Anda di halaman 1dari 44

KARYA TULIS ILMIAH

EKSTRAKSI DENGAN METODE SOKLETASI

DOSEN PENGAMPU : Husnani, M.Sc,Apt

Disusun oleh : Kelompok 6


Nama Anggota :
1. Sumiati NIM : 149110
2. Syahbrani NIM : 149112

3. Tari Utami NIM : 149114

4. Tri Suci Hardiyanti NIM : 149116

5. Upik Rahmiyanti Sari NIM : 149120

6. Winda NIM : 149122

7. Yeni Dwi Nursanty NIM : 149124

8. Yohanes Abang NIM : 149126

9. Yuliani NIM : 149128

10. Yulia Widiastuti NIM : 149130

AKADEMI FARMASI YARSI PONTIANAK

TAHUN AKADEMI 2015/2016


KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga dilimpahkan atas Nabi

Besar Muhammad SAW beserta keluarganya, sahabat dan sekalian umatnya yang

bertakwa. Atas berkat rahmat serta inayah Allah jugalah penulis telah dapat

menyelesaikan laporan akhir yang berjudul “Ekstraksi Dengan Metode

Sokletasi”. Adapun penyusunan laporan akhir ini adalah untuk memenuhi salah

satu tugas mata kuliah Fitokimia program D3 Farmasi, Akademi Farmasi Yarsi,

Pontianak.

Laporan akhir ini dapat hadir seperti sekarang ini tak lepas dari bantuan

banyak pihak. Dan juga kami berterima kasih pada Ade Ibu Husnani, M.Sc, Apt

selaku Dosen pengampu mata kuliah Fitokimia yang telah memberikan tugas ini

kepada kami.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan akhir ini tidak

menutup kemungkinan apabila masih terdapat kesalahan dan kekurangan. Dengan

lapang dada penulis menerima saran dan kritiknya demi untuk menambah

wawasan. Semoga makalah ini mendatangkan manfaat bagi penulis khususnya

dan bagi rekan-rekan semua pada umumnya. Amin

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................ i

BAB I .................................................................................................................................. 1

PENDAHULUAN ............................................................................................................. 1

1.1 LATAR BELAKANG ....................................................................................... 1

1.2 Tujuan ................................................................................................................ 5

BAB II ................................................................................................................................ 7

TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................................... 7

2.1 Sokletasi ............................................................................................................. 7

2.2 Keunggulan sokletasi ...................................................................................... 12

2.3 Kelemahan sokletasi ....................................................................................... 13

2.4 Uraian Tanaman ............................................................................................. 13

2.5 Uraian Bahan .................................................................................................. 15

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ..................................................................... 19

3.1 Alat.................................................................................................................... 19

3.2 Bahan ................................................................................................................ 19

3.3 Cara kerja .......................................................................................................... 20

BAB IV ............................................................................................................................. 23

PEMBAHASAN .............................................................................................................. 23

3.1 Definisi Soxhlet ................................................................................................ 23

3.2 Sejarah Soxhlet ................................................................................................. 25

ii
3.3 Prinsip Dasar Soklet ....................................................................................... 25

3.4 Mekanisme Kerja Soxhlet .............................................................................. 27

3.5 Komponen Alat Soxhlet .................................................................................. 28

3.6 Syarat Pelarut Dalam Sokletasi ..................................................................... 29

3.7 Cara Penyimpanan Dan Perawatannya ........................................................ 31

3.8 Kelebihan Dan Kekurangan .......................................................................... 32

3.9 Aplikasi Dari Soxhlet ...................................................................................... 33

3.10 Pengolahan Minyak Atsiri dengan Metode Ekstraksi Pelarut Mudah

Menguap ...................................................................................................................... 33

BAB V .............................................................................................................................. 38

PENUTUP........................................................................................................................ 38

5.1 Kesimpulan ...................................................................................................... 38

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 39

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan dari bahan padat maupun

cair dari campurannya dengan bantuan pelarut. Pelarut yang digunakan

harus dapat mengekstrak substansi yang diinginkan tanpa melarutkan

material lainnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju ekstraksi adalah:

tipe persiapan sampel, waktu ekstraksi, kuantitas pelarut, suhu pelarut dan

tipe pelarut. Secara umum, tujuan ekstraksi adalah :

1. Senyawa kimia sesuai dengan kebutuhan

2. Bahan diperiksa untuk menemukan kelompok senyawa kimia tertentu,

misalnya alkaloid, flavanoid atau saponin

3. Organisme yang digunakan dalam pengobatan tradisional, dan

biasanya dibuat dengan cara dididihkan dalam air

4. Sifat senyawa yang akan diisolasi dalam menguji organisme untuk

mengetahui adanya senyawa dengan aktivitas biologi khusus

(Rachman, 2009).

Proses pengekstraksian komponen kimia dalam sel tanaman yaitu

pelarut organik akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel

yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dalam pelarut organik di luar

sel, maka larutan terpekat akan berdifusi keluar sel dan proses ini akan

berulang terus sampai terjadi keseimbangan antara konsentrasi cairan zat

aktif di dalam dan di luar sel. Prinsip maserasi adalah penyarian zat aktif

yang dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan

1
2

penyari yang sesuai selama tiga hari pada temperatur kamar terlindung dari

cahaya, cairan penyari akan masuk ke dalam sel melewati dinding sel. Isi sel

akan larut karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan di dalam sel

dengan di luar sel. Larutan yang konsentrasinya tinggi akan terdesak keluar

dan diganti oleh cairan penyari dengan konsentrasi rendah (proses difusi).

Peristiwa tersebut berulang sampai terjadi keseimbangan konsentrasi antara

larutan di luar sel dan di dalam sel. Selama proses maserasi dilakukan

pengadukan dan penggantian cairan penyari setiap hari. Endapan yang

diperoleh dipisahkan dan filtratnya dipekatkan (Rachman, 2009).

Hampir 70% dari semua lemak dan minyak yang dihasilkan dunia

adalah minyak nabati. Minyak diperoleh dari biji tanaman seperti kacang

tanah, kedelai, bunga matahari, zaitun dan sebagainya. Minyak diekstraksi

dari dalam biji atau inti dengan menggilingnya dan dengan menggunakan

pelarut dan kemudian memisahkan pelarutnya dengan evaporasi.

Ekstraksi merupakan teknik pemisahan yang sangat sering dilakukan

di laboratorium kimia organic. Jarang sekali pekerjaan laboratorium organic

yang tidak melibatkan ekstraksi. Ekstraksi dapat didefinisikan sebagai

metode pemisahan komponen dari suatu campuran dengan menggunakan

suatu pelarut.

Ragam ekstraksi yang tepat sudah tentu bergantung pada tekstut dan

kandungan air bahan tumbuhan yang diekstraksi dan pada jenis senyawa

yang diisolasi umumnya kita perlu membunuh jaringan tumbuhan untuk

mencegah terjadi oksidasi enzim / hidrolisis ( harborne, 1987 ).


