Anda di halaman 1dari 137

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN ANAK DENGAN PENYAKIT

DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DALAM PEMENUHAN


KEBUTUHAN RASA NYAMAN DI RUANG RAWAT ANAK
RSU. ALIYAH 2 KOTA KENDARI
SULAWESI TENGGARA

KARYA TULIS ILMIAH

DiajukanSebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan


Diploma III Keperawatan Kesehatan Kemenkes Kendari
Jurusan Keperawatan

OLEH :
RIVAWARDA FITRIYAH HASTRIYANTI
P00320015045

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KENDARI
JURUSAN D III KEPERAWATAN
TAHUN 2018

i
ii
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Rivawarda Fitriyah Hastriyanti

Nim : P00320015045

Institusi Pendidikan : Jurusan Keperawatan

Judul KTI : ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN ANAK


DENGAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE
(DBD) DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN RASA
NYAMAN DI RUANG RAWAT ANAK RSUP. ALIYAH
2 KOTA KENDARI SULAWESI TENGGARA

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa Tugas Akhir yang saya tulis ini benar-

benar hasil karya saya sendiri, Dan bukan merupakan pengambilan tulisan atau

pikiran orang lain yang saya akui sebagai tulisan atau pikiran saya sendiri.

Apabila dikemudian hari dapat dibuktikan bahwa Tugas Akhir ini adalah hasil

jiplakan, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.

Kendari, 13 Agustus 2018

Yang Membuat Pernyataan,

Rivawarda Fitriyah H

iii
Motto

Sesulit apapun di kerjakan jalani lah dengan Hati sabar, jujur

dan bertawakal, “percayah” lah pasti Kemudahan akan datang

menghampirimu, Sebab Allah Memberikan Ujian pada Umatnya

tidak akan melebihi Semampuh batas kemampuan umatnya.

Serta, Tak Perlu Berusaha Lebih Baik Dari Orang Lain, Tetapi

Berusahalah Lebih Baik Dari Dirimu Yang Kemarin, Maka pasti

Engkau Akan Jadi Yang Terbaik.

Rivawarda Fitriyah H

iv
RIWAYAT HIDUP

A. Identitas

1. Nama : Rivawarda Fitriyah Hastriyanti

2. Tempat Tanggal Lahir : Kendari, 03 Januari 1998

3. Jenis Kelamin : Perempuan

4. Agama : Islam

5. Suku / Bangsa : Bugis/ Indonesia

6. Alamat : Jln. Tekaka No.1 Kendari Barat

B. Pendidikan

1. SD Madrasah Ibtidaiyah Negeri Kendari Barat. Tamat Tahun 2009

2. SMP Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Kendari Tamat Tahun 2012

3. SMA Negeri 9 Kendari Tamat Tahun 2015

4. Poltekkes Kemenkes Kendari Jurusan Keperawatan Masuk Tahun 2015

v
ABSTRAK

Rivawarda Fitriyah Hastriyanti, Nim : P00320015045 “ Asuhan


Keperawatan Pada Pasien Anak Dengan Penyakit Demam Berdarah
Dengue (DBD) Dalam Pemenuhan Kebutuhan Rasa Nyaman Di Ruang
Rawat Anak RSU. Aliyah 2 Kota Kendari Sulawesi Tenggara”. Yang Di
Bimbing Oleh Bapak Samsudin.,S.Kep.,Ns.,M.Kep Dan Ibu Rusna
Tahir, S.Kep., Ns., M.Kep. Demam Berdarah Dengue (DBD) Adalah
Penyakit Menular Yang Di Sebabkan Oleh Virus Dengue Dan Di Tularkan
Melalui Gigitan Nyamuk Aedes Aegypti. Beberapa Tanda Dan Gejala yang
Dirasakan Oleh Klien DBD Di Ataranya Pada Nyeri Kepala,Dan Otot
(Mialgia),). Data dari Rekam Medik RSU. Aliyah 2 Kota Kendari
Menunjukkan Bahwa Jumlah Penderita Penyakit BDB Tercatat Pada Tahun
2016 yaitu terdapat 520 Pasien Anak, 61 Anak diantaranya mengalami
pendarita DBD, Dan Pada Tahun 2017 Pasien Anak meningkat hingga 79
anak mengalami penyakit DBD, Sedangkan pada awal 2018 yakni bulan
Januari – Februari terdapat 11 Pasien Anak yang Menderita DBD. Studi kasus
ini Bertujuan untuk mengetahui Asuhan Keperawatan Pada Pasien Anak
Dengan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Dalam Memenuhan
Kebutuhan Rasa Nyaman (Nyeri) Pada Pasien Tersebut. Rancangan Studi
Kasus yang digunakan menggunakan Deskriptf. Subjek Pada Studi Kasus Ini
Yaitu Menggunakan Satu Orang Pasien Sesuai Dengan Kriteria Inklusi Dan
Eklusi Yang Telah Ditetapkan. Data Diperoleh Dengan Melakukan
Pengkajian Secara Langsung Dan Wawancara Kepada Pasien Serta dengan
Dokumen-Dokumen Yang Ada Di Rumah Sakit Berkaitan Dengan Data
Pasien Tersebut. Hasil Studi Kasus Diperoleh Bahwa Dengan Adanya
Penggunaan Teknik Kompres Air Hangat Dan Massase Pada Area yang Di
Rasakan Nyeri Selama 5 Hari Memberikan Pengaruh Terhadap Skala Nyeri
Pada Pasien Anak DBD. Skala Nyeri Pasien Sebelum Dilakukan Tindakan
Tersebut Yaitu 5, Setelah Dilakukan Tindakan Skala Nyeri menurun Menjadi
Skala 2. Bagi Perawat, Tindakan Kompres Air Hangat Dan Massase Ini
Dapat Dijadikan Salah Satu Intervensi Keperawatan Serta Dimasukan
Kedalam Discharge Planning Sebagai Tindakan Mandiri Pasien Ketika
Berada Dirumah Apabila Sedang Merasakan Nyeri Baik untuk Dirinya
Maupun Keluarganya.

Kata Kunci :Demam Berdarah Dengue (DBD), Nyeri,


Asuhan Keperawatan, RSU. Aliyah 2 Kota Kendari.

Daftar Pustaka : 13 (2008-2017)

vi
KATA PENGANTAR

Tiada kata yang paling indah, selain Puji syukur pada kehadirat Allah SWT,
Tuhan semesta alam yang memberikan berkat, rahmat dan karunia-nya, sehingga penulis
dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada
Pasien Anak Dengan Penyakit Demam Brdarah Dengue (DBD) Dalam Pemenuhan
Kebutuhan Rasa Nyaman di Ruang Rawat Mina RSU. Aliyah 2 Kota Kendari”.

Dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini penulis sadari amat banyak hal
cobaan yang datang menghampiri, namun berkat Allah S.W.T yang senantiasa
memberi petunjuk-Nya serta keyakinan pada kemampuan diri sendiri, sehingga
segala hambatan yang penulis hadapi dapat teratasi. Olehnya itu pertama – tama
penulis meyampaikan Terima kasih sebesarnya yang mungkin belum cukup untuk
di berikan penulis kepada Kedua orang tua yang amat kucintai, Ayahanda Sultan
Rahman S.Ag dan Ibunda Heldawaty Hafied S.H atas segala doa dan penuh kasih
saying yang tak henti-hentinya tercurahkan demi keberhasilan serta semua
pengorbanan material yang telah dilimpahkan, tanpa doa restu keduanya penulis
tidak ada apa-apanya. Selanjutnya penulis ucapkan terimakasih yang tak terhingga
kepada kedua pembimbing yaitu Bapak Samsuddin.,S.Kep.,Ns.,M.Kep selaku
Pembimbing I dan Ibu Rusna Tahir, S.Kep., Ns., M.Kep selaku Pembimbing II
yang dengan penuh kesabaran dan keikhlasan membimbing penulis sehingga
Karya Tulis Ilmiah ini dapat terselesaikan Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini,
Pada kesempatan ini penulis tidak lupa juga mengucapkan banyak terima kasih
dan penghargaan yang tulus kepada yang terhormat :

1. Ibu Askrening Selaku Direktur Poltekkes Kemenkes Kendari.


2. Bapak Indriono Hadi, S.Kep, Ns, M.Kes, selaku Ketua Jurusan
Keperawatan Politeknik Kesehatan Kendari.
3. Ibu Reni Devianti Usman, M.Kep, Sp.KMB, selaku Sekretaris Jurusan
Keperawatan Politeknik Kesehatan Kendari.

vii
4. Ibu Asminarsih Zainal Prio, M.Kep, Sp.Kom selaku Penguji I, Ibu Fitri Wijayati,
S.Kep., Ns., M.Kep selaku Penguji II dan Ibu Nurfantri, S.Kep., Ns., M.Sc
selaku Penguji yang telah membantu dan mengarahkan penulis dalam ujian
Proposal sehingga penelitian ini dapat lebih terarah.
5. Bapak / Ibu Dosen dan Staf Poltekkes Kemenkes Kendari Jurusan
Keperawatan yang turut membantu dan membekali ilmu pengetahuan pada
penulis selama kuliah.
6. Kepala Kantor Badan Riset Sultra yang telah memberikan izin penelitian
kepada penulis dalam penelitian ini
7. Direktur RSU. Aliyah 2 Kota Kendari yang telah memberikan izin
melakukan studi kasus.
8. Kepala Ruangan Rawat Mina serta kaka perawat yang dalam bertugas RSU.
Aliyah 2 kota kendari yang telah membantu dan memberikan bimbingan ,
serta wawasan ilmu yang bermanfaat kepada penulis selama meneliti di
ruangan.
9. Orang-orang tersayang, nenek Faidah Hafied Ras serta Adik-adikku
Nurwahyuni Julianti S.R, dan Muchammad Syamsul Bachri yang selalu
memberikan dukungan dan kasih sayangnya.
10. Terakhir, teruntuk sahabat-sahabatku Hendi Setiawan, Nurul Alfi Syahra ,
Novianti Rusli, , Hilya Mahzura, Fiffy Andriyani serta teman-teman
angkatan 2015 khususnya teman-teman tingkat III A Akhir kata, semoga
Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amiin

Kendari, 06 Juli 2018

Penulis

viii
DAFTAR ISI

Halaman Judul............................................................................................................... i

Halaman Pengesahan ................................................................................................... ii

Surat Pernyataan Keaslian Tulisan............................................................................ iii

Motto ........................................................................................................................... iv

Riwayat Hidup ............................................................................................................. v

Abstrak ........................................................................................................................ vi

Kata Pengantar ........................................................................................................... vii

Daftar isi....................................................................................................................... x

Daftar gambar.............................................................................................................. xi

Daftar tabel................................................................................................................. xii

Daftar lampiran ......................................................................................................... xiii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................ 1

A. Latar Belakang ................................................................................................. 1


B. Rumusan Masalah ............................................................................................ 5
C. Tujuan .............................................................................................................. 6
D. Manfaat ............................................................................................................ 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................................. 8

A. Konsep Dasar Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) ............................. 8


1. Definisi....................................................................................................... 8
2. Etiologi....................................................................................................... 8
3. Patofisiologi ............................................................................................... 9
4. Manifestasi Klinis .................................................................................... 11
5. Pemeriksaan Penunjang ........................................................................... 14
6. Penatalaksanaan ....................................................................................... 14
7. Pengkajian Pada Penyakit DBD............................................................... 16
8. Diagnosis Medis Dugaan (suspect) DBD ................................................ 17
9. Intervensi keperawatan............................................................................. 18
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Kebutuhan Rasa Nyaman .................... 18
1. Pengkajian Keperawatan Nyeri................................................................ 18
2. Diagnosis Keperawatan Nyeri ................................................................. 20
3. Perencanaan Keperawatan ....................................................................... 22
4. Pelaksanaan (Tindakan Keperawatan) ..................................................... 24
5. Evaluasi Keperawatan.............................................................................. 26

ix
C. Konsep Dasar Kebutuhan Rasa Nyaman (nyeri) Pada DBD ......................... 26
1. Definisi Rasa Nyaman (nyeri).................................................................. 26
2. Klasifikasi Nyeri ...................................................................................... 27
3. Fisiologi Nyeri ......................................................................................... 27
4. Faktor Yang Mempengaruhi nyeri ........................................................... 30
BAB III METODOLOGI PENULISAN

A. Rancangan Studi Kasus.................................................................................. 33


B. Subjek Studi Kasus......................................................................................... 33
C. Waktu Dan Tempat Melakukan Studi Kasus ................................................. 34
D. Fokus Studi Kasus.......................................................................................... 34
E. Definisi Operational ....................................................................................... 34
F. Langkah – Langkah Pengumpulan Data ........................................................ 38
G. Analisa Data Dan Penyajian Data .................................................................. 41
H. Etika Penelitian .............................................................................................. 41
BAB IV HASIL STUDI KASUS DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Studi Kasus ........................................................................................... 44


B. Pembahasan.................................................................................................... 78
C. Keterbatasan Studi Kasus............................................................................... 87
BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan .................................................................................................... 89
B. Saran............................................................................................................... 90
Daftar Pustaka

Lampiran

x
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Wong-Baker Faces Pin Rating Scale............................................... 19

Gambar 2.2 Verbal Pain Assessment Chart......................................................... 20

Gambar 2.3 Verbal Pain Assassment Scale......................................................... 20

xi
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Intervensi Keperawatan Pada Diagnosa Keperawatan Nyeri .......... 22

Tabel 2.2 Perbedaan Nyeri Dan Nyeri Kronis ................................................. 27

Tabel 4.1 Frekuensi skala nyeri sebelum dan sesudah dilakukan kompres air

hangat dan massasse ........................................................................ 73

Tabel 4.2 Catatan Perkembangan..................................................................... 74

xii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Format Pengkajian Data Pada Anak

Lampiran 2 : Format Pengkajian Keperawatan Kenyamanan

Lampiran 3 : Standar Operasional Prosedur (SOP) Kompres Air Hangat

Lampiran 4 : Standar Operasional Prosedur Massase

Lampiran 5 : Instrumen Penelitian Pain Level

Lampiran 6 : Instrumen Penelitian Control Pain

Lampiran 7 : Lembaran Observasi (Catatan Perkembangan)

Lampiran 8 : Lembar Permohonan Menjadi Responden

Lampiran 9 : Lembar Pernyataan Persetujuan Responden

Lampiran 10 : Surat Permohona Izin Dari Penelitian Ketua Prodi Kejurusan

Lampiran 11 : Surat Permohonan Izin Dari Penelitian Dari Direktuk Poltekkes

Lampiran 12 : Surat Rekomendasi Penelitian Badan Kesatuan Bangsa Dan

Politik

Lampiran 13 : Surat Badan Penelitian Dan Pengembangan

Lampiran 14 : Surat Keterangan Penelitian Dari RSU. Aliyah 2

Lampiran 15 : Surat Keterangan Bebas Administrasi

Lampiran 16 : Surat Keterangan Bebas Pustaka

Lampiran 17 : Dokumentasi Hasil

Lampiran 18 : Lembar Konsul KTI

Lampiran 19 : Lembar Konsul Hasil

xiii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Salah satu masalah kesehatan masyarakat sampai saat ini adalah penyakit

menular. Salah satunya penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). DBD

merupakan masalah kesehatan yang jumlah penderitanya dari tahun ketahun

cenderung meningkat dan penyebarannya semakin luas. Penyakit menular ini

cenderung menyerang anak-anak. Wordl Healt Organizatio (WHO) penyakit ini

ditemukan nyaris di seluruh belahan dunia terutama di negara-negara tropik dan

subtropik baik sebagai penyakit endemik maupun epidemik. Dengan sekitar 2,5

miliyar orang atau dua perlima dari populasi dunia kini menghadapi resiko dari

dengue dan memperkirakan bahwa mungkin50 juta kasus infeksi dengue di

seluruh dunia setiap tahunya (Purnama, dkk, 2017). WHO memperkirakan insiden

DBD telah tumbuh meningkat secara dramatis di seluruh dunia dalam beberapa

dekade terakhir. Angka-angka yang sebenarnya dari kasus kesalahan klasifikasi.

Salah satu perkiraan baru-baru ini menunjukkan bahwa infeksi DBD sebesar 390

juta per tahun. Penelitian lain, memperkirakan 3,9 milyar orang, di 128 negara,

berada pada daerah yang berisiko terinfeksi virus dengue.

DBD merupakan suatu penyakit endemik akut yang disebabkan oleh virus

Dengue yang di transmisikan oleh nyamuk Aedes Aegypti di daerah perkotaan dan

nyamuk Aedes Abopictus di daerah pedesaan (KESMAS, 2017). DBD adalah

suatu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue (arborvirus) yang masuk

kedalam tubuh melalui gigitan nyamuk dari genus Aedes atau Aedes aegypti

(Suriadi & Yuliani, 2010).

1
Adapun virus dengue yang tergolong Arthropod-Borne Virus, genus

Flavivirus, dan family Flaviviridae.(infodatin, 2016). Virus dengue, termasuk

genus Flavivirus, keluarga flaviridae terdapat 4 serotipe virus yaitu DEN-1, DEN-

2 dan DEN-4 keempatnya ditemukan di Indonesia dengan DEN-3 serotipe

terbanyak. Infeksi salah satu serotipe akan menimbulkan antibodi terhadap

serotipe yang bersangkutan, sedangkan antibodi yang terbentuk terhadap serotipe

lain sangat kurang, sehingga tidak dapat memberikan perlindungan yang memadai

terhadap serotipe lain tersebut. Seseorang yang tinggal di daerah endemis dengue

dapat terinfeksi oleh 3 atau 4 serotipe selama hidupnya. Keempat serotipe virus

dengue dapat ditemukan di berbagai daerah di Indonesia dan masih menyerang

penduduk dunia saat ini (Nurarif & Kusuma, 2015) .

Indonesia Juga termasuk negara endemis DBD yang setiap tahun selalu

terjadi kejadian luar biasa (KLB) di berbagai kota. Sepanjang tahun dilaporkan

sebanyak 137.469 kasus DBD di Indonesia dengan kematian sebesar 1.170 orang.

Penyakit DBD di Indonesia pertama kali ditemukan di Surabaya pada tahun 1968,

dimana sebayak 58 orang terinfeksi dan 24 orang diantaranya meninggal dunia

dengan Case Fatality Rate (CFR) sebesar 41,3% dan sejak itu, penyakit DBD ini

menyebar ke seluruh Indonesia (Soedarto, 2012).

Indonesia adalah daerah endemis DBD dan mengalami epidemik sekali

dalam 4-5 tahun. Awal penyebab dari penyakit DBD oleh faktor lingkungan

dengan banyaknya genangan air bersih yang menjadi sarang nyamuk, mobilitas

penduduk yang tinggi dan cepatnya menyebar antar daerah, menyebabkan sering

terjadinya demam berdarah dengue. Penyakit tersebut banyak ditemukan di daerah

tropis dan sub-tropis termasuk di Indonesia. Tahun 2015 pada bulan Oktober ada

2
3.219 kasus DBD dengan kematian mencapai 32 jiwa, sementara November ada

2.921 kasus dengan 37 angka kematian, dan Desember sebanyak 1.104 kasus

dengan 31 kematian. Dibandingkan dengan tahun 2014 pada Oktober tercatat

8.149 kasus dengan 81 kematian, November 7.877 kasus dengan 66 kematian, dan

Desember sebanyak 7.856 kasus dengan 50 kematian (Kemenkes RI, 2016). Dan

tahun 2016 merupakan tahun dengan kasus DBD tertinggi dalam beberapa tahun

terakhir.

