Anda di halaman 1dari 16

6

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kemampuan Emosional

1. Pengertian Kemampuan Emosinal

a. pengertian emosional

Dilihat dari etimologis, emosi berasal dari emotus atau emovere

yang artinya sesuatu yang mendorong terhadap sesuatu, misalnya emosi

gembira mendorong untuk tertawa. Emosi merupakan suatu gejolak

penyesuaian diri yang berasal dari dalam dan melibatkan hampir

keseluruhan diri individu. Emosi bisa juga dikatakan sebagai alat untuk

mewujudkan perasaan yang kuat.

Menurut Daniel Goleman (2002), emosi merujuk pada suatu

perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan

serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Pada dasarnya emosi adalah

dorongan untuk bertindak. Emosi merupakan reaksi teradap rangsangan

dari luar maupun dari dalam diri individu. Emosi dapat merupakan

motivator perilaku dalam meningkatkan, tapi juga dapat mengganggu

perilaku seseorang. Menurut pendapat Ariestoteles, masalahnya bukanlah

mengenai emosionalitas, melainkan mengenai keselarasan antara emosi

dan cara mengekspresikan.

Emosi dapat diartikan sebagai perasaan individu, baik berupa

perasaan positif maupun perasaan negatif sebagai respon terhadap suatu

keadaan yang melingkupinya akibat dari adanya hubungan antara dirinya

6
7

dengan individu lainnya dan dengan suatu kelompok. Jadi, perkembangan

emosi anak usia dini dapat didefinisikan sebagai perubahan perasaan

positif maupun negatif pada anak usia 0-6 tahun sebagai akibat dari adanya

hubungan antara dirinya dan orang lain (Wiyani, 2014:144).

Dari beberapa pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa

emosi adalah suatu perasaan yang mendorong individu untuk merespon

atau bertingkah laku terhadap stimulus baik yang berasal dari dalam

maupun dari luar dirinya.

2. Jenis Emosi

Menurut Stewart mengutarakan perasaan senang, marah, takut dan

sedih sebagai basic emotions.

a) Senang (gembira)

Pada umumnya perasaan gembira dan senang diekspresikan denan

tersenyum (tertawa). Pada perasaan gembira ini juga ada dalam

aktivitas pada saat menemukan sesuatu, mencapai kemenangan.

b) Marah

Emosi, marah dapat terjadi pada saat individu merasa terhambat,

frustasi karena apa yang hendak di capai itu tidak dapat tercapai.

c) Takut

Perasaan takut merupakan bentuk emosi yang menunjukkan adanya

bahaya.

d) Sedih
8

Dalam kehidupan sehari–hari anak akan merasa sedih pada saat ia

berpisah dari yang lainnya.

Dari ke empat emosi dasar yang telah disebutkan di atas dapat

berkembang menjadi berbagai macam emosi yang diklasifikasikan ke

dalam kelompok emosi positif dan emosi negatif. Menurut Reynold contoh

emosi positif adalah: humor (lucu), kesenangan, rasa ingin tahu, kesukaan.

Sedangkan contoh emosi negatif adalah : Tidak sabaran, rasa marah, rasa

cemburu, rasa benci, rasa cemas, rasa takut.

3. Pengaruh Emosi Terhadap Pribadi dan Sosial Emosi

Dari berbagai macam emosi yang dapat dialami anak, semuanya

memainkan peranan penting dalam kehidupan anak. Keadaan emosi

tersebut mempengaruhi cara penyesuaian dan perilaku pribadi dan sosial

anak, baik fisik, psikis atau bahkan keduanya.

Dalam Aisyah, dkk (2008:97), dijelaskan bahwa ada beberapa

keadaan emosi yang mempengaruhi penyesuaian pribadi dan sosial anak,

yaitu:

a. Emosi menambahkan rasa nikmat bagi pengalaman sehari-hari.

b. Emosi menyiapkan tubuh untuk melakukan tindakan.

c. Ketegangan emosi mengganggu keterampilan motorik.

d. Emosi merupakan suatu bentuk komunikasi.

e. Emosi mengganggu aktivitas mental.

f. Emosi merupakan sumber penilaian diri dan sosial.

g. Emosi mewarnai pandangan anak terhadap kehidupan.


9

h. Emosi mempengaruhi interaksi sosial.

i. Emosi memperlihatkan kesannya pada ekspresi wajah.

j. Emosi mempengaruhi suasana psikologis

k. Reaksi emosional apabila diulang-ulang akan berkembang menjadi

kebiasaan.

