaran otopsi menunjukkan bahwa kejadian
metastasis dan ekstensi ekstra vesikel secara langsung adalah proporsional dengan

Jessica Ferdi, FK Trisakti 15


http://slidepdf.com/reader/full/tumor-buli-referat 15/32
5/11/2018 Tumor Buli(Referat)-slidepdf.com

tingkat kedalaman sejauh apa tumor tersebut telah menembus dinding kantung
kemih.
Metode apapun dari perawatan yang mana mampu untuk secara sempurna
melenyapkan tumor utama yang superfisial dan menembus akan dapat memberikan
tingkat bertahan hidup 5 tahun yang baik. Dalam kasus dari prosedur konservatif,
bukti atas sebuah efisiensi sama dengan yang dicapai dari reseksi segmental atau
sistektomi jelas akan tergantung kepada segregasi pra-operasi dari tumor yang
superfisial yang mana terletak cukup dalam.

Tumor yang telah menyebar ke lebih dari setengah jalan melewati muskularis
biasanya tidak lagi terlokasi ke kantung kemih. kemungkinan bertahan hidup 5 tahun
dari kasus-kasus seperti ini setelah sistektomi sederhana hanya 10 persen. Ketika
tumor menembus hingga sangat dalam, muncul kemungkinan kematian yang lebih
tinggi setelah kegagalan untuk membuang semua tumor tersebut dengan sistektomi.
Elektrosisi transurethral dan elektrokoagulasi diketahui memberikan kenyamanan
untuk berbulan-bulan dan bahkan bertahun-tahun. Terkadang radiasi eksternal
dengan kontrol dari hemorrhage dan transplantasi uretral ke dalam kulit akan

mengurangi iritabilitas vesikal. Lebih jauh lagi, pemecahan dari arus urinase dalam
kasus tertentu dapat diikuti oleh penurunan dari masa total dari tumor.

Secara umum, pandangan-pandangan sebagian besar bergantung pada


apakah tumor tersebut terlokasi di kantung kemih saja atau telah menyebar ke
daerah di luar nya. Tumor yang terlokalisasi biasanya telah menginfiltrasi kurang dari
setengah jalan menembus muskularis. Sebuah prognosis yang bagus dapat

diharapkan tercapai hanya setelah pemusnahan menyeluruh dari lokalisasi tumor 


sejenis dan kontrol atas kemungkinan datang kembalinya tumor yang teridentifikasi
lewat pemeriksaam sistoskopik secara reguler sepanjang sisa hidup pasien.

ILUSTRASI KASUS

Jessica Ferdi, FK Trisakti 16


http://slidepdf.com/reader/full/tumor-buli-referat 16/32
5/11/2018 Tumor Buli(Referat)-slidepdf.com

Seorang pria berusia 45 tahun, datang dengan keluhan nyeri suprapubik saat BAK
sejak 3 bulan SMRS. Os merasa urin tidak lampias sehingga os harus mengedan.
Urin berwarna kuning keruh, disertai banyak gumpalan darah. Os mengaku susah
BAB sejak 2 bulan SMRS. Frekuensi BAB 2 hari sekali dengan tinja berbentuk bulat-
bulat kecil, berwarna hitam. Nafsu makan baik, namun setiap habis makan, terasa
nyeri seperti ditonjok-tonjok pada buli. Bila berbaring nyeri berkurang dan hilang.
Nyeri bertambah bila os berjalan atau duduk. Kedua betis terasa pegal sejak 3 bulan
SMRS. Os mengomsumsi rebusan dedaunan sejak 3 bulan SMRS, namun tidak ada
perbaikan. Os mengaku sering duduk dan banyak minum.
RPD: sebelumnya os pernah dua kali dioperasi. Yang pertama operasi batu saluran
kemih (thn 1979). Batu berwarna putih kehitaman sebesar telur ayam. Yang kedua
operasi ginjal kanan (thn 1999) karena os sakit pinggang 1 thn lebih, perut kembung
dan tidak bisa berjalan.
RPK: Tidak terdapat riwayat hipertensi, kencing manis, alergi dalam keluarga.
Kebiasaan: Setiap hari os minum kopi dan menghabiskan 1 bungkus rokok.

