Anda di halaman 1dari 22

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sebagaimana diketahui, minyak bumi, gas bumi dan mineral logam di
muka bumi terdapat dalam jumlah terbatas. Namun, masalah utama yang perlu
diselesaikan sesegera mungkin adalah bagaimana mencari dan menemukan
sumber cadangan energi baru dimuka bumi ini yang dapat menggantikan mineral
yang telah digunakan atau dikonsumsi. Pencarian sumber energi dan mineral ini
semakin lama semakin sulit.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, para ahli kebumian telah
mengembangkan berbagai teknik eksplorasi yang semakin modern. Hingga
menjelang abad ke-20, pencarian minyak bumi dan mineral masih terbatas pada
penyelidikan langsung dipermukaan bumi. Dan pada saat ini karena pendekatan
teknologi ini ternyata telah mencapai titik balik, yakni metode eksplorasi yang tidak
hanya bertitik berat pada penilitian geologi tetapi juga melibatkan pengukuran sifat
fisika permukaan bumi yang dapat memberikan informasi mengenai struktur,
komposisi batuan dibawah permukaan dan lain-lain.
Teknologi geofisika kini berkembang dengan pesat seiring perkembangan
teknologi informatika. Fenomena ini mudah dimengerti karena aplikasi informatika
memungkinkan dilakukannya pengambilan dan pengolahan data geofisika secara
cepat dalam waktu yang singkat, namun dengan ketepatan yang tetap tinggi.

1.2 Maksud dan Tujuan


1.2.1 Maksud
Maksud dari praktikum ini adalah agar praktikan dapat mengetahui dan
memahami mengenai kegiatan eksplorasi dengan metode tidak langsung.
1.2.2 Tujuan
1. Dapat mengetahui definisi eksplorasi tidak langsung.
2. Dapat mengetahui definisi metode geofisika.
3. Dapat mengetahui prinsip penggunaan metode geolistrik.
4. Dapat mengetahui indikasi litologi dari hasil percobaan geolistrik.

1
2

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Eksplorasi Tidak Langsung


Eksplorasi tidak langsung merupakan suatu metode pencarian endapan
bahan galian yang dikerjakan tanpa berhubungan langsung dengan objek bahan
galian yang dicari. Salah satu dari metode eksplorasi tidak langsung ini adalah
dengan menggunakan metode geofisika.

Sumber : Djoko, 2002


Gambar 2.1
Akar Keilmuan
Pada perkembangannya ketika ahli geologi memerlukan pengujian suatu
hipotesis, maka ahli fisika dan ahli kimia telah menyiapkan teknologi untuk
mengukur besarannya. Teknologi ini mempercepat perkembangan ilmu kebumian.
Pada awalnya, ilmu geofisika dibutuhkan sebagai alat pengukur suatu hipotesis,
namun dalam perkembangannya ilmu ini tumbuh menjadi ilmu mandiri dengan
permasalahan yang spesifik.

2.2 Metode Geofisika


Geofisika merupakan metode penyelidikan terhadap geologi dan
pemineralan dengan menggunakan teknologi yang dikembangkan dengan
menerapkan sejumlah hukum fisika agar didapat berbagai sifat fisik dan
karakteristik geologinya. Sekumpulan ahli di Amerika Serikat yang berkecimpung
dala masalah ini kemudian membentuk organisasi profesi yang disebut American
Geophysical Union (AGU). Dalam organisasi ini terdapat divisi meteorologi,

2
3

hidrologi, oseanografi, seismologi, volkanologi, geomagnetisme, geodesi,


tektonofisik, glasiologi, geotermometri, geokosmogoni dan geokronologi.

Sumber : Santoso, 2000


Gambar 2.2
Struktur Tahanan Jenis dan Penafisrannya memotong Longsoran 23 Citatah
Metode geofisika yang secara luas banyak digunakan dalam eksplorasi
adalah metode seismik, gaya berat, magnetik, listrik dan elektromagnetik. Semua
metode tersebut juga terlibat dalam pengukuran zat radioaktif dan suhu.