3

Teknik ekstraksi pelarut merupakan suatu teknik pemisahan yang

lazim, penting dan sangat berguna serta banyak digunakan dalam cabang

kimia analisis. Dasar berfikir ini adalah pemisahan dari campuran solute

lewat proses partisi antar dua pelarut kedalam campuran tidak merusak

residu yang terbentuk sehingga memisahkan ekstrak lebih mudah.

Disamping itu air juga memiliki viskositas rendah sehingga sirkulasi zat

dapat terjadi dengan bebas ( Aderson,1991 ).

Ekstraksi adalah pemisahan suatu zat atau beberapa dari suatu padatan

atau cairan dengan bantuan pelarut, pemisahan terjadi atas dasar

kemampuan larutan yang berbeda-beda dari komponen campuran

tersebut ( Geancoplis, 1998 ).

Secara umum ekstraksi senyawa metabolit sekunder dari seluruh

bagian tumbuhan seperti bunga, buah, daun, kulit batang dan akar

menggunakan system maserasi menggunakan pelarut organik polar seperti

methanol dan n – heksan. Beberapa metode ekstarksi senyawa organic

bahan alam yang umum digunkan antaa lain (Darwis.D,2000).

a. Maserasi

Maserasi merupakan proses perendaman sampel dengan pelarut

organik yang digunakan pada temperatur ruangan. Proses ini sangat

menguntungkan dalam isolasi senyawa bahan alam karena dengan

perendaman sampel tumbuhan akan terjadi pemecahan dinding dan

membran sel akibat perbedaan tekanan antara didalam dan diluar sel

sehingga senyawa metabolit sekunder yang ada dalam sitoplasma akan

terlarut dalam pelarut organik dan ekstraksi senyawa akan sempurna karena
4

dapat diatur lama perendaman yang dilakukan. Pemilihan pelarut untuk

proses maserasi akan memberikan efektifitas yang tinggi dengan

memperhatikan kelarutan senyawa bahan alam pelarut tersebut. Secara

umum pelarut methanol merupakan pelarut yang paling banyak digunakan

dalam proses isolasi senyawa organik bahan alam, karena dapat melarutkan

seluruh golongan metabolit sekunder.

b. Perkolasi

Perkolasi merupakan proses melewatkan pelarut organik pada sampel

sehingga pelarut akan membawa senyawa organik bersama- sama

pelarutnya. Tetapi efektifitasnya dari proses ini hanya akan lebih besar

untuk senyawa organik yang sangat mudah larut dalam pelarut yang

digunakan.

c. Sokletasi

Menggunakan soklet dengan pemanasan dan pelarut akan dapat

dihemat karena terjadinya sirkulasi pelarut yang selalu membasahi sampel.

Proses ini sangat baik untuk senyawa yang tidak terpengaruh oleh panas.

d. Destilasi Uap

Proses destilasi lebih banyak digunakan untuk senyawa organik yang

tahan pada suhu yang cukup tinggi, yang lebih tinggi dari titik didih pelarut

yang digunakan. Pada umumnya lebih banyak digunakan untuk minyak

atsiri.

e. Pengempaan

Metode ini lebih banyak digunakan dalam proses industri seperti pada

isolasi CPO dari buah kelapa sawit dan isolasi dari daun gambir. Dimana
5

pada proses inni tidak menggunakan pelarut. Penggunaan ekstraksi soxhlet

mempunyai keuntungan, salah satunya adalah proses ekstraksi dapat

berlangsung berulang-ulang secara otomatis sampai ekstraksi sempurna.

Namun kekurangan dari sistem ini adalah suhu campuran pada tabung

ekstraksi tidak sama dengan titik didih pelarutnya, sehingga proses ekstraksi

membutuhkan waktu lama.

Sokhetasi merupakan proses pemisahan ( ekstrakti padatan ) suatu

bahan alam dengan pelarut organic yang menggunakan alat sokhlet. Pada

umumnya metode sokhlet digunakan untuk memisahkan lemak dan minyak

nabati.

1.2 Tujuan

Adapun tujuan dilakukannya percobaan ini adalah untuk :

1. Mengetahui prinsip dasar ekstraksi dengan metode sokletasi

2. Komponen-komponen peralatan soxhlet

3. Mengetahui hasil ekstraksi jeruk purut dengan metode sokletasi


6
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sokletasi

Sokletasi merupakan suatu cara pengekstraksian tumbuhan dengan memakai

alat soklet. Pada cara ini pelarut dan simplisia ditempatkan secara terpisah.

Sokletasi digunakan untuk simplisia dengan khasiat yang relatif stabil dan tahan

terhadap pemanasan. Prinsip sokletasi adalah penyarian secara terus menerus

sehingga penyarian lebih sempurna dengan memakai pelarut yang relatif sedikit.

Jika penyarian telah selesai maka pelarutnya diuapkan dan sisanya adalah zat yang

tersari. Biasanya pelarut yang digunakan adalah pelarut yang mudah menguap

atau mempunyai titik didih yang rendah.

Sokletasi digunakan pada pelarut organik tertentu. Dengan cara pemanasan,

sehingga uap yang timbul setelah dingin secara kontiniu akan membasahi sampel,

secara teratur pelarut tersebut dimasukkan kembali kedalam labu dengan

membawa senyawa kimia yang akan diisolasi tersebut. Pelarut yang telah

membawa senyawa kimia pada labu distilasi yang diuapkan sehingga pelarut

tersebut dapat diangkat lagi bila suatu campuran organik berbentuk cair atau padat

ditemui pada suatu zat padat, maka dapat diekstrak dengan menggunakan pelarut

yang diinginkan.

Prinsip dari proses ini adalah ekstraksi dengan melarutkan minyak dalam

pelarut minyak dan lemak. Pada cara ini dihasilkan bungkil dengan kadar minyak

yang rendah yaitu sekitar 1 persen atau lebih rendah,dan mutu minyak kasar yang

dihasilkan cenderung menyerupai hasil dari expeller pressing, karena sebagian

7
8

fraksi bukan minyak akan ikut terekstraksi.Pelarut minyak atau lemak yang biasa

digunakan dalam proses ekstraksi dengan pelarut menguap adalah petroleum

eter,gasoline carbon disulfide,karbon tetra klorida,benzene dan n-heksan. Perlu

perhatikan bahwa jumlah pelarut menguap atau hilang tidak boleh lebih dari 5

persen. Bila lebih, maka seluruh sistem solvent extraction perlu diteliti lagi.

Salah satu contoh solvent extraction ini adalah metode sokletasi. Ekstraksi

yang dilakukan menggunakan metoda sokletasi, yakni sejennis ekstraksi dengan

pelarut organik yang dilakukan secara berulang ulang dan menjaga jumlah pelarut

relatif konstan dengan menggunakan alat soklet. Minyak nabati merupakan suatu

senyawa trigliserida dengan rantai karbon jenuh maupun tidak jenuh. Minyak

nabati umumnya larut dalam pelarut organik, seperti heksan dan benzen. Untuk

mendapatkan minyak nabati dari bahagian tumbuhannya, dapat dilakukan dengan

metoda sokletasi menggunakan pelarut yang sesuai.