Pemeriksaan fisik:

Pada regio suprapubik teraba massa dengan konsistensi keras, berukuran 8x6 cm,
permukaan tidak rata, batas tidak tegas, nyeri tekan (+).
Terdapat hernia skrotalis kiri
Untuk menegakkan diagnosis, dilakukan pemeriksaan penunjang USG abdomen

Hasil USG:
Os post nefrektomi dextra

Ginjal kiri:
 Ukuran +/- 10x5 cm
 Tampak pelebaran sistem pelviokalises dan sebagian ureter proksimal yang
dapat tervisualisasi. Echostruktur kortex sedikit meningkat. Tak tanpak lesi
hyperechoik dengan PAS (+)

Buli-buli:

Tampak massa padat intra buli, lobulated, ukuran +/- 8,2 x 6,4 cm

Prostat:
Jessica Ferdi, FK Trisakti 17
http://slidepdf.com/reader/full/tumor-buli-referat 17/32
5/11/2018 Tumor Buli(Referat)-slidepdf.com

Tak membesar, echostruktur homogen


Kesan:
 Post nefrektomi dextra
 Hydronefrosis sinistra dan hydroureter sinistra
 Massa padat intrabuli, lobulated, ukuran +/- 8,2 x 6,3 cm
→ TUMOR BULI

KESIMPULAN
Dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang pada penderita
ini mengarah pada diagnosis tumor buli, hidronefrosis sinistra, dan hidroureter 
sinistra. Perlu dilakukan tindakan TUR buli untuk mengetahui luas infiltrasi tumor dan
menentukan tindakan selanjutnya

REFERAT TUMOR BULI

Jessica Ferdi, FK Trisakti 18


http://slidepdf.com/reader/full/tumor-buli-referat 18/32
5/11/2018 Tumor Buli(Referat)-slidepdf.com

PEMBIMBING:

Dr. Asrorudin SpU

DISUSUN OLEH:

Jessica Ferdi
030.04.116

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH RSUP FATMAWATI

PERIODE 30 MARET – 6 JUNI 2009


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA

Jessica Ferdi, FK Trisakti 19


http://slidepdf.com/reader/full/tumor-buli-referat 19/32
5/11/2018 Tumor Buli(Referat)-slidepdf.com

Ilustrasi Kasus

Jessica Ferdi, FK Trisakti 20


http://slidepdf.com/reader/full/tumor-buli-referat 20/32
5/11/2018 Tumor Buli(Referat)-slidepdf.com

Anamnesa

Seorang laki-laki 65 tahun datang ke RS dengan keluhan sakit saat kencing. Dari anamnesis

didapatkan pasien mengeluh sakit saat miksi yang dirasakan di suprapubik, keluar air kencing
warna merah terus menerus, saat miksi penderita  harus mengejan, dan kencing ≥ 10x sehari.
Pada anamnesis juga diketahui bahwa penderita memiliki kebiasaan mengkonsumsi kopi (+)

sering, sebanyak ≥ 3x sehari dan merokok 1-2 bungkus tiap hari.

Pemeriksaan fisik 
 
Pada regio suprapubik teraba massa dengan konsistensi keras, berukuran 3 x 3 x 1 cm,
 permukaan tidak rata, batas tidak tegas, nyeri tekan (-). Dan didapatkan nyeri ketok di regio
CVA (Costo-Vertebra Angle) kiri.

Untuk menegakkan diagnosis, dilakukan pemeriksaan penunjang berupa FPA-UIV dan USG
abdomen. Dari pemeriksaan UIV penderita, tampak filling defect dengan tepi iregular pada
lateral kiri Vesika Urinaria. Dari pemeriksaan UIV juga terlihat gambaran flattening kaliks
minor pada ginjal kanan maupun kiri, yang disertai pelebaran pelvis renis pada ginjal kiri.

