Anda di halaman 1dari 8

FAMILI PARVOVIRIDAE

A. STRUKTUR TAKSONOMI

Family Parvoviridae

Subfamily Parvovirinae Subfamily Densovirinae


Genus Parvovirus Genus Iteravirus
Genus Erythrovirus Genus Brevidensovirus
Genus Dependovirus Genus Densovirus
Genus Amdovirus Genus Pefudensovirus
Genus Bocavirus

B. PROPERTI VIRION
1. MORFOLOGI: Virion berdiameter antara 18 nm dan 25 nm, mengandung single stranded
DNA yang memiliki kapsid ikosahedral simetri kubikal dengan 32 kapsomer dan tidak
memiliki selubung. Di dalam famili Parvoviridae terdapat dua subgrup, yaitu subgrup A
dan sub grup B. Infeksi pada manusia yang disebabkan Parvovirus B-19 menimbulkan
erythema infectiosum yang menghambat produksi eritrosit di dalam sumsum tulang
(Soedarto, 2010).

2. FISIKOKIMIA: Partikel infeksius terdiri dari 75% protein dan 25% DNA. Densitas
virion berkisar 1.39–1.43 g cm-3 pada CsCl dan berat protein S20,w berkisar antara 110-
122S. Virus dapat di-inaktifasi menggunakan formalin, β-propriolactone, hydroxylamine,
ultraviolet light dan agen oxidasi seperti sodium hipoklorit.

3. ASAM NUKLEAT: Papovaviruses, yang terdiri dari polyoma- dan papillomaviruses,


memiliki genom DNA melingkar, berukuran sekitar 5,1 dan 7,8 kb pasang. DsDNA
berfungsi sebagai template baik untuk mRNA dan untuk transkripsi. Tiga atau dua protein
struktural membentuk kapsid papovavirus: di samping itu, 5-6 protein nonstruktural
dikodekan yang fungsional dalam transkripsi virus, replikasi DNA dan transformasi sel.
Rantai tunggal DNA linear, berukuran 4-6 kb, ditemukan pada anggota famili Parvovirus
yang terdiri dari parvo-, eritromisin dan dependoviruses. Virion mengandung 2-4 spesies
protein struktural yang berbeda berasal dari produk gen yang sama. DNA melingkar
rantai tunggal hanya berukuran 1,7-2,3 kb, kapsid isometrik berukuran 17 nm.

4. PROTEIN: Kebanyakan memiliki 2-4 protein virion, dan 5 khusus pada


Brevidensoviruses dan Pefudensoviruses (VP1-VP5). Ukuran protein tergantung jenis
spesies, yaitu VP1 75–96 kDa, VP2 65–85 kDa, VP3 55–75 kDa and VP4 45–52 kDa.
Protein virus menggambarkan bentuk N-extended dari produk gen yang sama, kecuali
untuk Pefudensoviruses yang dibentuk dari dua perpanjangan terminal N yang berbeda.

5. LEMAK: Virion hampir tidak memiliki kandungan lemak

6. KARBOHIDRAT: Protein virus tidak ada yang mengalami glikosilasi.

C. REPLIKASI GENOM
Replikasi terjadi di nukleus, dan bergantung pada fungsi seluler host. Mekanisme replikasi
genom dimulai dari struktur hairpin pada ujung 3' yang digunakan sebagai primer diri untuk
memulai sintesis DNA menghasilkan DNA beruntai ganda. Struktur hairpin tersebut digunakan
lagi sebagai primer untuk mentranskripsi lebih banyak untaian dari ds DNA.

D. Subfamily Parvovirinae
Parvovirinae biasanya menginfeksi vertebrata, sedangkan Densovirinae menginfeksi
invertebrta.
1. Genus Parvovirus
Spesies penting: Canine parvovirus strain CPV-N
Merupakan virus penyebab enteritis dan menyebabkan kematian pada
anak anjing yang baru saja dilahirkan (Tattersal et al., 2005). Replikasi virus
hanya terjadi pada sel yang membelah dengan cepat seperti pada sel epitel
intestinal, sel sumsum tulang, dan sel miokardium. Replikasi virus
menyebabkan kematian host karena kegagalan mitosis (Lamm dan Rezabek,
2008). Tingkat kematian anak anjing mencapai 70% dan kurang dari 1%
pada anjing dewasa.

Canine Parvovirus merupakan virus DNA (deoksiribo nucleic acid) rantai


tunggal dengan diameter virus CPV berkisar 20 nm virionnya berbentuk
partikel ikosahedral serta tidak beramplop dan perkembangbiakan virus ini
sangat tergantung pada sel inang yang sedang aktif membelah. Dalam
gradien CsCl CPV mempunyai kepadatan gradien 1,43 g/ml. CPV terdiri
dari 3 protein virus yaitu VP1 VP2 dan VP3 dengan berat molekul 82.500
sampai 63.500 (Sendow 2003).

Canine Parvovirus (Parvo / CPV2)


Canine Parvovirus sangat stabil pada pH 3 sampai 9, suhu 56 sampai
60°C selama 1 jam pada pelarut lemak dan pada konsentrasi garam yang
tinggi. Parvovirus akan mati melalui kontak dengan sodium hipokhlorida
dan gluteraldehyda. Canine Parvovirus dapat diinaktifkan dengan formalin
O-propiolaktan hydro!ylamine dan radiasi ultra violet. Canine Parvovirus
dapat bereplikasi pada sel epitel usus (kri pta ileum' sumsum tulang dan
fetus (Natih 2005).

Epidemiologi

Ditemukan pertama kali tahun 1977 di Texas Amerika Serikat kemudian


menyebar ke berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

Gejala

Menurut Sendow (2003), Canine Parvovirus menyebabkan dua sindrom


khusus pada anjing yaitu myocarditis akut (Canine Parvovirus
Myocarditis/CPVM) dan enteritis hemorraghika (Canine Parvovirus
Enteritis/CPVE. Pada sindrom CPVM virus parvo dapat mencapai jantung
dikarenakan virus menyerang limfosit dan ikut dalam peradaran darah
sehingga mencapai jantung. gejala klinis yang tampak adalah anjing akan
mati mendadak sebelum itu anjing juga dapat mengalami dyspnoe kolaps
dan berteriak. Kejadian ini hanya menyerang anjing muda berusia 2-3
minggu, dikarenakan pada umur tersebut sel myocardium sedang aktif
membelah. Pada sindrom CPVE, virus parvo akan menunjukkan tanda-tanda
klinis yang tidak spesifik dan secara luas terdiri dari vomitus (muntah)
kemudian diikuti dengan diare yang profus atau haemorrhagia dalam waktu
24 - 48 jam kemudian (Swango, 1983).
Tanda lain adalah depresi, anorexia dan dehidrasi. Dalam keadaan parah
muntahan berupa cairan berbuih mengandung sejumlah besar isi gastrium.
Demam sering pada anak anjing dengan temperatur 40°C - 42°C. feses
berbentuk cair pasta kelabu terang atau kuning kelabu dengan bau busuk
yang khas akhirnya berdarah atau mucus. Pada mulanya diare hewan
berwarna kekuningan dan disertai dengan lendir. Seiring dengan berjalannya
penyakit diare menjadi ber-arna abu)abu dengan bau yang khas hingga
berdarah dan berwarna kehitaman.
Pencegahan

Pencegahan dapat dilakukan dengan vaksinasi dan memisahkan hewan


yang terinfeksi dan tidak terinfeksi. Terapi yang dapat digunakan dalam
kasus canine parvovirus dapat dilakukan pengobatan simptomatis sesuai
gejala yang muncul dan dilakukan terapi cairan.

2. Genus Erythrovirus
Spesies penting: Human parvovirus B19
Krisis Aplastik Transien
Parvovirus B19 adalah penyebab krisis aplastik transien yang dapat
memperburuk anemia hemolitik kronis, misalnya pada pasien dengan
penyakit sel sabit, talasemia, dan anemia hemolotik didapat pada orang
dewasa. Krisis aplastik transien dapat juga terjadi setelah transplantasi
sumsum tulang. Sindrom tersebut merupakan penghentian tibatiba sintesa
sel darah merah pada sumsum tulang dan ditunjukkan dengan tidak adanya
prekursor erritroid pada sumsum tulangkemudian diikuti oleh pemburukan
anemia yang cepat. Infeksi ini menurunkan produksi eritrosit sehingga
penurunan kadar hemoglobin darah tepi. Terhentinya produksi sel darah
merah yang sementara menjadi jelas tampak hanya pada pasien dengan
anemi hemolitik kronis karena umur eritrositnya yang pendek.
Epidemiologi
Virus B19 ini tersebar luas dan infeksinya dapat terjadi sepanjang tahun
pada semua kelompok usia.Infeksi paling sering terlihat sebagai wabah di
sekolah yang nampaknya ditularkan melalui saluran nafas. Parvovirus yang
menginfeksi banyak terjadi pada masa anak-anak karena antibodi masih
berkembang antara usia 5 sampai 19 tahun.
\
Human parvovirus B19

Virus ini memiliki karakteristik non-enveloped, icosahedral virus yang


mengandung single-stranded linear DNA genome. Proporsi kurang lebih
sama dari DNA positif dan negatif yang ditemukan dalam partikel yang
terpisah. Pada setiap akhir molekul DNA ada sekuens palindromic yang
membentuk loop hairpin. Pada loop hairpin di ujung 3‘ berfungsi sebagai
prim er DNA polimerase. Disebut sebagai erythrovirus karena kemampuan
untuk menyerang prekursor sel darah merah di sumsum tulang.
Gejala: demam (15-30% dari pasien), malaise (lesu), sakit kepala, mialgia
(nyeri otot) , mual, dan pilek. manifestasi ini biasanya mulai 5-7 hari setelah
infeksi awal. Manifestasi “slapped cheeks” atau gambaran kemerahan
seperti pipi yang bekas ditampar adalah penampilan khas Infeksi parvovirus
B19
Diagnosis Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium merupakan sarana yang paling sensitif untuk
mendeteksi DNA virus. Pemeriksaan yang dapat dilakukan dan merupakan
pemeriksaan paling sensitif adalah PCR (Polymerase chainreaction). DNA
B19 telah terdeteksi pada serum, sel-sel darah, sampel jaringan, dan sekret
pernapasan. Selama infeksi akut, muatan virus di darah dapat mencapai
sekitar 10 pangkat 11 salinan genom/ml. Pemeriksaan deteksi antigen dapat
mengidentifikasi virus B19 dengan titer tinggi pada sampel klinis.
Immunohistokimiawi telah digunakan untuk mendeteksi antigen B19 di
jaringan janin dan sumsum tulang. B19 manusia sulit ditumbuhkan dan
isolasi virus tidak digunakan untuk mendeteksi infeksi.
Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan penerapan hiegiene yang baik,
seperti mencuci tangan dan tidak berbagi minum. Karena ini dapat
membantu mencegah penyebaran B 19 melalui sekret saluran pernapasan,
aerosol dan materi pembawa infeksi. Tindakan pengendalian infeksi standar
harus diikuti untuk mencegah penularan B19 pada pekerja kesehatan dan
pasien penderita krisis aplastik dan dari pasien imunodefisiensi penderita
infeksi B19. Sampai saat ini masih belum ada vaksin untuk Parvovirus pada
manusia (Jawet,2014)

E. Subfamily Densovirinae
Ditemukan menyerang serangga dari jenis Diptera, Orthoptera, Blattodea, Odonata, dan
Lepidoptera (Kawase, 1985). Pertama kali diisolasi dari belatung spesies Galleria mellonella.
Densovirus (DNV) memiliki ciri:
 merupakan virus yang tidak memiliki envelop
 memiliki asam nukleat ssDNA,
 dikarakterisasi melaluli efek yang timbulkan pada inti sel inangnya.

3. Genus : Iteravirus
Spesies penting : Bombyx mori densovirus (BmDNV)
Bombyx mori densovirus 1 (BmDNV-1), patogen utama dari ulat
sutera, menyebabkan kerugian yang signifikan pada industri sutra.
Morfologi
Partikel-partikel terdiri dari 60 salinan protein mantel 55-kDa VP3.
Protein capsid memiliki β-barrel “jelly roll” lipatan yang mirip dengan
yang ditemukan di banyak virus icosahedral yang beragam, termasuk
archaeal, bakteri, tanaman, dan virus hewan, serta parvovirus lainnya.
Struktur kapsid BmDNV-1
4. Genus : Brevidensovirus
Spesies penting :

F. PUSTAKA
5. Jawet, Melnick, and Adelberg. 2014. Mikrobiologi Kedokteran Edisi 25. Jakarta :
Buku Kedokteran EGC
6. Lamm CG and Rezabek GB (2008). Parvovirus infection in domestic companion
animals. Veterinary Clinics of North America: Small Animal Practice 38: 837-50.
7. Tattersall P, Bergoin M, Bloom M, Brown K, Linden R, Muzyczka N, Parrish C
and Tijssen P (2005). Family Parvoviridae. Virus Taxonomy: Eighth Report of
The International Committee on Taxonomy of Viruses; 353-369.