Anda di halaman 1dari 29

Analisis Standar Akuntansi

Persediaan – PSAK 14
(Studi Kasus “Tinjauan Atas Metode Pencatatan Persediaan
Barang Activation Banded pada PT. Kurnia Perkasa Selaku
Bussines Partner PT. Unilever Indonesia. Tbk”)

Disusun Oleh :
Kelompok IV
Ayu Rohmunawati 2013.35.2292
Efi Musliani 2013.35.2328
Faiz Nurul Alfiyah 2013.35.2303
Risqy Hasya Farisia 2016.35.3500

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI AHMAD DAHLAN


2016
Jalan Ciputat Raya No. 77 Cireundeu Ciputat, Tangerang Selatan
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang,
Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah dengan
judul “Analisis Standar Akuntansi pada Persediaan – PSAK 14 ”.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
penyusunan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan
baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan
terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki
makalah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah tentang “Analisis Standar Akuntansi pada
Persediaan – PSAK 14” ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

Jakarta, September 2016

Penyusun

0|Persediaan – PSAK 14
Daftar Isi

KATA PENGANTAR..........................................................................................................................1
BAB I PENDAHULUAN....................................................................................................................3
1.1 Latar Belakang Masalah.....................................................................................................3
1.2 Rumusan Masalah...............................................................................................................5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI............................................................6
2.1 Pengertian Persediaan.........................................................................................................6
2.2 Pengukuran Persediaan.......................................................................................................7
2.4 Rumus Biaya......................................................................................................................10
2.5 Pengertian Jasa..................................................................................................................14
2.6 Jenis-Jenis Jasa..................................................................................................................15
2.3 Karakteristik Jasa..............................................................................................................16
2.5 Pengakuan Sebagai Beban................................................................................................19
2.6 Pengungkapan....................................................................................................................19
BAB III METODOLOGI PENELITIAN........................................................................................20
3.1 Desain Penelitian................................................................................................................20
3.2 Sumber Data.......................................................................................................................21
3.3 Metode Pengumpulan Data...............................................................................................21
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN............................................................................................22
4.1 Karakteristik Penelitian....................................................................................................22
4.2 Prosedur persediaan barang masuk dan keluar pada PT.Kurnia Perkasa...................22
4.3 Metode penilaian dan pencatatan persediaan barang activation banded pada PT.
Kurnia Perkasa..................................................................................................................24
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN.............................................................................................27
5.1 Kesimpulan.........................................................................................................................27
5.2 Saran...................................................................................................................................28
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................................................28

1|Persediaan – PSAK 14
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Di Era Globalisasi perkembangan perekonomian berkembang dengan sangat


pesat. Berkembangnya perekonomian di Indonesia tidak lepas dari semua kegiatan
perusahaan baik di bidang perusahaan dagang, perusahaan manufaktur maupun
perusahaan jasa. Setiap kegiatan usaha memiliki tujuan yang berbeda-beda dengan cara
pencapaian tujuan yang berbeda-beda. Berkembangnya perekonomian di Indonesia dapat
mempengaruhi peluang usaha setiap perusahaan yang semakin meningkat, sehingga
membuat perusahaan lebih bersaing guna mempertahankan kelangsungan hidup
usahanya, bahkan untuk memperluas kegiatan usaha perusahaan tersebut.

Dengan meningkatnya setiap kegiatan usaha dan munculnya berbagai


perusahaan, baik perusahaan industri, perusahaan dagang maupun perusahaan jasa, akan
menimbulkan banyak persaingan di dunia usaha. Dengan demikian, manajemen
perusahaan di haruskan mengambil keputusan atau kebijakan-kebijakan yang dapat
mempertahankan segala kegiatan usahanya. Persaingan yang semakin ketat membuat
manajemen perusahaan harus mengatur kebijakan atas asset yang dimiliki oleh
perusahaan terutama asset lancar yang merupakan elemen penting yang dapat menunjang
aktifitas operasional perusahaan.

Dengan daya saing di sektor usaha yang semakin meningkat, harus semakin baik
pula perusahaan dalam memanajemen segala kegiatan yang dapat membuat perusahaan
tidak mengalami penurunan penjualan maupun penurunan jumlah konsumen. Sama
halnya dengan perusahaan dagang, perusahaan jasa juga banyak bersaing untuk
mendapatkan konsumen dan mendapatkan laba sebanyak-banyaknya. Berbagai cara
banyak yang di lakukan oleh perusahaan guna meningkatkan penjualan dan
meningkatkan jumlah konsumen.

PT. Kurnia Perkasa adalah salah satu perusahaan yang kegiatan usahanya
bergerak dibidang pengelolaan jasa tenaga kerja (ountsourcing/alih daya), jasa

2|Persediaan – PSAK 14
transportasi, jasa percetakan, advertising dan printing, serta event organizer dan juga
dibidang lainnya. Perusahaan ini bekerja sama dengan PT. Unilever Indonesia.Tbk dalam
meningkatkan penjualan produk yang ada di PT. Unilever Indonesia.Tbk. Selain itu, PT.
Kurnia Perkasa juga menyediakan tenaga kerja yang di butuhkan PT. Unilever
Indonesia.Tbk dalam memasarkan produknya dan meningkatkan penjualan produk yang
ada. Sama halnya dengan perusahaan lain, dalam memasarkan produknya, PT. Unilever
Indonesia. Tbk banyak melakukan upaya agar produk yang di pasarkan dapat terjual dan
dapat meningkatkan konsumennya. Salah satu kegiatan yang di lakukan oleh
PT.Unilever Indonesia. Tbk adalah dengan melakukan sistem banded. Banded sendiri
adalah, salah satu usaha memasarkan produk atau meningkatkan omset penjualan dengan
cara membuat produk tersebut dengan kemasan yang baru.

Dalam produk banded ini juga dimaksudkan untuk tujuan promosi produk
tertentu misalnya, ( membeli produk 1 dan mendapat bonus 1), (membuat kemasan baru
dengan isi produk 2-3 dengan harga terjangkau) atau (membuat kemasan baru dengan isi
produk 2-3 dan mendapatkan hadiah). Banded juga di lakukan dalam produk-produk
terbaru guna memperkenalkan produk tersebut kepada konsumen atau masyarakat luas.
Berikut adalah data banded yang dilakukan di dua store oleh PT. Kurnia Perkasa dalam
banded produk sariwangi. Banded tersebut dilakukan dalam 5 week untuk di dua store,
yaitu Hypermart Lampung dan Giant Spm Mall Kartini Lampung yang dilaksanakan
pada week 26-30.