Adapun prinsip sokletasi ini adalah penyaringan yang berulang ulang

sehingga hasil yang didapat sempurna dan pelarut yang digunakan relatif sedikit.

Bila penyaringan ini telah selesai, maka pelarutnya diuapkan kembali dan sisanya

adalah zat yang tersari. Metode sokletasi menggunakan suatu pelarut yang mudah

menguap dan dapat melarutkan senyawa organik yang terdapat pada bahan

tersebut, tapi tidak melarutkan zat padat yang tidak diinginkan.

Metoda sokletasi seakan merupakan penggabungan antara metoda maserasi

dan perkolasi. Jika pada metoda pemisahan minyak astiri ( distilasi uap ), tidak

dapat digunakan dengan baik karena persentase senyawa yang akan digunakan

atau yang akan diisolasi cukup kecil atau tidak didapatkan pelarut yang diinginkan
9

untuk maserasi ataupun perkolasi ini, maka cara yang terbaik yang didapatkan

untuk pemisahan ini adalah sokletasi.

Sokletasi digunakan pada pelarut organik tertentu. Dengan cara

pemanasan,sehingga uap yang timbul setelah dingin secara kontunyu akan

membasahi sampel,secara teratur pelarut tersebut dimasukkan kembali kedalam

labu dengan membawa senyawa kimia yang akan diisolasi tersebut. Pelarut yang

telah membawa senyawa kimia pada labu distilasi yang diuapkan dengan rotary

evaporator sehingga pelarut tersebut dapat diangkat lagi bila suatu campuran

organik berbentuk cair atau padat ditemui pada suatu zat padat, maka dapat

diekstrak dengan menggunakan pelarut yang diinginkan.

Beberapa jenis pelarut organik akan disebutkan secara ringkas pada tabel

dibawah ini

Tabel 2.4 Pelarut Organik

Titik Konstanta Massa


Nama Pelarut Rumus Kimia
Didih Dielektrik Jenis

CH3-CH2-CH2-CH2-CH2- 0.655
Heksana 69 °C 2.0
CH3 g/ml

0.879
Benzena C6H6 80 °C 2.3
g/ml

0.867
Toluena C6H5-CH3 111 °C 2.4
g/ml
10

0.713
Dietil eter CH3CH2-O-CH2-CH3 35 °C 4.3
g/ml

1.498
Kloroform CHCl3 61 °C 4.8
g/ml

0.894
Etil asetat CH3-C(=O)-O-CH2-CH3 77 °C 6.0
g/ml

1.033
1,4-Dioksana /-CH2-CH2-O-CH2-CH2-O-\ 101 °C 2.3
g/ml

Tetrahidrofuran 0.886
/-CH2-CH2-O-CH2-CH2-\ 66 °C 7.5
(THF) g/ml

Diklorometana 1.326
CH2Cl2 40 °C 9.1
(DCM) g/ml

0.786
Asetona CH3-C(=O)-CH3 56 °C 21
g/ml

Asetonitril 0.786
CH3-C≡N 82 °C 37
(MeCN) g/ml

Dimetilformamida 0.944
H-C(=O)N(CH3)2 153 °C 38
(DMF) g/ml

Dimetil sulfoksida 1.092


CH3-S(=O)-CH3 189 °C 47
(DMSO) g/ml
11

1.049
Asam asetat CH3-C(=O)OH 118 °C 6.2
g/ml

0.810
n-Butanol CH3-CH2-CH2-CH2-OH 118 °C 18
g/ml

0.785
Isopropanol (IPA) CH3-CH(-OH)-CH3 82 °C 18
g/ml

0.803
n-Propanol CH3-CH2-CH2-OH 97 °C 20
g/ml

0.789
Etanol CH3-CH2-OH 79 °C 30
g/ml

0.791
Metanol CH3-OH 65 °C 33
g/ml

Asam format H-C(=O)OH 100 °C 58 1.21 g/ml

1.000
Air H-O-H 100 °C 80
g/ml

(Sumber: Saiful, 2011)

Dari data data pelarut yang tersedia diatas, n-heksana merupakan pelarut

yang efektif karena selain titik didihnya relatif rendah, pelarut ini cenderung tidak

menimbulkan bahaya dan harganya juga relatif murah.


12

Ekstraksi dilakukan dengan menggunakan secara berurutan pelarut – pelarut

organik dengan kepolaran yang semakin menigkat. Dimulai dengan pelarut

heksana, eter, petroleum eter, atau kloroform untuk memisahkan senyawa –

senyawa trepenoid dan lipid – lipid, kemudian dilanjutkan dengan alkohol dan etil

asetat untuk memisahkan senyawa – senyawa yang lebih polar. Walaupun

demikian, cara ini seringkali tidak menghasilkan pemisahan yang sempurna dari

senyawa – senyawa yang diekstraksi.

Cara menghentikan sokletasi adalah dengan menghentikan pemanasan yang

sedang berlangsung. Sebagai catatan, sampel yang digunakan dalam sokletasi

harus dihindarkan dari sinar matahari langsung. Jika sampai terkena sinar

matahari, senyawa dalam sampel akan berfotosintesis hingga terjadi penguraian

atau dekomposisi. Hal ini akan menimbulkan senyawa baru yang disebut senyawa

artefak, hingga dikatakan sampel tidak alami lagi. Alat sokletasi tidak boleh lebih

rendah dari pipa kapiler, karena ada kemungkinan saluran pipa dasar akan

tersumbat. Juga tidak boleh terlalu tinggi dari pipa kapiler karena sampel tidak

terendam seluruhnya. Dibanding dengan cara terdahulu ( destilasi ), maka metoda

sokletasi ini lebih efisien, karena:

1. Pelarut organik dapat menarik senyawa organik dalam bahan alam

secara berulang kali.

2. Waktu yang digunakan lebih efisien.

3. Pelarut lebih sedikit dibandingkan dengan metoda maserasi atau

perkolasi.

4. Pelarut tidak mengalami perubahan yang spesifik

2.2 Keunggulan sokletasi


13

1. Sampel diekstraksi dengan sempurna karena dilakukan berulang

ulang.

2. Jumlah pelarut yang digunakan sedikit.

3. Proses sokletasi berlangsung cepat.

4. Jumlah sampel yang diperlukan sedikit.

5. Pelarut organik dapat mengambil senyawa organik dalam bahan

berulang kali.

2.3 Kelemahan sokletasi

1. Tidak baik dipakai untuk mengekstraksi bahan bahan tumbuhan yang

mudah rusak atau senyawa senyawa yang tidak tahan panas karena

akan terjadi penguraian.

2. Harus dilakukan identifikasi setelah penyarian, dengan menggunakan

pereaksi meyer, Na, wagner, dan reagen reagen lainnya.