Sementara ureter kiri tampak melebar sampai ke ureteropevico junction dan kinking setinggi
vertebra lumbal 4. Hasil pemeriksaan USG pada penderita menunjukkan gambaran massa
intravesika dengan hidronefrosis dan hidroureter kiri. Dari pemeriksaan penunjang, yaitu
USG abdomen dan x-foto thoraks, tidak ditemukan adanya metastasis ke organ intraabdomen
maupun pulmo.

Kesimpulan

Dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang pada penderita ini
mengarah pada diagnosis suspek carsinoma buli, hidronefrosis dextra et sinistra, dan
hidroureter sinistra. Perlu dilakukan tindakan TUR buli untuk mengetahui luas infiltrasi tumor 
dan menentukan tindakan selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Jessica Ferdi, FK Trisakti 21


http://slidepdf.com/reader/full/tumor-buli-referat 21/32
5/11/2018 Tumor Buli(Referat)-slidepdf.com

1. Staf Pengajar Sub-Bagian Radio Diagnostik, Bagian Radiologi, FKUI.


Radiologi Diagnostik. Balai Penerbit FKUI. Jakarta: 2000.
2. Purnomo,BB. Dasar-Dasar Urologi Edisi Kedua. Sagung Seto. Jakarta: 2003.
3. W.B, Saunders. Campbell’s Urology sixth edition. WB Saunders Company.
Philadelphia : 1992.
4. Sjamsuhidajat, R dan Wim de Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. EGC. Jakarta :
2005
5. Hydronephrosis and Hydroureter.
http://www.emedicine.com/med/topic1055.htm Accessed on March, 10 2008.
6. Ash, J. E.: Epithelial Tumors of Bladder. J. Urol., 44: 135-145, 1940
7. Campbell, M. F.: Clinical Pediatric Urology. Philadelphia, W.B. Saunders Co.,
1951.
8. Corbus, B. C. and Corbus, B. C., Jr.: The Utilization of Heat in Treatment of 
Tumors of Urinary Bladder: A Presentation of Technique. J. Urol., 57 : 730-
737, 1947.
9. Deming, C. L.: Biology Behavior of Transitional Cell Papilloma of Bladder. J.
Urol., 63: 815-820, 1950.

10. Jewett, H. J. : Section on Neoplasms of the Bladder. Vol. 2 pp. 283-308,


Cyclopedia of Medicine, Surgery, Specialties. Philadelphia, F. A. Davis Co.,
1950.
 

Jessica Ferdi, FK Trisakti 22


http://slidepdf.com/reader/full/tumor-buli-referat 22/32
5/11/2018 Tumor Buli(Referat)-slidepdf.com

Pernah denger penyakit 'TUMOR BULI-BULI'??

Menurut beberapa sumber,


Penyebab dari penyakit ini adalah :
• Pekerjaan, pekerja dipabrik kimia, laboratorium ( senyawa amin aromatik )
• Perokok, rokok mengandung amin aromatik dan nitrosamin.
• Infeksi saluran kemih, E.Coli dan proteus Spp menghasilkan karsinogen.

Jessica Ferdi, FK Trisakti 23


http://slidepdf.com/reader/full/tumor-buli-referat 23/32
5/11/2018 Tumor Buli(Referat)-slidepdf.com

• Kopi, pemanis buatan dan obat-obatan, untuk pemakaian jangka panjang dapat
meningkatkan resiko karsinoma buli-buli.
dan..
Keluhan-Keluhan yang dirasakan penderita diantaranya :
• Hematuri tanpa keluhan nyeri (painless), kambuhan dan seluruh proses miksi.
• Retensi urine akibat, bekuan darah.
• Udema tungkai, akibat penekanan saluran limfe atau pembesaran kelenjar limfe di pelvis.

