PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.

06/MEN/2010 TENTANG RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN TAHUN 2010 - 2014 MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 19 ayat (2) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2005 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, dipandang perlu menetapkan Rencana Strategis Kementerian Kelautan dan Perikanan Tahun 2010 -2014; b. bahwa untuk itu perlu ditetapkan dengan Peraturan Menteri; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan; 2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun Perencanaan Pembangunan Nasional; 2004 tentang Sistem

3. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009; 4. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan; 5. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil; 6. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah; 7. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga; 8. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014; 9. Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah diubah, terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 50 Tahun 2008;

10. Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara; 11. Keputusan Presiden Nomor 84/P Tahun 2009; 12. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.07/ MEN/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kelautan dan Perikanan sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.04/MEN/2009; 13. Peraturan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Nomor 5 Tahun 2009 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Strategis Kementerian/Lembaga (Renstra-KL) 2010-2014; 14. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP.24/ MEN/2002 tentang Tata Cara dan Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan di Lingkungan Departemen Kelautan dan Perikanan; MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN TENTANG RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN TAHUN 2010 – 2014.

Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Rencana Strategis Kementerian Kelautan dan Perikanan Tahun 2010-2014, yang selanjutnya disebut Renstra KKP adalah dokumen perencanaan Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk periode 5 (lima) tahun terhitung sejak tahun 2010 sampai dengan tahun 2014. 2. Rencana Kerja Kementerian Kelautan dan Perikanan yang selanjutnya disebut Renja KKP adalah dokumen perencanaan Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk periode 1 (satu) tahun. 3. Menteri adalah Menteri Kelautan dan Perikanan. Pasal 2 (1) Menetapkan Renstra KKP, yang merupakan pedoman bagi setiap unit kerja di lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam penyusunan program 5 (lima) tahun. (2) Renstra KKP sebagaimana dimaksud pada ayat (1), tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

-2-

Pasal 3 Ruang lingkup dari Renstra KKP, meliputi: a. Pendahuluan, yang berisi kondisi umum, potensi, dan permasalahan; b. Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran Strategis; dan c. Arah Kebijakan dan Strategi, yang berisi arah kebijakan dan strategi nasional, arah kebijakan dan strategi Kementerian Kelautan dan Perikanan serta dukungan lintas sektor. Pasal 4 Renstra KKP sebagai pedoman bagi unit kerja di lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam menyusun program dan kegiatan yang selanjutnya dituangkan dalam Renja KKP sebagaimana tersebut dalam Lampiran II yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini. Pasal 5 Kebutuhan pendanaan dari masing-masing program dan kegiatan pembangunan kelautan dan perikanan sebagaimana tersebut dalam Lampiran III yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini. Pasal 6 Menteri melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan Renstra KKP yang dituangkan dalam Renja KKP. Pasal 7 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 18 Februari 2010 MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN R.I, ttd. FADEL MUHAMMAD

-3-

Lampiran I : Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.06/MEN/2010 Tentang Rencana Strategis Kementerian Kelautan dan Perikanan Tahun 2010-2014

BAB I PENDAHULUAN

A. Kondisi Umum Pembangunan kelautan dan perikanan dilaksanakan dalam rangka mewujudkan tiga pilar pembangunan, yaitu propoor (pengentasan kemiskinan), pro-job (penyerapan tenaga kerja), dan pro-growth (pertumbuhan). Hasilnya, selama tahun 2005-2008 Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah berhasil memberikan 3 (tiga) outcome, yaitu: (1) pencapaian pro-poor, berupa peningkatan pendapatan masyarakat pesisir melalui program pemberdayaan masyarakat kelautan dan perikanan dan program pemberdayaan masyarakat di pulaupulau kecil yang telah menjangkau lebih dari 200 kab/kota, (2) pencapaian pro-job, berupa peningkatan penyerapan tenaga kerja kumulatif yang mencapai 7,69 juta orang, dan (3) pencapaian pro-growth, berupa pertumbuhan ekonomi sektor kelautan dan perikanan sebesar 5,7%. Setidaknya terdapat 12 indikator makro kinerja hasil pembangunan kelautan dan perikanan selama 5 tahun terakhir dapat dicatat, yaitu: 1. PDB Sektor Perikanan PDB sektor perikanan memegang peranan strategis dalam memberikan kontribusi bukan hanya untuk PDB kelompok pertanian secara umum, tetapi juga pada PDB nasional. PDB sektor perikanan berdasarkan harga berlaku pada tahun 2004 adalah Rp53,01 triliun atau sama dengan 16,11% dari PDB kelompok pertanian, atau 2,31% dari PDB nasional. Pada 2008, PDB sektor perikanan meningkat menjadi Rp136,43 triliun. Nilai ini memberikan kontribusi pada PDB kelompok pertanian menjadi sekitar 19,13% atau

835. PDB perikanan mencapai Rp83. Kehutanan e.321. Kehutanan & Perikanan a.68 3.234. Peternakan. Nilai Tukar Nelayan dan Pembudidaya Ikan Nilai tukar digunakan untuk mempertimbangkan seluruh penerimaan (revenue) dan seluruh pengeluaran (expenditure) keluarga nelayan maupun pembudidaya ikan.kontribusi terhadap PDB nasional sekitar 2.346.10 4.11 2.50 61.80 2.15 17.30 433.30 2.12% terhadap PDB Nasional.040.30 541.532.PDB Total 329.80 4.40 51. Sampai dengan triwulan kedua tahun 2009.841.23 20. Peternakan d.697.13 2.80 3.80 2.664.808. Produk Domestik Bruto Pertanian.12 Sumber : BPS.828.331.124. Sampai dengan triwulan ketiga tahun 2009.81 27.70 16.401. Peternakan.8 triliun atau memberikan kontribusi 3.47 19.936.010.00 53.290.87 18.30 181.028.639.10 84.70 106. Perkembangan PDB sektor perikanan sebagaimana tersebut pada tabel 1 berikut: Tabel 1.40 347.144.40 3.10 2. Perikanan Produk Domestik Bruto Produk Domestik Bruto Tanpa Migas % PDB Perikanan thd : .883.630.826.80 59.202.595.36% terhadap PDB tanpa migas dan 3.426.384.22 19.66 21.06 21. Tanaman Perkebunan c.291.70 74. Tanaman Bhn Makanan b.57% per tahun.70 713. PDB perikanan tercatat mencapai Rp128.38 2.967.223.435.30 3.90 22.558.592.954.339.75%. juga digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat nelayan secara relatif dan merupakan ukuran kemampuan keluarga nelayan dan 2 .70 97. Kehutanan dan Perikanan (Atas Dasar Harga Berlaku) Tahun 2004-2008 (Miliar Rupiah) Lapangan Usaha 2004 2005 2006 2007* 2008** 2009 s/d Triwulan III 654.23 18.4% terhadap PDB tanpa migas dan 3.04 2.58 20.60 165. **Angka Sangat Sementara) 2.70 30.77 Pertanian.335.40 214.40 82.10 136.70 331.074.75 19.30 63.60 265.992.Kelompok Pertanian .281. maka pertumbuhan perikanan mencapai 5.433.325.50 Kenaikan rata-rata 2004-2008 (%) 21.077.949.774.90 364.50 76.083.845.942.90 32.30 3.065.090.20 2.90 81.15 triliun atau memberikan kontribusi 3.634.216.10 128.1% terhadap PDB nasional.40 39.20 49.74% per tahun yang lebih tinggi dari pertumbuhan PDB kelompok pertanian yang tumbuh 3.131.561.169.20 35.807.458.70 44.186.60 56.90 4.022.955. 2009 (*Angka Sementara. Apabila dilihat berdasarkan harga konstan. Selain itu.16 2.295.31 16.70 20.90 40.

28 100. Nilai Tukar Nelayan dan Petani Tahun 2008 dan 2009 Tahun 2008 Bulan Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September October Nopember Desember Tahun 2009 Bulan Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus Sumber : BPS.50 1.79 99. Berdasarkan hasil perhitungan BPS sampai pada bulan Agustus 2009.82 104.98 0.78 99.48 1.37 0.64 100.76 -0.49 0.42 Perubahan (%) 1.49 Petani (NTP) 98.79 0.14 0.15 0.64 101.42 atau mengalami peningkatan sebesar 5. nilai NTN mencapai 106.71 102.36 Petani (NTP) 100.42 100.66 100.07 0.pembudidaya ikan untuk memenuhi kebutuhan subsistennya.83 105.18 0.00 101.85 0.69 99. pada akhir tahun 2008.92 Perubahan (%) 0.68 Nelayan (NTN) 99. Nilai Tukar Nelayan (NTN) hingga Desember 2008 terjadi peningkatan sebesar 4.73 103.30 -2.50 105.41 99.20 98. nelayan telah dapat menyimpan hasil pendapatan yang diperoleh dari kegiatan penangkapan ikan setelah digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya.05 100.67 100.21% dibandingkan pada awal tahun bulan Januari 2008.64 105.90 106.91 105.10 -1.27 -0.34 105.01 102. 2009 Nelayan (NTN) 105.30 98.15 0.36 98.01 0.64 3 .86 0.12 0.79 0.43 99.26 99.24 Perubahan (%) -0.26 0.56 99.56 0.99 Perubahan (%) 0.92.16 100.92 102.06 0.44% dibandingkan tahun 2008 pada periode bulan yang sama dengan nilai sebesar 100. Artinya.77 98.46 -0.47 1.26 1.48 0.53 103.29 -0.45 -0.70 0.36 0.00 0.59 98.00 -0.82 100.13 0.21 0.45 99.98 -0. sebagaiman tersebut pada tabel 2 berikut: Tabel 2.69 100.

95%. Peningkatan produksi perikanan selama tahun 2005-2009 sebagaimana tersebut pada tabel 3 dan tabel 4 berikut: Tabel 3.3.99 21. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa secara umum komoditas perikanan mengalami peningkatan kualitas dan kenaikan harga.75 32.97 15.93%.11 15. dimana pertumbuhan budidaya sebesar 21.02% per tahun. Dari total produksi tersebut perikanan budidaya menyumbang 47.61% dari Rp57. Jika dibandingkan pertumbuhan volume produksi terhadap nilai. lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan perikanan tangkap yang hanya sebesar 2.80 9.49%. 2009 4 . Laju pertumbuhan produksi perikanan nasional sejak tahun 2005-2009 mencapai 10.62 triliun pada tahun 2005 menjadi Rp102.78 triliun pada tahun 2009.93 29.46 5.95 2. maka pertumbuhan nilai lebih tinggi dari pada pertumbuhan volume. Produksi Perikanan Produksi perikanan tahun 2008 yang berasal dari kegiatan penangkapan dan budidaya mencapai 9. Volume Produksi Perikanan Tahun 2005-2009 (Ton) Tahun Rincian 2005 Penangkapan : Perikanan laut Perairan umum Budidaya : Budidaya Laut Tambak Kolam Karamba Jaring Apung Sawah JUMLAH 4 705 869 4 408 499 297 370 2 163 674 890 074 643 975 331 962 67 889 109 421 120 353 6 869 543 2006 4 806 112 4 512 191 293 921 2 682 596 1 365 918 629 610 381 946 56 200 143 251 105 671 7 488 708 2007 5 044 737 4 734 280 310 457 3 193 565 1 509 528 933 833 410 373 63 929 190 893 85 009 8 238 302 2008 5 196 328 4 701 933 494 395 3 855 200 1 966 002 959 509 479 167 75 769 263 169 111 584 9 051 528 2009*) 5 285 020 4 789 410 495 610 4 780 100 2 437 100 1 180 700 593 800 93 900 336 300 138 300 10 065 120 Kenaikan rata-rata (%) 2005-2009 2.02 *) Angka Sementara Sumber : Kelautan dan Perikanan dalam Angka.54 17. Sedangkan nilai produksi perikanan meningkat 15.86 10.05 juta ton.

29 3 481.28 4 237.21 1 690.91 1 996.11 19 404.86 13 201.66 1 093. nila.01 2008 89 454.28 4 035.65 3 406.14 23 776. perikanan budidaya memberikan kontribusi yang cukup besar dalam meningkatan produksi olahan khususnya dari rumput laut dan beberapa jenis ikan hasil budidaya seperti patin.55 5 013. Nilai Produksi Perikanan Tahun 2005-2009 (jutaan rupiah) Rincian 2005 Total Nilai Penangkapan : Perikanan laut Perairan umum Budidaya : Budidaya Laut Tambak Kolam Karamba Jaring Sawah 57 622.49 15. bandeng dan beberapa jenis lainnya.70 11 678.58 16 408.27 10.Tabel 4. 2009 Sementara itu.03 21 451.60 1 958.27 2 929.14 36.44 3 141.66 juta ton pada tahun 2008.28 27 928. Perolehan ini berdasarkan produksi hasil perikanan tangkap yang merupakan pensuplai bahan baku untuk semua produk olahan.13 37 842.39 52. Produksi rumput laut merupakan salah satu andalan yang masih terus dapat ditingkatkan. 4.77 1 376.94 17 304.27 768.15 583.93 45 025.76 9 241.45 51 611. Jumlah tenaga kerja di bidang pengolahan dan pemasaran 5 .90 788.91 2 906.13 15 713. peningkatan dilakukan melalui fasilitasi dan beberapa program pemerintah yang khusus menangani rumput laut. Disamping sumber dari produksi perikanan tangkap.39 17.20% per tahun yaitu dari 2.33 33 255.69 46 598.35 50 863.05 56 077. Penyerapan Tenaga Kerja Penyerapan tenaga kerja sektor kelautan dan perikanan pada tahun 2009 mencapai 6.14 40 069.78 36 171.30 2 916.47 6 805.05 37 162.21 Tahun 2007 76 360.13 670.26 32.99 2006 63 845.22 48 431.31 645.43 juta orang atau mengalami peningkatan sebesar 3.83 Kenaikan rata-rata (%) *) Angka Sementara Sumber : Kelautan dan Perikanan dalam Angka.08 1 996.65 2 930.01 21.53 5 213.85 862.82 46 705.41% dari tahun 2005.72 11.91 8 736.81 55. perkembangan produksi olahan ikan selama kurun waktu 2005 sampai 2008 meningkat sebesar 10.62 908.48 27.25 1 493.93 1 620.74 juta ton menjadi 3.38 2009 *) 102 783.61 11.

hasil perikanan dalam periode 2005 – 2009 mengalami peningkatan sebesar 10. Penyediaan Ikan untuk Konsumsi Tahun 2004-2008 Tahun Rincian 2004 Total (1000 Ton) Per Kapita (Kg/Kap/Th) 4 901.66 28.28 2008*) 6 850. .65 0.*) : angka sementara.35 Keterangan : *) angka sementara Sumber : Kelautan dan Perikanan dalam Angka.59 0.59 5.06 (juta orang) Kenaikan (%) 2006-2008 1.73 6.75 2.53 juta orang pada tahun 2005 menjadi 0.98 kg/kapita pada tahun 2008. 2009 Ket.28 0.33 6. kedai pesisir.9 juta ton pada tahun 2004 menjadi 6.4 5. : .58 2005 5 249.79 0.dta : data tidak tersedia 5. Peningkatan penyerapan tenaga kerja perikanan selama tahun 2005-2009 sebagaimana tersebut pada tabel 5 berikut: Tabel 5.35% per tahun yakni dari 22.63 5.06 2007 2.21 Sumber : Kelautan dan Perikanan dalam Angka.13 22.57 23.98 Kenaikan Rata-rata (%) 2004-2008 8.58 kg/kapita menjadi 29.76 2.95 2006 5 759.85 juta ton pada tahun 2008.49 10.69 29.34 0. sebagaimana tersebut pada tabel 6 berikut: Tabel 6.55 3. 2009 6 .82 8. COREMAP.94 2007 6 380.06 2009*) 2.51 0.76 0. Penyediaan Ikan untuk Konsumsi Dalam Negeri Penyediaan ikan untuk konsumsi domestik meningkat sebesar 8.83 0.70 2.59 2. Sampai dengan tahun 2009 diperkirakan konsumsi ikan dapat mencapai 30. penyuluh.Jasa penunjang : tenaga kerja yang terlibat pada program-program pemberdayaan: SPDN.74 7. dll. . 1 2 3 4 Rincian Perikanan tangkap Perikanan budidaya Pengolahan dan pemasaran Jasa penunjang 2005 2.04 2008 2.74% per tahun yakni dari 4.82% yakni dari 0.55 0.43 Jumlah 5. Jumlah Tenaga Kerja Perikanan Tahun 2005-2009 No.21 25.74 2. Konsumsi ikan per kapita meningkat menjadi 7.79 juta orang pada tahun 2009.17 kg/kapita.53 dta 2006 2.

penguatan kelembagaan dan jaringan pemasaran.impor dan neraca perdagangan hasil perikanan selama tahun 20052009. namun kenaikan nilai ekspor hasil perikanan terjadi cukup signifikan sebesar 6.92 miliar pada tahun 2005 menjadi US$2. Ekspor Hasil Perikanan Meskipun volume ekspor hasil perikanan pada periode 2005-2009 mengalami penurunan yang sangat kecil sebesar 1.42 17.Peningkatan konsumsi ikan tersebut menggambarkan bahwa ketersediaan produk perikanan yang berasal dari kegiatan penangkapan ikan (capture) maupun budidaya (aquaculture) tersedia dengan baik.17 7 . antara lain disebabkan sebagian besar komoditas ekspor telah mengarah pada produk bernilai tambah (non primary product). neraca perdagangan komoditas perikanan masih mengalami surplus yang cukup tinggi dengan pertumbuhan rata-rata 5.17% per tahun. Pertumbuhan nilai ekspor . peningkatan tersebut juga menggambarkan bahwa kebijakan peningkatan konsumsi ikan nasional. Terjadinya kenaikan nilai ekspor yang lebih tinggi dibandingkan dengan volumenya menunjukkan adanya peningkatan harga rata-rata produk perikanan yang diekspor. yakni dari US$1.37 miliar pada tahun 2009. penguatan informasi pemasaran dalam negeri serta promosi dan kerjasama pemasaran di dalam negeri berjalan dengan baik. sebagaimana tersebut pada tabel 7 berikut. Dengan demikian.42%. 6.38 6. sampai tahun 2009 mencapai nilai sebesar US$195.54% per tahun dalam periode 2005-2009. Perkembangan Volume dan Nilai Ekspor-Impor serta Neraca Perdagangan Tahun 2004-2008 Tahun Rincian 2005 Volume ekspor (ton) Volume Impor (ton) Nilai ekspor (US$ 1000) 857 782 151 008 1 912 926 2006 926 478 184 240 2 103 471 2007 854 328 145 227 2 258 920 2008 911 674 280 179 2 699 683 2009 *) 796 700 218 622 2 371 000 Kenaikan Rata-rata (%) 2005 2009 -1. Tabel 7. pengembangan sarana pemasaran hasil perikanan.5%. Selain itu. Sedangkan jika dilihat nilai impor komoditas perikanan.48 juta dengan perkembangan per tahun sebesar 18.

peningkatan ekspor tersebut merupakan dampak dari penurunan kasus Rapid Alert System (RAS) yang menimpa produk perikanan Indonesia di pasar luar negeri. Malaysia dan Timur Tengah). investasi di sektor perikanan mencapai 6 proyek Penanaman Modal dalam Negeri (PMDN) dengan total nilai Rp8. China. Inspection and Quarantine of the People's Republic of China (AQSIQ). Salah satu kerjasama yang telah dijalin dengan pasar prospektif adalah ditandatanganinya ”Cooperation Agreement on Safety Assurance in the Import and Export of Aquatic Products” yang merupakan pencabutan embargo produk perikanan Indonesia di China oleh otoritas kompeten Administration of Quality Supervision. Penurunan kasus RAS ini membuktikan meningkatnya kepercayaan Komisi Eropa atas upaya serius dan komitmen tinggi otoritas kompeten Indonesia beserta seluruh stakeholders dalam penerapan sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan secara konsisten. 2009 Terjadinya peningkatan nilai ekspor hasil perikanan ini disebabkan oleh arah kebijakan ekspor yang semakin baik. Investasi bidang Kelautan dan Perikanan Secara kumulatif sepanjang tahun 2004-2008. yang ditandai dengan diarahkannya tujuan ekspor dari pasar-pasar tradisional (Jepang. 7. USA dan UE) ke pasarpasar prospektif (Korea Selatan.54 Nilai Impor (US$ 126 960 165 720 142 750 1000) Neraca 1 785 1 937 2 116 Perdagangan 966 751 170 (US$ 1000) Sumber : Kelautan dan Perikanan dalam Angka. pemerintah Indonesia telah mendapatkan kembali hak untuk mengajukan Approval Number (Re-authorized for Approval Number) baru bagi Unit Pengolahan Ikan (UPI) yang akan mengekspor ke Uni Eropa. Selain itu.Tahun Rincian 2005 2006 2007 2008 259 967 2 439 707 2009 *) 195 486 2 175 514 Kenaikan Rata-rata (%) 2005 2009 18. Saat ini otoritas kompeten telah mengusulkan Approval Number secara bertahap untuk sekitar 24 UPI baik yang baru maupun relisting.2 miliar dan 22 proyek Penanaman Modal Asing (PMA) 8 . Di samping itu.50 5.