3. Pelarut yang digunakan mempunyai titik didih rendah, sehingga

mudah menguap .

2.4 Uraian Tanaman

Jeruk (atau limau/limo) purut (Citrus hystrix D.C.) merupakan

tumbuhan perdu yang dimanfaatkan terutama buah dan daunnya sebagai

bumbu penyedap masakan. Dalam perdagangan internasional dikenal

sebagai kaffir lime.


14

Gambar 1. TanamanJeruk Purut

Minyak Atsiri dalam Daun Jeruk Purut

Pada mulanya istilah “minyak atsiri” adalah istilah yang digunakan untuk

minyak yang bersifat mudah menguap, yang terdiri dari campuran zat yang mudah

menguap, dengan komposisi dan titik didih yang berbeda-beda. Minyak atsiri yang

mudah menguap terdapat di dalam kelenjar minyak yang harus dibebaskan

sebelum disuling yaitu dengan merajang/memotong jaringan

tanaman dan membuka kelenjar minyak sebanyak mungkin, sehingga minyak

dapat dengan mudah diuapkan (Suryaningrum,2009).

Minyak atsiri banyak digunakan dalam industri sebagai pemberi

aroma dan rasa. Nilai jual dari minyak atsiri sangat ditentukan oleh

kualitas minyak dan kadar komponen utamanya. Minyak atsiri yang berasal dari

daun jeruk purut disebut combava petitgrain (dalam bahasa afrika) yang banyak

digunakan dalam industri makanan, minuman, farmasi, flavor, parfum, pewarna

dan lain-lain. Misalnya dalam industri pangan banyak digunakan sebagai

pemberi cita rasa dalam produk-produk olahan. Minyak daun jeruk purut dalam

perdagangan internasional disebut kaffir lime oil. Minyak atisiri ini banyak
15

diproduksi di Indonesia dengan output beberapa ton per tahun. Harga

kaffir lime oil asal Indonesia yaitu sebesar USD 65,00-75,00 per kilogram

(Feryanto,2007).

Tabel 1. Komponen Minyak Daun Jeruk Purut

Komponen Prosentase
Sitronelal 81,49%
Sitronelol 8,22%
Linalol 3,69%
Geraniol 0,31%
Komponen lain 6,29%
(Sumber: Koswara, 2009)

Sitronellal (C10H18O)

Sitronellal merupakan senyawa mono- terpena yang mempunyai gugus

aldehida, ikatan rangkap dan rantai karbon yang memungkinkan untuk mengalami

reaksi siklisasi aromatisasi. Struktur kimia sitronellal adalah sebagai berikut

(Ketaren,1985):

Gambar 2. Struktur Kimia Sitronellal

2.5 Uraian Bahan

1. N-heksana

Heksana adalah sebuah senyawa hidrokarbon alkana dengan rumus

kimia C6H14 . Awalan heks- merujuk pada enam karbon atom yang

terdapat pada heksana dan akhiran -ana berasal dari alkana, yang merujuk
16

pada ikatan tunggal yang menghubungkan atom-atom karbon tersebut.

Dalam keadaan standar senyawa ini merupakan cairan tak berwarna yang

tidak larut dalam air.

Sifat Fisika dan Kimia n-heksana

Karakteristik Syarat

Bobot molekul 86,2 g/mol

Warna Tak berwarna

Wujud Cair

Titik lebur -95oC

Titik didih 69oC (pada 1 atm)

densitas 0,6603 g/mol pada 20oC

(Sumber: Kastianti dan Amalia, 2008)

N-heksana (FI IV : 1158)

Nama resmi : n-heksana

Nama lain : n-heksana

BM / RM : 86,18 gr/mol / C6H14

Rumus struktur : CH3 – CH2 – CH2 – CH2 – CH2 – CH3

Pemerian :cairan jernih, mudah menguap, bau seperti eter lemah atau

seperti petroleum.

Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, larut dalam etanol mutlak,

dapat dicampur dengan eter, dengan kloroform, benzena.

Penyimpanan : dalam wadahtertutup rapat

Kegunaan : sebagai pelarut.


17

2. Etanol (Alkohol)

Ethyl alkohol atau etanol adalah salah satu turunan dari senyawa

hidroksil atau gugus OH, dengan rumus kimia C2H5OH. Istilah umum yang

sering dipakai untuk senyawa tersebut, adalah alkohol. Etanol mempunyai

sifat tidak berwarna, mudah menguap, mudah larut dalam air, berat molekul

46,1, titik didihnya 78,3°c, membeku pada suhu –117,3 °C, kerapatannya

0,789 pada suhu 20 °C, nilai kalor 7077 kal/gram, panas latent penguapan

204 kal/gram dan angka oktan 91–105 (Hambali.,et al., 2008).

Sifat fisika dan kimia etanol

karakteristik Syarat

Rumus molekul C2H5OH

Massa molekul relative 46,07 g/mol

Titik leleh -114,3oC

Titik didih 78,32oC

Densitas pada 20oC 0,7893 g/cm3

Kelarutan dalam air 20oC Sangat larut

Viskositas pada 20oC 1,17 cP

Kalor spesifik pada 20oC 0,579 kal/goC

(Sumber : Rizani, 2000)

Nama kimia : Etil alkohol

Rumus kimia : C2H6O

Berat molekul : 46,07


18

Kemurnian : Etanol mengandung tidak kurang dari 92,3 %

b/b dan tidak lebih dari 93,8 % b/b, setara dengan

tidak kurang dari 94,9 % v/v dan tidak lebih dari

96,0 % v/v C2H5OH, pada suhu 15,56°

Pemerian : Cairan mudah menguap, jernih, tidak berwarna.

Bau khas dan menyebabkan rasa terbakar pada

lidah.Mudah menguap walaupun pada suhu

rendah dan mendidih pada suhu 78°.Mudah

terbakar.

Kelarutan : Bercampur dengan air dan praktis bercampur

dengan semua pelarut organik

Wadah dan penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, jauh dari api.
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Alat

Peralatan yang digunakan adalah Kondesor Spiral, Elektromantel,

Labu alas bulat, Klem dan statif, Pipa sifon, Pipa F, Timbal, Lubang

kondensor, Selang air masuk, Selang air keluar, Kertas saring, Ember, dan

Jergen

3.2 Bahan

Bahan yang digunakan adalah Etanol, N-heksan, dan daun jeruk purut.

19
20

3.3 Cara kerja

1. Merangkai alat sokletasi

Soklet

- Dibersihkan, dimasukkan 3 butir bau didih dan

dikeringkan, ditimbang, dicatat berat labu + batu

didih.