Dalam catatan banded yang telah di lakukan oleh PT.Kurnia Perkasa selama 5
week di atas sudah berjalan dengan baik dan banded sudah terpenuhi. Namun, proses
banded telah mengalami keterlambatan akibat terlambatnya pengiriman barang yang
dilakukan oleh PT.Unilever Indonesia.Tbk. berdasarkan uraian latar belakang di atas,
maka peneliti bermaksud untuk menyusun laporan akhir yang berjudul:“TINJAUAN
ATAS METODE PENCATATAN PERSEDIAAN BARANG ACTIVATION
BANDED PADA PT. KURNIA PERKASA SELAKU BUSSINES PARTNER PT.
UNILEVER INDONESIA. Tbk”.

3|Persediaan – PSAK 14
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang diatas , maka peneliti merumuskan masalah
sebagai berikut:
1. Apakah prosedur penerimaan dan pengeluaran barang pada PT. Kurnia Perkasa sudah
sesuai dengan peraturan perusahaan dan PSAK No.14?
2. Bagaimanakah metode penilaian dan pencatatan persediaan barang activation banded
yang di gunakan oleh PT. Kurnia Perkasa?

1.3 Tujuan Penelitian


Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian makalah ini adalah sebegai berikut:
1. Untuk mengetahui pencatatan persediaan barang activation yang digunakan pada PT.
Kurnia Perkasa.
2. Untuk mengetahui apakah prosedur penerimaan dan pengeluaran persediaan barang
activation sudah sesuai dengan peraturan yang berlaku di PT. Kurnia Perkasa.

1.4 Manfaat Penelitian

Kegunaan penelitian dalam penyusanan makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Kegunaan Akademis
a. Bagi penulis: untuk memenuhi persyaratan dalam mencapai gelar sarjana
ekonomi strata satu (S1) pada Sekolah Tinggi Ekonomi Ahmad Dahlan.
b. Bagi perguruan tinggi: penelitian ini berguna untuk menilai mahasiswa dalam
memahami ilmu pengetahuan yang diperoleh dan menerapkannya dalam
praktek.
2. Kegunaan Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan (input) atau dapat mengevaluasi
sistem informasi persediaan yang telah diberlakukan di perusahaan agar sistem
informasi persediaan bisa berjalan efisien dan efektif dan sistem pengendalian intern
agar berjalan dengan baik.

BAB II

4|Persediaan – PSAK 14
TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Persediaan


Di dalam PSAK 14 Persediaan adalah aset:
- Tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha biasa;
- Dalam proses produksi untuk penjualan tersebut; atau
- Dalam bentuk bahan atau perlengkapan untuk digunakan dalam proses produksi
atau pemberian jasa.

Nilai realisasi neto adalah estimasi harga jual dalam kegiatan usaha biasa dikurangi
estimasi biaya penyelesaian dan estimasi biaya yang diperlukan untuk membuat
penjualan.

Nilai wajar adalah harga yang akan diterima untuk menjual suatu asset atau harga yang
akan dibayar untuk mengalihkan suatu liabilitas dalam transaksi teratur antara pelaku
pasar pada tanggal pengukuran.

Nilai realisasi neto mengacu pada jumlah neto yang diharapkan entitas untuk direalisasi
dari penjualan persediaan dalam kegiatan usaha biasa. Nilai wajar mencerminkan suatu
harga dimana transaksi teratur untuk menjual persediaan yang sama di pasar utama
(atau paling menguntungkan) untuk persediaan tersebut akan terjadi antara pelaku pasar
pada tanggal pengukuran. Nilai realisasi neto adalah nilai spesifik entitas sedangkan
nilai wajar tidak bergantung pada nilai spesifik entitas. Nilai realisasi neto untuk
persediaan dapat tidak sama dengan nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual.

Persediaan meliputi barang yang dibeli dan dimiliki untuk dijual kembali termasuk,
sebagai contoh, barang dagangan yang dibeli oleh pengecer untuk dijual kembali, atau
pengadaan tanah dan properti lainnya untuk dijual kembali. Persediaan juga meliputi
barang jadi yang diproduksi, atau barang dalam penyelesaian yang akan digunakan
dalam proses produksi. Bagi perusahaan jasa, persediaan meliputi biaya jasa seperti
dideskripsikan dalam paragraph 19, dimana entitas belum mengakui pendapatan yang
terkait (lihat PSAK 23: Pendapatan).

2.2 Pengukuran Persediaan


Di dalam PSAK 14 persediaan diukur pada mana yang lebih
rendah antara biaya perolehan dan nilai realisasi neto.
1. Biaya Persediaan
Biaya persediaan terdiri dari seluruh biaya pembelian, biaya konversi dan biaya lain
yang timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan lokasi saat kini.
2. Biaya Pembelian
Biaya pembelian persediaan meliputi harga beli, bea impor, pajak
lainnya (selain yang dapat ditagih kembali setelahnya oleh entitas

5|Persediaan – PSAK 14
kepada otoritas pajak), biaya pengangkutan, biaya penanganan dan
biaya lainnya yang secara langsung dapat diatribusikan pada
perolehan barang jadi, bahan dan jasa. Diskon dagang, rabat, dan
hal serupa lain yang dikurangkan dalam menentukan biaya
pembelian.

3. Biaya Konversi
Biaya konversi persediaan meliputi biaya yang secara langsung
terkait dengan unit yang diproduksi, seperti biaya tenaga kerja
langsung. Termasuk juga alokasi sistematis overhead produksi tetap
dan variabel yang timbul dalam mengkonversi bahan menjadi
barang jadi.
Overhead produksi tetap adalah biaya produksi tidak langsung
yang relatif konstan, tanpa memperhatikan volume produksi yang
dihasilkan, seperti penyusutan dan pemeliharaan bangunan dan
peralatan pabrik, dan biaya manajemen dan administrasi pabrik.
Overhead produksi variabel adalah biaya produksi tidak
langsung yang berubah secara langsung, atau hamper secara
langsung, mengikuti perubahan volume produksi, seperti bahan
tidak langsung dan biaya tenaga kerja tidak langsung.
Pengalokasian overhead produksi tetap ke biaya konversi
didasarkan pada kapasitas fasilitas produksi normal. Kapasitas
normal adalah produksi rata-rata yang diharapkan akan tercapai
selama suatu periode atau musim dalam keadaan normal, dengan
memerhitungkan hilangnya kapasitas selama pemeliharaan
terencana. Tingkat produksi aktual dapat digunakan jikan mendekati
kapasitas normal. Pengalokasian jumlah overhead produksi tetap
pada setiap unit produksi tidak bertambah sebagai akibat dari
rendahnya produksi atau tidak terpakainya pabrik. Overhaid yang
tidak teralokasi diakui sebagai beban pada periode terjadinya.
Dalam periode produksi tinggi yang tidak normal, jumlah overhead

6|Persediaan – PSAK 14
tetap yang dialokasikan pada tiap unit produksi menjadi berkurang
sehingga persediaan tidak diukur diatas biayanya. Overhead
produksi variabel dialokasikan pada unit produksi atas dasar
penggunaan aktual fasilitas produksi.
Suatu proses produksi mungkin menghasilkan lebih dari satu
jenis produk secara simultan. Hal tersebut terjadi, sebagai contoh,
ketika dihasilkan produk bersama atau bila terdapat produk utama
dan produk sampingan. Ketika biaya konversi tidak dapat
diidentifikasi secara terpisah, maka biaya tersebut dialokasikan atar
produk secara rasional dan konsisten. Pengalokasian dapat
didasarkan pada, sebagai contoh, perbandingan harga jual untuk
masing-masing produk, baik pada tahap proses produksi pada waktu
produk telah dapat diidentifikasikan secara terpisah atau pada saat
produksi telah selesai. Sebagian besar produk sampingan, pada
hakekatnya tidak material. Ketika kasusnya demikian, produk
sampingan seringkali diukur pada nilai realisasi neto dan nilai
tersebut dapat mengurangi biaya produk utama. Sebagai akibatnya,
jumlah tercatat produk utama tidak berbeda secara material dari
biayanya.