Kurangnya pengetahuan masyarakat akan penyakit tumor buli-buli menyebabkan tingginya


tingkat kasus yang tidak terdiagnosa. Dalam penegakkan diagnosa, penampakkan klinis tidak 
 banyak memberikan kontribusi tetapi dibutuhkan beberpa pemeriksaan penunjang seperti
laboratorium dan biopsi.

Kanker Buli-Buli (Kandung Kencing) Suatu Tinjauan Singkat


Men's Health Mon, 27 Oct 2003 09:29:00 WIB

Mungkin suatu hari keluarga Anda atau teman Anda pernah mengeluhkan kencing yang
 berwarna merah dan bercampur darah. Karena pernah mendengar dari seorang kenalan lain
 bahwa itu adalah tanda adanya infeksi di saluran kemih dan bisa sembuh atau hilang dengan
minum obat tertentu, Anda kemudian menjadi tenang.

Tapi ketahuilah jangan pernah meremehkan kencing berdarah karena itu bukan hanya berarti
infeksi, tapi bisa juga berarti tanda adanya batu saluran kencing bahkan keganasan atau
kanker di saluran kemih. Bila Anda menemui keluhan kencing darah yang berulang atau
menetap dengan atau tanpa rasa sakit, sebelum dipastikan oleh seorang dokter maka itu harus
dianggap sebagai sebuah masalah yang serius dan bukan sekedar infeksi biasa.

Dari berbagai jenis kanker saluran kemih, kanker buli-buli/kandung kemih merupakan yang
sering ditemui. Di Amerika Serikat keganasan ini merupakan penyebab kematian ke enam
dari seluruh penyakit keganasan, dan pada tahun 1996 yang lalu diperkirakan ditemukan
52.900 kasus baru kanker buli-buli. Di Indonesia berdasarkan pendataan hasil pemeriksaan
 jaringan yang dilakukan selama 3 tahun (1988-1990) diketahui bahwa kanker buli- buli
menempati urutan kesepuluh dari tumor ganas primer pada pria. Di Subbagian Urologi
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo dari 152 kasus keganasan urologi antara tahun 1995-1997,
36% diantaranya adalah kanker buli-buli dan juga menempati urutan pertama. Keganasan ini
dapat mengenai semua jenis kelamin namun pria memiliki resiko 3 kali lebih besar daripada
 perempuan. Puncak kejadiannnya terutama berada pada usia dekade ke lima sampai ke tujuh.

Faktor Resiko

Dari beberapa penelitian berhasil menemukan adanya hubungan antara merokok dengan
terjadinya kanker buli-buli. Hubungan tersebut terjadi secara dose respone yang berarti
 bertambahnya jumlah rokok yang diisap akan meningkatkan resiko terjadinya kanker buli-buli
2-5 kali lebih besar dibandingkan dengan bukan perokok. Pada perokok ditemukan adanya
 peningkatan metabolit–metabolit triptopan yang berada dalam urinnya (air kemih) yang
 bersifat karsinogenik (dapat menimbulkan kanker). Beberapa bahan kimia juga dilaporkan
 bersifat karsinogenik pada terjadinya kanker buli-buli, seperti b -naftylamine yang sering

Jessica Ferdi, FK Trisakti 24


http://slidepdf.com/reader/full/tumor-buli-referat 24/32
5/11/2018 Tumor Buli(Referat)-slidepdf.com

digunakan dalam industri cat dan karet, fenacetin, cyclophosphamine, cafein, dan pemanis
 buatan. Penelitian terbaru juga menyebutkan pada orang yang sering memakai cat rambut
 permanen resikonya jadi meningkat. Selain itu iritasi jangka panjang pada selaput lendir 
kandung kencing seperti yang terjadi pada infeksi kronis (infeksi yang berlangsung lama),
 pemakaian kateter yang menetap dan adanya batu pada buli-buli, juga diduga sebagai faktor 
 penyebab.