- Disambungkan tabung soklet yang berisi sampel

dengan labu soklet, bagian ujung yang

disambungkan diolesi vaselin terlebih dahulu

- Labu pada mantel pemanas didirikan, dan tabung

soklet yang tersambung pada labu di klem kan

pada standar, posisinya harus berdiri tegak lurus

- Pasang pendingin pada mulut tabung soklet,

bagian ujung yang disambungkan diolesi vaselin

terlebih dahulu

- air pendingin dialirkan dari kran, periksa kalau

ada kebocoran, kalau ada, harus diperbaiki

sebelum pekerjaan dilanjutkan.

- mantel pemanas dihidupkan, dan proses sokletasi

dimulai

Hasil
21

2. Ekstraksi daun jeruk purur dengan alat soklet


Sampel

- Daun jeruk purut tua bersih kemudian dijemur di

bawah sinar matahari selama 2 hari kemudian

dipotong kecil-kecil.

- Dibuat dari kertas saring, ukurannya disesuaikan

dengan besarnya tabung soklet

- Ditimbang berat timbel kosong

- Diisi dengan sampel daun jerut purut

- Pelarut n heksan dimasukkan dari mulut tabung

soklet sampai terisi penuh

- Ditimbang timbel(kertas saring)+sampel

- Dihitung berat sampel

- Dimasukkan timbel dan sampel ke dalam tabung

soklet

- Daun jeruk purut dalam soxhlet diekstraksi

dengan 100 mL etanol 96% pada suhu 81-96ºC

(suhu pemanas) sampai warna pelarut kembali

menjadi seperti semula.

- Setelah dilakukan proses ekstraksi, diperoleh

filtrate minyak daun jeruk purut. Filtrat minyak

daun jeruk purut yang diperoleh kemudian

dimurnikan dengan ekstraktor soxhlet pada suhu

81-96ºC sampai pelarutnya tidak menetes lagi dan


22

diperoleh minyak daun jeruk purut murni.

Dilakukan langkah 1-4 untuk pelarut n-heksana

dengan suhu 72-86oC.

Hasil
BAB IV

PEMBAHASAN

3.1 Definisi Soxhlet

Soxhlet merupakan alat yang terdiri dari pengaduk atau granul anti-

bumping, still pot (wadahpenyuling) bypass sidearm, thimble selulosa,

extraction liquid, syphon arm inlet, syphon arm outlet,expansion adapter,

condenser (pendingin), cooling water in, dan cooling water out. Soxhlet

biasadigunakan dalam pengekstrasian emak pada suatu bahan makanan.

Metode soxhlet ini dipilihkarena pelarut yang digunakan lebih sedikit

(efesiensi bahan) dan larutan sari yang dialirkanmelalui sifon tetap tinggal

dalam labu, sehingga pelarut yang digunakan untuk mengekstrak

sampelselalu baru dan meningkatkan laju ekstraksi. Waktu yang digunakan

lebih cepat. Kerugian metodeini ialah pelarut yang digunakan harus mudah

menguap dan hanya digunakan untuk ekstraksisenyawa yang tahan panas (Harper

1979).Soxhlet merupakan Ekstraksi padat-cair digunakan untuk memisahkan

analit yang terdapat padapadatan menggunkan pelarut organic. Padatan yang

akan diekstrak dilembutkan terlebih dahuludengan cara ditumbuk atau juga

diiris-iris. Kemudian padatan yang telah halus dibungkus dengankertas

saring. Padatan yang terbungkkus kertas saring dimasukkan kedalam alat

ekstraksi soxhlet.Pelarut organic dimasukkan kedalam labu alas bulat.

Kemudian alat ektraksi soxhlet dirangkaidengan kondensor . Ekstraksi

dilakukan dengan memanaskan pelarut organic sampai semua

analitterekstrak (Annim A, 2013).

23
24

Sebuah ekstraktor Soxhlet adalah bagian dari peralatan laboratorium.

Ditemukan pada tahun 1879 oleh Franz von Soxhlet. Ini awalnya dirancang

untuk ekstraksi lipid dari bahan padat. Namun, ekstraktor Soxhlet tidak

terbatas pada ekstraksi lipid. Biasanya, ekstraksi Soxhlet hanya diperlukan

apabila senyawa yang diinginkan memiliki kelarutan terbatas dalam pelarut,

dan pengotor tidak larut dalam pelarut. Jika senyawa yang diinginkan

memiliki kelarutan yang signifikan dalam pelarut maka filtrasi sederhana

dapat digunakan untuk memisahkan senyawa dari substansi pelarut.

Biasanya bahan padat yang mengandung beberapa senyawa yang

diinginkan ditempatkan dalam sebuah sarung tangan yang terbuat dari kertas

filter tebal, yang dimuat ke dalam ruang utama dari ekstraktor Soxhlet.

Ekstraktor Soxhlet ditempatkan ke botol berisi ekstraksi pelarut. Soxhlet

tersebut kemudian dilengkapi dengan sebuah kondensor (Anonim B, 2013).

Sokletasi adalah suatu metode / proses pemisahan suatu komponen

yang terdapat dalam zat padat dengan cara penyaringan berulang ulang

dengan menggunakan pelarut tertentu, sehingga semua komponen yang

diinginkan akan terisolasi.


25

3.2 Sejarah Soxhlet


Catatan William B. Jensen bahwa contoh awal extractor kontinu

adalah bukti arkeologi untuk Mesopotamia air panas ekstraktor untuk bahan

organik berasal dari sekitar 3500 SM. Sebelum Soxhlet, kimiawan Perancis

Anselme Payen juga memelopori dengan ekstraksi terus menerus dalam

tahun 1830-an.

Sebuah ekstraktor Soxhlet adalah bagian dari peralatan laboratorium.

Ditemukan pada tahun 1879 oleh Franz von Soxhlet. Ini awalnya dirancang

untuk ekstraksi lipid dari bahan padat. Namun, ekstraktor Soxhlet tidak

terbatas pada ekstraksi lipid. Biasanya, ekstraksi Soxhlet hanya diperlukan

apabila senyawa yang diinginkan memiliki kelarutan terbatas dalam pelarut,

dan pengotor tidak larut dalam pelarut. Jika senyawa yang diinginkan

memiliki kelarutan yang signifikan dalam pelarut maka filtrasi sederhana

dapat digunakan untuk memisahkan senyawa dari substansi pelarut.

Biasanya bahan padat yang mengandung beberapa senyawa yang

diinginkan ditempatkan dalam sebuah sarung tangan yang terbuat dari kertas

filter tebal, yang dimuat ke dalam ruang utama dari ekstraktor Soxhlet.

Ekstraktor Soxhlet ditempatkan ke botol berisi ekstraksi pelarut. Soxhlet

tersebut kemudian dilengkapi dengan sebuah kondensor.

3.3 Prinsip Dasar Soklet

Prinsip soxhlet ialah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru

yang umumnya sehinggaterjadi ekstraksi kontiyu dengan jumlah pelarut

konstan dengan adanya pendingin balik. Penetapankadar lemak dengan

metode soxhlet ini dilakukan dengan cara mengeluarkan lemak dari

bahandengan pelarut anhydrous. Pelarut anhydrous merupakan pelarut yang


26

benar-benar bebas air. Haltersebut bertujuan supaya bahan-bahan yang larut

air tidak terekstrak dan terhitung sebagai lemak serta keaktifan pelarut

tersebut tidak berkurang. Pelarut yang biasa digunakan adalah pelarut

hexana(Darmasih 1997.