Jumlah penderita DBD di Sulawesi Tenggara yang dilaporkan sebanyak

3.433 kasus, melonjak lebih dari 2 kali lipat dibanding tahun sebelumnya, 33

kasus di antaranya meninggal dunia (Incidence Rate/Angka Kesakitan 132,5 per

100.000 penduduk dan Case Fatality Rate (CFR)/Angka Kematian = 1,0%, angka

ini lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 1,4% (Profil

Kesehatan Sulawesi Tenggara, 2016). Kondisi ini diperburuk dengan rendahnya

partisipasi masyarakat dalam pengendalian DBD dikarenakan masih kurangnya

pengetahuan, sikap dan tindakan kelompok dan masyarakat dalam

penanggulangannya DBD ( Kemenkes RI, 2015).

Kematian akibat DBD dilaporkan sebanyak 33 orang dari total 3.433 kasus

DBD, jumlah tersebut berasal dari 10 kabupaten/kota. Kematian akibat DBD

dikategorikan tinggi jika CFR > 2 %, CFR DBD Sulawesi Tenggara sebesar 1%,

dengan demikian angka kematian akibat DBD di Sulawesi Tenggara masih berada

pada kategori sedang. Meskipun CFR relatif turun, peningkatan kasus yang

signifikan dari tahun ke tahun harus terus diwaspadai. Untuk itu diperlukan upaya

yang lebih serius dalam hal peningkatan kualitas lingkungan, kualitas pelayanan

kesehatan dan peningkatan kualitas SDM di rumah sakit dan puskesmas (dokter,

3
perawat, dll) termasuk peningkatan sarana penunjang diagnostik dan

penatalaksanaan bagi penderita di sarana-sarana pelayanan kesehatan guna

menekan peningkatan jumlah kematian akibat DBD di masa mendatang ( Profil

Kesehatan Sulawesi Tenggara, 2016).

Khususnya Kota Kendari merupakan salah satu daerah yang dikategorikan

endemis kejadian demam berdarah dengue di Provinsi Sulawesi Tenggara.

Kejadian DBD di Kota Kendari mulai dari 2014-2016 cenderung mengalami

fluktuatif. Data laporan dinas kesehatan kota Kendari tahun 2014 prevalensi kasus

DBD sebanyak 30 kasus dengan kematian sebanyak 9 kasus. Tahun 2015

prevalensi kasus DBD sebanyak 78 kasus dengan kematian sebanyak 22 kasus.

Dan tahun 2016 prevalensi kasus DBD sebanyak 349 kasus dengan kematian

sebanyak 4 kasus. Seluruh kecamatan yang ada di kota kendari telah diklasifikan

menjadi daerah endemis DBD (KESMAS, 2017).

Penyakit DBD merupakan penyakit demam akut selama 2-7 hari yang di

tandai dengan dua atau lebih manifestasi klinis salah satunya nyeri. Di ataranya

pada nyeri kepala, nyeri otot (mialgia), nyeri sendi dan nyeri dibelakang mata

(retro-orbital) (Nurarif & Kusuma, 2015). Nyeri adalah masuknya rangsangan

kedalam medulla spinalis melalui akar ganglion dorsal sehingga merangsang T,

dan megakibatkan rangsangan tersebut berpindah kebagian yang lebih tinggi yaitu

korteks serebri dan menimbulkan nyeri. Nyeri secara umum dibagi menjadi dua,

yaitu nyeri akut dan kronis. Nyeri akut yaitu nyeri yang timbul secara mendadak

dan cepat menghilang dengan waktu tidak melebihi enam bulan dan ditandai

dengan adanya penegangan otot. Nyeri kronis yaitu nyeri yang timbul secara

4
perlahan-lahan dan berlangsung lama dan dalam waktu lebih dari enam bulan

(Alimul, 2008).

Data dari RSU Aliyah 2 Kota Kendari pada tahun 2016 terdapat 520

pasien anak, 61 anak diantaranya mengalami pendarita DBD. Sedangkan pada

tahun 2017 pasien anak meningkat hingga 603 pasien anak, 79 anak mengalami

penyakit DBD. Sedangkan pada awal 2018 yakni bulan januari – februari

terdapat 11 pasien anak yang menderita DBD (Rekam Medik RSU Aliyah 2 Kota

Kendari, 2018).

Patofisiologi dari kasus DBD adalah akibat respon imun yang terjadi

ditubuh. Respon imun yang berlebihan ini akan menyerang berbagai bagian tubuh

seperti pembuluh darah, otot/sendi. Pada saat imun menyerang pembuluh darah

maka akan menyebabkan gejala seperti trombositopenia dan juga peningkatan

hematokrit . sedangkan pada saat si sel imun tersebut menyerang bagian otot dan

sendi maka akan menimbulkan gejala nyeri otot/sendi .

Data RSU Aliyah 2 menunjukkan bahwa kejadian DBD pada anak juga

mengalami peningkatan. Sehingga dengan begitu, penyakit DBD di kategorikan

penyakit berbahaya dan menular yang perlu diwaspadai kalangan masyarakat

terutama bila menyerang anak-anak karena dapat menyebabkan kematian bila

tidak diatasi dengan cermat. Terlebih lagi pada saat anak merasakan nyeri akan

menunjukkan respon wajah meringis bahkan sampai menangis tergantung dari

tingkat nyeri yang di rasakan sehingga anak akan menjadi gelisan, rewel dan

susah di atur. Sifat keluhan nyeri menimbulkan perasaan tidak nyaman pada anak

sehingga cenderung ikut berpengaruh terhadap proses kebutuhan lain.

5
Uraian yang dipaparkan di atas menjadi landasan bagi peneliti untuk

mengambil studi kasus mengenai “Asuhan Keperawatan Pada Pasien Anak

Dengan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Dalam Pemenuhan

Kebutuhan Rasa Nyaman Di Ruang Rawat Anak RSU Aliyah 2 Kota

Kendari Sulawesi Tenggara”.

B. Rumusan Masalah

Rumusan dalam Studi kasus dari Latar Belakang di atas dapat di

rumuskan permasalahan Dalam Studi kasus adalah “Bagaimana Asuhan

Keperawatan Pada pasien Anak Dengan Penyakit Demam Berdarah Dengue

(DBD) Dalam Pemenuhan Rasa Nyaman (nyeri) Diruang Rawat Anak RSU

Kota Kendari Sulawesi Tenggara.

C. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

Penulis dapat memberikan Asuhan Keperawatan pada pasien Anak DBD

dalam pemenuhan kebutuhan Rasa Nyaman di ruang rawat anak RSU Aliyah

2 Kota kendari Sulawesi Tenggara.

2. Tujuan Khusus

a. Penulis mampu melakukan pengkajian asuhan keperawatan pada pasien

anak Demam Berdarah Dengue dalam pemenuhan kebetuhan rasa nyaman

di ruang rawat anak RSU Aliyah 2 Kota kendari Sulawesi Tenggara.

b. Penulis mampu menegakkan Diagnosa asuhan keperawatan pada pasien

anak dengan penyakit Demam Berdarah Dengue dalam pemenuhan

kebutuhan rasa nyaman di ruang rawat anak RSU Aliyah 2 Kota kendari

Sulawesi Tenggara.

6
c. Penulis mampu menyusun Intervensi asuhan keperawatan pada pasien

anak dengan penyakit Demam Berdarah Dengue dalam pemenuhan

kebutuhan rasa nyaman di ruang rawat anak RSU Aliyah 2 Kota kendari

Sulawesi Tenggara.

d. Penulis mampu menerapkan Implementasi asuhan keperawatan pada

pasien anak dengan penyakit Demam Berdarah Dengue dalam pemenuhan

kebutuhan rasa nyaman di ruang rawat anak RSU Aliyah 2 Kota kendari

Sulawesi Tenggara.

e. Penulis mampu menyusun Evaluasi asuhan keperawatan keperawatan

pada pasien anak dengan penyakit Demam Berdarah Dengue dalam

pemenuhan kebutuhan rasa nyaman di ruang rawat anak RSU Aliyah 2

Kota kendari Sulawesi Tenggara.

D. Manfaat Penulisan Studi Kasus

Studi kasus ini diharapkan memberikan manfaat bagi:

1. Masyarakat/Klien

Masyarakat dapat memperoleh pengetahuan tentang penyakit DBD untuk

meningkatkan kemandirian dalam menolong diri sendiri dan keluarga

2. Pengembangan ilmu dan Teknologi keperawatan

Dapat menambah wawasan ilmu dan teknologi keperawatan dalam

pemenuhan kebutuhan rasa nyaman pada pasien anak dengan penyakit

Demam Berdarah Dengue.

3. Penulis

7
Dapat memperoleh pengalaman dalam mengaplikasikan intervensi

keperawatan, khususnya studi kasus dalam pemenuhan kebutuhan rasa

nyaman pada pasien anak dengan penyakit DBD.

8
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep penyakit Demam Berdarah Dengue

1. Definisi

Demam dengue/DF dan demam berdarah dengue/DBD (dengue

haemorrhagic fever/DHF) adalah infeksi yang disebabkan oleh virus dengue

dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot atau nyeri sendi yang disertai

leukopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia dan ditesis hemoragik. Pada

DBD terjadi perembesan plasma yang ditandai dengan hemokonsentrasi

(peningkatan hematokrit) atau penumpukan cairan di rongga tubuh. Sindrom

renjatan dengue (dengue shock syndrome) ada demam berdarah dengue yang

ditandai oleh renjatan/syok (Nurarif & Kusuma, 2015).

DBD adalah penyakit menular yang di sebabkan oleh virus dengue dan di

tularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti. Penyakit ini dapat menyerang

semua orang dan dapat mengakibatkan kematian, terutama pada anak. Penyakit

ini juga sering menimbulkan kejadian luar biasa atau wabah. Penyebab penyakit

Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)

adalah virus dengue (Nursalam,dkk. 2008).

2. Etiologi

Penyakit DBD di sebabkan oleh virus dengue dari kelompok Arbovirus B,

yaitu Arthtopod-borne virus dan ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes

aegypti dengan bintik hitam putih pada tubuhnya. Virus dengue merupakan virus

RNA rantai tunggal, genus flavivirus dari family Flaviviride, terdiri atas 4 tipe

9
virus yaitu D1, D2, D3 dan D4. Struktur antingen ke-4 serotipe ini sangat mirip

satu dengan yang lain, namun antibodi terhadap masing-masing tipe virus tidak

dapat saling memberikan perlindungan silang. Variasi genetik yang berbeda

pada ke-4 serotipe ini tidak hanya menyangkut antar tipe virus, tetapi juga di

dalam tipe virus itu sendiri tergantung waktu dan daerah penyebarannya. Infeksi

salah satu serotipe akan menimbulkan antibodi terhadap serotipe yang

bersangkutan, sedangkan antibodi yang terbentuk terhadap serotipe lain sangat

kurang, sehingga tidak dapat memberikan perlindungan yang memadai terhadap

serotipe lain tersebut.seseorang yang tinggal didaerah endemis dengue dapat

terinfeksi oleh 3 atau 4 serotipe selama hidupnya. Keempat serotipe virus

dengue dapat ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Perantara pembawa

virus dengue, dalam hal ini nyamuk Aedes disebut vector. Biasanya nyamuk

Aedes yang menggingit tubuh manusia adalah nyamuk betina, sedangkan

nyamuk jantannya lebih menyukai aroma yang manis pada tumbuh – tumbuhan.

(Sudoyo Aru, dkk) dalam Buku (Nurarif & Kusuma, 2010).

3. Patofisiologi

Virus dengue akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes

aegypti dan kemudian akan bereaksi dengan antibodi dan terbentuklah kompleks

virus antibodi, dalam sirkulasi akan mengaktivivasi sistem komplement. Akibat

aktivasi C3 dan C5 akan di lepas C3a dan C5a, dua, peptide yang berdaya untuk

melepaskan histamin dan merupakan mediator kuat sebagai faktor meningginya

permeabilitas dinding pembuluh darah dan menghilangnya plasma melalui endotel

dinding itu. Terjadinya trombositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan

menurunnya faktor koagulasi (protrombin, faktor V, VII, IX, X dan fibrinongen)

10
terutama perdarahan saluran gastrointestinal pada DHF. Yang menentukan

beratnya penyakit adalah meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah,

menurunnya volume plasma, terjadinya hipotensi, trombositopenia dan diatesis

hemoragik. Renjatan terjadi secara akut. Nilai hematokrit meningkat bersamaan

dengan hilangnya plasma melalui endotel dinding pembuluh darah. Dan dengan

hilangnya plasma klien mengalami hipovolemik. Apabila tidak diatasi bisa terjadi

anoksia jaringan, asidosis metabolik dan kematian (Suriadi & Yuliani, 2010).

Adapun beberapa klasifikasi DBD berdasarkan tingkatan derajat diantaranya:

(Suriadi Dan Yuliani, 2010).

a. Derajat I : Demam disertai gejala klinis lain atau perdarahan spontan, uji

turniket positif, Trombositopenia dan hemokonsentrasi.

b. Derajat II : Derajat I disertai perdarahan spontan di kulit dan atau perdarahan

lain.

c. Derajat III : Kegagalan sirkulasi : nadi cepat dan lemah, hipotensi, kulit

dingin lembab, gelisah

d. Derajat IV : Renjatan berat, denyut nadi dan tekanan darah tidak dapat

diukur.

11
PATHWAY

Virus Dengue

Gigitan nyamuk
Aedes Aegypti

Terjadi Viremia

Demam nyeri otot Stimulasi


RES
Hipertemi tulang dan sendi
Keringat
Hepotomegali

Dehidrasi Gangguan rasa nyaman Mendesakrongga


nyeri Abdomen
Defisit volume
Cairan dan Elaktrolit Mual ,Muntah

Nafsu makan

Perubahan Nutrisi
Dari kebutuhan tubuh

4. Manifestasi klinis

Beberapa Manifestasi Klinis pada penyakit DBD pada anak diantara lain:

(Suriadi Dan Yuliani, 2010)

a. Demam tinggi atau Panas

Panas biasanya langsung tinggi dan terus-menerus, dengan sebab yang tidak

jelas dan hamper tidak bereaksi terhadap pemberian antipiretik (mungkin

hanya akan turun sedikit kemudian naik kembali). Dan Panas tersebut

biasanya berlangsung 2-7 hari. ( Rampengan, 2008)

12
b. Perdarahan terutama perdarahan bawah kulit; ptechie, ekhimosis,

hematoma.

c. Epistaksis, Hematemesis, melena, hematuri

d. Mual, muntah, tidak ada nafsu makan, diare, konstipasi.

e. Nyeri otot, tulang sendi, abdomen, dan ulu hati

f. Sakit kepala

g. Pembengkakan sekitar mata

h. Pembesaran hati, limpa, dan kelenjar getah bening

i. Tanda-tanda renjatan (sianosis, kulit lembab dan dingin, tekanan darah

menurut, gelisah, capillary refil lebih dari dua detik, nadi cepat dan lemah).

Adapun Manifestasi Klinis menurut (Nurarif & Kusuma, 2010) dari

Demam Dengue adalah merupakan penyakit demam akut selama 2-7 hari yang di

tandai dengan dua atau satu manifestasi klinis yaitu:Nyeri Kepala, Nyeri retro-

orbital, myalgia/arthralgia, Ruam kulit, Manifestasi perdarahan (petekie atau uji

bending positif), leukopenia,pemeriksaan serologi dengue positif; atau ditemukan

DD/DBD yang sudah dikonfirmasi pada lokasi dan waktu yang sama.

Berdasarkan kriteria WHO 1997 dalam (Nurarif & Kusuma, 2010)

diagnosis DBD ditegakkan bila semua semua hal dibawah ini terpenuhi :

a. Demam atau riwayat demam akut antara 2-7 hari, biasanya bersifat bisafik.

b. Manifestasi perdarahan yang biasanya berupa :

1. Uji tourniquet positif

2. Petekie,ekimosis, atau purpura

13
3. Perdarahan mukosa (epistaksis, perdarahan gusi), saluran cerna, tempat

bekas suntikan.

4. Hematemesis atau melena

c. Trombositopenia< 100.00/ul

d. Kebocoran plasma yang ditandai dengan

1. Peningkatan nilai hematrokrit > 20% dari nilai buku sesuai umur dan

jenis kelamin.

2. Penurunan nilai hematokrit >20% setelah pemberian cairan yang

adekuat.

3. Tanda kebocoran plasma seperti: hipoproteinemi, asites, efusi pleura.

Kasus DBD ditandai oleh manifestasi klinis, yaitu: demam tinggi dan mendadak

yang dapat mencapai 40◦C atau lebih dan terkadang disertai dengan kejang

demam, sakit kepala, anoreksia, muntah-muntah (vomitting), epigastric

discomfort, nyeri perut kanan, atas atau seluruh bagian perut, dan perdarahan,

terutama perdarahan kulit, walupun hanya berupa uji tourniquet positif. Selain itu,

perdarahan kulit dapat berwujud memar atau dapat juga berupa perdarahan

spontan mulai dari petechiae (muncul pada hari-hari pertama demam dan

berlangsung selama 3-6 hari) pada extremitas, tubuh, dan muka, sampai epitaksis

dan perdarahan gusi. Sementara perdarahan gastrointestinal massif lebih jarang

terjadi dan biasanya hanya terjadi pada kasus dengan syok yang berkepanjangan

atau setelah syok yang tidak dapat teratasi. Perdarahan lain seperti perdarahan

subkonjungtiva terkadang juga ditemukan. Pada masa konvalesen sering kali

ditemukan eritema pada telapak tangan dan kaki dan hepatomegali. Hepatomegali

pada umumnya dapat diraba pada permulaan penyakit dan pembesaran hati ini

14
tidak sejajar dengan beratnya penyakit. Nyeri tekan sering kali ditemukan tanpa

ikterus maupun kegagalan peredaran darah (circulatory failure).

5. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan Penunjang tersebut dilakukan melalui pengambilan sampel darah

dalam pemeriksaan penyakit DBD dilihat dari hasil uji lab diantaranya yaitu:

1. Trombositopeni (100.000/mm3)

2. Hb dan PCV meningkat (20%)

3. Leukopeni (mungkin atau lekositosis)

4. Serologi (uji H): respon antibody sekunder

5. Isolasi Virus

6. Pada renjatan yang berat, periksa: Hb, PCV berulang kali (setiap jam atau 4-

6 jam apabila sudah menunjukkan tanda perbaikan) faal, hemostatis, FDP,

EKG, foto dada, BUN, creatinine serum.

6. Penatalaksanaan

Demam berdarah dengue tanpa disertai syok, pengobatannya hanya bersifat

simptomatis dan suportif (Rampengan, 2008).

a. Pemberian cairan yang cukup

Cairan diberikan untuk mengurangi rasa haus dan dehidrasi akibat demam

tinggi, anoreksia, muntah. Pendarita perlu diberi minum sebanyak mungkin

(1,5-2 liter dalam 24 jam) sebaiknya oralit, tetapi dapat juga air the dengan

gula, jus buah, minuman ringan (soft drink), sirup. Atau susu. Pada

beberapa panderita dapat diberikan oralit.

b. Antipiretik jika terdapat demam

15
Seperti golongan asetaminofen (parasetamol), jangan diberikan golongan

salisit karena dapat menyebabkan bertambahnya perdarahan.

c. Pemberian cairan melalui infus, dilakukan jika pasien mengalami

kesulitan minum dan nilai hematokrit cenderung meningkat.

d. Antikonvulsan

Bila penderita kejang dapat diberikan :

1. Diazepam (Valium)

2. Fenobarbital (Luminal)

e. Penatalaksaan nyeri

Adapun penatalaksanaan nyeri pada gangguan rasa nyaman diantaranya :

(Pratama, 2017)

1. Stimulasi dan masase kutaneus.

Masase adalah stimulasi kutaneus tubuh secara umum, sering

dipusatkan pada punggung dan bahu dengan cara memijatnya pelan –

pelan.