Gejala Dan Diagnosis

Pada seseorang yang memiliki gejala hematuria atau terdapatnya darah dalam air kemih
setelah dilakukan evaluasi lebih lanjut sebagian besar didiagnosis memiliki kanker buli-buli.
Bila ditemukan adanya darah dalam urin, haruslah dilakukan evaluasi yang lebih lanjut untuk 
menyingkirkan penyebab yang bersifat keganasan. Hematuri tersebut umumnya bersifat total
yang terjadi mulai awal BAK (buang air kecil) sampai selesai. Ditemukannnya hematuri
mikroskopik (darah hanya ditemukan pada pemeriksaan laboratorium) pada penderita tanpa
disertai rasa sakit, merupakan tanda penting adanya keganasan buli-buli. Rasa nyeri pinggang
terjadi jika tumor meyumbat saluran kemih sehingga terjadi hidronefrosis. (pembesaran ginjal
karena sumbatan). Adanya hematuri juga dapat terjadi pada trauma buli-buli, infeksi saluran
kemih, kelainan parenkim/jaringan ginjal, atau adanya infeksi buli-buli yang disebabkan
infeksi M. tuberculosis. Sehingga pemeriksaan lebih lanjut sangat diperlukan.

Pada pemeriksaan fisik terhadap penderita kanker buli biasanya jarang ditemui adanya
kelainan. Hal ini disebabkan karena tumor tersebut merupakan tumor epitel transisional
kandung kemih yang letaknya superfisial dari buli-buli.Tumor tersebut baru dapat diraba bila
tumor tersebut sudah tumbuh keluar dari dinding buli-buli. Mengingat pada kanker ini mudah
terjadi metastasis (penyebaran jauh) ke kelenjar limfe regional, hati dan paru-paru.

Beberapa pemeriksaan tambahan perlu dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis


kanker buli-buli , diantaranya :

1. Pemeriksaan laboratorium

Kelainan yang ditemukan biasanya hanya ditemukannya darah dalam air kemih. Tanda
adanya anemia dapat dijumpai bila terjadi perdarahan yang umumnya terjadi pada tumor yang
sudah lanjut atau dapat pula ditemukan tanda adanya gangguan fungsi ginjal berupa
 peningkatan kadar ureum dan kreatinin dalam darah yang terjadi bila tumor tersebut
menyumbat kedua muara ureter (saluran kemih).
2. Pemeriksaan Radiologi

Pemeriksaan Foto Polos Perut dan Pielografi Intra Vena (PIV) digunakan sebagai
 pemeriksaan baku pada penderita yang memiliki persangkaan keganasan saluran kemih
termasuk juga keganasan buli-buli. Pada pemeriksaan ini selain melihat adanya filling defect
(kelainan) pada buli-buli juga dapat mengevaluasi ada tidaknya gangguan pada ginjal dan
saluran kemih yang disebabkan oleh tumor buli-buli tersebut. Jika penderita alegi terhadap zat
yang digunakan pada pemeriksaan PIV, maka dapat dilakukan pemeriksaan ultrasonografi
(USG). Foto toraks (rongga dada) juga perlu dilakukan untuk melihat ada tidaknya metastasis
ke paru-paru.

3. Sistoskopi dan biopsi

Jessica Ferdi, FK Trisakti 25


http://slidepdf.com/reader/full/tumor-buli-referat 25/32
5/11/2018 Tumor Buli(Referat)-slidepdf.com

Pemeriksaan sistoskopi (teropong buli-buli) dan biopsi mutlak dilakukan pada penderita
dengan persangkaan tumor buli-buli, terutama jika penderita berumur 40-45 tahun. Dengan
 pemeriksaan ini dapat dilihat ada atau tidaknya tumor di buli-buli sekaligus dapat dilakukan
 biopsi (pengambilan jaringan tumor) untuk menentukan derajat infiltrasi tumor yang
menentukan terapi selanjutnya. Selain itu pemeriksaan ini dapat juga digunakan sebagai
tindakan pengobatan pada tumor superfisial (permukaan ). (mades/daya)

TUMOR BULI-BULI / KANDUNG KEMIH


Merupakan keganasan kedua setelah karsinoma prostat. Dua kali lebih banyak pada laki-laki
dari wanita.