Dari beberapa hal yang telah disebutkan di atas, maka dapat

disimpulkan bahwa pada dasarnya semua keadaan emosi itu

mempengaruhi penyesuaian diri dan perilaku anak. Emosi mampu

memberikan dampak positif, tetapi juga dapat memberikan dampak

negatif. Emosi memiliki keterkaitan langsung dengan suasana psikologis

anak. Oleh karena itu, anak harus memiliki kemampuan untuk mengenal

dan mengelola emosi dalam dirinya baik secara pribadi maupun dalam

hubungannya dengan orang lain. Dengan melakukan pengulangan atau

pembiasaan terhadap reaksi emosional yang baik maka akan terbentuk

karakter pribadi yang kuat dan memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi

dalam mengelola emosi baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial anak

tersebut.

4. Pengertian Kecerdasan Emosi

Kecerdasan emosi didefinsikan sebagai kemampuan mempersepsi

dan membedakan suasana hati, maksud, motivasi, serta perasaan orang

lain, serta kemampuan memberikan respon secara tepat terhadap suasana

hati, temperamen, motivas, dan keinginan orang lain (Armstrong, 2003).

Dengan kemampuannya, anak yang cerdas emosi dapat merasakan apa


10

yang dirasakan orang lain, menangkap maksud dan motivasi orang lain

bertindak sesuatu, serta mampu memberikan tanggapan yang tepat

sehingga orang lain merasa nyaman.

5. Perkembangan Kecerdasan Emosi Anak Usia Dini

Perkembangan emosi yang muncul pada setiap anak pasti berbeda

antara anak satu dengan yang lainnya. Ini disebabkan karena adanya

faktor-faktor yang mempengaruhinya. Menurut Hurlock (1978), sedikitnya

ada dua faktor yang memengaruhi emosi anak, yaitu peran kematangan

dan peran belajar (Susanto, 2011).

Menurut Carol & Allen (dalam Aisyah, 2008:1.34), karakteristik

perkembangan anak dalam aspek emosi sosial dijelaskan dalam tabel

berikut:

Tabel 2.1 Perkembangan anak usia dini dalam aspek emosi

Aspek Perkembangan Karakteristik

Kestabilan emosi a. Mengenali berbagai perasaan/emosi

orang lain.

b. Mengungkapkan secara verbal

tentang segala konsekuensi dari

perilakunya.

c. Pada sebagian besar waktunya

mampu menunjukkan tempramen

yang stabil dan patut.

d. Mulai dapat membedakan antara


11

yang fantasi dengan kenyataan.

Sosialisasi a. Bermain permainan interaktif,

menunjukkan permainan asosiatif.

b. Minta izin jika menggunakan

barang milik orang lain.

c. Berinteraksi sosial secara patut

dengan teman-teman sebayanya,

toleran, serta memiliki rasa empati.

Perkembangan emosional berhubungan dengan seluruh aspek

perkembangan anak. Ada empat komponen yang harus di tumbuh

kembangkan pada anak usia dini agar mereka memiliki kecerdasan

emosional. Kelima komponen tersebut antara lain (Wiyani, 2014):

a. Kemampuan mengenali emosi diri

Kemampuan mengenali emosi diri adalah kesadaran diri dalam

mengenali perasaan-perasaannya suatu itu terjadi dari waktu ke waktu

dalam kehidupannya. Pada usia 3-6 tahun, anak usia dini mulai bias

mengenali penyebab munculnya suatu perasaan dan konsekuensi dari

munculnya perasaan tersebut.


12

b. Kemampuan mengatur emosi diri

Kemampuan mengatur emosi diri merupakan kemampuan untuk

menangani perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan tepat. Pada

usia 3-6 tahun mulai muncul pada diri anak perbaikan strategi kognitif

untuk mengatur emosinya. Hal itu bisa dilakukan karena pada usia

tersebut anak sudah mulai mengenali penyebab munculnya suatu

perasaan dan konsekuensi dari munculnya perasaan tersebut.

c. Kemampuan mengenali emosi orang lain

Kemampuan mengenali emosi orang lain disebut dengan empati, yaitu

kemampuan memahami perasaan orang lain serta mengkomunikasikan

pemahaman tersebut kepada orang yang bersangkutan. Kemampuan

empati pada anak akan semakin berkembang maksimal di usia 4-5

tahun. Pada usia tersebut anak dapat mengembangkan pengertian yang

lebih dalam terhadap keadaan emosi orang lain sejalan dengan

meningkatnya kemampuan kognitif yang mereka miliki.