2. Terapi es dan panas.

Terapi es dapat menurunkan prostaglandin, yang memperkuat

sensitivitas reseptor nyeri dan sub kutan lain pada tempat cedera dengan

menghambat proses inflamasi. Penggunaan panas mempunyai

keuntungan meningkatkan aliran darah ke suatu areadan kemungkinan

dapat turut menurunkan nyeri dengan mempercepat penyembuhan. Baik

terapi es maupun terapi panas harus digunakan dengan hati – hati dan

dipantau dengan cermat untuk menghindari cedera kulit.

3. Distraksi

16
Distraksi yaitu mengalihkan perhatian pasien pada sesuatu selain

pada nyeri dapat menjadi strategi yang berhasil.

4. Teknik relaksasi.

Relaksasi otot skeletal dipercaya dapat menurunkan nyeri dengan

merilekskan ketegangan otot yang menunjang nyeri. Periode relaksasi

yang teratur dapat membantu untuk melawan keletihan dan ketegangan

otot yang terjadi dengan nyeri kronis dan yang meningkatkan nyeri.

7. Pengkajian pada penyakit DBD

a. Pemeriksaan fisik, meliputi inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi dari

ujung rambut sampai ujung kaki. Berdasarkan tingkatan (grade) DBD,

keadaan fisik anak adalah sebagai berikut:

1. Grade I: kesadaran kompos mentis keadaan umum lemah, tanda-tanda vital

dan nadi lemah.

2. Grade II: kesadaran kompos mentis, keadaan umum lemah, ada perdarahan

spontan petekia, perdarahan gusi dan telinga, serta nadi lemah, kecil, dan

tidak teratur.

3. Grade III: kesadaran apatis, somnolen, keadaan umum lemah, nadi lemah,

kecil, dan tidak teratur, serta tensi menurun.

4. Grade IV: kesadaran koma, tanda-tanda vital: nadi tidak teraba, tensi tidak

terukur, pernapasan tidak teratur, ekstremitas dingin, berkeringat, dan kulit

tampak biru.

b. Sistem integument:

1. Adanya petekia pada kulit, turgor kulit menurun, dan muncul keringat

dingin, dan lembab.

17
2. Kuku sianosis/tidak

3. Kepala dan leher

Kepala terasa nyeri, muka tampak kemerahan karena demam (flusy), mata

anemis, hidung kadang mengalami perdarahan (epistaksis) pada grade II,

III, IV. Pada mulut didapatkan bahwa mukosa mulut kering, terjadi

perdarahan gusi, dan nyeri tekan. Sementara tenggorokan mengalami

hyperemia pharing dan terjadi perdarahan telingan (pada grade II,III,IV).

4. Dada

Bentuk simetris dan kadang-kadang terasa sesak. Pada foto thorax terdapat

adanya cairan yang tertimbun pada paru sebelah kanan (efusi pleura),

Rales+, Ronchi+, yang biasanya terdapat pada grade III dan IV.

5. Abdomen. Mengalami nyeri tekan, pembesaran hati (hepatomegali), dan

asites.

6. Ekstremitas. Akral dingin,serta terjadi nyeri otot, sendi, serta tulang.

Masalah/Diagnosis

8. Diagnosis medis: dugaan (suspect) DBD

1. Masalah yang dapat ditemukan pada pasien DBD antara lain:

a. Peningkatan suhu tubuh (hipertemia).

b. Nyeri

c. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi, sehingga kurang dari

kebutuhan

d. Potensial terjadi perdarahan intra abdominal.

e. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.

18
f. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet dan perawatan

pasien DBD

g. Gangguan aktivitas sehari-hari

h. Potensial untuk terjadinya reaksi transfuse

9. Intervensi Keperawatan

Perencanaan yang dibuat untuk klien yang nyeri akut bertujuan agar klien

memenuhi hal-hal berikut :

NOC:

a. Pain level

b. Pain control

Dengan kriteria Hasil :

a. Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan teknik

nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, dan mencari bantuan)

b. Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri

c. Mampu mengenali nyeri (skala, intesitas, frekuensi dan tanda nyeri)

d. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang.

B. Konsep Dasar Asuhan keperawatan dalam kebutuhan Rasa Nyaman (Nyeri)

1. Pengkajian Keperawatan Nyeri

Pengkajian pada masalah nyeri dapat dilakukan dengan melihat adanya

riwayat nyeri, keluhan nyeri seperti lokasi, intensitas, kualitas dan waktu

serangan terjadinya nyeri. Pengkajian nyeri dapat dilakukan dengan

menggunakan teknik PQRST:

a. P (Pemacu) : merupakan faktor yang menyebabkan berat ringannya nyeri

19
b. Q (Quality) : Menanyakan rasa nyeri, apakah nyerinya seperti rasa tajam,

tumpul atau terasa tersayat

c. R (Region) : daerah/ lokasi terjadinya nyeri

d. S (Severity) : tingkat keparahan nyeri

e. T (Time) : lama nya serangan atau frekuensi nyeri (Alimul, 2009).

Penilaian objektif skala nyeri pada anak sangatlah tidak mudah. Karena

dibutuhkan kerjasama dari pasien dalam menggambarkan rasa nyeri yang

dirasakannya. Dan tentunya sangat sulit dilakukan pada pasien anak. Beberapa

penelitian telah melakukan usaha untuk membuat skala objektif nyeri yang mudah

digunakan pada pasien anak. Salah satu skala objektif nyeri yang sering

digunakan di klinis adalah Wong Baker Faces Pain Rating Scales dari jurnal

penelitian Wong dan Baker (1). Skala nyeri ini menggunakan dua cara penilaian

yaitu penilaian mimik wajah terhadap nyeri (Faces Pain Rating Scale) untuk anak

usia 3 tahun ke atas dan penilaian verbal (Verbal Pain) untuk anak usia diatas 8

tahun.

1. Faces Pain rating Scale (Penilaian skala nyeri wajah) untuk anak usia 3

tahun lebih

Gambar.2.1

20
Wong-Baker FACES Pain Rating Scale Skala nyeri yang satu ini tergolong

mudah untuk dilakukan karena hanya dengan melihat ekspresi wajah pasien

pada saat bertatap muka tanpa kita menanyakan keluhannya.

Gambar. 2.2

2. Verbal Pain Asessment Scale (Penilaian Nyeri secara Verbal) untuk anak

usia 8 tahun keatas.

Gambar 2.3

2. Diagnosis Keperawatan Nyeri

Prasetyo (2010) menjelaskan ada dua diagnosis keperawatan utama yang

menggambarkan nyeri pada klien, yaitu nyeri akut dan nyeri kronis. Pada

penyakit DBD pada anak mengangkat diagnosa keperawatan nyeri akut dengan

batasan karakteristik antara lain :

21
a. Bukti nyeri dengan menggunakan standar daftar periksa nyeri untuk pasien

yang tidak dapat mengungkapkannya (mis; Pain Assesment Checklist for

senior with limited ability to communicate, Neonatal Infant Pain Scale).

b. Keluhan tentang intesitas menggunakan standar skala nyeri (mis; skala

wong-baker FACES, skala analog visual, skala penilaian numerik)

c. Diaforesis

d. Ekspresi wajah nyeri (mis; mata kurang bercahaya, tampak kacau, gerakan

berpencar atau tetap pada satu focus, dan meringis)

e. Mengekspresikan perilaku (mis; gelisah, merengek, menangis, waspada)

f. Perubahan pada parameter fisologi (mis; tekanan darah, frekuensi jantung,

frekuensi pernapasan, saturasi oksigen, dan endtidal karbon dioksida

{CO2})

g. Sikap melindungi area nyeri, perubahan posisi untuk menghindari nyeri dan

putus asa

Faktor Yang Berhubungan :

a) Agens cedera biologis

b) Agen cedera fisik

c) Agens cedera kimiawi (Herdman & Kamitsuru, 2015).

3. Perencanaan Keperawatan

Tabel 2. 1

Intervensi keperawatan pada diagnosa keperawatan nyeri

N Tujuan &
Diagnosa Intervensi Rasional
o Kriteria Hasil

1 Nyeri NOC : NIC 1. Bed rest dapat

22
Akut b.d  Pain Level a. Pain memberikan
proses  Pain Control Management : adekuat dalam
patologis Setelah 1. pertahankan bed tindakan
viremia diberikan rest selama fase kenyamanan
asuhan akut dan akan membuat
keperawatan gunakan teknik otot relaksasi
….× 24 jam, komunikasi menurunkan
klien mampu terapeutik kecemasan, dan
mengontrol dalam observasi dapat mengetahui
nyeri dengan tingkat nyeri tingkat skala
kriteria hasil : pasien (skala, nyeri yang
 Mampu frekuensi, dirasakan pasien.
mengontrol durasi). 2. Teknik Non
nyeri (Tahu 2. Berikan dan Farmakologi
penyebab Ajarkan teknik dalam
nyeri, mampu non farmakologi pengompresan
menggunakan seperti air hangat serta
teknik Non relaksasi, terapi Massase dapat
farmakologi masase pada mengurangi skala
untuk daerah nyeri, nyeri, yang akan
mengurangi kompres dahi membuat otot
nyeri) atau leher relaksasi dalam
 Melaporkan dengan air tindakan
Bahwa nyei hangat, elevasi kenyamanan.
berkurang kepala. 3. Lingkungan
dengan 3. Kendalikan yang tidak
menggunakan faktor nyaman bisa
manajemen lingkungan menyebabkan
nyeri serta yang dapat pasien gelisah,
kondisi umum mempengaruhi sehingga terjadi
dalam dalam respon pasien ketegangan
batas normal terhadap pada otot dan

23
TTV (tekanan ketidaknyamana nyeri akan lebih
darah, suhu, n (Misalnya terasa.
pernapasan, suhu,
dan nadi). pencahayaan,
 Mampu suara bising).
mengenali b. Analgesik
nyeri (skala, Administration
intesitas, 4. Kolaborasi
frekuensi, dan dalam
tanda nyeri)
pemberian
 Menyatakan
rasa nyaman analgesik untuk
setelah nyeri mengurangi
berkurang.
nyeri.( tentukan

analgesik

pilihan, rute

pemberian, dan

dosis optimal)

4. Pelaksanaan (Tindakan Keperawatan)

Dalam Pelaksanaan Tindakan Keperawatan, Perawat dapat melakukan

berbagai tindakan untuk mengurangi rasa nyeri. Tindakan tersebut yaitu

tindakan farmakologis dan non farmakologis. Biasanya, untuk nyeri skala yang

ringan tindakan non farmakologis merupakan tindakan intervensi yang paling

utama. Sedangkan untuk mengantisipasi perkembangan nyeri dapat digunakan

tindakan farmakologis. Nyeri yang sedang sampai berat dapat menggunakan

24
teknik non farmakologis, yang merupakan suatu pelengkap yang efektif

disamping tindakan utama nya yaitu farmakologis. (Prasetyo, 2010).

A. Faktor lain yang dapat menambah nyeri seperti ketidakpercayaan, ketakutan,

kelelahan, dan bosan.

B. Pada nyeri, tingkat teknik-teknik yang dapat digunakan diantaranya :

a) Teknik latihan pengalihan

1) Menonton tv

2) Berbincang dengan orang lain

3) Mendengarakan musik

b) Teknik relaksasi

Anjurkan pasien untuk menarik napas dalam , menghembuskan

secara perlaha dan melemaskan otot-otot tangan dan dilakukan berulang

kali hingga memperoleh rasa nyaman.

C. Pemberian obat analgetik

Obat analgetik digunakan untuk mengganggu atau memblok transmisi

stimulus sehingga mampu mengurangi rasa nyeri. Jenis analgesik yang biasa

digunakan yaitu narkotika dan bukan narkotika. Untuk menurunkan tekanan

darah dan depresi fungsi vital seperti respirasi biasanya efek dari jenis

narkotika. Obat yang dikenal di masyarakat seperti aspirin, asitamenofen dan

bahan antiinflamasi nonsteroid merupakan jenis dari bukan narkotika. Aspirin

memblok rangsangan dan menghambat sintesis prostaglandin dengan khasiat

15-20 menit dengan efek puncak obat sekitar 1-2 jam.

WHO mengkombinasikan penggunaan obat-obatan analgesik dan obat

adjuvan untuk mengontrol nyeri, dimana obat adjuvan yaitu obat yang

25
bertujuan untuk meningkatkan kemanjuran obat opiat, serta menghilangkan

gejala yang timbul dan dapat bertindak sebagai analgesik pada nyeri. Untuk

nyeri dengan skala ringan (1-3 pada skala 0-10) direkomendasikan

penggunana obat non opiat disertai atau tanpa obat adjuvan, WHO

merekomendasikan penggunaan opiat lemah diserati atau tanpa non opiat

serta diserati obat adjuvan untuk nyeri klien yang menetap atau skalanya

meningkat (4-6 nyeri skala sedang pada skala 0-10). Opiat kuat akan

diberikan apabila skala nyeri masih menetap atau bahkan meningkat, non

opiat daoat direruskan sedangkan obat adjuvan perlu dipertimbangkan

penggunaannya (AHCPR, 1994) Penulis (Prasetyo, 2010).

5. Evaluasi Keperawatan

Evaluasi Keperawatan dilakukan dengan cara menilai kemampuan respon nyeri

pada pasien Anak , diantaranya hilangnya perasaan nyeri, intensitas nyeri

menurun, respon fisiologis yang baik, serta kemampuan pasien melakukan

aktifitas sehari-hari.

C. Konsep Dasar Kebutuhan Rasa Nyaman (Nyeri) pada DBD

1. Definisi Rasa Nyaman (Nyeri)

Gangguan rasa nyaman adalah merasa kurang senang dalam suatu kondisi

tertentu misalnya berupa Nyeri (Nurarif & Kusuma, 2015). Nyeri merupakan

kondisi berupa perasaan tidak menyenangkan bersifat sangat subjektif karena

perasaan nyeri berbeda pada setiap orang dalam hal skala atau tingkatannya, dan

hanya orang tersebutlah yang dapat menjelaskan atau mengevaluasi rasa nyeri

yang dialaminya. Berikut ada beberapa pandapat para ahli mengenai pengertian

nyeri: (Alimul, 2009).

26
(Alimul, 2009) Mc. Coffery, 1979 mendefinisikan nyeri sebagai suatu

keadaan yang mempengaruhi seseorang yang keberadaannya diketahuai hanya

jika orang tersebut pernah mengalaminya. wolf weifsel Feurst, 1974 Mengatakan

bahwa nyeri merupakan suatu perasaan menderita secara fisik dan mental atau

perasaan yang bisa menimbulkan ketegangan (Alimul, 2009). (Arthur C.

Curton,1983 mengatakan bahwa nyeri merupakan suatu mekanisme produksi

bagi tubuh, timbul ketika jaringan sedang di rusak, dan menyebabkan individu

tersebut bereaksi untuk menghilangkan rangsangan nyeri (Alimul, 2009).

Scrumum mengartikan nyeri sebagai suatu keadaan yang tidak menyenangkan

akibat terjadinya rangsangan fisik maupun dari serabut saraf dalam tubuh ke otak

dan diikuti oleh reaksi fisik, fisiologi, dan emosional (Alimul, 2009).

2. Klasifikasi nyeri

Nyeri secara umum dibagi menjadi dua, yaitu nyeri akut dan kronis. Nyeri

akut yaitu nyeri yang timbul secara mendadak dan cepat menghilang dengan

waktu tidak melebihi enam bulan dan ditandai dengan adanya penegangan otot.

Nyeri kronis yaitu nyeri yang timbul secara perlahan-lahan dan berlangsung lama

dan dalam waktu lebih dari enam bulan. Kategori nyeri kronis yaitu nyeri

terminal, sindrom nyeri kronis dan nyeri psikosomatis.

Tabel 2.2

Perbedaan nyeri Akut dan Kronis

NO Karakteristik Nyeri Nyeri Akut Nyeri Kronis

1. Pengalaman Satu kejadian Satu situasi, status ekstistensi

2. Sumber Sebab eksternal atau Tidak diketahui atau pengobatan


penyakit dari dalam yang terlalu lama

3. Serangan Mendadak Bisa mendadak, berkembang

27
dan terselubung

4. Waktu Sampai enam bulan Lebih dari enam bulan atau


bertahun-tahun

5. Pernyataan nyeri Daerah nyeri tidak Daerah nyeri sulit dibedakan


diketahui dengan pasti intensitasnya

Sumber. Barbara C, Long, 1989 dalam (Alimul, 2008)

3. Fisiologi nyeri

Nyeri biasanya disebabkan karena adanya stimulus dan reseptor. Reseptor

nyeri yang dimaksud yaitu nosiseptor, dimana ujung-ujung saraf yang berada

dikulit akan memberikan respon terhadap stimulus yang diterima. Biologis, zat

kimia, panas, listrik serta mekanik merupakan bagian dari beberapa stimulus

tersebut.

Stimulus yang telah diterima reseptor kemudian ditransmisikan

berupaaimpuls-impuls nyeri ke sumsum tulang belakang oleh dua jenis serabut

bermiyelin yaitu serabut A (delta) dan serabut lambam (serabut C).

Serabut A membawa impuls yang bersifat inhibitor/penghambat yang

ditransmisikan ke serabut C. Serabut aferen masuk ke dalam spinal dengan

melalui akar dorsal dan sinaps pada dorsal hurn. Dorsal hurn ini terdiri dari

beberapa lapisan yang saling terkait, di antaranya berbentuk lapisan dua atau tiga

yang berbentuk substansia gelatinosa dan merupakan jalan/saluran utama impuls.

Kemudia, impuls tersebut melewati sumsum tulang belakang yang ada pada

interneuron dan bersamnung dengan jalur spinal asenden yang paling utama, jalur

sphinotalamic dan spinoreticular membawa informasi mengenai sifat dan lokasi

nyeri. Terdapat dua jalur mekanisme nyeri sebagai akibat dari proses transmisi

nyeri yaitu jalur opiate dan nonopiate. Neurotransmitter dalam impuls supresif

28
yaitu serotonin. Stimulus nociceptor lebih diaktifkan oleh sistem supresif yang

ditransmisikkan oleh serabut A. Sedangkan jalur desenden yaitu jalur nonopiate

yang tidak memberikan respon terhadap naloxone yang mekaninsmenya kurang

banyak diketahui (Barbara C. Long, 1989) dalam (Alimul, 2008)

Munculnya nyeri berkaitan erat dengan reseptor dan adanya rangsangan.

Reseptor nyeri yang dimaksud adalah nociceptor, merupakan ujung-ujung saraf

sangat bebas yang memiliki sedikit atau bahkan tidak memiliki myelin yang

tersebar pada kulit dan mukosa, khususnya pada visera, persendian, dinding arteri,

hati, dan kandung empedu. Reseptor nyeri dapat memberikan respons akibat

adanya stimulasi atau rangsangan. Stimulasi tersebut dapat berupa zat kimiawi

seperti histamine, bradikinin,prostaglandin, dan macam-macam asam yang dilepas

apabila terdapat kerusakan pada jaringan akibat kekurangan oksigenasi. Stimulasi

yang lain dapat berupa termal, listrik, atau mekani.