4. Biaya lain
Biaya-biaya lain yang termasuk biaya persediaan hanya sepanjang
biaya tersebut timbul agar persediaan berada dalam kondisi dan
lokasi saat kini. Sebagai contoh dalam keadaan tertentu
diperkenankan untuk memasukkan overhead nonproduksi atau
biaya perancangan produk untuk pelanggan tertentu sebagai biaya
persediaan.

Contoh biaya-biaya yang dikeluarkan dari biaya persediaan dan


diakui sebagai beban dalam periode terjadinya adalah:
a) Jumlah yang tidak normal atas pemborosan bahan, tenaga kerja,
atau biaya produksi lainnya;

7|Persediaan – PSAK 14
b) Biaya penyimpanan, kecuali biaya tersebut diperlukan dalam proses
produksi sebelum dilanjutkan pada tahap produksi selanjutnya;
c) Biaya administrasi dan umum yang tidak memberikan kontribusi
utnuk membuat persediaan berada dalam kondisi dan lokasi saat
kini; dan
d) Biaya penjualan

PSAK 26: Biaya pinjaman menentukan keadaan terbatas dimana biaya pinjaman
termasuk dalam biaya persediaan.

Entitas mungkin membeli persediaan dengan persyaratan penyelesaian tangguhan.


Ketika pengaturan secara efektif mengandung elemen pembiayaan, maka elemen
tersebut sebagai contoh perbedaan antara harga beliuntuk persyaratan kredit normal
dan jumlah yang dibayarkan, diakui sebagai beban bunga selama periode pembiayaan.

5. Biaya Persediaan Pemberi Jasa


Sepanjang pemberi jasa memiliki persediaan, mereka mengukur persediaan tersebut
pada biaya produksinya. Biaya persediaan tersebut terutama terdiri dari biaya tenaga
kerja dan biaya personalia lainnya yang secara langsung menangani pemberian jasa,
termasuk personalia penyelia, dan overhead yang dapat diatribusikan. Biaya tenaga
kerja dan biaya lainnya yang terkait dengan personalia penjualan dan administrasi
umum tidak termasuk sebagai biaya persediaan tetapi diakui sebagai beban pada
periode terjadinya. Biaya persediaan pemberi jasa tidak termasuk marjin laba atau
overhead yang tidak dapat diatribusikan yang seringkali merupakan faktor
pembebanan harga oleh pemberi jasa.

2.3 Teknik Pengukuran Biaya


Teknik pengukuran biaya persediaan, seperti metode biaya standar atau
metode eceran, demi kemudahan dapat digunakan jika hasilnya mendekati biaya. Biaya
standar memperhitungkan tingkat normal penggunaan bahan dan perlengkapan, tenaga
kerja, efisiensi dan utilisasi kapasitas. Biaya standar ditelaah secara regular dan, jika
diperlukan, direvisi sesuai dengan kondisi terakhir.

8|Persediaan – PSAK 14
Metode eceran seringkali digunakan dalam industry eceran untuk mengukur
jumlah persediaan yang bayak dan cepat berubah, serta memiliki marjin yang serupa
sehingga tidak praktis untuk menggunakan metode penetapan biaya lainnya. Biaya
persediaan ditentukan dengan mengurangi nilai jual persediaan dengan persentase
marjin bruto yang sesuai. Persentase tersebut digunakan dengan memerhatikan
persediaan yang telah diturunkan nilainya dibawah harga jual normal. Persentasi rata-
rata sering digunakan untuk setiap departemen eceran.

2.4 Rumus Biaya


Biaya untuk persediaan yang secara umum tidak dapat ditukar dengan
persediaan lain (not ordinary interchangeable) dan barang atau jasa yang dihasilkan dan
dipisahkan untuk proyek tertentu diperhitungkan berdasarkan identifikasi khusus
terhadap biayanya masing-masing.
Identifikasi khusus biaya artinya biaya-biaya tertentu diatribusikan ke unit
persediaan tertentu yang telah diidentifikasi. Cara ini merupakan perlakuan yang sesuai
bagi unit yang dipisahkan untuk proyek tertentu, baik yang dibeli maupun yang
dihasilkan. Akan tetapi, identifikasi khusus biaya tidak sesuai ketika terdapat jumlah
besar unit dalam persediaan yang dapat menggantikan satu sama lain (ordinarily
interchangeable). Dalam keadaan tersebut, metode pemilihan unit yang masih berada
dalam persediaan dapat digunakan untuk menentukan dampaknya dalam laba rugi.
Biaya persediaan, kecuali yang disebut dalam paragraph 23, dihitung dengan
menggunakan rumus biaya Masuk Pertama Keluar Pertama (MPKP) atau rata-rata
tertimbang. Entitas menggunakan rumus biaya yang sama terhadap seluruh persediaan
yang memiliki sifat dan kegunaan yang sama. Untuk persediaan yang memiliki sifat dan
kegunaan yang berbeda, rumus biaya yang berbeda diperkenankan.
Sebagai contoh, persediaan yang digunakan dalam suatu segmen operasi
mungkin memiliki kegunaan yang berbeda dari jenis persediaan yang sama yang
digunakan dalam segmen operasi yang lain. Akan tetapi, perbedaan lokasi geografis
persediaan (atau dalam perspektif perpajakan), dengan sendirinya, tidak cukup hanya
sekedar menggunakan rumus biaya yang berbeda.
Formula MPKP mengasumsikan unit persediaan yang pertama dibeli akan
dijual atau digunakan terlebih dahulu sehingga unit yang tertinggal dalam persediaan

9|Persediaan – PSAK 14
akhir adalah yang dibeli atau yang diproduksi kemudian. Dalam rumus biaya rata-rata
tertimbang, biaya setiap unit ditentukan berdasarkan biaya rata-rata tertimbang dari unit
yang serupa pada awal periode dan biaya unit yang serupa yang dibeli atau diproduksi
selama suatu periode. Perhitungan rata-rata dapat dilakukan secara berkala atau pada
setiap penerimaan kiriman, bergantung pada keadaan entitas.