3 909 8 914. 2008 P : Jumlah Izin Usaha Tetap yang dikeluarkan I : Nilai Realisasi Investasi (PMDN dalam Rpmiliar. Persentase kontribusi investasi sektor perikanan masih di bawah 1% terhadap investasi nasional.00 1.8 P 1 5 Tahun 2006 I 0.01 0.00 0.63 PMDN Nasional % thd 0.4 159 Nasional PMA 546 4 602.37 2008 I 0.7 7 305.00 0. Kecilnya kontribusi ini berakibat kecilnya penyerapan tenaga kerja dari perkembangan investasi sektor perikanan.02 0.9 5. Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan a.12 0.87 0.4 8 496. Perkembangan investasi sektor perikanan tahun 2004-2008 sebagaimana tersebut pada tabel 8 berikut: Tabel 8.0 544 0.3 P 4 7 2005 I 4.61 0.00 0.6 0.07 0.2 32. Nilai investasi terbesar terjadi pada tahun 2005 untuk PMDN dan tahun 2006 untuk PMA.4 214 30 665.37 0. Perkembangan Investasi Sektor Perikanan Tahun 2004-2008 Tipe P PMDN PMA 2 2004 I 5.7 34 878.0 2.33 P 0 3 106. Secara keseluruhan investasi di sektor perikanan baik PMDN maupun PMA masih sangat kecil jika dibanding nilai investasi secara nasional.0 164 20 788.02 PMDN 130 15 409. Selama kurun waktu 2005-2009 hasil operasi kapal pengawas telah berhasil di ad hoc kapal perikanan 9 .66 PMA Nasional Sumber : BKPM.77 0. Penanggulangan Illegal Fishing dan Penyelamatan Kekayaan Negara Hasil operasi kapal-kapal patroli terutama di perairan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) selama beberapa tahun terakhir menunjukkan trend bahwa peningkatan hari operasi patroli berbanding lurus secara proporsional dengan jumlah kapal illegal yang ditangkap.6 867 5 977.2 0.1 24.dengan nilai US$71 juta.6 10 380.8 P 1 5 2007 I 3.00 0.58 0.0 603 Nasional % thd 0.00 0. PMA dalam US$ juta) 8.

Penanganan Tindak Pidana Perikanan Pada 2005-2009 telah dilakukan penanganan pelanggaran terhadap tindak pidana perikanan sebanyak 616 kasus yang ditangani oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Perikanan. Bitung (Sulawesi Utara) dan Tual (Maluku).yang terindikasi melakukan tindak pidana perikanan sebanyak 827 kapal perikanan yang terdiri dari 466 kapal ikan Indonesia (KII) dan 361 kapal ikan asing (KIA). melalui SKB/dasar hukum pembentukan pengadilan ad hoc ini. Sejalan dengan peningkatan tersebut. b. KKP sesuai dengan fungsinya dipercaya secara nasional melakukan pekerjaan lapangan (field work). Hasil kerjasama operasi pengawasan tersebut selama tahun 2005-2009 telah berhasil menangkap kapal perikanan yang terindikasi melakukan tindak pidana perikanan sebanyak 302 kapal perikanan. Pelaksanaan inventarisasi dan toponim pulau telah selesai dilaksanakan pada tahun 2008 dan selanjutnya diverifikasi oleh Tim Nasional Pembakuan Nama Rupa Bumi yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden 10 . 9. Belawan (Sumatera Utara). Selain operasi pengawasan dengan kapal pengawas perikanan dilakukan juga operasi pengawasan dengan instansi terkait yaitu TNI AL. Pengadilan Perikanan tersebut telah di lengkapi dengan sarana dan prasarana pengadilan dengan 47 hakim ad hoc pengadilan perikanan. KKP bekerjasama dengan Mahkamah Agung (MA) membentuk pengadilan khusus perikanan.9 triliun. kerugian negara yang bisa diselamatkan selama 2005-2009 mencapai Rp1. Pada kurun tahun 2009 jumlah kapal ikan asing yang ditenggelamkan mencapai 32 kapal dan 17 kapal lainnya dipulangkan ke negara asalnya. untuk inventarisasi dan penamaan pulau (toponimi) di seluruh wilayah NKRI dengan melibatkan instansi terkait. Langkah percepatan penyelesaian penanganan tindak pidana perikanan. POLRI dan BAKORKAMLA. Penamaan Pulau (Toponimi) Sejak tahun 2005. di 5 lokasi yaitu Jakarta (DKI Jakarta). Hasil penanganan tindak pidana perikanan tersebut telah berhasil dirampas/dilelang sebanyak 145 kapal. Pontianak (Kalimantan Barat).

pengangkatan dan pemanfaatan BMKT agar dapat dikelola sebaik-baiknya untuk kepentingan negara. Riau Total Sumber. ilmu pengetahuan dan kebudayaan bahari Indonesia adalah untuk meningkatkan pengelolaan potensi BMKT yang tersebar di berbagai wilayah perairan Indonesia diharapkan agar dapat memberikan manfaat yang optimal dan seimbang antara ekonomis dan non ekonomis. Pengelolaan BMKT yang meliputi ruang lingkup kegiatan survei.427 pulau di 33 Provinsi. sebagaimana tersebut pada tabel 9 berikut: Tabel 9. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Provinsi Sumatera Selatan Kep.Nomor 112 Tahun 2006. Sampai dengan tahun 2009. Pemerintah membentuk Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan kapal yang tenggelam (PANNAS BMKT) yang melibatkan instansi pemerintah terkait sesuai Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2007. Daftar Nama Pulau yang telah dilaporkan ke PBB Tahun 2007 No. 2009 Jumlah Pulau 23 470 445 286 123 294 805 33 28 10 530 130 10 1.794 4. Pengelolaan Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam (BMKT) Tujuan pengelolaan BMKT selain mendukung upaya pelestarian dan pengkayaan sejarah. Bangka Belitung Jawa Timur Sulawesi Utara Gorontalo Maluku Maluku Utara Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Barat Sulawesi Tenggara Lampung Bengkulu Kep. Hasil verifikasi oleh tim tersebut terdapat 13. Ditjen KP3K.981 10. langkah yang telah ditempuh antara lain: 11 .

Jumlah dan Luas Kawasan Konservasi Laut di Indonesia Tahun 2009 No A Kawasan Konservasi Inisiasi Dephut .Taman Nasional Laut .092 4. dan Badan Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT)-Sumatera Barat untuk mendukung pengkayaan koleksi museum. sebagaimana tersebut pada tabel 10 berikut: Tabel 10.66 ha. 11.045.426.215 12 . budaya dan ilmu pengetahuan sebagai koleksi negara.529. 2) Penjualan BMKT untuk mengoptimalkan nilai ekonomisnya dilaksanakan dengan cara lelang oleh Kantor Lelang Kekayaan Negara dan Lelang Jakarta berdasarkan rekomendasi penjualan/lelang BMKT dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata pada tanggal 21 November 2008.049 767. Sampai akhir tahun 2009 telah tercapai 13. Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Batusangkar. 3) Penerbitan rekomendasi survei sebanyak 11 buah dan rekomendasi pengangkatan sebanyak 2 buah.610 339. pelestarian dan pemanfaatan suatu wilayah atau sumber daya ikan dan ekosistemnya untuk menjamin keberadaan dan keseimbangan sumber daya ikan dan ekosistemnya di dalam suatu kawasan tertentu.1) Pendistribusian BMKT yang tidak terjual ke Museum Negeri Adityawarman. Upaya yang dilakukan adalah dengan menetapkan Kawasan Konservasi Perairan baik perairan laut. pesisir maupun perairan tawar dan payau. disamping itu telah dilakukan pemilihan terhadap BMKT tertentu yang langka untuk kepentingan sejarah.067.218 274.Taman Wisata Alam Laut .Cagar Alam Laut Jumlah Kawasan 40 7 18 7 9 Luas (Ha) 5. pemeliharaan dan pengembangan ilmu pengetahuan dalam lingkup pemanfaatan nonekonomis. Pengembangan Kawasan Konservasi Perairan Konservasi merupakan upaya perlindungan.Suaka Margasatwa .

pelatihan dan penyuluhan. 12. Akademi Perikanan Bitung.591.5 juta hektar tersebut didasari oleh beberapa pertimbangan ilmiah diantaranya. Akademi Perikanan Sorong dan 8 Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) yang tersebar di wilayah nusantara.Calon Kawasan Konservasi Laut Daerah . termasuk paus jenis rare blue whale dan sperm whales. Lulusan pendidikan sejak 2005-2009 berjumlah 6.Suaka Perikanan Jumlah Total Jumlah Kawasan 36 1 24 19 2 3 89 Luas (Ha) 20.572 13.Kawasan Konservasi Laut Daerah . Satuan pendidikan lingkup KKP adalah Sekolah Tinggi Perikanan (STP) di Jakarta.029 siswa. habitat hidup 4 spesies penyu. 13 .155.270. 2009 Taman Nasional Perairan (TNP) Laut Sawu seluas 3.No B Kawasan Konservasi Inisiasi Pemda dan DKP .406 2. Pencadangan kawasan seluas 3. kawasan ini merupakan tempat migrasi 14 spesies dari 27 spesies Cetacean di dunia.Daerah Perlindungan Laut/Mangrove (DPL/DPM) .Kawasan Konservasi Perairan Nasional (Taman Nasional Perairan Laut Sawu) .086 453 Sumber : Diolah dari Kelautan dan Perikanan dalam Angka. Akademi Perikanan Sidoarjo. 336 spesies ikan. dan 500 spesies karang.5 juta hektar dideklarasikan berdasarkan keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: 38 tahun 2009 tentang Pencadangan Kawasan Konservasi Perairan Nasional Laut Sawu dan Sekitarnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur.521.629 3. Taman Nasional Perairan Laut Sawu mencakup (1) wilayah perairan Selat Sumba dan sekitarnya dan (2) Wilayah Perairan Pulau Sabu-Rote-Timor-Batek dan sekitarnya.130 3. Pengembangan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Kelautan dan Perikanan Pengembangan SDM di bidang kelautan dan perikanan memiliki peranan strategis dalam mengelola dan memanfaatkan sumber daya kelautan dan perikanan dan dilaksanakan melalui bidang pendidikan.

pasang surut. angin dan OTEC (Ocean Thermal Energy Conversion). padang lamun. Pelatihan bagi masyarakat ditujukan untuk nelayan. serta meningkatkan citra penyuluhan. seperti sumber daya perikanan (perikanan tangkap dan budidaya). pedagang ikan dan masyarakat perikanan yang meliputi teknik penangkapan ikan. Panjang pantai Indonesia mencapai 95. pelatihan pengolahan dan mutu. Klasifikasi potensi tersebut pada umumnya dibedakan menjadi sumber daya terbaharukan (renewable resources). terumbu karang.181 km (World Resources Institute.4 juta km2. B.534 orang tersebar di 33 Provinsi. pelatihan struktural aparatur. pembudidaya ikan. Potensi dan Permasalahan 1.778 orang. Jumlah penyuluh perikanan sebanyak 4. serta pemasaran dan manajemen usaha. mendominasi total luas teritorial Indonesia sebesar 7. juga terdapat berbagai macam jasa lingkungan kelautan yang dapat 14 . Potensi tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara yang dikaruniai sumber daya kelautan yang besar termasuk kekayaan keanekaragaman hayati dan non hayati kelautan terbesar. energi gelombang. 1998) dengan luas wilayah laut 5. dan pelatihan prajabatan dengan jumlah peserta pelatihan tahun 2005-2009 mencapai 27. dan sumber daya tidak terbaharukan (non-renewable resources). Selain dua jenis sumber daya tersebut.1 juta km2. Pengembangan SDM kelautan dan perikanan melalui bidang penyuluhan diarahkan pengembangan keahlian dan keberpihakan kepada nelayan. mangrove.Pengembangan SDM kelautan dan perikanan melalui bidang pelatihan diselenggarakan dalam bentuk pelatihan bagi masyarakat (non aparatur) dan aparatur (pusat dan daerah). dan pengolah ikan. sampai dengan tahun 2009 KKP telah memberikan biaya operasional penyuluh (BOP) perikanan bagi 2. Potensi Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia karena memiliki luas laut dan jumlah pulau yang besar. seperti sumber daya minyak dan gas bumi dan berbagai jenis mineral.342 penyuluh. pembudidaya dan pengolah ikan. Sedangkan pelatihan bagi aparatur antara lain pelatihan teknis aparatur.

potensi budidaya laut sebesar US$46.7 miliar per tahun. Potensi tersebut meliputi: potensi perikanan tangkap sebesar US$15. benih ikan dan udang serta industri bahan pangan. dan mina padi di sawah. dan gobia). sungai. (5) pengelolaan pasir laut. (3) pemanfaatan air laut dalam (deep sea water). (2) pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal Tenggelam. potensi budidaya air tawar sebesar US$5. dan rawa). dan budidaya rumput laut. industri bahan pakan alami. mutiara. Selain itu juga terdapat potensi dan peluang pengembangan meliputi (1) pengembangan pulau-pulau kecil. waduk. dan potensi bioteknologi kelautan sebesar US$ 4 miliar per tahun.2 miliar per tahun. (b) budidaya laut terdiri dari budidaya ikan (antara lain kakap. (d) budidaya air tawar terdiri dari perairan umum (danau. Potensi ekonomi sumber daya kelautan dan perikanan yang berada di bawah lingkup tugas KKP dan dapat dimanfaatkan untuk mendorong pemulihan ekonomi diperkirakan sebesar US$82 miliar per tahun. dan sebagainya. (c) budidaya air payau (tambak) yang potensi lahan pengembangannya mencapai sekitar 913. serta (e) bioteknologi kelautan untuk pengembangan industri bioteknologi kelautan seperti industri bahan baku untuk makanan.000 ha. Untuk mengoptimalkan pemanfaatan potensi sumber daya kelautan dan perikanan dan menjadikan sektor ini sebagai prime mover pembangunan ekonomi nasional. (4) industri garam rakyat.9 juta ton/tahun. Peluang pengembangan usaha kelautan dan perikanan Indonesia masih memiliki prospek yang baik.1 miliar per tahun. (6) industri penunjang.1 miliar per tahun. Di samping itu terdapat potensi pengembangan untuk (a) perikanan tangkap di perairan umum seluas 54 juta hektar dengan potensi produksi 0. diperlukan upaya percepatan dan terobosan dalam pembangunan kelautan dan perikanan yang didukung dengan kebijakan politik dan ekonomi serta iklim sosial yang 15 . budidaya moluska (kekerangan. dan teripang). potensi budidaya tambak sebesar US$10 miliar per tahun. industri maritim. potensi peraian umum sebesar US$1. dan (7) keanekaragaman hayati laut. jasa angkutan. kerapu.dikembangkan untuk pembangunan kelautan seperti pariwisata bahari. kolam air tawar.

riset. Komisi Udang. Secara umum. koordinasi dan dukungan lintas sektor serta stakeholders lainnya menjadi salah satu prasyarat yang sangat penting. USA dan beberapa negara kelautan lainnya.kondusif. Produksi perikanan tangkap Indonesia sampai dengan tahun 2007 berada pada peringkat ke-3 dunia dengan tingkat produksi perikanan tangkap pada periode 2003-2007 mengalami kenaikan rata-rata produksi sebesar 1. Berdasarkan laporan FAO Year Book 2009. Kebijakan pengembangan perikanan Indonesia ke depan akan lebih didominasi oleh kegiatan 16 . sumber produksi perikanan mulai bergeser ke kegiatan budidaya perikanan. Apabila dilihat dari kontribusi sektor perikanan pada PDB nasional di negara-negara Asia-Pasifik masih didominasi perikanan tangkap. dan lain-lain. Gabungan Pengusaha Perikanan Indonesia (Gappindo). Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI). tren perikanan budidaya dunia terus mengalami kenaikan. Secara umum. terdapat pula potensi kelembagaan. Indonesia juga merupakan produsen perikanan budidaya dunia. dan sekolah perikanan. pengujian mutu dan pengolahan hasil perikanan.79%. Peru. Masyarakat Perikanan Nusantara (MPN). diharapkan di masa datang perlu terus disinergikan. Dalam kaitan ini. budidaya. saat ini Indonesia telah menjadi negara produsen perikanan dunia disamping China. Asosiasi Tuna Indonesia (Astuin). sehingga masa depan perikanan dunia akan terfokus pada pengembangan budidaya perikanan. Sampai dengan tahun 2007 posisi produksi perikanan budidaya Indonesia di dunia berada pada urutan ke-4 dengan kenaikan rata-rata produksi pertahun sejak 2003 mencapai 8. Asosiasi Tuna Longline Indonesia (ATLI). tren perikanan tangkap dunia mulai menurun seiring dengan peningkatan kegiatan perikanan tangkap dan terbatasnya daya dukung sumber daya perikanan dunia. Potensi lain adalah potensi sarana dan prasarana yang telah dimiliki.54%. Di samping adanya potensi sumberdaya kelautan dan perikanan yang besar. namun secara bertahap. LSM bidang kelautan dan perikanan. antara lain seperti peranan Komisi Tuna Indonesia. seperti unit pelaksana teknis pelabuhan perikanan. Di samping itu.

seperti sumber daya yang tidak terbaharukan. dengan adanya UU No 31 Tahun 2004 tentang Perikanan yang telah direvisi menjadi UU Nomor 45 tahun 2009 serta UU Nomor 27 tahun 2007 tentang Wilayah Pengelolaan Pesisir dan Pulau-pulau kecil. (b) National Ocean Economic Policy.perikanan budidaya. 17 . dan (c) National Ocean Governance. disparitas harga ikan. Kegiatan pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan sebagai bagian integral dari pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan perlu ditingkatkan dengan sarana dan prasarana pengawasan. maka tantangan lain yang timbul adalah maraknya kegiatan illegal fishing oleh kapal-kapal ikan asing yang diakibatkan oleh industri perikanan negara-negara tetangga harus bertahan. Kondisi ini sejalan dengan tren perkembangan perikanan dunia. utamanya yang berada di perairan umum daratan maupun perairan pantai. regulasi bidang pengawasan dan kelembagaan di tingkat daerah serta dukungan internasional yang kuat untuk menanggulangi illegal fishing dan legitimasi kegiatan pengawasan. Melihat potensi sumber daya kelautan dan perikanan yang begitu besar. Indonesia memiliki kesempatan untuk menjadi penghasil produk perikanan terbesar dunia. perairan Indonesia terbuka dan terbatasnya sarana pengawasan. Permasalahan Sumber daya ikan yang berada di perairan Indonesia baik laut maupun perairan umum cenderung mengalami degradasi dalam satu dekade terakhir ini. fishing ground negara tetangga makin habis sedangkan permintaan industri ikan dunia yang meningkat. termasuk oleh aktivitas manusia yang menimbulkan pencemaran perairan baik laut maupun tawar. Disamping itu potensi-potensi lainnya mulai perlu dikelola. Untuk itu dibutuhkan kebijakan terintegrasi dan konvergen untuk membangun ocean economic dalam 3 pilar (a) National Ocean Policy. 2. agar dapat memberikan kontribusi yang nyata bagi pembangunan. SDM pengawasan. kegiatan perikanan yang merusak (destructive fishing). karena kontribusi perikanan pada 2004-2009 terus mengalami kenaikan. Beberapa faktor yang menyebabkan penurunan kualitas sumber daya ikan terkait dengan degradasi kualitas lingkungan pesisir.

penangkapan ikan yang dilakukan secara berlebih (overfishing) yang dilakukan secara illegal baik oleh pelaku dalam negeri. Gambaran mengenai kondisi tersebut memberikan tantangan bagi Indonesia untuk kembali bertumpu pada kegiatan perikanan budidaya. racun. Peningkatan produksi perikanan budidaya ini pun tetap berada di bawah ancaman kerusakan lingkungan. Di samping itu. kapasitas dan cakupannya terus ditingkatkan. maupun oleh pihak asing yang melakukan praktik-praktik illegal di Indonesia. Oleh karena itu. Kelemahan dari penggunakan armada kecil antara lain para nelayan memiliki hari layar yang singkat (one day fishing). kualitas ikan yang kurang terjaga atau tingginya tingkat kehilangan mutu (losses). Produktivitas para nelayan Indonesia hingga saat ini masih tergolong rendah. Kondisi seperti ini. sementara upaya konservasi dan rehabilitasi lingkungan perairan laut dan perairan umum. perahu motor tempel dan kapal ikan berukuran 0. Hal ini disebabkan oleh penggunaan armada perikanan yang secara nasional masih didominasi oleh kapal berukuran kecil. semakin menyulitkan para nelayan untuk keluar dari jerat kemiskinan yang melilit dari tahun ke tahun. listrik dan obat bius). khusus di sentra-sentra usaha dan pelabuhan perikanan di daerah yang merupakan pusat kegiatan perikanan bagi para nelayan dan pemasar 18 . Kondisi penurunan sumber daya ikan ini mengakibatkan Indonesia mengalami kesulitan dalam upaya meningkatkan produksi secara nyata (significant) melalui kegiatan perikanan tangkap. seperti penggunaan metode penangkapan ikan yang merusak lingkungan (bahan peledak. kondisi lingkungan harus benarbenar menjadi perhatian dalam mengawal target produksi ikan sebagai produsen terbesar.5 sampai 3 gross tonnage (GT). penggunaan alat penangkap ikan yang tidak sesuai dengan izin dan yang tidak berizin. masalah sarana dan prasarana perlu menjadi fokus yang mesti diatasi. yang berakibat pada daya jual yang rendah. ditambah dengan keterbatasan untuk memanfaatkan dana perbankan. daya tampung ikan hasil tangkapan yang kecil. Kegiatan perikanan budidaya diprediksi mampu menaikkan produksi perikanan secara nyata. sementara biaya produksi terus meningkat. yaitu perahu tanpa motor.