2.3 Eksplorasi Geolistrik


Metode tahanan jenis adalah salah satu dari kelompok metode geolistrik
yang digunakan untuk mempelajari keadaan bawah permukaan dengan cara
mempelajari sifat aliran listrik di dalam batuan di bawah permukaan bumi. Yang
dipelajari disini mencakup besara medan potensial, medan elektromagnetik yang
diakibatkan oleh aliran arus listrik secara alamiah (pasif) maupun secara buatan
(aktif).

3
4

Sumber : Djoko, 2002


Gambar 2.3
Berbagai Konfigurasi Elektroda dengan Faktor Geometri
Dalam penginjeksian arus listriknya menggunakan 2 elektroda arus A dan
B yang ditancapkan ke dalam tanah dengan jarak yang sudah direncanakan.
Semakin panjang jarak elektroda A-B maka aliran arus dapat menembus lapisan
batuan semakin dalam. Tegangan listrik yang dihasilkan kemudian diukur dengan
menggunakan multi meter yang dihubungkan dengan dua buah elektroda dengan
M dan N yang jaraknya lebih pendek daripada jarak elektroda A-B. Ketika jarak
dari elektroda A-B diubah menjadi lebih besar maka tegangan listrik pada
elektroda M-N akan berubah dengan kedalaman informasi yang lebih besar. Hal
ini berasumsikan bahwa kedalaman lapisan batuan yang ditembus arus listrik akan
sama dengan separuh jarak A-B yang bisa disebut A-B/2 (Todd, 1980).

4
5

Sumber : Anonim, 2013


Foto 2.1
Peralatan Geolistrik
Tabel 2.1
Refaransi Variasi Harga Tahanan Jenis
Jenis Batuan Nilai Tahanan Jenis (ohm.m)
Lempung 3 – 30
Lempung Berdebu 5 – 40
Pasir Berlempung 5 – 50
Lempung Berpasir 30 – 100
Lempung Shale 50 – 200
Pasir, Gravel 102 – 5.103
Gips, Batu Gamping 102 – 5.103
Batuan Kristalin 2.102 - 105
Batuan Bergaram, Anhydrate 2.103 <
Sumber : Dohr, 1975
Tabel 2.2
Nilai Resistivitas Dari Berbagai Tipe Batuan
Jenis Endapan Tingkat Resistivitas (ohm.m)
Clay/lempung 1 – 100
Silt/lanau 10 – 200
Marls/batulumpur 3 – 70
Kuarsa 10 – 2x108
Sandstone/batu pasir 50 – 500
Limestone/batu kapur 100 – 500
Lava 100 – 5x104
Air tanah 0,5 – 300
Air laut 0,2
Breksi 75 – 200
Andesit 100 – 200
Tufa vulkanik 20 – 100
Konglomerat 2x103 - 104
Sumber : Telford, 1990

5
6

BAB III
TUGAS DAN PEMBAHASAN

3.1 Tugas
1. Hitunglah nilai R, K dan ƿ dari data yang telah diberikan.
2. Buatlah kurva sesuai data yang telah diperoleh.
3. Tentukanlah litologi batuan dari data yang diperoleh.
4. Buatlah logbor dari hasil yang telah diperoleh.
5. Plot masing-masing koordinat titik geolistrik di peta geologi lokal dan peta
topografi lokal.
6. Buatlah peta geologi regional dari data yang diberikan.

