Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kulit adalah lapisan jaringan yang terdapat pada bagian luar menutupi
dan melindungi permukaan tubuh,berhubngan dengan selaput lender yang
melapisi rongga-rongga lubang–lubang masuk pada permukaan kulit
bermuara kelenjar keringat dan kelenjar mukosa (Syaifudin, 2006)
Eritoderma adalah eritema difus dan skuama yang melibatkan 90% atau
lebih permukaan pada kulit tubuh. Istilah lain eritoderma adalah dermatitis
eksfoliatif, eritoderma eksfoliatif atau red man syndrome. Eritoderma
digambarkan sebagai kemerahan dan skuama pada kulit. Pada banyak kasus,
eritoderma umumnya disebabkan oleh perluasan penyakit kulit yang ada
sebelumnya (misalnya psoriasis atau dermatitis atopik), keganasan; cutenius
T-cell lymphoma (CTCL) dan reaksi obat. Kira-kira ¼ kasus, tidak ada
etiologi yang spesifik bisa ditemukan. (Berth-Jones, 2010)
Pada eritoderma yang kronik eritema tidak begitu jelas, karena
bercampur dengan hiperpigmentasi. Sedangkan skuama adalah lapisan
stratum korneum yang terlepas dari kulit. Skuama mulai dari halus ke kasar.
Pada eritoderma skuama tidak selalu terdapat, misalnya eritoderma karena
alergi obat sistemik, pada mulanya tidak diketahui adanya skuama, kemudian
timbul pada stadium penyembuhan baru timbul. Bila eritema antara 50-90%
(Gant-kels, 2008)
Menurut hasil penelitian Chatterjee et al (2006), insiden erupsi obat
alergi mencapai 2,66 % dari total 27726 pasien dermatologi selama setahun
Erupsi obat alergi terjadi pada 2-3% pasien yang dirawat dirumah sakit, tetapi
hanya 2% yang berakibat fatal Insidens erupsi obat alergi pada negara
berkembang berkisar antara 1%-3%, di India, kasus erupsi obat alergi
mencapai 2-5%, Erupsi obat alergi terjadi 2-3 % dari seluruh reaksi silang
obat hampir 45% dari seluruh pasien dengan erupsi dkulit merupakan kasus
erupsi obat alergi, Lebih dari 50% kasus sindrom steven johnsons dan hampir
90% penderita toxic epidermal netrolisis terkait dengan penggunaan obat
2

Angka kematian tergantung pada penyebab eritoderma. Sigurdson


(2004) melaporkan terjadi dari 102 penderita eritoderma terdapat 43 %
kematian, 18% disebabkan langsung oleh eritoderma dan 74% tidak
berhubungan dengan eritoderma
Angka kejadian kasus eritoderma pada laki-laki lebih banyak daripada
perempuan dengan perbandingan 2:1- 4:2, dan usia rata-rata 41-61 tahun. Di
Afrika Selatan perbandingan laki-laki dan perempuan 3:1 ,sedangkan di
Spanyol dilaporkan perbandingannya adalah 4:1. Berdasarkan penelitian
Nanda dkk (2009) di Instalasi Rawat Inap Kesehatan Kulit dan Kelamin
Rumah Sakit Umum Daerah Soetomo Surabaya dilaporkan jumlah penderita
eritoderma 30 orang (1,2%) dari selutuh penderita rawat inap. Didapatkan
perbandingan laki-laki dan perempuan 1,7: 1 dengan rentang usia sebanyak
>65 tahun. Sedangkan penyebab terbanyak adalah dermatitis seboroik
(43,3%),diikuti dengan alergi obat (26,7%), psoriasis vulgaris (3,3%),
dermatitis kronik (3,3%), dan pemvigus foliakus (3,3%). (Callen JP, 2008)
Angka kejadian kasus eritroderma di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung
pada tahun 2016 terdapat 22 kasus (Medical Record RSHS, 2016)
Menurut Mochtar (2010), pada penderita eritoderma yang belum
diketahui sebabnya pengobatannya dengan pemeberian kortikosteroid, tetapi
hanya mengurangi gejalanya Dan pada eritoderma yng telah berlangsung
berbulan- bulan dapat terjadi perburukan keadaan umum, seperti kerontokan
rambut dan kehilangan kuku Untuk itu pada penederita eritoderma perlu
dilakukan asuhan keperawatan yang komprehensif untuk mencegah kematian
Peran perawat dalam menangani pasien dengan eritroderma meliputi
mampu menganalisa hasil laboratorium. Hb, Trombosit, leukosit, dan mampu
mengelola kasus pada eritroderma. memberikan perawatan pada kulit dengan
cairan Nacl 0,9% agar tidak terjadi infeksi Dan memberikan penjelasan
kepada keluarga sesuai dengan penyakit yang di alaminya (Wasitaatmadja,
2007)
Perawatan yang dilakukan dirumah sakit pada pasien eritoderma adalah
pemberian kompres NaCl dan pemebrian terapi berdasarkan resep dokter
Penatalaksanaan yang seharusnya dilakukan adalah dirawat dirumah
sakit dan harus tirah baring. Semua obat yang terlibat harus dihentikan
3