Dalam kurun waktu satu dekade belakangan ini. Di sisi lain. diperlukan perbaikan kualitas sarana dan prasarana BBI. Untuk membangun sarana dan prasarana ini umumnya membutuhkan anggaran pada kisaran antara Rp20 miliar atau 60 miliar untuk PPI dan TPI. walaupun jumlahnya relatif sedikit dan umumnya terdapat di daerah-daerah yang relatif sudah maju seperti di wilayah Jawa .Bali. Namun demikian. Kondisi sarana dan prasarana pendukung produksi dan pemasaran yang kurang berfungsi optimal di lokasi-lokasi sentra usaha kelautan dan perikanan dan pelabuhan perikanan di daerah menjadi faktor 19 . dan TPI dengan kualitas yang baik dan berfungsi optimal. Pada beberapa daerah tertentu yang telah mendapat alokasi anggaran yang besar mampu membangun beberapa unit BBI. TPI dan BBI cenderung tidak dapat tuntas untuk mendukung tugas dan fungsinya secara optimal. serta antara Rp15 miliar atau 25 miliar per unit BBI. sehingga pembangunan PPI. pembangunan sarana dan prasarana produksi dan pemasaran seperti pelabuhan perikanan klas pangkalan pendaratan ikan (PPI) dan tempat pelelangan ikan (TPI) dan Balai Benih Ikan (BBI) yang berada di Kabupaten/Kota relatif membutuhkan anggaran pembangunan yang tidak sedikit. PPI. Sumatera dan Sulawesi. serta memenuhi standar sanitasi dan higienis. baik melalui DAK maupun TP rata-rata teralokasikan kurang dari Rp5 miliar. ada juga daerah yang belum secara optimal memanfaatkan sarana prasarana pengolahan dan pemasaran yang telah dibangun karena kurangnya ketersediaan SDM yang mumpuni.(pedagang) ikan. baik melalui dukungan penyediaan jenis-jenis kegiatan dana alokasi khusus (DAK) maupun dana tugas pembantuan (TP). KKP telah memfasilitasi pembangunan sarana dan prasarana pendukung produksi dan pemasaran ikan di daerah. PPI dan TPI yang jumlahnya mencapai hampir 600 BBI dan lebih dari 750 unit PPI/TPI di seluruh Kabupaten/Kota yang diikuti dengan penyiapan SDM yang handal. Sentra-sentra tersebut merupakan sarana vital untuk distribusi produk secara efisien dan penyedia stok ikan untuk konsumsi masyarakat. dan juga berperan sebagai penyedia informasi pasar. Dalam kurun 5 tahun ke depan. Dari alokasi anggaran yang tersedia pada 5 tahun terakhir.

Di sisi lain. kurangnya pemahaman pengawas mutu dan stakeholder terkait terhadap ketentuan kebijakan internasional.8 juta Km2 merupakan lahan subur bagi para pelaku penangkapan ikan secara illegal. pengolahan. Sebagai akibatnya. Korea Selatan. Uni Eropa. kecenderungan meningkatkan kegiatan penangkapan ikan secara illegal. serta rendahnya ketaatan kapal 20 . Luasnya wilayah perairan Indonesia dan ZEEI yang mencapai 5. perusakan ekosistem pesisir. Beberapa hal diantaranya terkait dengan terbatasnya sarana dan prasarana pengujian di beberapa Laboratorium Pembinaan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan (LPPMHP) dan beberapa diantaranya belum terakreditasi. Proses penerbitan health certificate masih memakan waktu lama. serta terbatasnya jumlah dan kompetensi inspektur. serta masih ditengarai adanya penyimpangan pelaksanaan pembuatan sertifikasi ekspor. pengangkatan barang muatan kapal tenggelam (BMKT) secara illegal oleh kapal ikan Indonesia maupun kapal ikan asing yang merugikan negara bila kurang pengawasan. Kondisi ini menyebabkan beberapa kasus penolakan produk perikanan oleh negara-negara tujuan ekspor. Indonesia masih menghadapi beberapa kondisi yang belum sepenuhnya dapat mendukung untuk memenuhi perysaratan yang semakin ketat itu. seperti Jepang.penghambat dalam upaya meningkatkan produksi yang tinggi. Indonesia dituntut untuk mampu menyediakan produk yang berkualitas lebih tinggi mulai dari tahap produksi (on farm). terbatasnya penerapan standar nasional Indonesia (SNI) pada UPI skala kecil dan terbatasnya surveilensi penerapan pengendalian mutu di UPI dan verifikasi penerapan sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan (quality assurance dan food safety). dan distribusi yang dibuktikan melalui proses pengujian dan sertifikasi. dan Amerika Serikat yang selama bertahun-tahun merupakan negara tujuan ekspor perikanan Indonesia. Tuntutan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia pada negara-negara maju turut mengetatkan persyaratan mutu produk ekspor hasil perikanan dari Indonesia ke negara-negara maju. KKP bersama Pemerintah Daerah terus berupaya meningkatkan mutu produk perikanan untuk memenuhi persyaratan yang semakin ketat.

dan termasuk antar instansi yang terjadi tumpang tindih kewenangan.369 kelompok masyarakat pengawasan (Pokmaswas). KKP terus melakukan penguatan dalam bidang pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan. Konflik pengelolaan sumber daya pesisir dan laut dapat terjadi antara nelayan skala besar dengan nelayan skala kecil/tradisional. Pengawasan menjadi kurang optimal utamanya karena kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan yang diikuti dengan kurang optimalnya peran serta masyarakat dalam pengawasan. Ditengarai penyebabnya antara lain. serta pulau-pulau 21 . beberapa aturan turunannya masih belum selesai secara keseluruhan. pemilik tanah. Meskipun ketersediaan sarana dan prasarana pengawasan telah bertambah. pemangku adat. pengembang pariwisata. Permasalahan lain yang muncul adalah konflik dalam pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan masih sering terjadi di era otonomi daerah dan pemekaran wilayah belakangan ini. dan kurangnya koordinasi lintas sektor serta dukungan internasional. telah pula dilengkapi sarana pengawasan untuk 1. namun masih dirasa belum optimal mengingat luasnya jangkauan pengawasan dan jumlah kapal pengawas perikanan yang ada.169 transmitter. telah memiliki 23 unit kapal pengawas untuk melakukan pengawasan terhadap ribuan kapal ikan yang melakukan kegiatan penangkapan ikan di Indonesia. Sarana pengawasan lainnya berupa pemasangan Vessel Monitoring System (VMS) pada seluruh kapal perikanan asing dan kapal perikanan Indonesia dengan ukuran di atas 100 GT dan telah terpasang 3. termasuk sosialisasi ke masyarakat. juga karena belum terpenuhinya aturan yang jelas tentang tata ruang kawasan pesisir dan laut. disamping dipicu oleh keterbatasan sumber daya ikan serta ketimpangan sosial ekonomi.perikanan dan pelaku usaha perikanan terhadap peraturan perundang-undangan. Sampai tahun 2009. Meskipun telah terbit Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. pengusaha mutiara. Di samping itu. Konflik di daerah perairan pesisir dan laut.

Nias Sumatera Utara. Lampung. resolusi konflik dan kelengkapan perangkat pertauran dan perundangan perlu menjadi perhatian dalam pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan. namun hanya dapat mengurangi dampaknya melalui upaya mitigasi bencana serta membangun sarana dan prasarana yang ramah terhadap bencana. Oleh karena itu. Bencana alam seringkali menimbulkan berbagai kerusakan mulai dari tingkat ringan hingga berat yang merusakkan sarana dan prasarana kelautan dan perikanan. Sejak peristiwa tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam tahun 2004 yang lalu. NTT dan NTB. perumahan penduduk hingga korban jiwa. Selatan Jawa. Maluku. Sulawesi. seperti gempa bumi dan tsunami. Bengkulu. Beberapa lokasi rawan bencana alam misalnya Nanggroe Aceh Darussalam. perhatian Pemerintah pada umumnya. Kejadian bencana alam hampir terjadi setiap tahun dengan lokasi yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain utamanya di wilayah-wilayah tersebut. serta mengganggu usaha mereka. Sumatera Barat. dan KKP pada khususnya mulai melakukan upaya nyata untuk mitigasi bencana alam serta memperkenalkan pembangunan sarana dan prasarana yang ramah lingkungan kepada masyarakat pesisir dan masyarakat luas. serta melakukan kerja sama lintas sektor dan kerja sama internasional. Sebagian wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Indonesia merupakan daerah rawan bencana alam. upaya mitigasi bencana alam di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. serta Papua. Ke depan. Indonesia tidak dapat menghilangkan peristiwa-peristiwa alam yang terjadi berulang tersebut. serta lokasi yang menjadi sentra-sentra pembangunan kelautan dan perikanan haruslah menjadi perhatian.kecil dapat menimbulkan dampak sosial yang negatif bagi masyarakat pesisir pada umumnya termasuk nelayan dan pembudidaya ikan. 22 .

BAB II VISI. tujuan. misi. Munculnya kesadaran untuk menjadikan pembangunan berbasis sumber daya kelautan dan perikanan sebagai motor penggerak pembangunan nasional. Namun demikian. dan sasaran strategis pembangunan kelautan dan perikanan tahun 2010-2014 ditetapkan sebagai berikut : A. . sebagaimana terimplementasi dalam UndangUndang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional yang salah satu misinya menyatakan: Mewujudkan Indonesia menjadi negara kepulauan yang mandiri. mengelola wilayah laut nasional untuk mempertahankan kedaulatan dan kemakmuran. dan berbasiskan kepentingan nasional. visi. MISI. maju. Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mewujudkan misi tersebut adalah dengan menumbuhkan wawasan bahari bagi masyarakat dan pemerintah agar pembangunan Indonesia berorientasi kelautan. dan membangun ekonomi kelautan secara terpadu dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber kekayaan laut secara berkelanjutan. Sehubungan dengan hal tersebut. sesuai dengan fungsi pembangunan kelautan dan perikanan di bidang sumber daya alam dan lingkungan hidup yang dilaksanakan oleh KKP diarahkan untuk mengoptimalkan segenap potensi yang ada dalam rangka mewujudkan visi dan misi pembangunan nasional tersebut. perubahan tatanan global serta nasional yang berkembang dinamis menuntut percepatan pembangunan kelautan dan perikanan nasional secara nyata untuk mampu menyesuaikan dan memenuhi tantangan lingkungan strategis yang bergerak cepat tersebut. Visi Visi pembangunan kelautan dan perikanan tahun 2010-2014 adalah Indonesia Penghasil Produk Kelautan dan Perikanan Terbesar 2015. DAN SASARAN STRATEGIS Pembangunan kelautan dan perikanan yang telah dilaksanakan selama ini telah membawa hasil yang cukup menggembirakan. meningkatkan kapasitas sumber daya manusia yang berwawasan kelautan melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kelautan. Oleh karena itu. kuat. TUJUAN. tercermin dalam keputusan politik nasional.

Sumber daya kelautan dan perikanan dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan. 3. Misi Untuk mewujudkan visi pembangunan kelautan dan perikanan tersebut.B. Memperkuat kelembagaan dan sumber daya manusia secara terintegrasi. b. maka misi yang diemban adalah Mensejahterakan Masyarakat Kelautan dan Perikanan. Indonesia bebas Illegal. c. Seluruh perencanaan. pelaksanaan. Memperluas akses pasar domestik dan internasional. pengendalian dan pelaporan terintegrasi. Meningkatkan produktivitas dan daya saing berbasis pengetahuan. 2. Peraturan perundang-undangan di bidang kelautan dan perikanan sesuai kebutuhan nasional dan tantangan global serta diimplementasikan secara sinergis lintas sektor. Tujuan Tujuan pembangunan kelautan dan perikanan tahun 2010-2014 adalah: 1. Unreported & Unregulated (IUU) Fishing serta kegiatan yang merusak sumber daya kelautan dan perikanan. Sasaran Strategis Sasaran strategis pembangunan kelautan dan perikanan tahun 2010-2014 berdasarkan tujuan yang akan dicapai adalah: 1. Mengelola Sumber Daya Kelautan dan Perikanan secara Berkelanjutan: a. 2. d. Konservasi kawasan dan jenis biota perairan yang dilindungi dikelola secara berkelanjutan. akuntabel dan tepat waktu berdasarkan data yang terkini dan akurat. Mengelola sumber daya kelautan dan perikanan secara berkelanjutan. 24 . C. b. Memperkuat Kelembagaan dan SDM secara Terintegrasi: a. Pulau–pulau kecil dikembangkan menjadi pulau bernilai ekonomi tinggi. 4. c. pusat dan daerah. D. SDM kelautan dan perikanan memiliki kompetensi sesuai kebutuhan.

Meningkatkan Produktivitas dan Daya Saing Berbasis Pengetahuan: a. b. Sarana dan prasarana kelautan dan perikanan mampu memenuhi kebutuhan serta diproduksi dalam negeri dan dibangun secara terintegrasi. Memperluas Akses Pasar Domestik dan Internasional: a. 4. Seluruh kawasan potensi perikanan menjadi kawasan Minapolitan dengan usaha yang bankable. Indonesia menjadi market leader dunia dan tujuan utama investasi di bidang kelautan dan perikanan. c. Seluruh desa memiliki pasar yang mampu memfasilitasi penjualan hasil perikanan. b. 25 . Seluruh sentra produksi kelautan dan perikanan memiliki komoditas unggulan yang menerapkan teknologi inovatif dengan kemasan dan mutu terjamin.3.

Agenda V : Pembangunan yang Inklusif dan Berkeadilan . wisata bahari.Agenda I : Pembangunan Ekonomi dan Peningkatan Kesejahteraan Rakyat .BAB III ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI A.Agenda II : Perbaikan Tata Kelola Pemerintahan . energi dan sumber daya mineral yang dikembangkan secara sinergi. industri maritim. Arah Kebijakan dan Strategi Nasional Tujuan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 diarahkan untuk lebih memantapkan penataan kembali Indonesia di segala bidang dengan menekankan pada upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia termasuk pengembangan kemampuan iptek serta penguatan daya saing perekonomian. Terkait dengan penguatan daya saing perekonomian tersebut. ditetapkan lima agenda utama pembangunan nasional tahun 2009-2014.Agenda IV : Penegakkan Hukum dan Pemberantasan Korupsi . diantaranya ditempuh melalui peningkatan pembangunan kelautan dan sumber daya alam lainnya sesuai dengan potensi daerah secara terpadu serta meningkatnya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pembangunan kelautan meliputi industri kelautan seperti perhubungan laut.Agenda III : Penegakan Pilar Demokrasi . optimal. dan berkelanjutan. perikanan. Kerangka Visi dan Misi Indonesia 2014 adalah: Terwujudnya Indonesia yang Sejahtera Demokratis dan Berkeadilan Misi 1 : Melanjutkan Pembangunan Menuju Indonesia yang Sejahtera Misi 2 : Memperkuat Pilar-Pilar Demokrasi Misi 3 : Memperkuat Dimensi Keadilan di Semua Bidang Dalam mewujudkan visi dan misi pembangunan nasional 2009-2014. Kerangka pencapaian tujuan RPJMN II tersebut dirumuskan lebih lanjut dalam Rencana Strategis Kementerian Kelautan dan Perikanan Tahun 2010-2014 (Renstra KKP) yang merupakan penjabaran dari Visi dan Misi Presiden Republik Indonesia. yaitu: .

terdepan. 27 . Dalam prioritas nasional tersebut. Peningkatan ketahanan pangan dan lanjutan revitalisasi pertanian untuk mewujudkan kemandirian pangan. Konservasi dan pemanfaatan lingkungan hidup mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan yang keberlanjutan. penuh integritas. dan data kependudukan yang baik. peningkatan daya saing produk pertanian. kapasitas pegawai pemerintah yang memadai. (8) energi. (2) pendidikan. akuntabel. dan inovasi teknologi. maka perumusan dan penjabaran operasionalnya dituangkan dalam 11 prioritas nasional yakni: (1) reformasi birokrasi dan tata kelola. taat kepada hukum yang berwibawa. dan transparan. Prioritas 4: Penanggulangan Kemiskinan. (10) daerah tertinggal. (6) infrastruktur.Terkait dengan visi. Peningkatan pertumbuhan PDB sektor pertanian sebesar 3.1% pada 2009 menjadi 810% pada 2014 dan perbaikan distribusi pendapatan dengan pelindungan sosial yang berbasis keluarga. Prioritas 5: Ketahanan Pangan. misi dan agenda utama pembangunan nasional tersebut. (3) kesehatan. (4) penanggulangan kemiskinan.7% per tahun dan Indeks Nilai Tukar Petani sebesar 115-120 pada 2014. peningkatan pendapatan petani. serta kelestarian lingkungan dan sumber daya alam. dan paskakonflik. (5) ketahanan pangan. (7) iklim investasi dan usaha. serta (11) kebudayaan. kreativitas. 4. Prioritas 1: Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola. 2. terluar. pemberdayaan masyarakat dan perluasan kesempatan ekonomi masyarakat yang berpendapatan rendah. 3. (9) lingkungan hidup dan bencana. Pemantapan tata kelola pemerintahan yang lebih baik melalui terobosan kinerja secara terpadu. Peningkatan kualitas pelayanan publik yang ditopang oleh efisiensi struktur pemerintah di pusat dan di daerah. Prioritas 9: Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Bencana. Penurunan tingkat kemiskinan absolut dari 14. disertai penguasaan dan pengelolaan risiko bencana untuk mengantisipasi perubahan iklim. pembangunan kelautan dan perikanan tahun 2010-2014 yang terkait dengan 5 prioritas nasional sebagai berikut : 1.