3.2 Pembahasan
1. Hasil Perhitungan
Dalam perhitungan ini dicari nilai R, K dan RHO dari data yang diambil
langsung di lapangan pada 5 lokasi titik yang berbeda.
Tabel 3.1
GL – 1
AB/2 MN/2 K V I R RHO
1.5 0.5 6.185 229.7 125 1.838 12.523
2.5 0.5 19.375 76.3 133 0.574 11.115
4 0.5 49.990 19.3 118 0.164 8.176
6 0.5 112.79 8.4 120 0.87 7.895
8 0.5 200.71 4.8 113 0.042 8.526
10 0.5 313.75 4 196 0.020 6.403
12 0.5 451.91 3.8 196 0.019 8.762
15 0.5 706.25 2.5 176 0.014 10.032
15 5 68.15 12.7 178 0.071 4.862
20 5 123.1 11.4 151 0.075 9.294
25 5 193.75 4.1 77 0.053 10.317
30 5 280.1 3.9 99 0.039 11.034
40 5 499.99 1.6 77 0.021 10.388

6
7

50 5 782.5 2.8 129 0.022 16.984


60 5 1127.9 0.7 57 0.012 13.851
60 10 560.2 3.7 59 0.063 35.131
75 10 878.125 2.2 77 0.029 25.089
100 10 1565.0 0.7 36 0.019 30.431
100 25 615.5 1.7 35 0.049 29.896
125 25 968.75 2 55 0.036 35.227
150 25 1400.5 1 50 0.02 28.010

Tabel 3.2
GL - 3
AB/2 MN/2 K V I R RHO
1.5 0.5 6.815 210.4 47 4.477 30.508
2.5 0.5 19.375 51.5 72 0.715 13.859
4 0.5 49.990 2.5 55 0.045 2.272
6 0.5 112.790 5.1 38 0.134 15.138
8 0.5 200.71 4.3 45 0.096 19.179
10 0.5 313.75 3.7 55 0.067 21.107
12 0.5 451.91 2.8 60 0.047 21.089
15 0.5 706.25 1.5 48 0.031 22.07
15 5 68.15 18 48 0.375 25.556
20 5 123.1 10.2 43 0.237 29.2
25 5 193.75 4.7 34 0.138 26.783
30 5 280.1 5.3 55 0.096 26.991
40 5 499.9 4 59 0.068 33.892
50 5 782.5 1.8 46 0.039 30.62
60 5 1127.9 1.6 60 0.027 30.077
60 10 560.2 1.9 60 0.032 17.74
75 10 878.125 0.8 62 0.013 11.331
100 10 1565 1.5 78 0.019 30.096
100 25 615.5 3.4 62 0.055 33.753
125 25 968.75 3.4 109 0.031 30.218
150 25 1400.5 3.1 136 0.023 31.923

7
8

Tabel 3.3
GL – 6
AB/2 MN/2 K V I R RHO
1.5 0.5 6.815 15.6 201 0.078 0.529
2.5 0.5 19.375 11 186 0.059 1.146
4 0.5 49.99 18.6 240 0.078 3.874
6 0.5 112.79 13.5 294 0.046 5.179
8 0.5 200.71 8.1 245 0.033 6.636
10 0.5 313.75 10.4 246 0.042 13.264
12 0.5 451.91 9.2 304 0.03 13.676
15 0.5 706.25 10.6 276 0.038 27.124
15 5 68.15 10.7 278 0.038 2.623
20 5 123.1 10.4 200 0.052 6.401
25 5 193.75 13 106 0.123 23.762
30 5 280.1 5.5 139 0.04 11.083
40 5 499.99 7.5 165 0.045 22.723
50 5 782.5 3.6 176 0.02 16.006
60 5 1127.9 2.2 159 0.014 15.606
60 10 560.2 5 159 0.031 17.616
75 10 878.125 3.5 161 0.022 19.09
100 10 1565 1.6 124 0.013 20.194
100 25 615.5 5.5 127 0.043 26.656
125 25 968.75 1.6 103 0.016 15.049
150 25 1400.5 1.7 114 0.015 20.885

Tabel 3.4
GL – 7
AB/2 MN/2 K V I R RHO
1.5 0.5 6.815 296.5 27 10.981 74.839
2.5 0.5 19.375 119.1 30 3.970 76.919
4 0.5 49.99 38.4 21 1.829 91.41
6 0.5 112.79 24.7 31 0.797 89.868
8 0.5 200.71 16.5 35 0.471 99.62
10 0.5 331.75 8.2 25 0.328 102.91