Etiologi / faktor resiko:


• Pekerjaan, pekerja dipabrik kimia, laboratorium ( senyawa amin aromatik )
• Perokok, rokok mengandung amin aromatik dan nitrosamin.
• Infeksi saluran kemih, E.Coli dan proteus Spp menghasilkan karsinogen.

•meningkatkan
Kopi, pemanis buatan
resiko dan obat-obatan,
karsinoma buli-buli.untuk pemakaian jangka panjang dapat

• Histopatologi :
• 90 % merupakan karsinoma sel transisional, selebihnya merupakan karsinoma sel squamosa
dan adenokarsinoma.

Gejala klinis :
• Hematuri tanpa keluhan nyeri ( painless), kambuhan dan seluruh proses miksi.
• Retensi urine akibat, bekuan darah.
• Udema tungkai, akibat penekanan saluran limfe atau pembesaran kelenjar limfe di pelvis.

Diagnosis ;
• IVP, ditemukan filling defect, hidronefrosis bila terjadi infiltrasi tumor ke muara ureter.
• CT scan, MRI.

Terapi :
• Reseksi buli-buli,
• Sistektomi radikal.
• Instilasi intra vesika dengan obat-obat : Mitomisin C, 5 FU, Siklofospamide.
• Radiasi eksterna.

Jessica Ferdi, FK Trisakti 26


http://slidepdf.com/reader/full/tumor-buli-referat 26/32
5/11/2018 Tumor Buli(Referat)-slidepdf.com

Bladder cancer refers to any of several types of malignant growths of the urinary bladder. It
is a disease in which abnormal cells multiply without control in the bladder. The bladder is a
hollow, muscular organ that stores urine; it is located in the lower abdomen. The most
common type of bladder cancer begins in cells lining the inside of the bladder (epithelial
cells) and is called transitional cell carcinoma (TCC).

The greatest risk factor for bladder cancer is a genetic predisposition; it is also associated with
smoking and occupational exposure to aniline-based dyes (such as in textile factories), as well
as with petrol and other chemicals.

Signs and symptoms


Bladder cancer may cause blood in the urine, pain during urination, frequent urination, or 
feeling the need to urinate without results. These signs and symptoms are not specific to
 bladder cancer, and are also caused by noncancerous conditions, including prostate infections
and cystitis.

Treatment
The treatment of bladder cancer depends on how deep the tumor invades into the bladder 
wall. Superficial tumors (those not entering the muscle layer) can be "shaved off" using an
electrocautery device attached to a cystoscope. Immunotherapy in the form of BCG
instillation is also used to treat and prevent the recurrance of superficial tumors. BCG
immunotherapy is effective in up to 2/3 of the cases at this stage. Instillations of 

chemotherapy into the bladder can also be used to treat superficial disease.
Untreated, superficial tumors may gradually begin to infiltrate the muscular wall of the
 bladder. Tumors that infiltrate the bladder require more radical surgery where part or all of the
 bladder is removed (a cystectomy) and the urinary stream is diverted. In some cases, skilled
surgeons can create a substitute bladder (a neobladder) from a segment of intestinal tissue, but
this largely depends upon patient preference, renal function, and the site of the disease.

A combination of radiation and chemotherapy can also be used to treat invasive disease, and,
in many cases, it is not yet known which is the better treatment - radiotherapy or radical
ablative surgery.

Jessica Ferdi, FK Trisakti 27


http://slidepdf.com/reader/full/tumor-buli-referat 27/32
5/11/2018 Tumor Buli(Referat)-slidepdf.com

ransitional cell or urothelial carcinoma is the most common type of bladder cancer,
accounting for more than 90% all bladder cancers. Urothelial carcinomas are separated
clinically into superficial tumors and muscle invasive tumors.