Prioritas ke-1: Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola Pemerintahan.5. terutama di perdesaan dan pesisir. Pelaksanaan dari kebijakan ini memberikan hasil terhadap meningkatnya peran SDA dan LH dalam perkembangan perekonomian nasional. Sesuai dengan fungsinya tersebut. Arah Kebijakan dan Strategi Kementerian Kelautan dan Perikanan Arah kebijakan dan strategi Kementerian Kelautan dan Perikanan diimplementasikan dalam keterkaitannya dengan 5 prioritas nasional yang dirumuskan secara umum sebagai berikut: 1. yakni Pengarusutamaan Pembangunan Berkelanjutan. Lingkup pembangunan bidang SDA dan LH meliputi (1) revitalisasi pertanian. Terdepan. SDA-LH sangat penting dalam pembangunan nasional. sektor-sektor yang berbasis SDA dan LH juga menjadi tumpuan utama bagi sebagian besar tenaga kerja. Pembangunan kelautan dan perikanan berada dalam lingkup Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup (SDA-LH). Terluar. 28 . B. dan (2) perbaikan pengelolaan SDA dan perbaikan fungsi LH. SDA-LH perlu dikelola dengan bijaksana agar pembangunan serta keberlangsungan kehidupan manusia dapat terjaga dan lestari saat ini dan di masa yang akan datang. Prioritas 10: Daerah Tertinggal. yang akan dilaksanakan antara lain melalui peningkatan kinerja kementerian dalam pelayanan publik. terluar. Kementerian Kelautan dan Perikanan terkait dengan Pengarusutamaan dan Lintas Bidang. Lintas Bidang Perubahan Iklim Global dan Lintas Bidang Pembangunan Kelautan Berdimensi Kepulauan. baik sebagai penyedia bahan baku bagi pembangunan ekonomi maupun sebagai pendukung sistem kehidupan. Program aksi untuk daerah tertinggal. dan pascakonflik ditujukan untuk pengutamaan dan penjaminan pertumbuhan di daerah tertinggal. terdepan. Selain itu. dan Pasca-Konflik. terluar serta keberlangsungan kehidupan damai di wilayah pascakonflik. terdepan. Hal ini dicerminkan dengan semakin meningkatnya kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB) dari sektor-sektor yang berbasis SDA dan LH terhadap pembentukan PDB nasional selama periode tersebut. Di samping 5 (lima) Prioritas Nasional.

pesisir dan pulau-pulau kecil dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan yang keberlanjutan.5% pada tahun 2014 dan Indeks Nilai Tukar Nelayan/Pembudidaya sebesar 115 pada tahun 2014. peningkatan pendapatan nelayan. dan pengembangan SDM dan riset tentang perubahan iklim dan mitigasi bencana di wilayah pesisir dan laut. peningkatan daya saing produk perikanan. 5. Prioritas ke-10: Pembangunan Daerah Tertinggal. 3.pengelolaan keuangan negara menuju opini Wajar Tanpa Pengecualian. yang akan dilaksanakan melalui konservasi dan pemanfaatan lingkungan laut. pengolah dan pemasar. yang dilakukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah tertinggal dan terdepan. dan stabilisasi harga ikan. dan pemangkasan red tape yang terkait bidang kelautan dan perikanan. yang dalam implementasinya akan dilaksanakan untuk memberikan konstribusi dalam menurunkan tingkat kemiskinan absolut nasional dari 14. Prioritas ke-4: Penanggulangan Kemiskinan. pengembangan lembaga pembiayaan kelautan dan perikanan. pengembangan kawasan minapolitan. Prioritas ke-9: Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana. Peningkatan konstribusi PDB perikanan tanpa migas menjadi 6. 2. serta keberlangsungan kehidupan damai di wilayah pasca-konflik yang akan diimplementasikan melalui 29 . 4. serta kelestarian lingkungan dan sumber daya alam. yang akan dilaksanakan untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional dan melanjutkan revitalisasi perikanan dalam mewujudkan kemandirian pangan. penataan organisasi. pembudidaya ikan. disertai penguasaan dan pengelolaan risiko bencana melalui melalui pengembangan kawasan konservasi laut dan perairan. melalui peningkatan produksi hasil perikanan. peningkatan konsumsi ikan. Terdepan. pemberdayaan masyarakat dan perluasan kesempatan ekonomi masyarakat yang berpendapatan rendah. pembudidaya ikan.1% pada 2009 menjadi 8-10% pada 2014. khususnya nelayan. peningkatan kapasitas skala usaha dan kewirausahaan menjadi usaha yang bankable. Prioritas ke-5: Ketahanan Pangan. dan Pasca Konflik. pengolah dan pemasar melalui perluasan jangkauan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM) Kelautan dan Perikanan.

melalui berbagai dukungan pengembangan infrastruktur. dan dampak ekonomi melalui peningkatan kesejahteraan. 30 . Pro poor Pendekatan Pro-poor dilakukan melalui pemberdayaan sosial ekonomi masyarakat pelaku usaha kelautan dan perikanan. partisipasi masyarakat marjinal/minoritas (kaum miskin dan perempuan). Terkait dengan pengarusutamaan dan lintas bidang. dari pelaku ekonomi subsisten menjadi pelaku usaha modern. Pro growth Pendekatan pro-growth dilakukan untuk mewujudkan pertumbuhan sektor kelutan dan perikanan sebagai pilar ketahanan ekonomi nasional melalui transformasi pelaku ekonomi kelautan dan perikanan. (2) sosial. Usaha membuka lapangan kerja diiringi dengan dukungan pengembangan modal dan kepastian berusaha. serta tatanan atau nilai sosial yang berkembang di masyarakat. dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan konstribusi kelautan dan perikanan pada PDB nasional. dampak terhadap kualitas air. Arah kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam mendukung kebijakan nasional dalam 5 tahun ke depan tersebut adalah : 1.pengelolaan/pemberdayaan pulau-pulau terluar dan pengembangan ekonomi alternatif berbasis sumber daya perikanan. tingkat partisipasi masyarakat pelaku pembangunan. dampak terhadap struktur sosial masyarakat. udara dan lahan serta ekosistem dan keanekaragaman hayati. yakni: (1) ekonomi. dan (3) lingkungan hidup. industrialisasi dan modernisasi. 2. 3. Pro job Pendekatan Pro-job dilakukan melalui optimalisasi potensi perikanan budidaya yang belum tergarap untuk menurunkan tingkat pengangguran nasional. pembangunan kelautan dan perikanan akan mendukung 3 pilar pembangunan berkelanjutan.

Adapun sasaran pengembangan minapolitan adalah sebagai berikut (i) ekonomi rumah tangga masyarakat kelautan dan perikanan skala kecil makin kuat.4. produktivitas usaha. pesisir. (ii) meningkatkan pendapatan nelayan. pengolahan dan pemasaran hasil dan pengelolaan lingkungan dalam suatu kesisteman yang mapan. meningkatkan efisiensi dalam penggunaan sumber daya. Pengembangan Minapolitan Minapolitan merupakan upaya percepatan pengembangan pembangunan kelautan dan perikanan di sentra-sentra produksi perikanan yang memiliki potensi untuk dikembangkan dalam rangka mendukung visi dan misi Kementerian Kelautan dan Perikanan. proses produksi. Pengembangan minapolitan bertujuan untuk (i) meningkatkan produksi perikanan. pembudidaya dan pengolah ikan yang adil dan merata. (ii) usaha kelautan dan perikanan kelas menengah ke atas makin bertambah dan berdaya saing tinggi. dan meningkatkan kualitas produk kelautan dan perikanan. serta mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. dan pulau-pulau kecil. serta (iii) sektor kelautan dan perikanan menjadi penggerak ekonomi nasional. Strategi yang dilakukan untuk melaksanakan keempat arah kebijakan di atas dilakukan melalui: 1. Ekonomi Kelautan dan Perikanan Berbasis Wilayah Mendorong penerapan manajemen hamparan untuk mencapai skala ekonomi. Pro sustainability Pendekatan pro-sustainability dilakukan melalui upaya pemulihan dan pelestarian lingkungan perairan. serta (iii) mengembangkan kawasan minapolitan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di daerah dan sentra-sentra produksi perikanan sebagai penggerak ekonomi rakyat. mencegah penyebaran penyakit. 31 . sekaligus mengintegrasikan pemenuhan kebutuhan sarana produksi. Pendekatan pengembangan minapolitan dilakukan melalui: a.

dan BBM. d. Langkah-langkah yang akan ditempuh mengembangkan Minapolitan antara lain: dalam a. Pembangunan sarana dan prasarana perikanan seperti (i) pengembangan pelabuhan perikanan dengan prioritas di lingkar luar (outer ring fishing port) Indonesia di 25 lokasi. f.100 unit. Penyuluhan Penguatan kelembagaan dan pengembangan jumlah penyuluh merupakan salah satu syarat mutlak keberhasilan pengembangan minapolitan. Lintas Sektor Minapolitan dikembangkan dengan dukungan dan kerjasama berbagai instansi terkait untuk mendukung kepastian usaha antara lain terkait dengan sarana dan prasarana pemasara produk perikanan. listrik. Penyuluh akan berperan sebagai fasilitator dan pendamping penerapan teknologi penangkapan dan budidaya ikan serta pengolahan hasil perikanan. dan (iv) dapat dikembangkan secara massal. c. tata ruang wilayah.b. akses jalan. Seluruh sentra produksi kelautan dan perikanan menerapkan teknologi inovatif dengan kemasan dan mutu terjamin. e. Sentra Produksi Minapolitan berada dalam kawasan pemasok hasil perikanan (sentra produksi perikanan) yang dapat memberikan kontribusi yang besar terhadap mata pencaharian dan kesejahteraan masyarakatnya. (ii) pengembangan kapal dan alat penangkapan ikan sebesar 5. Unit Usaha Seluruh unit usaha dilakukan dengan menggunakan prinsip bisnis secara profesional dan berkembang dalam suatu kemitraan usaha yang saling memperkuat dan menghidupi. Kawasan Ekonomi Unggulan Memacu pengembangan komoditas yang memiliki criteria (i) bernilai ekonomis tinggi. (iii) pengembangan kawasan budidaya di 541 kawasan yang terdiri dari 145 kawasan 32 . (iii) permintaan pasar besar. penyediaan air bersih. (ii) teknologi tersedia.

pengolah dan pemasar ikan. Strategi 33 . Kecil dan Menengah (UMKM) berpotensi ekspor sebanyak 250 UKM berpotensi ekspor sampai dengan tahun 2014.388 Usaha Mikro.5 triliun. khususnya di pulau-pulau kecil terluar Peningkatan kapasitas skala usaha dan kewirausahaan mencapai: (i) usaha di perikanan tangkap mencakup 2.7 miliar ekor benih.b. d. e. Mendorong peningkatan nilai investasi perikanan mencapai Rp7. baik yang diperoleh melalui kredit maupun melalui program-program pembinaan yang dilakukan oleh pemerintah.000 Kelompok Usaha Bersama (KUB). Perluasan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Kelautan dan Perikanan yang mampu menjangkau 2 juta usaha kecil dan menengah di 300 kabupaten/kota. Pengembangan ekspor melalui pembinaan Usaha Mikro. c. Pengembangan lembaga pembiayaan kelautan dan perikanan yang mampu menyalurkan dana pembiayaan sebesar Rp50 miliar per tahun sampai dengan tahun 2014 melalui program KKMB (Konsultan Keuangan Mitra Bank) Pembangunan prasarana pulau-pulau kecil di 100 pulau. (iv) memenuhi seluruh kebutuhan benih ikan yang mencapai sekitar 69. (ii) usaha di perikanan budidaya mencakup 3. Jiwa entrepreneurship para pelaku tersebut dibangun agar para pelaku dapat memanfaatkan fasilitas guna memperlancar pengelolaan usaha. 238 kawasan budidaya perikanan tawar dan 158 kawasan budidaya perikanan laut. Entreprenuership Pengembangan kewirausahaan dan peningkatan skala usaha (entrepreneurship) dilaksanakan melalui upaya membangun kepercayaan (trust building) bagi para pelaku. f. klaster/minapolitan industri hasil perikanan dan pasar ikan) di 33 provinsi. budidaya perikanan payau. yakni nelayan. g.860 Unit Pengolahan Ikan (UPI) 2. Kecil dan Menengah (UMKM). pembudidaya ikan. (v) Pengembangan sarana dan prasarana pengolahan dan pemasaran hasil perikanan (seperti. serta (iii) usaha di pengolahan dan pemasaran: 3. sentra pengolahan. pengembangan sistem rantai dingin (cold chain system).

Melalui penciptaan dan penguatan networking. Pengembangan kewirausahaan dilakukan dalam rangka penciptaan usaha di sektor kelautan dan perikanan bagi sarjana yang masih menganggur. penangkapan. jaring. baik secara internal antar eselon I di lingkup KKP. multilateral. pengairan dan lain-lainnya. dan pengolahan. BBM. institusi. benih. kerjasama internasional (bilateral.entrepreneurship akan memenuhi kebutuhan nelayan dan pembudidaya serta pemasar dan pengolah dalam berproduksi seperti kapal. swasta maupun dari pemerintah melalui dana APBN. BUMN. antara pusatdaerah. Keadaan tersebut akan berpengaruh pada hasil kerja yang kurang optimal dalam pembangunan kelautan dan perikanan. Kegiatan yang dilakukan adalah pembekalan dan motivasi dilanjutkan dengan pelatihan/magang mengenai budidaya perikanan. Namun demikian setiap pelaku pembangunan kelautan dan perikanan bekerja sendiri-sendiri. Dalam rangka meningkatkan kapasitas pemuda. pengolahan dan pemasaran serta pembuatan proposal. Melalui kegiatan ini diharapkan peserta dapat memperoleh bantuan permodalan baik dari lembaga keuangan. antar daerah. serta pemerintah mengupayakan kepastian pasar bagi penjualan produk perikanan dengan harga yang pantas. komunitas bisnis. antar instansi/lintas sektor. penangkapan. Networking Setiap indvidu. dan setiap wilayah punya potensi masing-masing yang sangat besar di samping juga masing-masing memiliki kekurangan atau kelemahan. Sampai saat ini masih ada pemangku kepentingan pembangunan kelautan dan perikanan yang belum terhimpun dalam suatu bentuk jaringan kerja bahkan masih terlihat indikasi bahwa masing-masing masih mengutamakan identitas diri. Kementerian Kelautan dan Perikanan akan mengoptimalkan hasil pembangunan kelautan dan perikanan dengan menfasilitasi pengembangan jejaring kerja. KKP memiliki UPT yang dapat digunakan sebagai tempat pelatihan teknis/magang budidaya perikanan. 3. dan regional). 34 .

penguatan lembaga keuangan mikro. Pemberdayaan masyarakat ini dalam jangka panjang diarahkan untuk (i) peningkatan kemandirian masyarakat melalui pengembangan kegiatan ekonomi. penguatan modal dan pengutan kelembagaan masyarakat.Melalui pembentukan jejaring kerja akan terbina interaksi yang baik. terpadu dan menyeluruh. 35 . 4. sehingga terjalin suatu kesatuan yang lebih besar dan kuat untuk mengembangkan potensi yang dimiliki dan mengeliminir kekurangan dan kelemahan yang dimiliki. eksploitasi. Kegiatan penelitian dan pengembangan dilakukan untuk menemukan teknologi-teknologi baru dalam rangka meningkatkan optimasi pemanfaatan sumber daya ikan secara lestari dan bertanggung jawab. penangkapan. Pada prinsipnya. pemberdayaan masyarakat adalah upaya untuk memberi fasilitas. dan kegiatan usaha ekonomi produktif yang berbasis sumber daya lokal. maka dibutuhkan pemberdayaan mayarakat. antara berbagai pemangku kepentingan dan instansi pemerintah. Technology and Innovation KKP akan dapat mencapai sasaran yang telah ditetapkan hanya jika dapat menguasai teknologi perikanan untuk sistem akuakultur. Secara umum. secara langsung dan tidak langsung. 5. peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dalam rangka mengurangi beban dan dan memenuhi hak dasar masyarakat secara layak untuk menempuh dan mengembangkan kehidupan bermartabat. serta teknologi kelautan untuk eksplorasi. partisipasi mayarakat. Empowering Kemiskinan merupakan permasalahan bangsa yang mendesak dan memerlukan lngkah-langkah penanganan dan pendekatan yang sistematis. konservasi dan pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut serta adaptasi perubahan iklim. penggalangan partisipasi masyarakat. dorongan atau bantuan kepada masyarakat agar mampu menentukan pilihan yang terbaik dalam memanfaatkan sumber daya kelautan dan perikanan menuju kemandirian dan kesejahteraan. pengolahan dan pasca panen. pemberdayaan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan kultur.

(iii) meningkatkan kapasitas aparatur sebagai pengelola di wilayahnya. pelaksanaan dan pelaporan di tingkat desa serta melakukan sosialisasi. pesisir dan pulau-pulau kecil. 6. penangkapan ikan. pengolahan. serta (vii) menerapkan upaya pemberdayaan secara konsisten dn berkelanjutan dengan pola bottom up sehigga jenis kegiatan yang dilaksanakan merupakan aspirasi kelompok masyarakat di wilayahnya. (iv) memperbaiki kualitas masyarakat dalam memahami kebutuhan dan potensinya serta memecahkan permasalahan yang dihadapi terkait dengan peningkatan kapasitas usaha. (iii) pengembangan kemitraan dengan lembaga swasta dan pemerintah. pengolahan dan pemasaran ikan. penangkapan ikan. pengawasan sumber daya ikan. pengelolaan sumber daya kelautan. pemasaran dan kelompok pengawasan akan memberikan keuntungan bagi anggota kelompoknya. (v) memanfaatkan secara optimal kelompok masyarakat kelautan dan perikanan yang telah dibentuk oleh berbagai program sebelumnya atau membentuk kelompok masyarakat baru. Melalui kelompok akan terjadi interaksi antar anggota untuk saling tukar pengalaman dan menumbuhkan kesadaran bersama untuk menguatkan 36 . (vi) mengoptimalkan peran tenaga pendamping sebagai fasilitator sekaligus motivator dalam proses perencanaan partisipatif. Dalam rangka pemberdayaan masyarakat ini akan dilakukan (i) identifikasi dan kajian seluruh potensi dan permasalahan wilayah dan sumber daya kelautan dan perikanan yang ada dalam rangka menyusun perencanaan pengelolaannya berbasis desa (ii) melibatkan secara aktif pemangku kepentingan terkait dengan upaya pemberdayaan baik yang berasal dari pemerintah pusat dan daerah maupun masyarakat. serta peningkatan kapasita sumber daya manusia. Pemberdayaan masyarakat merupakan perwujudan komitmen KKP dalam rangka percepatan penanggulangan kemiskinan melalui kegiatan antara lain pembudidayaan ikan. Penguatan Kelembagaan Kelompok Masyarakat Keberadaan kelompok masyarakat di bidang budidaya.(ii) peningkatan kemampuan masyarakat untuk mengelola dan memanfaatkan sumber daya secara optimal dan berkelanjutan sesuai dengan kaidah kelestarian lingkungan.

Pembentukan atau penguatan kelompok secara modern dapat memanfaatkan akses ekonomi. maka konstribusi pembangunan kelautan dan perikanan adalah sebagai berikut: 1. Berbagai kelompok tercakup dalam Pokdakan (kelompok pembudidaya ikan).0% pada tahun 2010 menjadi 6. serta kemudahan dalam pembinaan.posisi tawar. sedangkan kelompok-kelompok baru akan ditumbuhkan. Terkait dengan kebijakan tersebut. Perikanan dan Kehutanan Untuk mendukung peningkatan katahanan pangan dan revitalisasi pertanian. yakni (i) Peningkatan Ketahanan Pangan dan Revitalisasi Pertanian. serta (ii) Peningkatan Pengelolaan Sumber Daya Kelautan. termasuk ketersediaan ikan untuk konsumsi masyarakat dari 30. dan diarahkan pada pencapaian dua prioritas bidang. dan peningkatan Nilai Tukar Nelayan/Pembudidaya Ikan dari 105 pada tahun 2010 menjadi 1115 pada tahun 2014. penyampaian informasi. dan Pokmas (Kelompok Mayarakat) pengelola terumbu karang.76 juta ton pada tahun 2010 menjadi 22. sosial dan budaya bagi peningkatan ketahanan sosial dan kesejahteraan masyarakat. 37 . Kelompokkelompok yang sudah terbentuk akan terus diupayakan keberadaannya dan ditingkatkan kapasitasnya. politik. Perikanan dan Kehutanan. dan diseminasi teknologi. dengan sasaran produksi perikanan dari 10.5% pada tahun 2014. Pokmaswas (Kelompok Masyarakat Pengawas). Peningkatan Ketahanan Pangan dan Revitalisasi Pertanian.39 juta ton pada tahun 2014.67 kg/kapita/tahun pada tahun 2014. pembangunan kelautan dan perikanan dalam 5 tahun ke depan menjadi bagian dari pembangunan bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup. KUB (Kelompok Usaha Bersama) penangkapan ikan. meningkatnya nilai ekspor hasil perikanan dari USD 2. Untuk mendukung prioritas bidang tersebut.0 miliar pada tahun 2014. Disamping itu. perikanan dan kehutanan.9 miliar pada tahun 2010 menjadi USD 5. KKP akan mendorong peningkatan kontribusi PDB Perikanan terhadap PDB Nasional tanpa migas dari 3.47 kg/kapita/tahun pada tahun 2010 menjadi 38. maka KKP akan meningkatnya ketersediaan bahan pangan dalam negeri.

(2) peningkatan pemenuhan kebutuhan konsumsi pangan. mewujudkan pengelolaan pulau-pulau kecil termasuk pulau kecil terluar sebanyak 200 pulau pada tahun 2014. 2. daya saing. Berdasarkan target Prioritas Nasional dan Prioritas Bidang SDA-LH serta arah kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan pada maka tahun 2010 . dan meningkatkan riset dan iptek kelautan. Unreported & Unregulated (IUU) Fishing serta kegiatan yang merusak sumberdaya kelautan dan perikanan dari 34% pada tahun 2010 menjadi 89% pada tahun 2014. dan pemasaran produk perikanan.5 juta ha pada tahun 2010 menjadi 15 juta ha pada tahun 2014. mewujudkan upaya rehabilitasi dan konservasi laut dan perairan dari 13.2014 Indikator Kinerja Utama (IKU) pembangunan kelautan dan perikanan yang akan dicapai sebagaimana tersebut pada tabel 11 berikut: 38 .Fokus prioritas yang terkait adalah (1) peningkatan produksi dan produktivitas untuk menjamin ketersediaan pangan dan bahan baku industri dari dalam negeri. (3) peningkatan nilai tambah. dan (3) peningkatan kapasitas masyarakat perikanan. mewujudkan kerjasama internasional dan antar daerah. Peningkatan Pengelolaan Sumber Daya Kelautan Konstribusi Kementeri Kelautan dan Perikanan dalam peningkatan pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan adalah wilayah periaran Indonesia yang bebas Illegal.

