Anda di halaman 1dari 2

3.

SISTEM BUDAYA BUGIS MAKASSAR

Panngaderreng dan siri’ : cermin pandangan dunia suku-bangsa bugis makassar

Memahami pola tingkah laku serta budaya bugis makassar agaknya haya mungkin dengan
memahami dengan baik konsep mereka tentang panngaderreng dan siri’ (malu).

Suku Bugis merupakan suku bangsa Indonesia yang mendiami sebagian besar wilayah di
Sulawesi Sealatan. Suku Bugis dikenal sebagai suku perantau yang banyak meninggalkan wilayah
aslinya untuk menyebar ke daerah-daerah lain. Salah satu nilai kebudayaan suku Bugis yang paling
tua adalah adat dalam mempertahankan harga diri. Masyarakat Bugis bisa melakukan segala hal untuk
mempertahankan harga dirinya. Bahkan, pada zaman dahulu bila terdapat anggota keluarga yang
melakukan perbuatan tercela dan mengakibatkan keluarga menanggung malu, maka anggota keluarga
yang bersalah bisa diusir atau dibunuh.

II

Panngaderreng dan siri’ merupakan ikatan atau sistem nilai. Yang terdiri dari komponen-
komponen atau unsur tetapi, sistem ilai komponen atau unsur ini tidak kentara saling mengaitnya,
tidak demikian dengan panngaderreng. Pada Panngaderreng unsur itu jelas saling menyangga dan
membentuk konfigurasi.

Adapun unsur yang membangun panngaderreng itu adalah :

1. Ade’ (dalam bahasa makassar) merupakan sistem norma atau seperangkat adat. Sistem ade’
ini menentukan dan mengatur batas,bentuk dan kaidah. Yang artinya mengatur norma
perkawinan/berumahtangga. Ade’ yang khusu mengatur kaidah ialah sebagai ade’
akkabainengeng. Ade’ yang mengatur kaidah yang bernegara disebut ade’ tana atau ade’
wanua ialah yang menentukan seorang warga negara yang menenmpatkan dirinya denga
pejabat negara.selanjutnya, ade’ tana, yang secara khusus sebagai rapang-tana di kehidupan
bernegara terasuk masalah ideologi negara.
2. Bicara. Yang mengatur segala hal yang berhubungan dengan peradilan. Atau bisa disebut
sebagai hukum adat.
3. Rapang. Dimana kaidah atau undang-undang beum ditemukan untuk suatu kasus atau
kejadian maka rapang sebagai unsur panganderreng yang ditampilkan. Rapang yang berarti
contoh, kiasan sebagai jurisprudensi. Rapang ini juga dianggap sebagai stabilisator hukum
adat bugis makassar.
4. Wari’. Unsur pangaderreng ini yang berfungsi sebgaai menata,mengklasifikasi, mengatur
urutan yang berhubungan dengan norma atau kaidah terutama dalam hubungan hal-ihwal
ketatanegaraan serta hukum. Dalam wari’ ini diatur tentang pelapisan masyarakat (stratifikasi
sosial).tentang urutan keuddukan dalam hukum yang berlaku.
5. Sara’. Unsur ini merupakan yang terbaru dalam pangaderreng . unsur ini juga mengandung
pranata dan hukum islam di mana kata sara’ itu jelas diambil dari kata syari’ah. Sejak raja-
raja bugis makassar pada abad 17 masuk islam hukum islam itu diintegrasikan ke dalam
panngaderreng. Banyak terdapat unsur-unsur yang bertentangan dengan islam atau bisa
dimasukkan dalam kategori syirik akan tetapi unsur ini berjalan dngan baik secara bertahap
dan lambat laun sara’ itu memberi warna islam kepada panngaderreng.
III
Panngaderreng yang utuh dan lengkap tidak di dukung oleh sikap yang mensakralkannya
tetapi suatu sistem nilai yang rapuh kedudukannya. Yang terjadi ialah terbentuknya suatu pandangan
panngaderreng yang begitu penting, begitu suci, hingga tidak ada panngaderreng itu, hidup ini tidak
cukup berharga untuk dijalani.
Konseuensi dari pendirian yang ekahirkan sikap hidup demikian adalah keyakinan dari
panngaderreng yang mampu menjaga martabat manusia baik pribadi atau anggota msyarakat.
Siri’, dilihat dari pandangan hidup yang demikian. Sebab kita tidak mampu melihat siri’ dalam
konteks komitmen untuk menjaga panngaderrenv sebagai suatu yang sakral. Siri’, sebagai
pernyataan temperamen yang keras dari suku bugis makassarsaja. Dengan begitu kita bisa
mengartikan siri’ sebagai luapan emosi yang tidak terkendali dari orang bugis makassar.
Secara harviah artinya ialah malu yang dikaitkan sebagai harga diri atau martabat. Kata siri’
juga dimaknai sebagai siri’na pacce, dapat kita terjemahkan sebagai “malu hingga rasa pedih
menyayat hati”. Karena suatu kejadian yang mendatangkan rasa terhina yang dianggap kejadian itu
begitu berat dan serius. Maka kalau ada seseorang yang membunuh karena siri’ biasanya orang itu
merasa dipermalukan komitmen kesetiannya terhadap penngaderreng. Dpat terjadi juga karena
isterinya berbuat serong, anak perempuan dilarikan orang. Hutang tidak terbayar, kedudukan direbut
orang. Siri’ juga tidak berakhir dengan pembunuhan tetapi dengan bekrja lebih keras lagi.
Orang bugis yang menjadi pasompe’ atau perantau karena siri’ karena kondisi ekonominya
tidak baik jadi mereka membanting tulang di rantau dan tidak pulang sebelum dia kaya. ia akan
bilang siri’ pulang tanpa suatu hasil.
Orang bugis makassar akan mengatakan bahwa “orang yang tidak mempunyai siri’ berarti
sama dengan anjing” atau “lebih baik mati saja bila harus hidup tanpa siri’”. Jadi suku bangsa ini
menganggap siri’ sebagai nilai yang sangat penting dan tinggi mututnya.
Orang yang tidak punya siri’ dianggap hina karena pada hakekatnya dianggap tidak cinta
dengan panngaderreng yang mengatur hidupnya. Maka keputusan yang untuk menghabisi nyhawa
orang yang melanggar kode oetim sebagai seperti telah digariskan oelh penngederreng adalah
dianggap wajar. Orang yang membunuh dianggap sebagai tugas budaya. Sebab membunuh karena
siri’ dengan kata lain membunuh arena menjaga kebudayaan.
Siri’ demikian dapat diartikan juga sebagai pen jaga yang angker dari panngaderreng.