SUPERFICIAL BLADDER CANCER 


Superficial tumors are defined as tumors that either do not invade, or those that invade but
stay superficial to the deep muscle wall of the bladder. At initial diagnosis, 70% of patients
with bladder cancers have superficial disease.

Tumors that are clinically superficial are composed of three distinctive pathologic types:

1) Non-invasive papillary urothelial carcinoma: 


The majority of superficial urothelial carcinomas present as noninvasive (does not invade
underlying tissue), papillary (finger-like projections) tumors (pathologic stage pTa). 70% of 
these superficial  papillary tumors will recur over a prolonged clinical course, causing
significant morbidity. In addition, 4-8% of these papillary lesions will eventually progress to
invasive carcinomas. These tumors are pathologically graded as either low malignant
 potential, low grade or high grade. High grade tumors have a higher risk of progression.

2) Flat urothelial carcinoma in situ (CIS):  


Flat urothelial carcinoma in situ or CIS (pathologic stage pTis) are highly aggressive lesions
and progress more rapidly than the papillary tumors.

3) Superficially invasive urothelial carcinoma: 


A minority of tumors invade only superficially into the connective tissue (lamina propria) of 
the bladder (pathologic stage pT1); these tumors recur 80% of the time, and eventually invade
the detrusor muscle in 30% of cases.

MUSCLE INVASIVE BLADDER CANCER  

Jessica Ferdi, FK Trisakti 28


http://slidepdf.com/reader/full/tumor-buli-referat 28/32
5/11/2018 Tumor Buli(Referat)-slidepdf.com

Approximately 30% of urothelial


carcinomas invade the detrusor 
muscle (pathologic stages pT2-pT4)
at presentation. These cancers are
highly aggressive. After bladder 
cancer invades the muscular layers of 
the bladder wall it may spread by way
of the lymph and blood systems to Infiltrating high grade urothelial carcinoma, seen
invade bone, liver, and lungs. in muscle and fat

OTHER TYPES OF BLADDER CANCERS 


Tumors other than transitional cell carcinoma are rare and include:

• small cell carcinoma,


• squamous carcinoma,
• adenocarcinoma,
• leiomyosarcoma (a tumor arising from smooth muscle),
• lymphoma (a tumor that usually arises in the lymph nodes),
• malignant melanoma (a tumor that usually arises from the skin)

It is important to distinguish these cancers from usual transitional cell carcinoma, since their 
treatment and prognosis are different.

Anatomy and Physiology of the Bladder 

The bladder is a sac-like organ in the pelvis that stores the urine produced by the kidneys.
There are two tubular structures called ureters (one from each
kidney) that drain the urine into the bladder. The urethra is
the outflow tract of the bladder and connects the bladder to
the exterior.

Anatomically, the bladder is the most anterior (closest to the


front) organ in the pelvis, located just behind the pelvic bone.
Organs closest to the bladder include the rectum (the last part
of the colon), which is the most posterior (closest to the back)
organ in the pelvis, the prostate gland and seminal vesicles
(in males), and the uterus, ovaries and fallopian tubes (in
females). In males, the prostate gland and seminal vesicles
(organs that contribute secretions in semen) are situated
 below the bladder and in front of the rectum. In females, the
uterus (the womb), ovaries and fallopian tubes are located - Click image to enlarge - 
 posterior the bladder and anterior to the rectum.

Jessica Ferdi, FK Trisakti 29


http://slidepdf.com/reader/full/tumor-buli-referat 29/32
5/11/2018 Tumor Buli(Referat)-slidepdf.com

The bladder itself is made up of four layers. These layers are important landmarks in
determining how deeply the tumor has invaded and the ultimate stage of the cancer.

1. Epithelium: The epithelium, which lines the bladder and is in contact with the
urine, is referred as transitional epithelium or urothelium. Most bladder 
cancers originate from the cells of this transitional epithelium. The urethra,
ureters and the pelvis of the kidney are also lined by this transitional
epithelium, therefore, the same types of cancers seen in the bladder can also
occur in these sites.

