Anda di halaman 1dari 8

IDENTIFIKASI POTENSI WILAYAH KABUPATEN BANDUNG BARAT

Ditujukan untuk memenuhi tugas matakuliah Perencanaan Wilayah Pedesaan

Dosen pengampu : Dr Tri Ratna Sariewi, S.Pi, M.Si

Disusun oleh :

Aida Maudy Agustiwan (04.1.17.0972)

Ari Yanto (04.1.17.0977)

Fajar Solehudin (04.1.17.0986)

Fatma (04.1.17.0988)

Fitri Ristiyani (04.1.17.0989)

Hetty Hardianty (04.1.17.0990)

Muhamad Rafiudin (04.1.17.0997)

JURUSAN PENYULUHAN PERTANIAN BERELANJUTAN

POLITEKNIK PEMBANGUNAN PERTANIAN BOGOR

2018
BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Wilayah Homogen

Wilayah kabupaten bandung barat memiliki luasan 1305,77 km2 dengan


16 kecamatan, diantaranya; kecamatan Rongga, Gununghalu, Sindang kerta,
Cililin, Cihampelas, Cipongkor, Batujajar, Saguling, Cipatat, Padalarang,
Ngamprah, Parongpong, Lembang, Cisarua, Cikalongwetan, Cipeundeuy.
Wilayah bandung barat terdapat tiga kecamatan yang memiliki kesamaan
diantaranya Kecamatan Gunung halu, Cipongkor dan Lembang, adapun
beberapa faktor yang mempengaruhi wilayah tersebut menjadi wilayah
homogen yaitu

1. Wilayah dengan komoditas yang sama


Kecamatan Gununghalu, Cipongkor, Lembang merupakan tiga
kecamatan yang menghasilkan tiga komoditas yang sama diantaranya
komoditas padi sawah, jagung dan ubi kayu.
a. Gununghalu
 Padi sawah
Gununghalu memiliki luasan panen seluas
5347 Ha dengan produksi padi tertinggi yaitu sekitar
33.451 Ton dan produktivitasnya sebesar 62,56
Kwintal/Ha.
 Jagung

Gununghalu memiliki luasan panen seluas 9


Ha dengan produksi 51 Ton dan produktivitasnya
57,17 Kwintal/Ha.

 Ubi kayu

Gununghalu memiliki luasan panen seluas


17 Ha dengan produksi 397 Ton dan
produktivitasnya 233,60 Kwintal/Ha.
b. Cipongkor
 Padi sawah
Cipongkor merupakan kecamatan kedua
yang menghasilkan padi sawah terbesar kedua di
kabupaten Bandung barat dengan luas panen 4328
Ha dengan produksi padi 27.487 Ton dan
produktivitasnya sebesar 63,51 Kwintal/Ha.
 Jagung

Cipongkor memiliki luasan panen 130 Ha


dengan produksi 377 Ton dan produktivitasnya
59,75 Kwintal/Ha.

 Ubi kayu

Cipongkor me miliki luasan panen seluas


512 Ha dengan produksi 2099 Ton dan
produktivitasnya 197,29 Kwintal/Ha.

c. Lembang
 Padi sawah
Lembang merupakan kecamatan ketiga yang
menghasilkan padi sawah dikabupaten bandung
barat dengan luasan panen seluas18 Ha dengan
produksi 109 Ton dan produktivitasnya 60,63
kwintal/Ha.
 Jagung

Lembang memiliki luasan panen seluas 20


Ha dengan produksi 119 ton dan produktivitasnya
59,66 kwintal/Ha.

 Ubi kayu
Lembang memiliki luasan panen seluas 18
Ha dengan produksi 321 dan produktivitasnya
178,56 Kwintal/Ha.

2. Wilayah pegunungan
Tiga kecamatan yang kita analisis memiliki
kesamaan berada pada wilayah pegunungan. Untuk
kecamatan Gunung halu berada pada ketinggian 700 mdpl
dengan suhu rata-rata adalah sekitar 18-25 0C. Kedua
Kecamatan Cipongkor berada pada ketinggian 645 Mdpl
0
dengan suhu rata-rata 18-28 C dan yang terakhir adalah
kecamatan Lembang memiliki ketinggian tempat 2.084
0
mdpl dengan suhu rata-rata sekitar 17-27 C. Ketiga
kecamatan tersebut berada di pegunungan sehingga rata-
rata suhu disana cukup dingin, sehingga sangat cocok
dalam pengembangan bidang pertanian.
3. Wilayah erosi
Kecamatan gununghalu, cipongkor, dan Lembang
merupakan wilayah yang berada diwilayah pegunungan
atau dataran tingggi sehingga ketiga kecamatan tersebut
rentan terkena erosi terutama pada musim penghujan.

3.2 Wilayah Nodal

Wilayah nodal yang berada di kabupaten Bandung barat merupakan


kecamatan Lembang, Alasan Kecamatan Lembang menjadi wilayah pusat karena
ada beberapa faktor. Berikut merupakan beberapa faktor mengapa kecamatan
Lembang menjadi pusat wilayah diantaranya sebagai berikut:

a. Kecamatan Lembang memiliki jumlah KK terbanyak di kabupaten


Bandung barat yaitu sekitar 49.704 keluarga
b. Kecamatan Lembang memiliki presentase penduduk terbanyak di
Bandung barat yaitu 11.48
c. Banyaknyafasilitas kesehatan,tempat
ibadah,transportasi,parawisata,penginapan, restoran yang ada di kecamatan
Lembang dibanding kecamatan-kecamatan yang lainnya, sehingga kecamatan
Lembang menjadi wilayah pusat perindustrian di wilayah kabupaten Bogor barat

