Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Polip nasi merupakan masalah kesehatan global yang dapat mempengaruhi kualitas hidup
penderita baik segi pekerjaan, pendidikan, dan kegiatan aktivitas sehari-hari. Polip hidung
terbagi 2 yaitu polip edematosa dan polip fibrosa. Polip hidung merupakan penyakit
multifaktorial, mulai disebabkan dari infeksi, inflamasi non infeksi, kelainan anatomis,
abnormalitas genetik, serta beberapa teori yang mengarahkan polip ini sebagai manifestasi dari
inflamasi kronis. Oleh karena itu, tiap kondisi yang menyebabkan adanya inflamasi kronis pada
rongga hidung dapat menjadi faktor predisposisi polip, serta kebanyakan polip yang diakibatkan
proses inflamasi biasanya bilateral. Kondisi-kondisi ini seperti pada penderita rinitis alergi
ataupun non alergi, sinusitis, intoleransi aspirin, asma, Churg-strauss syndrome, cystic fibrosis,
katagener syndrome, dan Young syndrome.(Kirtsreesakul, 2005)

Pada kondisi polip nasi, rata-rata pasien mengalami gejala hidung tersumbat terus
menerus, daya penciuman menurun, rongga hidung terasa gatal dan sering bersin, Jika polip
hidung pasien tidak diobati dan pengobatan yang tidak tepat berulang kambuh, Ini tidak hanya
akan memperburuk gejala polip hidung, Juga akan menyebabkan polip hidung banyak
komplikasi, Bahaya besar, Polip hidung telah menjadi keparahan masalah kesehatan. (Soepardi,
2007).

Polip nasi merupakan salah satu masalah kesehatan di bidang Ilmu Kesehatan Telinga
Hidung dan Tenggorok oleh karena mengalami peningkatan dan memberikan dampak bagi
pengeluaran finansial masyarakat serta dapat mengakibatkan gangguan kualitas hidup yang
berat, di mana terjadi peningkatan prevalensi hampir disemua negara dan merupakan penyakit
yang paling sering dijumpai. Prevalensi penderita polip hidung pada seluruh populasi di dunia
bervariasi mulai dari 1-4%. Beberapa laporan dari hasil studi epidemiologi bahwa prevalensi
polip nasi dilaporkan 1-2% pada orang dewasa di Eropa dan 4,3% di Finlandia. Prevalensi polip
nasi di Amerika serikat diperkirakan antara 1-4%. Pada anak-anak sangat jarang ditemukan dan
dilaporkan hanya sekitar 0,1%. (Alobid, 2005)
Data dari DEPKES RI tahun 2003 menyebutkan bahwa penyakit hidung dan sinus
lainnya berada pada urutan ke-25 dari 50 pola penyakit peringkat utama atau sekitar 102.817
penderita rawat jalan di rumah sakit. Studi epidemiologi di Indonesia menunjukkan bahwa
perbandingan pria dan wanita 2-3:1 dengan prevalensi 0,2% - 4,3%. RSUD DR. ACHMAD
MOCHTAR Bukittinggi selama Januari 2017 sampai Desember 2017 didapatkan kasus polip
nasi sebanyak 20 orang. Sedangkan selama Januari 2018 sampai 19 April 2018 dilaporkan kasus
polip nasi sebanyak 9 orang.

1.2 Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami dan melakukan Asuhan Keperawatan pada pasien
dengan polip nasi
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu memahami konsep polip nasi.
b. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada pasien dengan polip nasi
c. Mahasiswa mampu membuat analisa data dan menegakkan diagnosa keperawatan
pasien dengan polip nasi.
d. Mahasiswa mampu membuat intervensi keperawatan pada pasien dengan polip
nasi.
e. Mahasiswa mampu melakukan implementasi keperawatan pada pasien dengan
polip nasi.
f. Mahasiswa mampu melakukan evaluasi keperawatan pada pasien dengan polip
nasi.
g. Mahasiswa mampu melakukan pendokumentasian terhadap tindakan yang
dilakukan pada pasien dengan polip nasi.
h. Mampu membandingkan antara teori, kasus dan evidence based nursing yang ada.

1.3 Manfaat
1. Bagi Pelayanan kesehatan
Dapat dijadikan sebagai bahan referensi dalam melaksanakan asuhan keperawatan
pada pasien dengan polip nasi, sehingga dapat dilakukan tindakan yang segera untuk
mengatasi masalah yang terjadi pada pasien dengan polip nasi.
2. Bagi Pembaca
Memberikan pengertian / pengetahuan dan pengambilan keputusan yang tepat
kepada pembaca. Khususnya dalam menyikapi dan mengatasi jika ada penderita
dengan polip nasi.
3. Bagi Mahasiswa
Diharapkan mahasiswa dapat menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman yang
lebih mendalam dalam memberikan Asuhan Keperawatan khususnya pada pasien
dengan polip nasi.
4. Bagi Pasien
Diharapkan pasien dapat menerima dan memahami asuhan keperawatan yang
diberikan dan mampu mencegah komplikasi lebih lanjut.