64 449 107 4.41 20.39 454 110 5.85 3.44 9. 1.5 14.5 18.Tabel 11.76 5. Indikator Kinerja Utama (IKU) No.9 0.38 5.67 464 115 21.5 12.6 32.9 0. 3. A.9 0.89 5.17 459 112 6. akan diimplementasikan ke dalam program dan kegiatan tahun 2010-2014 sebagai berikut : 1.9 dan perairan (juta ha)** 2.26 5.50 16. Program Pengembangan dan Pengelolaan Perikanan Tangkap Tujuan program adalah meningkatkan produktivitas perikanan tangkap dengan sasaran peningkatan hasil tangkapan dalam setiap upaya 39 .02 4.16 0.29 1.0 38. Luas kawasan konservasi laut 0.10 2. Rincian 2010 FUNGSI EKONOMI Kontribusi PDB Perikanan terhadap PDB Nasional tanpa migas (%) Produksi Perikanan (juta ton)  Perikanan Tangkap  Perikanan Budidaya Nilai Ekspor Hasil Perikanan (USD miliar) Konsumsi Ikan (kg/kap/th) Jumlah Unit Pengolahan Ikan (unit)* Nilai Tukar Nelayan/ Pembudidaya Ikan FUNGSI LINGKUNGAN HIDUP 2011 Sasaran 2012 2013 2014 Rata-rata Kenaikan (%/thn) 3. 1. 4.30 2.67 6.5 22.55 33.38 2.9 30. B.41 6. 5. 6.49 5.9 0.0 10.86 5.42 3. Persentase wilayah pengelolaan perikanan bebas 62% 75% 82% 91% 100% 12.2 31.19 14.1 33.79 IUU fishing (%) Keterangan : *) Jumlah Unit Pengolah Ikan (UPI) yang menjadi target sasaran pada tahun bersangkutan **) Luas target kawasan konservasi laut dan perairan pada tahun bersangkutan ***) Jumlah pulau-pulau kecil termasuk pulau kecil terluar yang menjadi target pengelolaan pada tahun bersangkutan Arah kebijakan dan strategi Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2010-2014 yang telah diuraikan tersebut.39 5.47 13.47 444 105 3. Jumlah pulau–pulau kecil termasuk pulau kecil terluar 20 55 60 50 20 yang dikelola (pulau)*** 3.

Unit kerja penanggungjawab program adalah Ditjen PB. Pengembangan Sistem Prasarana dan Sarana Pembudidayaan Ikan d. Pengembangan Sistem Produksi Pembudidayaan Ikan b. 2. Pengembangan Sistem Usaha Pembudidayaan Ikan e. Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (Ditjen PT). Pengembangan Sistem Kesehatan Ikan dan Lingkungan Pembudidayaan Ikan f. Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut. 40 . Pembangunan. dan Berkelanjutan c. Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (Ditjen PB). Pembinaan dan Pengembangan Kapal Perikanan. Pelayanan Usaha Perikanan Tangkap yang Efisien. Alat Penangkap Ikan. dengan sasaran program peningkatan produksi perikanan budidaya (volume dan nilai). Pengawalan dan Penerapan Teknologi Terapan Adaptif Perikanan Budidaya g. dan Pengelolaan Pelabuhan Perikanan f. Pengelolaan Sumberdaya Ikan b. Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut. kegiatan yang akan dilaksanakan adalah: a. kegiatan yang akan dilaksanakan adalah: a. dan Pengawakan Kapal Perikanan e. Pengembangan Sistem Perbenihan Ikan c.tangkap. Program Peningkatan Produksi Perikanan Budidaya Tujuan program adalah meningkatnya produksi perikanan budidaya. Pengembangan Usaha Penangkapan Ikan dan Pemberdayaan Nelayan Skala Kecil d. Unit kerja penanggungjawab program adalah Ditjen PT. Tertib. Pengembangan.

nilai tambah produk perikanan. Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Tujuan program adalah mewujudkan tertatanya dan dimanfaatkannya wilayah laut. Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut. investasi. pesisir dan pulaupulau kecil secara lestari. Fasilitasi Pengembangan Usaha Industri Pengolahan Hasil Perikanan b. Fasilitasi Pengembangan Usaha Industri Pengolahan Hasil Perikanan g. Pendayagunaan Pulau-Pulau Kecil 41 . Fasilitasi Penguatan dan Pengembangan Pemasaran Dalam Negeri Hasil Perikanan d. kegiatan yang akan dilaksanakan adalah: a. dengan sasaran peningkatan volume dan nilai ekspor hasil perikanan serta peningkatan volume produk olahan.3. pesisir dan pulau-pulau kecil. serta distribusi dan akses pemasaran hasil perikanan. Unit kerja penanggungjawab program adalah Ditjen P2HP. Fasilitasi Pembinaan dan Pengembangan Sistem Usaha Perikanan f. Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut. Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (Ditjen P2HP). Fasilitasi Pengembangan Jaminan Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan c. Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil b. Fasilitasi Penguatan dan Pengembangan Pemasaran Luar Negeri Hasil Perikanan e. dengan sasaran peningkatan persentase pendayagunaan sumber daya laut. 4. Pendayagunaan Pesisir dan Lautan c. Program Pengelolaan Sumber Daya Laut. kegiatan yang akan dilaksanakan adalah: a. Program Peningkatan Daya Saing Produk Perikanan Tujuan program adalah meningkatnya jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan. Penataan Ruang dan Perencanaan Pengelolaan Wilayah Laut.

Penyelesaian Tindak Pidana Kelautan dan Perikanan f. Unit kerja penanggung jawab program adalah Ditjen P2SDKP. Program Penelitian dan Pengembangan IPTEK Kelautan dan Perikanan Tujuan program ini adalah menyiapkan ilmu. Unreported & Unregulated (IUU) fishing serta kegiatan yang merusak sumberdaya kelautan dan perikanan. 5. Pengembangan Sarana dan Prasarana Pengawasan dan Pemantuan Kapal Perikanan e. UNtuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut. 6. Pengelolaan dan Pengembangan Konservasi Kawasan dan Jenis e. Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Pengawasan dan Pengendalian Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (Ditjen P2SDKP). pengetahuan dan teknologi sebagai basis kebijakan pembangunan kelautan dan perikanan dengan sasaran termanfaatkannya Iptek hasil penelitian dan pengembangan oleh para pemangku kepentingan. Peningkatan Operasional Pengawasan Sumberdaya Kelautan c. Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (Ditjen KP3K). Program Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Tujuan program adalah meningkatnya ketaatan dan ketertiban dalam pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan dengan sasaran perairan Indonesia bebas Illegal.d. kegiatan yang dilaksanakan adalah : a. Pelayanan Usaha dan Pemberdayaan Masyarakat Pesisir f. Peningkatan Operasional dan Pemeliharaan Kapal Pengawas d. Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Kelautan. Peningkatan Operasional Pengawasan Sumberdaya Perikanan b. Untuk 42 . Unit kerja penanggungjawab program adalah Ditjen KP3K.

8. kegiatan yang akan dilaksanakan adalah: a. Unit kerja penanggungjawab program adalah BRKP. Penelitian dan Pengembangan IPTEK Perikanan Tangkap b. Program Pengawasan dan Peningkatan Akuntabilitas Aparatur KKP Tujuan program adalah meningkatkan pengendalian akuntabiltas kinerja pembangunan kelautan dan perikanan dengan sasaran program 43 .mencapai tujuan dan sasaran tersebut. 7. Penelitian dan Pengembangan IPTEK Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan f. Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPSDMKP). Penelitian dan Pengembangan IPTEK Kewilayahan. Penelitian dan Pengembangan IPTEK Kelautan d. Unit kerja penanggungjawab program adalah BPSDMKP. Pelatihan Kelautan dan Perikanan c. Penyuluhan Kelautan dan Perikanan d. Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP). kegiatan yang akan dilaksanakan adalah: a. Penelitian dan Pengembangan IPTEK Perikanan Budidaya c. Penelitian Dan Perekayasaan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan g. Pendidikan Kelautan dan Perikanan b. Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan Tujuan program adalah meningkatkan kualitas SDM kelautan dan perikanan dengan sasaran meningkatnya kompetensi SDM kelautan dan perikanan. Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut. Dinamika dan Sumberdaya Non Hayati Pesisir dan Laut e.

kegiatan yang akan dilaksanakan adalah: a. Program Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya KKP Tujuan program adalah meningkatkan pembinaan dan koordinasi penyelenggaraan pembangunan kelautan dan perikanan dengan sasaran meningkatnya kesesuaian pelaksanaan dukungan manajerial. Pengawasan Akuntabilitas Aparatur pada Mitra Kerja Inspektorat IV dalam Pelaksanaan Pembangunan Kelautan dan Perikanan di Ditjen P2HP dan BRKP e. kegiatan yang akan dilaksanakan adalah: a.meningkatnya prosentase capaian kinerja pembangunan KP. Pengawasan Akuntabilitas Aparatur pada Mitra Kerja Inspektorat I dalam Pelaksanaan Pembangunan Kelautan dan Perikanan di Sekretariat Jenderal dan BPSDMKP b. Pembinaan dan Koordinasi Perencanaan. Pengawasan Akuntabilitas Aparatur pada Mitra Kerja Inspektorat II dalam Pelaksanaan Pembangunan Kelautan dan Perikanan di Ditjen PT dan Ditjen P2SDKP c. 9. Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut. Untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut. Pengawasan Akuntabilitas Aparatur dengan Tujuan Tertentu pada Pelaksana Pembangunan Kelautan dan Perikanan serta Pengawasan pada Unit Kerja Inspektorat Jenderal f. Pembinaan Pelaksanaan dan Koordinasi Pengelolaan Keuangan KKP 44 . Pengawasan Akuntabilitas Aparatur pada Mitra Kerja Inspektorat III dalam Pelaksanaan Pembangunan Kelautan dan Perikanan di Ditjen PB dan Ditjen DJKP3K d. Penganggaran dan Monitoring Evaluasi Pembangunan KP b. Pembinaan dan Pengelolaan Kepegawaian KKP c. Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Inspektorat Jenderal Unit kerja penanggungjawab program adalah Inspektorat Jenderal.

Pembinaan dan Koordinasi Penyiapan Produk Hukum dan Penataan Organisasi KKP e. Pendanaan pembangunan kelautan dan perikanan tahun 2010-2014 telah tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang RPJMN 2010-2014. dan Satuan Kerja Perangkat Daerah melalui mekanisme dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. Pembinaan Administrasi dan Pengelolaan Pelayanan Penunjang Pelaksanaan Tugas KKP f. Pengembangan dan Pembinaan Perkarantinaan Ikan g. Target pembangunan 2010-2014 menurut program dan kegiatan yang telah terinci dalam output dan outcome dapat dilihat pada Lampiran II. Dukungan Lintas Sektor Pembangunan kelautan dan perikanan secara utuh memerlukan dukungan instansi terkait serta peran serta masyarakat luas. Pengembangan dan Pembinaan Kerjasama Internasional dan Antarlembaga Bidang Kelautan dan Perikanan i. Pendanaan tersebut akan digunakan untuk membiayai 9 program yang terdiri dari 58 kegiatan.d. 45 . 2. yang akan dilaksanakan oleh Satuan Kerja Pusat. Pengelolaan dan penyelenggaraan kegiatan di bidang Kenavigasian. Adapun beberapa bentuk dukungan kegiatan yang diperlukan dari instansi lain sebagaimana tersebut pada tabel 12 berikut: Tabel 12. C. Perumusan dan Pengembangan Kebijakan Kelautan Unit kerja penanggungjawab program adalah Sekretariat Jenderal. IPTEK Sarana dan Prasarana Bidang Kegiatan Penelitian Oceanografi a. Dukungan Lintas Sektor No 1. Satuan Kerja Unit Pelaksana Teknis (UPT) di daerah. Pengembangan Data Satistik dan Informasi Kelautan dan Perikanan h. yakni dengan pagu indikatif sebesar Rp30.42 triliun. Rincian kebutuhan pendanaan per program dan per kegiatan dapat dilihat pada Lampiran III.

Wilayah dan Tata Ruang 6. g.No Bidang b. b. e. c. b. Pelayanan Angkutan Udara Perintis. Pembinaaan kepolisian perairan. 4. b. Pemetaan dasar kelautan dan kedirgantaraan. Politik Pertahanan dan Keamanan Kegiatan Pengelolaan dan penyelenggaraan kegiatan di Bidang Penjagaan Laut dan Pantai. Penelitian dan pengembangan geologi kelautan. a. dan Penyediaan sarana dan prasarana air bersih dan jalan lingkungan. f. Penyelenggaraan OMSP matra udara. Peningkatan operasi bersama keamanan Laut. Pengelolaan meteorologi penerbangan dan maritim BMKG. Peningkatan koordinasi pengawasan keamanan laut. 5. c. dan d. dan Peningkatan ketersediaan data dan informasi survei sumber daya alam dan lingkungan hidup matra laut. Peningkatan konservasi dan pengendalian kerusakan ekosistem pesisir dan laut. c. 3. a. Penyediaan dan Pengelolaan Energi Baru Terbarukan dan Pelaksanaan Konservasi Energi. Optimalisasi diplomasi terkait dengan perjanjian politik. Pengelolaan dan Penyelenggaraan kegiatan di bidang Lalu Lintas dan Angkutan Laut. d. d. h. dan Pengelolaan Sumber Daya Ikan (SDI). keamanan kewilayahan dan kelautan. Pengelolaan dan Penyelenggaraan kegiatan di bidang Pelabuhan dan Pengerukan. 46 . Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup a. Pengelolaan dan Penyelenggaraan kegiatan di bidang Perkapalan dan Kepelautan.

25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. dan Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka menengah Nasional Tahun 2010-2014. melainkan diperlukan dukungan sektor terkait lainnya dan masyarakat luas. visi serta misi Presiden terpilih serta program kerja Kabinet Indonesia Bersatu II masa bakti 2009-2014. Disadari bahwa keberhasilan pelaksanaan pembangunan kelautan dan perikanan tidak hanya ditentukan dengan adanya dokumen RENSTRA. RENSTRA yang mengacu pada Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang 2005-2025. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Tugas dan Fungsi KKP. pengolah hasil perikanan. Akhirnya. dan masyarakat pesisir lainnya melalui pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan secara berkelanjutan dapat terwujud.I.BAB IV PENUTUP RENSTRA Pembangunan Kelautan dan Perikanan 2010-2014 merupakan suatu dokumen yang disusun oleh KKP. sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang No. MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN R. RENSTRA ini juga merupakan acuan perencanaan. pembudidaya ikan. kebersamaan dan kerja keras dari seluruh jajaran Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan semua pihak yang terkait diperlukan dalam rangka mewujudkan harapan untuk mensejahterakan nelayan. FADEL MUHAMMAD . baik di tingkat pusat maupun daerah. merupakan acuan bagi penyusunan Rencana Kerja Kementerian Negara/Lembaga dan Rencana Kerja dan Anggaran-Kementerian Negara/Lembaga setiap tahunnya. ttd.

436.500.730 1. Pengelolaan Sumber Daya Ikan (SDI) Meningkatnya Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) yang terjamin ketersediaan sumber daya ikan dengan data dan pengelolaan pemanfaatan yang terintegrasi.900 952.Lampiran II : Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.740 5.100 5.467. 1) Jumlah lokasi pemantauan dan evaluasi perlindungan dan pengkayaan SDI Jumlah ekosistem PUD yang teridentifikasi (8 prov per tahun) Jumlah peraian teritorial dan kepulauan yang teridentifikasi sumber dayanya Jumlah ZEEI yang teridentifikasi sumber dayanya 6 prov 33 prov 33 prov 33 prov 33 prov 2) 8 prov 8 prov 11 WPP 33 prov 4 prov 8 prov 11 WPP 33 prov 4 prov 8 prov 11 WPP 33 prov 4 prov 8 prov 11 WPP 33 prov 4 prov 3) 1 WPP 4) 11 prov .290 5.038 2.409.06/MEN/2010R. akuntabel dan tepat waktu.290 721.120 5.530 837.000 KEGIATAN a.235.384 2.384. 06/MEN/2010 Tentang Rencana Strategis Kementerian Kelautan dan Perikanan Tahun 2010-2014 TARGET PEMBANGUNAN UNTUK TAHUN 2010-2014 KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN TARGET NO PROGRAM/KEGIATAN SASARAN INDIKATOR 2010 2011 2012 2013 2014 KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN PROGRAM 1 Pengembangan dan Pengelolaan Perikanan Tangkap Meningkatnya produktivitas perikanan tangkap dan kesejahteraan nelayan 1) 2) Jumlah Produksi perikanan tangkap (ton) Jumlah pendapatan nelayan:  pendapatan nelayan pemilik/bulan (Rp)  pendapatan nelayan buruh/bulan (Rp) 5.550 1.903.220 601.769.057.441.000 1.692 2.200.

TARGET NO
b.

PROGRAM/KEGIATAN
Pembinaan dan Pengembangan Kapal Perikanan, Alat Penangkap Ikan, dan Pengawakan Kapal Perikanan

SASARAN
Terwujudnya kecukupan kapal perikanan Indonesia (yang laik laut, laik tangkap dan laik simpan), alat penangkap ikan (yang sesuai SNI) dan pengawakan yang memenuhi standar di setiap WPP 1)

INDIKATOR 2010
Jumlah dan jenis kapal penangkap ikan yang memenuhi standar laik laut, laik tangkap dan laik simpan Jumlah alat penangkap ikan dan alat bantu penangkapan ikan yang memenuhi standar Jumlah awak kapal perikanan yang memenuhi standar kompetensi Jumlah pelabuhan perikanan dengan fokus pembangunan di lingkar luar dan daerah perbatasan yang potensial Jumlah penyiapan pembangunan pelabuhan perikanan sesuai dengan rencana induk Jumlah pelabuhan perikanan yang mempunyai Wilayah Kerja Operasional Pelabuhan Perikanan (WKOPP) Jumlah keabsahan dan kelengkapan dokumen usaha perikanan tangkap Jumlah pelaku usaha perikanan tangkap yang memenuhi kewajiban sesuai dengan ketentuan yang berlaku Jumlah kapal dan jenis alat penangkap ikan yang diperbolehkan sesuai dengan ketersediaan sumber daya ikan di setiap WPP 500 unit

2011
550 unit

2012
600 unit

2013
650 unit

2014
700 unit

2)

600 unit

976 unit

1,552 unit

2,259 unit

2,929 unit

3)

60 orang

120 orang

180 orang

210 orang

240 orang

c.

Pengembangan Pembangunan dan Pengelolaan Pelabuhan Perikanan

Meningkatnya pembangunan dan pencapaian standar pelayanan prima di pelabuhan perikanan dengan fasilitas penunjang produksi, pengolahan, pemasaran dan kesyahbandaran yang sesuai standar.

1)

968 unit

973 unit

978 unit

983 unit

988 unit

2)

35 Lokasi

35 Lokasi

40 Lokasi

40 Lokasi

40 Lokasi

3)

10

20 9.000 SIUP, SIPI/SIKPI 3,000

30 10.000 SIUP, SIPI/SIKPI 3,500

40 11.000 SIUP, SIPI/SIKPI 4,000

50 12.000 SIUP, SIPI/SIKPI 4,500

d.

Pelayanan Usaha Perikanan Tangkap yang Efisien, Tertib, dan Berkelanjutan

Meningkatnya pelayanan prima dan ketertiban usaha perikanan tangkap sesuai ketersediaan SDI di setiap WPP secara akuntabel dan tepat waktu.

1)

8.000 SIUP, SIPI/SIKPI

2)

2.500

3)

4.900 SIPI

5.900 SIPI

6.900 SIPI

7.900 SIPI

8.900 SIPI

2

TARGET NO
e.

PROGRAM/KEGIATAN
Pengembangan Usaha Penangkapan Ikan dan Pemberdayaan Nelayan Skala Kecil

SASARAN
Jumlah kawasan potensi perikanan tangkap yang menjadi kawasan Minapolitan dengan usaha yang bankable serta realisasi investasi usaha perikanan tangkap. 1)

INDIKATOR 2010
Jumlah kawasan minapolitan potensi perikanan tangkap yang memiliki Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang Mandiri. Jumlah Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang Mandiri. 1 PP 5 PPI

2011
1 PP 5 PPI

2012
1 PP 5 PPI

2013
1 PP 5 PPI

2014
1 PP 5 PPI

2)

999 KUB

1.200 KUB

1.400 KUB

1.600 KUB

1.800 KUB

3)

f.

Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Ditjen Perikanan Tangkap

Persentase perencanaan, pengendalian dan pelaporan terintegrasi, akuntabel dan tepat waktu di lingkungan Ditjen PT. Meningkatnya produksi, produktivitas dan mutu hasil perikanan budidaya.

Jumlah usaha perikanan tangkap yang memenuhi kelayakan usaha dan bankable Persentase perencanaan dan pelaporan pelaksanaan program kerja dan anggaran secara terintegrasi, akuntabel dan tepat waktu.