Contoh Ilustrasi Metode MPKP/LIFO & Rata-rata Tertimbang

a) Sistem Perpetual

Metode MPKP/LIFO

Pencatatan persediaan pada sistem ini dilakukan setiap terjadi transaksi, jadi
penilaian persediaan pada sistem ini bukan mencari persediaan akhir seperti halnya
sistem periodik. Dalam hal sistem perpetual penilaian ini digunakan untuk mencari
total persediaan yang keluar sesuai harga beli atau disebut dengan harga pokok
penjualan. Biasanya untuk memudahkan, perhitungan HPP ini dilakukan dengan
pembuatan Kartu Persediaan.
Contoh :
Mei 1 Persediaan 120 unit @ 54.000 = Rp 6.480.000,-
5 Pembelian 180 unit @ 60.000 = Rp 10.800.000,-
10 Penjualan 200 unit
16 Pembelian 200 unit @ 63.000 = Rp 12.600.000,-
20 Pembelian 120 unit @ 64.000 = Rp 7.680.000,-
26 Penjualan 280 unit

Menurut metode ini harga pokok barang yang dijual dihitung dengan anggapan bahwa
barang yang pertama kali masuk dijual terlebih dulu. kekurangan diambil dari barang
masuk berikutnya, begitu seterusnya.
Sehingga menurut metode FIFO harga pokok penjualan yaitu:
Mei 10 Penjualan 200 unit
Dihitung dari :
Mei 1 120 x 54.000 = 6.480.000
5 80 x 60.000 = 4.800.000
10 | P e r s e d i a a n – P S A K 1 4
Jumlah Rp 11.280.000
Mei 26 Penjualan 280
Dihitung dari:
Mei 5 100 x 60.000 = 6.000.000
16 180 x 63.000 = 11.340.000
Jumlah Rp 17.340.000

Sehingga HPP selama bulan Mei 2004 menurut metode FIFO:


HPP Mei 10 Rp 11.280.000
HPP Mei 26 Rp 17.340.000
Total HPP Rp 28.620.000

Perhitungan Persediaan metode FIFO menggunakan Kartu Persediaan


PT. ABC
Jenis Barang : XX
Satuan : Unit
KARTU PERSEDIAAN
Metode : FIFO

Masuk Keluar Saldo


Tgl No Uni HP Jumlah Uni HP Jumlah Uni HP Jumlah
. t (Rp) t (Rp) t (Rp)
Bkt
2004
Mei. Sl - - - - - - 120 54.00 6.480.000
1 d 0
180 60.00 10.800.00 - - - 120 54.00 6480.000
5 0 0 0
180 60.00 10.800.00
0 0
10 - - - 120 54.00 6.480.000
0
- - - 80 60.00 4.800.000 100 60.00 6.000.000
0 0
16 200 63.00 12.600.00 - - - 100 60.00 6.000.000
0 0 0
200 63.00 12.600.00
0 0
20 120 64.00 7.680.000 - - - 100 60.00 6.000.000
0 0
200 63.00 12.600.00
0 0
120 64.00 7.680.000

11 | P e r s e d i a a n – P S A K 1 4
0
26 - - - 100 60.00 6.000.000 20 63.00 1.260.000
0 0
180 63.00 11.340.00 120 64.00 7.680.000
0 0 0
31 Sl 500 - 31.080.00 480 - 28.620.00 140 - 8.940.000
d 0 0

Dari data di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa:


Persediaan awal periode 120 unit Rp 6.480.000,00
Total Pembelian selama bulan mei 500 unit Rp 31.080.000,00
Total Barang Tersedia untuk dijual 620 unit Rp 37.560.000,00
Total HPP selama bulan mei (480 unit) (Rp 28.620.000,00)
Saldo Persediaan akhir periode 140 unit Rp 8.940.000,00

Metode Rata-rata Tertimbang

Penerapan metode rata-rata dalam sistem pencatatan perpetual, disebut metode


rata-rata bergerak (Moving Average Method). Disebut demikian, karena tiap terjadi
transaksi pembelian, harga rata-rata per satuan barang harus dihitung, sehingga rata-
rata per satuan akan berubah-ubah. Harga pokok satuan barang yang dijual adalah
harga pokok rata-rata yang berlaku pada saat terjadi transaksi penjualan.
Sehingga menurut metode FIFO harga pokok penjualan yaitu:
Mei 10 Penjualan 200 unit
Dihitung dengan mencari harga pokok rata-rata terlebih dahulu:
Sediaan 1 Mei 120 x 54.000 = 6.480.000
Pembelian 5 Mei 180 x 60.000 = 10.800.000
Jumlah 300 unit 17.280.000

HP rata-rata/unit = Rp 57.600
Jadi, Penjualan 200 unit adalah 200 x 57.600 = Rp 11.520.000
HP Rata-rata 16 Mei menjadi:= Rp 61.200
Begitu selanjutnya, perhitungan HP rata-rata dilakukan setiap terjadi pembelian.

b) Sistem Periodik

Metode MPKP/FIFO

Menurut metode FIFO (First In Frist Out) atau MPKP (Masuk Pertama Keluar
Pertama), barang yang lebih dulu masuk dianggap barang yang lebih dulu keluar.
Tetapi hal ini tidak pada keadaan sebenarnya, anggapan tersebut hanya digunakan
untuk perhitungan (penggunaan bukti transaksi). Ketika masuk pertama keluar
pertama, berati dapat disimpulkan bahwa persediaan akhir terdiri dari pembelian
pada saat-saat terakhir.
Contoh: pembelian selama bulan maret

12 | P e r s e d i a a n – P S A K 1 4
Maret 1 Persediaan 6000 unit @ 2000 = Rp 12.000.000,-
5 pembelian 6000 unit @ 2200 = Rp 13.200.000,-
10 pembelian 5000 unit @ 2400 = Rp 12.000.000,-
15 pembelian 8000 unit @ 2600 = Rp 20.800.000,-
20 pembelian 4000 unit @ 2700 = Rp 10.800.000,-
26 pembelian 6000 unit @ 2600 = Rp 15.600.000,-
30 pembelian 5000 unit @2.800 = Rp 14.000.000,-
Barang yang tersedia
dijual bulan maret 40.000 unit Rp 98.400.000,-
Dari data tersebut diketahui persediaan akhir digudang sebanyak 7.500 unit.
Sehingga perhitungan menggunakan FIFO:
Maret 30 5000 x 2.800 = Rp 14.000.000,-
26 2.500 x 2.600 = Rp 6.500.000,-
Total Rp 20.500.000,-

Metode Rata-Rata Tertimbang

Cara penghitungan metode ini adalah dengan menghitung rata-rata dari harga beli
dengan jumlah yang dibeli selama periode tertentu.
Contoh:
Selama suatu periode PT. X membeli barang dagang Rp 98.000.000 sebanyak 40.000
unit. Pada akhir periode, sisa barang dagang tersebut sebanyak 7.500 unit.
Harga rata-rata = = Rp 2.460

Sehingga, nilai persediaan pada akhir periode yaitu 7.500 unit x Rp 2.460
Yaitu Rp 18.450.000

2.5 Pengertian Jasa


Secara umum, jasa adalah pemberian suatu kinerja atau tindakan tak kasar mata
dan satu pihak kepada pihak lain. Pada umumnya jasa diproduksi dan dikonsumsi
secara bersamaan, di mana interaksi antara pemberi jasa dan penerima jasa
mempengaruhi hasil jasa tersebut. Dalam pengertian yang lain, jasa adalah kegiatan
yang dapat diidentifikasikan, yang bersifat tak teraba, yang direncanakan untuk
pemenuhan kepuasan konsumen. Untuk menghasilkan jasa mungkin perlu atau
mungkin juga tidak perlu penggunaan barang yang berwujud. Walaupun diperlukan
barang berwujud, akan tetapi tidak terdapat pemindahan hak milik atas benda tersebut.