cipatat

parongpong cipongkor

Lembang

Padalarang gunung halu

3.2.1 Peta Wilayah Nodal


Keterangan Peta

1. Bulat Merah Besar = Merupakan wilayah inti dan memiliki hierarki tertinggi

2. Bulat Kecil Kuning= Merupakan wilayah plasma dan memiliki hierarki


terendah

3. Garis hitam = Merupakan tanda jalan sebagai akses jalan dari wilayah plasma
ke wilayah inti

3.3 Distribusi Pendapatan

Keberhasilan pembangunan suatu wilayah dapat dilihat dari beberapa


tolok ukur, diantaranya dengan mengukur tingkat pendapatan, tingkat kemiskinan
dan tingkat pemerataan di wilayah tersebut. Indeks gini merupakan satu indeks
yang menggambarkan tingkat pemerataan antar individu atau antar kelompok
individu di suatu masyarakat. Unit pengamatan untuk menentukan indeks gini
umumnya adalah individu atau kelompok masyarakat berdasarkan kelas
pendapatan. Nilai koefisien Gini berkisar 0 hingga 1, koefisien gini 0 menunjukan
adanya pemerataan pendapatan sempurna atau setiap orang memiliki pendapatan
yang sama.
3.4 KEUNGGULAN KOMPARATIF WILAYAH COMPARATIVE
ADVANTAGE (CRA)

Metode yang digunakan untuk mengetahui keunggulan komparatif suatu


wilayah adalah Location Quotient (LQ), yaitu metode yang didasarkan pada
perbandingan relatif antara kemampuan sector yang sama pada daerah yang lebih
luas dalam suatu aktivitas ekonomi masyarakat dalam wilayah tertentu. Adapun
kegiatan ekonomi suatu wilayah dibagi dalam dua golongan, yaitu dominan
(basis) dan bukan basis.

Suatu aktivitas dikatakan basis apabila suatu barang atau jasa yang
dihasilkan oleh suatu wilayah bukan hanya memenuhi kebutuhan wilayah tersebut
tetapi juga diekspor keluar daerah. Sedangkan sector non basis adalah sector
dangan kegiatan ekonomi yang hanya melayani pasar di daerahnya sendiri.

Kriteria penilaian dalam penentuan ukuran derajat basis dan non basis
adalah jika niilai indeks LQ lebih besar dari satu (LQ>1) maka komoditas tersebut
merupakan komoditas basis sedangkan bila nilainya sama atau lebih kecil dari
satu (LQ<1) berarti komoditas yang dimaksud termasuk ke dalam komoditas non
basis pada kegiatan perekonomian wilayah tersebut. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa apabila kita ingin mengembangkan suatu komoditas di suatu
wilayah, salah satu cara termudah adalah melihat nilai LQ dari komoditas tertentu
di wilayah tersebut.

Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa dikabupaten bandung barat


terdapat banyak komoditas basis dan non basis.

3.5 WILAYAH PERTANIAN YANG MEMILIKI COMPETITIVE


ADVANTAGE (CPA)

Metode yang digunakan adalah Analisis Shift Share (SSA), merupakan


metode yang menghitung seberapa besar nilai share komoditas-komoditas atau
desa terhadap pertumbuhan komoditas yang bersesuaian di tingkat kecamatan.
Sehingga dapat diketahui komoditas ataupun wilayah (desa) yang dapat
memberikan kontribusi terbesar (keunggulan kompetitif) terhadap pertumbuhan
wilayah yang lebih luas (kecamatan).

Sebagai indikator digunakan jumlah produksi dan setiap komoditas pada dua titik
waktu. Analisis dibagi menjadi tiga komponen, yaitu komponen pertumbuhan
regional (kecamatan), komponen pertumbuhan proporsional (setiap komoditas)
dan komponen pertumbuhan pangsa local (desa). Adapun tahapan-tahapan
perhitungannya adalah sebagai berikut :

1. Menghitung besarnya pergeseran/perubahan secara agregat di tingkat


regional (regional agregat shift share), yaitu pertumbuhan produksi tingkat
kecamatan (RASS). Hasil perhitungan ini dapat menunjukkan maju atau
lambatnya perubahan perekonomian di tingkat kecamatan

2. Menghitung besarnya pergeseran berdasarkan komoditas asal, tanpa


memperhatikan lokasi (proportional shift share), yaitu rasio produksi per
komoditas dari komoditas pertanian/peternakan/perikanan tahun akhir dan tahun
awal minus rasio produksi kecamatan akhir tahun dan awal tahun (PSS). Hasil
perhitungan ini akan diketahui komoditas-komoditas yang relative maju atau
lamban di setiap kecamatan

3. Menghitung komponen pertumbuhan pangsa lokal (differential shift


share), yaitu rasio produksi setiap komoditas di seriap desa tahun akhir dan awal
tahun (DSS).

Kriteria penilaian dalam penentuan adalah jika nilainya lebih besar dari nol (>0)
maka komoditas atau daerah tersebut mempunyai keunggulan kompetitif atau
relatif lebih maju atau memberikan kontribusi yang nyata atau memiliki daya
saing sehingga cukup layak untuk dikembangkan. Demikian pula sebaliknya jika
nilai perhitungan lebih kecil dari nol (<0).

Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa dikabupaten bandung barat terdapat
beberapa komoditas yang keunggulan kompetitif atau relatif lebih maju atau
memberikan kontribusi yang nyata atau memiliki daya saing sehingga cukup
layak untuk dikembangkan.