999 KUB

1.200 KUB

1.400 KUB

1.600 KUB

1.800 KUB

70%

75%

80%

90%

100%

PROGRAM 2 Peningkatan Produksi Perikanan Budidaya 1) 2) Volume produksi perikanan budidaya (ton) Jumlah benih dengan mutu terjamin. 5.376.200 36 miliar ekor Benih ikan 267.280 ton Bibit rumput laut 3) Jumlah kawasan perikanan budidaya yang memiliki prasarana dan sarana sesuai kebutuhan. 76 kab/kota 45 kawasan payau 76 kawasan tawar 56 kawasan laut 6.847.500 42,2 miliar ekor Benih ikan 350.420 ton Bibit rumput laut 116 kab/kota 70 kawasan payau 116 kawasan tawar 81 kawasan laut 9.415.700 50,3 miliar ekor Benih ikan 510.000 ton Bibit rumput laut 157 kab/kota 95 kawasan payau 157 kawasan tawar 107 kawasan laut 13.020.800 59,5 miliar ekor Benih ikan 750.000 ton Bibit rumput laut 197 kab/kota 120 kawasan payau 197 kawasan tawar 132 kawasan laut 16.891.000 69,7 miliar ekor Benih ikan 1.000.000 ton Bibit rumput laut 238 kab/kota 145 kawasan payau 238 kawasan tawar 158 kawasan laut

3

TARGET NO PROGRAM/KEGIATAN SASARAN INDIKATOR 2010
KEGIATAN a Pengembangan Sistem Produksi Pembudidayaan Ikan Meningkatnya produksi perikanan budidaya dengan mutu terjamin dan data akurat. 1) 2) 3) 4) Jumlah produksi perikanan budidaya air tawar. Jumlah produksi perikanan budidaya air payau. Jumlah produksi perikanan budidaya laut Jumlah usaha perikanan budidaya yang bersertifikat dan memenuhi standar. Jumlah produksi induk unggul. 1,4 juta ton 1.137.920 ton 2.846.475 ton 1.000 unit 6,5 juta ekor induk 267.280 ton 2) Jumlah unit perbenihan yang bersertifikat dan benih yang memenuhi standar Jumlah laboratorium uji yang memenuhi standar teknis. 51 unit 25 unit Lab. Kualitas air 20 unit Lab. HPI 9 unit Lab. Residu 2) Jumlah kawasan perikanan budidaya yang sehat serta persentasi jenis biota perairan yang dikonservasi. 1,8 juta ton 1.322.280 ton 3.703.400 ton 2.000 uni 8 juta ekor induk 350.420 ton 63 unit 31 unit Lab. Kualitas air 24 unit Lab. HPI 11 unit Lab. Residu 2,5 ton 1.587.640 ton 5.348.850 ton 4.000 unit 10,1 juta ekor induk 510.000 ton 78 unit 38 unit Lab. Kualitas air 28 unit Lab. HPI 14 unit Lab. Residu 3.4 juta ton 1.831.620 ton 7.780.675 ton 6.000 unit 12,6 juta ekor induk 750.000 ton 96 unit 43 unit Lab. Kualitas air 32 unit Lab. HPI 18 unit Lab. Residu 4,6 juta ton 2.022.220 ton 10.288.175 ton 7.000 unit 15 juta ekor induk 1.000.000 ton 116 unit 48 unit Lab. Kualitas air 35 unit Lab. HPI 25 unit Lab. Residu

2011

2012

2013

2014

b.

Pengembangan Sistem Perbenihan Ikan

Terpenuhinya kebutuhan benih untuk produksi dan pasar dengan mutu terjamin dan data akurat.

1)

c.

Pengembangan Sistem Kesehatan Ikan dan Lingkungan Pembudidayaan Ikan

Kawasan perikanan budidaya yang sehat serta produk perikanan yang aman dikonsumsi.

1)

Catatan : HPI : Hama Penyakit Ikan

350 kab

350 kab

400 kab

350 kab

450 kab

4

TARGET NO
d.

PROGRAM/KEGIATAN
Pengembangan Sistem Usaha Pembudidayaan Ikan

SASARAN
Kawasan potensi perikanan budidaya menjadi kawasan Minapolitan dengan usaha yang bankable. 1)

INDIKATOR 2010
Jumlah kelompok usaha perikanan budidaya yang memenuhi standar kelembagaan dan jumlah tenagakerja yang memiliki kopetensi. Jumlah usaha perikanan budidaya yang memperoleh SNI serta jumlah lembaga sertifikasi yang terakreditasi LSSM : lembaga sertifikat sistem mutu 157 kelompok 394 orang 936 unit usaha 19 Lab uji 3 LSSM 1.115.666 Ha, 70 potensi kawasan

2011
788 kelompok 1.182 orang 1.203 unit usaha 26 Lab uji 4 LSSM 1.167.666 Ha, 90 potensi kawasan

2012
1.576 kelompok 1.892 orang 1.826 unit usaha 33 Lab uji 7 LSSM 1.226.666 Ha, 100 potensi kawasan

2013
1.957 kelompok 1.970 orang 3.061 unit usaha 36 Lab uji 11 LSSM 1.291.666 Ha, 130 potensi kawasan

2014
3.388 kelompok 2.364 orang 4.948 unit usaha 43 Lab uji 15 LSSM 1.365.416 Ha, 150 potensi kawasan

2)

e.

Pengembangan Sistem Prasarana dan Sarana Pembudidayaan Ikan

f.

Pengawalan dan Penerapan Teknologi Terapan Adaptif Perikanan Budidaya

g.

Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Ditjen Perikanan Budidaya

Kawasan perikanan budidaya yang memiliki prasarana dan sarana sesuai kebutuhan. Sentra produksi perikanan budidaya yang memiliki komoditas unggulan dan menerapkan teknologi inovatif. Terlaksananya perencanaan, pengendalian dan pelaporan terintegrasi, akuntabel dan tepat waktu di lingkungan Ditjen PB.

Luas lahan budidaya sesuai target produksi disertai data potensi yang akurat. Persentase unit usaha yang mendapatkan pelayanan sertifikasi sesuai standar dengan informasi yang akurat. Persentase perencanaan dan pelaporan pelaksanaan program kerja dan anggaran secara terintegrasi, akuntabel dan tepat waktu.

100%

100%

100%

100%

100%

100%

100%

100%

100%

100%

5

2% pangsa ekspor 6 ragam produk ekspor US$ 2.8 juta ton 3.38 juta ton volume ekspor 0.43 juta ton volume ekspor 0.2 Milyar nilai ekspor 2. Fasilitasi Pengembangan Industri Pengolahan Hasil Perikanan Meningkatnya volume produk olahan hasil perikanan dengan kemasan dan mutu terjamin 1) Jumlah sarana prasarana pengolahan sesuai target produksi pengolahan Jumlah sentra pengolahan Volume produksi dari UKM 58 lokasi 5 lokasi 2.2% pangsa ekspor 9 ragam produk ekspor US$ 3.73 juta ton volume ekspor 0. 3.3 juta ton 66 lokasi 5 lokasi 2.2% pangsa ekspor 10 ragam produk ekspor US$ 4.58 juta ton volume ekspor 0.7 juta ton 84 lokasi 5 lokasi 2.TARGET NO PROGRAM 3 Peningkatan Daya Saing Produk Perikanan Meningkatnya produk olahan bernilai tambah.2% pangsa ekspor 11 ragam produk ekspor US$ 5 miliar nilai ekspor 2.2 Milyar nilai ekspor 1.28 juta ton volume impor KEGIATAN a.32 juta ton volume impor 3.6 Milyar nilai ekspor 1. nilai ekspor atau volume ekspor. investasi.07 juta ton volume ekspor 0.5 juta ton 78 lokasi 5 lokasi 2.4 juta ton 72 lokasi 5 lokasi 2.35 juta ton volume impor 3.2% pangsa ekspor 7 ragam produk ekspor US$ 3. jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan.9 Milyar nilai ekspor 1. penambahan jumlah ragam produk ekspor.41 juta ton volume impor 3. serta jumlah impor terkendali sesuai standar dan kebutuhan.49 juta ton volume impor PROGRAM/KEGIATAN SASARAN INDIKATOR 2010 2011 2012 2013 2014 2) 3) 6 . distribusi dan akses pasar hasil perikanan Jumlah pangsa pasar ekspor.

distribusi dan pengujian mutu hasil perikanan yang memperoleh SNI dan persyaratan internasional Jumlah laboratorium uji mutu hasil perikanan yang memperoleh akreditasi dari KAN Jumlah Unit Pengolahan Ikan (UPI) dan hasil perikanan yang bersertifikasi Jumlah pelelangan ikan dan pasar ikan yang berfungsi sesuai standar 17 lab 2011 22 lab 2012 12 lab 2013 18 lab 2014 20 lab 2) 179 SNI 199 SNI 219 SNI 239 SNI 259 SNI 3) 17 lab 22 lab 429 UPI 611 sertifkat 36 TPI 7000 pasar 33 provinsi 3 50 12 lab 18 lab 20 lab 4) 424 UPI 18 TPI 7.280 UPI 860 UPI 7 . pengolahan. Jumlah lokasi pelaksanaan kegiatan Gemarikan (Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan) 1) Jumlah penambahan negara tujuan ekspor 2) Jumlah UKM binaan yang berpotensi ekspor Jumlah unit usaha pengolahan dan pemasaran hasil perikanan yang memenuhi standar ketenagakerjaan sesuai SKKNI 430 UPI 430 UPI 860 UPI 1.TARGET NO b. pengolahan dan distribusi hasil perikanan yang memperoleh sertifikasi sesuai standar nasional dan internasional 1) INDIKATOR 2010 Jumlah laboratorium sertifikasi yang memiliki sarana prasarana sesuai standar mutu laboratorium Jumlah kegiatan penanganan. PROGRAM/KEGIATAN Fasilitasi Pengembangan Jaminan Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan SASARAN Meningkatnya unit penanganan. Fasilitasi Penguatan dan Pengembangan Pemasaran Luar Negeri Hasil Perikanan Fasilitasi Pembinaan dan Pengembangan Sistem Usaha dan Investasi Perikanan e. Fasilitasi Penguatan dan Pengembangan Pemasaran Dalam Negeri Hasil Perikanan Meningkatnya jumlah desa yang memiliki pasar yang mampu memfasilitasi penjualan hasil perikanan dan tingkat konsumsi ikan Meningkatnya jumlah pangsa pasar ekspor perikanan Meningkatnya jumlah nilai investasi (PMA dan PMDN) bidang pengolahan dan pemasaran hasil perikanan dan jumlah unit pengolahan ikan yang memenuhi standar ketenagakerjaan 1) 2) d.061 pasar 33 provinsi 3 50 434 UPI 54 TPI 7000 pasar 33 provinsi 4 50 439 UPI 72 TPI 7000 pasar 33 provinsi 4 50 444 UPI 91 TPI 7000 pasar 33 provinsi 5 50 c.

000 usaha 255 unit 2. kerjasama.000 usaha 300 unit KEGIATAN a.400.000. 50 ribu ton 2) 23 kawasan 28 kawasan 33 kawasan 33 kawasan 28 kawasan 3) 800. pesisir dan pulau-pulau kecil yang memiliki peta potensi dan arahan pemanfaatan yang terintegrasi. Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil 1) Jumlah kawasan pesisir yang tahan terhadap ancaman kerusakan. mangrove dan 15 jenis biota perairan yang terancam punah 1) 900 ribu ha 900 ribu ha 900 ribu ha 900 ribu ha 900 ribu ha 2) 9 Kawasan dan 3 jenis 9 Kawasan dan 3 jenis 9 Kawasan dan 3 jenis 9 Kawasan dan 3 jenis 9 Kawasan dan 3 jenis 8 .5 juta ha Jumlah kawasan konservasi dan jenis biota perairan dilindungi yang diidentifikasi dan dipetakan secara akurat. memiliki infrastruktur dasar serta jumlah ragam dan volume produk kelautan yang dikembangkan Jumlah kawasan laut.000 usaha 210 unit 1. akuntabel dan tepat waktu berdasarkan data yang terkini dan akurat di lingkungan Ditjen P2HP. akuntabel dan terkini serta terkendali pemanfaatannya Jumlah kelompok usaha mikro yang mandiri serta jumlah usaha mikro di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil kawasan konservasi laut dan kawasan konservasi perairan tawar dan payau yang dikelola secara berkelanjutan seluas 4. pengendalian. Pengelolaan dan Pengembangan Konservasi Kawasan dan Jenis Terkelolanya 20% kawasan ekosistem terumbu karang. 20 kawasan 3 kapal 100 ribu ton 30 kawasan 3 kapal 150 ribu ton 30 kawasan 2 kapal 100 ribu ton 50 kawasan 2 kapal 100 ribu ton 10 kawasan.000 usaha 120 unit 1.700.100.000 usaha 165 unit 1. evaluasi dan pelaporan program dan anggaran berdasarkan data yang terkini dan akurat (%) 2011 2012 2013 2014 100% 100% 100% 100% 100% PROGRAM 4 Program Pengelolaan Sumber Daya Laut. Meningkatnya penataan dan pemanfaatan sumber daya kelautan. 2 kapal. pesisir dan pulau-pulau kecil secara berkelanjutan dan mensejahterakan masyarakat INDIKATOR 2010 Perencanaan. lamun. PROGRAM/KEGIATAN Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Ditjen P2HP SASARAN Terlaksananya seluruh perencanaan. pelaporan dan publikasi secara terintegrasi.TARGET NO f.

Pendayagunaan Pesisir dan Lautan 3) 60 ha 1. . Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil SASARAN Tersedianya 145 rencana zonasi nasional/ provinsi/ kabupaten/ kota. Pendayagunaan Pulau-Pulau Kecil Terwujudnya 200 pulau kecil yang memiliki infrastruktur mamadai. Jumlah ragam dan volume produk kelautan yang dikembangkan pada kawasan pesisir dan lautan. PROGRAM/KEGIATAN Penataan Ruang dan Perencanaan Pengelolaan Wilayah Laut. 30 masterplan kluster pulaupulau kecil bernilai ekonomi tinggi serta 12 master plan kawasan sentra produksi kelautan Terkelolanya 50 Kawasan minapolitan yang tahan terhadap ancaman kerusakan dan mempunyai infrastruktur dasar.100 ha 1. siap terhadap bencana. serta 3 produk kelautan 1) INDIKATOR 2010 Jumlah kawasan laut dan pesisir yang memiliki peta potensi dan arahan pemanfaatan yang terintegrasi.Garam .BMKT .440 ha 2) 2 kapal 50 ribu ton 200 ribu liter 3 kapal 100 ribu ton 500 ribu liter 3 kapal 150 ribu ton 1. akuntabel dan terkini Jumlah kawasan pulau-pulau kecil yang memiliki peta potensi dan arahan pemanfaatan yang terintegrasi.Deep sea water 2011 2012 2013 2014 6 kawasan 9 kawasan 11 kawasan 13 kawasan 11 kawasan 2) 23 kawasan 28 kawasan 33 kawasan 33 kawasan 28 kawasan c. ekosistem baik.TARGET NO b. akuntabel dan terkini Jumlah luasan kawasan pesisir rusak yang pulih kembali.5 juta liter 2 kapal 100 ribu ton 2 juta liter 2 kapal 100 ribu ton 3 juta liter d.000 ha 1.400 ha 1. dan 25 di antaranya terinvestasi 1) 2) Jumlah pulau kecil yang diidentifikasi dan dipetakan potensinya secara akurat termasuk pulau-pulau kecil terluar Jumlah pulau kecil yang memiliki infrastuktur memadai secara terintegrasi termasuk pulau-pulau kecil terluar 20 pulau 55 pulau 60 pulau 50 pulau 20 pulau 20 pulau 55 pulau 60 pulau 50 pulau 20 pulau 9 . 50 masterplan minapolitan.

Dana Pemberdayaan Masyarakat Desa/PNPM KP Tenaga pendamping Kelompok Usaha Mikro 2011 2012 2013 2014 100 unit 120 kab/kota 480 orang 800. beroperasinya sarana usaha mikro di 300 kabupaten/kota pesisir.080 kapal 2.000 usaha 100 unit 120 kab/kota 480 orang 800.000 usaha 100 unit 120 kab/kota 480 orang 800.000 usaha f.000 usaha 100 unit 120 kab/kota 480 orang 800. .Pengembangan sarana usaha Mikro LKM . Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Direktorat Jenderal KP3K Meningkatnya pelayanan teknis dan administrasi kepada semua unsur di lingkungan Ditjen KP3K Persentase perencanaan dan kerjasama program anggaran secara terintegrasi. Unreported & Unregulated (IUU) Fishing serta kegiatan yang merusak sumber daya kelautan dan perikanan 1) Persentase wilayah pengelolaan perikanan bebas IUU fishing Persentase pelaku tindak pidana kelautan dan perikanan yang divonis secara akuntabel dan tepat waktu serta persentase penurunan tindak pidana kelautan dan perikanan Jumlah usaha penangkapan ikan di wilayah bagian barat yang sesuai ketentuan Jumlah usaha penangkapan ikan di wilayah bagian timur yang sesuai ketentuan 62% 75% 82% 91% 100% 2) 55% 68% 81% 93% 100% KEGIATAN a Peningkatan Operasional Pengawasan Sumber Daya Perikanan Meningkatnya usaha perikanan yang sesuai ketentuan 1) 280 kapal 880 kapal 1.TARGET NO e.000 usaha 100 unit 120 kab/kota 480 orang 800. akuntabel dan tepat waktu berdasarkan data yang terkini dan akurat di lingkungan Ditjen KP3K 90% 90% 90% 95% 95% PROGRAM 5 Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Indonesia bebas Illegal. PROGRAM/KEGIATAN Pelayanan Usaha dan Pemberdayaan Masyarakat SASARAN Meningkatnya keberdayaan dan kemandirian 2 juta usaha skala mikro di seluruh kawasan minapolitan pesisir.480 kapal 2.680 kapal 2) 180 kapal 563 kapal 946 kapal 1.329 kapal 1.712 kapal 10 . INDIKATOR 2010 Jumlah kelompok usaha mikro di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil yang bankable.

TARGET NO b PROGRAM/KEGIATAN Peningkatan Operasional Pengawasan Sumber Daya Kelautan SASARAN Meningkatnya wilayah perairan Indonesia yang bebas kegiatan ilegal dan merusak 1) INDIKATOR 2010 Jumlah wilayah perairan yang bebas kegiatan perusakan ekosistem perairan Jumlah wilayah perairan yang bebas kegiatan pencemaran Jumlah wilayah pengelolaan perikanan bagian barat bebas IUU Fishing Jumlah wilayah pengelolaan perikanan bagian timur bebas IUU Fishing Jumlah pemenuhan sarana pengawasan yang memadai secara terintegrasi. akuntabel dan tepat waktu .Kantor dan Bangunan Pengawas Dermaga Pos Pengawas 5 2 15 6 6 10 6 6 15 7 7 15 6 6 15 e Penyelesaian tindak pidana kelautan dan perikanan Meningkatnya pelaku tindak pidana kelautan dan perikanan yang divonis secara akuntabel dan tepat waktu serta persentase penurunan tindak pidana kelautan dan perikanan Jumlah Kapal yang diperiksa 4000 4666 7666 10666 13166 11 . akuntabel dan tepat waktu Kapal Pengawas 2) Speedboat Stasiun Radar Satelit Transmitter VMS 4 wilayah 7 wilayah perairan 3 WPP 2011 9 wilayah 14 wilayah perairan 3 WPP 2012 15 wilayah 21 wilayah perairan 4 WPP 2013 21 wilayah 28 wilayah perairan 5 WPP 2014 27 wilayah 40 wilayah perairan 5 WPP 2) c Peningkatan Operasional dan Pemeliharaan Kapal Pengawas Meningkatnya wilayah pengelolaan perikanan bebas IUU fishing 1) 2) 6 WPP 6 WPP 6 WPP 6 WPP 6 WPP d Pengembangan Sarana dan Prasarana Pengawasan dan Pemantuan Kapal Perikanan Terpenuhinya sarana dan prasarana pengawasan dengan rancang bangun dan sistem pemantauan yang terintegrasi dan tepat sasaran 1) 0 15 0 0 4 32 0 1 18 28 0 0 18 32 0 0 15 30 0 0 Pemenuhan prasarana pengawasan yang memadai secara terintegrasi.

penghargaan) 3 inovasi IPTEK yang memperoleh pengakuan (HKI. SNI. ragam. SNI. ragam varietas baru/unggul. karakteristik. kualitas dan keamanan komoditas unggulan. rekomendasi. SNI. Penelitian dan Pengembangan IPTEK Perikanan Tangkap Wilayah perairan Indonesia yang teridentifikasi potensi produksi. inovasi teknologi dan produk biologi yang meningkatkan efisiensi produksi. Penelitian dan Pengembangan IPTEK Perikanan Budidaya Jumlah rekomendasi yang meningkatkankan efisiensi produksi. penghargaan) 3 inovasi IPTEK yang memperoleh pengakuan (HKI. penghargaan) 2 inovasi IPTEK yang memperoleh pengakuan (HKI. kualitas dan keamanan komoditas unggulan 5 5 5 5 5 12 . Jumlah rekomendasi pengelolaan 6 buah 6 buah 4 buah 4 buah 3 buah b. kebutuhan konservasi SDInya serta jumlah inovasi teknologi dan rekomendasi pengelolaannya. penghargaan) 2) Hasil riset yang menjadi rekomendasi basis kebijakan dan di publikasikan 5 6 7 8 10 KEGIATAN a. direkomendasikan dan mempunyai model penerapan 3 inovasi IPTEK yang memperoleh pengakuan (HKI. SNI. pengendalian dan pelaporan program anggaran dan SDM secara terintegrasi dan tepat waktu dengan administrasi yang akuntabel di lingkungan Ditjen P2SDKP Termanfaatkannya hasil riset dan inovasi IPTEK kelautan dan perikanan INDIKATOR 2010 Persentase perencanaan. dan Penghargaan). HKI (Hak Kekayaan Intelektual). SNI. pengendalian dan pelaporan program anggaran dan SDM secara terintegrasi dan tepat waktu dengan administrasi yang akuntabel di lingkungan Ditjen P2SDKP 2011 2012 2013 2014 92% 94% 95% 97% 100% PROGRAM 6 Program Penelitian dan Pengembangan IPTEK Kelautan dan Perikanan 1) Jumlah inovasi IPTEK yang : memperoleh pengakuan (HKI. SNI. PROGRAM/KEGIATAN Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Ditjen P2SDKP SASARAN Terlaksananya perencanaan. penghargaan) 2 inovasi IPTEK yang memperoleh pengakuan (HKI.TARGET NO f.