Selanjutnya, stimulasi yang terima oleh reseptor tersebut ditransmisikan

berupa impuls-impuls nyeri ke sumsum tulang belakang oleh dua jenis serabut

yang bermyelin rapat atau serabut A (delta) dan serabut lamban (serabut C).

impuls-impuls yang ditransmisikan oleh serabut delta A mempunyai sifat inhibitor

yang ditransmisikan ke serabut C. serabut-serabut aferen masuk ke spinal melalui

akar dorsal (dorsal root) serta sinaps pada dorsal horn. Dorsal horn terdiri atas

beberapa lapisan atau laminae yang saling bertautan. Di antara lapisan dua dan

tiga terbentuk substantia gelatinosa yang merupakan saluran utama impuls.

Kemudian, impuls nyeri menyeberangi sumsum tulang belakang pada interneuron

dan bersambung ke jalur spinal asendens yang paling utama, yaitu spinothalamic

trasct (STT) atau jalur spinothalamus dan spinoreticular tract (SRT) yang

29
membawa informasi tentang sifat dan lokasi nyeri. Dari proses transimisi terdapat

dua jalur mekanisme terjadinya nyeri, yaitu jalur opiate dan jalur nonopiate. Jalur

opiate ditandai oleh pertemuan reseptor pada otak yang terdiri atas jalur spinal

desendens dari talamus yang melalui otak tengah dan medulla ke tanduk dorsal

dari sumsum tulang belakang yang berkonduksi dengan nociceptor impuls

supresif. Serotonim merupakan neurotransmitter dalam impuls supresif. Sistem

supresif lebih mengaktifkan stimulasi nociceptor yang ditransmisikan oleh serabut

A. jalur nonopiate merupakan jalur desenden yang tidak memberikan respons

terhadap naloxone yang kurang banyak diketahui mekanismenya (Barbara C.

Long, 1989) dalam (Alimul, 2008).

4. Faktor yang Mempengaruhi Nyeri

Adapun penyakit DBD memiliki tingkatan atau derajat penyakit infeksi

virus dengue,salah satunya pada nyeri, masuk pada derajat awal dimana demam

disertai 2 atau lebih tanda yaitu myalgia, sakit kepala, nyeri retro orbital,

arthralgia (Nanda, 2015).

Faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan klien dalam mempersepsikan

nyeri, yaitu :

1. Usia

Anak yang masih kecil memiliki perbedaan dengan orang dewasa dalam

mempersepsikan nyerinya. Anak kecil yang merasakan nyeri belum dapat

mengucapkan kata-kata mengenai nyerinya.

2. Jenis kelamin

30
Secara umum, tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara laki-laki dan

wanita dalam persepsi nyeri. Hanya beberapa budaya yang mengajarkan bahwa

anak laki-laki harus lebih kuat ketika merasakan nyeri.

3. Kebudayaan

Perawat sering berpendapat bahwa cara respon tiap klien dalam

mempersepsikan nyeri itu sama. Sebagai contoh, apabila orang yang sedang

merintih atau menangis maka perawat akan mempersepsikan bahwa klien

merasakan nyeri dan membutuhkan intervensi, akibatnya pemberian intervensi

tidak sesuai. Ini terjadi pada warga meksiko, dimana warga meksiko yang

menangis keras tidak selalu mempersepsikannya sebagai nyeri yang hebat.

4. Makna nyeri

Nyeri yang dirasakan setiap orang akan mempengaruhi cara beradaptasi

terhadap nyeri.

5. Lokasi dan tingkat keparahan nyeri

Nyeri yang dirasakan klien bervariasi, sesuai dengan tingkat keparahannya.

Begitu juga dengan kualitas nyeri, dimana klien biasa melaporkan nyeri seperti

tertusuk-tusuk, nyeri tumpul dan berdenyut.

6. Perhatian

Nyeri juga akan dipengaruhi oleh tingkat perhatian. Perhatian yang meningkat

akan menyebabkan respon nyeri bertambah. Sedangkan dengan upaya distraksi

dapat mengurangi nyeri. Teknik inilah yang digunakan untuk terapi

mengurangi nyeri, seperti relaksasi, masase, teknik imajinasi terbimbing.

7. Ansietas

31
Ansietas yang dirasakan klien berhubungan dengan peningkatan persepsi nyeri

klien

8. Keletihan

Keletihan yang dirasakan akan meningkatkan sensasi nyeri

9. Pengalaman sebelumnya

Seseorang yang pernah mengalami nyeri akan lebih mudah dan siap

mengantisipasi nyeri yang dirasakannya.

10. Dukungan keluarga dan sosial

Dukungan dari keluarga, bantuan dan perlindungan sangat dibutuhkan oleh

klien yang merasakan nyeri.

32
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Rancangan Studi Kasus

Desain yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah studi kasus

dengan menggunakan metode deskriptif, yaitu penelitian yang digunakan

terhadap sekumpulan objek dengan tujuan utama untuk memberikan gambaran

tentang studi dan menganalisis lebih mendalam tentang Asuhan Keperawatan

pada pasien anak dengan penyakit DBD dalam kebutuhan rasa nyaman di ruang

rawat anak RSU Aliyah 2 Kota Kendari

B. Subjek Studi Kasus

Pada penelitian ini, peneliti mengambil satu klien untuk dijadikan subyek

studi kasus, yang sesuai dengan kriteria inklusi.

Kriteria inklusi yaitu batasan karakteristik umum subyek studi kasus dari

suatu populasi target yang terjangkau dan akan diteliti.

Kriteria pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Individu penderita DBD dalam gangguan rasa nyaman nyeri di ruang rawat

inap RSU. Aliyah 2 Kota Kendari

b. Berusia 12-17 tahun

c. Mampu berkomunikasi dengan kooperatif dan di dampingi oleh keluarga

d. Mampu membaca/menulis

e. Bersedia menjadi subjek study dan mengisi informed consent.

Kriteria Esklusi pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Pasien yang pulang setelah 5 hari perawatan

33
b. Pasien yang berpindah ruangan

C. Waktu dan Tempat Melakukan Studi Kasus

Studi kasus ini dilaksanakan di RSU Aliyah 2 Kota Kota Kendari,

dan studi kasus dilakukan setelah ujian proposal dilaksanakan, yaitu pada

bulan Juli 2018.

D. Fokus Studi Kasus

1. Gangguan kebutuhan rasa nyaman pada pasien Anak dengan penyakit

Demam Berdarah Dengue (DBD)

2. Penerapan teknik non farmakologi (stimulasi kutaneus yaitu masase dan

kompres air hangat) pada stimulasi kutaneus adalah terapi yang diberikan

untuk menstimulasi permukaan kulit dalam pengontrolan nyeri pada pasien

anak yang mengeluhkan nyeri, dengan penyakit DBD

E. Defenisi operasional

1. Studi kasus Asuhan keperawatan

a. Pada Anak dengan Penyakit demam berdarah dengue/DBD (dengue

haemorrhagic fever/DHF) adalah suatu infeksi yang disebabkan oleh

virus dengue dengan penyakit demam akut pada penderitanya mengalami

demam selama 2-7 hari yang di tandai dengan salah satu gejala nyeri

seperti : nyeri pada kepala di sertai nyeri otot.

b. Kebutuhan rasa nyaman (Nyeri) Adalah Nyeri dimana kondisi berupa

perasaan tidak menyenangkan bersifat sangat subjektif karena perasaan

nyeri berbeda pada setiap orang dalam hal skala atau tingkatannya, dan

hanya orang tersebutlah yang dapat menjelaskan atau mengevaluasi rasa

nyeri yang dialaminya.

34
c. Asuhan Keperawatan Merupakan suatu proses pemberian pelayanan

keperawatan secara langsung yang tersendiri antara lain:

1. Pengkajian

Pengkajian Adalah pengumpulan data dari berbagai sumber baik secara

langsung dari pasien (Obyektif/Subyektif) Dan dari keluarga pasien

(wawancara & observasi) maupun tidak langsung dari dengan pasien

(rekam medik, buku status pasien dan cacatan laboratorium). Dalam

studi kasus ini, peneliti menggunakan format pengkajian kepearawatan

pada anak dan data yang harus didapatkan atau Data seperti : Kaji Skala

Nyeri dengan menggunakan Teknik PQRST:

a. P (Pemacu) : merupakan faktor yang menyebabkan berat ringannya

nyeri

b. Q (Quality) : Menanyakan rasa nyeri, apakah nyerinya seperti rasa

tajam, tumpul atau terasa tersayat

c. R (Region) : daerah/ lokasi terjadinya nyeri

d. S (Severity) : tingkat keparahan nyeri

e. T (Time) : lama nya serangan atau frekuensi nyeri.

2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa Keperawatan adalah Penilaian Klinis tentang respon

individu sebagai dasar dalam memilih intervensi yang akan dilakukan.

Dalam studi kasus ini peneliti mengambil diagnose aktual dengan

menggunakan rumus P+E+S (Problem + Etiologi + Symptom),

dengan mengambil diagnose Nyeri Akut b.d proses patologis viremia.

35
3. Intervensi/Perencanaan Keperawatan

Intervensi keperawatan adalah strategi untuk mencegah, mengurangi

dan mengatasi masalah – masalah yang telah didapatkan dalam

diagnose keperawatan. Peneliti menyusun intervensi keperawatan

yang terdiri dari Inspeksi dengan melihat raut wajah gelisah dan

meringis untuk mengetahui tingkat skala nyeri yang dirasakan oleh

pasien, lakukan kompres hangat Atau melakukan massase untuk

mengurangi/memberikan kenyaman.

Dalam studi kasus ini peneliti akan melakukan intervensi

keperawatan selama 5 x 24 jam, dengan NOC: Status Nyeri : Pain

Level, dan pain control, dengan kriteria hasil :

a) Mampu mengontrol nyeri (Tahu penyebab nyeri, mampu

menggunakan teknik Non farmakologi untuk mengurangi nyeri)

b) Melaporkan Bahwa nyei berkurang dengan menggunakan

manajemen nyeri serta kondisi umum dalam dalam batas normal

TTV (tekanan darah, suhu, pernapasan, dan nadi).

c) Mampu mengenali nyeri (skala, intesitas, frekuensi, dan tanda

nyeri)

d) Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang.

NIC :

Pain management

a) pertahankan bed rest selama fase akut dan gunakan teknik


komunikasi terapeutik dalam observasi tingkat nyeri pasien (skala,
frekuensi, durasi).

36
b) Berikan dan Ajarkan teknik non farmakologi seperti relaksasi,
terapi masase pada daerah nyeri, kompres dahi atau leher dengan
air hangat, elevasi kepala.
c) Kendalikan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon
pasien terhadap ketidaknyamanan (Misalnya suhu, pencahayaan,
suara bising).
Analgesik Administration
d) Kolaborasi dalam pemberian analgesik untuk mengurangi nyeri.(

tentukan analgesik pilihan, rute pemberian, dan dosis optimal)

4. Implementasi Keperawatan

Implemntasi kepearawatan adalah pelaksanaan dari intervensi

keperawatan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Di dalam

kegiatannya terdapat pengumpulan data yang berkelanjutan dalam

melakukan observasi pada pasien sebelum dan sesudah

melakukan tindakan.

5. Evaluasi keperawatan

Evaluasi keperawatan adalah suatu penilaian dengan

membandingkan perubahan keadaan pasien dengan tujuan dan

kriteria hasil yang telah dibuat. Dalam studi kasus ini akan

melakukan evaluasi terhadap data status pasien dan keluhan

pasien atau dari keluarga pasien, dengan melakukan pain level,

pain control, dan comfort level. Dengan menyatakan pasien

mampu mengontrol nyeri, nyeri otot berkurang di sertai demam

menurun dan merasa nyaman di lingkungan sekitar pasien.

2. Studi kasus penerapan prosedur keperawatan

37
a) Penerapan teknik non farmakologi pada stimulasi kutaneus adalah

terapi yang diberikan untuk menstimulasi permukaan kulit dalam

pengontrolan nyeri.

b) Pasien Anak DBD adalah pasien dengan penyakit Demam akut

selama 2-7 hari yang di tandai dengan adanya nyeri kepala di sertai

Nyeri Otot (Mialgia).

F. Langkah-Langkah Pengumpulan Data

Sumber data yang digunakan pada studi kasus ini yaitu data primer dan

data sekunder.. Adapun Studi kasus ini diawali dengan melakukan

pengkajian untuk mendapatkan data – data pasien secara menyeluruh yaitu

dengan menggunakan Alkes (Alat kesehatan) seperti : stetoskop, alat Tensi,

thermometer, pen light, buku catatan, pena, Jam tangan, pita, Timbangan,

format pengkajian umum anak dan nyeri, dan informed consent. Data primer

diperoleh dengan cara melakukan pengkajian terhadap responden, sedangkan

data sekunder diperoleh dari dokumen-dokumen yang ada di RSU Aliyah 2

kota kendari yaitu :

1. Data Primer

Data yang diperoleh langsung dari subjek penelitian. Data primer ini

diperoleh melalui dua cara, yaitu :

a. Wawancara

Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data secara lisan dari

seorang responden atau sasaran peneliti, atau bercakap-cakap dan

berhadapan muka dengan orang tersebut.

38
b. Observasi

Prosedur terencana meliputi : melihat, mencatat jumlah data, syarat-

syarat tertentu yang ada hubungannya dengan masalah yang akan

diteliti.

1) Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan Fisik dilakukan untuk mengetahui keadaan fisik pasien

a) inspeksi

Proses observasi yang dilakukan dengan menggunakan indera

penglihatan, pandangan dan penciuman sebagai alat untuk

mengumpulkan data.

b) palpasi

Pemeriksaan seluruh bagian tubuh yang dapat terabah untuk

mendeteksi adanya kelainan atau tidak

c) Perkusi

Mengetuk permukaan tubuh

d) auskultasi

Pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan mendengarkan

menggunakan stetoskop.

2. Data Sekunder

Data yang diperoleh tidak secara langsung dari objek penelitian. Data

sekunder dapat diperoleh dari :

a. Studi dokumentasi

Teknik pengumpulan data yang tidak merujuk langsung kepasien

melainkan ke dokumen

39
b. Studi kepustakaan

Pengumpulan data yang diperoleh dari pustaka teori menurut para ahli

dalam konsep penyakit serta dalam jurnal.

Adapun prosedur pengumpulan data, yaitu :

1. Persiapan

a) Peneliti meminta surat pengambilan data awal dari institusi asal

penelitian poltekkes kemenkes kendari

b) Peneliti mengajukan izin mengambil data awal dari ruang badan

LITBANG RSU Aliyah 2 Kota Kendari Sulawesi Tenggara

c) Peneliti meminta surat rekomendasi dari RSU Aliyah 2 Kota Kendari

Sulawesi Tenggara.

d) Peneliti meminta izin kepada kepala ruangan tempat penelitian yang

akan dilakukan RSU Aliyah 2 Kota Kendari Sulawesi Tenggara.

e) Peneliti mendatangi subjek studi kasus dan menjelaskan tujuan

penelitian.

f) Memberikan informed consent (lembar persetujuan) kepada subjek

studi kasus dan keluarga (responden)

2. Pelaksanaan

a. Peneliti dan subjek studi kasus menyiapkan tempat untuk

melakukan studi kasus

b. Peneliti menjelaskan prosedur studi kasus kepada responden.

c. Menciptakan suasana yang akrab dengan subjek penelitian.

40
d. Peneliti melakukan wawancara dan observasi sesuai dengan

waktu yang telah disepakati bersama subyek studi kasus

e. Pelaksanaan studi kasus ini dilakukan setiap hari

3. Evaluasi

a. Peneliti melakukan pengolahan dengan data yang sudah didapat

selama studi kasus

G. Analisis data dan Penyajian Data

1. Analisa data

Setelah data terkumpul, kemudian dilakukan pengecekan ulang

khususnya pada subjek studi kasus seperti identitas, hasil wawancara

ataupun observasi.

2. Penyajian data

Data pada studi kasus disajikan dalam bentuk tekstural, yaitu penyajian

data berupa tulisan atau narasi.

Etika Penelitian

Etika penelitian adalah pedomana yang digunakan dalam setiap

penelitian atau studi kasus yang melibatkan berbagai pihak, yaitu pihak

peneliti dan pihak yang diteliti. dan masyarakat yang akan akan memperoleh

dampak hasil penelitian tersebut. Sebelum melakukan studi kasus, terlebih

dahulu peneliti mendapat rekomendasi dari institusi untuk mengajukan

permohon ijin kepada institusi/lembaga tempat penelitian. Menurut Hidayat

(2008) penulis (Donsu J, 2016), dalam melaksanakan penelitian ini penulis

menekankan masalah etika yang meliputi:

1. Lembar Persetujuan (informed consent)

41
Inforemed consent merupakan bentuk lembar pesetujuan yang

diberikan peneliti dan responden penelitian. Informed consent ini

diberikan sebelum studi kasus dilakukan Tujuan informed consent adalah

agar subjek mengerti maksud dan tujuan studi kasus, mengetahui

dampaknya. Jika subjek bersedia,makan informed consent tersebut harud

ditanda tangani Jika responden tidak bersedia, maka peneliti harus

menghormati hak pasien. Beberapa informasi yang harus ada dalam

informed consent tersebut antara lain: partisipasi responden, tujuan

dilakukannya tindakan, jenis data yang dibutuhkan, komitmen, prosedur

pelaksanaan, potensial yang akan terjadi, manfaat, kerahasiaan, informasi

yang mudah dihubungi, dan lain-lain .

2. Tanpa Nama (Anonimity)

Masalah etika keperawatan merupakan masalah yang memberikan

jaminan dalam penggunaan subjek studi kasus dengan cara tidak

mencantumkan nama responden pada lembar alat ukur dan hanya

menuliskan kode pada lembar pengumpulan data atau hasil studi kasus

yang akan disajikan. Untuk menjaga kerahasiaan subyek studi kasus,

maka pada lembar yang telah diisi oleh responden, penulis tidak

mencantumkan nama secara lengkap, responden cukup mencantumkan

nama inisial saja. (Donsu J, 2016).

3. Kerahasiaan (Confidentiality)

Masalah etika dengan memberikan jaminan kerahasiaan hasil studi

kasus, baik informasi maupun masalah-masalah lainnya. Semua

informasi yang telah dikumpulkan akan dijamin kerahasiaannya oleh

42
peneliti, dan hanya data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset

(Hidayat, 2008). Peneliti telah menjelaskan bahwa data yang diperoleh

akan dijaga kerahasiaannya. (Donsu J, 2016).

43
BAB IV

HASIL STUDI KASUS DAN PEMBAHASAN

Asuhan Keperawatan Pada An. M,S ( 17 Tahun) Dengan Penyakit

Demam Berdarah Dengue (DBD) Dalam Pemenuhan Kebutuhan

Rasa Nyaman Diruang Rawat Mina RSU. Aliyah 2

Kota Kendari Sulawesi Tenggara

Tabel Identitas Rekam Medik

Nomor Rekam Medik 00-60-56

25 - juli – 2018
Tanggal Masuk Rs

27- juli – 2018


Tanggal Pengkajian

Pasien (observasi), keluarga


Sumber Informasi
(wawancara) dan rekam medis

Sumber : Data Primer, 2018

A. Hasil Studi Kasus

1. Pengkajian

a) Identitas Anak

Nama : An. M.S

Tanggal Lahir : 28 mei 2001

Jenis Kelamin : laki - laki

Agama : Islam

44
Pendidikan : SMA

Alamat : Kel. Mangga 2

Dignosa Medis : Dengue Hemorrhagic Fever

b) Identitas Orang Tua

1. Ayah 2. Ibu

Nama : Tn. K Nama : Ny. W

Usia : 65 thn Usia : 50 thn

Pendidikan : SMA Pendidikan : SD

Pekerjaan : Buruh Pekerjaan : IRT

Agama : islam Agama : islam

Alamat : Kel. Mangga 2 Alamat : Kel.Mangga 2

c) Identitas Saudara Kandung

No Nama Usia Hubungan Status Kesehatan

1. Tn. M 31 thn Kaka Sehat

2. Ny. S 30 thn Kaka Sehat

3. Tn. Z 27 thn Kaka Sehat

d) Keluhan Utama

Pasien mengalami Demam tinggi sejak 1 hari sebelum masuk RS. Disertai

batuk +, sesak, mual, muntah +, pusing dan nyeri kepala.

e) Riwayat Keperawatan

1) Riwayat kesehatan sekarang

45
a. Waktu timbulnya penyakit, kapan?

