Anda di halaman 1dari 73

TUGAS UJIAN TENGAH SEMESTER

TEKNOLOGI TEPAT GUNA


KODE E

DOSEN PENGAMPU :

DESI KUMALASARI, S.ST., M.Kes

OLEH (KELOMPOK 5) :

1. ASTI NORMA (1802003P)


2. AULIA FITRI (1802133P)
3. NOER ROHMAWATI (1802144P)
4. SUSI ANDRIYANI (1802155P)
5. VIDA ARTA P.S (1802161P)
6. VINA DINATA K.A (1802162P)
7. YULIA HERLIANA (1802168P)

PROGRAM STUDI DIV KEBIDANAN KONVERSI


STIKES AISYIYAH PRENGSEWU
TAHUN 2018
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji dan syukur penyusun panjatkan atas kepastian ilmu Allah yang
tak terbatas sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas ini tepat pada waktunya.Tugas ini
berjudul “Ujian Tengah Semester Teknologi Tepat Guna Kode Soal E”. Adapun tujuan
pembuatan tugas ini adalah untuk memenuhi salah satu syarat memenuhi Ujian Tengah
Semester pendidikan Diploma IV Bidan Konversi.
Penulis menyadari selama pembuatan tugas ini, banyak menemukan hambatan dan
kesulitan. Namun atas segala bantuan, bimbingan dan arahan dari berbagai pihak, penulismampu
menyelesaikan tugas ini dengan baik. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada
pihak-pihak yang telah membantu.
Penulis menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari sempurna sehingga penulis
mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna penyempurnaan tugas ini selanjutnya.

Pringsewu, Oktober 2018

Penulis
SOAL DAN JAWABAN NO.1 SAMPAI NO.7

1. Teknologi Kesehatan
a. Definisi
Terminologi teknologi berasal dari kata Yunani techne yang berarti seni (art) atau
ketrampilan (craft) (Hall, 2002). Dari kata itu dapat diturunkan kata teknik dan
teknologi. Teknik adalah cara, metoda atau kemampuan untuk memenuhi
persyaratan-persyaratan ketrampilan dalam bidang tertentu. Teknologi mempunyai
arti yang banyak antara lain :(1) Penerapan ilmu pengetahun untuk tujuan-tujuan
praktis; (2) cabang ilmu pengetahuan mengenai penerapannya; (3) kumpulan semua
cara dari suatu kelompok sosial dalam memenuhi obyek-obyek material dari
kebudayaannya (Bahtiar, 1996). Teknologi harus selalu dipelajari apakah dalam
bentuk ketrampilan manual atau sebagai ilmu pengetahuan terapan (applied science).
Teknologi berkembang dandikembangkan oleh karena ada tantangan dan perubahan
yang timbul dari luar.
Menurut Feeny (1986), teknologi kesehatan didefinisikan sebagai seperangkat
teknik-teknik, obat-obatan, prosedur yang digunakan oleh profesional kesehatan
dalam memberikan pelayanan medis kepada perorangan dan pelayanan kesehatan di
masyarakat. Menurut UU RI No. 36 tahun 2009 Tentang Kesehatan yang tercantum
dalam pasal 42 dinyatakan bahwa: Ayat 1. Teknologi dan produk teknologi kesehatan
diadakan diteliti, diedarkan dan dikembangkan dan dimanfaatkan bagi kesehatan
masyarakat. Ayat 2. Teknologi kesehatan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1)
mencakup segala metode dan yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit,
mendeteksi adanya penyakit, meringankan penderitaan akibat penyakit,
menyembuhkan, memperkecil komplikasi dan memulihkan kesehatan setelah sakit.
Dari beberapa definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa Teknologi kesehatan
adalah penerapan pengetahuan dan keterampilan terorganisir dalam bentuk perangkat,
obat-obatan, vaksin, prosedur dan sistem yang dikembangkan untuk memecahkan
masalah kesehatan dan meningkatkan kualitas hidup.
b. Ruang Lingkup
Teknologi Kesehatan atau teknologi medis, mencakup berbagai macam produk
kesehatan dan digunakan untuk mengobati penyakit atau kondisi medis yang
mempengaruhi manusia. Teknologi semacam itu ditujukan untuk meningkatkan
kualitas layanan kesehatan yang diberikan melalui diagnosis dini, pilihan pengobatan
yang kurang invasif dan pengurangan waktu tinggal di rumah sakit dan waktu
rehabilitasi. Menurut Rogowski (2007) Teknologi kesehatan dibagi dalam 5
kelompok sebagai berikut:
1) Obat-obat; meliputi : bahan-bahan kimia dan subtansi biologis yang dipakai untuk
dimakan, diinjeksikan ke tubuh manusia untuk kepentingan medis.
2) Alat-alat (device) meliputi : alat-alat khusus untuk tujuan: diagnostik, terapi.
3) Prosedur bedah dan medis atau kombinasinya yang sering kali sangat komplek.
4) Sistem penunjang atau support system : adalah teknologi yang digunakan untuk
memberikan pelayanan medis di rumah sakit.
5) Sistem organisasional, adalah teknologi yang digunakan untuk menjamin
penyampaian pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien.
c. Manfaat
Ketika digunakan dengan tepat teknologi kesehatan akan banyak memberikan
manfaat yaitu untuk meningkatkan pelyanan kepada pasien dan membuat pelayanan
lebih bermakna. Tekhnologi yang digunakan dapat mengurangi kerja dengan kertas
(paperwork) dan meningkatkan komunikasi serta menghemat waktu. Sistem
informasi membantu mengerjakan berbagai tugas kaitannya dengan pengambilan
keputusan dengan DSS (Decision Support System). DSS membantu membuat
hubungan antara informasi yang didapatkan dari pasien literature pilihan tindakan
berdasarkan integrasi sistem. Sistem informasi juga meningkatkan keamanan dan
keselamatan pasien. Informatika dapat mencegah eror dengan melaksanakan fungsi
pengambilan keputusan dan mencegah fungsi yang tidak tepat. Mempermudah Dokter
dan Perawat dalam memonitor kesehatan pasien monitor detak jantung pasien lewat
monitor komputer, aliran darah , memeriksa organ dalam pasien dengan sinar X.
d. Pengembangan teknologi kesehatan
Pengembangan mempunyai makna proses, cara mengembangkan agar menjadi
maju, baik atau sempurna. Pengembangan teknologi kesehatan dapat dibedakan
dalam 4 tahapan : inovasi; pengembangan; difusi atau disiminasi; dan evaluasi
(Feeney, 1986).
1) Inovasi
Kata inovasi yang digunakan disini menunjukkan kepada kreasi baru alat atau
teknik atau kombinasi alat yang lama menjadi konfigurasi yang baru atau untuk
aplikasi yang baru (Eden, 1986). Inovasi memunculkan kebaruan (novelty)
dalam pengetahuan ilmu kedokteran, praktek kedokteran atau organisasi.
Kebanyakan inovasi adalah sebagai hasil dari banyaknya kemajuan-kemajuan
yang kecil yang secara individual mungkin tidak berarti tetapi mempunyai efek
yang kumulatif. Teknologi yang baru jarang berkembang dalam satu langkah
saja. Modikasi dan pengembangan teknologi merupakan proses yang berjalan
berkesinambungan. Menurut McKinlay (1981) melukiskan tujuh tahap dalam
inovasi medis sebagai berikut:
a) Laporan pendahuluan yang menjanjikan berdasarkan evikasi, inovasi medis
terhadap beberapa kasus tanpa control.
b) Pemakaian atau pengambilan teknologi oleh profesional atau organisasional
c) Penerimaan public (pihak ketiga)
d) Laporan observasional dan prosedur standar
e) Uji kendali acak (randomize control trial)
f) Pengaduan oleh profesional
g) Teknologi mengalami kehilangan kepercayaannya dan erosi.
4 Tahap yang paling kritis ada pada tahap 5, uji kendali acak, disini dengan
cermat dilakukan evaluasi klinis tentang efektivitas inovasi. Biasanya hasil-hasil
uji klinis kendali acak kurang disukai untuk teknologi inovasi daripada laporan
kasus yang tanpa kontrol. Pada tahap 6, dimana ada bukti-bukti yang negatif
dalam penelitian uji klinik kendali acak dapat menimbulkan pengaduan oleh
profesional. Laporan bukti-bukti laporan kasus yang positif tampaknya
mencukupi untuk memperluan difusi dari suatu inovasi. Sedangkan uji kendali
acak yang mendukung praktek klinis kelihatannya lebih banyak diterima
persetujuannya dari pada hasil yang negatif. Inovasi teknologi kesehatan
merupakan suatu proses yang saling terkait jarang mempunyai pengembangan
teknologi yang merupakan garis lurus. Biasanya dimulai dengan pengenalan
akan kebutuhan, dimana klinisi sebagai penyedia utama pelayanan kesehatan
sebagai orang yang kemungkinan paling mengetahui apa yang dibutuhkan dan
menyatakan masalah dalam konteks yang secara medis tepat.
Proses inovasi teknologi pada umumnya diawali dengan suatu proses
pengembangan ilmu pengetahuan melalui riset dasar. Pengembangan
mempunyai makna proses, cara pengembangkan agar menjadi maju, baik atau
sempurna. Menurut Basari (2006), masih banyak universitas dan lembaga-
lembaga di Indonesia yang belum mempunyai kesadaran bahwa penelitian
merupakan ’ruh’ dari pendidikan universitas.
Kemampuan riset pendidikan tinggi saat ini masih rendah karena
laboratorium miskin peralatan, para dosen penelitinya tidak cukup waktu
merenung (contemplating) mengenai bidang spesialisasinya. Dosen peneliti
meninggalkan tugas penelitiannya demi memenuhi kebutuhan dasar bagi
kehidupannya yang layak. Masih banyak masalah yang perlu diselesaikan namun
perlengkapan laboratorium dan kesejahteraan minimal dosen peneliti merupakan
masalah utama di Indonesia.
2) Proses pengembangan teknologi
Proses pengembangan teknologi dibedakan menjadi :
a) teknologi bakalan (emerging technology) adalah teknologi yang sedang
diterapkan dalam tarafpengembangan di laboratorium inkubator atau
sedang dalam uji coba laboratorium;
b) teknologi baru (new technology). Teknologi baru secara fundamental
berbeda dengan teknologi yang sudah ada sebelumnya. Teknologi ini
biasanya menunjukkan perbaikan dalam diagnosis dan ketepatan
diagnosis, demikian juga memberikanteknologi terapi yang baru. Contoh
teknologi diagnostik baru: Multislices CT (Computerized Tomograph)
Scan lebih baik bila dibandingkan dengan CT scan tipe lama. Teknologi
terapi baru : intervensi endovaskuler, transplantasi organ, organ buatan
(Artifisial Organ), katup jantung prostetik.
c) teknologi masa kini (current technology, establish technology) adalah
teknologi yang sudah biasa dikenal, contohnya : MRI (Magnetic
Resonance Imaging).
d) teknologi masa depan (future technology) seperti : sistem mikroelektro
mekanik, robotik untuk membantu pembedahan sebagai pengembangan
dari kombinasi Ilmu Fisika, Tehnik dan IlmuInformasi, Nano tehnologi,
Rekayasa Genetik dan sebagainya.
3) Difusi teknologi
Difusi teknologi adalah suatu proses dimana teknologi memasuki dan
menjadi bagian dari sistem pelayanan kesehatan (Banta et al, 1981). Fase ini
mengikuti tahap riset dan pengembangan dan mungkin juga tidak mengikuti
uji klinik yang teliti untuk menunjukkan efikasi dan keselamatan pasien. Pada
awal fase difusi biasanya berjalan lambat, hal ini menunjukkan kehati-hatian
dari sebagian pengguna walaupun boleh jadi juga menunjukkan masalah
komunikasi informasi tentang inovasi yang sudah dikembangkan. Penelitian-
penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa difusi ini dipengaruhi
oleh pembuat keputusan dan kendala-kendala yang dihadapi oleh perorangan
terhadap keputusan untuk penggunaan teknologi tersebut. Untuk rumah sakit
biasanya terkendala dengan keterbatasan anggaran atau kendala dalam
penggunaannya. Hasil-hasil dari uji klinik dan pengalaman di praktek
lapangan terpengaruh terhadap sikap dan perilaku dokter. Jika hasilnya positip
difusi berjalan cepat dan akan berlanjut sampai ada teknologi baru yang
menggantikannya. Bila bukti-bukti klinis tidak jelas atau negatif mungkin
akan memperlambat difusi atau bahkan menolak teknologi tersebut.
4) Evaluasi
Menurut Tugwell et al,1986, valuasi teknologi kesehatan menyangkut
beberapa faktor, diantaranya:
a) Potensi untuk terapi. Evaluasi teknologi kesehatan hendaknya dikaitkan
dengan kemampuan teknologi baru itu untuk meningkatkan derajat
kesehatan secara langsung maupun tidak langsung. Dalam hal ini yang
perlu dipertanyakan adalah apakah teknologi terapi yang baru itu lebih
bermanfaat dibandingkan dengan kerugian terhadap pasien yang
diagnosanya tepat, diobati dengan tepat dan taat pada rekomendasi
pengobatan tersebut.
b) Kemampuan untuk diagnosis dan skrining.
Teknologi untuk diagnosis dan skrining kemungkinan merupakan area
yang tumbuh paling cepat dalam teknologi kesehatan, misalnya
pengembangan dalam CT Scan dan MRI. Biasanya teknologi untuk
diagnosis dan skrining dikaitkan dengan kemanfaatan terapi dan untuk
meningkatkan perbaikan hasil akhir (outcome). Hal ini dapat dibedakan
dalam beberapa tingkatan sebagai berikut : 1)kemampuan teknologis dari
alat diagnostik yang menunjukkan kinerja spesifikasi yang dilakukan di
lingkungan laboratorium, 2) akurasi diagnostik. Teknologi memberikan
informasi yang memungkinkan personil kesehatan membuat lebih akurat
penilaiannya dan berat ringannya penyakit, 3) pengaruh terhadap
penyedia pelayanan. Teknologi memberikan personil kesehatan lebih
percaya terhadap diagnosis dan oleh karenanya mengurangi kecemasan
dan meningkatkan kenyamanan, 4) efek terapi. Keputusan terapi yang
dibuat oleh profesional kesehatan dapat berubah sebagai hasil aplikasi
teknologi, 5) outcome pasien.akan menentukan aplikasi teknologi yang
bermanfaat bagi pasien.
c) Efektivitas di masyarakat
Untuk menentukan efektivitas teknologi di masyarakat perlu dilibatkan
penilaian terhadap besarnya peningkatan derajat kesehatan yang dapat
diharapkan sebagai akibat aplikasi dari teknologi spesifik di dalam
masyarakat atau populasi yang terjangkau. Kepatuhan profesional
kesehatan merupakan salah satu komponen efektivitas penggunaan
teknologi di masyarakat di sini diperlukan informasi sejauh mana
profesional kesehatan tersebut mematuhi aplikasi teknologi yang
diperlukan untuk aplikasi diagnosa yang tepat dan teknologi manajemen
(pencegahan, penyembuhan paliatif dan rehabilitasi). Pendidikan
kedokteran berkelanjutan sangat penting untuk menjamin bahwa dokter
dan profesional kesehatan terlibat secara benar dalam penerapan teknologi
baru.
d) Evaluasi kepatuhan pasien
Seberapa jauh kepatuhan pasien terhadap penyedia pelayanan kesehatan
dalam hal rekomendasi dan terapi dapat dinilai tergantung dari jenis
teknologi yang secara substansial mempengaruhi besarnya manfaat yang
diperoleh darinya.
e) Evaluasi cakupan (Evaluation Coverage)
Cakupan disini diartikan sebagai seberapa jauh teknologi yang bermanfaat
diterapkan secara tepat terhadap semua pasien atau masyarakat yang
memperoleh manfaat darinya. Cakupan melukiskan apakah pasien secara
individual memerlukan atau tidak teknologi tersebut.