1 Rekomendasi 3 Paket Teknologi 4 Paket Teknologi 13 . 5 paket data terkait SDNH. dan laut e. eksploitasi. 5 paket data terkait SDNH. 5 paket data terkait SDNH. kebutuhan konservasi SDNHL dan fenomena alamnya serta jumlah rekomendasi pengelolaan dan model pemanfaatannya. pesisir. rekomendasi serta inovasi teknologi dan bioteknologi yang meningkatkan efisiensi pengolahan secara optimal.laut. Penelitian dan Pengembangan IPTEK Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan HKI. eksploitasi. INDIKATOR 2010 Jumlah rekomendasi dan inovasi teknologi perlindungan. Dinamika dan Sumber Daya Nonhayati Pesisir dan Laut Jumlah rekomendasi pengelolaan dan model pemanfaatannya. pesisir. pesisir. 3 Paket Teknologi 3 Paket Teknologi 1 HKI. ragam. Penelitian dan Pengembangan IPTEK Kewilayahan. maritim. 3 Paket Teknologi 1 HKI. pesisir dan pulau-pulau kecil yang teridentifikasi potensi. pengawasan. eksplorasi. 5 paket data terkait SDNH. serta pulaupulau kecil 3 Rekomendasi dan/atau model pemanfaatan 1 paket data terkait fenomena alam laut. kualitas dan keamanan produk unggulan/ prospektif. dan laut 3 Rekomendasi dan/atau model pemanfaatan 1 paket data terkait fenomena alam laut. pengawasan. eksplorasi. mitigasi/adaptasi bencana dan perubahan iklim yang meningkatkan efisiensi pengelolaan sumber daya kelautan Wilayah laut. ragam. maritim.TARGET NO c. kualitas dan keamanan produk unggulan/ prospektif. PROGRAM/KEGIATAN Penelitian dan Pengembangan IPTEK Kelautan SASARAN Rekomendasi dan inovasi teknologi perlindungan pantai. pesisir. Jumlah HKI (Hak Kekayaan Intelektual). serta Jumlah paket data terkait dengan fenomena alam dan sumber daya non hayati di wilayah pesisir . 5 paket data terkait SDNH. pesisir. karakteristik. dan laut 3 Rekomendasi dan/atau model pemanfaatan 1 paket data terkait fenomena alam laut. instrumentasi kelautan. nilai tambah. dan laut 3 Rekomendasi dan/atau model pemanfaatan 1 paket data terkait fenomena alam laut. instrumentasi kelautan. nilai tambah. rekomendasi serta inovasi teknologi dan bioteknologi yang meningkatkan efisiensi pengolahan secara optimal. dan laut 3 Rekomendasi dan/atau model pemanfaatan 1 paket data terkait fenomena alam laut. energy terbarukan. mitigasi/adaptasi bencana dan perubahan iklim yang meningkatkan efisiensi pengelolaan sumber daya kelautan secara berkelanjutan 2 Rekomendasi 2011 2 Rekomendasi 2012 2 Rekomendasi 2013 2 Rekomendasi 2014 2 Rekomendasi 9 Inovasi 9 Inovasi 9 Inovasi 9 Inovasi 9 Inovasi d.

Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya BRKP 85% 85% 90% 90% 95% PROGRAM 7 Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan Lulusan pendidikan memiliki kompetensi sesuai kebutuhan dan dapat diserap untuk kebutuhan tenaga kerja di dunia usaha dan dunia industri 980 orang 1. pengendalian. PROGRAM/KEGIATAN Penelitian dan Perekayasaan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan SASARAN Rekomendasi pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan berkelanjutan dan model pengembangan usaha dan pemasaran berbasis minapolitan.600 aparatur 12. Perencanaan.050 orang 1.000 masyarakat 1.000 masyarakat 1. serta publikasi terintegrasi.000 masyarakat 2.300 aparatur 10000 masyarakat 1.120 orang 1. Penyuluhan Kelautan dan Perikanan Jumlah kelompok potensi perikanan yang disuluh 300 Kelompok di 50 kawasan 400 Kelompok di 50 kawasan 500 Kelompok di 50 kawasan 600 Kelompok di 50 kawasan 700 Kelompok di 50 kawasan 14 .260 orang KEGIATAN a. anggaran.900 aparatur 15. Pelatihan Kelautan dan Perikanan Terselenggaranya pelatihan yang sesuai standar serta persentase lulusan yang meningkat kinerjanya sesuai standar kompetensi dan kebutuhan pasar Meningkatnya kawasan potensi perikanan yang memiliki kelompok pelaku utama yang mandiri dalam mengembangkan usaha perikanan Jumlah lulusan pelatihan yang sesuai standar serta jumlah lulusan yang meningkat kinerjanya sesuai standar kompetensi dan kebutuhan pasar 6. pengendalian dan pelaporan pelaksanaan program serta penganggaran secara terintegrasi.200 aparatur b. fasilitasi HKI.TARGET NO f. akuntabel dan tepat waktu berdasarkan data yang terkini dan akurat di lingkungan BRKP SDM KP memiliki kompetensi sesuai kebutuhan INDIKATOR 2010 Jumlah rekomendasi pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan berkelanjutan dan model pengembangan usaha dan pemasaran berbasis minapolitan Persentase perencanaan.160 masyarakat 1.190 orang 1. 4 Rekomendasi 2011 4 Rekomendasi 2012 4 Rekomendasi 2013 4 Rekomendasi 2014 4 Rekomendasi 4 Model 4 Model 4 Model 4 Model 4 Model g.103 aparatur 8. akuntabel dan tepat waktu berdasarkan data yang terkini dan akurat di lingkungan BRKP. pengelolaan SDM. pelaporan program.

TARGET NO c. akuntabel dan tepat waktu berdasarkan data yang terkini dan akurat di lingkungan BPSDMKP.400 orang 2014 1. pengendalian. keuangan dan BMN yang akuntabel dan tepat waktu 30% 40% 50% 60% 70% b. Pengawasan akuntabilitas aparatur pada unit kerja Sekretariat Jenderal (Setjen) dan BPSDMKP dan pelaksana pembangunan KP Pengawasan akuntabilitas aparatur pada Ditjen Perikanan Tangkap dan Ditjen P2SDKP serta pelaksana pembangunan KP Laporan hasil pengawasan Setjen dan BPSDMKP Persentase satker lingkup Setjen dan BPSDMKP yang melaksanakan pengelolaan administrasi. keuangan dan BMN yang akuntabel dan tepat waktu Persentase satker mitra lingkup Ditjen PT dan Ditjen P2SDKP yang melaksanakan pengelolaan administrasi. BMN. keuangan.400 orang 2013 1. akuntabel dan tepat waktu 30% 40% 50% 60% 70% KEGIATAN a. pelaporan dan publikasi terintegrasi. Pengelolaan administrasi.400 orang 2011 1. Dukungan Manajemen Dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya BPSDM KP 100% 100% 100% 100% 100% PROGRAM 8 Pengawasan dan peningkatan Akuntabilitas Aparatur KKP Persentase rekomendasi hasil pengawasan dimanfaatkan untuk peningkatan kinerja dan perbaikan sistem pengendalian di lingkup DKP yang terintegrasi. akuntabel dan tepat waktu berdasarkan data yang terkini dan akurat di lingkungan BPSDMKP. SPIP dan Tindak Lanjut Temuan satker lingkup DKP yang akuntabel dan tepat waktu INDIKATOR 2010 Jumlah lulusan pendidikan yang kompeten sesuai standard dan kebutuhan serta prioritas nasional Persentase perencanaan dan kerjasama program anggaran secara terintegrasi. 1. PROGRAM/KEGIATAN Pendidikan Kelautan dan Perikanan SASARAN Terpenuhinya tenaga terdidik kompeten sesuai standar dan kebutuhan serta prioritas nasional Persentase perencanaan.400 orang d.400 orang 2012 1. Laporan hasil pengawasan Ditjen PT dan Ditjen P2SDKP 30% 40% 50% 60% 70% 15 .

pelaporan pelaksanaan program. keuangan dan BMN yang akuntabel dan tepat waktu 2011 2012 2013 2014 30% 40% 50% 60% 70% d. Laporan perencanaan. pelaporan pelaksanaan program. pengendalian. anggaran dan SDM Persentase perencanaan. Pengawasan akuntabilitas aparatur pada Ditjen P2HP dan BRKP serta pelaksana pembangunan KP Laporan hasil pengawasan Ditjen P2HP dan BRKP Persentase satker lingkup Ditjen P2HP dan BRKP yang melaksanakan pengelolaan administrasi. pengendalian. akuntabel dan tepat waktu Persentase tercapainya dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya di lingkup KKP 40% 50% 60% 70% 80% PROGRAM 9 Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya KKP Meningkatnya dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya lingkup KKP 100% 100% 100% 100% 100% 16 .TARGET NO c. keuangan dan BMN yang akuntabel dan tepat waktu 30% 40% 50% 60% 70% e. PROGRAM/KEGIATAN Pengawasan akuntabilitas aparatur pada Ditjen Perikanan Budidaya dan Ditjen KP3K serta pelaksana pembangunan KP SASARAN Laporan hasil pengawasan Ditjen PB dan Ditjen KP3K INDIKATOR 2010 Persentase satker lingkup Ditjen PB dan Ditjen KP3K yang melaksanakan pengelolaan administrasi. Pengawasan akuntabilitas aparatur dengan tujuan tertentu pada pelaksana pembangunan KP dan pengawasan pada unit kerja Inspektorat Jenderal Dukungan manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Itjen Laporan hasil pengawasan dengan tujuan tertentu dan pelaksanaan SPIP Persentase satker lingkup KKP yang melaksanakan SPIP dan Tindak Lanjut Temuan yang akuntabel dan tepat waktu 30% 40% 50% 60% 70% f. anggaran dan SDM secara terintegrasi.

pengendalian. Persentase perencanaan jangka menengah dan panjang yang terintegrasi. dan pelaporan terintegrasi. menengah dan panjang yang terintegrasi. pelaksanaan. Pembinaan Administrasi dan Pengelolaan Pelayanan Penunjang Pelaksanaan Tugas KKP Persentase pencapaian standar pelayanan prima dalam bidang tata usaha pimpinan. Penganggaran dan Monev Pembangunan KP Persentase perencanaan. pengelolaan perlengkapan dan administrasi persuratan dan kearsipan 65% 75% 80% 85% 90% 60% 70% 75% 80% 90% 60% 70% 75% 80% 90% 65% 75% 80% 85% 90% 17 .TARGET NO PROGRAM/KEGIATAN SASARAN INDIKATOR 2010 KEGIATAN a. Pembinaan dan Koordinasi Perencanaan. akuntabel dan tepat waktu serta jumlah lintas sektor yang terintegrasi dengan perencanaan KKP Persentase perencanaan program kerja jangka pendek yang terintegrasi. dan tepat waktu dan BLU pembiayaan. akuntabel. akuntabel dan tepat waktu Persentase perencanaan anggaran jangka pendek. akuntabel dan tepat waktu Persentase pencapaian standar pelayanan prima dalam bidang tata usaha pimpinan Persentase pencapaian standar pelayanan prima dalam bidang kerumahtanggaan Persentase pencapaian standar pelayanan prima dalam bidang pengelolaan perlengkapan Persentase pencapaian standar pelayanan prima dalam bidang administrasi persuratan dan kearsipan 2011 2012 2013 2014 60% 65% 70 % 75 % 80% 60% 65% 70 % 75 % 80% 60% 65% 70 % 75 % 80% 60% 65% 70 % 75 % 80% b. akuntabel dan tepat waktu Persentase pengendalian dan pelaporan program kerja jangka pendek dan menengah yang terintegrasi. kerumahtanggaan.

97%. yang terintegrasi. akuntabel dan tepat waktu Persentase pelaksanaan anggaran dan penyelesaian ganti rugi. perjanian. 95% 100%. serta persentase Unit Kerja yang memiliki POS (Prosedur Operasional Standar) yang terintegrasi 50% 2011 60% 2012 70% 2013 80% 2014 90% 50% 60% 70% 80% 90% 50% 60% 70% 80% 90% 50% 60% 70% 80% 90% d. perizinan. 98%. 97% 100%. dan tepat waktu Persentase revisi anggaran. 95%. termasuk tuntutan ganti rugi LHA. akuntabel dan tepat waktu Persentase administrasi pengelolaan keuangan yang terintegrasi. 98% 90% 95% 97% 98% 100% 85% 90% 95% 98% 100% 85% 90% 95% 98% 100% 18 . 86% 100%. 100%. akuntabel dan tepat waktu 100%. PROGRAM/KEGIATAN Pembinaan dan Koordinasi Penyiapan Produk Hukum dan Penataan Organisasi KKP SASARAN Persentase pemenuhan peraturan perundangundangan serta efektivitas dan kemutakhiran hukum laut. penyiapan standar biaya khusus dan pengelolaan PNBP yang terintegrasi. 90% 100%. akuntabel dan tepat waktu Persentase akuntansi dan pelaporan keuangan yang terintegrasi. serat pelayanan bantuan hukum yang akuntabel INDIKATOR 2010 Persentase pemenuhan peraturan perundang-undangan sesuai kebutuhan nasional dan tantangan global Persentase efektivitas dan kemutakhiran hukum laut sesuai kebutuhan nasional dan tantangan global serta jumlah analisis dan rekomendasi yang diberikan Persentase efektivitas dan kemutakhiran perjanjian dan perizinan sesuai kebutuhan nasional dan tantangan global serta persentase pelayanan bantuan hukum yang akuntabel Persentase efektivitas dan kemutakhiran organisasi dan tata laksana sesuai kebutuhan nasional dan tantangan global. akuntabel. organisasi dan tata laksana sesuai kebutuhan nasional dan tantangan global. Pembinaan Pelaksanaan dan Koordinasi Pengelolaan Keuangan KKP Persentase pengelolaan keuangan dan pelaksanaan anggaran yang terintegrasi. 100%.TARGET NO c.

akuntabel dan tepat waktu Persentase administrasi jabatan fungsional yang terintegrasi. terkini dan akuntabel serta terbangunnya citra positif KKP 25% 41 % 57 % 73% 90% 75% 79 % 83 % 87% 90% 80% 83 % 85 % 88% 90% 55% 64 % 73 % 82% 90% 19 .TARGET NO e. pelaporan yang terintegrasi. akuntabel dan tepat waktu Persentase kelengkapan data dan statistik kelautan dan perikanan terkini dan akuntabel Persentase unit kerja yang terintegrasi dalam sistem informasi manajemen KKP antara pusat dan provinsi Jumlah stakeholder yang mendukung program KKP serta terbangunnya citra positif KKP Persentase perencanaan. akuntabel dan tepat waktu Persentase administrasi kepegawaian yang terintegrasi. pengendalian. Pengembangan Data Satistik dan Informasi KP Persentase unit kerja pusat dan provinsi yang terintegrasi dalam sistem informasi menajemen KKP dengan data yang lengkap. dan tepat waktu INDIKATOR 2010 Persentase Unit Kerja yang memiliki alokasi SDM kompeten sesuai kebutuhan dengan sistem kaderisasi yang terintegrasi. akuntabel dan tepat waktu di lingkungan Pusdatin 100% 2011 100% 2012 100% 2013 100% 2014 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 90% 92% 95% 97% 98% f. PROGRAM/KEGIATAN Pembinaan dan Pengelolaan Kepegawaian KKP SASARAN Persentase unit kerja yang memiliki alokasi SDM kompeten sesuai kebutuhan dengan sistem kaderisasi dan administrasi kepegawaian yang terintegrasi. akuntabel. akuntabel dan tepat waktu Persentase pelayanan pengangkatan dan mutasi pegawai yang terintegrasi.

akuntabel dan tepat waktu di lingkungan Puskari Persentase media pembawa hama penyakit ikan impor. akuntabel dan tepat waktu di lingkungan Puskari Persentase laboratorium karantina ikan yang menerapkan inovasi metode pengujian yang terkini sesuai standar OIE dan SNI serta berfungsinya sistem informasi karantina secara online Persentase media pembawa hama penyakit ikan impor.34% 2011 70 % 2012 75% 2013 80% 2014 83. ekspor dan antar area yang bebas hama penyakit ikan karantina Persentase administrasi yang terintegrasi.34% 75 % 80 % 85 % 90 % 95 % 75 % 80 % 85 % 90 % 95 % 90 % 92 % 94 % 96 % 98 % 75 % 80 % 85 % 90 % 95 % 90 % 92 % 94 % 96 % 98 % 75 % 80 % 85 % 90 % 95 % 20 .TARGET NO g. PROGRAM/KEGIATAN Pengembangan dan Pembinaan Perkarantinaan Ikan SASARAN Persentase media pembawa hama penyakit ikan impor. kerjasama. ekspor dan antar area yang bebas hama penyakit ikan karantina dengan laboratorium karantina yang sesuai standar OIE dan SNI INDIKATOR 2010 Persentase pencapaian bebas penyakit ikan di karantina ikan Persentase perencanaan. evaluasi dan pelaporan kegiatan secara terintegrasi. ekspor dan antar area yang bebas hama penyakit ikan karantina dengan laboratorium karantina yang sesuai standar OIE dan SNI di wilayah kerjanya Jumlah rekomendasi standar pengujian laboratorium karantina ikan yang terkini. akuntabel dan tepat waktu 63.

akuntabel dan tepat waktu di lingkungan DEKIN 50% 55 % 62% 70 % 80% 50% 55 % 62% 70 % 80% 50% 55 % 62% 70 % 80% Disalin sesuai dengan aslinya Kepala Biro Hukum dan Organisasi MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN R. Perumusan dan Pengembangan Kebijakan Kelautan Persentase perencanaan. pengendalian. monitoring evaluasi serta pelaporan secara terintegrasi. PROGRAM/KEGIATAN Pengembangan dan Pembinaan Kerja Sama Internasional dan Antarlembaga Bidang KP SASARAN Persetase kerjasama dan antar kebutuhan tantangan keberhasilan internasional lembaga sesuai nasional dan global INDIKATOR 2010 Persentase keberhasilan kerja sama internasional sesuai kebutuhan nasional dan tantangan global Persentase keberhasilan kerja sama antar lembaga sesuai kebutuhan nasional dan tantangan global Persentase perencanaan. pengendalian. akuntabel dan tepat waktu di lingkungan Dekin Persentase administrasi keuangan yang akuntabel dan tepat waktu di lingkungan Dekin Persentase administrasi kepegawaian. FADEL MUHAMMAD Supranawa Yusuf 21 . kerjasama. perencanaan. pelaporan dan publikasi terintegrasi. pelaporan yang terintegrasi. ttd. publikasi dan dokumentasi.TARGET NO h.I. ketatausahaan. akuntabel dan tepat waktu di lingkungan Puskita Persentase fasilitasi perumusan kebijakan kelautan. perlengkapan dan kerumahtanggaan yang akuntabel dan tepat waktu di lingkungan Dekin 100% 2011 100% 2012 100% 2013 100% 2014 100% 100% 100% 100% 100% 100% 92% 95% 98% 99% 100% i.

1 212.9 138.9 1.224.058.3 466.2 155.2 50.6 Pengembangan dan Pengelolaan Perikanan Tangkap 700 2011 2012 2013 2014 TOTAL ALOKASI 2010-2014 (Rp Miliar) 1.0 120. e.8 1.9 37.6 354.6 124.8 157.7 683.0 234.2 151.0 88. Pengembangan Sistem Produksi Pembudidayaan Ikan Pengembangan Sistem Perbenihan Ikan Pengembangan Sistem Kesehatan Ikan dan Lingkungan Pembudidayaan Ikan Pengembangan Sistem Usaha Pembudidayaan Ikan Pengembangan Sistem Prasarana dan Sarana Pembudidayaan Ikan Pengawalan dan Penerapan Teknologi Terapan Adaptif Perikanan Budidaya Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Ditjen. f.4 79.8 534. f.3 61.9 23.6 71.9 50.5 455.5 254.7 54.7 126.5 133.6 Peningkatan Produksi Perikanan Budidaya 516.1 666.6 384.1 131.2 94.8 55.4 100.3 176.145 53.3 91.104 1.331.1 150.1 125. Perikanan Budidaya 66. e.7 93.3 678. d.6 82.4 c. Pengelolaan Sumber Daya Ikan (SDI) Pembinaan dan Pengembangan Kapal Perikanan.084.9 134.8 89.6 62.638 2. Alat Penangkap Ikan.0 6.0 620.208. dan Berkelanjutan Pengembangan Usaha Penangkapan Ikan dan Pemberdayaan Nelayan Skala Kecil Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Ditjen Perikanan Tangkap 37.6 1.4 .8 200.6 46.6 56.0 178.0 219.641. PROGRAM 2 KEGIATAN a.971. c. b.1 239.6 146. b.7 62.5 46.145 2.5 29.7 217.557 8.0 88.4 667.06/MEN/2010 06/MEN/2010 Tentang Rencana Strategis Kementerian Kelautan dan Perikanan Tahun 2010-2014 KEBUTUHAN PENDANAAN PEMBANGUNAN UNTUK TAHUN 2010-2014 KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN NO PROGRAM/KEGIATAN ALOKASI ANGGARAN BASELINE KEGIATAN PRIORITAS (Milyar Rp) 2010 KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN PROGRAM 1 KEGIATAN a.5 1.0 4.0 1.6 103.5 30.5 205.0 791.9 120.2 27.9 454. g.9 35. Tertib.3 126.8 48.8 107.4 53. d.2 139.2 211.2 865.7 53.Lampiran III : Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.109.8 1.9 179. dan Pengawakan Kapal Perikanan Pengembangan Pembangunan dan Pengelolaan Pelabuhan Perikanan Pelayanan Usaha Perikanan Tangkap yang Efisien.