8
9

12 0.5 451.91 10.7 41 0.261 117.937


15 0.5 706.25 3.3 28 0.118 83.237
15 5 68.15 46.4 42 1.105 75.29
20 5 123.1 27 56 0.482 59.352
25 5 193.75 14.8 58 0.255 49.44
30 5 280.1 10.3 67 0.154 43.06
40 5 499,99 6.4 81 0.079 39.498
50 5 782.5 4.1 81 0.051 39.608
60 5 1127.9 2.6 89 0.029 32.95
60 10 560.2 7.2 125 0.058 32.268
75 10 878.125 3.3 91 0.036 31.844
100 10 1565 5.3 272 0.019 30.494
100 25 615.5 14.5 277 0.052 32.219
125 25 968.75 3.4 141 0.024 23.36
150 25 1400.5 1.6 130 0.012 17.237

Tabel 3.5
GL - 18
AB/2 MN/2 K V I R RHO
1.5 0.5 6.815 151.4 30 5.047 34.393
2.5 0.5 19.375 32.1 22 1.459 28.27
4 0.5 49.99 8.8 20 0.44 21.996
6 0.5 112.79 4.8 25 0.192 21.656
8 0.5 200.71 4.3 37 0.116 23.326
10 0.5 331.75 2.2 30 0.073 23.008
12 0.5 451.91 1.6 32 0.05 22.596
15 0.5 706.25 0.5 17 0.029 20.772
15 5 68.15 5.6 17 0.329 22.449
20 5 123.1 8.4 43 0.195 24.047
25 5 193.75 7.2 54 0.133 25.833
30 5 280.1 2 20 0.1 28.01
40 5 499.99 2.7 48 0.056 28.119
50 5 282.5 2.5 57 0.044 34.32

9
10

60 5 1127.9 1.2 34 0.035 39.808


60 10 560.2 4.5 31 0.145 81.319
75 10 878.125 7.2 45 0.160 140.5
100 10 1565 7.7 45 0.171 267.789
100 25 615.5 7.5 48 0.156 96.172
125 25 968.75 6.6 18 0.367 355.208
150 25 1400.5 10.4 31 0.335 469.845

2. Bentuk Kurva Hasil Pengolahan Data


Kurva tersebut dibuat dengan ploting pada grafik double log dengan sumbu
Y berupa AB/2 dan sumbu X berupa nilai RHO.
a. GL – 1

Gambar 3.1
Kurva GL – 1
b. GL – 3

Gambar 3.2
Kurva GL – 3

10
11

c. GL – 6

Gambar 3.3
Kurva GL – 6
d. GL – 7

Gambar 3.4
Kurva GL – 7

11
12

e. GL – 18

Gambar 3.5
Kurva GL - 18
3. Jenis Litologi Batuan.
Jenis litologi batuan didapatkan dari pengamatan nilai pn yang didapatkan
dari pengolahan data menggunakan kurva baku dan kurva bantu yang
nilainya menggunakan perkiraan berdasarkan professional judgement
pengamat dari range batuan yang sudah disediakan.
Tabel 3.6
Pengolahan GL – 1
Kurva Kurva Titik Koordinat Paramater Dicari
K n Litologi
Bantu Koreksi Pusat dn' pn' dn hn pn
Q - P1 1,8 12 0,5 - 1,8 1,8 12 Andesit
A Q P2 3 5 2,5 1,0 3,6 1,8 30 Andesit
H - P3 4,8 6,7 2 - 8,4 4,8 10 Andesit

Tabel 3.7
Pengolahan GL – 3
Kurva Kurva Titik Koordinat Paramater Dicari
K n Litologi
Bantu Koreksi Pusat dn' pn' dn hn pn
Q - P1 1,5 30 0,1 - 1,5 1,5 30 Breksi
A Q P2 3,8 3,9 5 2 4,5 3 150 Andesit