pemakaiannya. Suhu kamar yang nyaman harus dipertahankan karena pasien


tidak memiliki control termogulasi yang normal sebagai akibat dari fluktuasi
suhu karena vasodilatasi dan kehilangan air lewat evaporasi. Keseimbangan
cairan dan elektrolit harus dipertahankan karena terjadinya kehilangan cairan
dan protein yang cukup besar dari kulit. Kompres dan pelumasan kulit
dipakai untuk mengobati dermatitis luas (Parimalan et al., 2012)
Oleh karena itu penulis selama dilapangan tidak menemukan
kesenjangan antara teori yang didapat di institusi dengan apa yang penulis
dapatkan di lapangan tempat praktik
Eritoderma ini bila tidak segera dilakukan penanganan dapat
menimbulkan kematian, selain itu kita menjadikan kasus ini menjadi acuan
belajar untuk dapat memberikan perawatan yang lebih baik pada seseorang
penderita eritoderma
Menurut latar belakang diatas penulis tertarik untuk mengangkat karya
tulis ilmiah dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada Tn. K Dengan
Gangguan Sistem Integumen Eritroderma Di Ruang Kulit Kelamin RSUP
Prof. Dr. Hasan Sadikin Bandung”

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum
Tujuan umum penulisan Karya Tulis Ilmiah ini adalah mampu
melaksanakan / mendokumentasikan asuhan keperawatan secara baik
pada klien dengan masalah eritoderma
2. Tujuan khusus
a. Mampu melakukan pengkajian kepada pasien eritoderma
b. Mampu mendokumentasikan merumuskan dan menentukan prioritas
diganosa yang telah didapat melalui pengkajian
c. Mampu mendokumentasikan rencana tindakan keperawatan pada
klien eritoderma
4

d. Mampu mengimplementasikan rencana tindakan keperawatan kepada


klien eritoderma
e. Mampu melakukan evaluasi tindakan keperawatan pada klien
eritoderma
f. Mampu membandingkan dan menganalisa kesenjangan anatara teori
dengan kasus yang ada
C. Metode Dan Tehnik Pengumpulan Data
Penyusunan karya tulis ilmiah ini merupakan metode diskriptif, yaitu
suatu metode penelitian yang digunakan dalam penelitian diskriptif untuk
menggambarkan fenomena yang ada (Rosdy Ruslan,2006)
Pengumpul data dan informasi studi kasus ini meliputi:
1. Observasi dan Partisipasi
Yaitu cara pengumpulan data penulis melakukan pengamatan dan turut
serta dalam melakukan tidakan pelayanan keperawatan
2. Wawancara
Yaitu cara pengumpulan data dengan penulis melakukan pengumpulan data
dengan cara Tanya jawab

3. Studi pustaka
Yaitu menggunakan sumber buku yang ada referensinya dengan kasus dan
pemeberian asuhan keperawatan pada klien dengan eritoderma

D. Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Tujuan Penulisan
C. Teknik Pengumpulan Data
D. Sistematika Penulisan
E. Manfaat Penulisan
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Pengertian
B. Etiologi
C. Patofisiologi
5

D. Gambaran Klinis
E. Pengelolaan Kasus
F. Pathway
G. Asuhan Keperawatan Teoritis : pengkajian,diagnose,dan intervensi
BAB III TINJAUAN KASUS
A. Pengkajian Keperawatan
B. Analisa Masalah
C. Diagnose Keperawatan
D. Rencana Keperawatan
E. Implementasi Keperawatan
F. Evaluasi Keperawatan
BAB IV PEMBAHASAN
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
E. Manfaat

1. Bagi penulis

Dapat menambah pengetahuan dan wawasan serta mampu


merealisasikan dan mensosialisasikan teori asuhan keperawatan yang
telah dipelajari di institusi

2. Bagi pasien dan keluarga

Untuk mengaplikasikan asuhan keperawatan secara langsung


kepada klien eritoderma serta memberikan pendidikan kesehatan kepada
pasien dan kelurga tentang penanganan penyakit eritoderma setelah pulang
pasien pulang dari rumah sakit

3. Bagi institusi
6

Untuk menjadikan acuan kepda institusi untuk memberikan


pembekalan asuhan keperawatan kepada klien eritoderma sebelum terjun
langsung pada lahan praktik