2.6 Jenis-Jenis Jasa

13 | P e r s e d i a a n – P S A K 1 4
Buchari Alma dalam bukunya Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa
(2000:208) mengemukakan Jenis-jenis jasa yang dapat dikelompokkan sebagai berikut:

a) Personalized Services

Jasa ini sangat bersifat personal, yang tdak dapat dipisahkan dari orang yang
menghasilkan jasa tersebut. Oleh sebab itu pelayanannya harus langsung ditangani
sendiri oleh produsennya. Pemakaian perantara dalam hal ini tidak praktis. Saluran
distribusinya adalah sangat pendek, karena penjualan langsung adalah yang paling
tepat.

b) Financial Services

Financial Services terdiri dari :

 Banking services ( Bank )


 Insurance services ( asuransi )
 Investment securities ( Lembaga penanam modal )
c) Public Utility and Transportation Services

Perusahaan Public utility mempunyai monopoli secara alamiah, misalnya perusahaan


listrik, air minum. Para pemakainya terdiri dari :

 Konsumen local
 Perkantoran dan Perdagangan
 Industri
 Pemda

Sedangkan dalam transportation services ialah meliputi : angkutan kereta api,


kendaraan umum, pesawat udara, dsb. Pelayanan di sini ditujukan untuk angkutan
penumpang dan angkutan barang.

d) Entertainment

Orang yang mempunyai usaha ini bias memperoleh pendapatan yang besar
karena mereka bias mempengaruhi masyarakat, melalui advertising.Yang termasuk ke

14 | P e r s e d i a a n – P S A K 1 4
dalam kelompok ini ialah : usaha-usaha dibidang olah raga, bioskop, gedung-gedung
pertunjukan dan usaha-usaha hiburan lainnya

e) Hotel services

Hotel bukan merupakan suatu objek pariwisata melainkan merupakan salah


satu sarana dalam bidang kepariwisataan, maka dalam hal ini hotel perlu mengadakan
kegiatan bersama dengan tempat-tempat rekreasi, hiburan, travel biro, dll.

2.3 Karakteristik Jasa


Jasa memiliki karakteristik yang sangat mempengaruhi perencanaan program
pemasarannya tersendiri. Fandy Tjiptono (2005;18) meyatakan lima karakteristik pokok
pada jasa yang membedakannya dengan barang. Kelima karakteristik iti antara lain :

1. Intangibility (tidak berwujud)


Jasa berbeda dengan barang. Bila barang merupakan suatu objek, alat, atau benda,
maka jasa adalah suatu perbuatan, tindakan, pengalaman, proses, kinerja
(performance), atau usaha. Oleh sebab itu, jasa tidak dapat dilihat, dirasa, dicium,
ddidengar, atau diraba sebelum dibeli dan dikonsumsi.
2. Insperability (tidak dapat dipisahkan)
Barang biasanya diproduksi, kemudian dijual, lalu dikonsumsi. Sedangkan jasa pada
umumnya dijual terlebih dahulu, baru kemudian diproduksi dan dikonsumsi pada
waktu dan tempat yang sama.
3. Variability (berubah-ubah)
Jasa bersifat sangat variabel karena merupakan non-standardized output, artinya
banyak variasi bentuk, kualitas, dan jenis, tergantung kepada siapa, kapan, dan
dimana jasa tersebut diproduksi.
4. Perishability (kurangnya daya tahan)
Perishability berarti jasa tidak tahan lama dan tidak dapat disimpan. Bila permintaan
bersifat konstan, kondisi ini tidak menjadi masalah, karena staf dan penyedia jasa bias
direncanakan untuk memenihi permintaan.
5. Lack of ownership

15 | P e r s e d i a a n – P S A K 1 4
Lack of ownership merupakan perbedaan dasar antara jasa dan barang. Pada
pembelian barang, konsumen memiliki hak penuh atas penggunaan dan manfaat
produk yang dibelinya. Mereka bias mengkonsumsi, menyimpan atau menjualnya. Di
lain pihak, pada pembelian jasa, pelanggan mungkin hanya memiliki akses personal
atas suatu jasa untuk jangka waktu yang terbatas.
Nilai Realisasi Neto
Biaya persediaan mungkin tidak akan diperoleh kembali jika persediaan rusak,
seluruh atau sebagian persediaan telah usang, atau harga jualnya telah menurun. Biaya
persediaan juga tidak akan dipulihkan kembali jika estimasi biaya penyelesaian atau
estimasi biaya untuk membuat penjualan telah meningkat. Praktik penurunan nilai
persediaan di bawah biaya perolehan menjadi nilai realisasi neto konsisten dengan
pandangan bahwa aset seharusnya tidak dinyatakan melebihi jumlah yang diharapkan
dapat direalisasi dari penjualan atau penggunaannya.
Nilai persediaan biasanya diturunkan ke nilai realisasi neto secara terpisah
untuk setiap unit dalam persediaan. Akan tetapi, dalam beberapa keadaan, penurunan
nilai persediaan mungkin lebih sesuai jika dihitung terhadap kelompok unit yang serupa
atau berkaitan. Kasus ini dapat terjadi pada barang-barang yang termasuk dalam lini
produk dengan tujuan atau penggunaan akhir yang serupa, yang diproduksi dan
dipasarkan di wilayah yang sama, dan tidak dapat di evaluasi terpisah dari unit-unit lain
dalam lini produk tersebut. Penurunan nilai persediaan tidak sesuai jika dihitung
berdasarkan klasifikasi persediaan, sebagai contoh, barang jadi, atau seluruh persediaan
dalam suatu industri atau segmen geografis tertentu. Pemeberi jasa pada umumnya
mengakumulasikan biaya-biaya untuk setiap jasa dimana harga jual terpisah ditentukan.
Oleh karena itu, masing-masing jasa tersebut diperlakukan secara terpisah.
Estimasi nilai realisasi neto didasarkan pada bukti paling andal yang tersedia
pada saat estimasi dilakukan terhadap jumlah persediaan yang diharapkan dapat
direalisasi. Estimasi ini mempertimbangkan fluktuasi harga atau biaya yang langsung
terkait dengan peristiwa yang terjadi setelah akhir periode sepanjang peristiwa tersebut
menegaskan kondisi yang ada pada akhir periode.
Estimasi nilai realisasi neto juga mempertimbangkan tujuan pengadaan
persediaan yang dimiliki. Sebagai contoh, nilai realisasi neto dari jumlah persediaan
yang dimiliki untuk memenuhi kontrak penjualan lebih sedikit daripada jumlah
persediaan yang dimiliki, maka nilai realisasi neto untuk kelebihannya didasarkan pada
16 | P e r s e d i a a n – P S A K 1 4
harga jual umum. Provisi dapat timbul dari kontrak penjualan yang bersifat pasti yang
melebihi jumlah persediaan yang dimiliki atau dari kontrak pembelian yang bersifat
pasti. Provisi tersebut diperlakukan sesuai dengan PSAK 57: Provisi, Liabilitas
Kontnijensi, dan Aset Kontinjensi.
Bahan dan perlengkapan lain yang dimiliki untuk digunakan dalam
memproduksi persediaan tidak di turunkan nilainya di bawah biaya perolehan jika
produk jadi yang dihasilkan diharapkan dapat dijual sebesar atau di atas biaya
perolehannya. Akan tetapi, ketika penurunan harga bahan mengindikasikan biaya
produk jadi yang dihasilkan akan melebihi nilai realisasi neto, maka nilaibahan di
turunkan ke nilai realisasi neto. Dalam keadaan tersebut, biaya penggantian bahan
merupakan ukuran terbaik yang tersedia untuk nilai realisasi netonya.
Suatu penilaian baru dilakukan atas nilai realisasi neto pada setiap periode
selanjutnya. Ketika keadaan yang semula mengakibatkan penurunan nilai persediaan di
bawah biaya perolehan ternyata tidak ada lagi atau terdapat bukti yang jelas terhadap
peningkatan nilai realisasi neto karena perubahan keadaan ekonomik, maka jumlah
penurunan nilai harus dibalik (yaitu pemulihan adalah terbatas untuk jumlah penurunan
nilai awal) sehingga jumlah tercatat yang baru dari persediaan adalah yang terendah
dari biaya perolehan atau nilai realisasi neto yang telah direvisi. Hal ini terjadi, sebagai
contoh, ketika suatu jenis persediaan yang dicatat sebesar nilai realisasi neto karena
harga jualnya telah turun, masih dimiliki pada periode berikutnya dan harga jualnya
telah meningkat.

2.5 Pengakuan Sebagai Beban


Jika persediaan dijual, maka jumlah tercatat persediaan tersebut diakui sebagai
beban pada periode diakuinya pendapatan atas penjualan tersebut. Setiap penurunan
nilai persediaan di bawah biaya perolehan menjadi nilai realisasi neto dan seluruh
kerugian persediaan diakui sebagai beban pada periode terjadinya penurunan atau
kerugian tersebut. Setiap pemulihan kembali penurunan nilai persediaan karena
peningkatan kembali nilai realisasi neto, diakui sebagai pengurangan terhadap jumlah
beban persediaan pada periode terjadinya pemulihan tersebut.
Beberapa persediaan dapat dialokasikan kea kun asset lainnya, sebagai contoh,
persediaan yang digunakan sebagai komponen asset tetap yang dibangun sendiri.

17 | P e r s e d i a a n – P S A K 1 4
Persediaan yang dialokasikan ke asset lain dengan cara ini diakui sebagai beban selama
masa manfaat aset tersebut.
2.6 Pengungkapan
Laporan keuangan mengungkapkan:
a) Kebijakan akuntansi yang digunakan dalam pengukuran persediaan,
termasuk rumus biaya yang digunakan;
b) Total jumlah tercatat persediaan dan jumlah tercatat menurut
klasifikasi yang sesuai bagi entitas;
c) Jumlah tercatat persediaan yang dicatat dengan nilai wajar
dikurangi biaya untuk menjual;
d) Jumlah persediaan yang diakui sebagai beban selama periode
berjalan;
e) Jumlah setiap penurunan nilai yang diakui sebagai pengurang
jumlah persediaan yang diakui sebagai beban dalam periode
berjalan sebagaimana dijelaskan pada paragraf 34;
f) Jumlah dari setiap pemulihan dari setiap penurunan nilai yang diakui
sebagai pengurang jumlah persediaan yang diakui sebagai beban
dalam periode berjalan sebagaimana dijelaskan pada paragraf 34;
g) Keadaan atau peristiwa penyebab terjadinya pemulihan nilai
persediaan yang diturunkan sesuai dengan paragraf 34; dan
h) Jumlah tercatat persediaan yang diperuntukan sebagai jaminan
liabilitas.

Informasi tentang jumlah tercatat yang disajikan dalam berbagai klasifikasi


persediaan dan tingkat perubahannya masing-masing berguna bagi pengguna laporan
keuangan. Klasifikasi persediaan yang biasa digunakan adalah barang dagangan,
perlengkapan produksi, bahan, barang dalam proses, dan barang jadi. Persediaan entitas
pemberi jasa biasanya disebut pekerjaan dalam proses.
Biaya persediaan yang diakui sebagai beban selama periode, seringkali disebut
sebagai beban pokok penjualan, terdiri dari biaya-biaya yang sebelumnya
diperhitungkan dalam pengukuran persediaan yang saat ini telah dijual, overhead

18 | P e r s e d i a a n – P S A K 1 4
produksi yang tidak teralokasi, dan jumlah biaya produksi persediaan yang tidak
normal. Keadaan dari entitas juga memungkinkan untuk memasukkan biaya lainnya,
seperti biaya distribusi.
Beberapa entitas mengadopsi suatu format laba rugi yang mengakibatkan jumlah
yang diungkapkan adalah biaya selain persediaan yang diakui sebagai beban selama
periode yang bersangkutan. Dalam format ini, entitas menyajikan analisis beban
menggunakan klasifikasi berdasarkan sifat dari beban. Dalam kasus ini, entitas
mengungkapkan biaya yang diakui sebagai beban untuk bahan baku dan bahan habis
pakai, biaya tenaga kerja, dan biaya lainnya bersama-sama dengan jumlah perubahan
neto persediaan pada periode tersebut.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian


Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian makalah ini adalah
penelitian kualitatif yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa
kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang berupa perilaku yang dapat diamati.
Penelitian kualitatif bersifat eksploratoris karena berusaha mengeksplorasi terhadap
suatu permasalahan walaupun dengan sedikit informan. Data-data yang penulis
perlukan untuk penelitian tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk
hitungan lainnya.

3.2 Sumber Data


Dalam menyelesaikan tugas akhir ini, sumber data yang penulis gunakan untuk
mendukung penulisannya adalah data internal dan data eksternal. Adapun definisi dari
data internal dan eksternal adalah sebagai berikut :

1. Data Internal
Umar ( 2005 : 42 ) menyatakan bahwa : “ Data internal merupakan data yang didapat
dari dalam perusahaan atau organisasi di mana riset dilakukan”. Dalam penelitian ini
data internal yang diperoleh seperti sejarah perusahaan, struktur organisasi

19 | P e r s e d i a a n – P S A K 1 4
perusahaan, visi dan misi perusahaan serta dokumen-dokumen yang di gunakan dalam
sistem informasi akuntansi penjualan
2. Data Eksternal
Data yang berasal bukan dari dalam organisasi perusahaan sendiri. Data ini sering
tidak berkaitan langsung dengan organisasi sendiri.

Selain itu, ada sumber data lain yang di gunakan dalam penulisan tugas akhir ini
adalah :
1. Data Primer
Menurut Umar ( 2005 : 42 ) menyatakan bahwa : “ Data primer adalah data yang
didapat dari sumber pertama baik dari individu atau perseorangan seperti hasil
wawancara atau hasil pengisian kuesioner yang biasa dilakukan oleh peneliti “.

2. Data Sekunder
Menurut Umar ( 2005 : 42 ) menyatakan bahwa : “ Data sekunder adalah data primer
yang telah diolah lebih lanjut dan disajikan baik oleh pihak pengumpul data primer
atau pihak lain misalnya dalam bentuk tabel-tabel atau diagram-diagram “.

3.3 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan untuk mendapatkan deskripsi yang


lengkap dari objek yang digunakan dalam menyusun laporan penelitian ini ,
dipergunakan alat pegumpulan data yaitu :

a) Wawancara

Wawancara yang dilakukan adalah wawancara terbuka di mana subjeknya mengetahui


maksud dan tujuan wawancara tersebut . Wawancara yang dilakukan adalah dengan
pihak HRD pada PT. Kurnia Perkasa.

b) Dokumentasi

Dokumentrasi yang dilakukan adalah mengumpulkan bahan-bahan tertulis berupa


contoh catatan persediaan barang activation dan data-data lainnya.

c) Metode Studi Pustaka

20 | P e r s e d i a a n – P S A K 1 4
Metode studi pustaka adalah metode pengumpulan data dengan membaca dan melihat
data-data perusahaan yang lalu .

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Karakteristik Penelitian


Penelitian ini berlokasi di PT. Kurnia Perkasa yang beralamat di Jalan Teuku
Cik Ditiro Perum Wisma Mas Blok J No. 1 Kemiling,Bandar Lampung. Subjek dalam
penelitian ini adalah bagian penerimaan barang yang telah di mintai data pencatatan
persediaan barang activation banded pada PT. Kurnia Perkasa
4.2 Prosedur persediaan barang masuk dan keluar pada PT.Kurnia Perkasa
a) Prosedur persediaan barang masuk
Prosedur penerimaan barang masuk pada PT. Kurnia Perkasa adalah sebagai berikut.
Keterangan :
1. PT.Unilever Indonesia.Tbk bekerja sama dengan PT. Kurnia perkasa dalam
pembandedtan produk yang ada di PT. Unilever Indonesia.Tbk. PT.Unilever
Indonesia.Tbk mengirim barang yang akan di banded di store yang ada di seluruh
lampung.
2. Selanjutnya, setelah sampai di PT.Kurnia Perkasa, persediaan barang tersebut di
terima dan di lihat pula keterangan yang ada dan selanjutnya di berikan kepada
bag.penerimaan barang.
3. Bag. Penerimaan barang di sini memiliki tugas :
 Mengecek barang masuk
 Melihat apakah ada barang yg rusak atau tidak
 Meminta tandatangan OM untuk menjadi bukti tanda terima barang.
 Memberikan barang (contoh barang) kepada OM sebagai bukti.

21 | P e r s e d i a a n – P S A K 1 4
4. Selanjutnya, setelah bag. Penerimaan barang selesai. Bag. Penerimaan barang akan
memberikan barang tersebut kepada bag.Gudang.
5. Tugas bag.Gudang disini memilik tugas:
 Menyusun semua persediaan barang.
 Mengecek setiap barang yang masuk dan keluar
 Memberikan dan membantu miss banded dalam mengambil atau mengecek
barang bandednya.
6. Setelah tugas bag.Gudang selesai, bag.gudang akan memberitahu kepada miss
banded bahwa sudah adanya barang banded yang baru masuk atau di terima oleh
perusahaan.
Adapun tugas dari miss banded adalah sebagai berikut:
 Mengecek dan meneliti setiap barang yang masuk.
 Melihat produk-produk di store sebelum membanded produk.
 Memahami dan menyeimbangkan jumlah produk yang ada di store dengan
jumlah banded yang di haruskan oleh perusahaan PT.Unilever
Indonesia.Tbk.
b) Prosedur persediaan barang keluar
Prosedur persediaan barang keluar pada PT. Kurnia Perkasa adalah sebagai berikut di
bawah ini :
Keterangan :
1. Pertama, miss banded akan datang ke store terlebih dahulu, untuk mengecek sisa
stock barang/produk yang ada di store yang akan di banded dan di catat untuk bukti
yang akan di berikan kepada perusahaan.
2. Selanjutnya miss banded datang perusahaan dan memberikan bukti jumlah sisa
stock produk yang ada di beberapa store dan meminta barang banded yang ada di
gudang dengan jumlah yang sama untuk melakukan pembandedtan di store yang
sudah di tentukan.
3. Setelah itu bagian penerimaan barang akan memberikan dokumen atau bukti kepada
OM (Operasional Manajer) untuk di lihat dan di mintai persetujuan pengambilan
barang yang di lakukan oleh miss banded untuk melakukan pembandedtan di store.
4. Setelah berkas sudah di setujui oleh OM (Operasional Manajer), miss banded
datang ke gudang untuk meminta persediaan barang yang ada di gudang dengan
jumlah yang sama dengan sisa stock produk yang ada di store.
5. Setelah selesai, miss banded datang ke store yang di tentukan perusahaan untuk
melakukan pembandedtan produk/barang.

