Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PENCAPAN 1

PENCAPAN ZAT WARNA REAKTIF PANAS PADA KAIN


KAPAS
Disusun Oleh :
Nama : Fildzah B I (15020099)
Gugun Sumaryadi (15020103)
Nurul Aeni Sukmana (15020109)
Restu Aditya (15020112)
Dosen : Sukirman, S,S,T
Asisten : Desiriana

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TEKSTIL


BANDUNG
2017
I. MAKSUD DAN TUJUAN
 Maksud :
Melakukan pencapan pada kain kapas dengan menggunakan zat warna reaktif panas.
 Tujuan :
- Mengetahui perbandingan pencapan pada metoda dengan proses baking dan steam
dengan zat warna reaktif panas.
- Mengetahui hasil pencapan dengan perbandingan suhu pada metoda baking.
- Mengetahui hasil pencapan dengan perbandingan waktu pada metoda steam.
II. TEORI DASAR

Pencapan adalah suatu proses pelekatan zat warna pada kain yang tidak rata dengan
menimbulkan corak-corak. Untuk mendapatkan pola yang tajam, presisi dan dapat diproduksi
ulang, larutan zat warna yang secara tradisional digunakan tidak memadai, karena memadai,
karena kapilaritas dan atau higroskopitas serat dan migrasi zat warna yang tidak dapat
memberikan pola yang tajam, dan warna yang tegas maka pencapan perlu menggunakan
cairan khusus yang secara konvensional disebut pasta cap (printing paste).

2.1. Serat Kapas

Serat kapas mempunyai bentuk penampang melintang yang sangat bervariasi


dari elips sampai bulat. Tetapi pada umumnya berbentuk seperti ginjal. Bentuk
membujur serat kapas adalah pipih seperti pita yang terpuntir. Bentuk penampang
melintang dan membujur serat kapas.

Penampang Melintang Penampang Membujur

Gambar 1. Bentuk Morfologi Serat Kapas


Struktur Molekul
Komposisi selulosa murni diketahui sebagai suatu zat yang terdiri dari unit-unit
anhidro-β-glukosa dengan rumus empiris (C6H10O5)n , dimana n merupakan derajat
polimerisasi yang tergantung dari besarnya molekul. Hubungan antara selulosa dan
glukosa telah lama dikenal yaitu pada peristiwa hidrolisa selulosa oleh asam sulfat dan
asam klorida encer, yang menghasilkan suatu hasil akhir yang memiliki bentuk glukosa.
Hal ini membuktikan bahwa selulosa terbentuk dari susunan cincin glukosa.
Glukosa diketahui sebagai turunan (derivate) pyranosa yang berarti memilki enam segi
(sudut), dan struktur kimia dari glukosa sendiri memiliki dua bentuk tautomeri yaitu α-
glukosa dan β-glukosa.

CH 2 OH
CH 2 OH
O O
H H H OH
H H

H
OH H HO OH
HO OH H

H OH H OH

α- Glukosa β - Glukosa

Gambar 2. Struktur Molekul Glukosa

Setelah melalui berbagai diskusi dan penyelidikan, maka ditetapkan bahwa


struktur kimia dari selulosa adalah seperti pada Gambar 2.3 sebagai berikut.

H OH CH 2 OH H OH CH 2 OH
HO H H O H O
OH H O OH H OH
H H H

H H H O H
O OH H OH
H H H
O O
CH 2 OH H OH CH 2 OH H OH

Gambar 3. Struktur Rantai Molekul Polimer Selulosa

Sifat Fisika

1. Warna Kapas
Warna kapas pada umumnya sedikit krem. Beberapa kapas yang seratnya
panjang, warnanya lebih krem dari pada jenis kapas yang serat-seratnya lebih
pendek. Tumbuhnya jamur pada kapas sebelum pemetikan menyebabkan warna putih
kebiru-biruan yang tidak bisa dihilangkan dalam pengelantangan.

2. Kekuatan
Kekuatan serat kapas sangat dipengaruhi oleh kadar selulosa yang
dikandungnya. Dalam keadaan basah serat kapas akan memiliki kekuatan yang lebih
besar dibandingkan dengan serat ketika dalam keadaan kering. Kekuatan serat kapas
dalam keadaan kering berkisar 3,2 - 5,2 g/denier dan dalam keadaan basah lebih
tinggi lagi.

3. Mulur
Mulur saat putus serat kapas termasuk tinggi di antara serat-serat selulosa alam
yang lainnya. Mulur serat kapas berkisar antara 4 – 13% tergantung dari jenis serat
kapasnya dan rata-rata mulurnya adalah 7%.

4. Moisture Regain
Serat kapas memiliki afinitas yang besar terhadap air, dan air memiliki pengaruh
yang nyata pada sifat-sifat serat. Serat kapas yang sangat kering bersifat kasar, rapuh
dan kekuatannya rendah. Moisture Regain (MR) serat kapas bervariasi sesuai dengan
perubahan kelembaban relatif tertentu. MR kapas pada kondisi standar berkisar
antara 7 – 8,5%.

5. Berat Jenis
Berat jenis serat kapas adalah 1,50 sampai 1,56.

Sifat Kimia
1. Pengaruh asam
Selulosa tahan terhadap asam lemah, sedangkan terhadap asam kuat akan
menyebabkan kerusakan. Asam kuat akan menghidrolisa selulosa yang mengambil
tempat pada jembatan oksigen penghubung sehingga terjadi pemutusan rantai
molekul selulosa (hidroselulosa). Rantai molekul menjadi lebih pendek dan
menyebabkan penurunan kekuatan tarik selulosa.

CH2OH H OH
H O H
H O OH H
O OH H H H O
H
O
H OH CH2OH

Hidrolisa

CH2OH H OH
H O
H H OH H
C OH H
O OH H O H O
H
O
H OH CH2OH

CH2OH H OH
H O
OH OH H
H OH H
C
O OH H O H O
H
O
H OH CH2OH

Gambar 4. Reaksi Hidroselulosa

2. Pengaruh alkali

Alkali mempunyai pengaruh pada kapas. Alkali kuat pada suhu rendah akan
menggelembungkan serat kapas seperti yang terjadi pada proses merserisasi,
sedangkan pada suhu didih air dan dengan adanya oksigen dalam udara akan
menyebabkan terjadinya oksiselulosa.

3. Pengaruh panas
Serat kapas tidak memperlihatkan perubahan kekuatan bila dipanaskan
pada suhu 120˚C selama 5 jam, tapi pada suhu yang lebih tinggi dapat menyebabkan
penurunan kekuatan. Serat kapas kekuatannya hampir hilang jika dipanaskan pada
suhu 240OC.
4. Pengaruh oksidator

Oksidator dapat mengoksidasi selulosa sehingga terjadi oksiselulosa, rantai


molekul selulosa terputus dan selanjutnya mengakibatkan terjadinya oksiselulosa
lanjutan yang mengubah gugus aldehid menjadi gugus karboksilat. Pada oksidasi
sederhana dalam suasana asam tidak terjadi pemutusan rantai, hanya terjadi
pembukaan cincin glukosa. Pengerjaan lebih lanjut dengan alkali akan
mengakibatkan pemutusan rantai molekul sehingga kekuatan tarik akan turun.
Oksiselulosa terjadi pada proses pengelantangan yang berlebihan, penyinaran dalam
keadaan lembab atau pemanasan yang lama pada suhu diatas 140OC.

CH2OH H OH
O
H O H
H OH H
O OH H H O
H H O
H OH CH2OH

Oksidasi
CH2OH CH2OH
O OH OH
H O H
H H O
O H O
C C C C H
O H O H O H O H

CH2OH
O CH2OH
H O OH OH
H H
H O
O H
C C O H
C C
O OH O OH
O OH O OH

Gambar 5 . Reaksi Oksiselulosa

2.2. Zat Warna Reaktif Panas


Zat warna reaktif adalah suatu zat warna yang dapat mengadakan reaksi dengan serat
(ikatan kovalen) sehingga zat warna tersebut merupakan bagian dari serat. Zat warna
reaktif yang pertama diperdagangkan dikenal dengan nama Procion. Zat warna ini
terutama dipakai untuk mencelup serat selulosa, serat protein seperti wol dan sutera dapat
juga dicelup dengan zat warna ini. Selain itu serat poliamida (nilon) sering juga dicelup
dengan zat warna reaktif untuk mendapatkan warna muda dengan kerataan yang baik.
Sifat –sifat
Zat warna reaktif panas termasuk golongan zat warna yang larut dalam air. Karena
mengadakan reaksi dengan serat selulosa, maka hasil pencelupan zat warna reaktif
mempunyai ketahanan luntur yang sangat baik. Demikian pula karena berat molekul kecil
maka kilapnya baik.
Yaitu zat warna reakrif yang mempunyai kereaktifan rendah, dicelup pada suhu tingi.
Misalnya Procion H, Cibacron dengan sistem reaktif mon kloro triazin, remazol dengan
sistem reaktif vinil sulfon. Didalam air, zat warna reaktif dapat terhdidrolisa, sehingga sifat
reaktifnya hilang dan hal ini menyebabkan penurunan tahan cucinya. Hidrolisa tersebut
menurut reaksi sebagai berikut:

D - Cl + H2O → D – OH + HCl
III. PERCOBAAN
3.1. Alat dan Bahan
ALAT BAHAN
 Ember plastik  Kain kapas
 Gelas plastik  Zat warna reaktif panas
 Gelas piala  Urea
 Gelas ukur  Pengental alginat (manutex)
 Pipet ukur  Zat anti reduksi
 Mixer  NaHCO3
 Kasa datar  Na2CO3
 Rakel  Teepol
 Timbangan

3.2. Diagram Alir

pencapan tanpa alkali

pengeringan
100 °c, 2'

pad alkali

pengukusan (105 °c)


4',8',12',16'

pencucian sabun
panas

pembilasan

pencucian dingin

evaluasi
3.3. Cara Kerja
1. Pengental Induk
 Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan untuk membuat pengental induk
 Timbang pengental Na alginat (manutex) 5%, dan air sebanyak 700 ml
 Masukkan pengental Na alginat (manutex) kedalam ember plastik, kemudian di mixer
lalu ditambahkan air sedikit demi sedikit sampai menjadi pengental yang homogen,
dan kekentalannya memenuhi syarat.

2. Pasta Cap
 Siapkan alat dan bahan yang digunakan untuk membuat pasta cap
 Hitung zat warna dan zat pembantu yang akan digunakan sesuai resep
 Timbang zat warna dan zat pembantu yang akan digunakan kedalam wadah/ gelas
 Tambahkan pengental dari pengental induk yang sudah dibuat
 Aduk semua bahan hingga homogen
 Pasta cap siap digunakan.

3. Tahap Proses Pencapan


 Siapkan screen, rakel dan pasta cap yang akan digunakan
 Letakkan kain kapas yang akan digunakan di meja cap
 Masukkan pasta cap pada screen bagian dalam, pasta cap diberi kerataan yang sama
dengan ukuran gambar dan Lakukan perakelan sebanyak 3x pengulangan
 Lakukan hal yang sama pada screen lainnya yang akan digunakan untuk mencap
dalam satu bahan
 Setelah kain selesai di cap, lakukan pre-drying dengan mesin stenter dengan suhu
100oC
 Lalu lakukan pad alkali pada mesin padding
 Kemudian langsung dilakukan proses steaming dengan suhu 105 oC, dengan
menggunakan variasi waktu yaitu 4 menit, 8 menit, 12 menit dan 16 menit
 Setelah steaming sudah selesai makalakukan pencucian. Pencucian dingin dilakukan
dengan air mengalir sampai zat warna yang tidak terfiksasi keluar semua, lalu cuci
panas selama 15 menit kemudian dicuci dingin kembali dengan menggunakan resep
yang telah ditentukan.

3.4. Resep
 Resep pasta pencapan
1. Zw reaktif panas : 30 gram
2. Urea/gliserin (zat anti higroskopik) : 100 gram
3. Zat anti reduksi (ludigol/auxalpal) : 20 gram
4. NaHCO3 (soda kue) : 20 gram
5. Pengental/alginate 7% : 700 gram
6. Balance: pengental/air : x gram
1000 gram
 Resep Alkali
1. Na2CO3 : 150 g/l
2. NaCl : 100-150 g/l

 Cuci penyabunan
1. Teepol :1 ml/L
2. Na2CO3 : 2 g/L
3. Suhu : 70°c
4. Waktu : 10/15 menit
3.5. Fungsi zat
 Zat warna reaktif panas : Untuk mewarnai serat kapas pada proses pencapan
 Urea : Zat higroskopis, mengatur kelembaban bahan agar pasta cap tidak kering
seluruhnya dan membantu pelarutan zat warna reaktif
 Pengental Na alginat (manutex) : Untuk meningkatkan kekentalan pasta cap,
meletakan zat warna pada bahan tekstil dan sebagai pengatur viskositas
 Zat anti reduksi : Agar zat warna tidak tereduksi dengan zat-zat pembantu
 Na2CO3 : Pembawa suasana alkali
 Teepol : Sebagai zat pembasah yang berfungsi menurunkan dan menaikkan
tegangan pemukaan kain sehingga memudahkan masuknya zat warna kedalam serat.

IV. PERHITUNGAN RESEP


4.1 Pasta cap
30
 Zat warna reaktif panas : 1000 𝑥 75 = 2,25 gram
20
 Zat anti reduksi : 1000 𝑥 75 = 1,5 gram
200
 Higrokopis : 1000 𝑥 75 = 13,125 gram
750
 Pengental alginate : 1000 𝑥 75 = 556,25 gram

4.2 Alkali
150
 Na2CO3 : 1000 𝑥 100 = 15 gram
5
 NaCl : 1000 𝑥 100 = 0,5 gram

V. DATA PERCOBAAN
Berdasarkan hasil percobaan metoda steam
MetodaSteam Ketuaan warna Ketajaman motif Kerataan warna
4 menit baik Kurang Baik Kurang baik
8 menit Baik baik Cukup Baik
12 menit Cukup baik baik Baik
16 menit Sangat baik baik Baik
VI. DISKUSI
Pada praktikum kali ini telah dilakukan pencapan zat warna reaktif panas pada
kain panas dengan menggunakan metoda pad steam dengan memvariasikan waktu steam.
Telah dilakukan beberapa evaluasi pada hasil pencapan antara lain : ketuaan warna,
ketajaman motif, kerataan warna dan handling
Dari Hasil percobaan dengan waktu steam yang lebih lama menghasil ketuaan
warna yang lebih baik, karena semakin lama waktu steam semakin lama pula waktu
fiksasinya sehingga zat warna yang masuk kedalam serat lebih banyak.
sedangkan pada evaluasi Ketajaman motif, Ketajaman motif yang kurang baik
terletak pada resep 1 dan 3 yaitu dengan waktu steam 4 menit dan 12 menit. hal tersebut
dapat terjadi dikarenakan saat penempelan screen pada kain kurang tepat selain itu
ketajaman motif juga dapat di engaruhi oleh kekentalan/viskositas dari pasta cap.
Kemudian dilakukan evaluasi Kerataan zat warna pada hasil pencelupan, kerataan
dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah zat anti reduksi. Pada resep 4
dengan waktu steam 16 menit memiliki kerataan yang lebih baik diantara yang lainnya
Karena pada metoda steam zat warna anti reduksi dapat bekerja lebih lebih baik untuk
proses migrasi zat warna, jika proses migrasi zat warna lebih baik maka zat warna akan
masuk secara merata tidak hanya tertumpuk pada satu permukaan tertentu saja.
Setelah proses pencapan harus dilakukan proses pencucian dimana proses
pencucian ini dilakukan sebanyak 3 kali yaitu dicuci menggunakan air dingin lalu dicuci
sabun panas kemudian dicuci lagi menggunakan air dingin.. Pada pembilasan dengan air
dingin semua permukaan kain harus terendam dan jangan terkena udara, begitupun saat
pemindahan kain pada proses pencucian air panas, karena dapat menyebabkan staning
(terjadinya oksidasi). pada proses ini kita dapat mengetahui kain mana yang mengalami
lunturan paling banyak. Dari hasil praktikum kain yang lunturannya paling banyak adalah
resep 1 dan 2 hal ini dapat disebabkan karena fiksasi zat warna kurang maksimal, karena
waktu steamming yang dilakukan hanya sebentar.
VII. KESIMPULAN
1. Ketuaan warna terbaik pada metoda steam dengan waktu steam 16 menit
2. Ketajaman warna terbaik pada metoda steam dengan waktu 16 menit, tetapi
ketajaman motif ni tergantung pada viskositas dari pasta cap.
3. Kerataan warna terbaik pada metoda steam dengan waktu 16 menit
DAFTAR PUSTAKA
Hadifitrana, 30 Maret 2011, ZatWarnaTekstil
http://HADI-FIRTANA–Zat-Warna-Tekstil.html
dr.triyasthessa tri astuty, Sabtu, 08 Mei 2010, TekhnologiTekstil
http://thessatriyas.blogspot.com/2010_05_01_archive.html