12
13

Tabel 3.8
Pengolahan GL – 6
Kurva Kurva Titik Koordinat Paramater Dicari
K n Litologi
Bantu Koreksi Pusat dn' pn' dn hn pn
A - P1 4,5 0,1 40 - 4,5 4,5 0,1 Breksi
A A P2 7 0,5 40 0,02 4,6 0,1 4 Andesit
A - P3 19 43 1,5 10 74,6 70 20 Andesit

Tabel 3.9
Pengolahan GL – 7
Kurva Kurva Titik Koordinat Paramater Dicari
K n Litologi
Bantu Koreksi Pusat dn' pn' dn hn pn
A - P1 1,4 75 1,5 - 1,4 1,4 75 Breksi
Q A P2 14,5 100 0,2 7 11,2 9,8 112,5 Andesit

Tabel 3.10
Pengolahan GL – 18
Kurva Kurva Titik Koordinat Paramater Dicari
K n Litologi
Bantu Koreksi Pusat dn' pn' dn hn pn
Q - P1 2,75 3,1 0,5 - 2,75 2,75 3,1 Breksi
H - P2 10 18 5 - 12,75 10 15,5 Andesit

4. Bentuk logbor.
Logbor ini merupakan gambaran penampang 2 dimensi yang menunjukan
ketebalan endapan batuan pada suatu lokasi.

Gambar 3.6
Penampang Logbor GL - 1

13
14

Gambar 3.7
Penampang Logbor GL – 3

Gambar 3.8
Penampang Logbor GL - 6

Gambar 3.9
Penampang Logbor GL – 7

14
15

Gambar 3.10
Penampang Logbor GL – 18
5. Peta Topografi Lokal dan Peta Geologi Lokal.
a. Peta Topografi Lokal
Peta topografi ini didapatkan dari hasil pemetaan topografi dalam
daerah izin usaha pertambangan (IUP) secara langusng dilapangan.

Gambar 3.11
Peta Topografi Lokal
b. Peta Geologi Lokal
Peta geologi lokal ini didapatkan dari hasil pengambilan data singkapan
di lapangan yang kemudian diolah dengan metode penjejakan yang
dikarenakan endapan yang memiliki tingkat kontinyuitas rendah.

15
16

Gambar 3.12
Peta Geologi Lokal
6. Peta Geologi Regional.
Peta geologi regional ini didapatkan dari hasil Peta Geologi lembar Serang
yang di crop dengan skala tertentu untuk menunjukan kondisi geologi yang
ada di sekitaran daerah IUP.

Gambar 3.13
Peta Geologi Regional

16
17

BAB IV
ANALISA

Berdasarkan hasil perhitungan data, pembuatan kurva dan hingga


penentuan jenis litologi endapan dibawah permukaan dari hasil akuisisi data
geolistrik maka dapat dianalisakan bahwa dalam penentuan model bawah
permukaan bumi digunakan metode persamaan kurva antara kurva lapangan
dengan kurva baku dan kurva bantu berdasarkan trend resistivitas nya dan
setengah jarak elektroda terjauh pada kertas log-log. Dimana fungsi dari kurva
baku ini adalah untuk menentukan nilai resistivitas batuan sedangkan fungsi dari
kurva bantu adalah untuk menentukan ketebalan lapisan batuan.
Kurva baku terdiri dari kurva baku naik dan kurva baku turun. Kurva baku
selalu digunakan pertama kali tepat diujung kurva lapangan. Dan untuk kurva
bantu terdiri dari tipe H, tipe A, tipe K dan tipe Q yang digunakan berdasarkan
bentuk kurva yang akan diukur. Cara menggeser kurva lapangan ialah dengan
mensejajarkan sumbu X dan sumbu Y terhadap salah satu kurva baku ataupun
kurva bantu. Sehingga dari salah satu garis di dalam kurva tersebut akan
menunjukan nilai resistivitas, koreksi kedalaman dan ketebalan lapisan.
Kegiatan pengamatan dengan menggunakan geolistrik ini biasa digunakan
pada tahapan setelah survey tinjau, dimana hasil kegiatan survey tinjau ini telah
dilakukan pengamatan kondisi dan singkapan yang ada di permukaan.
Selanjutnya dilakukan pencarian endapan secara tidak langsung oleh geolistrik
untuk mengetahui pendugaan kondisi di bawah permukaan. Setelah didapatkan
hasil pendugaan jenis litologi endapan yang berada dibawah permukaan bumi
maka dilakukan korelasi dari hasil pemetaan data singkapan selanjutnya untuk
mengkoreksi batasan-batasan yang telah dibuat dari hasil pemetaan geologi lokal
yang telah dilakukan. Sehingga diharapkan data informasi dapat semakin akurat.
Dan penentuan lokasi titik bor untuk pengamatan secara lagsung pun dapat
direncakan dengan lebih baik.