2. Lamina propria: Under the epithelium is the lamina propria, a layer of 
connective tissue and blood vessels. Within the lamina propria, there is a thin
and often discontinuous layer of smooth muscle called the muscularis
mucosae. This superficial layer of smooth muscle is not to be confused with
the true muscular layer of the bladder called the muscularis propria or detrusor 
muscle.
3. Muscularis propria or detrusor muscle: This deep muscle layer consists of 
thick smooth muscle bundles that form the wall of the bladder. For purposes of 
staging bladder cancer, the muscularis propria has been divided into a
superficial (inner) half and a deep (outer) half.

4. Perivesical soft tissue: This outermost layer consists of fat, fibrous tissue
and blood vessels. When the tumor reaches this layer, it is considered out of 
the bladder.

Diagnosis of Bladder Cancer 

Your doctor has several diagnostic tools to establish a diagnosis of bladder cancer, including
radiology, cystoscopy and pathology. However, a definitive diagnosis of bladder cancer can
only be made by examining bladder tissue which is performed by a pathologist. The various
diagnostic tools are described below.

Jessica Ferdi, FK Trisakti 30


http://slidepdf.com/reader/full/tumor-buli-referat 30/32
5/11/2018 Tumor Buli(Referat)-slidepdf.com

1) Radiology

An Intravenous pyelogram (IVP) is a


conventional x-ray test using dye to
examine the pelves of the kidneys (where
urine collects within the kidneys),ureters,
and bladder. This x-ray allows
visualization of the upper and lower 
urinary tract to determine the presence of 
any abnormality.

2) Computed Tomography (CT)


scanning is essentially a detailed X-ray of 
the body. CT shows cross-sections of the
 body and allows your doctor to see details
of the anatomy that would not be seen on
regular x-ray.

3) Magnetic Resonance Imaging (MRI)


is more sensitive than CT scanning. CT
and MRI have the added benefit of 

detecting enlarged
tumors, which can lymph
suggestnodes
that anear the
cancer 
has spread (metastasized) to the lymph
nodes.

4) Cystoscopy  

Cystoscopy is performed by the urologist.


It evaluates the bladder by direct visual
examination with a specialized instrument
call a cystoscope, which is placed in the

Jessica Ferdi, FK Trisakti 31


http://slidepdf.com/reader/full/tumor-buli-referat 31/32
5/11/2018 Tumor Buli(Referat)-slidepdf.com

 bladder via the urethra during the


examination. The purpose of routine
outpatient cystoscopy is to evaluate the
lining of the lower urinary tract. If 
abnormalities such as tumors, stones, or 
 patches of abnormal appearing tissue are
discovered during cystoscopy, a biopsy
may be taken at that time.
5) Pathology 

The diagnosis of bladder cancer is based


on examining cells from the bladder,
either from a urine specimen or biopsy of 
the bladder. Only a pathologist can

diagnose
the type ofif bladder
a bladder cancerbyislooking
cancer, present at
and
Click to compare urine cytology
the bladder tissue. The correct diagnosis
is critical, as appropriate treatment of 
 bladder cancer is dependant upon the type
of cancer seen. The pathology of the
 bladder is complex and therefore a second
opinion is often advisable and can have a
major impact in therapy.

The diagnosis can sometimes be made by


examining urine cytology. A
cytopathologist looks at individual cells
Biopsy tissue showing
from the urine, which are spread into a
 bladder cancer 
thin layer onto glass microscopic slides.
These procedures have the benefit of not
requiring an operation or general
anesthesia.

Biopsy of the bladder, performed through


the cystoscope, is the more common
means of diagnosing these tumors. The
 pathologist will examine a small sample
(a biopsy) of your bladder tissue under a
microscope. The pathologist identifies
whether the tumor is benign or malignant
and the type of tumor. This is essential
 because tumors of different types behave
very differently and require different
treatment regimens.

Jessica Ferdi, FK Trisakti 32


http://slidepdf.com/reader/full/tumor-buli-referat 32/32