Adapun prinsip sokletasi ini yaitu : Penyaringan yang berulang ulang

sehingga hasil yang didapat sempurna dan pelarut yang digunakan relatif

sedikit. Bila penyaringan ini telah selesai, maka pelarutnya diuapkan

kembali dan sisanya adalah zat yang tersari. Metode sokletasi menggunakan

suatu pelarut yang mudah menguap dan dapat melarutkan senyawa organik

yang terdapat pada bahan tersebut, tapi tidak melarutkan zat padat yang

tidak diinginkan

Metoda sokletasi seakan merupakan penggabungan antara metoda

maserasi dan perkolasi. Jika pada metoda pemisahan minyak astiri ( distilasi

uap ), tidak dapat digunakan dengan baik karena persentase senyawa yang

akan digunakan atau yang akan diisolasi cukup kecil atau tidak didapatkan

pelarut yang diinginkan untuk maserasi ataupun perkolasi ini, maka cara

yang terbaik yang didapatkan untuk pemisahan ini adalah sokletasi

Sokletasi digunakan pada pelarut organik tertentu. Dengan cara

pemanasan, sehingga uap yang timbul setelah dingin secara kontunyu akan

membasahi sampel, secara teratur pelarut tersebut dimasukkan kembali

kedalam labu dengan membawa senyawa kimia yang akan diisolasi tersebut.

Pelarut yang telah membawa senyawa kimia pada labu distilasi yang

diuapkan dengan rotary evaporator sehingga pelarut tersebut dapat diangkat

lagi bila suatu campuran organik berbentuk cair atau padat ditemui pada
27

suatu zat padat, maka dapat diekstrak dengan menggunakan pelarut yang

diinginkan.

3.4 Mekanisme Kerja Soxhlet

Sampel yang sudah dihaluskan, ditimbang 5-10 gram dan kemudian

dibungkus atau ditempatkan dalam “Thimble” (selongsong tempat sampel) ,

di atas sample ditutup dengan kapas. Pelarut yang digunakan adalah

Petroleum Spiritus dengan titik didih 60 – 80°C. Selanjutnya labu kosong

diisi butir batu didih. Fungsi batu didih ialah untuk meratakan panas.

Setelah dikeringkan dan didinginkan, labu diisi dengan Petroleum Spirit 60

– 80°C sebanyak 175 ml. Digunakan petroleum spiritus karena kelarutan

lemak pada pelarut organik.

Thimble yang sudah terisi sampel dimasukan ke dalam soxhlet .

Soxhlet disambungkan dengan labu dan ditempatkan pada alat pemanas

listrik serta kondensor . Alat pendingin disambungkan dengan soxhlet. Air

untuk pendingin dijalankan dan alat ekstraksi lemak mulai dipanaskan .

Ketika pelarut dididihkan, uapnya naik melewati soklet menuju ke

pipa pendingin. Air dingin yang dialirkan melewati bagian luar kondenser

mengembunkan uap pelarut sehingga kembali ke fase cair, kemudian

menetes ke thimble. Pelarut melarutkan lemak dalam thimble, larutan sari

ini terkumpul dalam thimble dan bila volumenya telah mencukupi, sari akan

dialirkan lewat sifon menuju labu. Proses dari pengembunan hingga

pengaliran disebut sebagai refluks. Proses ekstraksi lemak kasar dilakukan

selama 6 jam.
28

Setelah proses ekstraksi selesai, pelarut dan lemak dipisahkan melalui

proses penyulingan dan dikeringkan.

3.5 Komponen Alat Soxhlet

Komponen soxhlet

Air Keluar

Kondensor

Air Keluar
Soklet
Thimble

Labu
Didih

Mantel
Pemanas

Gambar 2.2.4. Rangkaian Alat Sokletasi

1. Lubang kondensor berfungsi sebagai jalan masuknya uap kekondensor

dan jalan keluarnya uap yang terkondensasi dari kondensor menuju

timbal.

2. Ember berfungsi sebagai tempat penampung air yang keluar dari

kondensor.

3. Jergen berfungsi sebagai wadah air

4. Elektromantel berfungsi sebagai pemanas untuk memanaskan pelarut .


29

5. Pipa F berfungsi sebagai tempat jalannya uap dari labu alas bulat

kekondensor.

6. Selang air keluar berfungsi sebagai tempat keluarnya air dari

kondensor.

7. Selang air masuk berfungsi sebagai tempat untuk mengalirkan air

masuk kekondensor.

8. Kondensor spiral berfungsi sebagai pendingin dan mempercepat

proses pengembunan.

9. Timbal berfungsi sebagai wadah sampel.

10. Sifon berfungsi sebagai tempat lewatnya siklus.

11. Kertas saring berfungsi untuk membungkus sampel yang akan

dianalisis

12. Klem dan statif berfungsi sebagai penahan alat soxhletasi.

13. Labu alas bulat berfungsi sebagai wadah pelarut dan sebagai

penampung hasil ekstraksi.

3.6 Syarat Pelarut Dalam Sokletasi

Syarat syarat pelarut yang digunakan dalam proses sokletasi :

1. Pelarut yang mudah menguap Ex : heksan, eter, petroleum eter, metil

klorida dan alkohol

2. Titik didih pelarut rendah.

3. Pelarut tidak melarutkan senyawa yang diinginkan.

4. Pelarut terbaik untuk bahan yang akan diekstraksi.


30

5. Pelarut tersebut akan terpisah dengan cepat setelah pengocokan.

6. Sifat sesuai dengan senyawa yang akan diisolasi, polar atau nonpolar.

Ekstraksi dilakukan dengan menggunakan secara berurutan pelarut –

pelarut organik dengan kepolaran yang semakin menigkat. Dimulai dengan

pelarut heksana, eter, petroleum eter, atau kloroform untuk memisahkan

senyawa – senyawa trepenoid dan lipid – lipid, kemudian dilanjutkan

dengan alkohol dan etil asetat untuk memisahkan senyawa – senyawa yang

lebih polar. Walaupun demikian, cara ini seringkali tidak. menghasilkan

pemisahan yang sempurna dari senyawa – senyawa yang diekstraksi.

Cara menghentikan sokletasi adalah dengan menghentikan pemanasan

yang sedang berlangsung. Sebagai catatan, sampel yang digunakan dalam

sokletasi harus dihindarkan dari sinar matahari langsung. Jika sampai

terkena sinar matahari, senyawa dalam sampel akan berfotosintesis hingga

terjadi penguraian atau dekomposisi. Hal ini akan menimbulkan senyawa

baru yang disebut senyawa artefak, hingga dikatakan sampel tidak alami

lagi.