2. Teknologi Tepat Guna


a. Definisi
Teknologi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang
diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Teknologi tepat guna
adalah suatu alat yang sesuai dengan kebutuhan dan dapat berguna serta sesuai dengan
fungsinya. Selain itu, teknologi tepat guna atau yang disingkat dengan TTG adalah
teknologi yang digunakan dengan sesuai (tepat guna). Ada yang menyebutnya teknologi
tepat guna sebagai teknologi yang telah dikembangkan secara tradisional, sederhana dan
proses pengenalannya banyak ditentukan oleh keadaan lingkungan dan mata pencaharian
pokok masyarakat tertentu.
Secara teknis TTG merupakan jembatan antara teknologi tradisional dan
teknologi maju. Oleh karena itu aspek-aspek sosio-kultural dan ekonomi juga merupakan
dimensi yang harus diperhitungkan dalam mengelola TTG. Dari tujuan yang dikehendaki,
teknologi tepat guna haruslah menerapkan metode yang hemat sumber daya, mudah
dirawat, dan berdampak polutif minimalis dibandingkan dengan teknologi arus utama,
yang pada umumnya beremisi banyak limbah dan mencemari lingkungan.
Dengan demikian teknologi tepat guna mempunyai kriteria yang dapat dikatan
sebagai TTG, yaitu:
1. Apabila teknologi itu sebanyak mungkin mempergunakan sumber-sumber yang
tersedia banyak di suatu tempat
2. Apabila teknologi itu sesuai dengan keadaan ekonomi dan sosial masyarakat setempat.
3. Apabila teknologi itu membantu memecahkan persoalan/ masalah yang sebenarnya
dalam masyarakat, bukan teknologi yang hanya bersemayam dikepala perencananya.
4. Suatu yang harus diperhatikan bahwa, masalah-masalah pembangunan boleh jadi
memerlukan pemecahan yang unik dan khas, jadi teknologi-teknologi tersebut tidak
perlu dipindahkan ke negara-negara atau kedaerah lain dengan masalah serupa. Apa
yang sesuai disuatu tempat mungkin saja tidak cocok di lain tempat. Maka dari itu
tujuan TTG adalah melihat pemecahan-pemecahan terhadap masalah-masalah tertentu
dan menganjurkan mengapa hal itu sesuai.
b. Manfaat
Sebelum berbicara mengenai manfaat dari TTG, maka ada sebuah proses yang
harus diketahui sebelum memperoleh manfaat dari TTG tersebut, yaitu penerapan
teknologi tepat guna tersebut. Penerapan TTG adalah sebuah usaha pembaharuan.
Meskipun pembaharuan itu tidak mencolok dan masih dalam jangkauan masyarakat,
tetapi harus diserasikan dengan keadaan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat
setempat serta alam. Kalau tidak, maka usaha pembaharuan itu akan mendapat hambatan
yang dapat menggagalkan usaha pembaharuan tersebut.
Usaha pembaharuan itu dirancang sedemikan rupa sehingga seluruh masyarakat
merasa bahwa pembaharuan adalah prakarsa mereka sendiri. Berarti di dalam
pembaharuan teknologi itu, terdapat minat dan semangat dalam masyarakat tersebut.
Banyak orang keliru dalam berpendapat kalau orang membawa pompa bambu,
biogas, pengering dengan energi radiasi matahari sederhana kedesa, maka orang itu telah
menerapkan teknologi tepat guna. Membawa paket-paket teknologi sederhana tersebut
kesebuah desa belum dapat dikatakan sebagai penerapan teknologi tepat guna, bahkan
dapat menjerumuskan, apabila tidak disertai pendidikan kepada masyarakat desa tersebut,
bagaimana cara membuat dan memperbaiki alat tersebut. Paling ideal penerapan
teknologi tepat guna adalah teknologi yang telah ada pada suatu masyarakat dan
perbaikan itu ditujukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat.
Penerapan TTG juga harus mempertimbangkan keadaan alam sekitar. Dapat
diartikan bahwa dampak lingkungan yang disebabkan penerapan Teknologi Tepat Guna
(TTG) harus lebih kecil dibandingkan pemakaian teknologi tradisional maupun teknologi
maju. Dengan demikian manfaat dari teknologi tepat guna itu dapat dirasakan oleh
masyarakat tersebut. Sebagai mana manfaat dari teknologi tepat guna adalah:
1. Dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang makin hari makin meningkat, tentu hal
itu di barengi dengan kemampuan masyarakatnya yang mampu mengoperasionalkan
dan memanfaatkan TTG tersebut.
2. Teknologi tepat guna mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui
pemenuhan kebutuhannya, pemecahan masalahnya dan penambahan hasil produksi
yang makin meningkat dari biasanya. Teknologi tersebut relatif mudah dipahami
mekanismenya, mudah dipelihara dan mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Masuknya teknologi baru tidak akan membebani masyarakat baik mental
(ketidakmampuan skill) maupun materiil (dapat menimbulkan beban biaya yang tidak
mampu dipenuhi masyarakat).
3. Teknologi tepat guna dapat mempermudah dan mempersingkat waktu pekerjaan
tenaga kesehatan dan klien.
4. Masyarakat mampu mempelajari, menerapkan, memelihara teknologi tepat guna
tersebut
5. Masyarakat / klien bisa lebih cepat ditangani oleh tenaga kesehatan.
6. Hasil diagnosa akan lebih akurat, cepat, dan tepat
c. Ciri-ciri
Sebagaimana telah dikemukakan pada kriteria dan syarat dan kesesuaian TTG,
dapat dikemukakan ciri-ciri yang cukup menggambarkan TTG (walaupun tidak berarti
sebagai batasan) adalah sebagai berikut:
1. Perbaikan teknologi tradisional yang selama ini menjadi tulang punggung pertanian,
industri, pengubah energi, transportasi, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat di
suatu tempat.
2. Biaya investasi cukup rendah/ relatif murah.
3. Teknis cukup sederhana dan mampu untuk dipelihara dan didukung oleh keterampilan
setempat.
4. Masyarakat mengenal dan mampu mengatasi lingkungannya
5. Cara pendayagunaan sumber-sumber setempat termasuk sumber alam, energi, bahan
secara lebih baik dan optimal.
6. Alat mandiri masyarakat dan mengurangi ketergantungan kepada pihak luar (self-
realiance motivated).
d. Macam – Macam Teknologi Kebidanan Tepat Guna
1. Fetal Doppler
Adalah merupakan alat yang digunakan untuk mendeteksi denyut jantung bayi, yang
menggunakan prinsip pantulan gelombang elektromagnetik, alat ini sangat berguna
untuk mengetahui kondisi kesehatan janin, sangat disarankan untuk dimiliki dirumah
sebagai deteksi rahim harian, selain aman juga mudah dalam penggunaannya serta
harga yang sangat terjangkau untuk dimiliki.
2. Fetal Doppler Sunray
Adalah salah satu jenis dan merk Doppler yang digunakan untuk mengetahui denyut
jantung janin dalam kandungan, fetal Doppler ini sangat praktis digunakan baik secara
pribadi atau digunakan oleh kalangan paramedic.
3. Staturmeter
Adalah alat yang digunakan untuk mengukur tinggi badan, alat ini adalah sangat
sederhana pada desainnya karena hanya ditempelkan pada tembok bagian atas dan
ketika akan digunakan hanya perlu untuk menariknya sampai ke bagian kepala teratas,
sehingga dapat diketahui tinggi badan orang tersebut.
4. Eye Protector Photo Therapy
Adalah alat bantu yang diigunakan untuk melindungi bagian mata bayi pada saat
dilakukan pemeriksaan dengan menggunakan sinar X-ray atau jenis pemeriksaan lain
yang menggunakan media sinar agar tidak menggangu penglihatan bayi yang akan
diperiksa.
5. Alat Pengukur Panjang Bayi
Adalah merupakan peralatan sederhana yang biasa digunakan oleh bidan dan petugas
posyandu, untuk mengetahui perkembangan tinggi bayi dari waktu ke waktu, terbuat
dari kayu dan mistar yang mudah dibaca.
6. Breast Pupm
Biasanya digunakan oleh para ibu yang berkarier diluar rumah, agar ASI tidak
terbuang dengan percuma, sehingga tetap bisa mendapatkan ASI dari bundanya.
7. Lingkar Lengan Ibu Hamil
Adalah tanda yang digunakan untuk mempermudah mengidentifikasi bayi dan
bundanya, pada umumnya dipakaikan pada bayi dan bundanya di rumah sakit bersalin.
8. Pengukur Panjang Bayi (calipher)
Adalah alat yang digunakan untuk mengukur panjang bayi dengan ketepatan
pengukuran yang tinggi, karena skala yang digunakan pada alat ini lebih detail,
sehingga setiap inchi pertumbuhan bayi dapat diketahui.
9. Reflek Hammer / Reflek Patela
Sejenis hammer yang dilapisi dengan karet yang digunakan untuk mengetahui respon
syaraf dari anggota tubuh biasanya kaki.
10. Umbilical Cord Clem Nylon
Adalah merupakan alat yang digunakan untuk menjepit tali pusar bayi sesaat setelah
bayi dilahirkan.
11. Tourniquet
Adalah alat bantu yang digunakan untuk sarana pendukung pada pengmbilan darah,
pada umumnya dilingkarkan pada lengan saat akan dilakukan pengabilan darah segar,
agar darah bisa lebih mudah untuk di ambil.

3. Apa yang anda ketahui tentang Teknologi Terapan Tepat Guna dalam pelayanan
kehamilan?
Jawaban : Secara teknis TTG merupakan jembatan antara tehnologi tradisional dan
tehnologi maju. Dari tujuan yang dikehendaki, tehnologi tepat guna haruslah menerapkan
metode yang hemat sumber daya, mudah dirawat dan berdampak polutif minimalis
dibandingkan dengan tehnologi arus utama, yang pada umumnya bermisi banyak limbah dan
mencemari lingkungan.
Penggunaan Tehnologi Tepat Guna Kebidanan dalam Kehamilan :
ALAT
a) Fetal Doppler
Adalah alat untuk deteksi detak jantung janin di dalam kandungan dengan menggunakan
prinsip pantulan gelombang elektromagnetik.
b) Lingkar Lengan Ibu Hamil
Adalah tanda yang digunakan untuk mempermudah menidentifikasi status gizi bayi dan
bundanya dengan ukuran normal LILA yaitu 23,5cm.
c) USG (ultrasonografi)
Adalah suatu prosedur diagnosis yang digunakan untuk melihat struktur jaringan tubuh
dari gelombang doppler yang pemeriksaannya dilakukan diatas permukaan kulit.
d) CTG (cardiotokografi)
Adalah alat untuk mengetahui kesejahteraan janin didalam rahim, dengan merekam pola
denyut jantung janin dan hubungannya dengan gerakan janin.
e) Funduscope
Adalah alat yang digunakan untuk mendeteksi / mendengarkan denyut jantung janin. Alat
ini fungsinya hampir sama dengan stetoskop.
VAKSIN dan OBAT
a) Vaksin Tetanus Toxoid (TT), Imunisasi yang dilakukan sebelum dan selama kehamilan
merupakan tindakan prevntif untuk meninkatkan kekebalan tubuh ibu terhadap infeksi
parasit, bakteri dan virus.
b) Obat – obatan dalam kehamilan diantaranya : Asam folat, vitamin B6, Zat besi, Vitamin
C, Kalsium, Vitamin B complek, Vitamin B1, Vitamin B12
DETEKSI DINI
a) Pemeriksaan Kehamilan Dini (Early ANC Detection)
Idealnya wanita yang merasa hamil bersedia memeriksakan diri ketika haidnya terlambat
sekurang-kurangnya 1 bulan.
b) Kontak Dini Kehamilan
Pada kunjungan trimester 1 – trimester 3. Deteksi tanda bahaya kehamilan dilakukan
minimal 4 kali selama kehamilan.
c) Pelayanan ANC berdasarkan kebutuhan induvidu
Pelayanan ANC yang diberikan kepada setiap ibu hamil berbeda-beda tergantung dari
kebutuhan dan kondisi dari setiap individunya.
SYSTEM
a) Mobile Obstetrical Monitoring (MOM)
Merupakan program riset kolaborasi Phillips yang bertujuan memberdayakan para
bidan atau tenaga puskesmas untuk menghadirkan tehnologi monitoring di wilayah
pedesaan atau daerah terpencil. Dapat mengidentifikasi kehmilan para ibu sesegera
mungkin supaya mereka bisa mendapatkan perawatan yang dibutuhkan.
Dengan menggunakan aplikasi ponsel (mobile phone) , bidan dapat dengan
mudah mengumpulkan data dari pemeriksaaan fisik dan test diklinik lokal atau bahkan
dirumah ibu hamil tersebut. Dokter kandungan di lokasi berbeda kemudian bisa
menentukan apakah kehamilan bisa berisiko tinggi, kapan pun dimana pun. Dengan
demikian, ibu dengan kehamilan berisiko bisa segera mendapatkan pertolongan.
b) Kelas Ibu Hamil (ANC Cllas)
Merupakan sarana untuk belajar bersama tentang kesehatan bagi ibu hamil, dalam
bentuk tatap muka dalam kelompok yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan
ketrampilan ibu – ibu mengenai kehamilan, persalinan , nifas dan perawatan bayi baru
lahir, mitos, penyakit menular dan akte kelahiran (Depkes RI, 2009).
Kelas ibu hamil adalah kelompok belajar ibu-ibu hamill dengan umur kehamilan
antara 20 – 32 minggu dengan jumlah peserta maksimal 10 orang. Dikelas ibu hamil akan
belajar bersama, diskusi dan tukar pengalaman tentang kesehatan ibu dan anak secara
menyeluruh dan sistematis serta dapat dilaksanakan secara terjadwal dan
berkesinambungan (Depkes RI, 2009).
Soal : Apakah “sistem mobile Obstetrik Monitoring dan kelas ANC” dalam
pelayanan kehamilan termasuk tehnologi tepat guna dalam kehamilan?
Jawaban : Iya, sistem mobile obstetrik monitoring dan kelas ANC termasuk
Tehnologi tepat guna dalam kehamilan.
Teori Sistem Mobile Obstetrik Monitoring :
Suryo Suwignjo, Direktur utama Phillip Indnesia, Mobile obstetrik monitoring
(MOM) merupakan bagian dari strategi Phillips untuk menyediakan solusi layanan
perawatan terkoneksi dengan jangkauan lokasi lebih luas, serta memungkinkan perawatan
terintegrasi yang terfokus pada perorangan yang disesuaikan untuk menjawab kebutuhn
lokal.
Solusi pencacatan kehamilan memungkinkan para bidan di area terpencil, untuk
mengirim data pengukuran vital, data obsevasi dan gambar ultrasonik mobile kepada
dokter kebidanan dan kandungan ke rumah sakit yang lebih besar, serta kerjasama
dengan mereka agar dapat menentukan perawatanyang lebih tepat dan cepat selama
periode kehamilan.
Melalui MOM para bidan dapat menyusun riwayat kesehatan para ibu hamil
dengan mengumpulkan data hasil pemeriksaaan dan uji fisik dipuskesmas atau observasi
langsung dengan mendatangi rumah para ibu hamil. Aplikasi ini menggunakan 2 ponsel.
Aplikasi pertama untuk bidan mengumpulkan data vital seperti berat badan, tekanan
darah dan suhu yang nantinya akan diselarasakan ke portal web MOM. Aplikasi kedua
digunakan oleh dokter untuk melihat data vital dan meninjau perkembangan sang ibu.
Penelitian terkait tentang sistem mobile obstetrik monitoring
Kabupaten Sijunjung memiliki luas area seluas 2.746 km per segi dengan 200.000
penduduk. Dokter edwin mengatakan hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi para ibu
hamil di kabupaten Sijunjung, mengingat jauhnya jarak yang harus ditempuh ke klinik
terdekat yang menyebabkan tidak terdeteksi kehamilan berisiko tinggi sejak dini
Dengan meluncurkan MOM sebagai bagian dari solusi Phillips di Sumatera Barat
tepatnya didaerah Sijunjung. Kami dapat membantu masyarakat desa terpencil untuk
mendapatkan layanan dari ahli kesehatan dan tehnologi yang tepat, di waktu yang tepat.
Program ini melibatkan lebih dari 650 kehamilan dan tak satu pun ibu meninggal karena
penyebab kematian yang berhubungan dengan kehamilan dan kelahiran dapat dihindari
(Suryo dikuningan Jakarta , senin 11 januari 2016).

Aplikasi MOM ini diharapakan akan mampu meningkatkan deteksi dini


kehamilan berisiko tinggi sebesar 3X lipat serta dapat membantu ibu hamil mendapatkan
pengawasan medis dan perawatan yang dibutuhkan agar dapat melahirkan dengan aman.
(Suryo, 2016).
Teori Class ANC :
Antenatal care adalah pemeriksaan kehamilan yang dilakukan untuk memeriksa
keadaan ibu dan janin secara berkala, yang diikuti dengan upaya koreksi terhadap
penyimpangan yang ditemukan.
Menurut buku KIA kelas ibu hamil merupakan suatu aktifitas belajar kelompok
dalam kelas dengan anggota beberapa ibu hamil dibawah bimbingan satu atau beberapa
fasiltaor (pengajar) dengan memakai buku KIA sebagai alat pembelajaran (Awi muliadi
wijaya, 2008).
Penelitian terkait Class ANC:
Berdasarkan hasil penelitian yang sudah pernah dilakukan ,menunjukkan bahwa
responden dengan umur resti (<20 tahun dan >35 tahun) dan usia tidak resti (20-35
tahun) tetap melakukan pemeriksaan kehamilan ke pelayanan kesehatan kehamilan.
Pemahaman tentang pentingnya ANC tidak dipengaruhi oleh usia tetapi bgagaimana daya
tangkap dan pemahaman informasi yang diberikan
Responden yang mempunyai pekerjaan formal atau tidak formal tetap melakukan
pemeriksaaan kehamilan, walaupun responden dengan pekerjaan tidak formal (84,4%)
selalu melakukan pemeriksaan sesuai jadwal dibandingkan dengan yang bekerja formal.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Haryanti (2003) yang menyatakan bahwa
status pekerjaan tidak mempengaruhi bumil untuk melakukan pemeriksaan .
Responden dengan pengetahuan ANC baik lebih banyak melakukan pemeriksaan
kehamilan (84,3%) dibanding dengan pengetahuan ANC tidak baik. Meskipun demikian
secara statistik menunjukkan tidak ada hubungan pengetahuan ANC dengan pemeriksaan
ANC. Penelitian ini tidak sesui dengan penelitian (Adri, 2008) yang menunjukkan ada
pengaruh pengetahuan dengan pemeriksaan kehamilan.
4. Apa yang anda ketahui tentang teknologi terapan tepat guna dalam persalinan? Apakah
“P4K, Tabulin, Ambulan desa” dalam pelayanan persalinan termasuk teknologi tepat
guna dalam persalinan? Jelaskan sesuai teori dan penelitian terkait mengenai “P4K,
Tabulin, Ambulan desa” tersebut!
JAWAB:
Teknologi Terapan Tepat guna dalam pelayanan persalinan yang saya ketahui adalah
teknologi terapan yang berhubungan dengan ibu melahirkan (Water Birth).
P4K, Tabulin, dan Ambulan desa termasuk teknologi tepat guna dalam persalinan,
karena Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) dengan stiker
yang merupakan "upaya terobosan" dalam mempercepat penurunan angka kematian ibu
dan bayi baru lahir melalui kegiatan peningkatan akses dan kualitas pelayanan, yang
sekaligus merupakan kegiatan yang membangun potensi masyarakat, khususnya
kepedulian masyarakat untuk persiapan dan tindak dalam menyelamatkan ibu dan bayi
baru lahir.
1. P4K dengan Stiker
Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) merupakan
suatu kegiatan yang difasilitasi oleh bidan di desa dalam rangka peningkatan peran aktif
suami, keluarga dan masyarakat dalam merencanakan persalinan yang aman dan
persiapan menghadapi komplikasi bagi ibu hamil, termasuk perencanaan penggunaan
KB pascapersalinan dengan menggunakan stiker sebagai media notifikasi sasaran dalam
rangka meningkatkan cakupan dan mutu pelayanan kesehatan bagi ibu dan bayi baru
lahir.
2. Pendataan ibu hamil dengan stiker
Pendataan ibu hamil dengan stiker adalah suatu pendataan, pencatatan dan
pelaporan keadaan ibu hamil dan bersalin di wilayah kerja bidan melalui penempelan
stiker di setiap rumah ibu hamil dengan melibatkan peran aktif unsur-unsur masyarakat
di wilayahnya (kader, forum peduli KIA/Pokja posyandu dan dukun).
3. Forum Peduli KIA
Adalah suatu forum partisipatif masyarakat yang melakukan pertemuan rutin
bulanan, bertujuan mengorganisir kegiatan P4K dan menjalin kerjasama dengan bidan
dan difasilitasi oleh bidan di desa dan puskesmas.
4. Kunjungan Rumah
Adalah kegiatan kunjungan bidan ke rumah ibu hamil dalam rangka untuk
membantu ibu, suami dan keluarganyamembuat perencanaan persalinan dan
pencegahan komplikasi. Disamping itu, untuk memfasilitasi ibu nifas dan suaminya
dalam memutuskan penggunaan alat/obat kontrasepsi setelah persalinan sesuai rencana
yang telah disepakati bersama oleh pasangan tersebut.
5. Persalinan oleh Nakes dan Kesiagaan
Persalinan oleh Nakes adalah persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan
terampil sesuai standar. Sedangkan kesiagaan adalah kesiapan dan kewaspadaan dari
suami, keluarga, masyarakat/organisasi masyarakat, kader, dukun dan bidan dalam
menghadapi persalinan dan kegawatdaruratan obstetri dan neonatal.
6. Tabulin dan Dasolin
Tabulin dalah dana/barang yang disimpan oleh keluarga atau pengelola Tabulin
secara bertahap sesuai dengan kemampuan yang pengelolaannya sesuai kesepakatan
serta penggunaannya untuk segala bentuk pembiayaan saat ANC, persalinan dan
kegawatdaruratan. Dasolin adalah dana yang dihimpun dari masyarakat secara sukarela
dengan prinsip gotong royong sesuai dengan kesepakatan bersama dengan tujuan
membantu pembiayaan mulai ANC, persalinan dan kegawatdaruratan.
7. Ambulan Desa dan Donor Darah
Ambulan desa adalah alat transportasi dari masyarakat sesuai kesepakatan
bersama yang dipergunakan untuk mengantar calon ibu bersalin ke tempat persalinan
termasuk ke tempat rujukan, bisa berupa mobil, ojek, becak, sepeda, tandu, perahu, dll.
Calon Donor Darah adalah orang-orang yang dipersiapkan oleh ibu, suami, keluarga
dan masyarakat yang sewaktu-waktu bersedia menyumbangkan darahnya untuk
keselamatan ibu melahirkan.
8. Kunjungan Nifas
Kontak ibu dengan Nakes minimal 3 (tiga) kali untuk mendapatkan pelayanan
dan pemeriksaan kesehatan ibu nifas, baik di dalam maupun di luar gedung Puskesmas
(termasuk bidan di desa/Polindes dan kunjungan rumah.
9. Pemberdayaan Masyarakat
Adalah upaya aktif bidan untuk melibatkan unsur-unsur masyarakat secara
parsitipatif dalam Perencanaan, Pelaksanaan dan Evaluasi kegiatan kesehatan ibu dan
anak termasuk kegiatan perencanaan persalinan dan pascapersalinan.
Melalui Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K)
dengan stiker yang ditempelkan di rumah ibu hamil, maka setiap ibu hamil akan
tercatat, terdata dan terpantau secara tepat. Dengan data dalam stiker, suami, keluarga,
kader, dukun, bersama bidan di desa dapat memantau secara intensif keadaan dan
perkembangan kesehatan ibu hamil. Selain itu agar ibu hamil mendapatkan pelayanan
yang sesuai standar pada saat antenatal, persalinan dan nifas sehingga proses persalinan
sampai dengan nifas termasuk rujukannya dapat berjalan dengan aman dan selamat.
5. Pertanyaan :
Apa yang anda ketahui tentang Teknologi Terapan Tepat Guna dalam pelayanan nifas?
Apakah “body massage dan aroma terapy” dalam pelayanan nifas termasuk Teknologi
Tepat Guna dalam nifas? Jelaskan sesuai teori dan penelitian terkait mengenai pemberian
body massage dan aroma terapy pada ibu nifas tersebut!
Jawaban :
Teknologi terapan tepat guna adalah teknologi yang digunakan dengan sesuai (tepat
guna) sebagai teknologi yang telah dikembangkan secara tradisional, sederhana dan proses
pengenalannya banyak ditentukan oleh keadaan lingkungan dan mata pencaharian pokok
masyarakat tertentu. Teknologi terapan tepat guna dalam pelayanan nifas adalah teknologi
yang fungsinya untuk menjembatani teknologi-teknologi hasil riset yang telah dibuat oleh
para peneliti sehingga bisa diterapkan pada pelayanan kebidanan masa nifas.
Body massage dan aroma terapy termasuk teknologi tepat guna dalam pelayanan nifas.
Body massage telah lama diyakini bermanfaat untuk ibu postpartum mulai dari meredakan
stres hingga mempercepat waktu pemulihan setelah postpartum, depresi, mengurangi nyeri
secara alami, mengurangi kekakuan, menjadikan tubuh lebih rileks (Nurgiwiati, 2015)
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Wentworth (2009) membuktikan bahwa
body massage dapat menurunkan ketegangan, kecemasan, dan nyeri pada pasien sebelum
dilakukan tindakan. Hasil penelitian lainnya menyebutkan bahwa ibu yang pernah melakukan
pijat selama masa nifas, sebanyak 60% dari total responden tidak mengalami depresi
postpartum.
Pada masa postpartum, ibu membutuhkan istirahat dan tidur yang cukup. Istirahat
sangat penting untuk ibu menyusui, serta untuk memulihkan keadaannya setelah hamil dan
melahirkan. (Bahiyatun, 2009). Kebutuhan istirahat bagi ibu menyusui minimal 8 jam sehari,
yang dapat dipenuhi melalui istirahat malam dan siang (Sulistyawati, 2009).
Kurang istirahat atau tidur pada ibu postpartum akan mengakibatkan kurangnya suplai
ASI, memperlambat proses involusi uterus, dan menyebabkan ketidakmampuan merawat bayi
serta depresi (Suhana, 2010). Selain itu, kurang istirahat/tidur pada ibu postpartum bisa
berkembang menjadi insomnia kronis, juga mengakibatkan rasa kantuk di siang hari,
mengalami penurunan kognitif, kelelahan, cepat marah serta ibu postpartum yang mempunyai
masalah dengan tidur merupakan salah satu gejala postpartum blues (Dorheim, Bondevik,
Eberhard-Gran, &Bjorvatn, 2009a). Dorheim, Bondevik, Eberhard-Gran, & Bjorvatn (2009a)
mengemukakan penyebab ibu postpartum mengalami gangguan kualitas tidur adalah karena
sulit menemukan waktu tidur di bulan pertama postpartum, depresi, masalah tidur
sebelumnya, primipara, tidak memberikan ASI eksklusif, dan memiliki bayi laki-laki.
Berbagai macam cara dilakukan untuk mengatasi masalah kualitas tidur pada seseorang,
baik dengan terapi farmakologi maupun terapi non-farmakologi. Terapi farmakologi misalnya
dengan bantuan obat tidur atau obat penenang lainnya (Harmanto & Subroto, 2007). Salah
satu terapi nonfarmakologi yang bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas tidur adalah
relaksasi. Aromaterapi merupakan salah satu bentuk terapi relaksasi.
Aromaterapi merupakan proses penyembuhan yang menggunakan sari tumbuhan
aromaterapi murni yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan, kesejahteraan tubuh,
pikiran, dan jiwa (Goel, Kim, & Lao,2005). Aromaterapi mempunyai efek yang positif karena
diketahui bahwa aroma yang segar dan harum bisa merangsang sensori dan reseptor yang ada
di hidung kemudian memberikan informasi lebih jauh ke area di otak yang mengontrol emosi
dan memori serta memberikan informasi ke hipotalamus. Hipotalamus merupakan pengatur
sistem internal tubuh, termasuk sistem seksualitas, suhu tubuh, dan reaksi terhadap stres
(Koensoemardiyah, 2009).
Lavender adalah salah satu minyak aromaterapi yang banyak digunakan saat ini, baik
secara inhalasi (dihirup) ataupun dengan teknik pijatan. Lavender mengandung linalool yang
memiliki efek menenangkan/relaksasi (Dewi, 2013). Lavender juga membantu meringankan
insomnia, kecemasan, dan depresi (Cuncic, 2014). Aromaterapi lavender meningkatkan
gelombang alfa di dalam otak, gelombang ini menggambarkan keadaan yang rileks pada
seseorang dan akan meghilang apabila seseorang banyak pikiran atau dalam keadaan mental
yang sibuk (James, Baker, & Swain,2008). Aromaterapi lavender juga memiliki rasa nyaman,
rasa keterbukaan dan keyakinan. Disamping itu lavender juga dapat mengurangi rasa tertekan,
stres, rasa sakit, emosi yang tidak seimbang, histeria, rasa frustasi dan kepanikan (Wheatley,
2005).
6. Pertanyaan 1 :
Apa yang anda ketahui tentang Teknologi Terapan Tepat Guna dalam pelayanan bayi baru
lahir dan balita?
Jawaban 1:
Teknologi Terapan Tepat Guna dalam pelayanan bayi baru lahir dan balita adalah
pengetahuan keterampilan untuk mengidentifikasi teknologi kebidanan dengan pendekatan
teknologi tepat guna yang inovatif dan aplikatif di masyarakat sesuai dengan budaya setempat
sebagai upaya intervensi pencegahan masalah kesehatan bayi baru lahir dan balita. Teknologi
terapan tepat guna ini diterapkan pada bayi berusia 0-28 hari dan balita berusia 24-60 bulan.
Penggunaan Teknologi Terapan Tepat Guna pada BBL dan Balita
A. OBAT DAN VAKSIN
LIMA IMUNISASI DASAR LENGKAP (LIL)
1. BCG
Imunisasi BCG merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah
terjadinya penyakit TBC yang berat sebab terjadinya penyakit TBC yang primer atau
yang ringan dapat terjadi walaupun sudah dilakukan imunisasi BCG. Frekuensi
pemberian imunisasi BCG adalah 1 dosis sejak lahir (sebelum umur 3 bulan). Vaksin
BCG diberikan melalui intradermal/intracutan.
2. Hepatitis B
Imunisasi hepatitis B merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah
terjadinya penyakit hepatitis B. kandungan vaksin ini adalah HbsAg dalam bentuk
cair. Frekuensi pemberian imunisasi hepatitis B adalah 3 dosis. Imunisasi hepatitis ini
diberikan melalui intramuscular.
3. Polio
Imunisasi polio merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah
terjadinya penyakit poliomyelitis yang dapat menyebabkan kelumpuhan pada anak.
Kandungan vaksin ini adalah virus yang dilemahkan. Frekuensi pemberian imunisasi
polio adalah 4 dosis. Imunisasi polio diberikan melalui oral.
4. DPT
Imunisasi DPT merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya
penyakit difteri, pertusis dan tetanus. Frekuensi pemberian imuisasi DPT adalah 3
dosis. Imunisasi DPT diberikan melalui intramuscular. Pemberian DPT dapat berefek
samping ringan ataupun berat.
5. Campak
Imunisasi campak merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah
terjadinya penyakit campak pada anak karena termasuk penyakit menular. Kandungan
vaksin ini adalah virus yang dilemahkan. Frekuensi pemberian imunisasi campak adalah
1 dosis. Imunisasi campak diberikan melalui subkutan. Imunisasi ini memiliki efek
samping seperti terjadinya ruam pada tempat suntikan dan panas.
B. ALAT
1. Ingkubator
Alat inkubator ini cukup mahal, jumlahnya masih kurang di negara-negara
berkembang, dan tak terjangkau untuk beberapa rumah sakit.Dengan mahalnya
inkubator, seorang peneliti muda asal Inggris tengah membuat inkubator dengan biaya
yang rendah. Dia berharap inkubator buatannya dapat digelembungkan.
2. Blue Light
Bila bayi tampak kuning, perlu diperiksa kadar bilirubin untuk menentukan
apakah kadarnya masih normal atau sudah abnormal sehingga perlu terapi. Dianggap di
atas normal bila kadar biliburin lebih dari 12 mg/dl. Bila kadar bilirubin di atas normal,
dokter akan melakukan terapi sinar biru pada bayi kuning tersebut. Terapi ini dilakukan
di rumah sakit. Bayi diletakkan di bawah lampu yang memancarkan spektrum cahaya
biru dengan panjang gelombang tertentu (ukurannya sekitar 450 nanometer).
C. PROSEDUR
1. Inisiasi Menyusui Dini (IMD)
Inisiasi Menyusui Dini sangatlah penting karena mendatangkan manfaat yang
sangat banyak bagi si bayi khususnya.

2. Metode Kanguru
Metode Kanguru adalah metode perawatan dini dan terus menerus dengan
sentuhan kulit ke kulit (Skin to skin contact) antara ibu dan bayi prematur dan BBLR
dalam posisi seperti kanguru (Hadi, 2005).

Pertanyaan 2 :
Apakah “Screening Baby Born and Baby Massage” dalam pelayanan bayi baru lahir
dan balita termasuk Teknologi Terapan Tepat Guna dalam pelayanan BBL dan Balita?
Jawaban 2:
Ya, Screening baby born and baby massage termasuk dalam teknologi tepat guna dalam
pelayanan BBL dan Balita.
Pertanyaan 3 :
Jelaskan sesuai teori dan penelitian terkait mengenai “Screening Baby Born and Baby
Massage” tersebut!
Jawaban 3:
Teori Screening Baby Born (Skrining Bayi Baru Lahir)
Kasus hipotiroidisme di negara maju umumnya ditemukan melalui pemeriksaan
laboratorium karena skrining hipotiroidisme pada bayi baru lahir telah diberlakukan.
Insiden hipotiroid kongenital di Perfektur Kanagawa diperkirakan 1 dalam 3.472
kelahiran (Cati Martiyana, 2014).
Berdasarkan International Atomic Energy Agency (IAEA), pengembangan
program skrining hipotiroid kongenital bayi baru lahir adalah penerapan sistem skrining
meliputi pendidikan, skrining, follow up, diagnosis, manajemen dan evaluasi, dimana
pendidikan merupakan komponen paling penting dalam pengembangan program
skrining bayi baru lahir. (IAEA, 2005).
Penelitian terkait Screening Baby Born (Skrining Bayi Baru Lahir)
Berdasarkan penelitian “Pengetahuan Dan Praktek Bidan Desa Pasca Pelatihan
Deteksi Dini Kasus Gaki Di Kabupaten Temanggung” yang dilakukan oleh Cati
Martiyana dan Mohamad Samsudin pada tahun 2014 menunjukkan hasil Bidan Desa
menemukan kasus terduga GAKI dengan gejala klinis berupa kulit kasar, suara parau dan
hernia umbi- likalis. Sasaran lain adalah bayi dengan riwayat ibu bayi memiliki
pembesaran kelenjar gondok, tetapi anak tidak memiliki tanda-tanda gangguan
kekurangan io-dium, mata bayi mengalami oedema, kulit kasar, dan latar belakang
kakak bayi yang kesulitan menangkap pelajaran sekolah.
Evaluasi pelaksanaan kegiatan pelatihan dan skrining berdasarkan pedoman
IAEA dalam pelaksanaan skrining hipotiroid adalah masih membutuhkan pelatihan
khusus dibandingkan 40 persen yang dideteksi pada jaman sebelum ada skrining
hipotiroid. Diperlukan pelatihan deteksi dini kasus GAKI dalam konsep periodik dan
berkala untuk meningkatkan kemampuan melakukan deteksi dini kasus, apalagi skrining
hipotiroid kongenital belum menjadi program nasional di Indonesia.
Teori Baby Massage (Pijat Bayi)
Pijat bayi adalah terapi sentuh tertua yang telah dipraktekkan sejak puluhan tahun
yang dipercaya dapat mempengaruhi perkembangan bayi. Sentuhan-sentuhan yang
dilakukan saat pemijatan membuat bayi merasa nyaman, merangsang peredaran darah
dan menambah energi. (Roesli, 2001).
Perkembangan motorik terbagi atas perkembangan motorik kasar dan
perkembangan motorik halus, dimana ada ciri-ciri penting dari perkembangan ini seperti
yang disampaikan oleh Sears, et al., (2007) dimana perkembangan motorik kasar adalah
cara bayi menggunakan otot yang lebih besar pada tubuhnya, seperti otot punggung, kaki
dan tangan serta leher. Sedangkan perkembangan motoric halus keterampilan jari dan
tangan yang digunakan bayi untuk memainkan mainan.
Menurut (Soetjiningsih dan Ranuh, 2014) Pijat bayi yang dilakukan secara
teratur memberikan lingkungan emosional yang positif seperti cinta, kasih sayang, dan
kehangatan. diulang-ulang. Stimulasi yang diberikan selain pijat bayi adalah dengan
bermain, seperti yang dipaparkan oleh Adriana, (2013) bahwa melalui kegiatan bermain
semua aspek perkembangan anak ditumbuhkan sehingga menjadi lebih sehat sekaligus
cerdas.
Penelitian terkait Baby Massage (Pijat Bayi)
Hasil penelitian “Hubungan Pijat Bayi dengan Perkembangan Motorik Bayi Usia 1-
12 Bulan di Desa Pundungsari Bulu Sukoharjo” dapat dicermati bahwa persentase pijat
bayi yang paling tinggi adalah tidak teratur dengan jumlah 24 responden (72,73%), dan
yang melakukan pijat bayi secara teratur berjumlah9 responden (27,27%). Hal ini
menunjukkan bahwa semua responden melakukan pijat bayi meskipun ada yang teratur
dan tidak teratur.
Dari hasil penelitian didapatkan hasil perkembangan motoric normal sejumlah 14
bayi (42,42 %) dimana hal ini menunjukkan bahwa 14 bayi tersebut melewati tugas
perkembangan sesuai dengan usianya dan perkembangan motoric dengan hasil advance
ditunjukkan oleh 5 bayi (15,16 %).
Dari hasil penelitian Hubungan Pijat Bayi dengan Perkembangan Motorik
dapat ditarik kesimpulan bahwa ada hubungan antara pijat bayi dengan perkembangan
motorik pada bayi usia 1-12 bulan di Desa Pundungsari Bulu Sukoharjo.
7. Apa yang di maksud tentang Teknologi Tepat Guna dalam pelayanan kesehatan Reproduksi
dan KB? Apakah “ Klinik Kespro dan IMS” dalam pelayanan Kesehatan Reproduksi dan
KB termaksud Teknologi Tepat Guna dalam kesehatan Reproduksi dan KB? Jelaskan sesuai
teori dan penelitian terkait mengenai “klinik Kespro dan IMS” tersebut !
Jawaban :
Teknologi Kesehatan adalah sebagai perangkat teknik-teknik, obat perangkat teknik-
teknik, obat-obatan, prosedur yang di gunakan oleh professional kesehatan dalam
memberikan pelayanan medis kepada perorangan dan pelayanan kesehatan di masyarakat.
Teknologi kesehatan menurut Rogowski (2007) terdapat 5 kelompok :
1. Obat-obatan : Meliputi bahan bahan kimia dan substansi biologis yang di pakai untuk di
makan, di injeksi ketubuh manusia untuk kepentingan medis.
2. Alat-alat : Meliputi alat-alat khusus untuk tujuan diagnosis, terapi.
3. Prosedur bedah dan medis atau kombinasinya yang seringkali sangat kompleksi
4. System penunjang atau support system adalah teknologi yang di gunakan untuk
memberikan pelayanan medis di rumah sakit.
5. System organisional : teknologi yang di gunakan untuk menjamin penyampaian pelayanan
kesehatan yang relative dan efisien.
Teknologi Tepat guna pada pelayanan kesehatan Reproduksi
1. Obat dan vaksin
a. Vaksin HPV
Cervarix adalah vaksin kanker serviks terbaru di Indonesia yang ditujukan baik bagi
remaja putri maupun perempuan dewasa (usia 10 tahun s/d 55 tahun) untuk pencegahan
kanker serviks. Vaksin mengandung antigen untuk HPV tipe 16 dan 18 yang menjadi
penyebab lebih dari 70% kasus kanker serviks di dunia. Vaksin kanker servarix GSK
memberikan 100% perlindungan terhadap human papillomavirus (HPV) tipe 16 dan 18
yang terkait dengan lesi pra-kanker. Cervarix juga memberikan perlindungan tambahan
terhadap type HPV onkogenik yang lain yaitu tipe HPV 45, 31 dan 52. Jadwal
vaksinasi untuk vaksin kanker serviks GSK terdiri dari 3 dosis, diberikan pada bulan
ke-0, ke-1 dan ke-6.
2. Alat
a. Tes DNA HPV
Menggunakan teknik pemeriksaan molekuler DNA yang terkait dengan HPV diuji
dari sebuah contoh sel yang diambil dari leher rahim atau liang senggama. Telah
dibuktikan bahwa lebih 90% kondiloma serviks, NIS dan kanker serviks
mengandung DNA -HPV. Hubungannya dinilai kuat dan tiap tipe HPV
mempunyai hubungan patologi yang berbeda. Tipe 6 dan 11 termasuk tipe
HPV risiko rendah jarang ditemukan pada karsinoma invasif kecuali karsinoma
verukosa. Sementara itu tipe 16, 18, 31 dan 45 tergolong tipe HPV risiko
tinggi. HPV typing dilakukan dengan hibridasi DNA.
b. Tes Pap / Pap Smear
Pemeriksaan sitologis dari apusan sel-sel yang diambil dari leher rahim. Slide
diperiksa oleh teknis sitologi atau dokter ahli patologi untuk melihat perubahan sel
yang mengindikasikan. Terjadinya inflamasi, displasia atau kanker.
c. Tes IVA
Pemeriksaan infeksi visual dengan mata telanjang (tanpa pembesaran) seluruh
permukaan leher rahim dengan bantuan asam asetat/cuka yang diencerkan.
Pemeriksaan dilakukan tidak dalam keadaan hamil maupun sedang haid.
d. Servikografi
Pemeriksaan kelainan di porsio dengan membuat foto pembesaran porsio setelah
dipulas dengan asam asetat 3 -5% yang dapat dilakukan oleh bidan. Hasil foto serviks
dikirim ke ahli ginekologi (yang bersertifikat untuk menilai). Servikografi terdiri
dari kamera 35 mm dengan lensa 100 mm dan lensa ekstensi 50 mm. Fotografi
diambil oleh dokter, perawat,atau tenaga kesehatan lainnya, dan slide (servikogram)
dibaca oleh yang mahir dengan kolposkop. Disebut negatif atau curiga jika
tidak tampak kelainan abnormal, tidak memuaskan jika SSK tidak tampak seluruhnya
dan disebut defek secara teknik jika servikogram tidak dapat dibaca (faktor kamera
atau flash). Hasil pemotretan merupakan foto slaid yang dapat dikirimkan pada
ahlinya untuk dinilai.Kamera khusus digunakan untuk memfoto leher rahim. Film
dicetak dan foto diinterpretasi oleh petugas terlatih. Pemeriksaan ini terutama
digunakan sebagai tambahan dari deteksi dini dengan menggunakan IVA, tetapi dapat
juga sebagai metode penapisan primer.
e. Kolposkopi
Pemeriksaan visual bertenaga tinggi (pembesaran) untuk melihat leher rahim, bagian
luar dan kanal bagian dalam leher rahim. Pemeriksaan melihat porsio (juga vagina
dan vulva) dengan pembesaran 10-15x.; untuk menampilkan porsio, dipulas
terlebih dahulu dengan asam asetat 3-5.Kolposkopi dapat berperan sebagai alat
skrining awal, namun ketersediaan alat ini terbatas karena mahal.Oleh karena itu alat
ini lebih sering digunakan dalam prosedur pemeriksaan lanjut dari hasil Tes Pap
abnormal. Jadi tujuan pemeriksaan kolposkopi bukan untuk membuat diagnosis
histologic tetapi menentukan kapan dan di mana biopsi harus dilakukan.
f. Gineskopi
Alat ini dikenalkan Abrams, 1987. Gineskopi menggunakan teleskop monokuler,
ringan dengan pembesaran 2,5 x dapat digunakan untuk meningkatkan skrining
dengan sitologi. Biopsi atau pemeriksaan kolposkopi dapat segera disarankan bila
tampak daerah berwarna putih dengan pulasan asam asetat. Hasil tersebut memberi
peluang digunakannya gineskopi oleh tenaga paramedik/bidan untuk mendeteksi lesi
prakanker bila fasilitas pemeriksaan sitologi tidak ada
g. Polar Probe
Metode terbaru ini masih dikembangkan di negara maju. Merupakan alat opro –
elektronik untuk mengukur biofisik dan respons optik dengan stimulasi elektrik
jaringan serviks. Akan dihasilkan energi listrik dan gelombang ringan bila ada
prakanker dan kanker. Keuntungannya, hasil pemeriksaan dapat langsung diketahui
dan mudah. Seperti alat penapis lainnya, polar probe bersama tes Pap akan
meningkatkan akurasi pemeriksaan hingga lebih dari 90%.
h. HSG (Hysterosalpingography)
HSG adalah alat yang digunakan untuk mengetahui kesuburan uterus dan tuba fallopi,
biasanya digunakan untuk mengetahui infertilitas. HSG dilakukan dengan
menyemprotkan cairan yang mengandung zat kontras ke dalam rongga rahim
melalui vagina. Kemudian dilakukan foto rontgen hingga akan terlihat apakah zat
kontras tersebut masuk ke dalam saluran telur atau tidak. Bila masuk, berarti bebas
dari perlekatan atau penyumbatan yang dalam istilah medis disebut paten. Sebaliknya
bila zat kontras tidak dapat memasuki saluran telur, berarti ada penyumbatan yang
lebih dikenal dengan istilah saluran telur nonpaten.
i. USG
Pemeriksaan payudara dengan mamografi lebih superior dalam mendeteksi kanker
payudara dibandingkan dengan USG. USG terutama berperan pada payudara padat
yang biasanya ditemui pada wanita muda, jenis payudara ini kadang – kadang sulit
dinilai dengan mamografi. USG juga sangat bermanfaat untuk membedakan apakah
massa padat atau kistik, yang hampir sama pada gambaran mamografi, tetapi
kalsifikasi halus (mikrokalsifikasi) tidak dapat dideteksi dengan USG.
j. Mamografi
Mamografi sudah lama diterapkan sebagai standar baku pemeriksaan radiologi untuk
mendeteksi kanker payudara. Selain mampu memberikan visualisasi abnormalitas
jaringan lunak yang adekuat, mamografi juga mampu mendeteksi kalsifikasi halus
(mikrokalsifikasi). Terdapat penurunan tingkat mortalitas akibat kanker payudara
setelah mamografi digunakan sebagai modalitas skrining kanker payudara.
k. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
MRI terutama berperan untuk mendeteksi kanker payudara pada orang yang lebih
muda (kurang dari 40 tahun). Pemeriksaan MRI dengan kontras menunjukkan
sensitivitas tinggi (sebesar 90%) dalam mendeteksi kanker payudara, dengan
spesifisitas 72%. MRI memiliki kelebihan karena selain tidak menggunakan radiasi
pengion, juga baik dalam menentukan ukuran dan penyebaran kanker payudara.
3. Prosedur
Pemeriksaan payudara sendiri (sadari)
Berikut cara pemeriksaan payudara yang bisa dilakukan sendiri:
1. Inspeksi (melihat) payudara di muka cermin
Berdirilah di muka cermin, kemudian gantungkan kedua lengan secara lemas disisi
tubuh.Kesehatan Reproduksi Masalah Gangguan Pada Kesehatan Reproduksi Dan
Upaya Penanggulangannya Perhatikan apakah ada kelainan pada payudara, seperti :
a. ketidaktarikan kulit,
b. puting susu masuk ke dalam,
c. benjolan,
d. borok pada payudara,
e. perubahan warna kulit,
f. pori-pori yang melebar seperti kulit jeruk,
g. atau ketidaksamaan bentuk/besar payudara kanan dan kiri.
Kemudian angkat kedua lengan di samping kepala. Perhatikan apakah ada kelainan
atau ketidaksamaan gerakan payudara kanan-kiri pada saat lengan diangkat.
2. Pemeriksaan payudara oleh tenaga terlatih ( clinical breast examination / CBE)
Pada usia 20-30 th dianjurkan CBE setiap 3 tahun. Untuk wanita yang mendapat
kelainan saat SADARI ada benjolan dilakukan CBE sehingga dapat dipastikan ada
kemungkinan keganasan atau tidak. Pemeriksaan menggunakan alat seperti
Mamografi dan USG.
Teknologi Tepat Guna dalam KB
Teknologi kontrasepsi terkini:
Teknologi kontrasepsi terkini (TKT) atau Contraceptive Technology Update (CTU)
merupakan suatu upaya untuk pemutakhiran informasi dan teknologi kontrasepsi.
Tidaklah identic dengan menggunakan peralatan canggih dan piranti yang mahal. Istilah
ini di artikan sebagai teknologi tepat guna dan sesuai untuk institusi pelayanan dengan
sumber daya terbatas, dilaksanakan oleh petugas yang kompeten, dan memberi manfaat
maksimal bagi masyarakat atau keluarga yang membutuhkan pelayanan kontrasepsi yang
berkualitas.
1. Metode Sederhana Tanpa Alat
a. Metode kalender/pantang berkala
b. Suhu basal
c. Lender servik
d. MAL
2. Metode Sederhana (Menggunakan Alat)
Mekanis :
a. Kondom “Spray-on”
b. Kondom Spray
c. Pemanasan
- Suspensory
- External Heat
Kimiawi :
Di padukan penggunaannya dengan kondom atau alat kb mekanis lainnya.
3. Metode Modern
Hormonal :
a. Suntik KB pria
b. Desogestrel ( Koyo yang mengandung testoteron)
c. Androgen
d. Kombinasi androgen dan progestin
Non Hormonal :
a. Pil ekstrak tanaman gandarusa
b. Suntikan styrene maleic anyhidride (SMA)
c. Nifedipine
d. Ultrasound
4. Metode Kontrasepsi Jangka Panjang
a. Sub-dermal implant
- Implanon
Implanon (Organon, Oss, Netherlands) adalah kontrasepsi subdermal kapsul
tunggal yang mengandung etonogestrel (3-ketonogestrel), merupakan
metabolit desogestrel yang efek androgeriknya lebih rendah dan aktivitas
progestational yang lebih tinggi dari levenogestrel. Kapsul polimer (Ethyline
vinyl acetate) mempunyai tingkat pelepasan hormone yang lebih stabil dari
kapsul silastik norplant sehingga variabilitas kadar hormone dalam serum
menjadi lebih kecil.
- Jadelle (Norplant II)
b. Intrauterine Devices
- Hormonal
- Copper-bearing
5. Implan
a. Norplant (6 kapsul), berisi hormone levonogestrel, daya kerja 5 tahun
b. Norplant -2 (2 batang) , berisi hormone levonogestrel, daya kerja 3 tahun.
c. Norplant 1 batang, berisi hormone ST-1435, daya kerja 2 tahun
d. Norplant 1 batang, berisi hormone 3 keto desogestrel, daya kerja 2,5 tahun – 4
tahun.
6. AKDR/IUD
a. AKDR Nova-T
b. MIRENA
c. SKYLA
7. Metode Operasi
a. MOW (metode Operasi Wanita)
- Minilaparotomi
- Laparoskopi
- MOW tanpa sayatan (terbaru)
b. MOP (Metode Operasi Pria)
- RISUG (Reversible Inhibition Of Sperm Under Guidance)/ penghambatan
Sperma Reversible di bawah bimbingan
- Vasektomi
- Metode vasektomi tanpa pisau (VTP)
- Teknik yang lebih baru di lakukan dengan cara pembakaran (cauterisasi)
8. Metode Kontrasepsi yang lainnya

Klinik kespro dan IMS dalam pelayanan Reproduksi dan KB


Sesuai dengan Rogowsky (2007) bahwa teknologi tepat guna termaksud dalam
system organisional, yaitu teknologi yang di gunakan untuk menjamin penyampaian
pelayanan kesehatan yang relative dan efisien dan manfaat teknologi tepat guna mampu
meningkatkan taraf hidup serta kesejahteraan masyarakat.
Klinik kespro dan ims dalam pelayana reproduksi dan KB adalah suatu klinik
yang bergerak dan terjun langsung terhadap pasien di bidang kesehatan reproduksi yang
kaitannya dengan deteksi dini infeksi menular seksual dan melayani konseling secara
pribadi dan confetional (tertutup) serta mensosialisasikan pemakaian alat konstrasepsi
(Alat KB) bertujuan mencegah dan mengatur jarak kehamilan . Klinik kespro dan ims
adalah teknologi tepat guna yang menjamin penyampain pelayanan kesehatan dan
meningkatkan taraf hidup, kesejahteraan masyarakat.
Penelitian
1. Berdasarkan penelitian yang di lakukan klinik lavender terletak di PKM setu,
Tanggerang Selatan yang berdiri pada bulan April 2013, banyak masyarakat
mendatangi klnik lavender untuk berkonsultasi kesehatan reproduksi mereka dan
penggunaan alat KB. Banyak sekali kasus yang terjadi akibat penyimpangan seksual
sehingga dapat menularkan infekksi menular seksual dan HIV. Klinik lavender juga
melakukan konseling personal dan edukasi berupa penyuluhan aktifitas seksual yang
aman. Atas dasar itulah klinik kespro dalam pelayanan reproduksi dan KB sangat
berguna bagi masyarakat awam untuk mendapatkan edukasi, konsultasi yang mampu
meningkatkan kesejahteraan kesehatan pribadi dan masyarakat.
2. Berdasarkan penelitian PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia),
PKBI merupakan program layanan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan
reproduksi.
Peningkatan Kualitas Pelayanan Kesehatan Reproduksi (Klinik)
Klinik KB Terpadu dirintis pada tahun 1980, yang merupakan model pelayanan KB
lengkap yang diperuntukkan bagi masyarakat perkotaan. Pelayanan diberikan meliputi
kesehatan umum, kontrasepsi/Keluarga Berencana, laboratorium sederhana, pap smear,
infertilitas, pemeriksaan kehamilan, pelayanan persalinan, back up kegagalan kontrasepsi,
konseling, penelitian dan pelatihan kesehatan reproduksi.
Sejak tahun 2005, Klinik PKBI mencoba untuk memberikan pelayanan kesehatan
reproduksi dan kesehatan seksual yang terintegrasi dengan pelayanan IMS dan HIV.Saat
ini PKBI memiliki 55 klinik statis yang terdiri dari 20 klinik induk jaringan, 35 klinik
satelit/unit jaringan dan 6 mobile klinik yang tersebar di 20 propinsi di seluruh Indonesia.
Pada tahun 2005, klinik memberikan pelayanan kepada 33.376 akseptor baru, 36.641
akseptor aktif dan 47.353 klien non kontrasepsi. Sementara itu pada tahun 2006, klinik
memberikan pelayanan kepada 35.306 akseptor baru, 24.687 akseptor aktif dan 44.000
klien non kontrasepsi. Tahun 2002 – 2005, 20 klinik PKBI di 19 propinsi melaksanakan
perbaikan QOC (Quality of Care) pelayanan kesehatan reproduksi yang berbasis pada
hak klien dengan dukungan dana dari IPPF/Bill and Melinda Gates Foundation.
Penyaluran Kontrasepsi Mandiri
PKBI mulai merintis proyek Penyaluran Kontrasepsi melalui partisipasi masyarakat
/ PKPM pada tahun 1975. PKBI merintis proyek penyaluran kontrasepsi melalui
partisipasi masyarakat yang dimulai pada tahun 1974 – 1976 di propinsi Sulawesi
Selatan.
PKPM merupakan inovasi dalam pelayanan KB, dimana PKBI menyalurkan
kontrasepsi, sekaligus melakukan edukasi masyarakat tentang KB, khususnya di daerah-
daerah yang sulit dijangkau. Saat ini PKM dilaksanakan di Kalimantan Selatan,
Kalimantan Tengah, Jawa Tengan, Jawa Timur dan Bengkulu.
Program Layanan Keluarga Berencana (KB) dan Kesehatan Seksual dan
Reproduksi (Kespro) PKBI berlandaskan pada Rencana Strategis 2010-2020 strategi I,
yaitu mengembangkan model-model dan standar pelayanan kesehatan seksual dan
reproduksi yang berkualitas untuk memenuhi kebutuhan masyarakat
Area program strategi ini meliputi :
1. Menyediakan pelayanan kesehatan seksual dan reproduksi yang terjangkau oleh
seluruh lapisan masyarakat, termasuk difabel (seseorang dengan kemampuan berbeda)
dan kelompok marjinal termasuk remaja.
2. Menyediakan pelayanan penanganan kehamilan tak diinginkan yang komprehensif
yang terjangkau.
3. Mengembangkan standar pelayanan yang berkualitas di semua strata pelayanan,
termasuk mekanisme rujukan pelayanan kesehatan seksual dan reproduksi.
4. Melakukan studi untuk mengembangkan pelayanan yang berorientasi pada kepuasan
klien, pengembangan kapasitas dan kualitas provider.
5. Mengembangkan program penanganan kesehatan seksual dan reproduksi pada situasi
bencana, konflik dan situasi darurat lainnya.
6. Mengembangkan model pelayanan KB dan Kespro melalui pendekatan pengembangan
masyarakat
Area program ini dilaksanakan oleh bidang program Layanan KB dan Kespro
melalui 31 Klinik di 17 Provinsi, 30 Kabupaten/Kota. Selain layanan klinik statis, PKBI
juga menyelenggarakan layanan mobile klinik untuk menjangkau masyarakat lebih luas
dalam situasi normal maupun bencana.
Tujuan didirikannya Klinik Kesehatan Seksual dan Reproduksi yaitu :
1. Sebagai fasilitas layanan kesehatan yang memberikan layanan berkualitas, lengkap dan
terpadu (komprehensif) berupa kesehatan seksual dan reproduksi, keluarga berencana,
kesehatan keluarga dan pelayanan lainnya bagi masyarakat yang membutuhkan.
2. Memberikan layanan konseling, layanan remaja untuk mendorong peningkatan
kemandirian masyarakat dalam memenuhi Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi
(HKSR).
3. Beberapa prinsip dan nilai yang digenggam PKBI dalam menyediakan pelayanan KB dan
Kespro : (1) tanpa Diskriminasi dan Tidak menghakimi, (2) berbasis hak (right based),
(3) subsidi silang dan presentase alokasi (cross subsidize ), (4) berbasis counseling
(counseling based), (5) pelayanan yang ramah kepada semua (youth friendly services),
(6) Layanan klinik PKBI berdasarkan kebutuhan klien (client needs), (7) Layanan
Terintegrasi.
PROPOSAL

TEKNOLOGI TEPAT GUNA PADA PERSALINAN

OLEH :

KELOMPOK 5

8. ASTI NORMA (1802003P)


9. AULIA FITRI (1802133P)
10. NOER ROHMAWATI (1802144P)
11. SUSI ANDRIYANI (1802155P)
12. VIDA ARTA P.S (1802161P)
13. VINA DINATA K.A (1802162P)
14. YULIA HERLIANA (1802168P)

PROGRAM STUDI DIV KEBIDANAN KONVERSI


STIKES AISYIYAH PRENGSEWU
TAHUN 2018
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji dan syukur penyusun panjatkan atas kepastian ilmu Allah yang
tak terbatas sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal karya tulis ilmiah ini tepat pada
waktunya.Proposal karya tulis ilmiah ini berjudul “Proposal Teknologi Tepat Guna Pada
Persalinaan”. Adapun tujuan pembuatan proposal ini adalah untuk memenuhi salah satu
syarat memenuhi Ujian Tengah Semester pendidikan Diploma IV Bidan Konversi. Penulis
menyadari selama pembuatan Proposal ini, banyak menemukan hambatan dan kesulitan.
Namun atas segala bantuan, bimbingan dan arahan dari berbagai pihak, penulismampu
menyelesaikan proposal ini dengan baik. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih
kepada pihak-pihak yang telah membantu.
Penulis menyadari bahwa proposal ini masih jauh dari sempurna sehingga penulis
mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna penyempurnaan proposal ini
selanjutnya.
Pringsewu, Oktober 2018

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam rangka meningkatkan sistem usaha pembangunan masyarakat supaya lebih


produktif dan efisien, diperlukan teknologi. Pengenalan teknologi yang telah berkembang
di dalam masyarakat adalah teknologi yang telah dikembangkan secara tradisional, atau
yang dikenal dengan "teknologi tepat guna pada persalinan" atau teknologi sederhana dan
proses pengenalannya banyak ditentukan oleh keadaan lingkungan dan mata pencaharian
pokok masyarakat tertentu dalam persalinan.
Pertumbuhan dan perkembangan teknologi, ditentukan oleh kondisi dan tingkat isolasi
dan keterbukaan masyarakat serta tingkat pertumbuhan kehidupan sosial ekonomi
masyarakat tersebut. Untuk memperkenalkan teknologi tepat guna pada persalinan perlu
disesuaikan dengan kebutuhan, yaitu kebutuhan yang berorientasi kepada keadaan
lingkungan geografis atau propesi kehidupan masyarakat yang bersangkutan, seperti obat
apa yang di perlukan dan aman bagi ibu bersalin, alat dan procedure apa saja yang akan di
berikan kepada ibu bersalin. Teknologi yang demikian itu merupakan barang baru bagi
masyarakat dan perlu dimanfaatkan dan diketahui oleh masyarakat terutama ibu bersalin
tentang nilai dan kegunaannya. Teknologi tersebut merupakan faktor ekstern dan
diperkenalkan dengan maksud agar masyarakat yang bersangkutan dapat merubah
kebiasaan tradisional dalam proses pembangunan, persalinan atau peningkatan
kesejahteraan dalam persalinan dan ibu bersalin.
1.2 Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, adapun rumusan masalah yang di timbulkan adalah :
1. Apa saja teknologi tepat guna obat-obatan pada persalinan ?
2. Apa saja teknologi tepat guna alat-alat pada persalinan?
3. Apa saja teknologi tepat guna procedure pada persalinan?
4. Apa saja teknologi tepat guna system pada persalinan

1.3 Tujuan Penulisan


1.3.1 Tujuan Umum

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah diatas adalah, adapun tujuan
penulisan masalah ini adalah untuk mengetahui konsep dasar dari teknologi tepat
guna dalam praktik kebidanan dalam persalinan.

1.3.2 Tujuan Khusus

1.3.2.1 Di ketahui apa saja obat-obat dalam teknologi tepat guna pada persalinan
1.3.2.2 Di ketahui apa saja alat-lat dalam teknologi tepat guna dalam persalinan
1.3.2.3 Di ketahui apa saja prosedur dalam teknologi tepat guna dalam persalinan
1.3.2.4 Di ketahui apa saja system dalam teknologi tepat guna dalam persalinan
1.4 Manfaat Proposal
Adapun manfaat dari proposal ini adalah :
1.5.1 Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan hasil proposal ini dapat menambah referensi kepustakaan, sehingga dapat
memperluas wawasan pengunjung pustaka.
1.5.2 Bagi Peneliti
Menambah pengetahuan tentang penerapan teknologi tepat guna pada persalinan
berupa obat, alat, procedure dan system.
1.5.3 Bagi Mahasiswa
Dengan di ketahui apa saja kegunaan teknologi tepat guna dalam persalinan maka
mahasiswa dapat meningkat kan hasil belajar terutama dalam pelajaran teknologi
tepat guna kebidanan
1.5 Ruang Lingkup
Proposal ini mempelajari tentang teknologi tepat guna yang di terapkan pada persalinan,
dengan menambahkan teori teori teknologi tepat guna ibu bersalin yang di berikan obat,
alat, procedure, dan system pada persalinan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

TEKNOLOGI TEPAT GUNA PADA PERSALINAN


A. OBAT PADA SAAT PERSALINAN

Pereda Nyeri pada persalinan

1. Analgetika Inhalasi
Preparat gas ini akan menghasilkan analgetika intermiten pada saat timbulnya
kontraksi uterus (HIS). Reinolda menganjurkan pemberian hanya pada masa
transisi, kala dua persalinan, penjagitan perineum dan sementara menunggu
analgesia epidural untuk memberikan hasil yang efektif.
Efek samping :
Depresi sistem syaraf pusat (sedasi)
Halusinasi
Mual
Hipoksia
2. Apoid
Meperidin, meplazinol, diamorfin, nalokson
Opoid digunakan dalam persalinan, praedah, intrabedah, pasca bedah dan dalam
masa intensif untuk menghasilkan analgetika, sedasi serta pengurangan rasa cemas.
Efek samping :
Sistem saraf pusat (ssp)-fungsi yang lebih tinggi
Depresi
Penumpukkan sistem saraf pusat
3. Obat Anestesi lokal
Lignokain, Bupirakin
Obat-obat anestesi lokal memiliki peranan yang tertinggal dalam meredakan rasa nyeri
untuk jangka waktu yang singkat. Dalam kebidanan, obat-obatan tersebut diberikan
secara topikal, subkutan, infiltrasi di sekeliling serabut saraf yang tunggal
Efek samping :
Efek samping anestesi lokal berhubungan dengan kerja khususnya kemampuannya
untuk menghambat hanataran impuls dalam jaringan yang dapat tereksitasi. Obat
anestesi lokal akan menyekat saluran cepat ion natrium pada semua jaringan
penghambat impuls, yaitu : SSP, jantung dan sistem kardivaskular, sistem syaraf
perifer, sistem syaraf simpatis, otot polos, uterus, kandung kemih, usus, otot skelet,
telinga berdengung, perasaan yang aneh dalam mulut, kebingungan, penglihatan kabur
menggigil, keadan gelisah, entoria, gemetaran, mual, tremor, konuksi, depresi
pernapasan, koma dan kematian
4. Anti emetic
1. Antagonis
Antagonis D2 meliputi metoklopramid, haloperidol, domperindon, dan tenotiazin
seperti klorpromazin serta proklorperazin. Obat-obat ini memiliki potensi untuk :
Mengurangi emesis dan meningkatkan selera makan, mengubah motilitas
gastrointestinal, mendepresi SSP, mengganggu postur dan gerakan tubuh.
Efek samping :
Traktus gastrointestinal
Depresi SSP
Kelainan postur dan gerakan
Reaksi distonia akut
Efek samping peerkinsonian
Akathisia
Sindrom neurokleptik maligna
Efek samping kardiovaskular
SIADH (syndrom in appropriate ADH)
Efek samping antimuskular
2. Anti histamine
stilah ini dipakai untuk preparat antagonis reseptor H1Obat-obat golongan ini
dibagi menjadi :
a. Antihistamin yang menimbulkan sedasi : bromtenarimin, sinar zin, meklozin,
trimeprazin, siklizin, prometazin, klorteniramin.
b. Antihisamin yang tidak menimbulkan sedasi : setrizinter, tenadin, akrivastin dan
loratadin
Efek samping :
Obat-obat antihistamin yang menimbulkan sedasi akan menimbulkan efek
samping berhubungan dengan efek samping yang sama dimiliki pula oleh
obat-obat antemetik golongan fenoti azin, seperti prolaktor perazin antihistamin juga
mempengaruhi : SSP, sistem kardiovaskular, gangguan usus dan hati.
3. Anti ametik lainnya
a. Obat-obat antimuskarinik
Obat-obat anti muskarinik, seperti antropin dan hoisin umumnya merupakan obat
antiemetic pilihan kedua sesudah obat-obat antihistamin
b. Preparat anatagonis serotonis
Antagonis serotonin (SH3), seperti endansetron (zetran) dan granisteron (kytril),
merupakan preparat antimetik yang efektif
c. Piridoksin
Piridoksin ttelah di gunakan sebagai obat antimetik selama 40 tahun da mungkin
merupakan preparat yang aman serta efektif untuk pemakaian pada kehamilan
dini.
d. Kanabinoid
Kanabis di gunakan oleh oleh pada penderita sklrerosi diseminata untuk
meredakan rasa nyeri dan muntah.
Obat yang meningkatakan kontratiktilis uterus/oksitosin
1. Obat oksitosin
Obat-obat oksitosin yang digunakan di Inggris adalah prostaglandin E serta F,
oksitosin dan ergometrin. Obat-obat oksitosik banyak digunakan untuk induksi serta
penguatan persalinan, pencegahan serta penanganan perdarahan postpartum,
pengendalian perdarahan akibat abosrtyus inkoplentus dan penanganan aktif pada
kala 3 persalinan.
a. Prostaglandin
Prostaglandin merupakan substansi yang penting sebagai ”hormon lokal”.
Di Inggris prostaglandin yang sering digunakan dalam bidang kebidanan adalah :
1) Dinoproston
2) Carboprost
3) Gemeprost
4) Misoprostol
Efek samping :
1) Kontraksi otot polos-usus, pembuluh darah bronkiolus
2) Vasodilatasi dan hipotensi
3) Pireksia
4) Inflamasi
5) Sensirisasi terhadap rasa nyeri
6) Diuresis + kehilangan elektrolit
7) Efek dari sistem syaraf pusat
8) Pelepasan hormon hipofise, renin dan steroid adrenal
9) Inhibisi respons sistem syaraf otonom
10) Peningkatan tekanan intraokuler
b. Oksitosin
Oksitosin menaikan peranan yang sangat penting dalam persalinan dan ejeksi ASI.
Oksitosin bekerja pada seseptor oksitosik untuk menyebabkan :
1) Kontraksi uterus pada kehamilan aterm
2) Kontraksi pembuluh darah umbilikus
3) Kontraksi sel- sel mioepitel
Efek smaping oksitosik:
Bila oksitosin sintetik diberikan, kerja fisiologis hormon ini akan
bertambah sehingga dapat timbul efek samping yang potensial berbahaya.
Efek samping tersebut dapat dikelompokkan menjadi :
1) Stimulasi berlebih pada uterus
2) Kontraksi pembuluh darah tali pusat
3) Kerja pada pembuluh darah
4) Mual
5) Reaksi hipersensitifitas
Pemberian oksitosin akan mengganggu masuknya kepala janin ke dalam
serviks. Kontraksi uterus yang keras, lama serta kuat dapat menimbulkan konsekuensi
yang serius :
1. Trauma pada neonatus dan ibu
2. Puptura uteri
3. Perdarahan postpartum
4. Hematoma pelvik
5. Solusio plasenta
6. Emboli cairan amnion
7. Hipoksia fetal
c. Ergometrin
Merupakan jamur yang tumbuh pada tanaman rye (gandum hitam; gandum dan
pepadian lainnya.
Efek samping :
Seperti halnya dengan preparat ergot yang lain, ergometrin berinteraksi dengan
reseptor serotoniergik, noradrenergik, (alfa). Dan dopaminergik dengan cara yang
kompleks. Kerjanya pada reseptor serotonin serta alfa1diperkirakan melandasi
kontraktilitas uterus dan usus yang ditimbulkan oleh ergometrim. Efek sampingnya
diantaranya adalah :
- Kontraksi uterus
- Diare dan muntah
- Vasokomstriksi
- Inhibisi produksi prolaktin
- Efek ergometrin pada neonatus
- Hipersensitifitas

Obat yang menurunkan kontraktilitis uterus/ tokolitik


1. Preparat agonis adrenoreseptor beta2
Kelompok preparat golongan simpatomemetik ini meliputi ritodrin, terbutalin, salbutamil
dan adrenalin..
Efek samping :
Efek samping obat-obat tokolitik / relaksan uterus terjadi karena stimulsi pada
adrenoreseptor beta2, yang mengenai :
 Sistem kardiovaskuler
 Sistem renin angiotensin
 Sistem syaraf pusat
 Otot polos pada banyak organ
 Kelenjar yang mensekresikan mucus
 Proses metabolism

2. Penyakit saluran kalsium (terutama nifedipine)


Obat-obat penyekat saluran kalsium (obat-obat antagonis kalsium) dapat diresepkan
oleh dokter untuk keperluan tokolisis dan penanganan hipotensi.
Efek samping :
 Hipotensi -> iskemia
 Edema paru
 Vasodilatasi
 Masalah gastrointestinal
 Reaksi hipersensitivitas
 Pemberian ASI

3. Antosidan
Preparat ini diindikasikan untuk tokolisis dengan pembtasan yang sama
seperti yang diberlakukan pada obat-obat tokolitik lainnya
Efek samping :
 Muntah
 Hipertensi
 Sakit kepala
 Hiperglikemia

4. Kortikosteroid dan Tokolisis


Obat-obat golongan kortikosteroid banyak digunakan dalam penatalaksanan
persalinan yang premature.
Efek samping
Efek samping ini cenderung timbul dengan cepat
-Masalah kardiovaskuler
-Gangguan metabolik
-hiperglikemia
-Masalah sistem saraf pusat

Efek samping ini cenderung timbul dalam jangka waktu yang lebih lama
-Kerja anti inflamasi
-infeksi
-Gangguan metabolit
-Supresi adrenal

B. ALAT

1. Message
Massage adalah tindakan penekanan oleh tangan pada jaringan lunak, biasanya otot
tendon atau ligamen, tanpa menyebabkan pergeseran atau perubahan posisi sendi guna
menurunkan nyeri, menghasilkan relaksasi, dan/atau meningkatkan sirkulasi. Gerakan-
gerakan dasa meliputi : gerakan memutar yang dilakukan oleh telapak tangan,gerakan
menekan dan mendorong kedepan dan kebelakang menggunakan tenaga,menepuk-
nepuk,memotong-motong,meremas-remas, dan gerakan meliuk-liuk. Setiap gerakan-
gerakan menghasilkan tekanan, arah, kecepatan, posisi tangan dan gerakan yang
berbeda-beda untuk menghasilkan efek yang di inginkan pada jaringan yang dibawahnya
(Henderson, 2006).
Metode Message
Beberapa metode message yang biasa digunakan untuk merangsang saraf yang
berdiameter besar yaitu :
a. Metode effleurage
Memperlakukan pasien dalam posisi setengah duduk, lalu letakkkan keduan
tangan pada perut dan secara bersamaan digerakkan melingkar kearah pusat
simpisis atau dapat juga menggunakan satu telapak tangan menggunakan gerakan
melingkat atau satu arah.
b. Metode deep back massage
memperlakukan pasien berbaring miring, kemudian bidan atau keluarga pasien
menekan daerah secrum secara mantap dengan telapak tangan, lepaskan dan
tekan lagi, begitu seterusnya.
c. Metode firm counter pressure memperlakukan pasien dalam kondisi duduk kemudia
bidan atau keluarga pasien menekan secrum secara bergantian dengan tangan
yang dikepalkan secara mantap dan beraturan.
d. Abdominal lifting memperlakukan pasien dengan cara membaringkan pasien pada
posisi terlentang dengan posisi kepala agak tinggi. Letakkan kedua telapak
tangan pada pinggang belakang pasien, kemudian secara bersamaan lakukan
usapan yang berlawanan kearah puncak perut tanpa menekan kearah dalam,
kemudian ulangi lagi. Begitu seterusnya (Gadysa, 2009).

Metode message effleurage


Ada dua cara dalam melakukan teknik Effleurage, yaitu : a) Secara perlahan sambil
menekan dari area pubis atas sampai umbilikus dan keluar mengelilingi abdomen bawah
sampai area pubis, ditekan dengan lembut dan ringan dan tanpa tekanan yang kuat, tapi
usah akan ujung jari tidak lepas dari permukaan kulit. Pijatan dapat dilakukan beberapa kali,
saat memijat harus diperhatikan respon ibu apakah tekanan sudah tepat. b). Pasien dalam
posisi atau setengah duduk, lalu letakkan kedua telapak tangan Pada perut dan secara
bersamaan digerakkan melingkar kearah pusat kesimpisis atau dapat juga menggunakan satu
telapak tangan dengan gerakkan melingkar atau satu arah. Cara ini dapat dilakukan langsung
oleh pasien (Gadysa, 2009).

Metode message abdominal lifting


Metode massage abdominal lifting adalah dengan cara : membaringkan pasien pada
posisi terlentang dengan posisi kepala agak tinggi. Letakkan kedua telapak tangan pada
pinggang belakang pasien, kemudian secara bersamaan lakukan usapan yang berlawanan
kearah puncak perut tanpa menekan kearah dalam, kemudian ulangi lagi. Begitu
seterusnya (Gadysa, 2009).

- Relaksasi
Relaksasi merupakan kebebasan mental dan fisik dari ketegangan dan stress. Teknik
relaksasi memberikan individu control diri ketika terjadi rasa tidak nyaman atau nyeri, stress
fisik dan emosi pada nyeri.Teknik relaksasi dapat digunakan saat individu dalam
kondisi sehat atau sakit . Teknik relaksasi tersebut merupakan upaya pencegahan untuk
membantu tubuhsegar kembali dan beregenerasi setiap hari dan merupakan alternative
terhadap alcohol, merokok, atau makan berlebihan.Relaksasi otot rangka dipercaya dapat
menurunkan nyeri dengan merelaksasikan keteganggan otot yang mendukung rasa
nyeri. Teknik relaksasimungkin perlu diajarkan beberapa kali agar mencapai hasil
optimal.Dengan relaksasi pasien dapat mengubah persepsi terhadap nyeri.

Relaksasi merupakan metode yang efektif terutama pada pasien yang mengalami nyeri
kronis. Latihan pernafasan dan teknik relaksasi menurunkan konsumsi oksigen, frekuensi
pernafasan, frekuensi jantung, dan ketegangan otot, yang menghentikan siklus nyeri-
ansietas-ketegangan otot (McCaffery, 1989) Ada tiga hal utama yang diperlukan dalam
relaksasi, yaitu : posisi yang tepat, pikiran beristirahat, lingkungan yang tenang. Posisi pasien
diatur senyaman mungkin dengan semua bagian tubuh disokong (misal; bantal
menyokong leher),Pasien menarik napas dalam dan mengisi paru-paru dengan udara
Perlahan-lahan udara dihembuskan sambil membiarkan tubuh menjadi kendor dan
merasakan dan merasakan betapa nyaman hal tersebut. Pasien bernapas beberapa kali
dengan irama normal. Pasien menarik napas dalam lagi dan menghembuskan pelan-pelan
dan membiarkan hanya kaki dan telapak kaki yang kendor.

Perawat minta pasien untuk mengkonsentrasikan pikiran pasien pada kakinya yang
terasa ringan dan hangat Pasien mengulang langkah ke-4 dan mengkonsentrasikan pikiran
pada lengan perut, punggung dan kelompok otot-otot yang lain. Setelah pasien merasa rileks,
pasien dianjurkan bernapas secara pelan-pelan. Bila nyeri menjadi hebat, pasien dapat
bernapas dangkal dan cepat. Teknik relaksasi terutama efektif untuk nyeri kronik.
Ada beberapa keuntungan relaksasi, antara lain :
1. Relaksasi akan menurunkan ansietas yang berhubungan dengan nyeri atau stress
2. Menurunkan nyeri otot
3. Menolong individu untuk melupakan nyeri
4. Meningkatkan periode istirahat dan tidur
5. Meningkatkan keefektifan terapi nyeri lain
6. Menurunkan perasaan tak berdaya dan depresi yang timbul akibat nyeri

- Distraksi
Tehnik distraksi adalah pengalihan dari fokus perhatian terhadap nyeri ke stimulus
yang lain. Tehnik distraksi dapat mengatasi nyeri berdasarkan teori bahwa aktivasi
retikuler menghambat stimulus nyeri. jika seseorang menerima input sensori yang
berlebihan dapat menyebabkan terhambatnya impuls nyeri ke otak (nyeri berkurang atau
tidak dirasakan oleh klien),. Stimulus yang menyenangkan dari luar juga dapat
merangsang sekresi endorfin, sehingga stimulus nyeri yang dirasakan oleh klien menjadi
berkurang. Peredaan nyeri secara umum berhubungan langsung dengan partisipasi aktif
individu, banyaknya modalitas sensori yang digunakan dan minat individu dalam
stimulasi, oleh karena itu, stimulasi penglihatan,pendengaran dan sentuhan mungkin
akan lebih efektif dalam menurunkan nyeri dibanding stimulasi satu indera saja (Tamsuri,
2007).
Mengalihkan perhatian terhadap nyeri, efektif untuk nyeri ringan sampai sedang.
Distraksi visual (melihat TV atau pertandingan bola), distraksi audio (mendengar musik),
distraksi pendengaran (mendengarkan musik, suara burung serta gemerick air), distraksi
pernafasan, distraksi intelektual (merangkai puzzle, main catur).

Jenis –jenis distraksi antara lain :


1. Distraksi Visula
Melihat pertandingan, menonton televisi, membaca koran, melihat pemandangan dan
gambar termasuk distraksi visual.
2. Distraksi pendengaran
Diantaranya mendengarkan musik yang disukai atau suara burung serta gemercik
air, individu dianjurkan untuk memilih musik yang disukai dan musik tenang seperti
music klasik,dan diminta untuk berkosentrasi pada lirik dan irama lagu. Klien juga
diperbolehkan untuk menggerakkan tubuh mengikuti irama lagu seperti bergoyang,
mengetukkan jari atau kaki. (Tamsuri, 2007).
Musik klasik salah satunya adalah music Mozart.Dari sekian banyak karya musik klasik,
sebetulnya ciptaan milik Wolfgang Amadeus Mozart (1756-1791) yang paling
dianjurkan. Beberapa penelitian sudah membuktikan, Mengurangi tingkat ketegangan
emosi atau nyeri fisik. Penelitian itu di antaranya dilakukan oleh Dr. Alfred Tomatis
dan Don Campbell. Mereka mengistilahkan sebagai “Efek Mozart”.
Dibanding musik klasik lainnya, melodi dan frekuensi yang tinggi pada karya-
karya Mozart mampu merangsang dan memberdayakan daerah kreatif dan motivatif
diotak. Yang tak kalah penting adalah kemurnian dan kesederhaan musik Mozart itu
sendiri. Namun, tidak berarti karya komposer klasik lainnya tidak dapat digunakan
(Andreana, 2006).
3. Distraksi pernafasan
Bernafas ritmik, anjurkan klien untuk memandang fokus pada satu objek atau
memejamkan mata dan melakukan inhalasi perlahan melalui hidung dengan
hitungan satu sampai empat dan kemudian menghembuskan nafas melalui mulut secara
perlahan dengan menghitung satu sampai empat (dalam hati). Anjurkan klien untuk
berkosentrasi pada sensasi pernafasan dan terhadap gambar yang memberi
ketenangan, lanjutkan tehnik ini hingga terbentuk pola pernafasan ritmik.
Bernafas ritmik dan massase, instruksi kan klien untuk melakukan pernafasan
ritmik dan pada saat yang bersamaan lakukan massase pada bagaian tubuh yang
mengalami nyeri dengan melakukan pijatan atau gerakan memutar di area nyeri.

4. Distraksi intelektual
Antara lain dengan mengisi teka-teki silang, bermain kartu, melakukan kegemaran (di
tempat tidur) seperti mengumpulkan perangko, menulis cerita.
- Imajinasi terbimbing
imajinasi terbimbing adalah kegiatan klien membuat suatu bayangan
yang menyenangkan dan mengonsentrasikan diri pada bayangan tersebut serta
berangsur-angsur membebaskan diri dari dari perhatian terhadap nyeri.Imajinasi
terbimbing merupakan salah satu jenis dari teknik relaksasi sehingga manfaat dari
teknik ini pada umumnya sama dengan manfaat dari teknik relaksasi yang lain.
Para ahli dalam bidang teknik imajinasi terbimbing berpendapat bahwa imajinasi
merupakan penyembuh yang efektif.Teknik ini dapat mengurang nyeri, mempercepat
penyembuhan dan membantu tubuh mengurangi berbagai macam penyakit seperti
depresi, alergi dan asma (Holistic-online,2006).
Imajinasi terbimbing merupakan sebuah teknik relaksasi yang bertujuan untuk
mengurangi stress dan meningkatkan perasaan tenang dan damai serta merupakan
obat penenang untuk situasi yang sulit dalam kehidupan. Imajinasi terbimbing
atau imajinasi mental merupakan suatu teknik untuk mengkaji kekuatan pikiran
saat sadar maupun tidak sadar untuk menciptakan bayangan gambar yang membawa
ketenangan dan keheningan (National Safety Council,2004).
Meminta klien berimajinasi membayangkan hal-hal yang menyenangkan,
tindakan ini memerlukan suasana dan ruangan yang tenang serta konsentrasi dari
klien. Apabila klien mengalami kegelisahan, tindakan harus dihentikan. Tindakan
ini dilakukan pada saat klien merasa nyaman dan tidak sedang nyeri akut.

Manfaat imajinasi terbimbing


imajinasi terbimbing merupakan salah satu jenis dari teknik relaksasi sehingga
manfaatd ari teknik ini pada umumnya sama dengan manfaat dari teknik relaksasi
yang lain. Para ahli dalam bidang teknik imajinasi terbimbing berpendapat bahwa
imajinasi merupakan penyembuh yang efektif. Teknik ini dapat mengurangi nyeri,
mempercepat penyembuhan dan membantu tubuh mengurangi berbagai macam
penyakit seperti depresi, alergi dan asma (Holistic online,2006).

Dasar Imajinasi terbimbing


Imajinasi merupakan bahasa yang digunakan oleh otak untuk berkomunikasi
dengan tubuh. Segala sesuatu yang kita lakukan akan diproses oleh tubuh melalui
bayangan. Imajinasi terbentuk melalui rangasangan yang diterima oleh berbagai
indera seperti gambar aroma, rasa suara dan sentuhan (Holistic-online,2006). Respon
tersebut timbul karena otak tidak mengetahui perbedaan antara bayangan dan aktifitas
nyata.Penelitian membuktikan bahwa dengan menstimulasi otak melalui imajinasi
dapat menimbulkan pengaruh langsung pada system saraf dan endokrin(Tusek, 2000).
Proses asosiasi manajemen
Imajinasi terbimbing merupakan suatu teknik yang menuntut seseorang
untuk membentuk sebuah bayangan/imajinasi tentang hal-hal yang disukai.
Imajinasi yang terbentuk tersebut akanditerima sebagai rangsang oleh berbagai indra,
kemudian rangsangan tersebut akan dijalankan ke batang otak menuju sensor
thalamus. Ditalamus rangsang diformat sesuai dengan bahasa otak, sebagian kecil
rangsangan itu ditransmisikan ke amigdala dan hipokampus sekitarnya dan sebagian
besar lagi dikirim ke korteks serebri, dikorteks serebri terjadi proses asosiasi
pengindraan dimana rangsangan dianalisis, dipahami dan disusun menjadi sesuatu
yang nyata sehingga otak mengenali objek dan arti kehadiran tersebut.
Hipokampus berperan sebagai penentu sinyal sensorik dianggap penting atau tidak
sehingga jika hipokampus memutuskan sinyal yang masuk adalah penting maka
sinyal tersebut akan disimpan sebagai ingatan.

Hal–hal yang disukai dianggap sebagai sinyal penting oleh hipokampus


sehingga diproses menjadi memori. Ketika terdapat rangsangan berupa bayangan
tentang hal –hal ang disukai tersebut, memori yang telah tersimpan akan muncul
kembali dan menimbulkan suatu persepsi dari pengalaman sensasi yang sebenarnya,
walaupun pengaruh/akibat yang timbul hanyalah suatu memori dari suatu sensasi
(Guyton&Hall, 1997).
Amigdala merupakan area perilaku kesadaran yang bekerja pada tingkat bawah
sadar. Amigdala berproyeksi pada jalur system limbic seseorang dalam hubungan
dengan alam sekitar dan pikiran. Berlandaskan pada informasi ini, amigdala
dianggap membantu menentukan pola respon perilaku seseorang sehingga dapat
menyesuaikan diri dengan setiap keadaan. Dari hipokampus rangsangan yang telah
mempunyai makna dikirim ke amigdala. Amigdala mempunyai serangkaian tonjolan
dengan reseptor yang disiagakan untuk berbagai macam neurotransmitter yang
mengirim rangsangan kewilayah sentralnya sehingga terbentuk pola respons perilaku
yang sesuai dengan makna rangsangan yang diterima (Guyton&Hall, 1997).

Macam teknik imajinasi terbimbing


Berdasarkan pada penggunaannya terdapat bberapa macam teknik imajinasi
terbimbing (holistic-online.2006) :
1. Guided Walking Imagery
teknik ini ditemukan oleh psikoleuner. Pada teknik ini pasien dianjurkan untuk
pemandangan standar seperti padang rumput, pegunungan, panta dll. kemudian
imajinasi pasien dikaji untuk mengetahui sumber konflik.

2. Autogenic Abeaction
Dalam teknik ini pasien diminta untuk memilih sebuah perilaku negatif
yang ada dalam pikirannya kemudian pasien mengungkapkan secara verbaltanpa
batasan. Bila berhasil akan tampak perubahan dalam hal emosional dan raut muka
pasien
3. Covert sensitization
Teknik ini berdasar pada paradigma reinforcement yang menyimpulkan
bahwa proses imajinasi dapat dimodifikasi berdasarkan pada prinsip yang sama
dalam modifikasi perilaku.
4. Covert Behaviour Rehearsal
Teknik ini mengajak seseorang untuk mengimajinasikan perilaku koping
yang dia inginkan. Teknik ini lebih banyak digunakan.

- Hipnosis
Bagi banyak orang, kata menghipnotis mengingatkan permainan salon atau tindakan
klub malam, di mana seorang pria dengan menonton ayun mendapatkan relawan untuk
berjalan seperti ayam atau menyalak seperti anjing. Tapi hipnosis klinis, atau medis
lebih menyenangkan. Ini adalah keadaan yang berubah kesadaran yang digunakan oleh
terapis berlisensi untuk mengobati masalah psikologis atau fisik. Hipnosisi membantu
mengubah persepsi nyeri melalui pengaruh sugesti positif.

Selama hipnosis, bagian sadar otak sementara disetel keluar sebagai orang yang
berfokus pada relaksasi dan melepaskan pikiran yang mengganggu. Selama
hipnosis, American Society of Clinical penghipnotis menyamakan hipnotis untuk
menggunakan kaca pembesar memfokuskan sinar matahari dan membuat mereka lebih
kuat. Ketika pikiran kita terkonsentrasi dan terfokus, kita dapat menggunakannya lebih
kuat. Ketika terhipnotis, seseorang bisa mengalami perubahan fisiologis seperti perlambatan
denyut nadi dan respirasi, dan peningkatan gelombang otak alpha. Orang mungkin juga
menjadi lebih terbuka terhadap saran spesifik dan tujuan seperti mengurangi rasa sakit.
Pada tahap pasca-saran, terapis memperkuat pemakaian yang berkelanjutan atas perilaku
baru.
Manfaat Hiposis :
Penelitian telah menunjukkan hipnosis medis untuk membantu untuk nyeri akut dan
kronis. Pada tahun 1996, sebuah panel dari Institut Kesehatan Nasional menemukan hipnotis
untuk menjadi efektif dalam mengurangi nyeri kanker. penelitian terkini telah
menunjukkan efektivitas untuk nyeri yang berkaitan dengan luka bakar, kanker, dan
rheumatoid arthritis dan pengurangan kecemasan yang terkait dengan operasi. Analisa
dari 18 studi oleh para peneliti di Mount Sinai School of Medicine di New York
mengungkapkan moderat untuk efek penghilang rasa sakit besar dari hipnosis,
mendukung efektivitas teknik hipnosis untuk manajemen nyeri.
Jika Anda ingin mencoba hipnosis, Anda dapat mengharapkan untuk melihat praktisi
sendiri untuk suatu program perawatan panjang selama satu jam atau setengah jam, meskipun
beberapa praktisi bisa dimulai dengan konsultasi lagi awal dan menindaklanjuti dengan 10 -
to 15-menit janji. terapis Anda dapat memberi saran pasca-hipnotis yang
akan memungkinkan Anda untuk mendorong self-hypnosis setelah program pengobatan
selesai.Untuk menemukan hipnoterapis, berbicara dengan dokter Anda atau hubungi
American Society of Clinical Hypnosis.
a. Meditasi
Meditasi melibatkan menggunakan sejumlah teknik kesadaran untuk
membantu menenangkan pikiran dan bersantai tubuh.Dua teknik yang paling umum
adalah :
1. Meditasi transendental. Pasien mengulangi satu kata atau frase disebut mantra dan
diajarkan untuk memungkinkan pikiran lain dan perasaan untuk lulus.
2. Mindfulness Meditasi. Meditasi kesadaran. Orang yang memfokuskan semua
perhatian nya pada pikiran dan sensasi.Bentuk meditasi sering diajarkan
dalam program-program pengurangan stres.

- Kompres hangat/dingin

Area pemberian kompres panas dan dingin bisa menyebabkan respon sestemik dan
respon local. Stimulasi ini mengirimkan impuls-impuls dari perifer ke hipotalamus
yang kemudian menjadi sensasi temperature tubuh secara normal (Potter dan Perry, 1997).
Tubuh kita dapat menoleransi variasi temperature yang luas. Temperature permukaan
kulit yang normal 34◦C, tetapi temperature penerima biasanya beradaptasi dengan cepat ke
temperature local melebihi batas ini.
Efek dari kompres hangat dan dingin memberikan respon fisiologis yang berbeda.
Efek dari kompres hangat untuk meningklatkan aliran darah ke bagian yang terinjuri.
Pemberian kompres hangat yang berkelanjutan berbahaya terhadap sel epitel,
menyebabkan kemerahan, kelemahan local, dan bisa terjadi kelepuhan. Kompres hangat
diberikan satu jam atau lebih.
Efek dari kompres dingin dapat refleks vasodilatasi. Sel tidak mampu untuk
menerima aliran darah dan nutrisi secara adekuat sehingga menimbulkan iskemikini diawali
dengan kulit yang kemerahan diikuti kebiruan dan kekakuan karena dingin, sebagian
tipe nyeri yang dirasa seperti terbakar. (Potter dan Perry, 1997).
Kompres panas adalah memberikan rasa hangat pada daerah tertentu dengan
menggunakan cairan atau alat yang menimbulkan hangat pada bagian tubuh
yang memerlukan. Tindakan ini selain untuk melancarkan sirkulasi darah juga
untuk menghilangkan rasa sakit, merangsang peristaltic usus, pengeluaran getah radang
menjadi lancer, serta memberikan ketenangan dan kesenangan pada klien. Pemberian
kompres dilakukan pada radang persendian, kekejangan otot, perut kembung, dan kedinginan

Kompres dingin adalah memberi rasa dingin pada daerah setempat dengan
menggunakan kain yang dicelupkan pada air biasa atau air es sehingga memberi efek
rasa dingin pada daerah tersebut. Tujuan diberikan kompres dingin adalah
menghilangkan rasa nyeri akibat odema atau truma, mencegah kongesti kepala,
memperlambat denyutan jantung, mempersempit pembuluh darah dan mengurangi arus
darah local. Tempat yang diberikan kompres dingin tergantung lokasinya. Selama
pemberian kompres, kulit klien diperiksa setelah 5 menit pemberian, jika dapat ditoransi
oleh kulit diberikan selama 20 menit.

C. Prosedure
- Gentle Brith

Gentle Birth adalah konsep persalinan yang santun, tenang, dan alami, yang bertujuan
untuk mempersiapkan ibu hamil agar tetap tenang dan rileks saat melahirkan.
Konsep ini melibatkan praktik senam hamil, olah pernapasan, serta self hypnosis
yang rutin dilakukan sejak awal masa kehamilan hingga menuju persalinan.
Biasanya proses persalinan yang disarankan dalam Gentle Birth adalah persalinan
normal per vagina yang dapat dilakukan diatas tempat tidur, atau di dalam bak
mandi air hangat ( water birth ), dengan atau tanpa bimbingan instruktur
hypnobirthing yang akan membantu memandu proses persalinan menjadi lebih
rileks, mudah, dan gentle.

Tentu saja, prinsip dari Gentle Birth bukanlah menghilangkan rasa sakit. Setiap
proses persalinan pasti melibatkan 'sensasi yang kuat' pada fisik. Yang perlu
dipersiapkan dalam persalinan Gentle Birth adalah mengolah tubuh, pikiran, emosi
selama masa kehamilan agar calon ibu siap menghadapi persalinan secara fisik, mental,
dan spiritual.

Tentu saja, prinsip dari Gentle Birth bukanlah menghilangkan rasa sakit. Setiap
proses persalinan pasti melibatkan 'sensasi yang kuat' pada fisik. Yang perlu
dipersiapkan dalam persalinan Gentle Birth adalah mengolah tubuh, pikiran, emosi
selama masa kehamilan agar calon ibu siap menghadapi persalinan secara fisik, mental,
dan spiritual.Mungkin ada beberapa wanita sempat mengalami trauma dengan
persalinan yang menyakitkan sebelumnya, atau calon ibu baru yang sangat
terpengaruh dengan cerita-cerita tentang pengalaman ibu lainnya yang mengalami ‘sakit
ini atau itu’ saat melahirkan. Yang terpenting dalam mengatasi ketakutan pada proses
kelahiran adalah mengubah persepsi tentang pengalaman yang tidak menyenangkan
tentang kehamilan dan persalinan. Merubah persepsi menjadi positif secara langsung
akan memperbaiki cara pandang seseorang terhadap pengalaman tersebut, dan
membuatnya lebih siap secara mental untuk menghadapinya.
Namun dibalik semua alasan di atas, Gentle Birth menjadi sesuatu yang sangat ‘hebat’
saat ini ( dan bahkan menjadikan Ibu Robin Lim, praktisi pendamping Gentle
Birth, sebagai pahlawan dunia ) bukan karena akan menyelamatkan ibu dari rasa
sakit akibat melahirkan. Ada alasan lainnya yang perlu dipertimbangkan oleh semua
calon orang tua, bahwa Gentle Birth dilakukan sematamata demi kesejahteraan bayi
yang akan dilahirkan. Itulah tujuan utama dari Gentle Birth.Ada alasan lainnya yang
perlu dipertimbangkan oleh semua calon orang tua, bahwa Gentle Birth dilakukan
semata-mata demi kesejahteraan bayi yang akan dilahirkan. Itulah tujuan
utama dari Gentle Birth.

Jadi, Gentle Birth bukan semata-mata tentang melahirkan tanpa rasa sakit, melainkan
persalinan lembut yang bertujuan demi kesejahteraan bayi -manusia di masa depan -
yang akan dilahirkan ke dunia. Diharapkan melalui proses persalinan yang lembut dan
alami akan menciptakan bahagia dalam diri anak, yang memperkuat rasa
penghargaan diri dan kesejahteraannya. Saat seseorang bahagia maka ia
dapat mengajak orang-orang disekelilingnya turut bahagia. Kurang lebih itulah
pesan yang disampaikan oleh Ibu Robin Lim dalam film semi dokumenter
biografinya Guerilla Midwives, bahwa Peace begins witheach child ( damai dimulai
dari diri setiap anak ), bahwa setiap anak berpeluang menjadi the agent of change menuju
perdamaian di masa depan.

- Posisi persalinan

Posisi litotomi
Posisi litotomi (berbaring) adalah posisi melahirkan yang paling umum di Indonesia. Ibu
hamil diminta telentang dengan menggantungkan kedua pahanya pada penopang khusus
untuk bersalin.
Keuntungan :
Secara psikologis, pilihan posisi melahirkan yang lazim dilakukan di tanah air ini
membuat ibu merasa lebih mantap karena yang ada dalam persepsinya posisi
melahirkan memang seperti itu. Posisi ini pun membuat dokter leluasa membantu
proses persalinan karena jalan lahir menghadap ke depan. Dokter/bidan lebih mudah
mengukur perkembangan pembukaan sehingga persalinan bisa diprediksi lebih akurat.
Bila diperlukan tindakan episiotomi, dokter lebih leluasa melakukannya; hasil
pengguntingan lebih bagus, terarah, dan sayatan bisa diminimalkan. Posisi kepala bayi
pun lebih mudah dipegang dan diarahkan.

Kekurangan :
Bila ini adalah kali pertama ibu melahirkan, posisi berbaring berpeluang menyulitkan
ibu untuk mengejan. Bagaimanapun, gaya berat tubuh yang berada di bawah dan sejajar
dengan posisi bayi menyulitkannya untuk mengejan. Posisi ini juga berpeluang
mengakibatkan perineum (daerah antara anus dan vagina) meregang sedemikian rupa
sehingga menyulitkan persalinan. Posisi ini membuat letak pembuluh besar berada di
bawah posisi bayi dan tertekan oleh massa bayi. Apalagi kalau letak ari-ari juga berada
di bawah bayi, ini akan membuat tekanan pada pembuluh darah menjadi tinggi dan
menimbulkan perlambatan peredaran darah balik ibu. Pengiriman oksigen melalui darah
yang mengalir dari ibu ke janin melalui plasenta pun relatif berkurang.

Water Birth

hamil sudah masuk bukaan 5-6, dengan dibantu dokter/perawat, ibu hamil dimasukkan
ke kolam khusus yang dipastikan kebersihan dan sterilisasinya. Temperatur air harus
sesuai dengan suhu tubuh ibu, tidakkurang atau lebih, untuk mencegah terjadinya
temperature shock saat bayi meluncur ke air.
Keuntungan :
Kelebihan utama melahirkan di air adalah ibu sangat relaks, karena adanya relaksasi
semua otot tubuh, terutama otot-otot yang terkait dengan proses persalinan. Mengejan
menjadi lebih mudah dan tidak merasakan sakit seperti proses persalinan lainnya.
Jangan khawatir bayi akan "tenggelam" begitu lahir, sebab selama dalam kandungan
pun sejatinya bayi hidup di dalam air ketuban ibu.
Kekurangan :
Risiko air tertelan oleh bayi sangat besar, karena itu proses ini membutuhkan kesiapan
semua pihak, baik peralatan yang digunakan maupun dokter kandungan/perawat/dokter
anak yang langsung mengecek keadaan bayi begitu lahir. Bila prosesnya berlangsung
terlalu lama, ibu bisa mengalami hipotermia atau suhu tubuh terlalu rendah.

Posisi Jongkok
Keuntungan:
Posisi ini menguntungkan karena pengaruh gravitasi tubuh, ibu tak harus bersusah
payah mengejan. Bayi akan keluar lewat jalan lahir dengan sendirinya.
Kekurangan:
Bila tidak disiapkan dengan baik, posisi jongkok amat berpeluang membuat kepala
bayi cedera, sebab bayi bisa "meluncur" dengan cepat. Supaya hal ini tidak terjadi, biasanya
sudah disiapkan bantalan yang empuk dan steril untuk menahan kepala dan
tubuh bayi. Dokter/bidan pun sedikit kesulitan bila harus membantu persalinan
melalui episiotomi atau memantau perkembangan pembukaan.

Posisi setengah duduk


Posisi setengah duduk juga posisi melahirkan yang umum diterapkan di berbagai
rumah sakit/klinik bersalin di Indonesia. Posisi ini mengharuskan ibu duduk dengan
punggung bersandar bantal, kaki ditekuk dan paha dibuka ke arah samping.
Keuntungan:
Posisi ini membuat ibu merasa nyaman. Sumbu jalan lahir yang perlu ditempuh
untuk bisa keluar lebih pendek. Suplai oksigen dari ibu ke janin berlangsung optimal.
Kekurangan:
Posisi ini bisa menyebabkan keluhan pegal di punggung dan kelelahan, apalagi kalau
proses persalinannya lama.

Posisi lateral (miring)


Posisi ini mengharuskan ibu hamil berbaring miring ke kiri atau ke kanan.Salah satu
kaki diangkat sedangkan kaki lainnya dalam keadaan lurus. Biasa dilakukan bila
posisi kepala bayi belum tepat. Normalnya posisi ubun-ubun bayi berada di depan
jalan lahir, menjadi tidak normal bila posisi ubun-ubun berada di belakang atau samping.
Miring ke kiri atau ke kanan tergantung posisi ubun-ubun bayi. Jika di kanan, ibu diminta
miring ke kanan dengan harapan bayinya akan memutar. Posisi ini juga bisa
digunakan bila persalinan berlangsung lama dan ibu sudah kelelahan dengan posisi
lainnya.
Keuntungan:
Peredarah darah balik ibu mengalir lancar. Pengiriman oksigen dalam darah ibu ke
janin melalui plasenta tidak terganggu. Karena tidak terlalu menekan, proses
pembukaan berlangsung perlahan-lahan sehingga persalinan relatif lebih nyaman.
Kekurangan:
Posisi ini membuat dokter/bidan sedikit kesulitan membantu proses persalinan.
Kepala bayi lebih sulit dipegang atau diarahkan. Bila harus melakukan episiotomi pun
posisinya lebih.

D. SYSTEM

- P4K ( PROGRAM PERENCANAAN PERSALINAN DAN PENCEGAHAN KOMPLIKASI)


P4K dengan Stiker adalah merupakan suatu kegiatan yang di fasiliotasi oleh Bidan di desa
dalam rangka peran aktiv suami, keluarga dan masyarakat dalam merencanakan
persalinan yang aman dan persiapan menghadapi komplikasi bagi ibu hamil, termasuk
perencanaan penggunaan KB pasca persalinan dengan menggunakan stiker sebagai media
notifikasi sasaran dalam rangka meningkatkan cakupan dan mutu pelayanan kesehatanbagi ibu
dan bayi baru lahir.

Adapun Tujuan khusus adanya program P4K adalah :


1. Terdatanya status ibu hamil dan terpasangnya stiker P4K disetiap rumah ibu hamil yang
memuat informasi ttg : lokasi tempat tinggal ibu hamil, identitas ibu hamil, taksiran
persalinan, penolong persalinan, pendamping persalinan, fasilitas tempat persalinan,
calon donor darah, transportasi yg akan digunakan serta pembiayaan.
2. Adanya perencanaan persalinan
3. Terlaksananya pengambilan keputusan yang cepat dan tepat bila terjadi komplikasi
selama, hamil, bersalin maupun nifas.
4. Meningkatnya keterlibatan tokoh masyarakat baik formal maupun non formal, dukun,
klpk masyarakat, dalam perencanaan dan pencegahan komplikasi dengan stiker, KB
pasca salin dengan perannya masing masing.
Manfaat :
1. Mempercepat berfungsinya desa siaga
2. Meningkatkan cakupan pelayanan ANC sesuai standart
3. Meningkatnya cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan terampil
4. Meningkatnya kemitraan bidan dan dukun
5. Tertanganinya kejadian komplikasi secara dini
6. Meningkatnya peserta KB pasca salin
7. Terpantaunya kesakitan dan kematian ibu dan bayi.
8. Menurunnya kejadian kesakitan dan kematian ibu serta bayi

Komponen P4K dengan stiker :


Fasilitas aktiv oleh Bidan :
1. Pencatatan ibu hamil
2. Dasolin/ tubulin
3. Donor darah
4. Transport/ ambulan desa
5. Suami/ keluarga menemani
ibu pada saat bersalin
6. IMD
7. Kunjungan nifas
8. Kunjungan rumah

Operasional P4K dengan stiker di tingkat Desa


a. Memanfaatkan pertemuan bulanan tingkat desa/ kelurahan
b. Mengaktifkan forum peduli KIA
c. Kontak dengan ibu hamil dan keluarga dalam pengisian stiker
d. Pemasangan stiker dirumah ibu hamil
e. Pendataan jumlah ibu hamil di wilayah desa
f. Pengelolaan donor darah dan sarana transportasi/ ambulan desa
g. Penggunaan, pengelolaan, dan pengawasan tabulin/ dasolin
h. Pembuatan dan penandatanganan amanat persalinan.
- Tabulin
Tabungan Ibu Bersalian (Tabulin)
Tabungan ini sifatnya insidensial, keberadaannya terutama pada saat mulainya
kehamilan dan dapat berakhir pada saat seorang ibu sudah melahirkan. Tabungan ini akan
sangat membantu terutama bagi ibu hamil dan keluarganya pada saat menghadapi persalinan
terutama masalah kendala biaya sudah dapat teratasi.
Secara psikologis ibu akan merasa tenang menghadapi saat persalinan dan karena
pengelolaan. Tabulin ini biasanya oleh tokoh masyarakat atau petugas kesehatan, maka akan
menjamin akses ibu kepada petugas kesehatan. Perlindungan pembiayaan kesehatan sendiri
seharusnya dimiliki setiap orang pada setiap fase kehidupannya.

Tujuan
-Menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Indonesia
-Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat terutama ibu hamil
-Memotivasi masyarakat terutama ibu hamil, menyisihkan sebagian dananya untuk ditabung
sebagai persiapan persalinan

Manfaat Tabulin
Keberhasilan pemberdayaan perempuan di sektor kesehatan juga terlihat pada indicator
persalinan yang di tolong medis. Intervensi yang dilakukan adalah mengiatkan penyuluhan
masyarakat , khususnya di pedesaan dan menyediakan lebih banyak lagi pusat “ pelayanan
Kesehatan Masyarakat “ bersama tenaga medisnya. Pemberdayaan perempuan di sector
kesehatan telah berhaisl meningkatkan usia harapan hidup perempuan. Salah satu
kegiatan ini adalah membuat tabungan ibu bersalin ( tabulin ).

Tabulin adalah salah satu program kesehatan yang dinilai sangat positif karena langsung
menyentuh masyarakat. Tabungan yang bersifat social ini sangat membantu warga, terutama
yang ekonominya lemah. Program ini sangat tepat dan efektif dalam upaya meningkatkan
kesehatan masyarakat.Warga tidak akan merasa terbebani dalam mendukung program
tersebut karena penggalangan dana tabungan di lakukan melalui pola jimpitan (
sejenis iuran sukarela ).

Adapun manfaat dari tabulin, antara lain :


1.Sebagai tabungan atau simpanan itu yang digunakan untuk biaya persalinan atau
sesudah persalinan.
2.Ibu dan keluarga tidak merasa terbebani terhadap biaya persalinan.

Keberhasilan pemberdayaan perempuan di sektor kesehatan juga terlihat pada indikator


persalinan yang ditolong medis. Intervensi yang dilakukan adalah menggiatkan penyuluhan
ke tengah masyarakat, khususnya di pedesaan dan menyediakan lebih banyak lagi pusat
“Pelayanan Kesehatan Masyarakat”, bersama tenaga medisnya. Pemberdayaan perempuan di
sektor kesehatan telah berhasil meningkatkan usia harapan hidup perempuan. Salah satu kegiatan
isi adalah membuat tabungan ibu bersalin (Tabulin), Tabulin adalah salah satu Program
Kesehatan yang dinilai sangat positif langsung menyentuh masyarakat.

Tabungan yang bersifat sosial ini sangat membantu warga, terutama mereka yang
berekonomi lemah. Program ini sangat tepat dan efektif dalam upaya
meningkatkankesehatan masyarakat. Warga tidak akan merasa terbebani dalam mendukung
program tersebut karena penggalangan dana tabungan dilakukan melalui polajimpitan
(sejenis iuran sukarela).

Melalui Tabulin, bumil diharapkan bisa menabung sehingga saat melahirkan tidak
mengalami kesulitan biaya persalinan karena sudah ada dana tabungan tersebut. Tabulin
merupakan upaya yang sangat baik untuk menurunkan angka kematian ibu. Meskipun
demikian, cara ini belum 100 % menjamin ibu hamil selamat dari maut.
Tabungan Bersalin (Tabulin) sudah dimulai sebelum ada desa Siaga. Kita menerangkan ke Ibu
Hamil dan keluarganya tentang kegunaan Tabulin, meskipun orang kaya. Justru orang kaya
tersebut harus memberikan contoh kepada orang-orang yang tidak mampu menabung,dan
ibu hamil tersebut diberikan buku yang dibawa setiap pemeriksaan. Tabungan itu dibentuk
berdasarkan RW atau Posyandu. Bila Posyandu di suatu tempat ada empat, maka
tabungannya ada empat di desa tersebut.

Kita juga harus menentukan jumlah tabungan ibu hamil setiap minggunya dan memberi
penjelasan kepada ibu hamil betapa pentingnya manfaat Tabulin sehingga ibu hamil
mempunyai kesadaran untuk membayar Tabulin. Banyak sekali hal yang sebenarnya
kelihatan kecil atau sepele, seperti menyiapkan tabungan, kemudian menyiapkan tetangga
yang bisa mengantar pada saat terjadinya persalinan secara tiba-tiba. Hal ini bisa
menginspirasi banyak masyarakat agar di masa mendatang Tabulin dapat tersosialiasai
dengan baik di masyarakat.

Tahapan Tabulin
1. Ibu yang sudah mengetahui kehamilannya, diminta mulai menabung untuk
persalinannya.
2. Tabulin merupakan tabungan keluarga, bukan tanggung jawab ibu yang harus
menyisihkan uang untuk persalinannya, tetepai suami juga harus menabung untuk
dana persalinan. Terutama bagi keluarga yang penghasilannya tunggal
(suami yang berpenghasilan). Jadi perlu ada kesepakatan dengan suami.
3. Jika ibu hamil menngalami kesulitan menyampaikan kepada suami, maka anggota
SIAGA (Siap Antar Jaga) lain perlu membicarakannya dengan para suami dalam
pertemuan -pertemuan desa, pertemuan para bapak, ataupun pendekatan secara
individual.
4. Waktu perkiraan persalian sudah dapat diketahui sehingga ibu atau keluarga
mampu memperkirakan kapan dana akan digunakan. Jika simpanan tidak berupa
uang, ibu dan keluarga harus bisa memperkirakan kapan simpanan bisa diuangkan,
misalnya menjual hasil panen, menjual ternak.
5. abulin dalam bentuk uang, dapat disimpan dibank, dirumah, atau pada
bidan.Tabulin dapat diisi dengan mencicil. Tbulin yang disimpan pada bidan dapat
dititipkan pada saat pemeriksaan kehamilan.

Peran kader disini adalah menyarankan atau memotivasi ibu agar mempunyai
persiapan persalinan.

- Ambulan desa
Ambulans desa adalahmobil milik warga yang secara sukarela disiagakan untuk
membantu ibu hamil yang telah tiba masa persalinannya atau ibu hamil yang
diharuskan untuk memeriksakan diri ke fasilitas yang lebih memadai dari apa yang
ada di tempat ia tinggal.

Tujuan Ambulance Desa


1.Tujuan Umum
Membantu mempercepat penurunan AKI karena hamil,
Nifas dan melahirkan.
2.Tujuan Khusus
Mempercepat pelayanan kegawat daruratan masa1ah kesehatan, bencana serta
kesiapsiagaan mengatasi masalah kesehatan yang terjadi atau mungkin terjadi

Sasaran Ambulance Desa


Pihak-pihak yang berpengaruh terhadap perubahan prilaku individu dan keluarga
yang dapat menciptakan iklim yang kondusif terhadap perubahan prilaku tersebut.
Semua individu dan keluarga yang tanggap dan peduli terhadap permasalahan kesehatan
dalam hal ini kesiapsiagaan memenuhi sarana transportasi sebagai ambulan desa.
Kriteria Ambulance Desa
1.Kendaraan yang bermesin yang sesuai standart ( mobil sehat ).
2.Mobil pribadi,perusahaan, pemerintah pengusaha .
3.ONLINE (siap pakai)

ndikator Proses Pembentukan Ambulance Desa


1.Ada forum kesehatan yang aktif
2.Gerakan bersama atau gotong royong oleh masyarakat dalam upaya mencegah dan
mengatasi masalah kesehatan, bencana serta kegawatdaruratan kesehatan dengan
pengendalian faktor resikonya
3.UKBM berkualitas
4.Pengamatan dan pemantauan masalah kesehatan
5.Penurunan kasus masalah kesehatan bencana atau kegawatdaruratan kesehatan
DAFTAR PUSTAKA

Ambarwati,EnyRetna.2009.Asuhan Kebidanan Komunitas.Yogyakarta: Nuha Medika

AWHONN (2011).Health information technology for the perinatal setting.


JOGNN,40 : 383-385.Doi: 10.1111/j.1552-69090.2011.01246.

Bazar, A, Theodorus, Aziz, Azhari (2012). Maternal mortality and contributing


risk factors. Indonesian Journal Obstetric Gynecology, Volume 36/1 : 8-13

Chen W, Fang Lz, Chen LY, & Dai HL (2008) Compariso of an SMS text messaging
and phone reminder to improve attendance at a health promotio center a randomized
controlled trial. J zhejiang Univ Sci B: 9 (1) : 34-38

Cormick, G, Kim, N.A, Rodgers, A.Gibbons, L, Buejkens, P.M, Belizan, J.M,


Althabe F (2012).Interest of pregnant women in the us of SMS (short message
service) text messages for the improvement of perinatal and postnatal care
reproductive health, 9 (9). http://www.Reproductive-health-journal.com/content/9/1/9

Dra Suryana, 1996. Keperawatan Anak Untuk Siswa SPK : EGC, Jakarta

Dunia Healt Assembeley XXI;"Nasional dan Global SURVEILENS Penyakit


menular", Geneva: WHO, 1968

Jurnal Sosioteknologi Edisi 13 tahun 7, April 2008


Mubarak, Wahit Iqbal dan Nurul Chayatin. 2008. Buku Ajar Kebutuhan Dasar
Manusia Teori & Apikasi dalam Praktik. Jakarta: Kedokteran EGC

Potter & Perry.2005.Buku Ajar Fundamental Keperawatan.Jakarta:Kedokteran EGC.

Syafruddin, dkk, 2009. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Masyarakat Untuk


Mahasiswa. CV.Transinfo media : Jakarta

(http://bappeda.kutaikartanegarakab.go.id/bidang/Inkesra_4_2008_Kesehatan.pdf)

(http://www.slemankab.go.id/file/lakip/13Meningkatnya-derajat-kesehatan-masy.pdf)

(http://sitisaripuspita.wordpress.com/2009/05/25/teknologi-tepat-guna-ttg-kesehatan/)

REFERENSI

Bahiyatun. (2009). Buku ajar kebidanan nifas normal. Jakarta: EGC

Dorheim, K. S., Bondevik, G. T., Eberhard-Gran, M., & Bjorvatn B. (2009a). Sleep and
depression in postpartum women: a population-based study. US: US National Library of
Medicine National Institute of Health. Diperoleh tanggal 18 Oktober 2018 dari
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2704916/

Dorheim, K. S., Bondevik, G. T., Eberhard-Gran, M., & Bjorvatn B. (2009b). Subjective and
objective sleep among depressed and non-depressed postnatal women. Acta Psychiatria
Scandnavica,119. Diperoleh pada 18 Oktober 2018 dari
http://www.researchgate.net/publication/23288881_Subjecive_and_objective_sleep_amon
g_depressed_and_nondepressed_postnatal_women
James, J., Baker, C., & Swain, H. (2008). Prinsip-prinsip sains untuk keperawatan. Jakarta:
Penerbit Erlangga

Koensoemardiyah. (2009). A-Z aromaterapi untuk kesehatan, kebugaran dan kecantikan.


Yogyakarta: Lily Publisher.

Martiyana, Cati dkk. 2014. Pengetahuan Dan Praktek Bidan Desa Pasca Pelatihan Deteksi Dini
Kasus Gaki Di Kabupaten Temanggung. Magelang : MGMI

Setyaningsih, Rahayu dkk. 2015. Hubungan Pijat Bayi Dengan Perkembangan Motorik Bayi
Usia 1-12 Bulan Di Desa Pundungsari Bulu Sukoharjo. Sukoharjo : Kosala.

Suhana, L. (2010). Kebutuhan dasar ibu nifas. Diperoleh tanggal 18 Oktober 2018 dari
http://blogs.unpad.ac.id/lidyasuhana/files/2010/04/Kebutuhan-dasar-ibu-nifas-PTM-6.pdf

Sulistyawati, A. (2009). Buku ajar asuhan kebidanan pada ibu nifas. Yogyakarta: ANDI
OFFSET

Syafruddin, dkk, 2009. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Masyarakat Untuk Mahasiswa. CV.Transinfo
media : Jakarta
Jurnal Sosioteknologi Edisi 13 tahun 7, April 2008 htth://jirzizaidan.wordpress.com/kebidanan/
World Healt Assembeley XXI; “National and Global SURVEILENS of communicable Disease”,
Geneva: WHO, 1968
http://www.slemankab.go.id/filr/lakip/13Meningkatkan-derajat-kesehatan-masy.pdf
Teknologi tepat guna terampil.pdf
Basari, M.S. 2008. Teknologi di Nusantara. Jakarta: Salemba Teknika.

Feeny.D. 1986. New Health Technologies : Their effect on Health and the cost of Health Care.
Dlam : D. Feeney; G. Guyatt; Tugwell, P (eds) : Health Care Technology : Effective, Efficiency,
and Public Policy. Montreal: The Institute for Research on Public Policy. Hal 5 – 24.
Hall. A. R. 2002. Technology. Dalam: Anonymous, Encyclopedia Americana, Connecticut,
Grolier. Vol. 26 : 357.

Rogowski. W. 2007. Current impact of gene technology on healthcare. A map of economic


assessment. Health Policy, 80 : 340 – 357

Tugwell, P., Bennett, K., Feeny, D., Guyatt, G., Haynes, R.B. 1986. A frame work for the
evaluation of technology : The technology assesment iterative loap. In : David, F., Gordon, G.,
Peter, T. (eds). Health Care Technology : Effectiveness, Eficiency, and Public Policy. Montreal :
The institute for Research on Public Policy, hal . 41-56