Pasien Mengatakan 1 hari sebelum masuk rumah sakit pasien mengeluh

Demam, meriang, Batuk dan di sertai nyeri kepala dan seluruh badan

terasa sakit.

b. Bagaimana awal munculnya?

Ibu pasien mengatakan sebelum anaknya jatuh sakit, An. M memiliki

kondisi lingkungan sekolah kurang sehat, banyak di tumbuhi alang-

alang di sekitar sekolah. Dan Pasien mengatakan munculnya yang di

rasakan nyeri kepala secara Berangsur-angsur dan badan terasa sakit.

c. Keadaan penyakit, apakah sudah membaik, parah atau tetap sama

dengan sebelumnya?

Nampak keadaan pasien masih tetap sama

Nampak lebih banyak berbaring dan memakai selimut

Nampak pasien meringis dan tremor akibat menggingil

Nampak pasien sesekali memegang dan memijat daerah yang nyeri

d. Usaha yang di lakukan untuk mengurangi keluhan?

Pasien mengatakan hanya bisa terbaring lemas di atas tempat tidur dan

mengkonsumsi obat Paracetamol tablet.

e. Kondisi saat dikaji (PQRST)

P : Demam Tinggi

Q : Seperti di tusuk tusuk

R : Nyeri Di seluruh badan dan bagian kepala

S : Tingkat Skala Nyeri 7

T : Berangsur-angsur

46
2) Riwayat Kesehatan Masa Lalu

Ibu pasien mengatakan An. M sebelumnya pernah masuk RS. Sewaktu SD

dengan penyakit Demam typoid.

3) Riwayat Penyakit Keluarga

Ibu pasien mengatakann tidak memiliki riwayat penyakit keturunan.

4) Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan

Ibu pasien mengatakan An. M memiliki berat badan 3 kg saat lahir. An.M

sekarang memiliki berat badan 58,5 kg dan tinngi badan 165 cm.

5) Genogram

X X X X

? ? ? ? X ? ? ? ?

X 50

17 27 30 31

Keterangan :

: Pasien ? : Usia tidak di ketahui

: Laki-laki X : Meninggal

: Perempuan : Tinggal serumah

: Hubungan pernikahan

: Garis keturunan

Berdasarkan genogram klien ditemukan data bahwa tidak ada anggota

keluarga yang pernah mengalami penyakit seperti yang diderita oleh klien.

47
f. Pengkajian Kebutuhan Kenyamanan
1) Apakah Pernah Menderita Penyakit/Trauma Yang Menyebabkan Rasa
Nyeri?
Pasien mengatakan pertama kali merasakan nyeri 1 Hari setelah Demam
Tinggi yang di sertai Batuk dan mual muntah. Nyeri yang dirasakan
berawal nyeri kepala, badan keseluruhan terasa sakit dan di sertai meriang
dan menggigil.
2) Jika Ya, Kapan Terjadi ?
Pasien mengatakan nyeri yang di rasakan akan berat jika pada malam hari.
3) Faktor Yang Meringankan
a) Apakah Pernah Membeli Obat Untuk Menghilangkan Rasa Nyeri?
Pasien mengatakan hanya mengkonsumsi obat panas yang di beli
diwarung dari ibu pasien dan hanya terbaring lemas di tempat tidur.
b) Selain Obat, Tindakan Apa Yang Dilakukan :
(1) Nonton √
(2) Nyanyi
(3) Cerita
(4) Dll;
c) Pengaruh Nyeri Terhadap Aktivitas
Sebelum sakit
(1) Tidur :-
(2) Makan :-
(3) Bekerja :-
(4) Interaksi Sosial :-
Setelah sakit
(1) Tidur :√
(2) Makan :√
(3) Bekerja /aktivitas :√
(4) Interaksi Sosial :√
d) Gejala Klinik Lain Yang Menyertai Nyeri
(1) Mual :√
(2) Muntah :√

48
(3) Pusing :√
(4) Konstipasi :-
(5) Suhu Tubuh :√
(6) Menggigil :√
g. Pengkajian Fisik (Body Sistem)
Keadaan umum : Lemah
Tinggi Badan 165 cm Berat Badan : 58,5 kg
1. Tanda-tanda vital :
Tekanan darah : 130/80 mmhg
Pernapasan : 24 x/m
Nadi : 98 x/m
Suhu : 39, 5 ◦C
2. Pernapasan
Bentuk dada normal/simetris, pola napas teratur, frekuensi napas 24
kali/menit, irama teratur, tidak Nampak adanya bunyi nafas tambahan
dan tidak menggunakan alat bantu pernapasan.
3. Kardiovaskuler
Irama jantung regular, tidak Nampak adanya murmur, cyanosis tidak
ada, dan CRT <2 detik.
4. Peryarafan
Kesadaran composmentis, GCS :15 (Eye : 4, verbal : 5, motorik : 6)
5. Genetourinaria
Frekuensi berkemih 5-6 kali sehari, tidak terdapat masalah pada
eliminasi urine.
6. Pencernaan
Bentuk bibir normal, Mukosa bibir lembab, kebersihan rongga mulut
bersih, BAB 1 kali sehari, konsistensi lunak.
7. Musculoskeletal dan integumen
Akral hangat, turgor kulit baik, kelembaban kulit lembab, dan tidak
nampak ada oedema.

49
Kekuatan otot
4 4
4 4

8. Penginderaan

Mata : simetris, pupil : isokor (diameter 2 mm) reflek cahaya positif,

konjungtiva : anemis, skelera tidak ikterik dan tidak ada

pembengkakan/edema pada palpebral.

9. Endokrin

Tidak Nampak ada nya pembesaran kelenjar tiroid, dan tidak ada

pembesaran kelenjar karotis

h. Pemeriksaan Diagnostik

1) Laboratorium

No. R.M : 0-60-56 Time : 28 07 – 2018/ 10:24

Name : An. M.S Room :Mina 8

PARAMETER RESULT UNIT REF RANGE

WBC 13.2 x 10o UL 4.0 – 10

Lymp# 1.6 x 10o UL 0.8 – 4.0

Midh# 0.5 x 10o UL 0.1 – 1.2

Grand# 11.1 x 10o UL 2.0 – 7.0

Lymp% 11.9 % 20.0 – 40.0

Midh% 3.7 % 3.0 – 14.0

Grand% 84.4 % 50.0 – 70.0

50
HGB 12.5 g/dL 11 – 16

RBC 5.06 x 10o UL 4.20 – 5.50

HCT 42.9 % 37.0 – 43.0

MCV 84.9 fL 80.0 – 100.0

MCH 24.7 Pg 27.0 – 34.0

MCHC 29.1 g/dL 32.0 – 36.0

RDW-CV 12.8 % 11.0 – 16.0

RDW-SD 38.5 fL 35.0 – 36.0

PLT 119 x 10o UL 150 -400

MPV 9.3 fL 6.5 – 12

PDW 14.9 9.0 – 17.0

PCT 0.110 0.108 – 0.282

Keterangan :

WBC (white blood cesl) : atau sel darah putih (leukosit)

HGB : Hemoglobin adalah protein sel darah merah (eritrosit) tang


berfungsi mengantarkan oksigen ke sel dan jaringan di seluruh tubuh.

MCH : Mean Corpuscular hemoglobin adalah perkiraan jumlah atau berat


rata-rata hemoglobin pada setiap sel darah merah dalam tubuh.

MCHC : Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration adalah


perhitungan rata-rata konsentrasi hemoglobin di dalam eritrosit. MCHC
yang rendah (hipokromia) akan di jumpai pada keadaan di mana
hemoglobin abnormal yang dicairkan di dalam eritrosit, misalnya pada
anemia yang kekurangan zat besi dalam talasemia.

51
PARAMETER RESULT REF. RANGE

IMUNOSEROLOGI

WIDAL

TYPHI O 1/180 NEGATIVE

PARATYPHI – A 0 1/180 NEGATIVE

PARATYPHI – B 0 1/180 NEGATIVE

PARATYPHI – C 0 NEGATIF NEGATIVE

TYPHI H 1/180 NEGATIVE

PARATYPHI – A H NEGATIF NEGATIVE

PARATYPHI – B H 1/180 NEGATIVE

PARATYPHI – C H 1/180 NEGATIVE

2) Therapi medis

a. IVFD RL 28 tmp

52
b. Inj. Fioramol 500 mg/8 jam/I.V

c. Inj. Ondansetron 1 amp/8 jam

d. Ambroxol tab. 30 mg 3x1

e. Cetrizine tab. 10 mg 1x1

2. Klasifikasi Data

Data Subjektif :

1. Pasien Mengatakan mengeluh Demam dan di sertai nyeri kepala

2. Pasien mengeluh batuk-batuk dan merasa kedinginan

3. Pasien mengeluh badan lemas dan terasa sakit

4. Ibu pasien mengatakan sebelum anaknya jatuh sakit, An. M memiliki

kondisi lingkungan sekolah kurang sehat, banyak di tumbuhi alang-alang

di sekitar sekolah. Dan Pasien mengatakan munculnya yang di rasakan

nyeri badan dan kepala secara Berangsur-angsur.

5. Ibu pasien mengatakan sebelum MRS anaknya mengalami Demam tinggi

sejak 1 hari sebelum masuk RS. Disertai batuk +, sesak, mual, muntah +,

pusing dan nyeri kepala

6. Ibu pasien mengatakan An. M sebelumnya pernah masuk RS. Sewaktu SD

dengan penyakit Demam typoid.

Data Objektif :

1. Keadaan pasien Nampak lemah

2. Pasien Nampak lebih banyak berbaring dan memakai selimut

3. Pasien Nampak meringis dan tremor akibat menggingil

4. Nampak pasien sesekali memegang dan memijat daerah yang nyeri

53
5. Nampak konjungtiva pasien Anemis

6. Pasien Nampak Batuk

7. Kondisi saat dikaji (PQRST)

P : Demam Tinggi

Q : Seperti di tusuk tusuk

R : Di seluruh badan dan bagian kepala

S : Skala Nyeri 7

T : Berangsur-angsur

8. Tanda – tanda Vital :

Tekanan darah : 130/80 mmhg Nadi : 98 x/m


Pernapasan : 24 x/m Suhu : 39, 5 ◦C
9. Therapi medis

a. IVFD RL 28 tmp

b. Inj. Fioramol infusion 500 mg/8 jam/I.V

c. Inj. Ondansetron 1 amp/8 jam

d. Ambroxol tab. 30 mg 3x1

e. Cetirizine tab. 10 mg 1x1

3. Analisa Data

Nama Pasien : An. M

Jenis Kelamin : Laki-laki

No. RM : 00-60-56

Diagnosa Medis : Dengue Hemorrhagic Fever

54
Tabel 4.1 Analisa Data

Symptom Etiologi Problem

Data Subjektif : Arbovirus (melalui nyamuk Nyeri


aedes aegypti) Akut
1. Pasien

Mengatakan
Beredar dalam darah
mengeluh

Demam dan di
Infeksi virus dengue (viremia)
sertai nyeri

kepala
Membentuk & melepaskan zat
2. Pasien mengeluh C3a,C5a
batuk-batuk dan

merasa
Hipertermi
kedinginan

3. Pasien mengeluh
Suhu badan Terjadi
badan lemas dan Ketegangan otot

terasa sakit

4. Ibu pasien Nyeri otot tulang dan sendi

mengatakan

sebelum anaknya

jatuh sakit, An.

M memiliki

kondisi

lingkungan

55
sekolah kurang

sehat, banyak di

tumbuhi alang-

alang di sekitar

sekolah. Dan

Pasien

mengatakan

munculnya yang

di rasakan nyeri

badan dan kepala

secara Berangsur-

angsur.

5. Ibu pasien

mengatakan

sebelum MRS

anaknya

mengalami

Demam tinggi

sejak 1 hari

sebelum masuk

RS. Disertai

batuk +, sesak,

mual, muntah +,

pusing dan nyeri

56
kepala

6. Ibu pasien

mengatakan An.

M sebelumnya

pernah masuk

RS. Sewaktu SD

dengan penyakit

Demam typoid.

Data Objektif :

1. Keadaan pasien

Nampak lemah

2. Pasien Nampak

lebih banyak

berbaring dan

memakai selimut

3. Pasien Nampak

meringis dan

tremor akibat

menggingil

4. Nampak pasien

sesekali

memegang dan

memijat daerah

57
yang nyeri

5. Nampak

konjungtiva

pasien Anemis

6. Pasien Nampak

Batuk

7. Kondisi saat

dikaji (PQRST)

P : Demam Tinggi
Q : Seperti di
Tusuk- tusuk
R : Di seluruh badan
dan bagian kepala
S : Skala Nyeri 7
T : Berangsur
angsur
8. Tanda – tanda

Vital :

TD : 130/80
mmhg
Nadi : 98 x/m

Pernapasan : 22
x/m

Suhu : 39, 5 ◦C

9. Therapi medis

IVFD RL 28 tmp

58
a. Inj. Fioramol 500

mg/8 jam/I.V

b. Inj. Ondansetron

1 amp/8 jam

c. Ambroxol tab. 30

mg 3x1

d. Cetrizine tab. 10

mg 1x1

4. Diagnosa Keperawatan

Nyeri Akut berhubungan dengan proses patologis viremia

5. Intervensi Keperawatan

Nama Pasien : An. M


Jenis Kelamin : Laki-laki
No. RM : 00-60-56
Diagnosa Medis : Dengue Hemorrhagic Fever
Tabel 4.2 Intervensi Asuhan Keperawatan
N Tujuan &
Diagnosa Intervensi Rasional
o Kriteria Hasil

1 Nyeri Akut NOC : NIC 1. Bed rest dapat


memberikan
b.d proses a.Pain
 Pain Level adekuat dalam
patologis Management :
 Pain Control tindakan
viremia 1. pertahankan bed kenyamanan
Setelah
akan membuat
rest selama fase
diberikan otot relaksasi
akut dan
menurunkan

59
asuhan gunakan teknik kecemasan, dan
dapat
keperawatan 5 × komunikasi
mengetahui
24 jam, klien terapeutik
tingkat skala
mampu dalam observasi nyeri yang
dirasakan
mengontrol tingkat nyeri
pasien.
nyeri dengan pasien (skala,
2. Teknik Non
kriteria hasil : frekuensi,
Farmakologi
 Mampu durasi). Serta
dalam
mengontrol melakukan
pengompresan
nyeri (Tahu pengukaran
air hangat serta
penyebab Tanda-tanda
Massase dapat
nyeri, mampu vital
mengurangi
menggunakan 2. Berikan dan
skala nyeri,
Anjurkan teknik
teknik Non yang akan
non farmakologi
farmakologi membuat otot
terapi masase
untuk pada daerah
relaksasi dalam
nyeri, dan
mengurangi tindakan
kompres pada
nyeri) kenyamanan.
dahi atau sekitar
 Melaporkan kepala dengan
3. Lingkungan
air hangat,
Bahwa nyei yang tidak
3. Kendalikan
nyaman bisa
berkurang faktor
menyebabkan
dengan lingkungan
pasien gelisah,
yang dapat
menggunakan sehingga terjadi
mempengaruhi
ketegangan
manajemen respon pasien
pada otot dan

60
nyeri serta terhadap nyeri akan lebih
ketidaknyamana terasa.
kondisi umum
n seperti Suhu
dalam dalam
lingkungan.
batas normal 4. Pemberian obat
b. Analgesik
TTV (tekanan analgesik
Administration
darah, suhu, 4. Kolaborasi bertujuan untuk

membantu
pernapasan, dalam
menganangi
dan nadi). pemberian
dalam penurunan
 Menyatakan analgesik untuk
nyeri.
rasa nyaman mengurangi
setelah nyeri nyeri.( tentukan
berkurang. analgesik

pilihan, rute

pemberian, dan

dosis optimal).

6. Implementasi Keperawatan

Nama Pasien : An. M


Jenis Kelamin : Laki-laki
No. RM : 00-60-56
Diagnosa Medis : Dengue Hemorrhagic Fever

61
Tabel 4.3 Implementasi Asuahan Keperawatan
No Diagnosa Hari / Jam Implementasi Paraf

Keperaw Tanggal

atan

Nyeri 27/Juli/ 10.00 1. melakukan pengukuran


1.
akut 2018 tanda – tanda vital dan skala

nyeri

Hasil :

Kedaan Umum : tampak lemah

TD: 130/80 mmhg

Pernapasan : 24 x/menit

Nadi : 98 x/menit

Suhu : 39,5◦C

PQRST :

P : Demam Tinggi

Q : Seperti di tusuk tusuk

R : Di seluruh badan dan

bagian kepala

S : Skala Nyeri 7

10.15 T : Berangsur-angsur

2. Memberikan teknik non


farmakologi terapi masase
pada daerah nyeri, dan
kompres pada dahi atau
sekitar kepala dengan air
hangat.