Alat sokletasi tidak boleh lebih rendah dari pipa kapiler, karena ada

kemungkinan saluran pipa dasar akan tersumbat. Juga tidak boleh terlalu

tinggi dari pipa kapiler karena sampel tidak terendam seluruhnya.

Dibanding dengan cara terdahulu ( destilasi ), maka metoda sokletasi

ini lebih efisien, karena:

1. Pelarut organik dapat menarik senyawa organik dalam bahan alam

secara berulang kali.


31

2. Waktu yang digunakan lebih efisien.

3. Pelarut lebih sedikit dibandingkan dengan metoda maserasi atau

perkolasi.

Sokletasi dihentikan apabila :

1. Pelarut yang digunakan tidak berwarna lagi.

2. Sampel yang diletakkan diatas kaca arloji tidak menimbulkan bercak

lagi.

3. Hasil sokletasi di uji dengan pelarut tidak mengalami perubahan yang

spesifik.

3.7 Cara Penyimpanan Dan Perawatannya

1. Cara Penyimpanan

Soxhlet biasanya disimpan di laboratorium instrumen.

Sebaiknya soxhlet disimpan di meja atau tempat yang permanen

untuk menghindari adanya guncangan yang dapat merusak alat. Selain

itu, soxhlet lebih baik disimpan di tempat yang tidak terlalu panas atau

tidak terlalu lembap.

2. Cara Perawatan

Perawatan soxhlet terdapat bermacam-macam. Perawatan pada

pendingin yaitu air yg digunakan air aquabides untuk mencegah

kerusakan pendingin akibat terjadinya perkaratan pada bagian dalam

alat. Aquabides tersebut juga harus diganti secara berkala, misalnya

jika sering digunakan diganti setiap 2 minggu sekali. Perawatan pada


32

alat gelas sama seperti peralatan gelas yang lain, yaitu disimpan dalam

keadaan yang bersih dan kering disimpan di tempat yang memiliki

temperatur ruangan. Penangas air dirawat dengan cara mengganti air

secara berkala, misalnya jika sering digunakan dua kali dlam

seminggu. Selain itu, ada baiknya setiap alat yang memiliki saklar

tersendiri. Penangas air untuk saklar penangas air, pendingin untuk

saklar pendingin, begitu juga seterusnya.

3.8 Kelebihan Dan Kekurangan

Adapun kelebihan dari alat sokletasi :

1. Jumlah sampel yang diperlukan sedikit.

2. Proses sokletasi berlangsung cepat.

3. Pelarut organik dapat mengambil senyawa organik berulang kali.

4. Sampel diekstraksi dengan sempurna karena dilakukan berulang ulang.

5. Jumlah pelarut yang digunakan sedikit.

Adapun kelemahan dari alat soklet :

1. Harus dilakukan identifikasi setelah penyarian, dengan menggunakan

pereaksi meyer, Na, wagner, dan reagen reagen lainnya.

2. Tidak baik dipakai untuk mengekstraksi bahan bahan tumbuhan yang

mudah rusak atau senyawa senyawa yang tidak tahan panas karena akan

terjadi penguraian.

3. Pelarut yang digunakan mempunyai titik didih rendah, sehingga

mudah menguap.
33

3.9 Aplikasi Dari Soxhlet

Ekstraksi Soxhlet digunakan untuk mengekstrak senyawa yang

kelarutannya terbatas dalam suatu pelarut dan pengotor-prngotornya tidak

larut dalam pelarut tersebut. Sampel yang digunakan dan yang dipisahkan

dengan metode ini berbentuk padatan. Dalam percobaan ini kami

menggunakan sampel kemiri. Ekstraksi soxhlet ini juga dapat disebut

dengan ekstraksi padat-cair.

Padatan yang diekstrak ditumbuk terlebih dahulu kemudian dibungkus

dengan kertas saring dan dimasukkan kedalam ekstraktor soxhlet,

sedangkan pelarut organic dimasukkan kepadal labu alas bulat kemudian

seperangkat ekstraktor soxhlet dirangkai dengan kondensor. Ekstraksi

dilakukan dengan memanaskan pelarut sampai semua analit terekstrak (kira-

kira 6 x siklus). Hasil ekstraksi dipindahkan ke rotary evaporator vacuum

untuk diekstrak kembali berdasarkan titik didihnya .

3.10 Pengolahan Minyak Atsiri dengan Metode Ekstraksi Pelarut Mudah

Menguap

Prinsip ekstraksi adalah melarutkan minyak atsiri dalam bahan

dengan pelarut organik yang mudah menguap. Proses ekstraksi biasanya

dilakukan dalam wadah (ketel) yang disebut ”extractor”. Ekstraksi dengan

pelarut organik umumnya digunakan untuk mengekstraksi minyak atsiri

yang mudah rusak oleh pemanasan dengan uap dan air, terutama untuk

mengekstrak minyak dari bunga-bungaan misalnya bunga cempaka, melati,

mawar, kenanga, lily, dan lain-lain. Pelarut yang biasanya digunakan dalam

ekstraksi yaitu: petroleum eter, benzena, dan alcohol(Guenther,1987).


34

Syarat pelarut yang digunakan (Guenther,1987) sebagai berikut:

1. Harus dapat melarutkan semua zat wangi bunga dengan cepat dan

sempurna, dan sedikit mungkin melarutkan bahan seperti: lilin,

pigmen, serta pelarut harus bersifat selektif.

2. Harus mempunyai titik didih yang cukup rendah, agar pelarut

mudah diuapkantanpa menggunakan suhu tinggi.

3. Pelarut tidak boleh larut dalam air.

4. Pelarut harus bersifat inert, sehingga tidak bereaksi dengan

komponen minyak bunga.

5. Pelarut harus mempunyai titik didih yang seragam, dan jika diuapkan

tidak akan tertinggal dalam minyak.

6. Harga pelarut harus serendah mungkin, dan tidak mudah terbakar.

Pelarut yang digunakan dalam proses ekstraksi adalah sebagai

berikut:

1. Etanol

Etanol disebut juga etil alkohol yang di pasaran lebih dikenal sebagai

alkohol merupakan senyawa organik dengan rumus kimia C2H5OH.

Dalam kondisi kamar, etanol berwujud cairan yang mudah menguap,

mudah terbakar, tak berwarna.


35

Perlakuan Bahan Sebelum Ekstraksi

Perlakuan pendahuluan terhadap bahan yang mengandung minyak

umumnya dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu dengan cara

pengecilan ukuran bahan dan pengeringan atau pelayuan

(Ketaren,1985).