2 117.0 616.0 47.9 35.1 31.585.0 317.5 220.1 404.3 75.9 170.3 76. f.6 114.2 49.7 40.3 18.0 Peningkatan Daya Saing Produk Perikanan 206.5 122.2 98.9 93. b.4 114. e.0 15.5 19.0 16.5 75.0 17.4 910.4 3.2 PROGRAM 4 KEGIATAN a.4 1.4 26.1 46.5 21.9 253.2 65.7 69.049. c.9 3. b.0 216.2 15.6 345.9 22.4 21.2 62.8 237.9 176.0 1. d.5 266.8 144.856.4 1.5 100.3 53.2 44. c.5 233.7 27.3 3.9 30.0 PROGRAM 5 KEGIATAN a b c d e f.7 17.7 303.0 55.6 142.NO PROGRAM/KEGIATAN ALOKASI ANGGARAN BASELINE KEGIATAN PRIORITAS (Milyar Rp) 2010 2011 2012 2013 2014 TOTAL ALOKASI 2010-2014 (Rp Miliar) PROGRAM 3 KEGIATAN a.020.0 62.2 56.7 109.8 108.8 79.0 190.3 771.5 72.1 745.9 94.2 102.0 804.1 103. Pengelolaan dan Pengembangan Konservasi Kawasan dan Jenis Penataan Ruang dan Perencanaan Pengelolaan Wilayah Laut.0 245.2 76.4 264.2 18.7 35.2 35.2 109.0 122. f. e.8 590.3 368.3 536.8 Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan 324. Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil 495.9 625. d. Peningkatan Operasional Pengawasan Sumber Daya Perikanan Peningkatan Operasional Pengawasan Sumber Daya Kelautan Peningkatan Operasional dan Pemeliharaan Kapal Pengawas Pengembangan Sarana dan Prasarana Pengawasan dan Pemantuan Kapal Perikanan Penyelesaian tindak pidana kelautan dan perikanan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Ditjen P2SDKP 23.0 62.5 1.9 33.7 105.5 51.7 76.8 152.3 49.0 200.5 578.1 53.8 11.5 31.617.5 881.2 13.4 110.300.0 166.9 10.5 544.9 Program Pengelolaan Sumber Daya Laut.8 105.5 329.1 119. Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil Pendayagunaan Pesisir dan Lautan Pendayagunaan Pulau-Pulau Kecil Pelayanan Usaha dan Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Ditjen KP3K 73. Fasilitasi Pengembangan Industri Pengolahan Hasil Perikanan Fasilitasi Pengembangan Jaminan Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Fasilitasi Penguatan dan Pengembangan Pemasaran Dalam Negeri Hasil Perikanan Fasilitasi Penguatan dan Pengembangan Pemasaran Luar Negeri Hasil Perikanan Fasilitasi Pembinaan dan Pengembangan Sistem Usaha dan Investasi Perikanan Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Ditjen P2HP 37.5 240.1 87.7 151.3 20.2 76.7 110.1 244.2 107.6 2 .6 109.8 435.1 429.4 481.4 518.8 40.6 28.4 456.

7 32.2 60.0 3.1 963.0 97.2 Pelatihan Kelautan dan Perikanan Penyuluhan Kelautan dan Perikanan Pendidikan Kelautan dan Perikanan Dukungan Manajemen Dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya BPSDM KP 19.0 3.0 4.6 147.8 45.0 44.3 129.0 19. c.0 50.0 38.7 25.0 712.0 24.0 2.0 101.1 117.0 50.0 5.5 141.7 3 .0 85.0 22.0 64.8 347.0 34.0 11.7 58.7 119.0 4. PROGRAM 7 KEGIATAN a. e. g.7 50.9 582.4 112.0 6.6 117.2 922.0 5. Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan 257.5 52.0 4. Pengawasan akuntabilitas aparatur pada unit kerja Sekretariat Jenderal (Setjen) dan BPSDMKP dan pelaksana pembangunan KP Pengawasan akuntabilitas aparatur pada Ditjen Perikanan Tangkap dan Ditjen P2SDKP serta pelaksana pembangunan KP Pengawasan akuntabilitas aparatur pada Ditjen Perikanan Budidaya dan Ditjen KP3K serta pelaksana pembangunan KP Pengawasan akuntabilitas aparatur pada Ditjen P2HP dan BRKP serta pelaksana pembangunan KP Pengawasan akuntabilitas aparatur dengan tujuan tertentu pada pelaksana pembangunan KP dan pengawasan pada unit kerja Inspektorat Jenderal Dukungan manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Itjen 3.0 70.6 578.0 4.8 260. b.6 447.0 95.4 242.0 55.0 413.3 123.2 672.8 91.8 2.0 4.5 47.0 b.0 177.5 183.0 90.0 4.0 60. c.7 e.0 3.1 365.6 f. Penelitian dan Pengembangan IPTEK Perikanan Tangkap Penelitian dan Pengembangan IPTEK Perikanan Budidaya Penelitian dan Pengembangan IPTEK Kelautan Penelitian dan Pengembangan IPTEK Kewilayahan.0 60. c.0 28.0 6. b.4 590.5 2.0 74.0 5.5 240.1 70.9 42.1 Pengawasan dan peningkatan Akuntabilitas Aparatur KKP 43.0 55.0 50.0 4. Dinamika dan Sumber Daya Nonhayati Pesisir dan Laut Penelitian dan Pengembangan IPTEK Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Penelitian dan Perekayasaan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya BRKP 104.0 57.0 3. d.0 35. PROGRAM 8 KEGIATAN a.8 94. d.0 5.0 21.0 4.6 55.0 74.0 5.0 80.NO PROGRAM/KEGIATAN ALOKASI ANGGARAN BASELINE KEGIATAN PRIORITAS (Milyar Rp) 2010 2011 2012 2013 2014 TOTAL ALOKASI 2010-2014 (Rp Miliar) PROGRAM 6 KEGIATAN a. 19.9 206.8 15.7 Program Penelitian dan Pengembangan IPTEK Kelautan dan Perikanan 273.9 283.3 106.0 273. f.0 3.0 241.0 4.0 229.6 60.7 70.0 52.0 195.2 624. d.0 85.8 474.0 5.0 15.0 3.8 528.2 23.0 211.0 90.4 47.0 80.721.0 434.348.

0 326.0 405. b.I. FADEL MUHAMMAD 4 .8 732.0 12.063.2 4.0 542. i.0 1.8 8.0 257.0 55.0 324.9 10.0 14.0 16.0 84.0 20.205.2 9.0 21.0 16. Pembinaan dan Koordinasi Perencanaan.0 22.4 1. Penganggaran dan Monev Pembangunan KP Pembinaan Administrasi dan Pengelolaan Pelayanan Penunjang Pelaksanaan Tugas Kementerian Kelautan dan Perikanan Pembinaan dan Koordinasi Penyiapan Produk Hukum dan Penataan Organisasi KKP Pembinaan Pelaksanaan dan Koordinasi Pengelolaan Keuangan KKP Pembinaan dan Pengelolaan Kepegawaian KKP Pengembangan Data Satistik dan Informasi KP Pengembangan dan Pembinaan Perkarantinaan Ikan Pengembangan dan Pembinaan Kerja Sama Internasional dan Antarlembaga Bidang KP Perumusan dan Pengembangan Kebijakan Kelautan 15.0 56.8 57. TOTAL ALOKASI KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN 2010-2014 MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN R.7 30.243.1 29.0 59.0 18.0 543.0 14.0 92.0 133.9 961.7 131. ttd.105.0 12. g.0 469.0 131.0 19.1 291. e.3 c d.153.0 25.4 12.0 1.0 20.0 Peningkatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya KKP 194.7 66.0 93.0 18.0 11.0 92.0 8.702.0 64.0 14.0 12.0 271.0 1.0 204.NO PROGRAM/KEGIATAN ALOKASI ANGGARAN BASELINE KEGIATAN PRIORITAS (Milyar Rp) 2010 2011 2012 2013 2014 TOTAL ALOKASI 2010-2014 (Rp Miliar) PROGRAM 9 KEGIATAN a.0 132.2 13.0 16.00 10.00 7. f. h.

Laut .850 23.754.020 4.150 5.732.161.255.300 5.070 118.760 59.053.550 11.083.058.246.360 5.Laut .708.052.930 5.370 4.440 107.039.077.100 119.650 2.963.460 233.180.140.880 3.596.720 41.Perahu Tanpa Motor .840 1.678.490 2.980 2.450 2.680 6.480 2.670 87.961.590 2 Nilai Produksi (Rp 1.630 494.KM < 5 GT .100 68.590 328.350 50.170 7.06/MEN/2010R.130 612.Laut .103.400 13.510.330 23.984.609.KM 5 .870.160 1.697.Perairan Umum 5.820 5.620 596.900 92.210 6.910 11.412.342.650 274.470 519.710 1. 06/MEN/2010 Tentang Rencana Strategis Kementerian Kelautan dan Perikanan Tahun 2010-2014 PROYEKSI PENINGKATAN PRODUKSI PERIKANAN TAHUN 2010-2014 A.030 8.Laut .720 5.260 59.750 526.450 1.900 47.543.719.506.477.570 4.680 4.348.640 492.070 5.540 1.930 17.Perairan Umum 6 Rata-rata pendapatan/ nelayan (Rp/Bln) .589.080 113.200 5.530 5.790 47.880 2.219.260.505.164.040 507.349.237.000.570 5.150 1.863.804.410 495.30 GT .042.133.780 149.Perairan Umum 5 Jumlah Nelayan (Orang) .580 75.804.000) .850 1.285.430 53.690 490.814.637.480 1.090 83.161.905.686.310 4.Perairan Umum Keterangan : 1) Angka sementara 2) Angka perkiraan 3) Angka proyeksi .300 107.720 1.660 2.219.380 29.040 733.400 596.940 2.150 1.900 1.900 486.850 119.650 496.710 208.Laut .890 979.820 35.270 1.500 29.870 1.10 GT .880 59.310 2.420 6.530 5.750 95.430 4.420 101.718.540 35.530 596.789.Perairan Umum 3 Jumlah Kapal Penangkap Ikan di Laut (Buah) .426.830 102.Perahu Motor Tempel .540 77.460 596.228.730.720 2.838.480.821.846.440 4.KM > 50 GT 4 Rata-rata pendapatan/ (RTP/PP) (Rp/Bln) .KM 30 .310 3.752.102.040 2.890 2.830 35.190 750 3.610 56.820 596.Lampiran IV : Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.490 3.880 501.800.741.237.900 513.210.KM 10 .230 205.510 2.312.930 596.045.759.590 30.370 101.300 149.350 2.590 2.240 878.257.620 4.390 107.280 9.510 2.780 488.023.50 GT .700 909.680 77.630 3.430 79.282.570 1.720 71.213.530 109. Tabel Proyeksi Peningkatan Produksi Perikanan Tangkap No Rincian 20091) 20102) 20113) 20123) 20133) 20143) 1 Produksi (Ton) .790 47.366.380 95.560 65.

B.Nusatenggara Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku .Papua Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat 2009 1 2010 2 2011 3 2012 3 2013 3 2014 3 4 789 410 1 446 900 132 360 361 130 190 520 89 550 229 630 44 760 39 370 153 300 58 730 147 550 965 720 56 900 147 410 179 730 178 080 2 000 401 600 297 640 97 770 100 820 99 050 328 820 77 410 49 060 108 460 93 890 952 170 209 990 64 090 141 600 254 790 69 520 212 180 798 160 321 280 145 830 229 240 101 810 4 846 880 1 464 260 133 950 365 460 192 810 90 620 232 390 45 300 39 840 155 140 59 430 149 320 977 310 57 580 149 180 181 890 180 220 2 020 406 420 301 210 98 940 102 030 100 240 332 770 78 340 49 650 109 760 95 020 963 590 212 500 64 860 143 300 257 850 70 350 214 730 807 740 325 140 147 580 231 990 103 030 4 905 040 1 481 830 135 560 369 850 195 120 91 710 235 180 45 840 40 320 157 000 60 140 151 110 989 030 58 270 150 970 184 070 182 380 2 040 411 300 304 820 100 130 103 250 101 440 336 780 79 280 50 250 111 080 96 170 975 150 215 050 65 640 145 020 260 940 71 190 217 310 817 430 329 040 149 350 234 770 104 270 4 963 900 1 499 600 137 190 374 290 197 460 92 810 238 000 46 390 40 800 158 880 60 860 152 920 1 000 920 58 970 152 780 186 280 184 570 2 080 416 240 308 480 101 330 104 490 102 660 340 810 80 230 50 850 112 410 97 320 986 850 217 630 66 430 146 760 264 070 72 040 219 920 827 240 332 990 151 140 237 590 105 520 5 023 470 1 517 610 138 840 378 780 199 830 93 920 240 860 46 950 41 290 160 790 61 590 154 760 1 012 920 59 680 154 610 188 520 186 780 2 100 421 230 312 180 102 550 105 740 103 890 344 900 81 190 51 460 113 760 98 490 998 690 220 240 67 230 148 520 267 240 72 900 222 560 837 170 336 990 152 950 240 440 106 790 5 083 750 1 535 810 140 510 383 300 202 230 95 050 243 750 47 510 41 790 162 720 62 330 156 620 1 025 080 60 400 156 470 190 780 189 020 2 130 426 280 315 930 103 780 107 010 105 140 349 040 82 160 52 080 115 130 99 670 1 010 670 222 880 68 040 150 300 270 450 73 770 225 230 847 220 341 030 154 790 243 330 108 070 Keterangan : 1) Angka sementara 2) Angka perkiraan 3) Angka proyeksi 2 . Proyeksi Produksi Perikanan Tangkap di Laut Menurut Provinsi (Ton) Provinsi Jumlah Sumatera Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepulauan Riau Jambi Sumatera Selatan Kepulauan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Jawa Banten DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Bali .

Papua Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Keterangan : 1) Angka sementara 2009 1 2010 2 2011 3 2012 3 2013 3 2014 3 196 230 20 070 9 010 7 670 2 250 450 690 13 470 60 4 920 2 180 1 760 170 4 380 21 610 18 130 2 040 1 440 120 120 105 750 55 500 9 750 5 790 4 510 24 820 5 380 35 210 12 640 9 850 5 270 7 450 198 580 20 320 9 120 7 760 2 280 460 700 13 630 60 4 980 2 210 1 780 170 4 430 21 870 18 350 2 060 1 460 120 120 107 010 56 160 9 870 5 860 4 560 25 120 5 440 35 630 12 790 9 970 5 330 7 540 200 960 20 570 9 230 7 850 2 310 470 710 13 790 60 5 040 2 240 1 800 170 4 480 22 130 18 570 2 080 1 480 130 130 108 290 56 830 9 990 5 930 4 610 25 420 5 510 36 050 12 940 10 090 5 390 7 630 203 370 20 820 9 340 7 940 2 340 480 720 13 950 60 5 100 2 270 1 820 170 4 530 22 390 18 790 2 100 1 500 130 130 109 600 57 510 10 110 6 000 4 670 25 730 5 580 36 480 13 100 10 210 5 450 7 720 205 810 21 080 9 450 8 040 2 370 490 730 14 110 60 5 160 2 300 1 840 170 4 580 22 670 19 020 2 130 1 520 130 130 110 900 58 180 10 230 6 070 4 730 26 040 5 650 36 920 13 260 10 330 5 520 7 810 208 280 21 340 9 560 8 140 2 400 500 740 14 270 60 5 220 2 330 1 860 170 4 630 22 950 19 250 2 160 1 540 130 130 112 230 58 880 10 350 6 140 4 790 26 350 5 720 37 360 13 420 10 450 5 590 7 900 2) Angka perkiraan 3) Angka proyeksi 3 .C.Nusatenggara Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku . Proyeksi Produksi Tuna Menurut Provinsi (Ton) Provinsi Jumlah Sumatera Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepulauan Riau Jambi Sumatera Selatan Kepulauan Bangka Belitung Bengkulu Lampung J a w a Banten DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Bali .

010 328.415.897 1.154 328.188 383.168 47.05 52.402 79.467 588.002 942.037 8.48 64.I.440.20 0 60.703 203.500 270.360 270.241 374.100 538.467 45.212 27.182 210.999 23.000 175.037 168.361 629.090 133.934 24.498 42.431 72.399 112.484 179.36 37.19 20.651 181.674 86.630 76.382 199.037 196.907 72.85 77.951 635.069 44.505 567.878 244.500 32.840 164.11 75.480 79.376.825 19.236 51.230 121.51 51.680 19.144 38.43 17.100 47.060 361.193 223.906 130.409 883.D.736 562.780.99 25.260 854.073 826.023 645.913.690 82.733 65.895 62.500 96.127.280 232.728 59.323 758.708 380.851 428.22 23.302 29.331 130.455 179.020.443 105.939 8.345 255.141 142.058 30.900 302.71 Jumlah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat R i a u Kepulauan Riau J a m b i Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung DKI Jakarta Banten Jawa Barat Jawa Tengah D.460 108.449 29.599 71.720 285.161 153.434 77.360 11.289 180.847.785 906.533 32.509 2014 16.960 25.179 314.680 202.649 241.013 701.182 326.96 39.69 9 118.995 86.38 56.35 25.924 282.500 171. Proyeksi Produksi Perikanan Budidaya Menurut Provinsi No Provinsi 2009 2010 5.290 1.269.493 601.405 915.832 319.393.920 1.320 159.098 363.140 40.731 288.623 203.613.050 1.296 146.459 116.179 239.668 96.730 805.176 341.452 82.41 48.48 17.724 21.320 196.339 56.286 53.450 169.610 201.07 30.168 186.937 129.805 132.01 48.065 150.649 2013 13.139 Kenaikan (%/th) 29.800 147.277 938.563 113.985 32.189.453 54.637 104.747 12.67 23.092 41.454 460.955 104.950 334.382 47.370 100.034 180.11 31.78 14.380 166.316 236.198 55.076 142.056 65.891.077 107.032 1.950 132.41 60.852 47.616 7.239 106.35 47.500 749.700 944.722 735.76 22.141 177.930 503.91 16.640 318.661 33.100 1.66 43.185 112.730 643.220 308.447 411.050 334.320 223.370 402.329 13.668 126.140 86.463 721.370 59.08 23. Yogyakarta Jawa Timur B a l i 4.315 62.699 215.038 12.88 21.420 131.812 139.699 484.760 1.750 1.253 157.979 2012 9.800 309.730 950.290 683.113 43.872 454.78 31.670 653.458 86.420 222.680 100.867 Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat 4 .988 200.217.46 49.452 222.706 185.65 56.784 797.361 37.60 34.520 15.78 130.718 32.304 202.148 230.801 Tahun 2011 6.973 186.830 25.095 61.900 268.39 40.261 13.

400 738.000 670.000 700.10 27.847.672.100 646.000 11.700 400.600 225.400 300.000 5.242.200 400.000 5.300 4.000 8.600 200.720 344.000 511.000 128. Rincian 2009 *) 2010 2011 2012 2013 2014 Kenaikan (%/th) Jumlah 1 Udang Udang windu Udang vaname 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Bandeng Patin Lele Nila Rumput laut Kerapu Kakap Gurame Mas Lainnnya 4.032.200 9.000 7.000 7.12 4.000 383.000 925.280 419.I.376.300 3.E.000.000 699.504.72 MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN R.000 639.60 13.000 115.107.650 291.000 1.500 46.000 900.000 5.96 12.900 350.883.000 1. Proyeksi Produksi Perikanan Budidaya Menurut Komoditas No.800 7.500 254.000 378.300 280.000 1.000 270.500 42.415.500 44.300 109.500.600 325.400 13.07 14.000 6.000 366.500 460.699 529.90 19.450 244.000 15.780.000 188.400 651.038.300 2.500 48.18 30.51 13.000 495.100.500 459.700 16.900 10.95 15.100 348.000 20.00 35.300 132.160 349.09 32.500 604.105.700 29.800 9.300 503.700 6.140 291.000 148.891.800 608.18 70.000 40.000 850.000 5.020.300 267.100 103. FADEL MUHAMMAD 5 .000 1.000 1.600 38. ttd.90 6.600 491.800 2.400 553.000 1.000 5.574.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful