Anda di halaman 1dari 13

TUGAS KAPITA SELEKTA

“PARASITOLOGI”

Oleh:

Nama : Riska Novitasari


NIM : P07134115045
Semester : VII (Tujuh)
Prodi/Jurusan : DIV Analis kesehatan

KEMENTRIAN KESEHATAN RUPBLIK INDONESIA

POLTITEKNIK KESEHATAN MATARAM

JURUSAN ANALIS KESEHATAN

2018
KASUS

Pada saat Praktik Belajar Lapangan (PBL) di Rumah Sakit Siloam Hospital Mataram

dilakukan Medical Cek Up (MCU) karyawan siloam pada tanggal 18 Oktober 2018. Pada

salah satu sampel urine karyawan wanita yaitu :

 Nama : Laura Rompas

 No RM : 181011MCU058

 Umur : 22 Tahun

Dilakukan pemeriksaan urine secara makroskopis dan mikroskopis. Secara makroskopis

didapat hasil :

 Warna : Kuning

 Kekeruhan : Agak Keruh

 Keton : +/-

 Leukosit : 2+

 Bj : 1010

 pH : 6,0

Secara mikroskopis dengan pemeriksaan sediment urine didapatkan hasil :

 Epitel : >50

 Leukosit : 5-10

 Eritrosit : 0-1

 Bakteri : 2+

 Dan ditemukan parasite yaitu

Trichomonas Vaginalis (+)

2
Pada saat pengamatan di mikroskop,parasite tersebut berbentuk oval atau piri dan

memiliki flagella yang menjutai bebas di ujungnya sebagai alat gerak,Intinya berbentuk

oval,serta sitoplasmanya berbulir halus. Sebelum di keluarkan hasil tersebut, dikonfirmasi

dahulu ke dokter penanggung jawab lab dan dilakukan pemeriksaan duplo untuk memastikan

hasil tersebut benar atau tidak sehingga karyawan tersebut diminta sampel urinenya kembali.

Setelah dilakukan pemeriksaan ulang, ditemukan kembali trichomonas vaginalis pada

sediment urine sampel tersebut . Sehingga penanggung jawab lab dan dokter mengeluarkan

hasil yaitu Trichomonas vaginalis (+) positif.

Berikut adalah beberapa gambar pergerakan parasite dalam satu lapang pandang.

Parasit tersebut bergerak dengan cepat dengan berputar putar diantara sel epitel dan leukosit

dengan menggerakkan flagel.

3
PEMBAHASAN

Karyawan tersebut kemungkinan terinfeksi Trichomonas vaginalis karena pada

perempuan parasite ini hidup di vagina dan uretra sehingga pada sediment urin dari sampel

tersebut dapat terlihat Trichomonas vaginalis stadium tropozoit. Infeksi Trichomonas

vaginalis ini dapat terjadi secara langsung waktu hubungan seksual melalui stadium tropozoit

masuk dan menempel pada sel epitel vagina sehingga menyebabkan degenerasi dan

deskuamasi sel epitel vagina. T. vaginalis menghasilkan sistein proteinase sehingga dapat

menempel pada epitel vagina. Selain itu T. vaginalis juga dapat memodulasi antigen

permukaan melalui variasi antigen sehingga tidak dikenali oleh sistem imun. Karena stadium

tropozoit ini menempel pada sel epitel vagina maka pada sediment urine sampel urine dari

karyawan ini pada mikroskopisnya terdapat lebih dari 50 sel epitel per lapang pandang yang

dimana parasite T.vaginalis ini bergerak dengan cepat dengan berputar-putar diantara sel

epitel dan lekosit dengan menggerakkan flagel. Infeksi Trichomonas vaginalis ini juga dapat

pada keadaan lingkungan kurang baik, misalnya banyak orang hidup bersama dalam satu

rumah dapat terjadi infeksi secara tidak langsung melalui alat mandi seperti lap mandi,

handuk, atau alat sanitasi seperti toilet duduk. Hal tersebut memungkinkan karyawan siloam

tersebut terinfeksi dapat secara langsung melalui hubungan seksual maupun tidak langsung.

Menurut informasi dari karyawan yang lain bahwa karyawan tersebut belum menikah jadi

kemungkinan karyawan tersebut terinfeksi secara tidak langsung melalui alat mandi atau

toilet duduk yang terdapat tropozoit T.vaginalis. Untuk mencegah terjadinya infeksi

T.vaginalis ini hal yang perlu dilakukan yaitu dengan menjaga kebersihan pribadi dan alat-

alat toilet hendaknya dilakukan agar tidak terjadi penularan secara tidak langsung dan tidak

berganti-ganti pasangan dalam melalukan hubungan seksual.

4
Berikut adalah penjelasan mengenai Trichomonas Vaginalis

A. MOROFLOGI DAN KARAKTERISTIK TRICHOMONAS VAGINALIS

Trichomonas Vaginalis ini berbentuk oval, panjang 4-32 µm dan lebar 2,4-14,4 µm,

memiliki flagella dan undulating membran yang panjangnya hanya setengah panjang

tubuhnya. Intinya berbentuk oval dan terletak di bagian atas tubuhnya, di belakang inti

terdapat blepharoblast sebagai tempat keluarnya 4 buah flagella yang menjuntai bebas

dan melengkung di ujungnya sebagai alat geraknya yang ‘maju-mundur’. Flagella kelima

melekat ke undulating membrane dan menjuntai ke belakang sepanjang setengah panjang

tubuh protozoa ini. Sitoplasma terdiri dari suatu struktur yang berfungsi seperti tulang

yang disebut sebagai axostyle (Parasitologi & Kedokteran, 2006).

5
Granula krom Trichomonas vaginalis ini memperoleh makanan secara osmosis dan

fagositosis. Perkembangbiakannya dengan cara membelah diri (binary fision), dan inti

membelah dengan cara mitosis yang dilakukan setiap 8 sampai 12 jam dengan kondisi

yang optimum. Jadi tidak heran bila dalam beberapa hari saja protozoa ini dapat

berkembang mencapai jutaan. Tidak seperti protozoa lainnya, Trichomonas vaginalis

tidak memiliki bentuk kista. Sel-sel Trichomonas vaginalis memiliki kemampuan untuk

melakukan fagositisis. Vakuola, partikel, bakteri, virus, atau pun leukosit dan eritrosit

(tetapi jarang) dapat ditemukan di dalam sitoplasma. Pada infeksi yang ditemukan

bercampur dengan Neisseria gonorrhoe, Mycoplasma hominis, atau Chlamydia

trachomatis, maka kebanyakan gonococcus akan dibunuh dalam waktu 6 jam, dan semua

mycolasma akan dibunuh dalam waktu 3 jam. Belum diketahui berapa lama waktu yang

dibutuhkan untuk membunuh Chlamydia trachomatis, tetapi belum ada bukti yang

menunjukkan Chlamydia trachomatis dapat bertahan hidup bila dijumpai infeksi

campuran dengan Trichomonas vaginalis.

Untuk hidup dan berkembang biak, Trichomonas vaginalis membutuhkan kondisi

lingkungan yang konstan dengan temperatur sekitar 35-37°C, pH antara 4,9 dan 7,5 dan

sangat baik perumbuhannya pada pH berkisar 5,5 dan 6. Sangat sensitif terhadap tekanan

osmotik dan kelembaban lingkungan. Protozoa ini akan cepat mati bila diletakkan di air

atau dikeringkan.

Meskipun penularan Trichomonas vaginalis secara non-venereal sangat Trichomonas

vaginalis dapat diidentifikasi dari sediaan sekret vagina yang masih segar, dimana kita

dapat melihat organisme ini secara jelas beserta pergerakannya. Selain dari sekret vagina,

protozoa ini dapat juga kita temukan dalam urine. Tetapi sediaan dari sekret vagina yang

masih segar lebih baik karena protozoa ini sangat sensitif dan mudah mati, apalagi pada

6
urine bisa terdapat sel-sel lain (seperti leukosit) yang menyulitkan kita untuk

membedakannya.

B. SIKLUS HIDUP

Perkembangbiakannya dengan cara berkembang biak secara belah pasang longitudinal

dan inti membelah dengan cara mitosis yang dilakukan setiap 8 sampai 12 jam dengan

kondisi yang optimum. Jadi tidak heran bila dalam beberapa hari saja protozoa ini dapat

berkembang mencapai jutaan. Tidak seperti protozoa lainnya, trichomonas tidak

memiliki bentuk kista. Sel-sel trichomonas vaginalis memiliki kemampuan untuk

melakukan fagositosis.

Untuk dapat hidup dan berkembang biak, Trichomonas vaginalis membutuhkan

kondisi lingkungan yang konstan dengan temperatur sekitar 35-37˚C, hidup pada Ph

diatas 5,5- 7,5. Sangat sensitif terhadap tekanan osmotik dan kelembaban lingkungan.

Protozoa ini akan cepat mati bila diletakkan di air atau di keringkan. Meskipun penularan

Trichomonas vaginalis secara non-venereal sangat jarang, ternyata organisme dapat

hidup beberapa jam dilingkungan yang sesuai dengan lingkungannya.

Trichomonas vaginalis bergerak dengan cepat berputar-putar di antara sel-sel epitel

dan leukosit dengan menggerakkan flagel anterior dan membran bergelombang.

Parasit ini mati pada suhu 500C, tetapi dapat hidup selama 5 hari pada suhu 00C. Dalam

biakan, parasit ini mati pada pH <4,9, (pH vagina 3,8 - 4,4) dan tahan terhadap

desinfektans dan antibiotik.

Trichomonas vaginalis dapat diidentifikasi dari sediaan sekret vagina yang masih

segar, dimana kita dapat melihat organisme ini secara jelas pergerakannya. Selain dari

sekret vagina yang masih segar lebih baik karena protozoa ini sangat sensitif dan mudah

mati, apalagi pada urine bisa terdapat sel-sel lain (seperti leukosit) yang menyulitkan kita

untuk membedakannya.

7
Trichomonas vaginalis berada di saluran alat kelamin perempuan bagian bawah. Pada

laki-laki berada di uretra dan prostat.Memperbanyak diri dengan pembelahan biner ( satu

menjadi dua). Parasit tidak memiliki bentuk kista, dan tidak bertahan dengan baik di

lingkungan luar.Trichomonas vaginalis ditularkan di antara manusia, terutama melalui

hubungan seksual melalui stadium trofozoit. Pada keadaan lingkungan kurang baik,

misalnya banyakorang hidup dalam satu rumah dapat terjadi infeksi secara tidak

langsung melalui alat mandi seperti lap mand, handuk atau alat sanitasi seperti toilet seat.

Neonates mendapatkan infeksi T.vaginalis dari ibu yang terinfeksi selama persalinan

melalui jalan lahir. Infeksi ini cenderung asimtomatik sampai pubertas.

Infeksi dimulai dari hubungan seksual dengan orang yang mengandung T.vaginalis.

pertama trofozoit harus menempel pada sel epitel vagina dan ini terjadi melalui interaksi

ligand-karbohidrat. Mannose dan N-asetil glukosamin merupakan residu gula pada

membrane parasite yang digunakan untuk proses penempelan tersebut. Sekresi hydrolase

lisosomal seperti fosfatase asam terjadi pada host cell-parasiteinterface segera setelah

proses penempelan. Hydrolase asam ini bersifat sitotoksik yang menyebabkan sel target

lisis dan mengeluarkan isinya. Sel debris kemudian dimakan oleh parasite. Parasite

menggunakan karbohidrase sepeeti N-asetilglukosaminidase dan α-mannosidase untuk

melepaskan dirinya dari membrane sel target kemudian pindah ke sel selanjutnya.

8
C. PATOLOGI DAN GEJALA KLINIS TRICHOMONAS VAGINALIS

Trichomonas vaginalis yang di tularkan pada jumlah cukup ke dalam vagina dapat

berkembang biak, bila flora bakteri, pH dan keadaan fisiologi vagina sesuai. Setelah

berkembang biak cukup banyak, parasit menyebabkan degenerasi dan deskuamasi sel

epitel vagina. Keadaan ini disusul oleh serangan leukosi, dan disekitar vagina tedapat

banyak leukosit dan parasit bercampur dengan sel-el epitel. Sekret vagina mengalir

keluar vagina dan menimbulkan gejala flour albus atau keputihan. Setelah lewat stadium

akut, gejala berkurang dan dapat reda sendiri.

Pada pemeriksaan in speculo, tampak kelaian berupa vaginitis, dinding vagina dan porsio

tampak merah meradang dan pada infeksi berat tampak pula pendarahan-pendarahan

kecil. Flour tampak berkumpul di belakang porsio, encer atau sedikit kental pada infeksi

campur, berwarna putih kekuning-kuningan atau putih kelabu dan berbusa.banyak flour

yang di bentuk tergantung dari beratnya infeksi dan stadium penyakit.

Selain gejala flour albus yang merupakan keluhan utama penderita, pruritus vagina

atau vulva dan disuria (rasa pedih waktu kencing) merupakan keluhan tambahan. Infeksi

dapat menjalar dan menyebabkan uretritis. Kadang-kadang infeksi terjadi tanpa gejala.

Pada pria, infeksi biasanya terjadi tanpa gejala, atau dapat pula menyebabkan uretritis,

prostatitis dan prostatovisikulitis.

D. DIAGNOSA LABORATORIUM

Ada beberapa cara pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan untuk mendiagnosis

trikomoniasis. Diagnosis dapat ditegakkan melalui hal – hal berikut ini :

1. Gejala klinis.

Diagnosis ditegakkan melalui gejala klinis baik yang subyektif maupun obyektif. Tetapi

diagnosis sulit ditegakkan pada penderita pria dimana trikomoniasis pada pria hanya

9
dijumpai sedikit organisme Trichomonas vaginalis dibandingkan dengan wanita

penderita trikomoniasis.(Chin J,2000)

2. Pemeriksaan mikroskopik.

Pemeriksaan secara mikroskopik dapat dibedakan menjadi 2 berdasarkan sampel yang

digunakan sebagai bahan pemeriksaan yaitu :

a. Sediaan sekret vagina

Pengambilan sampel sekret vagina dilakukan dengan cara – cara pap smear. Kemudian

buat sediaan lalu dilakukan pengecatan dan lihat di bawah mikroskop. Pemeriksaan

mikroskopis secara langsung dapat juga dilakukan dengan cara membuar sediaan dari

sekret vagina yang dicampur dengan satu tetes garam fisiologis diatas gelas obyek dan

langsung dilihat dibawah mikroskop.

Pemberian beberapa tetes KOH 10 – 20 % pada cairan vagina yang diperiksa , dapat

menimbulkan bau yang tajam dan amis pada 75% wanita yang positif trikomoniasis dan

infeksi bacterial vaginosis. Tetapi tidak pada mereka yang menderita vulvovaginal

kandidiasis.untuk menyingkirkan bacterial vaginosis dari infeksi trikomoniasis dapat

diketehui dengan memeriksa konsentrasi lactobacillus yang jelas berkurang pada

trikomoniasis dan pH vagina yang basa. Pada pria , pengambilan sekret dilakukan

dengan memencet gland penis sampai cairan terkumpul diujung gland penis lalu dibuka.

Pada pemeriksaan sekret secara mikroskopik pada mereka yang terinfeksi trikomoniasis

sering dijumpai sel – sel PMN yang sangat banyak , coccobacillus , serta organisme

Trichomonas vaginalis yang pada sediaan yang segar dapat kelihatan motil. (Mulyati

Ompungsu,1995)

b. Sediaan sedimen urin

Urin yang akan diperiksa, sebelumnya diputar terlebih dahulu dengan kecepatan rendah

selama 5 menit, kemudian dibuang supernatannya. Sedimen yang mengendap pada dasar

10
tabung tersebut diperiksa secara mikroskopis dengan lensa obyektif 10 kali atau

memakai lensa obyektif 40 kali untuk mengamati Trichomonas vaginalis . Setelah itu

segera dilakukan pengecatan. (Gracia L.S,2006)

3. Kultur

Selain pemeriksaan secara klinis dan mikroskopis langsung, cara lain yang dapat

dilakukan adalah dengan kultur, terutama pada mereka yang sedikit jumlah organisme

Trichomonas vaginalisnya , seperti pada pria atau wanita penderita trikomoniasis kronik.

(Yunilda,2005)

4. Serologi dan Immunologi.

Pemeriksaan dengan cara ini belum menjamin dan belum cukup sensitive untuk

mendiagnosis infeksi Trichomonas vaginalis . Walaupun sudah banyak penelitihan yang

akhir – akhir ini menggunakan teknik serologi untuk mendiagnosis infeksi Trichomonas

vaginalis .(Andriyani,2005)

E. PENCEGAHAN

Penyakit yang disebebkan oleh Trichomonas vaginalis dapat dicegah dengan

berbagai cara, diantaranya yaitu:

 Hindari menggunakan pencuci vagina dengan semprot vagina (spray)

• Kenakan pakaian dalam dari katun agar mudah menyerap kelembaban, dan sirkulasi

udara di sekitar vagina terjaga. Pakaian yang tidak menyerap keringat akan

menciptakan suasana di vagina menjadi lembab dan tentu saja merangasang

pertumbuhan bakteri yang merugikan.

• Meski penampilan terlihat seksi tapi sebisa mungkin hindari celana panjang super

ketat karena dapat menimbulkan rasa hangat dan lembab.

• Ganti pembalut sesering mungkin jika sedang mengalami haid.

• Jaga kebersihan vagina baik sebelum dan sesudah behubungan seks.

11
• Membasuh vagina dengan bersih setiap kali membuang air besar dan keringkan

dengan tisu.

• Setelah buang air besar, bilaslah dengan air dari arah depan ke belakang. Cara ini

dapat mencegah penyebaran bakteri dari arah anus ke vagina.

• Jaga Organ intim tetap bersih dan kering.

• Jaga berat badan ideal. karena kegemukan dapat membuat paha tertutup rapat dan

membuat lingkungan vagina lembab akibat kurang sirkulasi.

• Mengkonsumsi makanan sehat bergizi, jangan terlalu banyak mengandung gula dan

tepung karena dapat mempercepat pertumbuhan bakteri merugikan.

• Hindari stress karena daya tahan tubuh bisa menurun dan dapat mengundang infeksi.

• Jangan lupa olahraga teratur agar kekebalan tubuh terjaga.

• Pencegahan infeksi yang disebabkan oleh trichomonas vaginalis dapat dilakukan

dengan Penyuluhan dan pendidikan terhadap pasien dan masyarakat umumnya

tentang infeksi ini. Diagnosis dan penanganan yang tepat pada pasangan penderita

tricomoniasis.

 Pemakaian kondom dapat dijadikan sebagai salah satu cara untuk mencegah

tertularnya pasangan seksual terhadap infeksi ini.

 Tidak berhubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan. Dan apabila salah satu

pasangan menderita tricomoniasis, maka sebaiknya pengobatan diberikan kepada

kedua orang pasangan tersebut.

F. EPIDEMIOLOGI

Trikomoniasis vagina ditemukan di mana-mana, sukar untuk menentukan frekuensi

penyakit ini di suatu daerah karena kebanyakan penelitian dilakukan pada golongan

tertentu saja seperti golongan wanita hamil (18 – 25 % di AS) dan dari klinik ginekologi

( 30 – 40 % di Eropa timur ). Di Indonesia berdasar hasil penelitian di RSCM Jakarta

12
terdapat 16% kasus dari klinik kebidanan dan 25 % wanita dari klinik ginekologi (

sample sebanyak 1146 orang ). Trichomonas vaginalis biasanya ditularkan melalui

hubungan seksual dan ternyata organisme ini dapat bertahan hidup selama 45 menit di

tempat dudukan toilet, pakaian mandi dan air hangat. Penularan perinatal ditemukan

sekitar 5 % dari ibu yang terinfeksi trikomoniasis, tetapi biasanya sembuh dengan

sendirinya ( self – limited ) oleh karena metabolism dari hormon ibu.(Prasetyo

H.R,2002)

Pada wanita Trichomonas vaginalis sering diketemukan pada kelompok usia 20 – 49

tahun ,berkembang pada usia muda dan usia lanjut dan jarang terjadi pada anak gadis.

Pada penelitihan sekitar tahun enampuluhan angka infeksi Trichomonas vaginalis

mencapai tiga kali lipat dari infeksi candida pada wanita yang telah menikah. Dan angka

ini bervariasi dapat mencapai 15 % atau lebih terutama pada wanita yang kurang

memperhatikan kualitas kebersihan pribadinya .(Chin J,1973)

13