d. Kemampuan mengelola emosi orang lain

Kemampuan mengelola emosi orang lain dapat membantu individu

dalam menjalin hubungan dengan orang lain secara terbuka sehingga di

sukai oleh lingkungannya karena individu menyenangkan secara

emosional. Pada usia 3-6 tahun, anak mulai bisa mengatur dirinya

sendiri dalam berhubungan dengan orang lain. Hal itu mengindikasikan

bahwa pada usia itu anak mulai dapat mengelola emosi orang lain.
13

6. Pola Perkembangan Kecerdasan Emosi

Adapun menurut Desmita (2005), menjelaskan pola perkembangan

emosi anak dimulai sejak anak dalam kandungan (prenatal). Dan setelah

lahir pola perkembangan emosi disertai dengan (Mashar, 2011):

a. Perkembangan temperamen

Temperamen merupakan salah satu dimensi psikologis yang

berhubungan dengan aktivitas fisik dan emosional serta merespons.

Konsistensi temperamen ini dibentuk oleh factor keturunan,

kematangan, dan pengalaman terutama pola pengasuhan orang tua.

b. Perkembangan kedekatan (attachment)

Attachment diartikan sebagai ikatan antara dua individu atau lebih

seperti contoh Ibu dan anak, sifatnya adalah hubungan psikologis yang

deskriminatif dan spesifik, serta mengikat seseorang dengan orang

lain dalam rentang waktu dan ruang tertentu. Kedekatan ini muncul

karena adanya hubungan fisik antara anak dan orang tua atau anggota

keluarga.

c. Perkembangan rasa percaya (trust)

Pada perkembangan anak memiliki rasa percaya dan rasa tidak

percaya. Rasa percaya akan cenderung memunculkan rasa aman dan

percaya diri pada anak. Begitupun rasa tidak percaya akan berakibat

pada rasa tidak aman dan ketidak percayaan diri anak.


14

d. Perkembangan Otonomi

Merujuk pada perkembangan otonomi sebaga kebebasan individu

manusia untuk memilih, untuk menjadi kesatuan yang dapat

memerintah, menguasai dan menentukan dirinya sendiri. Otonomi

berkembang sesuai mental dan motorik anak.

7. Faktor yang Mempengaruhi Pola Perkembangan Emosi

Pola perkembangan emosi pada anak tidak dapat dipisahkan dari

dua faktor yang sangat menentukan yaitu faktor internal dan eksternal

(Susanto, 2011) :

a. Faktor Intern

Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri anak itu

sendiri.

b. Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari lingkungan yang

berada di sekitar anak. Salah satunya adalah belajar, ada lima jenis

kegiatan belajar yang menunjang perkembangan emosi pada anak,

sebagai berikut:

1) Belajar secara coba dan ralat

Belajar secara coba dan ralat (trial and error learning) terutama

melibatkan aspek reaksi. Anak belajar secar coba-coba untuk

mengekspresikan emosi dalam bentuk perilaku yang memberikan

pemuasan terbesar padanya.


15

2) Belajar dengan cara meniru

Dengan cara mengamati hal-hal yang membangkitkan emosi

tertentu pada orang lain, anak-anak bereaksi dengan emosi dan

metode ekspresi yang sama dengan orang-orang yang diamati.

3) Belajar dengan cara mempersamakan diri

Anak menirukan reaksi emosional orang lain dan terbuka oleh

rangsangan yang sama dengan rangsangan yang telah

membangkitan emosi orang yang ditirukan.

4) Belajar melalui pengkondisian

Penggunaan metode pengkondisian semakin terbatas pada

perkembangan rasa suka dan tidak suka.

5) Pelatihan Pelatihan (training)

Pelatihan Pelatihan (training) atau belajar di bawah bimbingan dan

pengawasan, terbatas pada aspek reaksi. Hal ini, dilakukan dengan

cara mengendalikan lingkungan apabila memungkinkan.

Bermain tebak ekspresi merupakan salah satu dari aspek ekster

yang dapat mengembangkan kecerdasan emosi anak melalui kegiatan

bermain pelatihan, disini anak dilatih untuk memahami ekspresi yang

dilihatnya, baik berupa ekspresi sedih, marah, senang, takut.

8. Indikator Kecerdasan Emosi

Indikator emosional anak menurut buku Kelas yang Berpusat

Pada Anak (Cri: 2000) sebagai berikut:

a. Anak lebih senang memilih teman bermain yang sebaya.