Proses pengecilan ukuran dan pengeringan bahan berminyak yang

bersifat permiabel (mudah ditembus zat cair dan uap) kadang- kadang

dilakukan dengan tujuan untuk mengekstraksi minyak dalam waktu yang

relatif lebih singkat. Sebelum bahan olah tersebut diekstraksi sebaiknya

dirajang terlebih dahulu menjadi potongan-potongan lebih kecil. Proses

perajangan ini bertujuan agar kelenjar minyak dapat terbuka sebanyak

mungkin sehingga pada proses ekstraksi laju penguapan minyak atsiri dari

bahan menjadi cukup cepat. Selama proses perajangan, akan terjadi

penguapan komponen minyak bertitik didih rendah.Oleh karena itu, jika

diinginkan rendemen dan mutu minyak yang baik, maka hasil rajangan

harus segera diekstraksi (Ketaren, 1985).

Perlakuan pendahuluan dengan cara pengeringan bahan akan

mempercepat proses ekstraksi, memperbaiki mutu minyak dan mengurangi

kadar air yang terkandung dalam bahan, akan tetapi selama pengeringan

kemungkinan sebagian minyak akan hilang karena penguapan dan oksidasi

oleh oksigen udara (Ketaren, 1985 perajangan, akan terjadi penguapan

komponen minyak bertitik didih rendah. Viskositas pada 200C 1,17Cp oleh

karena itu, jika diinginkan rendemen kalor spesifik pada 200C 0,579
36

kal/g0C dan mutu minyak yang baik, maka hasil rajaangan harus segera

diekstraksi (ketare, sumber: rizani,2000).

Hasil ekstraksi daun jeruk purut dengan metode sokletasi

Pada tabel 4. diketahui bahwa komponen tertinggi yang terdapat

dalam minyak daun jeruk purut dengan pelarut etanol adalah sitronellal

sebesar 65,99%. Selain sitronellal juga terdapat komponen-komponen yang

lain yaitu 1,1-Diethoxyhept-cis-4-ene, transCaryophyllene, serta Nerolidol

Z dan E.

Dari tabel 4 diketahui bahwa kadar sitronellal lebih tinggi daripada

kadar komponen yang lain. Minyak yang dihasilkan berwarna hijau

sampai kehitaman dikarenakan etanol dapat melarutkan pigmen-pigmen

yang terdapat dalam daun jeruk purut misalnya pigmen klorofil.


37

Pada tabel 5 diketahui bahwa komponen tertinggi yang terdapat dalam

minyak daun jeruk purut dengan pelarut n-heksana adalah sitronellal sebesar

97,27%. Selain sitronellal juga terdapat komponenkomponen yang lain yaitu

Sabinene dan Decane. Dari tabel 5 diketahui bahwa kadar sitronellal lebih

tinggi daripada kadar komponen yang lain, dan kadar sitronellal yang

diperoleh dengan pelarut mudah menguap lebih tinggi daripada dengan

menggunakan metode penyulingan uap sesuai penelitian Koswara. Hal ini

disebabkan karena pelarut n-heksana dapat mengekstrak dengan baik

komponen sitronellal dalam daun jeruk purut sehingga sitronellal yang

dihasilkan lebih tinggi daripada dengan metode penyulingan uap. Minyak

yang dihasilkan berwarna kuning. Hal ini dikarenakan n-heksana dapat

memisahkan antara minyak dengan pelarut sehingga dapat diketahui dengan

jelas perbedaan antara minyak dan pelarut. Penggunaan pelarut n-heksana

pada ekstraksi daun jeruk purut menghasilkan


BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang diperoleh dari percobaan ini yaitu sebagai

berikut:

1. Prinsip kerja soxhlet

Prinsip dasar soxhlet adalah penyaringan yang berulang-ulang

(kontinue), sehingga hasil yang diperoleh sempurna dan pelarut yang

digunakan relatif sedikit.

2. Komponen-komponen peralatan soxhlet : Elektromantel, Labu alas

bulat, Kondensor spiral, Pipa F, Pipa sifon, Timbal, Selang air masuk,

Selang air keluar, Lubang kondensor

3. Ekstraksi daun jeruk purut dengan pelarut etanol menghasilkan

rendemen minyak 13,39% dan kadar sitronellal 65,99%. Ekstraksi

daun jeruk purut dengan pelarut n-heksana menghasilkan

rendemen minyak 10,50% dan kadar sitronellal 97,27%. Pelarut n-

heksana yang terbaik pada pengambilan minyak daun jeruk purut.

Komponen terbesar dalam minyak atsiri daun jeruk purut

adalah sitronellal.

38
39

DAFTAR PUSTAKA

Djamal, R., Prinsip-Prinsip bekerja Dalam Bidang Kimia Bahan Alam, Fakultas

Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Padang, 1990.

Ansel, H. C., Pengantar Bentuk sediaan Farmasi, edisi 4, diterjemahkan oleh

Farida Ibrahim, Penerbit UI press, Jakarta, 1989.

Voigt, R., Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, edisi ke-5, UGM Press,

Yogyakarta, 1995.

Arsyanti, N. dan Ekasari, S.R. 2008. Pengaruh Metode Pengambilan

Minyak Atsiri Dari Daun Jeruk Purut Terhadap Geraniol Dan Sitronelal.

http://digilib.its.ac.id [diakses tanggal 10 Februari 2010].

Feryanto, A.D.A. 2007. Minyak Daun Jeruk Purut.

http://ferryatsiri.blogspot.com/ 2007/07/minyak-daun-jeruk-purut.html

[diakses tanggal 10 Februari 2010].

Guenther, E. 1987. Minyak Atsiri Jilid 1. UI Press. Jakarta

Hernani dan Marwati, T. 2006. Peningkatan Mutu Minyak Atsiri Melalui Proses

Pemurnian. http://Hernani dan Tri Marwati Minyak Atsiri Indonesia.htm

[diakses tanggal 10 Februari 2010].

Kastianti, N. dan Amalia, Z.Q. 2008. Laporan Penelitian Pengambilan

Minyak Atsiri Kulit Jeruk dengan Metode Ekstraksi Distilasi Vakum.

Semarang: Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Undip. Ketaren, S.

1985.Pengantar Teknologi Minyak Atsiri. Balai Pustaka. Jakarta

Koswara, S. 2009. Menyuling dan Menepungkan Minyak Asiri

Daun Jeruk Purut http://www.ebookpangan.


40

com/ARTIKEL/MENYULING%20DAN%20MENEPUNGKAN%20MINY

AK%20ASIRI.pdf [diakses tanggal 10Februari 2010].

Rizani, K. Z. 2000. Pengaruh Konsentrasi Gula Reduksi dan Inokulum

(Saccharomyces cerevisiae) pada Proses Fermentasi Sari Kulit Nanas

(Ananas comosus L.Merr) untuk Produksi Etanol. Skripsi. Jurusan Biologi.

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Brawijaya.

Malang.

Sarwono, B. 1991. Jeruk dan Kerabatnya.Penebar Swadaya. Jakarta

Suryaningrum, S. 2009. Uji Aktivitas Antibakteri Minyak Atsiri Buah Jeruk

Purut (Citrus hystrix D.C) terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia

coli. Surakarta. Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

http://etd.eprints.ums.ac.id/ 5186/1/K100050195.pdf [diakses tanggal 10

Februari 2010].