62
Hasil :
Pasien Nampak terbaring
lemah
Konjungtiva pucat
Pasien Nampak meringis
Pasien Nampak gelisah
Tingkat skala nyeri : 7

TD: 130/80 mmhg

Pernapasan : 24 x/menit

Nadi : 98 x/menit
12.00
Suhu : 39,1◦C

3. mengendalikan faktor
lingkungan yang dapat
mempengaruhi respon
pasien terhadap
ketidaknyamanan seperti
12.20
Suhu lingkungan.
Hasil :

Pasien Nampak menggigil

4. Lakukan pemberian obat.


 inj. Fioramol Infusion

500 mg/8 jam/I.V

 Ambroxol tab. 30 mg
3x1
Hasil :

Pasien masih Nampak

batuk

63
Skala nyeri : 7

Nyeri 28/ juli 10.00 1. melakukan pengukuran


2.
akut / 2018 tanda – tanda vital dan skala

nyeri

Hasil :

Kedaan Umum : tampak

lemah

TD: 110/80 mmhg

Pernapasan : 22x/menit

Nadi : 90 x/menit

Suhu : 39,0◦C

PQRST :

P : Demam Tinggi

Q : Seperti di tusuk tusuk

R : Di seluruh badan dan

bagian kepala

10.20 S : Skala Nyeri 6

T : Berangsur-angsur

2. Memberikan teknik non


farmakologi terapi masase
pada daerah nyeri, dan
kompres pada dahi atau
sekitar kepala dengan air
hangat.
Hasil :
Pasien Nampak masih

64
terbaring lemah
Konjungtiva pucat
Mukosa bibir kering
Pasien masih Nampak
gelisah
Tingkat skala nyeri : 6

TTV : TD: 120/80 mmhg


12.45
Pernapasan : 22x/menit

Nadi : 92 x/menit

Suhu : 38,8◦C

3. mengendalikan faktor
lingkungan yang dapat
mempengaruhi respon
13.20 pasien terhadap
ketidaknyamanan seperti
Suhu ruangan
Hasil :

Pasien Nampak menggigil

Kaki pasien teraba dingin

4. Lakukan pemberian obat.


 inj. Fioramol Infusion

500 mg/8 jam/I.V

 Ambroxol tab. 30 mg
3x1
Hasil :

Pasien masih Nampak

gelisah

65
Pasien masih nampak batuk

Suhu : 38,8 ◦C

29 / juli 09.50 1. melakukan pengukuran


3.
/ 2018 tanda – tanda vital dan skala

nyeri

Hasil :

Kedaan Umum : tampak

lemah

TD: 130/70 mmhg

Pernapasan : 25x/menit

Nadi : 89 x/menit

Suhu : 39,2◦C

PQRST :

P : Demam Tinggi

Q : Seperti di tusuk tusuk

R : Di bagian kepala

10.20 S : Skala Nyeri 6

T : hilang timbul

2. Memberikan teknik non


farmakologi terapi masase
pada daerah nyeri, dan
kompres pada dahi atau
sekitar kepala dengan air
hangat.
Hasil :
Pasien Nampak masih

66
terbaring lemah dalam
kondisi Infus tidak
terpasang karena Nampak
adanya pembengkakan.
Konjungtiva pucat
Mukosa bibir kering
Tingkat skala nyeri : 5

TTV : TD: 120/80 mmhg


12.57
Pernapasan : 23x/menit

Nadi : 92 x/menit

Suhu : 38,9◦C

3. mengendalikan faktor
lingkungan yang dapat
mempengaruhi respon
pasien terhadap
13.05
ketidaknyamanan seperti
Suhu ruangan
Hasil :

Pasien Nampak menggigil

Kaki pasien teraba dingin

4. Lakukan pemberian obat


oral
 Paracetamol tab. 500 mg
 Ambroxol tab. 30 mg
3x1
Hasil :

Hasil :
Pasien meminum obat yang

67
dianjurkan
Pasien Masih Nampak
Batuk
Pasien Nampak lemah
Nyeri 30 / juli 13.55
4. 1. melakukan pengukuran
akut / 2018
tanda – tanda vital dan skala

nyeri

Hasil :

Kedaan Umum : tampak

tenang

TD: 110/70 mmhg

Pernapasan : 22x/menit

Nadi : 91 x/menit
14.30
Suhu : 37,0◦C

S : Skala Nyeri 5

2. Memberikan teknik non


farmakologi terapi masase
pada daerah nyeri, dan
kompres pada dahi atau
sekitar kepala dengan air
hangat.
Hasil :
Konjungtiva pucat
Pasien mulai Nampak
tenang
Tingkat skala nyeri : 4

17.00 TTV : TD: 110/80 mmhg

68
Pernapasan : 21x/menit

Nadi : 91 x/menit

Suhu : 36,8◦C

3. mengendalikan factor
lingkungan yang dapat
mempengaruhi respon
17.15
pasien terhadap
ketidaknyamanan seperti
Suhu ruangan.
Hasil :
Pasien Nampak tenang

4. Lakukan pemberian obat.

 inj. Fioramol Infusion

500 mg/8 jam/I.V

 Ambroxol tab. 30 mg
3x1
Hasil :

Pasien mulai Nampak


tenang
Tingkat skala nyeri : 4

Nyeri 31/juli/ 09.00


5. akut 2018 1. melakukan pengukuran

tanda – tanda vital dan skala

nyeri

Hasil :

Kedaan Umum : tampak

tenang

69
TD: 110/70 mmhg

Pernapasan : 20x/menit

Nadi : 86 x/menit

Suhu : 36,8◦C

S : Skala Nyeri 2

2. Memberikan teknik non


farmakologi terapi masase
pada daerah nyeri, dan
kompres pada dahi atau
sekitar kepala dengan air
hangat.
Hasil :
Konjungtiva tidak Anemis

09.15 Pasien Nampak Tenang

Tingkat skala nyeri : 2

TTV : TD: 110/80 mmhg

Pernapasan : 20x/menit

Nadi : 86 x/menit

Suhu : 36,5◦C

3. mengendalikan factor

lingkungan yang dapat

mempengaruhi respon

pasien terhadap

ketidaknyamanan seperti

Suhu ruangan.

70
Hasil :

Pasien Nampak tenang

. 4. Lakukan pemberian obat.

 Ambroxol tab. 30 mg
3x1

10.20

7. Evaluasi Keperawatan

71
Nama Pasien : An. M
Jenis Kelamin : Laki-laki
No. RM : 00-60-56
Diagnosa Medis : Dengue Hemorrhagic Fever
Tabel 4.4 Evaluasi Keperawatan
No. Tanggal Jam Evaluasi Paraf

27 /Juli 14.00 DS:


1.
/2018  Pasien Mengatakan masih Demam

dan di sertai nyeri kepala

 Pasien mengatakan batuk dan

merasa kedinginan

 Pasien mengeluh badan lemas dan

terasa sakit

DO :

 Kedaan Umum : tampak lemah

 TD: 130/80 mmhg

 Pernapasan : 24 x/menit

 Nadi : 98 x/menit

 Suhu : 39,1◦C

PQRST :

P : Udara Dingin

Q : Seperti di tusuk tusuk

R : Di seluruh badan dan

bagian kepala

S : Skala Nyeri 7

72
T : Berangsur-angsur

 Konjungtiva pucat

 Pasien Nampak meringis

 Pasien Nampak gelisah

 inj. Fioramol Infusion 500 mg/8

jam/I.V

 Ambroxol tab. 30 mg 3x1

A : Masalah teratasi sebagian

P : Intervensi 1,2,3,dan 4 di lanjut kan

28 / 14.00 DS:
2.
juli/2018  Pasien mengeluh badan lemas

dan terasa sakit

 Pasien Mengatakan masih

Demam dan di sertai nyeri kepala

 Pasien mengatakan batuk dan

merasa dingin

DO :

 Pasien Nampak masih terbaring

lemah

 Konjungtiva pucat

 Mukosa bibir kering

 Pasien masih Nampak gelisah

 TTV : TD: 120/80 mmhg

73
Pernapasan : 22x/menit

Nadi : 92 x/menit

Suhu : 38,8◦C

PQRST :

P : Udara Dingin

Q : Seperti di tusuk tusuk

R : Di seluruh badan dan

bagian kepala

S : Skala Nyeri 6

T : Berangsur-angsur

 Pasien Nampak menggigil

 Kaki pasien teraba dingin

 inj. Fioramol Infusion 500 mg/8

jam/I.V

 Ambroxol tab. 30 mg 3x1

A : Masalah teratasi sebagian

P : Intervensi 1,2,3,dan 4 di lanjut kan

29 / 14.00 DS :
juli/2018  Pasien Mengatakan masih

Demam dan di sertai nyeri kepala

 Pasien mengatakan batuk dan

masih merasa kedinginan

 Pasien mengeluh badan terasa

sakit

74
DO :
 Pasien Nampak masih terbaring

lemah dalam kondisi Infus tidak

terpasang karena Nampak adanya

pembengkakan.

 Konjungtiva pucat

 Mukosa bibir kering

 Pasien masih Nampak gelisah

 Tingkat skala nyeri : 5

 TTV : TD: 120/80 mmhg

Pernapasan : 23x/menit

Nadi : 92 x/menit

Suhu : 38,9◦C

 Pasien Nampak menggigil

 Kaki pasien teraba dingin

 Paracetamol tab. 500 mg

 Ambroxol tab. 30 mg 3x1


A : Masalah teratasi sebagian

P : Intervensi 1,2,3,dan 4 di lanjut kan

17.30 DS :
4. 30 /
 Pasien Mengatakan nyeri kepala
juli/2018
mulai berkurang

 Pasien mengatakan masih batuk

 Pasien mengatakan masih

75
merasa lemas.

DO :
Pasien mulai Nampak tenang
Tingkat skala nyeri : 4

TTV : TD: 110/80 mmhg

Pernapasan : 21x/menit

Nadi : 91 x/menit

Suhu : 36,8◦C
 inj. Fioramol Infusion 500 mg/8

jam/I.V

 Ambroxol tab. 30 mg 3x1

A : Masalah teratasi sebagian

P : Intervensi 1,2,3,dan 4 di lanjut


kan
31/ 11.00 DS :
5.
juli/2018  Pasien Mengatakan masih batuk

 Pasien mengatakan sudah tidak

merasakan nyeri kepala

 Pasien mengatakan badan sudah

tidak sakit lagi.

DO :

Konjungtiva tidak Anemis

Pasien Nampak Tenang

Tingkat skala nyeri : 2

76
TTV : TD: 110/80 mmhg

Pernapasan : 20x/menit

Nadi : 86 x/menit

Suhu : 36,5◦C

 Ambroxol tab. 30 mg 3x1

A : Masalah teratasi

P : Intervensi di hentikan

(pasien rencana pulang)

Tabel 4.5 Frekuensi skala nyeri sebelum dan sesudah dilakukan


tindakan kompres air hangat dan massase
Pengukuran Nyeri Sebelum Dan Sesudah
Lama Dalam Melakukan Tindakan Kompres
No. Ket
Hari Air Hangat Dan Massase
Sebelum Sesudah
Cukup
1 Pertama 7 7 Berat
2 Kedua 6 6 Sedang
3 Ketiga 6 5 Sedang
Cukup
4 Keempat 5 4 Ringan
5 Kelima 4 2 Ringan

Dari tabel 4. 1 dapat dilihat bahwa pengukuran nyeri dilakukan sebelum dan
sesudah setelah melakukan kompres air hangat dan massase, yaitu pada
pengukuran nyeri dilakukan selama lima hari. Pada hari pertama nyeri
terukur cukup berat, sampai hari kedua nyeri pasien sudah mulai ada
perubahan penurunan 1 angka menjadi kategori sedang yaitu skala nyeri 6,
sedangkan pada hari ketiga nyeri klien masih tetap kategori sedang sebelum
dilakukannya kompres air hangat dan massase, namun setelah di lakukan

77
terdapat penurunan skala, dari skala nyeri 6 menjadi skala nyeri 45, pada
hari ke empat sampai hari ke lima nyeri klien sudah termasuk kategori
ringan, yaitu dari skala nyeri 4 menjadi skala nyeri 2.

Tabel 4.6
Catatan Perkembangan Nyeri

N Lama
o Hari NOC
Pain Level Kontrol Pain

1. Pertama 1. Nyeri Yang Di 1. Menggunakan


laporkan Tingkat Tindakan Pengurangan
Skala Nyeri ( Nyeri) Secara Non
PQRST : Farmakologi:
Menggunakan Teknik
P : Demam Tinggi
Kompres Air Hangat
Q : Seperti di tusuk
Dan Massase
tusuk 2. Menggunakan
Farmakologi Yang Di
R : Di seluruh badan
Rekomondasikan
dan
inj. Fioramol Infusion
bagian kepala
500 mg/8 jam/I.V
S : Skala Nyeri 7
Ambroxol tab. 30 mg
3x1
T : Berangsur-angsur

2. Ekspresi Nyeri
Wajah:
Pasien Nampak Gelisah
Dan Meringis
3. Tanda-Tanda Vital
TD: 130/80 mmhg

78
Pernapasan : 24

x/menit

Nadi : 98 x/menit

Suhu : 39,5◦C

2. Kedua 1. Nyeri Yang Di 1. Menggunakan


laporkan Tingkat Tindakan Pengurangan
Skala Nyeri ( Nyeri) Secara Non
PQRST : Farmakologi:
Menggunakan Teknik
P : Demam Tinggi
Kompres Air Hangat
Q : Seperti di tusuk
Dan Massase
tusuk 2. Menggunakan
Farmakologi Yang Di
R : Di seluruh badan
Rekomondasikan
dan
inj. Fioramol Infusion
bagian kepala
500 mg/8 jam/I.V
S : Skala Nyeri 6
Ambroxol tab. 30 mg
T : Berangsur-angsur 3x1

2. Ekspresi Nyeri
Wajah
Pasien Masih Nampak
Gelisah Dan Meringis
3. Tanda-Tanda
Vital
TTV : TD: 120/80

mmhg

Pernapasan : 22x/menit

Nadi : 92 x/menit

79
Suhu : 38,8◦C

3. Ketiga 1. Nyeri Yang Di 1. Menggunakan


laporkan Tindakan Pengurangan
Tingkat Skala ( Nyeri) Secara Non
Nyeri Farmakologi:
PQRST : Menggunakan Teknik
Kompres Air Hangat
P : Demam Tinggi
Dan Massase
Q : Seperti di tusuk
2. Menggunakan
tusuk Farmakologi Yang Di
Rekomondasikan
R : Di bagian kepala
1. Paracetamol tab.
S : Skala Nyeri 5
500 mg
T : hilang timbul 2. Ambroxol tab. 30
mg 3x1
2. Ekspresi Nyeri
Wajah
Pasien Masih Nampak
Meringis dan Pasien
Nampak masih
terbaring lemah dalam
kondisi Infus tidak
terpasang karena
Nampak adanya
pembengkakan.
3. Tanda-Tanda
Vital
TD: 120/80 mmhg

Pernapasan : 23x/menit

Nadi : 92 x/menit

Suhu : 38,9◦C

80
4. Keempa 1. Nyeri Yang Di 1. Menggunakan
t laporkan Tingkat Tindakan Pengurangan
Skala Nyeri ( Nyeri) Secara Non
PQRST : Farmakologi:
Menggunakan Teknik
P : Demam Tinggi
Kompres Air Hangat
Q : Seperti di tusuk
Dan Massase
tusuk 2. Menggunakan
Farmakologi Yang Di
R : Di bagian kepala
Rekomondasikan
S : Skala Nyeri 4
inj. Fioramol Infusion
T : hilang timbul
500 mg/8 jam/I.V
2. Ekspresi Nyeri
Ambroxol tab. 30 mg
Wajah
3x1
Pasien Mulai
Nampak Tenang
3. Tanda-Tanda
Vital
TD: 110/80 mmhg

Pernapasan : 21x/menit

Nadi : 91 x/menit

Suhu : 36,8◦C

5. Kelima 1. Nyeri Yang Di 1. Menggunakan


laporkan Tingkat Tindakan Pengurangan
Skala Nyeri ( Nyeri) Secara Non
PQRST : Farmakologi:
Menggunakan Teknik
P : Demam Tinggi
Kompres Air Hangat
Q : Seperti di tusuk
Dan Massase

81
tusuk 2. Menggunakan
Farmakologi Yang Di
R : Di bagian kepala
Rekomondasikan
S : Skala Nyeri 2
Ambroxol tab. 30 mg
T : hilang timbul 3x1

2. Ekspresi Nyeri
Wajah
Pasien Nampak
Tenang
3. Tanda-Tanda Vital
TD: 110/80 mmhg

Pernapasan : 20x/menit

Nadi : 86 x/menit

Suhu : 36,5◦C

B. Pembahasan

Pada bab sebelumnya, penulis telah menjabarkan berbagai

permasalahan tentang kasus Demam Berdarah Dengue khususnya pada

gangguan pemenuhan kebutuhan rasa nyaman (nyeri), yaitu penyakit demam

akut selama 2-7 hari yang di tandai dengan dua atau lebih manifestasi klinis

salah satunya nyeri kepala (sakit kepala). Sedangkan tujuan kasus diperoleh

melalui studi langsung pada pasien An. M dengan kasus Dengue

Hemorrhagic Fever/DBD (pada tanggal 27 – 31 juli 2018 diruang Mina

kamar 18 RSU. Aliyah 2 Kota Kendari.

82
Penulis akan membahas mengenai hasil dari studi kasus yang telah

dilakukan dengan teori yang telah disajikan sebelumnya untuk mengetahui

apakah terdapat kesenjangan antara hasil yang ditemukan penulis dengan

teori. Untuk memudahkan dalam mengetahui apakah terdapat kesenjangan

seperti yang dimaksudkan di atas, maka penulis membahas dengan

menggunakan pendekatan proses keperawatan. Selama penulis melakukan

asuhan keperawatan pada pasien tersebut, penulis mengacu pada pendekatan

keperawatan yang meliputi : pengkajian keperawatan, diagnosa keperawatan,

intervensi, implementasi dan evaluasi keperawatan.

1. Pengkajian Keperawatan

Pengkajian keperawatan merupakan pendekatan sistematik dari

pengumpulan, verifikasi dan komunikasi tentang data pasien. Fase proses

keperawatan ini terdiri dari dua bagian, yaitu data primer (pasien) , dan

sumber sekunder (keluarga pasien dan tenaga kesehatan) dan penggunaan

analisis data sebagai dasar untuk penentuan diagnosa keperawatan, sehingga

dengan adanya pengkajian yang tepat dapat menentukan langkah berikutnya.

(Wilkinson, 2014).

Penyakit DBD merupakan penyakit menular yang di sebabkan oleh virus

dengue dan di tularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti, sehingga yang

terjadi demam akut selama 2-7 hari yang di tandai dengan dua atau lebih

manifestasi klinis salah satunya nyeri (Nurarif & Kusuma, 2015).

Menurut (Suriadi Dan Yuliani, 2010), tanda dan gejala yang lazim pada

penderita DBD pada anak yaitu mengeluh sakit kepala (nyeri), Nyeri otot,

tulang sendi Demam tinggi atau Panas, , abdomen, Mual, muntah, tidak ada

83
nafsu makan, diare, konstipasi Perdarahan terutama perdarahan bawah kulit;

ptechie, ekhimosis, serta Tanda-tanda renjatan (sianosis, kulit lembab dan

dingin, tekanan darah menurut, gelisah, capillary refil lebih dari dua detik,

nadi cepat dan lemah).

Pengkajian pada masalah nyeri dapat dilakukan dengan melihat adanya

riwayat nyeri, keluhan nyeri seperti lokasi, intensitas, kualitas dan waktu

serangan terjadinya nyeri. Pengkajian nyeri dapat dilakukan dengan

menggunakan teknik PQRST

Pada tahap pengkajian yang dilakukan pada pasien tersebut, yaitu penulis

melakukan pengkajian dengan menggabungkan format pengkajian rasa

nyaman (nyeri) dengan pengkajian per sistem, yaitu tentang biodata pasien

(nama, umur, suku, alamat, pendidikan, agama, pekerjaan), menanyakan

keluhan utama, melakukan pengukuran tanda-tanda vital dan melakukan

pengukuran skala nyeri dengan menggunakan skala nyeri deskriptif. Pada saat

dilakukan pengkajian, diperoleh data pasien mengeluh merasakan demam

disertai nyeri kepala dan pusing, badan terasa lemas, pasien mengatakan tiba-

tiba tidak mampu duduk dan hanya bisa terbaring, serta pasien pernah masuk

RS sejak 6 tahun yang lalu dengan penyakit thypoid. Data objektif yang

diperoleh yaitu skala nyeri klien 7, kualitas nyeri seperti tertusuk-tusuk,

waktu nyeri berangsur angsur, nyeri terasa di daerah Nyeri seluruh badan dan

bagian kepala, nampak ibu pasien sesekali memegang dan memijat An. M

pada bagian yang nyeri . Tekanan darah 130/80 mmHg, Nadi 98×/m, S

39,5°C, Pernapasan 24×/menit.

84
Hasil pemeriksaan penunjang yang telah dilakukan di peroleh dari hasil

pemeriksaan labotarium , di mana menunjukkan hasil WBC/leukositnya

mengalami peningkatan dari kisaran normal yaitu dari hasil 13.2 dari batas

normalnya 4.0 – 10.