17
18

BAB V
KESIMPULAN

Dari hasil pembuatan laporan awal ini dapat disimpulkan bahwa :


1. Eksplorasi tidak langsung merupakan suatu metode pencarian endapan
bahan galian yang dikerjakan tanpa berhubungan langsung dengan objek
bahan galian yang dicari. Salah satu dari metode eksplorasi tidak langsung
ini adalah dengan menggunakan metode geofisika.
2. Geofisika merupakan metode penyelidikan terhadap geologi dan
pemineralan dengan menggunakan teknologi yang dikembangkan dengan
menerapkan sejumlah hukum fisika agar didapat berbagai sifat fisik dan
karakteristik geologinya.
3. Dalam penginjeksian arus listriknya menggunakan 2 elektroda arus A dan
B yang ditancapkan ke dalam tanah dengan jarak yang sudah
direncanakan. Semakin panjang jarak elektroda A-B maka aliran arus
dapat menembus lapisan batuan semakin dalam. Tegangan listrik yang
dihasilkan kemudian diukur dengan menggunakan multi meter yang
dihubungkan dengan dua buah elektroda dengan M dan N yang jaraknya
lebih pendek daripada jarak elektroda A-B.
4. Dari hasil pengolahan data geolistrik didapatkan data indikasi batuan
dibawah permukaan, diantaranya pada titik GL-1 terdapat andesit hingga
kedalaman 8,4 m. Pada titik GL-3 terdapat breksi hingga kedalaman 1,5 m
dan dilanjutkan oleh keberadaan andesit hingga kedalaman 4,5 m. Pada
titik GL-6 terdapat breksi hingga kedalaman 4,5 m dilanjutkan dengan
keberadaan andesit hingga kedalaman 74,6 m. Pada titik GL-7 terdapat
breksi hingga kedalaman 1,4 m dan dilanjutkan oleh keberadaan andesit
hingga kedalaman 11,2 m. Pada titik GL-18 terdapat breksi hingga
kedalaman 12,7 m.

18
19

DAFTAR PUSTAKA

1. Erfan, 2011 “Pengantar Teknik Geofisika”, Penerbit : ITB. Dibaca tanggal


12 Maret 2018. Pukul 18.00 WIB.

2. M. Dahlan, 2014 “Geologi Untuk Pertambangan Umum”, Penerbit: Graha


Ilmu. Dibaca pada tanggal 12 Maret 2018. Pukul 16.00 WIB.

3. Rozali, 2014. “Eksplorasi Metode Geolistrik”, http://geonviron.blogspot.com


Diakses pada tanggal 12 Maret 2018. Pukul 09.00 WIB.

19
20

LAMPIRAN
TUGAS PENDAHULUAN
(Eksplorasi Tidak Langsung)

20
21

LAMPIRAN
TUGAS PENDAHULUAN
(Konfigurasi Pada Metode Geolistrik)

21
22

LAMPIRAN
TUGAS PENDAHULUAN
(STUDI KASUS PENENTUAN
TITIK GEOLISTRIK)

22