22 | P e r s e d i a a n – P S A K 1 4
6. Lalu, miss banded mencatat semua produk banded, mendokumentasikan hasil dari
banded yang di lakukan di setiap store untuk di serahkan kepada perusahaan ( PT.
Kurnia Perkasa ).
7. Setelah semua bandedtan sudah terpenuhi dan berkasa-berkas sudah terkumpul,
perusahaan akan menyerahkan hasil dari banded tersebut ke pusat, yaitu PT.
Unilever Indonesia.Tbk.
4.3 Metode penilaian dan pencatatan persediaan barang activation banded pada PT.
Kurnia Perkasa.
Persediaan barang dagang merupakan salah satu aktiva lancar. Persediaan
barang merupakan salah satu akun penting dalam perusahaan. Apabila persediaan
dikelola dengan tepat maka akan memudahkan perusahaan mencapai target yang
diharapkan, sebaliknya apabila persediaan barang dikelola secara tidak tepat maka akan
mengakibatkan perusahaan jauh dari target yang diharapkan.Salah satu pengelolaan
persediaan barang dagang adalah dengan melakukan penilaian persediaan barang
dagang.Penilaian persediaan barang dagang dapat dilakukan dengan beberapa metode,
yaitu metode FIFO, metode LIFO dan metode Average. Berikut adalah catatan kartu
persediaan masuk yang ada pada PT. Kurnia Perkasa :
PT. Kurnia Perkasa
Jl. Teuku Cik Ditiro Perum Wisma Mas Blok J No. 1 Kemiling, Bandar Lampung.
Nama bahan baku : Sariwangi 40th
Nomor Kartu : 42277
Tabel 4.1

No Tanggal Masuk Nama Barang Satuan barang Jumlah Barang

1 12 maret 2014 Sariwangi 40th Pcs 627

2 23 april 2014 Sariwangi 40th Pcs 661

3 09 mei 2014 Sariwangi 40th pcs 712

Total barang pcs 2000

Sumber : PT. Kurnia Perkasa


Persediaan barang dalam suatu perusahaan dapat dicatat dengan dua metode yaitu
metode fisik dan metode perpetual. Berdasarkan data yang diperoleh peneliti maka
peneliti mencoba melakukan tinjauan pada PT. Kurnia Perkasa atas pencatatan dan
penilaian persediaan barang yang dimilikinya. Pencatatan persediaan barang dagang
yang dilakukan oleh PT. Kurnia Perkasa adalah dengan menggunakan metode
23 | P e r s e d i a a n – P S A K 1 4
perpetual, yaitu perhitungan persediaan barang dilakukan setiap saat terjadi perubahan
persediaan barang.

Berikut adalah salah satu pencatatan persediaan barang banded Sariwangi 40 th yang ada
pada PT.Kurnia Perkasa dengan menggunakan metode perpetual:

Catatan persediaan yang masuk dan keluar :

 Persediaan awal 600 pcs, @ 8000.

 14.07.2014 persediaan masuk 660 pcs. @ 8000.

 25.07.2014 persediaan keluar 800 pcs, @8000

Di bawah ini adalah jurnal pencatatan persediaan dengan menggunakan metode


Perpetual pada PT. Kurnia Perkasa :14.07.2014

Persediaan [D] 4.800.000

Banded / promosi [K] 4.800.000

25.07.2014

Banded / promosi [D] 6.400.000

Persediaan [K] 6.400.000

Sumber : PT. Kurnia Perkasa


Penilaian persediaan barang dagang yang dilakukan oleh PT. Kurnia Perkasa yaitu
metode FIFO (First In First Out) metode penilaian persediaan barang dagang dimana
barang yang dahulu masuk (lebih dahulu masuk) dianggap lebih dahulu keluar (lebih
dahulu terpakai).

24 | P e r s e d i a a n – P S A K 1 4
Berikut ini adalah penilaian persediaan barang banded sariwangi 40th yang ada pada PT.
Kurnia Perkasa dengan menggunakan FIFO Perpetual :
Tabel 4.2

Tgl Persediaan barang Persediaan barang Saldo persediaan


masuk keluar

unit Biaya Total unit Biaya Total unit Biaya Total


(ribu) biaya biaya biaya
(ribu) (ribu)

9 juli 600 8 4.800


14

14 juli 660 8 5.280 600 8 4.800


14

660 8 5.280

25 juli 450 8 3.600 150 8 1.200


14

660 8 5.280

Sisa Persediaan 810 8 6.480

Sumber : PT. Kurnia Perkasa

25 | P e r s e d i a a n – P S A K 1 4
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan tinjauan atas metode pencatatan dan penilaian persediaan yang di
lakukan oleh peneliti pada PT. Kurnia Perkasa, maka kesimpulan yang di dapat oleh
peneliti adalah sebagai berikut :
1. Prosedur penerimaan persediaan barang dan pengeluaran persediaan barang pada
PT. Kurnia Perkasa sudah sesuai dengan peraturan perusahaan dan sudah mengikuti
alur atau jalan yang di atur oleh perusahaan.
2. Metode pencatatan persediaan yang di gunakan oleh PT. Kurnia Perkasa adalah
metode catatan perpetual, yaitu pencatatan persediaan yang di lakukan setiap saat
terjadi penambahan persediaan barang.
3. Sedangkan untuk penilaian persediaan yang di gunakan oleh PT. Kurnia Perkasa
adalah dengan menggunakan metode FIFO Perpetual. Yaitu, barang yang pertama
masuk ( pertama datang ) adalah barang yang akan pertama kali tercatat ( pertama
kali keluar ).

5.2 Saran

Berdasarkan permasalahan yang telah di bahas oleh peneliti, maka peniliti


memberikan syarat di antaranya sebagai berikut :

1. Dalam melaksanakan prosedur penerimaan barang atau pengeluaran barang,


sebaiknya karyawan perusahaan harus lebih teliti dalam memeriksa berkas agar
tidak terjadi kesalahan dalam pencatatan persediaan barang nantinya.
2. PT. Kurnia Perkasa harus lebih teliti dalam melakukan pencatatan dan penilaian
persediaan di perusahaan agar tidak terjadi masalah atau kesalahan pada saat
pencatatan buku persediaan di akhir tahunnya.
3. PT. Kurnia Perkasa juga harus lebih bisa memanage waktu dan lebih cekatan dalam
melakukan pembandedtan di setiap store, agar tidak terjadi penumpukan barang dan
supaya banded yang di lakukan dapat selesai sesuai dengan week yang di tentukan
oleh pusat ( PT. Unilever Indonesia. Tbk )

DAFTAR PUSTAKA

26 | P e r s e d i a a n – P S A K 1 4
Agoes, Sukrisno. 2004. Auditing: Pemeriksaan Akuntan oleh Kantor Akuntan Publik. Jakarta:
Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Mahardani, Riasetiawan. 2005. Tinjauan Teoritis Sistem Informasi Akuntansi. Yogyakarta

Mulyadi. 2001. Sistem Akuntansi. Cetakan Ketiga Salemba Empat. Jakarta

Martini, Dwi, dkk. 2012. Akuntansi Keuangan Menengah Berbasis PSAK. Salemba Empat,
Jil. 2.

Kartikahadi, Hans, dkk. 2012. Akuntansi Keuangan berdasarkan SAK berbasis IFRS.
Salemba Empat, Jil. 1.

STIE Ahmad Dahlan Jakarta. 2014. Pedoman Skripsi.

Ikatan Akuntan Indonesia, 2015.Standar Akuntansi Keuangan.Jakarta: IAI


http://riqikudanzi.blogspot.co.id/2013/04/metode-persediaan.html

27 | P e r s e d i a a n – P S A K 1 4