Berdasarkan hal tersebut, tidak diperoleh kesenjangan antara kasus nyata dan

teori tentang penyakit DBD maupun tentang teori nyeri, dimana tanda dan

gejala DBD pada teori yaitu sakit kepala (nyeri), Nyeri otot, tulang sendi

Demam tinggi atau Panas, , abdomen, Mual, muntah, tidak ada nafsu makan,

diare, konstipasi Perdarahan terutama perdarahan bawah kulit; ptechie,

ekhimosis, serta Tanda-tanda renjatan (sianosis, kulit lembab dan dingin,

tekanan darah menurut, gelisah, capillary refil lebih dari dua detik, nadi cepat

dan lemah). dimana tanda dan gejala tersebut juga terdapat pada hasil

pengkajian pada pasien, yaitu mengeluh sakit kepala (nyeri), pusing, dan

lemas, adanya riwayat masa lalu Ibu pasien mengatakan An. M sebelumnya

pernah masuk RS. Sewaktu SD dengan penyakit Demam typoid.

Adapaun pada pengkajian keperawatan nyeri berdasarkan teori, juga tidak

diperoleh kesenjangan antara teori dan kasus nyata, dimana pada teori

mengatakan bahwa pengkajian nyeri dapat dilakukan dengan melihat adanya

riwayat nyeri, keluhan nyeri seperti lokasi nyeri, kualitas, waktu dan skala

nyeri. Adapun data yang diperoleh dari pengkajian kasus yaitu pasien

mengeluh nyeri kepala , seperti tertusuk tusuk, dengan waktu nyeri berangsur

angsur, skala nyeri 7, dan nampak sesekali pasien memegang dan memijat

daerah yang nyeri.

85
Faktor pendukung yang ditemukan pada saat melakukan pengkajian

yaitu sikap kooperatif dari pasien dan keluarga pasien, serta adanya format

pengkajian keperawatan rasa nyaman (nyeri)yang memudahkan dalam

melakukan pengkajian.

2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah proses menganalisa data subjektif dan

objektif yang telah diperoleh melalui pengkajian. Diagnosa keperawatan ini

dapat digunakan sebagai keputusan klinik yang mencakup respon klien,

keluarga dan komunitas terhadap sesuatu yang berpotensi sebagai masalah

kesehatan.

Diagnosa yang mungkin muncul pada pasien DBD berdasarkan teori, yaitu :

a. Peningkatan suhu tubuh (hipertemia).

b. Nyeri

c. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi, sehingga kurang dari kebutuhan

d. Potensial terjadi perdarahan intra abdominal.

e. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.

f. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet dan perawatan

pasien DBD

g. Gangguan aktivitas sehari-hari

h. Potensial untuk terjadinya reaksi transfuse

Pada pengkajian dan analisa data yang telah dilakukan pada pasien

tersebut, tidak didapatkan kesenjangan antara teori dan kasus, dimana

diagnosa yang dapat diangkat dari hasil pengkajian tersebut yaitu nyeri akut.

Dimana pada pathway yang ada diteori dijelaskan bahwa penyebab

86
terjadinya nyeri pada pasien DBD yaitu adanya virus dengue yang di

tularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti, sehingga yang terjadi

demam akut selama 2-7 hari yang di tandai dengan dua atau lebih

manifestasi klinis yang di akibatkan viremia. Setelah terjadi viremia maka

akan mengakibatkan kondisi di mana virus hadir dalam aliran darah, yang

sangat efisien yang akan menyebar ke seluruh tubuh dan resistensi

pembuluh darah pada otak sehingga terjadi nyeri kepala dan nyeri otot

tulang sendi. Adapun batasan karakteristik pada diagnosa nyeri akut

berdasarkan teori yaitu :

1) Perubaha selera makan

2) Perubahan tekanan darah

3) Perubahan frekuensi jantung

4) Perubahan frekuensi pernapasan

5) Laporan nyeri

6) Diaforesis

7) Perilaku distraksi

8) Mengekspresikan perilaku (mis; gelisah, merengek, menangis)

9) Sikap melindungi nyeri

10) Melaporkan nyeri secara verbal

11) Gangguan pola tidur

12) Sikap melindungi area nyeri

13) Perubahan posisi untuk menghindari nyeri

Batasan karakteristik yang ditemukan pada teori dan hasil pengkajian yang

telah dilakukan pada pasien tidak ditemukan kesenjangan teori, dimana

87
batasan karakteristik yang ditemukan pada hasil pengkajian sehingga dapat

muncul diagnosa nyeri yaitu ditandai

DS : Pasien mengatakan merasa nyeri pada kepala dan Seluruh Badan

seperti tertusuk-tusuk. Pada keluhan ini, ditemukan adanya laporan nyeri

secara verbal

DO : Tekanan darah pasien yaitu 130/80 mmHg, nadi : 98×/menit, suhu

:39, 5°C, pernapasan :24×/menit, skala nyeri 7. Nampak pasien sesekali

memegang dan memijat daerah yang nyeri. Sedangkan data objektif

berkaitan dengan adanya perubahan tingkat nyeri dan suhu badan, laporan

nyeri dengan alat ukur, serta sikap melindungi area nyeri. Pada batasan

karakteristik yang disebutkan diteori terdapat ekspresi meringis atau gelisah,

sedangkan pengkajian yang diperoleh ada nampak meringis yang

diperlihatkan oleh pasien. Dimana pada teori tentang nyeri dijelaskan bahwa

salah satu faktor penyebab pasien mempersepsikan nyeri yaitu usia, jenis

kelamin, pengalaman sebelumnya dan dukungan keluarga. Dimana dapat

kita lihat pasien yang mengalami nyeri ini berjenis kelamin laki-laki, yang

pada teori dijelaskan bahwa beberapa budaya mengajarkan anak laki-laki

harus lebih kuat dibandingkan anak perempuan.

3. Intervensi Keperawatan

Intervensi keperawatan adalah tindakan yang dilakukan untuk perilaku

spesifik dari tindakan yang akan dilakukan oleh perawat. Dari diagnosa

yang muncul, selanjutnya dibuat rencana keperawatan sebagai langkah

untuk melakukan tindakan pemecahan masalah keperawatan berdasarkan

diagnosa keperawatan.

88
Intervensi keperawatan yang dapat digunakan berdasarkan teori yaitu

a. NIC

1) Pain management

a) Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,

karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas.

b) Kontrol Lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu

ruangan, pencahayaan dan kebisingan.

c) Pilih dan lakukan penanganan nyeri (ajarkan teknik non farmakologi,

yaitu relaksasi nafas dalam)

d) Kolaborasi dalam pemberian analgetik untuk mengurangi nyeri.

Adapun intervensi yang dilakukan pada hasil pengkajian yaitu

hanya memfokuskan pada tindakan keperawatan, melakukan penanganan

nyeri secara non farmakologi, yaitu teknik kompres air hangat dan

massase. Dimana tujuan dari teknik ini untuk menghilangkan atau

menurunkan nyeri yang dirasakan pasien, Tujuan ini juga sesuai dengan

tujuan yang ditetapkan oleh teori yaitu melaporkan bahwa nyeri berkurang

dengan menggunakan teknik kompres air hangat dan massase. Tindakan

pengukuran suhu juga dimasukan dalam kegiatan penurunan nyeri

tersebut. Tindakan pengukuran suhu ini digunakan sebagai tolak ukur

untuk melihat apakah dengan adanya penurunan suhu badan disertai

dengan penurunan nyeri. Seperti yang dijelaskan diteori bahwa, beberapa

keluhan yang akan dirasakan oleh penderita DBD salah satunya yaitu nyeri

pada kepala, otot dan tulang sendi.

89
4. Implementasi Keperawatan

Implementasi adalah tindakan keperawatan yang dilakukan kepada

pasien sesuai dengan inervensi keperawatan yang telah ditetapkan,

sehingga kebutuhan pasien tersebut dapat terpenuhi.

Implementasi keperawatan dilakukan selama 5 hari sejak tanggal

27 - 31 juli 2018, dimana tindakan yang dilakukan sesuai dengan

perencanaan yang telah ditetapkan sebelumnya sehingga dapat tercapai

sesuai dengan tujuan asuhan keperawatan.

Pelaksanaan tindakan asuhan keperawatan yang dilakukan yaitu

melakukan pengajaran menggunakan teknik kompres air hangat serta

massase dalam yang dilakukan selama 5 hari, disertai pengukuran suhu

badan sebelum dan sesudah melakukan kompres air hangat dan massase

dalam yang digunakan sebagai tolak ukur penunjang, dimana suhu badan

yang tinggi dapat mempengaruhi nyeri seperti tanda dan gejala yang sudah

dijelaskan pada teori sebelumnya. Pada teori dijelaskan bahwa biasanya,

untuk nyeri skala yang ringan tindakan non farmakologis merupakan

tindakan intervensi yang paling utama. Sedangkan untuk mengantisipasi

perkembangan nyeri dapat digunakan tindakan farmakologis. Nyeri yang

sedang sampai berat dapat menggunakan teknik non farmakologis, yang

merupakan suatu pelengkap yang efektif disamping tindakan utamanya

yaitu farmakologis (Prasetyo, 2010). Dari teori tersebut tidak terdapat

kesenjangan mengenai intervensi yang dilakukan perawat, dimana hasil

pengkajian tersebut memperlihatkan bahwa skala nyeri pasien yaitu skala

nyeri 7, yang termasuk dalam kategori cukup berat. Sedangkan penyebab

90
nyeri, yaitu mengenai suhu badan juga harus diberikan tindakan

farmakologi guna untuk mencegah adanya peningkatan nyeri yang terjadi,

tindakan farmakologi yang diberikan yaitu Inj. Fioramol 500 mg/8

jam/I.V, Ambroxol tab. 30 mg 3x1, IVFD RL 28 tpm.

5. Evaluasi Keperawatan

Evaluasi keperawatan yang dilakukan pada hari Selasa tanggal 31

juli 2018 diperoleh hasil skala nyeri dan suhu badan klien mengalami

perubahan yaitu pada hari pertama skala nyeri 7 (cukup berat), suhu badan

39,5 °C, tekanan darah pasien 130/80 mmHg, nadi 98×/menit, suhu

36,7°C, dan pernapasan 24×/ menit, kemudian setelah dilakukan

perawatan dan pemberian tindakan kompres air hangat dan massase dalam

selama 5 hari skala nyeri klien mengalami penurunan, yaitu menjadi skala

2 (ringan). Serta adapun pemberian obat untuk sebagai pelengkap dalam

menurunan nyeri adalah obat yang di gunakan fioramol infusion 500

mg/8jam/IV dan Ambroxol tab.30 mg sebagai obat batuk yang di keluhkan

oleh pasien. Penurunan skala nyeri ini, disertai dengan perubahan tekanan

darah menjadi 110/80 mmHg, nadi 86×/menit, suhu 36,5°C, dan

pernapasan 20×/menit. Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa terdapat

penurunan skala nyeri dengan menggunakan teknik kompres air hangat

dan massase, dan adanya penurunan tekanan darah meskipun dalam

penurunan skala nyeri dan suhu badan tindakan non farmakologi ini hanya

sebagai pelengkap dari tindakan farmakologi yang diberikan.

C. Keterbatasan Studi Kasus

91
1. Keterbatasan Studi kasus yang dilakukan selama lima hari di Ruang rawat

Mina ini, diantaranya dari segi sumber referensi atau informasi yang

diperoleh dari buku, dimana buku yang tersedia mengenai penyakit DBD dan

nyeri ini memiliki tahun terbit yang sudah hampir tidak dapat digunakan lagi

dalam pustaka KTI, sehingga teori-teori yang dijelaskan dalam studi kasus ini

pun masih sangat terbatas.

2. Keterbatasan yang kedua yaitu mengenai referensi dalam pembuatan studi

kasus, dimana studi kasus ini pertama kali diterapkan, sehingga peneliti yang

melakukan studi kasus ini masih belum terlalu menguasai dalam pembuatan

hasil, akibat referensi yang masih sangat terbatas.

3. Keterbatasan yang ketiga, yaitu lamanya waktu melakukan studi kasus. Pada

studi kasus ini peneliti dibatasi oleh waktu, di karenakan pasien dengan

penderita DBD jarang muncul kecuali saat musimnya serta pendapatkan

perawatan yang lebih lama, sehingga peneliti mengambil waktu sesuai

dengan lamanya pasien dirawata secara umum.

92
DAFTAR PUSTAKA

Alimul, A. A. (2008). Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia Aplikasi Konsep dan


Proses Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika
Prasetyo, S. N. (2010). Konsep dan Proses Keperawatan Nyeri. Yogyakarta:
Graha Ilmu.
Nurarif, A. H., & Kusuma, H. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC ( Jilid ke-1). Jogjakarta:
MediAction

Dinkes Sultra. 2015. Profil Data Kesehatan Provinsi Sultra. Kendari.


www.depkes.go.id.28 sultra_2016. Diakses 18 Maret 2018. Jam 15:40

Suriadi & Yuliani, R. (2010). Asuhan Keperawatan Pada Anak (Edisi 2). Jakarta;
Sagung Seto

Dinkes Sultra. 2016. Profil Data Kesehatan Provinsi Sultra. Kendari.


www.depkes.go.id.28 sultra_2016. Diakses 20 Maret 2018. Jam 10.00

Dinkes Sultra. 2017. Profil Data Kesehatan Provinsi Sultra. Kendari.


www.depkes.go.id.28 sultra_2017. Diakses 20 Maret 2018. Jam 10.00

Puskesma Puuwatu Kendari Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kesehatan Masyarakat


(Vol.2). Diakses 29 maret 2018 pukul 13:15,
http://jurnal.poltekkeskendari.ac.id/index/donwnload

Donsu, J. D. T. (2016). Metodologi Penelitian Keperawatan. Yogyakarta: Pustaka


Baru Press.

RS. Bahteramas. 2018. Profil RS. Bahteramas. Kendari: Staf Rekam Medik RS.
Bahteramas.

Pratama, A. (2017). Laporan Pendahuluan Kebutuhan Dasar Manusia. Diakses


23 Mei 2018 Pukul 13:30, http://www.lpkeperawatanku.cf/2017/04/LP
-gangguan-rasa.html

93
Infodatin . (2016). Pusat Data Dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. Diakses
13 Maret 2018 Pukul 10:50, http://www.infodatin/2016/ISSN 2442-
7659

Purnama, A dkk. (2017). Jurnal Kesehatan Manarang (Vol.3). Kendari.

http://jurnalpoltekkeskendari.ac.id/indekspISSN:2443-3861/e-

ISSN:2528-5602/donwload

Oktaviani, N. P. (2016). Hubungan Penyakit DHF Dengan Nyeri Otot Dan Sendi.

Diakses 18 Agustus 2018 Pukul 15:00,

https://www.aodokter.com/komunitas/topic/dhf

Fhara. (2013). SOP Massase (Nyeri). Diakses 18 Agustus 2018 Pukul 15:00,

http://fharaeunhyuk.blogspot.com

Puput, p. (2015). Standar Operasional Prosedur Kompres Air Hangat. Diakses 18

Agustus 2018 Pukul 15:05,

http://puputpadyb.blogspot.com/2015/06/standar-operasional-prosedur-

sop-kompres

94
Lampiran 1

FORMAT PENGKAJIAN DATA PADA ANAK

Nama Mahasiswa :

No Rekam Medik :

Nim :

Ruangan/RS :

Diagnosa Medis :

A. BIODATA
1. Identitas Klien
a. Nama /Nama Panggilan :
b. Tempat tanggal lahir :
c. Jenis Kelamin :
d. Agama :
e. Pendidikan :
f. Alamat :
g. Tanggal Masuk :
h. Tanggal Pengkajian :
i. Diagnosa Medis :
j. Rencana Terapi :

2. Identitas Orang Tua


a. Ayah b. Ibu
1. Nama : 1. Nama :
2. Usia : 2. Usia :
3. Pendidikan: 3. Pendidikan:
4. Pekerjaan : 4. Pekerjaan :
5. Agama : 5. Agama :
6. Alamat : 6. Alamat :

3. Identitas Saudara Kandung


No Nama Usia Hubungan Status Kesehatan

95
B. KELUHAN UTAMA/ALASAN MASUK RUMAH SAKIT
Keluhan anak sehingga anak membutuhkan perawatan medis, jika anak
tidak dapat mengungkapkan tanya kepada keluarga alasan keluarga
membawa anaknya ke unit pelayanan kesehatan, jika anak tidak
mempunyai keluhan utama, lakukan pemeriksaan fisik untuk mengetahui
penyebab sakitnya.

C. RIWAYAT KESEHATAN
1. Riwayat Kesehatan Sekarang
a. Waktu timbulnya penyakit, kapan? Jam ?
b. Bagaimana awal munculnya? Tiba-tiba? Berangsur-angsur?
c. Keadaan penyakit, apakah sudah membaik, parah atau tetap sama
dengan sebelumnya ?
d. Usaha yang dilakukan untuk mengurangi keluhan ?
e. Kondisi saat dikaji → PQRST

2. Riwayat Kesehatan Lalu


(khusus untuk anak usia 0 – 5 tahun)
a. Pre Natal Care
1. Kapan mulai melakukan perawatan selama hamil?
2. Keluhan ibu selama hamil (perdarahan, PHS, infeksi, ngidam,
muntah-muntah, demam)
3. Pernah dirawat selama hamil
4. Apakah pernah:
 Terkena Sinar X ?
 Menerima terapi perlindungan peyakit ?
 Melakukan meditasi selama kehamilan ?
5. Bagaimana pola makan ? kenaikan berat badan ?
6. Imunisasi (berapa kali ? usia kehamilan berapa ?)
7. Golongan darah ibu dan Ayah ?

b. Natal
1. Tempat melahirkan (rumah sakit, klinik, rumah)
2. Lama dan jenis persalinan ? adakah kesulitan ?
3. Penolong persalinan ?
4. Cara untuk memudahkan persalinan ? (obat.penghilang rasa
nyeri )
5. Pembiusan selama proses melahirkan ?
6. Komplikasi waktu lahir

c. Post Natal Care


1. Kondisi bayi (BB, PB, Apgar Score)
2. Keadaan anak setelah 28 hari ?

96
3. Keadaan anak penyakit (kuning, kebiruan, kemerahan, problem
menyusui, BB tidak stabil)
4. Apakah bayi meninggalkan RS dengan ibunya

(untuk semua usia)


a. Penyakit pada masa anak-anak dan penyakit infeksi yang
pernah dialami
b. Imunisasi
c. Kecelakaan yang pernah dialami termasuk keracunan
d. Prosedur operasi dan perawatan rumah sakit
e. Alergi (makanan, obat-obatan, zat/ substansi, textil)
f. Pengobatan dini (konsumsi obat-obatan bebas)
g. Perkembangan anak dibanding dengan saudar-saudaranya.

3. Riwayat Kesehatan Keluarga


a. Identifikasi berbagai penyakit keturunan yang umum menyerang.
b. Anggota keluarga yang terkena alergi, asma, TBC, hipertensi,
penyakit jantung, stroke, anemia, hemopilia, arthritis, migrain,
DM, kanker, dan gangguan genogram.
c. Buat bagan dengan genogram

D. RIWAYAT IMUNISASI
No Jenis Imunisasi Waktu Reaksi Setelah
Pemberian Pemberian
1. BCG
2. DPT (I, II, III)
3. POLIO (I, II, III)
4. CAMPAK
5. HEPATITIS
6. Lain-lain

E. RIWAYAT TUMBUH KEMBANG


1. Pertumbuhan Fisik
a. Berat badan (sejak lahir sampai saat ini / pertahapan usia)
b. Tinggi badan
c. Waktu tumbu dan tanggalnya gigi

2. Perkembangan Tiap Tahap


Usia anak saat :
a. Berguling
b. Duduk

97
c. Merangkak
d. Berdiri
e. Berjalan
f. Senyum kepada orang lain pertama kali
g. Bicara pertama kali
h. Berpakaian tanpa bantuan

F. RIWAYAT NUTRISI
1. Pemberian Asi
a. Pertama kali disusui
b. Waktu dan cara pemberian
c. Lama pemberian
d. Asi diberikan sampai usia

2. Pemberian Susu Formula


a. Alasan pemberian
b. Jumlah pemberian
c. Cara memberikan (dengan dot/sendok)

3. Pemberian Makanan Tambahan


a. Pertama kali diberikan usia
b. Jenis

4. Pola perubahan nutrisi tiap tahapan usia sampai nutrisi saat ini

Usia Jenis Nutrisi Lama Pemberian

G. RIWAYAT PSIKOSOSIAL
1. Identitas klien tentang kehidupan sosial, apakah tinggal di apartemen,
rumah sendiri, kontrak? Lingkungan berada di kota, setengah kota,
desa ? apakah dekat dengan sekolah ? apakah ada tempat bermain ?
punya kamar tidur sendiri ? apakah ada tangga yang bisa berbahaya ?
apakah anak punya ruang bermain ?
2. Identifikasi kehidupan perkawinan orang tua anak
3. Hubungan antar anggota keluarga
4. Siapa yang mengasuh anak ? apakah orang tua menitipkan di tempat
perawatan anak ?
5. Penerapan disiplin
6. Latihan toilet
7. Pola bermain

98
H. RIWAYAT SPIRITUAL
1. Kaji ketaatan anak beribadah dan menjalankan kepercayaannya
2. Support sistem dalam keluarga
3. Ritual yang biasa di jalankan oleh klien dan keluarga.

I. REAKSI HOSPITALISASI
1. Pemahaman keluarga tentang sakit dan rawat inap
a. Mengapa ibu membawa anaknya ke rumah sakit
b. Apakah dokter menceritakan tentang kondisi anak
c. Bagaimana perasaan orang tua saat ini
d. Apakah orang akan selalu berkunjung
e. Siapa yang akan tinggal dengan anak (rawat gabung)

2. Pemahaman anak tentang sakit dan rawat inap


a. Mengapa keluarga/orang tua membawa kamu ke rumah sakit
b. Menurutmu apa penyebab kamu sakit
c. Apakah dokter menceritakan keadaanmu
d. Bagaiman rasanya dirawat di rumah sakit (reaksi hospitalisasi)

J. AKTIVITAS SEHARI – HARI


1. Nutrisi
a. Selera makan
b. Menu makan dalam 24 jam
c. Frekuensi makan dalam 24 jam
d. Makanan yang disukai dan makanan pantang
e. Pembatasan pola makan
f. Cara makan (bersama keluarga, alat makan yang digunakan)

2. Cairan
a. Jenis minuman yang dikonsumsi dalam 24 jam
b. Frekuensi minum
c. Kebutuhan cairan dalam 24 jam

3. Eliminasi (BAB & BAK)


a. Tempat pembuangan
b. Frekuensi ? Kapan ? Teratur ?
c. Konsistensi
d. Kesulitan dan cara menanganinya
e. Obat – obatan untuk memperlancar BAB / BAK

4. Istirahat dan Tidur


a. Apakah cepat tertidur
b. Jam tidur (siang/malam)

99
c. Bila tidak dapat tidur apa yang dilakukan
d. Apakah tidur secara rutin?
e. Apakah ada kebiasaan sebelum tidur?

5. Olah raga
a. Program olah raga tertentu?
b. Berapa lama melakukan dan jenisnya ?
c. Perasaan anak setelah melakukan olah raga

6. Personal Hygiene
a. Mandi (frekuensi, cara, alat mandi, kesulitan mandi / dibantu)
b. Cuci rambut
c. Gunting kuku & Gosok gigi

7. Aktivitas/Mobilitas Fisik
a. Kegiatan sehari – hari
b. Pengaturan jadwal harian
c. Penggunaan alat bantu untuk aktivitas
d. Kesulitan pergerakan tubuh

8. Rekreasi
a. Bagaimana perasaan anak saat sekolah ?
b. Berapa banyak waktu luang anak diluar sekolah dan les?
c. Apakah anak puas setelah rekreasi?
d. Apakah keluarga menghabiskan waktu senggang dengan anak
e. Bagaimana perbedaan hari libur dan hari sekolah?

K. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan Umum Klien
a. Tanda-tanda dan distress
b. Penampilan dihubungkan dengan usia
c. Ekspresi wajah, bicara, mood
d. Berpakaian dan kebersihan umum

2. Tanda-Tanda Vital
a. Tekana darah :
b. Suhu :
c. Nadi :
d. Pernapasan :

3. Antropometri
a. Tinggi badan :
b. Berat badan :
c. Lingkar lengan atas :
d. Lingkar kepala :

100
e. Lingkar dada :
f. Lingkar perut :
g. Skin fold :

4. Sistem Pernapasan
a. Hidung : Kesimetrisan, pernafasan cuping hidung, adanya
secret/polip, passase udara
b. Leher : pembesaran kelenjar, tumor
c. Dada :
1. Bentuk dada (normal, barrel, pigeon chest)
2. Perbandingan ukuran anterior-posterior tranversal
3. Gerakan dada (kiri dan kana, apakah ada retraksi)
4. Keadaan proxsesus xipoideus
5. Apakah ada suara nafas tambahan
d. Apakah ada clubbing finger

5. Sistem Cardiovaskuler
a. Conjungtiva (anemia/tidak), bibir (pucat, cyanosis)
b. Arteri carotis
c. Tekanan vena jugularis
d. Ukuran jantung
e. Ictus cordis/apex
f. Suara jantung (Mitral, Tracuspidalis, S1, S2, Bising aorta, mur-
mur, galiop)
g. Capillary Refilling time

6. Sistem pencernaan
a. Sklera (ikterus/tidak)
b. Bibir (lembab, kering, pecah-pecah, labio skizis)
c. Mulut (stomatitis, apakah ada palato skizis, jumlah gigi,
kemampuan menelan, gerakan lidah)
d. Gaster (kembung, gerakan peristaltik)
e. Abdomen (periksa sesuai dengan organ dalam tiap kuadran)
f. F. Anus ( kondisi, spincter ani, koordinasi)

7. Sistem indra
a. Mata
1. Kelopak mata, bulu mata, alis, lipatan epikankus dengan ujung
atas telinga
2. Visus (gunakan snellen Chard)
3. Lapang pandang
b. Hidung
1. Penciuman, perih hidung, trauma mimisan
2. Sekret yang menghalangi penciuman
c. Telingan

101
1. Keadaan daun telinga, operasi telinga
2. Kenal auditoris
3. Membrana tympani
4. Fungsi pendengaran

8. Sistem Syaraf
a. Fungsi cerebral
1. Status mental (orientasi, daya ingat perhatian dan perhitungan,
bahasa)
2. Kesadaran (eyes, motorik, verbal) dengan GCS)
3. Bicara (ekspresive dan resiptive)
b. Fungsi cranial (syaraf cranial I s/d XII)
c. Fungsi motorik (massa, tonus dan kekuatan otot)
d. Fungsi sensorik (suhu, nyeri, getaran posisi dan diskriminasi)
e. Fungsi cerebellum (koordinasi dan keseimbangan)
f. Reflekx (ekstremitas atas, bawah dan uperficla)
g. Iritansi meningen (kaku kuduk, lasaque sign, evenig sign,
brudzinkin sign)

9. Sistem Muskuloskeletal
a. Kepala (bentuk kepala)
b. Vertebrata (bentuk, gerakan, ROM)
c. Pelvis (Thomas test, trendelenberg test, ortolani / barlow test,
ROM)
d. Lutut )Mc murray test, ballottement, ROM)
e. Kaki (keutuhan ligamen, ROM)
f. Bahu, dan Tangan

10. Sistem Integumen


a. Rambut (distribusi di tiap bagian tubuh, texturem kelembaban,
kebersihan)
b. Kulit (perubahan warna, temperatur, kelembaban, buu kulit,erupsi,
tahi lalat, ruam, testure)
c. Kuku (warna, permukaan kuku, mudah patah, kebersihan)

11. Sistem Endokrin


a. Kelenjar thyroid
b. Percepatan pertumbuhan
c. Gejala creatinisme atau gigantisme
d. Ekskresi urine berlebihan, polidypsi, polyphagi
e. Susu tubuh yang tidak seimbang, keringat berlebihan, leher kaku
f. Riwayat bekas air seni dikelilingi semut

102
12. Sistem Perkemihan
a. Oedema palpebra
b. Moon face
c. Odema anasarka
d. Keadaan kandung kemih
e. Nocturia, dysuria, kencing batu

13. Sistem Reproduksi

a. Wanita
1. Payudara (Putting, areola mamae, besar, perbandingan kiri dan
kanan
2. Labia mayora dan minora
3. Keadaan hymen
4. Haid pertama (bila anak sudah haid)
5. Siklus haid

b. Laki-laki
1. Keadaan gland penis (urethra)
2. Testis (sudah turun / belum)
3. Pertumbuhan rambut (kumis, jengut, ketiak)
4. Pertumbuhan jakun
5. Perubahan suara
6. Wet dream

14. Sistem Imun

a. Alergi (cuaca, debu, bulu binatang, zat kimia)


b. Immunisasi
c. Penyakit yang berhubungan dengan perubahan cuaca.
d. Riwayat transfusi dan reaksinya

L. PEMERIKSAAN TINGKATPERKEMBANGAN

1. 0 – 6 Tahun
Dengan menggunakan DDST
a. Motorik Kasar
b. Motorik Halus
c. Bahasa
d. Personal Sosial

2. 6 Tahun Keatas
a. Perkembangan Kognitif
b. Perkembangan Psikosexual

103
c. Perkembangan Psikososial

M. TEST DIAGNOSTIK
1. Laboratorium → Tulis Nilai Normalnya
2. Ro Photo / Radiologi
3. CT Scan
4. USG, ECG, EKG

N. TERAPI SAAT INI (DITULIS DENGAN RINCI)


........................................................................................................................
........................................................................................................................
........................................................................................................................

Mengetahui, Kendari, 2018


CI Lahan Praktek Yang Mengkaji

104
Lampiran 2

FORMAT PENGKAJIAN KEBUTUHAN KENYAMANAN

A. DATA DEMOGRAFI
A. BIODATA
1. Nama :
2. Usia :
3. Jenis Kelamin :
4. Alamat :
5. Suku/Bangsa :
6. Status Perkawinan :
7. Agama :
8. Pekerjaan :
9. Diagnosa Medik :
10. No. Rekam Medik :
11. Tanggal Masuk :
12. Tanggal Pengkajian :

B. PENANGGUNG JAWAB
1. Nama :
2. Usia :
3. Jenis Kelamin :
4. Pekerjaan :
5. Hubungan Dengan Klien :

II. KELUHAN UTAMA

Keluhan Klien Sehingga Dia Membutuhkan Pertolongan Medik

III. RIWAYAT KESEHATAN

A. RIWAYAT KESEHATAN SEKARANG


1. Waktu Timbulnya Penyakit Kapan?
2. Bagaimana Awal Munculnya?

105
3. Keadaan Penyakit Apakah Sudah Membaik, Parah Atau Tetap
Sama?
4. Usaha Yang Dilakukan Untuk Mengurangi Keluhan?
5. Kondisi Saat Dikaji (PQRST)?

B. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA


1. Identifikasi Berbagai Penyakit Keturunan Yang Umumnya
Menyerang?
2. Buat Bagan Genogram

IV. PENGKAJIAN KEBUTUHAN KENYAMANAN

1. Penyebab Nyeri
a. Benda Tajam :
b. Trauma :
c. Benda Tumpul :
d. Dan Lain – Lain :
2. Regional (Daerah)
a. Bagian Dalam :
b. Seluruh Badan :
c. Bagian Permukaan :
d. Apakah Menjalar Kebahagian Lain :
3. Intesitas Nyeri
a. Ringan :
b. Sedang :
c. Parah :
d. Sangat Parah :
4. Kualitas Nyeri
a. Sakit :
b. Terbakar :
c. Tertusuk :
5. Waktu
a. Apakah Pernah Mendarita Penyakit/Trauma Yang
Menyebabkan Rasa Nyeri?

106
b. Jika Ya, Kapan Terjadi?
c. Lamanya Berlangsung?
d. Interval Nyeri?
6. Faktor Yang Meringankan
a. Apakah Pernah Membeli Obat Untuk Menghilangkan Rasa
Nyeri :
b. Kalau Pernah, Obat Apa Yang DiKonsumsi :
c. Dosis Obat Yang Di gunakan :
d. Efek Obat Yang Digunakan :
e. Selain Obat, Tindakan Apa Yang Dilakukan :
1. Nonton :
2. Nyanyi :
3. Cerita :
4. Dll :
7. Pengaruh Nyeri Terhadap Aktivitas :
a. Tidur :
b. Makan :
c. Bekerja :
d. Interaksi :
8. Gejala Klinik Lain Yang Menyertai Nyeri
a. Mual :
b. Muntah :
c. Pusing :
d. Konstipasi :
e. Suhu Tubuh :
f. Menggingil :
g. Dll; :
9. Pemerikasaan Diagnostik
a. Laboratorium :
b. Foto Rontgen :
c. EKG :
d. Pemeriksaan Lain :

107
Lampiran 3
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)
KOMPRES HANGAT

1. Pengertian
Kompres hangat adalah memberikan rasa hangat pada daerah tertentu dengan
menggunakan cairan atau alat yang menimbulkan hangat pada bagian tubuh
yang memerlukan. Peberian kompres dilakukan pada radang persendian,
kekejangan otot, perut kembung, dan kedinginan
2. Tujuan
a. Memperlancar sirkulasi darah
b. Menurunkan suhu tubuh
c. Mengurangi rasa sakit
d. Memberikan rasa hangat, nyaman dan tenang pada klien
e. Memperlancar pengeluaran eksudat
f. Merangsang peristaltic usus
3. Indikasi
a. Klien yeng kedinginan (suhu tubuh yang rendah)
b. Klien dengan perut kembung
c. Klien yang punya penyakit peradangan, seperti radang persendian
d. Sepasme otot
e. Adanya abses, hematoma
4. Alat dan bahan
a. Larutan kompres berupa air hangat 40◦ dalam wadah baskom atau kom
b. Handuk/ kain/ washlap untuk kompres
c. Handuk pengering
d. Sarung tangan
e. Termoneter
5. Prosedur tindakan
a. Beri tahu klien, siapkan alat, klien dan lingkungan
b. Cuci tangan
c. Ukur suhu tubu

108
d. Basahi kain pengompres dengan air, peras kain sehingga tidak terlalu
basah
e. Letakkan kain pada daerah yang akan di kompres
f. Tutup kain kompres dengan handuk kering
g. Apabila kain telah kering atau suhu kain relative menjadi dingin,
masukkan kembali kain kompres ke dalam cairan kompres dan letakkan
kembali di daerah kompres, lakukan berulang – ulang hingga efek yang
diiginkan dicapai
h. Evaluasi hasil dengan mengukur suhu tubuh dan menayakan kembali
keluhan nyeri pada klien setelah 20 menit
i. Setelah selesai, keringkan daerah kompres atau bagian tubuh yang basah
dan di rapikan alat
j. Cuci tangan
6. Evaluasi
a. Respon klien
b. Alat kompres terpasang dengan benar
c. Suhu tubuh klien membaik
d. Keluhan nyeri berkurang
7. Dokumentasi
a. Waktu pelaksana
b. Catat hasil dokumentasi setiap tindakan yang dilakukan dan di evaluasi
c. Nama perawat yang melaksanakan

109
Lampiran 4

SOP Massase (Nyeri)

Penatalaksanaa Nyeri (Massase)

1. Pengertian
Massase adalah tindakan keperawatan dengan cara memberikan massase
pada klien dengan memenuhi kebutuhan rasa nyaman (nyeri) pada daerah
superfisial atau pada oto/tulang. Tindakan massase ini hanya untuk
membantu mengurangi rangsangan nyeri akibat terganggunya sirkulasi.
2. Tujuan
Meningkatkan sirkulasi pada daerah yang di massase
Meningkatkan relaksasi
3. Alat dan Bahan
Minyak untuk massase
Handuk
4. Prosedur Kerja
a) Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
b) Cuci tangan
c) Lakukan massase pada daerah yang dirasakan nyeri selama 5-10 menit
d) Lakukan massase dengan menggunakan telapak tangan dan jari
dengan tekanan halus.
e) Teknik massase dengan gerakan tangan selang-selang (tekanan
pendek,cepat, dan bergantian tangan) dengan menggunakan telapak
tangan dan dari dengan memberikan tekanan ringan. Dilakukan bila
nyeri terjadi di pinggang.
f) Teknik remasan (mengusap otot bahu) dapat dilakukan bila nyeri
terjadi pada daerah sekitar bahu.
g) Teknik massase dengan gerakan menggesek dengan menggunakan ibu
jari dan gerakan memutar. Masasse ini dilakukan bila nyeri dirasakan
didaerah punggung dan pinggang secara menyeluruh.
h) Teknik eflurasi dengan kedua tangan, dapat dilakukan bila nyeri
terjadi di daerah punngung dan pinggang.
i) Teknik petrisasi dengan menekan punggung secara horizontal
j) Teknik tekanan menyikat dengan menggunakan ujung jari, digunakan
pada akhir massase daerah pinggang.

110
Lampiran 5

INSTRUMEN PENELITIAN

SKALA PENILAIAN TINGKAT NYERI


Skala Outcome Berat Cukup Berat Sedang Ringan Tidak Ada
No
Keseluruhan 1 2 3 4 5
1 Nyeri yang dilaporkan
2 Ekspresi nyeri wajah
Deviasi berat Deviasi yang cukup Deviasi Deviasi Tidak ada
dari berat sedang dari ringan dari deviasi dari
kisaran dari kisaran kisaran kisaran kisaran
Skala Outcome normal normal normal normal normal
Keseluruhan 1 2 3 4 5
4 Frekuensi nafas
5 Tekanan Darah

111
Lampiran 6

INSTRUMEN PENELITIAN

SKALA PENILAIAN KONTROL NYERI


Tidak pernah Jarang Kadang – kadang Sering Secara konsisten
No Skala Outcome menunjukkan menunjukkn menunjukkan menunjukkan menunjukkan
Keseluruhan 1 2 3 4 5
Menggunakan tindakan
pengurangan nyeri tanpa
analgesic (Kompres Air
1. Hangat Dan Massase)

2. Menggunakan Obat
analgesik yang di
rekomendasikan

112
Lampiran 7
LEMBAR OBSERVASI
Nama :
Usia :
No RM :

Variabel Penelitian
No Tingkat Nyeri Hari Ke- 1 Hari Ke- 2 Hari Ke- 3 Hari Ke- 4 Hari Ke- 5

1 Nyeri yang dilaporkan ………….. ………… …………. ……….

2 Ekspresi Nyeri wajah ………….. ………. …………. ……….

3 Frekuensi Nafas ……../Menit ………/Menit ………/Menit ………/Menit ………/Menit

4 Tekanan Darah ……….Mmhg ……….Mmhg ……..Mmhg ……….Mmhg ……….Mmhg


Kontrol Nyeri Hari Ke- 1 Hari Ke- 2 Hari Ke- 3 Hari Ke- 4 Hari Ke- 5
Menggunakan tindakan
1. pengurangan
(nyeri) tanpa analgesik
Menggunaka Analgesik
yang
2.
Direkomendasikan

113
114
115
116
117
118
119
120
121
122
123
50 30
X5
17
27
31
X?

124