16

b. Mengekspresikan sejumlah emosi melalui tindakan, kata atau ekspresi

wajah.

c. Menceritakan kejadian /pengalaman yang baru berlalu.

d. Menggunakan barang-barang milik orang lain dengan hati-hati.

9. Indikator

Indikator yang digunakan sebagai acuan peneliti untuk

mendapatkan data-data agar mencapai kesimpulan adalah:

a. Mampu memahami ekspresi wajah orang lain.

b. Mampu berlatih mengendalikan perasaan dalam dirinya.

c. Mampu bersikapm tenang dalam situasi apapun.

B. Hakikat Bermain Tebak Ekspresi

1. Pengertian Bermain

Bermain adalah kegiatan yang dilakukan sepanjang hari karena

bagi anak bermain adalah hidup dan hidup adalah permainaan (Mayesty,

1990:196-197). Anak usia dini tidak membedakan antara bermain, belajar

dan bekerja. Anak-anak umumnya sangat menikmati permainan dan akan

terus melakukan di manapun mereka memiliki kesempatan.

Piaget dalam mayesty (1990: 42) mengatakan bahwah bermain

adalah suatu kegiatan yang dilakukan berulang-ulang dan menimbulkan

kesenangan/kepuasan bagi diri seseoran; sedangkan Parten dalam Dockett

dan Fleer (2000:14) memandang kegiatan bermain sebagai sarana

sosialisasi, diharapkan melalui bermain dapat member kesepakatan anak

bereksplorasi, menemukan, mengespresikan perasaan, berkreasi, dan


17

belajar secara menyenangkan. Selin itu, kegiatan bermain dapat membantu

anak mengenal tentang diri sendiri, dengan siapa ia hidup serta lingkungan

tempat dimana ia hidup.

Elkonin dalam Catron dan Allen (1999:163) salah seorang murit

dari Vygotsky menggambarkan empat prinsip permain, yaitu: (1) dalam

bermain anak mengembangkan system untuk memahami apa yang sedang

terjadi dalam rangka mencapai tujuan yang lebih kompleks; (2)

kemampuan untuk menemukan perspektif orang lain melalui aturan-aturan

dan menegosiasikan aturan bermain; (3) anak mengunakan replica untuk

mengantikan objek nyata, lalu mereka mengunakan objek baru yang

berbeda. Kemampuan mengunakan simbol termaksud kedalam

perkembangan berpikir abstrak dan imajinasi; (4) kehati-atian dalam

bermain mungkin terjadi, karena anak perlu mengikuti aturan permainan

yang telah ditentukan bersama teman mainnya

Eheart dan Leavitt dalam Stone (1993: 28-30) mengatakan bahwah

pembelajaran dapat mengembangkan berbagai potensi pada anak, tidak

saja pada potensi fisik, tetapi juga pada perkembangan kognitif, bahasa,

sosial, kreatifitas, dan pada akhirnya, prestasi akademik. Senjalan dengan

pendapat tersebut, Wolfgang dan Wolfgang (1999:32-37) berpendapat

bahwah terdapat sejumlah nilai-nilai dalam bermain (the value of play),

yaitu bermain dapat mengembangkan keterampilan sosial, emosional,

kognitif. Dalam pembelajaran terdapat berbagai kegiatan yang memiliki

dampak terhadap perkembangannya, sehingga dapat diidentifikasi bahwah


18

fungsi bermain, antara lain: (1) dapat memperkuat dan mengembangkan

otot dan kordinasinya melalui gerak, melatih motorik halus, motorik kasar,

dan keseimbangan, karna ketika bermain fisik anak juga belajar

memahami bagaimana kerja tubuhnya; (2) dapat mengembangkan

keterampilan emosinya, rasa percaya diri sisi orang lain (empati); (3) dapat

mengembangkan kemampuan intelektualnya, karena melalui bermain anak

seringkali melakukan eksplorasi terhadap segalah sesuatu yang ada

dilingkungan sekitarnya sebagai wujud dari rasa keingitahuannya; (4)

dapat mengembangkan kemandiriannya dan menjadi dirinya sendiri,

karena melalui bermain anak selalu bertanya,meneliti lingkungan, belajar

mengambil keputusan, berlatih peran sosial sehinnga anak menyadari

kemampuan dan kelebihannya.

2. Pengertian Tebak Ekpresi

a. Pengertian ekspresi

Menurut Kamus Besar Indonesia kata “ekspresi” berarti

pengungkapan atau proses menyatakan (yaitu memperlihatkan atau

menyatakan maksud, gagasan, perasaan, dan sebagainya). Atau dapat

juga diartikan sebagai pandangan raut muka yang memperlihatkan

perasaan seseorang.

Berbeda dengan pendapat Khoirul Amin dalam

http://masaminkhoirul.blogspot.com/2012/03/pengertianekspresi.html

yang mengartikan bahwa ekspresi adalah proses ungkapan emosi atau


19

perasaan di dalam proses penciptaan karya seni, proses ekspresi bisa

diaktualisasikan melalui media.

Adapun dalam Wikipedia dijelaskan bahwa: ekspresi wajah adalah

hasil dari satu atau lebih gerakan atau posisi otot pada wajah. Ekspresi

wajah merupakan salah satu bentuk komunikasi non verbal, dan dapat

menyampaikan keadaan emosi dari seseorang kepada orang yang

mengamatinya.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa ekspresi

adalah suatu proses mengungkapkan atau menyatakan emosi atau

perasaan seseorang dari hasil gerakan otot pada wajah sehingga

terbentuk komunikasi nonverbal yang dapat menyampaikan keadaan

emosi seseorang kepada orang yang mengamatinya.

b. Macam-macam Ekspresi Wajah

Menurut Paul Ekman () dalam bukunya Membaca Emosi, ada

beberapa ekspresi wajah yang dapat diaktualisasikan oleh seseorang

sesuai dengan keadaan emosi atau perasaan yang dialaminya, antara

lain :

1) Ekspresi senang. Ekspresi wajah yang memperlihatkan suasana dan

keadaan emosi bahagia atau sedang menyukai sesuatu. Ekspresi ini

biasa diungkapkan dengan tersenyum. Ini ditunjukkan dengan

wajah yang ceria dengan bibir yang mengembang.

2) Ekspresi marah. Ekspresi wajah yang memperlihatkan amarah dan

kesal. Ciri utamanya adalah alis mata yang mengerut ke tengah dan
20

sorot mata yang tajam, otot rahang tampak kaku dan mengencang

seperti menggigit sesuatu.

3) Ekspresi sedih. Ekspresi ini mengungkapakan perasaan yang

sedang kehilangan atau tidak terwujudnya apa yang diharapkannya.

Kesedihan dapat diekspresikan melalui bibir yang sedikit ditarik

ke bawah dibagian sudut-sudutnya, serta tampak mata yang sayu

bahkan mengeluarkan air mata (menangis).

4) Ekspresi takut. Ekspresi ini menunjukkan bahwa seseorang itu

sedang mengalami ketakutan ataupun teror. Ekspresi ini ditandai

dengan mengencangnya kelopak mata bawah dibarengi dengan

kelopak mata atas yang dinaikkan. Hal ini hampir selalu merupakan

tanda takut.

5) Ekspresi terkejut, ekspresi ini biasa ditandai mata yang tampak

terbelalak dan mulut yang seditik terbuka.

c. Pengertian tebak ekspresi

Tebak ekspresi adalah merupakan kegiatan menebak isi hati orang

lain melalui ekspresi yang ditunjukkan. Kegiatan ini bertujuan

merangsang kepekaan terhadap isi hati dan perasaan orang lain.

Melalui kegiatan ini, diharapkan aanak dapat belajar menangkap

suasana hati orang lain melalui ekspresi wajah. Cara yang disarankan

yaitu adalah:

1) Sediakan beberapa gambar yang menunjukan ekspresi

2) Tanyakan pada anak, ekspresi apa saja yang ada pada gambar
21

3) Bagi anak ke dalam kelompok berpasangan atau persilakan mereka

mencari pasangan masing-masing.

4) Setelah itu mintalah anak-anak menebak ekspresi mana yang sesuai

dengan pasangannya. Tanyakan pada anak bersangkutan apakah

yang ditunjukan teman sesui dengan penelitian anak terhadap diri

mereka sendiri. Kesamaan pilihan gambar menunjukan kecocokan.

Setelah anak bermain tebak gambar ekspresi diharapkan anak mampu

memahami ekspresi yang dia temukan di lingkungan sekitarnya. Misalnya

saat anak bermain bersama temannya baik disekolah maupun dirumah,

saat anak melihat ekspresi temannya yang sedang bersedih dia mampu

menghibur dan mengajaknya bermain, sebaliknya saat anak melihat

ekspresi teman yang sedang marah ia mampu menghadapinya.